Anda di halaman 1dari 30

PANDUAN MAHASISWA KEPERAWATAN

KUMPULAN ASUHAN
KEPERAWATAN
(Askep Parkinson)

2012

WWW.SAKTYAIRLANGGA.WORDPRESS.COM

Definisi
Penyakit

parkinson

(paralisis

agitans)

atau

sindrom

parkinson

(parkinsonismus) merupakan suatu penyakit/sindrom karena gangguan pada


ganglia basalis akibat penurunan atau tidak adanya pengiriman dopamin dari
subtansia nigra ke globus palidus/neostriatum (striatal dopamin defeciency).
(Harsono, 2007)

Gambar 1. Kondisi substansia nigra pada orang normal dan pada parkinson
Penyakit Parkinson adalah bagian dari parkinsonism yang secara patologis
ditandai oleh degenerasi ganglia basalis terutama di substansia nigra pars
kompakta yang disertai adanya inklusi sitoplasmik eusionofilik (Lewy Bodies).
Sedangkan parkinsonism adalah suatu sindroma yang ditandai tremor waktu
istirahat, rigiditas, bradikinesia dan hilangnya reflex postural akibat penurunan
kadar dopamine dengan berbagai macam sebab. (PERDOSSI, 2001)
Etiologi
Etiologi penyakit Parkinson belum diketahui (idiopatik). Terdapat berbagai
dugaan (hipotesis), di antaranya ialah: infeksi oleh virus yang non-konvensional
(belum diketahui), reaksi abnormal terhadap virus yang sudah umum, pemaparan
terhadap zat toksik yang belum diketahui, terjadinya penuaan yang prematur atau
dipercepat. (Harsono, 2005)
Dua hipotesis yang disebut juga sebagai mekanisme degenerasi neuronal pada
penyakit Parkinson ialah : hipotesis radikal bebas dan hipotesis neurotoksin.
(Harsono, 2005)

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 2

a. Hipotesis radikal bebas.


Diduga bahwa oksidasi enzimatik dari dopamine dapat merusak neuron
nigrostriatal, karena proses ini menghasilkan hydrogen peroksid dan radikaloksid lainnya. Walaupun ada mekanisme pelindung untuk mencegah
kerusakan dari stress oksidatif, namun pada usia lanjut mungkin mekanisme
ini gagal.
b. Hipotesis neurotoksin.
Di duga bahwa satu atau lebih macam zat neurotoksin berperan dalam
proses neurodegenerasi pada Parkinson. Sebagai contoh dikemukakan
kemampuan zat MPTP (1-methyl-4phenyl-1,2,3,6-tetra-hydropyridine) atau
toksin sejenis MPTP yang secara selektif toksik terhadap substansia nigra
dan lokus seruleus dan mencetus sindrom yang serupa dengan Parkinson
pada manusia.
Berikut ini adalah Klasifikasi dari Parkinson berdasarkan etiologinya:
(Harsono, 1997)
1. Parkinsonismus primer atau adiopatik (penyakit parkinson/paralisis
agitans):
a) Bentuk yang sering dijumpai, namun kausanya sampaisekarang belum
jelas
b) Pada waktu belakangan ini timbul teori baru, yaitu peranan MPTP (1
methyl,

menimbulkan

methyl,

1,2,3,6

penyakit

tet

rahydropyridine)

Parkinson

yang

(Parkinsonismus

dapat
MPTP).

Berdasarkan teori baru ini kemudian dikembangkan beberapa obat


baru, misalnya selegiline/(-) deprenyl, lysuride, pergolide, dll
2. Parkinsonismus sekunder atau simtomatik:
a) Pasca-ensefalitis virus (khususnya ensefalitis von Economo).
b) Pasca infeksi lain, misalnya sifilis meningovaskular, tuberkulosis.
c) Iatrogenik atau terinduksi obat (drug induced), misalnya karena obatobat golongan fenotiazin, reserpin, tetrabenazi.
d) Toksik, misalnya karena intoksikasi karbon monoksida, karbon
disulfida, mangan.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 3

e) Lain-lain, misalnya karena pendarahan serebral petekial pasca trauma


yang berulang-ulang pada petinju, infark lakunar, tumor serebri,
hipoparatiroidi, klasifikasi.
3. Sindrom Paraparkinson (Parkinsons plus):
Sindrom

Shy-Drager,

Sindrom

Steele-Richardson-Olseszewski

(progressive supra nuclear palsy), Penyakit Wilson (degenerasi hepatolentikularis), Degenerasi striatonigral, Atrofi palidal (Parkinsonismus
juvenillis),

Penyakit

creutzfeldt-jakob,

Penyakit

hallerforden-spatz,

Hidrosefalus normotensif, Kompleks demensia Parkinsonisme guam


(Parkinsonian dementia complex of guam)
Klasifikasi
1. Penyakit Parkinson tahap dini
Penyakit Parkinson tahap dini penderita masih dapat melakukan
tugas sehari-hari tanpa merasa terganggu oleh penyakitnya. Gejala-gejala
pertama biasanya berupa perasaan lemas pada otot-otot yang cenderung
untuk gemetar, terutama pada lengan dan jari-jari tangan. Kelemahan dan
gemetaran ini berkembang secara sedikit demi sedikit dan lambat sehingga
penderitanya jarang mendapat menceritakan sejak kapan iya mulai
merasakan tangan dan kakinya tidak lagi mengikuti perintahnya.
Kegesitan, ketangkasan, dan kemantapan gerakan makin lama makin
didesak oleh kelambanan, kecanggungan dan kekakuan gerakan. Kepada
penderita umumnya hanya diberikan psikoterapi suportif, fisioterapi, dan
obat-obat penunjang yang sesuai dengan gejala klinis.
2. Penyakit Parkinson tahap ringan-sedang
Penyakit Parkinson tahap ringan-sedang penderita sudah merasa
terganggu oleh penyakitnya dan sukar melakukan aktivitas sehari-hari
akibat tremor dan bradikinesia yang ditimbulkan. Sewaktu makan, tangan
yang memegang sendok suka mengambil makanan dan sukar pula
mengampaikannya ke mulut. Tulisan menjadi kecil-kecil, sehingga
akhirnya tulisan maupun tanda tangan menjadi berubah dan tidak bisa
dibaca
3. Pada penyakit Parkinson tahap berat

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 4

Pada penyakit Parkinson tahap berat penderita sudah sangat


terganggu oleh penyakitnya dan ketergantungan

penuh

terhadap

perawatan. Penderita mengalami kesulitan untuk berbalik kanan-kiri.


