Anda di halaman 1dari 120

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga saya berhasil menyelesaikan laporan praktikum ini.
Diharapkan laporan praktikum ini dapat memberikan informasi kepada kita semua.
Tiada gading yang tak retak, saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya
harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen saya yaitu Ibu Dra. Refdanita.,
M.Si., selaku Dosen Mata Kuliah Farmakologi dan pembimbing praktikum farmakologi yang
telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyusun laporan ini dengan baik.
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin.

Jakarta , Agustus 2016

Penulis

DAFTAR ISI
Laporan Farmakologi

Page 1

KATA PENGANTAR.................................................................................................... i
DAFTAR ISI.............................................................................................................. ii
CARA-CARA PEMBERIAN OBAT................................................................................ 1
PENGARUH VARIASI BIOLOGIK TERHADAP EFEK OBAT...........................................13
PENGARUH VARIASI KELAMIN TERHADAP EFEK OBAT............................................20
DOSIS DAN RESPON............................................................................................... 30
HIPNOTIK DAN SEDATIVE...................................................................................... 38
DIURETIK............................................................................................................. 51
ANESTESI PERMUKAAN......................................................................................... 70
EFEK ANESTESI LOKAL DENGAN METODE REGNIER...............................................76
ANESTESI KONDUKSI............................................................................................ 81
ANESTESI INFILTRASI............................................................................................ 86
EFEK OBAT ADRENERGIK DAN ANTIKOLINERGIK PADA SEKRESI KELANJAR LUDAH 93
EFEK OBAT KOLINERGIK DAN ANTIKOLINERGIK PADA MATA..................................99
EFEK OBAT PADA SALURAN CERNA......................................................................103

Laporan Farmakologi

Page 2

CARA-CARA PEMBERIAN OBAT

LatarBelakang :
Sebagai mahasiswa farmasi, sudah seharusnya kita mengetahui hal-hal yang berkaitan
dengan obat, baik dari segi farmasetik,farmakodinamik, farmakokinetik, dan juga dari segi
farmakologi. Kali ini saya akan membahas hasil percobaaan rute pemberian obat dengan
menggunakan hewan percobaan untuk mengetahui kaitan antara rute pemberian obat dengan
waktu cepatnya reaksi obat yang ditampakkan pertama kali.
Tujuan :
1. Mengenal cara-cara pemberian obat melalui berbagai rute pemberian obat.
2. Menyadari pengaruh rute pemberian obat terhadap efek yang timbul.
3. Dapat menyatakan beberapa konsekuensi praktis akibat perbedaan rute pemberian obat
terhadap efek yang timbul.
4. Mengenal manifestasi berbagai efek obat yang diberikan.
Prinsip :
Pemberian obat melalui oral, intraperitoneal, intra muscular, intravena, dan subkutan
dengan dosis yang berbeda yang dipengaruhi berat badan hewan percobaan.
Teori :
Rute pemberian obat salah satu faktor yang mempengaruhi efek obat, karena karakteristik
lingkungan fisiologis anatomi dan biokimia yang berbeda pada daerah kontak obat dan tubuh
karakteristik ini berbeda karena jumlah suplai darah yang berbeda; enzim-enzim dan getahgetah fisiologis yang terdapat di lingkungan tersebut berbeda. Hal-hal ini menyebabkan
bahwa jumlah obat yang dapat mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu akan berbeda,
tergantung dari rute pemberian obat.
Memilih rute penggunaan obat tergantung dari tujuan terapi, sifat obatnya serta kondisi
pasien. Oleh sebab itu perlu mempertimbangkan masalah-masalah seperti berikut:
a.
b.
c.
d.

Tujuan terapi menghendaki efek lokal atau efek sistemik


Apakah kerja awal obat yang dikehendaki itu cepat atau masa kerjanya lama
Stabilitas obat di dalam lambung atau usus
Keamanan relatif dalam penggunaan melalui bermacam-macam rute

Laporan Farmakologi

Page 1

e. Rute yang tepat dan menyenangkan bagi pasien dan dokter


f. Harga obat yang relatif ekonomis dalam penyediaan obat melalui bermacam-macam rute
g. Kemampuan pasien menelan obat melalui oral.
Bentuk sediaan yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan besarnya obat yang
diabsorpsi, dengan demikian akan mempengaruhi pula kegunaan dan efek terapi obat. Bentuk
sediaan obat dapat memberi efek obat secara lokal atau sistemik. Efek sistemik diperoleh jika
obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah, sedang efek lokal adalah efek obat
yang bekerja setempat misalnya salep.
Cara-cara pemberian obat untuk mendapatkan efek terapeutik yang sesuai adalah sebagai
berikut:
1. Jalur Enteral
Pemberian obat melalui saluran gastrointestinal (GI), seperti pemberian obat melalui
sublingual, bukal, rektal dan oral. Kerugian pemberian jalur enternal adalah absorpsi
lambat, tidak dapat diberikan pada pasien yang tidak sadar atau tidak dapat menelan.
2. Cara/bentuk sediaan parenteral
Termasuk jalur parenteral adalah transdermal (topikal), injeksi, endotrakeal (pemberian
obat ke dalam trakea menggunakan endotrakeal tube) dan inhalasi.
Pemberian obat secara injeksi yaitu :
Intravena
Intravena (IV) (Tidak ada fase absorpsi, obat langsung masuk ke dalam vena, onset of
action cepat, efisien, bioavailabilitas 100 %, baik untuk obat yang menyebabkan iritasi
kalau diberikan dengan cara lain, biasanya berupa infus kontinu untuk obat yang waktuparuhnya (t1/2) pendek).
Intravena (i.v), yaitu disuntikkan ke dalam pembuluh darah. Larutan dalam volume
kecil (di bawah 5 ml) sebaiknya isotonis dan isohidris, sedangkan volume besar (infuse)
harus isotonis dan isohidris.
- Tidak ada fase absorpsi, obat langsung masuk ke dalam vena, onset of action
-

segera.
Obat bekerja paling efisien, bioavilabilitas 100%
Obat harus berada dalam larutan air, bila emulsi lemak partikel minyak tidak
boleh lebih besar dari ukuran partikel eritrosit, sediaan suspensi tidak banyak

terpengaruh
Larutan hipertonis disuntikkan secara lambat, sehingga sel-sel darah tidak banyak
berpengaruh.

Laporan Farmakologi

Page 2

Zat aktif tidak boleh merangsang pembuluh darah, sehingga menyebabkan

hemolisa seperti saponin, nitrit, dan nitrobenzol.


Sediaan yang diberikan umumnya sediaan sejati.
Adanya partikel dapat menyebabkan emboli.
Pada pemberian dengan volume 10 ml atau lebih, sekali suntik harus bebas
pirogen.

Keuntungan rute ini adalah:


1. Jenis-jenis cairan yang disuntikkan lebih banyak dan bahkan bahan tambahan
2.
3.
4.
5.

banyak digunakan IV daripada melalui SC.


Cairan volume besar dapat disuntikkan relatif lebih cepat.
Efek sistemik dapat segera dicapai.
Level darah dari obat yang terus-menerus disiapkan.
Kebangkitan secara langsung untuk membuka vena untuk pemberian obat rutin
dan menggunakan dalam situasi darurat disiapkan.

Kerugiannya adalah meliputi:


1. Gangguan kardiovaskuler dan pulmonar dari peningkatan volume cairan dalam
sistem sirkulasi mengikuti pemberian cepat volume cairan dalam jumlah besar.
2. Perkembangan potensial trombophlebitis.
3. Kemungkinan infeksi lokal atau sistemik dari kontaminasi larutan atau teknik
injeksi septik.
4. Pembatasan cairan berair.
Intramuskular
Intramuskular (IM) (Onset of action bervariasi, berupa larutan dalam air yang lebih
cepat diabsorpsi daripada obat berupa larutan dalam minyak, dan juga obat dalam sediaan
suspensi, kemudian memiliki kecepatan penyerapan obat yang sangat tergantung pada
besar kecilnya partikel yang tersuspensi: semakin kecil partikel, semakin cepat proses
absorpsi).
- Intramuskular (i.m), yaitu disuntikkan ke dalam jaringan otot, umumnya di otot pantat
-

atau paha.
Sediaan dalam bentuk larutan lebih cepat diabsorpsi daripada susupensi pembawa air

untuk minyak.
Larutan sebaiknya isotonis.
Onset bervariasi tergantung besar kecilnya partikel
Sediaan dapat berupa larutan, emulsi, atau suspensi.
Zat aktif bekerja lambat (preparat depo) serta mudah terakumulasi, sehingga dapat
menimbulkan keracunan.

Laporan Farmakologi

Page 3

Volume sediaan umumnya 2 ml sampai 20 ml dapat disuntikkan kedalam otot dada,


sedangkan volume yang lebih kecil disuntikkan ke dalam otot-otot lain.

Subkutan
Subkutan (SC) (Onset of action lebih cepat daripada sediaan suspensi, determinan
dari kecepatan absorpsi ialah total luas permukaan dimana terjadi penyerapan,
menyebabkan konstriksi pembuluh darah lokal sehingga difusi obat tertahan/diperlama,
obat dapat dipercepat dengan menambahkan hyaluronidase, suatu enzim yang memecah
mukopolisakarida dari matriks jaringan) (Joenoes, 2002).
Subkutan atau di bawah kulit (s.c) yaitu disuntikkan kedalam tubuh melalui bagian yang
sedikit lemaknya dan masuk ke dalam jaringan di bawah kulit; volume yang diberikan
tidak lebih dari 1 ml.
- Larutan sebaiknya isotonis dan isohidris
- Larutan yang sangat menyimpang isotonisnya dapt menimbulkan rasa nyeri atau
-

nekrosis dan absorpsi zat aktif tidak optimal.


Onset of action obat berupa larutan dalam air lebih cepat dari pada sediaan suspensi.
Determinan kecepatan absorpsi ialah total luas permukaan tempat terjadinya

penyerapan.
Bila ada infeksi, maka bahayanya lebih besar dari pada penyuntikkan ke dalam
pembuluh darah karena pada pemberian subkutan mikroba menetap di jaringan dan

membentuk abses.
Zat aktif bekerja lebih lambat dari pada secara i.v
Pemberian s.c dalam jumlah besar dikenal dengan nama Hipodermoklis

Intraperitonial
Intraperitonel (IP) tidak dilakukan pada manusia karena bahaya (Anonim, 1995).Disini
obat langsung masuk ke pembuluh darah sehingga efek yang dihasilkan lebih cepat
dibandingkan intramuscular dan subkutan karena obat di metabolisme serempak sehingga
durasinya agak cepat.
Absorpsi dari obat mempunyai sifat-sifat tersendiri. Beberapa diantaranya dapat
diabsorpsi dengan baik pada suatu cara penggunaan, sedangkan yang lainnya tidak (Ansel,
1989).
Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian ke dalam darah.
Bergantung pada cara pemberiannya, tempat pemberian obat adalah saluran cerna (mulut
sampai dengan rektum), kulit, paru, otot, dan lain-lain. Cara pemberian obat yang berbedabeda melibatkan proses absorbsi obat yang berbeda-beda pula. Berdasarkan literatur
dijelaskan bahwa absorpsi paling cepat adalah IV, kedua adalah IP, ketiga IM, lalu keempat
SC, dan absorpsi paling lambat adalah pemberian per oral. Kegagalan atau kehilangan obat
Laporan Farmakologi

Page 4

selama proses absorbsi akan mempengaruhi efek obat dan menyebabkan kegagalan
pengobatan.
Cara pemberian obat yang paling umum dilakukan adalah pemberian obat per oral, karena
mudah, aman, dan murah . Dengan cara ini tempat absorpsi utama adalah usus halus, karena
memiliki permukaan absorpsi yang sangat luas, yakni 200m2. Pada pemberian secara oral,
sebelum obat masuk ke peredaran darah dan didistribusikan ke seluruh tubuh, terlebih
dahulu harus mengalami absorbsi pada saluran cerna.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses absorbsi obat pada saluran cerna antara
lain:
1. Bentuk Sediaan
Terutama berpengaruh terhadap kecepatan absorbsi obat, yang secara tidak langsung
dapat mempengaruhi intensitas respon biologis obat. Dalam bentuk sediaan yang berbeda,
maka proses absorpsi obat memerlukan waktu yang berbeda-beda dan jumlah
ketersediaan hayati kemungkinan juga berlainan.
2. Sifat Kimia dan Fisika Obat
Bentuk asam, ester, garam, kompleks atau hidrat dari bahan obat dapat mempengaruhi
kekuatan dan proses absorpsi obat. Selain itu bentuk kristal atau polimorfi, kelarutan
dalam lemak atau air, dan derajat ionisasi juga mempengaruhi proses absorpsi. Absorpsi
lebih mudah terjadi bila obat dalam bentuk non-ion dan mudah larut dalam lemak.
3. Faktor Biologis
Antara lain adalah pH saluran cerna, sekresi cairan lambung, gerakan saluran cerna,
waktu pengosongan lambung dan waktu transit dalam usus, serta banyaknya pembuluh
darah pada tempat absorpsi.
4. Faktor Lain-lain
Antara lain umur, makanan, adanya interaksi obat dengan senyawa lain dan adanya
penyakit tertentu.
Pemberian obat di bawah lidah hanya untuk obat yang sangat larut dalam lemak, karena
luas permukaan absorpsinya kecil, sehingga obat harus melarut dan diabsorpsi dengan sangat
cepat, misalnya nitrogliserin. Karena darah dari mulut langsung ke vena kava superior dan
tidak melalui vena porta, maka obat yang diberikan melalui sublingual ini tidak mengalami
metabolisme lintas pertama oleh hati.
Kerugian pemberian per oral adalah banyak faktor dapat mempengaruhi bioavaibilitas
obat. Karena ada obat-obat yang tidak semua yang diabsorpsi dari tempat pemberian akan
mencapai sirkulasi sistemik. Sebagian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding usus dan
Laporan Farmakologi

Page 5

atau di hati pada lintasan pertamanya melalui organ-organ tersebut (metabolisme atau
eliminasi lintas pertama). Eliminasi lintas pertama obat dapat dihindari atau dikurangi dengan
cara pemberian parenteral, sublingual, rektal, atau memberikannya bersama makanan.
Selain itu, kerugian pemberian melalui oral yang lain adalah ada obat yang dapat
mengiritasi saluran cerna, dan perlu kerja sama dengan penderita, dan tidak bisa dilakukan
saat pasien koma.

Alat dan Bahan :


1. Tikus
2. Sarung tangan steril
3. Jarum suntik
4. Sonde oral
5. Kertas Koran
6. Tissue / kapas
7. 5 Ekor Tikus jantan
8. Alkohol
9. Aquadestillata
10. Larutan Phenobarbital

Cara kerja :
a. Pemberian secara oral
1. Ambil tikus jantan putih
2. Siapkan Sonde
3. Tikus dipegang pada tengkuknya, jarum oral yang telah dipasang pada alat suntik
berisi larutan phenobarbital, diselipkan dekat langit langit tikus dan diluncurkan
masuk ke esofagus. Larutan diberikan dengan menekan spuit pendorong sambil badan
spuit ditahan agar ujung jarum oral tidak melukai esofagus.

Laporan Farmakologi

Page 6

4. Amati kelakuan tikus dan catat waktunya

b. Pemberian secara intravena


1. Ambil tikus putih jantan
2. Siapkan alat suntik lengkap dengan jarum suntik yang berisi obat
3. Tikus dimasukkan ke dalam alat khusus yang memungkinkan ekornya keluar sebelum
disuntikkan. Sebaiknya pembuluh balik vena pada ekor didilatasi dengan
penghangatan atau pengolesan memakai pelarut organik seperti alkohol. Penyuntikkan
dimulai dari bagian distal ekor.
4. Amati kelakuan tikus dan catat waktunya

c. Pemberian secara intra peritoneal


1. Ambil tikus putih jantan
2. Siapkan alat suntik lengkap dengan jarum suntik yang berisi obat
3. Tikus dipegang pada tengkuknya sedemikian sehingga posisi abdomen lebih tinggi
dari kepala, larutan oral obat disuntikkan pada bagian perut sebalah kanan bawah
tepat dibawah jantung diatas rongga hati.
4. Amati kelakuan tikus dan catat waktunya
d. Pemberian secara intramuscular
1. Ambil tikus putih jantan
2. Siapkan alat suntik lengkap dengan jarum suntik yang berisi obat
3. Suntikkan pada bagian paha tikus
4. Amati kelakuan tikus dan catat waktunya

e. Pemberian secara subkutan


1. Ambil tikus putih jantan
2. Siapkan alat suntik lengkap dengan jarum suntik yang berisi obat

Laporan Farmakologi

Page 7

3. Lalu suntikkan dilakukan dibawah kulit tengkuk


4. Amati kelakuan tikus dan catat waktunya

HasilPengamatan :
Perhitungan dosis hewan coba
Faktor konversi
Manusia ~ Mencit

BB Mencit 20 gram ~ 0.0026

Manusia ~ Tikus

BB Tikus 200 gram ~ 0.018

Manusia ~ Kelinci

BB Kelinci 1,5 kg ~ 0.07

Tabel Berat Hewan Coba (Tikus)


NO

Hewan Coba

Berat Badan

Tikus 1

115 gram

Tikus 2

120 gram

Tikus 3

125 gram

Tikus 4

138 gram

Tikus 5

138 gram

Perhitungan Dosis Phenobarbital


Phenobarbital Injeksi 50 mg/mlkonversi 0.018 x 50 mg/ml = 0.9 mg/ml

Tikus 1
Berat badan = 115 gr x 0.9 mg/ml = 0,5175 mg/ml
200 gr
0,5175 mg/ml

x 1 ml = 0, 01035 ml

50 mg

Laporan Farmakologi

Page 8

Tikus 2
Berat badan = 120 gr x 0.9 mg/ml = 0,54 mg/ml
200 gr
0,54 mg/ml

x 1 ml = 0,0108 ml

50 mg

Tikus 3
Berat badan = 125 gr x 0.9 mg/ml = 0,562 mg/ml
200 gr
0,562 mg/ml

x 1 ml = 0,0112 ml

50 mg

Tikus 4
Berat badan = 138 gr x 0.9 mg/ml = 0,621 mg/ml
200 gr
0,621 mg/ml

x 1 ml = 0,01242 ml

50 mg

Tikus 5
Berat badan = 138 gr x 0.9 mg/ml = 0,621 mg/ml
200 gr
0,621 mg/ml

x 1 ml = 0,01242 ml

50 mg

Cara Pemberian Obat dan Hasil Pengamatannya :

Laporan Farmakologi

Page 9

Hewan

Tikus ke-1

Rute Pemberian

Oral

Dosis

0,01 ml

Respon

Tenang menit ke-30

Onset

Durasi

(menit)

(menit)

33:00

60:16

24:00

60:30

30:00

60:00

30:00

60:17

32:00

60:15

Tidur menit ke-35


Tikus ke-2

IV

0,01 ml

Tenang menit ke-5


Tidur menit ke-20

Tikus ke-3

IM

0,01 ml

Tenang menit ke-15


Tidur menit ke-35

Tikus ke-4

IP

0,01 ml

Tenang menit ke-10


Tidur menit ke-30

Tikus ke-5

SC

0,01 ml

Tenang menit ke-20


Tidur menit ke-40

Pembahasan :
Pada hasil percobaan, yaitu pada tikus dengan berat badan yang berbeda-beda. Obat
yang digunakan adalah phenobarbital yang sifatnya larut dalam lemak. Obat ini akan
mencapai MEC (Minimal Effective Concentration) tertinggi sehingga tikus akan tertidur
dan akan bangun lagi karena farmakokinetik phenobarbital dalam plasma meningkat dan
tikus tertidur.Onset adalah waktu yang dibutuhkan obat untuk menimbulkan efek mulai
obat itu diberikan. Cara pemberian per oral memiliki onset yang paling lama karena pada
per oral senyawa obat memerlukan proses absorbsi, setelah obat masuk mulut akan
masuk lambung melewati kerongkongan. Di dalam lambung obat mengalami ionisasi
kemudian diabsorbsi oleh dinding lambung masuk kedalam peredaran darah, sehingga
membutuhkan waktu lebih lama untuk berefek. Durasi adalah waktu yang diperlukan
obat mulai dari obat berefek sampai efek hilang. Durasi dipengaruhi oleh kadar obat
dalam darah dalam waktu tertentu. Kecepatan absorpsi dari percobaan didapatkan bahwa
efek yang lebih dahulu timbul dan paling cepat absorpsinya adalah rute pemberian obat
dengan cara intravena dan yang paling lambat adalah cara per oral. Hal ini dikarenakan
Laporan Farmakologi

Page 10

rute pemberian obat secara intravena berhubungan dengan pembuluh darah langsung,
oleh karena itu rute pemberian ini cepat memberikan efek. Selain itu akibat faktor
individual, efek obat dapat sangat berbeda. Setiap orang dapat memberikan respons yang
berlainan terhadap suatu obat sesuai kepekaannya masing-masing. Sedangkan pada intra
peritonial obat langsung masuk ke pembuluh darah yang ada pada mesentrium sehingga
absorpsi lebih cepat dibanding intra muscular dan subkutan. Pada intra muscular terdapat
lapisan lemak yang sedikit banyak sehingga obat akan terhalang sebelum terabsorpsi, dan
pada subcutan terdapat lapisan lemak yang paling banyak sehingga durasi lebih lama
dibanding intra muscular.
Perbedaan respons ini bisa besar sekali, karena untuk setiap obat selalu ada orang
yang rentan dan dengan dosis rendah sekali sudah dapat memberikan efek terapeutik.
Sebaliknya, ada pula orang yang hanya memberikan efek dalam dosis yang amat tinggi.
Inilah sebabnya mengapa dosis obat yang diberikan pada suatu pasien dengan hasil baik,
adakalanya tidak ampuh pada pasien lain, yang mungkin dosisnya harus dinaikkan untuk
memberikan efek yang sama.

Kesimpulan :
Jadi kesimpulannya dari percobaan ini membuktikan bahwa cara pemberian obat
melalui intravena (i.v) memberikan efek lebih cepat dalam menimbulkan efek kerja dari
obat, daripada pemberian oral dan lain lain. Serta dibutuhkan dalam penyuntikan agar
obat masuk kedalam pembuluh darah/ organ target sehingga dapat memberikan efek yang
diharapkan.

DaftarPustaka :
Tim Dosen Praktikum Farmakologi. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi
Farmasi ISTN. Jakarta : 2008

Laporan Farmakologi

Page 11

Departemen farmakologi dan terapeutik. Farmakologi dan Terapi. Ed V. Balai Penerbit


FKUI. Jakarta : 2009
Mutschler, Ernst. Dinamika Obat. Ed V. Penerbit ITB. Bandung : 1999

PENGARUH VARIASI BIOLOGIK TERHADAP EFEK OBAT

I.

TUJUAN
Untuk mengetahui pengaruh variasi biologis terhadap dosis obat yang diberikan kepada
hewan percobaan.

II.

