Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada tahun 1991 mantan Presiden Soeharto telah menyebutkan bahwa sasaran
rencana Pembangunan Jangka Panjang II adalah peningkatan kualiatas manusia dan
masyarakat Indonesia. Oleh karena itu dengan manusia berkualitas sehat, kuat dan
cerdas kita dapat mempercepat, memperluas, memperdalam pembangunan di segala
bidang. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan pembinaan
kesehatan anak sejak dini melalui kegiatan kesehatan ibu dan anak, perbaikan gizi
balita dan pembinaan balita agar setiap balita yang dilahirkan akan tumbuh sehat dan
berkembang menjadi manusia Indonesia yang tangguh dan berkualitas.
Agar dapat mempersiapkan manusia yang berkualitas tersebut, maka kita perlu
memelihara gizi anak sejak bayi berada dalam kandungan. Bayi dan anak yang
mendapat makanan yang bergizi akan tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas dan
terhindar dari berbagai penyakit infeksi.Selain memperhatikan gizi bayi maka perlu
memelihara gizi ibu terutama masa hamil dan menyusui.
Bayi yang lahir dari ibu yang gizinya baik selain dapat tumbuh dan
berkembang dengan baik juga akan memberi air susu ibu (ASI) yang cukup untuk
bayinya. ASI merupakan makanan bergizi yang paling lengkap, aman, hygienis dan
murah. ASI juga meningkatkan keakraban ibu dan anak yang bersifat menambah
kepribadian anak dikemudian hari. Itulah sebabnya ASI terbaik untuk bayi. Dari
berbagai study dan pengamatan menunjukkan bahwa dewasa ini terdapat
kecenderungan penurunan penggunaan ASI dan mempergunakan pemberian ASI
dengan susu fomula di masyarakat. Dengan kenaikan tingkat partisipasi wanita dalam
angkatan kerja dan peningkatan sarana komunikasi dan transportasi yang
memudahkan periklanan susu buatan serta luasnya distribusi susu buatan terdapat
kecenderungan menurunnya kesediaan menyusui maupun lamanya menyusui baik
dipedesaan dan diperkotaan.
Menurunnya jumlah ibu yang menyusui sendiri bayinya pada mulanya
terdapat pada kelompok ibu di kota-kota terutama pada keluarga berpenghasilan
cukup yang kemudian menjalar sampai ke desa-desa meskipun menyadari pentingnya
pemberian ASI tetapi budaya modern dan kekuatan ekonomi yang semakin
meningkat telah mendesak para ibu untuk segera menyapih anaknya dan memilih air
susu buatan sebagai jalan keluarnya. Meningkatnya lama pemberian ASI dan semakin
meningkatnya pemberian susu botol menyebabkan kerawanan gizi pada bayi dan

balita. Pada acara peringatan hari ibu ke-62 di Jakarta 22 Desember 1990 telah
dicanangkan gerakan nasional peningkatan penggunaan ASI oleh mantan Presiden
Soeharto. Dianjurkan agar ibu-ibu paling tidak agar menyusui bayinya selam 4-6
bulan dan juga bahkan agar kaum ibu memeloporinya. Perlunya pemberian ASI pada
anak sudah menjadi masalah nasional dan intemasional mengingat eratnya
hubungannya dengan gizi anak
B. Tujuan
a. Tujuan Umun :
Dengan adanya pengkajian yang dilakukan akan didapatkan data yang dapat
menunjang timbulnya masalah dalam keluarga dengan tahap perkembangan anak baru
lahir. Serta dengan adanya asuhan keperawatan yang akan diberikan akan dapat
membantu dan mengurangi masalah-masalah yang timbul pada keluarga tersebut.
b. Tujuan Khusus :
a) Mengenal masalah kesehatan keluarga
b) Memutuskan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan keluarga
c) Melakukan tindakan perawatan kesehatan yang tepat pada anggota keluarga yang
sakit, mempunyai gangguan fungsi tubuh, dan keluarga yang membutuhkan bantuan
sesuai dengan kemampuan keluarga.
d) Memanfaatkan sumber daya yang ada dalam masyarakat (misal, puskesmas,
posyandu, atau sarana kesehatan lain) untuk memperoleh pelayanan kesehatan
sesuai kebutuhan keluarga.

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. Menyusui
Menyusui adalah suatu proses alamiah. Berjuta-juta ibu di seluruh dunia berhasil
menyusui bayinya tanpa pernah membaca buku tentang ASI. Bahkan ibu buta huruf pun
dapat menyusui anaknya dengan baik. Walaupun demikian, dalam lingkungan

kebudayaan kita saat ini melakukan hal yang alamiah tidaklah selalu mudah (Utami,
2007). Segala sesuatu yang alami adalah yang terbaik bagi semua orang. Melahirkan
anak itu alami, tetapi tidak mudah. Menyusui yang sukses membutuhkan dukungan baik
dari orang yang telah mengalaminya atau dari seseorang yang profesional (Savitri, 2007).
Usaha utama untuk mempromosikan program menyusui di Indonesia secara resmi
dimulai pada tahun 1974 dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden No. 14 di bawah
Persatuan Program Perbaikan Gizi. Program untuk mempromosikan ASI dilaksanakan
sesuai dengan kebijakan di masing-masing pemerintah daerah. Banyak lembaga non
pemerintah dan organisasi-organisasi yang tertarik berperan serta dalam program ini.
Lembaga non pemerintah ternama seperti BKPPASI (Badan Koordinasi Pelindung dan
Pendukung Air Susu Ibu) yang didirikan pada tahun 1977 berperan sebagai badan
koordinasi nasional dari lembaga-lembaga non pemerintah yang lain untuk
mempromosikan ASI. Banyak lembaga internasional juga mengirimkan perwakilannya
untuk mendukung program yang mempromosikan ASI (Utomo, 2000).
Usia 0-24 bulan merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat,
sehingga kerap di istilahkan sebagai periode emas sekaligus periode kritis. Periode emas
dapat diwujudkan apabila pada masa ini bayi dan anak memperoleh asupan gizi yang
sesuai untuk tumbuh kembang optimal. Sebaliknya apabila bayi dan anak pada masa ini
tidak memperoleh makanan sesuai kebutuhan gizinya, maka periode emas akan berubah
menjadi periode kritis yang akan mengganggu tumbuh kembang bayi dan anak, baik
pada saat ini maupun masa selanjutnya (Depkes RI, 2006).
Untuk mencapai tumbuh kembang optimal, di dalam Global Strategy for Infant
and Young Child Feeding, WHO/UNICEF merekomendasikan empat hal penting yang
harus dilakukan yaitu: pertama memberikan air susu ibu kepada bayi segera dalam waktu
30 menit setelah bayi lahir, kedua memberikan hanya air susu ibu (ASI) saja atau
pemberian ASI secara eksklusif sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, ketiga
memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sejak bayi berusia 6 bulan
sampai 24 bulan, dan keempat meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan
atau dua tahun (Depkes RI, 2007).
B. Keuntungan dan Manfaat ASI
Untuk mendapatkan manfaat ASI yang begitu besar kepada bayi, menyusui perlu
dimulai segera mungkin dalam waktu setengah jam setelah persalinan. Karena dalam
waktu tersebut reflek menghisap bayi paling kuat, ibu dan bayi pun masih dalam keadaan
siaga (Savitri, 2007). Anak-anak yang tidak diberi ASI eksklusif mempunyai
kemungkinan lebih besar menderita kekurangan gizi dan obesitas serta ketika dewasa

