Anda di halaman 1dari 10

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR

DINAS KESEHATAN
UPT RUMAH SAKIT PARU SURABAYA
Jl. KarangTembok No.39 Surabaya Telp.(031) 371 38 36 Fax (031) 372 88 90 Surabaya

KEPUTUSAN
KEPALA UPT. RUMAH SAKIT PARU SURABAYA
Nomor :

TENTANG
PENETAPAN DOKTER PENANGGUNGJAWAB PELAYANAN (DPJP) DI RUMAH
SAKIT PARU SURABAYA

KEPALA UPT. RUMAH SAKIT PARU SURABAYA

Menimbang

. Bahwa kredensial dan rekredensial tenaga


kesehatan lainnya
merupakan proses
untuk menentukan
dan
mempertahankan
kompetensi tenaga
kesehatan.
a. Bahwa proses kredensial merupakan salah
satu cara profesi tenaga kesehatan
mempertahankan standar praktik dan
akuntabilitas
persiapan
pendidikan
anggotanya.
b. Bahwa
untuk
menentukan
dan
mempertahankan kompetensi tenaga tenaga
kesehatan di Rumah Sakit Paru Surabaya,
maka perlu dilakukan kredensial dan
rekredensial
dengan
mengacu
pada
panduan kredensial dan rekredensial yang
sudah ditetapkan.
c. Bahwa untuk maksud tersebut diatas maka
perlu ditetapkan Panduan kredensial dan
rekredensial tenaga kesehatan di Rumah

Sakit Paru Surabaya dengan Keputusan


Kepala Rumah Sakit Paru Surabaya

Mengingat

1. Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004


tentang Praktik Kedokteran;
2. Undang-undang RI Nomor 36 Tahun
2009 tentang Kesehatan;
3. Undang-undang RI Nomor 44 Tahun
2009 tentang RumahSakit;
4. Undang Undang nomor 23 tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah;
5. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor
1438/MENKES/PER/IX/2010

tentang

Standar Pelayanan Kedokteran;


6. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor
1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang
Keselamatan pasien Rumah Sakit;
7. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor
755/MENKES/PER/IV/2011
Penyelenggaraan

Komite

tentang
Medik

Di

Rumah Sakit;
8. Peraturan Gubenur Jawa Timur Nomor
32 Tahun 2015 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Unit Pelaksana Tehnis Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
Memperhatikan

Panduan Pelaksanaan Dokter Penanggung


Jawab

Pelayanan

(DPJP)

dan

Case

Manager, Komisi Akreditasi Rumah Sakit


(KARS) tahun 2015.

MEMUTUSKAN
Menetapkan

Kesatu

KEPUTUSAN KEPALA UPT. RUMAH SAKIT


PARU SURABAYA TENTANG PENETAPAN
DOKTER
PENANGGUNGJAWAB
PELAYANAN (DPJP) DI RUMAH SAKIT
PARU SURABAYA
Menunjuk dokter spesialis di Rumah Sakit
Paru

Surabaya

yang

tercantum

dalam

Lampiran I Keputusan ini sebagai Dokter


PenanggungJawab

Pelayanan

(DPJP)

DPJP Utama.
Menunjuk dokter di Rumah Sakit Paru

Kedua

Surabaya yang tercantum dalam Lampiran


II

Keputusan

ini

sebagai

Dokter

PenanggungJawab Pelayanan (DPJP) pada


pemberi
Kedua

asuhan

medis

awal

atau

penanganan gawat darurat.


Tugas DPJP dan pola operasional diuraikan
dalam buku pedoman yang terlampir , antara
lain (1) Melaksanakan Asuhan Medis lengkap;
(2) Menjadi ketua tim klinis (Clinical Leader),
mengintegrasikan asuhan pasien; (3) Memberi
edukasi /

Ketiga

informasi kepada pasien

dan

keluarganya.
Keputusan ini berlaku sejak tanggal di
tetapkan, apabila ada dikemudian hari
terdapat kekeliruan pada surat keputusan
ini,

akan

di

lakukan

perbaikan

sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di
Pada tanggal

:
:

Surabaya
Kepala UPT. RumahSakit Paru

Surabaya

drg. F. Henry Christyanto, M. Kes


Pembina Tk. I
NIP. 19621023 199003 1 004

Lampiran I

Keputusan Kepala UPT. Rumah Sakit Paru Surabaya

Nomor
Tanggal
Tentang

I.

