Anda di halaman 1dari 19

TEKNIK MENURUNKAN NPL

Bagaimana Cara Efektif untuk Menurunkan NPL hatau Non Performing Loan?
Dalam dunia perbankan dikenal berbagai macam istilah dan istilah tersebut memang
berhubungan satu sama lain. Salah satu istilah yang menjadi banyak pertimbangan dan
perlu dihindari bank adalah Non Performing Loan.
NPL merupakan kredit bermasalah, kredit bermasalah ini merupakan suatu keadanaan
nasabah yang tidak mampu lagi membayar kewajibannya kepada bank baik sebagian
maupun seluruh kewajiban sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.
Masalah NPL ini sebenarnya bukanlah hal yang aneh dalam dunia perbankan, sekalipun bank
sudah menerapkan prinsip yang tepat untuk mengucurkan dana kepada masyarakat atau
nasabah, namun masalah ini tetap saja bisa terjadi.
Katalog KPI Super Lengkap untuk INDUSTRI PERBANKAN. Download NOW.
Yang digolongkan menjadi kredit bermasalah atau NPL diantaranya adalah kredit kurang
lancar, diragukan dan kredit macet. Bank memang harus mengelompokkan kualitas kredit
yang dimilikinya, hal ini akan kualitas kredit yang produktif bisa diamati dengan mudah. NPL
adalah suatu rasio keuangan yang bisa digunakan untuk menilai likuiditas bank terhadap
dana pihak ketiga.
Bank harus membuat NPL-nya semakin rendah agar pihak ketiga semakin percaya untuk
mengucurkan dana, sementara pihak ketiga akan melihat rasio likuiditas pad abank tersebut
dengan melihat tingkat NPL. NPL yang tinggi akan menyebabkan rasio likuiditas dana pihak
ketiga semakin rendah.
Karena itu NPL sangat erat kaitannya dengan pihak ketiga.
Jika pihak ketiga sudah tidak mau lagi meberikan dana kepada bank, hal ini bisa terjadi
karena tingkat NPL bank yang terlalu tinggi. Sebagian besar dana yang dikucurkan bank
kepada nasabah adalah dana dari pihak ketiga tersebut. Jika NPL terlalu tinggi pastinya
pihak ketiga juga akan merugi. Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan tingginya NPL
pada suatu bank baik itu datang dari faktor intern dan juga datang dari faktor ekstern.
Faktor intern NPL
NPL sering terjadi karena faktor intern dari bank itu sendiri, adanya pembiayaan kredit yang
cukup besar dari pihak bank, hal ini sering menimbulkan ketidaktelitian dalam menganalisa
calon debitur tersebut. Padahal analisa pengajuan kredit sangat penting untuk mengetahui
apakah calon debitur tersebut benar-benar bisa membayar kewajibannya pada bank
ataukah tidak.
Katalog KPI Super Lengkap untuk semua Fungsi dalam BANK. Download NOW.
Pencairan dana kepada nasabah yang terlalu besar dipengaruhi oleh adanya komisi ataupun
hadiah yang diberikan pihak bank kepada staff yang bisa mencairkan dana lebih besar.

Jumlah pemberian kredit yang terlalu berlebihan dan melampaui batas yang ditentukan, hal
ini akan memicu timbulnya NPL. Seharusnya pihak bank memiliki pengetahuan yang baik
untuk mendeteksi timbulnya kredit bermasalah.
Lemahnya pengawasan pihak bank tersebut sangat besar kaitannya dengan penyebab NPL.
Selain faktor intern bank, NPL juga bisa ditimbulkan oleh faktor luar atau ekstern. Faktor luar
tersebut diantaranya adalah terjadinya inflasi dan pengaruh kurs mata uang asing.
Persaingan usaha juga bisa menyebabkan timbulkan kemacetan atau NPL yang tinggi,
karena bank ingin mendapatkan jumlah nasabah yang cukup banyak dan juga ingin
mendapatkan keuntungan yang besar, mereka menggucurkan dana yang terlalu besar.
Tiga tingkatan NPL yang harus diselesaikan oleh bank yaitu kredit kurang lancar, diragukan
dan kredit macet, beberapa tingkatan tersebut bisa diselesaikan dengan cara yang berbeda.
Jika masih dalam kredit kurang lancar, hal ini bisa selesaikan dengan cara menagih kepada
nasabah bersangkutan, sebelumnya bisa melalui telpon ataupun surat pemberitahuan.
Kredit yang diragukan, hal ini berada di tengah-tengah masalah kredit yang serius.
Bank bisa menyelesaikan kredit diragukan ini dengan mendatangi langsung nasabah yang
bersangkutan, dalam hal ini pihak nasabah dan bank bisa melakukan perjanjian tertulis
dimana nasabah akan melunasi tunggakan kepada bank pada waktu yang telah ditentukan.
Jika NPL sudah mencapai kredit macet, hal ini perlu dilakukan tindakan yang tegas, pada
kasus ini maka bank bisa melakukan tindakan penyitaan harga pribadi nasabah sebesar
pinjamannya pada bank. Dengan cara demikian maka bank tidak akan dirugikan. Jika NPL
memang tidak bisa diselesaikan karena harta nasabah tidak mencukupi dan nasabah kabur,
hal ini bisa dilakukan penghapusan kredit. Proses penghapusan kredit menjadi bagian dari
penyelesaian NPL namun harus melalui prosedur yang benar, penghapusan piutang nasabah
tidak bisa dilakukan sembarangan
- See more at: http://ahliperbankan.com/bagaimana-cara-efektif-untuk-menurunkannpl-atau-non-performing-loan/#sthash.FkeBmOff.dpuf
Cara Jitu Mengatasi Kredit Bank yang Macet
Apakah selamanya pinjaman yang diberikan bank untuk nasabah mereka akan berjalan
dengan mulus tanpa adanya kemacetan?
Mungkin saat ini sangat sulit untuk menghindari kemacetan, namun kemacetan kredit bank
tersebut bisa diatasi asalkan bank juga memiliki keinginan untuk mengatasinya. Pada intinya
tingkat kemacetan yang tinggi berbanding lurus dengan upaya yang telah dilakukan oleh
pihak bank sendiri. Jika NPL terlalu tinggi maka hal ini juga bisa menimbulkan kerugian pada
bank.
Sekalipun pihak bank dalam analisa pengajuan pinjaman telah melakukan hal yang terbaik,
namun kadang masih saja ada pinjaman yang menalami kemacetan.

Katalog KPI Super Lengkap untuk INDUSTRI PERBANKAN. Download NOW.


