Anda di halaman 1dari 8

Sekolah berlabel internasional

Sejenak mari kita belokkan perhatian. Alih-alih pelengkap


keasyikan bergosip infotainment atau gemerlap acara
pencarian bakat.
Lima tahun sudah diselenggarakan rintisan sekolah bertaraf
internasional (RSBI) jenjang dasar dan menengah, umum dan
kejuruan. Sudah diperoleh sejumlah sekolah bertaraf
internasional (SBI), sudah pula ada yang didrop dari status
RSBI ke status sekolah reguler
Benar kritik RSBI menciptakan kastanisasi sekolah. Benar
harapan agar RSBI tidak dijadikan merek dagang menjual
sekolah. Kritik dan harapan sebaiknya tidak dianggap sepi,
tidak digolongkan ekses. Membiarkan berarti menaruh pupuk
berkembangnya benih kecurigaan.
Rencana evaluasi RSBI hendaknya tidak selesai dengan
membereskan ekses. Tidak hanya menyangkut penarikan
dana dan kriteria penilaian, tetapi juga maksud dasar
kebijakan RSBI. Setiap era selalu ada eksperimen,
diantaranya yang serba unggul dengan beragam nama, sepeti
sekokah unggulan, pembangunan atau teladan, dan sekarang
bertaraf internasional.
Era globalisasi menjadi batu sendi dan memicu kebijakan
RSBI salah satu cirinya bahasa pengantar bahasa Inggris.
Muaranya hasil lulusan dan praktik pendidikan setaraf
internasional. Syarat terpenting perbaikan pra sarana dan
sarana belajar, termasuk faktor guru.

Ujung-ujungnya duit. Perlu dropping dana khusus, seperti


tahun 2008-2010 setiap SMP berstatus RSBI Rp300juta
per tahun dan setiap SMA RSBI Rp300 juta-Rp600 juta.
Begitu RSBI dinyatakan SBI, dana dihentikan. Sekolah
dianggap sudah memenuhi empat kriteria: infrastruktur,
guru, kurikulum, dan manajemen.

Sekolah ibarat barang dagangan seiring dengan


pemberlakuan standar tunggal manajemen ISO. Dengan
standar itu, tanpa disadari, bukan juga ekses, tercipta
kastanisasi sekolah seperti yang dikritik kolumnis
Darmaningtyas, mulai dari yang internasional hingga
pinggiranbersaing dengan swasta internasional yang makin
bertebaran di kota besar atas nama usaha bisnis.

Kita tidak ingin terjebak dalam pola eksperimen masa lalu.


Pembukaan UUD 45 mengamanatkan mencerdaskan bangsa.
Mencerdaskan bangsa bukan untuk segelintir wargayang
berkemampuan finansialmelainkan untuk sebanyak mungkin
warga bangsa. Kita dukung kebijakan mengatasi masalah
distribusi guru. Sekadar contoh, meskipun tidak mudah,
kemudahan mutasi guru antarprovinsi setidaknya merupakan
terobosan, mengingat 68 persen sekolah di perkotaan
kelebihan guru dan 66 persen sekolah di daerah terpencil
kekurangan guru.

Kenyataan hampir 65 tahun merdeka, tetapi masih jutaan


anak bersekolah di bawah cibiran kandang ayam, tentu
lebih perlu prioritas daripada membangun sekolah unggulan
bertaraf internasional. Sekalian mencegah, jangan sampai
bertaraf internasional menjadi sekadar bertarif
internasional!

Teks Editorial atau tajuk rencana, yakni artikel pokok dalam


surat kabar yang merupakan pandangan redaksi dari media
yang bersangkutan terhadap suatu peristiwa yang menjadi
sorotan. Dalam tajuk penegasan pentingnya masalah, opini
redaksi, tentang masalah tersebut, kritik, penilaian, dan
saran atas permasalahaan, dan harapan redaksi akan peran
serta pembaca

Karakteristik umum dari teks editorial adalah


1. Berisi fakta-fakta tentang peristiwa ataupun
permasalahan aktual.
2. Berisi opini redaksi tentang peristiwa yang menjadi
sorotan, baik berupa kritik, penilaian, harapan , maupun
saran-saran.
3. Terkandung sudut pandang subjektif redaksi media
yang bersangkutan terhadap suatu permasalahan,
mungkin berupa sikap pro, netral, ataupun kontra
Dengan demikian, berdasarkan isi ataupun tujuannya,
editorial termasuk jenis teks argumentatif seperti halnya
eksposisi, ulasan, dan teks-teks sejenis diskusi.
Didalamnya terkandung sejumlah argumentasi penulisnya
yang berkenaan dengan persoaalan tertentu. Sebagai teks
yang bersifat argumentatif, struktur umum dari editorial
dibentuk oleh bagian-bagian berikut .
a. Pengenalan isu ,sebagai pendahuluan teks, yakni berupa
sorotan peristiwa yang mengandung suatu persoalan

