Anda di halaman 1dari 55

Penyebab ketuban pecah dini

Ketuban pecah dini biasanya menyebabkan persalinan prematur


alias bayi terpaksa dilahirkan sebelum waktunya. Air ketuban pecah
lebih awal bisa disebabkan beberapa hal seperti berikut:

Infeksi rahim, leher rahim, atau vagina. Ini adalah pemicu


umum ketuban pecah dini.

Trauma, akibat kecelakaan kendaraan bermotor, terjatuh, dan


sebaga

Rahim dan kantung ketuban yang terlalu melar. Hal tersebut


diakibatkan oleh jumlah janin dalam kandungan lebih dari satu atau
volume cairan ketuban yang terlalu banyak.

Stres atau merokok selama masa kehamilan.


Menjalani operasi atau biopsi serviks.
Pernah mengalami ketuban pecah dini pada kehamilan
sebelumnya.

Perdarahan vagina selama kehamilan.

Indeks massa tubuh ibu hamil rendah.

Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol.


Komplikasi ketuban pecah dini
Ketuban pecah dini bisa dianggap sebagai hal serius
karena dapat mengakibatkan:

Bayi lahir prematur.

Meningkatnya risiko terjadinya retensio plasenta


(sebagian atau semua plasenta tertinggal di dalam
rahim).Akibatnya kondisi ini bisa terjadi perdarahan
postpartum primer dan sekunder (kehilangan darah dalam
waktu 24 jam hingga enam minggu setelah melahirkan).

Oligohidramnion (cairan ketuban terlalu sedikit) bila


terjadi pada kehamilan usia muda. Kondisi ini akan
memnyebabkan infeksi pada janin bahkan kematian janin.

Solusio plasenta (terlepasnya sebagian atau seluruh


plasenta dari dinding rahim sebelum proses persalinan
terjadi).
Tali pusat janin putus.

Ketika ketuban pecah, kuman dapat bermigrasi ke


dalam kantung ketuban hingga menyebabkan infeksi
dalam rahim. Gejalanya termasuk suhu tubuh naik,
keputihan yang tidak biasa, vagina berbau yang tidak
enak, denyut nadi cepat, nyeri di perut bagian bawah, dan
detak jantung bayi menjadi lebih cepat dari biasanya.

Ketika cairan ketuban hilang, tali pusat bisa terjepit di


antara bayi dan dinding rahim. Akibatnya, bayi bisa
mengalami cedera otak atau bahkan kematian.

Jika ketuban pecah sebelum kehamilan berusia 23


minggu, paru-paru bayi kemungkinan tidak akan
berkembang dengan baik. Karena di awal kehamilan,
cairan ketuban dibutuhkan bagi terbentuknya jaringan
paru-paru.

Jika ketuban pecah di usia 18 dan 22-23 minggu masa


kehamilan, jaringan paru-paru pada janin tidak akan
pernah dapat terbentuk. Selain itu, anggota badan janin
lainnya kemungkinan juga tidak berkembang secara
normal.
Jika Anda curiga atapun merasakan air ketuban pecah dini,
segera pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan
penanganan. Air ketuban dapat dikenali dengan ciri-cirinya
yang berwarna bening atau ada bintik-bintik putih, disertai
darah atau lendir, dan tidak berbau.
KPD adalah Air Ketuban Pecah Dini. Ciri penyebab, tanda
jika keluar, pengertian dan penanganan bila hal tersebut
terjadi akan dibahas berikut ini, berguna untuk menambah
wawasan, dan juga masukan bagi yang sedang menyusun
makalah Askep dan askeb KPD.
Pengertian KPD (keluar air Ketuban Pecah Dini)

Normalnya, kantung ketuban pecah pada akhir kala I atau


awal kala II saat pembukaan lengkap pada proses
persalinan. Kalau pecah lebih awal sebelum usia kehamilan
37 minggu, sebelum pembukaan mulut rahim 4 cm, atau
sebelum ada tanda-tanda persalinan, disebut ketuban
pecah dini.
Ciri / tanda KPD (keluar air Ketuban Pecah Dini)
Cairan ketuban keluar secara tiba-tiba dari liang vagina
dalam jumlah sedikit maupun banyak, tak dapat ditahan
atau dihentikan. Cairan ketuban bisa warna putih agak
keruh, mirip air kelapa muda karena bercampur dengan
lanugo atau rambut halus pada janin dan mengandung
verniks caseosa , yaitu lemak pada kulit bayi.
Umumnya, ketuban yang pecah tidak menimbulkan rasa
sakit, pegal-pegal, mulas, dan sebagainya. Tapi kalau Anda
mengalaminya, sebaiknya segera cari pertolongan.
Semakin cepat ditangani, semakin kecil risiko terjadinya
komplikasi, seperti infeksi kuman dari luar, persalinan
prematur atau kurang bulan, gangguan peredaran darah
atau tali pusat yang bisa menyebabkan kondisi gawat janin
dan kematian janin akibat tali pusat yang tertekan,
Oligohidramnion, yakni cairan ketuban kurang dari jumlah
yang dibutuhkan, atau bahkan habis.
Penyebab KPD (keluar air Ketuban Pecah Dini) belum pasti,
tapi sebagian besar berkaitan dengan infeksi (sampai
65%).
Misalnya, infeksi kuman, terutama infeksi bakteri, yang
dapat menyebabkan selaput ketuban menjadi tipis, lemah
dan mudah pecah.
Selain itu, beberapa faktor risiko Ketuban Pecah Dini
adalah kehamilan kembar, ada riwayat persalinan kurang
bulan sebelumnya, hubungan seksual yang kebersihannya
tidak dijaga, perdarahan lewat jalan lahir, pH (tingkat
keasaman) vagina di atas 4,5, selaput ketuban tipis kurang

dari 39 mm, kadar CRH (corticotropin releasing hormone)


maternal tinggi, misalnya pada ibuhamil yang stres,
higiene yang kurang baik, misalnya keputihan dan infeksi
vagina, jumlah cairan ketuban sangat banyak
(hidroamnion), dan kelainan mulut rahim seperti
inkompeten serviks
Penanganan KPD (keluar air Ketuban Pecah Dini)
Ketuban pecah dini terjadi pada 5%-14% dari seluruh
kehamilan. Penanganan ketuban pecah dini sangat
tergantung pada kondisi ibu dan kehamilannya, termasuk
janin dan cairan ketuban.
Jika jumlah cairan ketubannya masih cukup, maka dokter
akan menahan agar janin tetap berada dalam rahim.
Anda akan diberi obat-obatan untuk mematangkan paruparu janin (steroid) dan antibiotik untuk mencegah infeksi.
Anda juga diharuskan beristirahat total. Selama
penanganan ini biasanya selaput ketuban yang terbuka
akan menutup sendiri, dan cairan ketuban akan terus
dibentuk. Waktu pengakhiran kehamilan sangat tergantung
pada ada tidaknya infeksi serta kondisi kesehatan janin itu
sendiri.
Jika cairan ketuban habis sama sekali, biasanya dokter
akan segera mengeluarkan bayi lewat jalan operasi. Jika
janin masih terlalu kecil, kelahiran ini akan berisiko tinggi,
antara lain karena paru-parunya belum matang, sehingga
dia belum mampu untuk bernapas secara normal di luar
rahim. Untuk itu, ibuhamil yang mengalami Ketuban Pecah
Dini sebaiknya mencari rumah sakit dengan perawatan
bayi kecil (NICU) yang baik.
yang perlu diwaspadai saat keluar air ketuban adalah ada
kemungkinan terjadi emboli air ketuban. jika hal ini terjadi,
sebaiknya segera ditangani di rumah sakit dengan fasilitas
yang memadai.

Faktor Resiko KPD (keluar air Ketuban Pecah Dini)


Pencegahan KPD (Ketuban Pecah Dini) diutamakan dengan
menghindari faktor risikonya,
seperti:
1.

Pemeriksaan kehamilan yang teratur.

2.

Kebiasaan hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan


yang sehat, minum cukup, olahraga teratur dan berhenti
merokok.

3.

Membiasakan diri membersihkan daerah kemaluan


dengan benar, yakni dari depan ke belakang, terutama
setelah berkemih atau buang air besar.

4.

Memeriksakan diri ke dokter bila ada sesuatu yang


tidak normal di aderah kemaluan, misalnya keputihan yang
berbau atau berwarna tidak seperti biasanya.

5.

Untuk sementara waktu, berhenti melakukan


hubungan seksual bila ada indikasi yang menyebabkan
ketuban pecah dini, seperti mulut rahim yang lemah.
Demikian artikel seputar KPD ( Keluar Air KETUBAN PECAH
DINI ) tentang ciri, tanda, Penyebab dan Penanganan,
semoga bermanfaat menambah wawasan, dan dalam
menyusun makalah askeb maupun askep ya..
KPD adalah Air Ketuban Pecah Dini. Ciri penyebab, tanda jika
keluar, pengertian dan penanganan bila hal tersebut terjadi akan
dibahas berikut ini, berguna untuk menambah wawasan, dan juga
masukan bagi yang sedang menyusun makalah Askep dan askeb
KPD.
.
Pengertian KPD (keluar air Ketuban Pecah Dini)
Normalnya, kantung ketuban pecah pada akhir kala I atau awal
kala II saat pembukaan lengkap pada proses persalinan. Kalau
pecah lebih awal sebelum usia kehamilan 37 minggu, sebelum

pembukaan mulut rahim 4 cm, atau sebelum ada tanda-tanda


persalinan, disebut ketuban pecah dini.
.
Ciri / tanda
KPD (keluar air Ketuban Pecah Dini)
,
cairan ketuban keluar secara tiba-tiba dari liang vagina dalam
jumlah sedikit maupun banyak, tak dapat ditahan atau dihentikan.
Cairan ketuban bisa warna putih agak keruh, mirip air kelapa muda
karena bercampur dengan lanugo atau rambut halus pada janin
dan mengandung verniks caseosa , yaitu lemak pada kulit bayi.
Umumnya, ketuban yang pecah tidak menimbulkan rasa sakit,
pegal-pegal, mulas, dan sebagainya. Tapi kalau Anda
mengalaminya, sebaiknya segera cari pertolongan. Semakin cepat
ditangani, semakin kecil risiko terjadinya komplikasi, seperti infeksi
kuman dari luar, persalinan prematur atau kurang bulan, gangguan
peredaran darah atau tali pusat yang bisa menyebabkan kondisi
gawat janin dan kematian janin akibat tali pusat yang tertekan,
Oligohidramnion, yakni cairan ketuban kurang dari jumlah yang
dibutuhkan, atau bahkan habis.
.
Penyebab KPD (keluar air Ketuban Pecah Dini) belum pasti, tapi
sebagian besar berkaitan dengan infeksi (sampai 65%).
Misalnya, infeksi kuman, terutama infeksi bakteri, yang dapat
menyebabkan selaput ketuban menjadi tipis, lemah dan mudah
pecah.
Selain itu, beberapa faktor risiko Ketuban Pecah Dini adalah
kehamilan kembar, ada riwayat persalinan kurang bulan
sebelumnya, hubungan seksual yang kebersihannya tidak dijaga,
perdarahan lewat jalan lahir, pH (tingkat keasaman) vagina di atas
4,5, selaput ketuban tipis kurang dari 39 mm, kadar CRH
(corticotropin releasing hormone) maternal tinggi, misalnya pada
ibuhamil yang stres, higiene yang kurang baik, misalnya keputihan
dan infeksi vagina, jumlah cairan ketuban sangat banyak
(hidroamnion), dan kelainan mulut rahim seperti inkompeten
serviks
.
Penanganan KPD (keluar air Ketuban Pecah Dini)

Ketuban pecah dini terjadi pada 5%-14% dari seluruh kehamilan.