Mengapa terjadi pinjaman macet? Pinjaman bank kepada nasabah macet pasti karena
sebab, setidaknya ada beberapa hal yang menyebabkan kredit tersebut menjadi tidak
lancar.
Berikut beberapa penyebab terjadinya kredit macet:
Pemberian kredit yang tidak layak
Jika bank memberikan kredit yang tidak layak kepada nasabah atas dasar yang kurang
sehat, hal ini tidak akan baik untuk nasabah tersebut di kemudian hari. Misalnya saja, pihak
staff bank memberikan kredit keapda si A dengan nilai yang cukup tinggi, padahal
penhasilan si A dan juga jaminan yang diberikannya kepada pihak bank tidak mencukupi
untuk membayar angsuran tiap bulan. Staff bank tersebut biasanya hanya ingin
mendapatkan pemberian imbalan dari nasabah.
Keinginan bank untuk mendapatkan penghasilan besar
Boleh saja bank ingin mendapatkan penghasilan besar, namun apakah cara yang ditempuh
benar? Kredit macet bisa juga terjadi karena keinginan bank untuk mendapatkan
penghasilan yang besar tanpa mempertimbangkan 5C nasabah tersebut.
Katalog KPI Super Lengkap untuk semua Fungsi dalam BANK. Download NOW.
Pelanggaran yang dilakukan pimpinan bank
Kesalahan dalam pemberian kredit pada nasabah bukan hanya terjadi pada staffnya namun
pimpinan yang menyetujui pengajuan kredit tersebut juga perlu dipersalahkan atas
pinjaman yang macet.
Pengawasan kurang efektif
Dalam analisa pengajuan kredit, hal ini harus diawasi dengan baik terutama oleh pimpinan
bank. Jika pengawasan tidak dilakukan dengan baik, hal ini bisa memicu terjadinya kredit
macet tersebut.
Beberapa penyebab pinjaan macet tersebut memang harus dihindari, namun jika kemacetan
tetap terjadi, pihak bank tidak boleh tinggal diam. Satu bulan naabah mengalami kemacetan
saja, hal ini harus dijadikan bahan pembicaraan dan pemikiran bagaimana menanganinya
sebelum kemacetan tersebut terlalu banyak.
Berikut cara untuk mengatasi kemacetan kredit pada bank:
Surat peringatan
Surat peringatan akan diberikan kepada nasabah saat nasabah menunggak, pada umumnya
satu bulan pertama dia mengalami kemacetan dalam pembayaran kredit pinjaman di bank,
pihak bank akan memberikan surat peringatan atau teguran untuk segera melunasi
tunggakan tersebut beserta bungganya.

Datang langsung ke tempat nasabah


Tindakan bank untuk mendatangi langsung pada tempat tinggal atau tempat kerja nasabah
dilakukan bila surat terguran di atas diabaikan oleh nasabah. Pada dua bulan pertama
terjadinya tunggakan, bank bisa datang langsung ke rumah nasabah untuk menyelesaikan
permasalahan ini. Jika nasabah minta keringanan waktu untuk membayar, pihak bank bisa
membuat surat pernyataan bermaterai yang menyatakan kapan nasabah akan membayar
tunggakannya.
Eksekusi
Jika dua tindakan di atas memang tidak bisa membuat nasabah menjadi sadar dengan
kewajibannya dan tunggakan atau kemacetan nasabah bersangkutan semakin banyak,
pihak bank bisa melakukan eksekusi atas harga yang dimiliki nasabah. Eksekusi ini dilakukan
dengan mengambil sebagian atau seluruh harga pribadi nasabah sebesar pinjamannya.
Penyitaan barang milik nasabah ini akan dikembalikan kepada nasabah jika dia bisa
melunasi kemacetan kewajibannya pada pihak bank.
Penghapusan kredit
Jika eksekusi terhadap harga pribadi nasabah tidak bisa dilakukan, nasabah tersebut kabur,
bank bisa melakukan penghapusan piutang yang tersisa. Penghapusan piutang tersebut
hanya pada pinjaman pokok nasabah. Penghapusan piutang ini bisa disusutkan sebagai
beban tiap bulan.
Pada neraca bank, penghapusan piutang tersebut akan mengurangi pendapatan yang
dimiliki bank tiap bulan.
Sebelum terjadi kemacetan, seharusnya pihak bank bisa melakukan tindakan yang jauh
lebih baik yaitu melakukan pencegahan kemacetan dengan memberikan kredit kepada
nasabah sesuai dengan prinsip 5C. Pimpinan bank pun juga harus tertib dan bisa
memberikan masukan terbaik mengenai pengajuan kredit nasabah
- See more at: http://ahliperbankan.com/cara-jitu-mengatasi-kredit-bank-yangmacet/#sthash.nrMyhIXt.dpuf
Cara Menangani Kredit Macet Bank
Cara-Cara Bank Dalam Menumpas Kredit Macet
Permasalahan dalam penagihan kredit membuat bank harus mengeluarkan jurus sebagai
cara menangani kredit macet bank. Bila Anda merasa dipusingkan karena usaha yang
kurang mendapat keuntungan dan seret membayar tagihan bank, maka pihak bank pun
merasakan hal yang sama. Setiap kredit diberikan lengkap bersama resikonya. Itulah tugas
bank untuk menguasai resiko bila terjadi keseretan dalam pembayaran.
Sebelum memberikan pinjaman terhadap seorang nasabah, perlu diingatkan kembali 4 asas
kredit sehat yaitu: bank tidak boleh memberi pinjaman bila tidak ada perjanjian hitam di
atas putih, bank tidak boleh memberi pinjaman terhadap usaha yang tidak sehat atau
bermasalah dan cenderung merugi, bank tidak boleh memberi pinjaman untuk dipakai
sebagai modal jual beli saham, dan bank tidak boleh memberikan pinjaman melebihi batas