Perawatan tubuh sehari-hari serta makan minum memerlukan bantuan
orang lain. Tidak ada gerakan otot wajah yang mencerminkan suka-duka
atau sedih-senang. Kesukaran bergerak yang mengenai otot rahang bawah
serta otot wajah akan membuat penderita sukar bicara, bicaranya pelan,
serta air liur dapat mengalir dari mulut. (Harsono, 2007)
Manifestasi Klinis
Gejala utama sindrom Parkinson ialah bradikinesia, rigiditas dan tremor, yang
sebagian disebabkan oleh tidak seimbangnya aktivitas system motor alfa dengan
motor gamma. Didapat depresi aktivitas gamma dan peningkatan aktivitas alfa.
Manifestasi utama penyakit Parkinson adalah gangguan gerakan, kaku otot,
tremor menyeluruh, kelemahan otot, dan hilangnya refleks postural. Tanda awal
meliputi kaku ekstermitas dan menjadi kaku pada bentuk semua gerakan lalu
mulai timbulnya tremor kepala dan tangan. Kepala membungkuk ke depan, berdiri
kaku,

kehilangan

berat

badan,

mengeluarkan air liur, kemudian ke


bagian tubuh lainnya. Keadaan ini
meningkat

bila

pasien

sedang

berkonsentrasi atau merasa cemas


dan

muncul

istirahat.
lainnya

pada

Adapun
mental

saat

pasien

manifestasi

muncul

dalam

bentuk penurunan kognitif, persepsi


dan

penurunan

Sedangkan

daya

ingat.

psikologisnya

perubahan kepribadian, demensia


dan kompusia akut.

Gambar 1. Manifestasi Klinis Parkinson

Tanda tanda utama dari Parkinson adalah (Harsono, 2007)


1. Tremor

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 5

a) Pola tremor seperti menghitung uang logam atau meulung-mulung pil


(pil rolling).
b) Tremor mulai pada tangan, namun dapat meluas ke bibir dan ke
seluruh kepala, dan juga dapat meluas ke kaki.
c) Resting atau alternating tremor, yang bertambah hebat pada saat
emosi.
d) Tremor bersifat kasar dan pelan (3-7/detik)
e) Biasanya merupakan gejala pertama dalam paralisis agitans. Tremor
biasanya bermula di satu ektremitas atas dan kemudian melibatkan
ekstremitas bawah pada sisi yang sama, beberapa waktu kemudian
disisi lainnya juga terlibat dengan urutan yang serupa. Kepala, bibir
dan lidah sering tidak terlibat, atau terlibat pada antara 4-7 gerakan per
menit. Tremor terutama timbul bila penderita dalam keadaan istirahat
dan dapat ditekan untuk sementara bila ektremitas digerakkan. Sering
dapat dihentikan sebentar bila diusahakan. Tremor menjadi bertambah
hebat dalam keadaan emosi dan menghilang bila tidur.
2. Rigiditas :
a) Hipertoni pada seluruh gerakan
b) Fenomena roda bergigi (cogwheel phenomenon) positif
c) Pada stadium dini, rigiditas otot terbatas pada satu ekstremitas atas,
dan hanya terdeteksi pada gerakan pasif. Biasanya lebih jelas bila
pergelangan di refleksi dan ekstensi secara pasif dan pronasi serta
supinasi lengan bawah secara pasif. Pada stadium lanjut, rigiditas
menjadi menyeluruh dan berat sehingga memberikan tahanan bila
persendian-persendian digerakkan secara pasif.
d) Rigiditas merupakan peningkatan jawaban terhadap regangan otot
pada otot antagonis dan agonis.
e) Salah satu gejala dini regiditas ialah hilangnya gerak asosiasi lengan
bila berjalan. Meningkatnya tonus otot pada sindrom Parkinson
disebabkan oleh meningkatnya aktivitas neuron motorik alfa.
3. Akinesia/bradikineisa-hipokineisa :

