Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

ANALISIS SITUASI KESEHATAN PADA KAWASAN TERMINAL


CICAHEUM

KELAS B
Disusun Oleh :
Nuzlil Laily N.A

260112160002

Rabella Mufti Soraya

260112160066

Raisha Metantryana H.I

260112160076

Kenny Andreas P

260112160086

Syafitri Kirana R.J

260112160102

Bobby Ellyas Valas

260112160104

PROGRAM PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini. Makalah dengan judul Analisis Situasi Kesehatan pada Kawasan
Terminal Cicaheum disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kesehatan
Masyarakat pada program studi Profesi Apoteker. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak terutama bagi perkembangan ilmu pengetahuan
khususnya bidang farmasi.
Penulis menyadari makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
sempurna. Maka dari itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang
membangun untuk makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat.

Jatinangor, September 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................1

DAFTAR ISI...................................................................................................2
BAB I

PENDAHULUAN...........................................................................3

1.1..........................................................................................Latar Belakang
1.2......................................................................................Rumusan masalah
1.3........................................................................................................Tujuan

3
4
4

BAB II ANALISIS SITUASI KESEHATAN..............................................5


2.1....................................................................................Kondisi Demografi
2.2.......................................................................Analisis Derajat Kesehatan
2.2.1. Lingkungan fisik ...............................................................................8
2.2.2. Fasilitas penunjang............................................................................9
2.2.3. Penyakit yang sering timbul ...........................................................11
2.2.4. Tindakan pencegahan .....................................................................14

5
8

BAB III PEMBAHASAN ............................................................................22


BAB IV PERENCANAAN PROGRAM KESEHATAN ................................
BAB V PENUTUP............................................................................................
1. Simpulan................................................................................18
2. Saran......................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................20

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Lingkungan adalah jumlah semua benda hidup dan mati serta seluruh
kondisi yang ada di dalam lingkungan serta seluruh kondisi yang ada didalam
ruang yang kita tempati dimana terdapat sebuah lingkungan hidup.
Lingkungan hidup adalah segala benda, kondisi, keadaan dan pengaruh yang
terdapat dalam ruangan yang kita tempati dan mempengaruhi hal yang hidup
termasuk kehidupan manusia. Kesehatan merupakan upaya yang dilaksankaan

oleh semua orang yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan,


dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi tingginya, sebagai investasi pembangunan sumber
daya manusia yang produktif secara social dan ekonomis.
Sedangkan pengertian terminal adalah tempat berangkatnya

dan

berakhirnya suatu perjalanan bus, angkutan umum, ataupun mobil lainya, dari
pengertian ini bisa dilihat banyaknya orang orang yang mengunjungi tempat
tersebut untuk kegiatan yang memang memerlukan alat transportasi, karena
banyaknya orang yang keluar masuk bahkan hampir setiap hari berada di
lingkungan

terminal

maka

penting

untuk

memerhatikan

kebersihan

lingkungan seperti kebersihan toilet, warung makan, dan lingkungan warga


sekitar. Hal tersebut sangat penting karena berhubungan dengan status
kesehatan masyarakat baik yang ada disekitar terminal maupun masyarakat
yang memanfaatkan fasilitas terminal, oleh karena itu dalam makalah ini
membahas tentang kebersiham lingkungan yang ada disekitar terminal
khususnya yang berada di terminal Cicaheum Bandung.
Terminal cicaheum merupakan salah satu dari terminal terbesar di
Bandung yang berada di timur kota Bandung, terminal ini sangat ramai dan
selalu di padati penumpang. Selain banyak bus tentu saja ada banyak angkutan
umum yang menunggu penumpang di terminal cicaheum oleh karena itu
dengan banyak nya masyarakat yang keluar masuk terminal diharapkan
mendapat fasilitas yang sangat memadai seperti lingkungan, toilet umum, dan
warung makan yang bersih di sekitar terminal,begitupun masyarakat atau
warga yang berada di sekitar terminal cicaheum diharapkan dapat mendapat
udara dan lingkungan yang sehat.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi demografi penduduk sekitar Terminal Cicaheum
2. Bagaimana analisis situasi yang ada di lingkungan sekitar Terminal
Cicaheum
3. Apa penyelesaian serta upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
kualitas kesehatan yang ada di lingkungan sekitar Terminal Cicaheum
1.3 Tujuan
- Untuk mengetahui kondisi demografi penduduk sekitar Terminal
Cicaheum

Untuk memahami situasi yang ada di lingkungan sekitar Terminal

Cicaheum
Untuk memberikan solusi untuk meningkatkan kualitas kesehatan yang

ada di lingkungan sekitar Terminal Cicaheum


1.4 Manfaat
1. Bahasan dalam makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi
tmbahan tentang analisis kesehatan di lingkangan sekitar Terminal
Cicaheum Sehingga dapat dijadikan data tambahan ataupun solusi dalam
meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekitar Terminal Cicaheum

BAB II
ANALISIS SITUASI KESEHATAN
2.1.

Kondisi Demografi
A. Definisi terminal
Menurut undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 1 Nomor 13, Terminal
adalah pangkalan kendaraan bermotor umum yang digunakan untuk
mengatur kedatangan dan keberangkatan, menaikkan dan menurunkan
orang atau barang serta perpindahan roda angkutan. Berdasarkan fungsi
pelayanannya, terminal penumpang diklasifikasikan kedalam tiga tipe
terminal (PP RI No.43 tahun 1993) yaitu:
1. Terminal penumpang Tipe A, yaitu yang berfungsi melayani
kendaraan penumpang umum untuk angkutan antar kota antar

propinsi (AKAP), dan angkutan lintas batas antar negara, angkutan


antar kota dalam

provinsi (AKDP), angkutan kota (AK) serta

angkutan pedesaan (ADES).


