Anda di halaman 1dari 4

Dalam Dekapan Sang Maha Cinta

Oleh: Habib Achmad


Malam itu, Nur berdiri di teras rumahnya. Hujan deras mengguyur kota Surabaya. Wajahnya
terlihat gusar. Kedua tangannya dikepalkan sambil ia mondar-mandir tepat di depan pintu. Ada
seseorang yang ia nantikan. Seseorang yang berjanji akan datang malam ini.
Nur semakin gelisah. Rasa dingin mulai merambati tubuhnya, ia menggigil. Merinding karena
hari semakin malam. Sedikit takut sebenarnya juga ia rasakan. Ragu mulai menyusup ke dalam
jiwanya, sementara yang ditunggu tak kunjung datang.
Sudah hampir tengah malam. Akhirnya Nur menyerah. Orang itu tak mungkin datang tengah
malam begini. Nur melangkah masuk ke dalam rumahnya yang sudah gelap. Dengan hati-hati ia
memutar kunci agar ibunya tidak terbangun oleh suara-suara yang ia timbulkan. Dengan wajah
yang ditekuk ia memasuki kamarnya. Dilemparkan tubuhnya ke atas kasur. Lalu ia menangis
tersedu-sedu.
Kau jahat. Kau tak menepati janjimu. Kau ingkar kepadaku, Mas Chafidz. Ia berbicara sendiri
sambil memukul-mukul bantalnya.
Nur sangat terpukul hari itu. hatinya bagai diiris-iris. Kemarin ia masih merasakan kebahagiaan
bersama Chafidz. Nur dan Chafidz juga sudah berencana untuk menikah. Tapi tadi pagi, petir dan
guntur tiba-tiba menyambar dengan dahsyat tepat ke bagian hatinya yang paling dalam. Ketika
seorang lelaki datang ke rumahnya. Mengobrol santai dengan ibunya di ruang tamu. Nur datang
membawa nampan berisikan segelas teh hangat untuk tamu yang tak dikenalnya itu. Nur melihat
raut wajah ibunya yang bahagia, sebelum ia akan kembali ke dapur meletakkan nampan itu.
Nur, suara ibunya menghentikan langkah Nur, duduklah sebentar di sini.
Nur menurut dan duduk di sebelah ibunya. Nur, ini Nak Abby. Nak Abby datang untuk
memintamu menjadi istrinya. Ibu sudah setuju. Semua kebutuhan pernikahan akan disiapkan
oleh Nak Abby dan keluarganya. Pernikahan kalian akan dilaksanakan minggu depan.
Lelaki yang bernama Abby itu tersenyum. Ibu juga tersenyum. sementara Nur kaget bukan main.
Tubuhnya kaku. Bibirnya ingin mengatakan sesuatu, tapi justru tertutup rapat. Bagaimana
mungkin ibunya telah memutuskan semua itu tanpa mendengar pendapat Nur. Sebenarnya siapa
yang akan menikah? Nur atau ibunya. Bahkan ibunya juga sudah mengetahui hubungan Nur
dengan Chafidz.
Nur adalah anak yang penurut. Tak pernah membantah ibunya. Segala yang dikatakan ibunya
akan ia turuti. Tapi Nur tak pernah menyangka, kalau ibunya juga menentukan siapa yang akan

