Anda di halaman 1dari 19

HUKUM PERJANJIAN

Aspek Hukum Perjanjian Jual Beli Melalui Internet

Pendahuluan

Dalam era millenium ini, teknologi memegang peranan yang besar dalam

kehidupan manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern ini akan

mempengaruhi dan memberikan dampak dalam berbagai perubahan dalam kinerja

manusia.

Salah satu produk inovasi dalam teknologi komunikasi adalah internet

(interconection networking) yaitu suatu koneksi antara jaringan komputer.

Penggunaan internet saat ini telah memasuki berbagai aktivitas manusia, baik dalam

sektor politik, sosial, budaya, maupun ekonomi dan bisnis.

Dalam bidang perdagangan, internet mulai banyak dimanfaatkan sebagai media

aktivitas bisnis terutama karena perannya terhadap efisiensi. Perdagangan melalui

internet ini populer disebut dengan e-commerce (electronic commerce). Namun

berbagai kendala muncul sehubungan dengan pengembangan e-commerce seperti

keterbatasan infrastruktur, ketiadaan undang-undang, jaminan keamanan transaksi

dan terutama sumber daya manusia. Dalam bidang hukum hingga saat ini Indonesia

belum memiliki perangkat hukum yang mengakomodasi perkembangan e-commerce.

1
Padahal hal ini merupakan salah satu unsur penting di dalam hubungan

perdagangan/bisnis. 1

Dengan latar belakang demikian, penulis melalui makalah ini akan mencoba

membahas mengenai perjanjian-perjanjian yang dilakukan melalui internet,

dikarenakan belum terdapatnya regulasi yang mengatur mengenai hal tersebut, maka

apakah transaksi yang terjadi melalui internet tersebut telah memenuhi syarat sahnya

suatu perjanjianyang diatur dalam pasal 1320 KUHPerdata, kapankah saat lahirnya

perjanjian dalam transaksi tersebut, dan siapakah pihak yang terlibat dalam e-

commerce selain penjual dan pembeli.

II. Sumber Perikatan dan Hubungan Perikatan dengan Perjanjian

Untuk dapat mengetahui hal-hal yang dipertanyakan di atas maka kita perlu

melihat terlebih dahulu dasar hukum dari perjanjian-perjanjian yang ada di Indonesia.

Berdasarkan Kitab Undang-undang Hukum Perdata pasal 1313 disebutkan bahwa

perjanjian adalah suatu perbuatan di mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya

terhadap satu orang lain atau lebih. Seorang atau lebih berjanji kepada seorang lain

atau lebih atau saling berjanji untuk melakukan sesuatu hal. Ini merupakan suatu

peristiwa yang menimbulkan satu hubungan hukum antara orang-orang yang

membuatnya, yang disebut perikatan.

1
Raharjo, Budi, Info Komputer, edisi Oktober 1999, hal 7

2
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam suatu perikatan terkandung hal-hal

sebagai berikut:2

Adanya hubungan hukum

mengenai kekayaan atau harta benda

antara dua orang/pihak atau lebih

memberikan hak kepada pihak yang satu, yaitu kreditur

meletakkan kewajiban pada pihak yang lain, yaitu debitur

adanya prestasi

Prof Subekti menulis bahwa perikatan adalah suatu hubungan hukum (mengenai

kekayaan harta benda) antara dua orang, yang memberi hak kepada yang satu untuk

menuntut barang sesuatu dari yang lainnya sedangkan orang yang lainnya ini

diwajibkan memenuhi tuntutan itu.3

1) Subjek Perjanjian

Subjek dalam perjanjian adalah:

a. Natural person (orang-natuurlijk persoon/private person)

b. Legal entity (badan hukum-rechtpersoon/artificial person)

Terdiri dari kreditur dan debitur sebagai para pihak.

a. Kreditur adalah pihak yang berhak atas sesuatu dari pihak lain/debitur

2
Rai Widjaya, I.G. Merancang Suatu Kontrak, hal 21, Jakarta:Megapoin, 2003.
3
Ibid, hal 22

3
b. Debitur, berkewajiban memnuhi sesuatu kepada kreditur.

