Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENYEMPURNAAN TEKSTIL

(MERSERISASI PADA KAIN KATUN, KAIN T/C & KAIN GREY)

DISUSUN OLEH :
Nama Kelompok :

1. Erina Vera Dewi

(12050009)

2. Rizki Purwaning Wulan

(12050010)

3. Dwi Widiyanti

(12050014)

Jurusan

: DIII Teknik Tekstil

Dosen

1. M.Widodo, AT.M.Tech
2. Hardianto,S.ST,M.Eng
3. Desiriana

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL BANDUNG


2014

BAB I
PENDAHULUAN

1. MAKSUD DAN TUJUAN


1.1 MAKSUD :
Mempelajari bagaimana mekanisme proses penyempurnaan merserisasi pada tekstil
bahan kapas, T/C dan kapas grey.
1.2 TUJUAN :
1. Memahami tujuan dan mekanisme proses merserisasi pada serat selulosa
dan campurannya.
2. Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses merserisasi
Menguasai cara proses-proses merserisasi.
3. Menganalisa dan mengevaluasi hasil proses merserisasi.

2. LANDASAN TEORI
2.1

Serat kapas

Kapas adalah serat halus yang menyelubungi biji tanaman kapas.


Tanaman kapas merupakan tumbuhan semak yang berasal dari daerah tropis dan subtropis.
Serat kapas menjadi bahan penting dalam industri tekstil. Serat tersebut dapat dipintal
menjadi benang atau ditenun menjadi kain. Produk tekstil dari serat kapas biasa disebut
sebagai katun (benang maupun kainnya).
Beberapa sifat-sifat kimia kapas adalah :
Tahan kondisi penyimpanan, pengolahan, dan pemakaian normal.
Terpengaruhnya sedikit oleh alkali .
Mudah diserang jamur dan bakteri dalam keadaan lembab dan hangat.
Asam kuat akan menghidrolisa serat dan menyerang jembatan oksigen sehingga
serat terpotong dan DP menurun.
Rusak oleh beberapa indikator dan penghidrolisa.
Rusak oleh asam kuat pekat dan encer.
Kekuatan kering 3-4 g/d dan kekuatan basahnya 3,3-6,4 g/d dengan berat
molekul kapas 1,50-1,56.
Alkali pekat akan menggelembungkan serat pada dinding sekunder, sehingga
penampang melintang serat membulat, menyebabkan kilau serat dan kekuatan
bertambah karena terpilin atau menggelembung.

Serat kapas merupakan produk yang berharga karena hanya sekitar 10% dari berat
kotor (bruto) produk hilang dalam pemrosesan. Apabila lemak, protein, malam (lilin), dan
lain-lain residu disingkirkan, sisanya adalah polimer selulosa murni dan alami. Selulosa ini
tersusun sedemikian rupa sehingga memberikan kapas kekuatan, daya tahan (durabilitas),
dan daya serap yang unik namun disukai orang. Tekstil yang terbuat dari kapas (katun)
bersifat menghangatkan di kala dingin dan menyejukkan di kala panas (menyerap keringat).
Sebagai tambahan dari industri tekstil, kapas juga digunakan dalam jaring ikan, saringan
kopi, tenda, dan pembatas buku. Uang China pertama terbuat dari fiber kapas, dan
juga uang dollar AS modern. Denim, sebuah jenis pakaian 'durable', sebagian besar terbuat
dari kapas, dan juga kebanyakan T-shirt. Sekarang ini kapas diproduksi di banyak tempat di
dunia, termasuk Eropa, Asia, Afrika, Amerika, dan Australia, menggunakan tanaman kapas
yang telah dipilih jadi dapat

menghasilkan lebih banyak fiber. Pada 2002, kapas

ditumbuhkan di 330.000 km ladang, 47 milyar pon kapas mentah seharga 20 milyar dolar
AS ditumbuhkan tahun tersebut.
2.2

Rayon

Serat rayon merupakan serat buatan dari ppolimer alam yang banyak diproduksi
disamping serat asetat. Serat rayon itu sendiri memiliki jenis yang beragam, dan yang
digunakan disini adalah jenis viskosa yang perkembangannya paling pesat. Dilihat dari
struktur kimianya, karena serat rayon merupakan serat selulosa yang diregenerasi, maka
struktur kimianya pun memiliki persamaan yaitu merupakan rantai selulosa yang
mengandung unit beta glukosa dengan pengecualian pada derajat polimerisasinya yang
lebih rendah akibat terjadinya degradasi rantai polimer selama pembuatan serat.