Penanganan ketuban pecah dini sangat tergantung pada kondisi
ibu dan kehamilannya, termasuk janin dan cairan ketuban.
Jika jumlah cairan ketubannya masih cukup, maka dokter akan
menahan agar janin tetap berada dalam rahim. Anda akan diberi
obat-obatan untuk mematangkan paru-paru janin (steroid) dan
antibiotik untuk mencegah infeksi. Anda juga diharuskan
beristirahat total. Selama penanganan ini biasanya selaput ketuban
yang terbuka akan menutup sendiri, dan cairan ketuban akan terus
dibentuk. Waktu pengakhiran kehamilan sangat tergantung pada
ada tidaknya infeksi serta kondisi kesehatan janin itu sendiri.
Jika cairan ketuban habis sama sekali, biasanya dokter akan
segera mengeluarkan bayi lewat jalan operasi. Jika janin masih
terlalu kecil, kelahiran ini akan berisiko tinggi, antara lain karena
paru-parunya belum matang, sehingga dia belum mampu untuk
bernapas secara normal di luar rahim. Untuk itu, ibuhamil yang
mengalami Ketuban Pecah Dini sebaiknya mencari rumah sakit
dengan perawatan bayi kecil (NICU) yang baik.
yang perlu diwaspadai saat keluar air ketuban adalah ada
kemungkinan terjadi emboli air ketuban. jika hal ini terjadi,
sebaiknya segera ditangani di rumah sakit dengan fasilitas yang
memadai.
.
Faktor Resiko KPD (keluar air Ketuban Pecah Dini)
Pencegahan KPD (Ketuban Pecah Dini) diutamakan dengan
menghindari faktor risikonya,
seperti:
-Pemeriksaan kehamilan yang teratur.
-Kebiasaan hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan yang
sehat, minum cukup, olahraga teratur dan berhenti merokok.
-Membiasakan diri membersihkan daerah kemaluan dengan benar,
yakni dari depan ke belakang, terutama setelah berkemih atau
buang air besar.
-Memeriksakan diri ke dokter bila ada sesuatu yang tidak normal di
aderah kemaluan, misalnya keputihan yang berbau atau berwarna
tidak seperti biasanya.
-Untuk sementara waktu, berhenti melakukan hubungan seksual
bila ada indikasi yang menyebabkan ketuban pecah dini, seperti
mulut rahim yang lemah.
.
.

demikian artikel seputar KPD ( Keluar Air KETUBAN PECAH DINI )


tentang ciri, tanda, Penyebab dan Penanganan,
semoga bermanfaat menambah wawasan, dan dalam menyusun
makalah askeb maupun askep ya..
Cegah Ketuban Pecah Dini
Untuk menghindari terjadinya ketuban pecah dini, Anda
perlu melakukan beberapa hal berikut:
Lakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur. Jika ada
sesuatu yang tidak normal, segera hubungi bidan atau dokter.
Apabila Anda didiagnosa memiliki mulut rahim yang lemah,
untuk sementara berhentilah melakukan hubungan intim
dengan suami.
Bersihkan daerah kewanitaan dengan benar dan bersih,
seperti membilas dari depan ke belakang.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA


TEORIA.Tinjauan Pustaka1 . P e r s a l i n a n
a.Pengertian Persalinan1)Persalinan adalah proses
pengeluaran hasil konsepsi (Janin danplasenta) yang
telah cukup bulan atau dapat hidup di luarkandungan
melalui jalan lahir ataumelalui jalan lain,
denganbantuan atau tanpa bantuan (Manuaba,
2010)2)Persalinan normal yaitu proses pengeluaran
buah kehamilan cukupbulan yangmencakup
pengeluaran bayi, plasenta dan
selaputketuban, dengan presentasi kepala (posisi
belakang kepala),darirahim ibu melalui jalan lahir
(baik jalan lahir lunak maupun kasar),dengan tenaga ibu
sendiri (tidak ada intervensi dari luar)(Winkjosastro,
2008).b.Tanda dan Gejala Persalinana)Kekuatan his
semakin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi
yang semakin pendek.b)Dapat terjadi pengeluaran
pembawa tanda, yaitu : pengeluaran lendirdan lendir
bercampur darah melalui vagina.c)Dapat di sertai
ketuban pecah.

8d)Pada pemeriksaan dalam, di jumpai perubahan servik :


perlunakanservik, pendataran servik, danterjadi
pembukaan servik (Manuaba,2010).c.Faktor
Yang Berpengaruh Pada Persalinan Menurut Hidayat &
Sujianti,2009 yaitua)
Power
atau tenaga yang mendorong bayiAdalah kekuatan atau
tenaga untuk melahirkan yang terdiri dari hisatau kontraksi
uterus dan tenaga meneran dari ibu.Power
merupakantenaga primer atau kekuatan utama yang di
hasilkan oleh adanyakontraksi dan retraksi otot

otot rahim.b)
Passage
atau jalan lahirAdalah bagian tulang panggul, servik, vagina
dan dasarpanggul.Janin harus berjalan lewatrongga
panggul, servik danvagina sebelum di lahirkan.c)
Passanger
atau fetusAdalah janin (secara khusus bagian kepala janin )
dan plasenta,selaput dan cairan ketuban atau
amnion.d.Mekanisme Persalinan Normal1)Masuknya
kepala janin pada pintu atas panggul Masuknya
kepala ke dalam pintu atas panggul (PAP) biasanyadengan
sutura sagitalis melintang dan dengan fleksi ringan.
92)
Flexion
(fleksi)Dengan majunya kepala biasanya juga fleksi
bertambahhingga ubun-ubun kecil jelas lebih rendah dari
ubun-ubun besar.3)
Internal rotation
(putar paksi dalam)Pemutaran bagian terendah janin ke
depan (simfisis pubis)atau ke belakang (sakrum). Putaran
paksi dalam merupakan suatuusaha untuk menyesuaikan
posisi kepala dengan bentuk jalan lahir.
4)Extension
Setelah putar paksi selesai dan kepala sampai dasar
panggulmaka terjadi extensi atau defleksi dari kepala,
karena sumbu jalanlahir pada pintu bawah panggul

mengarah ke depan dan atassehingga kepala harus


mengadakan extensi untuk melaluinya.5)
External rotation
(putar paksi luar)Setelah kepala lahir seluruhnya, kepala
kembali memutar kearah punggung untuk menghilangkan
torsi pada leher karenaputaran paksi dalam tadi.putaran ini
disebut putaran restitusikemudian putaran dilanjutkan
hingga kepala berhadapan dengantuber ischiadicum
sepihak (di sisi kiri).
6 ) E x p u l s i
Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai di
bawahsimfisis dan menjadi hypomochilion untuk
melahirkan bahubelakang kemudian bahu depan menyusul
seluruh badan anak lahirsearah dengan paksijalan lahir.
10e . Ka l a Pe r s a l i n a n Proses persalinan terdiri dari 4
kala, yaitu :
1)Kala I ( Kala Pembukaan )
Inpartu (partus mulai) ditandai dengan keluarnya lendir
bercampurdarah (
bloody show
) karenaservik mulai membuka (dilatasi) danmendatar (
effecement
).Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler
disekitarkanalis servikalis akibat pergeseran ketika serviks
mendatar danmembuka.Kala pembukaan dibagi atas 2 fase
:a)Fase laten : pembukaan servik yang berlangsung
lambat sampaipembukaan 3 cm, lama 7

8 jam.b)Fase aktif : berlangsung selama 6 jam dan


dibagi atas 3 sub fase(1)Periode akselerasi : berlangsung
2 jam, pembukaan menjadi4 cm.(2)Periode dilatasi
maksimal (
steadi
) :selama2 jam pembukaanberlangsung cepat menjadi
9 cm.(3)Periode deselerasi : berlangsung lambat,
dalam waktu2 jampembukaan menjadi 10 cm (lengkap).
2)Kala II ( Kala Pengeluaran Janin )
Pada kala pengeluaran janin, his terkoordinasi, kuat,
cepatdan lebih lama kira-kira 2


3 menit sekali.Kepala janin telah turundan masuk keruang
panggul sehingga terjadilah tekanan pada otot6

Klonus patella : tidak dilakukan

Klonus achilles : tidak dilakukanSENSIBILITASEksteroseptif :

Nyeri : (+) (+)

Suhu : tidak dilakukan

Taktil : (+) (+)Propioseptif :

Vibrasi : (+) (+)

Posisi : (+) (+)

Tekan dalam : (+) (+)KOORDINASI DAN KESEIMBANGAN

Tes romberg : Badan menjauh dari garis tengah saat mata


menutup

Tes Tandem : Jalan menyimpang

Tes Fukuda : Tidak dilakukan

Disdiadokenesis : Tidak dilakukan

Rebound phenomen : Tidak dilakukan

Dismetri : Tidak dilakukan

Tes telunjuk hidung : Tidak dilakukan

Tes telunjuk telunjuk : Tidak dilakukan

Tes tumit lutut : Tidak dilakukanFUNGSI OTONOMMiksi

Inkotinensia : Tidak ada

Retensi : Tidak ada

Anuria : Tidak adaDefekasi

Inkotinensi : Tidak ada

Retensi : Tidak adaFUNGSI LUHUR

Fungsi bahasa : Baik

Fungsi orientasi : Baik

Fungsi memori : Baik

Fungsi emosi : Baik

Fungsi kognisi : Baik Hasil Lab darah tanggal 27 Oktober


2010Darah lengkap : Hb : 13,7
7Ht : 41Leukosit : 9.300CT-scan kepala tanggal
02 November 2010Tampak lakunar infark multiple dibasal
ganglia anterior kanan daninfark subakut di pons kanan
RESUME :
Pasien laki-laki umur 66 tahun datang ke RSGS dengan
keluhan pusing yangsekelilingnya terasa berputar, rasa
tersebut timbul bila pasien melakukan gerakanbangun dari
tempat duduk. Keluhan gangguan pendengaran dan nyeri
pada daerahtelinga di sangkal oleh pasien.Pada tahun
2003 pasien pernah dirawat karena stroke dan kondisi
pasien setelahperawatan baik dan beraktivitas kembali,
riwayat hipertensi diakui oleh pasien.Pemeriksaan:Status
internis :Dalam batas normalKeadaan umum:Tampak sakit
sedangGizi : Baik Kesadaran : Compos mentisTD kanan : 17
0/100 mmHTD kiri : 170/100mmHgNadi kanan : 80x/meitN
adi kiri : 80x/menitPernapasan : 20x/menitSuhu : 36,2CSta
tus psikiatri : Baik Status neurologis

Kesadaran:Compos mentis GCS =15 (E4M6V5 )

Rangsangan meningeal: Dalam batas normal

Reflek fisiologi : Dalam batas normal

Relek patologis : Dalam batas normal

Nervus kranialis : Tidak di temukan kelainan

Motorik : Gerakan : Gerakan bebas pada ekstremitas kiriKe


kuatan :
5 5 5 5 5 5 5 55 5 5 5 5 5 5 5Tonus : Normotonus pada kee
mpat ekstermitasTrofi : Eutrofi pada keempat ekstremitasTe
s sensibilitas :Baik KOORDINASI DAN KESEIMBANGAN

Tes romberg : Badan menjauh dari garis tengah saat mata


menutup

Tes Tandem : Jalan menyimpang


DIAGNOSIS

Diagnosis Klinik : Vertigo vestibular tipe sentral, Hipertensi


gr. II

Diagnosis topik : a. serebri media dan pons kanan

Diagnosis etiologi : Stroke non hemoragik


THERAPYMedikamentosa :

Acetylsalicylik acid 1 x 80 mg (PO)

Betahistine 3 x 6 mg (PO)

Captopril 2 x 12,5 mg (PO)

Neurobion 1 x 5000 mg (PO)

Ranitidine 2 x 150 mg (PO)


Non medikamentosa :

Cukup istirahat

Vestibular exercise (metode Brandt Daroff & latihan visual


vestibuler)
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Lab darah (darah lengkap,gula


darah,kolesterol,ureum,kreatinin)

EKG

Foto rontgen kepala dan thorak

CT scan kepala
PROGNOSA

Ad vitam : ad bonam

Ad Fungsionam : ad bonam

Ad sanam : ad bonam

Ad cosmeticum : ad bonam

9
ANALISA KASUS
Pasien Tn.S usia 66 thn didiagnosa Diagnosa vertigo
vestibuler tipe sentral

Rasa berputar ( true Vertigo), mendadak.

Serangan episodik, mual, muntah

tidak ada gangguan pendengaran

Diagnosis didasarkan atas definisi vertigo itu sendiri , yaitu


sensasi gerakan ataurasa gerak dari tubuh atau lingkungan
sekitarnya dengan gejala lain yang timbulterutama dari
jaringan otonomik yang disebabkan oleh gangguan
alatkeseimbangan tubuh

Pemeriksaan fisik : ditemukan adanya gangguan


keseimbangan yang dinyatakandari hasil tes Romberg,
Tandem dan Fukuda yang positif.