menjadi suaminya. Lelaki yang tak dikenalnya. Lelaki yang bahkan usianya jauh di atas Nur. Nur
tak mencintainya.
Selepas kepergian Abby dari rumahnya. Nur mengurung diri di kamar. Meratapi keputusan
ibunya yang tiba-tiba. Ia tangkupkan bantal ke wajahnya. Tangisnya meledak. Nur kemudian
teringat Chafidz. Apa yang akan hendak ia katakan pada Chafidz? Mereka juga telah
merencanakan pernikahan, meski tak sempat ia beritahukan pada ibunya. Nur mengirimkan
pesan singkat kepada Chafidz. Memberitahukan apa yang baru saja terjadi. Chafidz berjanji akan
segera datang ke rumah Nur. Memberitahukan rencana pernikahan mereka. Mereka akan
menghadap ibu bersama-sama. Dan Nur akan membatalkan pernikahannya dengan Abby. Nur
yakin, ibunya pasti setuju. Chafidz orang yang baik.
Sampai hari pernikahan Nur dengan Abby tiba, Chafidz tak pernah datang ke rumah Nur. Bahkan
secuil kabar tak ia terima.
Hari ini Nur terduduk di ruang tamunya yang sudah dihias sedemikian rupa. Hiasan khas
pernikahan. Nur memakai gaun serba putih yang sungguh indah. Dia begitu cantik dengan
polesan kosmetik di wajahnya. Sikapnya yang pemalu menambah keindahan pada suasana saat
itu. Nur masih tak yakin dengan pernikahan ini. Nur masih berharap, Chafidz akan datang dan
membawanya pergi dari pernikahan. Bibirnya terus merapalkan doa-doa agar Tuhan memberikan
keajaiban.
Beberapa orang datang ke rumah Nur ingin menyaksikan proses pernikahan. Para tetangga
berbisik-bisik. Membicarakan betapa beruntungnya Nur yang akan menikah dengan Abby. Abby
lelaki kaya turunan konglomerat. Nur semakin yakin, Abby mungkin telah mengiming-iming
ibunya dengan harta itu. Oh ibu, engkau telah tega menukarkan kebahagiaan anakmu dengan
harta yang tak akan bisa dibawa mati.
Abby datang bersama keluarganya. Penghulu juga sudah datang. Ijab qabul akan dilaksanakan.
Selama proses pernikahan, air mata Nur menetes. Para tetangga yang datang mengira Nur
terlampau bahagia hingga air mata itu ada. Tapi pikiran Nur lain. Ia tak pernah mengharapkan
pernikahan ini. Bukan Abby yang ia inginkan, tapi Chafidz. Harusnya Chafidz yang ada di
sampingnya saat ini.
Setelah pernikahan usai, Abby hendak membawa Nur pulang ke rumah yang akan mereka
tinggali. Ibu Nur melepas kepergian mereka dengan haru.
Bahagialah Nak tak ada seorang pun ibu yang ingin anaknya bersedih. Ini yang terbaik
untukmu. Ibunya memeluk Nur dan kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop kecil dari
sakunya. Tadi pagi aku menemukan ini di kamarmu. Mungkin dari temanmu, ucap ibunya.
Ibu kalau memang engkau ingin aku bahagia. Harusnya engkau tak membiarkan pernikahan
ini terjadi. Hati Nur menjawab dengan pilu. Nur menerima amplop putih tanpa nama pengirim.

Hanya tertulis untuk Nur. Mungkin itu salah satu amplop pernikahan. Nur memasukkan
amplop itu di tas kecilnya bersama amplop-amplop lainnya.
Nur dan Abby lantas pergi ke rumah baru mereka dengan menaiki mobil sedan hitam yang
terlihat mengilat. Para tetangga bahagia, beberapa terlihat iri dengan Nur. Selama di mobil Nur
tak bicara sepatah kata pun pada Abby. Sesekali Abby mengajaknya bicara, Nur juga tak
menyahutinya. Ia pura-pura tertidur.
***
Nur menjalani hidupnya sebagai seorang istri tanpa rasa bahagia. Sejak pindah ke rumah baru
itu, sejak hari pertama mereka menikah, Abby tak pernah memaksa Nur melakukan pekerjaan
rumah. Tak pernah meminta Nur untuk ini dan itu. Nur hanya menerima uang bulanan, belanja,
memasak dan menyiapkan keperluan Abby untuk ke kantor. Berbicara pun hanya seperlunya
saja. Perlahan Nur juga mulai melupakan Chafidz. Ia hanya sibuk meratapi nasib yang ibunya
ciptakan. Ia belum sepenuhnya menerima pernikahan ini.
Abby tak pernah menanyakan sikap Nur yang cuek terhadapnya. Setiap pulang dari kantor,
sebelum waktunya tidur, Abby selalu mengajak Nur untuk salat Isya berjamaah. Sebagai
seorang istri, Nur menurut pada suaminya, meski sampai kini rasa cinta untuk suaminya belum
juga tumbuh. Ada satu hal yang membuat Nur tak mengerti sampai saat ini. Setiap selesai salat,
Nur selalu kembali ke kamarnya sendiri. Abby memilih untuk tetap di musala kecil di rumah
mereka. Abby tak pernah kembali ke kamar bersama Nur. Mereka bahkan belum pernah tidur di
ranjang yang sama sejak hari pertama pernikahan. Nur semakin heran dengan Abby, kalau
memang Abby tak menginginkannya, kenapa ia menikahi Nur. Mungkinkah Abby hanya
mempermainkannya saja. Nur merasa dirinya tak dihargai.
Setetes air mata melintasi pipinya. Nur mencari buku hariannya. Tak ada yang bisa diajaknya
bicara kecuali buku yang bisu itu. Segala rasa, ia tumpahkan pada buku kecil yang selalu
dibawanya kemana-mana itu. Tapi buku itu tak ia temukan di manapun. Dia ubek-ubek seisi
kamar. Ia mencari di bawah kasur, di tumpukan lemari, juga di laci yang kuncinya ia bawa. Nur
justru menemukan amplop kecil saat merogoh tas kecilnya. Amplop kecil yang mengingatkan
pada pernikahan yang tak ia inginkan. Amplop yang sama dan masih bertuliskan untuk Nur.
Nur penasaran dengan amplop itu, isinya sedikit tebal. Setelah dirobeknya amplop itu, ternyata
isinya bukan uang pernikahan. Amplop itu berisi lembar kertas bergaris penuh tulisan. Nur
mengenal tulisan tangan itu.
Teruntuk Nur kekasihku,
Nur kekasihku, maafkan aku yang tak bisa menepati janjiku. Kuucapkan selamat atas
pernikahanmu. Nur, biarkan aku gagal mendapatkanmu. Tapi percayalah, benar aku
mencintaimu. Aku bahkan terlampau mencintaimu. Aku tak kuasa menahan air mata saat
tiba hari pernikahanmu.