:
:
:

KREDENSIAL DAN REKREDENSIAL TENAGA KESEHATAN


DI RUMAH SAKIT PARU SURABAYA

PENDAHULUAN
Salat satu upaya rumah sakit dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya untuk
menjaga keselamatan pasien adalah dengan menjaga standar profesi dan kompetensi
para staf kesehatannya yang melakukan tindakan kesehatan terhadap pasien. Walaupun
seseorang telah memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan-tindakan yang
berhubungan dengan kesehatan, hal itu harus dibuktikan lagi dengan pemeriksaan
kembali kompetensi seseorang tersebut dalam melakukan tindakan kesehatan dan
tindakan-tindakan yang berhubungan dengan spesialisasi tersebut.
Proses pembuktian tersebut berpengaruh terhadap pengakuan profesi yang diberikan
kepada individu, yang mempunyai otoritas atau dianggap kompeten dalam melakukan
suatu tindakan tersebut, dan hal itu akan tercakup dalam proses kredensial.

II.

TUJUAN KREDENSIAL DAN REKREDENSIAL


Proses kredensial dan rekredensial sangat penting dilaksanakan oleh rumah sakit dengan
tujuan sebagai berikut:
1. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan
2. Menetapkan standar pelayanan
3. Menilai boleh tidaknya praktik
4. Menentukan dan mempertahankan kompetensi
5. Membatasi pemberian kewenangan melaksanakan praktik hanya untuk yang

kompeten
6. Melidungi pasien serta staf kesehatan yang bersangkutan, atas tindakan yang dilakukan.
III.

KEBIJAKAN KREDENSIAL DAN REKREDENSIAL


Kredensial dan rekredensial tenaga kesehatan dilaksanakan oleh Komite Medis, Komite
Keperawatan atau Komite Tenaga Kesehatan Lainnya.
Kredensial dan rekredensial
tenaga kesehatan berlaku untuk semua petugas tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah
sakit paru Surabaya. selain tenaga medis dan keperawatan yang bersertifikasi yaitu petuga
Hasil kredensial tenaga kesehatan lain dibuktikan dengan pemberian

penugasan klinis (Clinical Assignment) dari d i r e k t u r


kesehatan terkait.

kepada petugas tenaga

Primary Source Verification


Seluruh tenaga kesehatan, perawat dan tenaga kesehatan, dalam pelaksanaan
proses kredensial dan rekredensial akan diawali dengan proses verifikasi keabsahan
ijasah/lulusannya.
IV.

PROSEDUR KREDENSIAL DAN REKREDENSIAL


1. Koordinator Instalasi Penunjang Medis memberikan usulan daftar nama petugas

tenaga kesehatan yang akan dilakukan kredensial dan rekredensial kepada Asisten
Manager Pelayanan Medis dan Penunjang.
2. Asisten Manager Pelayanan Medis dan Penunjang memberikan usulan daftar nama
petugas tenaga kesehatan yang akan dilakukan kredensial dan rekredensial kepada
Manager Pelayanan untuk ditumbuskan kepada Direktur.
3. Direktur membentuk Tim Kredensial dan Rekredensial Tenaga Kesehatan Lain.
4. Tim Kredensial dan Rekredensial Tenaga Kesehatan lain melakukan proses

kredensial dan rekredensial terhadap


petugas tenaga kesehatan lain yang
bersangkutan.
5. Tim Kredensial dan Rekredensial Tenaga Kesehatan Lain menyerahkan hasil
kredensial dan rekredensial kepada direktur sebagai rekomendasi untuk penerbitan
surat penugasan (clinical assignment).
6. Direktur menerbitkan surat penugasan (clinical assignment) kepada petugas
tenaga kesehatan lain yang bersangkutan.
V.

PENUTUP
Demikian pedoman kredensial dan rekredensial ini dibuat untuk menjadi acuan
dalam pelaksanaan kredensial dan rekredensial tenaga kesehatan lain dan akan
dilakukan evaluasi bila diperlukan.