TEORI
Obat biasanya diberikan dalam dosis biasa atau dosis rata-rata, yang cocok untuk
sebagian besar pasien. Untuk pasien lainnya, dosis biasa ini bisa terlalu besar sehingga

Laporan Farmakologi

Page 12

menimbulkan efek toksik atau terlalu kecil sehingga tidak efektif. Tanpa adanya kesalahan
medikasi, kepatuhan pasien menentukan jumlah obat yang diminum. Pada pemberian per
oral, jumlah obat yang diserap ditentukan oleh bioavailabilitas obat tersebut, dan
bioavailabilitas ditentukan dengan mutu obat tersebut. Faktor-faktor farmakokinetik
menentukan berapa dari jumlah obat yang diminum dapat mencapai tempat kerja obat
untuk bereaksi dengan reseptornya.
Faktor-faktor farmakodinamik menentukan intensitas efek farmakologik yang
ditimbulkan oleh kadar obat di sekitar tempat reseptor tersebut. (Departemen Farmakologi
dan Terapeutik FK UI, 2007)
Untuk kebanyakan obat, keragaman respons pasien terhadap obat terutama disebabkan
oleh adanya perbedaan individual yang besar dalam faktor-faktor farmakokinetik;
kecepatan biotransformasi suatu obat menunjukkan variasi yang terbesar. Untuk beberapa
obat, perubahan dalam faktor-faktor farmakodinamik merupakan sebab utama yang
menimbulkan keragaman respon pasien. Variasi dalam berbagai faktor farmakokinetik dan
farmakodinamik ini berasal dari perbedaan individual dalam kondisi fisiologik, kondisi
patologik, faktor genetik, interaksi obat dan toleransi. (Departemen Farmakologi dan
Terapeutik FK UI, 2007)
Golongan Barbiturat
Di samping sebagai sedatif dan hipnotik, golongan barbiturat dapat pula dimanfaatkan
sebagai obat antikonvulsi; dan yang biasa digunakan ada-lah barbiturate kerja disana.
(long-acting barbiturates). Di sini dibicarakan khasiat anti-epilepsi, fenobarbital,
mefobarbital,

dan

metarbital;

serta

primi-don

yang

mirip

dengan

barbiturat

( Sulistia.G,1980).
Sebagai antiepilepsi fenobarbital menekan letupan di fokus (4). Banyak barbiturat
menghambat tahap akhir oksidasi mitokondria, sehingga mengurangi pembentukan
fosfatase berenergi tinggi. Senyawa fosfat ini perlu untuk sintesis neuro-transmiter (ump.
ACh), dan untuk repolarisasi mcmbran sel neuron setelah depolarisasi ( Sulistia.G,1980)
Fenobarbital
Fenobarbital (asam 5,5-fenil-etil barbiturat) me-rupakan senyawa organic pertama
yang digunakan dalam pengobatan antikonvulsi. Kerjanya, mem-batasi penjalaran
Laporan Farmakologi

Page 13

aktivitas serangan dan menaikkan ambang rangsang. Fenobarbital merupakan obat


antikonvulsi dengan potensi terkuat, tersering digunakan, dan termurah. Dosis efektif
relatif ren-dah (2). Efek sedatif, dalam hal ini dianggap efek samping, dapat diatasi dengan
pemberian amfe-tamin atau stimulan sentral lainnya tanpa menghi-langkan khasiat
antikonvulsinya. Kemungkinan intoksikasi kecil; kadang-kadang hanya timbul ruam
skarlatiniform pada kulit (2%). Efek toksik yang berat pada penggunaan sebagai
antiepilepsi belum pernah dilaporkan (2). Fenobarbital adalah obat terpilih untuk memulai
terapi epilepsi grand mal. Karena efek toksik berbeda dengan obat antikonvulsi lainnya,
khususnya dengan fenitoin, penggunaan fenobarbital sering dikombinasikan dengan obatobat tersebut. ( Sulistia.G,1980).
Indikasi penggunaan fenobarbital ialah terhadap grand mal atau berbagai serangan
kortikal lainnya; juga terhadap status epileptikus serta konvulsi fe-bril. Sekalipun
khasiatnya terbatas, karena sifat antikonvulsi berspektrum lebar dan aman, fenobarbital
sering cocok untuk terapi awal serangan absence, spasme mioklonik, dan epilepsi akinetik;
apalagi mengingat kemungkinan komplikasi serangan tonik- klonik umum (grand mal)
pada ketiga je-nis epilepsi tersebut. Terhadap epilepsy psikomotor manfaatnya terbatas dan
penterapan hams berhati-hati, oleh karena ada kemungkinan terjadinya eksaserbasi petit
mal. Hal ini terutama hams di-ingat oleh mereka yang menggunakan fenobarbital sebagai
obat terpilih pada setiap kelainan dengan konvulsi (umpamanya pada bidang kesehatan
anak). ( Sulistia.G,1980).
Dosis yang biasa digunakan pada orang dewasa adalah dua kali 100 mg sehari. Untuk
mengendali-kan epilepsi disarankan mendapatkan kadar plasma optimal, berkisar antara
10 sampai 30 meg/ml. Kadar plasma di atas 40 mg/ml sering disertai gejala toksik yang
nyata. Penghentian pemberian fenobarbital harus secara bertahap guna mencegah
kemungkinan meningkatnya frekuensi serangan kembali, atau malahan serangan status
epileptikus ( Sulistia.G,1980).

Intra Peritoneal
Pemberian obat dilakukan dengan cara menyuntikkan pada daerah abdomen sampai agak
menepi dari garis tengah dengan volume 0,5 ml. Mencit dipegang, memegang mencit
dengan menjepit bagian tekuk menggunakan ibu jari dan jari telunjuk, dan ekornya dijepit
diantara jari manis dan kelingking kemudian diposisikan telentang, pada penyuntikan
posisi kepala lebih rendah dari abdomen. Posisi jarum suntik sepuluh derajat
Laporan Farmakologi

Page 14

dari

abdomen berlawanan arah dengan kepala (arah jarum ke bagian perut). Jarum disuntikkan
dari abdomen yaitu, pada daerah yang menepi dari garis tengah, agar jarum suntik tidak
terkena kandung kemih dan tidak terlalu tinggi supaya tidak terkena penyuntikan pada
hati. Intraperitoneal (IP) tidak dilakukan pada manusia karena bahaya (Anonim, 1995).
Pemberian obat dengan cara intraperitoneal (injeksi yang dilakukan pada rongga perut) ini
jarang digunakan karena rentan menyebabkan infeksi. Keuntungan adalah obat yang
disuntikkan dalam rongga peritonium akan diabsorpsi cepat, sehingga reaksi obat akan
cepat terlihat.
Injeksi intraperitoneal atau injeksi IP adalah injeksi suatu zat ke dalam peritoneum
(rongga tubuh). IP injeksi lebih sering digunakan untuk hewan dari pada manusia.Hal ini
umumnya disukai ketika jumlah besar cairan pengganti darah diperlukan, atau ketika
tekanan darah rendah atau masalah lain mencegah penggunaan pembuluh darah yang
cocok untuk penyuntikan.Pada hewan, injeksi IP digunakan terutama dalam bidang
kedokteran hewan dan pengujian hewan untuk pemberian obat sistemik dan cairan karena
kemudahan administrasi parenteral dibandingkan dengan metode lainnya. Pada manusia,
metode ini banyak digunakan untuk mengelola obat kemoterapi untuk mengobati kanker,
terutama kanker ovarium.Penggunaan khusus ini telah direkomendasikan, kontroversial,
sebagai standar perawatan

III.

ALAT DAN BAHAN


Hewan Percobaan
Alat
Bahan

IV.

: Tikus Putih Jantan3 ekor


: Spuit 1 cc Terumo, beker glass
: Phenobarbital Inj 100 mg/2 ml, Nacl 0,9%

CARA KERJA

1. Siapkan 3 ekor tikus putih, timbang satu per satu dan catat beratnya

2. Siapkan obat yang akan disuntikan

Laporan Farmakologi

Page 15

3. Tikus 1 & 3 digunakansebagaihewancoba, Tikus 2 SebagaiBlangko

4. Tikus dipegang pada tengkuknya sehinnga posisi abdomen lebih tinggi dari kepala

5. Suntiklah ke dalam abdomen bawah dari tikus disebelah garis masagital (di perut)

6. Lihat dan catat reaksi dari tikus tersebut setelah disuntikan obat

V.

PERHITUNGAN
Hewan
Tikusjantan 1
Tikusjantan 2
Tikusjantan 3

BeratBadan
118g
106g
118g

PERHITUNGAN DOSIS
FAKTOR KONVERSI
Manusia
Mencit
Manusia
Tikus
Manusia
Kelinci

Phenobarbital inj 50 mg/ml

BB Mencit 20 gram
BB Tikus 200 gram
BB Kelinci 1,5 kg

Konversi

0,018 x 50 mg/ml = 0,9 mg/ml

Tikus jantan 1
118 g
x 0,9 mg/ ml=0,531 mg/ml
200 g

0,531mg/ml
x 1 ml=0,01062 mg/ml 0,01 ml
50 mg/ml
Laporan Farmakologi

0.0026
0.018
0.07

Page 16

Tikus jantan 2
106 g
x 0,9 mg/ ml=0,477 mg/ml
200 g

0,477 mg/ml
x 1ml=0,00954 mg/ml Pengenceran 10 x (1 ml Phenobarbital+ 9 ml Nacl 0,9 ) 0,09 ml
50 mg/ml

Tikus jantan 3
118 g
x 0,9 mg/ ml=0,531 mg/ml
200 g

0,531mg/ml
x 1 ml=0,01062 mg/ml 0,01 ml
50 mg/ml
VI.

HASIL PENGAMATAN
Hewan
TikusPutihJantan 1
TikusPutihJantan 2
TikusPutihJantan 3

Hewan

Obat
Phenobarbital 50mg/ml
Phenobarbital 50mg/ml
Nacl 0,9%

35

Diam

Diam

Aktif

Diam

Diam

Aktif

Aktif Aktif Aktif Diam


Diam
Diam Aktif
an 3
*EFEK RESISTEN : TIKUS TIDAK TIDUR, TETAPI MENGALAMI ATAKSIA

Aktif

an 2
TikusPutihJant

10

Aktif

Aktif

Aktif

Aktif

Aktif

Aktif

WaktuKerjaObat
15
20
Diam(Mulai
Aktif
kerjaobat)
Diam(Mulai
Diam
kerjaObat)

30

an 1
TikusPutihJant

Cara Pemberiana
IP
IP
IP

25

TikusPutihJant

Dosis
0,01 ml
0,09ml
0,01 ml

Laporan Farmakologi

Page 17

VII.

PEMBAHASAN
Hewan

sebagai

model

atau

sarana

percobaan

haruslah

memenuhi

persyaratan- persyaratan tertentu, antara lain persyaratan genetis/ keturunan dan lingkungan
yangmemadai dalam pengelolaannya, di samping faktor ekonomis, mudah tidaknyadiperoleh, serta
mampu memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya padamanusia. (Sulaksono,
M.E., 1987)
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa mencit dengan berat badan yang lebihkecil
mengalami efek obat yang lebih cepat daripada mencit dengan berat badanyang lebih besar,
hal ini sesuai dengan teori dimana mencit dengan berat badan yanglebih kecil yang akan
mengalami efek obat yang lebih cepat. Menurut teori,kebanyakan dosis dewasa
dikalkulasikan sekitar berat dewasa, yaitu 150 pon antaraumur 16 sampai 65 tahun. Namun,
kebanyakan orang dewasa beratnya tidakmencapai 150 pons. Pada individu kecil (100
pons), dosisnya harus dikurangi. Padaindividu yang lebih besar (200 pon sampai 300 pons),
dosis nya harus ditingkatkan.Bagaimanapun juga pendekatan dosis seperti ini tidak selalu
dapat dijadikanpedoman dikarenakan masih banyaknya faktor lain yang menentukan.
(Henry H. and Barbara N., 1994)
Hal ini mungkin terdapatnya variasi biologis pada tiap individu. Akibat faktor
individual itu, efek obat dapat sangat berbeda.Setiap orang dapat memberikan respon yang
berlainan terhadap suatu obat sesuai kepekaannya masing-masing.

VIII.

KESIMPULAN
Pada uji kali ini dapat disimpulkan bahwa pemberian dosis obat yang sesuai pada 2
tikus yang berbeda berat badan menunjukan perbedaan waktu kerja oba t tesebut. Ini di
karenakan variasi biologi, setiap tubuh memiliki respon yang berbeda-beda terhadap
obat.

IX.

DAFTAR PUSTAKA

Laporan Farmakologi

Page 18

1. Sulaksono, M.E., 1992. Faktor Keturunan dan Lingkungan Menentukan Karakteristik


Hewan Percobaan dan Hasil Suatu Percobaan Biomedis. Jakarta.

2. Mutsschler. E. 1991. Dinamika Obat Buku Ajar Farmakologi dan Toksikologi.


Terjemhan M. B. widianto dan A. S. Ranti, Penerbit ITB, Bandung.

3. Mardjono, Mahar. (2007). Farmakologi dan Terapi Edisi 5, Jakarta, Gaya Baru.

4. Katzung G, Betram. (1997). Farmakologi Dasar Klinik. Edisi . Jakarta: EGC


Walker, Roger & Clive Edwards, (2003), CLINICAL PHARMACY AND
THREPEUTICS, Third Edition, Churchill Livingstone: Edinburgh, Halaman 8.

PENGARUH VARIASI KELAMIN TERHADAP EFEK OBAT

I.

Tujuan Percobaan :

Laporan Farmakologi

Page 19

1. Mengenal dan mengamati berbagai faktor yang memodifikasi obat.

2. Mengajukan hal-hal yang melandasi pengaruh faktor-faktor ini.

3. Dapat merumuskan pendekatan teoritis maupun praktis.

4. Untuk mengetahui pengaruh variasi jenis kelamin terhadap dosis obat yang
diberikan kepada hewan percobaan.

II.

Prinsip

Dosis yang diperlukan untuk mencapai kadar terapeutik efektif berbedabeda pada tiap-tiap individu disebabkan karena adanya variasi biologi dan variasi
jenis kelamin yang mempengaruhi respons tubuh terhadap obat.

III.

Teori

Faktor-Faktor yang mempengaruhi metabolisme

obat secara normal

melibatkan lebih dari satu proses kimiawi dan enzimatik sehingga menghasilkan lebih
dari satu metabolit. Jumlah metaboloit ditentukan oleh kadar dan aktivitas enzim yang
berperan pada proses metabolisme.

Laporan Farmakologi

Page 20

Kecepatan metabolisme dapat menentukan intensitas dan memeperpanjang


kerja obat. Kecepatan metabolisme ini kemungkinan berbeda-beda pada masingmasing individu. Penurunan kecepatan metabolisme akan meningkatkan intensitas
dan memperpanjang masa kerja obat, dan kemungkinan meningkatkan toksisitas obat.
Kenaikan kecepatan metabolisme akan menurunkan intensitas dan memperpendek
masa kerja obat sehingga obat menjadi tidak efektif pada dosis normal.

Faktor-faktor yang mempengaruhi metabolisme obat antara lain faktor genetik


atau keturunan, perbedaan spesies dan galur, pebedaan jenis kelamin, perbedaan
umur, penghambatan enzim metabolisme, induksi enzim metabolisme dan faktorfaktor lain.Perbedaan Jenis Kelamin (yang dipraktikkan)Pada beberapa spesies
binatang menunjukkan ada pengaruh jenis kelamin terhadap kecepatan metabolisme
obat. Banyak obat dimetabolisis dengan kecepatan yang sama baik pada tikus betina
maupun tikus jantan. Tikus betina dewasa ternyata memetabolisis beberapa obat
dengan kecepatan yang lebih rendah dibanding tikus jantan.

Senyawa Phenobarbital

Fenobarbital adalah antikonvulsan turunan barbiturat yang efektif dalam mengatasi


epilepsi.[ Nama kimia dari fenobarbital sendiri adalah asam 5-etil- 5fenilbarbiturat. Karena
fenobarbital merupakan salah satu obat golongan barbiturat, mekanismenya sama dengan
barbiturat. Barbiturat menekan korteks sensor,menurunkan aktivitas motorik, mempengaruhi
fungsi serebral dan menyebabkan kantuk, efek sedasi dan hipnotik. Pada dosis tinggi
barbiturat memiliki sifat antikonvulsan, dan menyebabkan depresi saluran nafas yang
dipengaruhi dosis.Fenobarbital digunakan untuk mengontrol dan mengurangi kejang,
mengurangi risiko bahaya ketika kehilangan kesadaran, dan mengurangi kejang berulang
yang dapat mengakibatkan kematian.Fenobarbital mengontrol aktivitas listrik abnormal di
otak yang terjadi selama kejang. Ia bekerja dengan memengaruhi bagian-bagian tertentu dari
otak sehingga memberikan efek menenangkan.
Laporan Farmakologi

Page 21

Farmakokinetik
Absorbsi
Setelah pemberian obat secara oral, obat diserap dengan baik dari lambung dan usus
halus, dengan kadar puncak terjadi 2 sampai 20 jam kemudian. Kadar terapeutik untuk orang
dewasa adalah sekitar 20 sampai 40 mikro gram per ml. [4] Sedangkan pada anak, kadar yang
sedikit lebih rendah masih efektif. Phenobarbital diserap dalam berbagai derajat setelah
pemberian oral, rektal atau parenteral. Garam-garam lebih cepat diserap daripada asam.
Tingkat penyerapan meningkat jika garam natrium ditelan sebagai larutan encer atau
diminum pada saat perut kosong.
Distribusi
Fenobarbital adalah asam lemah yang diserap dan dengan cepat didistribusikan ke
seluruh jaringan dan cairan dengan konsentrasi tinggi di otak, hati, dan ginjalSemakin ia larut
lemak, semakin cepat pula ia menembus semua jaringan tubuh.Durasi kerja, yang berkaitan
dengan tingkat dimana fenobarbital didistribusikan ke seluruh tubuh bervariasi antara orangorang dan pada orang yang sama dari waktu ke waktuLong-acting fenobarbital memiliki
onset kerja 1 jam atau lebih dan durasi tindakan dari 10 sampai 12 jam.Fenobarbital memiliki
kelarutan lipid terendah, pengikatan dengan plasma terendah, pengikatan dengan protein di
otak terendah, penundaan terpanjang pada onset aktivitas , dan durasi aksi terpanjang di kelas
barbiturat.
Metabolisme
Metabolisme fenobarbital terjadi di hati berupa hidroksilasi dan konjugasi ke sulfat
atau asam glukuronat, diikuti oleh ekskresi melalui ginjal.Waktu paruh fenobarbital adalah
dari 50 sampai 100 jam.Fenobarbital dimetabolisme terutama oleh sistem enzim mikrosomal
hati, dan produk-produk metabolisme diekskresikan dalam urin, dan dalam tinja.
Ekskresi
Sekitar 25 sampai 50 persen dari dosis fenobarbital dihilangkan tidak berubah dalam
urin.Ekskresi barbiturat yang tidak dimetabolisme adalah salah satu fitur yang membedakan
kategori long-acting dari mereka yang termasuk kategori lain golongan barbiturat yang
Laporan Farmakologi

Page 22

hampir seluruhnya dimetabolisme.Metabolit aktif dari barbiturat diekskresikan sebagai


konjugat dari asam glukuronat.
Interaksi Obat
Fenobarbital dapat berinteraksi dengan obat lain karena menginduksi enzim-enzim
hati yang meningkatkan metabolisme obat atau sebagai respons terhadap kompetisi dengan
enzim-enzim hati sehingga metabolisme obat melambat.Ekskresi dipermudah oleh
alkalinisasi urine. Pengasaman urine dengan pemberian asam valproat dapat memperlambat
pembersihan fenobarbital. Karena itu, apabila diberikan bersama dengan obat lain, dosis
fenobarbital harus benar-benar diketahui dengan tepat dengan memantau konsentrasi di
dalam serum
Toksisitas
Keracunan akibat overdosis fenobarbital ditandai dengan sedasi sistem saraf pusat dan
penurunan fungsi pernapasan. Gejala ringan ditandai dengan ataksia, nistagmus, kelelahan,
atau kehilangan perhatian, terjadi pada konsentrasi darah > 40 mcg/mL.Gejala menjadi parah
pada konsentrasi > atau = 60 mcg/mL. Toksisitas menjadi pada konsentrasi > 100 mcg/mL
mengancam jiwa. Kematian biasanya terjadi karena serangan pernapasan ketika dukungan
paru tidak diberikan secara manual.

IV. Alat dan Bahan

Hewan percobaan

: Mencit putih jantan dan betina, masing-masing tiga ekor, usia dua
bulan bobot tubuh sekitar 30 gram.

Bahan Obat

: 1. Phenobarbital 50 mg/ml

2. NaCl Fisiologis

Laporan Farmakologi

Page 23

Alat

: 1. Alat suntik 1 ml

Rute pemberian

2. Timbangan hewan
3. Gelas ukur
: Intraperitonial (IP)

V.Prosedur

Sebelum disuntik, masing-masing mencit ditimbang berat badannya dan diamati


selama 10 menit kelakuannya normalnya. Setelah obat disuntikkan, masing-massing mencit
ditempatkan kembali ke dalam bejana-bejana untuk pengamatan.

Hasil penimbangan
Jenis jantan

Berat badan

Jenis betina

Berat badan

Mencit 1

35 gram

Mencit 1

31 gram

Mencit 2

29 gram

Mencit 2

32 gram

Mencit 3

33 gram

Mencit 3

32 gram

Perhitungan dosis
Faktor konversi Manusia

Mencit, BB mencit 20gram

Phenobarbital 50mg/ml

0.0026 x 50 mg/ml = 0,13 mg/ml

Mencit betina 1
Laporan Farmakologi

0,0026

Page 24

30 gram
20 gram

x 0,13 mg/ml = 0,2015 mg/ml

Volume yang diambil


50 mg/
0,2015mg/ml x 1ml = 0,004ml

Pengenceran
Phenobarbital : 1 ml
Nacl 500
: ad 10 ml
0,004 ml
x 10 ml = 0,04 ml
1 ml

Mencit betina 2
32 gram
20 gram

x 0,13 mg/ml = 0,208 mg/ml

Volume yang diambil


0,208 mg/ml
50 mg /ml x 1ml = 0,004ml

Pengenceran
Phenobarbital : 1 ml
Nacl 500
: ad 10 ml
0,004 ml
x 10 ml = 0,04 ml
1 ml

Mencit betina 3
32 gram
20 gram

x 0,13 mg/ml = 0,208 mg/ml

Volume yang diambil


0,208 mg/ml
50 mg /ml x 1ml = 0,004ml

Pengenceran
Phenobarbital : 1 ml
Nacl 500
: ad 10 ml

Laporan Farmakologi

Page 25

0,004 ml
x 10 ml = 0,04 ml
1 ml

Mencit jantan 1
35 gram
20 gram

x 0,13 mg/ml = 0,223 mg/ml

Volume yang diambil


0,223mg /ml
x 1ml = 0,004ml
50 mg/ml

Pengenceran
Phenobarbital : 1 ml
Nacl 500
: ad 10 ml
0,004 ml
x 10 ml = 0,04 ml
1 ml

Mencit jantan 2
29 gram
20 gram

x 0,13 mg/ml = 0,189 mg/ml

Volume yang diambil


0,189mg /ml
x 1ml = 0,004ml
50 mg/ml

Pengenceran
Phenobarbital : 1 ml
Nacl 500
: ad 10 ml
0,004 ml
x 10 ml = 0,04 ml
1 ml

Mencit jantan 3
33 gram
20 gram

Laporan Farmakologi

x 0,13 mg/ml = 0,2145 mg/ml

Page 26

Volume yang diambil


0,2145mg/ml
x 1ml = 0,004ml
50 mg/ml

Pengenceran
Phenobarbital : 1 ml
Nacl 500
: ad 10 ml
0,004 ml
x 10 ml = 0,04 ml
1 ml

Pemberian obat

Jenis jantan

Dosis

Jenis betina

Dosis

Mencit 1

0,04 ml

Mencit 1

0,04 ml

Mencit 2

0,04 ml

Mencit 2

0,04 ml

Mencit 3

0,04 ml

Mencit 3

0,04 ml

VI. Hasil pengamatan


a. Mencit betina
Nomer

Berat

Cara

mencit

Badan

Pemberian

31 gram
Intraperitonial

32 gram
Intraperitonial

32 gram
Intraperitonial

Laporan Farmakologi

Obat

Dosis

Waktu

Waktu

penyuntikan

memberikan

Phenobarbita

0,04 ml

15.25

efek
15.53

l
Phenobarbita

0,04 ml

15.27

15.53

l
Phenobarbita

0,04 ml

15.30

15.53

Page 27

b. Mencit jantan
Nomer

Berat

Cara

mencit

Badan

Pemberian

35 gram
Intraperitonial

29 gram
Intraperitonial

33 gram
Intraperitonial

Obat

Dosis

Waktu

Waktu

penyuntikan

memberikan

Phenobarbita

0,04 ml

15.20

efek
15.50

l
Phenobarbita

0,04 ml

15.21

16.00

l
Phenobarbita

0,04 ml

15.24

15.55

VII. Pembahasan

Pemberian obat pada hewan uji yaitu pertama melalui intravena, subkutan,
intraperitoneal, dan intramuscular. Pemberian obat dilakukan dengan cara intraperitoneal
(injeksi yang dilakukan pada rongga perut, dimanaposisi kepala mencit lebih rendah dari
abdomennya dan jarum disuntikkan dengan membentuk sudut 10 derajat dengan abdomen,
agak menepi dari garis tengah untuk menghindari terkenanya kandung kencing dan jangan
terlalu tinggi agar tidak mengenai hati).

