Anda di halaman 1dari 20

PENGAWASAN PARTAI POLITIK TERHADAP KADERNYA YANG DUDUK DI

DPRD PROVINSI BALI (Studi Pengawasan Pada Partai PDIP, Golkar, Demokrat, ) 1
The supervision of political parties to their cadres at legislative assembly of Bali
Province (Study of Supervision Political Parties of PDIP, Golkar, Demokrat)
Oleh : Bandiyah2

1. Pendahuluan
Indonesia di masa Orde Baru penyelenggaraan pemerintah didominasi oleh
eksekutif dan memposisikan Dewan Perwakilan Rakyat

(DPR) dan Majelis

Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai lembaga yang hanya bekerja mengamini semua
keputusan politik rezim. Eksekutif tidak hanya menjalankan fungsi kebijakan semata,
namun sekaligus menjadi penentu akhir semua kebijakan. Kooptasi eksekutif yang sangat
kuat tersebut merupakan cerminan dari sistem pemerintah yang executive heavy dan
menyebabkan tidak bekerjanya system dispersion of power dan check and balances.
Dalam sistem yang cenderung totalitarian tersebut dapat dipastikan akuntabilitas
pemerintah buruk karena lemahnya fungsi kontrol. Ketika sistem pemerintahan bergeser
kearah menguatnya lembaga legislatif, peluang bagi lahirnya pengelolaan kekuasaan
yang lebih akuntabel juga terbuka bagi Dewan Perwakilan Rakyat untuk menjadi
lembaga yang kuat. Di tambah dengan karakter Dewan Perwakilan Rakyat yang plural,
maka besar harapan untuk membangun sistem pemerintahan dengan check and balances
dapat terwujud. Namun yang kita lihat pluralisme kepentingan telah menjadi karakter
lembaga perwakilan yang menunjukkan adanya collective action untuk merampok negara
yang dilakukan oleh sebagian anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Tidak terkendalinya
perilaku negatif anggota dewan tersebut dikarenakan lemahnya mekanisme akuntabilitas
lembaga perwakilan di republik ini. Pelembagaan demokrasi perwakilan di Indonesia
nampaknya baru sampai di level memberikan kekuasaan politik yang kuat kepada Dewan

Penelitian ini dibiayai Dari dana DIPA Universitas Udayana TA- 2012. Dengan Surat Perjanjian
Pelaksanaan Kegiatan (Kontrak) Nomor:./UN.14/LPPM/KONTRAK/2012, tanggal 16 Mei 2012
2

Penulis adalah Staf Pengajar di Prodi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Udayana Bali

Perwakilan Rakyat, namun mekanisme kontrol atas kekuasaan politik yang kuat tersebut
belum dibakukan.
Anggota DPR sebagai wakil rakyat dan wakil partai belakangan ini banyak
terkuak kasus-kasus yang sangat memprihatinkan. Fenomena seperti terbongkarnya kasus
penyuapan, bagi-bagi uang, dan skandal seks telah menjadi kebiasaan di sebagian
kalangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang terhormat. Setelah
kasus penyuapan berkait dengan pengalihan fungsi hutan di beberapa kawasan di
Sumatera, skandal seks, skandal undang-undang Bank Indonesia, kasus jalan-jalan, studi
banding keluar negeri serta skandal BLBI, dan terakhir tertangkapnya anggota Dewan
Perwakilan Rakyat yang menerima uang suap terkait dengan pembangunan wisma atlet di
Jaka Baring Palembang. Dikuti dengan terkuaknya kasus Pencucian uang dan korupsi
dana infrastruktur daerah (red : Kompas; edisi Mei-September 2012 ) dan masih banyak
lainnya.
Ketika pemerintahan Orde Baru penentuan kebijakan di tangan eksekutif
menimbulkan banyak penyimpangan. Demikian setelah reformasi kebijakan cenderung
diberikan kepada legislatif, menunjukkan hal yang sama terjadinya penyimpangan.
Pengawasan terhadap anggota dewan melalui jajaran anggota dewan dengan di bentuknya
Badan Kehormatan dan pengawasan dari partai politik yang mempunyai perwakilan di
Dewan Perwakilan Rakyat sepertinya belum efektif.
Seperti pada kasus-kasus di Dewan Perwakilan Rakyat /Daerah bila ada
anggota dewan yang tersangkut korupsi, partai yang menjadi kendaraan politiknya
dengan mudah memecatnya atau langsung mengadakan PAW (Pergantian Antar Waktu).
PAW juga berlaku bagi anggota dewan yang kritis dan mangkir, seperti tidak menyetujui
hasil keputusan dan kesepakatan partai. Dalam hal ini, posisi Partai Politik haruslah
dipertanyakan tanggungjawabnya atas pengawasan terhadap kadernya yang duduk
sebagai anggota dewan. Apakah saat penentuan sesuatu hal yang akan dirumuskan di
parlemen, anggota dewan terlebih dahulu membicarakan pada tingkat rapat di partai
politiknya. Bila hal ini telah dilakukan pada masing-masing partai yang memiliki
keterwakilan di dewan, maka seharusnya partai juga ikut bertanggungjawab dalam
penentuan keputusan pada jajaran dewan. Sehingga, partai politik tidak dengan semenamena memecat kadernya yang duduk di dewan bila tersangkut permasalahan. Selama ini

