Anda di halaman 1dari 150

Buku Ajar

Bioprospeksi Kelautan

Agus Trianto

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2016
1

BUKU AJAR
Buku Ajar Bioprospeksi Kelautan
Semester 5 (3 SKS)
Program Studi Ilmu Kelautan
Fakultas PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
Buku Ajar Bioprospeksi Kelautan Agus Trianto
Copyright 2016
Agus Trianto
All rights reserved.
xxx hal + xvi
ISBN: 978-650-xyy-xzz-x
diterbitkan oleh : LP2MP UNDIP.
Gedung Widya Puraya Sayap Timur
Jl Prof Soedarto, Kampus Tembalang, Semarang 50271
www.undip.ac.id
dicetak oleh: UNDIP Press

Daftar Isi
I.

TINJAUAN MATA KULIAH

1.1. Deskripsi Singkat 2


1.2. Relevansi mata kuliah Eksplorasi Sumber Daya Hayati
Laut2
1.3. Standar Kompetensi
1.4. Kompetisi Dasar
1.5. Indikator
II.

EKSTRAKSI DAN ISOLASI BAHAN BIOAKTIF DARI

LAUT 4
2.1. Dasar Teori

2.2. Solid-Liquid Extraction

2.2.1. Soxlet Extractor

2.2.2. Rotary Evaporator

2.2.3. Liquid-liquid Extraction 9


2.2.4. Conical Vial

2.2.5. Separatory Funel 11


2.2.6. Koefisen Distribusi

13

2.3. Kromatografi Lapis Tipis (Thin Layer Chromatography


(TLC)) 13
2.4. Keselamatan Kerja 14
2.4.1. Bahaya Pelarut

14

2.4.2. Penanganan Limbah


3

15

III. MATERI DAN METODE............................................................................


3.1. Tujuan Praktikum 16
3.2. Materi dan Metode

16

3.2.1. Bahan : 16
3.2.2. Peralatan 16
3.2.3. Cara Melakukan Ekstraksi

17

3.2.4. Cara menghitung berat sampel, berat ekstrak dan


persentasi kandungan ekstrak

19

I.
1.1.

TINJAUAN MATA KULIAH

Deskripsi Singkat
Mata kuliah Bioprospeksi Kelautan merupakan mata
kuliah yang mempelajari tentang
hayati

laut

(SDHL)

dari

eksploitasi sumberdaya

meliputi

plankton

(phyto-

zooplankton), tumbuhan laut (mangrove, lamun, rumput laut),


fin fish (perikanan), kerang-kerangan (termsuk moluska :
clam, mussel, oyster, scallop), ekinodermata (sea urchin=bulu
babi, sea cucumber=timun laut, starfish=bintang laut, dll),
krustasea (udang-udangan), spons, karang lunak dan biota
lain yang berasosisasi dengan terumbu karang. Matakuliah ini
menjelaskan tentang eksplorasi (pencarian dan pendalaman)
sumberdaya hayati laut beserta cara cara metodologis
eksploitasi suatu SDHL beserta perkembangan dan hambatan
hambatannya serta sejauh mana eksplorasi SDHL telah dan
sedang dilakukan beserta prospek kedepannya menyangkut
perannya

dalam

pelbagai

bidang

seperti

marikultur/aquaculrure, nutrition (untuk poultry maupun


human consumption), bahan kimia ekstraktif (fine chemicals),
biodiesel/biofuel, obat-obatan (farmakologi), aplikasi waste
treatment

(pengolahan

limbah),

potential

metabolite dari bakteri yang berasosiasl.

secondary

1.2.

Relevansi mata kuliah Bioprospeksi Kelautan


Mata kuliah Bioprospeksi Kelautan akan memberikan
bekal bagi mahasiswa di Program Studi Ilmu Kelautan yang
akan berkiprah sebagai tenaga pengajar, peneliti maupun
penggiat konservasi dalam menjalankan tugasnya. Mata
kuliah ini yang berisi tentang eksplorasi sumberdaya hayati
laut (SDHL) dari berbagai biota laut akan memberi warna
bagi alumni yang berprofesi sebagai pengajar, karena dalam
mata kuliah ini akan digambarkan berbagai metode untuk
menggali potensi alam. Mata kuliah ini juga sangat berguna
bagi alumni yang akan berprofesi sebagai peneliti karena
akan memberikan ide ide segar bagi penemuan baru dalam
bidang pharmaceutical, budidaya dan lain lain. Bagi
peneliti yang bergerak sebagai penggiat konservasi, mata
kuliah ini akan menginspirasi tentang budidaya spesies
langka, pemanfaatan bahan alami sebagai antifouling,
misalnya, sehingga akan mengurangi polusi pada lingkungan.

1.3.

Standar Kompetensi
Mahasiswa

mampu

mengidentifikasi

potensi

sumberdaya hayati laut (SDHL) yang meliputi plankton


(phyto-zooplankton), tumbuhan laut (mangrove, lamun,
rumput laut), fin fish (perikanan), kerang-kerangan (termasuk
moluska : clam, mussel, oyster, scallop), ekinodermata (sea
6

urchin=bulu babi, sea cucumber=timun laut, starfish=bintang


laut, dll), krustasea (udang-udangan), spons, karang lunak dan
biota lain yang berasosisasi dengan terumbu karang dan
mengetahui metode eksplorasinya.
1.4.

Kompetisi Dasar
Mahasiswa mampu menghubungkan metode ekstraksi
dengan target senyawa serta biota sumbernya.

1.5.

Indikator
Mahasiswa mampu menjelaskan (C2) definisi dan tujuan
ekstraksi bahan bioaktif dar biota laut.
Mahasiswa mampu menjelaskan (C2) tentang metode
ekstraksi dan pemilihan pelarut yang tepat sesuai dengan
target senyawanya.

I. Tinjauan Umum
1.1. Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang mempunyai keanekaragaman
biota paling paling tinggi di dunia, walaupun hanya mempunyai 1,3
% luas wilayah di dunia akan tetapi 17 % dari seluruh spesies
terdapat di Indonesia. Wilayah pantainya yang kaya akan variasi
lingkungan seperti estuaria, mangrove, terumbu karang (coral reef),
lamun

(seagrass),

dan

daerah

alga,

sangat

memperkaya

keanekaragaman biota lautnya (Nontji, 1998).


Bahan aktif dari lautan dewasa ini semakin menjadi pusat
perhatian para ilmuwan. Bahan bahan aktif tersebut selain
dihasilkan oleh beberapa alga, sebagian juga berasal dari invertebrata
laut seperti spons, karang lunak, nudibranchia, peralihan invertebrata
ke vertebrata seperti tunikata, dan sebagainya. Bahan aktif tersebut
meliputi antikanker, antivirus, antibakteri, antioksidan, antijamur dan
antimalaria (antiplasmodium) (Sudiro, 1998).
Upaya penelitian yang mengarah pada pemanfaatan senyawa
bioaktif tersebut sampai saat ini masih sangat jarang dilakukan. Hal
ini disebabkan kurangnya informasi tentang biota laut di Indonesia
dan habitatnya, sulitnya mencari sampel biota laut dan kurangnya
tenaga ahli (Satari, 1998). Dibandingkan dengan obat obatan
tradisional yang berasal dari tumbuhan darat, obat yang berasal dari

lautan masih sangat sedikit. Hal ini menjadikan pencarian bahan


bioaktif dari lautan menjadi semakin sulit.
Salah satu pemecahannnya adalah dengan melakukan
skrining ekstrak dari organisme lautan, sehingga akan diperoleh data
dasar mengenai organisme organisme yang berpotensi dalam
bidang farmakologi. Perkembangan kimia bahan laut dewasa ini
telah mengarahkan pada proses eksplorasi dan eksploitasi sumber
daya hayati di laut. Perburuan senyawa baru dan senyawa bioaktif
menyebabkan berbagai tingkat eksploitasi pada sumber daya
tersebut.
Pada awalnya pencarian bahan bioaktif dilakukan dengan
menelusuri bahan bahan obat tradisional, yang telah lama
dilakukan oleh orang orang pribumi, namun dengan terus
berkembangnya

penyakit baru maka pencarian senyawa bioaktif

baru terus dilakukan, bukan hanya pada bahan obat tradisional tetapi
juga pada semua jenis biota.
1.2. Bahan Bioaktif dari Organisme Laut
Rumput laut merupakan salah satu sumber bahan bioaktif
yang penting dari lautan. Karageenan yang dihasilkan dari rumput
laut Hipnea muscifomiis,

Eucheuma cottonii, dan Chondrus sp.,

merupakan senyawa turunan karbohidrat. Karageenan secara


tradisional telah digunakan sebagai obat batuk, bahkan hingga kini
ada obat batuk bermerek yang beredar di Inggris yang masih
9

mengandung

karageenan.

Studi

lebih

lanjut

membuktikan

karageenan aktif terhadap virus influenza dan antikoagulan.

CH2OH
O

OR

O
OH

OR

R = OH atau R = -SO3-

Partial structure -karageenan.


Laurentinol dan isolaurentinol adalah senyawa bioaktif yang
diisolasi dari rumput laut Laurencia sp. yang bersifat anti-bakteri
(Youngken and Shimizu, 1975).

Br

Br
Br

O
H

O
H

Isolaurantinol

Laurantinol

Spons adalah biota laut yang paling potensial sebagai sumber


substansi aktif. Salah satu substansi aktif adalah Aurantosides A-F
yang diisolasi dari spons Siliquariaspongia japonica. Senyawa

10

senyawa tersebut aktif terhadap jamur Aspergillus fumigatus dan


Candida albicans (Sata et al., 1999).

Me

OH O

Cl

Cl

O
N

O
H2N

OH

O
HO
O

O
O

Aurantosides A

OH

MeO

Me

OH

Karang lunak juga merupakan salah satu organisme yang


berpotensi sebagai sumber bahan bioaktif. Beberapa senyawa yang
dilaporkan sebagai antimikrobia antara lain Flexibilide, Sinulariolide,
Epi-sinularolide dan Epi-sinularolide asetat. Senyawa-senyawa
tersebut diisolasi dari karang lunak Sinularia flexibilis yang dikoleksi
dari perairan Pulau Orpheus, Australia. Flexibilide, Sinulariolide,
dan Epi-sinularolide dilaporkan aktif terhadap Bacillus subtilis dan
Staphylococcus aureus, sedangkan Epi-sinularolide asetat dilaporkan
hanya aktif terhadap B. subtilis (Aceret et al., 1998).

11

H3C
O
CH3
CH3

O
H3C

Sarcophytolide
Sarcophytolide juga dilaporkan aktif terhadap bakteri

S.

aureus, Pseudomonas aeruginosa, dan Shaccharomyces cerevisiae


(Badria et al., 1998).
Penelitian pada gorgonian Isis hippuris menunjukan bahwa
dalam biota tersebut terdapat derivatif gorgosterol, Gorgost-5-en-3,
7,12 -triol-11 ,15S-diasetat, yang mampu membunuh sel kanker
KB-C2 dengan IC-50<1 g/mL (Trianto et al., 2001; Tanaka et al.,
2002) .

OH

O
O

HO

OH

12

Gorgost-5-en-3, 7,12 -triol-11 ,15S-diasetat


1.3. Tahapan Pengembangan Produk Hayati Laut dalam Bidang
Farmasi
Secara

umum

tahapan

yang

harus

dilakukan

dalam

pengembangan produk hayati laut dalam bidang farmakologi


meliputi pengambilan sampel biota laut, ekstraksi, purifikasi dan uji
bioassay (lihat Skema 1).
Metode sampling dan preservasi biota laut sangat bervariasi,
tergantung dari target sampel dan senyawanya. Umumnya sampel
yang diambil, langsung disimpan dalam keadaan beku untuk
mencegah dekomposisi senyawa bioaktifnya. Bahkan apabila
senyawa targetnya sangat tidak stabil, misalnya berupa enzim,
sampel harus segera disimpan dalam nitrogen cair, namun apabila
target senyawanya cukup stabil sampel dapat dikeringkan dengan
diangin anginkan. Dokumentasi sampel juga harus dilakukan,
misalnya dengan difoto baik dalam air maupun di atas permukaan.
Proses pertama sampel diekstrak. Ekstrak kasar tersebut
selanjutnya dipisahkan dengan metode yang sesuai dengan sifat
dari

ekstrak

tersebut,

misalnya

dengan

flash

column

chromatography (FCC), vacuum liquid chromatography (VLC), atau


corong pemisah (separatory funnel).
Isolasi suatu senyawa dapat dilakukan dengan berbagai
metode yang disesuaikan dengan sifat senyawa tersebut. Pada
13

umumnya suatu senyawa dipisahkan berdasarkan polaritasnya,


ukuran dan muatannya (positif atau negatif). Pemisahan berdasarkan
polaritas biasanya dilakukan dengan normal phase

(Si-60) dan

reverse phase chromatography (Rp-8 atau Rp-18). Normal phase


digunakan pada senyawa senyawa yang mempunyai polaritas
rendah atau senyawa nonpolar. Sebaliknya reverse phase digunakan
untuk memisahkan senyawa senyawa polar.
Pemisahan berdasarkan ukuran menggunakan gel permeation
(LH-20). Pemisahan berdasarkan muatannya (ion) dilakukan dengan
ion-exchange resins, sedangkan pemurnian suatu senyawa yang
mengandung gugus amina atau mempunyai asam amina sebaiknya
menggunakan kolom amina untuk mendapatkan hasil yang lebih
baik.
Pemisahan

awal

biasanya

digunakan

low

pressure

chromatography atau kolom terbuka (open column chromatography/


OCC), sedangkan untuk pemurnian dapat digunakan counter-current
centrifugal

chromatography

(CCCC),

droplet

counter-current

chromatography (DCCC), kromatografi kolom kinerja tingggi ( high


performance liquid chromatography (HPLC), high performance
capillary electrophoresis (HPCE) atau yang lebih dikenal dengan
elektroforesis dan kristalisasi. Metode altenatif yang dapat digunakan
adalah preparative thin layer chromatography (PTLC). Metode ini
biasanya digunakan apabila sampel jumlahnya sedikit dan sulit
dipisahkan dengan semua metode di atas.
14

Proses isolasi atau pemurnian dapat menggunakan bioassay


atau spektrum NMR sebagai pedomannya. Penggunaan bioassay
sebagai guide, akan menghasilkan senyawa bioaktif, sedangkan bila
menggunakan spektrum NMR maka akan didapat senyawa baru atau
senyawa yang sudah diketahui sifatnya.
Penentuan struktur atau jenis senyawa umumnya dilakukan
setelah memperoleh senyawa murni. Beberapa metode yang dapat
digunakan untuk mengidentifikasi senyawa antara lain dengan thin
layer chromatography (TLC), Gas chromatography (GC),

High

performance Liquid Chromatography (HPLC), Ultraviolet

(UV)

spectrum, Infra red (IR) spectrum, mass-spectrum dan Nuclear


Magnetic Resonance (NMR) serta x-ray christalography. TLC, GC,
dan HPLC hanya dapat digunakan untuk mendeteksi senyawa yang
sudah diketahui (known compounds) atau untuk mengetahui kelas
senyawa, sedangkan UV spectrum, IR

spectrum, mass-spectrum

bersama-sama dengan NMR spectrum serta x-ray christalography


dapat digunakan untuk mengetahui struktur kimia suatu senyawa
baru.

15

Samples collection and Documentation

Extraction of Marine Natural Products

BIOASSAY
guide fractination

Identification of Samples

NMR guide fractination

Isolation and Purification


of Bioactive Compound (s)

Biological assay
for screening of samples

S A R (Structure and Activity Relationship)

Structure Elucidation

IN VITRO Test

IN VIVO Test

CLINICAL Test Stage I-III

PRECLINICAL Test

COMMERCIAL DRUG

Skema 1.1. Tahapan dalam pengembangan


farmakologi dari organisme laut.
16

obat / produk

LATIHAN SOAL
A. PILIHAN GANDA
Berikan tanda silang pada pilihan A, B, C maupun D yang
Anda anggap sebagai jawaban benar!
1. Indonesia adalah negara yang mempunyai keanekaragaman
biota paling tinggi di dunia. Meskipun hanya mempunyai
1,3%

luas wilayah dunia akan tetapi Indonesia masuk

peringkat kedua setelah Brazil sebagai negara dengan


keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Berapa persen total
seluruh spesies yang terdapat di Indonesia?
a. 13 %
b. 15%
c. 17%
d. 19%
2. Wilayah pantai merupakan wilayah paling produktif di bumi.
Berikut ini yang merupakan penyusun wilayah pantai adalah
....
a. Estuari, Zona mesopelagik, Seagrass
b. Estuari, Mangrove, Zona neritik
c. Coral Reef, Mangrove, Zona bentik
d. Seagrass, Mangrove, Zona litoral
3. Penelitian yang mengarah pada pemanfaatan senyawa
bioaktif tersebut sampai saat ini masih sangat jarang
dilakukan. Faktor yang menyebabkan hal ini terjadi antara
lain, kecuali. . . .
17

a. Kurangnya informasi tentang biota laut di Indonesia dan

habitatnya
b. Sulitnya mencarisampel biota laut
c. Kurangnya tenaga ahli
d. sampel biota sudah banyak yang masuk kategori langka
4. Perkembangan penggunaan obat yang berasal dari laut sangat
sedikit dibandingkan dengan obat obat tradisional dari
tumbuhan darat. Salah satu upaya pengembangan obat dari
lautan dengan cara . . . .
a. Melakukan skrining test ekstrak dari organisme laut.
b. Melakukan pengambilan sampel dari organisme laut
c. Melakukan kultur dari organisme yang berada di laut
d. Melakukan pengawetan organisme yang berasal dari laut.
5. Uji

skrining

ekstrak

dari

organisme

laut

bertujuan

memperoleh . . . . mengenai organisme organisme yang


berpotensi dalam bidang farmakologi.
a. Data sekunder
b. Data dasar
c. Data tersier
d. Data utama
6. Bidang keilmuan yang mempelajari pengaruh bahan kimia
pada sel hidup dan sebaliknya reaksi sel hidup terhadap bahan
kimia disebut . . . .
a. Farmasi
b. Farmakologi
c. Toksikologi
d. Drugs

18

7. Perkembangan

kimia

mengarahkanpada

bahan

proses

laut

eksplorasi

dewasa
dan

ini

telah

eksploitasi

sumberdaya hayati di laut. Perburuan senyawa baru dan


senyawa bioaktif menyebabkan berbagai tingkat eksploitasi
pada sumberdaya tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut
maka perlu dilakukan upaya . . . .
a. Konservasi
b. Revitalisasi
c. Perencanaan
d. Rehabilitasi
8. Beberapa senyawa bioaktif dari invertebrate laut sudah
memasuki pasar obatdunia. Salah satu senyawa tersebut
dihasilkan oleh spons familli Halichondridae. Senyawa yang
dimaksud adalah . . . .
a. Salinosporin
b. Halin
c. Halichondrin
d. Laurin
9. Rumput laut merupakan salah satu biota laut yang banyak
menghasilkan senyawa. Senyawa turunan karbohidrat yang
berasal dari rumput laut Hipnea muscifomiis adalah
a. Karageenan
b. Pati
c. Gelatin
d. Glikosida
10. Senyawa bioaktif laurentinol dan isolaurentinol yang diisolasi
dari rumput laut Laurencia sp. memiliki sifat . . . .
19

a.
b.
c.
d.

Antikanker
Antivirus
Antibakteri
Antimalaria

11. Gugus fungsional yang dimiliki oleh senyawa bioaktif


Laurentinol termasuk ke dalam golongan . . . .
a. Keton
b. Hidroksil
c. Aldehid
d. Amine
12. Substansi senyawa bioaktif Aurantosides A-F dihasilkan oleh
invertebrata laut dari golongan . . . .
a. Tunikata
b. Nudibranchia
c. Karang
d. Spons
13. Seyawa aktif golongan Flexibilide dan Sinulariolide yang
telah diisolasi dari karang lunak

Sinularia flexibilis

dilaporkan sebagai sumber bahan bioaktif yang memiliki


kemampuan sebagai. . . .
a. Antikanker
b. Antioksidan
c. Antiinflamasi
d. Antimikroba
14. Bahan aktif dari lautan dewasa ini semakin menjadi pusat
perhatian para ilmuwan. Sumber bahan bahan aktif yang
berasal dari laut biasa diekstraksi dari invertebrata laut
seperti, kecuali. . . .
20

a.
b.
c.
d.

