Anda di halaman 1dari 10

SURVEI TANAH DAN EVALLUASI LAHAN

METODE SURVEI TANAH

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


JURUSAN SOSIAL EKONOMI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

METODE SURVEI TANAH


Dalam melakukan survei tanah terdapat beberapa metode yang dapat
dilakukan, sebelelumnya terdapat dua pendekatan dalam metode survei tanah
yaitu:
1. Pendekatan sintetik
Melalui pendekatan ini kita dapat mengamati, mendeskripsikan, dan
mengklasifikasikan profil tanah pada bagian lokasi di permukaan bumi
kemudian membuat batas di sekitar daerah sesuai dengan kriteria klasifikasi
yang digunakan.
2. Pendekatan analitik
Analatik lanskap dibagi berdasarkan karateristik eksternal ( landform,
vegetasi, tanah permukaan ) baru dilakukan penentuan karakteristik tanah
melalui pengamatan dan pengambilan contoh tanah.
A.

Berikut merupakan beberapa metode survei tanah yang akan diuraikan

1. Metode Grid
Metode ini menggunakan pendekatan sistematik yang bisa langsung
dilakukan di lapangan atau membuat grid di peta lapangan. Metode ini
diterapkan pada survei tanah detail,dimana

survei tanah detail perlu

dilakukan pengamatan lapang dengan kisaran skala yang dihasilkan yaitu


1: 20.000, 1:25.000, atau 1:10.000. Metode grid sangat cocok untuk survei
intensif dengan skala yang besar, dimana penggunaan interpretasi foto
udara sangat terbatas dan ketepatan penempatan titik pengamatan di
lapangan di perlukan pada intensitas pengamatan yang rapat. Penerapan
metode survei ini sangat cocok dilakukan didaerah yang belum tersedia
foto udara atau peta topografi untuk navigasi. Peta topografi merupakan
peta yang memiliki informasi tentang ketinggian permukaan tanah pada
suatu tempat terhadap permukaan laut yang digambarkan dengan garisgaris kontur. Adapun Kelebihan dan kekurangan dari metode ini yaitu
sebagai berikut:
1.

Keuntungan metode survei grid

Tidak memerlukan penyurvei yang berpengalaman karena titik


lokasi yang sudah diplot pada peta rencana pengamatan

2.

Sangat baik diterapkan pada daerah yang luas

Cukup teliti dalam menentukan batas satuan peta tanah

Kekurangan metode survei grid

Membutuhkan waktu yang relatif lama

Pemanfaatan seluruh titik titik pengamatan sehingga tidak efektif

Sebagian lokasi pengamatan tidak mewakili satuan peta yang


dikehendaki

2. Survei Fisiografi (IFU)


Interpretasi foto udara digunakan dalam survai tanah karena terdapat
beberapa kesamaan faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk lahan dengan
faktor-faktor pembentuk tanah. Atas dasar kesamaan tersebut satuan
bentuk lahan digunakan sebagai dasar dalam penarikan batas satuan peta
tanah. Batas-batas tersebut dapat dianalisis melalui interpretasi foto udara
tanah di lapangan ditujukan untuk mengetahui atau memerinci pola-pola di
dalam batas-batas satuan fisiografi.
Interpretasi foto udara (IFU) untuk mendelineasi landfrom yang
terdapat di daerah tersebut, diikuti dengan pengecekan lapangan terhadap
komposisi satuan peta, biasanya hanya didaerah yang mewakili saja. Tidak
semua delineasi dikunjungi. Interpretasi foto udara menggunakan foto
udara dari berskala 1:50.000 (Bakosurtanal, 1982).
Survey ini umunya diterapkan pada skala 1:50.000-1:200.000.
Metode fisiografi digunakan untuk menentukan batas (mendelineasi)
satuan fisiografi atau wujud lahan (landfrom) terlebih dahulu sebelum
kelapangan. Hampir semua batas satuan peta diperoleh dari IFU,
sedangkan kegiatan lapangan hanya untuk mengecek batas satuan peta dan
mengidentifikasi sifat dan ciri tanah masing-masing satuan peta.
Dalam mengklasifikasikan tanah, interpretasi foto udara tidak dapat
dipergunaka karena horison penciri tanah hanya dapat diperoleh dengan
melakukan pengamatan pada profil tanah yang dilengkapi dengan hasil

analisis di laboratorium. Keterbatasan penggunaan foto udara untuk


delineasi satuan peta tanah tergantung dari beberapa hal, antara lain skala
peta, kondisi medan, kemampuan peneliti untuk melakukan interpretasi
dan kualitas foto udaranya.
Jumlah pengamatan setiap satuan peta ditentukan oleh:

Ketelitian hasil interpretasi foto udara dan keahlian / kemampuan


penyurvei dalam memahami hubungan fisiografi dan keadaan tanah.

Kerumitan satuan peta; semakin rumit semakin banyak pengamatan.

