Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

PENYEMPURNAAN TEKSTIL
(PROSES PENYEMPURNAAN TOLAK AIR DENGAN MENGGUNAKAN RESIN TOLAK AIR
JENIS INGENUS WR PADA KAIN KAPAS, KAIN NILON DAN KAIN POLIESTER-KAPAS)

DISUSUN OLEH :
Kelompok 1

1. Erina Vera Dewi

(12050009)

2. Rizki Purwaning Wulan

(12050010)

3. Dwi Widiyanti

(12050014)

Jurusan

: DIII Teknik Tekstil

Dosen

:
1. M.Widodo, AT.M.Tech
2. Hardianto,S.ST,M.Eng
3. Desiriana

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL BANDUNG


2014
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Maksud dan Tujuan


Maksud
Studi tentang proses penyempurnaan tolak air dengan menggunakan resin tolak air
jenis Ingenus WR pada kain kapas, nilon dan polyester-kapas.
Tujuan
1. Memberikan sifat tolak air pada kain kapas, polyester dan polyester-kapas.
2. Menganalisis pengaruh perbedaan konsentrasi resin tolak air( Ingenus WR )
terhadap kain kapas, polyester dan polyester-kapas.
3. Mampu mengevaluasi sifat tolak air pada kain kapas, polyester dan
polyester-kapas setelah proses penyempurnaan tolak air dengan pengujian
uji siram dan memberikan nilai uji siram terhadap masing masing kain
yang diuji.
1.2 Teori Pendekatan
SERAT KAPAS
Kapas sebagian besar tersusun atas selulosa maka sifat sifat kimia kapas adalah sifat
sifat kimia selulosa.
Struktur kimia
Analisa serat kapas menunjukkan bahwa serat kapas terutama tersusun atas selulosa.
Selulosa merupakan polimer linier yang tersusun dari kondensasi molekul-molekul
glukosa. Derajat polimerisasi selulosa pada kapas terdiri dari:
1. selulosa

: 94,0%

2. proteina

: 1,3%

3. pektat

: 1,2%

4. lilin

: 0,6%

5. abu

: 1,2%

6. pigmen dan zat lain

: 1,7%

Gambar Struktur Kimia (a) Selobiosa (b) Selulosa


Sumber: Gascoigne & Gascoigne, Biological Degradation of Cellulose The
Chemistry and Physics of Cellulose, p. 3. 1960
Apapun sumbernya derivat selulosa secara prinsif memiliki struktur kimia yang sama.
Hal ini bisa terlihat pada analisa hidrolisis, asetolisis dan metilasi yang menunjukan
bahwa selulosa pada dasarnya mengandung residu anhidroglukosa. Subsequent tersebut
menyesun molekul glukosa(monosakarida) dalam bentuk -glukopironase dan berikatan
bersama-sama yang dihubungkan pada posisi 1 dan 4 atom karbon molekulnya. Formula
unit pengulanganya menyerupai selobiosa (disakarida) yang kemudian membentuk
selulosa (polisakarida).
Sifat sifat Serat kapas
No

Sifat Fisika

Kapas

Warna

Sedikit krem

Kekuatan

Kekuatan serat kapas per bandel rata-rata 96700


pound per inchi dengan minimum 70000 dan
maksimum 116000 pound per inchi

Mulur

rata-rata serat kapas 7%

Keliatan (toughness)

Relatif tinggi

Kekakuan (stiffness)

Kekakuan dipengaruhi berat molekul, kekakuan rantai


selulosa, derajat kristalinitas dan terutama derajat
orientasi rantai selulosa

Moisture Regain

Kurang lebih 7-8,5 %.

