Anda di halaman 1dari 5

MAHKAMAH INTERNASIONAL

Mahkamah Internasional merupakan badan peradilan dunia yang


berkedudukan di Den Haag. Lembaga ini berperan untuk mencegah
terjadinya pertikaian antarnegara. Mahkamah Internasional merupakan
kelanjutan dari Mahkamah Tetap Peradilan Internasional yang dibentuk
berdasarkan Pasal XIV Covenant Liga Bangsa-Bangsa.

A. Komposisi Mahkamah Internasional


Dalam pasal 9 statuta mahkamah internasional dijelaskan bahwa komposisi
mahkamah internasional terdiri atas 15 orang hakim, dengan masa jabatan 9
tahun. Ke-15 calon hakim tersebut direkrut dari warga negara anggota yang
dinilai cakap di bidang hukum internasional. Dari daftar calon hakim ini,
majelis umum dan dewan keamanan secara independen melakukan
pemungutan suara untuk memilih anggota mahkamah internasional.
Para calon yang memperoleh suara terbanyak terpilih menjadi hakim
mahkamah internasional. Biasanya lima hakim mahkamah internasional
berada dari negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (Amerika Serikat,
Inggris, Prancis, Cina, dan Rusia). Di samping 15 hakim tetap, pasal 32
statuta mahkamah internasional memungkinkan dibentuknya hakim ad hoc
yang terdiri atas dua orang hakim yang diusulkan oleh negara yang
bersengketa. Kedua hakim ad hoc tersebut bersama-sama dengan ke-15
hakim tetap, memeriksa dan memutuskan perkara yang disidangkan.

B. Fungsi Mahkamah Internasional


Fungsi utama mahkamah internasional adalah menyelesaikan kasus-kasus
persengketaan internasional yang subjeknya adalah negara. Dalam pasal 34
statuta Mahkamah internasional dinyatakan bahwa yang boleh beracara di
Mahkamah Internasional adalah subjek hukum negara. Ada tiga kategori
negara menurut statute ini, yaitu sebagai berikut.
1.
Negara anggota PBB berdasarkan pasal 35 ayat 1 statuta mahkamah
internasional dan pasal 93 ayat 1 piagam PBB, otomatis memiliki hak untuk
beracara di mahkamah internasional.
2.
Negara bukan anggota PBB yang menjadi anggota statute mahkamah
internasional, dapat beracara di mahkamah internasional apabila telah
memenuhi persyaratan yang diberikan oleh dewan keamanan PBB atas dasar
pertimbangan majelis umum PBB, yakni bersedia menerima ketentuan dari
statute mahkamah internasional piagam PBB pasal 94 dan segala ketentuan
berkenaan dengan mahkamah internasional.
3.
Negara bukan anggota statute mahkamah internasional, kategorikategori ini diharuskan membuat deklarasi bahwa akan tunduk pada semua
ketentuan mahkamah internasional dan piagam PBB pasal 94.

C. Yuridiksi atau Kewenangan Mahkamah Internasional


Yurisdiksi atau kewenangan yang dimiliki oleh MPI untuk menegakkan aturan
hukum internasional adalah memutus perkara terbatas terhadap pelaku
kejahatan berat oleh warga negara dari negara yang telah meratifikasi
statuta mahkamah.

Pasal 5 8 statuta mahkamah menentukan empat jenis kejahatan berat,


yaitu
sebagai
berikut.