partai politik hanya ingin mencari bersih saja, tapi tidak memberikan solusi dan
perlindungan terhadap kadernya sebagai bentuk adanya tanggungjawab karena kelakuan
dari kadernya yang menyimpang. Ini terjadi pada kasus anggota dewan di DPR RI
maupun pada tingkat DPRD.
Sebagai representasi keterwakilan partai, anggota dewan (DPR/DPRD)
selayaknya diberikan perlindungan dan pengawasan secara akuntabel bila kadernya
terlibat masalah, sehingga anggota Dewan Perwakilan Rakyat/ Daerah merasakan adanya
amanat rakyat dan tanggung jawab untuk dapat melaksanakan berbagai kepentingan
partainya dengan baik dan jujur Di parlemen. Namun demikian, yang terjadi eksistensi
Partai hanya menekankan perilaku politisi bagi kadernya yang duduk di dewan agar
membangun citra positif partai di mata publik. Partai politik pun akhirnya lebih memilih
menjaga citra partai dan lepas tanggung jawab dalam pengawasan terhadap kadernya.
Peristiwa-peristiwa dan fenomena munculnya korupsi pada anggota dewan yang kian
marak terjadi dapat dipengaruhi oleh beerapa hal salah satunya rekruitmen partai
terhadap kadernya yang tidak akuntabel dan berkualitas dan juga dapat dilihat dari sistem
pengawasan partainya yang sangat lemah.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana bentuk pengawasan
partai politik yang dilakukan terhadap anggota DPRD Propinsi Bali (DPRD Bali sebagai
studi kasus daerah) dan apakah partai-partai tersebut telah melakukan fungsi
pengawasannya. Partai politik yang akan dijadikan kajian penelitian ini adalah partaipartai yang memiliki kursi terbanyak di DPRD Provinsi Bali sejak pemilu tahun 2004
sampai 2009. Partai tersebut meliputi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P),
Partai Demokrat (PD), dan Partai Golongan Karya (Golkar).
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka permasalahan yang akan
diteliti adalah :
1. Apakah partai politik dapat melakukan fungsi pengawasan kepada kadernya yang
duduk di DPRD secara optimal?
2. Bagaimana bentuk pengawasan Partai Politik terhadap keterwakilan anggotanya
di DPRD Propinsi Bali ?
3. Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka sangat penting untuk mengarahkan kerangka berfikir dan


analisa permasalahan pada tema penelitian melalui konsep dan teori-teori yang sudah
ada. Penelitian ini mengambil referensi pada teori dan konsep pengawasan, Urgenitas
partai politik, fungsi partai politik, ideologi dan tipologi partai politik.

3. Tujuan dan Manfaat Penelitian


a. Tujuan Penelitian
1. Mencari format ideal terhadap upaya Pengawasan terhadap anggota DPRD
Propinsi Bali sehingga Partai dan anggota dewan bekerja lebih baik dan
akuntabel.
2. Mengidentifikasikan, mengolah dan menganalisa data tentang upaya Partai Politik
melakukan fungsi pengawasan terhadap kadernya yang duduk di DPRD Propinsi
Bali.
b. Manfaatnya
1. Bagi Partai Politik dapat mereformulasi kembali pentingnya pengawasan untuk
mengembangkan organisasi dan menjaga citra positif partainya.
2. Masyarakat secara umum dan khususnya (masyarakat yang akan mencalonkan
menjadi anggota dewan) dapat melihat, memilih dan mempertimbangkan dengan
teliti, seksama ketika ingin mencalonkan diri menjadi anggota dewan, sebelum
mengetahui secara lebih dalam tentang partainya dan pengawasan terhadap
kadernya.

4. Metode Penelitian
1.

Jenis Penelitian.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Menurut Singarimbun

(1989:34), penelitian deskriptif yakni penelitian yang dimaksudkan untuk eksplorasi dan
klarifikasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial. Pendekatan yang digunakan
adalah studi kasus (case study), yakni pendekatan penelitian yang penelaahannya
diarahkan kepada suatu kasus secara intensif mendalam, dan mendetail serta
komprehensif. Dalam penelitian ini kasus-kasus seperti keterlibatan korupsi atau
penyalahgunaan wewenang anggota dewan baik dari partai PDIP, Golkar, Demokrat

akan dijadikan bahan diskusi dan case study lebih lanjut. Fokus penelitian adalah untuk
mengetahui bentuk-bentuk pengawasan terhadap anggota DPRD Propinsi Bali dan
apakah partai politik yang memiliki wakil-wakil di DPRD dapat melakukan pengawasan
kepada kader-kadernya yang duduk di DPRD Propinsi Bali.
2.

Sumber Data

a. Informan
Dalam konteks penelitian kualitatif responden lebih dikenal dengan informan.
Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan system purposive dengan
memperhitungkan ketersediaan data. Teknik ini dipilih karena setiap informan tidak
memiliki pengetahuan yang sama terhadap wacana fungsi pengawasan. Oleh karena
itu, subyek yang dipilih adalah informan yang dapat menguasai informasi sesuai dengan
masalah penelitian. Penentuan jumlah informan dalam penelitian ini tidak harus
representatif karena dalam penelitian kualitatif tidak dikenal adanya populasi, namun
demikian, dengan system purposive bertujuan untuk menjaring sebanyak mungkin
informasi dari pelbagai sumber .
b. Tempat dan peristiwa
Penelitian ini mengambil tempat di Propinsi Bali. Berbagai peristiwa yang
berkaitan dengan masalah fokus penelitian, antara lain meliputi: pengawasan kepada
anggota DPRD di Propinsi Bali selama ini dan pengawasan partai politik yang
mempunyai keterwakilan di DPRD Propinsi Bali.
Teknik Pengumpulan Data
a.

Observasi
Merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan dan

pencatatan secara langsung di lokasi penelitian atas gejala-gejala yang ada kaitannya
dengan objek yang akan diterliti.
b.