2. Terminal penumpang Tipe B, yaitu yang berfungsi melayani
kendaraan penumpang umum untuk angkutan antar kota dalam
provinsi (AKDP), angkutan kota (AK) serta angkutan pedesaan
(ADES).
3. Terminal penumpang Tipe C, yaitu yang berfungsi melayani
kendaraan penumpang umum untuk angkutan pedesaan (ADES)
(Dishunkominfo Kabupaten Banjar, 2015)
Di Kota Bandung, terdapat dua terminal Tipe A, yaitu Terminal Leuwi
Panjang yang terletak di Jalan Soekarno Hatta No. 205, Kota Bandung
dan Terminal Cicaheum yang terletak di Jalan Ahmad Yani Kota
Bandung.
B. Terminal Cicaheum
Terminal Cicaheum merupakan tempat singgah bus yang
mengantarkan

penumpang

ke

daerah

timur,

seperti

Sumedang,

Majalengka, Tasikmalaya, Garut, serta kota-kota di Jawa Tengah dan


Jawa Timur, sedangkan Terminal Tipe A lain di Bandung yaitu Terminal
Leuwi Panjang merupakan tempat persinggahan bus yang menuju kota di
daerah barat, seperti Jakarta, Bogor, Tangerang, Sukabumi, Cianjur,
Lampung, hingga Medan.
Seperti definisi terminal tipe A yang telah disebutkan diatas, tidak
hanya angkutan antar provinsi, tetapi Terminal Cicaheum juga menjadi
tempat persinggahan angkutan dalam kota dengan rute, antara lain :

Cicaheum - Ciroyom (hijau strip merah)

Cicaehum - Ledeng (hijau strip hitam)

Cicaheum - Kebon kalapa (hijau strip kuning)

Cicaheum - Cileunyi (hijau strip putih)

Dipati Ukur - Panghegar (putih kuning)

Sekemirung - Panyileukan (pink hijau)

Cicaheum - Leuwi Panjang (DAMRI)

Cicaheum - Cibeureum (DAMRI)


5

C. Lokasi Terminal
Kota Bandung mememiliki 8 SWK. Terminal Cicaheum terletak di
SWK

Karees

tepatnya

Kecamatan

Kiaracondong.

Kiracondong

merupakan salah satu nama wilayah Kecamatan dari 30 wilayah


Kecamatan yang ada di Kota Bandung. Luas Kecamatan Kiaracondong
613,03 Ha. Tinggi pusat pemerintah wilayah kecamatan dari permukaan
laut adalah 681 m. Secara astronomis Kecamatan Kiaracondong terletak
diantara 66,54,00 - 65, 7.00 Lintang Selatan Dan 107,38.24 107
40.12 Bujur Timur. Dengan keadaan letak geografis tersebut, Kecamatan
Kiaracondong mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut : 1.
Sebelah Utara : Kecamatan Antapani 2. Sebelah Selatan : Kecamatan
Buah Batu 3. Sebelah Barat : Kecamatan Batununggal dan Cibeunying
Kidul 4. Sebelah Timur : Kecamatan Antapani dan Buah Batu. (BPS,
2015).
D.

Penduduk Di Sekitar Terminal


Jumlah penduduk di daerah Kiaracondong berjumlah
131.566 jiwa dengan 65.893 penduduk laki-laki dan 65.673 penduduk
perempuan. Sehingga, kepadatan penduduk kecamatan Kiaracondong
adalah 21.498 jiwa/Km2. Atau 21,498 jiwa/Ha (BPS, 2014). Konsisi ini
masuk kedalam standar sehat kepadatan penduduk yang dikeluarkan
oleh WHO (World Health Organization) yaitu sebesar 97 jiwa/Ha
(Dinkes Kota Bandung, 2013).
E. Fasilitas Terminal
Fasilitas utama dan pendukung yang ada di Terminal Cicaheum antara
lain:
1. tempat naik dan turun penumpang,
2. ruang tunggu penumpang,
3. akses jalur kedatangan kendaraan terminal,
4. tempat parkir kendaraan pengunjung/penumpang,
5. papan nama terminal,
6. akses jalur pemberangkatan kendaraan terminal,
7. akses jalan raya depan terminal,
8. mushollah terminal,
9. kantor operasional termnal,

10. ruangan tamu kantor operasional terminal,


11. area bisnis (kios, kantin),
12. akses jalan masuk kendaraan terminal,
13. akses jalur angkot keluar terminal,
14. pengendapan/parkir bus,
15. loket penjualan tiket, dan
16. toilet umum terminal.
(Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, 2016).

2.2.

Analisis Derajat Kesehatan


2.2.1 Lingkungan Fisik
Banyaknya kendaraan

di

Teminal

Cicaheum

dapat

menyebabkan pencemaran udara. Polusi udara kendaraan bermotor


berasal dari gas buang sisa hasil pembakaran bahan bakar yang tidak
terurai atau terbakar dengan sempurna.Emisi gas buang yang buruk
diakibatkan oleh pembakaran tidak sempurna bahan bakar di ruang
bakar. Unsur yang terkandung dalam gas buang antara lain CO, NO2,
HC, C, H2, CO2, H2O dan N2, dimana banyak yang bersifat
mencemari lingkungan sekitar dalam bentuk polusi udara dan
mengganggu kesehatan hingga menimbulkan kematian pada kadar
tertentu (Jayanti dkk, 2014).
Sektor transportasi menyumbang 65% hingga 75% dari
pencemar nitrogen oksida (NO2) dan 15% hingga 55% pencemar
particulate matter (PM10) (Syahril et al., 2002; Suhadi dan
Damantoro, 2005).
Hidrocarbon / HC merupakan unsur senyawa bahan bakar
bensin. HC yang ada pada gas buang adalah dari senyawa bahan bakar
yang tidak terbakar habis dalam proses pembakaran motor, HC diukur
dalam satuan ppm (part per million). Emisi hydrocarbon terbentuk
dari bermacam macam sumber.Tidak terbakarnya bahan bakar
secara sempurna, tidak terbakarnya minyak pelumas pada silinder,
merupakan salah satu penyebab munculnya emisi HC.Emisi
hydrocarbon ini berbentuk gas methan yang dapat menyebabkan
leukimia dan kanker (Jayanti dkk, 2014).
CO merupakan senyawa gas beracun yang terbentuk akibat
pembakaran yang tidak sempurna dalam proses kerja motor, CO
7