1. Kejahatan Genosida
Kejahatan genosida (the crime of genocide), yaitu tindakan jahat yang
berupaya untuk memusnahkan keseluruhan atau sebagian dari suatu
bangsa, etnik, ras, ataupun kelompok keagamaan tertentu.
2. Kejahatan Terhadap Kemanusian
Kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes againts humanity), yaitu tindakan
penyerangan yang luas atau sistematis terhadap populasi penduduk sipil
tertentu.
3. Kejahatan Perang
Kejahatan perang (war crime), yaitu meliputi beberapa hal berikut.
Tindakan berkenaan dengan kejahatan perang, khususnya apabila
dilakukan sebagai bagian dari suatu rencana atau kebijakan atau sebagai
bagian dari suatu pelaksanaan secara besar-besaran dari kejahatan tersebut.
Semua tindakan terhadap manusia atau hak miliknya yang
bertentangan dengan Konvensi Jenewa (misalnya, pembunuhan berencana,
penyiksaan, eksperimen biologis, menghancurkan harta benda, dan lainlain).
Kejahatan serius yang melanggar hukum konflik bersenjata
internasional (misalnya, menyerang objek-objek sipil bukan objek militer,
membombardir secara membabi-buta suatu desa atau penghuni bangunanbangunan tertentu yang bukan objek militer).
4. Kejahatan Agresi
Kejahatan agresi (the crime of aggression), yaitu tindak kejahatan yang
berkaitan dengan ancaman terhadap perdamaian.

D. Tugas Mahkamah Internasional


1.
2.
3.

4.

Mahkamah Internasional memiliki tugas seperti berikut.


Memeriksa perselisihan atau sengketa antara negaranegara anggota
PBB yang diserahkan kepadanya.
Memberi pendapat kepada Majelis Umum PBB tentang penyelesaian
sengketa antarnegara anggota PBB.
Mengajukan kepada Dewan Keamanan PBB untuk bertindak terhadap
salah satu pihak yang tidak melaksanakan keputusan Mahkamah
Internasional.
Memberi nasihat persoalan hukum kepada Majelis Umum dan Dewan
Keamanan PBB.

E. Kedudukan Mahkamah Internasional


Mahkamah Internasional memiliki kedudukan yang sederajat dengan
lembaga-lembaga utama PBB yang lainnya, yaitu Majelis Umum, Dewan
Keamanan, Dewan perwalian, Sekretariat Jenderal dan Dewan Ekonomi dan
Sosial. Maka dari itu Mahkamah Internasional bukan merupakan badan
peradilan umum PBB yang bersifat memaksa terhadap lembaga lainnya.