2) Objek Perjanjian

Hak dan kewajiban untuk memenuhi sesuatu yang disebut prestasi, yang menurut

undang-undang bisa berupa:4

Menyerahkan sesuatu, bisa memberikan benda atau memberikan sesuatu

untuk dipakai

Melakukan sesuatu

Tidak melakukan sesuatu

3) Asas-asas Dalam Hukum Perjanjian

Beberapa asas-asas penting dalam Hukum Perjanjian diantaranya:5

a. Tidak boleh main hakim sendiri

Meskipun hukum menjamin hak seseorang sebagai pihak yang beritikad baik

untuk memperoleh perlindungan atas hak-haknya yang dilanggar, dengan

adanya asas tidak boleh main hakim sendiri pihak yang merasa dirugikan

dapat menegakkan haknya menurut prosedur dan ketentuan hukum yang

4
Ibid.
5
Ibid, hal 31.

4
berlaku. Artinya pihak yang dirugikan tidak bisa sekehendak hatinya meminta

kepada pihak lain supaya perjanjian itu segera dipenuhi, atau dengan cara-

caranya sendiri memaksa pihak lain untuk memenuhi perjanjian. Tetapi tidak

berarti bahwa hak yang dimiliki oleh yang bersangkutan untuk menegakkan

kepentingannya akan hilang atau tidak ada, melainkan dapat ditegakkan

melalui prosedur yang berlaku, yaitu melalui pengadilan atau meminta

bantuan hakim.

b. Kebebasan berkontrak

Dalam Hukum Perjanjian dianut sistem terbuka yang artinya bahwa hukum

perjanjian memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada masyarakat

untuk mengadakan perjanjian yang berisi apa saja, asalkan tidak melanggar

ketertiban umum dan kesusilaan. Pasal-pasal dari Hukum Perjanjian

merupakan apa yang dinamakan hukum pelengkap, yang berarti bahwa pasal-

pasal itu boleh diabaikan manakala dikehendaki oleh yang membuat suatu

perjanjian. Mereka diperbolehkan untuk mengatur sendiri kepentingan mereka

dalam perjanjian-perjanjian yang mereka adakan itu. Kalau mereka tidak

mengatur sendiri sesuatu hal, berarti mereka akan tunduk kepada undang-

undang mengenai hal itu.6

6
Subekti, Hukum Perjanjian, Cetakan XVI, hal 17, Jakarta: Intermasa, 1987

5
Sistem terbuka yang mengandung suatu asas kebebasan membuat perjanjian,

dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata diatur dalam pasal 1338 ayat

(1), yang berbunyi:

Semua Perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang

bagi mereka yang membuatnya

c. Konsensualisme

Asas konsensual termuat dalam pasal 1320 KUHPerdata. Asas konsensual

menganut paham dasar bahwa suatu perjanjian itu sudah lahir sejak saat

tercapainya kata sepakat. Pada detik tercapainya kesepakatan, lahirlah suatu

perjanjian.

Menurut pasal 1458 KUHPerdata, disebutkan bahwa:

Jual beli dianggap telah terjadi seketika setelah tercapai kata sepakat

tentang benda dan harganya, meskipun barang itu belum diserahkan dan

harganya belum dibayar.

Jadi menurut asas konsensual, perjanjian itu sudah ada dan sah mengikat

apabila sudah dicapai kesepakatan mengenai hal-hal dalam perjanjian, tanpa

diperlukan lagi adanya suatu formalitas, kecuali ditetapkan berdasarkan

6
undang-undang, seperti perjanjian perdamaian yang harus dibuat secara

tertulis

4) Syarat-syarat Sahnya Suatu Perjanjian

Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat:

1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya

2. Cakap untuk membuat suatu perjanjian

3. Mengenai suatu hal tertentu

4. Suatu sebab yang halal

Dua syarat yang pertama dinamakan syarat-syarat subjektif, karena mengenai

orang-orangnya atau subjeknya yang mengadakan perjanjian, sedangkan dua

syarat yang terakhir dinamakan syarat-syarat objektif karena mengenai

perjanjiannya sendiri atau objek dari perbuatan hukum yang dilakukannya itu.7

Kesepakatan para pihak yang terlibat dalam perjanjian merupakan hal penting.

Dengan sepakat, kedua subjek yang mengadakan perjanjian setuju mengenai hal-

hal pokok dari perjanjian yang diadakan. Apa yang dikehendaki oleh pihak yang

satu, juga dikehendaki oleh pihak yang lain.

Ibid, hal. 17

7
Orang yang membuat suatu perjanjian harus cakap menurut hukum. Pada

dasarnya, setiap orang yang sudah dewasa atau akilbalig dan sehat pikirannya

adalah cakap menurut hukum. Dalam pasal 1330 KUHPerdata disebutkan

mengenai orang-orang yang tidak cakap untuk membuat suatu perjanjian:

1. orang-orang yang belum dewasa

2. mereka yang ditaruh di bawah pengampuan

3. orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh Undang-undang dan

semua orang kepada siapa Undang-undang telah melarang membuat

perjanjian-perjanjian tertentu.