Test Romberg positif dapat dilihat pada saat menutup mata


badan bergoyangmenjauhi garis tengah ke kanan. Hasil ini
menunjukkan bahwa kelainan yangtimbul letaknya di
vestibularis.Test Tandem positif terlihat bahwa pasien tidak
dapat berjalan lurus dengantumit kaki diletakkan
pada ujung jari. Dapat dilihat dari adanya
penyimpangansesuai dengan kelainan di vestibuler.
Dimana pada kelainan yang terletak dicerebellum
penderita cenderung jatuh
Pemeriksaan anjuran

Lab. Darah Lengkap mengetahui keadaan pasien secara


umum, mencari
komplikasi, faktor penyulit dan untuk melihat ada
leukositosis

Foto Rontgen kepala dan


leher
mencari adanya kelainan pada daerah servikal

Audiometri dikonsulkan ke bagian tht, untuk mencari apakah


penurunan
fungsi pendengaran yang bersifat kuantitatif

BAEP merupakan cara pemeriksaan fungsi


saraf pendengaran yang paling
baik, oleh karena pemeriksaan ini tidak memerlukan peran
subjektif penderitasedangkan pada audiometri masih
memerlukan kerjasama(subjektif) penderita

CT-Scan kepala
mencari adanya tanda
-tanda kelainan yang mungkin adapada otak.
10
Terapi
1.
Betahistin mesylate fungsinya melebarkan sfingter
prekapiler sehinggameningkatkan aliran darah ke telingga
dalam hingga menghilangkanendolymphatic hydrops dan
memperbaiki sirkulasi darah serebral. Dapatdigunakan
untuk sindroma meniere dan perifer lain.2.
Anti agregasi trombosit : Acetylsalicylik acid 1 x 80 mg3.
Antihipertensi : Captopril 2 x 12,5 mg (Golongan
Ace inhibitor)4.
Neurotonik : Neurobion 1 x 5000 mg

Indikasi : Untuk pencegahan dan pengobatan penyakit


karena kekuranganvitamin B1, B6,dan B12 seperti beriberi, neuritis perifer, neuralgia.

Thiamine
penting untuk metabolisma kabohidrat, dalam tubuh
dikonversimenjadi bentuk aktifnya thiamine pirofosfat yang
merupakan koenzim padareaksi dekarboksilasi asam aketo.

Pyridoxol HCI
di dalam tubuh di ubah menjadi pyridoxol fosfat,
yangmerupakan koenzim reaksi karbksilasi dan
transaminasi, berfungsi terutamadalam metabolisme
protein dan asam amino.

vitamin B12 diperlukan dalam sintesis asam nukleat, dan


mielin, dangandemikian mempengaruhi pematangan
sel dan memelihara keutuhan jaringansaraf.Non
medikamentosa :

Cukup istirahat

Terapi rehabilitatif Terapi ini ditujukan untuk menimbulkan


dan meningkatkan kompensasi sentraldan habituasi pada
pasien dengan gangguan vestibular.Pasien dianjurkan
untuk Latihan Vestibuler, yaitu metode Brandt Daroff
danLatihan visual vestibuler disesuaikan dengan
kemampuan pasien. Tujuan latihanini adalah melatih mata
dan otot.Prognosis pasien dengan vertigo vestibular tipe
sentral, prognosis tergantungdari penyakit yang
mendasarinya. Sedagkan pada tipe perifer umumnya
baik,dapat terjadi remisi sempurna.

Ad Vitam

bonam (
keadaan umum, tanda-tanda vital & kesadaran pasiendalam
keadaan stabil).
Similar to Presentasi Kasus Vertigo

Gangguan Gerak

Jaras Nervus Optikus Dan Jaras Nervus Okulomotorius Pp

CP 2 Katarak Kiki

Refarat Toxoplasmosis Serebral

Stroke pdf

Case Vertigo Dr.aswad

Vertigo powerpoint

LOG IN
SIGN UP
We're trying Google Ads to subsidize server costs. If you are
logged in, you won't see ads. Hover to learn more.

PDF

askeb ibu bersalin KPD, Laporan kasus, presentasi kasus

55 Pages

askeb ibu bersalin KPD, Laporan kasus, presentasi kasus

UPLOADED BY
Imung H
VIEWS
6,237
CONNECT TO DOWNLOAD
GET PDF
READ PAPER

askeb ibu bersalin KPD, Laporan kasus, presentasi kasus


DOWNLOAD
26berdasarkan assessment sebagai langkah 3, 4, 5, 6 dan 7
varney(Kepmenkes, 2007).
BAB IIITINJAUAN KASUS
MANAJEMENKEBIDANAN PADA IBU BERSALINNY. MUMUR
39 TAHUN G3P2A0 UK 40 MINGGUDENGAN KPD 10 JAMDI
RUANG MAWAR RSUD MAJENANGTAHUN
2015T a n g g a l
m a s u k : 2 1
A
p r i l
2 0 1 5 P u k u l :
1 0 . 1 5
W I B T a n g g a l
p e n g k a j i a n :
2
1
A p r i l
2 0 1 5 P u k u l : 1 0 . 1 5 W
I B R
u
a
n
g
:
M
a
w
a
r
N
o
.
R
e
g
i
s
t
e
r
:
0
5
x
x
x
x
P e n k a j i : 1 .
M a u l i d a
K
u r n i a t i
S o l i h a h 2. Imung Hidayati
I . P E N G K A J I A N A.DATA SUBJEKTIF
1)BiodataN a m a
P a s i e n :
N
y .
M N a m a
S u a m i :
T n
.
D U
m
u
r
:
3
9
t
a
h
u
n
U
m
u
r
:
4
3
t
a
h
u
n
Suku/Bangsa
: Jawa/IndonesiaSuku/Bangsa:Jawa/

Indonesia
s
l
a
I
s
l
k
a
n
:
k
a
n
:
a
a
n
:
a
a
n
:
u m a h : C i p

A
m
a

g
A
m
S
S
I
B

a
g
P
D
P
M
P
R
T
u
r

m
a
e
e
P
P
u

a
:
I
m
a
:
n
d
i
d
i
n
d
i
d
i
e
k
e
r
j
e
k
e
r
j
h
A l a m a t r

a r i

282 ) A l a s a n Ku n j u n g a n Tanggal 21 April 2015 pukul


10.15WIB Ny. M usia 39 tahunG
3
P
2
A
0
usia kehamilan 40 minggu dengan KPD 10 jamrujukan
dariPuskesmasCipari.3)Keluhan utama pada waktu
masuk Ibu mengatakan keluarcairan dari
jalan lahirpukul 00.00WIBtanggal 21April
2015.Kemudian pukul 03.00 WIB tanggal 21 April
2015Ibudatang kepuskesmaskarena khawatirkeluar
cairanmerembesdari jalanlahir,kemuadian
diobservasi sampai dengan pukul 09.30karena
belumada pembukaanmaka ibu dirujuk ke RSUD
Majenang.4)Riwayat
MenstruasiM e n a r c h e :
U m u r
1
3
t a h u n B a n y a k n y a : 2 - 3 k a l i
g a n t i p e m b a l u t / h a r i S i k l u s :
2 8
h a r i ,
t e r a t u r K e
l u h a n :
T i d a k
a d a J
enis dan warna: Cair, warna merah tuaL
a
m
a
n
y
a
:
6

7 hari5 ) Ta n d a

tanda PersalinanBelum ada.6)Pengeluaran


PervaginamLendir darah: tidak ada A i r k e t u b a n :
ada,
rembesD a r a h :
t i d a k
a d a

297)Riwayatkehamilan, persalinan dan nifas yang


laluAnak KeP
e
r
s
a
l
i
n
a
n
A
n
a
k
NifasTgl/ thnt e m p a t U K J e n i s p e n o l o n g
P e n y u l i t B B P B J K K e a d 12316 thn10
thnHamiliniBPSBPS9bln9blnSpontanSpontanBidanBidanTdk
adaTdk ada290027004847
SehatSehatSehatSehat8)Riwayat Kehamilan
SekarangG3P2A0H P H T: 1 4 J u l i 2 0 1 4 H P L : 2 1 A p r i l
2 0 1 5 Usia kehamilan : 40mingguGerakan janin : Ibu
mengatakan gerakan janin dalam 24 jam lebih dari
10kali.Gerakan pertama dirasakan oleh ibu yaitu pada usia
kehamilan 16minggu.T T : 3 k a l i ( T T 1 : h a m i l
I , T T 2 : H a m i l I I , T T 3 : 1 4 J a n u
a r i 2015).Kecemasan: Ibu mengatakan cemas dengan
keadaan bayinya.K e l u h a n :
T r i m e s t
e r
I :
M u a l
d a n
m u n t a h Tr i
m e s t e r I I : T i d a k a d a k e l u h a n Tr
imester
III: Sering BAK dimalam hariA N C :
D i b i d a n
s e b a n y a k 8 k a l i
t e r a t u r Penyuluhanyang pernah didapat :
nutrisi ibu hamil, tanda bahayakehamilan, tanda
persalinan, dan persiapan persalinan.

309)RiwayatKeluarga Berencana Ibu mengatakan


sebelum hamil pernah menggunakan alat kontrasepsiIUD
selama 6 tahun, alasan berhenti karena ingin mempunyai
anak.1 0 ) R i w a y a t Pe n y a k i t I b u Ibu mengatakan tidak
pernah dioperasi, tidak pernah

menderitapenyakit gula, tekanan darah tinggi,jantung, asm


a, TBC, kanker,maupun penyakit menular
seksual.11)RiwayatKesehatan KeluargaIbu
mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita
penyakitgula, tekanan darah tinggi, jantung, asma, TBC,
kanker, maupunpenyakit menular seksual serta tidak ada
riwayat keturunan kembarmaupun cacat
bawaan.12)Riwayat Sosial, Ekonomi, dan
PsikososialK a w i n / t i d a k k a w i n : K a w
i n U s i a k a w i n p e r t a m a : 2 2 t a h u n
L a m a
p e r k a w i n a n :
1 7 t a h u
n Perasaan Ibu dan keluarga terhadap persalinan
inicemas.Pengambilan keputusandalam keluarga dilakukan
secara musyawarah.Tempatrujukan jika ada komplikasi di
Rumah Sakit Margono Soekarjo.13)Activity Daily Living
(ADL)a.Nutrisi TerakhirIbu mengatakan makan
terakhir tanggal 21April 2015pukul12.30 WIB.

