Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima
kasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik
materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca. Untuk ke depannya dapat memperbaiki dalam bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih
banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Denpasar, 1 November 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

Bab II Pembahasan

2.1 Menaati Sendi-Sendi Dasar Koperasi

2.2 Tipe-Tipe Pengawasan Koperasi

2.3 Metode Pengawasan Koperasi

2.4 Manajemen Koperasi

Bab III Penutup

11

3.1 Kesimpulan

11

Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut Undang-undang No. 25/1992, koperasi adalah badan usaha yang
beranggotakan orang-perorangan atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan
kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang
berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi sebagai organisasi ekonomi yang berwatak sosial
sebagai usaha bersama berdasar asas-asas kekeluargaan dan gotong royong. Ropke
menyatakan makna koperasi dipandang dari sudut organisasi ekonomi adalah suatu organisasi
bisnis yang para pemilik/anggotanya adalah juga pelanggan utama perusahaan tersebut.
Kriteria identitas koperasi akan merupakan dalil/prinsip identitas yang membedakan unit
usaha koperasi dari unit usaha lainnya.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang kami angkat, antara lain:
1.
2.
3.
4.

Bagaimana cara mentaati sendi-sendi dasar dalam koperasi?


Apa saja tipe-tipe pengawasan koperasi?
Apa metode yang digunakan dalam pengawasan koperasi?
Bagaimana cara memanajemen koperasi?

1.3 Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk:
1.
2.
3.
4.
5.

Mengetahui cara mentaati sendi-sendi dasar dalam koperasi


Mengetahui mengenai tipe-tipe pengawasan koperasi
Mengetahui metode pengawasan yang digunakan dalam koperasi
Mengetahui cara memanajemen koperasi
Melengkapi tugas koperasi dan umkm

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Menaati Sendi-Sendi Dasar Koperasi


Dengan azas kekeluargaan telah mencerminkan adanya kesadaran dari budi hati
nurani manusia untuk mengerjakan segala sesuatu dalam Koperasi oleh semua untuk semua,
di bawah pimpinan penguru serta pemiikan dari para anggota atas dasar keadilan dan
kebenaran serta keberanian berkorban bagi kepentingan bersama.
Dengan azas kegotongroyongan berarti bahwa pada Koperasi tersebut telah terdapat
keinsyafan dan kesadaran semangat kerja sama dan tanggung jawab bersama terhadap akibat
dari karya, yang dalam hal ini bertitik berat pada kepentingan kebahagiaan bersama, ringan
sama dijinjing berat sama dipikul. Dengan demikian maka kedudukan Koperasi akan kuat
dan pelaksanaan kerjanya akan lancar karena para anggotanya dukung-mendukung dan
dengan penuh kegairahan kerja dan tanggungjawab berjuang mencapai tujuan koperasi.
Azas kekeluargaan dan kegotongroyongan itu merupakan faham yang dinamis,
artinya timbul dari semangat yang tinggi untuk secara bekerjasama dan tanggungjawab
bersama berjuang menyukseskan tercapainya segala sesuatu yang menjadi cita-cita dan tujuan
bersama dan berjuang secara manunggal untuk mengatasi/menanggulangi resiko yang
diderita koperasinya sebagai akibat usahanya untuk kepentingan bersama.
Gotong-royong merupakan sifat kepribadian bangsa kita yang asli, dan lazimnya
terdapat dalam masyarakat yang gemeinshaftlich (erat rasa persaudaraannya). Gotong royong
ini tampak pada waktu-waktu tertentu untuk tujuan tertentu, misalnya pada waktu orang
mengadakan peralatan, pembangunan rumah, semua orang di lingkungan desanya akan turut
bekerja secara bahu-membahu tanpa mengharapkan imbalan/diberi upah sedikit pun juga.
Apabila pekerjaan itu telah selesai, maka selesai pulalah gotong-royong tersebut, baik yang
dibantu maupun yang membantu masing-masing merasa puas. Adapaun kegotongroyongan
yang teratur dan terorganisasi, yang artinya kegotongroyongan ini dilakukan oleh semua
anggota demi kepentingan mereka masing-masing, tidak akan bubar/dibubarkan walau tujuan
Koperasi telah tercapai, melainkan akan terus berlangsung selama Koperasi tidak dibubarkan.
Mengenai sendi-sendi Koperasi Indonesia dapat dikatakan tidak jauh berbeda dengan
sendi dasar perkoperasian internasional, yang dikenal dengan "The Principles of Rochdale"
(diciptakan oleh para pelopor Koperasi yang pertama dan dijadikan pedoman kerja dalam
pengembangan perkoperasian). The principles of Rochdale adalah demikian mantap dan
praktis, sehingga hampir semua koperasi di dunia memanfaatkannya sebagai sendi dasar
perkoperasian atau peraturan kerjanya. Lebih-lebih setelah terbentuknya I.C.A. atau
International Cooperative Alliance, Principles of Rochdale tersebut bahkan merupakan