Untuk orang yang belum dewasa diwakili oleh walinya, sedangkan untuk orang

yang tidak sehat pikirannya diwakili oleh pengampunya karena

ketidakmampuannya untuk melakukan tindakan hukum, tanggung jawab yang

harus dipikul serta akibatnya.

Menurut KUHPerdata, seorang perempuan yang bersuami, untuk mengadakan

suatu perjanjian, memerlukan bantuan atau izin (kuasa tertulis) dari suaminya

(pasal 108 KUHPerdata). Namun berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung

No.3 Tahun 1963 yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan seluruh Indonesia,

menyatakan antara lain bahwa pasal 108 dan 110 KUHPerdata tidak berlaku lagi.8

8
Ibid, hal 19

8
Syarat yang ketiga bahwa suatu perjanjian harus mengenai suatu hal tertentu,

artinya apa yang diperjanjikan hak-hak dan kewajiban kedua belah pihak jika

timbul suatu perselisihan. Barang yang dimaksudkan dalam perjanjian paling

tidak harus sudah ditentukan jenisnya.

Syarat keempat untuk suatu perjanjian yang sah adalah suatu sebab yang halal.

Dengan sebab ini dimaksudkan bahwa pada isi perjanjian. Sebab yang halal bukan

pada sesuatu yang menyebabkan seseorang membuat perjanjian termaksud.

Hukum pada asanya tidak menghiraukan apa yang berada dalam gagasan seorang

atau pada apa yang dicita-citakan seorang. Yang diperhatikan oleh hukum atau

undang-undang hanyalah tindakan orang-orang dalam masyarakat.9

Jadi yang dimaksud dengan sebab atau causa dari suatu perjanjian adalah isi

perjanjian itu sendiri. Jika seorang membeli pisau di toko dan dengan maksud

untuk membunuh orang, jual beli pisau itu mempunyai suatu sebab yang halal

seperti jual beli barang-barang lainnya. Lain halnya apabila soal membunuh itu

dimasukkan dalam perjanjian misalnya, si penjual hanya bersedia menjual

pisaunya, kalau si pembeli membunuh orang. Isi perjanjian ini menjadi sesuatu

yang terlarang.

9
Ibid,

9
Jika syarat-syarat sah tersebut di atas atau salah satu syarat tidak terpenuhi maka

hal ini harus dilihat terlebih dahulu antara syarat subjektif dengan syarat objektif.

Dalam hal syarat objektif, kalau syarat itu tidak terpenuhi, perjanjian itu batal

demi hukum. Artinya dari semula tidak pernah dilahirkan suatu perjanjian dan

tidak pernah ada suatu perikatan.

Sedangkan untuk syarat subjektif, jika syarat itu tidak terpenuhi, perjanjiannya

bukan batal demi hukum tetapi salah satunya pihak mempunyai hak untuk

meminta supaya perjanjian itu dibatalkan. Pihak yang dapat meminta pembatalan

itu adalah pihak yang tidak cakap atau pihak yang memberikan sepakatnya

(perizinannya) secara bebas.

Yang dapat meminta pembatalan dalam hal seorang anak yang belum dewasa

adalah anak itu sendiri apabila ia sudah dewasa atau orang tua/walinya. Dalam hal

seorang yang berada di bawah pengampuan, maka pengampunya. Dalam hal

seorang yang telah memberikan sepakat atau perizinannya secara tidak bebas,

orang itu sendiri.

III. Perjanjian Jual Beli E-commerce

Saat ini perkembangan teknologi semakin modern, khususnya perkembangan

dalam teknologi komputer. Semua berkembang dengan cepat namun tidak seiring

10
dengan perkembangan hukum berupa peraturan yang mengaturnya. Masyarakat

dituntut untuk melakukan segalanya dengan lebih cepat, begitupun dalam melakukan

berbagai transaksi jual beli. Lintas negara dan lintas waktu bukan lagi menjadi

masalah.

Transaksi sat ini tidak hanya dilakukan secara konvensional tetapi juga melalui

media internet. Di Indonesia jual beli melalui internet ini sudah ada dan dikenal sejak

tahun 1996 dengan munculnya situs http://www.sanur.com sebagai toko buku online

pertama. Namun pengaturan mengenai jual beli melalui internet ini belum terdapat

peraturan khususnya. Saat ini terdapat Rancangan Undang-Undang mengenai

Telematika, yang di dalamnya mengatur mengenai aspek-aspek dalam dunia

komunikasi melalui komputer beserta dampak-dampaknya. Namun sampai saat

inibelum disahkan, maka perjanjian yang terjadi pengaturannya berdasarkan hukum

perjanjian non elektronik yang berlaku.

