Anda di halaman 1dari 23

Referat

Selulitis Palpebra dan Orbita

Disusun Oleh:
Eva

112015255

Mario Alexander

112015108

Pembimbing:
dr. Erin Arsianti, Sp.M, M.Sc

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
RUMAH SAKIT MATA DR.YAP YOGYAKARTA
PERIODE 29 AGUSTUS 2016 01 OKTOBER 2016

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas kasih
dan rahmatnya penulis dapat menyelesaikan penulisan referat ini. Penulisan referat yang
berjudul Selulitis Preseptal dan Orbita ini dibuat dengan tujuan sebagai salah satu syarat
kelulusan dalam kepaniteraan klinik di Rumah Sakit Mata DR.YAP, Yogyakarta. Pada
proses pembuatannya penulis memakai sumber referensi dari buku dan internet.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dokter pembimbing dr.Erin
Arsianti, Sp.M,M.Sc yang telah membimbing dan menyelesaikan refrat ini. Penulis sadar
bahwa dalam pembuatan referat ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu
penulis mengharapkan kritik disertai saran dari pembaca demi perbaikan dimasa yang akan
datang. Penilis berharap agar referat ini dapat bermanfaat dan memberikan sumbangan
ilmu pengetahuan bagi pihak yang memerlukan khususnya bagi penulis sendiri.

Yogyakarta, 05 September 2016

Penulis

Daftar Isi

Judul............................................................................................................................1
Kata Pengantar............................................................................................................2
Daftar Isi.....................................................................................................................3
Bab I. Pendahuluan.....................................................................................................4
Bab II. Tinjauan Pustaka.............................................................................................6
A. Definisi.............................................................................................................6
B. Anatomi.......................................................................................................6-11
C. Epidemiologi...................................................................................................11
D. Etiologi......................................................................................................11-13
E. Patofisologi................................................................................................13-14
F. Klasifikasi...................................................................................................14-15
G. Manifestasi Klinis......................................................................................16-19
H. Penatalaksanaan.........................................................................................19-20
I. Komplikasi.......................................................................................................20
J. Edukasi........................................................................................................20-21
K. Prognosis.........................................................................................................21
Bab III. Penutup....................................................................................................22
Daftar Pustaka.......................................................................................................23

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penyakit inflamasi orbital merupakan istilah umum yang mencakup semua penyakit
inflamasi yang mempengaruhi beberapa atau semua struktur yang terkandung dalam
orbital eksternal sampai ke dalam orbita. Dalam beberapa kasus, daerah yang terlibat
dengan proses inflamasi dapat melampaui orbit, seperti ke sinus kavernosus melalui apeks
orbital atau kelopak mata melalui septum orbital. Inflamasi orbital dapat diklasifikasikan
menjadi dua bagian besar yaitu

inflamasi orbital akut dan inflamasi orbital kronik.

Selulitis orbita merupakan salah satu inflamasi orbital akut.1


Selulitis orbita adalah infeksi aktif jaringan lunak orbita yang terletak posterior dari
septum orbita,termasuk lemak dan otot dalam tulang orbital dan lebih sering mengenai
anak-anak. Selulitis orbita biasanya berasal dari penyebaran infeksi berdekatan yaitu sinus
paranasal. Lebih dari 90% kasus selulitis orbita terjadi akibat kasus sekunder karena
sinusitis bakterial akut atau kronis.Infeksi mata terjadi pada populasi pediatrik dengan
keluhan pembengkakan pada kelopak mata dan rasa sakit. Pasien biasanya datang dengan
kelopak mata bengkak unilateral yang disertai dengan mata merah atau tidak merah.
Diagnosis yang cepat dan tepat sangat penting karena ada potensi morbiditas dan
mortalitas yang signifikan.2
Infeksi selulitis orbita adalah suatu kegawat darurat dan membutuhkan penanganan
segera. Penyakit ini dapat mengancam jiwa dan pasien harus dirujuk segera tanpa
penundaan, dapat menyerang pada semua umur terutama pada anak-anak. Oleh karena itu
pengobatan penyakit ini bersifat urgensi. Pengobatan dengan pemberian antibiotik sistemik
dapat mengatasi infeksi bakteri penyebab .keterlambatan pengobatan akan mengakibatkan
progresifitas dari infeksi dan timbulnya sindroma apeks orbita atau trombosis sinus
kavernosus. Komplikasi yang terjadi antara lain kebutaan, kelumpuhan saraf kranial, abses
otak, dan bahkan dapat terjadi kematian.3
Sedangkan selulitis preseptal merupakan suatu inflamasi yang bila ditangani dengan
tepat dapat sembuh dengan sempurna tanpa menimbulkan kerugian dalam pengelihatan
pasien, tetapi bila penangan terlambat atau tidak tepat, inflamasi selulitis preseptal dapat
menjalar ke retroseptal sehingga dapat menyebabkan selulitis orbital yang mempunyai