Luas satuan peta; semakin luas, maka semakin banyak pengamatan


(Rayes, 2007).
Metode ini hanya terbatas kepada delineasi satuan peta, karena

banyak kenampakan fisikal dan kultural di permukaan bumi nampak jelas


pada citra potret udara dan mempunyai hubungan yang erat dengan kondisi
tanah. Sedangkan sifat-sifat tanah itu sendiri sulit diinterpretasi dalam citra
foto, sehingga pengamatan tanah secara langsung di lapangan harus tetap
dilakukan. Batas-batas satuan peta tanah sebagian besar atau seluruhnya
didasarkan kepada hasil interpretasi foto udara setelah diadakan
pengecekan di lapangan. Wadah yang digunakan sebagai satuan peta
adalah satuan fisiografi atau satuan lahan dalam berbagai tingkatan sesuai
dengan skala peta atau tingkat survai yang dilakukan.
Penggunaan metode pendekatan fisiografis pada survey tanah dapat
dilakukan dengan mengunakan key area dan transek. Pengamatan pada
daerah kunci (key area) merupakan pengamatan pada daerah terpilih dalam
suatu daerah survei yang berdekatan. Namun, dalam melakukan
pendekatan ini terdapat beberapa persyaratan untuk daerah kunci (key
area) yakni:

Harus dapat mewakili sebanyak mungkin satuan peta yang ada di


daerah survei

Harus dibuat pada daerah di mana hubungan antara tanah dengan


kenampakan bentang-alam atau landform dapat dipelajari dengan
mudah.

Daerah kunci tidak boleh terlalu kecil. (untuk survei tanah skala semi
detail, sekitar 10-30 % dan skala tinjau kurang lebih 5-20 % dari luas
total)

Harus mudah diakses atau tidak sulit dikunjungi


Sedangkan transek merupakan daerah kunci sederhana dalam bentuk

jalur atau rintisan yang mencakup sebanyak mungkin satuan peta atau
satuan wujud-lahan. Transek tidak boleh sejajar dengan batas wujud-lahan.
Dalam melakukan survey tanah, penggunaan transek umumnya dibantu
dengan penggunan area kunci. Akan tetapi, penggunaan transek dapat
berdiri sendiri tanpa menggunakan area kunci dengan syarat berikut ini:

Daerah survei relatif sempit

Jika bentang-alamnya telah diketahui dengan baik

Jika seluruh daerah harus didatangi secara intensif (misalnya untuk


survei irigasi)

3. Metode Grid Bebas


Metode grid bebas merupakan perpaduan metode grid kaku dan
metode fisiografi. Metode ini diterapkan pada survei detail hingga semidetail, foto udara berkemampuan terbatas dan ditempat-tempat yang
orientasi di lapangan cukup sulit dilakukan Pada metode ini, pengamatan
dilakukan seperti pada grid kaku, tetapi jarak pengamatan tidak perlu sama
dalam dua arah, tergantung fisiografi daerah survei (Rayes, 2007).
Survei sangat baik dilakukan oleh penyurvei yang belum banyak
berpengalaman dalam interpretasi foto udara. Biasanya dalam metode grid
bebas,

pemeta

bebas memilih

lokasi

titik

pengamatan

dalam

mengkonfirmasi secara sistematis menarik batas dan menentukan


komposisi satuan peta.
Metode survei ini merupakan kelanjutan dari survei fisiografi dan
biasanya dilaksanakan pada skala 1:12.500 sampai dengan 1:25.000.
pelaksanaan survei ini diawali dengan analisis fisigrafi melalui interpretasi
foto udara secara detail. Semua batas harus dilakukan pengecekan di
lapangan dengan teliti dan dilakukan beberapa modifikasi sesuai dengan

hasil pengamatan lapangan (Rossiter dalam Rayes, 2007). Pemeta


mengunjungi sebagian besar landskap, biasanya berada pada suatu transek
yang memotong satuan peta dengan berkonsentrasi pada daerah
bermasalah (daerah yang hubungan antara landskap dan tanah sulit
diprediksi).
Di daerah yang memiliki korelasi tanah geo-morfologi yang kurang
jelas, pengamatan lapangan sangat diperlukan untuk mendelineasi batas
dengan tepat. Dari

pengamatan tersebut, diharapkan dapat diperoleh

informasi hubungan yang baik antara keragaman internal tanah dengan


dengan kenampakan eksternal (fisiografi).
Dalam metode survei bebas, pemeta bebas memilih lokasi titik
pengamatan dalam mengkonfirmasikan secara sistematis model mental
hubungan tanah-lanskap, menarik batas dan menentukan komposisi satuan
peta.
Untuk

dapat

melakukan

survei

bebas,

pertimbangan

dan

pengalaman pemeta sangat penting. Di daerah dengan pola tanah yang


dapat diprediksi dengan mudah (sesuai dengan model mental), pengamatan
dapat dilakukan lebih sedikit, sedangkan daerah lainnya (terutama daerah
yang bermasalah) perlu dilakukan pengamatan lebih banyak (lebih
mendetail).
Dengan jumlah sampling yang sama, dapat dihasilkan peta yang
baik, dengan konsentrasi pada tanah bermasalah.
4. Survei Non Sistematik
Dalam survei ini penentuan batas tanah ditentukan dari peta lain,
seperti peta geologi dan peta fisiografi. Pengamatan langsung dilakukan,
jika diperlakukan pengecekan lapangan dibeberapa tempat dengan
intensitas sangat rendah untuk menentukan sifat-sifat tanah tipikal. Dalam
metode ini tidak dipertimbangkan keragaman internal tanah. Metode
survei ini diterapkan pada skala lebih kecil dari 1: 500.000. Peta yang
dihasilkan bukanlah peta tanah, melainkan peta bagan dan tidak dapat
digabungkan dengan sistem informasi geografi (SIG).