UPLOAD Sign In Join


BooksAudiobooksComicsSheet Music
1

of 31

Welcome to Scribd! Start your free trial and access books,


documents and more.Find Out More
BAB IIITINJAUAN KASUSASUHAN KEBIDANAN PADA
PERSALINAN PATOLOGI DENGANKETUBAN PECAH DINI
TERHADAP Ny. H. DI RSUD SLEMAN
No. MR: 217271Masuk tanggal / jam: 12 November
2012 / 03.27 WIB
I . P E N G K A J I A N
DATA SUBYEKTIF1 . I d e n t i t a s Nama Istri: Ny.
HU m u r : 3 8 Ta h u n A
g
a
m
a
:
I
s
l
a
m
S
u
k
u
:
J
a
w
a
P e n d i d i k a n : S M P P e k e r j a a n : I RT Alamat
: K a r a n g t a n j u n g , Pendowoharjo, Ngaglik, Sleman Nama

Suami : Tn.
YU m u r : 4 4 Ta h u n A
g
a
m
a
:
I
s
l
a
m
S
u
k
u
:
J
a
w
a
P e n d i d i k a n : S M A Pe ke r j a a n : S w a s t a Alamat
: K a r a n g t a n j u n g , Pendowoharjo, Ngaglik,
Sleman2 . K e l u h a n u t a m a Ibu mengatakan dirinya
hamil anak ke-4, pernah keguguran 1 kali,
usiakehamilan 39 minggu 2hari, mengeluh nyeri
perut bagian bawah. Dari vagina keluar lendir
berwarna kecoklatan bercampur darah dan
air sejak tanggal 11 November 2012 pukul 10.00
WIB3 . Ta n d a - t a n d a
p e r s a l i n a n I b u d a t a n g p u ku l 3 . 3 0 W I B , h i s j a r a n g
, m e n g e l u a r k a n l e n d i r a g a k kecoklatan, air ketuban
merembes.
4 . R i w a y a t M e n s t r u a s i Menarche: 13
tahunS i k l u s : 3 0 h a r i L a m a n y a : 5 - 7
h a r i Keluhan : tidak adaHPHT : 10-02-12 HPL : 17-1112U K :
3 9
m i n g g u
2
h a r i 5.Ri
w a y a t ke s e h a t a n - R i w a y a t ke s e h a t a n
i b u s e k a r a n g Ibu mengatakan tidak sedang mende
rita suatu penyakit menurun(Asma, jantung, DM, hip
ertensi), ataupun penyakit menular (TBC,Hepatitis)R i w a y a t ke s e h a t a n i b u y a n g l a l u Ibu mengatakan
tidak pernah menderita suatu penyakti Asma, jantung,DM,
hipertensi, hepatitis, TBC- R i w a y a t
ke s e h a t a n ke l u a r g a Ibu mengatakan dari pihak
keluarga ibu atau suami tidak ada
riwayat penyakit Asma, Jantung, DM, Hipertensi, TBC, hep
atitis, dan tidak ada riwayat kembar.6 . R i w a y a t
Ke h a m i l a n
Sekarang a . T r i m e s t e r
I ANC : 1 x di bid
anKeluhan : tidak adaTerapi : asam folat, kalk b.Trimester
IIANC : 2 x di puskesmasKeluhan : ibu sering mengalami ny
eri perutTerapi : tablet Fe 1x 1 Tab/haric . T r i m e s t
e r
I I I ANC : 3 x di bidanKeluhan : ibu sering BAK
Terapi : tablet Fe 1x 1 Tab/hari7 . R i w a y a t O b s t e t r i k

NoT
h
n
U
K
JenisPersalinanP e n o
l o n g T e m p a t H/ML/PB B L K o m p l i k a s i 1 1
9
9
4
a t
e
r m N
o r m a l
B i
d a n
B P
S H L 3
5 0
0
T i
d a
k
a d a 2
1 9
9 7
a t
e
r m N
o r m a l
B i
d a n
B
P
S H L 3
5 0
0
T i
d a k
a
d a
3 2 0 0 3 a b o r t u s 4Hamils
ekarangaterm
8 . R i w a y a t i m m u n i s a s i Imunisasi TT 5
(Lengkap)9.Pergerakan janin dalam 12 jam
terakhir ibu merasa gerakan janin lebih dari 10 kali dalam
12 jam10.Pola kebiasaan sehariseharia . N u t r i s i M a k a n t e r a k h i r : i b
u m a k a n n a s i , s a y u r , l a u k 1 p o r s i s e d a n g tan
ggal 11 November 2012 jam 20.30
WIBM i n u m t e r a k h i r : i b u m i n u m a i r
p u t i h 1 g e l a s 1 0 m e n i t y a n g lalu b.EliminasiBAK
BAK terakhir tanggal 12 Nov 2012 jam 02.30
WIBJumlah : sedang Warna : kuning jernih Keluhan : tidak a
daBABBAB terakhir tanggal 11 Nov 2012 jam 07.00
WIBJumlah : sedang Warna : kecoklatan Keluhan : ti
dak adac . I s t i r a h a t Siang : tidur 2 jamM a l a m : t
i d u r a n d a n t i d u r 7 j a m Tidur
terakhir : 11 nov 2012 jam 20.0001.00K e l u h a n : g a n g g u a n r a s a n y a m
a n d.Pers onal Hy giene

Ibu mandi 2x sehari, gosok gigi 2x sehari, ganti baju


2x sehari,keramas 2-3 kali seminggue . D a t a P s i ko s o s i a l
S p i r i t u a l - Kesiapan ibu & keluarga menghadapi
persalinan :Ibu tampak gelisah dan cemas mengahadapi
persalinan- Pengambilan keputusan :
SuamiB . D ATA O B Y E KT I F 1 . P e m e r i k s a a n
u m u m Keadaan umum : baik Kesadaran : composmentisT
D : 120/70 mmHg S : 36.5

o
C N : 80 x/m RR : 20x/mBB ibu sebelum hamil : 54 kg Setel
ah hamil : 66 kgK e n a i k a n :
1 2
k g
T
i n g g i
b a d a n
i b u
: 1 5 7 c m 2
.Pemeriks a an
fi s i k a . R a m b u t : w a r n a h i t a m , b e r s
i h , t i d a k r o n t o k
b.Mata : konjungtiva merah
muda, sklera
putihc . M u k a : b e n t u k s i m e t r i s , t i d a k p u c a t , t i d
a k a d a c l o a s m a gravidarum.d . H i d u n g : b e n t u k s
i m e t r i s , k e a d a a n b e r s i h , t i d a k a d a pembesar
an polip, fungsi penciuman norma,simetris, tidak ada
polipe . M u l u t d a n g i g i : b e n t u k s i m e t r i s ,
tidak ada caries maupun
s a m o t i s , keadaan mulut bersih, fungsi pengecapan
baik,kebersihan cukup, tidak ada
cariesf . T e l i n g a : b e n t u k s i m e t r i s , k e a d a
a n b e r s i h , f u n g s i pendengaran
baik g . L e h e r : t i d a k a d a p e m b e s a r a n ke l e n j a r t y r
o i d , t i d a k a d a pembersaran vena
jugularish.Dada : bentuk dada simetris kanan kiri
i.Payudara : simet ris kanan kiri, putt ing s
u s u m e n o n j o l , hyperpigmentasi, tidak ada bekas luka
operasi j.Perut : bentuk simetris, pembesaran sesuai denga
n usiakehamilan, tidak ada bekas
luka operasiL e o p o l d I : T F U 2 j a r i d i b a
a w a h p x bagian atas teraba bagian besar, lunak,
tidak melenting yang berarti bokongL e o p o l d
II:Bagian kiri teraba panjang, lebar
d a n k e r a s y a n g brarti punggung dan kanan teraba
bagian-bagiankecil yang berarti
ekstremitas.L e o p o l d I I I : B a g i a n b a w a h t e r a b a b u
l a t , k e r a s , d a n m e l e n t i n g , bisa digoyangkan yang
berarti kepala.L e o p o l d V I :
K o n v e r g e n TFU menurut Mc.donald : 28cmT B J :
( T F U - 1 1 ) x 1 5 5 = ( 2 8 - 1 1 ) x 1 5 5 = 2 6 3 5 g r DJJ
terdengar jelas, 134x/menit
teratur.k.Genetalia : tidak ada benjolan abnormal dan v
arisesl . P e m e r i k s a a n d a l a m / V T : t g l 1 2 -

11- 2012 jam 03.40


WIBI n d i k a s i : m e n g e t a h u i p e m b u k a a n s
erviksH
a
s
i
l
:
Dinding va
gina :teraba rugae, tidak ada benjolanPromantorium :tida
k terabaPartio :tipis, pembukaan 2 cmKetuban
:merembesPresentasi :kepalaHIS :ada , masih lemahm
. E k s t r e m i t a s : a. atas :simetris, tidak ada ca
cat, tidak ada oedema. b. bawah: bentuk simetris,
keadaan bersih, tidak ada oedema.reflek patella kanan/kiri
+/+
Similar to Copyright
Desember 2009
Sabtu, 11 Mei 2013
Makalah Ketuban Pecah Dini
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban
sebelum persalinan. Bila ketuban pecah dini terjadi sebelum usia
kehamilan 37 minggu maka disebut ketuban pecah dini pada
kehamilan prematur (Prawirohardjo, 2008).
Ketuban pecah dini adalah ketuban yang pecah sebelum
terdapat atau dimulainya tanda inpartu dan setelah ditunggu satu
jam belum ada tanda inpartu (Manuaba, 2010).
Ketuban Pecah dini adalah ketuban yang pecah sebelum awitan
persalinan (Morgan, 2009).
2.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi ketuban pecah dini
Penyebab KPD masih belum diketahui dan tidak dapat
ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan faktorfaktor yang berhubungan erat dengan KPD, namun faktor-faktor
mana yang lebih berperan sulit diketahui (Nugroho, 2011).
Faktor-faktor predisposisi itu antara lain adalah:
2.1.1
Infeksi (amnionitis atau korioamnionitis).
Korioamnionitis adalah keadaan pada perempuan hamil
dimana korion, amnion dan cairan ketuban terkena infeksi bakteri.

Korioamnionitis merupakan komplikasi paling serius bagi ibu dan


janin, bahkan dapat berlanjut menjadi sepsis (Prawirohardjo,
2008).
Membrana khorioamnionitik terdiri dari jaringan viskoelastik.
Apabila jaringan ini dipacu oleh persalinan atau infeksi maka
jaringan akan menipis dan sangat rentan untuk pecah disebabkan
adanya aktivitas enzim kolagenolitik. Grup B streptococcus
mikroorganisme yang sering menyebabkan amnionitis. Selain
itu Bacteroides
fragilis,
Lactobacilli danStaphylococcus epidermidis adalah bakteri-bakteri
yang sering ditemukan pada cairan ketuban pada kehamilan
preterm. Bakteri-bakteri tersebut dapat melepaskan mediator
inflamasi yang menyebabkan kontraksi uterus. Hal ini
menyebabkan adanya perubahan dan pembukaan serviks, dan
pecahnya selaput ketuban (Varney, 2007).
Jika terdiagnosis korioamnionitis, perlu segera dimulai upaya
untuk melahirkan janin sebaiknya pervaginam. Sayangnya, satusatunya indikator yang andal untuk menegakkan diagnosis ini
hanyalah demam; suhu tubuh 38C atau lebih, air ketuban yang
keruh dan berbau yang menyertai pecah ketuban yang menandakan
infeksi (Anonim, 2007).
2.1.2
Riwayat ketuban pecah dini
Riwayat ketuban pecah dini sebelumnya beresiko 2-4 kali
mengalami ketuban pecah dini kembali. Patogenesis terjadinya
ketuban pecah dini secara singkat ialah akibat adanya penurunan
kandungan kolagen dalam membrane sehingga memicu terjadinya
ketuban pecah dini dan ketuban pecah dini preterm terutama pada
pasien risiko tinggi (Nugroho, 2010).
Wanita yang mengalami ketuban pecah dini pada kehamilan
atau menjelang persalinan maka pada kehamilan berikutnya wanita
yang telah mengalami ketuban pecah dini akan lebih beresiko
mengalaminya kembali antara 3-4 kali dari pada wanita yang tidak
mengalami ketuban pecah dini sebelumnya, karena komposisi
membran yang menjadi mudah rapuh dan kandungan kolagen yang
semakin menurun pada kehamilan berikutnya (Anonim, 2007).
2.1.3
Tekanan intra uterin
Tekanan intra uterin yang meningkat secara berlebihan
(overdistensi uterus) misalnya hidramnion dan gemeli. Pada
kelahiran kembar sebelum 37 minggu sering terjadi pelahiran

preterm, sedangkan bila lebih dari 37 minggu lebih sering


mengalami ketuban pecah dini (Nugroho, 2010).
Perubahan pada volume cairan amnion diketahui
berhubungan erat dengan hasil akhir kehamilan yang kurang
bagus. Baik karakteristik janin maupun ibu dikaitkan dengan
perubahan pada volume cairan amnion. Polihidramnion dapat
terjadi akibat kelainan kongenital, diabetes mellitus, janin besar
(makrosomia), kehamilan kembar, kelainan pada plasenta dan tali
pusat dan penggunaan obat-obatan (misalnya propiltiourasil).
Kelainan kongenital yang sering menimbulkan polihidramnion
adalah defek tabung neural, obstruksi traktus gastrointestinal
bagian atas, dan kelainan kromosom (trisomi 21, 18, 8, 13)
komplikasi yang sering terjadi pada polihidramnion adalah
malpresentasi janin, ketuban pecah dini, prolaps tali pusat,
persalinan pretem dan gangguan pernafasan pada ibu
(Prawirohardjo, 2008).
2.1.4
Serviks yang tidak lagi mengalami kontraksi (inkompetensia)
Serviks yang tidak lagi mengalami kontraksi (inkompetensia),
didasarkan pada adanya ketidakmampuan serviks uteri untuk
mempertahankan kehamilan. Inkompetensi serviks sering
menyebabkan kehilangan kehamilan pada trimester kedua.
Kelainan ini dapat berhubungan dengan kelainan uterus yang lain
seperti septum uterus dan bikornis. Sebagian besar kasus
merupakan akibat dari trauma bedah pada serviks pada konisasi,
produksi eksisi loop elektrosurgical, dilatasi berlebihan serviks
pada terminasi kehamilan atau laserasi obstetrik (Prawirohardjo,
2008).
Diagnosa inkompetensi serviks ditegakkan ketika serviks
menipis dan membuka tanpa disertai nyeri pada trimester kedua
atau awal trimester ketiga kehamilan. Umumnya, wanita datang
kepelayanan kesehatan dengan keluhan perdarahan pervaginam,
tekanan pada panggul, atau ketuban pecah dan ketika diperiksa
serviksnya sudah mengalami pembukaan. Bagi wanita dengan
inkompetensi serviks, rangkaian peristiwa ini akan berulang pada
kehamilan berikutnya, berapa pun jarak kehamilannya. Secara
tradisi, diagnosis inkompetensia serviks ditegakkan berdasarkan
peristiwa yang sebelumnya terjadi, yakni minimal dua kali
keguguran pada pertengahan trimester tanpa disertai awitan
persalinan dan pelahiran ( Morgan, 2009).