Gambar 1.1 struktur molekul serat selulosa


Gambar diatas merupakan skema dari strukur molekul serat selulosa. Struktur
molekul diatas tersusun dari molekul selulosa yang merupakan pengulangan dari danhidroglukosa. Serat diatas memiliki gugus hidroksil (-OH) yang memberikan sifat kelarutan
didalam air. Meskipun demikian, selulosa yang banyak mengandung gugus hidroksil dapat
bersifat tidak larut didalam air. Hal tersebut dimungkinkan karena berat molekul selulosa
yang sangat besar, juga karena terjadinya ikatan hidrogen antar molekul selulosa yang
mempersukar kelarutan selulosa didalam air. Beberapa sifat pada serat rayon ini memiliki

kemiripan yang hampir sama dengan serat kapas yang merupakan serat selulosa. Rayon
memiliki sifat elastisitas yang rendah, hal ini membuat benang yang mengalami tarikan
secara mendadak pada saat ditenun, kemungkinan benangnya tetap mulur dan tidak mudah
kembali lagi, yang mengakibatkan saat diberi warna akan memberikan hasil yang tidak rata
pada beberapa bagian dan terlihat beberapa garis yang lebih berkilau. Dalam ketahanan
terhadap panas saat penyetrikaan, serat rayon ini memiliki sifat yang cukup baik, akan tetapi
pemanasan dalam waktu yang lama akan membuat warna rayon menjadi lebih kuning.

2.3

Serat poliester

Poliester adalah suatu kategori polimer yang mengandung gugus fungsional ester dalam
rantai utamanaya. Meski terdapat banyak sekali polyester istilah polyester merupakan
sebuah bahan yang spesifik lebih sering merujuk pada polietilena tereftalat (PET). Serat
polyester adalah serat sintetik yang dibuat dari molekul polimer polyester linier dengan
susunan paling sedikit 85 % etilena glikol (HO-CH2-CH2-OH) dan asam tereftalat
(C6H4(COOH)2) melalui proses polimerisasi kondensasi. Kekuatan polyester pada keadaan
kering sama besar dengan kekuatan pada keadaan basah sedangkan berat molekulnya
adalah 1,38. Polyester mempunyai kristalinitas yang tinggi, bersifat hidrofob dan tidak
mengandung gugusan-gugusan yang aktif, sehingga sukar sekali ditembus oleh molekulmolekul yang berukuran besar ataupun tidak bereaksi dengan zat warna anion atau kation.
Penggunaan alkali panas waktu proses pencucian polyester sebaiknya dihindari,
karena akan menyebabkan terkelupasnya permukaan serat tersebut. Polyester juga memiliki
titik leleh yang tinggi yaitu 280oC, juga daya tahan terhadap sobekan maupun gosokan dan
elastisitas yang tinggi.
Poliester termasuk zat kimia yang alami, seperti yang kutin dari kulit ari tumbuhan,
maupun zat kimia sintetis seperti polikarbonat dan polibutirat. Dapat diproduksi dalam
berbagai bentuk seperti lembaran dan bentuk 3 dimensi, poliester sebagai termoplastik bisa
berubah bentuk sehabis dipanaskan. Walau mudah terbakar di suhu tinggi, poliester
cenderung berkerut menjauhi api dan memadamkan diri sendiri saat terjadi pembakaran.
Serat poliester mempunyai kekuatan yang tinggi dan E-modulus serta penyerapan air yang
rendah dan pengerutan yang minimal bila dibandingkan dengan serat industri yang lain.
Keburukan dari serat poliester merupakan kebaikan pada serat rayon viskosa,
demikian pula sebaliknya.
Sifat-sifat yang didapat dari pencampuran kedua macam serat tersebut adalah :

Ketahanan kusut dan kestabilan dimensi baik

Tahan terhadap mikrobiologi

Mempunyai daya serap terhadap air dan keringat

Ketahanan terhadap tekanan dan ketahanan gososnya baik

Kekuatan kain baik.