Wawancara
Pengumpulan data primer, yakni data dari nara sumber atau informan dilakukan

dengan teknik wawancara. Melalui teknik ini diharapkan dapat dikumpulkan data
mengenai pengalaman, gagasan, pendapat atau pandangan informan menyangkut
berbagai hal terkait dengan fokus penelitian. Informan yang digunakan dalam penelitian
ini meliputi para pelaku yang menduduki kursi Anggota Dewan baik dari partai

Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDIP), Golkar, Demokrat Di samping itu subyek


penelitian juga mengambil informan yang menjadi pengurus struktural partai dan juga
informan lainya seperti Wartawan yang menunjang data penelitian ini. Dengan demikian
lewat wawancara mendalam dapat digali aspek explicit knowledge yang melekat pada
informan.
Guna menghindarkan terjadinya distorsi data dan wawancara dapat berjalan
secara focus, maka dalam pelaksanaan dibantu dengan instrumen penelitian berupa
pedoman wawancara yang memuat pokok-pokok pikiran yang terkait dengan fokus
penelitian. Hal ini sangat penting agar suasana wawancara terarah dan tetap berjalan.
Dalam penelitian ini sumber yang akan diwawancarai yaitu :

No

Nama Lembaga

1.

Anggota DPRD Propinsi Bali; Fraksi PDIP, Golkar, Demokrat,

2.

Pengurus Partai politik : PDIP, Golkar, Demokrat

6.

Wartawan cetak dan elektronik

c.

Dokumentasi
Merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengutip dan meneliti

dokumen-dokumen, catatan-catatan, arsip dan kumpulan peraturan yang menunjang atau


yang berhubungan dengan objek yang diteliti.

3.

Teknik Analisis Data


Data yang dikumpulkan, baik melalui penelitian lapangan maupun melalui

penelitian kepustakaan, diolah dan dianalisa melalui pendekatan deskriptif kualitatif


yaitu dengan menggambarkan dan menjelaskan fenomena-fenomena yang berkaitan
dengan objek penelitian sesuai dengan apa adanya. Prosedur analisa data dilakukan
melalui tahapan sebagai berikut :
a. Reduksi data, dimana data yang terkumpul kemudian dicari tema dan polanya,
ditonjolkan hal-hal yang penting kemudian disusun secara sistematis.
b. Display data atau penyajian data, yaitu dengan membuat diskripsi tentang hasil
penelitian sehingga dapat dilihat gambaran secara keseluruhan.

c. Mengambil kesimpulan dan verifikasi, yaitu menetapkan kesimpulan setelah


semua data yang ada dianalisa.

5. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Studi ini dilakukan dengan mengambil data hasil wawancara dengan beberapa
narasumber dan informan baik dari pengurus partai dan anggota dewan fraksi partai
PDIP, Golkar dan Demokrat dan juga wartawan. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDIP) di tahun 2009 adalah partai yang memiliki keterwakilan anggota DPRD terbesar
di Provinsi Bali sebanyak 24 kursi. Kedua adalah Partai Golkar 12 kursi, serta Demokrat
10 kursi.3. Selama dua kali periode pemilihan umum di Provinsi Bali dari tahun 2004 dan
2009, ketiga partai ini (PDIP, Golkar dan Demokrat) selalu menjadi representasi pilihan
bagi para pemilih masyarakat Bali.

1. PROFIL PARTAI POLITIK


1.1.

Profil dan Sejarah PDI-Perjuangan


Peristiwa yang sangat terkenal dari partai ini adalah 27 Juli 1996 ketika markas

besar PDI Perjuangan diserbu dan dijadikan killing field oleh ORBA dan agen-agennya
yaitu pembunuhan dan penyembelihan lebih dari seratus kader partai dalam suatu operasi
militer yang terorganisir sempurna,
Sejarah panjang PDI-Perjuangan sebagai partai politik penuh warna dan
dinamika. Sejarah tersebut dapat ditelisik dalam dua periode. Periode pertama, pada
masa Orde Baru. Pada masa ini pernah terjadi pemfusian partai politik berdasarkan garis
ideologinya. Kuatnya intervensi rejim yang sedang berkuasa dengan kesadaran akan
tanggung jawab mewujudkan cita-cita luhur tersebut, guna memenuhi tuntutan
perkembangan zaman yang ada, maka PNI, Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai
Katholik, Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), dan MURBA, pada tanggal
9 Maret 1970 terpaksa membentuk kelompok demokrasi pembangunan, yang kemudian
dikukuhkan dengan pernyataan bersama kelima Partai politik tersebut pada tanggal 28
3

KPUD provinsi Bali 2010

Oktober 1971. Dan akhirnya pada tanggal 10 Januari 1973 melakukan langkah strategis
memfusikan diri menjadi satu wadah perjuangan politik rakyat berdasarkan Pancasila
dengan nama Partai Demokrasi Indonesia (PDI) 4. Pada penutupan kongres kedua PDI di
Jakarta pada tanggal 17 Januari 1981 kelima partai yang berfusi tersebut menegaskan
bahwa perwujudan fusi telah paripurna, serta menyatakan pengakhiran eksistensi masingmasing.
Periode kedua, terjadi pada masa awal reformasi. Diawali dengan tekanantekanan politik yang dialami Megawati Soekarno Putri sebagai ketua umum partai, ada
upaya elit-elit partai politik ini untuk melakukan transformasi politik dengan usaha
pergantian nama dari PDI ke PDI-Perjuangan. Upaya ini dilakukan, karena adanya klaim
kepemimpinan yang sah kedalam struktur partai, sehingga menyebabkan dualisme
kepemimpinan dalam kepengurusan partai tersebut. Transformasi ini didorong oleh
tuntutan perkembangan situasi dan kondisi politik nasional yang terjadi, sehingga
berdasarkan hasil keputusan kongres kelima Partai Demokrasi Indonesia di Denpasar
Bali, maka pada tanggal 1 Februari 1999, PDI telah mengubah namanya menjadi PDI
Perjuangan, dengan asas Pancasila dan bercirikan kebangsaan, kerakyatan dan keadilan
sosial5.
Ditingkat lokal, PDI-Perjuangan telah memainkan peran politik yang sangat
penting. Bahkan di provinsi ini PDIP selama tiga kali periode pemilu dari tahun 1999
hingga 2009 selalu meraih sukses besar dengan perolehan suaranya. Misalnya tahun 1999
partai ini meraih pemenangan pemilu dengan perolehan suara yang sangat
mencengangkan 70 % dan mengalahkan partai-partai yang lain.