Nur kekasihku, bukannya aku tak ingin memperjuangkanmu. Tapi pantang bagiku melamar
perempuan yang sudah dilamar lelaki lain. Aku tak ingin Tuhan murka pada kita. Biarlah
Tuhan yang menjadi saksi bahwa kita pernah saling mencintai. Engkau perempuan baik
seperti ibumu. Kau bahkan tak pernah membantah ibumu. Tetaplah seperti itu. Sekarang
engkau sudah menjadi seorang istri. Aku yakin kau akan menjadi istri yang sholehah.
Jadikanlah cinta di hatimu sebagai jalan menggapai mahkota cintaNya. Biarkan rindu dalam
qalbu berlabuh dan mengetuk pintu hijabNya. Menjadi istri yang baik untuk suamimu.
Biarkan kenangan menjadi kenangan. Menjadi pembelajaran untuk masa depan.
skenarioNya selalu indah, Nur. Bahagialah jangan engkau jadikan kenangan sebagai
beban luka atau kebencianmu. Semoga engkau memahami apa yang aku katakan. Sang
Maha Cinta tak pernah ingkar pada janji-janjiNya. Bahagialah, Nur.
-ChafidzSemakin deras air mata Nur. Chafidz benar. Tapi Nur masih ragu. Suaminya mungkin tak
mencintainya. Abby tak pernah memperlakukannya seperti seorang istri.
Nur melangkah ke luar kamar. Mencari lelakinya yang dia pikir telah merenggut
kebahagiaannya. Otaknya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang butuh jawaban sesegera
mungkin. Dengan gontai ia menuju musalla. Tangannya mengusap-usap kedua pipinya.
Ya Rabb, telah engkau pertemukan aku dengan perempuan baik dari ibu yang baik. Tak
mengapa aku terus menunggu, asal Engkau terus memberinya kebahagiaan. Izinkan aku
menjaganya. Meski aku tahu, jiwanya masih mencintai lelaki lain. Berikan kesabaran bagiku
untuk terus menunggu hatinya. Sampai waktu itu tiba, satukan hati kami dalam payung
ridhoMu.Dan bersama-sama kami mengarungi bahtera ini.
Nur yang berdiri di dekat Musalla tertegun mendengar doa-doa yang dirapalkan Abby, untuk kali
pertama ia melihat lelaki itu menangis saat bermunajah denganNya.
Oh Tuhan, ampuni aku. Nur terduduk lemas. Nur seakan mendengar suara ibunya. Air mata
Nur semakin deras. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan.
Bahagialah Nak tak ada seorang pun ibu yang ingin anaknya bersedih. Ini yang terbaik
untukmu. (*)