komplikasi yang cukup membahayakan, dikarenakan letaknya yang berdekatan dengan


organ vital yaitu otak kita, sehingga dapat menyebabkan meningitis.4
Selulitis preseptal dan selulitis orbita memiliki manifestasi klinis yang mungkin
mirip, akan tetapi kedua kondisi tersebut harus dibedakan. Selulitis preseptal hanya
melibatkan jaringan lunak di anterior septum orbital dan tidak melibatkan struktur di
dalam rongga orbita. Selulitis preseptal dapat menyebar ke posterior septum orbita dan
berprogresi selulitis orbita dan abses orbital atau subperiosteal. Infeksi pada orbita sendiri
dapat menyebar secara posterior dan menyebabkan meningitis atau trombosis sinus
kavernosus.3,4
Selulitis preseptal umumnya merupakan penyakit pediatrik dengan 80% pasien
berusia di bawah 10 tahun dan kebanyakan di antaranya berusia di bawah 5 tahun. Pasien
dengan selulitis preseptal memiliki kecenderungan lebih muda dibanding pasien yang
menderita selulitis orbita. Bila penanganan yang tidak tepat dapat menyebabkan penurunan
pada pengelihatan pasien sampai kebutaan, serta dapat menimbulkan kematian. Oleh sebab
itu penangan selulitis preseptal haruslah efektif untuk mencegah terjadinya penyebaran
infeksi dan mencegah terjadinya komplikasi yang berat.3,4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Preseptal cellulitis didefinisikan sebagai suatu inflamasi dan infeksi yang terjadi
pada kelopak mata dan struktur periorbital anterior sampai ke septum orbital. Dari septum
ke sturkur orbital posterior tidak terinfeksi tetapi dapat terjadi inflamasi sekunder.Infeksi
bacterial pada orbita atau jaringan periorbital terjadi melalui tiga jalan yaitu langsung
menyebar dari sinusitis yang merupakan penyebab terbesar, inokulasi langsung setelah
adanya trauma dan infeksi kulit, serta penyebaran bakteri dari focus-fokus seperti otitis
media dan pneumonia. Sedangkan selulitis orbita adalah infeksi aktif jaringan lunakorbita
yang terletak posterior dari septum orbita. Lebihdari 90% kasus selulitis orbita terjadi
akibat kasus sekunder karena sinusitis bakterial akut atau kronis. Gambaran klinisnya
antara lain demam (lebih dari 75% kasus disertai lekositosis), proptosis, kemosis,
hambatan pergerakan bola mata dan nyeri pergerakan bola mata. Keterlambatan
pengobatan akan mengakibatkan progresifitas dari infeksidan timbulnya sindroma apeks
orbita atau trombosis sinuskavernosus. Komplikasi yang terjadi antara lain kebutaan,
kelumpuhan saraf kranial, abses otak, dan bahkan dapat terjadi kematian.5
B. ANATOMI
1. Palpebra
Kelopak mata atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta
mengeluarkan sekresi kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan kornea.
Palpebra merupakan alat menutup mata yang berguna untuk melindungi bola mataterhadap
trauma, paparan sinar, dan pengeringan bola mata. Kelopak mempunyai lapisan kulit yang
tipis pada bagian depan sedangkan pada bagian belakang ditutupi oleh selaput lendir tarsus
yang disebut konjungtiva tarsal.6
Pada kelopak terdapat bagian-bagian :
a. Kelenjar, seperti :

kelenjar sebasea, kelenjar Moll atau kelenjar keringat,

kelenjar Zeis pada pangkal rambut,dan kelenjar Meibom padatarsus.


b. Otot, seperti : M. orbikularisokuli yang berjalan melingkar di dalam
kelopak atas dan bawah, dan terletak di bawah kulit kelopak.Pada dekat tepi
margo palpebra terdapat otot orbikularis okuli yang disebut

M. Rioland.

M.orbikularis berfungsi menutup bola mata yang dipersarafi N. fasial.M.levator


6

palpebra, yang berorigo pada annulus foramen orbita dan berinsersi pada tarsus
atas dengan sebagian menembus M. orbikularisokuli menuju kulit kelopak
bagian tengah.Bagian kulit tempat insersi M.levator palpebra terlihat sebagai
sulkus (lipatan) palpebra. Otot ini dipersarafi oleh N. III, yang berfungsi untuk
mengangkat kelopak mataatau membuka mata. Di dalam kelopak mata ada
tarsus yang merupakan jaringan ikat dengankelenjar di dalamnya atau kelenjar
Meibom yang bermuara pada margo palpebra.
c. Septum orbita, yang merupakan jaringan fibrosis berasal dari rima orbita
merupakan pembatas isi orbita dengan kelopak depan.
d. Tarsus ditahan oleh septum orbita yang melekat pada rima orbita pada seluruh
lingkaran pembukaan rongga orbita. Tarsus, terdiri atas jaringanikat yang
merupakan jaringan penyokong kelopak dengan kelenjar Meibom (40 buah di
kelopak atas dan 20 pada kelopak bawah).
e. Pembuluh darah yang memperdarahinya adalah a. palpebra.
f. Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal n. V
,sedangkan kelopak bawah oleh cabang ke II saraf ke V.