persyaratan bagi Badan-badan Koperasi Tingkat Nasional untuk dapat diterima menjadi
anggota I.C.A.
Dalam koperasi Indonesia, ternyata The Principles of Rochdale menjiwai pula sendisendi koperasi di negara kita, sendi-sendi dasar ini merupakan esensi dari dasar-dasar bekerja
Koperasi Indonesia sebagai organisasi ekonomi yang berwatak sosial. Dan dasar-dasar
bekerja ini merupakan ciri khas dari Koperasi dan justru karenanya dapat dibedakan antara
Koperasi dengan badan-badan ekonomi lainnya. Untuk lengkapnya sendi-sendi dasar
Koperasi Indonesia yang telah ditentukan dalam pasal 6, Bagian 4 UU no. 12 Tahun 1967,
adalah sebagai berikut :
a. Sifat keanggotaannya sukarela dan terbuka untuk setiap warga negara Indonesia.
b. Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi sebagai pencerminan demokrasi
dalam Koperasi.
c. Pembagian sisa hasil usaha diatur menurut jasa masing-masing anggota.
d. Adanya pembatasan bunga atas modal.
e. Mengembangkan kesejahteraan anggota khususnya dan masyarakat pada
umumnya.
f. Usaha dan ketatalaksanaannya bersifat terbuka.
g. Swadaya, swakerta dan swasembada sebagai pencerminan daripada prinsip dasar:
percaya pada diri sendiri.
2.2 Tipe-Tipe Pengawasan Koperasi
Dalam pengawasan terdapat beberapa tipe pengawasan. Fungsi pengawasan dapat
dibagi dalam tiga macam tipe, atas dasar fokus aktivitas pengawasan, antara lain:
a. Pengawasan Pendahuluan (preliminary control).
Prosedur-prosedur pengawasan pendahuluan mencakup semua upaya manajerial guna
memperbesar kemungkinan bahwa hasil-hasil aktual akan berdekatan hasilnya dibandingkan
dengan hasil-hasil yang direncanakan. Dipandang dari sudut prespektif demikian, maka
kebijaksanaankebijaksanaan merupakan pedoman-pedoman untuk tindakan masa mendatang.
Tetapi, walaupun demikian penting untuk membedakan tindakan menyusun kebijaksanaankebijaksanaan dan tindakan mengimplementasikannya. Merumuskan kebijakan-kebijakan
termasuk dalam fungsi perencanaan sedangkan tndakan mengimplementasi kebijaksanaan
merupakan bagian dari fungsi pengawasan. Pengawasan pendahuluan meliputi:
Pengawasan pendahuluan sumber daya manusia.
Pengawasan pendahuluan bahan-bahan.
Pengawasan pendahuluan modal
Pengawasan pendahuluan sumber-sumber daya finansial
b. Pengawasan pada saat kerja berlangsung (cocurrent control)

Concurrent control terutama terdiri dari tindakan-tindakan para supervisor yang


mengarahkan pekerjaan para bawahan mereka. Direction berhubungan dengan tindakantindakan para manajer sewaktu mereka berupaya untuk:
Mengajarkan para bawahan mereka bagaimana cara penerapan metode-metode
serta prosedur-prsedur yang tepat.
Mengawasi pekerjaan mereka agar pekerjaan dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Proses memberikan pengarahan bukan saja meliputi cara dengan apa petunjukpetunjuk dikomunikasikan tetapi ia meliputi juga sikap orang-orang yang
memberikan penyerahan.
c. Pengawasan Feed Back (feed back control)
Sifat khas dari metode-metode pengawasan feed back (umpan balik) adalah bahwa
dipusatkan perhatian pada hasil-hasil historikal, sebagai landasan untuk mengoreksi tindakantindakan masa mendatang. Adapun sejumlah metode pengawasan feed back yang banyak
dilakukan yaitu:

