Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum Penentuan Kadar Oksigen Terlarut adalah :
1. Menganalisa kadar oksigen terlarut dalam sampel.
2. Memahami analisis kadar Oksigen Terlarut dengan menggunakan metode
Winkler.

1.2.

Landasan Teori
1.2.1. Pengaruh Buangan Limbah Rumah Tangga Terhadap
Kualitas Air di Danau Mawang
Pendahuluan
Air merupakan media transpor dari berbagai komponen
organisme dan bahan-bahan kimia termasuk limbah domestik
(kotoran dapur, sisa makanan, greywater, kontainer-kontainer plastik
bekas dan bahan-bahan lainnya sehingga menjadi masalah
lingkungan yang umum terjadi dan. Permasalahan kualitas air
tersebut menyebabkan menurunnya, produktivitas, daya dukung dan
daya tampung dari sumber daya air termask perairan danau.
Danau Mawang merupakan salah satu danau yang berlokasi di
Kabupaten Gowa yang terbentuk secara buatan. Saat ini kondisi
Danau Mawang diduga mulai tercemar perairannya oleh limbah

domestik buangan rumah tangga berupa greywater, sampah


biodegradable/ nondegradable dan lain-lain sehingga berpengaruh
pada kualitas air di Danau Mawang tersebut.
Maka berdasarkan fakta tersebut, terkait banyaknya fungsi
danau seperti sumber air baku, sarana pariwista, dan lain-lain, maka
menimbulkan ide bagi peneliti untuk mengadakan penelitian di
Danau Mawang sehingga diketahui tingkat pencemaran yang
terjadi sebagai upaya mewujudkan kemanfaatan sumber daya air
yang berkelanjutan untuk kemakmuran masyarakat dengan judul
Pengaruh Buangan Limbah Rumah Tangga terhadap Kualitas
Air di Danau Mawang.
Tinjauan Pustaka
Air merupakan sumber daya alam yang memiliki fungsi
sangat penting bagi kehidupan dan perikehidupan manusia
(Kementerian Negara Lingkungan Hidup, 2010). Air diperlukan
untuk memajukan kesejahteraan umum, sehingga menjadi roda
penggerak sekaligus modal dasar dalam faktor utama pembangunan.
Oleh karenanya, sumber daya air harus tetap dilindungi
kelestariannya agar tetap bermanfaat dengan baik bagi manusia dan
makhluk hidup lainnya.
Air Danau
Mutu air merupakan kondisi dimana kualitas air yang diuji
atau diukur berdasarkan parameter-parameter tertentu dengan
menggunakan metode tertentu sesuai peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Sedangkan standar kualitas air atau baku mutu air
merupakan ukuran batas atau kadar zat, makhluk hidup, energi atau
komponen yang ada di dalam air. Adapun status mutu air adalah
tingkat kondisi mutu air yang menunjukkan kondisi cemar atau

kondisi baik pada suatu sumber air dalam waktu tertentu dengan
membandingkan dengan baku mutu air yang telah ditentukan.
Berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air dan Pergub Sulsel
No. 69 Tahun 2010 tentang baku mutu dan kriteria kerusakan
lingkungan hidup, klasifikasi mutu air dapat digolongkan ke dalam
empat kelas yaitu:
a. Kelas I, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air
baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan
mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;
b. Kelas II, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk
prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar,
peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan
lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan keperluan
tersebut;
c. Kelas III, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk
pembudidayaan air tawar, peternakan, air untuk mengairi
pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan
air yang sama dengan kegunaan tersebut;
d. Kelas IV, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk
mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang
mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Air Limbah Buangan Rumah Tangga
Sumber utama limbah rumah tangga merupakan semua
barang buangan yang berasal dari rumah tangga, baik yang
berasal dari kamar mandi, kakus, dapur, tempat cuci pakaian, cuci