Berat Jenis

Berat jenis serat kapas 1,5-1,56

Indeks Bias

Indeks Bias serat kapas membujur sumbu serat 1,58,


indeks bias melintang sumbu serat 1,53

Sifat Kimia
Kapas sebagian besar tersusun atas selulosa, maka sifat-sifat kimia kapas pada
umumnya tahan terhadap kondisi penyimpanan, pengolahan dan pemakaian yang
normal. Beberapa zat pengoksidasi dan penghidrolisa akan merusak kapas sehingga
kekuatannya menjadi turun. Kerusakan karena oksidasi dengan terbentuknya oksi
selulosa, biasanya terjadi pada pengelantangan yang berlebihan, penyinaran dalam
keadaan lembab atau pemanasan yang lama pada suhu diatas 140C.
Asam- asam menyebabkan hidrolisa ikatan-ikatan glukosa dalam rantai selulosa
membentuk hidroselulosa. Asam kuat menyebabkan degredasi yang cepat, larutan encer
menyebabkan penurunan kekuatan. Alkali kuat dengan konsentrasi tinggi menyebabkan
penggelembungan yang besar pada serat. Untuk menahan penggelembungan serat
kapas keluar sehingga lumennya tertutup, irisan lintang menjadi lebih bulat, puntirannya
berkurang dan serat menjadi lebih berkilau sehingga dilakukan merserisasi. Dengan hal
itu, kapas menjadi lebih kuat dan afinitas terhadap zat warna menjadi lebih kuat. Kapas
mudah diserap oleh jamur dan bakteri terutama pada keadaan lembab dan pada suhu
yang hangat.
SERAT POLIESTER
Serat poliester merupakan suatu polimer yang mengandung gugus ester dan memiliki
keteraturan

struktur

rantai

yang

menyebabkan

rantai-rantai

mampu

saling

berdekatan,sehingga gaya antar rantai polimer poliester dapat bekerja membentuk


struktur yang teratur. Poliester merupakan serat sintetik yang bersifat hidrofob karena
terjadi ikatan hidrogen antara gugus OH dan gugus COOH

dalam molekul

tersebut.Oleh karena itu serat poliester sulit didekati air atau zat warna.Serat ini dibuat
dari asam tereftalat dan etilena glikol.
n HOOC

COOH + n HOCH CH OH

OH

OC

H + (2n-1) H O

COO(CH ) O
n

Asam Tereftalat

Etilena Glikol

Poliester

Reaksi pembentukan polyester

Sifat poliester
No

Sifat Fisika

Poliester

Elektrostatis

Mempunyai elektrostatik yang cukup tinggi

Berat Jenis

1,38 g/cm3

Kekuatan Tarik dan Mulur

Kekuatan

tarik

sekitar

4.5

7.5

g/denier,

sedangkan mulurnya 25 % - 75 %.
4

Morfologi

Berbentuk silinder dengan penampang melintang


bulat

RH 65 2 % dan suhu 20 oC 1 % , MR 0.4 %

Moisture Regain

RH 100 % , MR 0.6 % - 0.8 %


6

Derajat Kristalinitas

Sangat penting, karena berbengaruh terhadap daya


serap zw, mulur, stabilitas dimensi, kekuatan tarik,
dll.

tahan panas sampai suhu 220oC suhu 230-240 oC

Pengaruh Panas

poliester melunak, suhu 260oC poliester meleleh.


8

Elastisitas

Elastisitas yang baik

No

Sifat Kimia

Poliester

Pengaruh alkali

Tahan terhadap alkali lemah, terhidrolisa esternya pada


alkali kuat

Pengaruh asam

Tahan asam lemah dan asam kuat namun suhu rendah.

Titik leleh

2500C

Zat organik

Akan lartut dalam zat organik seperti metakresol, asam


triflouroasetatklorofenil dan campuran triokhlorofenol
dengan fenol dan campuran tetra kloro etana dengan
fenol

SERAT NYLON
Polymer polyamida (nylon) adalah polimer yang dibentuk dari asam karboksilat
dan amino. Jenis asam karboksilat dan amino sangat bervariasi sehingga terbentuk
poliamida yang sangat bervariasi, misalnya nylon 6, nylon 66, nylon 11 dll. Yang paling
banyak diproduksi adalah 6 dan 66. Gugus penghubung (-OH-CO-), nylon 6 dibuat dari
senyawa kaprolaktom dan nylon 66 dibuat dari senyawa asam adipat dengan heksa
metilen diamina.