lebih mudah terjangkit penyakit kronis, seperti kanker, jantung, hipertensi, dan diabetes
(Amirudin dan Rosita, 2006).
Keuntungan dan manfaat pemberian ASI adalah sebagai berikut (Savitri, 2007) :
1)
Bagi bayi
1.
ASI mengandung protein,
lemak, vitamin, mineral, air dan enzim yang dibutuhkan oleh bayi. Karenanya,
ASI mengurangi resiko berbagai jenis kekurangan nutrisi.
2.
ASI mengandung

semua

asam lemak penting yang dibutuhkan bagi pertumbuhan otak, mata dan pembuluh
darah yang sehat.
3.

ASI selalu berada pada suhu

4.

yang paling cocok bagi bayi. Karenanya tidak memerlukan persiapan apapun.
Bayi bisa mencerna dan
menggunakan nutrisi dalam ASI secara lebih efisien daripada yang terdapat
dalam jenis susu lainya. ASI itu steril, artinya tidak terkontaminasi oleh bakteri
atau kuman penyakit lainnya.

5.

Menyusui

mencegah

terjadinya anemia pada bayi karena zat besi yang terkandung dalam ASI diserap
secara lebih baik daripada sumber zat besi lainnya.
6.

Kekurangan

nutrisi

tidak

dapat terjadi pada bayi yang disusui karena pada ASI memenuhi kebutuhan energi
bayi sampai umur enam bulan yang pertama.
7. Kolostrum
antibodi
antiinfeksi

kaya
dan

akan
substansi

lainnya

yang

melindungi bayi dari infeksi.


Antibodi

adalah

substansi

yang dikeluarkan oleh tubuh.


Karenanya antibodi sangat
penting
menghancurkan

untuk
penyebab

penyakit ini.
Kolostrum juga mengandung

8.

faktor pertumbuhan seperti faktor pematangan epidermis. Faktor ini melapisi


bagian dalam saluran pernapasan dan mencegah kuman penyakit memasuki
saluran pernapasan.
9. Antibodi yang ada dalam

kolostrum juga melindungi


bayi yang baru lahir dari
alergi, asma, eksem, dan lainlain.
Kolostrum kaya akan Vitamin

10.

A, yang mencegah infeksi, dan Vitamin K, yang mencegah pendarahan pada bayi
yang baru lahir.
11. ASI

mengandung

pematangan

usus,

melapisi

bagian

saluran

pencernaan

faktor
yang
dalam
dan

mencegah kuman penyakit


serta

protein

berat

untuk

terserap ke dalam tubuh.


12. ASI mengandung faktor
pematangan

serebrosida,

yang membuat bayi yang


minum ASI lebih cerdas di
kemudian hari.
13. ASI menolong pertumbuhan
bakteri sehat dalam usus yang
disebut Lactobacillus bifidus.
Bakteri ini mencegah bakteri
penyebab penyakit lainnya
untuk

membunuh

dalam

saluran pencernaan dan oleh


karena itu mencegah diare.
Mengandung zat yang disebut

14.

dengan laktoferin, yang dikombinasikan dengan zat besi dan mencegah


pertumbuhan kuman penyakit.
15. ASI

meningkatkan

jalinan

kasih sayang ibu dan anak.


16. Meningkatkan kecerdasan.
2) Bagi ibu
1. Menyusui menolong rahim mengkerut lebih cepat dan mencapai ukuran
normalnya dalam waktu singkat. Menyusui mengurangi banyaknya pendarahan
setelah persalinan dan oleh karena itu mencegah anemia.

2. Menyusui mengurangi resiko kehamilan sampai enam bulan setelah persalinan.


3. Menyusui mengurangi resiko kanker payudara dan indung telur.
4. Menyusui menolong menurunkan kenaikan berat badan yang berlebihan selama
kehamilan. Karenanya, menyusui menurunkan resiko obesitas.
Menurut Utami (2007) manfaat dari memberikan ASI eksklusif bagi Ibu adalah,
lebih ekonomis dan murah, tidak merepotkan dan hemat waktu, portabel dan praktis,
memberi kepuasan bagi ibu.
3) Manfaat ASI bagi ayah
1. Ekonomis. ASI akan sangat mengurangi pengeluaran keluarga tidak saja
pengeluaran untuk membeli susu formula serta perlengkapan untuk membuatnya,
tetapi juga biaya kesehatan untuk si bayi.
2. Praktis dan tidak merepotkan, karena tidak perlu membuat susu formula di malam
hari dan tidak perlu mencari warung atau toko dimalam hari apabila kehabisan
persediaan susu.
3. Kalau bepergian dengan bayi ASI eksklusif akan lebih mudah dan tidak perlu
repot membawa bermacam-macam peralatan menyusui.
4) Manfaat ASI eksklusif bagi lingkungan.
Air susu Ibu akan mengurangi bertambahnya sampah dan polusi di dunia.
Dengan hanya memberi ASI manusia tidak memerlukan kaleng susu, karton dan
kertas pembungkus, botol plastik, dan dot karet. Di Amerika Serikat saja, dalam satu
tahun terdapat 550 juta kaleng susu. Kalau kaleng-kaleng ini dijajarkan maka jajaran
kaleng ini akan dapat mengelilingi bola dunia. Padahal sampah dari botol plastik dan
dot akan menetap sampai 450 tahun (Utami, 2007).
C. ASI eksklusif
1) Defenisi
ASI eksklusif adalah pemberian ASI (Air Susu Ibu) sedini mungkin setelah
persalinan, diberi tanpa jadwal dan tidak diberi makanan lain, walaupun hanya air
putih, sampai bayi berumur 6 bulan (Hubertin, 2004, ).
ASI eksklusif didefenisikan sebagai konsumsi dan asupan makanan bagi bayi,
asupan makanan tersebut adalah air susu ibu tanpa suplemen jenis apapun baik itu air,
juice, makanan dalam bentuk apapun kecuali untuk vitamin, mineral, dan pengobatan.
Selain defenisi tersebut ASI eksklusif juga didefinisikan sebagai perilaku dimana
hanya memberikan air susu ibu saja kepada bayi sampai umur 6 bulan tanpa makanan
dan ataupun minuman lain kecuali obat (Anton, 2008).
The APP section on Breastfeeding, American College of Obstetricians and
Gynecologists, American Academy of Family Physicians, academy of Breastfeeding
Medicine, world Health Organization, United Nations Children's Fund, dan

