Anda di halaman 1dari 5

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Rongga mulut merupakan tempat hidup bakteri aerob dan anaerob. Organisme organisme
ini merupakan flora normal dalam mulut yang terdapat dalam plak gigi, cairan sulkus
gingiva, mucus membrane, dorsum lidah, saliva dan mukosa mulut.
Penyakit gigi merupakan jenis penyakit diurutkan pertama yang dikeluhkan masyarakat.
Berdasarkan hasil survei dinas kesehatan tahun 2001, penyakit gigi dikeluhkan 60 persen
penduduk Indonesia. Selain itu tanpa disadari keluhan penyakit gigi juga berdampak
merosotnya produktivitas penderita, kebanyakan berhenti beraktivitas antara 2,5 hari sampai
5 hari. Lubang pada gigi meruoakan tempat jutaan bakteri. Jika bakteri masuk ke dalam
pembuluh darah bisa menyebar ke organ tubuh lainnya dan menimbulakn infeksi, seperti
masalah pernafasan, otak dan jantung.
Fokal infeksi merupakan pusat atau suatu daerah di dalam tubuh, dimana kuman atau basil
basil dari kuman tersebut dapat menyebar jauh ke tempat lin dalam tubuh dan dapat
menyebabkan penyakit, sumber infeksi dan salah satu organ tubuh berasal dari gigi, salah
satu penjalaran kuman dari pusat infeksi sampai ke organ tubuh tersebut, dibawa melalui
aliran darah atau lymphe atau dapat pula secara kontaminasi.
Menurut W.D Miller (1890) seluruh bagian dari sistem tubuh yang utama telah menjadi target
utama dari infeksi yang berasal dari mulut, terutama bagian pulpa dan periodontal.
Organisme yang berasal dari mulut tersebut dapat menyebar ke darrah sinus (termasuk sinus
daerah kranial), saraf pusat dan perifer, sister kardiovaskuler, mediastinum, paru paru dan
mata. Penyebaran infeksi dari fokus primer ke tempat lain dapat berlangsung melalui
beberapa cara, yaitu transmisi melalui sirkulasi darah (hematogen), transmisi melalui aliran
limfatik (limfogen), perluasan infeksi dalam jaringan, dan penyebaran dari traktus
gastrointestinal dan pernapasan akibat tertelannya atau teraspirasinya materi infektif.
PEMBAHASAN
Rongga mulut dihuni oleh berbagai jenis mikroorganisme yang membentuk mikroflora yang
komensal. Mikroflora ini biasanya mengandung bakteri, mikoplasma, jamur, dan protozoa,
yang kesemuanya dapat menimbulkan infeksi oportunistik simtomatik tergantung pada
faktor-faktor lokal atau daya pertahanan tubuh pejamu yang rendah. Sebagai tambahan,