Dari hasil pengamatan kelompok-kelompok, diperoleh onset dan durasi yang berbeda.
Onset merupakan waktu mulai timbulnya efek setelah pemberian obat. Durasi adalah waktu
lamanya efek sampai efek obat tersebut hilang. Dan berdasarkan pengamatan pemberian
Phenobarbital terhadap mencit betina memberikan efek sedative atau tenang, jarak antara
pemberian obat dan memberikan efek sekitar 26 menit sedangkan pada mencit jantan jarak
antara pemberian obat dan sekitar 30 menit masih belum memberikan efek, mencit jantan
masih terlihat aktif.

Berdasarkan data pengamatan, ternyata efek obat Phenobarbital terhadap mencit


jantan dan betina terdapat perbedaan. Pada mencit betina efek timbulnya Phenobarbital

cepat terlihat dibandingkan pada mencit jantan. Hal ini sesuai dengan teori pengaruh
fisiologis pada mencit betina yang mengandung hormon steroid ovarium dapat menghambat
Laporan Farmakologi

Page 28

efek benzodiazepin tentang kemampuan menghindar dan aktivitas motorik, metabolisme obat
Phenobarbital juga dapat diturunkan oleh adanya hormone estrogen dan progesterone
sehingga mencit betina akan memperlihatkan efek yang lebih cepat.

VIII. KESIMPULAN

Fenobarbital merupakan salah satu obat golongan barbiturat, mekanismenya sama


dengan barbiturat. Barbiturat menekan korteks sensor,menurunkan aktivitas motorik,
mempengaruhi fungsi serebral dan menyebabkan kantuk, efek sedasi dan hipnotik.
Pada dosis tinggi barbiturat memiliki sifat antikonvulsan, dan menyebabkan depresi
saluran nafas yang dipengaruhi dosis.Fenobarbital digunakan untuk mengontrol dan
mengurangi kejang, mengurangi risiko bahaya ketika kehilangan kesadaran, dan
mengurangi kejang berulang yang dapat mengakibatkan kematian.Fenobarbital
mengontrol aktivitas listrik abnormal di otak yang terjadi selama kejang. Ia bekerja
dengan memengaruhi bagian-bagian tertentu dari otak sehingga memberikan efek
menenangkan.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa Phenobarbital lebih cepat dimetabolisme pada


mencit betina daripada mencit jantan. Hal ini disebabkan pengaruh fisiologis pada
mencit betina yang mengandung hormon steroid ovarium dapat menghambat efek
benzodiazepine tentang kemampuan menghindar dan aktivitas motorik, metabolisme
obat diazepam juga dapat diturunkan oleh adanya hormone estrogen dan progesterone
sehingga mencit betina akan memperlihatkan efek yang lebih cepat.

Laporan Farmakologi

Page 29

IX. DAFTAR PUSTAKA

Katzung, Bertram G. 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta: Penerbit Buku

Kedokteran EGC.

Nurmeilis, dkk. 2009. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi Farmasi

FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1996). Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.

Laporan Farmakologi

Page 30

DOSIS DAN RESPON

I.

TUJUAN PERCOBAAN

1. Memperoleh gambaran bagaimana rancangan eksperimen untuk memperoleh DE50


dan DL50.

2.

II.

Memahami konsep indeks terapi dan implikasi implikasinya.

PRINSIP

Laporan Farmakologi

Page 31

1. Indeks Terapi

Indeks terapi adalah rasio antara dosis yang menimbulkan kematian pada 50%
dari hewan percobaan yang digunakan (LD50) dibagi dosis yang memberikan efek
yang diteliti pada 50% dari hewan percobaan yang digunakan (ED50). Semakin besar
indeks terapi obat semakin besar efek terapeutiknya.

2. Dosis respon obat

Jika dosis meningkat maka intensitas efek obat pada makhluk hidup juga
meningkat. Jika dosis berlebih maka akan menyebabkan over dosis bahkan kematian
karena rentang indeks terapinya terlalu rendah sehingga menimbulkan efek toksik.
Jika dosis kurang maka tidak akan menimbulkan efek teurapeutik.

III.

TEORI

Dasar-dasar Kerja Obat

Dalam farmakologi, dasar-dasar kerja obat diuraikan dalam dua fase yaitu fase
farmakokinetik dan fase farmakodinamik. Dalam terapi obat, obat yang masuk dalam
tubuh melalui berbagai cara pemberian umumnya mengalami absorpsi, distribusi, dan
pengikatan untuk sampai ke tempat kerja ( reseptor ) dan menimbulkan efek ,
kemudian dengan atau tanpa biotransformasi ( metabolisme ) lalu di ekskresi kan dari
tubuh. proses tersebut dinyatakan sebagai proses farmakokinetik. Farmakodinamik,
menguraikan mengenai interaksi obat dengan reseptor obat; fase ini berperan dalam
efek biologik obat

Pada tubuh (Adnan,2011).


Laporan Farmakologi

Page 32

Indeks Terapi

Indeks terapi hanya berlaku untuk satu efek, maka obat yang mempunyai
beberapa efek terapi juga mempunyai beberapa indeks terapi. Contoh : Aspirin
mempunyai efek analgetik dan antirheumatik. Indeks terapi atau batas keamanan obat
aspirin sebagai analgetik lebih besar dibandingkan dengan indeks terapi sebagai
antireumatik karena dosis terapi antireumatik lebih besar dari dosis analgetik
(Adnan,2011).

Meskipun perbandingan dosis terapi dan dosis toksik sangat bermanfaat untuk
suatu obat, namun data demikian sulit diperoleh dari penelitian klinik.( sulit
mendapatkan responden yang bersedia untuk uji klinik ). Maka dari itu selektifitas
obat dinyatakan secara tidak langsung yaitu diperhitungkan dari data : (1) pola dan
insiden efek samping yang ditimbulkan obat dalam dosis terapi, dan (2) persentase
penderita yang menghentikan obat atau menurunkan dosis obat akibat efek samping.
(Adnan,2011).

Harus diingat bahwa gambaran atau pernyataan bahwa obat cukup aman untuk
kebanyakan penderita, tetapi tidak menjamin keamanan untuk setiap penderita karena
selalu ada kemungkinan timbul respons yang menyimpang. Contohnya : penisilin
dapat dinyatakan aman untuk sebagian besar penderita tetapi dapat menyebabkan
kematian untuk penderita yang alergi terhadap obat tersebut. (Adnan,2011).

Respons individu terhadap obat sangat bervariasi, yaitu dapat berupa: (1)
Hiperaktif (dosis rendah sekali sudah dapat memberikan efek); (2) Hiporeaktif (untuk
mendapatkan efek, memerlukan dosis yang tinggi sekali); (3) Hipersensitif ( orang
alergi terhadap obat tertentu ); (4) Toleransi ( untuk mendapatkan efek obat yang
pernah di konsumsi sebelumnya, memerlukan dosis yang lebih tinggi); (5) Resistensi
(efek obat berkurang karena pembentukan genetik); (6) Idiosikrasi (efek obat yang
aneh , yang merupaka reaksi alergi obat atau akibat perbedaan genetik)
(Adnan,2011).
Laporan Farmakologi

Page 33

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Aksi Obat

1. Berat badan

2.

Umur

3. Jenis kelamin

4.

Kondisi patologik pasien

5. Genetik ( Idiosinkrasi )

6. Cara pemberian obat :

a. Yang memberikan efek sistemik : - oral; sublingual; bukal;-parenteral;implantasi subkutan; rectal.

b. Yang memberikan efek lokal :- inhalasi; -topikal ( pada kulit ) : salep,


krim , lotion ; - obat-obat pada mukosa : tetes mata, tetes telinga
(Adnan,2011).

Hipnotika & Sedatif


Hipnotik Sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat
(SSP) yang relatif tidak selektif, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan kantuk,
menidurkan, hingga yang berat yaitu hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma
dan mati, bergantung kepada dosis. Pada dosis terapi obat sedatif menekan aktivitas,
menurunkan respon terhadap rangsangan emosi dan menenangkan. Obat Hipnotik
Laporan Farmakologi

Page 34

menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang


menyerupai tidur fisiologis.Obat hipnotika dan sedatif biasanya merupakan turunan
Benzodiazepin. Beberapa obat Hipnotik Sedatif dari golongan Benzodiazepin
digunakan juga untuk indikasi lain, yaitu sebagai pelemas otot, antiepilepsi,
antiansietas dan sebagai penginduksi anestesis (Anonym, 2006).

IV.

BAHAN, ALAT, DAN HEWAN PERCOBAAN

Hewan Percobaan

: Mencit jantan 5 ekor (bobot badan rata-rata 30 g).

Bahan Obat

: Phenobarbital 50 mg/ml

2. NaCl Fisiologis

Alat

: 1. Alat suntik 1 ml

2. Timbangan hewan

Perhitungan dosis
Data Konversi : Manusia Mencit (0,0026)
Phenobarbital 50mg/ml

0.0026 x 50 mg/ml = 0,13 mg/ml

*Bobot rata-rata mencit =

*Volume yang di ambil =

30 g
x 0,13=0,195 mg/ml
20 g
0,195 ml
x 1=0,0039ml
50 ml

Laporan Farmakologi

Page 35

*Pengenceran =
Phenobarbital : 1 ml
0,0039ml
x 10 ml=0,039 ml 0,04 ml
1ml

Nacl 500 : ad 10 ml

V. PROSEDUR

Mencit diberi tanda agar mudah dikenali (mencit I-V), kemudian berikan phenobarbital
secara intraperitonial kepada setiap mencit dengan dosis yang meningkat. Dosis yang
diberikan adalah sebagai berikut:

VI.

Nomor

Mencit

Dosis (mg/kg BB)

0,04

II

0,08

III

0,16

IV

0,32

0,64

HASIL PENGAMATAN

Berat

Cara

Laporan Farmakologi

Obat

Dosis
Page 36

Sedasi

Hipnotik

Letal

Mencit

Badan

Pemberia

29 g

n
IP

Phenobarbita

0,04 ml

Menit ke-20

Menit ke-31

IP

l
Phenobarbita

0,08 ml

Menit ke-15

Menit ke-25

0,16 ml

Menit ke-13

Menit ke-23

II

29,5 g

III

30 g

IP

l
Phenobarbita

IV

30,5 g

IP

l
Phenobarbita

0,32 ml

Menit ke-8

Menit ke

31 g

IP

l
Phenobarbita

0,64 ml

Menit ke-5

-20
Menit ke-17

VII. PEMBAHASAN

Percobaan dosis respon obat dan indeks terapi ini bertujuan untuk memperoleh (LD50) dan
(ED50) serta memahami konsep indeks terapi pada hewan percobaan, yaitu mencit dengan
berat sekitar 30 g. Sementara obat yang diujikan indeks terapinya adalah phenobarbital.
Selain obat, digunakan juga NaCl fisiologis sebagai kontrol negatif.

Penyuntikan dilakukan secara intraperitonial. Cara pemberian secara intraperitonial yaitu


mencit disuntik di bagian abdomen bawah sebelah garis midsagital dengan posisi abdomen
Laporan Farmakologi

Page 37

lebih tinggi daripada kepala, dan kemiringan jarum suntik 10. Pemberian secara
intraperitonial dimaksudkan agar absorbsi pada lambung, usus dan proses bioinaktivasi dapat
dihindarkan, sehingga didapatkan kadar obat yang utuh dalam darah karena sifatnya yang
sistemik.

Obat yang digunakan adalah Phenobarbital. Phenobarbital adalah obat psikotropika dari
golongan barbiturate. Phenobarbital merupakan salah satu obat golongan hipnotik sedatif.
Hipnotik atau obat tidur adalah zat-zat yang dalam dosis terapi diperuntukkan meningkatkan
keinginan untuk tidur dan mempermudah atau menyebabkan tidur. Bila obat ini diberikan
dalam dosis lebih rendah untuk tujuan menenangkan, maka dinamakan sedatif.

Hipnotik sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat yang relatif tidak
selektif, mulai dari yang ringan, yaitu menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan hingga
yang berat, yaitu hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma, dan mati bergantung kepada
dosis. Hipnotik dapat dibagi dalam beberapa kelompok yakni senyawa barbiturate dan
benzodiazepine, obat lain (seperti meprobamat dan opipramol), serta obat obsolet (seperti
kloralhidrat). Bila digunakan dalam dosis yang meningkat, suatu sedatif (misalnya
fenobarbital), akan menimbulkan efek berturut-turut peredaan, tidur, dan pembiusan total.
Sedangkan pada dosis yang lebih besar lagi, dapat menimbulkan koma, depresi pernapasan,
dan kematian. Penggunaan tiopental natrium sebagai hipnotik sedatif telah menurun karena
efeknya yang kurang spesifik terhadap sistem saraf pusat.

Dosis yang diberikan kepada setiap mencit meningkat. Pada masing-masing mencit yaitu
mencit I diberikan Phenobarbital dengan dosis 0,04 ml. Pada mencit II diberikan
Phenobarbital dengan dosis 0,08 ml. Pada mencit III diberikan Phenobarbital dengan dosis
0,16 ml. Pada mencit IV diberikan Phenobarbital dengan dosis 0,32 ml dan pada mencit V
diberikan Phenobarbital dengan dosis 0,64 ml.
Laporan Farmakologi

Page 38

Pertama, mencit ditandai ekornya masing-masing terlebih dahulu agar mudah dalam
membedakannya. Kemudian mencit-mencit tersebut ditimbang pada neraca Ohauss yang
telah dikalibrasi. Setelah mendapatkan berat badan mencit, maka jumlah dosis yang akan
diberikan dapat diketahui. Jumlah obat yang diberikan disesuaikan dengan berat mencit.

Setelah didapatkan jumlah dosis yang akan disuntikkan, maka ke-lima mencit yang telah
diketahui berat badannya disuntik secara intraperitonial. Diperlukan adanya suatu perlakuan
khusus pada mencit sebelum penyuntikkan supaya mencit-mencit tersebut terkondisikan,
sehingga tingkat keamanan, ketepatan, dan keakuratan penyuntikkan dosis dapat teratasi.

Dari hasil percobaan, efek yang bereaksi pada mencit I cukup lama karena dosis yang
diberikan terlalu kecil, mencit sangat aktif bergerak, baru pada menit ke-20 efek sedasi
didapatkan mencit terlihat diam dan seperti tertidur namun ketika diberi perlakuan
(dipegang), mencit tetap bergerak seperti biasa dan hipnotik pada menit ke 31 yaitu mencit
benar tertidur. Hal yang sama juga didapatkan pada mencit II dan III, mereka aktif bergerak
dan didapatkan efek sedasi pada menit ke 15 dan 13 serta efek hipnotik pada menit ke 25
dan 23. Mencit ke IV berefek lebih cepat yaitu pada menit ke 8 namun efek hipnotik
terjadi pada menit ke 20. Mencit ke V berefek paling cepat dengan efek sedasi menit ke
V dan hipnotik menit ke 17. Pada percobaan kami, tidak didapati satu ekor mencir pun yang
mencapai dosis letal, hal ini disebabkan pemberian dosis yang terlalu kecil atau penyuntikkan
yang tidak tepat. Pemberian obat secara intraperitonial cukup sulit karena diperlukan
perkiraan yang tepat agar suntikan tidak terkena organ lain dan menimbulkan pendarahan.
Selain itu karena pada saat pemberian obat, suspensi obat tidak dikocok terlebih dahulu
sehingga dosis dalam obat tidak tersebar merata.

Laporan Farmakologi

Page 39

Kemudian setelah data mengenai jumlah mencit yang memberikan efek didapat, data yang
dinyatakan dengan angka tersebut dinyatakan dalam persentase dan dimasukkan kedalam
grafik dosis respon. Grafik dosis-respon digambarkan, dengan cara pada kertas grafik log
pada ordinat persentase hewan yang memberikan efek (sedatif, hipnotik, atau kematian) pada
dosis yang digunakan. Grafik dosis-respon digambarkan menurut pemikiran paling
representative untuk fenomena yang diamati dengan memperhatikan sebesar titik-titik
pengamatan. Hubungan terapi suatu obat dengan kurva dosis respon terdiri dari dua :

1.

Kurva dosis yang terjal

Dengan dosis kecil menyebabkan respon obat yang cepat ( efektifitas obat besar) tetapi
toksissitasnya besar.

Rentang efek teurapeutiknya besar atau luas.

2.

Kurva dosis respon datar atau landai.

Dosis yang diperlukan relative lebih besar untuk mendapatkan respon yang lebih cepat
(efektifitas berkurang) tetapi toksisitasnya kecil.

Rentang efek teurapeutiknya kecil atau sempit.

Obat yang ideal menimbulkan efek terapi pada semua penderita tanpa menimbulkan efek
toksik pada seorang penderita pun. Oleh karena itu,

Indeks terapi = dan untuk obat ideal : .

Pada umumnya intensitas efek obat akan meningkat jika diberi dosis yang meningkat. Dari
hasil percobaan terlihat bahwa semakin tinggi dosis obat yang diberikan, efek yang
ditimbulkan obat semakin meningkat.
Laporan Farmakologi

Page 40

IX. KESIMPULAN

1.

Berdasarkan hasil percobaan pemberian dosis obat terhadap hewan percobaan yaitu
mencit, LD50 dan ED50 tidak diperoleh karena cara penyuntikannya tidak benar atau
cairan injeksinya tidak terbagi rata.

2.

Indeks terapi adalah rasio antara dosis yang menimbulkan kematian pada 50% dari
hewan percobaan yang digunakan (LD50) dibagi dosis yang memberikan efek yang
diteliti pada 50% dari hewan percobaan yang digunakan (ED50).

Indeks terapi = Semakin besar indeks terapi obat maka semakin besar efek terapeutiknya

DAFTAR PUSTAKA

Laporan Farmakologi

Page 41

Adnan.2011.Farmakologi.Tersedia di http://kesmasunsoed.blogspot.com/2011/02/ pengantarfarmakologi.html [diakses tanggal 6 Agustus 2016]

Kee, Joyce L dan Evelyn R. Hayes. 1994. Farmakologi, Pendekatan Proses Keperawatan.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Martindale, William. 1996. Martindale: The Extra Pharmacopoeia. UK : Royal


Pharmaceutical Society

Schmitz, Gary Hans Lepper dan Michael Heidrich. 2003. Farmakologi dan Toksikologi.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Laporan Farmakologi

Page 42

HIPNOTIK DAN SEDATIVE

Latar Belakang
Sistem saraf pusat (SSP) merupakan sistem saraf yang dapat mengendalikan sistem saraf
lainnya didalam tubuh dimana bekerja dibawah kesadaran atau kemauan. SSP biasa juga
Laporan Farmakologi

Page 43

disebut sistem saraf sentral karena merupakan sentral atau pusat dari saraf lainnya. Sistem
saraf pusat ini dibagi menjadi dua yaitu otak (ensevalon) dan sumsum tulang belakang
(medula spinalis).
Sistem saraf pusat dapat ditekan seluruhnya oleh penekan saraf pusat yang tidak spesifik
misalnya hipnotik sedativ. Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat terbagi menjadi obat
depresan saraf pusat yaitu anastetik umum, hipnotik sedativ, psikotropik, antikonvulsi,
analgetik, antipiretik, inflamasi, perangsang susunan saraf pusat.
Dalam percobaan ini mahasiswa farmasi diharapkan mampu untuk mengetahui dan
memahami bagaimana efek farmakologi obat depresan saraf pusat dimana dalam percobaan
ini mahasiswa mengamati anastetik umum dan hipnotik sedativ yang diujikan pada hewan
coba mencit (Mus musculus).
Adapun dalam bidang farmasi pengetahuan tentang sistem saraf pusat perlu untuk diketahui
khususnya dalam bidang ilmu farmakologi toksikologi karena mahasiswa farmasi dapat
mengetahui obat-obat apa saja yang perlu atau bekerja pada sistem saraf pusat. Hal inilah
yang melatarbelakangi dilakukannya percobaan ini.
Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui dan memahami efek dari obat golongan barbiturat dengan jangka waktu
kerja yang berbeda pada hewan tikus putih.
Prinsip Percobaan
Obat obat kelompok barbiturate termasuk yang bekerja depresan umum, berarti nekerja
depresif terhadap sejumlah besar fungsi dan organ organ system tubuh, tidak terbatas hanya
pada system saraf pusat, sama halnya dengan anastetika umum dan anastetika lokal , efek
barbiturate pun tidak spesifik, dan reversible. Manifestasi efek depresinya mungkin sekali
tidak didasarkan pada mekanisme kerja yang sama. Variasi dan substituent pada molekul
barbiturate berpengaruh pada daya larut obat obta ini dalam lemak, yang mempengaruhi pula
secara langsung kecepatan muncul efek, jangka waktu berlangsung efek, kecepatan
biotransformasi, redistribusi, jenis efek dan toksisitas senyawa barbiturate.

DASAR TEORI
Laporan Farmakologi

Page 44

Sistem saraf adalah serangkaian organ yang kompleks dan berkesinambungan serta terutama
terdiri dari jaringan saraf. Dalam mekanisme sistem saraf, lingkungan internal dan stimulus
eksternal dipantau dan diatur. Susunan saraf terdiri dari susunan saraf pusat dan susunan saraf
tepi. Susunan saraf pusat terdiri dari otak (ensevalon) dan medula spinalis (sumsum tulang
belakang).
Anastetik umum adalah senyawa obat yang dapat menimbulkan anastesi (an=tanpa,
aesthesis=perasaan) atau narkosa, yakni suatu keadaan depresi umum yang bersifat reversible
dari banyak pusat sistem saraf pusat, dimana seluruh perasaan dan kesadaran ditiadakan, agak
mirip dengan pingsan.
Anastetik umum digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri dan memblok reaksi serta
menimbulkan relaksasi pada pembedahan. Tahap-tahap anastesi antara lain:
1.Analgesia
Kesadaran berkurang, rasa nyeri hilang, dan terjadi euphoria (rasa nyaman) yang disertai
impian-impian yang menyerupai halusinasi. Ester dan nitrogen monoksida memberikan
analgesia yang baik pada tahap ini sedangkan halotan dan thiopental tahap berikutnya.
2.Eksitasi
Kesadarn hilang dan terjadi kegelisahan (=tahap edukasi).
3.Anestesi
Pernapasan menjadi dangkal dan cepat, teratur seperti tidur (pernapasan perut), gerakan bola
mata dan reflex bola mata hilang, otot lemas.
4.Pelumpuhan sumsum tulang
Kerja jantung dan pernapasan berhenti. Tahap ini harus dihindari.
Anastetik umum merupakan depresan sistem saraf pusat, dibedakan menjadi anastetik
inhalasi yaitu anastetik gas, anastetik menguap dan anastetik parenteral. Pada percobaan
hewan dalam farmakologi yang digunakan hanya anastetik menguap dan anastetik parenteral.
Efek anastetik ini pada mencit/tikus antara lain dapat dideteksi dengan Touch respon, yaitu
dengan menyentuh leher mencit atau tikus dengan suatu benda misalnya pensil. Jika mencit
tidak bereaksi maka mencit/tikus terpengaruh oleh anastetik. Selain itu pasivitas juga dapat
Laporan Farmakologi

Page 45

mengindikasikan pengaruh anastesi. Pasivitas yaitu mengukur respon mencit bila diletakkan
pada posisi yang tidak normal, misalnya mencit yang normal akan menggerakkan kepala dan
anggota badan lainnya dalam usaha melarikan diri, kemudian hal yang sama tetapi dalam
posisi berdiri, mencit normal akan meronta-ronta. Mencit yang diam kemungkinan karena
terpengaruh oleh senyawa anastetik. Uji neurologik yang lain berkaitan dengan anastetik
ialah uji ringhting refles.
Mekanisme terjadinya anesthesia sampai sekarang belum jelas meskipun dalam bidang
fisiologi SSP dan susunan saraf perifer terdapat kemajuan hebat sehingga timbul berbagai
teori berdasarkan sifat obat anestetik,misalnya penurunan transmisi sinaps, penurunan
konsumsi oksigen dan penurunan aktivitas listrik SSP.
Hipnotik atau obat tidur (hypnos=tidur), adalah suatu senyawa yang bila diberikan pada
malam hari dalam dosis terapi, dapat mempertinggi keinginan fisiologis normal untuk tidur,
mempermudah dan menyebabkan tidur. Bila senyawa ini diberikan untuk dosis yang lebih
rendah pada siang hari dengan tujuan menenangkan, maka disebut sedativa (obat pereda).
Perbedaannya dengan psikotropika ialah hipnotik-sedativ pada dosis yang benar akan
menyebabkan pembiusan total sedangkan psikotropika tidak. Persamaannya yaitu
menyebabkan ketagihan.
Tidur adalah kebutuhan suatu makhluk hidup untuk menghindarkan dari pengaruh yang
merugikan tubuh karena kurang tidur. Pusat tidur di otak mengatur fungsi fisiologis ini. Pada
waktu terjadi miosis, bronkokontriksi, sirkulasi darah lambat, stimulasi peristaltik dan sekresi
saluran cerna.
Tidur normal terdiri dari 2 jenis:
1.Tidur tenang : (Slow wafe, NREM = Non Rapid Eye Movement), (ortodoks) yang berciri
irama jantung, tekanan darah, pernapasan teratur, otot kendor tanpa gerakan otot muka atau
mata.
2.Tidur REM (Rapid Eye Movement) atau paradoksal, cirinya otak memperlihatkan aktivitas
listrik (EEG=Electro encephalogram), seperti pada orang dalam keadaan bangun dan aktif,
gerakan mata cepat. Jantung, tekanan darah dan pernapasan naik turun naik, aliran darah ke
otak bertambah, ereksi, mimpi.