Tabel 1. Jumlah kursi PDI-P di DPRD Provinsi Bali


Tahun

Kursi DPRD PDI-P

1999

70,9

39

Arbi Sanit (1981), Sistem Politik Indonesia; kestabilan, peta kekuatan politik dan pembangunan, Jakarta,
PT Raja Grafindo Persada.
5

Piagam Perjuangan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan. Ketetapan kongres III PDI-Perjuangan Denpasar Bali, Tanggal 06 09 April 2010,
No. 09/TAP/KONGRES III/PDI-P/2010

2004

51,34

30

2009

40,94

24

Sumber: KPUD Provinsi Bali


Keberhasilan PDIP dalam perolehan suara pemilih, tidak terlepas dari sejarah
geneologitas partainya dahulu, yang kemudian melahirkan geneologitas partai-partai baru
(lihat bagan 1). Di samping itu, kesuksesan perolehan suara PDIP juga disebabkan karena
pigur tokoh pendiri dan pemimpin partainya yakni Sukarno dan Megawati. Megawati
yang lahir di Bali, Soekarno dan isterinya Fatmawati yang pernah tinggal lama di Bali
yakni di istana Tampaksiring Bangli membuktikan sejarah bahwa kedua tokoh tersebut
(Soekarno dan megawati) sudah sangat melekat di hati warga Bali. Sehingga tidak heran
jika setiap ada pesta demokrasi baik pemilu ataupun pilkada kepala banteng selalu yang
jadi pemenang. Oleh karena itu selama sepuluh tahun (1999-2009) PDIP menjadi tonggak
utama kekuasaan politik di bumi para dewa ini
Gambar 1. Geneologi Partai PDIP

1.2. Bentuk dan Mekanisme Pengawasan Partai PDIP terhadap Kadernya


Bentuk pengawasan partai PDIP dituangkan lewat buku pedoman AD/RT partai,
sebagai pedoman dalam berorganisasi. Sebab di dalam AD/ART ada struktur
kepengurusan. Struktur kepengurusan ini mempunyai tugas masing-masing seperti DPD
yang berfungsi untuk menjaring kompetensi kader-kader partai yang akan diusulkan dan
ditetapkan menjadi calon-calon legislatif. Badan kehormatan (BK), bertugas menertibkan

dan mendisiplinkan anggota partai, sifatnya hanya memberikan pengarahan-pengarahan


dalam setiap rapat pleno di DPD6.
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam wawancara peneliti dengan
kader yang lain7, disebutkan bahwa fungsi pengawasan bagi partai PDIP sangatlah
penting sebab kader-kader yang duduk terutama di jabatan legislatif merupakan bentuk
penugasan partai dan kader (anggota dewan) merupakan pelaksana tugas yang
dipercayakan oleh partai tersebut. Oleh karena itu, pengawasan di PDIP dilakukan sejak
kader itu akan diangkat menjadi caleg dan sesudah menjabat anggota legislatif.
Implementasi pengawasan tersebut dalam bentuk misalnya ketika kader yang maju
menjadi caleg akan dinilai dan diawasi SDM dan track record nya mulai dari etika,
estetika, moral dan skill yang dimiliki, sehingga kriteria-kriteria ini lolos atau tidak untuk
menjadi calon daftar tetap yang diusung oleh partai. Untuk menghindari kader agar tidak
terjebak dan terobsesi korupsi, PDIP memberikan pembekalan dan pelatihan kaderisasi di
tingkat madya dan juga pembekalan kaderisasi secara nasional yang diutus ke DPP
(pusat) dan dilanjutkan di tingkat daerah.
Bentuk lain pengawasan dari PDIP terhadap kadernya adalah dengan cara
melakukan pengarahan dan instruksi berupa keputusan partai pusat (DPP). Sedangkan
mekanisme pelaksanaan pengawasan PDIP dilakukan dengan mekanisme kontrol.
Dengan cara itu menurutnya, pengawasan dapat dilakukan dengan baik secara bottom-up
maupun top down. Mengenai mekanisme kontrol secara detail dijelaskan lebih lanjut
melalui hasil wawancara berikut ini:
Dengan mekanisme kontrol, pelanggaran pasti diketahui, kontrolnya ada di fraksi,
tugas fraksi mengkoordiir, mengawasi sekaligus membina anggotanya. Selain itu
juga ada rapat evaluasi rutin, setiap bulan. Fraksi lapor ke induk partai. Fraksi
memberikan evaluasi. Oleh karena itu kontrol PDIP sangat terinstitusionalisasi
dan hirarkis.8

Wawancara dengan I Wayan Sutena, Wakil Ketua Bidang Organisasi DPD PDIP Provinsi Bali, Denpasar
7 Juni 2012
7

wawancara dengan I Wayan Sumiati, Pengurus dan anggota DPRD PDI Perjuangan prov. Bali, Denpasar,
5 Juni 2012
8