Mahkamah hanya memiliki kewenangan untuk memberi nasihat apabila


diminta dan pemberian nasihat itu tidak mengikat atau memiliki kedudukan
lebih tinggi dari keputusan Majelis Umum PBB. Demikian juga halnya dalam
pemeriksaan berbagai perkara yang diajukan kepada Mahkamah
InternasioNal maka lembaga-lembaga PBB lainnya tidak boleh mencampuri
urusan Mahkamah. Sebagai salah satu lembaga utama PBB terbentuknya
Mahkamah Internasional tidak terlepas dari tujuan dibentuknya PBB. Tujuan
diatas menegaskan perlunya dibentuk suatu lembaga atau badan peradilan
yang diberi wewenang menyelesaikan sengketa secara damai.
Proses Penyelesaian Sengketa oleh Mahkamah Internasional
Dalam proses penyelesaian sengketa Mahkamah Internasional bersifat pasif
artinya hanya akan bereaksi dan mengambil tindakan-tindakan bila ada
pihak-pihak berperkara mengajukan ke Mahkamah Internasional. Dengan
kata lain Mahkamah Internasional tidak dapat mengambil inisiatif terlebih
dahulu untuk memulai suatu perkara. Dalam mengajukan perkara terdapat 2
tugas mahkamah yaitu menerima perkara yang bersifat kewenangan
memberi nasihat (advisory opinion) dan menerima perkara yang
wewenangnya untuk memeriksa dan mengadili perkara yang diajukan oleh
negara-negara (contensious case).
Dalam upaya penyelesaian perkara ke Mahkamah Internasional bukanlah
merupakan kewajiban negara namun hanya bersifat fakultatif. Artinya negara
dalam memilih cara-cara penyelesaian sengketa dapat melalui berbagai cara
lain seperti saluran diplomatik, mediasi, arbitrasi, dan cara-cara lain yang
dilakukan secara damai.
Meskipun Mahkamah Internasional adalah merupakan lembaga utama PBB
dan anggota PBB otomatis dapat berperkara melalui Mahkamah
Internasional, namun dalam kenyataannya bukanlah merupakan kewajiban
untuk menyelesaikan sengketa pada badan peradilan ini. Beberapa negara
tidak berkemauan untuk menyelesaikan perkaranya melalaui Mahkamah
Internasional. Sebagai contoh dalam perkara Kepulauan Malvinas tahun 1955
dimana Inggris menggugat Argentina dan Chili ke Mahkamah Internasional
namun Chili dan Argentina menolak kewenangan Mahkamah Internasional
untuk memeriksa perkara ini.
Prosedur Penyelesaian Sengketa oleh Mahkamah Internasional
1. Pengajuan perkara ke Mahkamah Internasional, dapat menggunakan 2
cara yaitu :
o Bila pihak-pihak yang berperkara telah memiliki perjanjian khusus (special
agreement) maka perkara dapat dimasukkan dengan pemberitahuan melalui
panitera Mahkamah.
o Perkara dapat diajukan secara sepihak (dalam hal tidak adanya
perjanjian/persetujuan tertulis).
2. Surat pengajuan permohonan yang sudah ditandatangani oleh wakil
negara atau perwakilan diplomatik yang berkedudukan di tempat mahkamah
Internasional berada tersebut kemudian disahkan dan salinanya dikirim
kepada negara tergugat dan hakim-hakim Mahkamah. Pemberitahuan juga
disampaikan kepada anggota PBB melalui Sekretariat Jenderal.
3. Setelah itu dalam acara pemeriksaan dilakukan melalui sidang acara
tertulis dan acar lisan. Dalam acara tertulis maka dilakukan jawab menjawab
secara tertulsi antara pihak tergugat dan penggugat. Setelah acara tertulis
ditutup maka dimulai lagi acara lisan atau hearing.
4. Setelah semuanya selesai maka dilakukan pengambilan keputusan yang
dilakukan berdasarkan suara mayoritas para hakim. Keputusan Mahkamah

bersifat final dan tidak ada banding kecuali untuk hal-hal yang bersifat
penafsiran dari keputusan itu sendiri.
Dalam menghadapi persoalan-persoalan baru yang berkembang dengan
pesat nampaknya Mahkamah Internasional dituntut mampu untuk
menyesuaikan perkembangan zaman. Hal ini dapat terlihat dengan adanya
perkembangan demokratisasi khususnya tuntutan negara-negara baru sejak
berakhirnya Perang Dunia II. Selain itu partisipasi masyarakat global melalui
berbagai kegiatan internasional semakin nyata dengan makin berperannya
Non Government Organization (NGO), asosiasi-asossiasi dan berbagai
kelompok kepentingan yang menuntut adanya hak-hak yang sama.
Hal ini ditambah lagi proses globalisasi yang nyata dimana batas-batas
negara semakin menipis dan semakin berkembanganya lembagaisasilembagaisasi yang memiliki karakter internasional yang kuat. Karena itu
sebagian ahli menuntut adanya lembaga peradilan internasional yang
mampu menangani berbagai persoalan global yang tidak terbatas pada
kepentingan negara saja.
Contoh kasus yang pernah dibawa
Internasional adalah sebagai berikut:

dan

diselesaikan

di

Mahkamah

Pembersihan etnis yahudi oleh Nazi Di jerman atas pimpinan Adolf


Hitler, Mahkamah Internasional telah mengadili dan menghukum
pelaku.

Jepang banyak membunuh rakyat Indonesia dengan Kerja paksa dan


10.000 rakyat Indonesia hilang. Pengadilan internasional telah
dijalankan dan menghukum para penjahatnya.

Serbia di Bosnia dan Kroasia: anatar 1992-1995 pembersihan etnis


kroasia dan Bosnia oleh Kroasia danmembunuh sekitar 700.000 warga
Bosnia dan Kroasia.