aktual.Dalam contoh, peristiwa yang dimaksud adalah


penyelenggaraan sekolah bertaraf internasional
b. Penyampaian argumen-argumen sebagai pembahasan,
yakni berupa tanggapan-tanggapan redaktur dari media
yang bersangkutan berkenaan dengan peristiwa, kejadian,
atau persoalan aktual. Dalam teks tersebut penyampaian
argumentasi dinyatakan dalam paragraf ke-3 sampai
paragraf ke-8. Didalam ulasannya, redaksi berharap agar
RSBI tidak dijadikan merek dagang untuk menjual
sekolah. Kritik dan harapan sebaiknya tidak dianggap sepi,
tidak digolongkan ekses. Membiarkan berarti menaruh
pupuk berkembangnya benih kecurigaan. Rencana evaluasi
RSBI hendaknya tidak selesai dengan membereskan
ekses.Tidak hanya menyangkut penarikan dana dan
kriteria penilaian, tetapi juga masuk dasar kebijakan
RSBI. Redaksi juga berharap adanya perbaikan pada
prasarana dan sarana belajar termasuk faktor guru.
c.Kesimpulan, saran, atau rekomendasi sebagai penutup,
berupa pernyataan dalam menyelesaikan persoalan yang
dikemukakan sebelumnya. Dalam teks itu, bagian penutup
redaktur dinyatakan pada pargraf ke-9. Bagian yang
dimaksud berupa saran termasuk kekhawatiran, yakni
perlunya skala prioritas dalam pengelolaan pendidikan
daripada pemerintah disibukkan dengan membangun sekolah
unggulan bertaraf internasional yang dikhawatirkan yang
kemudian terjadi adalah bukannya sekolah bertaraf
internasioanal, tetapi bertarif internasional

Kaidah teks editorial


Adapun kaidah teks editorial dari segi kebahasaan dari segi
kebahasaan memiliki karakteristik sebagai berikut.
a. Banyak mengunakan kata-kata populer. Hal ini sesuai
dengan karakteristik media itu sendiri, yaitu ditujukan
pada khalayak dari berbagai latar belakang bahasa yang
diharapkan kata-kata tersebut menjadi lebih akrab
dikalangan pembacanya. Kata-kata populer dimaksud
antara lain adalah gemerlap, geger, keasyikan, bergosip,
di-drop, droping, cibiran, dan duit.
b. Banyak menggunakan kata yang merujuk pada waktu,
tempat, peristiwa, atau hal lainnya yang menjadi fokus
ulasan.
Contoh:
1. Lima tahun sudah diselenggarakan rintisan sekolah
bertaraf internasional (RSBI) jenjang dasar dan
menengah, umum dan kejuruan (rusukan waktu).
2. Rencana evaluasi RSBI hendaknya tidak selesai dengan
membereskan ekses (rujukan peristiwa).
3. Era globalisasi menjadi batu sendi dan pemicu kebijakan
RSBI (rujukan peristiwa).
4. Kenyataan hampir 65 tahun merdeka, tetapi masih
jutaan anak bersekolah dibawah cibiran kandang ayam,
tentu lebih perlu prioritas dari pada membangun sekolah
unggulan bertaraf internasional (rujukan waktu).

c. Banyak menggunakan unggapan-unggapan persuasif. Hal


ini terkait dengan isi editorial itu sendiri yang pada
umumnya bertujuan memengaruhi khayalak dengan
sejumlah argumentasi.
Contoh:
1. Sejenak mari kita belokkan perhatian.
2. Kritik dan harapan sebaiknya tidak dianggap sepi,
tidak digolongkan ekses.
3. Rencana evaluasi RSBI hendaknya tidak selesai
dengan membereskan ekses.
4. Kita dukung kebijakan mengatasi masalah distribusi
guru.
5. Kenyataan hampir 65 tahun merdeka tetapi masih
jutaan anak bersekolah dibawah cibiran kandang ayam,
tentu lebih perlu prioritas dari pada membangun
sekolah unggulan bertaraf internasional.
d. Banyak menggunakan pernyataan-pernyataan
pertentangan, yakni ditandai dengan penggunaan
konjungsi tetapi, melainkan, dan meskipun. Hal ini
terkait dengan topik-topik editorial itu sendiri yang
pada mumnya bersifat pro dan kontra.
1) Tidak hanya menyangkut penarikan dana dan kriteria
penilaian, tetapi jugaa maksud dasar kebijakan RSBI.
2) Mencerdaskan bangsa bukan untuk segelintur warga yang
berkemampuan finansial melainkan untuk sebanyak mungkin
warna bangsa

3) Sekadar contoh, meskipun tidak mudah, kemudahan


mutasi guru antarprovinsi setidaknya merupakan terobosan,
mengingat 68 persen sekolah di perkotaan kelebihan guru
dan 66 persen sekolah di daerah terpencil kekurangan guru.

e. Menggunakan kata ganti kita untuk melibatkan pembaca


langsung pada topik yang dibahasnya.
Contoh:
1)
2)
3)

Sejenak mari kita belokkan perhatian,


Kita tidak ingin terjebak dalam pola eksperimen masa
lalu
Kita dukung kebijakan mengatasi masalah distribusi
guru.

Anda mungkin juga menyukai