Faktor resiko inkompetensi serviks meliputi riwayat


keguguran pada usia kehamilan 14 minggu atau lebih, adanya
riwayat laserasi serviks menyusul pelahiran pervaginam atau
melalui operasi sesar, adanya pembukaan serviks berlebihan
disertai kala dua yang memanjang pada kehamilan sebelumnya, ibu
berulang kali mengalami abortus elektif pada trimester pertama
atau kedua, atau sebelumnya ibu mengalami eksisi sejumlah besar
jaringan serviks (Morgan, 2009).
2.1.5
Paritas
Para adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang
dapat hidup (Saifuddin, 2006).
Paritas terbagi menjadi primipara dan multipara. Primiparitas
adalah seorang wanita yang telah melahirkan bayi hidup atau mati
untuk pertama kali. Multiparitas adalah wanita yang telah
melahirkan bayi hidup atau mati beberapa kali (sampai 5 kali atau
lebih) (Varney, 2007).
2.1.6
Kehamilan dengan janin kembar
Pada kehamilan kembar, evaluasi plasenta bukan hanya
mencakup posisinya tetapi juga korionisitas kedua janin. Pada
banyak kasus adalah mungkin saja menentukan apakah janin
merupakan kembar monozigot atau dizigot. Selain itu, dapat juga
ditentukan apakah janin terdiri dari satu atau dua amnion. Upaya
membedakan ini diperlukan untuk memperbaiki resiko kehamilan.
Pengawasan pada wanita hamil kembar perlu ditingkatkan untuk
mengevaluasi resiko persalinan preterm. Gejala persalinan preterm
harus ditinjau kembali dengan cermat setiap kali melakukan
kunjungan (Nugroho, 2010).
Wanita dengan kehamilan kembar beresiko tinggi mengalami
ketuban pecah dini juga preeklamsi. Hal ini biasanya disebabkan
oleh peningkatan massa plasenta dan produksi hormon. Oleh
karena itu, akan sangat membantu jika ibu dan keluarga dilibatkan
dalam mengamati gejala yang berhubungan dengan preeklamsi dan
tanda-tanda ketuban pecah (Varney, 2007).
2.1.7
Usia ibu yang 20 tahun
Usia ibu yang 20 tahun, termasuk usia yang terlalu muda
dengan keadaan uterus yang kurang matur untuk melahirkan
sehingga rentan mengalami ketuban pecah dini. Sedangkan ibu
dengan usia 35 tahun tergolong usia yang terlalu tua untuk

melahirkan khususnya pada ibu primi (tua) dan beresiko tinggi


mengalami ketuban pecah dini (Nugroho, 2010).
Usia dan fisik wanita sangat berpengaruh terhadap proses
kehamilan pertama, pada kesehatan janin dan proses persalinan.
World Health Organisation (WHO) memberikan rekomendasi
sebagaimana disampaikan Seno (2008) seorang ahli kebidanan
dan kandungan dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Sampai
sekarang, rekomendasi WHO untuk usia yang dianggap paling
aman menjalani kehamilan dan persalinan adalah 20 hingga 30
tahun. Kehamilan di usia kurang dari 20 tahun dapat menimbulkan
masalah karena kondisi fisik belum 100% siap (Agil, 2007).
Beberapa resiko yang bisa terjadi pada kehamilan di usia
kurang dari 20 tahun adalah kecenderungan naiknya tekanan darah
dan pertumbuhan janin terhambat. Bisa jadi secara mental pun
wanita belum siap. Ini menyebabkan kesadaran untuk
memeriksakan diri dan kandungannya menjadi rendah. Di luar
urusan kehamilan dan persalinan, risiko kanker leher rahim pun
meningkat akibat hubungan seks dan melahirkan sebelum usia 20
tahun ini. Berbeda dengan wanita usia 20-30 tahun yang dianggap
ideal untuk menjalani kehamilan dan persalinan. Di rentang usia
ini kondisi fisik wanita dalam keadaan prima. Rahim sudah mampu
memberi perlindungan atau kondisi yang maksimal untuk
kehamilan. Umumnya secara mental pun siap, yang berdampak
pada perilaku merawat dan menjaga kehamilannya secara hati-hati
(Agil, 2007).
Pendapat Seno (2008), usia 30-35 tahun sebenarnya
merupakan masa transisi Kehamilan pada usia ini masih bisa
diterima asal kondisi tubuh dan kesehatan wanita yang
bersangkutan termasuk gizinya, dalam keadaan baik. Mau tidak
mau, suka atau tidak suka, proses kehamilan dan persalinan
berkaitan dengan kondisi dan fungsi organ-organ wanita. Artinya,
sejalan dengan bertambahnya usia, tidak sedikit fungsi organ yang
menurun. Semakin bertambah usia, semakin sulit hamil karena sel
telur yang siap dibuahi semakin sedikit. Selain itu, kualitas sel telur
juga semakin menurun. Itu sebabnya, pada kehamilan pertama di
usia lanjut, resiko perkembangan janin tidak normal dan timbulnya
penyakit kelainan bawaan juga tinggi, begitu juga kondisi-kondisi
lain yang mungkin mengganggu proses kehamilan dan persalinan
seperti kelahiran preterm ataupun ketuban pecah dini (Agil, 2007).

2.2 Mekanisme teradinya ketuban pecah dini


Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh
kontraksi uterus dan peregangan berulang. Selaput ketuban pecah
karena pada daerah tertentu terjadi perubahan biokimia yang
menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh, bukan karena selaput
ketuban rapuh. Selaput ketuban sangat kuat pada kehamilan muda.
Pada trimester tiga selaput ketuban mudah pecah. Melemahnya
kekuatan selaput ada hubungannya dengan pembesaran uterus,
kontraksi rahim, dan gerakan janin. Pecahnya ketuban pada
kehamilan aterm merupakan hal fisiologis. Ketuban pecah dini
pada kehamilan prematur disebabkan oleh adanya faktor-faktor
eksternal, misalnya infeksi yang menjalar dari vagina
(Prawirohardjo, 2008).
Mekanisme ketuban pecah dini ini terjadi pembukaan
prematur serviks dan membran terkait dengan pembukaan terjadi
devolarisasi dan nekrosis serta dapat diikuti pecah spontan.
Jaringan ikat yang menyangga membran ketuban makin berkurang.
Melemahnya daya tahan ketuban dipercepat dengan infeksi yang
mengeluarkan enzim proteolitik, enzim kolagenase. Masa interval
sejak ketuban pecah sampai terjadi kontraksi disebut fase laten,
makin panjang fase laten, semakin tinggi kemungkinan infeksi.
Semakin muda kehamilan, makin sulit pula pemecahannya tanpa
menimbulkan morbiditas janin. Oleh karena itu komplikasi
ketuban pecah dini semakin meningkat (Varney, 2007).
2.3 Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang selalu ada ketika terjadi ketuban pecah
dini adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina,
cairan vagina berbau amis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin
cairan tersebut masih merembes atau menetes, disertai dengan
demam atau menggigil, bercak vagina yang banyak, denyut jantung
janin bertambah cepat, juga nyeri pada perut, keadaan seperti ini
dicurigai mengalami infeksi. Cairan ini tidak akan berhenti atau
kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila ibu
duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah
biasanya mengganjal atau menyumbat kebocoran untuk
sementara (Nugroho, 2011).
Ada pula tanda dan gejala yang tidak selalu timbul pada ketuban
pecah dini seperti ketuban pecah secara tiba-tiba, kemudian cairan
tampak diintroitus dan tidak adanya his dalam satu jam. Keadaan

lain seperti nyeri uterus, denyut jantung janin yang semakin cepat
serta perdarahan pervaginam sedikit tidak selalu dialami ibu
dengan kasus ketuban pecah dini. Namun, harus tetap diwaspadai
untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada ibu maupun janin
(Varney, 2007).
2.4 Komplikasi
Menurut Varney (2007) komplikasi yang timbul akibat ketuban
pecah dini bergantung pada usia kehamilan. Komplikasi yang
sering terjadi diantaranya :
2.4.1
Persalinan premature
Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan.
Periode laten tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm
90% terjadi dalam 24 jam setelah ketuban pecah. Pada kehamilan
antara 28 34 minggu 50% persalinan dalam 24 jam. Pada
kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1
minggu.
2.4.2
Infeksi
Resiko infeksi pada ibu dan anak meningkat pada ketuban pecah
dini. Pada ibu terjadi konrioamnionitis. Pada bayi dapat terjadi
septicemia, pneumonia. Umumnya terjadi korioamnianitis sebelum
janin terinfeksi. Pada ketuban pecah dini prematur, infeksi lebih
sering dari pada aterm. Secara umum insiden infeksi sekunder pada
ketuban pecah dini meningkat sebanding dengan lamanya periode
laten.
2.4.3
Hipoksia dan Asfiksia
Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidroamnion yang menekan
tali pusathingga terdaji asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan
antara terjadinya gawat janin dan derajat oligohidroamnion,
semakin sedikit air ketuban , janin semakin gawat.
2.4.4
Sindrom Deformitas Janin
Ketuban pecah dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan
pertumbuhan janin terhambat, kelainan disebabkan kompresi
muka dan anggota badan janin (Prawirohardjo, 2008).
Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia
kehamilan 37 minggu adalah sindrom distress pernapasan, yang
terjadi pada 10-40% bayi baru lahir. Risiko infeksi meningkat pada
kejadian KPD. Semua ibu hamil dengan KPD prematur sebaiknya
dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya korioamnionitis (radang

pada korion dan amnion). Selain itu kejadian prolaps atau


keluarnya tali pusar dapat terjadi pada KPD. Risiko kecacatan dan
kematian janin meningkat pada KPD preterm. Hipoplasia paru
merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada KPD preterm.
Kejadiannya mencapai hampir 100% apabila KPD preterm ini
terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu (Nugroho,
2011).
2.5 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan secara langsung cairan yang merembes tersebut
dapat dilakukan dengan kertas nitrazine, kertas ini mengukur pH
(asam-basa). pH normal dari vagina adalah 4-4,7 sedangkan pH
cairan ketuban adalah 7,1-7,3. Tes tersebut dapat memiliki hasil
positif yang salah apabila terdapat keterlibatan trikomonas, darah,
semen, lendir leher rahim, dan air seni. Pemeriksaan melalui
ultrasonografi (USG) dapat digunakan untuk melihat jumlah air
ketuban dalam kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan
ketuban sedikit. namun sering terjadi kesalahan pada penderita
oligohidramnion (Nugroho, 2011).
2.6 Terapi
Apabila terjadi pecah ketuban, maka segeralah pergi ke
rumah sakit. Risiko kelahiran bayi prematur adalah risiko terbesar
kedua setelah infeksi akibat ketuban pecah dini. Pemeriksaan
mengenai kematangan dari paru janin sebaiknya dilakukan
terutama pada usia kehamilan 32-34 minggu. Hasil akhir dari
kemampuan janin untuk hidup sangat menentukan langkah yang
akan diambil. Kontraksi akan terjadi dalam waktu 24 jam setelah
ketuban pecah apabila kehamilan sudah memasuki fase akhir.
Semakin dini ketuban pecah terjadi maka semakin lama jarak
antara ketuban pecah dengan kontraksi. Jika tanggal persalinan
sebenarnya belum tiba, dokter biasanya akan menginduksi
persalinan dengan pemberian oksitosin (perangsang kontraksi)
dalam 6 hingga 24 jam setelah pecahnya ketuban. Tetapi jika
memang sudah masuk tanggal persalinan dokter tak akan
menunggu selama itu untuk memberi induksi pada ibu, karena
menunda induksi bisa meningkatkan resiko infeksi (Anonim, 2011).
Penggunaan steroid untuk pematangan paru janin masih
merupakan kontroversi dalam KPD. Penelitan terbaru menemukan
keuntungan serta tidak adanya risiko peningkatan terjadinya
infeksi pada ibu dan janin. Steroid berguna untuk mematangkan