maksimal pemberian kredit. Guna meyakinkan bank, pinjaman dapat diberikan atas dasar
jaminan atau kemampuan melunasi pembayaran. Jaminan tersebut selanjutnya dapat
berpindah kepemilikan kepada bank bila nasabah tidak dapat melunasi pembayaran.
Mengetahui Sebab Kredit Bermasalah
Mengetahui sebab masalah dapat menjadi dasar menemukan solusi. Maka kita tilik apa
penyebab masalah pada perkreditan. Tidak semua pinjaman sempurna dalam pembayaran.
Suatu ketika, kemungkinan tidak dibayar dapat datang dari semua nasabah termasuk
nasabah yang tertib sekalipun. Faktor pemicunya bisa sangat sederhana yaitu lupa. Tetapi
bisa saja karena sumber dana untuk membayar tagihan sedang mengalami pailit atau
penurunan laba usaha. Tapi, kesalahan dalam kredit bermasalah tidak melulu datang dari
pihak nasabah. Bank pun dapat menjadi penyebab terjadinya masalah ini.
Katalog KPI Super Lengkap untuk INDUSTRI PERBANKAN. Download NOW.
Faktor dalam bank ini dapat bersumber dari lemahnya kemampuan analisa. Juga tidak
adanya koordinasi yang baik di dalam tim.
Contohnya, saat mempertimbangkan permohonan pinjaman, pihak pemutus perkara tidak
memperhatikan pendapat komite kredit, tidak memperhatikan nilai pinjaman yang
melampaui nilai jaminan dan tidak menyadari keabsahan dokumen pendukung yang
diberikan oleh nasabah. Berikutnya adalah sistem pada infornasi yang kurang, kelemahan
dalam pencatatan dan pengontrolan. Selanjutnya keteledoran bank memberi pinjaman
terhadap nasabah yang mempunyai hubungan dekat dengan petugas. Yang terakhir adalah
ikatan terhadap jaminan yang kurang kuat. Jaminan seharusnya cukup nilainya. Sebelum
mengungkap cara menangani kredit macet bank, kita lihat terlebih dahulu kriteria kredit
macet.
Langkah-Langkah Yang Diambil Oleh Bank
Suatu pinjaman dikatakan macet apabila memenuhi setidaknya tiga kriteria yaitu: jaminan
ternyata tidak bisa dicairkan dengan nilai yang wajar, gali lubang tutup lubang (melunasi
pinjaman satu dengan meminjam yang lain, dan mempunyai tunggakan selama 9 bulan
(satu bulan dihitung 30 hari). Untuk menyelesaikan permasalahan ini, bank mempunyai
langkah bersahabat yaitu: menata kembali. Ini dilakukan dengan menjadikan tunggakan
yang dimiliki nasabah menjadi pokok pinjaman yang baru.
Cara menangani kredit macet ini disebut juga restructuring. Selanjutnya adalah
menjadwalkan ulang pembayaran yang harus dilakukan oleh nasabah. Langkah ini
dinamakan dengan rescheduling. Solusi ini juga menjadwalkan ulang tenggat waktu dan
jumlah nominal angsuran. Jalan yang ketiga adalah dengan reconditioning. Reconditioning
dilakukan dengan merubah syarat tak terbatas pada jangka waktu, jadwal pelunasan dan
lainnya.
Katalog KPI Super Lengkap untuk semua Fungsi dalam BANK. Download NOW.
Apabila jalan di atas dikatergorikan bersahabat, maka berikut ini kurang bersahabat karena
memasukkan perkara kredit ke dalam ranah hukum.

Biasanya lembaga hukum tertentu dimintai pertolongan untuk menyelesaikan permasalahan


ini. Lembaga yang dimaksud yaitu PUPN dan BUPN, meja hijau (gugatan atau somasi), BAPS
atau artbitrase dan BPPN. Setiap badan memiliki cara yang berbeda dalam menangani kasus
kredit ini. Waktu yang dibutuhkan pun berbeda-beda. Untuk penngan kredit macet yang
tercepat adalah melalui arbitrase. Kelebihan lain menggunakan jasa arbiter ialah
kerahasiaan atas permasalahan.
Persengketaan diselesaikan dengan cara tertutup. Hal ini bertujuan untuk saling menjaga
nama baik antara dua pihak yang bersengketa. Putusan yang diambil bersifat mengikat
namun praktis dapat dilaksanakan dengan segera.
Namun, tidak jarang pula bank memilih meja hijau untuk menyelesaikannya. Secara garis
besar, semua bank menjalankan langkah-langkah tersebut untuk menangani atau mencegah
kredit macet. Meski demikian, jenis-jenis bank yang lain dan lembaga keuangan yang lain
bisa saja memiliki cara menangani kredit macet yang lain dalam menumpas kredit macet.
- See more at: http://ahliperbankan.com/cara-menangani-kredit-macetbank/#sthash.6EtQrXMt.dpuf
Cara Menilai Kelayakan Kredit Bank
Di Balik Layar Penilaian Kredit Bank
Sebenarnya bagaimana cara menilai kelayakan kredit bank agar pinjaman yang kita
inginkan segera diberikan? Kadang kala kita seperti dipersulit untuk mengajukan pinjaman.
Sementara itu, banyak dari rekan atau saudara kita yang lolos dan menikmati pinjaman dari
bank, memulai usaha kemudian mendapat keuntungan yang diharapkan. Kondisi yang
membingungkan ini seringkali membuat kita berpikir dan mengambil kesimpulan sendiri.
Padahal, belum tentu kesimpulan yang kita ambil tersebut benar adanya. Harapan kita
tentunya permohonan pinjaman kita segera dikabulkan untuk memulai usaha sebagai
penopang hidup atau kepentingan yang lain. Sebagai bentuk usaha supaya pinjaman
dikabulkan, mari kita perdalam apa yang sebenarnya kurang dari permohonan kita.
Standar Kriteria Kelayakan
Bank mempunya kriteria sendiri-sendiri dalam menentukan kelayakan nasabah. Namun,
secara garis besar, bank-bank tersebut memiliki beberapa kesamaan dalam kriteria
tersebut. Tujuan utama bank-bank itu menetapkan suatu standar atau kriteria adalah untuk
menjamin bahwa uang yang dipinjamkan kepada kita akan kembali.
Yang pertama berkaitan dengan tujuan kita mengajukan pinjaman. Sebelum seorang
nasabah memutuskan untuk mengajukan kredit, tentunya memiliki suatu tujuan yang ingin
dicapai. Contohnya antara lain modal usaha, menanam modal pada pasar saham, untuk
kegiatan konsumtif dan masih banyak lagi. Jenis kreditnya pun akan ditelaah sebagai cara
menilai kelayakan kredit bank.
Katalog KPI Super Lengkap untuk INDUSTRI PERBANKAN. Download NOW.