Analysis Laporan Keuangan (Financial Statement Analysis)


Analisis Biaya Standar (Standard Cost Analysis).
Pengawasan Kualitas (Quality Control)
Evaluasi Hasil Pekerjaan Pekerja (Employee Performance Evaluation)

2.3 Metode Pengawasan Koperasi


Secara garis besar pengawasan dapat dibagi menjadi dua, yaitu metode pengawasan
kualitatif dan metode pengawasan kuantitatif. Pengawasan kualitatif dilakukan oleh manajer
untuk menjaga performance organisasi secara keseluruhan, sikap serta performance
karyawan. Metode pengawasan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan data, biasanya
digunakan untuk mengawasi kuantitas maupun kualitas produk. Ada beberapa cara yang biasa
digunakan untuk mengadakan pengawasan kuantitatif, antara lain: dengan menggunakan
anggaran, mengadakan auditing, analisis break even, analisis rasio dan sebagainya.
2.4 Manajemen Koperasi
Manajemen

adalah

proses

perencanaan,

pengorganisasian,

pengarahan

dan

pengawasan, usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya
organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Koperasi seperti
halnya organisasi yang lain membutuhkan manajemen yang baik agar tujuan koperasi
tercapai dengan efisien.
6

Hal yang membedakan manajemen koperasi dengan manajemen umum adalah


terletak pada unsur-unsur manajemen koperasi yaitu rapat anggota, pengurus, dan pengawas.
Adapun tugas masing-masing dapat diperinci sebagai berikut :
a. Rapat

anggota

bertugas

untuk

menetapkan

anggaran

dasar,

membuat

kebijaksanaan umum, mengangkat/memberhentikan pengurus dan pengawas.


b. Pengurus koperasi bertugas memimpin koperasi dan usaha koperasi sedangkan
Pengawas tugasnya mengawasi jalannya koperasi.
c. Untuk koperasi yang unit usahanya banyak dan luas, pengurus dimungkinkan
mengangkat manajer dan karyawan. Manajer atau karyawan tidak harus anggota
koperasi dan seyogyanya memang diambil dari luar koperasi supaya
pengawasannya lebih mudah. Mereka bekerja karena ditugasi oleh pengurus,
maka mereka juga bertanggung jawab kepada pengurus.
A. Proses Perencanaan Koperasi
Perencanaan dalam Koperasi
1. Organisasi koperasi sama dengan organisasi yang lain, perlu dikelola dengan baik
agar dapat mencapai tujuan akhir seefektif mungkin.
2. Fungsi perencanaan merupakan fungsi manajemen yang sangat penting karena
merupakan dasar bagi fungsi manajemen yang lain. Agar tujuan akhir koperasi dapat
dicapai maka koperasi harus membuat rencana yang baik, dengan melalui beberapa
langkah dasar pembuatan rencana yaitu menentukan tujuan organisasi mengajukan
beberapa alternatif cara mencapai tujuan tersebut dan kemudian alternatif-alternatif
tersebut harus dikaji satu per satu baik buruknya sebelum diputuskan alternatif mana
yang dipilih
3. Tipe rencana yang dapat diambil dalam koperasi dapat bermacam-macam tergantung
pada jangka waktu dan jenjang atau tingkatan manajemen.
B. Struktur Organisasi dalam Koperasi
Sebagai pengelola koperasi, pengurus menghadapi berbagai macam masalah yang
harus diselesaikan. Masalah yang paling sulit adalah masalah yang timbul dari dalam dirinya
sendiri, yaitu berupa keterbatasan. Keterbatasan dalam hal pengetahuan paling sering terjadi,
sebab seorang pengurus harus diangkat oleh, dan dari anggota, sehingga belum tentu dia
merupakan orang yang profesional di bidang perusahaan. Dengan kemampuannya yang
terbatas, serta tingkat pendidikan yang terbatas pula, pengurus perlu mengangkat karyawan
yang bertugas membantunya dalam mengelola koperasi agar pekerjaan koperasi dapat
diselesaikan dengan baik.