Gambar 1. Anatomi Palpebrae.6

2. Orbita
Orbita adalah sebuah rongga berbentuk segi empat seperti buah pir yang berada di
antara fossa kranial anterior dan sinus maksilaris.Tiap orbita berukuran sekitar 40 mm
pada ketinggian, kedalaman, dan lebarnya. Orbita dibentuk oleh 7 buah tulang:Os.
Frontalis, Os. Maxillari, Os. Zygomaticum, Os. Sphenoid, Os. Palatinum, Os. Ethmoid,
dan Os. Lacrimalis.
7

Secara anatomis orbita dibagi menjadi enam sisi, yaitu:


a. Dinding medial, terdiri dari os maxillaris, lacrimalis, ethmoid, dan sphenoid.
Dinding medial ini seringkali mengalami fraktur mengikuti sebuah trauma. Os
ethmoid yang menjadi salah satu struktur pembangun dinding medial
merupakan salah satu lokasi terjadinya sinusitis etmoidales yang merupakan
salah satu penyebab tersering selulitis orbita.
b. Dinding lateral, terdiri dari sebagian tulang sphenoid dan zygomaticum.
c. Langit- langit, berbentuk triangular, terdiri dari tulang sphenoid dan frontal.
Defek pada sisi ini menyebabkan proptosis pulsatil.
d. Lantai, terdiri dari os. Palatina, maxillaris, dan zygomaticum. Bagian
posteromedial dari tulang maksilaris relatif lemah dan seringkali terlibat dalam
fraktur blowout.
e. Basis orbita, merupakan bukaan anterior orbita
f. Apeks orbita, merupakan bagian posterior orbita dimana keempat dinding
orbita bekonvergensi, memiliki dua orifisium yaitu kanal optikus dan fisura
orbital superior
3. Bola Mata
Bola

mata

orang

dewasa

normal

hampir

mendekati

bulat

dengan

diameter anteroposterior sekitar 24,5 mm.

Gambar 2 Anatomi Bola Mata


8

4. Konjungtiva
Membran

mukosa

yang

transparan

dan

tipis

yang

membungkus

permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior


sklera(konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi
kelopak (persambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea di limbus.7
Konjungtiva palpebralis melapisi permukaan posterior kelopak matadan melekat
erat ke tarsus. Ditepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva melipat ke posterior (pada
fornices superior daninferior) dan membungkus jaringanepisklera dan menjadi konjungtiva
bulbaris. Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke septum orbitae di fornices danmelipat
berkali-kali. Pelipatan inimemungkinkan bola mata bergerak danmemperbesar permukaan
konjungtivasekretorik.
5. Sklera dan Episklera
Sklera adalah pembungkus fibrosa pelindung mata di bagian luar.Jaringan ini padat
dan berwarna putih serta bersambungandengan kornea di sebelah anterior dan duramater
nervusoptikus di belakang. Sedangkan episklera adalahlapisan tipis dari jaringan elastik
halus, yang membungkus permukaan luar sklera anterior, mengandung banyak pembuluh
darah yang memasok sklera.7

6. Kornea
Kornea adalah jaringan transparan yang ukuran dan strukturnya sebandingdengan
kristal sebuah jam tangan kecil. Kornea disisipkan ke sklera di limbus, lekuk melingkar
pada persambungan ini disebut sulkus skleralis.Kornea berfungsi sebagai membran
pelindung dan jendela yang di lalui berkas cahaya menuju retina.Kornea bersifat tembus
cahaya karena strukturnyauniform, avaskuler, dan deturgesens. Detugesens, atau keadaan
dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada
endotel dan olehfungsi sawar epitel dan endotel.Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan
edema kornea dan hilangnya sifat transparan,sedangkan cedera epitel hanya menyebabkan
edema lokal sesaat, hilang pada saatepitel sudah beregenerasi.7
7. Uvea
Iris merupakan perpanjangan korpus siliare ke anterior, terletak bersambungan
dengan permukaan anterior lensa,yang memisahkan kamera anterior dari kamera posterior,
yang masing-masing berisi humor aquaeus.Iris mengendalikan banyaknya cahaya yang
9

masuk

ke

dalammata.Korpus

siliaris:

secara

kasar

berbentuk

segitiga

pada

potonganmelintang, membentang ke depan dari ujung anterior koroid ke pangkaliris ( + 6


mm ).Muskulus siliaris tersusun dari gabungan serat longitudinal,sirkuler, dan radial.
Fungsi serat-serat sirkuler adalah untuk mengerutkan dan relaksasi serat-serat zonula.Otot
ini mengubahtegangan pada kapsul lensa, sehinga lensa dapat mempunyai berbagaifokus
baik untuk objek berjarak dekat maupun yang berjarak jauhdalam lapangan pandang.
Koroid merupakan segmen posterior uvea, di antara retina dan sklera.Koroid tersusun dari
tiga lapisan pembuluh darah koroid; besar,sedang, dan kecil. Semakin dalam pembuluh
terletak di dalam koroid,semakin lebar lumennya. Bagian dalam pembuluh darah koroid
dikenalsebagai khoriokapilaris.6,7
8. Lensa
Suatu

struktur

transparansempurna.Di

bikonveks,
belakang

iris,

avaskular,
lensa

tak

berwarna

digantung

oleh

dan

hampir

zonula,

yang

menghubungkannyadengan korpus siliare.Di sebelah anterior lensa terdapat humor


aquaeus di sebelah posterior vitreus.Lensa ditahan di tempatnya oleh ligamentum yang
dikenalsebagai zonula (zonula Zinnii), yang tersusun dari banyak fibril dari
permukaankorpus siliare dan menyisip ke dalam ekuator lensa.7
9. Humor Aquaeus
Humor

Aquaeus

diproduksi

oleh

korpus

siliare.

Setelah

memasuki

kamera posterior, humor aquaeus melalui pupil dan masuk ke kamera anterior dan
kemudianke perifer menuju ke sudut kamera anterior.7
10. Sudut Kamera Anterior
Sudut kamera anterior terletak pada persambungan kornea perifer dan akar iris.
11. Retina
Retina adalah selembar tipis jaringan saraf yang semitransparan, danmultilapis
yang melapisi bagian dalam 2/3 posterior dinding bola mata..Di tengah-tengah retina
posterior terdapat makula.Secara klinismakula dapat didefinisikan sebagai daerah
pigmentasi kekuningan yang disebabkanoleh pigmen luteal (xantofil).