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 6

a) Gerakan voluntar yang lamban dan sulit terutama pada gerakan halus,
misalnya berbicara, menulis, mengancingkan baju, mengikat tali
sepatu dll.
b) Gerakan asosiatif yang berkurang, misalnya gerakan lengan yang
berkurang dan melekat pada badan sewaktu berjalan, lengan dalam
kedudukan fleksi dan aduksi.
c) Gerakan spontan yang berkurang, misalnya wajah seperti topeng.
d) Pada bradikinesia, gerakan voluntary menjadi lamban dan memulai
suatu gerakan menjadi sulit. Didapatkan berkurangnya gerak asosiatif
bila berjalan. Sulit untuk bangun dari kursi, sulit memulai berjalan,
lamban mengenakan pakaian, lambat mengambil suatu obyek.
Ekspresi atau mimic muka berkurang (seolah muka topeng). Bila
berbicara gerak lidah dan bibir menjadi lambat. Gerak halus sewaktu
menulis atau mengerjakan benda-benda berukuran kecil menjadi sulit
dan menghilang. Bradikinesia merupakan hasil akhir dari gangguan
intregasi pada impuls optic, labirin, propioseptik, dan impuls sensorik
lainnya di ganglia basal. Ini mengakibatkan berubahnya aktivitas
reflex yang mempengaruhi neuron motorik gamma dan alfa.
4. Langkah dan gaya jalan :
a) Penderita berjalan dengan langkah kecil menggeser dan makin
menjadi cepat (marche a petit pas), kepala dan badan doyong ke depan
dan sukar berhenti atas kemauan sendiri (propulsion), bisa mendadak
dapat berhenti-membeku sehingga bisa jatuh terjungkal (freezing)
kadang-kadang doyong ke belakang (retropulsion) atau ke samping
(lateropulsion), dan juga mempunyai kecenderungan beralih seperti
gerakan berlari (festination), serta sulit atau tidak dapat berbalik
dengan cepat.
5. Lain-lain :
a) Tanda Myerson positif, yaitu kedua mata berkedip-kedip dengan
gencar pada pengetukan di atas pangkal hidungnya.
b) Kesukaran dalam usaha pengosongan kandung kencing, dan juga
sering mengalami obstipasi kronik (sering merupakan gejala dini).

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 7

c) Juga terdapat kesukaran bila hendak berlari dari kursi atau tempat tidur
yang rendah.
d) Wajah Parkinson
Seperti

telah

dikemukakan,

bradikinesia

mengakibatkan

berkurangnya ekspresi muka serta mimic muka. Muka menjadi seperti


topeng, kedipan mata berkurang. Di samping itu, kulit muka seperti
berminyak dan ludah seuka keluar dari mulut karena berkurangnya
gerak menelan ludah.
e) Mikrografia
Bila tangan yang dominan yang terlibat, maka tulisan tangan secara
granula menjadi kecil dan rapat. Pada beberapa kasus, hal ini
merupakan gejala dini.
f) Sikap Parkinson
Bradikinesia mengakibatkan langkah menjadi kecil Parkinson.
Pada stadium yang lebih lanjut, sikap penderita dalam fleksi, kepala
difleksi ke dada, bahu membengkok ke depan, punggung melengkung
kedepan, dan lengan tidak melengkung bila berjalan.
g) Bicara
Rigiditas dan bradikinesia otot pernafasan, pita suara, otot faring,
lidah dan bibir mengakibatkan berbicara atau pengucapan kata-kata
yang monoton dengan volume kecil, yang khas pada penyakit
Parkinson. Pada beberapa kasus, suara menguras sampai berbentuk
suara bisikan yang lamban.
h) Disfungsi autonom
Dapat terjadi disfungsi autonom karena berkurangnya secara
progresif sel-sel neuron di ganglia simpatis. Ini mengakibatkan
keringat berlebihan, gangguan sfingter terutama inkontinensia dan
hipotensi ortostatik.
i) Demensia
Penderita penyakit Parkinson idiopatik banyak yang menunjukkan
perubahan status mental selama perjalanan penyakitnya. Disfungsi
visuospasial merupakan deficit kognitif yang sering dilaporkan pada

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 8

penyakit Parkinson. Degenerasi jalur dopaminergik, termasuk


nigrostriatal, mesokortikal dan mesolimbik, berpengaruh pada
gangguan intelektual. Degenerasi dari system neurotransmitter lainnya
mungkin pula mempunyai peranan pada kemunduran intelektual pada
penyakit Parkinson. Gangguan mental ini dapat pula disertai
halusinasi visual atau auditoar dan waham.
Pandangan saat ini menekankan pentingnya ganglia basal dalam
menyusun rencana neurofisiologi yang dibutuhkan dalam melakukan gerakan,
dan bagian yang diperannkan oleh serebelum ialah mengevaluasi informasi
yang didapat sebagai umpan balik mengenai pelaksanaan gerakan.
Bila dianalogikan dengan ilmu computer, maka ganglia basal tugas
primernya ialah mengumpulkan program untuk gerakan, sedangkan
serebelum memonitor dan melakukan pembetulan kesalahan yang terjadi
sewaktu program gerakan diimplementasikan. Salah satu gambaran dari
gangguan ekstrapiramidal ialah adanya gerakan involuntar.
Secara ringkas, gejala klinis utama terdiri atas 3 gejala yang selalu
bangkit dalam kombinasi (trias), yaitu tremor, rigiditas, akinosia atau
bradikinesia.
Patofisiologi
Pada penyakit Parkinson, sel-sel saraf pada ganglia basalis mengalami
kemunduran sehingga pembentukan dopamin berkurang dan hubungan
dengan sel saraf dan otot lainnya juga lebih sedikit. Penurunan dopamin
dalam korpus striatum mengacaukan keseimbangan antara dopamin
(penghambat) dan asetilkolin (perangsang). Munculnya tremor oleh karena
dopamin yang disekresikan dalam nukleus kaudatus dan putamen berfungsi
sebagai penghambat yang merusak neuron dopamingik di substansia nigra
sehingga menyebabkan kaudatus dan putamen menjadi sangat aktif dan
menghasilkan signal perangsang secara terus menerus ke sistem pengaturan
motorik kortikospinal. Signal ini diduga merangsang otot bahkan seluruh otot
sehingga menimbulkan kekakuan dan melalui mekanisme umpan balik
mengakibatkan efek inhibisi penghambat dopamin akan hilang sehingga
menimbulkan tremor.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 9

10

Akinesia disebabkan oleh karena adanya penurunan dopamin di


sistem limbic terutama nukleus accumbens, yang diikuti oleh menurunnya
sekresi dopamin di ganglia basalis. Keadaan ini menyebabkan menurunnya
dorongan fisik untuk aktivasi motorik begitu besar sehingga timbul akinesia.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 10