Tunikata
Spons
Karang
Nudibranchia

15. Proses yang berperan dalam mengetahui aktivitas biologis


dari bahan alam laut yang telah diekstraksi dikenal dengan
istilah . . . .
a. Preservasi
b. Bioassay
c. Koleksi
d. Ekstraksi
16. Senyawa bio aktif dari spons Siliquariaspongia japonica
memiliki anti jamur yang aktif terhadap jamur . . . .
a. Candida albicans
b. Aspergillus flavus
c. Hipnea muscifomiis
d. Pseudomonas aeruginosa
17. Senyawa aktif turunan gorgosterol yang diisolasi dari
gorgonian Isis hippuris memiliki sifat aktif terhadap . . . .
a. Bakteri
b. Sel kanker
c. Virus
d. Sel saraf
18. Perhatikan gambar di bawah ini!
O

OH
O

HO

O
OH

21

Bagian yang ditunjuk panah pada gambar di atas merupakan


gugus . . . .
a. Ester
b. Keton
c. Aldehid
d. Asam karboksilat
19. Sampel biota laut yang baru saja diambil dari kedalaman
tertentu harus segera disimpan dalam keadaan beku. Apa
tujuan penyimpanan tersebut?
a. Agar tidak menguapkan kandungan airnya
b. Agar tidak terdekomposisis enyawa bioaktifnya
c. Menjaga kelembapan dan temperatur biota
d. Mencegah kontak langsungdengan udara
20. Isolasi suatu senyawa dapat digunakan berbagai metode yang
disesuaikan dengan sifat senyawa tersebut. Dasar pemisahan
suatu senyawa adalah, kecuali . . . .
a. Polaritas senyawa
b. Ukuran senyawa
c. Muatan positif negatif senyawa
d. Pelarut senyawa

B. ESSAY
Tulislah jawaban dari pertanyaan di bawah ini!
1. Mengapa peneliti Indonesia perlu mengadakan riset mengenai
eksplorasi bahan hayati laut?

22

2. Upaya penelitian yang mengarah pada pemanfaatan senyawa


bioaktif tersebut sampai saat ini masih sangat jarang
dilakukan. Jelaskan tiga penyebab terjadinya hal tersebut!
3. Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati
tertinggi kedua setelah Brazil. Jelaskan faktor apa sajakah
yang membuat Indonesia memiliki keanekaragaman hayati
tinggi?
4. Mengapa perlu dikembangkan obat-obat yang berasal dari
laut? Apakah bahan alam yang berasal dari darat sudah tidak
relevan lagi?
5. Jelaskan hubungan antara kegiatan eksplorasi dan eksploitasi
sumberdaya hayati di laut dengan perkembangan drugs
discovery!
6. Buatlah bagan atau diagram tahapan dalam pengembangan
obat / produk farmakologi dari organisme laut!
7. Menurut Saudara apakah Indonesia bisa menjadi sumber
raksasa dunia di bidang bahan alam dari laut jika dilihat dari
aspek keanekaragaman hayati di tingkat dunia? Jelaskan
pendapat Saudara!
8. Bagaimana proses preservasi biota laut jika senyawa target
yang akan diisolasi berupa enzim?
9. Pemisahan berdasarkan polaritas biasanya dilakukan dengan
normal phase (Si-60) dan reverse phase chromatography
(Rp-8 atau Rp-18).

Pada kondisi apakah metode normal

phase digunakan?
10. Sebutkan macam macam metode yang digunakan untuk
proses ekstraksi!
23

II.1.

II. BIOPROSPEKSI
Pendahuluan
Tingginya diversitas atau keanekaragaman hayati (makro dan

mikroorganisme) baik yang berada di daerah terestrial maupun laut,


menjadi sektor penting bagi kehidupan manusia karena dari
keanekaragaman tersebut banyak sekali unsur unsur yang dapat
dimanfaatkan dalam bidang apapun, sehingga upaya penyelamatan
seperti melindungi gen, spesies, habitat ataupun ekosistem menjadi
mutlak untuk dilakukan. Dengan menyelamatkan keanekaragaman
hayati berarti juga mencegah terjadinya kerusakan ekosistem alam
serta melindunginya secara efektif.
Berkembangnya teknologi pada jaman sekarang membuat
upaya pelestarian keanekaragaman hayati lebih mudah diterapkan.
Selain konservasi, bioteknologi menjadi salah satu cabang ilmu yang
dapat

membantu

dalam

pemanfaatan

sumber

daya

tersebut.

Pemanfaatan ilmu bioteknologi berkembang di berbagai bidang seperti


pertanian, perikanan, kelautan, peternakan, farmasi, kedokteran,dan
bidang lainnya. Kegiatan atau upaya untuk mencari potensi manfaat
dari berbagai bidang tersebut dikenal sebagai bioprospeksi.
Bioprospeksi merupakan suatu kegiatan eksplorasi, koleksi,
penelitian, dan pemanfaatan sumber daya genetik dan biologi secara
sistematis guna mendapatkansumber-sumber baru senyawa kimia,
gen,organisme, dan produk alami lainnya yang memiliki nilai ilmiah
dan atau komersial tanpa mengesampingkan pelestarian dari
keanekaragaman hayati tersebut (Lohan dan Johnston, 2003). Dengan

24

adanya kegiatan bioprospeksi ini, perkembangan industri di dunia


akan semakin pesat karena dapat memanfaatkan sumber daya yang
renewable dan produk yang dihasilkan bersifat alami dan baik bagi
lingkungan maupun manusia.
Sekarang ini, banyak negara dengan teknologinya yang
canggih seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, dan negara
maju lainnya (Firn, 2005) yang telah melakukan kerjasama antar
negara

berkembang

lain

yang

memiliki

lingkungan

dengan

biodiversitas tinggi dengan tujuan agar dapat menjalankan upaya


bioprospeksi ini dan nantinya terjalin suatu kerjasama atau pembagian
keuntungan (sharing of benefit) antar kedua belah pihak. Namun,
tidak sedikit pula masalah masalah yang dihadapi dalam
menjalankan upaya ini dan sudah menjadi isu global saat ini terkait
kegaiatan bioprospeksi. Sebagai contoh adalah masih lemahnya
hukum yang jelas tentang batasan batasan kegiatan bioprospeksi
antar negara, sehingga dapat memicu terjadinya eksploitasi berlebih
(over exploitation). Bentuk kerjasama sharing of benefit yang tidak
jelas dan merugikan salah satu pihak juga menjadi masalah dalam
kegiatan bioprospeksi.
Pembuatan makalah ini bertujuan agar dapat mengetahui lebih
dalam dan detail tentang kegiatan bioprospeksi yang sedang
berkembang di dunia ini dan aspek apa saja yang perlu diperhatikan
agar kegiatan bioprospeksi ini dapat berjalan dengan seimbang dan
optimal.
II.2.

Bioprospeksi

sebagai

Sumber

Daya

Berkelanjutan untuk Pertumbuhan Ekonomi

25

Baru

dan

2.2.1.Bioprospeksi
Kegiatan bioprospeksi sudah dimulai pada tahun 1990 an
dengan membentuk sebuah kongres atau perjanjian yang
bernama Convention on Biological Diversity (CBD). Reid et. al.
(1993) menyatakan bahwa bioprospeksi adalah kegiatan
eksplorasi material material biologis dengan mendapatkan gen
dan sifat biokimia yang dapat dikomersialkan. Pernyataan
tersebut disempurnakan oleh Lohan dan Johnston (2003), bahwa
bioprospeksi merupakan suatu kegiatan eksplorasi, koleksi,
penelitian, dan pemanfaatan sumber daya genetik dan biologi
secara sistematis guna mendapatkansumber sumberbaru
senyawa kimia, gen,organisme, dan produk alami lainnya yang
memiliki

nilai

ilmiah

dan

atau

komersial

tanpa

mengesampingkan pelestarian dari keanekaragaman hayati


tersebut. Kegiatan bioprospeksi mencakup daerah terestrial
maupun laut,dimana pada lingkup tersebut terdapat sumber
hayati yang dapat dimanfaatkan secara bioteknologi dan
memiliki nilai jual yang tinggi.
Bioprospeksi terdiri dari disiplin ilmu yang berbeda
beda seperti bidang pertanian, farmasi, perikanan, kelautan,
kedokteran, kehutanan, peternakan, dan bidang bidang
lainnya.Contoh dari kegiatan ini adalah seperti penemuan
mikroorganisme yang berperan dalam penguraian bahan organik
yang bisa dimaanfaatkan untuk mengolah limbah limbah hasil
26

pertanian. Selain itu, mikroorganisme seperti bakteri ataupun


jamur juga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk organik.
Potensi tersebut dapat diterapkan di bidang pertanian dan
memiliki nilai jual yang tinggi. Contoh lain adalah, banyaknya
pemanfaatan ekstrak ataupun senyawa senyawa biokimia
untuk

bidang

farmasi.

Sumber

daya

hayati

tersebut

dimanfaatkan sebagai sumber obat-obatan dan agrokimia karena


mengandung berbagai senyawa seperti alkaloid, terpen, dan
flavonoid (Plotkin, 2007). Keragaman komposisi senyawa yang
dikandung menjadikannya memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Hal itulah yang dapat memicu kerusakansumber daya hayati
akibat eksploitasiyang berlebihan jika tidak didasari dengan
hukum dan perjanjian yang kuat.
Tujuan dari bioprospeksi ini mengacu pada CBD dimana
ada tiga poin yang harus dilakukan dalam kegiatan bioprospeksi,
yaitu antara lain:
1. Konservasi Biodiversitas atau keanekaragaman hayati
2. Pemanfaatan yang berkelanjutan pada komponen atau sumber
keanekaragaman hayati
3. Pembagian keuntungan (sharing of benefit) dari hasil bioprospeksi
dan pemanfaatan sumber daya yang adil dan merata.

Pencarian bahan atau kandungan alami yang ada pada


tumbuhan baik di daerah terestrial maupun di perairan dapat
dilakukan dengan melakukan dua cara, yaitu melalui pendekatan
ilmu

etnofarmakologi

atau
27

melakukan

screening.

Etnofarmakologi merupakan ilmu farmasi atau pencarian


kandidat obat dari bahan alami yang bersumber pada obat
obatan alami yang sudah secara turun temurun digunakan
(tradisional)(Sneader, 1996). Contoh dari obat atau senyawa
hasil dari etnofarmakologi adalah morphin, quinin, digitoxin,
ephedrin, dan tubocurarin. Senyawa senyawa ini masih banyak
digunakan dibidang kesehatan seperti untuk pengobatan malaria
maupun

anti

virus.

Contoh

lain

adalah

senyawa

podophyllotoxin, yang diisolasi dari Podophyllum peltatum,


tumbuhan yang berasal dari Amerika Utara, biasa digunakan
untuk mengobati penyakit kutil, ternyata senyawa ini dapat
menjadi agen anti kanker (Newman dan Cragg, 2007).

2.2.2.Proses Bioprospeksi
Lingkungan yang ekstrim membuat sumberdaya baik di
darat maupun laut memiliki karakteristik unik untuk dapat
bertahan hidup. Proses biologi dan bahan bahan yang
digunakam sumberdaya hayati untuk bertahan hidup dari suhu
yang ekstrim, pH, tekanan, dan kondisi ekstrim lainnya
menjadikan sebagai sumber yang sangat berpotensi untuk
pengembangan ilmu dan kegiatan bioprospeksi.
Secara umum, proses bioprospeksi terdiri dari empat
tahap, yaitu :
28

1. Koleksi sampel dari berbagai lokasi


2. Isolasi,karakterisasi dan produksi senyawa tertentu
3. Screeningpada bahan yang berpotensi dan bermanfaat, seperti
untuk bidang farmasi, kelautan, dan bidang lainnya
4. Pengembangan produk dan komersialisasi, seperti hak paten,
promosi, penjualan dan pemasaran

29

Gambar 2.1. Tahapan bioprospeksi untuk pengembangan dan komersialisasi


(Newman dan Cragg, 2005)

30

Lokasi dan karakteristik organisme tersebut sebagian


besar sulit untuk diakses, sehingga perlu adanya joinpartnership dalam melakukan kegiatan bioprospeksi. Dengan
mengandalkan penelitian murni, maka akan lama dan sulit
ketika terkendala dengan masalah finansial, sehingga perlu ada
bantuan dari perusahaan ataupun badan hukum yang mau
memfasilitasi kegiatan ini.
2.2.3.Bioprospeksi Laut
Dalam perkembangan bioprospeksi, bahan biologi baik
dari tumbuhan maupun hewan yang banyak dimanfaatkan dan
dikembangkan seperti obat-obatan, makanan, dan bioaktif
lainnya berasal dari sumber-sumber terestrial. Meskipun kita
tahu bahwa 70% dari permukaan bumi merupakan lautan, akan
tetapi organisme laut yang melimpah tersebut masih belum
dieksplorasi secara optimal. Perlu adanya pengembangan
bioprospeksi yang lebih luas yaitu mencakup wilayah laut
sebagai sumber bioprospeksi kedepannya karena berbagai
organisme baik mikro maupun makroorganisme berada di laut
dapat dimanfaatkan dengan berbagai macam penemuan senyawa
bioaktif baru (Pedersen et. al., 2009).
Bioprospeksi laut merupakan kegiatan ekplorasi dan
pemanfaatan sumber daya organisme yang berasal dari laut dan
31

sekitarnya seperti sepanjang pantai, dasar laut atau daerah


sekitar laut (estuari, payau, dan tidak menutup kemungkinan dari
tawar).Bioprospeksi ini mencakup semua jenis organisme baik
dari organisme mikro seperti bakteri, jamur dan virus, hingga
organisme yang lebih besar seperti tumbuhan laut, hewan
avertebrata, kerang maupun ikan.Bioprospeksi laut menjadi
prospek yang baik dalam suatu industri sekarang ini.Kegiatan ini
dilakukan mulai dari pengumpulan bahan dari laut, klasifikasi,
analisis dan pengembangan untuk mendapatkan material yang
memiliki nilai jual.Hasil bioprospeksiini kemudian diproduksi
secara

biologis

ataupun

sintesis

shingga

dapat

dikomersialisasikan.Tujuan dari bioprospeksi laut adalah untuk


menemukan komponen seperti senyawa bioaktif atau gen yang
dapat dimanfaatkan sebagai bahan material dalam suatu produk
atau membantu padaproses tertentu,seperti aplikasinya pada
obat-obatan, industri pengolahan, makanan, pakan, dan biofuel.
Keanekaragaman hayati laut dianggap lebih besar dan
melimpah daripada yang ditemukan di darat. Sampai saat ini,
masih sedikit yang diketahui tentang molekul dan sifat genetik
dari spesies laut, terutama pada organisme di perairan dingin
atau dalam. Hingga kini, penelitian terkonsentrasi pada daerah
tropis dan subtropis. Hal ini menjadi kesempatan besar untuk
melakukan penelitian di perairan bagian utara. Hal ini
dimungkinkan organisme laut di daerah sana memiliki senyawa
32

bioaktif yang melimpah. Contoh kasus adalah spesies yang


hidup di perairan Arktik, di mana memiliki lingkungan yang
ekstrim seperti suhu yang rendah dan kadar garam, cahaya dan
kondisi gizi yang bervariasi. Lingkungan ini memicu organisme
laut untuk bertahan hidup dan memproduksi sifat biokimia yang
unik dan senyawa bioaktif yang dapat dimanfaatkan dalam
pengembangan bioprospeksi.
2.2.4. Aplikasi Bioteknologi dalam Bioprospeksi
Aplikasi bioteknologi sangat penting bagi kegiatan
bioprospeksi karena output dari kegiatan bioprospeksinantinya
akan berbasis bioteknologi. Hal ini dapat dilihat bahwa aplikasi
bioteknologi saat ini pada sektor industri mencapai39%,
sedangkan sektor pertanian/pangan mencapai 36%dan kesehatan
diperkirakan sekitar 25%. Pengembangan hasil bioprospeksi dari
mikroorganisme

melalui

aplikasi

bioteknologi

dapat

memberikan kontribusi berupa produk dan proses yang penting


untuk kebutuhan manusia saat ini. Penting untuk diketahui
bahwa bioteknologi merupakan dasar dari produk dan proses
yang alami dan dapat digunakan pada berbagai aplikasi seperti
obat obatanbaru, bahan-bahan untuk perasa dan kandungan
nutrisi

di

makanan

dan

pakan

hewan,

enzim

dan

mikroorganisme untuk meningkatkan pakan makanan / ternak


serta berbagai produk industri lainnya. Selain itu, melalui
bioteknologi, hasil dari bioprospeksi dapat dijadikan sebagai
33

kontrol lingkungan dan energi terbarukan. Dengan adanya


penerapan bioteknologi, maka dapat memproduksi secara massal
bernilai tinggi tanpa menurunkan kualitasnya dan menngurangi
polusi pada lingkungan sekitarnya karena bersifat alami
(Pedersen et. al., 2009).
II.3.
Konflik kepentingan lingkup Bioprospeksi
II.3.1. Biopiracy

Sebagian

besar

keanekaragaman

90%)yang masih ada di dunia ini berada

hayati

(Sekitar

di negara-negara

berkembangdaerah tropis dan subtropis, yang sebagian besar


berada di belahan bumi selatan. Worldwatch Institute telah
mengidentifikasi beberapa negara yang memiliki mega
diversitydimana tingkat kaenakaragaman hayati yang sangat
tinggi khususnya pada spesies tanaman endemik, yaitu
diantaranya; Meksiko, Brazil, India, Indonesia, Australia dan
Kongo.
Negara negara tersebut memiliki keanekaragaman
hayati yang sangat tinggi dan dijadikan sebagai sumber pangan
dan kesehatan berbasis alami, sehingga sumber daya yang
dimiliki negara tersebut menjadi sumber bahan yang sangat
strategis

dan

memiliki

potensi

untuk

komersialisasijika

dibandingkan dengan minyak bumi atau uranium sekarang.


Ditambah lagi, keanekaragaman tersebut dieksplorasi hingga ke
tingkat genetiknya, yang hubungannya dengan kemajuan
34

teknologi modern sehingga keanekaragaman hayati ini memiliki


potensi pasar untuk menjadi luar biasa menguntungkan. Bahkan,
banyak industri besaryang melibatkan produk biologi dan
prosesnya sekarang menyumbang hampir setengah dari ekonomi
dunia. Sehingga, tidak heran, jika negara negara berkembang
terebut menjadi pusat dilakukannya kegiatan biopiracy.
Biopiracymerupakan tindakan perampasan secara ilegal
mikroorganisme hidup, tumbuhan, dan hewan serta pengetahuan
budaya tradisional yang ada pada negara tersebut. Hal ini
melanggar hukum dan ilegal karena melanggar konvensi
(kesepakatan) internasional dan hukum lokal yang berlaku di
negara tersebut, serta tidak mengakui, menghormati adanya
pemilik sah dari sumber daya tersebut karena semata mata
hanya bertujuan untuk keuntungan komersial. Biopiracy
umumnya melakukan penerapanIntellectual Property Rights
(IPR) atau mematenkan sumber daya genetik dan pengetahuan
tradisional tanpa ada persetujuan yang jelas dari negara asal
sumber daya tersebut. Hal ini sangat bertentangan dengan
kegiatan bioprospeksi yang kita ketahui sebelumnya dimana
tujuan dari bioprospeksi adalah untuk memanfaatkan sumber
daya yang ada sehingga memiliki nilai ekonomi yang tinggi
disertai dengan semakin berkembangnya negara tersebut baik
secara ekonomi maupun pengetahuan tanpa mengabaikan
hukum adat yang berlaku. Hal ini sudah diatur dalam
35

kesepakatan internasional CBD dimana harus ada sharingbenefit yang jelas antara pelaku bioprospeksi (prospektor)
dengan masyarakat sekitar. Sehingga, kegiatan bioprospeksi
tidak akan dilakukan sebelu mendapatkan Prior Informed
Consent (PIC)atau izin yang berlaku dan sah (Anonim, 2001).
Biopiracy sering terjadi karena adanya keterlibatan
dengan

perusahaan

komersial

besar

dalam

pelaksanaan

bioprospeksi. Keterlibatan ini didasari dengan adanya pasokan


dana yang besar untuk melakukan kegiatan bioprospeksi. Dalam
hal ini biasanya ada kerjasama seperti universitas, lembaga
pemerintah, atau non pemerintah dengan perusahaan besar.
Dalam keterlibatannya, lembaga lembaga tersebut sering
menerima pendanaan proyek, beasiswa atau alat alat cangguh
berbasis teknologi.Namun, dari pihak perusahaan mau tidak mau
tetap mempertahankan pangsa besar royalty(hak paten) yang
berkaitan dengan penjualan produk, sehingga disitulah sering
terjadi pelanggaran (biopiracy).Dalam beberapa tahun terakhir
ini, organisasi lingkungan tertentu (termasuk International
Convention) juga terlibat dalam kegiatan bioprospeksi. Hal ini
dilakukan guna menjaga dan mengetahui kegiatan bioprospeksi
yang berjalan saat ini, diamana konservasi dan pelestarian
lingkungan diperhatikan oleh organisasi tersebut. Banyak kasus
yang terjadi pada kegiatan bioprospeksi ini yaitu sering
mengancam keanekaragaman hayati, seperti emisi karbon36

dioksida, penebangan tidak teratur, ekstraksi sumber daya alam


yang berlebihan tanpa melihat keberlanjutan dan diversitas dari
sumberdaya tersebut. Hal ini dapat memberikan dampak yang
serius bagi spesies yang terancam punah. Dampak yang paling
parah dirasakan oleh marayarakat sekitar dimana terganggunya
mata pencaharian dan stabilitas ekonomi yang bergantung pada
sumber daya tersebut akibat eksploitasi yang besar besaran
tanpa melihat keberlanjutannya.