peralatan rumah tangga, apotik, rumah sakit, dan lain-lain. Pada


umumnya, sumber buangan tersebut mengalir diatas permukaan
tanah atau di sepanjang saluran drainase alami yang pada akhirnya
akan bermuara ke badan air terdekat.
Indikator Pencemaran Perairan
Indikator yang digunakan untuk menunjukkan terjadinya
pencemaran di lingkungan perairan pada penelitian ini, dapat
ditandai dengan melakukan pengamatan, diantaranya:
1) Pengamatan secara fisik, yaitu pengamatan pencemaran air
berdasarkan tingkat perubahan suhu, TSS dan TDS.
a) Suhu
Suhu yang ada dalam suatu perairan mempengaruhi
jumlah oksigen terlarut yang ada didalam air, dimana oksigen ini
dibutuhkan oleh organisme yang hidup didalam air.
Suhu perairan dapat mengalami perubahan sesuai dengan
musim, letak geografis suatu wilayah, sirkulasi udara, penutupan
awan, ketinggian dari permukaan laut, waktu pengukuran,
kedalaman badan air dan lain-lain.
b) Total Padatan Tersuspensi (Total Suspended Solid, TSS)
dan Total Padatan Terlarut (Total Dissolved Solid, TDS)
TSS dan TDS pada daerah permukiman, pada umumnya
kekeruhan yang terjadi diperairan disebabkan oleh buangan
penduduk seperti dari sisa makanan dan buah, sisa kertas, dan
sisa kain bekas yang akan menjadi bahan tersuspensi. Sementara
itu, penyebab utama terjadinya TDS adalah bahan anorganik
berupa ion-ion yang umum dijumpai di perairan. Sebagai contoh

air buangan sering mengandung molekul sabun, deterjen dan


surfaktan yang larut air, misalnya pada air buangan rumah
tangga
2) Pengamatan secara kimiawi, yaitu pengamatan pencemaran air
berdasarkan zat kimia yang terlarut dan indikator kimia yang
digunakan.
a) pH
Nilai pH (Potensial of Hydrogen) menggambarkan derajat
asiditas dan alkalinitas dari suatu larutan, terutama sebagai
indikator kualitas air. Selain itu, nilai pH mencirikan
keseimbangan antara asam dan basa dalam air tersebut.
b) NH3
NH3 berasal dari hasil penguraian protein oleh organisme
pembusuk yang berasal dari makhluk hidup, seperti tumbuhan
dan hewan yang telah mati. Selain itu, juga dapat berasal
dari nitrogen yang berada dalam kotoran dan air seni serta
limbah yang berasal dari buangan limbah domestik.

c) DO
Sumber oksigen terlarut berasal dari adanya arus atau
aliran air, baik melalui air hujan, difusi oksigen, serta aktivitas
fotosintesis oleh tumbuhan air.

d) BOD
Pengukuran parameter BOD didasarkan pada kemampuan
mikroorganisme untuk menguraikan senyawa organik, yang
berarti bahwa hanya senyawa yang mudah diuraikan secara
biologi saja (limbah domestik rumah tangga) yang akan
mengalami proses penguraian. Sementara untuk senyawa kimia
kompleks lainnya akan sangat sulit bahkan tidak bisa diuraikan
oleh mikroorganisme.
e) COD
Pengujian parameter COD dilakukan sebab terkadang
masih banyaknya zat organik yang tidak mengalami penguraian
secara biologis secara cepat berdasarkan pengujian BOD lima
hari yang dilakukan, akan tetapi senyawa- senyawa organik
tersebut cenderung tetap menurunkan kualitas perairan yang ada.
f) Total Fosfor
Bentuk utama dari fosfor dalam limbah cair domestic
adalah fosfor organik, ortho phosfat.
g) Nitrat
Senyawa nitrat ini berasal dari proses oksidasi
sempurna senyawa nitrogen di perairan dan bersifat mudah larut
serta stabil.
Secara alami kadar nitrat biasanya rendah, namun apabila
kadarnya berlebihan, maka dapat menyebabkan permasalahan
pencemaran lingkungan yang dapat dipengaruhi dari buangan
yang berasal dari limbah domestik, dan lain-lain.