11

Web of Causes Parkinson


Aging factor

Dopamine di
striatal
berkurang
sampai 45%

Toksin (hydrogen
peroksida, Fe)

Encephalitis virus,
infeksi

Merusak neuron
dopaminergic secara
selektif

Menyerang
enchefalon

Mekanisme proteksi menurun


Menyebar ke
nigrostriatal

Kematian sel meningkat

Dopamine berkurangke
globus pallidus

Aktivitas kolinergik meningkat


Integrasi impuls optic,
labirin, proprioseptik,
sensorik terganggu
PARKINSON
Perubahan aktivitas
reflex neuron motoric
gamma dan alfa
Penurunan aktivitas
fisik dan motorik
bradikinesia
MK : Hambatan
Mobilitas Fisik

Tremor

depresi aktivitas gamma

peningkatan aktivitas alfa


Neuron motoric alfa
meningkat
Tonus otot fleksor dan
ekstensor meningkat
Rigiditas

Perubahan integritas
tubuh (kaku)

Koordinasi otot otot


tubuh buruk
MK : Risiko tinggi
Cedera

Ansietas
Intoleransi aktivitas
Kesulitan dalam
melakukan ADL

MK : Defisit
Perawatan Diri

MK : Koping individu
inefektif

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 11

12

Pemeriksaan Diagnostik
1. Analisis cairan serebrospinalis
Pengambilan cairan serebrospinal dapat dilakukan dengan cara Lumbal
Pungsi, Sisternal Punksi atau Lateral Cervical Punksi. Lumbal Punksi
merupakan prosedure neuro diagnostik yang paling sering dilakukan,
sedangkan sisternal punksi dan lateral hanya dilakukan oleh orang yang
benar-benar ahli. Dilakukan dengan cara menginsersi jarum berongga ke
dalam ruang sub-araknoid diantara lengkung saraf vertebra lumbal ketiga
dan lumbal keempat. Kemungkinan hasil menunjukkan adanya penurunan
kadar dopamin.
2. MRI / CT-scan kepala.
Untuk mengetahui gambaran internal otak. Pada penyakit parkinson
kemungkinan didapatkan gambaran pelebaran ventrikel.
3. PET ( Positron Emission Tomography )
(PET) merupakan salah satu modalitas diagnostik kedokteran nuklir yang
lebih baik dibanding modalitas lain terutama di bidang keganasan. Prinsip
kerjanya dengan mendeteksi akumulasi bahan radioaktif pada suatu organ..
PETscan dapat memberikan gambaran fungsional aliran darah dan proses
metabolik di tingkat sel. PET dapat mengukur fungsi fisiologis dengan
mencitrakan aliran darah, metabolisme, neurotransmitter dan obat yang
dilabel zat radioaktif. Alat ini dapat menampilkan analisis secara
kuantitatif, mengikuti perubahan relatif selama pemantauan sesuai dengan
perjalanan dan pengaruh penyakit terhadap jaringan tubuh manusia atau
respons terhadap organ tubuh stimulus spesifik.
Pada klien dengan parkinson kemungkinan hasil PET scan menunjukkan
penurunan metabolisme otak, pengurangan cerebral blood flow terutama
sekali di ganglia basalis.
4. EEG (biasanya terjadi perlambatan yang progresif)
Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Non-Farmakologis
Dukungan dan edukasi merupakan hal sangat kritis saat seorang pasien
didiagnosia sebagai penderita penyakit Parkinson. Pasien harus mengerti

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 12

13

bahwa penyakit Parkinson merupakan penyakit kronik progresif, dengan


tingkat progresifitas yang berbeda-beda pada setiap orang, dan telah
banyak pendekatan yang dilakukan untuk memperingan gejala.
Adanya group pendukung yang berisikan pasien penderita Parkinson
tahap lanjut, akan lebih membantu penderita yang baru saja didiagnosa
sebagai penderita penyakit Parkinson. Pasien harus diberikan nasehat
mengenai

latihan,

termasul

stretching,

strengthening,

fitness

kardiovaskular, dan latihan keseimbangan, walaupun hanya dalam waktu


singkat. Studi jangka pendek menyatakan bahwa hal ini dapat
meningkatkan kemampuan penderita dalam melakukan aktifitas seharihari, kecepatan berjalan dan keseimbangan.
Sebagian terbesar penderita parkinson akan merasakan efek baik atau
positif dari terapi fisik. Pada pasien yang termotivasi, terapi ini dapat
dilakukan dirumah, dengan memberikan petunjuk atau latihan contoh di
klinik terapi fisik. Program terapi fisik pada penyakit parkinson merupakan
program

jangka

panjang

dan

jenis

terapi

disesuaikan

dengan

perkembangan atau perburukan penyakit, misalnya perubahan pada


rigiditas, tremor dan hambatan lainnya.
2. Rehabilitasi medik
Tujuan rehabilitasi medik adalah untuk meningkatkan kualitas hidup
penderita dan menghambat bertambah beratnya gejala penyakit serta
mengatasi

masalah

sebagai

berikut:

Abnormalitas

gerakan,

Kecenderungan postur tubuh yang salah, Gejala otonom, Gangguan


perawatan diri (Activity of Daily Living-ADL) dan Perubahan psikologik.
Untuk mencapai tujuan tersebut diatas dapat dilakukan tindakan
sebagai berikut:
a. Terapi fisik: ROM (range of motion) diantaranya Peregangan,
Koreksi postur tubuh, Latihan koordinasi, Latihan jalan (gait
training), Latihan buli-buli dan rectum, Latihan kebugaran
kardiopulmonar, Edukasi dan program latihan di rumah
b. Terapi okupasi motorik halus
6. menulis dan menggambar
7. mewarnai