sejumlah virus dapat menimbulkan lesi orofasial atau hadir secara asimtomatis di dalam
saliva pada saat timbulnya infeksi virus secara sistemik atau pada pembawa yang sehat.
Lesi merupakan diskontinuitas jaringan patologis atau traumatik atau hilangnya fungsi suatu
bagian. Dalam rongga mulut terdapat bermacam-macam lesi baik itu pada bibir, lidah,
maupun pada mukosa mulut. Gambaran klinis akan dihubungkan dengan riwayat penyakit
sehingga dapat ditelusuri diagnosis penyakit. Berdasarkan terjadinya, lesi terbagi menjadi dua
yaitu, lesi primer dan lesi sekunder. Erosi, fissur, ulkus dan bekas luka menunjukkan adanya
kerusakan lokal pada jaringan kutan. Erosi didefinisikan sebagai pelepasan lapisan epidermis
saja. Erosi sembuh tanpa adanya pembentukan bekas luka. Ulkus didefinisikan sebagai
keadaan hilangnya lapisan epidermis dan adanya kerusakan pada dermis. Ulkus yang berada
pada lapisan kutan masih bisa sembuh tanpa meninggalkan bekas luka. Bekas luka (scars)
adalah kerusakan permanen pada permukaan kulit yang terlihat ( Regezi and Sciubba, 1993).
Mikroorganisme terdiri dari bakteri, virus, jamur dan lain-lain. Didalam rongga mulut
manusia terdapat banyak mikroorganisme baik flora normal maupun yang patogen. Menurut
Miller dan Cottone yang dikutip oleh Ghahramanloo, setetes saliva mengandung 50.000
bakteri yang berpotensi patogen dan bakteri patogen ini dapat dengan mudah menyebar
melalui bahan cetak, terutama bahan cetak alginat yang menjadi tempat berkumpul bakteri
lebih banyak dibanding bahan cetak lainnya. Kondisi rongga mulut yang berhubungan
langsung dengan saluran nafas bagian atas dan rongga hidung (nasal cavity) memungkinkan
mikroorganisme dari organ tersebut dapat masuk ke rongga mulut dengan penetrasi maupun
kontaminasi lewat dahak (sputum) dan bercampur dengan saliva. Hasil cetakan mengandung
mikroba dalam jumlah yang sangat banyak, di antaranya streptococci (100%), staphylococci
(65.4%) dan P.aeruginosa (7.7%) yang semuanya telah diketahui bersifat patogen,
mengakibatkan nosokomial dan merupakan infeksi yang mengancam nyawa bagi orang yang
mempunyai sistem imunitas yang rendah.
Mikroorganisme dari mulut pasien dapat menyebar ke dokter gigi yang merawatnya baik
melalui kontak langsung atau tidak langsung, inhalasi, atau dengan inokulasi. Dokter gigi
menghadapi resiko tinggi terkena infeksi terutama melalui jarum suntik dan kecelakaan dari
benda tajam yang terkontaminasi lainnya. Pada saat ini, tindakan pencegahan universal yang
dilakukan seperti evaluasi pasien, perlindungan diri, sterilisasi instrument, asepsis dan
desinfeksi permukaan, penggunaan alat sekali pakai dan pembuangan sampah medis teryata
efektif terhadap pencegahan infeksi silang selama melakukan perawatan pada pasien.

Prosedur kontrol infeksi silang direkomendasikan harus cukup baik untuk melindungi dokter
gigi, pasien dan perawat.
Infeksi silang jarang menyebar dari dokter gigi kepada pasien, tetapi hal ini dapat saja terjadi
jika prosedur pencegahan yang tepat tidak diikuti. Langkah-langkah yang direkomendasikan
untuk pencegahan infeksi silang dalam kedokteran gigi berasal dari epidemi AIDS. Dalam
banyak studi kohort transmisi saliva HIV tidak terbukti sedangkan transmisi darah penderita
HIV tidak mungkin terjadi dalam jumlah kecil kecuali dalam jumlah besar yang dapat
menyebabkan infeksi silang. Terdapat laporan bahwa enam pasien di Florida telah terinfeksi
HIV dari seorang dokter gigi di prakteknya saat melakukan perawatan. Selain itu, tidak ada
kasus lain yang terdokumentasi tentang penularan infeksi dari dokter gigi ke pasien
Pencegahan yang dapat dilakukan dalam menjaga kesehatan rongga mulut :
1.

Menjaga Kebersihan Mulut

Kebersihan mulut yang baik diperlukan untuk meminimalisir agen Penyebab penyakit mulut
dan membuang plak gigi. Plak tersebut mengandungbakteri. Kariesdapat dicegah dengan
pembersihan dan pemeriksaan gigi teratur. Salah satu caramenjaga kebersihan mulut yaitu
dengan menyikat gigi secara teratur, kumur-kumur memakai alat semprot dimana sisa
makanan setelah sikat gigi dan pemakaian benanggigi dapat dihilangkan dengan kumurkumur yang kuat, yaitu dengan caramenghisap-hisap cairan tersebut di antara gigi dan
mulut dengan gerakan otot-ototbibir lidah dan pipi di mana gigi dalam keadaan tertutup 30
detik.
2.