II.3.2.Pembagian Keuntungan (Sharing of Benefit)

Tujuan akhir dari bioprospeksi yaitu mendapatkan sebuah


keuntungan

dari

hasil

bioprospeksi

itu

sendiri

tanpa

mengabaikan sifat lestari dan konservasi sumber dayanya.


Kegiatan bioprospeksi harus disepakati dari kedua belah pihak,
baik dari pelaku bioprospeksi maupun dengan masyarakat atau
tempat dilakukannya bioprospeksi. Kesepakatan ini biasanya
dilakukan dengan adanya sharing of benefit. Sudah banyak
kesepakatan tersebut yang terjalin di berbagai negara. Sebagai
contoh adalah di negara Suriname yang kaya akan sumber
dayanya. Beberapa hal yang dapat di jadikan sebagai sharing of
benefit untuk kedua belah pihak.
Contoh kerjasama yang dijalin dari kedua belah pihak
adalah dengan adanya bioprospkesi, maka para bioprospektor
dapat membantu meningkatkan pengetahuan tentang flora dan
37

fauna di daerah tersebut dan untuk melestarikan kearifan lokal


tentang penggunaan obat seiring dengan pengambilan sampel di
lokasi tersebut. Adanya sharing of benefit dapat memberikan
kesempatan pendidikan bagi para ilmuwan dan mahasiswa di
negara negarasumber bioprospeksi dengan menekankan
manfaat dari ekosistemdan studi ilmu pengetahuan alam, seperti
ethnobiologi, dan bioteknologi. Manfaat lain dengan adanya
sharing of benefit adalahteknologi yang dibawa oleh pelaku
bioprospeksi seperti farmasi, bioteknologi, dan lainnya dapat
memberikan kesempatan bagi negaranegara tersebut untuk
meningkatkan nilai ekonomi dari sumber daya mereka, sehingga
meningkatkan potensi untuk penggunaan berkelanjutan dari
sember daya. Sebagai tambahan adalah proyek bioprospeksi
turut andil berkontribusi untuk distribusi obat-obatan tradisional
lebih luas baik ke desa lain hingga ke dunia. Dan pada akhirnya
manfaat dari adanya

sharing of benefit

dari kegiatan

bioprospeksi adalah mendapatkan royalti (hak paten) untuk


negara negara dari sumber bioprospeksi (Guerin-McManus et.
al., 2001).
Dalam kesepakatan dari sharing of benefit pada
bioprospeksi seringkali dikaitkan dengan keuntungan materiil
(keuangan). Namun, dalam biopropeksi tidak demikian. Dengan
menggunakan pedoman dari Bonn dan Nagoya Protocol, maka
ada tujuan yang non-materiil yang diberikan dari kegiatan
38

Bioprospeksi. Keuntungan ini sangat berguuna pada adanya


transfer teknologi dan kontribusi untuk pembangunan yang
berkelanjutan

di

negara

negara

yang

meimiliki

keanekaragaman hayati yang melimpah (Castree, 2003). Hal ini


dapat dilihat pada tabel berikut:

Keuntungan Non Material


Sharing

informasi

Keutungan Materia

hasil

penelitian

dan Biaya / Akses dar

pengembanganya
sampel
Kolaborasi dan kerjasama, dalam pemanfaatan Biaya kesepakatan

sumber daya
awal)
Partisipasi (keikutserataan) dalam pengembangan
Biaya royalti (hak pa
produk
Adanya akses dalam penggunaan fasilitas
Biaya untuk komersia
(genetika molekular)
Adanya transfer teknologi
Biaya untuk organisa
Pembentukan badan (institusi)
Gaji yang telah disep
Pemberdayaan masyarakat dalam menjaga sumber
Dana Penelitian
daya dan akses penggunaan (administrasi)
Peningkatan ekonomi lokal (masyarakat setempat) Dana untuk terjalinny
Terjalin pelatihan pada daerah kaya sumber daya
Dana kepemilikan
Terbentuknya kelembagaan dan kesepakatan
secara profesional
Menjaga sumber

daya

sebagai

bersama

39

kepemilikan

Seperti halnya yang dilakukan di Negara Suriname, ada


beberapa tujuan dan kesepakatan yang menjadi sharing of
benefit untuk kegiatan bioprospeksi. Tujuan pertama adalah
mempertahankan nilai nilai pengetahuan yang dibawa oleh
suku di Suriname itu sendiri, seperti pengobatan tradisional,
konservasi, sumber daya yang dapat dimanfaatkan dalam
berbagai hal. Hal ini dapat menjaga sumber daya asli di negara
Suriname. Tujuan kedua, adalah terjalin kerjasama seperti
pelatihan, penelitian, pertukaran informasi, yang menjadikan
masyarakat asli dari Suriname memiliki peran besar dalam
kegiatan bioprospeksi. Dengan adanya kegiatan tersebut maka
sangat berpotensi untuk selalu menjaga sumber daya agar selalu
lestari. Tujuan ketiga adalah adanya komersialisasi dengan
mengembangkan obat dari ekstrak tanaman, membantu sehingga
meningkatkan ekonomi dari negara Suriname (Guerin-McManus
et. al., 2001).
II.4.

Penutup
Bioprospeksi merupakan kegiatan eksplorasi materi biologis

dengan

mendapatkan

gen

dan

sifat

biokimia

yang

dapat

dikomersialkan. Bioprospeksi menjadi suatu terobosan yang dapat


mendorong kegiatan konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan
keanekaragaman hayati. Kegiatan bioprospeksi ini perlahan mulai
dilakukan oleh negara negara yang kaya akan keanekaragaman
hayatinya baik di darat maupun di laut tanpa mengabaikan peraturan
dan kesepakatan yang berlaku.Bioprospeksi ini harus dilakukan

40

dengan hukum yang jelas dalam memfasilitasi kegiatan ini.


Bioprospeksi juga melibatkan dua belah pihak, yaitu pelaku
bioprospeksi (bioprospektor) dengan daerah yang kaya sumber
dayanya, sehingga perlu adanya suatu kesepakatan berupa sharing of
benefit antara kedua belah pihak agar dapat berjalan dengan lancar.
Karena dengan adanya kesepakatan ini, maka akan mengurangi
kegiatan yang melanggar hukum, seperti biopiracy dan pelanggaran
lain. Kegiatan bioprospeksi harus didukung oleh berbagai elemen dan
organisasi dunia seperti Convention of Biodiversity (CBD), PBB,
UNESCO, dan lembaga lainnya. Diharapkan dengan adanya kegiatan
bioprospeksi ini, maka kebutuhan masyarakat seperti obat- obatan,
makanan alami, pakan, dan hasil hasil lainnya dapat berkembang dan
dimanfaatkan oleh masyarakat di dunia, tanpa mengurangi esensi dari
keanekaragaman hayati.
LATIHAN SOAL

A. PILIHAN GANDA
Berikan tanda silang pada pilihan A, B, C maupun D yang
Anda anggap sebagai jawaban benar!
1.

Kegiatan eksplorasi material biologis dengan tujuan menemukan


kemampuan biokimia dan genetik yang bernilai ekonomi disebut
a. Bioekonomi c. Biosains
b. Bioprospeksi d. Bioekoprospeksi

2.

Perampasan

kekayaan

sumberdaya

hayati

(makro

hingga

mikroorganisme) serta pengetahuan budaya tradisional yang berada di


dalamnya secara illegal disebut
a. Biocriminal
b. Biopiracy
c. Biopolitic

41

d. Biointimidation
3.

4.

Tujuan akhir dari kegiatan bioprospeksi adalah


a. Pendataan sumberdaya alam yang tersedia
b. Pendataan potensi biologis suberdaya alam
c. Pencarian bahan aktif yang berpotensi
d. Komersialisasi bahan aktif berpotensi
Jenis sumberdaya alam yang pertama kali digunakan dalam
kepercayaan tradisional sebagai obat adalah
a. Hewan
c. Bakteri
b. Tumbuhan
d. Jamur
5. Tumbuhan yang dipercayai oleh kelompok masyarakat tertentu
sebagai obat disebut
a. Etnoplani
b. Etnoprospeksi

c. Etnobotani
d. Etnobatoni

6. Kajian mengenai potensi sumberdaya alam sebagai bahan obat


berdasarkan pengetahuan masyarakat lokal disebut
a. Etnofarmasic. Etnofarmakokimia
b. Etnofarmakologi d. Etnobioteknologi
7. Senyawa aktif di bawah ini yang digunakan dalam pengobatan
yang ditemukan paling awal adalah
a. Digitoxin
c. Morfin
b. Quinin
d. Efidrin
8. Bioprospeksi memberikan kentungan moneter dan non moneter. Di
bawah ini yang termasuk keuntungan moneter adalah
a. Pertukaran informasi mengenai perkembangan
pengetahuan
b. Kegiatan kolaborasi dalam penelitian
c. Penerimaan royalti
d. Pengakuan sosial

42

ilmu

9. Isu

lingkungan

yang

sering

muncul

mengenai

kegiatan

bioprospeksi makroorganisme adalah


a. Jumlah di alam yang tidak memadai
b. Eksploitasi secara berlebih dan konservasi
c. Bioprospeksi menghasilkan banyak limbah yang berbahaya
bagi lingkungan
d. Penolakan terhadap bioprospeksi oleh masyarakat
10. Isu sosial dan kemanusiaan yang muncul akibat bioprospeksi
adalah
a. Tidak adanya perbaikan kesejahteraan masyarakat pemilih
sumberdaya
b. Merusak pola pikir masyarakat
c. Penipuan terhadap pembeli
d. Tidak adanya sistem yang jelas dalam kegiatan bioprospeksi
11. Untuk mengatasi isu ekologi yang muncul akibat kegiatan
bioprospeksi maka terdapat beberapa kesepakatan dan organisasi
internasional, di bawah ini yang bukan bagian organisasi dan
kesepakatan tersebut adalah
a. Convention on Biological Diversity (CBD)
b. The World Intellectual Property Organization (WIPO)
c. Convention of Etnobiology for Tropical Disease (CETD)
d. United Nations Educational, Scientific, and Cultural
Organization (UNESCO)
12. Suatu kesepakatan yang mengatur perdagangan fauna dan flora
dalam usaha konservasi sumberdaya alam adalah
a. Convention on International Trade in Vulnerable Species of
Wild Fauna and Flora (CITVS)
b. Convention on International Trade for Animal and Plant
(CITAP)

43

c. Convention on International Agreement of Wildlife Trade


(CIAWT)
d. Convention on International Trade in Endangered Species of
Wild Fauna and Flora (CITES)
13. Di bawah ini yamg tidak termasuk 3 tujuan utama The United
Nation Convention on Biological Diversity adalah
a. Konservasi biodiversitas
b. Penggunaan berkelanjutan suberdaya hayati
c. Pemanfaatan jenis sumberdaya tertentu
d. Pembagian keuntungan yang ada dari hasil komersialisasi
sumberdaya hayati
14. Senyawa cyclosporine diisolasi dari fungi berjenis
a. Penicillium chrysogenum
c. Xylaria psidii
b. Tolypocladium inflatum
d. Penicillium notatum
15. Senyawa rapamycin diisolasi dari mikroba berjenis
a. Streptomyces hygroscopicus
c. Lactobacillus sp.
b. Streptomyces griseus
d. Streptomyces lividans
16. Suatu kesepakatan yang mengatur mengenai hak intelektual secara
internasional adalah
a. Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS)
b. Intellectual Property Right on Trade and Related Aspects
c.
d.

(IPRTRS)
Doha Declaration
United States Trade Representative (USTR)

17. Suatu kesepakatan yang terbentuk pada tahun 1961 mengenai


perlindungan pada varietas tumbuhan adalah
a. Convention for The Protection of New Varieties of Plants
(UPOV)
b. Convention for The Protection of Varieties of Plants (UPOV)

44

c. Convention of Plant Protection from Trade and Related Issue


(PTRI)
d. Convention of New Varieties Plant Protection from Trade and
Related Issue (PRTI)
18. Suatu sistem hukum tradisional yang digunakan oleh masyarakat
lokal untuk melindungi sumberdaya alamnya adalah
a. Sui gerenis
c. Siu nergis
b. Sui generis
d. Sie nergis
19. Keputusan yang dihasilkan pada pertemuan UNESCO mengenai
hak petani dan sui generis adalah sebagai berikut, kecuali
a. Pengertian baku pengetahuan tradisional
b. Perlindungan pengetahuan tradisonal
c. Perekomendasian mengenai harmonisasi peraturan yang
melindungi pengetahuan tradisional
d. Perekomendasian mengenai hukuman

apabila

terjadi

pelanggaran kesepakatan
20. Senyawa antikanker yang diisolasi dari tumbuhan obat tradisional
Podophyllum peltatum asal Amerika Utara adalah
a. Podophylloxin
c. Podophyllomicilin
b. Podophyllotoxin
d.Cyclopodophyllosporine
B. ESSAY

Tulislah jawaban dari pertanyaan di bawah ini!


1. Jelaskan apa yang disebut dengan kegiatan bioprospeksi!
2. Sebutkantujuan dari kegiatan bioprospeksi!
3. Jelaskan bagaimana kondisi dan juga tahapan dari kegiatan
biprospeksi!
4. Jelaskan urutan langkah kerja dalam kegiatan bioprospeksi dala
pengembangan dan komersialisasi!
5. Jelaskan mengapa laut menjadi sumberdaya alam yang menarik dalam
kegiatan bioprospeksi!

45

6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Biopiracy dan mengapa hal ini
terjadi!
7. Tuliskan beberapa hasil bioprospeksi laut yang telah dikomersialisasi
hingga saat ini!
8. Tuliskan keuntungan moneter dan non-moneter dari kegiatan
bioprospeksi!
9. Jelaskan bagaimana

hubungan

antara

bioteknologi

dengan

bioprospeksi!
10. Sebutkan cara cara dari sharing of benefit untuk kegiatan
bioprospeksi!

III.

SAMPLING BIOTA LAUT

3.1. Pendahuluan
Koleksi sampel adalah proses pengumpulan biota laut yang
akan diteliti atau dieksplorasi potensinya, misalnya sebagai sumber
46

bahan/senyawa anti bakteri, anti kanker atau anti oksidan. Koleksi


sampel dapat dikategorikan menjadi random sampling dan purposive
sampling. Random sampling umumnya dilakukan apabila penelitian
yang dilakukan masih benar-benar bersifat eksploratif dan belum ada
data dasar sama sekali.

Sebagai contoh; suatu penelitian yang

bertujuan untuk men-skrining invertebrata laut di perairan Ambon,


maka semua invertebrata yang dijumpai harus di-sampling tanpa
memilih jenis biotanya. Purposive sampling biasanya dilakukan
apabila kita sudah menentukan organisme target untuk penelitian
kita. Sebagai contoh: bila kita akan melakukan penelitian tentang
pengaruh kedalaman terhadap kandungan dan komposisi senyawa
bioaktif pada spons Dysidea herbacea di perairan Ambon, maka
sampel yang diambil hanya spons tersebut.
Fungsi koleksi sampel dalam proses eksplorasi bahan bioaktif
dari organisme laut adalah menyediakan sampel biota laut dalam
jumlah yang cukup dan sesuai dengan kriteria yang ditentukan.
Tanpa ketersedian sampel yang memadai maka proses eksplorasi
tidak dapat berjalan dengan baik. Mengingat pentingnya peranan
koleksi sampel bagi keberhasilan dalam eksplorasi bahan bioaktif
dari invertebrata laut maka koleksi sampel harus dilakukan oleh tim
atau orang yang terlatih. Syarat-syarat yang harus dikuasai kolektor
sampel yaitu :

Harus mengenali biota target dengan baik.

47

Harus memahami habitat dan penyebaran dari biota


target.

Harus mengerti siklus hidup biota target.

Harus memahami peranannya ekologisnya.

Menguasai metode sampling biota target.

Memahami metode preservasi dan handling

biota

baik untuk uji potensi maupun sebagai voucher untuk


identifikasi.

Memahami status kawasan lokasi sampling dan


mengerti proses perijinannya.

Penguasaan materi dan informasi dari biota target akan


menjadi sangat krusial bagi keberhasilan proses eksplorasi karena
kesalahan dalam mengidentifikasi biota target akan mengakibatkan
misleading bagi proses selanjutnya. Sebagai contoh; dalam suatu
ekspedisi berhasil dikoleksi 100 spesimen biota laut. Sampel
selanjutnya di-skrining potensinya sebagai sumber senyawa anti
jamur yang menunjukan 5 diantaranya sangat kuat bioaktivitasnya,
sehingga langkah selanjutnya harus dilakukan re-koleksi sampel
target, namun jika kolektor sampel tidak mengenali spesimen dengan
baik, akibatnya yang dikoleksi adalah biota yang berbeda dari biota
target. Hal ini akan mengakibatkan hasil uji selanjutnya tidak akan
berhasil dan menunjukan hasil yang jauh berbeda dari yang
diharapkan.

Berdasarkan pengalaman kami, beberapa jenis


48

organisme laut mempunyai bentuk, warna dan ukuran yang sangat


mirip walau sesungguhnya organisme tersebut sesungguhnya sangat
berbeda. Bahkan dalam beberapa kasus kemiripan bukan hanya
dalam satu famili, bahkan antar filum dan kingdom.
Setiap pekerjaaan yang bersifat ilmiah diharuskan dilakukan
secara sistematis dan metodis, walaupun koleksi sampel hanya
merupakan pekerjaan awal, tetapi juga harus dilakukan secara
metodis dan sistematis sehingga akan dapat dihasilkan data yang
jelas dan akurat. Hal ini merupakan kunci yang sangat menentukan
untuk langkah-langkah berikut, seperti re-koleksi atau studi tentang
ekologisnya. Dalam melakukan koleksi perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
1. Penentuan lokasi
2. Metode sampling dan dokumentasi
3. Metode preservasi
4. Persiapan peralatan
.
3.1.1. Penentuan Lokasi
Keberhasilan dari suatu koleksi sampel sangat ditentukan
oleh ketepatan dalam pemilihan lokasi, karena untuk melakukan
sampling di laut sangat banyak kendalanya. Luasnya lokasi dan
keterbatasan kita untuk dapat menjelajahi dalamnya laut, adalah
contoh hambatan dalam melakukan koleksi, karena itu sebelum kita

49

melakukan koleksi disarankan untuk melakukan survey lapangan


terlebih dahulu.
Beberapa hal yang harus dipahami terkait dengan lokasi sampling
adalah ;

Aksesibilitas

Sarana dan prasarana

Akomodasi

Kondisi ekosistem

Topografi

Keterlindungan dari arus dan gelombang

Biota khas dan biota berbahaya


Aksesibilitas atau keterjangkauan merupakan faktor yang

harus diperhatikan dalam merencanakan sampling karena terkait


dengan kemudahan untuk mencapai lokasi dan kemudahan untuk
pengiriman sampel. Waktu yang dibutuhkan untuk mengirimkan
sampel harus dapat dipastikan untuk menjamin keutuhan dan
kesegaran sampel di tempat tujuan. Sampel yang dikirim dalam
bentuk beku, maka masa pengiriman tidak boleh lebih dari dua hari.
Harus diingat apabila sampel dalam keadaan beku maka packing atau
pengemasan harus sangat baik.
Ketersediaan sarana dan prasarana harus diketahui untuk
menentukan metode sampling dan preservasi-nya. sebagai contoh
50

peralatan minimal yang harus dipenuhi untuk melakukan sampling


biota spons dan Ascidian adalah SCUBA set dan perahu. Tidak
tersedianya peralatan tersebut, akan menyebabkan sampling hanya
dapat dilakukan pada zona intertidal atau zona pasang surut.
Ketersediaan freezer akan sangat vital apabila kita akan membawa
sampel dalam kondisi beku, karena kondisi ini adalah yag terbaik
untuk eksplorasi bahan bioaktif dari biota laut, namun apabila tidak
ada freezer, biasanya sampel dikirim dalam kondisi kering angin.

51

Gambar 3.1. Boat dengan power yang tinggi dibutuhkan untuk


sampling pada perairan yang berarus dan gelombang
kuat.
Pengeringan sampel dalam jumlah banyak, dibutuhkan area
yang cukup luas dan tidak di area umum karena terkadang bau
sampel yang cukup menyengat.
Pengetahuan tentang kondisi ekosistem sangat dibutuhkan
untuk persiapan peralatan untuk mengantisipasi permasalahan yang
ada, misalnya pada penyelaman di area yang mempunyai dasar
lumpur

maka

akan

sangat

berbeda

teknik

penyelamannya

dibandingkan apabila penyelaman dilakukan pada area yang banyak


ditumbuhi karang keras.
Pengetahuan tentang topografi bawah air di area sampling
akan sangat membantu bagi kesuksesan sampling, pada pantai yang
landai seringkali mengharuskan sampling dilakukan dengan beach
entry maka dibutuhkan booties dan open heel fins untuk melindungi
kaki pada waktu entry, sebaliknya, apabila sampling akan dilakukan
pada area yang mempunyai banyak wall berarus maka tim penyelam
harus sudah sangat terlatih dan mampu mengendalikan buoyancy
dengan sangat baik.
Perairan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh musim, baik
musim barat maupun musim timur. Sampling biota laut sebaiknya
dilakukan pada perairan yang tenang dengan visibility yang tinggi,
52

apabila sampling dilakukan pada musim barat atau timur, maka


sampling harus dilakukan pada lokasi yang terlindung dari pengaruh
arus dan gelombang pada musim tersebut.