Status Mutu Air Danau


Status mutu air adalah kondisi mutu air yang
menunjukkan kondisi cemar atau kondisi baik pada suatu
sumber air dalam waktu tertentu dengan membandingkan
terhadap baku mutu air yang ditetapkan.
Cara yang digunakan untuk melakukan penilaian
terhadap status mutu air yang bersifat temporal atau suatu
waktu, diantaranya ialah metode yang disajikan dalam
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 115 Tahun
2003, tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air, yaitu
dengan Metoda Indeks Pencemaran (PI); dan dengan
menggunakan metode Water Quality Index-Development Of
Environtment Malaysia (WQI-DOE Malaysia).
a. Metode Indeks Pencemaran (PI)
Merupakan metode penentuan status mutu air yang
digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran relatif
terhadap parameter kualitas air yang diizinkan. Adapun nilai
Indeks Pencemar tersebut dapat ditentukan dengan cara:
1) pilih parameter-parameter yang jika harga parameter rendah
maka kualitas air akan membaik;
2) pilih konsentrasi parameter baku mutu yang tidak memiliki
rentang;

3) hitung harga (Ci/Lij) untuk setiap parameter pada setiap


lokasi pengambilan sampel;
4) a. jika nilai konsentrasi parameter yang menurun
menyatakan bahwa tingkat pencemaran meningkat, misal
DO, tentukan nilai teoritik atau nilai maksimum Cim (misal
untuk DO, maka Cim merupakan nilai DO jenuh). Dalam
kasus ini nilai (Ci/Lij)) hasil pengukuran digantikan oleh
nilai (Ci/Lij) hasil perhitungan, yaitu:

Ci
Cim Cimhasil pengukuran
baru=
..(1)
Lij
CimLij

( )

b. jika nilai baku mutu Lij memiliki rentang

Untuk Ci Lij rata-rata, maka digunakan persamaan :

[Ci ( Lij ) ratarata ] (2)


Ci
baru=
Lij
[ ( Lij ) minimum ( Lij ) ratarata ]

( )

Untuk Ci > Lij rata-rata, maka digunakan persamaan :

[ Ci ( Lij ) ratarata ]
Ci
baru=
(3)
Lij
[ ( Lij ) maksimum ( Lij ) ratarata ]

( )

c. jika terdapat dua nilai (Ci/Lij) yang berdekatan dengan nilai


acuan 1,0, misal (C1/L1j) = 0,9 dan (C2/L2j) = 1,1 atau
perbedaan yang sangat besar, misal (C3/L3j) = 5,0 dan
(C4/L4j) = 10,0. Dalam contoh ini tingkat kerusakan

badan air sulit ditentukan. Cara untuk mengatasi kesulitan


ini adalah:
a) Penggunaan nilai (Ci/Lij)hasil pengukuran kalau nilai ini lebih
kecil dari 1,0.
b) Penggunaan nilai (Ci/Lij)baru jika nilai (Ci/Lij)hasil
pengukuran lebih

besar dari 1,0. (Ci/Lij)baru

1,0

P.log (Ci/Lij)hasil pengukuran


P adalah konstanta yang nilainya ditentukan dengan
bebas dan disesuaikan dengan hasil pengamatan
lingkungan dan atau persyaratan yang dikehendaki
untuk suatu peruntukan (biasanya digunakan nilai 5).
5) tentukan nilai rata-rata dan nilai maksimum dari keseluruhan
(Ci/Lij), ((Ci/Lij)R dan (Ci/Lij)M).
6) tentukan harga PIj

Ci/(Lij)

Ci/(Lij)

2
R

PIj=

Tabel 2.1 Klasifikasi Evaluasi Kondisi Badan Air terhadap


Nilai PIj dengan Metode PI

Nilai Indeks Pencemaran

Kondisi

0 PIj 1

Memenuhi Baku

b. Metode WQI-DOE (Water Quality Index-Development of


Environment) Malaysia
Merupakan metode penentuan status mutu air
internasional yang telah disesuaikan dengan kondisi Negara
Malaysia melalui beberapa penyesuaian sesuai dengan
karakteristik lingkungan dan klimatologi negaranya, Metode ini
cukup banyak digunakan oleh para peneliti yang ada di
Indonesia karena Negara Malaysia memiliki karakteristik
lingkungan, iklim, dan lainnya yang hampir sama dengan
Indonesia.
Metode ini menyederhanakan perhitungan stasus mutu
air hanya dengan mengukur 6 (enam) paramater yaitu BOD,
COD, DO, amonia, TSS, dan pH yang dianggap menyebabkan
dampak perubahan habitat akibat polutan, tercemarnya air tanah
biomagnifikasi, bioakumulasi, dan perubahan ekosistem.
Selanjutnya secara berurut, keenam parameter tersebut
dikonversi ke nilai-nilai subindeks masing-masing SIBOD,

10

SICOD, SIDO, SIAN, SISS, dan SIPH dengan menggunakan


persamaan yang sesuai dengan kadar hasil sampling.
Hasil dari WQI-DOE tersebut selanjutnya akan
ditentukan indeksnya berdasarkan Tabel 2.2 berikut.
Tabel 2.2_ Kelas Kelayakan Air berdasarkan WQI-DOE
Malaysiaz

Param

Bersi

eter

Sedikit

Metodologi Penelitian
Diagram Alir Konsep Penelitian
Secara sederhana, diagram alir konsep penelitian ini dapat
dilihat pada Gambar 3.1.