H2N CONH CONH CONH COOH


Ujung-ujung polimer terdapat gugus fungsi NH2 (amino) dan COOH (karboksilat)
dan sebagai penghubungnya adalah gugus amida (-CONH-). Jumlah NH2 dan COOH
tergantung pada banyaknya polimer yang menyusun sebuah serat. RH standar 4,0 4,5
% karena serat poliamida ini mempunyai gugus fungsional maka serat ini masih mungkin
bereaksi dengan zat-zat lain sedangkan poliester tidak mempunyai gugus fungsional
sehingga daya serapnya lebih besar dari poliester (sekitar 4,5). Gugus NH2 bersifat basa
lemah yang dapat menarik air dan gugus karboksilat . Yang membedakan antara nylon 6
dan nylon 66 adalah sifat fisikanya sedangkan sifat kimianya relatif kimia, misal : titik leleh
nylon 6 = 2150C <nylon 66 = 2500C , penyerapan nylon 6 > nylon 66 ini disebabkan oleh
perbedaan struktur fisik yaitu perbedaan DO dan DK. Poliamida ini dapat dicelup dengan
zat warna dispersi asam (kompleks logam, mordan ) dispersi reaktif.
Pembuatan Polyamida/Nylon
Nilon atau poliamida yang dibuat dari heksa metilen diamina dan asam adipat
NH2(CH2)6NH2 + COOH(CH2)4COOH
heksa metilena

NH2(CH2)6NHCO(CH2)4COOH + H2O

asam adipat

diamina
Kemudian molekul-molekul tersebut bereaksi lagi membentuk molekul yang panjang.
Pembuatan nilon diawali dengan pembuatan bahan baku yaitu asam adipat dan
heksa metilena diamina. Asam adipat dibuat dari fenol melalui pembentukan
sikloheksanol dan sikloheksanon. Sedangkan heksa metilena diamina dibuat dari asam
adipat dengan melalui pembentukan amida dan nitril. Setelah bahan baku diperoleh maka
dilakukan pembuatan polimer yang didahului dengan pembuatan garam nilon,
polimerisasi dan penyetopan panjang rantai. Pada pembuatan garam nilon asam adipat
dan heksa metilena diamina dilarutkan dalam metanol secara terpisah dan setelah
dicampurkan akan terbentuk endapan heksametilena diamonium adipat (garam nilon).
Pada pemintalan nilon kehalusan filamen tidak bergantung pada diameter lubang
spineret, tetapi bergantung pada :
1. Sifat polimer.
2. Kecepatan penyemprotan polimer melalui spineret
3. Kecepatan penggulungan filamen
Untuk mendapatkan derajat orientasi tinggi, filamen yang terbentuk ditarik dalam
keadaan dingin. Panjangnya kira-kira menjadi empat atau lima kali panjang semula.
6

Sifat Polyamida/Nylon
1. Nilon mempunyai kekuatan dan mulur berkisar dari 8,8 gram per denier dan 18
%, sampai 4,3 gram per denier dan 45 %. Kekuatan basahnya 80-90 % dari
kekuatan kering.
2. Tahan gosokan dan tekukan
Tahan gosok dan tekukan nilon tinggi sekitar 4-5 kali dari tahan gosok wol.
3. Elastisitas
Selain mulurnya tinggi (22 %), nilon juga mempunyai elastisitas tinggi. Pada
penarikan 8 % nilon elastis 100 % dan pada penarikan 16 %, nilon masih
mempunyai elastisitas 91 %.
4. Berat jenis
Berat jenis nilon 1,14
5. Titik leleh
Nilon meleleh pada suhu 263oC dalam atmosfer nitrogen dan diudara pada
suhu 250oC
6. Sifat kimia
Nilon tahan terhadap pelarut dalam pencucian kering.
Nilon tahan terhadap asam encer.
Dalam HCl pekat mendidih dalam beberapa jam akan terurai menjadi asam
adipat dan heksa metilena diamonium hidroklorida.
Nilon sangat tahan terhadap basa.
Pelarut yang bisa melarutkan nilon diantaranya asam formiat, kresol dan fenol.
7. Sifat biologi
Nilon tahan terhadap serangan jamur, bakteri, dan serangga.
8. Moisture Regain
Pada kondisi standar (RH 65 % dan suhu 21oC) moisture regain nilon 4,2 %.

PENYEMPURNAAN TOLAK AIR


Tolak air didefinisikan aebagai suatu permukaan yang dapat menolak air, tetapi udara
masih dapat menembus permukaan tersebut apabila datang dengan kekuatan yang
besar. Cara untuk mendapatkan tahan air dapat dilakukan dengan berbagai cara,
diantaranya : Dengan melapisi kain dengan karet (lateks) seperti kain yang digunakan
sebagai jas hujan.Dengan menggunakan zat-zat yang dapat menolak air seperti emulsi
malam, sabun-sabun logam dan zat aktif permukaan.
Dalam istilah sehari hari sering terjadi kerancuan pengertian mengenai istilah tahan
air (water proof) dan tolak air (water repllent).pengertian kedua istilah tersebut oleh
7

person pada tahun 1924 didefinisikan sebagai berikut:yang dimaksud dengan tahan air
adalah suatu permukaan yang dapat menolak air saja.definisi tersebut masih harus
disesuaikan dengan tujuan dan kondisi pembuatan kain tahan air atau tolak air, sehingga
pembedaan kedua istilah tersebut kadangkala hanya di bedakan dari kemampuan kain
menahan air pada suatu tekanan tertentu yang dikenal sebagai tekanan hidrostatik. Sifat
kedua permukaan ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