Gambar 3.2. Penentuan lokasi sampling harus memperhatikan


keterlindungan lokasi dari arus dan gelombang.
3.1.2. Metode Sampling dan Dokumentasi
3.1.2.1. Metode Sampling
Target sampel danlokasi sampling sangat menentukan metode
sampling yang akan digunakan. Sampel alga, bintang laut, bulu babi,
timun laut, beberapa jenis karang lunak mudah dikoleksi di perairan
pantai yang dangkal sehingga dapat dikoleksi dengan snorkling atau
53

bahkan dengan berjalan di pantai yang sangat dangkal, namun untuk


mengkoleksi nudibranch, spons atau karang lunak kadang kala kita
harus menggunakan metode diving dalam pengambilan sampel
tersebut, dengan metode SCUBA diving kita dapat memilih jenisjenis sampel yang kita kehendaki dan kita dapat mengenali jenis
sampel tersebut dengan baik, sehingga apabila kita harus melakukan
re-koleksi maka akan dapat dilakukan dengan mudah, namun dengan
metode ini kita dihadapkan pada berbagai keterbatasan seperti
terbatasnya waktu dan ruang gerak kita. Pengambilan sampel yang
terdapat pada dasar laut yang dalam biasanya digunakan jaring trawl.
Pengambilan koleksi harus dilakukan dengan sangat berhatihati, karena organisme tersebut ada yang berduri dan beracun.

54

Gambar 3.3. Pengambilan koleksi di bawah laut

3.1.2.2. Dokumentasi sampel


55

Dokumentasi sampel sangat penting untuk keberhasilan suatu


penelitian, karena seringkali kita harus re-koleksi sampel yang sama
untuk memenuhi kebutuhan ekstrak atau senyawa baru. Di samping
itu tidak semua sampel dapat diidentifikasi pada saat melakukan
koleksi.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk dokumentasi

sampel seperti:
- Foto bawah air
Foto

In

situ

seringkali

sangat

dibutuhkan

untuk

dokumentasi, terutama apabila sampel yang kita koleksi


belum diketahui jenis atau spesiesnya. Hal ini disebabkan
banyak organisme yang berubah baik warna maupun
bentuknya setelah sampel tersebut diambil atau setelah
sampai di darat. Spons adalah salah satu organisme yang
paling sulit diidentifikasi, di samping sering berubah warna
dan bentuk setelah koleksi.

56

Gambar 3.4. Foto spesimen bawah air dan di permukaan.

- Foto sampel segar (surfaces pictures of fresh samples)


Foto Ini juga sangat membantu untuk proses identifikasi
dan re-koleksi sampel. Beberapa jenis organisme akan
mengalami perubahan warna dan bentuk yang drastis
setelah diawetkan.
- Cuplikan sampel (Voucher).
Untuk mengidentifikasi suatu jenis organisme seringkali
memerlukan analisa di laboratorium, misalnya; identifikasi
spons dan karang lunak kadangkala harus melihat
spikulanya, karena itu dibutuhkan potongan dari organisme
tersebut untuk proses identifikasi.
57

- Catatan data lapangan


Data lapangan harus dicatat bersama-sama dengan
sampel, foto dalam suatu catatan yang sistematis. Data
yang perlu dicatat seperti habitat, morfologi, organisme
yang berasosiasi dan sebagainya.

Gambar 3.5. Cuplikan sampel (voucher)


3.1.3. Metode preservasi
Menurut Campos dan Alino (1994), metode preservasi yang
dibutuhkan sangat tergantung dari tujuan koleksi sampel, misalnya
untuk analisis enzim dengan elektroforesis diperlukan penanganan
sampel yang ekstra hati-hati. Sampel harus disimpan pada suhu 80
0

C, sehingga harus disimpan dalam nitrogen cair, namun apabila

target senyawa/bahan bioaktifnya bersifat stabil, maka sampel


dapat dikeringkan.

Secara garis besar metode preservasi akan

dapat dilakukan seperti di bawah ini:


58

a. Preservasi alga
Dalam koleksi disamping untuk isolasi bahan bioaktif, juga
dibutuhkan sampel untuk identifikasi, karena itu membutuhkan
penanganan yang berbeda. Beberapa preservasi bahan yang
dapat digunakan untuk keperluan identifikasi alga adalah
sebagai berikut :
- Larutan 3-5 % formalin-air laut. Sampel simpan dalam larutan
ini untuk jangka waktu lama.
- Sampel disimpan dalam FPA yang terdiri dari formalin, asam
propionat, etanol 95 % dan akuades dengan perbandingan 2 :
1 : 10 : 7. FPA ini direkomendasikan untuk sectioning.
- Gliserin dan 3-5 % formalin-air laut. Preservasi alga koralin
disarankan mengunakan Gliserin dan 3-5 % formalin-air laut
dengan perbaindingan 1 : 1.
Alga ini disimpan dalam larutan tersebut selama seminggu,
kemudian dikeringkan dan disimpan di dalam wadah kering.
b. Preservasi Invertebrata
Beberapa jenis invertebrata akan segera mengalami
perubahan warna dan bentuk seperti : mengkerut, pecah dan
bentuknya tak beraturan, segera setelah diambil atau disimpan
dalam preservative agent, sehingga akan menyulitkan untuk
identifikasi sampel. Masalah tersebut dapat dihindari dengan
59

menggunakan

narcotizing

agent

kedalam bahan pengawet.

sebelum

dimasukan

Narcotizing agent yang dapat

digunakan untuk invertebrata adalah seperti yang tercantum


dibawah ini :
1. Magnesium klorida (MgCl2. 6H2O)
Larutan magnesium klorida isotonik dapat dibuat
dengan melarutkan 75 gram kristal MgCl2 kedalam
satu liter air.
membius

Larutan ini dapat digunakan untuk

invertebrata

sampai

tidak

responsif,

sebelum dimasukan ke dalam bahan pengawet.


Bagi

organisme

yang

sensitif,

larutan

MgCl2

dimasukan kedalam kontainer sedikit demi sedikit.


Narcotizing agent ini memberikan hasil yang baik
untuk sebagian besar polychaeta, chitons, ophiuroids
dan beberapa koelenterata.
2. Magnesium sulfat (Epsom Salts)
Organisme ditempatkan dalam air, dan dibiarkan
hingga bentuknya menjadi normal. Setelah organisme
tersebut terlihat rileks, dimasukan Epsom salts sedikit
demi sedikit hingga organismenya menjadi tidak
responsif. Cara lain adalah dengan larutan air laut dan
Epsoms salt 20 % dalam air tawar
60

dengan

perbandingan 1 : 1. Larutan ini bersifat isotonik


dengan air laut. invertebrata dimasukkan sampai
terbius.
Larutan ini memberikan hasil yang baik pada
anthozoan, annelids, dan hidrozoan.
3. Galighers Menthol dan Chloral hydrate.
Invertebrata dibiarkan rileks dalam sedikit air,
kemudian ditambahkan campuran Galighers Menthol
dan Chloral hydrate ke dalam air yang berisi
invertebrata tersebut.

Campuran ini dibuat dengan

menggiling Galighers Menthol dan Chloral hydrate


dengan perbandingan 1 : 1, kemudian ditambahkan
beberapa tetes air.

4. Chloretone (Chlorbutanol)
Chloretone ditebarkan pada permukaan air yang berisi
invertebrata

hingga

organisme

tersebut

responsif.
5. Urethane (Ethyl carbamate, NH2COOC2H5)

61

tidak

Sejumlah kecil kristal Urethane ditebarkan pada


permukaan air yang berisi invertebrata hingga
organisme tersebut terbius.
Organisme yang berhasil dibius, maka disimpan secara
permanen

untuk analisa taksonomi di kemudian hari.

Perlakuan ini membutuhkan zat atau konsentrasi yang


berbeda untuk tiap-tiap jenis

organisme, untuk spons,

dapat digunakan etanol 70 % atau isopropanol untuk


memperkeras organisme ini, sedangkan untuk biota yang
rapuh dan kecil seperti ubur-ubur, hidrozoa, dan hidroids
dapat digunakan fomalin 6 %.

Organisme yang besar,

tebal atau seperti daging membutuhkan konsentrasi


formalin yang lebih tinggi yaitu 8 10 % untuk
pengawetan.

62

Gambar 3.6. Sampel yang dikoleksi dikering-anginkan

LATIHAN SOAL
C. PILIHAN GANDA
Berilah tanda silang pada pilihan A, B, C maupun D yang
Anda anggap sebagai jawaban yang paling tepat!

1. Koleksi sampel dilakukan bertujuan untuk meneliti dan


mengeksplorasi .. dari sampel tersebut.
a. Bentuk
b. Potensi
c. Habitat
d. Konservasi
2. Sampling yang dilakukan secara eksploratif dan belum ada data
dasar sama sekali disebut dengan sampling yang bersifat ..
a. Random
b. Purposive
c. Mix
d. Benar semua
63

3. Sampling yang dilakukan dengan hanya mengambil beberapa


organisme tertentu dikategorikan ke dalam sampling yang
bersifat ....
a. Purposive
b. Random
c. Benar semua
d. Mix
4. Syarat-syarat yang harus dikuasai kolektor sampel diantaranya
adalah .....
a. dapat berenang dan menyelam
b. memahami biota target baik habitat, siklus hidup dan peranan
ekologisnya
c. memiliki dana penelitian yang banyak
d. memiliki pengalaman di bidang konservasi
5. Berikut ini merupakan hal hal yang perlu diperhatikan dalam
tahapan koleksi, kecuali .....
a. persiapan peralatan
b. metode preservasi
c. persiapan fisik dan stamina
d. penentuan lokasi
6. Sampel yang dikirim dalam bentuk beku, masa pengiriman tidak
boleh lebih dari .....
a. satu hari
b. dua hari
c. tiga hari
d. lima hari

64

7. Ketidaktersediaan SCUBA set dan perahu untuk melakukan


sampling biota spons dan ascidian, maka sampling hanya dapat
dilakukan pada zona.
a. intertidal atau zona pasang surut
b. neritik
c. ocean
d. ZEE
8. Sampling biota laut sebaiknya dilakukan pada perairan yang
tenang dengan visibility yang
a. Tinggi
b. Rendah
c. Sedang
d. Benar semua
9. Pada pantai yang landai seringkali mengharuskan sampling
dilakukan dengan beach entry, maka dibutuhkan .untuk
melindungi kaki pada waktu entry.
a. Diving clothes
b. Shock
c. Underwater shoes
d. Booties dan open heel fins
10. Pengambilan sampel yang terdapat pada dasar laut yang dalam
biasanya digunakan.
a. jaring trawl
b. Pursein
c. Gillnet
d. Keramba jaring apung
11. Biota yang perlu dihindari pada saat pengambilan sampel bawah
laut adalah ..
a. Padina sp.
b. Chironex fleckeri
c. Sinularia flexibilis
d. Benar semua
65

12. Jenis sampel yang paling mudah berubah warna dan bentuk
setelah dikoleksi sehingga menyulitkan proses identifikasi adalah
.....
a. lamun
b. mangrove
c. nudibranchia
d. spons
13. Yang bukan merupakan hal penting dalam pendokumentasian
suatu sampel adalah .....
a. foto bawah air
b. cuplikan sampel
c. foto dari referensi
d. foto sampel segar
14. Spikula merupakan bagian yang harus dilihat pada proses
identifikasi organisme .....
a. spons dan tunikata
b. spons dan nudibranchia
c. spons dan karang lunak
d. spons dan ubur ubur
15. Preservasi untuk sampel yang akan dianalisis enzimnya harus
disimpan pada suhu ..... dengan menggunakan .....
a. 0 oC dan nitrogen cair
b. -80 oC dan nitrogen cair
c. 37 oC dan Zobel
d. 25 oC dan etanol 70%
16. Beberapa bahan yang digunakan dalam preservasi alga adalah .....
a. formalin, aceton, gliserin, akuades
b. formalin, etanol, asam propionat, air laut
c. formalin, metanol, akuabides, etanol
66

d. formalin, air laut, gliserin, HCl


17. Senyawa berikut merupakan narcotizing agent yang baik dalam
preservasi invertebrata yaitu .....
a. H2SO4
b. NaOH
c. MgCl2
d. CH3COOH
18. Penambahan Galighers Menthol dan Chloral hydrat pada
preservasi invertebrata dilakukan dengan perbandingan
sebanyak .....
a. 1:1
b. 1:2
c. 1:3
d. 2:1
19. Pengawetan terhadap organisme yang memiliki kulit tebal seperti
daging membutuhkan konsentrasi formalin sebanyak .....
a. 2 %
b. 4 %
c. 6 %
d. 8 %
20. Isopropanol digunakan untuk penyimpanan organisme .....
a. karang
b. alga
c. spons
d. ascidian
D. ESSAY
Tulislah jawaban dari pertanyaan di bawah ini!
1. Sebutkan yang termasuk sumberdaya hayati laut minimal 5!
67

2. Apakah fungsi dari koleksi sampel?


3. Sebutkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan
koleksi sampel!
4. Jelaskan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh kolektor
sampel minimal 3!
5. Jelaskan apakah yang dimaksud dengan :
a. voucher
b. misleading
c. preservative agent
6. Sebutkan beberapa hal yang harus dipahami terkait dengan
lokasi sampel!
7. Berikan contoh organisme laut yang dapat dikoleksi hanya
dengan metode snorkling minimal 5!
8. Sebutkan beberapa hal yang dapat dilakukan dan perlu
diperhatikan untuk dokumentasi sampel!
9. Sebutkan beberapa contoh narcotizing agent untuk preservasi
invertebrata minimal 4!
10. Sebutkan 3 hal penting yang perlu diperhatikan dalam
pengambilan sampel di bawah laut sehingga tidak
membahayakan diri!

68

IV.

Ekstraksi Dan Isolasi Bahan Bioaktif Dari Laut

4.1. Dasar Teori


Ekstraksi adalah proses pemindahan zat atau molekul
dari suatu zat/ pelarut ke pelarut lain. Proses ini dapat dibagi
dua yaitu ekstraksi padat-cair (Solid-liquid extraction) dan
ekstrak cair-cair (liquid-liquid extraction).

Solid-Liquid

Extraction umumnya digunakan untuk mengekstraksi senyawa


atau molekul-molekul dan bahan-bahan alami seperti tanaman
dan hewan, sedangkan Liquid-liquid

Extraction

umumnya

digunakan dalam proses pemisahan atau pemurnian baik


senyawa dari alam maupun produk dari suatu reaksi (Pavia et
al., 1995).

69

Pemilihan pelarut yang tepat adalah salah satu kunci


keberhasilan dalam melakukan ekstraksi.

Beberapa kriteria yang

harus diperhatikan dalam pemilihan pelarut antara lain ; titik didih,


densitas dan polaritas. Pada soxlet extractor pelarut yang digunakan
harus mempunyai titik didih yang rendah, karena pelarut tersebut
harus dapat diuapkan dengan cepat, sedangkan untuk pelarut yang
mempunyai titik didih yang tinggi, misalnya etanol dan isopropyl
alcohol dapat menggunakan alat rotary evaporator.
Polaritas merupakan faktor yang sangat penting untuk
diperhatikan dalam pemisahan senyawa. Pemilihan polaritas pelarut
berdasarkan pada polaritas senyawa atau molekul yang menjadi
target ektraksi. Secara umum senyawa non-polar (hydrophobic) akan
mudah terlarut dalam pelarut non-polar, sebaliknya senyawa polar
(hydrophyllic) akan lebih mudah larut dalam pelarut polar. Ekstraksi
terhadap lemak umumnya digunakan pelarut non-polar seperti
petroleum eter, namun untuk mengekstrak karbohidrat harus
digunakan pelarut polar.
Prinsip kerja dari conical vial dan separatory funel adalah
pemisahan berdasarkan perbedaan densitas

dua pelarut yang

immiscible, yaitu pelarut yang mengandung ekstrak dan pelarut yang


digunakan untuk mengekstrak. Pada umumnya pelarut organik
mempunyai densitas yang lebih rendah dari pada air yaitu
densitasnya kurang daripada 1 mg/ml, sehingga akan menempati
lapisan atas.
70

Tabel 4.1. Pelarut yang biasa digunakan dalam eksperimen


kimia organik
(Archer, 1996).

Konstanta Den

Pelarut

Rumus Kimia

Titik Didih

Pentane

CH3-CH2-CH2-CH2-CH3

36 C

1.84

0.

Cyclopentane

40 C

1.97

0.

Hexane

C5H10
CH3-CH2-CH2-CH2-CH2-

69 C

1.88

0.

Cyclohexane

CH3
C6H12

81 C

2.02

0.

Benzene

C6H6

80 C

2.3

0.

Toluene

C6H5-CH3

111 C

2.38

0.

1,4-Dioxane

/-CH2-CH2-O-CH2-CH2-O-\

101 C

2.3

1.

Chloroform

CHCl3

61 C

4.81

1.

Diethyl ether
Dichloromethane

CH3-CH2-O-CH2-CH3

35 C

4.3

0.

CH2Cl2

40 C

9.1

1.3

/-CH2-CH2-O-CH2-CH2-\

66 C

7.5

0.

Ethyl acetate

CH3-C(=O)-O-CH2-CH3

77 C

6.02

0.

Acetone

CH3-C(=O)-CH3

56 C

21

0.

(DCM)
Tetrahydrofuran
(THF)

71

dielektrik (g

Dimethylformamide
(DMF)
Acetonitrile
(MeCN)
Dimethyl sulfoxide
(DMSO)
Propylene

H-C(=O)N(CH3)2

153 C

38

0.

CH3-CN

82 C

37.5

0.

CH3-S(=O)-CH3

189 C

46.7

1.

C4H6O3

240 C

64

1.

carbonate

2.2. Solid-Liquid Extraction


Sejalan dengan semakin meningkatnya perburuan bahan
bioaktif baru, pada saat ini solid-liquid extraction banyak digunakan
untuk mengekstrak bahan-bahan dari alam. Ada dua macam alat yang
umum digunakan dalam solid-liquid extraction yaitu soxlet extractor
dan rotary evaporator. Soxlet extractor lebih umum digunakan untuk
mengisolasi senyawa non-polar, sedangkan rotary evaporator dapat
digunakan untuk mengekstrak hampir semua senyawa. Pemilihan
pelarut harus disesuaikan dengan kelarutan senyawa yang menjadi
target, namun tidak dapat melarutkan sampel yang berupa zat padat.
4.2.1. Soxlet Extractor

Alat ini umumnya digunakan untuk mengekstrak senyawa nonpolar


atau eksperimen dalam skala mikro. Senyawa target harus tahan
terhadap panas karena prinsip kerja dari alat ini adalah pencucian
sampel dengan pelarut yang panas (lihat Gambar 4.2).
72

Sampel padat yang akan diekstrak ditempatkan dalam sarung


atau dibungkus dengan kertas saring. Sampel tersebut kemudian
ditempatkan dalam tabung utama. Pelarut dengan titik didih rendah,
seperti petroleum eter, hexane, eter, atau metilena klorida
ditempatkan dalam round bottom distillation flask dan dipanaskan
sampai menguap. Uap pelarut ini akan naik ke kondensor, kemudian
mengembun. Embun tersebut lalu jatuh ke dalam tabung utama yang
berisi sampel. Pelarut yang panas ini akan

merendam dan

mengekstrak senyawa target dari sampel tersebut, apabila pelarut


telah mencapai tinggi lengkungan saluran siphon, saluran tersebut
akan menyedot pelarut hingga habis dan mengalirkannya ke dalam
flask kembali. Proses ini berulang ulang hingga senyawa target
terkumpul dalam flask karena mempunyai titik didih yang lebih
tinggi dari pelarut.
Kelebihan metode sokletasi adalah sampel terekstraksi
dengan sempurna, proses ekstraksi lebih cepat dan pelarut yang
digunakan sedikit. Kelemahan dari metode soxhletasi yaitu sampel
yang digunakan harus sampel yang tahan panas atau tidak dapat
digunakan pada sampel yang tidak tahan panas. Sampel yang tidak
tahan panas akan teroksidasi atau tereduksi ketika proses sokletasi
berlangsung. Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara serbuk
simplisia dimaserasi selama 3 jam, kemudian simplisia dipindahkan
ke dalam bejana silinder yang bagian bawahnya diberi sekat berpori,
cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui simplisia
73

tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel sel
simplisia yang dilalui sampai keadaan jenuh.

Gambar 4.2. Continous Solild-liquid extraction menggunakan


Soxlet extractor (Pavia et al., 1995).
4.2.2.

Rotary Evaporator
Pada rotavapour pelarut diuapkan pada tekanan yang rendah.

Pengurangan tekanan dilakukan dengan menggunakan vacuum pump.


74

Alat ini menggunakan motor untuk memutar round bottom flask.