11

Gambar 3.1_ Diagram Alir Penelitian


Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian evaluatif terhadap
kualitas air Danau (Embung) Mawang yang diduga tercemar oleh
limbah domestik buangan rumah tangga yang berasal dari
permukiman penduduk disekitar Danau.
Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengamatan
secara fisik dan kimia terhadap sampel air yang diuji. Selanjutnya
akan dianalisa untuk ditentukan status mutu airnya mengingat
kecenderungan pencemaran pada saat ini terjadi secara terusmenerus.
Lokasi Penelitian
Pengambilan sampel penelitian dan pengukuran parameter
secara in situ dilakukan di Danau Mawang Kelurahan Mawang

12

Kecamatan Somba Opu dan Kelurahan Romanglompoa Kecamatan


Bonto Marannu Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan.

Waktu Penelitian
Pengambilan sampel air Danau (Embung) Mawang untuk
pemeriksaan kualitas air dilakukan pada saat musim penghujan
tanggal 17 Februari 2016 pukul 07.30 WITA sampai selesai.
Sementara itu untuk pengujian sampel air dilakukan di
Laboratorium Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini ialah keseluruhan air Danau
Mawang di wilayah Kelurahan Mawang dan Kelurahan
Romanglompoa Kabupaten Gowa. Adapun sampel dalam penelitian
ini merupakan stasiun pengambilan sampel air yang dilakukan di lima
titik pengamatan yang dianggap representatif.
Variabel Penelitian
Adapun variabel penelitian yang digunakan diantaranya:

Suhu
TSS (Total Suspended Solids)
TDS (Total Dissolved Solids)
pH
Amoniak (NH3)
DO (Dissolved Oxygen)
BOD (Biological Oxygen Demand)
COD (Chemical Oxygen Demand)
Total Fosfor
Nitrat (NO3-)

13

Metode Pengambilan Sampel


Teknik Pengambilan sampel air Danau Mawang mengacu
pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 6989.57:2008 tentang Air dan
Air Limbah Bagian 57 tentang metoda pengambilan contoh air
permukaan , dimana metode penentuan titik sampel yang dapat
digunakan ialah menggunakan metode sampling purposive, dimana
tata cara pemilihan lokasi pengambilan titik sampel air berdasarkan
adanya beberapa pertimbangan yang dilakukan oleh peneliti.
Adapun penentuan letak stasiun pengamatan dilakukan
dengan menggunakan GPS (Global Positioning System) jenis
GPSmap 421s tipe Garmin.
Titik koordinat dari lokasi pengambilan sampel air Danau
Mawang dari setiap stasiun dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut.
Tabel 3.1_ Titik Koordinat Lokasi Pengambilan Sampel Air

Koordinat Stasiun
Lokasi
Stasiun

Garis

Garis Bujur

Keterangan

Lintang

Stasiun
1

Stasiun
2

S 5 12 58,4

S 5 13 12,6

14

E 1190 290

Sisi utara, dekat

35,70

pondok nelayan

E 1190 290
54,20

Tengah danau

Stasiun
3
Stasiun

S 5 13 23,4

S 50 130 28,20

E 1190 300

Sisi timur, dekat

06,60

jalan beton

E 1190 300

Sisi selatan, saluran


outlet rumah tangga

01,40

ke danau (inlet
limbah domestik)

Stasiun
5

S 50 130 00,10

E 1190 290
31,50

Sebelah barat,
saluran outlet danu
ke sawah

Pengambilan Sampel Air Danau


Metode pengambilan sampel air danau dilakukan dengan
menggunakan metode grab sampling, dimana sampel air diambil
secara langsung pada suatu waktu dari tempat tertentu (badan air)
dengan tingkat ketelitian sampling relatif yang mempunyai bias
cukup besar dan hanya menggambarkan kondisi waktu saat sampel
diambil saja.
Adapun prosedur teknis mengenai tatacara pengambilan
sampel air yaitu mengacu pada SNI 6989.57: 2008 tentang Air dan
air limbah bagian 57 metode pengambilan contoh air permukaan.
Pada proses pengambilan sampel air, digunakan alat point
sampler tipe horisontal untuk mengambil contoh air pada kedalaman
tertentu pada danau yang relatif dalam.