Tabel 1 Perbandingan Antara Kain Tahan Air dan Kain Tolak Air

Kondisi

Tahan Air

Tolak Air

Pori-pori

terisi

Tidak terisi

Kepermesbelan uap air

Sangat kecil

Kecil/besar

Kepermeabelan udara

kecil

Besar

Ciri khas

Dapat menahan tekanan Tidak


hidrostatik

menahan

dapat
tekanan

hidrostatik

Emulsi malam dan garam-garam logam yang diberikan pada kain akan
melapisi benang-benangnya saja akan tetapi tidak menutupi pori-pori atau celah-celah
antar benang sehingga udara masih dapat menembusnya. Dasar teori penyempurnan
tolak air yaitu, jika air diteteskan diatas permukaan zat padat maka air tersebut dapat
membasahi permukaan atau tetap terbentuk tetesan yang menutupi sebagian kecil

permukaan.

Sistem kesetimbangan tetesan air pada permukaan zat padat


8

Bila tetesan air dalam keadaan setimbang, maka didapatkan hubungan :


S = SL + CPs
dimana : S = tegangan permukaan zat padat
L = tegangan permukaan zat cair
SL = tegangan antar muka padat cair

= sudut kontak

Dari persamaan 1 dapat ditulis denngan cara lain, yaitu :

CPs = S - SL
L
Jika S > SL, maka CPs positif dan < 900 dan dikatakan zat cair akan membasahi
zat padat. Bila S < SL maka CPs negatif dan > 90 atau zat cair tidak akan
membasahi zat padat. Syarat batas CPs adalah sebagai berikut :
L < (S SL) atau (SL + L) < S dan bila
(S SL) < 0

maka SL < (S + L)

Disamping dengan pengaturan sudut kontak sifat tolak air juga bergantung pada
porositas (porosity) dari zat pada.
Salah

satu

cara

mereaksikan/melapisi

untuk

memperbesar

secara

sempurna

sudut

kontak

permukaan

kain

adalah
dengan

dengan

cara

ZAP

yang

hidrofob.Kostruksi kain yang tertentu dapat pula membuat kain tolak air. Lebih rapat
anyaman kain, maka akan lebih sukar ditembus air. Cara perawatan kain tolak air ini
perlu diperhatikan karena kotoran-kotoran yang menempel pada permukaan kain akan
mengurangi daya tolak air.
Peyempurnaan tolak air dapat dapat pula menyebabkan sifat tolak terhadap dan
penodaan. Beberapa jenis penyempurnaan tolak air yang bersifat permanen, bersifat
menolak kotoran atau noda minyak lebih hemat dibandingkan dengan kain yang tidak
disempurnakan.
Dibawah ini terdapat beberapa syarat zat tolak air, yaitu :

Mempunyai sudut kontak yang besar


Mempunyai gugus penolak air yang biasanya merupakan gugus rantai
hidrokarbon jenuh yang panjang
Mempunyai daya lekat dengan serat
Mudah digunakan (mempunyai gugus pelarut), sehingga dapat larut dalam air
atau pelarut organik
Dapat digunakan bersamaan dengan zat penyempurnaan lain.
Tidak terlalu berpengaruh pada sifat-sifat fisika kain.
Sedangkan beberapa syarat untuk kain tolak air adalah sebagai berikut :
a. Tahan terhadap perembesan dan pembasahan dari air dalam waktu kontak
yang cukup lama.
b. Air diatas air cenderung emepertahankan bentuk butirannya (non spreading)
dan cenderung untuk menggelincir tanpa membasahi atau merembes
melewati bahan
c. Butiran-butiran air yang mudah dihilangkan dari bahan dengan peniupan
secara perlahan-lahan tanpa membasahi bahan.
d. Bahan masih dapat dilalui oleh udara dan uap air.
Pengujian Tolak Air Cara Siram

Prinsip
Air suling atau air deionisasi dengan volume tertentu disiramkan pada

permukaan contoh uji yang telah dipasang pada alat pemegang contoh uji berbentuk
cincin yang ditempatkan membentuk sudut 45o sehingga posisi bagian pusat contoh uji
berada pada jarak tertentu di bawah corong siram. Penilaian siram ditentukan dengan
membandingkan kenampakan contoh uji terhadap standar berupa uraian dan foto.