diukur dalam satuan % volume. Kendaraan pada saat beroperasi akan


mengalami proses pembakaran. Pembakaran sering terjadi tidak
sempurna, sehingga akan menghasilkan polutan. Semakin besar
persentase ketidak sempurnaan pembakaran, akan semakin besar
polutan yang dihasilkan. Karbon monoksida dan asap kendaraan
bermotor terjadi karena pembakarannya tidak sempurna yang
disebabkan kurangnya jumlah udara dalam campuran yang masuk ke
ruang bakar atau bisa juga karena kurangnya waktu yang tersedia
untuk menyelesaikan pembakaran (Jayanti dkk, 2014).
2.2.2 Fasilitas Penunjang
A. Kebersihan Lingkungan
Kebersihan tempat-tempat umum merupakan problem kesehatan
masyarakat yang cukup mendesak. Karena tempat umum merupakan
tempat bertemunya segala macam masyarakat dengan segala penyakit
yang dipunyai oleh masyarakat. Oleh sebab itu tempat umum
merupakan tempat menyebarnya segala penyakit terutama penyakit
yang medianya makanan, minuman, udara dan air. Kondisi terminal
yang padat menyebabkan kemungkinan resiko penularan penyakit
semakin tinggi, ditambah dengan rata-rata masyarakatnya adalah
pengunjung dari luar kota. Selain itu, lingkungan yang kotor juga
menjadi tempat berkembangnya vektor penyakit seperti nyamuk dan
lalat.

Gambar 1. kebersihan lingkungan terminal cicaheum


B. Kebersihan Toilet Umum
Berdasarkan hasil observasi di Terminal Bus Antar Kota Cicaheum,
terdapat 2 titik toilet umum dan dipisah antara toilet pria dan wanita.
Kondisi toilet umum pada satu titik sudah cukup bersih, namun satu
titik lain toilet sangat kotor dan tidak dijaga kebersihannya.
Penyediaan sabun cuci tangan dan alat pengering tangan tidak tersedia
di dalam toilet, hanya terdapat wastafel yang sangat kotor. Penyediaan
air bersih di Terminal Bus Antar Kota Cicaheum digunakan untuk
keperluan

toilet

dan

pengelolaan

makanan

dan

minuman.

Ketersediaan air bersih di terminal tersebut belum memadai, terlihat


dari air yang keruh. Hal tersebut dapat berdampak pada makanan dan
minuman yang diolah.

Gambar 2. Kebersihan toilet umum


C. Kondisi Warung Makan
Berdasarkian hasil observasi di terminal cicaheum terdapat
beberapa warung makan yang berada di terminal tersebut. Kondisi
warung makan yang berada di terminal kurang begitu bersih karena
kurang nya ketersediaan air bersih yang berakibat pada kualitas
makanan dan minuman pada warung tersebut, selain itu adanya
sampah sampah yang berserakan yang berada di depan warung
menyebabkan banyak lalat sehingga bila dibiarkan akan mencemari
makanan yang ada di warung tersebut.

Gambar 3. Kondisi warung makan


2.2.3 Penyakit Yang Sering Timbul
A. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)
Infeksi saluran pernapasan akut dapat terjadi di saluran pernapasan
atas ataupun bawah, dan bisa disebabkan oleh bakteri maupun virus.
Jika tidak segera diatasi, infeksi ini dapat menyebar ke seluruh system
pernapasan tubuh. Hal tersebut dapat menyebabkan kematian ketika
tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen.Orang-orang yang memiliki
kelainan sistem kekebalan tubuh dan lansia biasanya rentan terhadap
penyakit

ini.

Infeksi

dapat

10

ditularkan

melalui

udara

yang

terkontaminasi virus atau bakteri. Cuci tangan dengan sabun adalah


salah satu cara untuk menghindari tertularnya penyakit ISPA.
Gejala yang muncul bila terkena ISPA antara lain:
- Hidung tersumbat atau berair
- Paru-paru terasa terhambat
- Batuk-batuk dan tenggorokan terasa sakit
- Kerap merasa lelah
- Tubuh terasa sakit
Bila ISPA sudah parah, gejala lain akan muncul:
- kesulitan bernapas
- demam tinggi dan menggigil
- tingkat oksigen dalam darah rendah
- kesadaran menurun
Penyebab ISPA
- Adenovirus. Gangguan pernapasan seperti pilek, bronkitis, dan
pneumonia bisa disebabkan oleh virus ini yang memiliki lebih
-

dari 50 jenis.
Rhinovirus. Ini adalah jenis virus yang menyebabkan pilek.
Tapi pada anak kecil dan orang dengan sistem kekebalan yang
lemah, pilek biasa bisa berubah menjadi ISPA pada tahap yang

serius.
Pneumokokus. Ini adalah jenis bakteri yang menyebabkan
meningitis. Tapi bakteri ini bisa memicu gangguan pernapasan

lain, seperti halnya pneumonia (WHO, 2007).


B. Myalgia & Arthritis
Myalgia
Myalgia adalah nyeri otot atau rasa sakit yang muncul pada bagian
otot. Kondisi ini dapat terjadi pada semua orang. Myalgia dapat
terjadi karena terlalu banyak beraktivitas atau cedera. Kondisi ini bisa
hilang dalam beberapa hari ataupun bertahan sampai berbulan-bulan
(Ayad, 2014). Berikut ini beberapa penyebab umum yang bisa
mengakibatkan munculnya nyeri otot.
- Terlalu memaksakan otot saat beraktivitas fisik secara berlebih,
-

cepat, dan terlalu sering.


Otot terkilir dan tegang karena cedera atau trauma.
Ketegangan atau stres yang terjadi pada salah satu atau beberapa

bagian tubuh.
Nyeri otot bisa terjadi akibat penyakit atau kondisi di bawah ini.

11

Fibromyalgia. Kondisi pada saat otot dan jaringan lunak akan


terasa sakit saat disentuh, disertai dengan kesulitan tidur,

kelelahan, dan sakit kepala.


Dermatomiositis. Penyakit peradangan yang cukup langka,

disertai tanda-tanda ruam dan otot yang terasa lemas.