15

Pengawetan Sampel
Cara pengawetan sampel dan penimpanan contoh uji air
sebagaimana Tabel 3.2 berikut.
Tabel 3.2_ Cara Pengawetan Sampel dan Penyimpanan
Contoh Uji Air

Analisa

Tempat

Keperluan

Pengawetan

Batas Penyimpanan

Suhu

Segera dianalisis

pH

P,G

Segera dianalisis

2 jam

DO

G, botol

Segera

48 jam

300

KOB

COD

P,G

Tambahkan

100

48 hari

H2SO4 sampai
ph < 2,
Untuk fosfat
T-Fosfat

G (A)

100

Terlarut

48 jam

disaring;Segera
Nitrat

P,G

dinginkan
Tambahkan

100

H2SO4 sampai
ph <

Hasil dan Pembahasan


Hasil Pengujian Sampel

16

48 jam

Tabel 4.1_ Data Hasil Analisis Pengujian Kualitas Air Danau


Mawang

Paramet Satua
er

Hasil

Peraturan Gubernur

= Tidak memenuhi baku mutu sesuai golongan yang dipersyaratkan


Sumber : Laboratorium Produktifitas dan Kualitas Perairan Fakultas Ilmu
Perikanan dan Kelautan
Universitas Hasanuddin, 2016

Penentuan Status Mutu Air


Penentuan status mutu air pada penelitian ini didasarkan pada
nilai metode Indeks Pencemaran (PI) dan Metode WQI-DOE (Water
Quality Index-Department of Environment). Adapun baku mutu air

17

yang digunakan untuk metode PI adalah mengacu pada lampiran


Peraturan Pemerintah No. 82
Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemar Air. Berdasarkan hasil analisis pengujian
kualitas air dengan menggunakan metode Indeks Pencemaran dengan
melihat standar baku mutu air kelas 3 sesuai Peraturan Pemerintah
No. 82 Tahun 2001, maka diperoleh nilai indeks pencemaran ratarata yang terjadi di Danau Mawang ialah 0,793 dengan kondisi
Memenuhi Baku Mutu (kondisi baik).
Sementara itu, hasil analisis pengujian kualitas air dengan
menggunakan metode WQI-DOE Malaysia, diperoleh nilai 87,33
dengan kisaran indeks bersih
Berdasarkan penggunaan metode penentuan status mutu air
diatas, dapat dilihat bahwa kondisi Danau Mawang masih dalam
kondisi yang baik meskipun diduga telah tercemar akibat adanya
buangan limbah rumah tangga yang berada di beberapa titik di sekitar
Danau Mawang. Hal tersebut diduga disebabkan adanya sifat danau
untuk menetralisisr atau memperbaiki kondisi diri sendiri (self
purification) ketika pencemaran lingkungan terjadi atau dengan kata
lain daya dukung lingkungan masih dalam kondisi.

1.2.2. Oksigen Terlarut

18

Oksigen terlarut di suatu perairan sangat berperan dalam


proses penyerapan makanan oleh makhluk hidup dalam air. Kondisi
hipoksik yang berlangsung terus-menerus sangat jarang terjadi
dilapangan, tetapi penurunan kejenuhan oksigen pada saat-saat
tertentu secara umum dapat terjadi. Oksigen terlarut (Dissolved
Oxygen = DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan,
proses metabolism atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan
energy untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen
juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik
dalam proses aerobik.
DO merupakan salah satu komponen utama proses
metabolisme organism perairan. Beberapa faktor yang menyebabkan
rendahnya DO didalam air limbah adalah suhu air, tekanan parsial
oksigen diatmosfer dan kandungan garam. Kenaikan suhu air,
peningkatan ion-ion terlarut dan kandungan SS serta kekeruhan yang
tinggi mempengaruhi penurunan kelarutan oksigen.

