Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM KOROSI

Sel Galvanis Korosi

Disusun oleh :
Tsamrotul Kuaidiah

(1531410042)

Achmad Abdan Syakuran

(1531410073)

Dita Rahayu A. S.

(1531410066)

Koko Rimas S

(1531410126)

Novia Gita Andari

(1531410033)

Wardatul Khasanah

(1531410080)

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2016

I.
II.
III.

Judul Percobaan

: Sel Galvanis Korosi

Hari/ Tanggal Pelaksanaan

: Kamis, 28 Oktober 2016

Tujuan Percobaan

Mahasiswa dapat memahami adanya proses reaksi redoks di dalam sistem


elektrokimia yang tersusun atas dua jenis logam berbeda.
IV.

Dasar Teori
Peristiwa korosi dapat terjadi dengan penyebab yang berbeda sehingga timbul

bentuk-bentuk korosi sesuai faktor yang menyebabkan terjadinya korosi. Untuk


penggunaan konstruksi logam yang berbeda jenis dalam industri dapat
menimbulkan korosi galvanic akibat perbedaan potensial dari kedua logam
tersebut.
Korosi galvanik dapat didefinisikan adanya kontak antara dua logam yang
berbeda dalam larutan elektrolit. Dalam korosi ini logam yang lebih mulia atau
logam yang potensialnya lebih positif tidak terkorosi, sedangkan logam yang
potensialnya lebih negatif menjadi terkorosi. Dalam beberapa kasus, efek galvanik
akan cenderung rendah jika perbedaan potensialnya cukup besar, karena adanya
lapisan oksida yang melindungi logam-logam yang berada di deretan logam
mulia. Penggabungan dua buah logam tak sejenis juga perlu diperhatikan ukuran
masing-masing logam disamping perbedaan potensialnya. Besar kecilnya ukuran
logam yang bertindak sebagai anoda atau katoda mempengaruhi kerapatan arus
yang menjadi faktor pemicu laju korosi. Logam dengan potensial korosi yang
lebih negatif akan terkorosi lebih intensif, sedangkan logam lainnya yang lebih
mulia laju korosinya akan menurun. (Pengendalian Korosi Politeknik Negeri
Bandung, 2012)

Gambar 4.1 Mekanisme Korosi Galvanis ( Pmahatrisna, 2014 )


a. Reaksi anodik pada korosi logam :
M

Mn+ + ne

b. Reaksi katodik, yang ada beberapa kemungkinan :


1. Evolusi hidrogen
2H+ + 2e
2H2O + 2e

H2 dalam lingkungan asam


H2 + 2OH- dalam lingkungan basa

2. Reduksi oksigen terlarut


O2 + 4H+ + 4e

2H2O dalam lingkungan asam

O2 + 4H+ + 4e

4OH- dalam lingkungan basa/netral

3. Reduksi oksidator terlarut


Fe3+ + e

Fe2+

Salah satu faktor yang mempengaruhi korosi adalah salinitas air laut. Garam
membuat air menjadi konduktor listrik dan mempromosikan proses elektrokimia
korosi. Keasaman/ pH: Skala pH (0-14) digunakan sebagai ukuran keasaman.
Skala ini didasarkan pada konsentrasi ion hidrogen dalam suatu larutan. Secara
umum korosi akan meningkat seiring dengan meningkatnya keasaman (nilai pH
rendah), tetapi tingkat alkalinitas (basa) yang tinggi juga dapat mempromosikan
korosi. Misalnya terjadi pada Aluminium dimana hanya pasif pada kondisi yang

mendekati solusi netral (pH 5-8). Sifat korosif lingkungan laut biasanya
meningkat seiring dengan meningkatnya kelembaban, suhu, kandungan garam,
kandungan polusi udara, termasuk jelaga dan partikel debu. ( Pmahatrisna, 2014 )

V.

Alat dan Bahan


Alat
Beaker Glass 250 ml

Kabel penjepit buaya

Pipa U

Selotip

Logam Zn

Logam Al
Logam Cu
Logam Fe
Logam Sn

1
1
1
1

Bahan
NaCl
Air
Indikator pp

VI.

Jumlah

Jumlah
Secukupnya
100 ml
secukupnya

Skema Kerja
Air 100 ml

Garam NaCl
Larutan NaCl Jenuh

Indikator pp

Pengisian larutan garam


pada pipa U

Pemasukan batang
logam pada pipa U

Pengamatan warna
merah pada salah satu
elektroda

Pencatatan waktu

Pengulangan dengan
elektroda berbeda

VII.