Ditetapkan di
Pada tanggal

:
:

Surabaya
Kepala UPT. RumahSakit Paru
Surabaya

drg. F. Henry Christyanto, M. Kes


Pembina Tk. I
NIP. 19621023 199003 1 004

PENETUAN PEMILIHAN
DOKTER PENANGGUNG JAWAB PELAYANAN (DPJP)
DEFINISI
DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pelayanan) adalah dokter yang sesuai dengan kewenangan
klinisnya terkait penyakit pasien, memberikan asuhan medis lengkap (paket) kepada satu pasien
dengan satu patologi / penyakit dari awal sampai dengan akhir perawatan di rumah sakit, baik
pada perawatan rawat jalan maupun rawat inap di RS Paru Surabaya.
DPJP Utama adalah koordinator / clinical leader yang memimpin proses pengelolaan asuhan
medis bila pasien dikelola oleh lebih dari 1 (satu) DPJP sesuai dengan kewenangan klinisnya,
dengan tugas menjaga terlaksananya asuhan medis komprehemsif terpadu efektif, demi
keselamatan pasien melalui komunikasi efektif dengan membangun sinergisme dan mencegah
duplikasi serta mendorong penyesuaian pendapat (adjustment) antar anggota / DPJP,
mengarahkan agar tindakan masing-masing DPJP bersifat kontributif (bukan interventif).
TUJUAN
1.
2.
3.
4.

Memberikan panduan atas peranan DPJP


Menyediakan panduan untuk rumah sakit lainnya mengenai kebijakan manajemen penentuan DPJP.
Membeikan pelayanan kesehatan dengan kualitas tinggi
Melindungi pasien dari praktek yang tidak professional

KEBIJAKAN
1. Setiap dokter yang bekerja di rumah sakit yang melakukan asuhan medis, termasuk pelayanan
interpretatif harus memiliki Surat Penugasan Klinis dengan lampiran Rincian Kewenangan Klinis.
2. Setiap pasien yang mendapat asuhan medis di rumah sakit baik IGD, rawat jalan maupun rawat inap
harus memiliki DPJP.
3. Pada Instalasi Gawat Darurat, dokter gawat darurat / dokter jaga menjadi DPJP pada pemberian
asuhan medis awal / penanganan kegawatdaruratan. Apabila terdapat kegawat daruratan / masuk

rumah sakit harus dilakukan konsultasi / rujuk pada dokter spesialis, dan dokter spesialis tersebut
memberikan asuhan medis (termasuk instruksi secara lesan) maka dokter spesialis tersebut telah
menjadi DPJP pasien.
4. Penentuan DPJP harus dilakukan sejak pasien mendapat asuhan medis (baik IGD, rawat jalan
maupun rawat inap)
5. DPJP wajib membuat rencana pelayanan
6. DPJP wajib memberikan penjelasan secara jelas dan benar kepada pasien dan keluarganya tentang
rencana dan hasil pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan
terjadinya kejadian yang tidak diinginkan.
7. Apabila pasien menerima asuhan medis lebih dari satu DPJP, maka harus ditunjuk DPJP Utama dari
para DPJP pasien terkait. Kriteria penunjukan DPJP Utama untuk seorang pasien bisa menggunakan
butir-butir sebagai berikut:
a. DPJP Utama dapat merupakan DPJP yang pertama kali mengelola pasien pada awal perawatan.
b. DPJP Utama dapat merupakan DPJP yang mengelola pasien dengan penyakit dalam kondisi
(relatif) menonjol atau terparah.
c. DPJP Utama dapat ditentukan melalui kesepakatan antar para DPJP terkait.
d. DPJP Utama dapat merupakan pilihan pasien (DPJP dengan disiplin ilmu yang sama lebih dari
satu).
e. Pada pelayanan ICU maka DPJP Utama adalah intesivis/Spesialis anestesi.