1.2.3. Analisis Oksigen Terlarut


Oksigen terlarut dapat dianalisis atau ditentukan dengan 2
macam cara, yaitu :
a. Metoda titrasi dengan cara WINKLER
b. Metoda elektrokimia

1.2.4. Metode Winkler


Metode titrasi dengan cara Winkler secara umum banyak
digunakan untuk menentukan kadar oksigen terlarut. Prinsipnya
dengan menggunakan titrasi iodometri. Sampel yang akan dianalisis

19

terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl2 dan NaOH KI, sehingga


akan terjadi endapan MnO. Dengan menambahkan H2SO4 akan HCl
maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan akan juga
membebaskan molekul iodium yang ekivalen dengan oksigen terlarut.
Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan
standar natrium tiosulfat dengan menggunakan indikator kanji.

1.2.5. Kelebihan dan Kelemahan Metode Winkler


Penentuan oksigen terlarut (DO) dengan cara titrasi
berdasarkan metoda WINKLER lebih analitis apabila dibandingkan
dengan cara alat DO meter. Hal yang perlu diperhatikan dalam titrasi
iodometri ialah penentuan titik akhir titrasinya, standarisasi larutan
tiosulfat dan pembuatan larutan standar kaliumbikromat yang
tepat.Dengan mengikuti prosedur penimbangan kaliumbikromat dan
standarisasi tiosulfat secara analitis, akan diperoleh hasil penentuan
oksigen terlarut yang lebih akurat. Sedangkan penentuan oksigen
terlarut dengan H+ 24 cara DO meter, harus diperhatikan suhu dan
salinitas sampel yang akan diperiksa. Peranan suhu dan salinitas ini
sangat vital terhadap akurasi penentuan oksigen terlarut dengan cara
DO meter. Disamping itu, sebagaimana lazimnya alat yang digital,
peranan kalibrasi alat sangat menentukan akurasinya hasil penentuan.
Berdasarkan pengalaman di lapangan, penentuan oksigen terlarut
dengan cara titrasi lebih dianjurkan untuk mendapatkan hasil yang
lebih akurat. Alat DO meter masih dianjurkan jika sifat penentuannya
hanya bersifat kisaran.
Kelemahan Metode Winkler dalam menganalisis oksigen
terlarut (DO) adalah dimana dengan cara WINKLER penambahan
indikator amylum harus dilakukan pada saat mendekati titik akhir
titrasi agar amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan

20

amilum sukar bereaksi untuk kembali ke senyawa semula. Proses


titrasi harus dilakukan sesegera mungkin, hal ini disebabkan karena I2
mudah menguap. Dan ada yang harus diperhatikan dari titrasi
iodometri yang biasa dapat menjadi kesalahan pada titrasi iodometri
yaitu penguapan I2, oksidasi udara dan adsorpsi I2 oleh endapan.
1.2.6. Penanggulangan Kelebihan/Kekurangan Kadar DO
Cara untuk menanggulangi jika kelebihan kadar oksigen
terlarut adalah dengan cara :
1. Menaikkan suhu/temperatur air, dimana jika temperatur naik maka
kadar oksigen terlarut akan menurun.
2. Menambah kedalaman air, dimana semakin dalam air tersebut
maka semakin kadar oksigen terlarut akan menurun karena proses
fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen digunakan
untuk pernapasan dan oksidasi bahan bahan organik dan
anorganik.
Cara untuk menanggulangi jika kekurangan kadar oksigen
terlarut adalah dengan cara :
1. Menurunkan suhu/temperatur air, dimana jika temperatur turun
maka kadar oksigen terlarut akan naik.
2. Mengurangi kedalaman air, dimana semakin dalam air tersebut
maka semakin kadar oksigen terlarut akan naik karena proses
fotosintesis semakin meningkat.
3. Mengurangi bahan bahan organik dalam air, karena jika banyak
terdapat bahan organik dalam air maka kadar oksigen terlarutnya
rendah.