Pemerintah Rwanda terhadap etniks Hutu : Selama tiga bulan di tahu


1994 antara 500 samapai 1 juta orang etnis Hutu dan Tutsi telah
dibunuh oleh pemerintah Rwanda. PBB menggelar pengadilan
kejahatan perang di Arusha Tanzania dan hanya menyeret 29 penjahat
perangnya.

Indonesia dengan Malaysia terhadap kasus Pulau sipadan dan Ligitan,


dan Mahkamah internasional memenangkan pihak Malaysia pada
tahun 2003. Malaysia adalah pemilik ke dua pulau tersebut. Indonesia
menghormati keputusan tersebut.

Kasus Timor Timur diselesaikan secara Internasional dengan


referendum. Dan sejak tahun 1999 Timor-Timur berdiri sebagai sebuah
Negara bernama Republik Tomor Lorosae /Timor Leste.

F. Wewenang Mahkamah Internasional


Diatur dalam Bab II Statuta Mahkamah Internasional, untuk mempelajari
wewenang ini harus dibedakan yaitu antara:

a)

Wewenang Ratione Personae (siapa yang berhak mengajukan perkara ke


Mahkamah)
b)
Wewenang Ratione Material (mengenai jenis sengketa yang dapat
diajukan)
A.

Wewenang Ratione Personae


Pasal 34(1) Statuta menyatakan : bahwa hanya negara yang boleh menjadi
pihak dalam perkara-perkara dimuka mahkamah.
Artinya : individu/ oragnisasi-oragnisasi internasional tidak dapat menjadi
pihak dari suatu sengketa di muka mahkamah tersebut.
Pasal 34 (1) Statuta hanya diperbolehkan negara-negara untuk memajukan
suatu sengketa ke mahkamah.
Namun ayat (2) dan (3) pasal tersebut memberikan kemungkinan kerjasama
dengan organisai organisasi internasional.

B.

Wewenang Ratione Material


Pasal 36 (1) Statuta dengan jelas menyatakan bahwa:
Wewenang mahkamah meliputi semua perkara yang diajukan pihak-pihak
yang bersengketa kepadanya, terutama yang terdapat dalam piagam PBB
atau dalam perjanjian perjanjian dan konvensi-konvensi yang berlaku.
Wewenang Mahkamah bersifat Fakultatif:
Artinya: bahwa bila terjadi suatu sengketa antara dua negara, intervensi
mahkamah baru dapat terjadi bila negara-negara yang bersengketa dengan
persetujuan bersama membawa perkara itu ke mahkamah. (Tanpa adanya
persetujuan dari pihak-pihak yang bersengketa, wewenang mahkamah tidak
akan berlaku terhadap sengketa tersebut.)
Menuurut pasal 36 Piagam Mahkamah Peradilan Internasional (MPI)
maka negara-negara yang menyetujui Piagam MPI dapat menyatakan setiap
waktu bahwa mereka dengan sendirinya akan tunduk kepada keputusankeputusan mahkamah.
Keputusan-keputusan yang dimaksud tersebut dapat mengenai
persenketaan tentang:
i. penafsiran perjanjian
ii. soal-soal yang menyinggung hukum internasional
iii. adanya suatu hal yang mengakibatkan pelanggaran perjanjian
internasional yang dilakukan oleh salah satu pihak.
iv. Jenis/besarnya ganti rugi yang akan dibayar berhubungan dengan
pelanggaran suatu kewajiban perjanjian internasional

3.

Sumber-sumber hukum yang digunakan Mahkamah Internasional


Mahkamah membuat keputusan-keputusan menurut hukum internasional.
Dalam menentukan keputusan-keputusan itu mahkamah mempergunakan
sumber tersebut dalam pasal 38 Piagam MPI yaitu:
i. Konvensi internasional
ii. Kebiasaan internasional
iii. Prinsip-prinsip umum hukum
iv. Keputusan peradilan internasional
v. Ajaran pakar hukum dari berbagai negara(doktrin)