Laporan Farmakologi

Page 46

Istilah anesthesia dikemukakan pertama kali oleh O.W. Holmes yang artinya tidak ada rasa
sakit.
Anesthesia dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
a.anesthesia lokal, yaitu hilangnya rasa sakit tanpa disertai hilang kesadaran
b.anesthesia umum, yaitu hilangnya rasa sakit disertai hilang kesadaran. Anesthesia yang
dilakukan

dahulu

oleh

orang

Mesir

menggunakan

narkotik,

orang

Cina

menggunakanCanabis indica, dan pemukulan kepala dengan tongkat kayu untuk


menghilangkan kesadaran.

Golongan obat hipnotik-sedatif yaitu:


1.Benzodiazepine
Contohnya: Klordiazepin, Klorozepat, Diazepam, Lorazepam, Oksazepam
2.Barbiturat
Contohnya:Amobarbital,Aprobarbital,

Barbital, Heksobarbital, Kemital,

Mefobarbital,

Bupabarbital
Hipnotik lainnya contohnya:kloral hidrat, etklorvinol, glutetimid, metiprilon, meprobamat
Dalam banyak hal, fungsi dasar neuron dalam sistem saraf pusat sama dengan sistem saraf
otonom. Misalnya transmisi informasi dalam sistem saraf pusat dan perifer keduanya
menyangkut lepasnya neurotransmitter yang melintas pada celah sinaptik untuk kemudian
terikat pada reseptor spesifik neuron postsinaptik. Dalam pengenalan neurotransmitter oleh
membran reseptor neuron postsinaptik memberikan perubahan intraseluler.

Pada sebagian besar sinaps sistem saraf pusat, reseptor tergabung dalam saluran ion,
mengikat neurotransmitter ke reseptor membran postsinaptik sehingga dapat membuka
saluran ion secara cepat dan sesaat. Saluran yang terbuka ini kemungkinan ion didalam dan
luar membran sel mengalir kearah konsentrasi yang lebih kecil. Perubahan komposisi dibalik
membran neuron akan mengubah potensial postsinaptik, menghasilkan depolarisasi atau
Laporan Farmakologi

Page 47

hiperpolarisasi membran postsinaptik, yang tergantung pada ion tertentu yang bergerak dan
arah dari gerakan itu.

Gangguan neurotransmisi yang dapat diobati dibagi menjadi dua kelompok, yaitu yang
disebabkan oleh terlalu banyaknya neurotransmisi dan oleh terlalu sedikitnya neurotransmisi.
Neurotransmisi yang terlalu banyak disebabkan oeh:
a.Sekelompok neuron yang terlalu mudah dirangsang yang bekerja tanpa adanya stimulus
yang sesuai, misalnya gangguan kejang, terapi diarahkan pada pengurangan otomatisitas sel
sel ini.
b.Terlalu banyak molekul neurotransmitter yang berikatan dengan reseptor pascasinaptik.
Terapi meliputi pemberian antagonis yang memblokir reseptor reseptor pascasinaptik.
c.Terlalu sedikit molekul neurotransmitter yang berikatan dengan reseptor pascasinaptik,
misalnya parkinson. Beberapa strategi pengobatan yang meningkatkan neurotransmisi,
meliputi obat obatan yang menyebabkan pelepasan neurotransmitter dari terminal
prasinaptik, dan prekursor neurotransmitter yang diambil kedalam neuron prasinaptik dan
dimetabolisme menjadi molekul neurotransmitter aktif.
Neurotransmitter otak terdiri dari:
Norepinefrin
Dopamin
5-Hidroksitriptamin
Asetilkolin
Asam gamma amino butirat (GABA)
Barbiturat
Barbiturat selama beberapa saat telah digunakan secara ekstensif sebagai hipnotik dan sedatif.
Namun sekarang kecuali untuk beberapa penggunaan yang spesifik, barbiturat telah banyak
digantikan dengan benzodiazepine yang lebih aman, pengecualian fenobarbital, yang
memiliki anti konvulsi yang masih banyak digunakan. Secara kimia, barbiturat merupakan
Laporan Farmakologi

Page 48

derivat asam barbiturat. Asam barbiturat (2,4,4-trioksoheksahidropirimidin) merupakan hasil


reaksi kondensasi antara ureum dengan asam malonat
Susunan Saraf Pusat efek utama barbiturat ialah depresi SSP. Semua tingkat depresi dapat
dicapai, mulaidari sedasi, hipnosis, koma sampai dengan kematian. Efek antianseitas
barbiturat berhubungan dengan tingkat sedasi yang dihasilkan. Efek hipnotik barbiturat dapat
dicapai dalam waktu 20-60 menit dengan dosis hipnotik. Tidurnya menyerupai tidur
fisiologis, tidak disertai mimpi yang mengganggu. Efek anastesi umumnya diperlihatkan oleh
golongan tiobarbital dan beberapa oksibarbital untuk anastesi umum. Untuk efek antikonvulsi
umumnya diberikan oleh berbiturat yang mengandung substitusi 5-fenil misalnya
fenobarbital.
Pada SSP
Barbiturat berkerja pada seluruh SSP, walaupun pada setiap tempat tidak sama kuatnya. Dosis
nonanastesi terutama menekan respon pasca sinap. Penghambatan hanya terjadi pada sinaps
GABA-nergik. Walaupun demikian efek yang terjadi mungkin tidak semuanya melalui
GABA sebagai mediator.
Barbiturat memperlihatkan beberapa efek yang berbeda pada eksitasi dan inhibisi transmisi
sinaptik. Kapasitas berbiturat membantu kerja GABA sebagian menyerupai kerja
benzodiazepine, namun pada dosis yang lebih tinggi dapat bersifat sebagai agonis GABAnergik, sehingga pada dosis tinggi barbiturat dapat menimbulkan depresi SSP yang berat.
Pada susunan saraf perifer
Barbiturat secara selektif menekan transmisi ganglion otonom dan mereduksi eksitasi
nikotinik oleh esterkolin. Efek ini terlihat dengan turunya tekanan darah setelah pemberian
oksibarbital IV dan pada intoksikasi berat.

Pada pernafasan
Barbiturat menyebabkan depresi nafas yang sebanding dengan besarnya dosis. Pemberian
barbiturat dosis sedatif hampir tidak berpengaruh terhadap pernafasan, sedangkan dosis
hipnotik menyebabkan pengurangan frekuensi nafas. Pernafasan dapat terganggu karena : (1)
pengaruh langsung barbiturat terhadap pusat nafas; (2) hiperefleksi N.vagus, yang bisa
Laporan Farmakologi

Page 49

menyebabkan batuk, bersin, cegukan, dan laringospasme pada anastesi IV. Pada intoksikasi
barbiturat, kepekaan sel pengatur nafas pada medulla oblongata terhadap CO2 berkurang
sehingga ventilasi paru berkurang. Keadaan ini menyebabkan pengeluaran CO2 dan
pemasukan O2 berkurang, sehingga terjadilah hipoksia.
Pada Sistem Kardiovaskular
Barbiturat dosis hipnotik tidak memberikan efek yang nyata pada system kardiovaskular.
Frekuensi nadi dan tensi sedikit menurun akibat sedasi yang ditimbulkan oleh berbiturat.
Pemberian barbiturat dosis terapi secara IV dengan cepat dapat menyebabkan tekanan darah
turun secara mendadak. Efek kardiovaskular pada intoksikasi barbiturat sebagian besar
disebabkan oleh hipoksia sekunder akibat depresi nafas. Selain itu pada dosis tinggi dapat
menyebabkan depresi pusat vasomotor diikuti vasodilatasi perifer sehingga terjadi hipotensi.

Farmakokinetik
Barbiturat secara oral diabsorpsi cepat dan sempurna dari lambung dan usus halus kedalam
darah. Secara IV barbiturat digunakan untuk mengatasi status epilepsi dan menginduksi serta
mempertahankan anastesi umum. Barbiturat didistribusi secara luas dan dapat melewati
plasenta, ikatan dengan protein plasma sesuai dengan kelarutan dalam lemak; tiopental yang
terbesar.
Barbiturat yang mudah larut dalam lemak, misalnya tiopental dan metoheksital, setelah
pemberian secara IV, akan ditimbun di jaringan lemak dan otot. Hal ini akan menyebabkan
kadarnya dalam plasma dan otak turun dengan cepat. Barbiturat yang kurang lipofilik,
misalnya aprobarbital dan fenobarbital, dimetabolisme hampir sempurna didalam hati
sebelum diekskresi di ginjal. Pada kebanyakan kasus, perubahan pada fungsi ginjal tidak
mempengaruhi eliminasi obat. Fenobarbital diekskresi ke dalam urine dalam bentuk tidak
berubah sampai jumlah tertentu (20-30 %) pada manusia. Faktor yang mempengaruhi
biodisposisi hipnotik dan sedatif dapat dipengaruhi oleh berbagai hal terutama perubahan
pada fungsi hati sebagai akibat dari penyakit, usia tua yang mengakibatkan penurunan
kecepatan pembersihan obat yang dimetabolisme yang terjadi hampir pada semua obat
golongan barbiturat.
Indikasi
Laporan Farmakologi

Page 50

Penggunaan barbiturat sebagai hipnotik sedatif telah menurun secara nyata karena efek
terhadap SSP kurang spesifik yang telah banyak digantikan oleh golongan benzodiazepine.
Penggunaan pada anastesi masih banyak obat golongan barbiturat yang digunakan, umumnya
tiopental dan fenobarbital.
Tiopental
1.Di gunakan untuk induksi pada anestesi umum.
2.Operasi yang singkat (reposisi fraktur, insisi, jahit luka).
3.Sedasi pada analgesik regional
4.Mengatasi kejang-kejang pada eklamsia, epilepsi, dan tetanus
Fenobarbital
1.Untuk menghilangkan ansietas
2.Sebagai antikonvulsi (pada epilepsi)
3.Untuk sedatif dan hipnotik

Kontra Indikasi
Barbiturat tidak boleh diberikan pada penderita alergi barbiturat, penyakit hati atau ginjal,
hipoksia, penyakit Parkinson. Barbiturat juga tidak boleh diberikan pada penderita
psikoneurotik tertentu, karena dapat menambah kebingungan di malam hari yang terjadi pada
penderita usia lanjut.

Efek Samping
Hangover, Gejala ini merupakan residu depresi SSP setelah efek hipnotik berakhir. Dapat
terjadi beberapa hari setelah pemberian obat dihentikan. Efek residu mungkin berupa vertigo,
mual, atau diare. Kadang kadang timbul kelainan emosional dan fobia dapat bertambah berat.
Eksitasi paradoksal, Pada beberapa individu, pemakaian ulang barbiturat (terutama
Laporan Farmakologi

Page 51

fenoberbital dan N-desmetil barbiturat) lebih menimbulkan eksitasi dari pada depresi.
idiosinkrasi ini relative umum terjadi diantara penderita usia lanjut dan lemah.
Rasa nyeri, Barbiturat sesekali menimbulkan mialgia, neuralgia, artalgia, terutama pada
penderita psikoneurotik yang menderita insomnia. Bila diberikan dalam keadaan nyeri, dapat
menyebabkan gelisah, eksitasi, dan bahkan delirium. Alergi, Reaksi alergi terutama terjadi
pada individu alergik. Segala bentuk hipersensitivitas dapat timbul, terutama dermatosis.
Jarang terjadi dermatosis eksfoliativa yang berakhir fatal pada penggunaan fenobarbital,
kadang-kadang disertai demam, delirium dan kerusakan degeneratif hati. Reaksi obat,
Kombinasi barbiturat dengan depresan SSP lain misal etanol akan meningkatkan efek
depresinya; Antihistamin, isoniasid, metilfenidat, dan penghambat MAO juga dapat
menaikkan efek depresi barbiturat.
PERCOBAAN

1. Alat

1. Souit 1 ml

2. Jarum suntik

3. Wadah dan tempat pengamatan

2. Bahan

1. Tikus jantan 3 ekor

2. Injeksi fenobarbital

3. Alkohol 70 %

Laporan Farmakologi

Page 52

4. Label

5. Kapas

6. Koran bekas

7. Timbangan hewan

3. Prosedur Kerja

1. Siapkan tikus jantan 3 ekor

2. Beri tanda tikus A,B,C

3. Masing-masing tikus ditimbang

4. Pada buntut yang terdapat vena diswab dengan alkohol 70 % sebelum


penyuntikan

5. Injeksi fenobarbital disuntikan secara IV pada masing-maisng tikus sesuai


dosis yang telah dihitung

6. Amati perubahan yang terjadi dan catat


HASIL PENGAMATAN
PERHITUNGAN

1. TIKUS A
BB
= 122 gram
DOSIS = 122 gram / 200 gram x 0.9 mg/ml
Laporan Farmakologi

Page 53

= 0,549 mg/ml
= 0,549 mg/ml / 50 x 1 ml
= 0,01098 ml
Pengenceran
Phenobarbital = 1 ml
Nacl
= ad 10 ml
0,01098ml
x10ml 0,1098
1ml

0,1 ml

2. TIKUS B
BB
= 108 gram
DOSIS = 108 gram / 200 gram x 0,9 mg/ml
= 0,486 mg/ml
= 0,486 mg/ml / 50 x 1 ml
= 0,0097 ml
PENGENCERAN
= 0,0097 x 10 ml
= 0,097 ml 0,1 ml

3. TIKUS C
BB
= 112 gram
DOSIS = 112 gram / 200 gram x 0,9 mg/ml
= 0,504 mg/ml
= 0,504 mg/ml / 50 x 1 ml
= 0,01008 ml 0,1 ml
PENGAMATAN

TIKUS

PERCOBAAN

PENGAMATAN
0

10

AKTIF

MULAI DIAM DI

20

30

EF

1.

TIKUS A

BERGERAK

MENIT KE 6

DIAM

DIAM

HIL

TIKUS B

AKTIF

MULAI DIAM DI

DIAM

DIAM

EF

Laporan Farmakologi

Page 54

TIKUS C

BERGERAK

MENIT KE 3

AKTIF

MULAI DIAM DI

BERGERAK

MENIT KE 5

HIL
EFEK MULAI
DIAM

HILANG

PEMBAHASAN

Hipnotik sedatif merupakan golongan obat depresan susunan sarafpusat (SSP) yang
realtif tidak selektif, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan tenang atau kantuk,
menidurkan,hingga yang berat (kecuali benzodiazepin) yaitu hilangnya kesadaran,
keadaananestesi, komadanmati, bergantungpadadosis. Pada dosis terapi obat sedatif menekan
aktivitas,
menurunkan respons terhadap perangsangan emosi dan menenangkan. Obat hipnotik
menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai
tidur fisiologis.
Sistem saraf pusat (SSP) merupakan sistem saraf yang dapat mengendalikan saraf
lainnya didalam tubuh biasanya bekerja dibawah kesadaran atau kemauan.
Dalam percobaan ini praktikan dapat memahami obat-obat apa saja yang merangsang atau
bekerja pada sistem saraf pusat. Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat terbagi menjadi
obat depresan saraf pusat, yaitu anastetik umum (memblokir rasa sakit), hipnotik sedativ
(menyebabkan tidur), psikotropik (menghilangkan rasa sakit), opioid.
Analgetik antipiretik antiinflamasi dan perangsang susunan saraf pusat. Anastetik
umum merupakan depresan SSP, dibedakan menjadi anastetik inhalasi yaitu anastetik gas,
anastetik menguap dan anestetik menguap dan anestetik parental. Pada percobaan hewan
dalam farmakologi yang digunakan hanya anastetik menguap dan anastetik parental.
Percobaan kali ini ingin diketahui bagaimana kerja dan efek suatu obat pada sistem
saraf pusat. Mekanisme kerja dari anestetik umum adalah bahwa anestetik umum merupakan
keadaan depresi umum yang sifatnya reversible dari banyak pusat SSP, dimana seluruh
perasaan dan kesadaran ditiadakan yang agak mirip dengan pingsan. Anastetik umum ini
Laporan Farmakologi

Page 55

EF

HIL

digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri dan memblok reaksi serta menimbulkan relaksasi
pada pembedahan.
Obat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah obat dengan zat aktif phenobarbital
kadar 50 mg. Pada saat praktikum obat ini dibagi menjadi beberapa dosis (3 dosisberbeda)
untuk mengetahui perbedaan onset dan durasi kerja dari phenobarbital .
Pada percobaan ini didapatkan hasil bahwa pada tikus mengalami efek sedative dan
hipnotik, setelah mengalami efek hipnotik tingkah laku tikus kembali normal.

KESIMPULAN
Perbedaan kadar dalam pengobatan, dalam hal ini hipnotik-sedativ, mempengaruhi daya kerja
obat. Namun demikian perlu diperhatikan juga tempat pemberiannya, karena berbeda tempat
pemberian obat, berbeda pula onset dan durasi kerjanya
DAFTAR PUSTAKA
1. Anief, Moh., 1990, PerjalanandanNasibObatdalamBadan, GadjahMada University
Press, D.I Yogayakarta.
2. Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi,IV, DepartemenKesehatanRepublik
Indonesia, Jakarta.
3. Anief, Moh., 1990, PerjalanandanNasibObatdalamBadan, GadjahMada University
Press, D.I Yogayakarta.
4. Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi,IV, DepartemenKesehatanRepublik
Indonesia, Jakarta.
5. Ansel, Howard.C., 1989 PengantarBentukSediaanFarmasi, Universitas Indonesia
Press, Jakarta.
6. Djamhuri,

Agus.,

1995,

SinopsisFarmakologidenganTerapanKhusus

di

KlinikdanPerawatan, Edisi 1, CetakanKetiga, Hipokrates, Jakarta.


7. Ganiswara,

Sulistia

(Ed),

1995,

FarmakologidanTerapi,

Edisi

IV.

BalaiPenerbitFalkultasKedokteranUniversitas Indonesia, Jakarta.


8. H.

Sarjono,

SantosodanHadi

D.,

1995,

FarmakologidanTerapi,

BagianFarmakologiFakultasKedokteran Indonesia, Jakarta.


9. Katzung, Bertram G., FarmakologiDasardanKlinik, SalembaMedika, Jakarta.
10. Langsam, Yedidyah. DIAZEPAM (VALIUM AND OTHERS). Brooklyn College
(Eilat.sci.Brooklyn.CUNY.edu). Diterima 2006-03-23
Laporan Farmakologi

Page 56

11. Riss, J.; Cloyd, J.; Gates, J.; Collins, S. (Aug 2008). Benzodiazepines in epilepsy:
pharmacology and pharmacokinetics. (PDF). ActaNeurol Scand.
Tjay,Tan Hoan dan K. Rahardja, 2007, Obat-obat Penting, PT Gramedia, Jakarta

DIURETIK

Latar Belakang :
Seluruh sel-sel tubuh terendam dalam suatu cairan yang disebut cairan intestinal, yang
bertindak sebagai lingkungan dalam dari sel-sel. Oleh sebab itu volume dan komposisi cairan
intestial harus tetap dalam berada di batas-batas yang tertentu agar sel-sel dapat berfungsi
dengan normal. Perubahan dari volume dan komposisi cairan nintestial dapat menimbulkan
kelainan fungsi tubuh. Kelainan volume cairan vaskuler akan menganggu fungsi
kardiovaskuler, sedang perubahan komposisi cairan intestitial akan menganggu fungsi.
Terdapat banyak keadaan keadaan yang dapat mengganggu volume dan komposisi
cairan tubuh tersebut, antara lain ingesti (pemasukan) air atau defripasi (hilangnya) air,
ingesti atau defrivasi elektrolit, kelebihan asam atau alkali, produk metabolisme atau
pemberian bahan-bahan toksik.
Jadi jelas harus terdapat suatu regulasi aktif untuk mempetahankan lingkungan agar tetap
konstan, terutama dalam menghadapi faktor yang dapat mengganggu kestabilan volume dan
komposisi cairan interistitial.

Tujuan :

Laporan Farmakologi

Page 57

1. Untuk mengetahui efek dari obat diuretik pada hewan percobaan.


2. Untuk mengetahui volume urin yang dihasilkan oleh hewan akibat pemberian obat
diuretik.
3. Untuk mengetahui mekanisme kerja dari obat diuretik.

Prinsip :
Penentuan efek farmakologi dari obat obat diuretik yaitu furosemid terhadap tikus
yang setelah diberikan air per oral, berupa pengamatan terhadap frekwensi urinasi dan
volume urinasi
Teori :
Diuretika adalah senyawa yang dapat menyebabkan ekskresi urin yang lebih banyak. Jika
pada peningkatan ekskresi garam-garam, maka diuretika ini dinamakan saluretika atau
natriuretika (diuretika dalam arti sempit). (Mutschler,1991)
Walaupun kerja nya pada ginjal,diuretika bukan obat ginjal,artinya senyawa ini tidak
dapat memperbaiki atau menyembuhkan penyakit ginjal,demikian juga pada pasien
insufisiensi ginjal jika diperlukan dialysis,tidak dapat ditangguhkan dengan penggunaan
senyawa ini. Beberapa diuertika pada awal pengobatan justru memperkecil ekskresi zat-zat
penting urin dengan mengurangi laju filtrasi glomerulus sehingga memperburuk insufisiensi
ginjal. (Mutschler,1991)
Diuretika adalah zat-zat yang dapat memperbanyak kemih (diuresis) melalui kerja
langsung terhadap ginjal. Obat-obat lainnya yang menstimulasi diuresis dengan
mempengaruhi ginjal secara tak langsung tidak termasuk dalam definisi ini, misalnya zat-zat
yang memperkuat kontraksi jantung (digoksin, teofilin), memperbesar volume darah
(dekstran), atau merintangi sekresi hormon antidiuretik ADH (air, alkohol).
Fungsi utama ginjal adalah memelihara kemurnian darah dengan jalan mengeluarkan
semua zat asing dan sisa pertukaran zat dari dalam darah dimana semuanya melintasi
saringan ginjal kecuali zat putih telur dan sel-sel darah.