21

4. Diusahakan agar air tersebut mengalir.

BAB II
ALAT DAN BAHAN

2.1. Alat
1. Tabung Winkler 100,2 ml
2. Tabung Winkler 101,2 ml
3. Buret 100 ml
4. Statif
5. Beaker Glass 250 ml
6. Corong
7. Bola Hisap
8. Pipet ukur 5 ml
9. Pipet Volume 2 ml
10. Pipet Volume 25 ml
11. Pipet Tetes
12. Batang Pengaduk

1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah

2.2. Bahan
1. Air Mineral Merk Aqua
2. Air Mineral Merk Club
3. Aquadest
4. Larutan MnSO4
5. Larutan Alkali-Azida
6. Larutan H2SO4 (p)
7. Larutan Indikator Amilum
8. Larutan Na2S2O3 0,025 N
9. Tissu

101,2 ml
100,2 ml
secukupnya
2 ml
2 ml
2 ml
secukupnya
secukupnya
secukupnya

22

BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1.

Prosedur Kerja Pembuatan Reagen pada Penentuan Kadar DO


1.
H2SO4 (p).
2.
Aquadest.
3.
MnSO4
Timbang 240 gr MnSO4, kemudian larutkan menjadi 500 ml dengan
4.

aquadest dalam labu ukur 500 ml.


Alkali-Azida-Iodida
Timbang 350 gram KOH, 75 gram KI, NaN3 10 gram, kemudian
dilarutkan menjadi 500 ml dan disimpan dalam botol poly etylen dan

tempat gelap.
5. Tio 0,025 N
Timbang 6,205 gram tio sulfat, kemudian tambahkan 2 gram Na 2CO3
anhydrat yang sudah ditimbang dengan neraca analitis. Kemudian
dilarutkan menjadi 1 liter dengan aquadest dan tambahkan 10 ml amil
alkohol, aduk sempurna, biarkan selama 2 hari, setelah itu distandarisasi.
6. Indikator Amylum
Timbang 10 gram amylum, larutkan menjadi 100 ml dengan aquadest,
kemudian panaskan sambil aduk, jangan sampai mendidih. Simpan
dalam botol.
3.2.

Prosedur Kerja Penentuan Kadar Oksigen Terlarut.


1.
Sampel (air mineral merk Aqua, air mineral merk Club) dimasukkan
kedalam botol Winkler sesuai dengan volumenya yaitu berturut-turut
101,2 ml dan 100,2 ml, diisi dengan penuh dan ditutup.

23

2.

Tutup botol Winkler dibuka. Kedalamnya ditambahkan MnSO4


sebanyak 2 ml dengan menggunakan pipet volume 2 ml. Perubahan

3.

yang terjadi dicatat.


Kemudian kedalam masing-masing botol ditambahkan larutan Alkali
Azida sebanyak 2 ml, dan diaduk hingga homogen. Perubahan yang

4.

5.

6.

terjadi dicatat. Larutan kemudian didiamkan hingga 15 menit.


Larutan bening yang berada dibagian atas dipipet sebanyak 25 ml
menggunakan pipet volume 25 ml dan dibuang.
Endapan cokelat yang tertinggal kemudian ditambahkan larutan H2SO4 (p)
sebanyak 2 ml dan diaduk. Perubahan yang terjadi dicatat.
Larutan yang terbentuk kemudian dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,025
N hingga berubah warna dari larutan orange menjadi larutan kuning

7.

8.

muda.
Setelah berubah warna, larutan kuning muda tersebut ditambahkan
Indikator Amilum secukupnya sampai warna larutan menjadi biru gelap.
Kemudian dititrasi kembali dengan larutan Na2S2O3 0,025 N hingga
berubah warna dari biru gelap menjadi larutan beling Banyaknya
Na2S2O3 0,025 N yang dipakai dicatat.

24

BAB IV
GAMBAR RANGKAIAN

4.1. Gambar Alat

Botol Winkler

Corong

Beaker glass 250 ml

25

Buret 100 ml

Pipet Ukur 5 ml

Pipet volume 25 ml

Bola Hisap

Statif

4.2. Gambar Rangkaian

26

Pipet tetes

Pipet Volume 2 ml

4.3.

Keterangan Gambar Rangkaian


a. Botol Winkler
: berfungsi sebagai wadah sampel.
b. Buret
: berfungsi sebagai tempat peniter.
c. Statip
: berfungsi sebagai penyangga buret.

27

BAB V
DATA PENGAMATAN

5.1. Tabel Data Pengamatan DO


Volume
N
o
1
2

Sampel

Aqua
Club

Botol
Winkler

Volume
MnSO4

(ml)
101,2
100,2

Volume
AlkaliAzida

(ml)

(ml)
2
2

2
2

Volume

Ind.