2.4

Merserisasi

Merserisasi adalah suatu proses persiapan penyempurnaan yang bertujuan untuk


menaikkan keunggulan sifat kain, yaitu :

Menambah kekuatan serat

Menambah daya serap bahan terhadap zat warna

Menambah kilau pada kain.

Dalam percobaan kali ini digunakan serat selulosa, yaitu kain kapas. Dan kain ini
mengandung serat kapas yang komposisi utamanya tersusun atas selulosa. Selulosa
merupakan polimer linier yang tersusun dari kondensasi molekul-molekul glukosa yang
dihubungkan pada posisi satu dan tempat.
Kandungan dari selusosa adalah tiga buah gugus hidroksil, satu primer dan dua
sekunder pada tiap-tiap unit glukosa. Dinding sekunder terdiri atas selulosa murni. Zat-zat
lain terdapat pada dinding primer dan sisa-sisa protoplasma di dalam lumen. Dinding primer
juga mengandung banyak selulosa.
Sedangakan untuk proses merserisasi dikerjakan pada kain kapas dalam larutan
NaOH yang konsentrasinya kurang lebih 30o 36o Be pada suhu kamar dan diikuti dengan
pencucian. Pengerjaan dengan kondisi tersebut memberikan hasil sebagai berikut :

Kain mengkeret

Mulur bertambah

Kekuatan bertambah

Daya serap air naik

Afinitas terhadap zat warna bertambah

Daya reaksi dari selulosa bertambah pada suhu rendah

Dalam pengerjaan, daya penarik selulosa terhadap NaOH lebih banyak

Proses merserisasi yang dilakukan dengan tegangan hasilnya akan memberikan kilap
yang bertambah, hal ini disebabkan oleh reorientasi rantai-rantai molekul selulosa sehingga
deretan kristalinnya lebih sejajar dan teratur dan pekerjaan merser melepaskan putaran
serat sehingga memberikan penampang serat yang lebih bulat.

Proses Merserisasi dipengaruhi oleh beberapa faktor :

a. Zat yang digunakan


Zat yang biasa digunakan adalah NaOH 300 360 Be, kira-kira 25 % larutan NaOH.
Kadang - kadang diberi tambahan zat pembasah sebanyak - 1 % yang tahan terhadap
alkali.
b. Waktu
Pengerjaan merserisasi berlangsung selama 40 detik, yaitu waktu yang diperlukan
NaOH untuk menyerap ke dalam serat. Pengerjaan yang lebih lama tidak memberikan hasil
yang lebih baik.
c. Suhu
Hasil yang terbaik didapat pada suhu yang stabil, seperti juga konsentrasi yang tetap
akan menghasilkan kilau yang rata. Suhu lebih rendah memberikan hasil merserisasi yang
lebih baik. Selama pengerjaan akan timbul panas, karena itu larutan NaOH harus selalu
didinginkan. Suhu terbaik untuk proses merserisasi adalah 18 0C.
d. Anyaman bahan
Efek merserisasi akan lebih mengkilap pada kain dengan anyaman yang banyak
memberikan float benang yang tinggi (anyaman satin) dibandingkan dengan yang lebih
rendah (anyaman polos).
e. Tegangan
Penegangan pada bahan dilakukan dengan dua cara :

Bahan dikerjakan dengan diberi tegangan baik pada waktu impregnasi maupun
waktu pencucian.

Penegangan dilakukan setelah penyerapan NaOH, tetapi sebelum pencucian. Bila


penegangan dilakukan setelah pencucian maka kilap yang diharapkan tidak akan
timbul, begitu juga perpanjangan yang didapat akan mengkeret lagi dalam pencucian
pertama. Besarnya tegangan yang diberikan harus sedemikian, sehingga dapat
mengembalikan panjang bahan ke panjang semula.
f.

Kualitas bahan

Kualitas hasil yang baik akan didapatkan apabila bahan telah diproses singeing dan
scouring terlebih dahulu. Merserisasi dapat dilakukan sebelum ataupun sesudah bleaching,
tetapi kain yang dimerser sebelum bleaching akan memberikan pegangan yang lebih lunak.
Selain itu untuk kain yang stapelnya lebih panjang akan memberikan hasil merser yang lebih
baik.