Data pengamatan
Penambahan indikator pp 5 tetes
No

Logam
Anoda

1
2
3

VIII.

Zn
Zn
Zn

Katoda
Cu
Fe
Sn

Waktu
2 menit 55 detik
1 menit 15 menit
9 menit 25 detik

Keterangan
Ungu
Ungu
Ungu (sedikit)

Pembahasan
Perbedaan beda potensial logam-logam dapat menyebabkan korosi galvanis
dimana logam yang teroksidasi akan mudah terkorosi dan logam yang terduksi
akan terlindungi. Logam Zn berfungsi sebagai anoda yang mengalami oksidasi
dan logam Cu, Fe dan Sn sebagai katoda yang mengalami reduksi. Kedua
elektroda dihubungkan dengan kabel penjepit buaya yang bersifat konduktor yang
berfungsi untuk mengalirkan elektron. Larutan NaCl dibuat jenuh agar elektron
dapat mengalir dari katoda ke anoda dengan cepat. Untuk mengetahui adanya
aliran elektron pada sel galvanis dari katoda ke anoda maka larutan garam
ditambahkan indikator pp sebanyak 5 tetes.

Perubahan warna larutan di sekitar logam katoda menunjukkan adanya aliran


elektron. Ion

terbentuk dari reaksi reduksi dari garam NaCl yang ditandai

dengan perubahan warna larutan dari bening menjadi merah muda. Pada gambar
lampiran dapat diketahui bahwa elektron mengalir dari anoda ke katoda yang
ditunjukkan dengan aliran warna merah muda menuju ke bawah. Indikator pp
mendeteksi adanya ion

pada katoda. Logam Zn yang memiliki sifat tidak

inert yang berfungsi sebagai anoda sehingga produk yang dihasilkan merupakan
ion elektroda yang larut sebab logam yang tidak inert mudah teroksidasi.
Sedangkan apapun jenis katodanya, tidak akan mempengaruhi produk yang
dihasilkan di katoda.
Logam Zn dengan Cu
Anoda :
Katoda :
Redoks :
Kecepatan sebuah logam mengalirkan elektron dalam proses korosi galvanis
berbeda-beda. Logam Zn dengan Cu memiliki waktu tercepat dalam mengalirkan
elektron. Kemudian logam Zn dan Fe dan yang paling lama adalah logam Zn
dengan Sn. Perbedaan kecepatan ini dipengaruhi oleh posisi sebah logam dalam
deret volta yaitu berdasarkan perbedaan beda potensial. Semakin besar beda
potensial logam-logam maka semakin cepat waktu yang dibutuhkan elektron
untuk mengalir dan sebaliknya. Hasil percobaan menunjukkan bahwa waktu yang
dibutuhkan untuk logam Zn dan Fe mengalirkan elektron lebih cepat daripada
logam Sn. Padahal seharusnya logam Zn dngan Sn lebih cepat mengalirkan
elektron. Hal ini dipengaruhi oleh logam Fe atau Sn yang tidak murni. Tingkat
kejenuhan larutan NaCl juga mempengaruhi hal tersebut. Semakin jenuh larutan
garam maka seakin cepat elektron dialirkan.
IX. Kesimpulan
1. Reaksi redoks yang terjadi dalam sel galvanis
Logam Zn dengan Cu, Fe maupun Sn
Anoda :

Katoda :
Redoks :
2. Korosi galvanis terjadi akibat perbedaan beda potensial logam-logam.
Logam yang lebih negatif akan terkorosi sedangkan logam yang lebih
positif (mulia) akan terlindungi.

X. Daftar Pustaka
Anonim, 2016, Jobsheet Praktikum Korosi, Malang: Politeknik Negeri
Andy,

Malang.
Adom,

2010,

Sel

Elektrokimia,

https://andykimia03.wordpress.com/2009/09/10/elektrokimia-ii-selelektrolisis/ diakses tanggal 1 Oktober 2016


Chapung,

2011,

Konsep

Galvanis

dalam

Korosi,

http://cchapung.blogspot.co.id/2011/07/konsep-galvanis-dalamkorosi.html diakses tanggal 25 Oktober 2016

Lampiran
Reaksi redoks yang terjadi pada percobaan
1.

Logam Zn dengan Cu
Anoda :
Katoda :
Redoks :

2.

Logam Zn dengan Fe
Anoda :
Katoda :
Redoks :

3.

Logam Zn dengan Sn
Anoda :
Katoda :
Redoks :

Gambar Hasil Percobaan