10

Di tengah makula, di sebelah lateral diskus optikus, terdapat fovea yangmerupakan suatu
cekungan yang memberi pantulan khusus bila dilihat denganoftalmoskop. Fovea
merupakan zona avaskular di retina pada angiografi fluoresens.7
12. Vitreus
Vitreus adalah suatu badan gelatin yang jernih dan avaskular yang membentuk 2/3
dari volume dan berat mata. Vitreus mengisi ruangan yang dibatasi oleh lensa,retina, dan
diskus optikus.7

C. EPIDEMIOLOGI
Infeksi bakteriorbitaldapat terjadi pada semua usia tetapi lebih sering pada populasi
usia anak anak. Dalaman alisis retrospektif dari infeksi orbital anak, usia rata-rata pasien
yang terkena adalah 6,8tahun, mulai dari 1minggu sampai 16tahun. Predileksi jenis
kelamin tidak mempengaruhi selulitis orbita terjadi lebih sering pada musim dingin karena
terkait erat dengan sinus paranasal dan infeksi saluran pernapasan atas sebagian besar
kasus memberikan gambaran klinis pada mata yang bersifat unilateral. Pada studi lain
menyatakan sebagian besar kasus selulitis orbita terjadi pada kelompok usia anak-anak
(0-20 tahun) dengan presentase sebesar (44%), kemudian dilanjutkan dengan

usia

pertengahan sebesar (40%), dan lanjut usia dengan presentase sebesar (16%) dengan usia
di atas 50 tahun. Predileksi terjadinya selulitis preseptal tidak dipengaruhi ras atau gender
pada dewasa. Tetapi pada anak-anak ditemukan anak laki-laki 2 kali lebih sering terjadi
seulitis preseptal dan orbital dibandingkan dengan perempuan. Rerata usia antara 7-12
tahun. Kondisi ini lebih sering terjadi pada musim dingin dikarenakan meningkatnya risiko
terjadinya sinusitis8
D. ETIOLOGI
Pada dewasa sering kali penyebab preseptal cellulitis adalah karena trauma
penetrasi atau adanya sumber infeksi kutaneus (kalazion yang terinfeksi, kista epidermal),
pada anak-anak penyebab paling sering adalah sinusitis.9 Selulitis preseptal pada anak-anak
dan balita kurang dari 5 tahun sering terjadi berkaitan dengan bakterimia, septisemia, dan
meningitis yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae dan kokus gram positif. Pada
remaja dan dewasa selulitis preseptal berasal dari sumber superfisial yaitu inokulasi
traumatic, kalazion, atau kista epidermal dan berespon pada antibiotic oral. Antibiotic
11

dipilih berdasar riwayat, manifestasi klinis, dan pemeriksaan laboratorium. Staphylococcus


aureus merupakan pathogen paling sering pada pasien dengan trauma.9
Preseptal selulitis biasanya merupakan kondisi unilateral yang mungkin disebabkan
kondisi-kondisi seperti:
1. Trauma palpebral, organisme yang paling sering adalah S. aureus, dan S. pyogenes.
Organisme yang lebih jarang adalah anaerob dan polimikrobal.
2. Infeksi kulit ekstraokular, dapat ditemukan pada impetigo (karena S. aureus, S.
pyogenes grup A); erysipelas (karena S. pyogenes grup A); atau ruam kulit akibat
virus (HSV, HZV).
3. Penyebaran infeksi dari traktus pernafasan atas atau telinga tengah, penyebab yang
paling sering ditemukan adalah H. influenzae dan S. pneumoniae.
Sedangkan padaselulitis Orbital dapat terinfeksi melalui beberapa jalur, sebagai
berikut:9
1. Infeksi eksogen. Hal ini disebabkan oleh cedera penetrasi terutama bila dikaitkan
dengan retensi benda asing intraorbital, dan tindakan operasi seperti eviserasi,
enukleasi,dacryocystectomy dan orbitotomy.
2. Perluasan atau penyebaran infeksi dari organ stuktur sekitar bola mata. Hal ini
disebabkan olehinfeksi sinusitis paranasal, gigi,wajah, kelopak mata, rongga
intrakranial dan struktur intraorbital. Ini adalah jalu yang paling sering penyebab
dari infeksi orbital.
3. Infeksi endogen. Mungkin jarang terjadi sebagai infeksi metastasis dari abses
payudara, nifas sepsis, trombo flebitis kaki dan septikemia. Organisme penyebab
sering

ditemukan

adalah:

Streptococcuspneumoniae,

Staphylococcusaureus,

Streptococcuspyogenes dan Haemophilusinfluenzae.