Ibid

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pimpinan Megawati ini memberikan


pengawasan sebagai langkah strategis khusus yang dipergunakan partai untuk mengontrol
kader-kadernya, agar bekerja dan mengabdi untuk partai. Adapun bentuk pengawasan di
PDIP memilih bentuk hirarkis dan berjenjang artinya setiap permasalahan di partai
terlebihi dulu ditangani di tingkat struktur local, apabila tidak mampu maka di bawa ke
DPP pusat. Karena demikian, PDIP tidak memiliki dewan pengawas yang ada hanyalah
badan kehormatan di setiap pengurus internal partai baik di pusat maupun di daerah.
Badan kehormatan ini bertugas menyampaikan informasi dan mengeksekusi kader-kader
partai yang bermasalah, kemudian dilaporkan ke pengurus pusat partai sesuai dnegan
jenjang asal muasal kader yang bersangkutan.
Apabila terdapat kader yang terkena kasuistik, maka DPD (partai di daerah) hanya
berperan mengevaluasi, mempertimbangkan kader tersebut, selanjutnya yang berhak
mengeluarkan seseorang dari anggota dan kepengurusan partai hak sepenuhnya berada di
pengurus partai pusat (DPP). Selanjutnya DPP juga akan mempertimbangkan kembali
kader tersebut, prinsipnya adalah kader dapat keluar dari keanggotaan partai dikarenakan
dua alasan mengundurkan diri atau dikeluarkan secara tidak hormat. Bila permasalahan
kasus tersebut menimbulkan citra negatif partai maka secara langsung keanggotannya
akan dilepas secara tidak hormat, dan tidak ada pembelaan sedikitpun dari partai.

1.4. Profil dan Perkembangan Partai Demokrat


Latar belakang berdirinya Partai Demokrat tidak terlepas dari peristiwa kekalahan
Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan wakil presiden pada sidang Istimewa
Majelis Permusyawaratan Rakyat MPR, 1 Juli 2001. Waktu itu mantan menteri
koordinator Politik dan keamanan di era pemerintahan Abdurarhman Wahid (2000
2001) itu merupakan salah satu dari lima calon wakil presiden yang akan bersaing untuk
dipilih oleh anggota MPR guna mendampingi presiden megawati Soekarnoputeri.
Susilo Bambang Yudoyono sendiri dicalonkan oleh salah satu fraksi di MPR
yakni Fraksi Kesatuan Kebngsaan (FKKI) dan didukung oleh 90 anggota MPR dari
utusan golngan dan dari fraksi lainnya secara perorangan. Sedangkan keempat calon
lainna adalah Hamzah Haz yang dicalonkan oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP),
Akbar Tanjung yang dicalonkan oleh fraksi Golkar, Agum Gumelar yang dicalonkan oleh

Fraksi Pesatuan Daulatul Ummah, serta Siswono Yudo Husodo yang dicalonkan oleh 88
anggota MPR secara perorangan.
Pada pemilihan putaran pertama, SB Yudhoyono berhasil meraih 122 suara dari
total 613 suara, sehingga menduduki urutan ketiga dan berhak mengikuti putaran kedua.
Uruta pertama diraih oleh Hamzah Haz (238 suara) sedagkan urutan kedua diduduki oleh
Akbar Tanjung (177 suara). Pada putaran kedua SB Yudoyono tetap berada di urutan
ketiga sehingga gagal masuk pada pemilian putaran ketiga yang hanya memajukan
Akbar tanjung dan Hamzah haz.
Kekalahan Susilo Bambang Yudhoyono kemudian memotivasi beberapa anggota
MPR untuk mendirikan sebuah partai politik sebagai kendaraan politik bagi Susilo
Bambang Yudhoyono. Selain itu, kurangnya perhatian partai-partai politik yang ada saat
ini untuk memberikan pendidikan politik bagi masyarakat juga ikut melatarbelakangi
berdirinya partai Demokrat9.
Partai demokrat memang mempunyai kedekatan historis dengan sosok SBY.
Selain ide pembentukan partai ini juga merupakan sumbangan dari SBY sendiri, tanggal
kelahiran partai juga sengaja diambil dari tanggal dan bulan kelahiran SBY, meskipun
demikian, hingga akhiir 2003 SB Yudoyono sendiri tidak duduk dalam jajaran
kepengurusan partai, akan tetapi istrinya Kristiani Herawati menjabat sebagi wakil ketua
umum partai. Setelah pendirian pengurus partai democrat segera melakukan ekspansi
Kiprah Partai Demokrat ditingkat Provinsi Bali menunjukkan posisi yang sangat
penting. Ini terbukti dengan pesatnya perolehan suara yang diperoleh melalui proses
pemilu legislatif 2009 lalu (10 kursi). Bila dibandingkan pemilu 2004 Partai Demokrat
belum sama sekali mendapatkan simpati masyarakat utamanya lapisan masyarakat yang
berada dikalangan bawah dan hanya mendapatkan 3 kursi di DPRD Provinsi Bali.
Perolehan suara Demokrat yang kian meningkat menunjukkan bahwa partai ini cukup
menjanjikan dan dapat eksis di pulau Dewata.
Ketika ditelusuri dengan beberapa data dan riset ternyata faktor figur SBY
memberikan pengaruh cukup penting dalam perolehan suara pemilu. Sama seperti partai
besar lain seperti partai Golkar, PDI-P dan PPP mempunyai basis massa yang sama.
9

Daniel Dakidae, Partai-partai Politik Indonesia, Ideologi dan Program 2004 dan 2009, PT Kompas
Media Nusantara, Jakarta, 2004.