Akibat putaran ini akan menyebarkan lapisan tipis pelarut pada
round bottom flask sehingga dapat mempercepat penguapan dan akan
mengaduk pelarut sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya
bumping. Proses evaporasi dapat dipercepat dengan memanaskan
round bottom flask dengan water bath.
Terdapat beberapa kelebihan serta kekurangan dari evaporator
yang sering digunakan. Contohnya dalam evaporator tabunghorizontal sirkulasi alam, kelebihannya evaporator jenis ini terus
beroperasi, relatif lebih murah, dan baik untuk cairan non-viskos
yang mentransfer panas tinggi. Kekurangannya evaporator jenis ini
tidak cocok untuk cairan viskos atau kental karena akan
memperburuk sirkulasi cairan.

75

Sumber : Buchi, Manual ROTAVOR ( R-135.)


Keterangan :
1.
2.
3.
4.

Evaporating flask
Kondensator
Receiving flask
Water bath

Gambar

5.
6.
7.
8.

Saluran ke Vacuum pump


Water inlet
Water outlet
Tombol pengatur

4.3. Salah satu tipe rotary evaporator yang dimiliki


Laboratorium Ilmu Kelautan-Undip, Teluk AwurJepara.

76

4.2.3. Liquid-liquid Extraction


Liquid-liquid Extraction atau ekstraksi cair-cair umumnya
dipergunakan dalam isolasi atau pemurnian suatu campuran atau zat.
Prinsip ekstrak cair-cair adalah kesetimbangan kelarutan zat atau
molekul yang menjadi target pada dua macam pelarut yaitu pelarut
yang mengandung senyawa target (pelarut 1) dan pelarut yang
dipergunakan untuk mengekstrak (pelarut 2), dimana kedua pelarut
tersebut tidak dapat bercampur satu sama lain (immiscible). Zat yang
menjadi target harus mempunyai kelarutan yang lebih tinggi terhadap
pelarut 2 daripada pelarut 1.

Peralatan yang umumnya digunakan

dalam metode ini adalah conical vial, yang biasa digunakan untuk
percobaan skala mikro dan separatory funel, yang biasa digunakan
untuk percobaan skala makro.
Dalam metode ini pelarut yang digunakan untuk mengekstrak
sangat tergantung pada jenis senyawa yang akan diekstrak. Pada
umumnya senyawa di alam dalam jaringan tumbuhan atau hewan
mempunyai kandungan air yang tinggi. Ekstraksi zat yang bersifat
non-polar harus menggunakan pelarut non-polar. Pelarut yang
umumnya dipakai adalah dietil eter (eter), heksana, petroleum eter,
ligroin, dan metilena klorida.
4.2.4. Conical Vial
Conical Vial seperti yang diilustrasikan pada Gambar 4.4.
adalah peralatan yang sangat sederhana yang umumnya digunakan
77

dalam percobaan skala mikro. Ilustrasi tersebut menjelaskan bahwa


pada pelarut 1 mengandung campuran molekul yang akan diekstrak,
yaitu yang berwarna putih dan molekul pengotornya yang berwarna
hitam, ditambahkan pelarut 2 yang immiscible. Setelah vial ditutup
dan dikocok dengan kuat, kemudian dibiarkan hingga terbentuk dua
lapisan yang benar-benar terpisah. Pada contoh ini pelarut 2 berat
jenisnya lebih besar daripada pelarut 1, sehingga berada pada lapisan
atas.
Perbedaan sifat fisika menyebabkan molekul-molekul yang
berwarna putih lebih mudah larut pada pelarut 2, sedangkan
molekul-molekul yang berwarna hitam lebih mudah terlarut pada
pelarut 1. Sebagian besar molekul yang berwarna putih akan berada
pada lapisan atas, sedangkan sebagian besar molekul-molekul yang
berwarna hitam berada pada lapisan bawah. Selanjutnya lapisan atas
diambil dengan menggunakan PASTEUR PIPET, sehingga kedua
molekul tersebut terpisah. Ekstraksi yang hanya dilakukan sekali
biasanya masih banyak molekul yang tercampur, sehingga harus
dilakukan pengulangan untuk dapat mengekstrak semua molekul
target atau untuk mendapatkan molekul yang lebih murni.

78

Sumber : Pavia et al. ( 1995)


Gambar 4.4. A. Pelarut 1 mengandung campuran molekulmolekul hitam dan putih.
B. Setelah dikocok dengan pelarut 2, sebagian besar
molekul putih terlarut dalam pelarut 2, sedangkan
molekul hitam terlarut dalam pelarut 1.
C. Lapisan bawah diambil dengan pasteur pipet,
maka sebagian besar molekul hitam dan putih
terpisah.

79

4.2.5. Separatory Funel


Separatory funel seringkali digunakan dalam eksperimen
skala besar. Prinsip kerja alat ini sama dengan conical vial yaitu
kesetimbangan kelarutan antara senyawa target dengan pelarut 1 dan
senyawa target dengan pelarut 2.
Alat ini sebelum digunakan ditempatkan pada ring besi yang
dilekatkan pada penyangga besi (lihat Gambar 4.5.A), setelah
stopper ditutup, pelarut 1 dan pelarut 2 dimasukan ke dalam funel
tersebut. Funel lalu dipegang pada bagian leher atas dan tangan lain
memegang stopper dalam posisi yang terbalik (lihat Gambar 4.5.B).

80

Sumber : Pavia et al. (1995)


Gambar 4.5. A. Pemisahan menggunakan separatory funel.
B. Cara mengocok separatory funel yang benar.
Funel selanjutnya dikocok dengan sangat perlahan, sambil
terus memegang stopper sehingga dapat dibuka setiap saat. Hal yang
sangat penting adalah tetap memegang stopper tersebut, karena
81

campuran dua pelarut yang immiscible akan menimbulkan tekanan


yang mungkin dapat mementalkan

tutup funnel, untuk melepas

tekanan dapat dilakukan dengan membuka stopper sedikit hingga


terdengar bunyi udara keluar.
Pengocokan

secara

hati-hati

dan

pelepasan

tekanan,

dilakukan berulang-ulang sampai tidak timbul tekanan lagi,


kemudian funel dikocok kuat-kuat hingga kedua pelarut benar-benar
telah tercampur. Funel lalu didiamkan hingga terbentuk dua lapisan
pelarut. Kedua pelarut dapat segera dipisahkan dengan cara
membuka stopper, hingga lapisan pelarut bagian bawah mengalir
sampai habis.
Pada umumnya lapisan bagian bawah adalah fase air
(aquaous phase) dan lapisan atas adalah fase organik (organic
phase). Kecuali apabila menggunakan metilena klorida, maka lapisan
atas adalah fase air dan lapisan bawah adalah fase organik. Seperti
pada conical vial ekstrak dengan separatory funel juga tidak dapat
dilakukan dengan sekali proses untuk mendapatkan hasil yang baik.
Lebih baik melakukan ektraksi beberapa kali dengan pelarut yang
jumlahnya sedikit daripada melakukan satu kali ektraksi dengan
pelarut dalam jumlah besar.

82

Gambar 4.5. Contoh penggunaan aplikasi separatory funel


4.2.6. Koefisien Distribusi
Suatu pelarut yang mengandung campuran molekul jika
dikocok dengan pelarut lain yang immiscible, setelah didiamkan
campuran molekul tersebut akan terdistribusi dalam dua fase atau
dua lapisan pelarut. Apabila kedua lapisan pelarut tersebut
dipisahkan kembali maka suatu kesetimbangan akan tercapai dimana
rasio konsentrasi molekul/bahan terlarut pada tiap fase tersebut akan
konstan, yang disebut dengan koefisien ditribusi (K) yang dapat
dirumuskan dengan :

83

C2
K =
C1
Dimana :
K : Koefisien distribusi
C2 : Konsentrasi molekul pada pelarut 2 (mg/ml atau g/L)
C1 : Konsentrasi molekul pada pelarut 2 (mg/ml atau g/L)
Tidak semua molekul terlarut dapat ditransfer pada pelarut
2 dengan hanya melakukan satu kali proses ekstrak, kecuali nilai Knya sangat besar. Dianjurkan untuk melakukan beberapa kali
pengulangan ekstrak dengan jumlah pelarut yang kecil, daripada
melakukan satu kali ekstrak dengan menggunakan pelarut dalam
jumlah besar.
4.3. Kromatografi Lapis Tipis (Thin Layer Chromatography
(TLC))
TLC atau yang sering diterjemahkan sebagai kromatografi
lapis tipis (KLT) adalah metode yang sangat berguna untuk
pemisahan secara cepat dan untuk menganalisa sampel yang
jumlahnya kecil. KLT juga digunakan dalam mencari pelarut untuk
metode kromatografi yang lain (misal ; HPLC, OCC).
KLT

terdiri

dari

adsorben

yang

dilekatkan

pada

lemparan/plate pendukung. Lembaran pendukung ini umumnya


84

berupa kaca atau aluminium, sedangkan adsorbennya dapat berupa


silika (Si-60), C-18, alumina, atau amina yang berbentuk serbuk.
Pada KLT, sampel umumnya diaplikasikan dalam bentuk
titik kecil (spot) di dekat dasar plate dengan menggunakan pipet
kapiler. Pipet kapiler yang terisi sampel, jika ditempelkan pada plate
KLT maka secara otomatis sampel dalam pipet tersebut akan
terabsorbsi. Pipet kapiler ini juga biasa disebut spotter.
KLT yang telah diberi sampel kemudian dimasukan ke
dalam botol (development chamber) yang berisi pelarut. Pelarut
tersebut secara otomatis akan naik pada plate KLT karena adanya
gaya kapiler. Bersamaan dengan naiknya pelarut tersebut, sampel
pada KLT tersebut juga akan ikut naik yang mengakibatkan
terjadinya pemisahan fraksi-fraksi atau senyawa-senyawa dalam
sampel.
Pemisahan ini berdasarkan pada kesetimbangan gaya tarikmenarik antara sampel-pelarut (fase bergerak) dengan sampeladsorbent (fase diam). Pada KLT fase normal, fraksi atau senyawa
nonpolar akan bergerak paling cepat dan fraksi atau senyawa polar
akan bergerak lambat atau bahkan tetap pada titik awal, sedangkan
pada KLT fase terbalik fraksi atau senyawa polar akan bergerak lebih
cepat dan fraksi atau senyawa nonpolar akan bergerak lambat.
Beberapa keuntungan dari kromatografi lapis tipis ini
adalah sebagai berikut :

85

Kromatografi lapis tipis banyak digunakan untuk tujuan


analisis.

Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan


pereaksi warna, fluorosensi atau dengan radiasi menggunakan
sinar ultraviolet.

Dapat dilakukan elusi secara menaik (ascending), menurun


(descending), atau dengan cara elusi 2 dimensi.

Dapat untuk memisahkan senyawa hidrofobik (lipid dan


hidrokarbon) yang dengan metode kertas tidak bisa

Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen


yang akan ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak.

Hanya membutuhkan sedikit pelarut.

Waktu analisis yang singkat (15-60 menit)

Investasi yang kecil untuk perlengkapan (Biaya yang


dibutuhkan ringan).

Preparasi sampel yang mudah

Kemungkinan hasil palsu yang disebabkan oleh komponen


sekunder tidak mungkin

Kebutuhan ruangan minimum


Faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan noda dalam

kromatografi lapis tipis yang juga mempengaruhi harga Rf adalah :


o Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan.
o Sifat dari penyerap dan derajat aktifitasnya.
86

Biasanya aktifitas dicapai dengan pemanasan dalam


oven, hal ini akan mengeringkan molekul-molekul air
yang menempati pusat-pusat serapan dari penyerap.
Perbedaan penyerap akan memberikan perbedaan
yang besar terhadap harga Rf meskipun menggunakan
fase bergerak dan zat terlarut yang sama tetapi hasil
akan dapat diulang dengan hasil yang sama,

jika

menggunakan penyerap yang sama, ukuran partikel


tetap dan jika pengikat (kalau ada) dicampur hingga
homogen.
o Tebal dan kerataan dari lapisan penyerap.
Pada prakteknya tebal lapisan tidak dapat
dilihat pengaruhnya, tetapi perlu diusahakan tebal
lapisan yang rata. Ketidakrataan akan menyebabkan
aliran pelarut menjadi tak rata pula dalam daerah yang
kecil dari plat.
o Pelarut (dan derajat kemurniannya) fase bergerak.
Kemurnian dari pelarut yang digunakan
sebagai fase bergerak dalam kromatografi lapisan tipis
adalah sangat penting dan bila campuran pelarut
digunakan maka perbandingan yang dipakai harus
betul-betul diperhatikan.
o Derajat

kejenuhan

dan

uap

pengembangan yang digunakan.


87

dalam

bejana

o Teknik percobaan.
Arah pelarut bergerak di atas plat. (Metode
aliran penaikan yang hanya diperhatikan, karena cara
ini yang paling umum meskipun teknik aliran
penurunan dan mendatar juga digunakan).
o Jumlah cuplikan yang digunakan.
Penetesan cuplikan dalam jumlah yang
berlebihan memberikan hasil penyebaran noda-noda
dengan kemungkinan terbentuknya ekor dan efek tak
kesetimbangan lainnya, hingga akan mengakibatkan
kesalahan-kesalahan pada harga-harga Rf.
o Suhu.
Pemisahan-pemisahan sebaiknya dikerjakan
pada suhu tetap, hal ini terutama untuk mencegah
perubahan-perubahan dalam komposisi pelarut yang
disebabkan oleh penguapan atau perubahan-perubahan
fase.
o

Kesetimbangan.
Ternyata bahwa kesetimbangan dalam lapisan
tipis lebih penting dalam kromatografi kertas, hingga
perlu mengusahakan atmosfer dalam bejana jenuh
dengan uap pelarut. Suatu gejala bila atmosfer dalam
bejana tidak jenuh dengan uap pelarut, bila digunakan
pelarut campuran, akan terjadi pengembangan dengan
88

permukaan pelarut yang berbentuk cekung dan fase


bergerak lebih cepat pada bagian tepi-tepi

dan

keadaan ini harus dicegah.


LATIHAN SOAL
A. PILIHAN GANDA
Berikan tanda silang pada pilihan A, B, C maupun D yang
Anda anggap sebagai jawaban benar!
1. Proses ekstraksi yang digunakan untuk proses pemurnian senyawa
dari alam ataupun produk dari suatu reaksi disebut...
a. Solid-Liquid Extraction
b. Liquid-Liquid Extraction
c. Liquid-Solid Extraction
d. Solid-Solid-Extraction
2. Secara umum senyawa hydrophobic akan mudah terlarut dalam
pelarut...
a. polar
b. non polar
c. eter
d. hydrophillic
3. Pada rotary evaporator pelarut diuapkan pada tekanan...
a. sedang
89

b. tinggi
c. rendah
d. maximum
4. Jenis pelarut yang Immesible yang umum dipakai pada Liquid
-Liquid Extraction adalah...
a. heksana, ligroin, eter
b. etilena, pentana, klorida
c. eter, pentana, ligroin
d. klorida, butana, klorin
5. Pipet kapiler disebut juga...
a. spotter
b. spot
c. development chamber
d. plate
6. Pada kromatografi lapis tipis senyawa manakah yang memiliki
gerakan lambat?
a. senyawa polar
b. senyawa non polar
c. senyawa semi polar
d. senyawa semi non polar

90

7. Pada identifikasi pemisahan komponen menggunakan TLC (Thin


Layer Chromatography) dapat dilakukan dengan...
a. radiasi sinar ultraviolet
b. suhu rendah
c. jenis pelarut
d. kadar air
8. Metanol bersifat toksik, sehingga dapat menyebabkan...
a. kebutaan
b. luka bakar
c. lumpuh
d. mutasi genetik
9. Apabila menggunakan pelarut metilena klorida maka lapisan yang
ada di atas adalah...
a. fase organik
b. fase air
c. fase campuran
d. fase pelarut
10. Dalam eksperimen skala besar seringkali digunakan alat...
a. conical vial
b. liquid extraction
c. separatory funel
91

d. solid extraction
11. Kelebihan evaporator antara lain...
a. cocok untuk cairan
b. baik untuk cairan non-viskos
c. baik untuk cairan viskos
d. bisa memperbaiki sirkulasi cairan
12. Pelarut yang biasa digunakan dalam eksperimen kimia organik
adalah...
a. etil, butana, hexana
b. butana, kloroform, toluena
c. etil, kloroform, hexana
d. benzena, toluena, pentana
13. Pelarut dibawah ini dengan titik didih tertinggi adalah...
a. cyclopentana
b. pentana
c. benzena
d. dietil eter
14. Pelarut dibawah ini dengan densitas terendah adalah...
a. 1,4 dioxane
b. toluena
92

c. kloroform
d. dietil eter
15. Alat yang digunakan untuk mengekstraksi hampir semua
senyawa adalah...
a. liquid extraction
b. conical vial
c. rotary evaporator
d. soxlet extractor
16. Pengurangan tekanan pada rotary evaporator dilakukan
dengan...
a. round bottom flask
b. water bath
c. vacuum pump
d. bumping
17. Alat yang menggunakan motor untuk memutar pada rotary
evaporator adalah...
a. round bottom flask.
b. water bath
c. vacuum pump
d. bumping

93

18. Untuk mempercepat proses evaporasi round bottom flask


dipanaskan dengan...
a. water bath
b. air bath
c. vacuum pump
d. bumping
19. Proses pemindahan zat atau molekul dari suatu zat/pelarut ke
pelarut lain disebut proses...
a. ekstraksi
b. pencampuran
c. purifikasi
d. elusidasi
20. Yang biasanya digunakan untuk mencari pelarut yang tepat
sebagai indikator adalah...
a. Thin Layer Chromatography
b. Spektrofotometri
c.

High Performance Liquid Chromatography

d. Chromatography

94

B. ESSAY
Tulislah jawaban dari pertanyaan di bawah ini!
1. Mengapa pada soxlet extractor menggunakan pelarut dengan
titik didih yang rendah ?
2. Apakah yang dimaksud dengan dua pelarut yang immiscible ?
3. Mengapa dalam pencampuran larutan kimia, pelarut organik
menempati lapisan atas ?
4. Sebutkan perbedaan soxlet extractor dan rotary evaporator ?
5. Sebutkan kelemahan dan kelebihan metode sokletasi !
6. Jelaskan prosedur mendapatkan ekstrak murni menggunakan
conical vial !
7. Bagaimana prinsip utama pada liquid-liquid extraction ?
8. Mengapa pada proses ekstraksi lebih baik menggunakan
jumlah pelarut yang kecil daripada pelarut dalam jumlah
besar ?
9. Sebutkan keuntungan menggunakan TLC (Thin Layer
Chromatography) !
10.Jelaskan cara ekstraksi sampel !

95

V. Kromatografi dan Aplikasinya


5.1. Kromatografi
Kromatografi merupakan metode pemisahan bahan organik
yang paling modern dan cangggih. Kromatografi dapat dikatakan
sebagai metode pemisahan suatu campuran dua atau lebih senyawa
ataupun ion dengan distribusi antara dua fase, yaitu fase diam
(stationary phase) dan fase bergerak (moving phase). Berdasarkan
tipe kedua fase tersebut, kromatografi dapat dibagi menjadi beberapa
macam yaitu: padat cair (solid liquid), cair cair (liquid
liquid) dan gas cair (gas-liquid) (Pavia et al., 1995). Beberapa alat
alat analisis kromatografi dapat digabungkan dengan metode
pemisahan untuk analisis secara online (on line analysis) seperti:
penggabungan
kromatografi

kromatografi
cair

(liquid

gas

(gas

chromatography)

chromatography)

dengan

dan
Mass

Spectrometry (GC-MS dan LC MS), Fourier Transform Infrared


Spectroscopy (GC FTIR), dan Diode Array UV VIS (HPLC UV
VIS)
Dalam kromatografi dikenal beberapa istilah yaitu:
96

1. Analit adalah zat yang dipisahkan


2. Kromatogram adalah output visual yang dperoleh dari hasil
pemisahan. Terbentuknya puncak karakteristik yang berbeda
menunjukkan adanya senyawa yang berbeda pula
3. Eluen adalah pelarut yang digunakan untuk memisahan analit
4. Fase gerak adalah fase zat yang bergerak pada arah tertentu
5. Fase diam adalah fase yang tetap pada tempatnya
6. Waktu retensi (Retention Time) adalah waktu yang diperlukan
analit untuk melewati sistem
7. Volume retensi adalah volume fase gerak yang dibutuhkan untuk
mengelusi komponen analit.
Distribusi analit antara dua fase dapat dijelaskan secara
sederhana. Pada dasarnya analit berada dalam kesetimbangan dalam
fase gerak dan fase diam.
Amobile = Astationery
Pada prinsipnya pemisahan suatu campuran didasarkan pada
kesetimbangan dinamis antara sampel fase diam dan sampel fase

97

geraknya. Menurut Macrae (1988), kesetimbangan ini dapat


digambarkan dengan rumus sebagai berikut:

Dimana:
K

= Koefisien kesetimbangan distribusi

Cs = Konsentrasi sampel / molekul pada fase stasioner


Cm = Konsentrasi sampel / molekul pada fase gerak
Kesetimbangan ini dapat juga dirumuskan sebagai berikut :

Dimana:
K

= Faktor kapasitas

As = Jumlah sampel / molekul pada fase stasioner


Am = Jumlah sampel / molekul pada fase gerak
Sampai saat ini belum terdapat prosedur yang pasti dalam
pemilihan metode kromatografi. Walaupun demikian ada suatu
sistematika yang dapat digunakan untuk mempertimbangkan metode

98

kromatografi yang tepat untuk memisahkan suatu jenis senyawa


seperti yang tercantum pada bagan dibawah ini.