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 13

14

8. menggunting dan menempel


9. mengancing baju
10. mengikat tali sepatu
11. melipat

a. Terapi wicara
b. Psikoterapi
c. Terapi sosial medik
3. Penatalakanaan farmakologi
Nama Obat & dosis

Efek samping & kontra indikasi

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 14

15

ANTAGONIS NMDA

Efek samping:

Amantadin 100-300 mg

Depresi, gagal jantung, edema tungkai,


mulut kering, penglihatan kabur,

N methyl d aspartate

halusinasi, susah tidur, bingung,


retensio urin, gangguan kognitif, nausea
Kontra indikasi:
Gagal ginjal

OBAT-OBAT ANTI

Efek samping:

KOLINERGIK

Mulut kering, penglihatan kabur,


glaucoma, aritmia janting, konstipasi,
retensio urine, agitasi, kognisi menurun

Benztropine mesylate

Kontra indikasi:

1-8 mg per hari

Hipertrofi prostat (BPH), glaucoma

Biperiden

Kontra indikasi:

3-6 mg per hari

Hipertrofi prostat (BPH), glaucoma

Chlorpheroksamine

Kontra indikasi:

150-400 mg

Hipertrofi prostat (BPH), glaucoma

Cycrimine

Kontra indikasi:

5-20 mg per hari

Hipertrofi prostat (BPH), glaucoma

Orphenadrine

Kontra indikasi:

150-400 mg per hari

Hipertrofi prostat (BPH), glaucoma

Procyclidine

Kontra indikasi:

7.5-30 mg per hari

Hipertrofi prostat (BPH), glaucoma

Trihexyphenidyl

Kontra indikasi:

3-15 mg per hari

Hipertrofi prostat (BPH), glaucoma

Ethoproprazine

Kontra indikasi:

30-60 mg per hari

Hipertrofi prostat (BPH), glaucoma

DOPAMINERGIK +

Efek samping berhubungan dengan

DEKARBOKSILASE

dosis:

INHIBITOR

1. Diskinesia

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 15

16

2. End of dose wearing-off


Carbidopa + Levodopa

phenomenon

10/100, 25/100, 25/250 mg per

3. Biphasic dose respone

hari

4. Nausea, vomitus
5. Vivid dream
6. Ansietas, agitasi, bingung, delusi,
halusinasi visual, psikosis
7. Dll

Benserazid + Levodopa

Efek samping tidak berhubungan

50/100 mg per hari

dengan dosis:
On-off phenomenon

DOPAMINE AGONIST

Efek samping: anoreksia, mual,


muntah, konstipasi, hipotensi postural,
diskinesia, kelainan mental, hipotonia,
halusinasi visual, insomnia, edema
tungkai
Kontra indikasi: myocard infract, ulkus
peptikus.

Bromocriptin mesylate

Efek samping: anoreksia, mual,

5-40 mg per hari

muntah, konstipasi, hipotensi postural,


diskinesia, kelainan mental, hipotonia,
halusinasi visual, insomnia, edema
tungkai
Kontra indikasi: myocard infract, ulkus
peptikus.

Pergolide mesylate

Efek samping: anoreksia, mual,

0.75-5 mg per hari

muntah, konstipasi, hipotensi postural,


diskinesia, kelainan mental, hipotonia,
halusinasi visual, insomnia, edema
tungkai
Kontra indikasi: myocard infract, ulkus

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 16

17

peptikus.
Cabergoline

Efek samping: anoreksia, mual,

0,5-5 mg per hari

muntah, konstipasi, hipotensi postural,


diskinesia, kelainan mental, hipotonia,
halusinasi visual, insomnia, edema
tungkai
Kontra indikasi: myocard infract, ulkus
peptikus.

Pramipexole

Efek samping: anoreksia, mual,

1,5-4,5 mg per hari

muntah, konstipasi, hipotensi postural,


diskinesia, kelainan mental, hipotonia,
halusinasi visual, insomnia, edema
tungkai
Kontra indikasi: myocard infract, ulkus
peptikus.

Ropinirole

Efek samping: anoreksia, mual,

0,75-2,4 mg per hari

muntah, konstipasi, hipotensi postural,


diskinesia, kelainan mental, hipotonia,
halusinasi visual, insomnia, edema
tungkai
Kontra indikasi: myocard infract, ulkus
peptikus.

Apomorphine

Efek samping: mual, muntah, tegang,

10-80 mg per hari

sedasi, menguap (yawning), hipotensi


postral
Kontra indikasi: depresi pernafasan/
susunan syaraf pusat, sensitif terhadap
morvin dan derivatnya, gangguan
psikiatrik, demensia (Alzheimer dan
multi-infark dementia)

COMT (Catechol-O-Methyl

Diskinesia, diare, mual, muntah,

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 17

18

Transferase) Inhibitor

hipotensi, gangguan faal hati

Entacapone

Diskinesia, diare, mual, muntah,

200-1600 mg per hari

hipotensi, sedasi, nyeri kepala,


konstipasi, diare

Tolcapone

Diskinesia, diare lebih berat, mual,

300-600 mg per hari

muntah, hipotensi, meningkatnya tes


faal hati

MAO-B (Mono Amine

Diskinesia, mual, muntah, hipotensi

Oxidase- B) Inhibitor

postural, pusing, ansietas, mulut kering,


gangguan faal hepar, bingung
Selegiline

ANTIOKSIDAN

Diskinesia, mual, muntah, hipotensi

Asam askorbat (vit.C)

postural, pusing, ansietas, mulut kering,

500-1000 mg per hari

gangguan faal hepar, bingung

Betakaroten (pro vit. A)


4000 IU/ hari

BETABLOKER
Propanol 10-30 mg per hari

Hipotensi, bradikardi

Komplikasi
Komplikasi dari Penyakit Parkinson antara lain :
1.