Perekrutan kaderkader partai dari tokoh-tokoh masyarakat menunjukkan cukup besar


antusiasme masyarakat dalam melihat peluang politik terbaru sebagai akibat munculnya
partai baru. Modal dasar ini juga yang membawa partai Demokrat melibatkan diri dalam
konstelasi politik lokal dan bersedia bergabung dengan beberapa koalisi partai politik
pada pemilihan umum langsung kepala daerah di sejumlah kabupaten di Provinsi Bali.
Tabel 2. Jumlah Kursi Partai Demokrat di DPRD Provinsi Bali
Tahun

Kursi DPRD

1999

2004

5,53

2009

14,61

10

Sumber: KPUD Provinsi Bali

1.5. Bentuk dan Mekanisme Pengawasan Partai Demokrat


Sama halnya dengan Partai Demokrasi Indonesia perjuangan (PDIP), dari hasil
penggalian data informasi bahwa Partai Demokrat juga memiliki pengawasan terhadap
kader-kadernya yang duduk di lembaga legislatif. Bentuk dan mekanisme pengawasan
tersebut dijabarkan melalui buku pedoman berorganisasi yaitu AD/ART partai.
Pengawasan Partai Demokrat sama dengan PDIP yakni dilakukan dengan cara
pembinaan, pengarahan kepada kader dan pintu pengawasannya secara internal berada
dibawah kendali fraksi Partai di di Parlemen dan ditindak lanjuti di pengurus partai
(DPD) dan kemudian dilanjutkan ke DPP (pusat) .
Adapun bentuk pengawasannya bersifat hirarkis. Ini dipilih karena partai
Demokrat merupakan partai modern. Hal ini diamini oleh salah satu kadernya melalui
hasil wawancara berikut ini:
Pengawasan Secara hirarkis adalah; dewan kehormatan yaitu ketua DPP bertugas
memberikan laporan ke majlis partai, majlis partai berkomunikasi ke ketua partai,
dewan kehormatan berkomunikasi dengan ketua dan badan pengawas, badan
pengawas hanya bisa ke badan kehormatan. Badan pengawas memberikan
laporan ke dewan kehormatan, dewan kehormatan memberikan laporan ke ketua
DPP. Setelah dewan kehormatan memberikan laporan, pada tahap ini terbuka
untuk dilakukan rapat, untuk memberikan tindakan dan sangsi bagi kader yang
melanggar aturan atau garis program partai. Demikian pula di tingkat DPD. Peran
badan pengawas sangat vital, majlis partai daerah berkomunikasi dengan ketua

DPD. Badan pengawas daerah menyampaikan hasil pengawasan itu, ke dewan


kehoormatan, badan kehormatan menggodok kemudian menyampaikan ke
pengurus DPD, DPD lah yang akan memutuskan apakah ada pelanggaranpelanggaran yang dilakukan oleh anggota dewan10.
Namun demikian, secara realitasnya bentuk pengawasan hirarkis ini belumlah
berjalan secara optimal, disebabkan berlapisnya hirarki aturan partai yang lain (tumpang
tindi aturan/ambivalensi makna), misalnya banyak anggota DPRD yang belum
memahami secara penuh mengenai hirarki organisasi partai dalam mengembangkan
tugasnya, selama ini yang bermain di lingkaran anggota dewan adalah urusan dan
kepentingan pribadi bukan atas nama partai yang merepresentasikannya.

1.7. Profil dan Sejarah Perkembangan Partai Golkar

Tabel 3. Jumlah kursi Partai Golkar di DPRD Provinsi Bali


Tahun

Kursi DPRD Partai Golkar

1999

2004

18,1

14

2009

16,76

12

Sumber: KPUD Provinsi Bali

Awal mula nama Partai Golkar adalah Sekber Golkar yang didirikan pada tanggal
20 Oktober 1958 yaitu pada masa akhir pemerintahan Soekarno, oleh angkatan darat
(AD) partai ini dilahirkan kembali untuk menandingi pengaruh partai komunis Indonesia
dalam

kehidupan

politik.

Sekber

Golkar

merupakan

wadah

dari

golongan

fungsional/golongan karya murni yang anggotanya tidak berada di bawah pengaruh


politik tertentu. Anggota Sekber Golkar berasal dari Front Nasional yang bertujuan
menegakkan Pancasila dan UUD 1945. Dalam perkembangannya, Sekber Golkar berubah
menjadi Golongan Karya yang menjadi salah satu organisasi peserta pemilu.

10

Wawancara dengan Anak Agung Sudewa/ Ketua Divisi Pembinaan Kader dan Organisasi DPD
Demokrat Bali. Wawancaran 28 Juni 2012