Pengaturan Makanan

Untuk kesehatan gigi, pengaturan konsumsi gula perlu diperhatikan. Gulayang tersisa pada
mulut dapat memproduksi asam oleh bakteri. Pengonsumsianpermen karetdengan xylitol
dapat

melindungi

gigi.

Efek

ini

mungkin

disebabkan

ketidakmampuan

bakteri

memetabolisme xylitol . Riset terkini menegaskan, kebiasaanmengunyah permen karet


dengan pemanis xylitol sangat efektif mencegah kerusakangigi. Xylitol mampu menghambat
pertumbuhan Streptococcus mutans saat mengubahgula dan karbohidrat lain menjadi asam.
Hal ini dapat dilakukannya mengingat xylitol tidak dapat difermentasikan oleh bakteri
tersebut. Oleh karena itu, pertumbuhanStreptococcus mutans menjadi demikian terhambat.
3.

Terapi Fluorida

Terapi fluorida dapat menjadi pilihan untuk mencegah karies. Cara ini telah terbukti
menurunkan kasus karies gigi. Fluorida dapat membuat enamel resistenterhadap karies.
Fluorida sering ditambahkan pada pasta gigi dan cairan pembersih mulut.
4.

Mencucui tangan dengan 7 langkah yang benar menurut WHO

Cuci tangan 7 langkah merupakan cara membersihkan tangan sesuai prosedur yang benar
untuk membunuh kuman penyebab penyakit. Dengan mencuci tangan anda pakai sabun baik
sebelum makan atau pun sebelum memulai pekerjaan, akan menjaga kesehatan tubuh anda
dan mencegah penyebaran penyakit melalui kuman yang menempel di tangan.
Cara Cuci Tangan 7 Langkah Pakai Sabun Yang Baik dan Benar
1. Basahi kedua telapak tangan setinggi pertengahan lengan memakai air yang mengalir,
2.
3.
4.
5.
6.
7.

ambil sabun kemudian usap dan gosok kedua telapak tangan secara lembut
Usap dan gosok juga kedua punggung tangan secara bergantian
Jangan lupa jari-jari tangan, gosok sela-sela jari hingga bersih
Bersihkan ujung jari secara bergantian dengan mengatupkan
Gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian
Letakkan ujung jari ke telapak tangan kemudian gosok perlahan
Bersihkan kedua pergelangan tangan secara bergantian dengan cara memutar

Daftar Pustaka :
Santoso. O, Retnonengrum. D, Aditya. SR. W. 2009. Hubungan Kebersihan Mulut dan
Gingivitis Ibu Hamil. Jakarta : Media Medika Indonesia.
Anita S., Liliwati. Pengaruh frekuensi menyikat gigi terhadap tingkat kebersihan gigi dan
mulut siswa-siswi sekolah dasar negeri di KecamatanPalaran Kotamadya Samarinda Propinsi
Kalimantan Timur .Dentika Dent J2005; 10(1): 22.
Situmorang N. Dampak karies gigi dan penyakit periodontal terhadapkualitas hidup. Pidato
pengukuhan jabatan guru besar tetap USU 2005 :3-4
Riyanti

E. Pengenalan

dan perawatan kesehatan gigi anak sejak dini. Seminar sehari

kesehatan psikologi anak,2005


Octiara E., Rosnawi Y. Karies gigi, oral higiene dan kebiasaan membersihkan gigi pada
anak-anak panti Karya Pungai di Binjai .DentikaDental J 2001;6(1):18-23.

Department of Education Republic of the Philippines. Promoting oral healthin public


elementary schools. DepEd ORDER No.73,19 September 2007.