paru janin, mengurangi risiko sindrom distress pernapasan pada


janin, serta perdarahan pada otak. Penggunaan antibiotik pada
kasus KPD memiliki 2 alasan. Yang pertama adalah penggunaan
antibiotic untuk mencegah infeksi setelah kejadian KPD preterm.
Dan yang kedua adalah berdasarkan hipotesis bahwa KPD dapat
disebabkan oleh infeksi dan sebaliknya KPD preterm dapat
menyebabkan infeksi. Keuntungan didapatkan pada wanita hamil
dengan KPD yang mendapatkan antibiotik yaitu, proses kelahiran
diperlambat hingga 7 hari, berkurangnya kejadian korioamnionitis
serta sepsis neonatal (infeksi pada bayi baru lahir) (Saifuddin,
2006).
2.7 Penatalaksanaan
Ketuban pecah dini termasuk dalam kehamilan beresiko
tinggi. Kesalahan dalam mengelola KPD akan membawa akibat
meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas ibu maupun
bayinya. Kasus KPD yang cukup bulan, jika segera diakhiri akan
meningkatkan insiden bedah secar an jika menunggu persalinan
spontan akan menaikan insiden khorioamnionitis. Penatalaksanaan
KPD tergantung pada umur kehamilan. Jika umur kehamilan tidak
diketahui secara pasti segera dilakukan pemeriksaan ultrasonografi
(USG) untuk mengetahui umur kehamilan dan letak janin. Resiko
yang lebih sering pada KPD dengan janin kurang bulan adalah
RDS (Respirtory distress sindrome) dibandingkan dengan sepsis.
Oleh karena itu pada kehamilan kurang bulan perlu evaluasi hatihati untuk menentukan waktu optimal untuk persalinan (Nugroho,
2011).
Dalam penetapan langkah penatalaksanaan tindakan yang
dilakukan apakah langkah konservatif atau aktif, sebaiknya perlu
mempertimbangkan usia kehamilan, kondisi ibu dan janin, fasilitas
perawatan intensif, kondisi, waktu, dan tempat perawatan, fasilitas
atau kemampuan monitoring, kondisi atau status imunologi ibu,
dan kemapuan finansial keluarga (Fadlun, 2011).
Adapun pelaksanaannya :
2.7.1
Penatalaksanaan Konservatif (mempertahankan kehamilan)
Kebanyakan persalinan dimulai dalam 24 72 jam setelah
ketuban pecah. Kemungkinan infeksi berkurang bjika tidak ada alat
yang dimasukkan ke vagina, kecuali spekulum steril dan jang
melakukan pemeriksaan dalam (Morgan, 2009).

Beri antibiotika bila ketuban pecah > 6 jam berupa Ampisillin


4 x 500 mg atau Gentamycin 1 x 80 mg. Umur kehamilan < 32 34
minggu dirawat selama air ketuban masih keluar atau sampai air
ketuban tidak keluar lagi serta berikan steroid selama untuk
memacu kematangan paru-paru janin (Nugroho, 2011).
2.7.2
Penatalaksanaan Aktif
Kehamilan > 35 minggu dilakukan induksi oksitosin, jika gagal
dilakukan seksio sesaria. Cara induksi yaitu 1 ampul syntocinon
dalam Dektrose 5%, dimulai 4 tetes/ menit, tiap jam dinaikan 4
tetes sampai maksimum 40 tetes/ menit. Pada keadaan CPD, letak
lintang harus dilakukan seksio sesaria. Bila ada tanda-tanda infeksi
beri antibiotik dosis tinggi dan persalinan diakhiri (Nugroho, 2011).

Ketuban Pecah Dini


Oktober 7, 2006 pukul 3:11 am | Ditulis dalam ProTap | 10
Komentar
Definisi :
Pecahnya selaput ketuban pada pembukaan servik < 5 cm dalam
kehamilan/persalinan.
Prognogis: Bila jarak pecahnya ketuban dengan partus:
o 24 jam -> kematian perinatal 2x
o 48 jam -> kematian perrinatal meningkat 3x
Penatalaksanaan :
Bila kehamilan < 32 minggu, TBJ + 1500 gr -> terapi konservatif
(diharapkan ketuban menutup)
o Istirahat total
o Sedative : Fenobarbital (luminal) 3 X 30 mg/hari
o Minum 2 liter (10 gelas)/hari
o Antibiotika: Amoksisilin 3 X 500 mg (5 hari)
o Deksametason 3 x 5mg/hari (2 hari) -> mematangkan paru
o Bila dalam 3 x 24 jam air ketuban tidak keluar -> Mobilisasi
o Bila terjadi infeksi (AL > 15.000, suhu > 38C, air ketuban
keruh) -> ahiri kehamilan.
Bila kehamilan 33 35 minggu, TBJ < 2500 gr.
o Terapi konservatif 24 jam
o Induksi.

Bila kehamilan > 36 minggu, TBJ > 2500 gr


Bila HIS (+) -> pimpin persalinan
Bila HIS (-):
1. KPD < 6 jam, Pelvic Score > 5 -> Induksi
2. KPD < 6 jam, Pelvic Score < 5 -> Rujuk RS (SC)
ke daftar isi
PENATALAKSANAAN KETUBAN PECAH DINI PADA
KEHAMILAN PRETERM
PENDAHULUAN
Ketuban pecah dini (KPD) merupakan masalah penting dalam obstetri
berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi
korioamnionitis sampai sepsis, yang meningkatkan morbiditas dan
mortalitas
perinatal dan menyebabkan infeksi ibu.
Insidensi ketuban pecah dini lebih kurang 10% dari semua kehamilan.
Pada kehamilan aterm insidensinya bervariasi 6-19%. Sedangkan pada
kehamilan
preterm insidensinya 2% dari semua kehamilan. Hampir semua KPD pada
kehamilan preterm akan lahir sebelum aterm atau persalinan akan terjadi
dalam
satu minggu setelah selaput ketuban pecah.2 Sekitar 85% morbiditas dan
mortalitas perinatal disebabkan oleh prematuritas. Ketuban pecah dini
berhubungan dengan penyebab kejadian prematuritas dengan insidensi 3040%.
Neonatologis dan ahli obstetri harus bekerja sebagai tim untuk
memastikan
perawatan yang optimal untuk ibu dan janin.
Etiologi pada sebagian besar kasus tidak diketahui. Penelitian
menunjukkan infeksi sebagai penyebabnya. Faktor lain yang
mempengaruhi
adalah kondisi sosial ekonomi rendah yang berhubungan dengan
rendahnya
kualitas perawatan antenatal, penyakit menular seksual misalnya
disebabkan oleh
Chlamydia trachomatis dan Neischeria gonorrhea.
Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi,
adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda
persalinan.1
Dilema sering terjadi pada pengelolaan KPD dimana harus segera bersikap
aktif
terutama pada kehamilan yang cukup bulan atau harus menunggu sampai

terjadinya proses persalinan sehingga masa tunggu akan memanjang, yang


berikutnya akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Sikap
konservatif
ini sebaiknya dilakukan pada KPD kehamilan kurang bulan dengan
harapan
tercapainya pematangan paru dan berat badan janin yang cukup.

DEFINISI
Ketuban pecah dini atau premature rupture of the membranes (PROM)
adalah pecahnya selaput ketuban sebelum adanya tanda-tanda persalinan.
Jika
2
ketuban pecah sebelum umur kehamilan 37 minggu disebut ketuban pecah
dini
kehamilan preterm atau preterm premature rupture of the membranes
(PPROM).
ETIOLOGI
-Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih
belum
diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan
menyebutkan
faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD, namun faktor-faktor
mana
yang lebih berperan sulit diketahui. Kemungkinan yang menjadi faktor
predisposisi adalah:
1. Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun
ascenden dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan
terjadinya KPD. Penelitian menunjukkan infeksi sebagai penyebab utama
ketuban pecah dini.
2. Servik yang inkompetensia, kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh
karena kelainan pada servik uteri (akibat persalinan, kuretase).
3. Tekanan intra uterin yang meningkat secara berlebihan (overdistensi
uterus) misalnya tumor, hidramnion, gemelli.
4. Trauma oleh beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisisi atau
penyebab terjadinya KPD. Trauma yang didapat misalnya hubungan
seksual, pemeriksaan dalam, maupun amnosintesis menyebabkan
terjadinya KPD karena biasanya disertai infeksi
5. Kelainan letak misalnya lintang, sehingga tidak ada bagian terendah
yang
menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan

terhadap membran bagian bawah.


6. Keadaan sosial ekonomi yang berhubungan dengan rendahnya kualitas
perawatan antenatal, penyakit menular seksual misalnya disebabkan oleh
Chlamydia trachomatis dan Neischeria gonorhoe.
7. Faktor lain yaitu:
Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu
Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan antepartum
Defisiensi gizi dari tembaga dan vitamin C
3
Membrana khorioamniotik terdiri dari jaringan viskoelastik. Apabila
jaringan ini dipacu oleh persalinan atau infeksi maka jaringan akan
menipis dan
sangat rentan untuk pecah disebabkan adanya aktivitas enzim
kolagenolitik.
Infeksi merupakan faktor yang cukup berperan pada persalinan preterm
dengan
ketuban pecah dini. Grup B streptococcus mikroorganisme yang sering
menyebabkan amnionitis. Selain itu Bacteroides fragilis, Lactobacilli dan
Staphylococcus epidermidis adalah bakteri-bakteri yang sering ditemukan
pada
cairan ketuban pada kehamilan preterm. Bakteri-bakteri tersebut dapat
melepaskan mediator inflamasi yang menyebabkan kontraksi uterus. Hal
ini
menyebabkan adanya perubahan dan pembukaan serviks, dan pecahnya
selaput
ketuban.
DIAGNOSIS
Diagnosis KPD didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
laboratorium. Dari anamnesis 90% sudah dapat mendiagnosa KPD secara
benar.
Pengeluaran urin dan cairan vagina yang banyak dapat disalahartikan
sebagai
KPD. Pemeriksaan fisik kondisi ibu dan janinnya. Tentukan ada tidaknya
infeksi.
Tanda-tanda infeksi antara lain bila suhu ibu 38C. Janin yang
mengalami
takikardi, mungkin mengalami infeksi intrauterin.
Pemeriksaan inspekulo secara steril merupakan langkah pemeriksaan
pertama terhadap kecurigaan KPD. Pemeriksaan dengan spekulum pada
KPD