Trauma mungkin merupakan penyebab masuknya bahan tercemar kedalam orbita
melalui kulit atau sinus-sinus paranasal. Di zaman praantibiotik, selulittis orbita sering
menyebabkan kebutaan dan kematian akibat trombosis sinus kavernosus septik. Orbita
dikelilingi oleh sinus sinus paranasal dan sebagian drainasi dari vena sinus sinus tersebut
berjalan melalui orbita. Sebagian besar kasus selulitis orbita timbul kibat perluasan
sinusistis melalui tulang tulang ethmoid yang tipis. Organisme yang biasa menjadi
penyebab aalah organisme yang sering itemukan di dalam sinus: Haemophilus influenzae,
streptococcus pneumoniae, streptokokus lainnya dan stafilokokus. Inflamasi akut septum
orbital posterior biasanya peradangan berasal dari jaringan sekitarnya. Lebih dari 60% dari
12

semua kasus(setinggi 84% pada anak-anak) dapat diklasifikasikan sebagai berasal disinus,
terutama sel-sel sinus etmoidalis dan sinus frontal. Pada bayi, radang kuman gigi mungkin
menjadi penyebabnya. Jarang disebabkan oleh furunkel wajah, erisipelas, hordeolum,
panophthalmitis, cederaorbital, dansepsis.9
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri infeksi, bakteri yang paling umum adalah
staphylococci, streptokokus, dan Spesies Haemophilus.
E. PATOFISIOLOGI
Kakunya struktur tulang orbita menyebabkan lubang anterior menjadi satu- satunya
tempat ekspansi. Setiap penambahan isi orbita yang terjadi di samping atau belakang bola
mata akan mendorong organ tersebut ke depan, hal ini disebut dengan proptosis.
Penonjolan bola mata adalah tanda utama penyakit orbita. Proptosis dapat disebabkan lesilesi ekspansif yang dapat bersifat jinak atau ganas, berasal dari tulang, otot, saraf,
pembuluh darah, atau jaringan ikat. Selain itu dapat juga terjadi proptosis tanpa adanya
penyakit orbita. Hal ini disebut dengan pseudoproptosis. Pseudoproptosis dapat terjadi
pada miopia tinggi, buftalmos, dan retraksi kelopak mata. Proptosis sendiri tidak
menimbulkan cedera kecuali membuat kelopak mata tidak bisa ditutup, akan tetapi
penyebab proptosis itu sendiri seringkali berbahaya.10
Posisi mata ditentukan oleh lokasi massa. Ekspansi di dalam kerucut otot
mendorong mata lurus ke depan(proptosis aksialis), sedangkan massa yang tumbuh di luar
kerucut otot mendorong mata ke samping atau vertikal menjauhi masa tersebut(proptosis
non aksialis). Kelainan bilateral umumnya mengindikasikan adanya penyakit sistemik
misalanya penyakit graves. Istilah eksoftalmos sering dipakai untuk menggambarkan
proptosis pada graves. Proptosis pulsatil dapat disebabkan oleh fistula karotiko kavernosa,
malformasi pembuluh darah arteri orbita, atau transmisi denyut otak akibat tidak adanya
atap orbita superior. Proptosis yang bertambah dengan penekukan kepala ke depan atau
dengan perasat valsava merupakan suatu tanda adanya malformasi vena orbita atau
meningokel.10
Pada perubahan posisi bola mata, terutama apabila terjadi dengan cepat, mungkin
timbul interferensi mekanis terhadap gerakan bola mata yang cukup untuk membatasi
pergerakan mata dan diplopia. Dapat timbul nyeri akibat ekspansi cepat, peradangan, atau
infiltrasi pada saraf sensoris. Penglihatan biasanya tidak terpengaruh di awal ekcuali bila
lesi berasal dari n. optikus atau langsung menekan saraf tersebut.10

13

Tanda lainnya dapat berupa edema kelopak mata dan periorbital, diskolorisasi kulit,
ptosis, kemosis, dan injeksi epibulbar. Selain itu dapat juga terjadi perubahan fundus
seperti pembengkakan cakram optik, atrofi optik, kolateral optikosiliaris, dan lipatan
koroid.
Rinosinusitis, terutama ethmoiditis, adalah yang paling sering sebagai faktor
predisposisi umum untuk selulitis orbital anak.Namun selulitis orbital bisa juga disebabkan
dari

perluasan

infeksi

mata

eksternal

seperti

sebuah

hordeolum

atau

dakriosistitis/Dakrioadenitis (infeksi pada sistemlakrimal); infeksi saluran pernapasan


atas,absesgigi, luka superfisial pada kulit,gigitan serangga, impetigo,jerawat, eksim,
operasiperiokular, atau penetrasi langsung pada trauma orbita; daninfeksi secara
hematogen. Secara umum gambaran patologis selulitis orbital mirip dengan inflamasi
supuratif tubuh, kecuali bahwa:10
1. Karena tidak adanya sistem limfatik sebagi sebuah sistem agen pertahanan lokal
fagositosis disediakan oleh reticular orbital jaringan
2. Karena kompartemen keras, peningkatan tekanan yang disebabkan perluasan
penyebaran virulensi infeksi penyebab awal dan nekrotik luasdari jaringan
3. Dalam kebanyakan kasus penyebaran infeksi sebagai tromboflebitis dari
struktur sekitarnya, dapat menyebar secara cepat dengan nekrosis yang luas.
Penyebab utama selulitis adalah infeksi bakteri. Infeksi bakteri pada jaringan orbita
dan periorbita berasal dari 3 sumber primer yaitu penyebaran langsung dari sinusitis atau
dakriosistitis, trauma atau infeksi kulit, dan penyebaran bakteremia dari lokasi yang lebih
jauh seperti otitis media, pneumonia.