Laporan Farmakologi

Page 58

Fungsi penting lainnya adalah meregulasi kadar garam dan cairan tubuh. Ginjal
merupakan organ terpenting pada pengaturan homeostasis, yakni keseimbangan dinamis
antara cairan intra dan ekstrasel, serta pemeliharaan volume total dan susunan cairan
ekstrasel. Hal ini terutama tergantung dari jumlah ion Na+, yang untuk sebagian besar
terdapat di luar sel, di cairan antarsel, dan di plasma darah.
Mekanisme kerja obat diuretik
Kebanyakan diuretika bekerja dengan mengurangi reabsorbsi natrium, sehingga
pengeluaranya lewat kemih- dan demikian juga dari air-diperbanyak. Obat-obat ini bekerja
khusus terhadap tubuli, tetapi juga ditempat lain, yakni di :
a. Tubuli proksimal, ultrafiltrat mengandung sejumlah besar garam yang disini direabsorbsi
secara aktif untuk kurang lebih 70%, antara lain ion-Na+ dan air, begitu pula glukosa dan
ureum. Karena reabsorbsi berlangsung secara proporsional, maka susunan filtrat tidak
berubah dan tetap isotonis terhadap plasma. Diuretika osmosis (manitol, sorbitol) bekerja
di sini dengan merintangi reabsorbsi air dan juga natrium.
b. Lengkungan henle. Dibagian menaik dari Henles loop ini k,l. 25% absorbsi pasif dari
Na+ dan K+ tetapi tanpa hingga filtrat menjadi hipotonis. Diuretika lengkungan seperti
furosemida, bumetamida dan etakrinat, bekerja terutama di sini dengan merintangi
transpor Cl- dan demikian reabsorbsi Na+. pengeluaran K+dan air juga diperbanyak.
c. Tubuli distal. Dibagian pertama segmen ini, Na+ direabsorbsi secara aktif pula tanpa air
hingga

filtrat

menjadi

lebih

cair

dan

lebih

hipotonis.sentawa

thiazidadan klortalidon bekerja di tempat ini dengan memperbanyak eksreksi Na+ dan
Cl sebesar 5-10%. Dibagian kedua segmen ini, ion Na+ ditukarkan dengan ion K + atau
NH4+; proses ini dikendalikan oleh hormon anak-ginjal aldosteron antagonis
aldosteron (spirolacton) dan zat-zat penghemat kalium (amilorida, triateren) bertitik kerja
disini dengan mengekibatkan ekskresi Na+ (5%) dan retensi- K+.
d. Saluran pengumpul. Hormon antidiuretika ADH (vasoprin) dari hipofisis bertitik kerja
disini dengan jalan memengaruhi permeabilitas bagi air dari sel-sel saluran ini.(mariska
syafri ; 2011)
Penggolongan obat diuretik
Diuretik dapat dibagi menjadi 5 golongan yaitu :
Laporan Farmakologi

Page 59

1. Diuretik osmotik
Tempat Dan Cara Kerja : Tubuli Proksimal penghambatan reabsorbsi natrium dan air
melalui daya osmotiknya. Ansa Henle penghambatan reasorbsi natrium dan air oleh
karena hiperosmolaritas daerah medula menurun. Penghambatan reasorbsi natrium dan
air akibat adanya kecepatan aliran filtrat yang tinggi, atau adanya faktor lain. Diuretik
osmotik biasanya dipakai untuk zat bukan elektrolit yang mudah dan cepat diekskresi oeh
ginjal.Contoh dari diuretik osmotik adalah ; manitol, urea, gliserin dan isosorbid.
2. Diuretik golongan penghambat enzim karbonik anhydrase
Tempat Dan Cara Kerja : Diuretik ini bekerja pada tubuli Proksimal dengan cara
menghambat reabsorpsi bikarbonat.Yang termasuk golongan diuretik ini adalah
asetazolamid, diklorofenamid dan meatzolamid.
3. Diuretik golongan tiazid
Tempat Dan Cara Kerja : Diuretik golongan tiazid ini bekerja pada hulu tubuli distal
dengan cara menghambat reabsorpsi natrium klorida.Obat-obat diuretik yang termsuk
golongan ini adalah ; klorotiazid, hidroklorotiazid, hidroflumetiazid, bendroflumetiazid,
politiazid, benztiazid, siklotiazid, metiklotiazid, klortalidon, kuinetazon, dan indapamid.
4. Diuretik hemat kalium
Tempat Dan Cara Kerja : Diuretik hemat kalium ini bekerja pada hilir tubuli distal dan
duktus koligentes daerah korteks dengan cara menghambat reabsorpsi natrium dan sekresi
kalium dengan jalan antagonisme kompetitif (sipironolakton) atau secara langsung
(triamteren dan amilorida).Yang tergolong dalam kelompok ini adalah: antagonis
aldosteron. triamterenc. amilorid.
5. Diuretik kuat
Tempat Dan Cara Kerja : Diuretik kuat ini bekerja pada Ansa Henle bagian asenden
pada bagian dengan epitel tebal dengan cara menghambat transport elektrolit natrium,
kalium, dan klorida.Yang termasuk diuretik kuat adalah ; asam etakrinat, furosemid dan
bumetamid.
6. Xantin

Laporan Farmakologi

Page 60

Xantin ternyata juga mempunyai efek diuresis. Efek stimulansianya paa fungsi
jantung, menimbulkan dugaan bahwa diuresis sebagian disebabkan oleh meningkatnya
aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerolus. Namun semua derivat xantin ini rupanya
juga berefek langsung pada tubuli ginjal, yaitu menyebabkan peningkatan ekskresi
Na+ dan Cl- tanpa disertai perubahan yang nyata pada perubahan urin. Efek diuresis ini
hanya sedikit dipengaruhi oleh keseimbangan asam-basa, tetapi mengalami potensiasi bila
diberikan bersama penghambat karbonik anhidrase.Diantara kelompok xantin, theofilin
memperlihatkan efek diuresis yang paling kuat.
Toksisitas diuretik
Pada pengobatan hipertensi, sebagian besar efek samping yang lazim terjadi adalah
deplesi kalium. Walaupun hipokalemia ringan dapat ditoleransi oleh banyak pasien ,
hipokalemia dapat berbahaya pada pasien yang menggunakan digitalis, pasien dengan aritmia
kronis, pada infarktus miokardium akut atau disfungsi ventrikel kiri. Kehilangan kalium
diimbangi dengan reabsorpsi natrium. Oleh karenanya ,pembatasan asupan natrium dapat
meminimalkan kehilangan kalium. Diuretik glukosa, dan peningkatan konsentrasi lemak
serum. Diuretik dapat meningkatkan konsentrasi uric acid dan menyebabkan terjadinya gout
(pirai). Penggunaan dosis rendah dapat meminimalkan efek metabolik yang tidak diinginkan
tanpa mengganggu efek antihipertensinya. (Katzung, 1986).
Alat dan Bahan :

Alat
1. Spuite 1 cc
2. Kapas
3. Timbangan tikus
4. Sonde oral
5. Kandang khusus untuk pengamatan
6. Tabung berskala untuk penampungan urin
7. Gelas ukur
Bahan
1. Tikus putih jantan 6 ekor
2. Aqua Pro Injeksi
3. Furosemid Na 10 mg/ml
4. Alkohol
5. NaCl 0,9 %

Cara Kerja :

Laporan Farmakologi

Page 61

1. Tikus dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok I kelompok uji dan kelompok II adalah
kelompok kontrol. Masing-masing kelompok terdiri dari 3 tikus.
2. Masing masing tikus diberikan air per oral sebanyak 5ml/kg bb
3. Suntikan furosemid pada tikus kelompok pertama secara IP dengan dosis yang telah di
tentukan.
4. Suntikan NaCl 0,9 % pada tikus kelompok II sebagai kontrol, perhitungan sama seperti
furosemid.
5. Segera setelah pemberian obat, tempatkan tikus ke dalam kandang khusus yang didesain
untuk mengumpulkan urine tanpa kontaminasi feses selama 3 jam.
6. Waktu mulai munculnya efek, frekuensi urinasi dan volume urin yang diekresikan dicatat
pada table.
7. Hitung presentase volume urin terhadap volume air yang berikan secara oral.
Hasil Pengamatan :
Perhitungan

TIKUS

Berat Badan

125 g

125 g

96 g

116 g

113 g

93 g

Diketahui : Furosemid 10 mg
Laporan Farmakologi

Page 62

Faktor konversi => Manusia ~ Tikus BB 200 gram = 0.08


10 mg/ml x 0.08 = 0.18
125
200 x 0.18 = 0,1125

Tikus 1 =

Tikus 2 =

0,1125

125
200

mg/ml
10 mg/ml

x 0.18 = 0,1125

mg /ml
=0,1125 10 mg/ml

Tikus 3 =

96
200

x 1 ml = 0,01125 ml

x 1 ml = 0,01125 ml

x 0.18 = 0,0864

mg /ml
= 0,0864 10 mg/ml x 1 ml = 0,00864 ml x 10 = 0,0864 ml

BLANKO ( Nacl 0.9% )


Tikus 4 =

116
200

x 0.18 = 0,1044

mg /ml
=0,1044 10 mg/ml x 1 ml = 0,0144 ml

Tikus 5 =

113
200

x 0.18 = 0,1017

mg /ml
=0,1017 10 mg/ml x 1 ml = 0,01017 ml

Laporan Farmakologi

Page 63

Tikus 6 =

93
200

x 0.18 = 0,0837

mg /ml
=0,0837 10 mg/ml

x 1ml = 0,00837 ml x 10 = 0,0837 ml

Furosemid 10mg
KLOMPOK I
TIKUS I

WAKTU
11.21 15.00

VOLUME

TIKUS II

11.21- 15.00

TIKUS III

11.21- 15.00

BLANKO (nacl 0,9%)


KLOMPOK II
TIKUS IV
TIKUS V
TIKUS VI

WAKTU
11.21-15.00
11.21-15.00
11.21-15.00

VOLUME
-

%
-

Pembahasan :
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan diuretik dengan menggunakan
obat Furosemid dan tikus sebagai hewan ujinya. Diuretik sendiri berfungsi sebagai obat yang
dapat menambah kecepatan pembentukan urien. Dengan kata lain adalah berfungsi
membuat pruduksi urine meningkat. Hal ini dilakukan dengan maksud mencuci atau
membilas ginjal dari dari zat zat berbahaya.
Sebelum dilakukan percobaan tikus terlebih dahulu dipuasakan selama 16 jam tetapi tetap
di beri minum ini untuk mencegah sebelum diberikan obat untuk menghilangkan faktor
Laporan Farmakologi

Page 64

makanan. Namun walaupun demikian faktor variasi biologis dari hewan tidak dapat di
hilangkan sehingga factor ini relative dapat mempengaruhi hasil.
Tikus kelompok l diberi furosemid dan tikus klompok ll diberi nacl 0,9% dengan dosis
yang sudah di perhitungkan. Sebelum diberi obat, tikus terlebih dahulu diberi air hangat
menggunakan sonde. Tujuan nya adalah untuk membantu mempercepat atau memperbanyak
urin yang dikeluarkan. Setelah masing- masing tikus disuntikkan, tikus langsung dimasukkan
ke sebuah tempat yaitu kandang metabolisme. Masing masing tikus diletakkan pada
kandang yang berbeda. Kemudian urine tersebut di tampung menggunakan gelas
ukur. Setelah itu urin yang telah ditambung menggunakan gelas ukur tersebut diukur dan
dicatat berapa banyak keluarnya.
Dari hasil data pengamatantidak didapatkan hasil tikus kesatupresentase kumulatif urin
yang dieksresikan lebih tinggi dari pada tikus kedua. Hal ini disebabkan oleh beberapa
kemungkinan, diantaranya :
1. Larutan obat yang digunakan sudah expired.
2. Larutan obat terkontaminasi.
3. Cara pemberian obat kurang maksimal.
Kesimpulan :
Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin.. Diuretik dapat
di golongkan menjadi beberapa golongan : diuretik kuat, diuretik hemat kalium, diuretik
golongan tiazid, golongan penghambat enzim karbonik anhidrase, diuretik osmotik.
Furosemid, adalah sebuah obat yang digunakan untuk meningkatkan produksi urin.Fungsi
utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan udem, yang berarti mengubah
keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstra sel kembali menjadi
normal.
Dari praktikum yang telah dilakukan, tidak didapatkan hasil yang sesuai.
Daftar Pustaka :
Tim Dosen Praktikum Farmakologi.Penuntun Praktikum Farmakologi.Program Studi
FarmasiISTN.Jakarta : 2008
Departemen farmakologi dan terapeutik.Farmakologi dan Terapi.EdV.Balai Penerbit
FKUI.Jakarta :2009
Laporan Farmakologi

Page 65

Mutschler, Ernst.Dinamika Obat. Ed V.Penerbit ITB.Bandung : 1999


Tjay, Tan Hoan, Kirana Rahardja. 2007. Obat-obat Penting Edisi 6 . Jakarta : PT. Elex Media
Komputindo
Katzung, Bertram G., 1986, Farmakologi Dasar dan Klinik, Salemba Medika ; Jakarta.

EFEK OBAT PADA MEMBRAN MUKOSA DAN KULIT


Latar Belakang :
Obat yang diberikan melalui kulit dan membrane mukosa pada prinsipnya menimbulkan
efek local.Pemberian topical dilakukan dengan mengoleskannya di suatu daerah kulit,
memasang balutan lembab, merendam bagian tubuh dengan larutan, atau menyediakan air
mandi yang dicampur obat.Efek sistemik timbul.Selain dikemas dalam bentuk untuk
diminum atau diinjeksikan , berbagai jenis obat dikemas dalam bentuk obat luar seperti
lotion, liniment, pasta dan bubuk yang biasanya dipakai untuk pengobatan ganggaun
dermatologis misalnya gatal-gatal , kulit kering, infeksi dan lain-lain.Obat topical juga
dikemas dalam bentuk obat tetes (instilasi) yang dipakai untuk tetes mata, telinga, atau
Laporan Farmakologi

Page 66

hidung serta dalam bentuk untuk irigasi baik mata, telinga, hidung, vagina, maupun
rectum.Dalam memberikan pengobatan kita sebagai tenaga kesehatan harus mengingat dan
memahami prinsip dengan benar agar kita dapat terhindar dari kesalahan dalam memberikan
obat, namun ada sebaiknya kita mengetahui peran masing-masing profesi yang terkait dengan
upaya pengobatan
Tujuan :
1. Mahasiswa dapat memperkirakan bentuk manifestasi efek lokal dari berbagai obat
terhadap kulit dan membran mukosa berdasarkan cara-cara kerja masing-masingnya, serta
mengapresiasikan penerapan ini dalam situasi praktis.
2. Menyadari sifat dan intensitas kemampuan merusak kulit dan membran mukosa dari
berbagai obat yang bekerja secara lokal.
3. Dapat mengapresiasikan peran pelarut terhadap intensitas kerja fenol dan dapat
mengajukan kemungkinan pemanfaatan ini dalam situasi praktis.
4. Dapat merumuskan persyaratan-persyaratan farmakologi untuk obat-obat yang secara
lokal.

Prinsip :
1. Zat zat yang dapat menggugurkan bulu bekerja dengan cara memecahkan ikatan S-S pada
keratin kulit, sehingga bulu mudah rusak dan gugur.
2. Zat-zat korosif bekerja dengan cara oksidasi, mengendapkan protein kulit, sehingga
kulit/membrane mukosa akan rusak.
3. Fenol dalam berbagai pelarut akan menunjukkan efek lokal yang berbeda pula, karena
koefisien partisi yang berbeda-beda dalam berbagai pelarutdan juga karena permeabilitas
kulit akan mempengaruhi penetrasi fenol kedalam jaringan.
4. Zat-zat yang bersifat adstringen bekerja dengan cara mengkoagulasikan protein, sehingga
permeabilitas sel sel pada kulit/membran mukosa yang dikenainya menjadi turun, dengan
akibat menurunnya sensitivitas dibagian tersebur.
Teori :
Laporan Farmakologi

Page 67

Obat merupakan zat yang digunakan untuk mendiagnosis, mengurangi rasa sakit, serta
mengobati ataupun mencegah penyakit pada manusia dan hewan (Ansel, 1985). Sedangkan
menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 193/Kab/B.VII/71, obat merupakan suatu
bahan atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan
diagnosis, mencegah, mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala
penyakit, atau kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia atau hewan dan untuk
memperelok atau memperindah badan atau bagian badan manusia.
Mayoritas obat bekerja secara spesifik terhadap suatu penyakit.Namun tidak jarang juga
obat yang bekerjanya secara menyeluruh. Berdasarkan efek obat yang diberikan obat kepada
tubuh, maka obat dibagi menjadi:
1. Obat yang berefek sistemik adalah obat yang memberi pengaruh pada tubuh yang bersifat
menyeluruh (sistemik) dan menggunakan sistem saraf sebagai perantara. Obat ini akan
bekerja jika senyawa obat yang ditentukan bertemu dengan reseptor yang spesifik.
2. Obat yang berefek non-sistemik (lokal) merupakan obat yang mempunyai pengaruh pada
tubuh bersifat lokal atau pada daerah yang diberikan obat. Contoh obat ini adalah obatobat yang bersifat anestesi lokal ataupun transdermal.
Berbagai produk obat yang bersifat lokal dibuat bertujuan untuk menghilangkan segala
sensasi yang tidak menyenangkan pada bagian yang spesifik di tubuh.Beberapa contoh dari
produk tersebut bersifat anastetik ataupun obat-obat yang diberikan secara transdermal.
Anastetika lokal atau yang dikenal dengan zat penghilang rasa setempat adalah obat yang
pada penggunaan lokal merintangi secara reversibel penerusan impuls saraf ke SSP dan
dengan demikian menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas atau
dingin.
Anastetika pertama adalah kokain, yaitu suatu alkaloid yang diperoleh dari daun suatu
tumbuhan alang-alang di pegunungan Andes (Peru).Setelah tahun 1892, perkembangan
anastetik meningkat pesat hingga ditemukan prokain dan benzokain, dan derivat-derivat
lainnya seperti tetrakain dan cinchokain.
Anastesi bekerja dengan menghindarkan untuk sementara pembentukan dan tranmisi
impuls melalui sel saraf dan ujungnya.Anastetik lokal juga dapat menghambat penerusan
impuls dengan jalan menurunkan permeabilitas sel saraf untuk ion natrium.
Laporan Farmakologi

Page 68

Beberapa kireteria yang harus dipenuhi suatu jenis obat yang digunakan sebagai
anestetika lokal
a. Tidak merangsang jaringan
b. Tidak mengakibatkan kerusakan permanen terhadap susunan saraf
c. Toksisitas sistemik rendah.
d. Efektif dengan jalan injeksi atau penggunaan setempat pada selaput lender
e. Mulai kerjanya sesingkat mungkin, tetapi bertahan cukup lama dan dapat larut dalam air
dan menghasilkan larutan yang stabil, juga terhadap pernapasan (sterilisasi).
Selain anestesi, obat-obatan yang digunakan melalui transdermal pun mayoritas
menggunakan prinsip efek lokal yang hanya mengobati/mencegah rasa yang tidak nyaman
pada bagian yang diolesi/ditempelkan obat.
Transdermal merupakan salah satu cara administrasi obat dengan bentuk sediaan
farmasi/obat berupa krim, gel atau patch (koyo) yang digunakan pada permukaan kulit,
namun mampu menghantarkan obat masuk ke dalam tubuh melalui kulit (trans = lewat,
dermal = kulit)
Beberapa bahan kimia dapat menyebabkan cedera pada tempat bahan itu bersentuhan
dengan tubuh.Efek lokal ini dapat diakibatkan oleh senyawa-senyawa kaustik, misalnya pada
saluran pencernaan, bahan korosif pada kulit, serta iritasi gas atau uap pada saluran
napas.Efek lokal ini menggambarkan perusakan umum pada sel-sel hidup.
Cara penggunaan obat yang memberi efek lokal adalah:
a. Inhalasi, yaitu larutan obat disemprotkan ke dalam mulut atau hidung dengan alat seperti :
inhaler, nebulizeer atau aerosol.
b. Penggunaan obat pada mukosa seperti: mata, telinga, hidung, vagina, dengan obat tetes,
dsb.
c. Penggunaan pada kulit dengan salep, krim, lotion, dsb.

Alat dan Bahan :


Laporan Farmakologi

Page 69

Alat
1. Alat-alat bedah
2. Batang pengaduk
3. Kaca arloji
4. Pipet tetes
Bahan
1. Veet Cream
2. Larutan Raksa (II) klorida (HgCl2) 5%
3. Larutan fenol 5%
4. Larutan NaOH 20%
5. Larutan NaOH 10%
6. Larutan K2S 20%
7. H2SO4 pekat
8. HClpekat
9. Larutan fenol 5% dalam etanol
10. Larutan fenol 5% dalam gliserin 25%
11. Larutan fenol 5% dalam minyak lemak
12. Larutan tanin 1%

Cara Kerja :
1. Efek menggugurkan bulu

Tikus yang sudah dikorbankan, diambil kulitnya dan dipotong-potong, masingmasing berukuran 1 cm x 1 cm dan letakkan di kertas saring.

Catat bau asli dari zat-zat yang digunakan.

Keatas potongan kulit tersebut, teteskan larutan-larutan obat yang digunakan

Setelah beberapa menit, dengan batang pengaduk dilihat adakah bulu yang gugur.
Catatlah hasil yang diperoleh dari pengujian.

2. Efek korosif

Usus tikus diambil dan dipotong-potong 5 cm, letakkan diatas kertas saring yang
lembab dan diteteskan dengan cairan-cairan obat. Sebelum digunakan, usus dicuci
dahulu dari kotoran dan posisikan bagian dalam yang terkena tetesan cairan korosif.

Sediakan juga potongan kulit tikus yang baru diambil dan direndam selama 15 menit
dalam cairan-cairan obat.

Amatilah kerusakan yang terjadi.

Laporan Farmakologi

Page 70

3. Efek lokal fenol dalam berbagai pelarut

Wadah kaca yang telah disiapkan diisi dengan larutan-larutan fenol.

Serentak dicelupkan empat jari tangan selama 5 menit kedalam wadah kaca yang
masing-masing berisi fenol 5% + aquades, fenol 5% + etanol, fenol 5% + gliserin
25%, dan fenol 5% + minyak lemak.

Rasakan sensasi yang terjadi, jika jari terasa nyeri sebelum 5 menit, segera jari
diangkat dan dibilas dengan etanol.

4. Efek astringen

Mulut dibilas dengan larutan tanin 1%

Rasakan sensasi yang terjadi didalam mulut.

Hasil Pengamatan :
1. Efek menggugurkan bulu
Percobaan

Bahan Percobaan

Larutan Obat

Gugur Bulu

Kulit Tikus

diberikan pada
kulit

Efek diamati
Bau awal

Kaustik/gugur
bulu (waktu)

Efek lainnya

Bulu bulu
mengalami
kerontokan
Larutan K2S
20%

Khas

dalam rentang

menyenga

waktu yang

paling lama

Tidak ada

diantara
larutan yang
lain.
NaOH 20%
Laporan Farmakologi

Page 71

Berbau

Dalam waktu

Bulu berubah

2 menit bulu
bulu
mengalami
khas

warna kuning

kerontokan
(paling cepat

kecoklatan

menggugurka
n bulu)
Dalam waktu
Veet Cream

4 menit bulu

Berbau

bulu

khas

Tidak ada

mengalami
kerontokan

2. Efek Korosif

Percobaan

Bahan Percobaan

Larutan Obat

Sifat korosif

HgCl2 5%

Fenol 5%

NaOH 10%

Pengamatan
Kerusakan pada
-

Korosif

orange

Usus Tikus
H2SO4 pekat

HCl pekat

jaringan
Kulit melunak
Kulit mengkerut
Warna memudar
Kulit melunak
Mudah hancur
Lengket
Warna berubah

kekuningan
Kulit menjadi

kaku
Warna berubah

kuning
Bau menyengat
Warna berubah
coklat

Laporan Farmakologi

Page 72

Percobaan

Korosif

Bahan Percobaan

Kulit Tikus

Larutan Obat

Sifat korosif

HgCl2 5%
Fenol 5%
NaOH 10%
H2SO4 pekat

Pengamatan
Kerusakan pada

HCl pekat

jaringan
Kulit melunak
Kulit melunak
Kulit melunak
Kulit melunak
Warna berubah

kuning pekat
Bau menyengat

3. Efek lokal fenol dalam berbagai pelarut


Percobaan

Bahan

Jari tangan dicelupkan pada beaker

percobaan

glass yang telah diisi oleh

Pengamatan
Jari tangan terasa

Larutan Fenol 5% dalam air

panas, perih, keriput


dan berwarna putih
setelah beberapa saat
Terasa dingin diawal

Fenol dalam
berbagai

Jari tangan

Larutan Fenol 5% dalam etanol

pelarut

setelah jari diangkat


(5menit)

Larutan Fenol 5% dalam gliserin


25%
Larutan Fenol 5% dalam minyak
lemak

Laporan Farmakologi

dan terasa tebal

Page 73

Jari tangan terasa


panas
Jari tangan berminyak
dan lengket

4. Efek Astringen
Percobaan

Bahan percobaan

Larutan obat dikumur

Pengamatan ( Secara

pada mulut

Teori)
Setelah kumur kumur,

Efek astringen

Mulut untuk kumur

Tannin 1%

dimulut rasanya sepat,


mukosa mulut
menjadi terasa tebal.