akan tampak keluar cairan dari orifisium uteri eksternum (OUE), kalau
belum
juga tampak keluar, fundus uteri ditekan, penderita diminta batuk,
megejan atau
megadakan manuvover valsava, atau bagian terendah digoyangkan, akan
tampak
keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada forniks posterior. 3
Cairan
yang keluar dari vagina perlu diperiksa warna, bau dan pH nya. Air
ketuban yang
keruh dan berbau menunjukkan adanya proses infeksi.
Tentukan pula tanda-tanda inpartu. Tentukan adanya kontraksi yang
teratur. Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan tocher perlu
dipertimbangkan. Periksa dalam dilakukan bila akan dilakukan
penanganan aktif
(terminasi kehamilan) antara lain untuk menilai skor pelvik dan dibatasi
sedikit
mungkin.1 Pada kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam
persalinan tidak
4
perlu diadakan pemeriksaan dalam. Karena pada waktu pemeriksaan
dalam, jari
pemeriksa akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina
yang
normal. Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen.
Pemeriksaan penunjang diagnosis antara lain:
1. Pemeriksaan laboratorium
Tes lakmus (tes Nitrazin): jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru
menunjukkan adanya air ketuban (alkalis) karena pH air ketuban 7 7,5
sedangkan sekret vagina ibu hamil pH nya 4-5, dengan kertas nitrazin
tidak berubah warna, tetap berwarna kuning. Darah dan infeksi vagina
dapat mengahsilakan tes yang positif palsu.
Mikroskopik (tes pakis): dengan meneteskan air ketuban pada gelas
objek
dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran
daun pakis.
2. Pemeriksaan ultrasonografi USG
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam
kavum uteri dan konfirmasi usia kehamilan. Pada kasus KPD terlihat
jumlah
cairan ketuban yang sedikit. Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup

banyak
macam dan caranya, namun pada umumnya KPD sudah bisa terdiagnosis
dengan
anamnesa dan pemeriksaan sedehana
KOMPLIKASI
Ada tiga komplikasi utama yang terjadi yaitu peningkatan morbiditas dan
mortalitas neonatal oleh karena prematuritas, komplikasi selama
persalinan dan
kelahiran yaitu risiko resusitasi, dan yang ketiga adanya risiko infeksi baik
pada
ibu maupun janin. Risiko infeksi karena ketuban yang utuh merupakan
barier atau
penghalang terhadap masuknya penyebab infeksi. Dengan tidak adanya
selaput
ketuban seperti pada KPD, flora vagina normal yang ada bisa menjadi
patogen
yang bisa membahayakan baik pada ibu maupun pada janinnya.
Morbiditas dan
mortalitas neonatal meningkat dengan makin rendahnya umur kehamilan.
-Komplikasi pada ibu adalah terjadinya risiko infeksi dikenal dengan
korioamnionitis. Dari studi pemeriksaan histologis cairan ketuban 50%
wanita
yang lahir prematur, didapatkan korioamnionitis (infeksi saluran ketuban),
akan
5
tetapi sang ibu tidak mempunyai keluhan klinis. Infeksi janin dapat terjadi
septikemia, pneumonia, infeksi traktus urinarius dan infeksi lokal
misalnya
konjungtivitis.
PENATALAKSANAAN
-Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia
gestasi,
adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda
persalinan.
A. Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini Pada Kehamilan Preterm
-Penatalaksanaan ketuban pecah dini pada kehamilan preterm berupa
penanganan konservatif, antara lain:
Rawat di Rumah Sakit, ditidurkan dalam posisi trendelenberg, tidak perlu
dilakukan pemeriksaan dalam untuk mencegah terjadinya infeksi dan
kehamilan diusahakan bisa mencapai 37 minggu.
Berikan antibiotika (ampisilin 4500 mg atau eritromisin bila tidak tahan

ampisilin) dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari.


Jika umur kehamilan < 32-34 minggu dirawat selama air ketuban masih
keluar, atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid, untuk memacu
kematangan paru janin, dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitin dan
spingomielin tiap minggu. Sedian terdiri atas betametason 12 mg sehari
dosis tunggal selama 2 hari atau deksametason IM 5 mg setiap 6 jam
sebanyak 4 kali.
Jika usia kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi, tes
busa (-): beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan
kesejahteraan janin. Terminasi pada kehamilan 37 minggu.
Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi,
berikan tokolitik (salbutamol), deksametason dan induksi sesudah 24 jam.
Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan
lakukan
induksi.
Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intrauterin)
6
B. Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini Pada Kehamilan Aterm
-Penatalaksanaan ketuban pecah dini pada kehamilan aterm berupa
penanganan
aktif, antara lain:
Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio
sesaria. Dapat pula diberikan misoprostol 50 g intravaginal tiap 6 jam
maksimal 4 kali.
Bila ada tanda-tanda infeksi, berikan antibiotika dosis tinggi, dan
persalinan di akhiri:
1. Bila skor pelvik < 5 lakukan pematangan serviks kemudian induksi.
Jika tidak berhasil akhiri persalinan dengan seksio sesaria.
2. Bila skor pelvik > 5 induksi persalinan, partus pervaginam
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
KomentariBagikan
Bagikan
Komentar Terpopuler
PENDAHULUAN
Pada umumnya ketuban akan pecah saat inpartu,
menjelang pembukaan lengkap, yang selanjutnya diikuti
oleh tekanan langsung pada pleksus Frankenhausen,
sehingga parturien akan mengejan secara reflex.

Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum


waktunya tanpa disertai tanda inpartu dan setelah satu
jam tetap tidak diikuti dengan proses inpartu sebagaimana
mestinya. Sebagian besar pecahnya ketuban secara dini
terjadi sekitar usia kehamilan 37 minggu.1
Pengelolaan ketuban pecah dini merupakan masalah yang
masih kontroversial dalam kebidanan. Pengelolaan yang
optimal dan baku masih belum ada, selalu berubah. KPD
seringkali menimbulkan konsekuensi yang dapat
menimbulkan morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun
bayi terutama kematian perinatal yang cukup tinggi.
Kematian perinatal yang cukup tinggi ini antara lain
disebabkan karena kematian akibat kurang bulan, dan
kejadian infeksi yang meningkat karena partus tak maju,
partus lama dan partus buatan yang sering dijumpai pada
pengelolaan kasus KPD terutama pada pengelolaan
konservatif.5
DEFINISI
Ada bermacam-macam batasan, teori dan definisi
mengenai KPD. Beberapa penulis mendefinisikan KPD yaitu
apabila ketuban pecah spontan dan tidak diikuti tandatanda persalinan, ada teori yang menghitung beberapa
jam sebelum inpartu, misalnya 1 jam atau 6 jam sebelum
inpartu. Ada juga yang menyatakan dalam ukuran
pembukaan servik pada kala I, misalnya ketuban pecah
sebelum pembukaan servik pada primigravida 3 cm dan
pada multigravida kurang dari 5 cm.3,5
Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya membran
korioamnion sebelum inpartu. Periode laten adalah jarak
antara pecahnya ketuban dan inpartu. Tidak ada
kesepakatan tentang lamanya jarak antara pecahnya
ketuban dan inpartu yang dibutuhkan untuk mendiagnosa
KPD. Rentang waktu yang telah diajukan dalam laporan
yang berbeda-beda, berkisar antara 1 12 jam. Beberapa
penulis menyarankan istilah KPD lama untuk
menjelaskan periode laten yang lebih dari 24 jam, namun
jarang digunakan. Akibat dari KPD tergantung kepada usia
kehamilan. Karenanya, kondisi tersebut diklasifikasikan
kepada KPD preterm atau KPD aterm, tergantung

apakah munculnya sebelum atau sesudah masa kehamilan


37 minggu.4
EPIDEMIOLOGI
Beberapa peneliti melaporkan hasil penelitian mereka dan
didapatkan hasil yang bervariasi. Insidensi KPD berkisar
antara 8 10 % dari semua kehamilan. Hal yang
menguntungkan dari angka kejadian KPD yang dilaporkan,
bahwa lebih banyak terjadi pada kehamilan yang cukup
bulan dari pada yang kurang bulan, yaitu sekitar 95 %,
sedangkan pada kehamilan tidak cukup bulan atau KPD
pada kehamilan preterm terjadi sekitar 34 % semua
kelahiran prematur.
KPD merupakan komplikasi yang berhubungan dengan
kehamilan kurang bulan, dan mempunyai kontribusi yang
besar pada angka kematian perinatal pada bayi yang
kurang bulan. Pengelolaan KPD pada kehamilan kurang
dari 34 minggu sangat komplek, bertujuan untuk
menghilangkan kemungkinan terjadinya prematuritas dan
RDS.1,3,5
FISIOLOGI AIR KETUBAN2,4
Volume air ketuban pada kehamilan cukup bulan
adalah 1000 1500 cc
Ciri-ciri kimiawi
Air ketuban berwarna putih kekeruhan, berbau khas amis,
dan berasa manis, reaksinya agak alkalis atau netral, berat
jenis 1,008. Komposisinya terdiri atas 98 % air, sisanya
albumin, urea, asam urik, kreatinin, sel-sel epitel, rambut
lanugo, verniks kaseosa dan garam anorganik. Kadar
protein kira-kira 2,6 gr % per liter terutama sebagai
albumin.
Dijumpai lecitin spingomyelin dalam air ketuban amat
berguna untuk mengetahui apakah janin sudah
mempunyai paru-paru yang matang. Sebab peningkatan
kadar lecitin pertanda bahwa permukaan paru-paru diliputi
zat surfaktan. Ini merupakan syarat bagi paru-paru untuk
berkembang dan bernapas. Bila persalinan berjalan lama
atau ada gawat janin atau pada letak sungsang akan kita

jumpai warna ketuban keruh kehijau-hijauan, karena telah


bercampur dengan mekonium.

Fungsi Air Ketuban


1.
Untuk proteksi janin.
2.
Untuk mencegah perlengketan janin dengan
amnion.
3.
Agar janin dapat bergerak dengan bebas.
4.
Regulasi terhadap panas dan perubahan suhu.
5.
Mungkin untuk menambah suplai cairan janin,
dengan cara ditelan atau diminum yang kemudian
dikeluarkan melalui kencing janin.
6.
Meratakan tekanan intra uterin dan
membersihkan jalan lahir bila ketuban pecah.
7.
Peredaran air ketuban dengan darah cukup lancar
dan perputarannya cepat, kira-kira 350-500 cc.
Asal Air Ketuban
1.
Kencing janin (fetal urin)
2.
Transudasi dari darah ibu
3.
Sekresi dari epitel amnion
4.
Asal campuran (mixed origin)
Cara mengenali air ketuban
Dengan lakmus
Makroskopis

Bau amis, adanya lanugo dan verniks kaseosa


Bercampur mekonium
Mikroskopis

Lanugo dan rambut


Laboratorium
ETIOLOGI
Faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD, namun
faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit diketahui.
Kemungkinan yang menjadi faktor predesposisi adalah:
Infeksi
Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput
ketuban maupun asenden dari vagina atau infeksi pada
cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD.
Servik yang inkompetensia, kanalis sevikalis yang
selalu terbuka oleh karena kelainan pada servik uteri
(akibat persalinan, curetage).
Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat
secara berlebihan (overdistensi uterus) misalnya
trauma, hidramnion, gemelli. Trauma oleh beberapa
ahli disepakati sebagai faktor predisisi atau penyebab
terjadinya KPD.
Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual,
pemeriksaan dalam, maupun amnosintesis
menyebabakan terjadinya KPD karena biasanya
disertai infeksi.
Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada
bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul
(PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap
membran bagian bawah.
Keadaan sosial ekonomi.
PATOGENESIS2,4
Taylor dkk. telah menyelidiki hal ini, ternyata ada
hubungannya dengan hal-hal berikut :
Adanya hipermotilitas rahim yang sudah lama. Adanya
hipermotilitas rahim yang sudah lama terjadi sebelum
ketuban pecah. Penyakit-penyakit seperti pielonefritissistitis, servisitis dan vaginitis terdapat bersama-sama
dengan hipermotilitas rahim ini.