2.5

Merserisasi pada kain kapas

Proses dispersi untuk kapas yang paling umum adalah proses merserisasi, yaitu
dengan mengerjakan kapas dalam larutan NaOH yang konsentrasinya 30-36 0Be pada
suhu kamar dan diikuti oleh pencucian. Pengerjaan dengan kondisi tersebut memberikan
hasil-hasil sebagai berikut :
Kain mengkeret

Perpanjangan sebelum putus bertambah

Kekuatan bertambah

Daya penarik terhadap air

Afinitas terhadap zat warna bertambah

Daya reaksi dari selulosa bertambah pada suhu rendah

Dalam pengerjaan, daya penarik selulosa terhadap NaOH lebih banyak

Proses merserisasi dengan tegangan dapat menimbulkan daya kilap serat


bertambah. Hal tersebut disebabkan oleh :

1. Reorientasi dari rantai-rantai molekul selulosa, yang menyebabkan deretan


kristalinnya lebih sejajar dan teratur.
2. Pekerjaan merser melepaskan puntiran serat, sehingga menjadikan penampang
serat yang lebih bulat.
Perubahan Penampang

Gambar 1.2 perubahan bentuk Serat Kapas Selama Proses Merserisasi


2.6 Merserisasi kain T/C
Kain yang terdiri dari campuran serat poliester dan rayon atau kapas dimerser perlu
untuk mempertinggi mutu rayon atau kapasnya sebaik mungkin, tanpa merubah sifat-sifat
dari poliesternya.

Hasil yang didapat ialah, kapas atau rayonnya lebih mengkilap, kehalusannya lebih baik,
afinitas dalam pencelupan bertambah, kestabilannya lebih baik, kekuatan tariknya lebih
besar dan reaktifitas kimianya lebih tinggi. Hal ini penting terutama dalam pengerjaanpengerjaan yang menghasilkan ikatan silang.
Suatu campuran poliester-kapas atau poliester-rayon adalah pencampuran dua serat
yang sama sekali berbeda sifat-sifat kimianya. Kapas dan rayon adalah serat yang sensitif
terhadap air, sedangkan poliester tidak. Poliester hanya sensitif terhadap pengerjaan
dengan NaOH pekat pada suhu tinggi dan waktu yang lama. Karena efek merserisasi
terhadap kapas biasanya dicapai dengan NaOH pekat, suhu yang tidak tinggi dan waktu
kontaknya tidak lama maka kemungkinan terjadinya kerusakan poliester sangat kecil. Pada
umumnya kondisi merserisasi yang normal biasa dipergunakan untuk kapas, memberikan
hasil yang baik pada campuran serat poliester-kapas atau rayon.
2.7 Zat Warna Reaktif
Zat warna reaktif termasuk golongan zat warna yang larut dalam air, mempunyai sifat
tahan cuci dan kilau yang baik serta dapat mengadakan reaksi kimia dengan selulosa dalam
suasana alkali.
Struktur kimia zat warna reaktif
Pada umumnya struktur zat warna reaktif yang larut dalam air mempunyai bagian-bagian
dengan fungsi tertentu dan dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1.3 struktur zat warna reaktif


SKPRX
S = susunan pelarut, misal gugusan asam sulfonat, karboksilat.
K = Khromofor, misalnya sistem-sistem yang mengandung gugusan
azo,
antrakinon dan halosianin.