Lupus. Ini adalah penyakit peradangan kronis di mana sistem
kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan dan organ tubuhnya

sendiri.
Infeksi. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan virus bisa
menimbulkan nyeri otot pada tubuh Anda. Misalnya flu, penyakit

Lyme, infeksi Staphylococcus.


Polimiositis. Penyakit peradangan yang menyebabkan otot lemah

dan terjadi pada kedua sisi tubuh.


Rheumatoid arthritis. Peradangan kronis pada sendi yang

menyebabkan rasa sakit, bengkak, dan kaku pada persendian.


Distonia. Kondisi yang menyebabkan otot-otot Anda berkontraksi

secara tidak disengaja.


Rabdomiolisis. Kondisi di mana jaringan otot hancur dan masuk
ke dalam aliran darah. Kondisi ini bisa membahayakan nyawa

seseorang jika tidak segera ditangani.


Efek samping obat-obatan. Beberapa obat yang bisa menyebabkan
nyeri otot adalah statin yang berfungsi menurunkan kolesterol,
kelompok obat penghambat ACE (angiotensin converting
enzyme)

untuk

menurunkan

tekanan

darah,

dan

kokain

(Billihantomo, 2013).
Arthritis
Rhematoid arthritis adalah peradangan kronis pada sendi yang
menyebabkan rasa sakit, bengkak, dan kaku pada persendian di
tangan atau kaki. Peradangan ini bisa mengakibatkan hancurnya
jaringan persendian. Penyakit ini bisa membatasi aktivitas sehari-hari.
Gelaja yang timbul pada masing-masing orang berbeda dan bisa
berubah seiring waktu, namun gejala yang sering muncul yaitu rasa
kaku, kemerahan, bengkak, terasa hangat, dan nyeri.
enyebab arthritis ini adalah sistem kekebalan tubuh yang seharusnya
melawan infeksi, tetapi justru menyerang sel normal pada persendian

(BinFar, 2006).
C. Pulpitis
12

Pulpitis yang merupakan peradangan pada pulpa akibat kerusakan


gigi, seperti adanya karies atau lubang pada gigi, dapat dicegah
dengan merawat gigi itu sendiri. Seringkali orang malas untuk
melakukan perawatan gigi, seperti sikat gigi 2 kali sehari (pagi dan
malam), melakukan pemeriksaan gigi secara berkala ke dokter gigi,
dan tidak menjaga gigi dari makanan yang dapat merusak gigi (manis,
terlalu panas atau dingin), yang mana hal-hal tersebut dapat merusak
lapisan gigi, baik secara kimiawi ataupun oleh bakteri.
Perawatan gigi merupakan langkah pencegahan paling efektif
untuk pulpitis, juga dapat dilakukan perawatan topical flouride oleh
dokter gigi untuk mengembalikan mineral-mineral pada gigi yang
sudah hilang. Apabila pulpitis masih dalam keadaan reversible, untuk
mencegah bertambah parahnya peradangan biasanya dapat dihindari
dengan penambalan gigi atau restorasi. Jika gigi sudah rusak dan
peradangan sudah terjadi, maka pengobatan merupakan langkah yang
harus dilakukan segera, agar penyakit tidak menjadi akut.
2.2.4 Tindakan Pencegahan
A. Pencegahan
Setelah dilakukan observasi lingkungan pada kawasan Terminal
Cicaheum didapati beberapa masalah kesehatan yang dapat
meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas pada masyarakat
setempat. Untuk itu diperlukan beberapa tindakan pencegahan yang
dapat dilakukan untuk mengurangi resiko terserang penyakit yang
paling sering diderita seperti infeksi saluran pernafasan atas,
myalgia&arthritis serta pulpa.
1. Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut
Penyakit ini paling banyak diderita masyarakat yang tinggal di
kawasan Terminal Cicaheum yang disebabkan karena polusi udara
akibat asap kendaraan dan asap rokok. Untuk itu diperlukan beberapa
tindakan pencegahan sebagai berikut :
a. Menggunakan masker utamanya untuk pekerja di kawasan
Terminal, serta warga yang tinggal dan banyak melakukan
aktivitas di kawasan tersebut untuk menurunkan resiko terpapar
emisi gas dari kendaraan serta asap rokok yang dapat memicu

13

timbulnya penyakit pernafasan. Selain itu, penggunaan masker


juga dianjurkan pada penumpang terminal untuk mencegah
penularan penyakit saluran pernafasan dikarenakan tingginya
resiko tertular penyakit di tempat umum
b. Dilakukan tindakan promotif pada wilayah terminal untuk
meningkatkan

kesadaran

warga

setempat

dengan

mempublikasikan poster sederhana tentang bahaya merokok dan


etika bersin/batuk sehingga dengan begitu, resiko terserang
penyakit ISPA menurun.
c. Membudayakan hidup sehat pada warga dan pekerja di kawasan
Terminal Cicaheum dengan mencuci bersih peralatan makan di
warung makan dan rumah untuk mencegah penularan penyakit
ISPA
d. Menganjurkan penyediaan ventilasi yang cukup dalam fasilitas
umum dan rumah di kawasan Terminal Cicaheum untuk
menjaga sirkulasi udara pada ruangan sehingga terhindar dari
penularan penyakit ISPA.
e. Membiasakan warga, penumpang serta pekerja untuk mencuci
tangan setelah beraktivitas di kawasan Terminal Cicaheum
2. Penyakit Myalgia&Arthritis
Beberapa tindakan pencegahan dapat dilakukan untuk menghindari
nyeri sendi dan otot terutama pada pekerja yang berada di kawasan
terminal
a. Melakukan penyuluhan mengenai budaya hidup sehat dan
kebiasaan untuk menghindari konsumsi makanan dengan kadar
purin tinggi ( jeroan, bayam, mentega, durian, melinjo, jengkol,
petai, tape, santan, gorengan dan alkohol) untuk mencegah
timbulnya nyeri otot dan sendi
b. Untuk menghindari nyeri otot pada pekerja dengan aktivitas
fisik yang cukup berat dapat diberikan publikasi promotif
berupa poster mengenai pentingnya meminum air putih guna
mencegah dehidrasi
c. Pekerja yang ada di balik meja (kasir, penjual tiket kendaraan)
memiliki resiko yang lebih tinggi dalam mengalami nyeri otot,
sehingga perlu dilakukan peregangan secara teratur seperti
14