H2SO4

Amilum

(ml)

(ml)

2
2

Secukupnya
secukupnya

5.2. Pengamatan DO
Sampel air mineral merk Aqua dan Club
Sampel + MnSO4

larutan bening + gel

(Larutan bening + gel) + Alkali-azida-iodida

endapan cokelat
larutan bening
(dibuang)

Endapan cokelat + H2SO4 (p)

larutan orange

titrasi
Larutan orange

larutan kuning muda


Tio 0,025 N

28

Volume
Na2S2O3
(ml)
8,6
8,6

Larutan kuning muda + Ind. Amilum

larutan biru gelap

titrasi
Larutan orange

larutan bening
Tio 0,025 N

BAB VI
PENGOLAHAN DATA

6.1.

Perhitungan Kadar Oksigen Terlarut


1. Sampel air mineral merk Aqua :
DO =

DO =

DO =

mlTio x N Tio x 8000


mlsampel ml yangterbuang
8,6ml x0,025 N x8000
101,2ml 25ml
1720
mg/l
76,2

DO = 22,5722 mg/l
DO = 22,5722 ppm

29

2. Sampel air mineral merk Club :

mlTio x N Tio x 8000


mlsampel ml yangterbuang

DO =

8,6ml x0,025 N x8000


100,2ml 25ml

DO =

DO =

1720
mg/l
75,2

DO = 22,8723 mg/l
DO = 22,8723 ppm
6.2.

Reaksi
2H2O + MnSO4
Air Mangan Sulfat
2Mn(OH)2
+
Endapan Mangan
Hidroksida
MnO2
+
Endapan Mangan
Oksida
+

I2
Iodida

[ Mn(OH)2
Mangan
Oksida
MnSO4
Mangan
Sulfat

Mn(OH)2
+
H2SO4
Endapan Mangan Asam Sulfat
Hidroksida

O2
Oksida
2 KI-NaN3 +
Alkali Azida
Iodida

2H2O
Air

Mn(OH)2
Mangan hidroksida

2KOH
+ 2NaN3
Kalium Hidroksida
Azida
+ I2 +
Iodium

2MnO2
+ 2H2O
Endapan Mangan
Air
Oksida

2KOH +
Kalium
Hidroksida

K2SO4
+
Kalium
Sulfat

I2
+
2NaS2O3
Iodida NatriumTioSulfat

I2

2NaN3 ] + 2H2SO4
Azida
Asam Sulfat (p)

+ 2NaN3 + 4H2O
Iodida
Natrium
Air
Nitrat
Na2S4O6 + 2NaI
Natrium TioSulfat Natrium Iodin

30

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Dari sampel yang digunakan yaitu Air mineral Merk Aqua dan Air
mineral Merk Club, didapat kadar oksigen terlarut masing-masing
sampel berturut-turut adalah 22,5722 ppm dan 22,8723.
2. Penentuan kadar oksigen terlarut pada praktikum kali ini menggunakan
metode Winkler. Prinsipnya adalah menggunakan titrasi iodometri.
3. Oksigen terlarut adalah parameter dalam analisa kualitas air yang
menunjukkan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan air.
Dari ketiga sampel, yang memiliki oksigen terlarut yang paling besar
adalah sampel Air Mineral Merk Club, yaitu sebesar 22,8723 ppm.

7.2. Saran
Saat praktikum berlangsung, diharapkan agar pratikan
memperhatikan setiap perubahan yang terjadi saat ditambahkan reagen,
didiamkan dan saat dititrasi.

31

DAFTAR PUSTAKA
Birahim, Fadel Khalifah. 2016. Pengaruh Buangan Limbah Rumah Tangga
Terhadap Kualitas Air di Danau Mawang. Gowa : Universitas
Hasanuddin.

Harmayani, Kadek Diana dan I G. M. Konsukartha. 2007. Pencemaran Air Tanah


Akibat Pembuangan Limbah Domestik di Lingkungan Kumuh. Bali :
Universitas Udayana.

Komarawidjaja, Wage. 2007. Degradasi BOD dan COD Sistem Lumpur Aktif
Pengolahan Limbah Cair Tekstil. Peneliti di Pusat Teknologi Lingkungan.

Tim Penulis. 2016. Penuntun Praktikum Pengolahan Air dan Limbah Industri.
Medan : PTKI Medan.

32