Gangguan motorik

2.

Kerusakan berjalan,keseimbangan dan postur

3.

Gangguan autonom

4.

Demensia

5.

Depresi

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 18

19

Prognosis
Penyakit Parkinson tidak dianggap sebagai penyakit yang fatal dengan
sendirinya, tapi berkembang dengan waktu. Harapan hidup rata-rata pasien
Penyakit Parkinson pada umumnya lebih rendah daripada orang yang tidak
memiliki penyakit. Pada tahap akhir penyakit, Penyakit Parkinson dapat
menyebabkan komplikasi seperti tersedak, pneumonia, dan jatuh yang dapat
menyebabkan kematian.
Perkembangan gejala pada Penyakit Parkinson dapat berlangsung 20
tahun atau lebih. Pada beberapa orang, namun, penyakit berlangsung lebih
cepat. Tidak ada cara untuk memprediksi apa saja penyakit akan mengambil
untuk seorang individu. Dengan perawatan yang tepat, kebanyakan orang
dengan Penyakit Parkinson dapat hidup produktif selama bertahun-tahun
setelah diagnosis. Ada beberapa indikasi bahwa penyakit Parkinson
memperoleh resistensi terhadap terapi obat oleh berkembang menjadi
gangguan Parkinson-plus, biasanya Lewy Body Dementia, meskipun transisi
ke Progresif supranuclear Palsy atau Multiple System Atrophy tidak
diketahui.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 19

20

ASUHAN KEPERAWATAN
Kasus:
Tuan B, usia 65 tahun masuk RS dengan keluhan insomnia, gangguan
keseimbangan (sering jatuh), tremor pada tangan. Diagnosa didapatkan Parkinson.
Terapi yang didapatkan Phenothiazine, Reserpine.
Pertanyaan :
Berdasarkan kasus diatas intervensi keperawatan yang dapat dilakukan pada Tuan
B?
Pengkajian
1. identitas
Nama Klien

: Tn. B

Umur

: 65 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki


Diagnosa

: Parkinson

2. Keluhan utama: gangguan keseimbangan


3. Riwayat penyakit sekarang
Klien mengalami insomnia, gangguan keseimbangan (sering jatuh), dan
tremor pada tangan.
4. Riwayat penyakit terdahulu
Tanyakan pada klien apakah sebelumnya mempunyai riwayat hipertensi,
penyakit jantung, diabetes mellitus, anemia, penggunaan obat-obatan anti
koagulan, aspirin vasodilator, dan obat-obat antikolinergik dalam jangka
waktu yang lama.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Menanyakan apakah ada anggota keluarga terdahulu yang menderita
hhipertensi dan diabetes mellitus.
6. Riwayat psiko-sosio-spiritual
Menilaki respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya,
perubahan peran klien pada keluarga dan masyarakat, respon atau
pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari.
Pemeriksaan Penunjang
1. Analisis cairan serebrospinalis

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 20

21

Hasil menunjukkan adanya penurunan kadar dopamin.


2. MRI / CT-scan kepala.
Pada penyakit parkinson kemungkinan didapatkan gambaran pelebaran
ventrikel.
3. PET ( Positron Emission Tomography )
Pada klien dengan parkinson hasil PET scan menunjukkan penurunan
metabolisme otak, pengurangan cerebral blood flow terutama sekali di
ganglia basalis.
Diagnosa Keperawatan
1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuatan dan ketahanan
sekunder akibat parkinson.
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan :
menggerakkan makanan, mengunyah, dan menelan.
3. Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan kemampuan
bicara dan kekakuan otot wajah.
4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sering terbangun sekunder
akibat Parkinson.
5. Resiko cedera berhubungan dengan ketidakmampuan mengontrol gerakan
sekunder terhadap spastisitas
6. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan neuromuskular,
menurunnya kekuatan, kehilangan kontrol otot/koordinasi.
7. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan depresi dan disfungsi
karena perkembangan penyakit
Intervensi Keperawatan
1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuatan dan ketahanan
sekunder akibat parkinson.
Tujuan: Dalam waktu 2 x 24 jam klien mampu melakukan aktivitas fisik
sesuai dengan kemampuannya
Kriteria Hasil : tremor hilang/berkurang, klien ikut serta dalam program
latihan, tidak terjadi kontraktur sendi, bertambahnya kekuatan otot,
ketahanan dan klien menunjukkan tidakan untuk meningkatkan mobilitas

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 21

22

No. Intervensi
1.

Rasional

Kaji mobilitas yang ada dan Mengetahui tingkat kemampuan klien


observasi terhadap peningkatan dalam melakukan aktivitas.
kerusakan

2.

Lakukan

latihan Meningkatkan

program

meningkatkan kekuatan otot.

koordinasi

ketangkasan,

menurunkan

dan
kekakuan

otot,dan mencegah kontraktur bila otot


tidak digunakan
3.

Anjurkan mandi air hangat dan Membantu otot otot rileks pada
aktifitas pasif dan aktif serta mengurangi

masase otot.

nyeri otot yang mengakibatkan kekakuan


otot.
4.

Bantu klien melakukan latihan Memelihara flexsibilitas sendi sesuai


ROM dan perawatan diri sesuai kemampuan.
toleransi

5.

Kolaborasi

ahli

fisioterapi Peningkatan

kemampuan

dalam

mobilisasi ekstramitas dapat ditingkatkan

untuk latihan fisik klien

dengan latihan fisik dari tim fisioterapis.


6.

Kolaborasi

pemberian

Pramipexole,

obat Mengurangi

kekakuan

gerak

yang

Levodopa- disebabkan oleh parkinson.