Pembahasan :
Tikus

yang

digunakan

dalam

praktikum

dilakukan

pengorbanan

terlebih

dahulu.pengorbanan dapat dilakukan dengan cara anastesi lokal maupun dengan cara
dislokasi lokal. Anastesi lokal dilakukan dengan cara memasukkan tikus kedalam toples yang
telah dijenuhkan dengan larutan eter dan tertutup, tunggu hingga tikus dalam keadaan mati.
Selain

anastesi

lokal,

dislokasi

lokal

juga

dapat

digunakan

dengan

cara

memisahkan/menghambat pengaliran darah ke otak dengan merenggangkan bagian-bagian


tulang belakang dari tikus.
Tikus yang sudah dikorbankan kemudian dikuliti (ambil kulitnya) sesuai dengan
keperluan, baik dari segi jumlah maupun ukurannya. Selain kulit, bagian usus dari tikus juga
digunakan dengan cara membelah usus tikus dan membersihkan dari sisa kotoran yang ada di
usus.Kulit dan usus yang sudah ada tadi di letakkan diatas kaca arloji dan mulailah dengan
pengujian yang sudah ditentukan.
Pada pengujian efek menggugurkan bulu, semua kelompok menghasilkan hasil yang
sama yakni hasil uji menunjukkan adanya kerontokan bulu. Hal ini terjadi karena larutan
yang diberikan bekerja dengan cara memecah ikatan S-S pada keratin kulit, sehingga bulu
akan rusak dan mudah gugur.
Pada pengujian efek korosif, didapatkan hasil bahwa semua larutan obat memiliki sifat
korosif. Korosif adalah sifat suatu substansi yang dapat menyebabkan benda lain hancur atau
memperoleh dampak negatif. Korosif dapat menyebabkan kerusakan pada mata, kulit, sistem
pernapasan, dan banyak lagi.

Laporan Farmakologi

Page 74

Astringen adalah zat yang menyebabkan jaringan biologis berkontraksi atau


mengkerut.Yang menyebabkan efek mulut terasa sepat dan tebal setelah dikumur oleh larutan
tanin 1%.
Kesimpulan :
Obat yang berefek non-sistemik (lokal) merupakan obat yang mempunyai pengaruh pada
tubuh bersifat lokal atau pada daerah yang diberikan obat. Contoh obat ini adalah obat-obat
yang bersifat anestesi lokal ataupun transdermal.Beberapa efek dari obat lokal yang dapat
ditemui adalah menggugurkan bulu, korosif, dan astringen.Tingkat pengguguran bulu
tergantung kepada kadar dan jenis dari larutan yang digunakanSemakin tinggi kadar suatu zat
yang bersifat menggugurkan bulu, maka akan semakin mendekati tingkat korosif. Sama
halnya dengan efek menggugurkan bulu.Larutan yang bersifat korosif pun beraneka ragam,
dan menghasilkan mekanisme efek yang berbeda-beda, tergantung kepada kekuatan korosif
yang dikandungnya.Astringen merupakan salah satu efek dari efek lokal obat yang
mekanisme kerjanya di mulut. Senyawa ini banyak ditemukan pada gambir, teh, dan
tumbuhan lain yang memiliki rasa kelat hingga kepahitan.
Daftar Pustaka :
Tim Dosen Praktikum Farmakologi.Penuntun Praktikum Farmakologi.Program Studi
FarmasiISTN.Jakarta : 2008
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : DEPKES RI.
Guyton, A.C & Hall, J. E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.
Riyanti, Sri. dkk. 2010. Buku Ajar Farmakologi ed ke lima. Jakarta.

Laporan Farmakologi

Page 75

ANESTESI PERMUKAAN

Latar Belakang
Istilah anestesi dikemukakan pertama kali pada tahun 1846 oleh O.W. Holmes Sr yang
berasal dari bahasa Yunani anaisthesia (an = tanpa, aisthetos = persepsi, kemampuan merasa),
secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan
dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Anestesi
berdasarkan tempat aksi ada dua yaitu : anestesi umum dan anestesi lokal. Anestesi umum
adalah hilangnya rasa sakit dengan disertai hilangnya kesadaran. Anestesi lokal adalah
hilangnya rasa sakit tanpa disertai dengan hilangnya kesadaran.
Tujuan
Pada praktikum ini kami akan melihat pengaruh pemberian anastesi lokal terhadap
perubahan kondisi reflek mata hewan coba (kelinci) yang diamati tiap 5 menit sekali selama
60 menit dengan menggunakan aplikator.

Prinsip percobaan

Mata normal bila disentuh pada kornea akan memberikan respon refleks okuler (mata
berkedip). Apabila mata di teteskan anestetika lokal, refleks okuler timbul setelah beberapa
kali kornea disentuh, sebanding dengan kekuatan kerja anestetika dan besarnya sentuhan
yang diberikan. Tidak adanya refleks okuler setelah kornea disentuh 100 kali dianggap
sebagai tanda adanya anestesi total.

Teori dasar

Laporan Farmakologi

Page 76

Anestesi loKal dapat memblok hampir setiap syaraf antara akhir dari syaraf perifer dan
system syaraf pusat. Teknik perifer yang paling bagus adalah anestesi local pada permukaan
kulit atau tubuh.

Anestetika lokal adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila dikenakan secara lokal
pada jaringan saraf dengan kadar yang cukup. Anestetika nyeri dan menghilangkan
kemungkinan pengahantaran dari serabut saraf sensibel secara bolak-balik pada tempat
tertentu sebagai akibat dari rasa sensasi nyeri hilang untuk sementara hilang. Kerja Anestetika
lokal pada ujung saraf sensorik tidak spesifik. Hanya kepekaan berbagai struktur yang
dirangsang berbeda. Misalnyalokal menghilangkan keterangsan dari organ akhir yang
menghantarkan, fungsi motorik tidak terhenti dengan dosis umum untuk anestetika lokal
terutama karena serabut saraf motorik mempunyai diameter yang lebih besar daripada serabut
sensorik.
Oleh karena itu efek anestetika lokal menurun dengan kenaikan diameter serabut saraf
maka mula-mula serabut saraf sensorik dihambat dan baru pada dosis yang lebih besar
serabut saraf motorik dihambat.
Mekanisme kerja
Mekanisme kerja anestetika lokal yang terkenal ialah bahwa obat ini menurunkan
ketelapan membran terhadap kation, khususnya ion Natrium. Menurunnya ketelapan
membrane mempunyai arti yang sama dengan suatu penurunan keterangsangan termasuk juga
pada konsentrasi anestetika local yang tinggi tidak dapat terangsang sama sekali dan serabut
saraf, karena suatu rangsang hanya dapat terjadi atau dapat dihanmtarkan jika terjadi
gangguan potensial istirahat membran akibat suatu kenaikan mendadak dari ketelapan
terhadap Natrium. Blokade saluran ion, khususnya saluran Natrium, akibat anestetika local
terjadi menurut mekanisme berikut : semua anestetika local tersimpan dalam membran sel
karena sifat lipofilnya dan melalui ekspansi membrane yang tak spesifik menutup saluran
Natrium. Disamping itu pada anestetika lokal basa terjadi juga reaksi dengan reseptor terjadi
pada sisi dalam membran.
Sifat-sifat dari anestetika lokal yang ideal, yaitu :
- Tidak mengiritasi dan merusak jaringan saraf secara permanen.
- Toksisitas sistemisnya rendah.
- Efektif pada penyuntikan dan penggunaan lokal
- Mula kerja dan daya kerjanya singkat untuk jangka waktu yang lama.
- Larut dalam air dengan menghasilkan larutan yang stabil dan tahan pemanasan
(proses sterilisasi)

Laporan Farmakologi

Page 77

Kecepatan onset anestetika lokal ditentukan oleh:


kadar obat dan potensinya
jumlah pengikatan obat oleh protein
pengikatan obat ke jaringan lokal
kecepatan metabolisme
perfusi jaringan tempat penyuntikan obat.
Konsentrasi minimal anestetika local (analog dengan mac, minimum alveolar
concentration) diengaruhi oleh:
1 Ukuran, jenis dan mielinisasi saraf
2 pH (asidosis menghambat blockade saraf)
3 frekuensi stimulasi saraf
Mula kerja anestetika lokal bergantung beberapa faktor, yaitu:
1 pKa mendekati pH fisiologis sehingga konsentrasi bagian tak terionisasi
meningkat dan dapat menembus membran sel saraf sehingga menghasilkan
2
3

mula kerja cepat.


Alkalinisasi anestetika local membuat mula kerja cepat
Konsentrasi obat anestetika local

Lama kerja anestetika local dipengaruhi oleh:


1 Ikatan dengan protein plasma, karena reseptor anestetika local adalah protein.
2 Dipengaruhi oleh kecepatan absorbsi.
3 Dipengaruhi oleh banyaknya pembuluh darah perifer di daerah pemberian.

Salah satu obat anastetika local dari golongan amida. Lidokain terdiri dari satu gugus
lipofilik (biasanya merupakan suatu cincin aromatik) yang dihubungkan suatu rantai
perantara (jenis amid) dengan suatu gugus yang mudah mengion (amin tersier). Dalam
penerapan terapeutik, mereka umumnya disediakan dalam bentuk garam agar lebih mudah
larut dan stabil. Didalam tubuh mereka biasanya dalam bentuk basa tak bermuatan atau
sebagai suatu kation. Perbandingan relative dari dua bentuk ini ditentukan oleh harga pKa
nya dan pH cairan tubuh, sesuai dengan persamaan Henderson-Hasselbalch.

Lidokain merupakan obat terpilih bagi mereka yang hipersensitif terhadap prokain dan
juga epinefrin. Biasanya Lidokain digunakan untuk anestesi permukaan dalam bentuk salep,
krim dan gel. Efek samping Lidokain biasanya berkaitan dengan efeknya terhadap SSP
misalnya kantuk, pusing, paraestesia, gangguan mental, koma, dan seizure.

Laporan Farmakologi

Page 78

Tetrakain (Pontocaine) adalah obat anestesi lokal yang biasanya digunakan sebagai obat
untuk diagnosis atau terapi pembedahan. Akan tetapi, penelitian pada hewan menunjukkan
efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan belum ada penelitian
yang terkendali pada wanita atau penelitian pada wanita dan hewan belum tersedia. Obat
seharusnya diberikan bila hanya keuntungan potensial memberikan alasan terhadap bahaya
potensial pada janin. Selain itu, Tetrakain yang potensiasinya lebih tinggi dibandingkan
dengan dua obat anestesi local golongan ester lainnya ini memiliki efek samping berupa rasa
seperti tersengat. Namun, efek ini tidak membuat Tetrakain jarang digunakan, hal ini karena
salah satu kelebihannya adalah tidak menyebabkan midriasis.
Tetrakain biasanya digunakan untuk anestesi pada pembedahan mata, telinga, hidung,
tenggorok, rectum, dan dan kulit.7,8 Berkhasiat 10 kali lebih kuat daripada prokain, tapi juga
10 kali lebih toksik daripada prokain. Lebih disukai digunakan sebagai anestesi permukaan.
Dosis tunggal maksimum sebesar 20 mg. Sangat cepat diabsorpsi dari membran mukosa yang
terluka, sehingga terdapat bahaya keracunan absorpsi. Salah satu anastetik lokal yang dapat
digunakan secara topikal pada mata adalah Tetrakain Hidroklorida.

ALAT DAN BAHAN


Alat:

Gunting
Pipet Tetes
Aplikator : Bulu Mata Kelinci / Kumis Kelinci

Obat :

Larutan Tetrakain HCl 2% 0,5 ml


Larutan Lidocain HCl 2% 0.5 ml

Prosedur :
1
2

Gunting bulu mata kelinci agar tidak menghalangi aplikator


Teteskan kedalam kantung konjuntiva larutan anestetik local lidocain HCl 2% 0.5 ml

3
4

pada mata kanan dan tetracain HCl 2% 0.5 ml pada mata kiri.
Tutup masing-masing kelopak mata selama 1 menit
Catat ada auau tidaknya reflek mata setiap 5 menit dengan menggunakan aplikator
tiap kali pada permukaan kornea

Laporan Farmakologi

Page 79

Hasil Pengamatan
Hewan

kelinci

Mata

Kanan

Obat di

Pengamata

pada

reflek

mata

pada

waktu

(.menit)

teteskan

n
0
reflek

10

15

20

30
reflek

45
Mulai ada

60
Refle

reflek

reflek

reflek

reflek

reflek

Lidocai
n

sedik
Kiri

Tetracai
n

reflek

Mulai

Reflek

it
Refle

reflek

reflek

reflek

reflek

ada

sedikit

reflex

Pembahasan
Percobaan Anestesi Permukaan ini bertujuan mengetahui berapa lama obat anestesi
bekerja dan memperhatikan efek dari obat anestesi lokal tersebut. Dengan menggunakan
kedua mata Kelinci sebagai hewan percobaan. Sementara obat yang diujikan indeks terapinya
adalah lidocain HCl 2% sebanyak 0.5 ml dan Tetracain HCl 2% sebanyak 0.5 ml juga.
Pengujian dilakukan dengan meneteskan Lidocain HCl pada mata kanan dan Tetracain
HCl pada mata kiri, setelah diteteskan kedua mata ditutup selama 1 menit. Pada menit ke 5
mulai diamati reflek berkedip pada mata dengan menggunakan aplikator bulu mata atau
kumis dari Kelinci itu sendiri, lalu selanjutnya pada menit ke 10, 15, 20, 40, 45 dan menit
terakhir menit ke 60.

Dari percobaan ini, didapatkan hasil bahwa Lidocain HCl memiliki waktu kerja obat lebih
lama dibandingkan dengan Tetracain HCl. Hal ini sesuai dengan teori bahwa

efek lidocain HCl lebih panjang masa kerjanya dibandingkan dengan tetracain HCl, oleh
sebab itulah lidokain banyak digunakan sebagai obat anestetika lokal, khususnya untuk
operasi operasi kecil yang tidak membutuhkan waktu lama seperti operasi katarak.

Laporan Farmakologi

Page 80

Kokain merupakan suatu alkaloid ester yang merupakan anestetika lokal tertua. Obat

ini tidak lagi digunakan karena toksisitasnya yang tinggi dan kerja yang menyebabkan

ketergantungan. Tapi karena obat ini berfungsi sebagai senyawa model pada

perkembangan anestetika lokal sintetik maka obat ini masih menarik dari segi

timbulnya suatu kelompok obat. Selain itu, obat ini merupakan satu satunya

anestetika lokal yang bekerja vasokonstriksi melalui penghambatannya pada

pengambilan kembali noradrenalin ke dalam akson.

Penggolongan anestetika lokal adalah

Jenis ester : Kokain, prokain, tetrakain, etoform

Golongan amida asam : Lidokain

Fomokain

DAFTAR PUSTAKA
Tim Dosen Praktikum Farmakologi.Penuntun Praktikum Farmakologi.Program Studi
Farmasi.ISTN.Jakarta : 2008.
Laporan Farmakologi

Page 81

Mutschler, Ernst.Dinamika Obat.ed V.Penerbit ITB.Bandung : 1999


Departemen farmakologi dan terapeutik.Farmakologi dan Terapi.Ed.V.Balai Penerbit
FKUI.Jakarta :2009.

EFEK ANESTESI LOKAL DENGAN METODE REGNIER

I.

Tujuan percobaan :
1. Memahami efek lokal dari berbagai jenis obat atau senyawa kimia
2. Mengenal berbagai faktor yang mempengaruhi kerja anastetika lokal
3. Mengenal teknik pemberian obat anestesi lokal pada hewan percobaan

II.

Prinsip percobaan :

Anestesi lokal adalah teknik untuk menghilangkan atau mengurangi sensasi di


bagian tubuh tertentu. Anastesi lokal permukaan tercapai ketika anastetika lokal
ditempatkan di daerah yang ingin dianastesi. Mata normal bila di sentuh pada kornea akan
memberikan respon refleks okuler (mata berkedip) apabila mata di teteskan anestesi lokal,
Laporan Farmakologi

Page 82

refleks okuler timbul setelah beberapa kali kornea disentuh, sebanding dengan kekuatan
kerja anestesi dan besarnya sentuhan yang diberikan. Tidak adanya refleks okuler setelah
kornea disentuh 100 kali dianggap sebagai tanda adanya anestesi total

III.

Teori dasar :

Anastetika pertama adalah kokain, yaitu suatu alkaloid yang diperoleh dari daun
suatu tumbuhan alang-alang di pegunungan Andes (Peru). Setelah tahun 1892,
perkembangan anastetik meningkat pesat hingga ditemukan prokain dan benzokain, dan
derivat-derivat lainnya seperti tetrakain dan lidocain

Menurut cara pemakaian anestesi lokal dibedakan menjadi:

1. Anestesi permukaan.
Anestetika local digunakan pada mukosa atau permukaan luka dan berdifusi ke organ
akhir sensorik dan ke percabangan saraf terminal. Pada epidermis yang utuh (tidak
terluka) maka anestetika local hampir tidak bekhasiat karena tidak mampu menembus
lapisan tanduk.

2. Anestesi Infiltrasi.
Anestetika local disuntikkan ke dalam jaringan, termasuk juga diisikan ke dalam
jaringan. Dengan demikian selain organ ujung sensorik, juga batang-batang saraf kecil
dihambat.

3. Anestesi Konduksi

Laporan Farmakologi

Page 83

Anestetika local disuntikkan di sekitar saraf tertentu yang dituju dan hantaran rangsang
pada tempat ini diblok. Bentuk khusus dari anestesi konduksi ini adalah anestesi
spinal, anestesi peridural, dan anestesi para vertebral.

4. Anestesi Regional Intra vena dalam daerah anggota badan


Sebelum penyuntikan anestetika lokal, aliran darah ke dalam dan keluar dihentikan
dengan mengikat dengan ban pengukur tekanan darah dan selanjutnya anestetika local
yang disuntikkan berdifusi keluar dari vena dan menuju kejaringan di sekitarnya dan
dalam waktu 10-15 menit menimbulkan anestesi.

Obat anestetik lokal berikatan dengan reseptor khusus di kanal natrium


sehingga menimbulkan blokade yang mencegah aliran natrium. Hal ini lebih lanjut
mencegah terjadinya perubahan potensi aliran listrik yang artinya juga mencegah
timbulnya impuls listrik sehingga hantaran isyarat tidak terjadi.
Sifat ideal yang di inginkan dari sebuah obat anestesik lokal :
1. Tidak mengiritasi
2. Tidak merusak jaringan saraf secara permanen.
3. Batas keamanan harus lebar
4. Mula kerja harus sesingkat mungkin, masa kerja harus cukup lama
5. Harus larut dalam air stabil dalam larutan
6. Dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan

IV.

Alat dan bahan :


-

Kelinci 1 ekor

Lidokain 2%

Tetrakain 2%

Bulu mata untuk menyentuh kornea

Laporan Farmakologi

Page 84

V.

Cara kerja :
1. Kelinci ditempatkan ke dalam kotak 1 jam sebelum percobaan dimulai.
Gunting bulu matanya, kemudian periksa reflex normal dari kedua kornea
dengan sentuhan misai secara tegak lurus.
2. Pada waktu t=0, teteskan 0,1 ml larutan obat yang akan diuji ke dalam mata
kelinci, percobaan ini diulangi setelah 1 menit (gunakan stopwatch).
3. Pada menit ke 8, dengan bantuan misai diperiksa reflex mata, yaitu dengan
menyentuh misai tegak lurus dibagian tengah kornea sebanyak 100 kali
dengan kecepatan yang sama. Jangan terlalu keras menyentuhnya dan ritme
harus diatur. Apabila sampai 100x tidak ada reflex (kelopak mata tertutup)
maka di catat angka 100 untuk respon negative. Tetapi jika sebelum 100 kali
sudah ada reflex, maka yang di catatat adalah respon negative sebelum
mencapai angka 100.
4. Perlakuan yang sama diulang pada menit-menit ke : 15, 20, 25, 30, 40,50, dan
60. Jika sebelum menit-menit yang ke 60 pada sentuhan pertama sudah ada
reflex, maka menit-menit yang tersisa diberi angka satu.
5. Setelah percobaan di atas mata sebelahnya diperlakukan seperti no. 4, tetapi
hanya diteteskan larutan fisiologis.
6. Jumlah respon negative dimuat dalam sebuah tabel dan dimulai dari menit ke
8, jumlah tersebut menunjukan angka regnier minimal angka 13.
7. Hitung / jumlahkan untuk waktu-waktu tertentu semua respon negative.
Apabila pada sekali sentuhan terjadi reflex kornea, maka angka yang di catat
adalah 1. Hitung angka rata-rata yang diberikan untuk masing-masing larutan
yang diperoleh pada 8 kali permeriksaan reflex kornea.

VI.

Hasil pengamatan :

Laporan Farmakologi

Page 85

Hewan
Kelinci

Mata
Kanan

Jumlah sentuhan member reflex berkedip pada mata di menit ke...


0

15

20

25

30

40

50

60

20

15

13

10

25

16

14

12

(lidocain 2%)
Kelinci

Kiri
(Tetracain 2%)

VII.

Pembahasan :
Berikut hasil uraian hasil praktikum kami. Pada praktikum ini kami
melakukan percobaan anastesi permukaan dengan menggunakan obat anastetik
lokal yaitu lidocain 2%, Tetracain 2% dan kelinci sebagai hewan ujinya. Pertama
kami memeriksa reflek normal dari kedua kornea mata kelinci dengan
menggunakan bulu mata kelinci yang sudah kami dapatkan. Obat diteteskan ke
dalam kantong kunjungtiva, larutan anastetika lokal lidokain 0,5ml pada mata
kanan dan larutan tetracain 2% pada mata kiri.Hasil pengamatan sebagai berikut.

Mata kanan :

Menit ke 8 mata kelinci menunjukan kedipan pada sentuhan ke 20

Menit ke 15 mata kelinci menunjukan kedipan pada sentuhan ke 15

Menit ke 20 mata kelinci menunjukan kedipan pada sentuhan ke 13

Menit ke 25 mata kelinci menunjukan kedipan pada sentuhan ke 10

Menit ke 30 mata kelinci menunjukan kedipan pada sentuhan ke 7

Menit ke 40,50,60 mata kelinci menunjukan kedipan pada sentuhan ke1

Ini berarti efek lidokain 2% sudah tidak memberikan efek pada menit ke 40

Laporan Farmakologi

Page 86

Mata kiri :

Menit ke 8 mata kelinci menunjukan kedipan pada sentuhan ke 25

Menit ke 15 mata kelinci menunjukan kedipan pada sentuhan ke 16

Menit ke 20 mata kelinci menunjukan kedipan pada sentuhan ke 14

Menit ke 25 mata kelinci menunjukan kedipan pada sentuhan ke 12

Menit ke 30 mata kelinci menunjukan kedipan pada sentuhan ke 9

Menit ke 40 mata kelinci menunjukan kedipan pada sentuhan ke 8

Menit ke 50 dan 60 mata kelinci menunjukan kedipan pada sentuhan ke 1

Ini berarti efek tetrakain 2% sudah tidak memberikan efek pada menit ke 50

Dari hasil percobaan dapat kita buktikan bahwa lidocain dan tetracain
mempunyai efek anestesi lokal pada mata kelinci, hal ini dapat kita liat dari
bagaimana reflex kornea mata kelinci saat di sentuh dengan menggunakan bulu
matanya. Pada percobaan ini kerja lidocain lebih cepat dari pada tetracain.

VIII. Kesimpulan :
Anestesi lokal adalah teknik untuk menghilangkan atau mengurangi sensasi di
bagian tubuh tertentu. Dari hasil percobaan praktikum kami dapat di tarik kesimpulan
bahwa efek Lidocain 20% lebih kuat dari pada Tetrakain 2%.Lidocain dan tetrakain
merupakan obat anastetikl okal yang menghambat konduksi pada saraf mata.

XI.