Peralatan dan Bahan

Alat uji siram (lihat Gambar 1), terdiri atas corong dengan diameter 150 mm yang
dihubungkan oleh pipa karet dengan corong siram logam berdiameter 10 mm
dengan lubang-lubang kecil (5.2) yang dipegang vertikal. Jarak antara permukaan
atas corong dengan bagian bawah corong siram adalah 190 mm.
Corong siram logam 1) (lihat Gambar 2), dengan permukaan cembung, mempunyai 19
lubang masing-masing berdiameter 0,9 mm. Lubang-lubang tersebut tersebar di
10

seluruh permukaan corong siram. Waktu aliran air dengan volume 250 mL yang
dituangkan dari corong harus antara 25 detik dan 30 detik.
Pemegang contoh uji, terdiri atas dua buah lingkaran kayu atau logam yang
terpasang tepat satu sama lain. Lingkaran yang satu berdiameter dalam 150 mm dan
lingkaran yang lain berdiameter luar 150 mm (contoh: simpai sulam), sehingga contoh
uji terpasang kuat. Pada saat pengujian,posisi lingkaran pemegang contoh uji terletak
pada penyangga dengan kemiringan 45 dan pusat contoh uji berada di bawah corong
siram logam pada jarak 150 mm. Corong siram logam yang sesuai tersedia di pasar.
Rincian dapat diperoleh dari ISO Central Secretariat atau dari Sekretariat of ISO/TC
38.
Air suling atau air deionisasi, pada suhu 20qC r 2qC atau 27qC r 2qC

Cara Kerja

- Kondisikan contoh uji sekurang-kurangnya 24 jam dalam ruang yang ditetapkan


sesuai pasal 6.
- Setelah pengkondisian, pasang contoh uji dengan kuat pada pemegang contoh (5.3)dan
pasang pada penyangga dengan permukaan kain menghadap ke atas. Kecuali terdapat
ketentuan lain pada spesifikasi bahan, contoh uji harus dipasang sedemikian rupa
sehingg aarah lusi sejajar dengan aliran air yang jatuh pada contoh uji.Tuangkan 250 ml
air (5.4) ke dalam corong (5.1) dengan cepat tetapi teratur, agar siramanberlangsung
secara kontinyu saat pengujian dimulai.Segera setelah siraman berhenti, ambil
pemegang contoh bersama contoh uji dan ketukkan pada benda yang keras dua kali (di 2
titik yang berlawanan pada diameter rangka). Ketika diketukkan permukaan contoh uji
harus hampir horisontal dan permukaan kain menghadap ke bawah.
Setelah pengetukan dengan

contoh uji

tetap pada pemegang contoh

uji, lakukan

penilaian contoh uji menurut skala uraian atau skala foto (lihat Lampiran dan Gambar 3)
yang dapat menunjukkan tingkat kebasahan yang paling sesuai. Tidak boleh memberikan
nilai tengah.
CATATAN Standar foto kurang memberikan nilai yang meyakinkan untuk kain-kain yang
berwarna gelap dan untuk kain-kain tertentu lebih meyakinkan apabila diuraikan dengan
rinci.

11

12

13

Pengujian bahan sendiri biasanya dengan penggunaan uji siram dengan


penggunaan spray tester lalu membandingkan hasilnya dengan spray tester scale
.
Tabel Kriteria penilaian uji siram (kemampuan bahan menolak air).
Kriteria nilai