Water-soluble

exclusion (aquaeous phase)

Water-insoluble

exlusion (non aquaeous phase)

MR > 2000

partition, adsorption
Sampel

Water-insoluble

exlusion (non aquaeous phase)


Water-soluble
MR < 2000

partition

non-ionic

basic

cation-exchange

Water-soluble
acid

ionic

anion-exchange
partition
exclusion

Gambar 5.1. Bagan pemilihan metode kromatografi (Macrae, 1988).

99

Pesatnya

perkembangan

kromatografi

sekarang

ini,

menjadikan metode pemurnian suatu senyawa menjadi semakin


mudah dan sederhana. Sebagai contoh adalah untuk memisahkan dua
enansiomer yang sebelumnya merupakan sesuatu yang sangat rumit,
sekarang sudah tersedia kolom khiral yang memungkinkan
pemisahan senyawa tersebut dengan mudah. Hasil pemisahan atau
pemurnian senyawa sangat dipengaruhi oleh absorbent dan pelarut.

5.2. Adsorbent
5.2.1. Dasar Pemisahan Adsorbent
Berdasarkan cara kerjanya, adsorbent atau fase diam pada
prinsipnya dapat dibedakan menjadi normal phase, reverse phase,
ion-exchange dan gel permeation. Normal phase yaitu memisahkan
suatu campuran berdasarkan perbedaan polaritas dari substansi dalam
campuran tersebut. Adsorbent yang digunakan pada normal phase
adalah silika gel (Si-60) SiO2.xH2O atau Alumina (Al2O3). Senyawa
tersebut sudah tersedia dalam bentuk powder dengan ukuran mesh
200-400 yang sudah dipasarkan. Secara umum, cara kerja dari suatu
adsorbent dapat dilihat pada Tabel 5.1.
100

Tabel 5.1. Tipe adsorbent dan dasar pemisahannya.


Contoh adsorbent
Si-60

Cara kerja
Adsorpsi

Dasar pemisahan
Polaritas

RP-18

Partisi

Kelarutan

Resin

Ion-exchange

Muatan

LH-20

Size exclusion

Ukuran molekul

Pirkle phase

Chiral

Optis aktif

N-hydroxysuccinimyl

Affinity

Aktivitas biologi

esters
5.2.2. Interaksi
Jika bubuk alumina aiau silica gel ditambahkan pada larutan
yang mengandung suatu senyawa organik maka beberapa senyawa
organik akan ter-adsorb ke atas atau melekat pada partikel halus dan
alumina. Banyak jenis dan gaya intermolekul yang menyebabkan
molekul organik terikat pada alumina. Gaya ini berubah ubah atau
berkekuatan sesuai dengan tipenya. Senyawa non polar akan terikat
pada alumina dengan memanfaatkan gaya Van der Waals yang
mempunyai daya ikat yang lemah. Molekul non polar tidak dapat
terikat kuat kecuali jika mereka mempunyai molekul yang tinggi.
Interaksi yang lebih penting adalah digunakannya alumina oleh
101

senyawa ionik pada gaya dan tipe dipol dipol atau meliputi
beberapa interaksi pendek secara langsung (koordinasi, ikatan
hidrogen, atau formasi garam). Tipe ini minip dengan interaksi yang
terjadi pada silica gel yang memiliki kekuatan dengan interaksi yang
berbeda beda. Urutan interaksinya adalah sebagai berikut; formasi
garam > koordinasi > ikatan hydrogen > dipol dipol > gaya Van der
Waals.
Kekuatan dan interaksi dapat bervaniasi untuk beberapa
senyawa, sebagai contoh adalah senyawa amine yang memiliki dasar
yang kuat, akan terikat lebih kuat daripada lainnya yang memiliki
dasar lemah (koordinasinya). Pada kenyataannya, basa dan asam kuat
seringkali berinteraksi sangat kuat sehingga harus melarutkan
alumina pada beberapa tingkatan. Salah satu aturan yang biasa
digunakan adalah Functional Group yang lebih polar ataupun lebih
kuat akan mengikat pada alumina (silica gel). Daftar berbagai jenis
adsorbent (fase padat / diam) yang digunakan pada kromatografi
kolom dapat dilihat pada Tabel 5.2.
Pemilihan adsorbent tergantung pada tipe senyawa yang akan
102

dipisahkan. Sebagai contoh yaitu adsorbent selulosa, pati, dan gula


umumnya digunakan untuk memisahkan produk produk dari
tumbuhan. Polifungsional dan material dari hewan (natural product)
khususnya yang mempunyai gugus amino sangat sensitif terhadap
interaksi asam basa. Asam amino dapat bersifat sebagai switter ion
yaitu dapat mempunyai ion positif dan negatif sekaligus dalam satu
senyawa.
Magnesium silikat seringkali digunakan untuk memisahkan
gula acetyl, steroid dan minyak esensial. Silika gel dan flonsil yang
mempunyai ikatan akan lebih ringan terhadap sebagian besar
senyawa dan biasanya digunakan untuk berbagai jenis kelompok
fungsional hydrocarbon seperti alkohol, keton, ester, asam,
senyawa azo, dan amine. Salah satu keunggulan dari silica gel adalah
tingkat recovery senyawa yang tinggi, sehingga tidak banyak produk
yang terbuang selama proses pemisahan. Alumina merupakan
adsorbent yang paling sering digunakan dan didapatkan karena
adsorbent ini dapat diatur menjadi asam, basa, maupun netral.
Pengaturan keasaman terkadang sangat dibutuhkan terutama untuk
103

senyawa senyawa yang bersifat asam, basa atau switter ion.


Tabel 5.2. Adsorbent Padat Untuk Kromatografi Kolom
Jenis absorbent

Kekuatan dan interaksi terhadap


senyawa polar

Kertas
Selulosa
Pati
Gula
Magnesium
Silikat
Kalsium sulfat
Asam cilicic
Silica gel
Flonisil
Magnesium oksida
Aluminium oksida (alumina)
Charcoal

5.2.3. Basa, Asam, dan Netral


Kemampuan pemisahan adsorbent alumina dan silica gel
tergantung pada besarnya jumlah air yang diberikan. Air dapat
mengikat sangat erat pada salah satu sisi aktif adsorbent dengan cara
mengambil tempat dalam partikel yang biasa digunakan untuk proses
penyeimbangan. Jika ditambahkan air pada adsorbent, maka
adsorbent tersebut dalam kondisi telah dinon-aktifkan. Sebaliknya,
104

alumina (silica gel) dalam kondisi yang sangat aktif. Aktivitas


adsorbent yang tinggi biasanya dihindari oleh peneliti karena dapat
menyebabkan destruksi, dekomposisi atau re-arrangement senyawa
yang akan dipisahkan.
5.2.4. Prinsip dan Metode Pemisahan Kromatografi Kolom
Keseimbangan

yang

dinamis

seperti

yang

disebutkan

sebelumnya, pada kenyataannya bahwa senyawa yang berbeda akan


ter-adsorpsi pada alumina atau silica gel di tingkat yang berbeda. Hal
ini dapat digunakan dalam berbagai hal dan metode untuk
memisahkan campuran senyawa organik. Pada metode ini campuran
senyawa yang akan dipisahkan dengan cara dimasukkan lewat atas
puncak yaitu kolom cilinder glass, kemudian dipadatkan dan diisi
dengan partikel alumina halus (fase diam / stationery). Adsorbent
kemudian dicuci dengan aliran pelarut (fase gerak) melewati kolom.
Pada awalnya komponen dan campuran ter-adsorpsi diatas
partikel alumina pada puncak kolom. Aliran yang terus menerus
dan pelarutnya akan melewati kolom elute (pencucian) larutan lepas
dan alumin, kemudian mengeluarkannya menuruni kolom. Larutan
105

yang akan dipisahkan disebut elutan dan pelarut yang digunakan


disebut eluen. Selama larutan turun melewati kolom untuk
membebaskan alumina, equlibrum yang baru akan terbentuk di
antara adsorbent, larutan dan pelarut. Terbentuknya equlibrasi yang
konstan disebabkan karena adanya senyawa yang berbeda menuruni
kolom dengan kecepatan yang berbeda juga tergantung pada affinitas
relatif dan adsorbent pada sisi pelarut dan pada sisi yang lain.
5.3. Kromatografi Kolom Terbuka
Kromatografi

Kolom

Terbuka

atau

Open

Column

Chromatography (OCC) merupakan teknik pemisahan sampel antara


padat cair. Sampel dipisahkan berdasarakan kesetimbangan daya
tarik menarik antara fraksi / senyawa adsorbent dengan fraksi /
senyawa eluen.
Kromatografi kolom atau kromatografi serapan digunakan
untuk memisahkan suatu campuran. Dalam kolom tersebut diisi
dengan suatu silica gel. Pelarut ini mengalir melalui kolom dan
mengangkut senyawa senyawa yang merupakan komponen
komponen dan campurannya. Kecepatan gerak suatu komponen
106

tergantung dari berapa besarnya komponen tersebut terhambat atau


tertahan oleh penyerap yang ada di dalam kolom. Jika perbedaan
perbedaan dalam serapan cukup besar maka akan terjadi pemisahan
yang sempurna (Hardjono, 2001).
Pengisian kolom harus dilakukan secara homogen. Pengisian
yang tidak teratur akan mengakibatkan rusaknya batas batas pita
kromatografi. Putusnya adsorbent dalam kolom biasanya disebabkan
oleh gelembung gelembung udara selama pengisian. Untuk
mencegah terjadinya hal-hal tersebut, maka sedapat mungkin zat
pengisi adsorbent dibuat menjadi bubur dengan pelarut, kemudian
dituangkan perlahan lahan ke dalam tabung. Jika besarnya pertikel
partikel adsorbent sama maka akan lebih mudah untuk
mendapatkan pengisian yang homogen. Perlu diperhatikan bahwa
adsorbent yang dimasukkan jangan sampai ada bagian yang kering
baik selama pengisian ataupun selama pengeringan.

107

Gambar 5.1. Kromatografi Kolom Terbuka


Elusi sederhana dalam kromatografi dimaksudkan untuk
membiarkan berbagai komposisi turun melalui kolom hingga terjadi
pemisahan sempurna. Pelarut tidak perlu sama seperti yang
108

digunakan sebelumnya dalam pengisian kolom. Jika konstituen


konstituen yang terpisah dari campuran dapat teramati dalam kolom
(warna, reaksi menggunakan indikator ataupun Flurosence dalam
sinar UV) maka aliran dapat dihentikan. Cara yang lebih umum
digunakan adalah kolom dibiarkan hingga komponen komponen
yang terpisahkan dapat terdeteksi. Pada dasarnya, semakin lama
campuran dalam kolom maka akan diperoleh pita pita
kromatogram yang lebih jelas. Untuk mempercepat aliran pelarut
maka lebih baik dilakukan penekanan dari atas kolom, yaitu dengan
menekankan udara / gas tanpa pengurangan tekanan dari bawah
kolom.

Pengurangan

tekanan

akan

menyebabkan

timbulnya

kemungkinan dapat terputusnya penyerap pada kolom.


Pemilihan pelarut yang akan digunakan dapat dilihat dari
bagaimana sifat kelarutanya. Akan lebih baik ketika memilih suatu
pelarut yang tidak tergantung pada kekuatan elusinya, sehingga dapat
mencoba zat zat elusi yang lebih kuat. Adanya kekuatan dari zat
elusi yang dimaksud adalah daya penyerapan dalam suatu penyerap
yang ada pada kolom. Biasanya untuk adsorbent yang polar seperti
109

alumina dan silica gel, maka kekuatan penyerapan akan naik seiring
dengan kenaikan polaritas dari zat yang diserap tersebut. Berikut
adalah kekuatan elusi dari deret deret pelarut untuk senyawa
senyawa dalam kolom dengan menggunakan silica gel : air murni <
metanol < etanol < propanol < aseton < etil asetat < dietil eter <
kloroform < metilena klorida benzene < toluene < trikloroetilena <
karbon tetraklorida < sikloheksana < heksana. Zat zat aktif yang
digunakan sebagai penyerap dalam kromatografi kolom merupakan
katalisator yang baik.
5.3.1. Pelarut
Beberapa pelarut (solven) yang umum digunakan dalam
kromatografi adalah kloroform, metilene klorida, dietil eter, etil
asetat, aseton, etanol, metanol, dan air (Tabel 5.3). Polaritas pelarut
merupakan

kunci keberhasilan

dalam memisahkan senyawa,

sehingga pemilihannya harus tepat dan sesuai dengan jenis adsorbent


yang digunakan. Pada TLC dengan adsorbent silica atau Si-60 yang
dikenal dengan normal phase kromatografi, pelarut yang digunakan
adalah pelarut non polar dan semi polar. Pelarut paling polar yang
110

digunakan sebaiknya tidak melebihi iso propanal baik pelarut tunggal


maupun pelarut campuran.
Tabel 5.3. Pelarut yang sering digunakan dalam kromatografi
Petrolium ether
Cyclohexane
Karbon tetraklorida
Toluena
Kloroform
Metilene klorida
Dietil eter
Etil asetat

Pertambahan polaritas

Aseton
Pyridin
Etanol
Metanol
Air
Asam asetat

Pelarut tunggal terkadang dapat memisahkan berbagai


senyawa dalam suatu campuran. Namun seringkali kita harus
mencari kombinasi pelarut yang tepat untuk mendapatkan pemisahan
111

yang lebih baik.

Untuk mencari pelarut yang tepat biasanya

digunakan TLC sebagai indikator. Kelarutan suatu senyawa sangat


tergantung dari kelas senyawa tersebut. Pada umumnya senyawa
polar hanya larut dalam pelarut polar dan senyawa non polar hanya
larut dalam pelarut non polar.
5.4. Thin Layer Chromatography (TLC)
Thin Layer Chromatography (TLC) atau yang sering disebut
sebagai kromatografi lapis tipis (KLT) adalah metode yang
digunakan untuk pemisahan secara cepat dan untuk menganalisis
sampel yang jumlahnya kecil. TLC juga digunakan dalam mencari
pelarut untuk metode kromatografi yang lain seperti; HPLC, OCC.
TLC terdiri dari adsorbent yang dilekatkan pada lembaran /
plate pendukung. Lembaran pendukung ini umumnya berupa kaca
atau aluminium. Sedangkan adsorbent nya dapat berupa silica gel
(Si-60), C-18, alumina, atau amina yang berbentuk serbuk. Sampel
umumnya diaplikasikan dalam bentuk titik kecil (spot) di dekat dasar
plate dengan menggunakan pipet kapiler. Jika pipet kapiler yang
terisi sampel ditempelkan pada plate TLC, maka secara otomatis
112

sampel dalam pipet tersebut akan terserap. Pipet kapiler ini juga
biasa disebut spotter.
TLC yang telah diberi sampel kemudian dimasukan ke dalam
botol (development chamber) yang berisi pelarut. Pelarut tersebut
secara otomatis akan naik pada plate karena adanya gaya kapiler.
Bersamaan dengan naiknya pelarut tersebut, sampel pada TLC
tersebut juga akan ikut naik yang mengakibatkan terjadinya
pemisahan fraksi fraksi atau senyawa senyawa dalam sampel.
Pemisahan ini berdasarkan pada kesetimbangan gaya tarik
menarik antara sampel pelarut (fase bergerak) dengan sampel
adsorbent (fase diam). Pada TLC fase normal, fraksi atau senyawa
non polar akan bergerak paling cepat dan fraksi atau senyawa polar
akan bergerak lambat atau bahkan tetap pada titik awal. Sedangkan
sebaliknya pada TLC fase terbalik, fraksi atau senyawa polar akan
bergerak lebih cepat dan fraksi atau senyawa non polar akan bergerak
lambat.
Pelarut yang umumnya digunakan pada TLC fase normal
antara lain heksan, klorofom, metilene klorida, dan etil asetat. Aseton
113

dan metanol terkadang juga digunakan, namun dengan jumlah


perbandingan yang sangat kecil. Hal ini disebabkan karena metanol
dapat melarutkan silica gel. Sedangkan pada TLC fase terbalik,
pelarut yang sering digunakan adalah air, metanol, aseton.

Gambar 5.2. Kromatografi Lapis Tipis atau Thin Layer


Chromatography (TLC)
Untuk mengetahui hasil pemisahan atau spot yang terdapat
pada plate TLC dapat digunakan berbagai macam metode visualisasi.
Sinar ultra violet (UV) adalah teknik visualisasi yang paling sering
digunakan, karena teknik ini sangat mudah dan murah. Namun
dengan metode ini tidak semua jenis senyawa dapat terlihat. Metode
lain yang dapat dilakukan adalah dengan pencelupan pada larutan
114

asam sulfat atau campuran asam sulfat vanilin. Dengan metode ini
kita dapat melihat hampir semua jenis senyawa. Namun dengan
menggunakan metode ini, senyawa tersebut akan rusak. Visualisasi
tidak hanya berfungsi untuk melihat jumlah spot, tetapi juga dapat
digunakan untuk identifikasi kelas senyawa. Sebagai contoh adalah
ninhydrin dapat digunakan untuk mendeteksi senyawa yang
mengandung gugus amina.

OH

H3N CHCO-+ 2

O
N

OH

BIRU UNGU

ninhydrin
+

RCOH

+ CO2 +

3H 2O

Gambar 5.3. Gugus kimia senyawa ninhydrin


Data penting yang dapat diperoleh dari TLC ini adalah nilai
RF dari suatu senyawa. RF (retardation factor atau ratio-to-front)
adalah perbandingan antara jarak yang ditempuh oleh suatu farksi
atau senyawa dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut. Nilai RF
dapat dihitung dengan rumus:
115

H+

Jarak yang ditempuh oleh fraksi atau senyawa


RF =
Jarak yang ditempuh oleh pelarut
RF = jarak titik pusat bercak dari titik awal / jarak garis depan dari
titik awal
Angka RF berjangka antara 0, 00 dan 1, 00 dan ditentukan dua
desimal. HRF adalah angka RF dikalikan faktor 100 (h),
menghasilkan nilai berjangka 0 sampai 100. Jika dipilih 10 cm
sebagai jarak pengembangan, maka jarak rambat suatu senyawa x 10
menghasilkan angka HRF. Tetapi, karena angka RF merupakan
fungsi sejumlah faktor, angka ini dianggap sebagai petunjuk saja.
Jika angka HRF lebih tinggi daripada angka HRF yang dinyatakan,
kepolaran pelarut harus dikurangi, sedangkan jika angka HRF lebih
rendah, komponen polar pelarut hars dinaikkan. Hal ini dapat
dilakukan dengan pengaturan sistem benzene kloroform atau
kloroform metanol.
5.4.1. Penilaian visual
Pada penilalan visual suatu kromatogram, hal berikut harus
diamati:
116

a. Jarak pengembangan komponen larutan cuplikan dibandingkan


dengan jarak larutan pembanding. Jika ada beberapa larutan
cuplikan, cuplikan yang satu dibandingkan dengan cuplikan yang
lain.
b. Beberapa sifat, misalnya fluoresensi atau pemadaman fluoresensi
dan terutama warna hasil reaksi warna.
c. Perbandingan luas bercak yang dapat memberi informasi
mengenai angka perbandingan kuantitatif.

117

Gambar 5.3.

Penggunanaan TLC untuk mengelompokan fraksifraksi hasil OCC. Visualisasi TLC menggunakan sinar
UV (foto: dokumentasi penelitian Maesaroh, 2014).