Daftarpustaka :

Laporan Farmakologi

Page 87

Tim Dosen Praktikum Farmakologi.PenuntunPraktikumFarmakologi.Program


StudiFarmasiISTN.Jakarta : 2008

http://kamuskesehatan.com/arti/anestesi-lokal/

ANESTESI KONDUKSI

Latar Belakang
Anestetik lokal ialah obat yang menghasilkan blokade konduksi atau blokade lorong
natrium pada dinding saraf secara sementara terhadap rangsang transmisi sepanjang saraf,
jika digunakan pada saraf sentral atau perifer. Anestetik lokal setelah keluar dari saraf
diikuti oleh pulihnya konduksi saraf secara spontan dan lengkap tanpa diikuti oleh
kerusakan struktur saraf. Anestetik lokal menghilangkan penghantaran saraf ketika
digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan konsentrasi tepat. Bekerja pada
sebagian Sistem Saraf Pusat (SSP) dan setiap serabut saraf. Kerja anestetik lokal pada
ujung saraf sensorik tidak spesifik. Hanya kepekaan berbagai struktur yang dapat
dirangsang berbeda. Serabut saraf motorik mempunyai diameter yang lebih besar dari
pada serabut sensorik. Oleh karena itu, efek anestetika lokal menurun dengan kenaikan
diameter serabut saraf, maka mula-mula serabut saraf sensorik dihambat dan baru pada
dosis lebih besar serabut saraf motorik dihambat.

Tujuan Percobaan
1. Mengenal tiga teknik untuk mencapai anestetika lokal pada berbagai hewan
percobaan
2. Memahami faktor-faktor yang melandasi perbedaan-perbedaan dalam sifat dan
potensi anestetika lokal
3. Mengenal berbagai faktor yang mempengaruhi kerja anestetika lokal
Laporan Farmakologi

Page 88

4. Dapat mengkaitkan daya kerja anestetika lokal dengan menifestasi gejala keracunan
serta pendekatan rasional untuk mengatasi keracunan

Prinsip Percobaan
Anastetika Konduksi adalah Anestetika local yang disuntikkan di sekitar saraf tertentu
yang dituju dan hantaran rangsang pada tempat ini diputuskan.

DASAR TEORI

Anestesia konduksi (juga di sebut blockade-sarafperifer), yaitu injeksi di tulang

belakang pada suatu tempat berkumpulnya banyak saraf, hingga tercapai anesthesia dari suatu
daerah yang lebih luas, terutama pada operasi lengan atau kaki, juga bahu. Lagi pula
digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat. Pada anestesi konduksi, Anestetika lokal yang
di suntikan di sekitar saraf tertentu yang dituju dan hantaran rangsang pada tempat ini
diputuskan. Bentuk khusus dari anestesi konduksi ini adalah anestesi spinal, anestesi epidural
dan anestesi kaudal.

PERCOBAAN
Alat dan Bahan
Alat
Spuit 1 dan 3 ml
Klem/Pinset ekor
Silinder khusus mencit
Timbangan
Spidol
Stopwatch
Bahan
Mencit jantan 3 ekor
Tetracain
NaCl Fisiologis
Lidokain
Laporan Farmakologi

Page 89

ProsedurKerja
1. Semua mencit dicoba dulu respon haffner (ekor mencit di jepit dan di lihat angkat
ekor atau menit bersuara) dan hanya dipilih hewan hewan yang member respon
haffner negatif, artinya hewan mengangkat ekor/bersuara
2. Hewan hewan dikelompokkan dan ditimbang dan diberi tanda
3. Mencit dimasukkan ke dalam silinder (kotak penahan mencit) dan hanya ekornya
yang dikeluarkan. Jumlah silinder di sesuaikan dengan jumlah mencit dari satu
kelompok
4. Ekor mencit kemudian dijepit pada jarak 0,5cm dari pangkal ekor. Manifestasi rasa
nyeri ditunjukkan dengan refleks gerakan tubuh mencit atau dengan suara kesakitan.
Respon demikian dicatat sebagai haffner negatif.
5. Pada waktu t =0, masing masing mencit dari kelompok yang sama disuntik.
Pehacain di vena ekor, kelompok control hanya di suntik larutan pembawanya
dengan cara penyuntikkan yang sama.
6. Setalah waktu t=10 menit, masing masing mencit diperiksa respon haffner; dan
selanjutnya dilakukan hal yang sama pada t=15 dan 20 menit. Hasil pengamatan di
catat dalam sebuah tabel

HASIL PENGAMATAN

Perhitungan Konfersi Mencit :


1. Mencit ke-1 (BB= 32 g)
Tetracain = 20 mg/ml
20 mg
1 ml x 0,0026 = 0,052 mg
32 g
20 g x 0,052 mg = 0,0832 ml
2. Mencit ke-2 (BB= 34,5 g)
NaCl = 20 mg
20 mg
1 ml x 0,0026 = 0,052 mg
34,5 g
20 g x 0,052 mg = 0,0897 ml
3. Mencit ke-3 (BB= 40,5 g)
Lidocain = 20 mg/ml
Laporan Farmakologi

Page 90

20 mg
1 ml x 0,0026 = 0,052 mg
40,5 g
20 g x 0,052 mg = 0,1053 ml
Dosis Pemakaian pada mencit :
a. Mencit 1

0,0832mg
x 1 ml = 0,00416
20 mg

Pengenceran 10 Kalinya
Tetracain : 0,00416 x 10 = 0,041 = 0,04 ml
NaCl ad 10 ml
0,0897 mg
b. Mencit 2
:
x 1 ml = 0,00448
20 mg
NaCl

: 0,00448 x 10 = 0,044 = 0,04 ml


0 ,1053 mg
:
x 1 ml = 0,0052
20 mg

c. Mencit 3

Pengenceran 10 Kalinya
Lidocain : 0,0052 x 10 = 0,052 = 0,05 ml
NaCl ad 10 ml

Pengamatan:
Hewa
n

Cara
Obat

pemberia

10

15

20 25 30 35 40 45 50 55 60

Iv

Iv

n
Tetracain Iv

Mencit NaCl
Lidocain

Keterangan

ResponHaffnerpadawaktu t= menit

(+)

: Menandakan masih adanya respon

(-)

: Menandakan sudah tidak ada respon (Sudah teranastesi)

PEMBAHASAN
Laporan Farmakologi

Page 91

Dari hasil percobaan ternyata Lidocain memiliki efek anastesi yang lebih cepat.
Teknik pemberian anastesi konduksi disuntikkan di sekitar saraf tertentu yang dituju atau
injeksi tulang belakang, yaitu pada suatu tempat berkumpulnya banyak saraf hingga tercapai
anastesi dari suatu daerah yang lebih luas

KESIMPULAN

Anestesi konduksi merupakan teknik anestetika lokal yang di suntikan di sekitar saraf
tertentu yang dituju dan hantaran rangsang pada tempat ini diputuskan. Terdapat bermacammacam obat anestesi yang dapat digunakan dengan teknik anestesi konduksi, dimana masingmasing obat memiliki kekuatan kerja, toksisitas, kecepatan absorpsi yang berbeda-beda.
Lidocain adalah anastetik lokal yang kuat dan lebih cepat yang digunakan secara luas dengan
pemberian topikal dan suntik. Anestesi konduksi (penyaluransaraf) yaitu dengan penyuntikan
di suatu tempat dimana banyak saraf terkumpul, sehingga mencapai anestesia dari suatu
daerah yang luas, misal pada pergelangan tangan atau kaki, juga untuk mengurangi nyeri
yang hebat

DAFTAR PUSTAKA

1. http://kedokteranku.blogspot.com/2010/08/anestesi-lokal.html
2. http://smart-fresh.blogspot.com/2012/02/anestesi-lokal-farmakologi.html
3. Mutschler. E.
1991. Dinamika
Obat
Buku Ajar
Farmakologi

dan

Toksikologi, terjemahan M. B. widiantodan A. S. Ranti, Penerbit ITB, Bandung. Hal


223
4. Priyanto, 2008, FarmakologiDasarEdisi II, Depok: Leskonfi
5. Tim Penyusun, 2007, FarmakologidanTerapiEdisi V, Jakarta : Departemen
6. /Farmakologi FKUI

Laporan Farmakologi

Page 92

ANESTESI INFILTRASI

I.

TUJUAN PERCOBAAN
1. Mengetahui efek obat Anestesi Infiltrasi
2. Mengetahui onset dan durasi obat Anestesi Infiltrasi
3. Mengetahui fungsi adrenalin dalam Anestesi Infiltrasi

II.

PRINSIP PERCOBAAN
Obat anestetika local yang disuntikkan ke dalam jaringan akan mengakibatkan
kehilangan sensasi pada struktur sekitarnya.

III.

DASAR TEORI

Anestesi

(pembiusan;

berasal

dari

bahasa

Yunani an-"tidak,

tanpa"

dan aesthtos, "persepsi, kemampuan untuk merasa"), secara umum berarti suatu
tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai
prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh.

Istilah anestesi diperkenalkan pertama kali oleh O.W. Holmes yang artinya
tidak ada rasa sakit. Anestesi dibagi menjadi dua kelompok yaitu anestesi lokal
dan anestesi umum. Anestesi lokal adalah hilangnya rasa sakit tanpa disertai
hilang kesadaran dan anestesi umum, yaitu hilang rasa sakit disertai hilang
kesadaran. Tindakan anestesi digunakan untuk mempermudah tindakan operasi
maupun memberikan rasa nyaman pada pasien selama operasi. Anestesi lokal
didefinisikan sebagai suatu tindakan yang menyebabkan hilangnya sensasi rasa
nyeri pada sebagian tubuh secara sementara yang disebabkan adanya depresi
eksitasi di ujung saraf atau penghambatan proses konduksi pada saraf perifer.
Penggunaan anastesi lokal untuk pencegahan rasa sakit selama operasi, dimulai
lebih dari 100 tahun yang lalu sewaktu Kaller (1884) seorang opthalmologist di

Laporan Farmakologi

Page 93

Wina, mencatat kegunaan dari kokain suatu ester dari asam para amino benzoat
(PABA), dalam menghasilkan anestesi korneal. (Rusda, 2004)

Anastesi injeksi yang pertama adalah ester lain dari PABA yaitu Procaine yang
disintesa oleh Einhorn pada tahun 1905. Obat ini terbukti tidak bersifat adiksi dan
jauh kurang toksik dibanding kokain. Ester-ester lain telah dibuat termasuk
Benzocaine, Dibucaine, Tetracaine dan Chloroprocaine, dan semuanya terbukti
sedikit toksisitasnya, tetapi kadang-kadang menunjukkan sensitisasi dan reaksi
alergi. (Rusda, 2004)

Penelitian untuk anastesi lokal terus berlangsung sehingga banyak obat-obat


dengan berbagai keuntungan dapat digunakan pada saat ini. Obat obat anastesi
lokal dikembangkan dari kokain yang digunakan untuk pertama kalinya dalam
kedokteran gigi dan oftalmologi pada abad ke 19. Kini kokain sudah diganti
dengan lignokain (lidokain), buvikain (marccain), prilokain dan ropivakain.
Prilokain terutama digunakan dalam preparat topical.

Mekanisme anestetikum lokal yaitu dengan menghambat hantaran saraf bila


dikenakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Bahan ini bekerja
pada tiap bagian susunan saraf. Anestetikum lokal mencegah terjadi pembentukan
dan konduksi impuls saraf. Tempat kerjanya terutama di membran sel, efeknya
pada aksoplasma hanya sedikit saja. Potensial aksi saraf terjadi karena adanya
peningkatan sesaat permeabilitas membran terhadap ion natrium (Na+ ) akibat
depolarisasi ringan pada membran. Proses inilah yang dihambat oleh anestetikum
lokal, hal ini terjadi akibat adanya interaksi langsung antara zat anestesi lokal
dengan kanal Na+ yang peka terhadap adanya perubahan voltase muatan listrik.
Dengan semakin bertambahnya efek anestesi lokal di dalam saraf, maka ambang
rangsang membran akan meningkat secara bertahap, kecepatan peningkatan
potensial aksi menurun, konduksi impuls melambat dan faktor pengaman
konduksi saraf juga berkurang. Dapat disimpulkan bahwa cara kerja utama bahan
anestetikum lokal adalah dengan bergabung dengan reseptor spesifik yang
terdapat pada kanal Na, sehingga mengakibatkan terjadinya blokade pada kanal
tersebut, dan hal ini akan mengakibatkan hambatan gerakan ion melalui membran.
Laporan Farmakologi

Page 94

IV.

ALAT DAN BAHAN


Hewan percobaan : Kelinci 1 ekor
Bahan obat

: Lidokain HCL
Nacl
Lidokain+Adrenaline

Alat percobaan

: 1. Kandang Kelinci
2. Sarung Tangan
3. Kapas dan Alkohol 70%
4. Gunting
5. Pisau Cukur dan Veet cream
6. Spidol Permanent
7. Spuit 1 cc
8. Jam tangan atau stopwatch

Cara pemberian

V.

: Intra kutan

PROSEDUR

1. Gunting bulu kelinci pada punggungnya dan cukur hingga bersih kulitnya
(hindari terjadinya luka).

Laporan Farmakologi

Page 95

2. Buat daerah penyuntikan dengan menandai punggung kelinci menggunakan


spidol dengan jarak minimal 3 cm.

3. Atur waktu dengan menggunakan jam atau stopwatch untuk menghitung


respon kelinci.

4. Uji getaran otot dengan memberikan sentuhan ringan pada daerah penyuntikan
dengan peniti, setiap kali enam sentuhan.

5. Suntikkan larutan-larutan di atas pada daerah penyuntikan secara intrakutan

6. Hitung waktu dari pertama kali larutan disuntikkan dengan menggunakan jam
menggunakan jam tangan atau stopwatch

7. Lakukan uji getaran setelah penyuntikan seperti poin 4 , amati dan catat waktu
respon kelinci.

VI.

HASIL PENGAMATAN
Perhitungan

Hasil penimbangan
Hewan Percobaan
Kelinci

Laporan Farmakologi

Berat Badan
16,46 kg

Page 96

Perhitungan Dosis Lidokain

Faktor konversi
Manusia kelinci Berat Badan kelinci 1,5 kg = 0.07

Dosis
Berat badan kelinci = 16,46 kg
Obat yang digunakan adalah:
1. Lidokain 20mg/2 ml
2. Nacl
3. Lidokain + adrenaline
Konversi dosis= 0,07 x 10 mg/ml = 0,7 mg/ml
BB kelinci
x hasil konversi
=
1,5 kg
=

16,46 kg
1,5 kg

x 0,7 mg/ml = 7,68 mg/ml

Volume yang disuntikan


=

7,68 mg/ml
10 mg/ml

x 1 ml = 0,768 mg/ml

Perhitungan dosis NaCl


Ambil NaCl 0,2 ml

Tabel Pengamatan
HEWAN

Organ

Obat

percobaan

Cara

Getaran otot pungging kelinci dengan 6 sentuhan

pemberian setiap kali dengan peniti pada waktu 5 menit setelah


pemberian obat

Punggung
0
++

5
+

Lidokain

10kanan15atas 20
-

Laporan Farmakologi

25
-

IC
30
-

35
-

40
-

Page 97

Punggung

Nacl

IC

Punggung

Lidokain

IC

kanan

bawah

adrenalin

Punggung

Nacl

kiri atas

0
++

5
++

10
+

15
+

20
+

25
+

30
+

35
+

40
+

0
+

5
+

10
-

15
-

20
-

25
-

30
-

35
-

40
-

0
++

5
++

10
+

15
+

20
+

25
+

30
+

35
+

40
+

KELINC
I

IC

kiri bawah

KETERANGAN :
( ++ ) = Respon / Nyeri
(+)

= Respon

(-)

= Tidak Respon / Kebal

VII. PEMBAHASAN

Praktikum kali ini adalah tentang anastesi infiltrasi. Anestesi Infiltrasi


merupakan anestetika lokal yang disuntikkan ke dalam jaringan, termasuk juga
diisikan kedalam jaringan. Dengan demikian selain organ ujung sensorik, juga
batang-batangsaraf kecil dihambat.
Laporan Farmakologi

Page 98

Larutan yang di gunakan adalah lidokain injeksi .Lidokain (xilokain) adalah


anestetik lokal kuat yang digunakan secara luas dengan pemberian topical dan
suntikan. Anesthesia terjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih lama dan lebih ekstensif
daripada yang ditimbulkan prokain pada konsentrasi yang sebanding. Lidokain
sering digunakan secara suntikan untuk anesthesia infiltrasi, blokade saraf,
anesthesia spinal, anesthesia epidural ataupun anesthesia kaudal, dan secara
setempat untuk anesthesia selaput lendir
Dalam praktikum ini digunakan hewan percobaan yaitu kelinci. Langkah
pertama yaitu menimbang berat badan kelinci tersebut , lalu catat dan hitung dosis
perhitungan untuk lidokain dan lidokain+adrenaline. Kemudian lakukan prosedur
pertama dengan menggunting bulu kelinci dan mencukurnya hingga bersih tanpa
terjadinya luka, setelah itu buat tanda daerah penyuntikan, buat 4 tanda yaitu pada
kanan atas, kanan bawah, kiri atas serta kiri bawah. kemudia suntikan masing2
injeksi pada daerah tersebut. Dan catat hasil pengamatan.
Aktivitas obat dilihat dalam interval waktu 5 menit, 10 menit, 15 menit, 20
menit, 25 menit, 30 menit, 40 menit, 50 menit, 55 menit, 60 menit dengan
parameternya yaitu getaran otot setiap di sentuh dengan peniti.
Pada pengamatan yang kami lakukan, aktivitas anastesi lidokain dan
lidokain+adrenaline baru terlihat pada menit ke 10, ini tidak sesuai dengan
literatur karena seharusnya efek yang diberikan lebih cepat. Hal ini dapat terjadi
karena adanya beberapa faktor antara lain terjadi nya kesalahan perhitungan dosis
saat praktikum yang akan menyebabkan efek anastesi yang terjadi lebih lama
karena umumnya dalam teori Lidokain+adrenaline memiliki kerja lebih cepat,
lebih kuat, lebih lama dan lebih anaestesi daripada yang ditimbulkan procain atau
sejenisnya.

VIII. KESIMPULAN

Laporan Farmakologi

Page 99

Kelinci yang disuntikan lidokain dan lidokain+adrenaline mengalami hilangnya


respon pada daerah penyuntikan pada menit ke-10. Sedangkan yang di suntikan Nacl tidak
mengalami hilang respon atau dapat dikatakan netral

IX.

DAFTAR PUSTAKA

Mardjono, Mahar.(2007). Farmakologi dan Terapi Edisi 5, Jakarta, Gaya Baru


Katzung G, Betram. (1997). Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 6. Jakarta:
EGC
Farmakologi dan Terapi, Edisi 5, Bagian Farmakologi Fakultas kedokteran

Universitas Indonesia
Penuntun Praktikum Farmakologi . ISTN
Rusda, Mahiya. 2004. Anestesi Infiltrasi Pada Episiotomi. Universitas Sumatera
Utara

EFEK OBAT ADRENERGIK DAN ANTIKOLINERGIK PADA SEKRESI


KELANJAR LUDAH

LatarBelakang :
Sistem syaraf otonom yang dikenal juga dengan nama sistem syaraf vegetatif, sistem
syaraf visera atau sistem syaraf tidak sadar, sistem mengendalikan dan mengatur
Laporan Farmakologi

Page 100

kesimbangan fungsi fungsi intern tubuh yang berada diluar pengaruh kesadaran dan
kemauan. Sistem syaraf ini terdiri atas serabut syaraf- syaraf, ganglion-ganglion dan jaringan
syaraf yang mensyarafi jantung, pembuluh darah, kelenjar-kelenjar, organ-organ dalam, otototot polos. Meskipun tata penghantaran impuls syaraf di sistem syaraf pusat belum di ketahui
secara sempurna, namun ahli-ahli farmakologi dan fisiologi menerima bahwa impuls syaraf
di hantar oleh serabut syaraf melintasi kebanyakan sinaps dan hubungan dengan neuro fektor
dengan pertolongan senyawa-senyawa kimia khusus yang dikenal dengan istilah neuro
humor-transmitor.Obat-obat yang sanggup mempengaruhi fungsi sistem syaraf otonom,
bekerja berdasarkan kemampuannya untuk meniru atau memodifikasi aktivitas neuro humortransmitor tertentu yang dibebaskan oleh serabut syaraf otonom di ganglion atau sel-sel
(organ-organ) detektor.
Tujuan :
Mampu menjelaskan efek kholinergik dan anti kholinergik pada kelenjar ludah.
Prinsip :
Pemberian zat kholinergik pada hewan percobaan menyebabkan salivasi dan
hipersalivasi, yang dapat diinhibisi oleh zat anti kholinergik.Eksperimen ini dapat digunakan
sebagai landasan untuk mengevaluasi efek zat kholinergik pada neuro efektor dan untuk
mengevaluasi aktivitas obat yang dapat berfungsi sebagai antagonisme. Hewan yang dapat
digunakan adalah kelinci dan mencit.

Teori :
Sistem saraf otonom merupakan bagian system syaraf yang mengatur fungsi visceral
tubuh.Sistem ini mengatur tekanan arteri, motilitas dan sekresi gastrointestinal,pengosongan
kandung kemih, berkeringat, suhu tubuh dan aktivitas lain. Karakteristik utama adalah
kemampuan memengaruhi yang sangat cepat (misal:dalam beberapa detik saja denyut jantung
dapat meningkat hampir dua kali semula,demikian juga dengan tekanan darah dalam belasan
detik, berkeringat yang dapat terlihat setelah dipicu dalam beberapa detik, juga pengosongan
kandung kemih). Sifat ini menjadikan SSO tepat untuk melakukan pengendalian terhadap
meningkatnya gangguan homeostasis yang dapat memengaruhi seluruh system tubuh
manusia.Dengan demikian,SSO merupakan komponen dari reflexvisceral.