P = gugusan penghubung antara khromofor dan sistem yang reaktif


misalnya
gugusan amina, sulfoamina, dan amida.
R = sistem yang reaktif, misalnya triazin, pirimidin, kinoksianin dan vinil.
X = gugusan reaktif yang mudah terlepas dari sistem yang reaktif
misalnya
gugusan klor dan sulfat.
Menurut cara pemakaian zat warna reaktif dikenal dua golongan yaitu zat warna
reaktif dingin dan zat warna reaktif panas. Kelarutannya dalam air sangat baik dan karena
adanya asam yang ditimbulkan, maka jika terlalu lama setelah dilarutkan tidak segera
digunakan, zat warna ini akan terhidrolisa. Sehingga untuk mencegah hal tersebut
penambahan alkali pada pencelupan dilakukan setengah jam sebelum pencelupan berakhir.
Pada umumnya supaya reaksi dapat berjalan dengan baik, maka diperlukan
penambahan alkali atau asam sehingga mencapai suatu pH tertentu. Disamping terjadi
reaksi antara zat warna dan serat dengan membentuk ikatan primer kovalen yang
merupakan ikatan pseudo ester atau eter, molekul air pun dapat juga mengadakan reaksi
hidrolisa dengan molekul zat warna dengan memberikan komponen zat warna yang tidak
reaktif lagi. Reaksi hidrolisa tersebut akan bertambah cepat dengan kenaikan suhu.
Hasil reaksi zat warna dengan air pada umumnya tidak dapat bereaksi dengan serat,
terutama pada sistem-sistem reaktif yang mengadakan reaksi substitusi kromofor pada
bentuk sederhana seperti molekul zat warna asam celupan rata, sehingga akan memberikan
warna yang cerah san mudah dihilangkan apabila tidak terikat pada serat selulosa
mempunyai gugusan alkohol primer dan sekunder yang kedua-duanya mampu mengadakan
reaksi dengan zat warna reaktif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pencelupan yaitu :
1. Alkali
Untuk zat warna dapat bereaksi, zat warna memerlukan penambahan alkali yang
berguna untuk mengatur suasana yang cocok untuk bereaksi. Mendorong pembentukan ion
selulosa dan menetralkan asam-asam hasil reaksidan diperlukan untuk fiksasi membentuk
ikatan kovalen.
2. Suhu
Suhu dalam pencelupan memberikan pengaruh sebagai berikut:

Mempercepat pencelupan

Menurunkan jumlah zat warna yang terserap

Mempercepat migrasi, yakni perataan zat warna dari bagian-bagian yang tercelup
tua hingga kebagian-bagian yang tercelup lebih muda hingga terjadi keseimbangan.

Mendorong terjadinya reaksi antara serat dan zat warna pada pencelupan zat warna
reaktif.

Kenaikan mempengaruhi reaksi hidrolisa.


3. Bentuk dan ukuran zat warna
Molekul-molekul zat warna yang datar memberikan daya tembus pada serat tetapi

setiap penambahan gugusan kimia yang merusak sifat datar molekul tersebut akan
mengakibatkan daya tembus zat warna berkurang.
Besar kecilnya atau penambahan suatu zat warna akan mempengaruhi kecepatan
celupnya. Molekul zat warna yang memanjang mempunyai daya untuk melewati pori-pori
dalam serat lebih baik daripada molekul-molekul yang melebar. Molekul yang besar
mempunyai ketahanan cuci yang lebih baik.
4. pH
pH dalam pencelupan dengan zat warna reaktif panas sangat berpengaruh, karena
zat waran reaktif memerlukan suasana yang cocok untuk bereaksi.
5. Perbandingan larutan
Perbandingan larutan adalah perbandingan antara besarnya larutan terhadap berat
bahan tekstil yang diproses, kenaikan konsentrasi zat warna dalam larutan akna menambah
besar penyerapan untuk pancelupan zat wana diusahakan untuk memakai perbandingan
larutan celup yang kecil sehingga zat warna yang terbuang atau hilang sedikit.
6. Elektrolit
Perbandingan elektrolit kelarutan celup untuk memperbesar jumlah zat warna yang
terserap oleh serat, meskipun zat warna yang memiliki kepekaan yang berbeda-beda.
Elektrolit yang ditambahkan

berfungsi akan mengurangi atau menghilangkan muatan

negatif yang ada pada zat warna.