Dengan masuknya berbagai pihak yang ikut membantu pengurus mengelola usaha
koperasi, semakin kompleks pula struktur organisasi koperasi tersebut. Pemilihan bentuk
struktur organisasi koperasi harus disesuaikan dengan macam usaha, volume usaha, maupun
luas pasar dari produk yang dihasilkan. Pada prinsipnya semua bentuk organisasi baik,
walaupun masing-masing mempunyai kelemahan.
C. Pengarahan
Pengarahan merupakan fungsi manajemen yang sangat penting. Sebab masing-masing
orang yang bekerja di dalam suatu organisasi mempunyai kepentingan yang berbeda-beda.
Supaya kepentingan yang berbeda-beda tersebut tidak saling bertabrakan satu sama lain,
maka pimpinan perusahaan harus dapat mengarahkannya untuk mencapai tujuan perusahaan.
Seorang karyawan dapat mempunyai prestasi kerja yang baik, apabila mempunyai
motivasi. Maka dari itu, tugas pimpinan perusahaan adalah memotivasi karyawannya agar
mereka menggunakan seluruh potensi yang ada dalam dirinya untuk mencapai hasil yang
sebaik-baiknya. Supaya manajer atau pimpinan perusahan dapat memberikan pengarahan
yang baik, pertama-tama ia harus mempunyai kemampuan untuk memimpin perusahaan dan
harus pandai mengadakan komunikasi secara vertikal.

D. Manajemen Kepegawaian
Seorang manajer kepegawaian adalah pembantu pengurus yang diserahi tugas
mengurus administrasi kepegawaian, yang mencakup:
1. mendapatkan pegawai yang mau bekerja dalam koperasi,
2. meningkatkan kemampuan kerja pegawai,
4. menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik sehingga para karyawan tersebut
tidak bosan bekerja bahkan dapat meningkatkan prestasinya,
5. melaksanakan kebijaksanaan yang dibuat pengurus, mengawasi pelaksanaannya dan
menyampaikan informasi maupun laporan kepada pengurus secara teratur,
6. memberikan saran-saran/usul-usul perbaikan.
E. Pengertian dan Tujuan Pengawasan
Pengawasan adalah suatu usaha sistematik untuk membuat semua kegiatan
perusahaan sesuai dengan rencana. Proses pengawasan dapat dilakukan dengan melalui
beberapa tahap, yaitu menetapkan standar, membandingkan kegiatan yang dilaksanakan
dengan standar yang sudah ditetapkan, mengukur penyimpangan-penyimpangan yang terjadi,
kemudian mengambil tindakan koreksi apabila diperlukan. Setiap perusahaan mengadakan

pengawasan dengan tujuan agar pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana yang sudah
ditetapkan.
F. Hubungan Kerja antara Manajer dengan Pengurus dan Pihak Lain
Dewasa ini semakin banyak koperasi yang mengangkat manajer untuk menangani
usaha koperasi dengan berbagai macam alasan. Alasan yang biasa dikemukakan adalah yang
menyangkut kemampuan pengurus. Pengurus diangkat dari anggota koperasi yang
mempunyai kemampuan terbatas di bidang manajemen perusahaan. Selain itu pengurus
mempunyai tugas yang lebih luas, yaitu memimpin koperasi secara keseluruhan, sehingga
hal-hal yang bersifat operasional dapat diserahkan kepada manajer. Dari segi waktu, pengurus
dipilih hanya untuk jangka waktu tertentu untuk mengurus usaha koperasi, sebab biasanya
pengurus mempunyai pekerjaan sendiri selain menjadi pengurus koperasi. Sedangkan
menjalankan usaha koperasi tidak dapat dilakukan sambil lalu, tetapi harus dikerjakan penuh
ketekunan.
Seorang manajer koperasi diangkat pengurus untuk membantu menjalankan usaha
koperasi, oleh karena itu manajer harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada
pengurus, bukan kepada orang lain. Manajer hanya boleh mengerjakan sesuatu kalau diberi
kewenangan atau kekuasaan oleh pengurus, misalnya dalam berhubungan dengan bank,
manajer hanya boleh mengadakan kontak dengan bank untuk hal-hal yang diizinkan oleh
pengurus. Di luar hal-hal yang diizinkan tersebut, manajer tidak boleh mengadakan hubungan
dengan bank, melainkan pengurus sendiri yang akan melakukannya.
G. Administrasi Koperasi
Penyelenggaraan administrasi yang baik mempunyai suatu tujuan yaitu efisiensi.
Efisiensi di sini menggambarkan adanya perbandingan yang paling baik antara suatu usaha
dengan hasil yang dicapai dari usaha tersebut. Dilihat dari hasilnya, suatu usaha dikatakan
efisien bila usaha tersebut memberikan hasil yang terbaik. Sebaliknya dilihat dari segi usaha,
suatu usaha dapat dikatakan efisien apabila hasil yang ditentukan dapat dicapai dengan usaha
yang paling ringan.
H. Sumber Keuangan dan Penggunaan Dana Koperasi
Sebagai suatu perusahaan yang bergerak di bidang ekonomi, koperasi membutuhkan
modal untuk menjalankan usahanya. Ada empat macam modal koperasi menurut
penggunaannya, yaitu (1) modal untuk organisasi, (2) modal untuk alat perlengkapan, (3)
modal kerja atau modal lancar dan (4) modal untuk uang muka. Untuk memenuhi
kebutuhannya akan modal, koperasi memiliki beberapa sumber modal, antara lain: dari
anggota, berupa simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela; dari Sisa Hasil
9