Hukum Perjanjian Indonesia menganut asas kebebasan berkontrak berdasarkan

pasal 1338 KUHPerdata. Asas ini memberi kebebasan kepada para pihak yang

sepakat untuk membentuk suatu perjanjian untuk menentukan sendiri bentuk dan isi

suatu perjanjian. Dengan demikian para pihak yang membuat perjanjian dapat

mengatur sendiri hubungan hukum diantara mereka.

Sebagaimana dalam perjanjian konvensional, e commerce menimbulkan perikatan

antara para pihak untuk memberikan suatu prestasi. Dan dampak dari perikatan itu

11
adalah timbulnya hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh para pihak yang

terlibat.

Jual beli merupakan salah satu jenis perjanjian yang diatur dalam KHUPerdata,

sedangkan e-commerce merupakan model perjanjian jual beli yang mempergunakan

sarana modern berupa internet sebagai media transaksi. Karena belum terdapatnya

pengaturan yang khusus, dengan demikian selama tidak diperjanjikan lain, maka

ketentuan umum tentang perikatan dan perjanjian jual beli yang diatur dalam Buku III

KUHPerdata berlaku sebagai dasar hukum aktifitas transaksi e-commerce di

Indonesia. Penyelesaian sengketa pun mengacu kepada aturan di dalam KUHPerdata

tersebut.10

A. Perjanjian jual beli konvensional

Dalam perjanjian jual beli konvensioanl, yang harus diserahkan oleh

penjual kepada pembeli adalah hak milik atas barangnya, jadi bukan hanya

sekedar kekuasaan atas barang tadi. Yang harus dilakukan adalah penyerahan

barang atau levering secara yuridis.

Menurut hukum perdata ada tiga macam penyerahan yuridis, yaitu:11

a. penyerahan barang bergerak

10
http:// www.geocities.com/yogyacarding/ hukum_di_internet_mau_kemana.htm.
11
Opcit, Subekti, hal 79

12
Dilakukan dengan penyerahan nyata atau menyerahkan kekuasaan atas

barangnya (pasal 612 KUHPerdata)

b. penyerahan barang tak bergerak

Melalui akta transport dalam register tanah, pembuatan akta jual beli oleh

Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)

c. penyerahan piutang atas nama

Dengan pembuatan sebuah akta Cessie, pasal 613 KUHPerdata.

Perjanjian jual beli memiliki sifat konsensuil, artinya Jual beli dianggap telah

terjadi antara kedua belah pihak sewaktu mereka telah mencapai sepakat tentang

barang dan harga meskipun barang itu belum diserahkan maupun harganya belum

dibayar.(pasal 1458 KUHPerdata)

B. Perjanjian Jual Beli Melalui Internet

Suatu transaksi atau perjanjian harus memenuhi syarat sahnya suatu

perjanjian. Karena prinsip yang dianut oleh KUHPerdata merupakan prinsip

universal dari transaksi. Perkembangan teknologi tidak dapat dihindari dan karena

pemahaman yang berkembang selama ini, syarat perjanjian yang tertera dalam

pasal 1320 KUH Perdata hanya bisa berlaku untuk transaksi konvensional.

Padahal tidak demikian halnya, perkembangan teknologi adalah satu dari sebuah

13
realitas teknologi. Realitas teknologi hanya berperan untuk membuat hubungan

hukum konvensional bisa berlangsung efektif dan efisien. 12

Saat terjadinya transaksi dalam perjanjian e-commerce ini, terdapat beberapa teori

diantaranya:13

a. Teori Kehendak

Dikaitkan dengan teori ini maka terjadinya kontrak adalah ketika pihak

penerima menyatakan penerimaannya dengan menulis e-mail.

b. Teori Pengiriman,

Menurut teori ini terjadinya kontrak adalah pada saat penerima mengirim e-

mail.

c. Teori Pengetahuan

Menurut teori ini terjadinya kontrak adalah sejak diketahuinya e-mail dari

penerima oleh penawar.

d. Teori Kepercayaan

Menurut teori ini kontrak terjadi pada saat pernyataan penerimaan tersebut

selayaknya telah diterima oleh penawar.

Dalam transaksi jual beli dikenal proses pembayaran dan penyerahan barang.