118

LATIHAN SOAL
A. PILIHAN GANDA
Berikan tanda silang pada pilihan A, B, C maupun D yang
Anda anggap sebagai jawaban benar!
1. Pemisahan suatu senyawa merupakan hal yang perlu
dilakukan pada tahapan penelitian berikut
a. Ekstraksi
b. Sampling
c. Bioassay
d. Purifikasi
2. Kromatografi merupakan metode pemisahan suatu
campuran dua atau lebih senyawa atau ion dengan distribusi
antara dua fase yaitu
a. Fase diam dan fase mengalir
b. Fase tenang dan fase mengalir
c. Fase diam dan fase bergerak
d. Fase tenang dan fase bergerak
3. Kromatografi dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan tipe
fasenya, diantaranya adalah sebagai berikut, kecuali
..
a. Solid-liquid
b. Liquid-liquid
c. Gas-liquid
d. Solid-solid
4. Beberapa alat di bawah ini yang bukan merupakan alat-alat
analitik untuk pemisahan dan analisis suatu campuran
senyawa adalah .
a. Spectrofotometry
119

b. Gas chromatograpy-Mass Spectrofotometry


c. Liquid chromatograpy-Mass Spectrofotometry
d. Gas chromatograpy Fourier-transform infrared
spectroscopy (GC-FTIR)
5. Output visual yang dperoleh dari hasil pemisahan pada
kromatografi biasa disebut dengan ..
a. Analit
b. Eluen
c. Electropherogram
d. Kromatogram
6. Hasil pemisahan suatu senyawa sangat dipengaruhi oleh

a. Oksigen
b. Sifat senyawa
c. Absorbent
d. Absolent
7. Berdasarkan cara kerjanya adsorbent atau fase diam pada
prinsipnya dapat dibedakan menjadi, kecuali .
a. normal phase
b. abnormal phase
c. reverse phase
d. ion-exchange
8. Adsorbent resin memisahkan suatu senyawa dengan
cara ........... pemisahannya berdasarkan .........
a. afinitas, aktivitas biologi
b. chiral, optis aktif
c. ion-exchange, muatan
d. adsorbsi, polaritas
9. Adsorbent yang digunakan pada normal phase adalah ..
a. Si-60
b. RP-18
120

c. Resin
d. LH-20
10. Berikut merupakan urutan yang benar dari interaksi yang
terjadi pada kekuatan silika gel .......
a. dipol-dipol>gaya van deer waals>formasi
garam>koordinasi>ikatan hydrogen
b. ikatan hydrogen>koordinasi>formasi garam>dipoldipol>gaya van deer waals
c. formasi garam>koordinasi>ikatan hidrogen>dipoldipol>gaya van deer waals
d. formasi garam>ikatan hydrogen>koordinasi>dipoldipol>gaya van deer waals
11. Pemilihan adsorben sering kali tergantung pada tipe senyawa
yang akan dipisahkan, sebagai contoh adsorben selulosa, pati
dan gula umumnya digunakan untuk memisahkan produkproduk dari ...........
a. Bakteri
b. Invertebrate
c. Jamur
d. Tumbuhan
12. Berikut merupakan urutan jenis absorbent yang benar
berdasarkan kekuatan dan interaksi terhadap senyawa polar
dari tinggi ke rendah adalah ..........
a. charcoal>alumina>magnesium oksida>flonisil
b. silica gel>asam cilicic>kalsium sulfat>pati
c. magnesium>gula>pati>magnesium oksida
d. selulosa>magnesium>flonisil>charcoal

121

13. Aktivitas adsorben yang tinggi biasanya dapat menyebabkan


adanya ......
a. polarisasi
b. dekomposisi senyawa
c. adsorbsi senyawa
d. degradasi
14. Kromatografi Kolom Terbuka atau open column
chroamtography (OCC) merupakan teknik pemisahan pada
sampel berikut ini
a. padat-cair
b. cair-gas
c. padat-padat
d. cair-cair
15. Perhatikan gambar Kromatografi kolom terbuka di bawah ini:
Pada bagian yang ditunjuk dengan
kode A merupakan .
a. Ruang hampa udara
b. Tempat menuangkan sampel
c. Cadangan fase gerak
(pelarut/eluen)
d. Tempat pengaturan tekanan

122

16. Berikut ini contoh pelarut yang sering digunakan dalam


kromatografi yang memiliki polaritas dari tinggi ke rendah
adalah ..
a. petrolium ether>cyclohexane>karbon tetraklorida
b. air>metanol>etanol
c. dietil eter>etil asetat>aseton>etanol
d. toluena>kloroform>metanol>aseton
17. Hasil pemisahan atau spot-spot yang terdapat pada TLC plate
dapat dilihat menggunakan ......
a. sinar matahari
b. sinar laser
c. sinar UV
d. sinar radioaktif
18. Pelarut dapat naik pada TLC plate disebabkan adanya ......
a. gaya van deer waals
b. gaya dipol-dipol
c. gaya gravitasi
d. gaya kapiler
19. Perbandingan antara jarak yang ditempuh oleh suatu fraksi
atau senyawa dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut
disebut dengan ..
a. retention periods
b. retention distances
c. retardation factor
d. retention volume
20. Salah satu metode visualisasi menggunakan ninhydrin untuk
mendeteksi senyawa yang mengandung gugus ......
a. keton
b. amina
123

c. karboksilat
d. hidroksil
B. ESSAY
Tulislah jawaban dari pertanyaan di bawah ini!
1. Apakah yang dimaksud kromatografi? Sebutkan alat-alat yang
memiliki prinsip kerja kromatografi minimal 3!
2. Jelaskan pengertian dari:
a. Analit
b. Eluen
c. Kromatogram
d. Waktu retensi
e. Volume retensi
3. Buatlah tabel tipe adsorbent, cara kerja, dan dasar pemisahannya
minimal 4 jenis!
4. Apakah yang dimaksud zwitterion?
5. Jelaskan secara singkat dan jelas mengenai prinsip dan metode
pemisahan kromatografi kolom!
6. Tuliskan rumus dari Retardation factor suatu senyawa beserta
keterangannya!
7. Apakah yang dimaksud dengan spotter?
8. Sebutkan minimal 8 pelarut yang sering digunakan dalam
kromatografi!
9. Sebutkan adsorben yang digunakan pada metode TLC!
Jelaskan hal-hal yang perlu diamati dalam penilaian suatu
kromatogram!

124

PUSTAKA ACUAN

Aceret, T.L., J.C. Coll, Y. Uchio, and P. W. Sammarco. 1998.


Antimicrobial activity of the diterpenesflexibilide and
sinulariolide derived from Sinularia flexibilis Quoy and
Gaimardf 1833. Comp. Biochem. and Phys. Part C. 120. 121126.
Ambariyanto, R. Murwani dan A. Trianto, 2003, Anticancer
Activity of Haliclona sp. Againts Two Types of Cancer cell
lines L1210 and T47D, Journal of Biotechnology,
Anonimous. 2003. Macroalgae and Seaweed. www.mdiana.edu
Artanti, N., Ratih S., Arif F.R., M. Hanafi, L. Broto S.,A. Darmawan.
2003. Evaluasi Aktifitas Antioksidan Berbagai Ekstrak Daun
Benalu
( Dendrophthoepentandra (L.) Mig.)
yang Tumbuh pada Inang Belimbing dan Mangga. Prosiding :
Lokakarya dan Seminar Nasional Pengembangan dan
Pemanfaatan Obat dari Bahan Tumbuhan. Lembaga
Penelitian Universitas Diponegoro dan Dinas Kesehatan
Propinsi Jawa Tengah, Semarang.
Bohinski, R.C. 1987. Modern Concept in Biochemistry. Allyn and
Bacon, Inc. Massachusetts, USA.
Browne, R.A., Sargeloos, P.,Trotman,C.N.A. 1991. Biology Artemia.
CRC Press, Florida. 261 pp.
Cafieri F.; Fattorusso E.; Taglialatela-Scafati O., 1998, Novel
betaines from the marine sponge Agelas dispar . Journal of
Natural Products, Volume 61, Issue 9. Pages 1171-1173.
Colin, P.L., and C. Arneson. 1995. Tropical Pacific
Invertebates. Coral Reef Press. California
Clark, D.P; J. Carrol, S. Naylor, and P. Crews, 1998, Antifungal
Cyclodepsipeptide, Cyclolitisthid A,
from the sponge
Theonella swinhoei, J. Org. Chem., page EST :7.5.

125

Cohn, J.P., 1995, The Beginnings: Laboratory and Animal Studies,


FDA Consumer Special Report on New Drug Development in
the United States, http://www.FDA.com
Colin, P.L., and C. Arneson. 1995. Tropical Pacific Invertebates.
Coral Reef Press. California. 296 pages.
Coll, J.C., 1992. The chemistry and chemical ecology of octocorals
(coelenterata, anthozoa, octocoralia). Chem. Rev. 92. pp
613-631.
Coleman, A.C and R. G. Kerr, 2000, Radioactivity-Guided Isolation
and Characterization of the Bicyclic Pseudopterosin
Diterpene Cyclase Product from Pseudopterogorgia
elisabethae, Tetrahedron, 56, pp : 9569-9574.
Conception, G.P., G.B. Caraan and J.E.H. Lazaro, 1994, Biological
Assays for marine Samples, in Second Marine Natural
Products Workshop, de Guzman (ed). Marine Science
Institute and Institute of Chemistry, University of the
Pjilipines.
Cutignano, 2000, Dragmacidin F : A new antiviral bromoindole
alkaloid from the Mediterranean
Halicortex sp.,
Tetrahedron. 56, pp. 3743-3748.
Dewick, P. M., 1997. Medicinal Natural Product.A Biosynthetic
Approach.John Willey and Sons.Chichester. England.
Dolinsky, C., 2002, Breast Cancer: The Basics, Oncolink, Abramsons
Cancer center of the University of Pensylvania.
Dwiatmaka,Y. 2001. Identifikasi Simpleks dan Uji Toksisitas Akut
Secara BST Eksrak Kulit Batang Pule Alstonia Scholaris
(L.)R.Br., Program Studi Ilmu Farmasi, Jurusan Ilmu
Matematika dan Pengetahuan Alam, UGM, Yogyakarta.
(Tesis). (tidak dipublikasikan)
Fabricus, K. and P. Alderslade, 2001, Soft Corals and Sea Fans : A
Comprehensive Guide to the Tropical Shallow-Water Genera
of the Central-West Pacific, the Indian Ocean and the Red
Sea, Australian Institute of Marine Science, 264 pages.

126

Gossliner, T.M.; D. W. Behrens, G.C. Williams. 1996. Coral reef


animals of the Indo-Pacific. Sea Challengers. California.
314 pages.
Harefa, F. 1997. Pembudidayaan Artemia untuk Pakan Udang dan
Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta. 79 hlm.
Loomis,T.a. 1978. Toksikologi Dasar. Edisi ke tiga , IKIP Semarang
Press, Semarang. 282 hlm. (diterjemahkan oleh Imono Argo
Donatus)
Meyer, B.N., Feringgi,N.R., Putman.1982. Brine Shrimp: A
Conventient General for Active Plant Constituent, Planta
medica,
45(1):
3134.http://www.biomedcentral.com/bmcbiotechnol.
4
Desember 2004.
Mulyani ,S. 1995. Isolasi dan Elusidasi Struktur Kandungan Daun
Eupatorium inulifolium yang bersifat Sitotoksik. UGM,
Yogyakarta. (Desertasi). (tidak dipublikasikan).
Iwagawa, T.; T. Masuda, H. Okamura, and M. Nakatani. 1996. New
xenia diterpenoids from a xenia species of soft coral.
Tetrahedron.Vol. 52.No. 41.13121-13128.
Kobayashi M.; Aoki S.; Gato K.; Matsunami K.; Kurosu M.;
Kitagawa I., 1995, Marine Natural Products. Xxxiv.
Trisindoline, A New Antibiotic Indole Trimer, Produced
By A Bacterium Of Vibrio Sp. Separated From The
Marine Sponge Hyrtios Altum , Journal of Natural
Products, Volume 58, Issue 5
Mudjiman,
A. 1983. Laporan Hasil Budidaya Artemia. Dinas
Perikanan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur,
Surabaya
NCI,
2003,
Progress
Report
2003,
http//www.cancer.gov.
NCI, 2004, Progress Report 2003,Scientists Establish

Database of Genes Associated With Cancer


Drug Resistance http//www.cancer.gov.
Nontji, A., 1998. Indonesian potention in developing marine
biotechnology.dalam
Soemodihajodkk (ed.), Prosiding
Seminar Bioteknologi Kelautan Indonesia I., LIPI, Jakarta, pp
25-31.
127

Ojima, R., J. Kisugi, and M. Yamazaki. 1995. Development and


Comparative Immunology. Vol. 19, No. 1, pp 13-19. Elsevier
Science Ltd. On Web.
Parker, P.S. 1986.Mc Graw-Hill Dictionary of Chemistry. Mc GrawHill Book Co, Singapore.
Pavia, D.L; G.M. Lampman, G.S. Kriz, and R.G. Engel; 1995,
Organic Laboratory Techniques, Saunders College
Publishing, Florida, USA.
Pettit,G.R.; M.S Butler.; C.G Bass.; D., Doubek.; M.D Williams,
J.M. Schmidt, R.K.Pettit, J.N.A Hooper, L.P. Tackett, and
M.J Filiatrault. 1994, Antineoplastic Agents, 326. The
Stereochemistry Of Bastadins 8, 10, And 12 From The
Bismarck Archipelago Marine Sponge Ianthella Basta,
Chemical and Pharmaceutical Bulletin, Volume 42, Issue 12,
Pages 2449-2451.
Price, I.R., 1990, Biology of Marine Plants : Marine Plant life in
M.N. Clayton and R.J. King (eds). Longman Cheshire Pty.
Ltd. Melbourne. Australia.
Qureshi, A.,
P. L. Colin
and D. J. Faulkner, 2000,
Microsclerodermins F-I, Antitumor and Antifungal Cyclic
Peptides from the Lithistid Sponge Microscleroderma sp.,
Tetrahedron, 56 : 3679-3685.
Romimohtarto, K. dan Juwana, S. 2001. Biologi Laut. Ilmu
Pengetahuan tentang Biota Laut. Djambatan, Jakarta, 540
hlm.
Rupprecht, J.K., Hu, Y.H., Laughlin, J.L. 1990. Annonaceous
Aetogenin : A refiew. Journal of Natural Product, 55(2): 237247.
http://www.biomedcentral.com/bmcbiotechnol. 4 Desember
2004.
Rhodes, D., 2002, Identifying and Counseling Women at Increased
Risk for Breast Cancer.Mayo Clinic Proceedings, 77(4), 355361.
128

Sata, N. U., S. Matsunaga, N. Fusetani, R. V. M. van Soet. 1999. J.


Nat. Prod. 62. 969-971. ACS and ASP Published on Web.
Satari, R. R., 1998. Penelitian Produk alam laut di Indonesia : Status
dan kaitannya dengan Bioteknologi.dalam Soemodihajodkk
(ed.), Prosiding Seminar Bioteknologi Kelautan Indonesia I.,
LIPI, Jakarta, pp 25-31.
Silverstein, R. M., G. C. Bassler dan T. C. Morril. 1981.
Spectrometric Indent ificaion of Organic Compounds.4 th
edition. John Willey and Sons, Inc.
Sammarco, P.W., 1996. Comment on coral reef regeneration,
bioerosion, biogeography, and chemical ecology : future
directions. J. Exp. Mar. Biol. Ecol. 200. pp 135-168.
Smith dan Mangkoewidjojo, 1988, Pemeliharaan, Pembiakan, dan
Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis, UI-Press.
Solis, P.N., Wright, C.W., Anderson, M.M., Gupta, M.P., and
Philipson, J.D. 1993.A Microwell Cytotoxicity Assay Using
Artemia Salina (Brine Shrimp), Planta Medica. (59): 250252.
Stahl. B. 1985. Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi.
ITB, Bandung Tomlinson, P.B. 1994. The Botano of
Mangrove. Cambridge University Press, New York.
Sudjana. 1996. Metode Statistika untuk bidang Biologi, Farmasi,
Industri, Pendidikan, Psikologi, Sosiologi, Teknik dan lainlain. Edisi ke enam, Tarsito, Bandung.508 hlm.
Sudiro, I. 1998. Produk Alam Hayati Laut dan prospek
pemanfaatannya di bidang kesehatan dan kosmetika. dalam
Soemodihajo dkk (eds.). Prosiding Seminar Bioteknologi
Kelautan Indonesia I. LIPI. Jakarta
Sumarny, R. 2002. Paradigma Pengobatan Kanker. IPB, Bandung.
http://rudyct.tripod.com/sem2_012/ros_sumarny.htm.17
Agustus 2004.
Suryabrata, S.1983. Metode Penelitian. PT. Radjawali, Jakarta. 115
hlm.
Tanaka, J; A. Trianto, M. Musman, H. H. Issa, I.I. Ohtani, T. Iciba,
T. Higa, W. Y. Yoshida and Paul J. Scheuer, 2002. New
Polyoxygenated steroids exhibiting reversal of multidrug
129

resistance from the gorgonian Isis hippuris, Tetrahedron. 58.


6259-6266.
The Merck Manual of Diagnosis and Therapy, 2004, Evaluation of
Drug
Toxicity,
Section
22.
Chapter
302.http://www.merck.com
Tjay, T. H. dan K. Rahardja. 2002. Obat-obatan Penting, Khasiat,
Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya. PT. Elex Media
Komputindo, Jakarta.
Trianto, A. 2002. Potensi Bahan Bioaktif Dari Biota Laut. Petunjuk
Praktikum Mata Kuliah Eksploitasi dan Eksplorasi Sumber
Daya Laut, Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro,
Semarang. 55 hlm
Trianto, A; 2001, Studi Penggunaan Spektrum NMR Pada
Elusidasi Struktur Latranculin S. Majalah Ilmiah Imu
Kelautan. No. 22, hal. 113-118.
Trianto, A;, M. Musman, J. Tanaka, and T. Higa, 2001a, New
Bioactive Polyoxigenated Steroids from the Gorgonian Isis
hippuris.10th International Symposium on Marine Natural
Products (X MaNaPro). June 24-29. Okinawa, Japan. Book
of Abstracts. Page 136.
Trianto, A; J. Tanaka, and T. Higa, 2001 b, Structural Elucidation of
A New Anticancer Sterol from Marine Gorgonian Isis
hippuris. Majalah Ilmiah Imu Kelautan.Special edition. Pp
215-221.
Trianto, A., Ambariyanto, R. Murwani, E. Kurniyadi, S. Sihobing,
D. Ulsadriatny, and D.S. Christianto, 2003, Screening of
Anticancer and Antifungal Substances from Marine Sponges
and Gorgonians, International Seminar on Biotechnology for
Sustainable Agriculture SEAMEO-BIOTROP, Bogor 7-8
October 2003.
Trianto, A., Ambariyanto and R. Murwani, 2004, Skrining Bahan
Anti Kanker pada berbagai jenis Sponge dan Gorgonian
terhadap L1210 cell line, Majalah Ilmiah Imu Kelautan.
Vol. 9 (3) : 124-128.
Tyler,V.E. Brady, L.R. and Robbers .J.E. 1988. Pharmacognosy.9 th
Edition, Lea and Febiger, Philadelphia.518 pp.
130

Welington, K.D., R.C. Cambie, P.S. Rudledge, and P.R. Berquist,


2000, Chemistry of Sponges.19. Novel Metabolites from
Hamigera tarangensis, J. Nat. Prod., 63, pp 79-85.
Winarno, F.G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia, Jakarta.
Windono, T., Soedatmiko S., Uut S., Eny E., Aniri S., T. Inayah
E2003. Uji Peredam Radikal Bebas terhadap 1,1-Diphenyl-2Picrylhydrazyl (DPPH) dari Ekstrak Kulit Buah dan biji
Anggur ( Vitisvinivera L.) Probolinggo Biru dan Bali.
Prosiding: Semiloka Nasional, Himpunan Kimia Indonesia,
Jakarta.
Wipf, P. and S. Lim, 1995, Total Synthesis of the Enantiomer of the
Antiviral Marine Natural Product Hennoxazole A, J. Am.
Chem. Soc. 117. pp 558-569.
Youngken and Shimizu, 1975, Marine Drugs : Chemical and
Pharmacological Aspect, in J.P. Riley and G. Skirrow (eds),
Chemical Oceanography. Volume 4.2nd edition.Academic
Press. New York. pp 269-312.