Kriteria yang kedua adalah kepribadian. Bank akan melakukan investigasi untuk mengetahui
bagaimana perilaku kita sehari-hari. Mengapa kriteria ini perlu dilakukan dan menjadi salah
satu kriteria? Bagi bank, mengetahui perilaku nasabah ini dapat memberikan informasi
tentang temperamen dan cara nasabah dalam mengatasi masalah. Tidak sampai di situ,
bank bahkan melihat catatan masa lalu. Untuk nasabah yang mempunyai catatan bersih
akan lebih mudah untuk lolos pada penilaian ini. Yang ketiga adalah penilaian kepada usaha
yang dilakukan oleh nasabah. Bila usaha yang dilakukan mempunyai prospek yang baik,
tentunya nasabah tidak akan kesulitan dalam proses pengembalian. Tapi bila sebaliknya,
malah akan mendatangkan kerugian pada nasabah dan juga berdampak pada bank. Maka,
ini menjadi salah satu cara menilai kelayakan kredit bank yang penting.
Kriteria yang keempat adalah penggolongan. Bank akan melakukan klasifikasi dan
mengelompokkan kita ke dalam beberapa golongan nasabah berdasar karakter, modal dan
loyalitas. Cara ini membantu bank dalam memutuskan fasilitas yang akan didapat oleh
nasabah. Cara yang kelima ialah pembayaran.
Dengan mengetahui cara pembayaran yang akan dilakukan oleh nasabah, bank dapat
memperkirakan bahwa nasabah mampu membayar atau tidak. Sumber dari dana
pembayaran juga akan ditanyakan. Bila kita mempunyai sumber penghasilan lebih dari satu
sektor, maka kita akan dinilai mampu membayar karena bila usaha yang sedang kita rintis
dengan modal pinjaman mengalami kerugian, kita masih bisa melunasi pembayaran
menggunakan keuntungan dari usaha sektor yang lain.
Pentingnya Kemampuan Mendapat Keuntungan
Berikutnya adalah analisa terhadap kemampuan nasabah dalam mendapatkan keuntungan.
Dalam bahasa Inggris ini disebut juga profitability.
Katalog KPI Super Lengkap untuk semua Fungsi dalam BANK. Download NOW.
Dalam jangka waktu tertentu, bank akan menganalisa laba apakah menurun atau terus
menanjak. Ini berguna apabila kita sebagai nasabah ingin mengajukan kredit tambahan. Bila
laba semakin meningkat dari hari ke hari, tentu saja akan lebih mudah bagi kita untuk
mendapatkan pinjaman tambahan. Yang terakhir namun tak kalah pentingnya adalah
mengukur perlindungan terhadapa pinjaman.
Maksud dari cara ini adalah menjamin bahwa ketika nasabah tidak dapat mengembalikan
pinjaman, bank tetap mendapat kepastian bahwa uang bank akan kembali. Perlindungan ini
dapat berwujud jaminan antara lain: asuransi, orang atau barang.
Untuk mempermudah mendapatkan pinjaman, penuhilah ketujuh kriteria tersebut. Itu
adalah yang kriteria standar yang diukur oleh bank.
Adapun bank-bank tertentu mengukur kriteria tambahan sebagai perlindungan tambahan
terhadap dana yang mereka pinjamkan terhadap kita. Pada intinya, kriteria-kriteria penilaian
yang bank berikan terhadap nasabah yang akan mengajukan pinjaman ialah untuk
memastikan dana mereka dipinjamkan pada orang yang tepat dan akan kembali pada waktu
yang telah ditentukan. Dengan mengetahui cara menilai kelayakan kredit bank, kita dapat

segera melakukan perbaikan terhadap sektor yang menjadi kriteria dan segera
mendapatkan pinjaman.
- See more at: http://ahliperbankan.com/cara-menilai-kelayakan-kreditbank/#sthash.rwApv0ZK.dpuf
NPL tinggi,disebabkan karena lemahnya sistem analisis kredit di suatu bank/lembaga
keuangan, tidak memenuhi prinsip prudential yang ditentukan oleh BI. Mengatasi NPL
biasanya sudah ada cadangan dana yang diambilkan dari modal bank untuk menutupi NPL
tersebut, tetapi bila nilainya mencapai lebih dari 30 % modal bank maka akan dapat
memberikan dampak buruk bagi eksistensi bank tersebut, dan tentu saja akan mendapat
sanksi dari BI karena melanggar nilai BMPK yang ditentukan BI.Cara mengatasi NPL :
1. Lebih intensif melakukan penagihan kepada debitur.
2. Menawarkan restrukturisasi utang kepada debitur.
3. Melakukan sita jaminan dan menjual jaminan tsb.
4.Mengambil dana cadangan dari modal bank untuk menutupi NPL.
5. Lebih meningkatkan kualitas analisis kredit
Kunci penanganan NPL ada 5 strategi yaitu : Reschedulling, Reconditioning,
Restructuring,Kombinasi 3 R dan eksekusi,Jika semua usaha penyelamatan sudah dicoba
tapi debitur masih tidak mampu memenuhi kewajibannya maka bisa lewat penyerahan
kewajiban kepada Badan Urusan Piutang Negara atau ke Pengadilan Negeri ( Perkara
Pidata )

STRATEGI MENYEHATKAN RASIO NON PERFORMING LOAN


(Bagaimana Cara Membuat Prioritas Penanganan Kredit Bermasalah & Melakukan Pendekatan Yang
Effektif Dalam Penyelesaian Kredit Bermasalah)
Latar Belakang
Non Performing Loan atau Kredit Bermasalah adalah penyakit yang menyerang kepada BPR sebagai
akibat aktivitas pemberian kredit yang penyebabnya berbeda-beda di setiap BPR. Berdasarkan

pengalaman di BPR dan pengamatan kami penyebabnya antara lain :


1. Human Error Staff yang bertugas memproses kredit.
2. Proses kredit tidak dilaksanakan sesuai SOP yang ditetapkan.
3. Kejar target sehingga lalai dan tidak prudent (hati-hati).
4. Proses pencairan yaitu pengikatan kredit dan agunan tidak teliti.
5. Agunan yang diterima bermasalah dan tidak marketable.
6. Nasabah tanpa agunan tidak dikoordinir dengan benar .
7. Monitoring tidak efektif bahkan cenderung tidak dimonitor.
8. Tidak melakukan tindakan cepat dan tepat saat awal bermasalah.
9. Tidak melakukan proses hukum berupa penerbitan Surat Peringatan.
10. Attitude Staf Kredit yang tidak baik.
11. Tidak memiliki kemampuan dalam menangani
kredit bermasalah
12. Penanganan kredit bermasalah tidak berdasarkan prioritas.
Akibatnya :
Angsuran kredit banyak yang menunggak.
Fokus kerja Account Officer pada tagihan sehingga
tidak fokus pada pelemparan kredit.
Rasio Non Performing Loan terus meningkat.
Permasalahan semakin rumit karena ditambah
faktor Debitur yang tidak kooperatif dan Agunan
sulit dikuasai BPR.
Dalam Pelatihan ini, Peserta akan diberikan penjelasan tahapan-tahapan dan alternatif tindakan dalam
Penanganan Kredit Bermasalah secara sistematis sehingga berdampak pada kesehatan rasio NPL.
Apa yang dipelajari dalam pelatihan :
1. SOP Penanganan Kredit Bermasalah
2. Menelusuri Kronologis Faktor Permasalahan Kredit
3. Opini Hukum Kredit Bermasalah
4. Membuat Prioritas Penanganan Kredit Bermasalah
5. Alternatif Penyelesaian Kredit Bermasalah
6. Metode effective Approach Dalam Penyelesaian Kredit Bermasalah
7. Legal Action Dalam Penyelesaian Kredit Bermasalah
8. Mencegah Gugatan Debitur
Apa yang diperoleh peserta setelah mengikuti pelatihan :
Peserta memiliki pemahaman mengenai tahapan-tahapan dalam penanganan kredit bermasalah
secara sistematis dengan menyesuaikan pada permasalahan kredit di BPR peserta.
Peserta memiliki alternatif dan solusi dalam mengupayakan menangani kredit bermasalah yang
terbaik sehingga rasio NPL selalu dalam kondisi sehat sesuai ketentuan Bank Indonesia dan

berdampak positif terhadap pendapatan BPR.