Mengurangi tremor dan kekakuan otot

Karbidopa

dan memperbaiki gerakan

2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan :


menggerakkan makanan, mengunyah, dan menelan.
Tujuan : Dalam 2 x 24 jam nutrisi klien terpenuhi.
Kriteria Hasil : BB klien betambah, Klien mampu makan tanpa kesulitan,
nafsu makan bertambah dan habis.
No. Intervensi
1.

Rasional

Berikan posisi duduk tegak lurus saat Mencegah


makan

2.

Ajarkan

terjadinya

refluks

makanan
klien

untuk

berpikir saat Melatih otot-otot wajah dan

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 22

23

menelan-menutup
bersama-sama,

bibir

dan

mengangkat

gigi mulut agar klien tidak kesulitan


lidah dalam menelan.

dengan makanan di atasnya, kemudian


menggerakkan lidah ke belakang dan
menelan sambil mengangkat kepala ke
belakang.
3.

Beritahu

klien

untuk

mengontrol Saliva akan membuat makanan

akumulasi saliva secara sadar dengan lebih lunak dan mempermudah


memegang kepala dan menelan secara dalam menelan.
periodik.
4.

Berikan rasa aman pada klien, makan Mengurangi resiko tersedak pada
dengan

stabil

dan

menggunakan klien.

peralatan yang membantu.


5.

Anjurkan makan dalam porsi kecil, Makan dalam porsi kecil dan
lunak dan tambahkan makanan selingan sering

serta

snack

dapat

mengurangi mual dan usaha

(snack).

dalam mengunyah tidak terlalu


berat.
6.

Kolaborasikan dengan ahli gizi untuk makanan


menambah makanan suplemen

7.

8.

Kolaborasi

pemberian

obat

suplemen

dapat

menambah asupan kalori klien.


misal Mengontrol mual, muntah dan

phenothiazine

pusing

Monitor berat badan.

Mengetahui perkembangan BB
klien.dan apakah asupan kalori
sudah adekuat.

3. Hambatan komunikasi berhubungan dengan penurunan kemampuan bicara


dan kekakuan otot wajah
Tujuan : Dalam 3 x 24 jam klien mampu memaksimalkan kemampuan
berkomunikasi.
Kriteria hasil : klien dapat berkomunikasi dengan jelas, tidak pelo.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 23

24

No. Intervensi
1.

Rasional

Ajarkan klien latihan wajah dan Nafas dalam sebelum berbicara dapat
menggunakan metoda bernafas meningkatkan volume suara dan jumlah
untuk memperbaiki kata-kata, kata dalam kalimat setiap bernafas.
volume, dan intonasi.

2.

Latih berbicara dalam kalimat untuk memonitor kemajuan klien dalam


pendek,

membaca

keras

di berbicara.

depan kaca atau ke dalam


3.

perekam suara (tape recorder)


Kolaborasi

membantu

dalam

membentuk

terapis peningkatan latihan percakapan serta

dengan

wicara.

mengembangkan metoda komunikasi


untuk memenuhi kebutuhan pasien.

1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sering terbangun sekunder


akibat Parkinson.
Tujuan : Dalam 2 x 24 jam kebutuhan tidur pasien terpenuhi.
Kriteria Hasil : Jumlah dan tidur klien tidak terganggu (kurang lebih 6-8
jam), tidak ada masalah dengan pola, kualitas, dan rutinitas tidur atau
istirahat klien.
No. Intervensi
1.

Rasional

Ciptakan suasana yang mendukung, Suasana yang nyaman dan tenang


suasana

nyaman,

tenang

dengan dapat meningkatkan jumlah jam

mengurangi kebisingan.
2.

Beri

kesempatan

tidur klien.
klien

untuk Mencegah timbulnya gangguan

mengungkapkan penyebab gangguan tidur.


tidur
3.

Kolaborasi pemberian obat tidur.

Meningkatkan

jumlah

dan

kualitas tidur klien.

2. Resiko cedera berhubungan dengan ketidakmampuan mengontrol gerakan


sekunder terhadap spastisitas
Tujuan : klien tidak mengalami cidera fisik

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 24

25

Kriteria hasil:
1. Keluarga memberikan lingkungan yang aman untuk klien (koridor diberi
pegangan atau berjalan, bed klien diberi penghalang, membantu mobilisasi
klien)
2. Klien bebas dari cedera
No. Intervesi

Rasional

1.

Beri bantalan pada perabot

Untuk perlindungan

2.

Pasang pagar tempat tidur

Untuk mencegah agar tidak


jatuh

3.

Anjurkan istirahat yang cukup

Karena

keletihan

dapat

meningkatkan resiko cedera


4.

Guakan restrain bila klien berada di kursi Meminimalisir resiko cedera


atau kendaraan

5.

Lakukan

tekhnik

menggerakkan,

yang

benar

untuk Mencegah agar tidak jatuh

memindahkan

dan dan terajadi cidera

memanipulasi bagian tubuh yang paralisis


6.

Implementasi tindakan keamanan yang Terdapat kehilangan sensasi


tepat untuk mencegah cedera termal

7.

pada area yang sakit

Berikan helm pelindung pada klien yang Mencegah cedera kepala


cenderung

jatuh

dan

dorong

untuk

menggunakannya

3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan neuromuskular,


menurunnya kekuatan, kehilangan kontrol otot/koordinasi.
Tujuan : Perawatan diri klien terpenuhi.
Kriteria :
 Klien dapat menunjukkan perubahan hidup untuk kebutuhan merawat
diri,
 Klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat
kemampuan,
 Mengidentifikasi personal/masyarakat yang dapat membantu.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 25

26

Intervensi
1. Kaji kemampuan dan tingkat

Rasional
1. Membantu dalam mengantisipasi dan

penurunan dan skala 0 4 untuk

merencanakan pertemuan kebutuhan

melakukan ADL

individual

2. Hindari apa yang tidak dapat

2. Klien dalam keadaan cemas dan

dilakukan klien dan bantu bila

tergantung hal ini dilakukan untuk

perlu.

untuk mencegah frustasi dan harga


diri klien.