BAB II
PRAKTIKUM

2.1 Alat Dan Bahan


1. Alat

Rangka / Frame ukuran (35x30) cm

Ember

Nampan plastik

Pencatat waktu

Timbangan digital

Penggaris

Air dingin yang mengalir dan air panas

Bejana atau panci untuk mencelup zat warna reaktif pada bahan

Mesin stenter

Mesin padder
2. Bahan

Kain kapas

Kain T/C

Kain kapas grey

Asam asetat 1-2 cc

NaOH 28 0 Be

Pembasah

NaCL

Na2CO3

Zat warna reaktif dingin

2.2 Diagram Alir

Persiapkan alat dan bahan

Proses Penetralan

Buat persegi dengan ukuran 10x10

Cuci dingin dan pengeringan

Timbang bahan

Evaluasi mengkeret kain

Pemasangan kain uji pada frame

Proses Pencelupan

Masukan kain pada larutan NaOH

Cuci dingin dan pengeringan

Cuci panas dan dingin

Evaluasi daya serap zat warna

2.3 Resep
a. Resep Merser

NaOH

: 280Be

Pembasah

: 1 ml/l

Variasi waktu merser

: 20 , 30, 40, 50, 60 detik

Suhu

: 700C

b. Resep penetralan

Asam Asetat

: 1-2 cc

Suhu

: Kamar

c. Resep Celup

Zat warna reaktif dingin

:1%

NaCl

: 20 g/l

Na2CO3

: 20 g/l

Vlot

: 1 : 20

Waktu

: 30 menit

2.4 Fungsi Zat

NaOH

: Untuk merserisasi kain.

Asam Asetat

: Untuk menetralisir kelebihan alkali pada bahan yang telah

dimerser.

Pembasah

: Untuk menurunkan tegangan dan mempercepat pembasahan

pada bahan.

Zat warna reaktif

: Untuk mencelup bahan

NaCl

: Sebagai elektrolit untuk memperbesar penyerapan zat warna

reaktif pada bahan.

Na2CO3

: Untuk mengatur suasana yang cocok untuk bereaksi

mendorong pembentukan ion selulosa dan menetralkan asam-asam hasil reaksi.


2.5 Perhitungan Resep
Pencelupan zat warna reaktif dingin:

Berat seluruh kain

: 137,04 gram

Vlot

: 20

Jumlah air

: berat keseluruhan x Vlot


: 137,04 x 20
: 2740,8 ml
: 2,748 L

Zat warna reaktif

: 1% x 137,04
: 1,3704 gram

Na2CO3

: 20/1000 x 2740,8
: 54,81

NaCl

: 20/1000 x 2740,8
: 54,81

2.6 Cara Kerja

Bahan kain dipotong (kain kapas, kain T/C, kain kapas grey) Pada bahan
diambar bujur sangar ukuran 10 x 10cm dengan tinta permanen.

Semua kebutuhan zat dihitung sesuai resep.

Buat larutan NaOH sesuai resep ( lihat tabel konversi larutan NaOH g/L ke
0

Be ) atur suhu larutan sesuai resep. ( bila merserisasi dingin, larutan harus

didinginkan dengan es.

Pasang bahan pada frame dan berikan peregangan arah lusi dan arah pakan

Rendam bahan kedalam larutan NaOH selama waktu yang ditentukan.

Angkat frame, kemudian cuci dengan air panas dan dingin.

Rendam bahan pada larutan asam cuka (proses penetralan) hingga bahan
terasa tidak licin.

Cuci dingin dengan menggunakan air dingin.

Setelah selesai bahan dikeringkan dan lakukan evaluasi mengkeret terhadap


hasil proses.

Bagi kain menjadi dua bagian, satu bagian (1/3 bagian kain) di siapkan untuk
uji daya terhadap serap zat warna.

Persiapkan semua kebutuhan untuk proses pencelupan dan lakukan proses


pencelupan sesuai resep.

Kemudian, angkat kain dan cuci dengan sabun.

Keringkan kain hasil proses, dan lakukan evaluasi daya serap terhadap zat
warna.

2.7 Skema Proses


2.7.1

Skema Proses Merserisasi

Perendaman dengan NaOH

pencucian

penetralan

pengeringan
Gambar 2.1 skema proses merserisasi

2.7.2 Skema Proses Pencelupan

Bahan
NaCI

300 C

Na2CO3

700C
Gambar 2.2 skema proses pencelupan

2.8 Data Percobaan


Tabel 2.1 Data Pengujian Persen Mengkeret Pada Kain Kapas, T/C dan Kapas Grey
Dengan Waktu Proses Yang Berbeda.