Keterangan

100

Tidak terjadi pembasahan dipermukaan kain

90

Terjadi sedikit pembasahan di permukaan kain

80

Terjadi pembasahan disebagian daerah permukaan kain

70

Terjadi pembasahan disebagian permukaan kain

50

Terjadi pembasahan diseluruh permukaan kain

Terjadi pembasahan diseluruh permukaan kain bagian atas dan


bawah

14

BAB II
PRAKTIKUM
1.1 Percobaan/Praktikum
Alat
1. Gelas piala 500 ml
2. Gelas ukur 100 ml
3. Pengaduk
4. Pipet volume
5. Nampan plastik
6. Ember kecil
7. Timbangan digital
8. Mesin pad
9. Mesin stenter
10. AATCC Spray Tester ( Terdiri dari corong gelas diameter 150 mm, yang
ujungnya dipasang penyemprot diameter 32 mm, dengan 19 lubang
diameter 0,86 mm yang diatur melingkar. Satu lubang dititik pusat
penyemprot, enam lubang melingkar ditengah dan 12 lubang melingkar
diluarnya. Penyemprot dipasang diatas penyangga contoh uji sehingga
jarak ujung penyemprot dari permukaan contoh uji 150 mm. Penyangga
contoh uji membentuk sudut 450 dengan bidang datar )
11. Simpai bordir diameter 150 mm
12. Labu ukur 250 ml
Bahan
1. Kain, terdiri dari kain kapas, nilon dan polyester-kapas
2. Resin tolak air jenis Ingenus WR
3. Air

15

2.2 Diagram Alir Proses

Persiapan
Alat dan
Bahan

Perhitungan dan penimbangan


resep

Penimbangan Resep

Proses perendaman kain


pada larutan resin tolak air

Proses pad kain dengan WPU 70%

Evaluasi
kain dengan
cara uji
siram

Proses dry kain pada suhu


100C dengan waktu 1 menit

Proses cure kain pada suhu


170C dengan waktu 2 menit

16

2.3 Resep Praktek

Variasi Resin tolak air

Kel 1

Kel 2

Kel 3

10 g/L

20 g/L

30 g/L

Ingenus WR

Kel 4

Kel 5

Blanko

40 g/L

50 g/L

0 g/L

Kain
Kapas
T/C
Poliester
Suhu

700C

WPU

70 %

Dry

1000C selama 1 menit

Cure

1700C selama 2 menit

Air

150 mL

Resep Pencucian
Teepol

: 2 mL

Air

: 200 mL

2.4 Fungsi Zat


Resin tolak air ( Ingenus WR )

: Resin tolak air yang akan berpolimerisasi

membentuk lapisan film dipermukaan serat sehingga menghalangi air untuk meresap
kedalam serat.

17

2.5 Skema Proses


Padding
WPU 70 %

Drying 100C
1 menit

curing
0

170 C, 2 menit

Dry

Perendaman

2.6 Prosedur Kerja


1. Menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang akan digunakan dalam proses
penyempurnaan tolak air.
2. Menghitung dan menimbang kebutuhan zat-zat kimia berdasarkan resep
yang telah ditentukan untuk larutan penyempurnaan sebanyak 150 ml.
3. Menambahkan ke dalam piala gelas tersebut Ingenus WR yang telah
dilarutkan dengan air dingin sambil diaduk-aduk agar merata.
4. Memindahkan larutan penyempurnaan tolak air yang telah disiapkan ke
dalam baki/nampan plastik yang tersedia, lalu rendam kain di dalamnya
hingga seluruh bagiannya terbasahi, dan lewatkan di antara rol-rol benam
peras (padding dengan WPU 70%) sebanyak dua kali.
5. Keringkan kain (pre drying) dengan mesin stenter suhu 1000C selama 1
menit dan dilanjutkan dengan pemanasawetan (curing) suhu 170C selama
2 menit dengan menggunakan mesin stenter.
6. Kain contoh selanjutnya dikondisikan untuk pengujian dan evaluasi mutu
kain berdasarkan standar pengujian yang telah dipelajari (AATCC, SNI, atau
ISO). Pengujian yang dilakukan yaitu uji tolak air dengan alat AATCC Spray
Tester ( uji siram )
7. Untuk pengerjaan kain blanko sama seperti kain uji penyempurnaan tolak air
namun proses perendamannya tidak digunakan resin dalam larutannya.

18

Langkah kerja evaluasi uji siram


1.

Pasang contoh uji pada simpai bordir sehingga tidak terdapat kerutankerutan pada kain.

2.

Letakkan simpai beserta contoh uji pada penyangga contoh uji sedemikian
sehingga titik tengah penyemprot tepat diatas titik tengah simpai.

3.

Untuk kain-kain keper, gabardine, atau kain sejenis yang mempunyai pola
rusuk-rusuk, letakkan simpai sedemikian sehingga rusuk-rusuk miring
terhadap aliran air di permukaan kain.

4.

Tuangkan 250 ml air suling, suhu 27 1 0C kedalam corong penyemprot


dan biarkan air menyemprot contoh uji selama 25-30 detik.