berjalan jalan setiap beberapa jam sekali untuk mneghindari


kaku pada otot.
3. Penyakit Pulpitis
Pulpitis yang merupakan peradangan pada pulpa akibat kerusakan
gigi, seperti adanya karies atau lubang pada gigi, dapat dicegah
dengan merawat gigi itu sendiri. Seringkali orang malas untuk
melakukan perawatan gigi, seperti sikat gigi 2 kali sehari (pagi dan
malam), melakukan pemeriksaan gigi secara berkala ke dokter gigi,
dan tidak menjaga gigi dari makanan yang dapat merusak gigi (manis,
terlalu panas atau dingin), yang mana hal-hal tersebut dapat merusak
lapisan gigi, baik secara kimiawi ataupun oleh bakteri.
Perawatan gigi merupakan langkah pencegahan paling efektif untuk
pulpitis, juga dapat dilakukan perawatan topical flouride oleh dokter
gigi untuk mengembalikan mineral-mineral pada gigi yang sudah
hilang. Apabila pulpitis masih dalam keadaan reversible, untuk
mencegah bertambah parahnya peradangan biasanya dapat dihindari
dengan penambalan gigi atau restorasi.
B. Etnofarmasi
Setelah melakukan observasi lapangan dengan mengajukan
pertanyaan mengenai pengobatan tradisional yang dilakukan warga di
kawasan Terminal Cicaheum didapati beberapa etnofarmasi yang
dilakukan diantaranya:
a. Jeruk nipis dan madu
Jeruk nipis dan madu merupakan kombinasi ramuan tradisional
yang telah banyak digunakan dari generasi ke generasi guna
mengobati penyakit seperti batuk, meringankan gejala asma dan
selesma. Pada observasi lapangan ditemukan banyak sekali warga
setempat yang masih menggunakan kombinasi ramuan tradisional
ini. Penggunaannya yaitu 1 sendok teh madu yang dicampur
dengan air perasan jeruk nipis.
b. Jahe
Jahe merupakan rimpang yang memiliki kandungan metabolit
sekunder berupa flavonoid yang memberikan efek farmakologis
berupa antiinflamasi (Sitorus, 2012). Masyarakat di kawasan
Terminal diketahui menggunakan jahe untuk mengobati asma dan

15

bronkhitis. Jahe juga biasa digunakan untuk meringankan nyeri


sendi dan otot. Penggunaannya dengan memarut jahe yang
kemudian direbus dengan air hingga mendidih dan diminum secara
teratur.
c. Antanan (Centela asiatica)
Antanan atau pegagan banyak digunakan masyarakat yang tinggal
di kawasan Terminal Cicaheum untuk mengobati arthritis dan
myalgia serta batuk dan menyembuhkan asma. Menurut BPOM RI
pada tahun 2010 disebutkan bahwa pegagan memiliki fungsi untuk
mengobati sakit perut, batuk, pegal linu, dan asma. Kandungan
kimia dalam antanan salahsatunya yaitu flavonoid yang berfungsi
sebagai agen antiinflamasi. Penggunaannya dengan meminum
rebusan antanan pada pagi dan sore hari hingga nyeri hilang.
d. Kombinasi bawang putih dan garam
Pengobatan ini dilakukan pada penyakit pulpitis jika gigi sudah
rusak dan peradangan sudah terjadi. Pengobatan merupakan
langkah yang harus dilakukan segera, agar penyakit tidak menjadi
akut. Satu siung bawang putih ditambahkan dengan sedikit garam,
lalu ditumbuk hingga halus. Setelah itu bawang putih halus
tersebut di tempelkan pada gigi yang berlubang.
e. Biji alpukat
Biji alpukat juga digunakan untuk mengobati pulpitis. Satu buah
biji alpukat dicuci hingga bersih, kemudian dikeringkan dan di
sangrai. Setelah itu dihaluskan hingga jadi bubuk dan dimasukkan
ke dalam gigi yang berlubang, kemudian tutup dengan kapas.
f. Kombinasi lada bubuk dan garam.
Kombinasi ini banyak digunakan masyarakat untuk mengobati
pulpitis. Penggunaannya Lada bubuk dan sdt garam ditumbuk
hingga halus, kemudian dimasukkan ke bagian gigi yang
berlubang, lalu tutupi dengan kapas.
g. Pengobatan pada pulpitis dapat dilakukan menggunakan bahan
alami / herbal. Beberapa yang diketahui dapat menyembuhkan
adalah :
- Kombinasi bawang putih dan garam. Satu siung bawang putih
ditambahkan dengan sedikit garam, lalu ditumbuk hingga

16

halus. Setelah itu bawang putih halus tersebut di tempelkan


pada gigi yang berlubang.
Menggunakan biji alpukat. Satu buah biji alpukat dicuci hingga

bersih, kemudian dikeringkan dan di sangrai. Setelah itu


dihaluskan hingga jadi bubuk dan dimasukkan ke dalam gigi
yang berlubang, kemudian tutup dengan kapas.
Kombinasi lada bubuk dan garam. Lada bubuk dan sdt

garam ditumbuk hingga halus, kemudian dimasukkan ke bagian


gigi yang berlubang, lalu tutupi dengan kapas.
C. Pengobatan dengan obat sistesis
1. Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut
Beberapa golongan obat yang biasa digunakan untuk mengatasi
penyakit ISPA menurut (Tjay, 2015)
a. Antibiotika : kotrimoxazol, amoxicilin, doxisiklin,
b. Anti alergika : kromoglikat dan nedocromil
c. Bronkodilator :
- Agonis beta-adrenergik : salbutamol, terbutalin, fenoterol,
d.
e.

salmeterol, formoterol
Antikolinergik : ipratropium, deptropin
Derivat Xatin : teofilin, aminofilin
Kortikosteroid : hidrokortison, prednison, deksametason
Mukolitik dan ekspektoran : bromheksin HCl, ambroxol,

kalium iodida, mesna, amonium klorida


f. Anti histamin : ketotifen, oksatomida,

prometazin,

difenhidramin
g. Analgesik dan antipiretik : parasetamol, ibuprofen
h. Zat antileukotrien (LT) : loratadin, cetrizin
2. Penyakit Myalgia&Arthritis
Menurut Setiawati, 2007 ada beberapa golongan obat yang dapat
digunakan untuk mengobati nyeri otot dan nyeri sendi
diantaranya:
a. Antipiretik dan antiinflamasi : asetosal, diflunisal, salisilamid,
parasetamol,

asam

mefenamat,

diklofenak,

ibuprofen.