Departemen Kesehatan Republik Indonesia juga telah merekomendasikan pemberian


ASI eksklusif selama 6 bulan. Karena menurut penelitian-penelitian yang telah
dilakukan, telah terbukti bahwa ASI eksklusif memang lebih unggul dibandingkan
pemberian susu formula, selain itu ASI mengandung zat-zat kekebalan yang sangat
dibutuhkan oleh bayi pada bulan-bulan pertama seperti Colostrum (Anton, 2008).
Dari penelitian yang termuat dalam pediatric journal 1993, terbukti bahwa
menyusui eksklusif paling tidak 4 bulan pertama, dapat mengurangi kemungkinan
bayi terkena infeksi saluran pencernaan (antara lain diare), infeksi saluran pernapasan,
serta infeksi saluran telinga. Hal yang menyebabkan ASI membuat bayi lebih kebal
penyakit infeksi (Litbang. Depkes, 2007).
2) Komposisi ASI
1. Karbohidrat
Karbohidrat dalam ASI berbentuk laktosa yang jumlahnya berubah-ubah
setiap hari menurut kebutuhan tumbuh kembang bayi. Rasio jumlah laktosa dalam
ASI dan PASI adalah 7:4 sehingga ASI terasa lebih manis dibandingkan dengan
PASI. Hal ini menyebabkan bayi yang sudah mengenal ASI dengan baik cenderung
tidak mau minum PASI. Dengan demikian pemberian ASI akan semakin sukses.
2. Protein
Protein dalam ASI lebih rendah dibanding PASI. Namun protein ASI sangat
cocok karena unsur protein di dalamnya hampir seluruhnya terserap oleh sistem
pencernaan bayi yaitu protein unsur whey. Perbandingan protein unsur whey dan
casein dalam ASI adalah 65:35 sedangkan dalam PASI 20:80. Hal ini
memungkinkan bayi akan sering diare dan defekasi dengan feces berbentuk biji
cabe yang menunjukan adanya makanan yang sukar diserap bila bayi diberikan
PASI.
3. Lemak
Lemak dalam ASI mulanya rendah kemudian meningkat jumlahnya. Lemak
dalam ASI berubah kadarnya setiap kali diisap oleh bayi secara otomatis.
Komposisi lemak pada lima menit pertama isapan akan berbeda dengan 10 menit
kemudian, kadar lemak pada hari pertama berbeda dengan hari kedua dan akan
terus berubah menurut perkembangan bayi dan kebutuhan energi yang dibutuhkan.
Lemak dalam bentuk Omega 3, Omega 6, dan DHA yang sangat diperlukan
untuk pertumbuhan sel-sel jaringan otak. Susu formula tidak mengandung enzim,
karena enzim akan mudah rusak bila dipanaskan. Dengan tidak adanya enzim, bayi
akan sulit menyerap lemak PASI sehingga menyebabkan bayi lebih mudah terkena
diare.

4. Mineral
ASI mengandung mineral yang lengkap walaupun kadarnya rendah tetapi
bisa mencukupi kebutuhan bayi sampai 6 bulan. Zat besi
dan kalsium dalam ASI merupakan mineral yang sangat stabil dan mudah diserap
dan jumlahnya tidak berpengaruh pada diet ibu. Dalam PASI jumlah mineralnya
tinggi, tetapi sebagian besar tidak dapat diserap hal ini akan memperberat kerja
usus bayi serta mengganggu keseimbangan dalam usus dan meningkatkan
pertumbuhan bakteri yang merugikan sehingga mengakibatkan kontraksi usus bayi
tidak normal. Bayi akan kembung, gelisah karena obstipasi atau gangguan
metabolisme.
5. Vitamin
ASI mengandung vitamin yang lengkap yang dapat mencukupi kebutuhan
bayi sampai 6 bulan kecuali vitamin K, karena bayi baru lahir pencernaannya
belum mampu membentuk vitamin K.
(Anton, 2008).
3) Produksi ASI
Proses terjadinya pengeluaran air susu dimulai atau dirangsang oleh isapan
mulut bayi pada puting susu ibu. Gerakan tersebut merangsang kelenjar Pictuitary
Anterior untuk memproduksi sejumlah prolaktin, hormon utama yang mengandalkan
pengeluaran Air Susu.
Proses pengeluaran air susu juga tergantung pada Let Down Reflex, dimana
hisapan puting dapat merangsang kelenjar Pictuitary Posterior untuk menghasilkan
hormon oksitolesin, yang dapat merangsang serabut otot halus di dalam dinding
saluran susu agar membiarkan susu dapat mengalir secara lancar.
Berdasarkan waktu diproduksi, ASI dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
1) Colostrum
Colostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mamae
yang mengandung tissue debris dan residual material yang terdapat dalam alveoli
dan ductus dari kelenjar mamae sebelum dan segera sesudah melahirkan anak. Di
sekresi oleh kelenjar mamae dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat dari
masa laktasi.
1. Komposisi colostrum dari hari ke hari berubah.
2. Colostrum merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna kekuningkuningan, lebih kuning dibandingkan ASI Mature.
3. Merupakan suatu laxantif yang ideal untuk membersihkan mekonium usus
bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk
menerima makanan selanjutnya.

4. Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI Mature, tetapi berlainan


dengan ASI Mature dimana protein yang utama adalah casein sedangkan pada
colostrum protein yang utama adalah globulin, sehingga dapat memberikan
daya perlindungan tubuh terhadap infeksi.
5. Lebih banyak mengandung antibodi dibandingkan ASI Mature yang dapat
memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan pertama.
6. Lebih rendah kadar karbohidrat dan lemaknya dibandingkan dengan ASI
Mature.
7. Total energi lebih rendah dibandingkan ASI Mature yaitu 58 kalori/100 ml
colostrum.
8. Vitamin larut lemak lebih tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam air dapat
lebih tinggi atau lebih rendah.
9. Bila dipanaskan menggumpal, ASI Mature tidak.
10. pH lebih alkalis dibandingkan ASI Mature.
11. Lemaknya lebih banyak mengandung Cholestrol dan lecitin di bandingkan ASI
Mature.
12. Terdapat trypsin inhibitor, sehingga hidrolisa protein di dalam usus bayi
menjadi kurang sempurna, yang akan menambah kadar antibodi pada bayi.
13. Volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam.
2) Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi)
1. Merupakan ASI peralihan dari colostrum menjadi ASI Mature.
2. Disekresi dari hari ke 4 hari ke 10 dari masa laktasi, tetapi ada pula yang
berpendapat bahwa ASI Mature baru akan terjadi pada minggu ke tiga sampai
minggu ke lima.
3. Kadar protein semakin rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat
semakin tinggi.
4. Volume semakin meningkat.
2)

Manajemen Laktasi
Manajemen laktasi adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk menunjang
keberhasilan menyusui. Dalam pelaksanaannya terutama dimulai pada masa kehamilan,

segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya.