Siapa saja yang wajib ikut dalam pelatihan :
Kabag. Kredit
Staf Account Officer & Collection
Fasilitas :
1. Trainer, Traning Kit, Handout Materi & Sertifikat
2. Coffeebreak 2 kali & Lunch 1 Kali
3. MEMBER CARD EAGLE EAST, Seharga Rp. 150.000 , Dengan BENEFIT :
Diskon 10 % (Setiap Reguler, In House Training & Perjalanan Wisata).*
Free Konsultasi, Jika ingin menyelenggarakan In House Training & Gathering.
4. Free CD Video Motivasi & Inspirasi Terbaru (Dapat digunakan untuk ilustrasi meeting & briefing)
Waktu & Tempat Pelaksanaan :
1. STRATEGI MENYEHATKAN NON PERFORMING LOAN
Hari : Kamis, 23 Mei 2013
Pukul : 08.30 17.00 Wib
Tempat : Kawanua Aerotel
Jl. Cempaka Putih Raya No. 120 - Jakarta Pusat
Biaya Investasi :
STRATEGI MENYEHATKAN NON PERFORMING LOAN
PUBLISH RATE - Rp. 875.000 / Orang.
EARLY BIRD - Rp. 675.000 / Orang (Jika pembayaran dilakukan sebelum tanggal 10 Mei 2013)
SPECIAL RATE (Mengirimkan lebih dari 3 Orang, GRATIS ORANG KE 4)
Pembayaran Investasi Paling Lambat 15 Mei 2013
tEMPAT TERBATAS HANYA UNTUK 25 Peserta
INFORMASI & PENDAFTARAN TRAINING :
HOUSE OF CREATIVITY
Jalan Pasir Putih Raya No. 156 A.
Rawalumbu Kota Bekasi
Hotline 0812 1011 7168 Phone 021 98 98 00 70
Fax 021 82 41 25 61 EmaiL theeagleeast@gmail.com
Website www.eagle-east.blogspot.com

Rahasia Membuat Rencana Kerja Tahunan Bank Perkreditan Rakyat


Posted on October 24, 2013 by zinsari
Seperti kita ketahui setiap Bank Perkreditan Rakyat diwajibkan oleh pihak Otoritas
Perbankan untuk menyampaikan rencana kerja tahunan selambat-lambatnya tanggal 31
Januari. Bagi pihak Otoritas, rencana kerja perbankan menjadi bahan untuk membuat
proyeksi perkembangan penyaluran kredit maupun penghimpunan dana masyarakat.
Sementara itu, bagi pihak bank sendiri rencana kerja merupakan pedoman dalam
operasionalnya.

Rencana kerja
direalisasikan.

yang

baik

haruslah

menantang,

namun

juga

bisa

Untuk itu, kita harus mengetahui dimana posisi bank kita, sehingga dapat menyusun
rencana kerja dengan baik dan memilih strategi yang tepat. Analisa SWOT (Strengths,
Weaknesses, Opportunities, Threats) memungkinkan kita mengetahui faktor internal,
seberapa besar kekuatan yang dimiliki dan seberapa besar kelemahannya serta mengetahui
faktor eksternal, seberapa besar peluang dan ancaman yang dihadapi.
Rencana kerja yang dimaksud minimal membuat proyeksi neraca dan perhitungan laba/rugi
dalam 2(dua) semester. Berarti kita harus membekali diri dengan penguasaan hal-hal
berikut:

memahami laporan keuangan;


memahami faktor-faktor penggerak pendapatan maupun beban;
memahami analisa rasio-rasio keuangan, terutama yang terkait dengan penilaian
tingkat kesehatan bank;
memahami peraturan-peraturan yang berlaku, misalnya ketentuan permodalan,
kualitas aktiva produktif, penyisihan penghapusan aktiva produktif, kewajiban
menyediakan anggaran pendidikan, dan lain-lain

Bisnis utama bank adalah menyalurkan dana, sehingga sumber pendapatan utama berasal
dari aktiva produktif (kredit dan penempatan dana pada bank lain). Perencanaan aktiva
produktif secara tepat akan berakibat pada perencanaan pendapatan bank. Sementara itu
perencanaan pendanaan, tenaga kerja serta administrasi umum akan berpengaruh pada
besarnya beban operasional bank.
Perencanaan Aset Produktif meliputi perencanaan kredit dan penempatan pada bank lain.
Untuk dapat membuat rencana kredit yang tepat, maka kita harus membuat:

Rencana pengembalian kredit tiap bulan;


Rencana penyaluran kredit baru tiap bulan, termasuk tenornya;
Rencana kualitas aktiva produktif tiap bulan;

Penempatan pada bank lain direncanakan sesuai kebutuhan menjaga likuiditas yang
memadai. Ingatlah bahwa penempatan pada bank lain kalah produktif dibandingkan dengan
kredit.
Perencanaan Penghimpunan Dana terutama meliputi tabungan, deposito dan pinjaman.
Mengingat tabungan dan deposito dipengaruhi oleh pihak masyarakat, maka kita perlu:

memahami trend ataupun pola perkembangannya dimasa lalu;


perkiraan pertumbuhan ekonomi setahun ke depan;
memahami berapa cadangan likuiditas yang diperlukan untuk melayani nasabah
penyimpan.

Dari perencanaan aktiva produktif diketahui berapa kebutuhan dana tiap bulannya, maka
kita dapat membuat rencana saldo tabungan dan deposito tiap bulannya. Jika kebutuhan
dana belum tercukupi, maka perlu menambah perencanaan dari pinjaman, bisa dari bank
lain ataupun dari pihak lain non bank.
Perencanaan Aset Tetap dan Inventaris serta Aset Tak Berwujud
Untuk mendukung kegiatan penyaluran dana, penghimpunan dana dan pelayanan nasabah,
maka perlu merencanakan Aset Tetap dan Inventaris, yaitu meliputi:

penambahan gedung kantor;


penambahan inventaris;
pengurangan aset (jika ada)

Perencanaan Aset Tak Berwujud juga sangat penting di dalam mendukung sistem pelayanan
yang baik
Perencanaan Aset Tetap dan Inventaris serta Aset Tak Berwujud sedapat mungkin tepat pada
bulan ke berapa pengadaannya, karena akan mempengaruhi ketepatan proyeksi beban
penyusutannya.
Perencanaan Modal
Peningkatan volume usaha tentu harus didukung oleh permodalan yang memadai, maka
perlu merencanakan berapa modal yang dibutuhkan dan pada tingkatan berapa rasio CAR
yang ditargetkan.