3. Kolaborasi pemberian pencahar

3. Pertolongan utama terhadap fungsi

dan konsul ke dokter terapi

usus atau defekasi,untuk

okepasi.

mengembangkan terapi dan


melegkapi kebutuhan khusus.

4. Ajarkan dan dukung klien selama

4. Dukungan pada klien selama aktifitas


kehidupan sehari-hari dapat

klien aktifitas.

meningkatkan perawatan diri.


5. Modifikasi lingkungan

5. Modifikasi lingkungan diperlukan


untuk mengompensasi
ketidakmampuan fungsi

4. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan depresi dan disfungsi


karena perkembangan penyakit.
Tujuan : Koping individu menjadi efektif
Kriteria :
1) Klien mampu menyatakan atau mengkomunikasikan dengan orang
terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi mampu
menyatakan penerimaan diri terhadap situasi mengakui dan
mengembangkan perubahan kedalam konsep diri dengan cara yang
akurat tanpa harga diri yang negatif.
Intervensi
1. Kaji perubahan dari ganguan

Rasional
1. Menentukan bantuan individual

persepsi dan hubungan dengan

dalam menyusun rencana perawatan

derajat ketidakmampuan.

atau penilaian intervensi.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 26

27

2. Anjurkan orang yang terdekat

2. Menghidupkan kembali perasaan

untuk mengizinkan klien

kemandirian dan membantu

melakukan sebanyak banyaknya

perkembangan harga diri srta

hal untuk dirinya.

mempengaruhin proses rehabilitasi.

3. Bantu dan anjurkan perawat baik


dengan memperbaiki kebiasaan

3. Membantu meningkatkan perasaan


harga diri dan mengontrol lebih dari
satu area kehidupan.

4. Kolaborasi: rujuk pada ahli

4. Dapat memfasilitasi perubahan peran

neuropsikologi dan konseling bila

yang penting untuk perkembangan

ada indikasi

perasaan.kerja sama fisioterapi terapi


obat-obatan dan dukungan partisipasi
kelompok dapat menolong mengurani
depresi yang sering muncul pada
keadaaan ini.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 27

28

PENUTUP

Kesimpulan
Penyakit Parkinson adalah suatu penyakit yang ditandai oleh tremor
saat istirahat, rigiditas, bradikinesia dan hilangnya refleks postural, dan secara
patologi berupa degenerasi neuron berpigmen neuromielanin terutama di pars
kompakta nigra yang disertai adanya inklusi sel neuron eusinofilik atau
disebut Lewys bodies.
Manifestasi utama penyakit Parkinson adalah gangguan gerakan, kaku
otot, tremor menyeluruh, kelemahan otot, dan hilangnya refleks postural.
Penyakit Parkinson merupakan suatu penyakit dengan gangguan pada ganglia
basalis akibat penurunan atau tidak adanya pengiriman dopamine dari
substansia nigra ke globus palidus. Sedangkan sindrom Parkinson adalah
penyakit yang menyerupai penyakit Parkinson, namun memiliki etiologi
tertentu yang sebagian atau seluruhnya diketahui.
Gejala klinis terdiri dari 3 gejala yang selalu bangkit dalam kombinasi
(trias) yaitu tremor-rigiditas-akinesia/bradikinesia dapat diobati sesuai dengan
terapi penyakit Parkinson, disamping terapi kausatif sesuai dengan diagnosis.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 28

29

DAFTAR PUSTAKA

Burton, K., & Calne, D.B. 1984 Pharmacology of Parkinsons disease.Neurologic


Clinics; 2: 461-72.
Carpenito, Lynda Jual. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis
Edisi 6. Jakarta: EGC
Doengoes, Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
Gibb, W.R.G. 1988 Establishing a diagnosis of Parkinson plus syndromes. Neurol
Neurosurg, 1: 275-8
Ginsberg, Lionel. 2008. Lecturer Notes: Neurologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Helme, R.D. 1982. Movement disorders, dalam MA Samuels (ed): Manual of
Neurologic Therapeutics with Essentials of Diagnosis. Medical Sciences
International, Tokyo, pp. 343-64.
Harsono, 2007. Kapita Selekta Neurologi. Jogjakarta: Gadjah Mada University
Press
Harsono, 2007. Buku Ajar Neurologi Klinis. Jogjakarta: Gadjah Mada University
Press
Marsden, C.D. 1984 The pathophysiology of movement disorders. Neurologic
Clinics 2: 435-59.
Moses, H. III. 1985 Parkinsons disease, dalam RT Johnson (ed): Current
Therapy in Neurologic Disease: CV Mosby, London pp 236-43
Mumenthaler, Mark. 1995. Neurology. Jakarta: Binarupa Aksara.
Yusuf, Abu M. dkk, 2001. Consensus Tatalaksana Penyakit Parkinson: Kelompok
Studi Movement Disorders Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf
Indonesia.
Quinn, N.P. 1985 Anti-Parkinsonian drug today: Part 1. Medical progress. 8: 5666.
Rinne, U.K. 1983 Anew approach to the treatment of Parkinsons disease, Acta
Neurol. Scand. Suppl 95.
Sidharta, P. 1988 Terapi medicinal penyakit Parkinson dan Parkinsonisme Medika
4: 364-9.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 29

30

Suddart & Bruner. 2001. Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC hal 2190-2192.
Young, A.B., & Penney, J.B. 1984 Neurochemical anatomy of movement
disorders, Neurologic Clinic 2: 417-33.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 30