F. KLASIFIKASI
Inflamasi Orbita
Penyakit inflamasi pada orbita dapat diklasifikasikan menjadi:3
1

Inflamasi orbita akut dan inflamasi terkait


a

Selulitis preseptal

Selulitis orbita dan abses intraorbital

Osteoperiostitis orbita

Tromboflebitis orbita

Tenonitis
14

f
2

Trombosis sinus kavernosus

Inflamasi orbita kronik


a

Inflamasi spesifik
i Tuberkulosis
ii Sifilis
iii Actinomikosis
iv Mukormikosis
v Infestasi parasit

Inflamasi non spesifik


i Penyakit inflamasi orbital idiopatik
ii Sindroma tolosa hunt
iii Periostitis orbital kronik

Gambar 3. Berbagai Inflamasi Orbita


Factor risiko
Penyakit yang mungkin di derita sebelum terjadinya selulitis preseptal dan orbita,
antara lain:
1. Sinusitis
2. Hordeolum
3. Kalazion
4. Bug bites
5. Lesi akibat trauma
6. Lesi akibat bedah di dekat kelopak mata
15

7. Dakriosistitis
G. MANIFESTASI KLINIS
Edema palpebral, eritema, dan inflamasi berat mungkin terjadi. Biasanya
melibatkan bola mata. Reaksi pupil, ketajaman pengelihatan, dan motilitas ocular tidak
terganggu. Rasa nyeri pada pergerakan bola mata dan kemosis tidak ditemukan.11
Pasien dapat febris atau subfebris, dan pasien dapat mengeluhkan nyeri,
konjuntivitis, epifora, dan kaburnya pandangan. Tanda dari preseptal selulitis adalah eritem
dan edema periorbital, terkadang karena terlalu berat pasien tidak dapat membuka mata
secara volunter.11
Gejala yang dapat ditimbulkan adalah palpebral bengkak dan kemerahan yang
unilateral dan tenderness. Tanda yang muncul antara lain:
1. Keadaan umum pasien baik, dapat disertai demam ringan
2. Edema palpebral ( dapat disertai ptosis)
3. Skin tenderness
4. Eritema
5. Perabaan hangat
6. Kemosis dapat menyertai
7. Foul-smelling discharge, crepitus, atau nekrosis dapat mengindikasikan organisme
anaerob
8. Infeksi Hemophilus biasanya non purulent, dengan perubahan warna ungu kebiruan
pada kelopak mata
9. Erysipelas
Gejala utama yang didapatkan pada selulitis orbita berupa pembengkakan pada
mata yang biasa bersifat unilateral dan nyeri hebat yang meningkat dengan pergerakan
bola mata atau adanya tekanan. Gejala yang lain yang bisa didapat antara lain demam,
mual, muntah,dan kadang-kadang kehilangan penglihatan. Kadang pasien mengeluh tidak
bisa membuka mata untuk melihat gerakan mata yang terbatas. Biasanya ada riwayat
sinusitis akut atau infeksi saluran pernapasan atas pada hari-hari sebelum terjadi edema
kelopak mata. Gejala dapat berkembang dengan cepat,dan dengan demikian, diagnosis dan
pengobatan cepat adalah hal yang terpenting.11
Tanda-tanda selulitis orbita yang didapat kan pada pemeriksaan fisis dan
oftalmologi adalah:
1. ditandai dengan adanya pembengkakan yang menutup bola mata dengan
karakteristik kekerasan seperti papan dan kemerahan
16

2. ditemukan adanya chemosis konjungtiva, yang menonjoldan menjadi kering atau


nekrotik.
3. Bola mataproptosis.
4. gerakan bola mata terbatas
5. Pemeriksaan fundus dapat menunjukkan adanya kongesti vena retina dan tandatanda papillitis atau edema papil.
6. Penurunan visus, gangguan pengelihatan warna.

Pemeriksaan fisik
Selulitis preseptal dan selulitis orbital, keduanya disertai dengan inflamasi
palpebera, sehingga sangatlah penting untuk melakukan pemeriksaan ocular yang lengkap.
Harus dicermati tanda-tanda sistemik, terutama pada anak. Diperiksa adnexa palpebral dan
ocular untuk mencari tanda trauma local. Dapat ditemukan limfadenopati cervical,
submandibular, atau preaurikular. Limfa node preaurikular yang tender dapat menandakan
konjungtivitis adenoviral. 12
Tes pengelihatan dan reaksi pupil, pergerakan bola mata, bila terdapat gangguan
dapat diperkirakan infeksi telah menjalar sampai ke orbita. Bila terdapat RAPD
diperkirakan terdapat kompresi saraf.12
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain:
1

Kultur bakteri dari usap nasal dan konjungitva dan spesimen darah

Pemeriksaan darah perifer lengkap

X-Ray PNS untuk mendeteksi adanya sinusitis terkait

USG orbital untuk mendeteksi adanya abses intraorbital

CT scan dan MRI untuk:

Membedakan selulitits preseptal dan post septal

Mendeteksi abses subperiosteal dan abses orbital

Mendeteksi ekstensi intrakranial

Menentukan kapan dan darimana dilakukan drainase abses orbital

Punksi lumbal bila terdapat tanda- tanda keterlibatan meningel dan serebral.