Adapun upaya-upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut
1) Pada masa Kehamilan (antenatal)
1. Perawatan payudara mulai kehamilan umur enam bulan agar ibu Pemeriksaan
kesehatan, kehamilan dan payudara/keadaan puting susu, apakah ada kelainan
atau tidak.
2. Disamping itu perlu dipantau kenaikan berat badan ibu hamil.
3. Mampu memproduksi dan memberikan ASI yang cukup.
4. Memperhatikan gizi/makanan ditambah mulai dari kehamilan trimester kedua
sebanyak 1 1/3 kali dari makanan pada saat belum hamil.

5. Menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan. Dalam hal ini perlu


diperhatikan keluarga terutama suami kepada istri yang sedang hamil untuk
memberikan dukungan dan membesarkan hatinya.
2) Pada masa segera setelah persalinan (prenatal)
a. Ibu dibantu menyusui 30 menit setelah kelahiran dan ditunjukkan cara menysui
yang baik dan benar, yakni: tentang posisi dan cara melekatkan bayi pada
payudara ibu.
b. Membantu terjadinya kontak langsung antara bayi-ibu selama 24 jam sehari agar
menyusui dapat dilakukan tanpa jadwal.
c. Ibu nifas diberikan kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 S1) dalam waktu dua
minggu setelah melahirkan.
3) Pada masa menyusui selanjutnya (post-natal)
1. Menyusui dilanjutkan secara ekslusif selama 4 bulan pertama usia bayi,
2. Yaitu hanya memberikan ASI saja tanpa makanan/minuman lainnya.
3. Perhatikan gizi/makanan ibu menyusui, perlu makanan 1 kali lebih banyak dari
4.

biasa dan minum minimal 8 gelas sehari.


Ibu menyusui harus cukup istirahat dan menjaga ketenangan pikiran dan

5.

menghindarkan kelelahan yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat.


Pengertian dan dukungan keluarga terutama suami penting untuk menunjang

keberhasilan menyusui.
6. Rujuk ke Posyandu atau Puskesmas atau petugas kesehatan apabila ada
permasalahan menysusui seperti payudara banyak disertai demam.
7. menghubungi kelompok pendukung ASI terdekat untuk meminta pengalaman dari
ibu-ibu lain yang sukses menyusui bagi mereka.
8. Memperhatikan gizi/makanan anak, terutama mulai bayi 4 bulan, berikan MP
ASDI yang cukup baik kuantitas maupun kualitas.
(Anton, 2008).
4) Air susu ibu dan hormon prolaktin
Setiap kali bayi mengisap payudara akan merangsang ujung saraf sensoris di
sekitar payudara sehingga merangsang kelenjar hipofisis bagian depan untuk
menghasilkan prolaktin. Prolaktin akan masuk ke peredaran darah kemudian ke
payudara menyebabkan sel sekretori di alveolus (pabrik ASI) menghasilkan ASI.
Makin banyak ASI yang dikeluarkan dari gudang ASI (sinus laktiferus), makin
banyak produksi ASI. Dengan kata lain makin banyak bayi menyusu makin banyak
ASI diproduksi. Sebaliknya, makin jarang bayi menghisap, makin sedikit payudara
menghasilkan ASI. Jika bayi berhenti menghisap maka payudara akan berhenti
menghasilkan ASI.
Prolaktin umumnya dihasilkan pada malam hari, sehingga menyusui pada
malam hari dapat membantu mempertahankan produksi ASI. Hormon prolaktin juga
akan menekan ovulasi (fungsi indung telur untuk menghasilkan sel telur), sehingga

menyusui secara eksklusif akan memperlambat kembalinya fungsi kesuburan dan


haid. Oleh karena itu menyusui pada malam hari penting untuk menunda kehamilan.
(Badriul dkk, 2008).
5) Air susu ibu dan refleks oksitosin (Love reflex, Let Down reflex)
Hormon oksitosin diproduksi oleh bagian belakang kelenjar hipofisis. Hormon
tersebut dihasilkan bila ujung saraf di sekitar payudara dirangsang oleh isapan.
Oksitosin akan dialirkan melalui darah menuju ke payudara yang akan merangsang
kontraksi otot di sekeliling alveoli (pabrik ASI) dan memeras ASI keluar dari pabrik
ke gudang ASI. Hanya ASI di dalam gudang ASI yang dapat dikeluarkan oleh bayi
dan atau ibunya. Proses keluarnya ASI ini disebut let down reflex.
Efek penting oksitosin lainnya adalah menyebabkan uterus berkontraksi setelah
melahirkan. Hal ini membantu mengurangi pendarahan, walaupun kadang
mengakibatkan nyeri.
Beberapa keadaan yang dapat meningkatkan produksi hormon oksitosin adalah:
1. Perasaan dan curahan kasih sayang terhadap bayinya
2. Celotehan atau tangisan bayi
3. Dukungan ayah dalam pengasuhan bayi, seperti menggendong bayi pada saat
akan disusui atau disendawakan, mengganti popok dan memandikan bayi,
bermain, mendendangkan bayi dan membantu pekerjaan rumah tangga.
4. Pijat bayi
Sentuhan pada kulit bayi melalui seni pijat ternyata dapat meningkatkan
produksi ASI. Penelitian Chynthia Mersmann membuktikan bahwa bila bayi dipijat,
produksi ASI perah ibunya akan lebih banyak.
Beberapa hal yang dapat mengurangi produksi hormon oksitosin adalah:
1. Rasa cemas, sedih, marah, kesal, atau bingung
2. Rasa cemas terhadap perubahan bentuk payudara dan bentuk tubuhnya,
meninggalkan bayi karena harus bekerja, dan ASI tidak mencukupi kebutuhan
bayi
3. Rasa sakit terutama saat menyusui
(Badriul dkk, 2008).
6) Keberhasilan menyusui
Beberapa langkah yang dapat menuntun ibu agar sukses menyusui secara
eksklusif selama 6 bulan pertama, antara lain:
1. Biarkan bayi menyusu segera setelah lahir terutama satu jam pertama (inisiasi
menyusu dini), karena bayi baru lahir sangat aktif dan tanggap dalam satu jam
pertama dan setelah itu akan mengatuk dan tertidur. Bayi mempunyai reflek
menghisap (sucking reflex) sangat kuat pada saat itu.
2. Yakinkan bahwa hanya ASI makanan pertama dan satu-satunya bagi bayi anda.
Tidak ada makanan atau cairan lain (seperti gula, air, susu formula) yang
diberikan, karena akan menghambat proses menyusui. Makanan atau cairan lain