Lampiran 1. Kunci Jawaban


I. PENDAHULUAN
A. Pilihan Ganda
1. C
2. B
131

3. D
4. A
5. B
6. B
7. A
8. C
9. A
10. C
11. B
12. D
13. D
14. A
15. B
16. A
17. B
18. A
19. B
20. D
B. Essay
1. Peneliti Indonesia perlu mengadakan riset mengenai
eksplorasi bahan hayati laut karena 2/3 wilayah Indonesia
merupakan lautan dan masih sedikit peneliti yang fokus
mengeksplor kekayaan dan potensi laut Indonesia, di sisi
lain banyak peneliti asing yang justru meneliti hal tersebut.
2. Hal ini disebabkan kurangnya informasi tentang biota laut
di Indonesia dan habitatnya, sulitnya mencari sampel
biota laut dan kurangnya tenaga ahli.
3. Berikut merupakan alasan Indonesia memiliki
keanekaragaman yang tinggi:
a. merupakan negara kepulauan;
b. memiliki unsur flora dan fauna yang berkisar dari
wilayah Indomalaya sampai ke Australia;
c. terbagi menjadi 2 zona biogeografi, yakni wilayah
oriental dan wilayah Australian. Wilayah oriental
132

meliputi Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan,


sedangkan wilayah Australia meliputi seluruh pulau
kawasan timur Indonesia;
d. banyak pulau tersebar di Nusantara ini terisolasi
beribu-ribu tahun sehingga tingkat endemisnya
tinggi. Oleh karena itu, banyak jenis flora dan fauna
yang hanya terdapat di Indonesia;
e. sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki laut
yang luas, yaitu 3.650.000 km2 dengan panjang garis
pantai 81.000 km, 14% dari panjang pantai bumi;
f. karena lautnya luas, Indonesia memiliki pantai
dengan hutan bakau yang terluas danterkayajenis
flora dan faunanya, yaitu 4,25 juta ha;
g. dengan laut yang luas, Indonesia memiliki
sumberdaya terumbu karang terkaya, misalnya atol,
terumbu karang tepian, terumbu karang perintang
(barrier), dan terumbu karang sebaran.
4. Untuk memanfaatkan bahan alam yang ada di laut dan
memperkaya diversitas jenis obat yang ada. Selain itu
untuk mengatasi masalah resistensi obat yang berasal dari
darat seperi malaria perlu ditemukan obat baru yang
berasal dari laut.
5. Eksplorasi adalah proses pencarian bahan aktif yang
berasal dari biota laut seperti spons, tunikata,
nudibranchia, karang dan sebagaianya. Kegiatan
eksplorasi yang berlebihan akan menyebabkan eksploitasi
yang berlebihan.
6. Bagan seperti berikut ini:

133

7. Bisa, karena Indonesia memiliki biodiversitas yang tinggi.


8. Umumnya sampel yang diambil, langsung disimpan
dalam keadaan beku untuk mencegah dekomposisi
senyawa bioaktifnya. Bahkan apabila senyawa targetnya
sangat tidak stabil, misalnya berupa enzim, sampel harus
segera disimpan dalam nitrogen cair.
9. Pemisahan berdasarkan polaritas biasanya dilakukan
dengan normal phase
(Si-60) dan reverse phase
chromatography (Rp-8 atau Rp-18). Normal phase
digunakan pada senyawa senyawa yang mempunyai
polaritas rendah atau senyawa nonpolar. Sebaliknya
Reverse phase digunakan untuk memisahkan senyawa
senyawa polar.
134

10. flash column chromatography (FCC), vacuum liquid


chromatography (VLC), atau corong pemisah (separatory
funnel).
II. BIOPROSPEKSI
A. Pilihan Ganda
1. B.
2. B.
3. D.
4. B.
5. C.
6. B.
7. C.
8. C.
9. B.
10. A.
11. C.
12. D.
13. C.
14. B.
15. A.
16. A.
17. A.
18. B
19. D.
20. B.
B. Essay
1. Bioprospeksi adalah kegiatan eksplorasi material material
biologis dengan mendapatkan gen dan sifat biokimia yang
dapat dikomersialkan. Bioprospeksi juga merupakan suatu
kegiatan eksplorasi, koleksi, penelitian, dan pemanfaatan
sumber daya genetik dan biologi secara sistematis guna
mendapatkansumber-sumber baru senyawa kimia,
gen,organisme, dan produk alami lainnya yang memiliki
nilai ilmiah dan atau komersial tanpa mengesampingkan
pelestarian dari keanekaragaman hayati tersebut.
135

2.
-

Konservasi Biodiversitas atau keanekaragaman hayati


Pemanfaatan yang berkelanjutan pada komponen atau
sumber keanekaragaman hayati
- Pembagian keuntungan (sharing of benefit) dari hasil
bioprospeksi dan pemanfaatan sumber daya yang adil
dan merata.
3. Lingkungan yang ekstrim membuat sumberdaya baik di
darat maupun laut memiliki karakteristik unik untuk dapat
bertahan hidup. Proses biologi dan bahan bahan yang
digunakam sumberdaya hayati untuk bertahan hidup dari
suhu yang ekstrim, pH, tekanan, dan kondisi ekstrim
lainnya menjadikan sebagai sumber yang sangat berpotensi
untuk pengembangan ilmu dan kegiatan bioprospeksi.
Secara umum, proses bioprospeksi terdiri dari empat tahap,
yaitu :
- Koleksi sampel dari berbagai lokasi
- Isolasi,karakterisasi dan produksi senyawa tertentu
- Screeningpada bahan yang berpotensi dan bermanfaat,
seperti untuk bidang farmasi, kelautan, dan bidang
lainnya
- Pengembangan produk dan komersialisasi, seperti hak
paten, promosi, penjualan dan pemasaran
5. Dalam perkembangan bioprospeksi, bahan biologi baik
dari tumbuhan maupun hewan yang banyak dimanfaatkan
dan dikembangkan seperti obat-obatan, makanan, dan
bioaktif lainnya berasal dari sumber-sumber terestrial.
Meskipun kita tahu bahwa 70% dari permukaan bumi
merupakan lautan, akan tetapi organisme laut yang
melimpah tersebut masih belum dieksplorasi secara
optimal. Perlu adanya pengembangan bioprospeksi yang
lebih luas yaitu mencakup wilayah laut sebagai sumber
bioprospeksi kedepannya karena berbagai organisme baik
mikro maupun makroorganisme berada di laut dapat
136

dimanfaatkan dengan
senyawa bioaktif baru

berbagai

macam

penemuan

6. Biopiracymerupakan tindakan perampasan secara ilegal

mikroorganisme hidup, tumbuhan, dan hewan serta


pengetahuan budaya tradisional yang ada pada negara
tersebut. Hal ini melanggar hukum dan ilegal karena
melanggar konvensi (kesepakatan) internasional dan
hukum lokal yang berlaku di negara tersebut, serta tidak
mengakui, menghormati adanya pemilik sah dari sumber
daya tersebut karena semata mata hanya bertujuan
untuk keuntungan komersial. Biopiracy umumnya
melakukan penerapanIntellectual Property Rights (IPR)
atau mematenkan sumber daya genetik dan pengetahuan
tradisional tanpa ada persetujuan yang jelas dari negara
asal sumber daya tersebut.
7. Hasil bioprospeksi laut yang telah dikomersialisasikan
saat ini adalah sebagai berikut:

Nama
senyawa

Nama
dagang

Sumber
organisme

Kegunaan

Ziconotide

Prialt

Cone snail
Conus magus

Analgesik

Cytarabine

Cytosar-U

Spons
Cryptotheca
crypta

Pengobatan
kanker dan
leukimia

ET-743

Yondelis

Tunikata
Ecteinascidia
turbinate

Pengobatan
kanker rahim

Vidarabine

Vira-A

Spons Tethya

Antivirus

137

crypta
Erybulin
mesylate

E7389

Spons
Halichondria
okadai

Pengobatan
kanker
payudara

Sumber: Khalesi, MK. Kim (Ed). 2015. Handbook of


Marine Biotechnology. Springer. Berlin
Heidelberg. p:179-217.
8.
Keuntungan Non Material

Keutungan Material

Sharing informasi hasil penelitian dan


pengembanganya

Biaya / Akses dari pengambilan s

Kolaborasi dan kerjasama, dalam


pemanfaatan sumber daya

Biaya kesepakatan (Pembayaran

Partisipasi (keikutserataan) dalam


pengembangan produk

Biaya royalti (hak paten)

Adanya akses dalam penggunaan fasilitas


(genetika molekular)
Adanya transfer teknologi
Pembentukan badan (institusi)
Pemberdayaan masyarakat dalam
menjaga sumber daya dan akses
penggunaan (administrasi)
Peningkatan ekonomi lokal (masyarakat
setempat)
Terjalin pelatihan pada daerah kaya
sumber daya
Terbentuknya kelembagaan dan
kesepakatan secara profesional
Menjaga sumber daya sebagai
kepemilikan bersama

Biaya untuk komersial (pemasara

Biaya untuk organisasi konservas


Gaji yang telah disepakati
Dana Penelitian
Dana untuk terjalinnya usaha
Dana kepemilikan

9. Aplikasi bioteknologi sangat penting bagi kegiatan


bioprospeksi karena output dari kegiatan bioprospeksi
nantinya akan berbasis bioteknologi. Hal ini dapat dilihat
bahwa aplikasi bioteknologi saat ini pada sektor industri
138

mencapai 39%, sedangkan sektor pertanian/pangan


mencapai 36% dan kesehatan diperkirakan sekitar 25%.
Pengembangan hasil bioprospeksi dari mikroorganisme
melalui aplikasi bioteknologi dapat memberikan
kontribusi berupa produk dan proses yang penting untuk
kebutuhan manusia saat ini. Penting untuk diketahui
bahwa bioteknologi merupakan dasar dari produk dan
proses yang alami dan dapat digunakan pada berbagai
aplikasi seperti obat obatan baru, bahan-bahan untuk
perasa dan kandungan nutrisi di makanan dan pakan
hewan, enzim dan mikroorganisme untuk meningkatkan
pakan makanan / ternak serta berbagai produk industri
lainnya. Selain itu, melalui bioteknologi, hasil dari
bioprospeksi dapat dijadikan sebagai kontrol lingkungan
dan energi terbarukan. Dengan adanya penerapan
bioteknologi, maka dapat memproduksi secara massal
bernilai tinggi tanpa menurunkan kualitasnya dan
menngurangi polusi pada lingkungan sekitarnya karena
bersifat alami (Pedersen et. al., 2009)
10.
- Para bioprospektor dapat membantu meningkatkan
pengetahuan tentang flora dan fauna di daerah tersebut
dan untuk melestarikan kearifan lokal tentang
penggunaan obat seiring dengan pengambilan sampel
di lokasi tersebut.
- Kesempatan pendidikan bagi para ilmuwan dan
mahasiswa di negara negara sumber bioprospeksi
dengan menekankan manfaat dari ekosistemdan studi
ilmu pengetahuan alam, seperti ethnobiologi, dan
bioteknologi.
- Teknologiyang dibawa oleh pelaku bioprospeksi
seperti farmasi, bioteknologi, dan lainnya dapat
memberikan kesempatan bagi negara negara tersebut
untuk meningkatkan nilai ekonomi dari sumber daya
139

mereka, sehingga meningkatkan potensi untuk


penggunaan berkelanjutan dari sember daya.
- Mendapatkan royalti (hak paten) untuk negara negara
dari sumber bioprospeksi
- Proyek bioprospeksi turut andil berkontribusi untuk
distribusi
III.

KOLEKSI
A. Pilihan Ganda
1. B
2. A
3. A
4. B
5. C
6. B
7. A
8. A
9. D
10. A
11. B
12. D
13. C
14. C
15. B
16. B
17. C
18. A
19. D
20. C
B. Essay
1. Contoh sumber daya hayati laut adalah sebagai
berikut:
plankton (phyto-zooplankton)
tumbuhan laut (mangrove, lamun, rumput laut)
fin fish (perikanan)
140

2.
3.

4.

5.

kerang-kerangan (termasuk moluska : clam,


mussel, oyster, scallop)
ekinodermata (sea urchin=bulu babi, sea
cucumber=timun laut, star fish=bintang laut, dll)
krustasea (udang-udangan)
spons
karang lunak dan biota lain yang berasosisasi
dengan terumbu karang
Fungsi dari koleksi sampel adalah
menyediakan sampel biota laut dalam jumlah yang
cukup dan sesuai dengan kriteria yang ditentukan
Hal hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan
koleksi sampel diantaranya :
Penentuan lokasi
Metode sampling dan dokumentasi
Metode preservasi
Persiapan peralatan
Syarat-syarat yang harus dikuasai kolektor sampel
diantaranya adalah
- Harus mengenali biota target dengan baik.
- Harus memahami habitat dan penyebaran dari
biota target.
- Harus mengerti siklus hidup biota target.
- Harus memahami peranannya ekologisnya.
- Menguasai metode sampling biota target.
- Memahami metode preservasi dan handling biota
baik untuk uji potensi maupun sebagai voucher
untuk identifikasi.
- Memahami status kawasan lokasi sampling dan
mengerti proses perijinannya.
Berikut merupakan penjelasan dari
a. voucher adalah cuplikan dari sampel atau sampel
yang hanya dalam jumlah sedikit sebagai contoh
dari sampel yang dikoleksi

141

b. misleading adalah kesalahan yang dilakukan saat


identifikasi sehingga mempengaruhi penentuan
hasil
c. preservative agent adalah agen ataupun zat yang
digunakan untuk melakukan pengawetan terhadap
sampel yang dikoleksi
6. Beberapa hal yang harus dipahami terkait dengan
lokasi sampel adalah
- Aksesibilitas
- Sarana dan prasarana
- Akomodasi
- Kondisi ekosistem
- Topografi
- Keterlindungan dari arus dan gelombang
- Biota khas dan biota berbahaya
7. Contoh organisme laut yang dapat dikoleksi hanya
dengan metode snorkling adalah
- Lamun
- Alga
Karang keras
Beberapa jenis Karang lunak
Beberapa jenis spons
Bintang laut
Bulu babi
Teripang
dll
8. Beberapa hal yang dapat dilakukan dan perlu
diperhatikan untuk dokumentasi sampel:
Foto bawah air
Foto sampel segar
Cuplikan sampel
Catatan data lapangan
9. Beberapa contoh narcotizing agent untuk preservasi
invertebrata:
Magnesium klorida (MgCl2. 6H2O)
142

Magnesium sulfat (Epsom Salts)


Galighers Menthol dan Chloral hydrate.
Chloretone (Chlorbutanol)
Urethane (Ethyl carbamate, NH2COOC2H5)

10. 3 hal penting yang perlu diperhatikan dalam


pengambilan sampel di bawah laut sehingga tidak
membahayakan diri adalah
Bahaya biota laut yang berduri maupun beracun
Arus dan gelombang laut
Kesehatan dan kemampuan dari setiap anggota
tim
IV.

EKSTRAKSI
A. Pilihan Ganda
1. A
2. B
3. C
4. A
5. A
6. A
7. A
8. A
9. A
10. C
11. B
12. D
13. C
14. D
15. C
16. C
17. A
18. A
19. A
20. A
143

B. Essay
1. Pada soxlet extractor pelarut yang digunakan harus
mempunyai titik didih yang rendah, karena pelarut
tersebut harus dapat diuapkan dengan cepat
2. Dua pelarut yang immiscible, yaitu pelarut yang
mengandung ekstak dan pelarut yang digunakan
untuk mengekstrak
3. Pada umumnya pelarut organik mempunyai densitas
yang lebih rendah dari pada air yaitu densitasnya
kurang daripada 1 mg/ml, sehingga akan menempati
lapisan atas.
4. Soxlet extractor lebih umum digunakan untuk
mengisolasi senyawa non-polar, sedangkan rotary
evaporator dapat digunakan untuk mengekstrak
hampir semua senyawa.
5. Kelebihan metode sokletasi adalah sampel terekstraksi
dengan sempurna, proses ekstraksi lebih cepat dan
pelarut yang digunakan sedikit. Sedangkan kelemahan
dari metode soxhletasi adalah sampel sampel yang
digunakan harus sampel yang digunakan harus sampel
yang tahan panas atau tidak dapat digunakan pada
sampel yang tidak tahan panas. Karena sampel yang
tidak tahan panas akan teroksidasi atau tereduksi
ketika proses sokletasi berlangsung.
6.

144

Keterangan gambar:
1. Pelarut 1 mengandung campuran molekulmolekul hitam dan putih.
2. Setelah dikocok dengan pelarut 2, sebagian
besar molekul putih terlarut dalam pelarut 2,
sedangkan molekul hitam terlarut dalam
pelarut 1.
3. Lapisan bawah diambil dengan pasteur pipet,
maka sebagian besar molekul hitam dan putih
terpisah.
7. Prinsip ekstrak cair-cair adalah kesetimbangan
kelarutan zat atau molekul yang menjadi target pada
dua macam pelarut yaitu pelarut yang mengandung
senyawa target (pelarut 1) dan pelarut yang
dipergunakan untuk mengekstrak (pelarut 2), dimana
kedua pelarut tersebut tidak dapat bercampur satu
sama lain (immiscible).
8. Pada proses ekstraksi lebih baik menggunakan jumlah
pelarut yang kecil daripada pelarut dalam jumlah
besar untuk menghemat biaya
9. Beberapa keuntungan dari kromatografi lapis tipis ini
adalah sebagai berikut :
- Kromatografi lapis tipis banyak digunakan untuk
tujuan analisis.
145

Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan


dengan pereaksi warna, fluorosensi atau dengan
radiasi menggunakan sinar ultraviolet.
- Dapat dilakukan elusi secara menaik (ascending),
menurun (descending), atau dengan cara elusi 2
dimensi.
- Dapat untuk memisahkan senyawa hidrofobik
(lipid dan hidrokarbon) yang dengan metode
kertas tidak bisa
- Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena
komponen yang akan ditentukan merupakan
bercak yang tidak bergerak.
- Hanya membutuhkan sedikit pelarut.
- Waktu analisis yang singkat (15-60 menit)
- Investasi yang kecil untuk perlengkapan (Biaya
yang dibutuhkan ringan).
- Preparasi sampel yang mudah
- Kemungkinan hasil palsu yang disebabkan oleh
komponen sekunder tidak mungkin
- Kebutuhan ruangan minimum
10. Langkah-langkah ekstraksi sampel:
Timbanglah erlenmeyer flask yang akan
digunakan untuk tempat sampel.
Bersihkan sampel dari pengotor yang
menempel, kemudian potong kecil-kecil atau
diblender. Apabila sampel dalam keadaan
beku tunggulah beberapa saat sampai mencair.
Masukan sampel tersebut kedalam labu
Erlenmeyer dan timbanglah.
Tuang pelarut hingga semua bagian sampel
terendam. Volume pelarut tersebut harus
diukur terlebih dahulu.
Tutuplah erlenmeyer flask tersebut dengan
aluminium foil rapat-rapat, kemudian simpan
didalam lemari es hingga 24 jam.
146

V.

Saring pelarut dengan kertas saring hingga


pelarut habis. Kemudian evaporasi pelarut
yang telah disaring tersebut dalam rotary
evaporator, hingga semua pelarut teruapkan.
Ulangi perendaman sampel sebanyak tiga kali,
namun untuk perendaman kedua dan ketiga
cukup dilakukan beberapa jam saja sambil
menunggu proses evaporasi.
Setelah flask benar-benar kering, keringkan
dengan VACUUM PUMP selama sekitar dua
jam.
Setelah semua ektrak dievaporasi hingga
kering, pindahkan ekstrak dari EVORATOR
FLASK kedalam vial, kemudian keringkan
dengan nitrogen bila tersedia. Atau dengan
dievaporasi dalam rotavapour.

KROMATOGRAFI
A. Pilihan Ganda
1. D
2. C
3. D
4. A
5. D
6. A
7. B
8. C
9. A
10. C
11. D
12. A
13. B
14. A
15. C
16. B
17. C
147

18. D
19. C
20. B
B. Essay
1. Kromatografi adalah suatu metoda pemisahan suatu
campuran dua atau lebih senyawa atau ion dengan
distribusi antara dua fase, yaitu fase diam (stationary
phase) dan fase bergerak (moving phase).
Alat-alat yang memiliki prinsip kerja kromatografi
adalah sebagai berikut:
Gas chromatograpy-Mass Spectrofotometry
Liquid chromatograpy-Mass Spectrofotometry
Gas chromatograpy Fourier-transform infrared
spectroscopy (GC-FTIR)
Diode-array UV-VIS (HPLC-UV-VIS)
2. Pengertian dari :
a. Analit adalah zat yang dipisahkan
b. Eluen adalah pelarut yang digunakan untuk
memisahan analit
c. Kromatogram adalah output visual yang dperoleh
dari hasil pemisahan. Adannya puncak
karakteristik yang berbeda menunjukkan adanya
senyawa yang berbeda
d. Waktu retensi adalah waktu yang diperlukan analit
untu melewati system
e. Volume retensi adalah volume fasa gerak yang
dibutuhkan untuk mengelusi komponen analit.
3. Tabel Adsorbent, cara kerja, dan dasar pemisahannya

148

4. Sifat asam amino dimana asam amino dapat


mempunyai ion positif dan negatif sekaligus dalam
satu senyawa.
5. Pada metode ini campuran senyawa yang akan
dipisahkan dimasukkan lewat atas puncak dan kolom
glass cilinder, dipadatkan / diisikan dengan partikel
alumina halus (fase diam / stationery). Adsorbent
kemudian seterusnya dicuci dengan aliran pelarut
(fase gerak) melewati kolom.
Pada awalnya komponen dan campuran teradsorp
diatas partikel alumina pada puncak kolom. Aliran
yang terus-menerus dan pelarut melewati kolom elute
atau mencuci larutan lepas dan alumina dan
mengeluarkannya menuruni kolom. Larutan yang
akan dipisahkan disebut elutan dan pelarut yang
digunakan disebut eluen. Selama larutan turun
melewati kolom untuk membebaskan alumina,
equlibra yang baru akan terbentuk di antara adsorbent,
larutan dan pelarut. Equlibrasi yang konstan akan
terjadi karena senyawa yang berbeda menuruni kolom
dengan kecepatan yang berbeda tergantung pada
afinitas relatif dan adsorbent pada satu sisi oleh
pelarut pada sisi lain.
6.

7. Pipa kapiler yang digunakan untuk menempelkan


sampel pada TLC plate.
149

8. Jawab:
Petrolium ether
Cyclohexane
Karbon tetraklorida
Toluena
Kloroform
Metilene klorida
Dietil eter
Etil asetat
Aseton
Pyridin
Etanol
Metanol
Air
Asam asetat
9. Silica gel (Si-60), C-18, alumina, atau amina
10. Jawaban:
a. Jarak pengembangan komponen larutan cuplikan
dibandingkan dengan jarak larutan pembanding.
Jika ada beberapa larutan cuplikan, cuplikan yang
satu dibandingkan dengan cuplikan yang lain.
b. Beberapa sifat, misalnya fluoresensi atau
pemadaman fluoresensi dan terutama warna hasil
reaksi warna.
c. Perbandingan luas bercak memberi informasi
mengenai angka banding kuantitatif.

150