Apakah modal berasal dari laba tahun-tahun sebelumnya;


Apakah diperlukan setoran modal;
Apakah justru ada rencana pembagian deviden?

Perencanaan Pendapatan
Pendapatan merupakan hasil dari perencanaan aset produktif. Berarti hanya dengan
memasukkan besarnya pendapatan dari unsur bunga kontraktual, provisi dan komisi kita
dapat membuat proyeksi pendapatannya. Namun demikian, proyeksi pendapatan sangat
dipengaruhi oleh kemampuan kita merencanakan kualitas aset produktif pada tiap-tiap
bulannya.
Perencanaan Beban
Kita perlu memahami unsur biaya, yaitu biaya variabel maupun biaya tetap yang ada pada
bank kita. Beban bunga adalah biaya variabel yang dipengaruhi oleh volume penghimpunan
dana. Oleh karena itu, kemampuan memprediksi tingkat suku bunga pada masing-masing
produk dana menjadi penentu keberhasilan di dalam perencanaan beban.

Perencanaan Kualitas Aset Produktif juga diperlukan untuk membuat proyeksi beban
penyisihan penghapusan aset produktif.
Perencanaan Aset Tetap dan Inventaris serta Aset Tetap Tak Berwujud yang tepat juga
memberi kontribusi pada proyeksi beban penyusutan.
Beban tenaga kerja dan pendidikan
Jangan lupa bahwa kompensasi merupakan salah satu motivasi bagi pegawai dalam bekerja.
Untuk merealisasikan rencana penyaluran dana dan penghimpunan dana serta pelayanan
nasabah perlu direncanakan berapa kebutuhan sumber daya manusianya. Disamping itu
perlu memasukkan faktor kenaikan beban tenaga kerja tiap tahun yang juga berkaitan
dengan tingkat inflasi dan kebijakan pemerintah setempat terkait dengan upah minimum.
Disamping jumlah sdm yang dibutuhkan, juga perlu merencanakan pencapaian kompetensi
pegawai untuk mendukung terlaksananya rencana kerja. Lakukanlah TNA (training need
assessmen) untuk memudahkan perencanaan beban pendidikan. Jangan lupa bahwa biaya
pendidikan minimal 5(lima) persen dari beban tenaga kerja tahun lalu.
Perencanaan Beban Pemasaran
Perencanaan beban pemasaran sangat tergantung pada rencana dan strategi penyaluran
dana dan penghimpunan dana.
Selain itu, beberapa beban yang cukup material juga perlu direncanakan dengan baik,
antara lain beban pemeliharaan, barang dan jasa.
MENGGUNAKAN SPREADSHEET
Perencanaan rencana kerja akan
menggunakan aplikasi spreadsheet.

sangat

mudah

dan

menyenangkan

apabila

kita

Jika anda tidak menguasai penggunaan rumusrumus dalam spreadsheet, maka bisa menggunakan paket aplikasi penyusunan rencana
kerja bpr Zpro versi SAK-ETAP. Paket aplikasi ini dibuat sedemikian rupa, sehingga sangat
user friendly, menu driven dan secara otomatis menghasilkan proyeksi Neraca dan Laporan
Laba/Rugi, baik yang semester, triwulan maupun bulanan.

Analisa Rasio dan Pemenuhan Peraturan yang Berlaku


Periksalah rasio-rasio keuangannya, terutama yang berkaitan dengan penilaian TKS.
Pastikan bahwa rasio-rasio tersebut berada pada angka yang baik. Misalnya, ROA minimal
8%, BOPO setinggi-tingginya 93.52%, ROA minimal 1.215 dan Cash Ratio minimal 4.05.
Khusus untuk Cash Ratio sebaiknya di atas 4.05 dan disesuaikan dengan kebutuhan
likuiditas di dalam melayani nasabah, namun tidak berlebihan.
Pastikan pula bahwa jumlah aset tetap dan inventaris tidak melebihi 50% dari modal disetor
Rencana Kerja Tahunan
Perkembangan kinerja dalam tahun 2014 secara umum sudah menunjukkan perkembangan
namun kurang optimal meskipun sudah dapat membukukan laba sebesar Rp. 2,015 ribu, hal
ini disebabkan penetapan tingkat suku bunga kredit yang terlalu rendah dan naiknya inflasi
khususnya barang dan jasa
Adapun kendala lain yang dihadapi di Tahun 2014 yaitu sistem dan prosedur
operasional Bank sedang dalam proses penyempurnaan sehingga belum
dapat mendukung penuh untuk melayani nasabah atau menyalurkan kredit dengan
baik dan pada tahun 2015 kami telah merencanakan perbaikan kinerja antara lain :
1. Membuka jaringan berupa Kantor Cabang di Kecamatan Kepanjen agar
lebih efetif dan efisien khususnya melayani masyarakat diwilayah
Kabupaten wilayah Selatan dengan catatan persyaratan pembukaan
dapat dipenuhi tahun 2015
2. Menyempurnakan sistim administrasi kredit dan menerbitkan Kebijakan
Perkreditan yang sesuai dengan kebutuhan pasar
3. Penyempurnaan program kumputer untuk mendukung dan
mempercepat pelayanan
4. Menerbitkan atau memodifikasi produk Tabungan, Deposito maupun
kredit sehingga lebih diminati oleh masyarakat khususnya UMKM
5. Perubahan struktur dana yang awalnya bersumber dari dana komersial
yang mahal (12 % -14 %) secara perlahan turun mencapai 9 %- 11 %
6. Melakukan efisiensi diberbagai bidang tanpa mengurangi kualitas
pelayanan kepada nasabah khususnya dibidang operasional
7. Menerbitkan Surat Keputusan dan ketentuan lain yang mendukung
operasional perbankan agar berjalan berdasarkan prinsip kehati-hatian
Memperhatikan uraian singkat diatas maka manajemen BPR Artha Kanjuruhan Pemkab
Malang di tahun 2015 tetapakan melakukan penyempurnaan penyempurnaan sistem dan