Waktu

menuang air gelas piala jangan menyentuh corong.


5.

Ambil simpai dengan memegangnya pada satu sisi dan ketukkan sisi lain
pada benda keras dengan permukaan kain menghadap ke bawah satu
kali.putar simpai 180

dan ketukkan sekali lagi pada sisi yang semula

dipegang.
2.7 Perhitungan Resep
1. Jumlah larutan

= 150 ml (untuk 3 kain)

2. Resin tolak air ( Ingenus WR )

= 10 g/1000 ml x 150 ml = 1,5 g

19

2.8 Data Percobaan

Tabel 2.8 Data Uji Siram Pada Kain Kapas, poliester, nilon dan T/C untuk blanko

Variasi Resin tolak air

Kel 1

Kel 2

Kel 3

Ingenus WR
10 g/L

20 g/L

Kel 4

Kel 5

Blanko

40 g/L

50 g/L

0 g/L

30 g/L

Kain
Kapas
T/C
Poliester
Suhu

700C

WPU

70 %

Dry

1000C selama 1 menit

Cure

1700C selama 2 menit

Air

150 mL

Keterangan :
Nilai 100 ( ISO 5 ) : tidak terjadi pembasahan
Nilai 90 ( ISO 4 )

: terdapat sedikit titik-titik air yang menyebar

Nilai 80 ( ISO 3 )

: terjadi sedikit pembasahan di permukaan atas kain

Nilai 70 ( ISO 2 )

: terjadi sedikit pembasahan di permukaan atas dan bawah

Nilai 50 ( ISO 1 )

: terjadi pembasahan di permukaan atas dan sebagian di permukaan

bawah
Nilai 0

: kain basah keseluruhan

20

2.9 Sample Hasil Praktikum

Kain Kapas Blanko

Kain Kapas Setelah


Penyempurnaan Tolak Air

Kain Poliester Blanko

Kain NilonSetelah
Penyempurnaan Tolak Air

Kain T/R Blanko

Kain T/C Setelah


Penyempurnaan Tolak Air

21

BAB III
PENUTUP
3.1 Diskusi
Pada proses penyempurnaan tolak air ini terdapat beberapa hal yang akan dibahas
mengenai proses penyempurnaan tolak air dan hasil proses penyempurnaannya. Hal-hal
yang

akan

dibahas

antara

lain

jenis

bahan

yang

digunakan

dalam

proses

penyempurnaan dan pengaruh perbedaan konsentrasi resin tolak air yang digunakan.
Pada proses penyempurnaan ini digunakan resin tolak air jenis Ingenus WR atau
fluorocarbon. Senyawa ini memiliki sifat menolak air yang bersifat semi permanen. Artinya
setelah kain yang disempurnakan tolak air mengalami pencucian berulang, maka daya
tolak airnya akan menurun. Konsentrasi yang digunakan adalah 20 g/L, 40 g/L, 60 g/L,
dan 80 g/L. Selain bisa membentuk lapisan film yang tipis dipermukaan serat yang
tegangan

permukaannya

lebih

rendah

sehingga

dapat

mencegah

terjadinya

pembasahan, maka senyawa fluorocarbon pun memiliki kemampuan untuk menolak


minyak.
Dalam proses ini juga ditambahkan zat pembantu berupa CH3COOH 98% hingga
pH nya menjadi 5 yang akan memberikan suasana asam sehingga resin tolak air dapat
berpolimerisasi dengan sempurna ( sebagai katalis ).
Proses akhir yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kain dapat menolak air
dengan baik, maka dilakukan uji tolak air yaitu uji siram menggunakan alat AATCC Spray
Tester. Dari pengujian ini dapat diketahui apakah penyempurnaan tolak air yang
dilakukan dapat memberikan daya tolak air yang baik atau tidak.
Hasil akhir yang diharapkan adalah suatu kain yang mengalami proses
penyempurnaan tolak air adalah kain tersebut memiliki kemampuan untuk menolak air.
Sifat menolak air ini dapat diperoleh dengan membentuk suatu lapisan film dipermukaan
kain dengan penambahan resin water repellant. Resin inilah yang akan menghalangi
masuknya air kedalam serat dengan cara memodifikasi permukaan serat dengan
terbentuknya suatu lapisan film.
Berdasarkan praktikum yang dilakukan dapat dibandingkan hasil yang didapat dari
perbandingan jenis kain dan konsentrasi yang digunakan sebagai berikut :
Untuk resin tolak air pada kapas, polyester, nilon dan T/C dapat ditunjukan dengan
nilai awal 0 ( untuk kapas, nilon dan T/C ) dan 50 ( untuk polyester ) di mana uji siram
pada kain sangat jelek karena belum dilakukannya proses penyempurnaan dengan zat
aktif permukaan berupa resin tolak air ( Ingenus WR ) tetapi apabila sudah dilakukan
dengan proses tolak air maka kain - kain tersebut dapat memberikan sifat tolak air yang
22