Usaha dan dari luar koperasi, yang dapat berupa pinjaman dari bank maupun dari penanam
modal.
I. Auditing Koperasi
Koperasi supaya dapat bersaing dengan perusahaan lain harus dalam kondisi sehat,
baik dari sudut organisasi maupun keuangannya. Untuk keperluan tersebut, koperasi harus
menjalani pemeriksaan secara periodik. Pemeriksaan dapat dilakukan oleh pihak intern
koperasi, yaitu oleh pengawas. Salah satu tugas pengawas adalah memeriksa jalannya
koperasi, baik dari aspek organisasi, manajemen maupun keuangan. Pemeriksaan oleh pihak
intern sering kurang objektif, karena dalam kenyataan memang sulit memeriksa diri sendiri
dan mencari kesalahan sendiri. Selain itu ada kemungkinan anggota pengawas tidak
mempunyai bekal pengetahuan tentang akuntansi.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sendi-sendi dasar Koperasi Indonesia yang telah ditentukan dalam pasal 6, Bagian 4
UU no. 12 Tahun 1967, adalah sebagai berikut :
h. Sifat keanggotaannya sukarela dan terbuka untuk setiap warga negara Indonesia.
i. Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi sebagai pencerminan demokrasi
dalam Koperasi.
j. Pembagian sisa hasil usaha diatur menurut jasa masing-masing anggota.
k. Adanya pembatasan bunga atas modal.
l. Mengembangkan kesejahteraan anggota khususnya dan masyarakat pada
umumnya.
m. Usaha dan ketatalaksanaannya bersifat terbuka.
n. Swadaya, swakerta dan swasembada sebagai pencerminan daripada prinsip dasar:
percaya pada diri sendiri.
Dalam pengawasan terdapat beberapa tipe pengawasan. Fungsi pengawasan dapat
dibagi dalam tiga macam tipe, atas dasar fokus aktivitas pengawasan, antara lain pengawasan
pendahuluan (preliminary control), pengawasan pada saat kerja berlangsung (cocurrent
control), pengawasan Feed Back (feed back control). Secara garis besar pengawasan dapat
dibagi menjadi dua, yaitu metode pengawasan kualitatif dan metode pengawasan kuantitatif.
Manajemen

adalah

proses

perencanaan,

pengorganisasian,

pengarahan

dan

pengawasan, usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya
10

organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Koperasi seperti
halnya organisasi yang lain membutuhkan manajemen yang baik agar tujuan koperasi
tercapai dengan efisien. Hal yang membedakan manajemen koperasi dengan manajemen
umum adalah terletak pada unsur-unsur manajemen koperasi yaitu rapat anggota, pengurus,
dan pengawas.

DAFTAR PUSTAKA
http://fekool.blogspot.co.id/2014/04/pengawasan-koperasi.html
ekonomisajalah.blogspot.com/2015/03/azas-dan-sendi-dasar-koperasi-indonesia.html

11