keikutsertaan dalam peserta pemilu menunjukkan Golongan Karya berperan kembali


dalam arena sosial politik meskipun belum terorganisasikan secara teratur dan terarah.
Pengorganisasian Golongan karya secara teratur dimulai sejak tahun 1960
meskipun mengalami tantangan politik yang cukup berat sebab orientasi paham politik
ideologi golongan, serta penghayatan masyarakat akan hakikat karya dan kekaryaan
belum berkembang. Menghadapi keadaan yang tidak menguntungkan itu Golongan
Karya memadukan diri membentuk SEKRETARIAT BERSAMA GOLONGAN
KARYA pada tanggal 20 Oktober 1964. Tanggal tersebut kemudian dkenal sebagai
tanggal berdirinya organisasi Golongan Karya. Mulai saat itu Golongan Karya
mempelopori pengarahan orientasi seluruh bangsa pada pembaharuan dan pembangunan.
Sejak tahun 1965, setelah berhasil dalam ikut serta menumbangkan kekuasaan
Orde Lama dan menumpas pemberontakan G30 S/PKI Golongan Karya berkembang
menjadi satu kekuatan sosial politik dan memberikan sumbangannya dalam
pembentukkan stabilitas dalam masyarakat.
Pemilu 1971 (pemilu pertama dalam pemerintahan ORBA Presiden Soeharto)
Golkar menjadi pemenang pemilu dan diterimanya sumbangan pemikiran Golongan
Karya dalam Sidang Umum Majlis Permusyawaratan Rakyat bulan Maret 1973 terutama
yang ditetapkan menjadi GBHN, sehingga dengan ini Golongan Karya telah
mendapatkan kedudukan dan peranan nyata dan menentukkn masyarakat serta menjadi
kekuatan inti dalam pembaharuan bangsa. Kemenangan Golongan Karya terulang hingga
lima kali pemilu dari tahun 1977, 1982, 1987, 1992, 1997 pada era pemerinthan Soeharto.
Setelah Soeharto lengser dan reformasi bergulir Golkar berubah menjadi Partai Golkar.
Pada pemilu 1999 Partai Golkar turun menjadi peringkat kedua setelah PDI-P. Akibat
ketidakpuasan para pemilih terhadap pemerintahan Megawati, di pemilu legislatif 2004,
Golkar kembali terpilih menjadi peserta pemenang pemilu. Dan pada pemilu 2009 yang
lalu Golkar mendapatkan posisi ketiga setelah Partai Demokrat dan PDIP.

1.8. Paradigma Baru Partai Golkar


Golongan Karya di era kepemimpinan Soeharto, menjadi mesin mobilisasi politik
dan pemilu untuk melegitimasi kekuasaan Soeharto. Sehingga selama lima periode
pemilu Golkar menjadi partai penguasa the rulers party. Semangat lahirnya reformasi

berdampak para perubahan paradigma baru pada tubuh Golkar dengan recall aspek partai
pembaharuan. Aspek pembaharuan ditujukan melalui perubahan struktur atau
kelembagaan dan aspek kesinambungan, tetapi tetap berideologi Pancasila dan doktrin
karya kekaryaan. Pembaharuan ini dimaksudkan untuk meluruskan sejumlah kekeliruan
lama dan diarahkan untuk mewujudkan partai Golkar yang mandiri, demokratis, kuat,
solid, berakar dan responsif.
Paradigma Pembaharuan ini sebenarnya didorong dari alasan-alasan

partai

Golkar sendiri yakni jati diri dan watak Golkar sebagai kekuatan pembaru, yakni sebagai
partai yang melaksankan amanat penderitaan rakyat, untuk membangun masyarakat adil,
makmur, aman tertib dan sentosa (Ikar Panca Bakti Golongan Karya).
Paradigma baru Partai Golkar ini diwujudkan melalui pembaharuan internal, terutama
terhadap struktur atau kelembagaan organisasi yang membatasi kemandirian Partai
Golkar. Langkah-langkah pembaharuan tersebut diikuti diikuti dengan diwujudkannya
prinsip kedaulatan di tangan anggota. Yaitu mekanisme pengambilan setiap keputusan
organisasi dilakukan secara lebih terbuka, demokratis dari bottom-up

dan dengan

pemungutan suara secara langsung. Melalui mekanisme yang demokratis ini maka
terbukalah kader-kader untuk memimpin partai karena memang dalam perspektif
demokrasi kesempatan dan peluang perlu disediakan untuk semua, sehingga tidak terjadi
pemusatan pandangan pada pesona pigur tunggal yang mengarah pada kultus individu.
Implikasi dari partai pembaruan ini, bahwa Golkar menjadi benar-benar mandiri
dan mampu mewujudkan tegaknya asas kedalatan di tangan anggota sebagai salah satu
prinsip utama dari partai modern, demokratis dan emnegakar. Sehingga Partai Golkar
bertumpu hanya pada kekuatannya sendiri, tidak mengandalkan kekuatan dari luar
dirinya sendiri, dan selanjutnya dapat mengambil keputusan-keputusan organisasional
secara independent tanpa campur tangan dari pihak luar atau golongan manapun.
Melalui Paradigma baru ini doktrin Partai Golkar tetap sebagai kelajutan dari
secretariat bersama (SEKBER) GOLONGAN KARYA yang berpegang teguh tetap pada
doktrin karya kekaryaan , yaitu Karya Siaga Gatra aja, tetapi dipahami secara kreatif dan
dinamis sesuai dengan dinamika perkembangan jaman.

Gambar 2 : Geneologi Partai Golkar

1.9. Bentuk dan Mekanisme Pengawasan Partai Golkar terhadap Kadernya


Berbeda halnya dengan Partai PDIP dan Demokrat, pengawasan Partai Golkar
sangat kuat dan nonhirarkis. Ini disebabkan Golkar sudah cukup lama berperan dan
berpengalaman dalam hal pembinaan dan pengkaderan anggotanya sejak Orde Lama
masa kepemimpinan Soekarno hingga Orde Baru masa kepemimpinan Soeharto.
misalnya tidak ada pemimpin partai, legislative maupun eksekutif tanpa melalui proses
pengkederan dan pembinaan dahulu. Pembinaan dan pengkaderan anggota di Partai
Golkar dikenal dengan system jenjang karier mulai dari karier tingkat 1 di DPC, jenjang
karier 2 di DPD dan seterusnya. Bila pengurus pusat (DPP) sudah menyakini akan
kemampuan kader dalam memimpin, dan manajerial oranisasi yang cukup kuat, maka
kader tersebut dapat diberikan peluang berkarier di luar (legislatif, atau eksekutif) dengan
menduduki jabatan statregis.
Positivisme pengkaderan dan pembinaan ini tentu berdampak pada keberhasilan
pengawasannya. Dalam tubuh Golkar setiap kadernya yang menjadi anggota dewan harus
memiliki kapabilitas dalam memimpin dan manajerial yang tangguh, dan yang terpenting
setiap kader harus mengetahui hak, kewajiban larangan2 serta sangsi bagi kader yang
melanggar aturan partai. ini akhirnya membuat kader cukup sadar dan tahu diri apabila di
antara kadernya terkena kasus maka dengan sendirinya mereka akan mengundurkn diri,
tidak harus menunggu surat pemecatan atau intruksi partai dahulu.