akan mengganggu produksi dan suplai ASI, menyebabkan "bingung puting", serta
meningkatkan resiko infeksi.
3. Susu bayi sesuai kebutuhannya sampai puas. Bila bayi puas, maka ia akan
melepaskan putting dengan sendirinya.
(Badriul dkk, 2008).
7) Tujuh langkah keberhasilan ASI eksklusif
1. Mempersiapkan payudara bila diperlukan.
2. Mempelajari ASI dan tatalaksana menyusui.
3. Menciptakan dukungan keluarga, teman, dan sebagainya.
4. Memilih tempat melahirkan yang "sayang bayi" seperti "rumah sakit sayang bayi"
atau "rumah bersalin sayang bayi".
5. Memilih tenaga kesehatan yang mendukung pemberian ASI secara eksklusif.
6. Mencari ahli persoalan menyusui seperti klinik laktasi dan atau konsultasi, untuk
persiapan apabila menemui kesukaran.
7. Menciptakan suatu sikap yang positif tentang ASI dan menyusui.
(Utami, 2007).
8) Sepuluh langkah keberhasilan menyusui
1.
Sarana pelayanan kesehat mempunyai kebijakan tentang penerapan
2.

10 langkah menuju keberhasilan menyusui dan melarang promosi PASI.


Sarana pelayanan kesehatan melakukan pelatihan untuk staf sendiri
atau lainnya.

3.

Menyiapkan ibu hamil untuk mengetahui manfaat ASI dan langkah


keberhasilan menyusui. Memberikan konseling apabila ibu penderita infeksi HIV
positif.

4.

Melakukan kontak dan menyusui dini bayi baru lahir(1/2-1 jam


setelah lahir).

5.

Membantu ibu melakukan teksnik menyusui yang benar (posisi

6.

perletakan tubuh bayi dan perlekatan mulut bayi pada payudara).


Hanya memberikan ASI saja tanpa minuman pralaktal sejak bayi
lahir.

7.
8.
9.
10.

Melaksanakan rawat gabung ibu dan bayi.


Melaksanakan pemberian ASI sesering dan semau bayi.
Tidak memberikan dot/kempeng.
Menindak lanjuti ibu-bayi setelah pulang dari sarana pelayanan

kesehatan.
(Badriul dkk, 2008).
9) Langkah- Langkah Menyusui Yang Benar
1. Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu
dan areola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sehingga desinfektan dan
2.
3.

menjaga kelembaban puting susu.


Bayi diletakkan menghadap perut ibu atau payudara.
Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan jari yang lain menopang di bawah.
Jangan menekan puting susu saja atau areolanya saja.

4.

Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut dengan cara menyentuh pipi

5.

dengan puting susu atau menyentuh sisi mulut bayi.


Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara

6.

ibu dengan puting serta areola dimasukkan ke mulut bayi.


Usahakan sebagian besar areola dapat masuk ke dalam mulut bayi, sehingga
puting susu berada di bawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI ke
luar dari tempat penampungan ASI
(Utami, 2001).

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
I.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Hari/tanggal

Metode

: Wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik

A.Data Keluarga
1. Identitas Keluarga
a. Nama KK
b. Jenis Kelamin
c. Umur
d. Pendidikan
e. Agama
f. Pekerjaan
g. Alamat

:
:
:
:
:
:
:

h. Suku/kebangsaan
i. Jumlah anggota keluarga
2. Susunan anggota keluarga
N

Tn A
Laki-laki
31 tahun
SD tamat
Islam
Buruh swasta
RT 13/RW 06
Dusun Werdi Tengah, Desa Werdi Kecamatan

Wonokerto
: Jawa/Indonesia
: 4 orang
Hub

umur

Sex

Ny. N

27 th

Istri

SMP

Buruh

Sehat

An. I

3,5 th

Anak 1

Paud

Pelajar

Sehat

An. F

1 bln

Anak 2

Sehat

3. Tipe keluarga

dg KK

Pendd

Pekerja

Nama

an

Ket

Jenis keluarga ini adalah keluarga inti/Nuclear Family yang terdiri dari Ayah, Ibu,
dan anak. Ada kakek dan nenek (orang tua Ny. N) yang tinggal bersama keluarga,
namun sudah terpisah.

4. Genogram

Keterangan :
: Perempuan
: Laki-laki
: Garis Perkawinan
: Garis Keturunan
: Tinggal dalam satu rumah

: Ny N
: Meninggal

5. Suku Bangsa dan Agama


Keluarga Tn A semuanya suku jawa asli dan masih memegang adat kebiasaan
jawa yang ditampakkan dengan hubungan keluarga yang masih kuat. Semua
anggota keluarga beragama Islam.
6. Status Sosial Ekonomi Keluarga
a. Penghasilan Keluarga
Tn A bekerja sebagai buruh. Penghasilan keluarga dalam satu bulan
diperkirakan sebesar Rp. 900.000,-.
b. Pemanfaatan Dana Keluarga
Sebagian besar uang keluarga hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan
pokok saja. Keluarga Tn A tidak memiliki tabungan. Pengelolaan dana
keluarga diserahkan kepada Ny N.
c. Sosial Keluarga
Hubungan antar anggota keluarga baik, begitu pula dengan tetangga. Keluarga
Tn A masih mengikuti kegiatan-kegiatan di masyarakat seperti kumpulan
rutin, pengajian, dan kerja bakti kampung. Sedang Ny. N jarang mengikuti
kegiatan di masyarakat semenjak hamil tua dan melahirkan.
7. Aktifitas Rekreasi
Keluarga Tn A jarang mengadakan rekreasi dengan bepergian ke suatu tempat.
Waktu senggang yang ada mereka gunakan untuk melihat TV atau berbincangbincang dengan tetangga dekat.

B. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga


1. Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini
Tn A saat ini baru saja mempunyai anak yang kedua, sedang anak pertama sudah
sekolah PAUD, sehingga keluarga ini termasuk dalam taraf perkembangan
keluarga dengan anak sekolah.
2. Tahap Perkembangan Keluarga yang Belum Terpenuhi
Tn A dan Ny N mempunyai anak yang masih kecil-kecil, sehingga tahap
perkembangan keluarga dengan anak remaja atau dewasa belum terpenuhi.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga Saat ini
Tn A
Tn A saat ini dalam keadaan sehat, dan tidak ada keluhan. Selama ini Tn A juga
tidak pernah mengalami sakit sehingga harus mondok di RS.
Ny N
Ny N mengatakan bahwa kondisi kesehatannya saat ini baik. Hanya kadang
kurang tidur karena harus menyusui Bayi F pada malam hari. Ny N mengatakan,
ASI saya lancar Mbak, anak saya juga minumnya banyak. Ny N juga
mengatakan, Kalau sekarang saya belum berani memberi minuman lain selain
ASI, katanya menunggu sampai 4 bulan baru boleh diberikan yang lain, iya to
Mbak?. Ny N mengatakan, Rencananya saya akan menyusui sampai usia 2
tahun.
An I
Pada saat pengkajian anak dalam keadaan sehat dan tidak ada keluhan.
Bayi F
Pada saat pengkajian, Bayi F sedang tidur. Ny N mengatakan bahwa Bayi F sehat,
tidak sedang menderita sakit. Berat badan sekarang 2,9 kg, dan BBL adalah 2,9
kg. Imunisasi yang sudah diberikan kepada Bayi F adalah Polio dan Hepatitis I.

4. Riwayat Kesehatan Keluarga Sebelumnya


Ny N mengatakan dalam keluarga Tn A tidak ada yang menderita penyakitpenyakit keturunan seperti DM, Hipertensi, asma, dsb.
C. Struktur Keluarga
1. Pola Komunikasi Keluarga

Komunikasi dalam keluarga berjalan dengan baik, menggunakan bahasa Jawa, dan
bila ada permasalahan dimusyawarahkan secara terbuka dengan seluruh anggota
keluarga bahkan kadang dengan saudara-saudara yang dekat.
2. Struktur Kekuatan Keluarga
Kerukunan dan komunikasi terbuka khas suku jawa merupakan kekuatan pada
keluarga Tn A, mereka menerima keadaan masing-masing dan bertekad menjaga
kerukunan keluarga.
3. Struktur Peran
Setiap anggota berperan sesuai posisinya. Tn A berperan sebagai pencari nafkah,
sedang Ny N menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga.
4. Nilai dan Norma Keluarga
Keluarga Tn A menganut nilai dan norma Jawa/islami dalam kehidupan seharihari, berkumpul dengan anggota keluarga pada setiap hari dan dengan sanak
saudara pada waktu-waktu senggang. Tidak ada nilai dan norma yang
bertentangan dengan kesehatan.

D. Fungsi Keluarga
1. Fungsi Biologis
a. Keadaan Kesehatan
Saat pengkajian, keluarga Tn A dalam keadaan sehat dan tidak ada keluhan.
Ny N mengatakan, Alhamdulillah Mbak Ela, semua diberi kesehatan.
b. Kebersihan Perseorangan
Seluruh anggota keluarga mempunyai kebiasaan mandi 2 kali sehari,
menggunakan sabun mandi, menggosok gigi dengan pasta gigi, dan keramas
2-3 kali seminggu dengan menggunakan sampo. Seluruh anggota keluarga
nampak bersih.
c. Penyakit yang Sering Diderita
Keluarga Tn A tidak pernah menderita penyakit berat, sehingga harus mondok
di RS. Penyakit yang sering terjadi seperti batuk, pilek dan pusing.
d. Penyakit Keturunan
Menurut keluarga Tn A tidak ada yang mempunyai penyakit-penyakit
keturunan, seperti kencing manis, asma, tekanan darah tinggi, dsb.
e. Penyakit Kronis/Menular
Tidak ada penyakit kronis atau menular di keluarga Tn A.
f. Kecacatan Anggota Keluarga
Tidak ada anggota keluarga Tn A yang mengalami cacat fisik.
g. Pola Makan dan Minum

Keluarga Tn A secara umum makan 3 kali sehari dengan komposisi nasi, lauk
pauk, sayuran, kadang makan buah. Ny N yang sedang menyusui makan 3-4
kali sehari. Bayi F masih mengkonsumsi ASI eksklusif.
Semua anggota keluarga mempunyai kebiasaan minum air putih yang sudah
dimasak rata-rata 4-6 gelas per hari.
h. Pola Aktivitas dan Istirahat
Tn A bekerja hampir seharian, meskipun kadang tidak menentu waktunya.
Sedang Ny N jarang bepergian, apalagi semenjak Bayi F lahir, Ny N
membawa Bayi F ke Posyandu.
Kebiasaaan istirahat masing-masing anggota keluarga Tn A berbeda beda. Tn
A jarang tidur siang, sedang Ny N mempunyai kebiasaan tidur siang. Tidak
ada anggota keluarga mengeluh mengalami gangguan dalam hal tidur.
2. Fungsi Psikologis
a. Keadaan Emosi
Hubungan antar anggota keluarga baik dan cukup harmonis. Selama ini tidak
ada masalah yang menyebabkan hubungan antar anggota keluarga menjadi
renggang. Keadaan emosi semua anggota keluarga stabil.
b. Kebiasaan yang Merugikan Kesehatan
Tidak nampak adanya kebiasaan keluarga yang merugikan kesehatan.
c. Pengambilan Keputusan
Musyawarah tetap dilakukan jika ada permasalahan yang menyangkut
keluarga, tetapi peran Tn A masih dominan untuk pengambilan keputusan.
d. Ketergantungan Obat/Bahan
Keluarga Tn A jarang mengkonsumsi obat pada saat sakit. Apabila sakit sudah
parah dan lama, baru keluarga memeriksakan ke Puskesmas dan minum obat
yang diberikan.
e. Mencari Pelayanan Kesehatan
Keluarga Tn A telah memanfaatkan fasilitas kesehatan seperti RS atau
Puskesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Keluarga memeriksakan
diri apabila sakit tidak dapat diatasi sendiri dan sakit dirasa sudah
mengganggu aktivitas sehari-hari.
3. Fungsi Sosial
a. Tingkat Pendidikan
Pendidikan terakhir Tn A dan istrinya adalah SD. Semua anggota keluarga
dapat berbicara dengan bahasa Indonesia dan Jawa, menulis dan mambaca.
b. Hubungan antar Anggota Keluarga
Hubungan antar anggota keluarga baik dan cukup harmonis.
c. Hubungan dengan Orang Lain
Hubungan dengan tetangga-tetangga baik dan saling tolong menolong.
d. Kegiatan Organisasi Sosial