17

Gambar 4. Selulitis Orbita kiri dan Selulitis Orbita kanan

Diagnosis banding
Diagnosis banding dari selulitis preseptal dan orbita termasuk:
1. Sinus kavernosus thrombosis
2. Dakriosistitis
3. Dakrioadenitis
4. Hordeolum
5. Konjungtivitis virus dengan pembengkakkan palpebral
6. Angioneurotic edema
7. Allergic eyelid swelling
8. Pseudotumor
9. Rhabdomiosarkoma
Pada selulitis orbita, infeksi aktif pada jaringan lunak orbita terjadi pada posterior
hingga septum orbita. Lebih dari 90% kasus, selulitis orbita terjadi pada sinusitis bacterial
akut maupun kronis. Manifestasi klinis berupa demam, proptosis, kemosis, restriksi
motilitas bola mata serta nyeri pergerakan bola mata. Keterlamabatan terapi dapat
menyebabkan progesivitas penyakit serta terjadinya sindrom orbital apex atau thrombosis
sinus kavernosus. Karena selulitis orbita merupakan manifestasi sinusitis pada lebih dari
90% kasus, maka diperlukan evaluasi foto sinus paranasalis dan CT-scan. Identifikasi
sinusitis membutuhkan kerja sama dengan bagian THT.2
Pasien dengan selulitis orbita memiliki tanda yaitu: penurunan visus, proptosis, dan
limitasi pergerakan ekstraokular, dimana tidak ditemukan pada selulitis preseptalis. 6 Pasien
dengan selulitis orbita sebaiknya di rawat inap dan diberikan antibiotic dengan dosis untuk
18

meningitis, yaitu cephalosporin generasi 2 atau 3 seperti cefotaxime 50 mg/kg IV q 6 jam


untuk anak usia < 12 tahun dan 1-2 g IV q 6 jam untuk dewasa selama 14 hari. Bila
selulitis diakibatkan trauma pengobtan sebaiknya diberikan obat yang mengobati gram
positif dan negative, dapat diberikan vankomisin 1 g IV q 12 jam, dan ertapenem 100 mg
IV 1 kali per hari, selama 7-10 hari atau sampai adanya perbaikan klinis. Metronidazole
500 mg IV q b jam juga dapat diberikan bila dicurigai adanya bakteri anaerob.5
H. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan sebaiknya dilakukan dengan cepat dengan CT-scan pada orbita
dan sinus bila inokulasi langsung tidak ditemukan. Pasien pediatr sebaikmya di rawat di
rumah sakit dan diberikan antibiotic intravena bila terdapat sinusitis. Pada dewasa dan
remaja dapat diberikan antibiotic yang tepat secara oral. Dapat diberikan penicillinaseresistant penicillin seperti methicillin, ampicillin-sulbactam. Bila terjadi abses dapat
dilakukan drainage, dimana insisi dan drainage dapat dilakukan langsung pada tempat
absesnya, namun harus dihindari terkenannya levator aponeurosis pada kelopak mata atas,
dan hindari pembukaan septum orbital untuk menghindari kontaminasi jaringan lunak
orbita.1
Antibiotic yang diberikan berupa antibiotic spectrum luas dikarenakan infeksi
mungkin akibat bakteri yang multiple, termasuk kokus gram positif serta bakteri anaerob.
Kebanyakan kasus selulitis orbitadan abses berespon dengan obat dan pembedahan.
Thrombosis sinus kavernosus terjadi pada kasus proptosis yang progresif serta perubahan
kesadaran. Dalam hal ini bias jadi meningitis, dan hasil kultur pungsi lumbal dapat berupa
sel inflamasi akut serta cairan serebrospinal yang positif.2
Terapi yang dapat diberikan:3,5
1. Terapi local dengan mengaplikasikan kompres hangat
2. Pemberian antibiotic ointment topical yang broad spectrum
3. Berikan obat antibiotic dengan follow up per hari untuk pengobatan 7-10 hari, bila
tidak adanya perbaikan dalam 2 hari pemberian antibiotic oral, dilakukan CT-scan
dan antibiotic intravena. Obat yang dapat diberikan antara lain:
a. Amoxicillin/clavulanic acid 30 mg/kg po 8 h untuk usia < 12 tahun, 250500 mg p.o tid, atau 875 mg p.o bid untuk dewasa selawa 10 hari
b. Dicloxacillin 250 mg p.i q6 jam
c. Cefaclor 250-500 mg p.o tid
d. Azithromycin 500 mg p.o q hari
19

e. Levofloxacin 500 mg p.o q hari


f. Cephalexin 250-500 mg p.o tid
g. Ampicillin/sulbactam 50 mg/kg IV q 6 jam untuk anak-anak dan 1.5-3 mg
IV q 6 jam untuk dewasa selama 7 hari.
4. Untuk keluhan yang sedang sampai berat, atau bila ditemukan pasien dengan
penampakan yang toksik, pasien imunokompromi, anak usia dibawah 5 tahun,
sebaiknya pasien di rawat inap, dan diberikan antibiotic intravena seperti:
a. Cefuroxime 1 g IV q 8 jam
b. Ampicillin/sulbactam 1.5-3 g IV q 6 jam
5. Berikan chloramphenicol bila dicurigai organisme anaerob atau H. influenzae
6. Pada penyebab dengan trauma diberikan vaksin tetanus
7. Dilakukan eksplorasi dan debrideman bila terdapat abses.
8. Intervensi beda dengan Indikasi meliputi unresponsivenes terhadap antibiotik,
penurunan visus dan adanya abses orbital atau subperiosteal. Intervensi bedah
berupa drainase abses dan sinus terkait, FESS (Functional endoscopic sinus
surgery)

I.