Laporan Farmakologi

Page 101

Sistem syaraf otonom yang dikenal juga dengan nama sistem syaraf vegetatif, sistem
syaraf visera atau sistem syaraf tidak sadar, sistem mengendalikan dan mengatur
kesimbangan fungsi fungsi intern tubuh yang berada diluar pengaruh kesadaran dan
kemauan. Sistem syaraf ini terdiri atas serabut syaraf- syaraf, ganglion-ganglion dan jaringan
syaraf yang mensyarafi jantung, pembuluh darah, kelenjar-kelenjar, organ-organ dalam, otototot polos. Meskipun tata penghantaran impuls syaraf di sistem syaraf pusat belum diketahui
secara sempurna, namun ahli-ahli farmakologi dan fisiologi menerima bahwa impuls syaraf
dihantar oleh serabut syaraf melintasi kebanyakan sinaps dan hubungan dengan neuro fektor
dengan pertolongan senyawa-senyawa kimia khusus yang dikenal dengan istilah neuro
humor-transmitor.Obat-obat yang sanggup mempengaruhi fungsi sistem syaraf otonom,
bekerja berdasarkan kemampuannya untuk meniru atau memodifikasi aktivitas neuro humortransmitor tertentu yang dibebaskan oleh serabut syaraf otonom diganglion atau sel-sel
(organ-organ) detektor.
Obat-Obat Kolinergik Dan Antikolinesterase
Obat otonom yang merangsang sel efektor yang dipersarafi serat dapat dibagi menjadi 3
yaitu:
1. Ester kolin dalam golongan ini termasuk asetilkolin, metakolin, karbakol, beta karbakol.
Indikasi obat kolinergik adalah iskemik perifer (penyakit Reynauld, trombofleibitis),
meteorismus, retensi urin, feokromositoma
2. Antikolinesterase, dalam golongan ini termasuk fisostigmin (eserin), prostigmin
(neostigmin) dan diisopropilfluorofosfat (DFP). Obat antikolinesterase bekerja dengan
menghambat kerja kolinesterase dan mengakibatkan suatu keadaan yang mirip dengan
perangsangan saraf kolinergik secara terus menerus. Fisostigmin, prostigmin,
piridostigmin menghambat secara reversibel, sebaliknya DFP, gas perang (tabun, sarin)
dan

insektisida

organofosfat

oktametilpirofosfortetramid
penggunaan

obat

ini

(paration,

(OMPA)

adalah

malation,

menghambat

penyakit

mata

tetraetilpirofosfat

secara

(glaukoma)

irreversibel.
biasanya

dan

Indikasi
digunakan

fisostigmin,penyakit saluran cerna (meningkatkanperistalsis usus) basanya digunakan


prostigmin, penyakit miastenia gravis biasanya digunakan prostigmin.
3. Alkaloid termasuk didalamnya muskarin, pilokarpin dan arekolin. Golongan obat ini yang
dipakai hanyalah pilokarpin sebagai obat tetes mata untuk menimbulkan efek miosis.
Obat Antikolinergik
Laporan Farmakologi

Page 102

Obat antikolinergik (dikenal juga sebagai obat antimuskatrinik, parasimpatolitik,


penghambat parasimpatis). Saat ini terdapat antikolinergik yang digunakan untuk
1. mendapatkan efek perifer tanpa efek sentral misalnya antispasmodik
2. Penggunaan lokal pada mata sebagai midriatikum
3. Memperoleh efek sentral, misalnya untuk mengobati penyakit parkinson.
Contoh obat-obat antikolinergik adalah atropin, skopolamin, ekstrak beladona,
oksifenonium bromida dan sebagainya. Indikasi penggunaan obat ini untuk merangsang
susunan saraf pusat (merangsang nafas, pusat vasomotor dan sebagainya, antiparkinson),
mata (midriasis dan sikloplegia), saluran nafas (mengurangi sekret hidung, mulut, faring dan
bronkus, sistem kardiovaskular (meningkatkan frekuensi detak jantung, tak berpengaruh
terhadap tekanan darah), saluran cerna (menghambat peristaltik usus/antispasmodik,
menghambat sekresi liur dan menghambat sekresi asam lambung)
Obat antikolinergik sintetik dibuat dengan tujuan agar bekerja lebih selektif dan
mengurangi efek sistemik yang tidak menyenangkan. Beberapa jenis obat antikolinergik
misalnya homatropin metilbromida dipakai sebagai antispasmodik, propantelin bromida
dipakai untuk menghambat ulkus peptikum, karamifen digunakan untuk penyakit parkinson.
AlatdanBahan :

Alat

Suntikan (Alatsuntik&JarumSuntik)

Stopwatch

Koran

Alattulis (BukuPanduanPraktek&Jurnal)

Sarungtangan& Masker

Beaker glass

Laporan Farmakologi

Page 103

Gelasukur

Bahan
1. Kelinci
2. Kapas
3. Alkohol 70%
4. Phenobarbital injeksi 100 mg/2 ml
5. Cendocarpine 2%
6. Cendotropin 1%

Cara Kerja :
1. Timbang kelinci.
2. Hitung dosis masing masing bahan yang akan di ujikan.
3. Suntikkan phenobarbital injeksi dengan pemberian melalui iv.
4. Suntikkan pilokarpin HCl dengan pemberian melalui im.
5. Lakukan pengamatan selama 5 menit.
6. Setelah 5 menit, suntikkan atropin sulfat dengan pemberian melalui iv.
7. Lakukan pengamatan

HasilPengamatan :
Beratkelinci : 2,290 kg
Perhitungan dosis

Phenobarbital
Rute pemberian : IV
BB kelinci 1,5kg ~ 0,07
Phenobarbital Injeksi

= 100 mg/2 ml = 50 mg/ml

Konversidosis

= 0,07 50 mg/ml

Laporan Farmakologi

Page 104

= 3,5 mg/ml

Volume yang disuntikkan

2,290 kg
1,5 kg

5,3433 mg/ml
50 mg/ml

x 3,5 mg/ml

x 1 ml

= 5,3433 mg/ml

= 0,1069 ml ~ 0,1 ml

Pilokarpin
Rutepemberian : IM
BB kelinci 1,5 kg ~ 0,07
CendoCarpine 2%
= Pilokarpin 2000 mg/100 ml = 20 mg/ml
Konversidosis

= 0,07 20 mg/ml

Volume yang disuntikkan

2,290 kg
1,5 kg

2,1373 mg/ml
20 mg/ml

= 1,4 mg/ml

x 1,4 mg/ml

x 1 ml

= 2,1373 mg/ml

= 0,1069 ml ~ 0,1 ml

Atropin sulfat
Rute pemberian : IV
BB kelinci 1,5 kg ~ 0,07
CendoTropine 1%
= AtropinSulfat 1000 mg/100 ml = 10 mg/ml
Konversidosis

= 0,07 10 mg/ml

Volume yang disuntikkan


Obat
Phenobarbital
Pilokarpin
Atropin sulfat

Waktu
5 menit
5 menit
5 menit

2,290 kg
1,5 kg

1,0687 mg/ml
10 mg/ml

x 0,7 mg/ml

x 1 ml

= 1,0687 mg/ml

= 0,1069 ml ~ 0,1 ml

Pengamatan
Normal, tenang
Mengeluarkan saliva
Kembali normal tidak lagi mengeluarkan saliva

Pembahasan :

Laporan Farmakologi

= 0,7 mg/ml

Page 105

Dalam praktikum ini di tujukan untuk melihat efek obat kolinergik dan anti kolinergik
pada kelenjar tubuh salah satunya kelenjar saliva (kelenjar ludah). Dengan hewan coba yang
di gunakan yaitu kelinci dan beberapa bahan uji( phenobarbital injeksi, cendocarpine, dan
cendotropine). Phenobarbital injeksi yang di berikan pada kelinci di gunakan dengan indikasi
penenang dengan tujuan agar kelinci lebih tenang saat uji coba. Cendocarpine dengan zat
aktif pilokarpin yang di berikan pada kelinci merupakan obat golongan kolinergik yang dapat
merangsang saraf parasimpatik,efeknya dapat menyebabkan percepatan denyut jantung dan
mengaktifkan kelenjar pada tubuh salah satunya kelenjar saliva. Efek kolinergik yang di
timbulkan dapat merangsang atau menstimulansi kelenjar ludah sehingga dapat memicu
terjadinya hipersaliva (sekresi air liur berlebih) yang di keluarkan oleh kelinci.Cendo tropine
dengan zat aktif atropin sulfat yang diberikan pada kelinci merupakan obat golongan
antikolinergik simpatomimetik yang berpengaruh pada sso. Efek atropin sulfat pada saluran
cerna yaitu mengurangi sekresi air liur, sehingga pemberian cendotropine di lakukan agar
produksi saliva menurun.
Kesimpulan :
Pilokarpin dapat berkhasiat sebagai obat kolinergik karena dapat menyebabkan efek
saliva sedangkan atropin sulfas berkhasiat sebagai anti kholinergik karena dapat efek
menghentikan efek saliva pada kelinci percobaan tersebut.

DaftarPustaka :
Tim Dosen Praktikum Farmakologi .PenuntunPraktikumFarmakologi.Program Studi
FarmasiISTN.Jakarta : 2008
Departemen farmakologi dan terapeutik.FarmakologidanTerapi.EdV.Balai Penerbit
FKUI.Jakarta :2009
Mutschler, Ernst.DinamikaObat. Ed V.Penerbit ITB.Bandung : 1999

Laporan Farmakologi

Page 106

EFEK OBAT KOLINERGIK DAN ANTIKOLINERGIK PADA MATA

Latar Belakang
Sistem syaraf otonom yang dikenal juga dengan nama sistem syaraf vegetatif,
sistem syaraf visera atau sistem syaraf

tidak sadar, sistem mengendalikan dan

mengatur kesimbangan fungsi fungsi intern tubuh yang berada diluar pengaruh
kesadaran dan kemauan. Sistem syaraf

ini terdiri atas serabut syaraf- syaraf,

ganglion-ganglion dan jaringan syaraf yang mensyarafi jantung, pembuluh darah,


kelenjar-kelenjar, organ-organ dalam, otot- otot polos. Meskipun tata penghantaran
impuls syaraf di sistem syaraf pusat belum diketahui secara sempurna, namun ahliahli farmakologi dan fisiologi menerima bahwa impuls syaraf dihantar oleh serabut
syaraf melintasi kebanyakan sinaps dan hubungan dengan neurofektor dengan
pertolongan senyawa-senyawa kimia khusus yang dikenal dengan istilah neurohumortransmitor. Obat-obat yang sanggup mempengaruhi fungsi sistem syaraf otonom,
bekerja berdasarkan kemampuannya untuk meniru atau memodifikasi aktivitas
neurohumor-transmitor tertentu yang dibebaskan oleh serabut syaraf otonom
diganglion atau sel-sel (organ-organ) detektor.
.
I.2 Tujuan Percobaan

Mampu menjelaskan efek kholinergik dan anti kholinergik pada mata

Laporan Farmakologi

Page 107

I.3 Prinsip Percobaan


Pemberian zat kholinergik pada hewan percobaan menyebabkan salivasi dan
hipersalivasi, yang dapat diinhibisi oleh zat antikholinergik. Eksperimen ini dapat
digunakan sebagai landasan untuk mengevaluasi efek zat kholinergik pada
neuroefektor dan untuk mengevaluasi aktivitas obat yang dapat berfungsi sebagai
antagonisme. Hewan yang dapat digunakan adalah kelinci dan mencit.

DASAR TEORI
Faktor-faktor yang mempengaruhi dosis obat
a. CARA PEMBERIAN OBAT KEPADA PENDERITA
Oral : dimakan /diminum
Parenteral : subkutan, intramuskular, intravena, intra peritoneal, dsb
Rektal, Vaginal, Uretral
Lokal, Topikal, Transdermal
Lain-lain : sublingual, intrabukal, dsb
b. FAKTOR / KARAKTERISTIK PENDERITA
1. Umur : neonatus, bayi, anak, dewasa, geriatric
2. Berat badan
3. Jenis kelamin (untuk obat gol. Hormon)
4. Ras : slow & fast acetylator
5. Toleransi
6. Obesitas
7. Sensitivitas
Laporan Farmakologi

Page 108

8. Keadaan pato-fisiologi : gangguan hati, ginjal, kelainan sal. Pencernaan


9. Kehamilan
10. Laktasi
11. Circadian rhythm

PERCOBAAN
BAHAN DAN ALAT
Hewan Percobaan

Kelinci

Obat dan Dosisnya

Larutan pilokarpin HCl 3%


Larutan atropine sulfat 2%

Alat yang digunakan

Pipet tetes; alat pengukur diameter pupil


mata ; senter

PROSEDUR
1
2
3
4
5
6
7
8

Siapkan kelinci
Amati, ukur dan catat diameter pupil mata pada cahaya suram dan pada penyinaran
dengan senter. Bandingkan
Teteskan :
- Pada mata kiri Pilokarpin HCl 3% sebanyak 3 tetes
Tunggu 20menit, amati setiap 5 menit dan catat hasil pengamatan
Ukur diameter kornea mata kiri setelah 20 menit
Mata kiri terjadi miosis kuat, segera teteskan atropin sulfat 2% sebanyak 3 tetes
Tunggu 20menit, amati setiap 5 menit dan catat hasil pengamatan
Ukur kembali diameter masing-masing kornea mata.

HASIL PENGAMATAN
PENGAMATAN
Laporan Farmakologi

Page 109

Diameter kornea mata Kelinci


Kelinci

Cahaya suram

Cahaya senter

Mata kanan

0.7 cm

0,4 cm

Mata kiri

0.9 cm

0,5 cm
HCl 3%
Atropin
sulfat 2%

Laporan Farmakologi

cm
0,4 cm

0,5
cm

Page 110

cm
0,5 cm 0,7 cm

0,8
cm

Midriasis

PEMBAHASAN
Percobaan ini yang digunakan hanya pada satu mata saja di karenakan ada satu zat
aktif yang tidak tersedia di laboratorium yaitu larutan fisostigmin, jadi yang kami amati
hanya larutan pilokarpin HCl 3% dan Atropin sulfat 2%, setelah diamati 20 menit pada
masing-masing obat terjadi reaksi pada pupil mata, untuk pilokarpin HCl 3% bekerja sebagai
kholinergik miosis dimana pupil mata mengecil, hasil pengamatan pada pupil mata yang
kami dapat selama 20 menit adalah 0,4 cm. Atropin Sulfat 2% bekerja sebagai
Antikholinergik yaitu menimbulkan midriasis dimana pupil mata menjadi membesar,
pengamatan yang kami dapat pada atropin sulfat ini adalah 0,8 cm pada menit ke 20. Kedua
obat ini bekerja antagonis atau berlawanan. Jadi percobaan ini sesuai dengan teori yang ada,
dimana pilokarpin bekerja sebagai kholinergik dan atropin sebagai antikholinergik pada
syaraf otonom.

Laporan Farmakologi

Page 111

KESIMPULAN
1 Pilokarpin merupakan obat kolinergik dan memberikan efek kolinergik
2 Atropine merupakan obat antikolinergik dan memberikan efek antikolinergik

EFEK OBAT PADA SALURAN CERNA


Tujuan Percobaan
Mengetahui sejauh mana aktivitas obat anti diare dapat menghambat diare dengan
metode uji antidiare yaitu metode transit intestinal.
Prinsip Percobaan
Aktivitas obat yang dapat memperlambat peristaltik usus dengan mengukur rasio
normal jarak yang ditempuh marker terhadap panjang usus sepenuhnya.

DASAR TEORI

KONSTIPASI
Konstipasi adalah kesulitan defekasi karena tinja yang mengeras. Otot polos
usus yang lumpuh misalnya pada megakolon congenital dan gangguan refleks
defekasi (konstipasi habitual). Sedangkan obstipassi adalah kesulitan defekasi
karena adanya obstruksi intra / ekstra lumen usus, misalnya karsinoma kolon
sigmoid. Faktor penyebab konstipasi adalah psikis, misalnya akibat perubahan
kondisi kakus, perubahan kebiasaan defekasi pada anak, perubahan situasi
misalnya dalam perjalanan / gangguan emosi, misalnya pada keadaan depresi
mental - penyakit, misalnya hemoroid sebagai akibat kegagalan relaksasi sfingter
nyari, miksuden dan skletoderma, kelemahan otot punggung / abdomen pada

kehamilan multipar dan obat, misalnya opium, antikolinergik, penghambatan


ganglion, klonidin, antasida aluminium dan kalsium.
Mekanisme pencahar yang sesungguhnya masih belum dapat dijelaskan,
karena kompleksnya faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi kolon transport air
dan elektrolit, dapat dijelaskan antara lain:
1. Sifat hidrofilik atau osmotiknya sehingga terjadi penarikan air dengan akibat
massa konsistensi dan transit tinja bertambah.
2. Pencahar bekerja langsung ataupun tidak langsung terhadap mukosa kolon
dalam menurunkan (absorpsi) air dan NaCl, mungkin dengan mekanisme
seperti pada pencahar osmotik.
3. Pencahar dapat meningkatkan motilitas usus dengan akibat menurunnya
absorpsi garam dan selanjutnya mengurangi waktu transit tinja.
Contoh obat pencahar adalah:

Pencahar rangsang

Pencahar garam

: magnesium sulfat

Pencahar pembentuk massa

: metil selulosa

Pencahar emolien

: paraffin cair

: minyak jarak

LAKSANSIA OSMOTIK
Karena air dapat diabsorpsi dengan mudah, maka tak dapat digunakan sebagai
laksansia. Akan tetapi jika ditambahkan garam yang sulit diabsorpsi, sesuai
dengan tekanan osmotik garam ini, pada penggunaan larutan normotoni, absorpsi
air dari usus akan diperkecil, sedangkan pada pemasukan larutan hipertoni, air
akan dibebaskan ke dalam lumen usus dan dengan demikian pengosongan feses
dalam jumlah besar dapat tercapai. Saat mulai kerja tergantung kepada jumlah dan
konsentrasi larutan garam : pada larutan hipertoni waktu relatif lama sampai air
cukup banyak yang masuk ke lumen usus sehingga pengosongan dapat dimulai
biasanya sekitar 10-12 jam. Pada larutan normotoni atau hipotoni, kerja sudah
mulai dalam waktu beberapa jam saja. Mengingat akibat bahaya dehidrasi, harus
dihindari larutan hipertoni.

Laksansia garam : magnesium sulfat ( garam pahit ) dan natrium sitrat ( garam
glauber), natrium fosfat dan natrium sitrat. Yang paling banyak digunakan adalah
garam pahit dan garam glauber. GARAM MAGNESIUM (MgSO4 = garam
inggris)
Obat yang termasuk didalam golongan laksansia osmotik mekanisme kerjanya
dalam usus berdasarkan penarikan air ( osmosis ) dari bahan makanan karena tiga
perempat dari dosis oral tidak diserap, akibatnya adalah pembesaran volume usus
dan meningkatnya peristaltik di usus halus dan usus besar di samping melunakkan
tinja.merupakan senyawa yang mudah diabsorpsi melalui usus kira-kira 15-30 %
dan diekskresikan melalui ginjal. Dari dosis di serap oleh usus yang dapat
mengakibatkan kadar magnesium dalam darah terlampau tinggi, khususnya bila
fungsi ginjal kurang baik. Oleh karena itu garam inggris jangan digunakan untuk
jangka waktu yang lama. Boleh digunakan selama kehamilan, obat ini masuk ke
dalam air susu ibu.
NaCl FISIOLOGIK
Obat ini merupakan cairan yang isotonus terhadap cairan tubuh sehingga tidak
menghasilkan efek apa-apa. Biasanya digunakan untuk membandingkan efek yang
dihasilkan oleh suatu obat pada hewan percobaan. NaCl ini menghasilkan efek
yang

tidak

begitu

berarti

didalam

tubuh

serta

penggunaannya

tidak

dipermasalahkan.
Penyalahgunaan pencahar yang banyak terjadi dimasyarakat dengan alasan
menjaga kesehatan sama sekali tidak rasional karena akan menurunkan
sensitivitas mukosa, sehingga usus gagal bereaksi terhadap rangsangan fisiogik.
Penggunaan pencahar secara kronik dapat menyebabkan diare dengan akibat
kehilangan air dan gangguan keseimbangan elektrolit. Disamping itu dapat pula
terjadi kelemahan otot rangka, berat badan menurun dan paralisis otot palos.
Pengeluaran kalsium terlalu banyak dapat menimbulkan osteomalasia.

PERCOBAAN
Bahan danAlat

1. Tikus putih jantan


2. Larutan Pentobarbital Natrium 4%
3. Larutan magnesium sulfat 3% dan 0,3%
4. Natrium klorida fisiologik
5. Spuit 1ml atau 2ml
6. Gunting benang steril
7. Kaca arloji
8. Pipet tetes
9. Kleenex
10. Jarum bedah
Prosedur
1. Tikus dipuaskan makan selama 24 jam, minum tetap diberikan.
2. Tikus dibius dengan pentobarbital Na 40 mg/kg bb secarara ip.
3. Usus dipamerkan melalui toreahn ventral sagital, usus jangan sampai terluka,
selama pembedahan da percobaan usus harus basahi dengan NaCI fisiologik.
4. Pada jarak sekitar 2,5 cm dari pilorus, ikat usus dengan benang steril pada
jarak lebih kurang 8 cm, hingga diperoleh tiga segmen terpisah. Pengikatan
jangan sampe menganggu aliran darah usus.
5. Suntikan berturut-turut kedalam segmen masing-masing larutan 1 ml
(MgSO4 3%, NaCI 0,9 % dan MgSO4 0,3%)
6. Tempatkan kembali usus ke dalam rongga abdomen dan jahit kembali otot
dan kulit perut tikus. Basaahi terus jahitan dengan NaCI fisiologis.
7. Setelah 2 jam, buka jahitan dan isi tiap segmen usus dikeluarkan dan catat
volume yang diperoleh.
8. Tabelkan hasil-hasil eksperimen dan diskusikan pengaruh masing-masing
larutan terhadap retensi cairan.

HASIL PENGAMATAN

Perhitungan dan Dosis

Faktor konversi : Manusia > Tikus, BB Tikus 200gram > 0.018

Perhitungan dosis Fenobarbital


Tara timbangan
Berat tikus

: 198.5

: 132

Berat Tikus = 132g x 0,9mg/ml = 0.594


200 g
0,594 mg/ml

x 1 ml = 0.011

50 mg
karena ingin efek anestesi dix 3 = 0.033 ml
Jadi, fenobarbital yang disuntikan 0.033 ml

MgSO4 3% = 1 ml

MgSO4 0.3% = 1 ml

MgSO4 3%
Volume lebih banyak
Warna Usus Putih

Nacl

0.9% = 1 ml

Nacl 0,9%
Tidak terjadi perubahan

MgSO4 0,3%
Volume sedikit
Warna Usus Merah tua
Usus mengkerut

PEMBAHASAN
Di era yang serba modern ini, manusia sering di tuntut untuk dapat memenuhi
berbagai macam tugas sekaligus di waktu yang bersamaan. Hal ini berakibat pada
menurunnya waktu luang, diantaranya adalah waktu istirahat yang pendek sehingga tidak
jarang manusia modern sekarang lebih memilih untuk memilih makanan cepat saji yang
mengandung banyak karbohidrat, lemak, dan protein namun sedikit serat. Hal ini dapat
memicu berbagai masalah kesehatan yang dapat berakibat fatal dikemudian hari.

Masalah yang paling sering timbul dari kondisi kurang serat adalah konstipasi dimana
tubuh mengalami kesulitan defekasi tinja yang mengeras, otot polos yang lumpuh atau
masalah lainnya. Hal ini di perparah dengan kurangnya konsumsi air putih dan olahraga.
Sehingga sebagian orang menggunakan obat pencahar untuk mengatasi masalah ini. Padahal
penggunaan obat pencahar yang sembarangan dapat merugikan si pengguna karena dapat
menyebabkan ketergantungan, pendarahan anus, gas berlebih pada saluran cerna dan efek
lainnya.
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan efek garam pada saluran cerna dan
tikus sebagai hewan ujinya. Sebelum dilakukan percobaan tikus terlebih dahulu dipuasakan
selama 24 jam. Tikus disuntikkan secara ip dengan Pentobarbital 0.03 ml, setelah itu tikus
dibiarkan sampai tidak sadar. Kemudian tikus diletakan diatas kayu dengan kondisi masingmasing kaki diikat, setelah itu dilakukan pembedahan pada jarak 2.5cm dari piloris, usus
diikat dengan benang steril pada jarak kurang lebih 8 cm , hingga diperoleh tiga segmen
terpisah. Setelah itu disuntikan berturut-turut ke dalam masing-masing segmen larutan 1ml
( mgso4 3%, nacl 0,9% dan mgso4 0,3%) pada saat percobaan usus terus dibasahi dengan
larutan Nacl fisiologik. Setelah selesai disuntikan usus ditempatkan kembali pada rongga
abdomen, tikus mulai dijait kembali dan terus dibasahi Nacl fisiologik, tikus sudah selesai
dijahit. Sebelum 1 jam setelah tikus dijahit ,jahitan kembali dilepas untuk melihat usus yang
telah disuntikan MgSO4 3% , NaCl 0.9% , dan MgSO4 0.3%. Hasil yang didapatkan dari
pengamatan kami adalah pada suntikan MgSO4 3% yaitu usus membengkak karena caira
volume cairan bertambah banyak dan usus berwarna putih,pada suntikan NaCl 0,9% tidak
terjadi perubahan ,dan pada suntikan MgSO4 0.3% usus jadi mengkerut dan cairan dalam
usus hanya sedikit.
.
KESIMPULAN

Setelah melakukan percobaan ini dapat disimpulkan bahwa garam inggris (MgSO4)
banyak menambah cairan didalam usus dibandingkan dengan garam capur (NaCl) pada
umumnya,dengan demikian MgSO4 lebih efektif sebagai obat laksatif dibanding NaCl.

DAFTAR PUSTAKA

Bisono. Operasi Kecil. Jakarta: EGC. 2003.p. 24-29


Boulton TB, Colin EB. Anestesiologi. Jakarta: EGC; 1994.p.108-133
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : DEPKES RI
Dobron, Michael B. Penuntun Praktis anestesi.Jakarta: EGC. 1994.p. 89-103
Harvey, Richard A dan Champe, Pamela P.Farmakologi. Edisi IV.Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran
Katzung, Bertram G. Farmakologi dasar dan klinik. Jakarta: EGC, 1997
Karakata S, Bob Bachsinar. Bedah Minor. Edisi 2. Jakarta: Hipokrates; 1996
Latief SA, Kartini AS, M Ruswan D. Petunjuk praktis anestesiologi. Edisi Kedua.
Jakarta: Bagian

Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI; 2009.p.97-104.

Raharhja, Drs Kirana dan Drs Tan Hoan Tjay. Obat obat Penting. Edisi VI. Jakarta:
PT Elex Media Komputindo
Sabiston. Buku Ajar Ilmu Bedah.bagian I. Jakarta: EGC. 1995.
Stringer, Janet L.Konsep Dasar Farmakologi.Edisi III. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran
Schrock TR. Ilmu Bedah. Edisi 7. Jakarta: EGC; 1995.p.113-119.
Sjamsuhidayat R, Wim de jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta:
EGC:2004.p.247-253.
Syarif, Amin. dkk. Farmakologi dan Terapi. Jakarta. Gaya Baru. 2007