5. Survei Kontiniu
Survei Kontiniu merupakan hasil interpretasi Citra Penginderaan Jauh
terhadap tanah atau sifat-sifat yg berhubungan dgn tanah seperti rona kelabu,
vegetasi, produksi tanaman. Pada dasarnya survei ini menggunakan resolusi
sensor yang dapat menentukan skala survei, sekalipun skala ini dapat digeneralisir
menjadi skala kecil, yang nantinya dapat di ketahui secara mendetail. Selain itu,
survei kontinu dapat memberikan estimasi keragaman internal yang paling akurat
mengingat survey kontiniu ini melalui citra penginderaan jauh pada tanah atau
segala sesuatu yang memilki sifat semacam tanah.
Ada beberapa teknologi yang dapat dilakukan ketika akan melakukan
kegiatan survei tanah khususnya survey kontiniu, seperti GPS, geostatistik, SIG,
dan teknologi lain. Dengan teknologi ini, umumnya tutupan tanah (maupun
sumber daya lahan lainnya) dipersepsikan sebagai bidang spasial (yaitu dengan
menentukan nilai pada masing masing titik sehingga secara kontiniu terjadi
keragaman dalam ruang) yang berbeda dengan satuan peta yang digunakan dalam
survei tradisional. (Rayes, 2007).
B. Active Field Survey
Survei ini merupakan bagian dari survei bebas. Penyurvei menciptakan
suatu model mental dari factor-faktor pembentukan tanah dan menentukan
lokasi pengamatan untuk memperkuat atau memodifikasi hipotesis-hipotesis
yang dibuat sebelumnya. Pengamatan bias lebih jarang dilakukan pada daerahdaerah dimana hipotesis sesuai dengan fakta di lapangan dan jika faktor-faktor
tersebut terlihat teratur. Pengamatan lebih banyak dilakukan pada daerahdaerah bermasalah.
Penyurvei tanah memetakan pola sedimen. Pada beberapa lokasi hal ini
sangat konsisten dan pemetaan dapat dilakukan dengan cepat, sedangkan di
lokasi yang lain mereka berbaur dan penyurvei harus melakukan banyak
pengecekan untuk menentukan batas atau komposisi satuan peta (dalam kasus
sedimentasi berpola halus).
Dalam gambar 4.1 disajikan sebuah gambaran oleh Elbersen (1985),
yang merupakan seseorang pemeta. Elbersen mengkaji ketebalan horizon
Apada bagian cekung dari suatu relief yang
mencoba

merumuskan

hipotesis

tentang

bergelombang, dan Elbersen


ketebalan

horizon A yang

dijumpainya. Informasi baru selalu muncul untuk menyempurnakan model atau


teorinya selama survei, hingga sesuai dengan keadaan yang dijumpainya.
Dari ilustrasi gambar dibawah ini dapat disimpulkan bahwa pada daerah
lembah dengan bahan induk yang berasal dari basalt dan tanpa vegetasi
dijumpai horison A yang tebal. Sedangkan pada daerah dengan bahan induk
granit, horizon A tidak berpengaruh. Dengan bantuan interpretasi fotou dara,
dapat diprediksi daerah mana saja lembahnya dapat dijumpai horizon A yang
tebal.

Gambar

1.1

Penerapan active
field

survey

dilanskap

yang

memiliki variasi
dalam

vegetasi

dan batuan induk

Tabel

1.1

Hipotesis

dan

perubahan
hipotesis

pada

berbagai pengamatan (Sumber: Elbersen, 1985)


No. Pengamatan

Hipotesis

1, 2

Tebalnya horizon A pada bagian lembah


terjadi secara local (karena drainase jelek,
mengawetkan bahan organic).

3
Hipotesis berubah, karena horizon A pada
bagian lembah ternyata tipis (di daerah
berhutan). Tebalnya horizon A pada
pengamatan 1 dan 2, karena terjadi akumulasi

4, 5, 6
7

bahan-bahan tererosi dari lereng di atasnya


(pada lahan tanpa vegetasi).
Menguatkan hipotesis 3.
Hipotesis 3 hanya berlaku untuk lanskap
basalt. Pada daerah granit, horizon A di
cekungan selalu tipis, baik di daerah berhutan
maupun daerah gundul (tanpa vegetasi).

DAFTAR PUSTAKA
Rayes, M.L.2007. Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Penebit Andi.
Yogyakarta.