Naproksen, piroksikam dan meloksikam


b. Obat pirai (mempengaruhi kadar asam urat) : kolkisin,
alopurinol, probenesid, ketorolak
c. Antireumatik pemodifikasi penyakit
sulfasalazin
3. Penyakit Pulpitis

17

metrotreksat,

Penggunaan obat kimia seringkali menjadi pilihan karena dapat


menyembuhkan lebih cepat. Bila tidak ada tenaga dental, lubang
gigi dbersihkan dengan ekskavator dan semprit air, lalu
dikeringkan dengan kapas dan dijejali pellet kapas yang ditetesi
eugenol. Penggunaan obat pada pulpitis dapat dilakukan sebagai
berikut :
1. Berikan analgetik bila perlu : Parasetamol 3 x 500 mg/hari
pada orang dewasa, Parasetamol 3 x 250 mg/hari pada anakanak.
2. Bila sudah ada peradangan jaringan periapikal, berikan
antibiotik selama 5 hari : Amoksisilin : 3 x 500 mg/hari pada
orang dewasa, Amoksisilin : 3 x 250 mg/hari pada anak-anak.
3. Bila penderita alergi terhadap golongan penisilin, maka
diberikan : Tetrasiklin 3 x 500 mg/hari selama 5 hari untuk
orang dewasa, Eritromisin 3 x -250 mg/hari selama 5 hari
untuk anak-anak.
Selanjutnya

penderita

harus

dibawa

ke

dokter

gigi.

Peradangan akan mereda jika penyebabnya diobati terlebih dahulu.


Bila pulpitis masih berada pada stadium awal, maka nyeri bila
diredakan dengan penggunaan analgesik,

penambalan sementara,

atau dengan kandungan obat penenang saraf. Tambalan ini dapat


dibiarkan selama 6-8 minggu lalu diganti dengan tambalan permanen.
Perubahan-perubahan penjalaran inflamasi pada pulpa sering
terjadi tanpa rasa nyeri, dan tanpa diketahui oleh pasien ataupun
dokter giginya. Sangat disarankan untuk segera ke dokter gigi saat
menyadari adanya lubang gigi atau rasa ngilu pada gigi saat terkena
makanan panas dan dingin. Walaupun belum tentu mengenai pulpa,
rasa ngilu akibat rangsang panas dan dingin menandakan bahwa
karies sudah mencapai dentin atau sangat mendekati pulpa.
Terinfeksinya pulpa terjadi pada tahap karies yang sudah
lanjut dan akhirnya dapat menyebar ke seluruh jaringan pulpa di akar

18

dan

mengakibatkan

infeksi

di

tulang

periapikal,

berbentuk

abses periapikal.
Kondisi lanjutan yang sering ditemui adalah pasien datang
dalam keadaan sakit dengan gusi yang membengkak dan disertai
gejala sistemik seperti demam, pendarahan spontan di gusi,
malaise, dan leukositosis. Pemberian obat anti nyeri hanya diberikan
untuk mengurangi gejala sakit saja, dan untuk selanjutnya harus
segera diberi tindakan oleh dokter gigi.
Keluhan akibat inflamasi pulpa dapat timbul secara akut
ataupun kronis. Inflamasi secara akut adalah kondisi yang timbul
akibat mekanis (misal: instrumentasi di ruang dokter), invasi bakteri
pathogen dari tulang yang masuk melalui celah bawah akar gigi
(foramen apikalis), dan tekanan cairan eksudat dan nanah pada abses
dentoalveolar.
Namun tidak jarang pasien menunda ke dokter gigi saat
keluhan sakit yang dirasakan berkurang. Padahal penting diketahui
kondisi sakit yang berulang bisa lebih parah. Bengkak yang timbul
disertai abses yang berisi pus atau nanah yang secara kronis akan
meningkatkan risiko kerusakan tulang rahang, kista radikular,
granuloma apikalis, dan beberapa komplikasi lainnya.
Jika terjadi kerusakan pulpa yang luas dan tidak dapat
diperbaiki, satu-satunya cara untuk menghilangkan nyeri adalah
dengan mencabut pulpa, baik melalui pengobatan saluran akar
maupun pencabutan gigi.

BAB III
PEMBAHASAN

19

Untuk menciptakan kawasan Terminal Cicaheum sebagai fasilitas umum yang


sehat dan nyaman maka diberikan solusi dari masalah kesehatan yang ada
dengan melakukan beberapa tindakan sebagai berikut :
Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut yang disebabkan oleh tingginya
polusi udara dari emisi gas kendaraan bermotor di kawasan Terminal serta
asap rokok yang ditimbulkan dari perokok yang tidak bertanggung jawab
harus segera ditanggulangi. Tindakan promotif dari tenaga kesehatan
setempat yang bekerja sama dengan pihak Terminal dapat melakukan edukasi
kepada warga yang tinggal di kawasan tersebut, pengemudi dan penumpang
dengan melakukan penyuluhan mengenai pentingnya menghindari asap
rokok, bahaya menjadi perokok pasif, edukasi penyakit ISPA dan pentingnya
menjaga kesehatan diri di kawasan tinggi polusi sehingga dapat menggugah
masyarakat setempat untuk memiliki kesadaran terhadap penyakit ISPA.
Edukasi pada masyarakat yang melakukan aktivitas di kawasan terminal
juga dapat dilakukan dengan membuat poster-poster persuasif mengenai;
bahaya merokok dan asap kendaraan, etika batuk dan bersin di tempat umum
serta ajakan untuk menggunakan masker serta disediakan kawasan khusus
untuk perokok di Terminal dan kendaraan untuk mencegah peningkatan
morbiditas dan penularan dari penyakit ISPA yang disebabkan oleh asap
rokok dan asap kendaraan bermotor. Selain itu, dapat diadakan pembagian
masker gratis untuk penumpang dan pekerja di kawasan Terminal guna
menghindari tingginya resiko penularan penyakit serta menciptakan
lingkungan yang bersih, sehat, aman dan nyaman.
Selanjutnya, kebersihan fasilitas-fasilitas Terminal juga menjadi perhatian
penting guna mendukung terciptanya kawasan Terminal yang bersih dan
sehat. Dilakukan pemeliharaan khusus dari pihak Terminal dapat mencegah
penyebaran penyakit dengan melakukan pembersihan rutin dapat dilakukan
setiap minggunya. Selain itu, dilakukan peningkatan kualitas dari fasilitas
umum yang tersedia seperti kamar mandi yang dilengkapi dengan sabun,
tempat sampah, tisu toilet, tempat cuci tangan, sanitasi toilet dan penyediaan
air bersih di toilet perlu dilakukan. Disediakan fasilitas tempat cuci tangan di
beberapa titik di kawasan Terminal untuk membiasakan warga mencuci
tangan setelah beraktivitas, pengadaan dan pengelolaan tempat sampah yang