prosedur operasional perbankan dan mengambil kebijakan strategis khususnya yang


berdampak pada pertumbuhan DPK dan Kredit sehingga berdampak pada pertumbuhan
laba.
Rahasia Membuat Rencana Kerja Tahunan Bank Perkreditan Rakyat
Posted on October 24, 2013 by zinsari
Seperti kita ketahui setiap Bank Perkreditan Rakyat diwajibkan oleh pihak Otoritas
Perbankan untuk menyampaikan rencana kerja tahunan selambat-lambatnya tanggal 31
Januari. Bagi pihak Otoritas, rencana kerja perbankan menjadi bahan untuk membuat
proyeksi perkembangan penyaluran kredit maupun penghimpunan dana masyarakat.
Sementara itu, bagi pihak bank sendiri rencana kerja merupakan pedoman dalam
operasionalnya.
Rencana kerja yang baik haruslah menantang, namun juga bisa direalisasikan.
Untuk itu, kita harus mengetahui dimana posisi bank kita, sehingga dapat menyusun
rencana kerja dengan baik dan memilih strategi yang tepat. Analisa SWOT (Strengths,
Weaknesses, Opportunities, Threats) memungkinkan kita mengetahui faktor internal,
seberapa besar kekuatan yang dimiliki dan seberapa besar kelemahannya serta mengetahui
faktor eksternal, seberapa besar peluang dan ancaman yang dihadapi.
Rencana kerja yang dimaksud minimal membuat proyeksi neraca dan perhitungan laba/rugi
dalam 2(dua) semester. Berarti kita harus membekali diri dengan penguasaan hal-hal
berikut:

memahami laporan keuangan;

memahami faktor-faktor penggerak pendapatan maupun beban;

memahami analisa rasio-rasio keuangan, terutama yang terkait dengan penilaian


tingkat kesehatan bank;

memahami peraturan-peraturan yang berlaku, misalnya ketentuan permodalan,


kualitas aktiva produktif, penyisihan penghapusan aktiva produktif, kewajiban menyediakan
anggaran pendidikan, dan lain-lain
Bisnis utama bank adalah menyalurkan dana, sehingga sumber pendapatan utama berasal
dari aktiva produktif (kredit dan penempatan dana pada bank lain). Perencanaan aktiva
produktif secara tepat akan berakibat pada perencanaan pendapatan bank. Sementara itu
perencanaan pendanaan, tenaga kerja serta administrasi umum akan berpengaruh pada
besarnya beban operasional bank.
Perencanaan Aset Produktif meliputi perencanaan kredit dan penempatan pada bank lain.
Untuk dapat membuat rencana kredit yang tepat, maka kita harus membuat:

Rencana pengembalian kredit tiap bulan;

Rencana penyaluran kredit baru tiap bulan, termasuk tenornya;

Rencana kualitas aktiva produktif tiap bulan;


Penempatan pada bank lain direncanakan sesuai kebutuhan menjaga likuiditas yang
memadai. Ingatlah bahwa penempatan pada bank lain kalah produktif dibandingkan dengan
kredit.
Perencanaan Penghimpunan Dana terutama meliputi tabungan, deposito dan pinjaman.
Mengingat tabungan dan deposito dipengaruhi oleh pihak masyarakat, maka kita perlu:

memahami trend ataupun pola perkembangannya dimasa lalu;

perkiraan pertumbuhan ekonomi setahun ke depan;

memahami berapa cadangan likuiditas yang diperlukan untuk melayani nasabah


penyimpan.

Dari perencanaan aktiva produktif diketahui berapa kebutuhan dana tiap bulannya, maka
kita dapat membuat rencana saldo tabungan dan deposito tiap bulannya. Jika kebutuhan
dana belum tercukupi, maka perlu menambah perencanaan dari pinjaman, bisa dari bank
lain ataupun dari pihak lain non bank.
Perencanaan Aset Tetap dan Inventaris serta Aset Tak Berwujud
Untuk mendukung kegiatan penyaluran dana, penghimpunan dana dan pelayanan nasabah,
maka perlu merencanakan Aset Tetap dan Inventaris, yaitu meliputi:

penambahan gedung kantor;

penambahan inventaris;

pengurangan aset (jika ada)


Perencanaan Aset Tak Berwujud juga sangat penting di dalam mendukung sistem pelayanan
yang baik
Perencanaan Aset Tetap dan Inventaris serta Aset Tak Berwujud sedapat mungkin tepat pada
bulan ke berapa pengadaannya, karena akan mempengaruhi ketepatan proyeksi beban
penyusutannya.
Perencanaan Modal
Peningkatan volume usaha tentu harus didukung oleh permodalan yang memadai, maka
perlu merencanakan berapa modal yang dibutuhkan dan pada tingkatan berapa rasio CAR
yang ditargetkan.

Apakah modal berasal dari laba tahun-tahun sebelumnya;

Apakah diperlukan setoran modal;

Apakah justru ada rencana pembagian deviden?


Perencanaan Pendapatan
Pendapatan merupakan hasil dari perencanaan aset produktif. Berarti hanya dengan
memasukkan besarnya pendapatan dari unsur bunga kontraktual, provisi dan komisi kita
dapat membuat proyeksi pendapatannya. Namun demikian, proyeksi pendapatan sangat
dipengaruhi oleh kemampuan kita merencanakan kualitas aset produktif pada tiap-tiap
bulannya.
Perencanaan Beban
Kita perlu memahami unsur biaya, yaitu biaya variabel maupun biaya tetap yang ada pada
bank kita. Beban bunga adalah biaya variabel yang dipengaruhi oleh volume penghimpunan
dana. Oleh karena itu, kemampuan memprediksi tingkat suku bunga pada masing-masing
produk dana menjadi penentu keberhasilan di dalam perencanaan beban.
Perencanaan Kualitas Aset Produktif juga diperlukan untuk membuat proyeksi beban
penyisihan penghapusan aset produktif.
Perencanaan Aset Tetap dan Inventaris serta Aset Tetap Tak Berwujud yang tepat juga
memberi kontribusi pada proyeksi beban penyusutan.
Beban tenaga kerja dan pendidikan
Jangan lupa bahwa kompensasi merupakan salah satu motivasi bagi pegawai dalam bekerja.
Untuk merealisasikan rencana penyaluran dana dan penghimpunan dana serta pelayanan
nasabah perlu direncanakan berapa kebutuhan sumber daya manusianya. Disamping itu
perlu memasukkan faktor kenaikan beban tenaga kerja tiap tahun yang juga berkaitan
dengan tingkat inflasi dan kebijakan pemerintah setempat terkait dengan upah minimum.
Disamping jumlah sdm yang dibutuhkan, juga perlu merencanakan pencapaian kompetensi
pegawai untuk mendukung terlaksananya rencana kerja. Lakukanlah TNA (training need
assessmen) untuk memudahkan perencanaan beban pendidikan. Jangan lupa bahwa biaya
pendidikan minimal 5(lima) persen dari beban tenaga kerja tahun lalu.
Perencanaan Beban Pemasaran