Anggota keluarga masih aktif mengikuti kegiatan-kegiatan kemasyarakatan,


tetapi Ny N sudah tidak mengikuti kegiatan di masyarakat semenjak hamil tua
dan melahirkan.
4. Fungsi Spiritual
Semua anggota keluarga taat beribadah, menjalankan sholat 5 waktu dan kegiatan
keagamaan di kampung sering diikuti, seperti pengajian bapak dan ibu.
5. Fungsi Kultural
a. Pengambilan Keputusan
Tn A mempunyai peran yang cukup besar dalam pengambilan keputusan
dalam keluarga.
b. Adat yang Berpengaruh terhadap Kesehatan
Adat-adat Jawa yang dianut oleh keluarga masih termasuk wajar dan tidak
berpengaruh terhadap kesehatan keluarga.
c. Tabu dalam Keluarga
Tidak ada tabu-tabu dalam keluarga.
6. Fungsi Reproduksi
Kebutuhan pasangan Tn A dan Ny N tentang seksual keluarga terpenuhi meskipun
tidak seintensif pada saat belum melahirkan.
7. Fungsi Ekonomi
a. Tulang Punggung
Tn A merupakan tulang punggung utama keluarga dalam menopang kebutuhan
ekonomi.
b. Penghasilan Keluarga
Penghasilan Tn A adalah sekitar Rp 900.000,- setiap bulan. Sedang
penghasilan lain belum ada.
c. Pengelolaan Dana Keluarga
Pengelolaan dana keluarga diserahkan kepada Ny N
d. Pemanfaatan Dana Keluarga
Sebagian besar uang keluarga hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan
pokok saja.
e. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Keluarga termasuk dalam ekonomi menengah.
8. Fungsi Perawatan Kesehatan
a. Mengenal Masalah
Keluarga mengetahui bahwa bayi yang baru saja hadir dalam keluarga Tn A
tersebut adalah buah hati yang membuat keluarga bahagia, dan tentunya harus
diperhatikan dalam segala kebutuhannya. Salah satu kebutuhan yang penting
adalah kebutuhan kesehatan bagi bayi.
b. Mengambil Keputusan yang Tepat

Sejauh ini, Ny N mengambil keputusan untuk merawat bayinya seoptimal


mungkin. Dalam merawat Bayi F, Ny N menuruti anjuran-anjuran dari petugas
kesehatan, orang-orang terdekat dan tetangga-tetangga. Ny N juga selalu
menjaga kondisi kesehatannya sendiri, karena kesehatannya menentukan
kesehatan bayinya. Ny N membawa bayinya ke Posyandu dan akan
memeriksakan bayinya apabila sakit atau mengalami masalah kesehatan.
c. Merawat Anggota Keluarga yang Sakit
Keluarga memperhatikan masalah kesehatan satu dengan lainnya, sehingga
saling mengingatkan dan membantu apabila ada anggota keluarga yang sakit.
Ny N mengatakan, Alhamdulillah, selama ini keadaan bayi saya baik-baik
saja. Kalau bayi saya sakit, ya tentu akan segera saya bawa ke Bidan atau
Puskesmas.
d. Memanfaatkan Fasilitas Kesehatan
Ny N mengatakan, Saya selalu memeriksakan kehamilan saya ke Bidan atau
Puskesmas sampai kelahiran bayi saya.

E. Stress dan Koping Keluarga


1. Stressor Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Keluarga memandang kelahiran bayi mereka adalah suatu anugrah, dan menyusui
adalah suatu hal yang sangat penting bagi Ny N sebagai seorang ibu. Ny N
mengatakan, Saya kadang mangkel sama Bapaknya anak-anak, karena kalau
malam hari tidak mau menggantikan saya menjaga Bayi F.
Stressor jangka panjang keluarga Tn A adalah menghadapi pendidikan anak
menuju tahap-tahap perkembangan yang sempurna
3. Kemampuan Berespon Terhadap Stress
Keluarga berusaha menghadapi situasi yang ada. Ny N juga mengatakan akan
selalu berusaha mengikis perasaan-perasaan cemas dalam menjalani pengasuhan
bayinya.
4. Strategi Koping Yang Digunakan
Ny N selalu menanyakan hal-hal yang belum diketahui dalam mengasuh bayinya,
dan mengikuti anjuran-anjuran baik dari dokter, petugas kesehatan, maupun dari
orang-orang terdekat.
5. Strategi Adaptasi Disfungsional
Tidak nampak adanya strategi adaptasi disfungsional pada keluarga Tn A.
F. Faktor Lingkungan dan Masyarakat
1. Karakteristik Rumah
a. Denah Rumah

Secara geografis letak rumah keluarga Tn A berada di Dusun Werdi Tengah RT


12 RW 06 Kelurahan Werdi, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan.
Adapun denah rumah Tn A adalah sebagai berikut :

dapur

KM

Kmr tidur

Ruang Keluarga

Ruang
Tamu

Pekarang
an

Keterangan : || : Pintu
KM : Kamar Mandi

b. Keadaan Lingkungan Dalam Rumah


Keluarga Tn A menempati rumah dengan luas 5 x 7 meter persegi. Jenis rumah
Tn A adalah dinding permanen. Lantai terbuat dari plester dan bagian dapur
masih berupa tanah. Terdiri dari 1 ruang tamu, 1 kamar tidur, 1 ruang keluarga,
1 dapur, 1 kamar mandi yang menjadi satu dengan WC. Rumah tersebut
adalah milik sendiri.
c. Keadaan Lingkungan Sekitar Rumah
1) Kondisi halaman rumah
Pada saat kunjungan halaman rumah agak kotor dan berdebu. Di depan
rumah ada kandang kambing yang kotor. Letak kandang semula tepat di
depan rumah, namun pada saat pengkajian dilakukan, kandang dipindah ke
tempat yang agak jauh dari rumah tetapi masih dalam pekarangan.
2) Pemanfaatan halaman
Halaman rumah berukuran 7 x 5 meter persegi. Sebagian halaman depan
rumah ditanami pohon pisang dan rambutan. Halaman juga masih
dimanfaatkan untuk pemeliharaan ternak, yaitu kambing.
3) Sumber air minum
Keluarga menggunakan sumur gali yang terletak dibelakang dekat dapur,
kualitas air baik, tidak berbau dan tidak berasa dan tidak berwarna