20

memadai di beberapa kawasan juga perlu diperhatikan untuk menjaga


kebersihan lingkungan.
Diadakan edukasi dari tenaga kesehatan kepada warga setempat mengenai
pentingnya melakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) guna menghindari
timbulnya resiko penyakit. Dilakukan pula kerja sama dengan pihak
kelurahan sekitar kawasan Terminal untuk mengadakan program rutin kerja
bakti warga di seluruh Terminal minimal 1 bulan sekali untuk membersihkan
kawasan tanpa tergantung pada petugas kebersihan. Diharapkan dengan
diadakannya program ini masyarakat setempat, para pekerja, dan semua orang
yang beraktivitas di kawasan Terminal dapat tergugah untuk menyadari dan
meningkatkan kualitas hidupnya dengan melaksanakan pola hidup sehat dan
bersih (PHBS).

21

BAB IV
PERENCANAAN PROGRAM KESEHATAN
4.1. Penyusunan Rencana
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan hidup
sehat bagi setiap masyarakat agar terhindar dari penyakit melalui terciptanya
masyarakat yang hidup dengan perilaku dan lingkungan yang sehat terbebas
dari penyakit, serta memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan
kesehatan bermutu dan merata. Penyusunan rencana berdasarkan tempat dan
waktu dimana pada proses ini diharapkan semua masyarakat dapat ikut andil
dalam program tersebut.
4.2. Penyusunan Program
Program disusun brdasarkan kebutuhan kesehatan pada daerah sekitar
terminal cicaheum yang memungkinkan masyarakat dapat ikut andil dalam
upaya peningkatan kesehatan baik kesehatan diri dan lingkungan, dimana
pada daerah sekitar terminal diketahui sering terkena polutan baik dari asap
kendaraan ataupun asap rokok para msyarakat dan warga yang dapat
berdampak pada status kesehatan paru pada masyarakat sekitar terminal
cicaheum oleh karena itu dipilihlah program deteksi dini kadar CO dalam
paru untuk masyarakat. Selain itu perlu juga memberikan informasi tentang
pengendalian penyakit menular dan tidak menular untuk mengendalikan
angka kesakitan pada masyarakat. Karena lingkungan yang sanitasinya
kurang baik perlu adanya perbaikan pasokan air bersih untuk kebutuhan
sehari hari terlebih untuk kebersihan air minum. Kebersihan dan kesehatan
hakikatnya adalah kewajiban dan kebutuhan seluruh masyarakat untuk dapat
hidup dengan nyaman tanpa adanya gangguan penyakit oleh karena itu
seluruh lapisan masyarakat juga harus meningkatkan kualitas kesehatan
dengan salah satu cara yaitu kerja bakti antar warga untuk menjadikan
lingkungan bersih dan sehat.
4.3. Pelaksanaan rencana
Pelaksanaan rencana dilakuka pada bulan januari 2017 yang bertempat di
balai desa cicaheum yang dimana pada minggu pertama bulan januari 2017

22

dilaksanakan tahapan persiapan dari mulai mencari sumber dana hingga


penggerakan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam program ini.pada
minggu kedua bulan januari 2017 pelaksanaan program yang sudah
direncanakan dengan berbagai kegiatan. Pada minggu ketiga bulan januari
2017 dilaksanakan pembinaan (peningkatan SDM) yang dimaksut disini
yaitu dengan memberikan materi atau pengetahuan dasar tentang sakit dan
sehat, dan juga upaya pengobatan diri sendiri kepada masyarakat.
Sedangkan untuk evaluasi dimulai dari minggu ke 3 sampai 4 untuk menilai
apakah program yang direncanakan berjalan dengan baik.
4.4. Monitoring dan Evaluasi
Pemantauan kegiatan yang dilaksanakan pada tiap tahap kegiatan kegiatan
sesuai rencanapemantauan dilakukan melalui System pencatatan dan
pelaporan program Kunjungan rumah. Evaluasi kegiatan dilakukan secara
bertahap sesuai dengan program yang direncanakan.
Januari 2017
NO.

1.

2.

3.
4.

Kegiatan
Tahap persiapan
a. penyusunan rencana kerja
b. mobilisasi sumber dana
c.pelatihan
d.kunjungan rumah dan sekitar
terminal
e. penyuluhan
f.penggerakan masyarakat
Tahap pelaksanaan
a.deteksi dini kadar gas CO dalam paru
untuk masyarakat umum
b.memberikan
informasi
tentang
pengendalian penyakit menular dan
tidak menular
c.peningkatan ketersediaan sanitasi dan
air minum yang baik
d.mengikutsertakan masyarakat dalam
peningkatan kesehatan (kerja bakti)
Pembinaan (peningkatan SDM)
Monitoring / evaluasi

23

Minggu
II
III

IV

BAB V
PENUTUP
1. Kesimpulan
Derajat kesehatan merupakan salah satu ukuran kesejahteraan dan
kualitas

sumber

daya

manusia.