Perencanaan beban pemasaran sangat tergantung pada rencana dan strategi penyaluran
dana dan penghimpunan dana.
Selain itu, beberapa beban yang cukup material juga perlu direncanakan dengan baik,
antara lain beban pemeliharaan, barang dan jasa.
MENGGUNAKAN SPREADSHEET
Perencanaan rencana kerja akan sangat mudah dan menyenangkan apabila kita
menggunakan aplikasi spreadsheet.
Jika anda tidak menguasai penggunaan rumus-rumus dalam spreadsheet, maka bisa
menggunakan paket aplikasi penyusunan rencana kerja bpr Zpro versi SAK-ETAP. Paket
aplikasi ini dibuat sedemikian rupa, sehingga sangat user friendly, menu driven dan secara
otomatis menghasilkan proyeksi Neraca dan Laporan Laba/Rugi, baik yang semester,
triwulan maupun bulanan.
Analisa Rasio dan Pemenuhan Peraturan yang Berlaku
Periksalah rasio-rasio keuangannya, terutama yang berkaitan dengan penilaian TKS.
Pastikan bahwa rasio-rasio tersebut berada pada angka yang baik. Misalnya, ROA minimal
8%, BOPO setinggi-tingginya 93.52%, ROA minimal 1.215 dan Cash Ratio minimal 4.05.
Khusus untuk Cash Ratio sebaiknya di atas 4.05 dan disesuaikan dengan kebutuhan
likuiditas di dalam melayani nasabah, namun tidak berlebihan.
Pastikan pula bahwa jumlah aset tetap dan inventaris tidak melebihi 50% dari modal disetor.
Restrukturisasi Kredit pada BPR
Posted on June 9, 2013by zinsari

Restrukturisasi Kredit*) adalah upaya perbaikan yang


dilakukan bank dalam kegiatan perkreditan terhadap Debitur yang mengalami kesulitan untuk
memenuhi kewajibannya. Restrukturisasi dilakukan melalui:

Penjadwalan kembali;

Persyaratan kembali;

Penataan kembali
*) Peraturan Bank Indonesia no. 8/19/PBI/2006 tentang KAP dan pembentukan PPAP BPR
PENJADWALAN KEMBALI
Perubahan jadwal pembayaran kewajiban Debitur atau jangka waktu.

PERSYARATAN KEMBALI
Perubahan sebagian atau seluruh persyaratan Kredit yang tidak terbatas pada perubahan jadual
pembayaran, jangka waktu, dan/atau persyaratan lainnya sepanjang tidak menyangkut perubahan
maksimum plafon Kredit.
PENATAAN KEMBALI
Perubahan persyaratan Kredit yang menyangkut penambahan fasilitas Kredit dan konversi seluruh atau
sebagian tunggakan angsuran bunga menjadi pokok Kredit baru yang dapat disertai dengan penjadualan
kembali dan/atau persyaratan kembali.
KRITERIA UNTUK RESTRUKTURISASI:
BPR dapat melakukan Restrukturisasi Kredit terhadap Debitur yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
Debitur mengalami kesulitan pembayaran pokok dan/atau bunga Kredit; dan
Debitur memiliki prospek usaha yang baik dan diperkirakan mampu memenuhi kewajiban
setelah Kredit direstrukturisasi.
KETENTUAN RESTRUKTURISASI:
BPR dilarang melakukan Restrukturisasi Kredit apabila bertujuan hanya untuk menghindari:

1.
penurunan kualitas Kredit;
2.
peningkatan pembentukan PPAP; dan/atau
3.
penghentian pengakuan pendapatan bunga secara akrual.
Kualitas Kredit yang direstrukturisasi adalah:
1.
Setinggi-tingginya Kurang Lancar untuk Kredit yang sebelum direstrukturisasi memiliki kualitas
Diragukan atau Macet; dan
2.
Tidak berubah, untuk Kredit yang sebelum direstrukturisasi memiliki kualitas Lancar atau
Kurang Lancar.
Kualitas Kredit telah direstrukturisasi dapat menjadi:
1.
Lancar, apabila tidak terjadi tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga selama 3 (tiga) kali
periode pembayaran secara berturut-turut; dan
2.
Sama dengan kualitas Kredit sebelum dilakukan Restrukturisasi Kredit, apabila Debitur tidak
dapat memenuhi kondisi sebagaimana dimaksud pada butir 1).
CARA MELAKUKAN RESTRUKTURISASI KREDIT
Modifikasi syarat-syarat kredit:
Penurunan suku bunga kredit;
Perpanjangan jangka waktu kredit;
Pengurangan tunggakan bunga;
Pengurangan pokok kredit
Penambahan fasilitas kredit baik melalui:
Konversi seluruh atau sebagian tunggakan bunga;
Penambahan fasilitas baru.
Ketentuan Modifikasi syarat-syarat kredit:
Pembayaran yg akan diterima di masa depan (arus kas masa depan) berdasarkan
persyaratan yg baru diukur sebesar nilai tunai.
2.
Nilai tunai dihitung dg menggunakan suku bunga kontraktual yg ditentukan pd awal
pemberian kredit.
3.
Apabila nilai tunai lebih rendah dibandingkan nilai tercatat kredit pd saat direstrukturisasi,
maka selisihnya diakui sebagai kerugian.

Ketentuan Penambahan fasilitas kredit dg konversi bunga:


1.
Penambahan nilai tercatat kredit diakui sebagai pendapatan bunga yg ditangguhkan.
2.
Pendapatan bunga yg ditangguhkan:

1.
2.
3.
4.

1.
2.

1.

diamortisasi dan diakui sebagai pendapatan bunga apabila kredit termasuk kategori
performing,
tidak diamortisasi dan tidak diakui sebagai pendapatan bunga apabila kredit termasuk
kategori non performing.

MENGHITUNG NILAI TUNAI

Selisih antara Pokok kredit yang direstrukturisasi dengan nilai tunai merupakan kerugian akibat
restrukturisasi tersebut. BPR harus membukukan penyisihan kerugian restrukturisasi:

Dibukukan pada saat melakukan restrukturisasi

Amortisasi penyisihan kerugian restrukturisasi dibukukan sebagai Pendapatan bunga.

Amortisasi dilakukan saat penerimaan pembayaran bunga dari debitur.

Untuk kredit modal kerja (bukan angsuran), nilai amortisasi sebesar kenaikan nilai tercatat.

Untuk kredit dengan angsuran, nilai amortisasi dg metode garis lurus sesuai jangka waktu.
BEBAN KERUGIAN ATAS KREDIT YANG DIRESTRUKTURISASI:
Penyisihan kerugian atas kredit yang direstrukturisasi dihitung berdasarkan nilai saldo kredit setelah
memperhitungkan kerugian restrukturisasi.
n% x ( saldo kredit nilai agunan )
dimana:

n % tergantung pada kolektibilitas kredit.


saldo kredit = baki debet kerugian restrukturisasi.