KOMPLIKASI
Komplikasi dapat terjadi bila selulitis tidak ditangani dengan tepat. Komplikasi

terdiri dari komplikasi okular, orbital, dan komplikasi lainnya. Komplikasi okular biasanya
adalah kebutaan, keratopati, neuritis optik, dan oklusi arteri retina sentral. Komplikasi
orbital adalah perkembangan selulitis orbital menjadi abses subperiosteal dan abses orbita.
Abses subperiosteal adalah penumpukan material purulen antara dinding tulang orbital
dengan periosteum, biasanya terdapat pada dinding orbita media. Biasanya abses
subperiosteal dicurigai bila terdapat manifestasi selulitis orbita dengan proptosis eksentrik.
Namun, diagnosis dipastikan dengan CT scan. Abses orbita merupakan penumpukan
material purulen di dalam jaringan lunak orbital. Secara klinis dicurgai dengan tandatandan proptosis parah, kemosis, oftalmoplegia komplit, dan pus di bawah konjungtiva.
Komplikasilainnya berupa abses parotid atau temporal, komplikasi intrakranial,
dan septikemia general atau pyaemia.

J.

EDUKASI

20

Pasien harus diberitahukan bila terdapat hilangnya pengelihata, nyeri pada


pergerakan mata merupakan indikasi bahwa infeksi telah menyebar ke orbita dan mungkin
memerlukan intervensi bedah. Penambahan edema dan eritema atau nyeri juga merupakan
suatu tanda yang perlu diperhatikan.7
K. PROGNOSIS
Dengan pengenalan dan penanganan yang tepat, prognosis untuk sembuh total
tanpa komplikasi sangat baik.Selulitis orbital dapat berlanjut menjadi abses orbital dan
menyebar secara posterior menyebabkan trombosis sinus kavernosus. Penyebaran sistemik
dapat menyebabkan meningitis dan sepsis.Pada studi terhadap pasien pediatrik, faktor
risiko tinggi adalah sebagai berikut:
1. Usia di atas 7 tahun
2. Abses subperiosteal
3. Nyeri kepala dan demam yang menetap setelah pemberian antibiotik IV.
Pasien yang mengalami imunokompromais atau diabetes memiliki kecenderungan
lebih tinggi untuk mengalami infeksi fungal.

21

BAB III
PENUTUP
Selulitis preseptal merupakan inflamasi jaringan anterior septum orbita. Penyakit
ini tidak berbahaya dan memiliki risiko komplikasi yang rendah, bila ditangani dengan
baik dan pengobatan yang tepat. Komplikasi yang dapat terjadi adalah penyebaran infeksi
ke retroseptal yang dapat mengakibatkan antara lain selulitis orbital, sub periosteal abses
dan meningitis. Pengobatan yang dapt diberikan adalah antibiotic yang dapat diberikan
oral maupun intravena. Sedangkan selulitis orbita adalah infeksi aktif jaringan lunak orbita
yang terletak posterior dari septum orbita. Lebihdari 90% kasus selulitis orbita terjadi
akibat kasus sekunder karena sinusitis bakterial akut atau kronis. Gambaranklinisnya
antara lain demam (lebih dari 75% kasus disertailekositosis), proptosis, kemosis, hambatan
pergerakan bola mata dan nyeri pergerakan bola mata. Keterlambatan pengobatan akan
mengakibatkan progresifitas dari infeksidan timbulnya sindroma apeks orbita atau
trombosis sinuskavernosus. Komplikasi yang terjadi antara lain kebutaan, kelumpuhan
saraf kranial, abses otak, dan bahkan dapat terjadi kematian.

22

Daftar Pustaka
1. Sullivan JA,. Orbita. Dalam : Vaughan DG, Asbury T, Riordan EP,
editor.Oftalmologi Umum Edisi 17. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC.
2007.p. 251-256.
2. Kanski JJ, Bowling B. Clinical Ophthalmology: a systemic approach. 7th
ed.Elsevier, 2011.
3. Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. 4th ed. New age international,2007.
p. 377-378, 384-386.
4. Kersten RC, et al. (eds). Orbits, Eyelids, and Lacrimal System.Basic and Clinical
Science Course. Section 7. American Academyof Ophthalmology. San Franscisco,
California 2005; 424Yuriani I. Orbit, eyelids, and lacrimal system. In: Basic and
clinical Science Course. Section 7. United States: American Academy of
Opthalmology. 2004. 41-2.
5. Suhardjo, Hartono. Ilmu kesehatan mata. Yogyakarta: Bagian Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah mada; 2012.h.40.
6. Asbury, Taylor. Rundaneva, Paul. Vaughan, Daniel P.Oftalmologi Umum.Jakarta :
Widya Medika. Hal. 1-5, 265-266.
7. Ilyas, S.Ilmu Penyakit Mata Edisi 3. Fakultas Kedokteran UniversitasIndonesia.
Jakarta.2004. Hal. 1-13, 101-102
8. Mallika OU, Sujatha, Narayan S. Orbital and preseptal cellulitis. Kerala Journal of
Opthalmology. MAret 2011; Vol XXIII (1); 10-4.
9. Yuriani I. Orbit, eyelids, and lacrimal system. In: Basic and clinical Science
Course. Section 7. United States: American Academy of Opthalmology. 2004. 41-2.
10. Schlossberg D. Clinical infectious disease. 2nd Ed. United Kingdom: Cambridge
University Press; 2015.p.117-20.
11. Bartlett JD, Jaanus SD. Clinical ocular pharmacology. 5th Ed. Boston: ButterworthHeinemann; 2008.p.392-3
12. Friedman NJ, Kaiser PK. Essentials of ophthalmology. 1st Ed. Philadelphia:
Saunders Elsevier; 2007.p.116-7.

23