signifikan untuk baik untuk kapas, polyester, nilon dan T/C. kapas disini memiliki uji siram
atau tolak air yang kurang baik yaitu dengan kisaran nilai uji siram antara 50 70 di mana
dalam hal ini dikarenakan kapas memiliki sifat hidrofil (suka air) atau dapat menyerap air
yang lumayan sangat banyak di mana untuk kapas itu sendiri ketika penambahan
konsentrasi resin semakin banyak maka daya tolak airnya pun semakin baik yang mana
mengalami peningkatan yang cukup baik.
Sedangkan untuk kain polyester dan nilon menghasilkan nilai yang baik dimana
kisaran nilai uji siram yang dihasilkan kedua kain tersebut adalah 70 80 karena sifat dari
poliester yang hidrofob tidak suka air sehingga penambahan zat juga sangat berpengaruh
sama hanya seperti pada kapas ketika penambahan resin tolak air ( Ingenus WR ) maka
sifat penolakan airnya pun semakin tinggi dan untuk kain T/C hampir sama seperti
polyester dan nilon memiliki daya tolak air yang baik sebab untuk kain T/C sendiri
merupakan kain yang terdiri dari gabungan serat sintetik dan serat selulosa, yang mana
ada campuran serat yang suka air dan tidak suka air. Jadi untuk sifat penolakan air juga
hampir seimbang dan untuk penambahan resin juga sangat berpengaruh di mana
semakin banyak penambahan zat /resin tolak air ( Ingenus WR ) maka sifat penolakan
airnya pun semakin tinggi atau semakin baik.
Untuk jenis serat yang digunakan sangat besar pengaruhnya pada sifat tolak air
pada bahan dimana pada kain kapas merupakan serat selulosa yang bersifat hidrofil yang
mempunyai MR yang tinggi sehingga walaupun sudah menggunakan resin tolak air
hanya akan berpengaruh sedikit pada sifat tolak airnya. Lain halnya dengan kain poliester
dan nilon, kedua serat ini dibuat dari serat sintetik yang sifatnya berlawanan dengan serat
selulosa yaitu bersifat hidrofob yang mempunyai MR yang cenderung kecil oleh karena itu
kain poliester dan nilon lebih besar sifat tolak airnya walaupun tidak dilakukan
penyempurnaan tolak air akan tetapi penyempurnaan tolak air ini bertujuan menambah
sifat tolak air yang ada supaya lebih sempurna dengan maksud dan tujuan tertentu
dengan standar yang telah ditentukan.

3.2 Kesimpulan
1.

Nilai sifat tolak air terbesar pada kain kapas adalah dengan menggunakan Ingenus
WR dengan konsentrasi 60 - 80 g/L ( nilai uji siram adalah 70 ).

2.

Nilai sifat tolak air terbesar pada kain poliester adalah dengan menggunakan
Ingenus WR dengan konsentrasi 60 g/L ( nilai uji siram adalah 80 ).

3.

Nilai sifat tolak air terbesar pada kain nilon adalah dengan menggunakan Ingenus
WR dengan konsentrasi 40 - 80 g/L ( nilai uji siram adalah 80 ).

4.

Nilai sifat tolak air terbesar pada kain T/C adalah dengan menggunakan Ingenus
WR dengan konsentrasi 40 - 80 g/L ( nilai uji siram adalah 80 ).
23

Daftar Pustaka

1.

Hendrodyantopo, S., S.Teks. M.M, dkk. 1998. Teknologi Penyempurnaan. Bandung


: Sekolah Tinggi Tekstil.

2.

Soeprijono, P. S.Teks. 1973. Serat-Serat Tekstil. Bandung : Institut Teknologi


Tekstil.

3.

Susyami, N.M., S.Teks., M.Si., dkk. Bahan Ajar Praktek Teknologi Penyempurnaan
Kimia. Bandung : Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.

24