o Selaput ketuban terlalu tipis (kelainan ketuban)


o Infeksi (amnionitis atau korioamnionitis)
o Faktor-faktor lain yang merupakan predisposisi
ialah: multipara, malposisi, disproporsi, cerviks
inkompeten dan lain-lain.
o Ketuban pecah dini artifisial (amniotomi), dimana
ketuban dipecahkan terlalu dini.
Kadang-kadang agak sulit atau meragukan kita apakah
ketuban sudah benar pecah atau belum, apalagi bila
pembukaan kanalis servikalis belum ada atau kecil. Cara
menentukannya adalah dengan :
1.
Memeriksa adanya cairan yang berisi mekonium,
verniks kaseosa, rambut lanugo, atau bila telah
terinfeksi jadi berbau.
2.
Inspekulo: lihat dan perhatikan apakah memang
air ketuban keluar dari kanalis servikalis dan apakah
ada bagian yang sudah pecah.
3.
Gunakan kertas lakmus (litmus) : Bila menjadi biru
(basa) air ketuban. Bila menjadi merah (asam)
air kemih (urin)
4.
Pemeriksaan pH forniks posterior pada PROM pH
adalah basa (air ketuban).
5.
Pemeriksaan histopatologi air ketuban.
6.
Aborization dan sitologi air ketuban
PROM berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinan.
Jarak antara pecahnya ketuban dan permulaan dari
persalinan disebut periode laten = LP = lag period. Makin
muda umur kehamilan makin memanjang LP nya.
Sedangkan lamanya persalinan lebih pendek dari biasa,
yaitu pada primi 10 jam dan multi 6 jam.
Faktor risiko ketuban pecah dini / persalinan
preterm :
1.
Kehamilan multipel : kembar dua (50%), kembar
tiga (90%)
2.
Riwayat persalinan preterm sebelumnya : risiko 2
4x

3.
Tindakan sanggama : TIDAK berpengaruh kepada
risiko, KECUALI jika higiene buruk, predisposisi
terhadap infeksi
4.
Perdarahan pervaginam : trimester pertama (risiko
2x), trimester kedua/ketiga (20x)
5.
Bakteriuria : risiko 2x (prevalensi 7%)
6.
pH vagina di atas 4.5 : risiko 32% (vs. 16%)
7.
Servix tipis / kurang dari 39 mm : risiko 25% (vs.
7%)
8.
Flora vagina abnormal : risiko 2-3x
9.
Fibronectin > 50 ng/ml : risiko 83% (vs. 19%)
Kadar CRH (corticotropin releasing hormone) maternal
tinggi misalnya pada stress psikologis, dsb, dapat menjadi
stimulasi persalinan preterm (4,5,6,7)
DIAGNOSA1,3,5
Menegakkan diagnosa KPD secara tepat sangat penting.
Karena diagnosa yang positif palsu berarti melakukan
intervensi seperti melahirkan bayi terlalu awal atau
melakukan seksio yang sebetulnya tidak ada indikasinya.
Sebaliknya diagnosa yang negatif palsu berarti akan
membiarkan ibu dan janin mempunyai resiko infeksi yang
akan mengancam kehidupan janin, ibu atau keduanya.
Oleh karena itu diperlukan diagnosa yang cepat dan tepat.
Diagnosa KPD ditegakkan dengan cara :
Anamnesa
Penderita merasa basah pada vagina, atau mengeluarkan
cairan yang banyak secara tiba-tiba dari jalan lahir. Cairan
berbau khas, dan perlu juga diperhatikan warna keluarnya
cairan tersebut, his belum teratur atau belum ada, dan
belum ada pengeluaran lendir darah.
Inspeksi
Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya
cairan dari vagina, bila ketuban baru pecah dan jumlah air
ketuban masih banyak, pemeriksaan ini akan lebih jelas.
Pemeriksaan dengan spekulum.
Pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak
keluar cairan dari orifisium uteri eksternum (OUE), kalau

belum juga tampak keluar, fundus uteri ditekan, penderita


diminta batuk, mengejan atau mengadakan manuver
valsava, atau bagian terendah digoyangkan, akan tampak
keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada fornik
anterior.
Pemeriksaan dalam
Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah
tidak ada lagi. Mengenai pemeriksaan dalam vagina
dengan tocher perlu dipertimbangkan, pada kehamilan
yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak
perlu diadakan pemeriksaan dalam. Karena pada waktu
pemeriksaan dalam, jari pemeriksa akan mengakumulasi
segmen bawah rahim dengan flora vagina yang normal.
Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi
patogen. Pemeriksaan dalam vagina hanya dilakukan kalau
KPD sudah dalam persalinan atau yang dilakukan induksi
persalinan dan dibatasi sesedikit mungkin.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna,
konsentrasi, bau dan pH nya. Cairan yang keluar dari
vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga urine atau
sekret vagina. Sekret vagina ibu hamil pH : 4-5, dengan
kertas nitrazin tidak berubah warna, tetap kuning.
Tes Lakmus (tes Nitrazin), jika kertas lakmus merah
berubah menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban
(alkalis). pH air ketuban 7 7,5, darah dan infeksi vagina
dapat menghasilkan tes yang positif palsu.
Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban
pada gelas objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan
mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.
Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan
ketuban dalam kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat
jumlah cairan ketuban yang sedikit. Namun sering terjadi
kesalahan pada penderita oligohidromnion.
Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup banyak macam
dan caranya, namun pada umumnya KPD sudah bisa

terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan


sederhana.
PENATALAKSANAAN1,3,5
Ketuban pecah dini termasuk dalam kehamilan beresiko
tinggi. Kesalahan dalam mengelola KPD akan membawa
akibat meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas ibu
maupun bayinya.
Penatalaksaan KPD masih dilema bagi sebagian besar ahli
kebidanan, selama ada beberapa masalah yang masih
belum terjawab. Kasus KPD yang cukup bulan, kalaupun
segera mengakhiri kehamilan akan menaikkan insidensi
bedah sesar, dan kalau menunggu persalinan spontan akan
menaikkan insidensi chorioamnionitis. Kasus KPD yang
kurang bulan jika menempuh cara-cara aktif harus
dipastikan bahwa tidak akan terjadi RDS, dan kalau
menempuh cara konservatif dengan maksud untuk
memberi waktu pematangan paru, harus bisa memantau
keadaan janin dan infeksi yang akan memperjelek
prognosis janin.
Penatalaksanaan KPD tergantung pada umur kehamilan.
Kalau umur kehamilan tidak diketahui secara pasti segera
dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk
mengetahui umur kehamilan dan letak janin. Resiko yang
lebih sering pada KPD dengan janin kurang bulan adalah
RDS dibandingkan dengan sepsis. Oleh karena itu pada
kehamilan kurang bulan perlu evaluasi hati-hati untuk
menentukan waktu yang optimal untuk persalinan. Pada
umur kehamilan 34 minggu atau lebih biasanya paru-paru
sudah matang, chorioamnionitis yang diikuti dengan sepsis
pada janin merupakan sebab utama meningginya
morbiditas dan mortalitas janin. Pada kehamilan cukup
bulan, infeksi janin langsung berhubungan dengan lama
pecahnya selaput ketuban atau lamanya periode laten.
Kebanyakan penulis sepakat mengambil 2 faktor yang
harus dipertimbangkan dalam mengambil sikap atau
tindakan terhadap penderita KPD yaitu umur kehamilan
dan ada tidaknya tanda-tanda infeksi pada ibu.

A. Penatalaksanaan KPD pada kehamilan aterm (>


37 Minggu)
Beberapa penelitian menyebutkan lama periode laten dan
durasi KPD keduanya mempunyai hubungan yang
bermakna dengan peningkatan kejadian infeksi dan
komplikasi lain dari KPD. Jarak antara pecahnya ketuban
dan permulaan dari persalinan disebut periode latent = LP
= lag period. Makin muda umur kehamilan makin
memanjang LP-nya.
Pada hakekatnya kulit ketuban yang pecah akan
menginduksi persalinan dengan sendirinya. Sekitar 70-80
% kehamilan genap bulan akan melahirkan dalam waktu
24 jam setelah kulit ketuban pecah, bila dalam 24 jam
setelah kulit ketuban pecah belum ada tanda-tanda
persalinan maka dilakukan induksi persalinan, dan bila
gagal dilakukan bedah caesar.
Pemberian antibiotik profilaksis dapat menurunkan infeksi
pada ibu. Walaupun antibiotik tidak berfaedah terhadap
janin dalam uterus namun pencegahan terhadap
chorioamninitis lebih penting dari pada pengobatannya
sehingga pemberian antibiotik profilaksis perlu dilakukan.
Waktu pemberian antibiotik hendaknya diberikan segera
setelah diagnosis KPD ditegakkan dengan pertimbangan :
tujuan profilaksis, lebih dari 6 jam kemungkinan infeksi
telah terjadi, proses persalinan umumnya berlangsung
lebih dari 6 jam.
Beberapa penulis menyarankan bersikap aktif (induksi
persalinan) segera diberikan atau ditunggu sampai 6-8 jam
dengan alasan penderita akan menjadi inpartu dengan
sendirinya. Dengan mempersingkat periode laten durasi
KPD dapat diperpendek sehingga resiko infeksi dan trauma
obstetrik karena partus tindakan dapat dikurangi.
Pelaksanaan induksi persalinan perlu pengawasan yang
sangat ketat terhadap keadaan janin, ibu dan jalannya
proses persalinan yang berhubungan dengan
komplikasinya. Pengawasan yang kurang baik dapat
menimbulkan komplikasi yang fatal bagi bayi dan ibunya
(his terlalu kuat) atau proses persalinan menjadi semakin

berkepanjangan (his kurang kuat). Induksi dilakukan


dengan memperhatikan Bishop score, jika > 5 induksi
dapat dilakukan, sebaliknya jika < 5, dilakukan
pematangan serviks, jika tidak berhasil akhiri persalinan
dengan seksio sesaria.
B. Penatalaksanaan KPD pada kehamilan preterm (<
37 minggu)
Pada kasus-kasus KPD dengan umur kehamilan yang
kurang bulan tidak dijumpai tanda-tanda infeksi
pengelolaannya bersifat konservatif disertai pemberian
antibiotik yang adekuat sebagai profilaksis.
Penderita perlu dirawat di rumah sakit, ditidurkan dalam
posisi trendelenberg, tidak perlu dilakukan pemeriksaan
dalam untuk mencegah terjadinya infeksi dan kehamilan
diusahakan bisa mencapai 37 minggu, obat-obatan
uteronelaksen atau tocolitic agent diberikan juga bertujuan
menunda proses persalinan.
Tujuan dari pengelolaan konservatif dengan pemberian
kortikosteroid pada penderita KPD kehamilan kurang bulan
adalah agar tercapainya pematangan paru, jika selama
menunggu atau melakukan pengelolaan konservatif
tersebut muncul tanda-tanda infeksi, maka segera
dilakukan induksi persalinan tanpa memandang umur
kehamilan.
Induksi persalinan sebagai usaha agar persalinan mulai
berlangsung dengan jalan merangsang timbulnya his
ternyata dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi yang
kadang-kadang tidak ringan. Komplikasi-komplikasi yang
dapat terjadi: gawat janin sampai matinya janin, tetani
uteri, ruptura uteri, emboli air ketuban, dan juga mungkin
terjadi intoksikasi.
Kegagalan dari induksi persalinan biasanya diselesaikan
dengan tindakan bedah sesar. Seperti halnya pada
pengelolaan KPD yang cukup bulan, tindakan bedah sesar
hendaknya dikerjakan bukan semata-mata karena infeksi
intrauterin tetapi seyogyanya ada indikasi obstetrik yang
lain, misalnya kelainan letak, gawat janin, partus tak maju,
dll.

Selain komplikasi-kompilkasi yang dapat terjadi akibat


tindakan aktif. Ternyata pengelolaan konservatif juga dapat
menyebabkan komplikasi yang berbahaya, maka perlu
dilakukan pengawasan yang ketat. Sehingga dikatakan
pengelolaan konservatif adalah menunggu dengan penuh
kewaspadaan terhadap kemungkinan infeksi intrauterin.
Sikap konservatif meliputi pemeriksaan leukosit darah tepi
setiap hari, pemeriksaan tanda-tanda vital terutama
temperatur setiap 4 jam, pengawasan denyut jantung
janin, pemberian antibiotik mulai saat diagnosis
ditegakkan dan selanjutnya setiap 6 jam.
Pemberian kortikosteroid antenatal pada preterm KPD
telah dilaporkan secara pasti dapat menurunkan kejadian
RDS. The National Institutes of Health(NIH) telah
merekomendasikan penggunaan kortikosteroid pada
preterm KPD pada kehamilan 30-32 minggu yang tidak
ada infeksi intramanion. Sediaan terdiri atas Betametason
2 dosis masing-masing 12 mg i.m tiap 24 jam atau
Dexametason 4 dosis masing-masing 6 mg tiap 12 jam.
KOMPLIKASI 5
1.
Infeksi intrauterin
2.
Tali pusat menumbung
3.
Prematuritas
4.
Distosia (partus kering)
referensi