Kain

Mengkeret Kain (%)


Kapas putih

Kapas Grey

T/C

Time
1. 20 Detik

2. 30 Detik

3. 40 Detik

4. 50 Detik

5. 60 Detik

L:3

L:2

L:1

P:4

P: 2

P: 1

L:2

L:2

L:1

P: 5

P: 2

P:0

L:1

L:1

L:1

P: 4

P:2

P:3

L:2

L:1

L:2

P: 3

P:1

P:1

L:2

L:0

L:2

P: 2

P: 1

P: 2

Ketuaan Warna
Kain Hasil Pengujian (Nilai 1-5)
Kelompok
Kain Kapas

Kain Kapas

Putih

Grey

Blanko

10

Kain T/C

Keterangan : nilai terbaik adalah angka terbesar

2.9 Hasil Percobaan


Tabel 2.2 sampel kain hasil percobaan
a. Hasil Praktikum
Sampel kain kapas putih yang tanpa di

Sampel kain kapas putih yang melalui semua

merser langsung dilakukan pencelupan

proses

Sampel kain kapas grey yang tanpa di

Sampel kain kapas grey yang melalui semua

merser langsung dilakukan pencelupan

proses

Sampel kain T/C yang tanpa di merser

Sampel kain T/C yang melalui semua proses

langsung dilakukan pencelupan

BAB III
PENUTUP

3.1 Diskusi
Dari hasil praktikum penyempurnaan merser pada kain kapas putih, T/C, kapas grey
ada beberapa hal yang perlu didiskusikan :

1. Berdasarkan hasil uji ketuaan warna, kain yang lebih tua adalah kain kapas putih
kemudian T/C dan terakhir adalah kain grey.
2. Berdasarkan hasil uji mengkeret kain, secara umumnya semakin lama waktu
perendaman kain dalam latutan NaOH semakin kecil prosentase mengkeret kainnya.
Kain yang lebih tinggi prosentase mengkeretnya adalah kain kapas putih sedangkan
kain T/C lebih rendah mengkeretnya dibandingkan kain grey.
3. Merserisasi pada kain kapas yang setelah pengelantangan dan kain kapas grey
memiliki kekurangan dan kelebihan:
Kelebihan merser kain kapas grey:
a. Merser pada bahan grey dapat membantu menghilangkan kotoran alami
sehingga penggunaan soda kostik pada saat pemasakan akan berkurang
b. Daya serap tinggi
c. Pegangan kain lebih lembut
Kekurangan kapas grey: Ketidakrataan hasil merser
Kelebihan kain kapas putih:
a. Hasil merser lebih merata
b. Daya serap terhadap larutan merser baik
4. Pada hasil penyerapan zat warna, kain kapas putih penyerapannya paling baik
karena kain kapas putih saat merser penyerapan terhadap larutan NaOH sangat baik
dan zw reaktif penyerapannya semakin cepat saat di bantu dengan alkali sehingga
pada saat pencelupan dengan zat warna reaktif panas pewarnaan kain merata .
5. Sedangkan pada kain T/C penyerapannya kurang maksimal karena pada saat
proses merser penyerapan terhadap larutan NaOH kurang baik karena serat

poliester tidak tahan terhadap larutan NaOH sehingga kekuatan penyerapannya


menurun dan warna hasil penyerapannya lebih muda dari kain kapas grey.
6. Kain kapas grey kurang baik penyerapannya karena kain kapas belum dimasak
sehingga daya serap kain tidak sebaik kain kapas putih yang sudah di masak atau
pengelantangan.
7. Perbandingan kain kapas putih setelah merser dengan kain kapas putih tanpa
merser daya serap lebih baik kapas yang di merser, untuk kain T/C kain yang di
merser daya serapnya lebih rendah di bandingkan kain T/C yang melalui proses
merser karena serat rayon tidak tahan NaOH jadi daya serapnya turun, kain kapas
grey daya serap warnanya hampir sama dengan kain grey yang tidak di merser hasil
warnanya hampir sama dengan kain kapas grey yang di merser.

3.2 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum penyempurnaan kain dengan proses merser pada kain
kapas putih, T/C, kapas grey dapat kita simpulkan :
1. Berdasarkan ketuaan warna, kain yang paling tua adalah kain kapas putih
2. Nilai prosentase mengkeret paling tinggi adalah kain kapas putih

DAFTAR PUSTAKA

.Teknologi Penyempurnaan Tekstil, 1977. ITT


Yunara Heri, 1997. Pengaruh NaOH pada proses kostisasi kain Poliester-Rayon yang
dicelup dengan zat warna dispersi terhadap hasil celup serat rayon