Sebagaimana

lazimnya

dalam

menggambarkan derajat kesehatan digunakan indicator kualitas utama


seperti angka kematian, kesakitan, kelahiran, dan juga status gizi. Dalam
makalah ini membahas tentang tingkat kesehatan yang berada di daerah
terminal cicaheum dimana terminal cicaheum merupam salah satu terminal
terbesar yang ada di daerah bandung yang merupakan sarana umum untuk
peralihan transportasi antar kota. Setelah melakukan survey yang
kemudian di analisis tingkat kebersihan lingkungan terminal cicaheum

24

belum cukup memadai karena polutan yang berasal dari asap kendaraan
dan asap rokok para penumpang ataupun pengunjung terminal walaupun
untuk masalah tersebut sangat sulit dikendalikan, selain itu masih ada
beberapa titik dimana sampah sampah masih menumpuk di depan warung
makan hal tersebut memicu adanya penyakit dan juga kurangnya
kebersihan toilet umum yang berada di terminal karena kurangnya
pasokan air bersih yang juga berperan dalam kesehatan dan kebersihan
toilet. Dari survey kondisi lingkungan yang ada memicu adanya beberapa
penyakit terbanyak yang sering di derita oleh masyarakat sekitar yaitu
ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), arthritis, dan pulpitis (sakit gigi).
Setelah menganalisis masalah kesehatan yang ada kami mencoba
membuat program kesehatan yang diharapkan dapat meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat terminal cicaheum dengan mengadakan beberapa
program yaitu deteksi dini kadar CO dalam paru untuk melihat seberapa
buruk kondisi paru paru masyarakat daerah terminal cicaheum yang sering
menghirup polutan , memberikan informasi tentang pengendalian penyakit
menular dan tidak menular agar masyarakat mampu membedakan
bagaimana menyikapi masalah tersebut dan juga bagaimana pengobatanya,
kemudian

ada

peningkatan

pengetahuan

SDM

yang

diharapkan

masyarakat dapat meningkatkan kesadaran akan kebersihan dan kesehatan.


2. Saran
- Untuk analisis selanjutnya diharapkan dapat memberikan inovasi
-

program yang belum dilakukan pada program sebelumnya


Lebih bisa mengendalikan angka kejadian penyakit dengan promosi
kesehatan yang lebih baik

25

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2010.
Serial Data Ilmiah Terkini Tumbuhan Obat : Pegagan
(Centella asiatica L.). Direktorat Obat Asli Indonesia Deputi
Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk
Komplemen : Jakarta.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta. 2013.
Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Daerah Khusus
Ibukota Jakarta Tahun 2012. Jakarta: BPLHD
Badan Pusat Statistik. 2015. Kecamatan Kiaracondong. Tersedia
Online
https://bandungkota.bps.go.id/website/pdf_publikasi/Statistik
-Daerah-Kecamatan-Kiaracondong-2015.pdf

(diakses

19

September 2016)
Billihantomo, R. 2013. PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA
KONDISI MYALGIA SUBSCAPULARIS DEXTRA DI BBRSBD
SURAKARTA.

Universitas

Surakarta.

26

Muhammadiyah

Surakarta.

Dinas Kesehatan Kota Bandung. 2013. Profil Kesehatan Kota


Bandung Tahun 2012. Tersedia di dinkes.bandung.go.id/wpcontent/uploads/2013/10/BAB-II-

PROFIL-KESEHATAN-KOTA-

BANDUNG-TAHUN-12.pdf (Diakses tanggal 19 September


2016.
Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi Kabupaten Banjar.
2015. Taukah Kamu Perbedaan Terminal Tipe A, Tipe B, dan
Tipe

C.

Tersedia

Online

di

http://dishubkominfo.banjarkab.go.id/taukah-kamuperbedaan-terminal-tipe-a-tipe-b-dan-tipe-c/

(diakses

19

September 2016)
Direktorat Bina Farmasi. 2006. Pharmaceutical Care Untuk Pasien
Penyakit Arthritis Rematik. Departemen Kesehatan. Jakarta.
Jayanti, N. E., Mohammad H., dan Indri S. 2014.

EMISI GAS

CARBON MONOOKSIDA (CO) DAN HIDROCARBON (HC)


PADA

REKAYASA

JUMLAH

BLADE

TURBO

VENTILATOR

SEPEDA MOTOR SUPRA X 125 TAHUN 2006. ROTASI 16


(2) : 15
Kementrian

Perhubungan

Terminal

Tipe

Republik
A.

Indonesia.

2016.

Tersedia

Data
online

http://www.terminaltipea.id/terminal/guest/data_terminal/
(diakses 19 Septermber 2016)
Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. 2016. Tersedia
online
http://www.bllajsdphubdat.id/portal/page/view_detail/1/16
(diakses 19 September 2016)
Setiawati, Arini.,Gan, Sulistia. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi
5. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
27

Suhadi, D., dan Damantoro, T. 2005. Emission strength and


spatial distribution of emmisions of primary pollutants in
the agglomeration of Jakarta.
Syahril et al. 2003. Indonesian multi-sector action plan group on
vehicle emmisions reduction, Integrated Vehicle Emission
Reduction Strategy for Greater Jakarta, RETA 5937, Asian
Development Bank.
Tjay, Tan Hoan dan Kirana R., 2015. Obat-Obat Penting: Khasiat,
Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya. PT. Elex Media
Komputindo. Jakarta.
Triharsa, S; Mulyawati, Ema. 2013. Perawatan Saluran Akar Satu
Kunjungan Pada Pulpa Nekrosis Disertai Restorasi Mahkota
Jaket Porselin Fusi Metal dengan Pasak Fiber Reinforced
Composit (Kasus Gigi Insisivus Sentralis Kanan Maksila).
Maj Ked Gi. Juni 2013; 20(1):71-77.
Undang-undang Republik Indonesia. 2009. Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan. Jakarta: Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia.
World Health Organization. 2007. Epidemic-prone & pandemicprone acute respiratory diseases: Infection prevention &
control in health-care facilities. Summary guidance 2007.
WHO. Jenewa.

28

29