4) Pembuangan air kotor/limbah keluarga


Keluarga Tn A mempunyai saluran pembuangan air limbah yang dialirkan
dengan pralon dan ditampung di bak penampungan yang tertutup.
5) Pembuangan sampah
Sampah rumah tangga dibuang di jogangan di depan rumah dan dibakar.
6) Jamban
Keluarga Tn A mempunyai jamban sendiri, dan jarak septiktank dengan
sumur kurang lebih 10 meter.
7) Sumber pencemaran
Sumber pencemaran berasal dari kandang kambing yang ada di depan
rumah. Kandang nampak kotor dan kadang menimbulkan bau.
8) Sanitasi rumah
Lingkungan disekitar rumah tampak bersih dan perabot rumah tertata rapi.
Ruang-ruang yang ada di dalam rumah nampak gelap. sirkulasi udara
cukup, namun kurang sinar matahari.
2. Karakteristik Tetangga dan Komunitas
Jarak antar rumah berdekatan dan hubungan dengan tetangga baik. Ada rutinitas
kegiatan di perkampungan tersebut, seperti kerja bakti.
3. Mobilitas Geografi Keluarga
Keluarga merupakan penduduk asli Yogyakarta. Tn A dan Ny N jarang bepergian.
Tn A bekerja setiap hari dari pagi hingga sore, sedang Ny N mengurusi segala
urusan ibu rumah tangga.
4. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat
Tn A masih sering mengikuti kegiatan-kegiatan di masyarakat seperti pengajian,
perkumpulan, dan kerja bakti. Sedang Ny N lebih banyak di rumah karena
mengasuh bayinya.
5. Sistem Pendukung Keluarga/Fasilitas Keluarga
Fasilitas perdagangan seperti pasar yang berjarak + 2 km dari rumah, fasilitas
kesehatan yaitu Puskesmas berjarak < 1 km, bidan praktek + 100 m, rumah sakit
sakitar 7-8 km, dan fasilitas peribadatan seperti masjid 100 meter dari rumah.

G. Pemeriksaan Fisik
N

Nam

KU

TTV

Pen

Pende

Pencer

Elimi

Keluha

glih

ngara

naan

nasi

atan

Tn A

Ny N

Baik

Baik

TD:
120/80

Baik

TD:
120/80

Baik

Baik

Baik

Baik

Tidak
ada

Baik

Baik

Baik

Sering
kurang
tidur

An I

Baik

TD:-

Baik

Baik

Baik

Baik

Tidak
ada

By F

Baik

N:100x

Baik

Baik

Baik

/mnt
RR:44x

Baik

Tidak
ada

/mnt

A. ANALISA DATA
No
1.

Data

Etiologi

DS :
Pengetahuan
- Ny. N mengatkan ASI nya keluar. keluarga
- Ny. N mengatakan ASI
diberikan saat bayi nya menangis
saja.
- Ny. E mengatkan biasanya
menyusui dengan posisi duduk,
namun belum mengetahui cara
yang benar saat menyusui
- Ny.N belum mengetahui berapa

Masalah
Ketidakefektifan
pemberian asi

lama asi dapat bertahan jika


disimpan selain dibotol biasa
DO :
- putting menonjol, asi keluar
- BB lahir: 2,8kg BB saat ini:
2,9kg
- PB lahir: 50cm

B. Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga


Tgl

DATA

DIAGNOSA

TUJUAN

10/
19/
2016

DS :
- Ny. N mengatakan
ASI diberikan saat
bayi nya menangis
saja.
- Ny. N mengatkan
biasanya menyusui
dengan posisi
duduk, namun
belum mengetahui
cara yang benar saat
menyusui
- Ny. N belum
mengetahui berapa
lama asi dapat
bertahan jika
disimpan dibotol
biasa
- Ny.N mengatakan
tidak bisa
melakukan pijat bayi

Ketidakefekti
fan
pemberian
asi b.d defisit
pengetahuan
keluarga
(00104)

Setelah dilakukan
intervensi
keperawatan selama
30 menit dalam
periode 3 kali
kunjungan,
diharapkan keluarga
dapat memahami
tentang perawatan
bayi dan ibu
menyusui.

DO :
- putting menonjol,
asi keluar
- BB lahir: 3,2 kg BB
saat ini: 5,2 kg
- PB lahir: 50cm

TU: Pengetahuan
keluarga meningkat
dalam perawatan
bayi.
TK: Setelah
dilakukan tindakan
keperawatan
keluarga mampu :
1. Meningkatkan
perilaku yang
sehat
2. Mengambil
keputusan dalam
meningkatkan
perilaku yang
sehat

NOC

NIC

Knowladge; Breastfeeding

Health education

Indicator

Awal

Tujuan

- Manfaat
menyusui
- Komposisi asi,
proses
pembuatan, dan
perbandingan
antara asi dan
susu formula
- Tehnik benar
dalam menyusui
- Psikologis
menyusui
- Tehnik
penyimpanan asi

2
2
2

4
4
4

Identifikasi
masalah spesifik
mengenai
perawatan bayi
dan ibu
menyusui, bila
ada
Berikan
penyuluhan
tentang, pijat
payudara, pijat
bayi, dan tehnik
menyusui serta
penyimpanan
asi yang benar

- Partisipasi keluarga dalam merawat bayi Petunjuk


Antisipasi
Indicator
Awal Tujuan
- Sediakan
- Keluarga
3
5
pamplet/ leaflet
berpartisipasi
mengenai pijat
dalam
bayi, pijat
perencanaan dan
payudara, tehnik
pelaksanaan
menyusui serta
perawatan bayi
penyimpanan asi
dan ibu menyusui
yang benar

3. Menunjukkan
perilaku yang
adaptif saat ada
anggota keluarga
yang sakit.
4. Keluarga mampu
memodifikasi
lingkungan yang
dapat membantu
meningkatkan
perilaku yang
sehat
5. Memanfaatkan
fasilitas
kesehatan untuk
meningkatkan
perilaku yang
sehat

Keterangan :
1 : Tidak pernah melakukan
2 : Jarang melakukan
3 : Kadang melakukan
4 : Sering Melakukan
5 : Selalu Melakukan

- Dukungan
Keluarga
Libatkan dukungan
sosial dalam
perencanaan dan
pelaksanaan
modifikasi perilaku
kesehatan seperti
mengikutsertakan
keluarga dalam
perawatan bayi dan
ibu menyusui

C. Implementasi dan Evaluasi


Tanggal

Implementasi

Evaluasi

Paraf

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito,Lynda juall. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC.
Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga
Perry and Potter. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan I: konsep, proses, dan praktik Edisi 4 / Patricia A. Potter, Anne Griffin Perry ; alih bahsa,
Yasmin Asih [et all]; editor edisi bahasa Indonesia, Devi Yulianti, Monica Ester. Jakarta : EGC.
Suprajidno. 2004. Asuhan Keperawatan Keluarga (Aplikasi dalam Praktik). Jakarta : EGC
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria hasil NOC. Jakarta : EGC