Nilai positif yang lain, bahwa kuatnya system Pembinaan dan pengkaderan di
Golkar pula berimplikasi pada penerapan tugas dalam jabatan, artinya setiap kader
Golkar tidak boleh merangkap jabatan baik di pengurus partai dan anggota legislatif
maupun eksekutif. Kebijakan ini sudah lama diterapkan dan memiliki alasan kuat bahwa
rangkap jabatan akan menghilangkan fungsi dan peran kader yang sesungguhnya.
Disamping rangkap jabatan membuat kinerja kader tudak optimal. Inilah salah satu nilai
yang membedakan Golkar dengan partai lain.
Semua Bentuk dan mekanisme pengawasan partai tertuang pada buku pedoman
AD/RT partai. Oleh karena itu setiap anggota, pegurus, dan kader-kader Golkar wajib
memiliki buku pedoman tersebut. Dan mekanisme untuk mengetahui informasi partai
yang update disediakan dalam rapat bulanan baik di tigkat DPC, DPD dan juga DPP.
Bentuk pengawasan Partai Golkar11 terhadap kadernya dapat dilihat pada
kewenangan fraksi partai di dewan. Sebab fraksi selain sebagai kepanjangan tangan dari
partai yang tidak saja mengetahui tentang partai, juga fraksi lebih mengetahui tindakan
dan kegiatan kadernya di lembaga legislatif. Kehadiran fraksi bagi Golkar adalah tempat
yang penting untuk mengontrol dan mengevaluasi kinerja anggota partainya. Fraksi
diberikan kebijakan-kebijakan khusus yang bersifat situasional yang tidak harus
menunggu keputusan dari DPP. misalnya fraksi diberi kewenangan untuk membuat
keputusan bila kadernya dianggap bersalah dengan penunjukan bukti-bukti yang valid.
berdasarkan kinerja dan evalusi wilayahnya.

I.

KESIMPULAN
a. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis temuan, studi ini menarik
kesimpulan sebagai berikut:
Partai Politik dalam studi ini (PDIP, Golkar, dan Demokrat) semuanya
mempunyai sistem pengawasan terhadap kader dan anggotanya yang duduk
sebagai anggota DPRD. Namun ketiga partai ini memiliki kesamaan dan
perbedaan di dalam implementasi pengawasannya.

11

Wawancara dengan Sri Wigunawati, Sekretaris DPD Golkar Provinsi Bali , tgl 25 Juni 2012

Persamaannya adalah pintu pengawasan partai berada di fraksi. Hal ini


terkesan bahwa kader yang menjadi anggota dewan mengawasi dirinya sendiri,
dan banyak ditemukan juga di beberapa partai termasuk partai-partai dalam kajian
ini bahwa anggota dewan adalah pengurus partai sehingga memiliki peran ganda
yakni di dewan, di partai dan pengawasan.
Perbedaannya terdapat pada mekanisme pelaksanaan pengawasan, yakni
pengawasan Partai PDIP bersifat hirarkis institusionalisme dan berjenjang, artinya
permasalahan mengenai kader partai di bawah ke struktur lokal (DPD), bila tidak
mampu ditangani diserahkan ke DPP pusat. Sedangkan Partai Demokrat bersifat
hirarkis (hampir sama dnegan dengan PDIP) hanya saja Partai Demokrat memiliki
badan pengawas sendiri, tetapi tidak independent, sebab fungsi badan pengawas
ini tidak jelas karena semua permasalahan mengenai kader dilimpahkan ke Badan
Kehormatan (BK). dan Pengawasan Partai Golkar bersifat non hirarkis dan
fleksibel, meskipun DPP pusat mempunyai peran penting untuk mengcounter
permasalahan yang tidak bisa ditangani oleh DPD. Sifat Non hirarkis dan
fleksibel artinya anggota dewan dianggap memiliki manajerial organisasi yang
kuat karena proses pengkaderan di partai yang solid, sehingga apabila terdapat
kader yang terkena kasus maka kader harus tau diri dan mengambil sikap
semestinya untuk keluar dari partai apabila terbukti bersalah, tanpa harus
mengunggu intruksi DPP pusat atau di PAW dahulu.
Dapat ditarik kesimpulan, meskipun di partai terdapat badan pengawas dan
badan kehormatan, fungsionalisasi pengawasan di partai tersebut belum
maksimal. Sebab partai-partai dalam studi ini masih setengah-setengah dalam
menjalankan fungsi pengawasannya serta terdapat tumpang tindih/ rangkap
jabatan antara fungsi pengurus partai, anggota dewan, dan siapa pelaksana
pengawasan. Salah satunya disebabkan karena aturan yang kurang ketat dan partai
tidak tegas memberlakukannya. Dan hampir ketiga partai besar tersebut
membiarkan kadernya yang terkena kasus dijerat, diadili tanpa pendampingan
hukum, meskipun ada pendampingan hukum kebanyakan tidak memuaskan kader
sehingga kader karena mempunyai uang, maka lebih memilih sendiri
pengacaranya dan akhirnya partai memecat dan mendepak kadernya begitu saja.

Sebab kualitas kader sebenarnya ditentukan oleh seberapa besar fungsi


pengawasan partai tersebut berlakau, karena anggota dewan adalah perwujudan
dari citra partainya.