Prosedur
Menentukan DPJP untuk melakukan asuhan medis pada pasien yang disesuaikan dengan kondisi
pasien
1. Hak dan Kewajiban DPJP
a. Mengelola asuhan medis perawatan pasien secara mandiri yang mengacu pada standar pelayanan
medis rumah sakit secara komprehensif mulai dari diagnose, terapi, tindak lanjut sampai
rehabilitasi
b. Melakukan konsultasi dengan disiplin ilmu lain yang dianggap perlu untuk meminta pendapat
atau perawatan bersama.
c. Membuat rencana pelayanan pasien dalam berkas rekam medis yang membuat segala aspek
asuhan medis yang akan dilakukan, termasuk konsultasi, rehabilitasi, dan lain-lain
d. Memberikan pendidikan/edukasi kepada pasien tentang kewajibannya terhadap dokter dan rumah
sakit yang dicatat dalam berkas rekam medis
e. Memberi kesempatan kepada pasien/keluarga untuk bertanya hal yang belum dimengerti
f. Menyeleksi dan mengefisienkan pengobatan yang akan diberikan
g. Menghentikan keterlibatan DPJP lain dalam perawatan bersama setelah ada lepas perawatan dari
DPJP yang lain.
2. Klarifikasi DPJP diruang rawat
Apabila dari IGD maupun rawat jalan DPJP belum ditentukan, maka petugas kesehatan ruangan
wajib segera melakukan klarifikasi tentang siapa DPJP.
3. Pola Operasional DPJP
a. Setiap pasien yang berobat di RS Paru Surabaya harus memiliki DPJP
b. Apabila pasien berobat di unit rawat jalan maka DPJP adalah dokter / dokter gigi poli tersebut
c. Apabila pasien berobat di IGD dan tidak di rawat, maka DPJP adalah dokter jaga pada IGD
d. Apabila pasien dirawat inap maka DPJP adalah dokter spesialis dengan kewenangan klinis yang
sesuai
e. Apabila pasien dirawat bersama oleh lebih dari 1 orang dokter spesialis, maka harus ditunjuk
seorang sebagai DPJP Utama.
4. Rawat Bersama

a. Seorang DPJP hanya memberikan pelayanan sesuai bidang disiplin dan kompetensinya saja. Bila
ditemukan penyakit yang memerlukan penanganan multi disiplin, maka perlu dilakukan rawat
bersama
b. DPJP awal akan melakukan konsultasi kepada dokter pada disiplin lain sesuai kebutuhan
c. Segera ditentukan siapa menjadi DPJP Utama.
d. Dalam hal rawat bersama harus ada pertemuan antara DPJP yang mengelola pasien dan
keputusan pertemuan dicatat dalam berkas rekam medis
5. Perubahan DPJP Utama
Untuk mencapai efektifitas pelayanan, DPJP utama dapat saja beralih dengan pertimbangan seperti
pada kebijakan.
Perubahan DPJP Utama ini harus dicatat dalam berkas rekam medis dan ditentukan sejak kapan
berlakunya
6. DPJP pasien rawat ICU
Apabila pasien dirawat di ICU, maka otomatis DPJP

ICU yang menjadi DPJP utama yang

berwenang mengendalikan pengelolaan pasien dengan tetap terkoordinasi dengan DPJP awal pasien
atau DPJP utama sebelumnya.
7. DPJP di ruang OK
Adalah dokter operator yang melakukan operasi dan bertanggung jawab atas seluruh kegiatan
pembedahan, sedangkan dokter anestesi sebagai DPJP tambahan. Dalam melaksanakan tugas
mengikuti SPO masing-masing, akan tetapi semua harus mengikuti Save Surgery Check List
8. Pengalihan DPJP di IGD
Pada pelayanan di IGD dalam memenuhi respons time yang cepat dan demi keselamatan
pasien, apabila konsulen jaga tidak dapat dihubungi dapat dilakukan pengalihan DPJP.
9. Koordinasi dan Transfer Informasi antar DPJP
a. Koordinasi antar DPJP tentang rencana dan pengelolaan pasien harus dilaksanakan secara
komprehensif, terpadu dan efektif serta selalu berpedoman pada standar keselamatan pasien
b. Koordinasi dan transfer dilaksanakan tertulis
c. Apabila secara tertulis dirasa belum optimal, maka harus dilakukan koordinasi langsung dengan
komunikasi pribadi
d. Koordinasi dan transfer informasi antar DPJP dalam Kelompok Staf Medis yang sama ditulis
dalam rekam medis.
e. Dalam keadaan tertentu seperti konsul diatas meja operasi, lembar konsul bisa menyusul.
f. Konsultasi dari dokter jaga IGD kepada dokter spesialis bisa dilakukan lisan pertelponan
yang kemudian ditulis dalam berkas rekam medis oleh dokter gawat darurat / dokter jaga
dan dilakukan verifikasi oleh dokter spesialis tersebut dengan cara memberikan tanda
tangan atau paraf.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2006, Manual Persetujuan Tindakan Kedokteran. Konsil Kedokteran Indonesia. Jakarta Selatan

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3495)
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4431)

Ditetapkan di
Pada tanggal

:
:

Surabaya
Kepala UPT. RumahSakit Paru
Surabaya

drg. F. Henry Christyanto, M. Kes


Pembina Tk. I
NIP. 19621023 199003 1 004