Konsep dari jual beli tersebut tetap ada dimana dengan adanya internet atau e-

commerce hanya membuat transaksi jual beli atau hubungan hukum yang terjadi
12
Ramli, Ahmad M, Prinsip-prinsip Cyber Law dan Kendala Hukum Positif Dalam Menanggulangi Cyber
Crime, Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, 2004.
13
http://202.183.1.26:2121/pls/PORTAL30/indoreg.irp_analysis, Supancana, B.R. DRI, Kekuatan Akta
Elektronis Sebagai Alat Bukti Pada Transaksi E-commerce Dalam Sistem Hukum Indonesia, , 2003.

14
menjadi lebih singkat, mudah dan sederhana. Kapankan suatu perjanjian dalam

transaksi e-commerce tersebut berlangsung, akan berhubungan dengan para pihak

yang melakukan transaksi tersebut. Dalam transaksi jual beli biasa, perjanjian

berakhir pada saat masing-masing pihak melakukan kewajibannya masing-

masing, pembeli menyerahkan uang dan penjual menyerahkan barang.

Tidak berbeda dengan transaksi yang berlangsung secara online, walaupun tidak

seperti transaksi biasa. Dalam transaksi online, tanggung jawab (kewajiban) atau

perjanjian dibagi kepada para pihak yang terlibat dalam jual beli tersebut.

Sedikitnya ada empat pihak yang terlibat di dalam transaksi online. Pihak tersebut

antara lain perusahaan penyedia barang (penjual), pembeli, perusahaan penyedia

jasa pengiriman, dan jasa pembayaran.14

Dalam transaksi online terdapat bagian-bagian tanggung jawab pekerjaan yaitu

untuk penawaran, pembayaran pengiriman. Pada proses penawaran dan proses

persetujuan jenis barang yang dibeli, maka transaksi antara penjual dan pembeli

selesai. Penjual menerima persetujuan jenis barang yang dipilih dan pembeli

menerima konfirmasi bahwa pesanan atau pilihan barang telah diketahui oleh

penjual.

14

http//:www.hukumonline.com, Seto, Sulung Anggoro, Transaksi Melalui Internet dan aspek Hukumnya.

15
Dapat dikatakan bahwa transaksi antara penjual dan pembeli dalam tahapan

persetujuan barang telah selesai sebagian sambil menunggu barang yang telah

dipesan tadi tiba atau diantar ke alamat pembeli. Dalam transaksi yang melibatkan

pihak bank, maka bank baru akan mengabulkan permohonan dari pembeli setelah

penjual menerima konfirmasi dari Bank yang ditunjuk penjual dalam transaksi e-

commerce tersebut. Setelah penjual menerima konfirmasi bahwa pembeli telah

membayar harga barang yang dipesan, selanjutnya penjual akan melanjutkan atau

mengirimkan konfirmasi kepada perusahaan jasa pengiriman untuk mengirimkan

barang yang dipesan ke alamat pembeli.

Setelah semua proses tersebut dilakukan, di mana ada proses penawaran,

pembayaran, dan penyerahan barang maka perjanjian tersebut dikatakan selesai

seluruhnya atau perjanjian tersebut telah berakhir.

Pihak yang terkait langsung dalam transaksi paling tidak ada empat pihak yang

terlibat, diatas telah disebutkan antara lain; penjual, pembeli, penyedia jasa

pembayaran, penyedia jasa pengiriman.

16
Sama seperti sahnya perjanjian/kontrak pada umumnya, keabsahan suatu transaksi

elektronis sebenarnya tidak perlu diragukan lagi sepanjang terpenuhinya syarat-

syarat kontrak.15 Dalam sistem hukum Indonesia, sepanjang terdapat kesepakatan

diantara para pihak; cakap mereka yang membuatnya; atas suatu hal tertentu; dan

berdasarkan suatu sebab yang halal, maka transaksi tersebut seharusnya sah,

meskipun melalui proses elektronis.

Untuk mendukung pandangan tersebut, dalam lingkup internasional terdapat

beberapa ketentuan yang dapat menjadi acuan, antara lain:16

a. The United Nations Conference on International Trade Law (UNCITRAL)

Model Law on E-Commerce of 1996, yang merumuskan bahwa akibat,

keabsahan atau dapat ditegakkannya suatu informasi tidak dapat disangkal

semata-mata karena formatnya sebagai pesan data (data message).

b. The European Union (EU) Directive on E-Commerce of 2000:

menegaskan bahwa negara anggotanya wajib menjamin bahwa sistem hukum

mereka memungkinkan kontrak dibuat dengan sarana elektronis;

c. Singapores E-Transaction Act of 1998: merumuskan bahwa untuk

menghindari keraguan, dinyatakan bahwa informasi tidak dapat disangkal

akibat hukumnya, keabsahannya maupun kemampuan untuk ditegakkannya

15
Opcit, Supancana.
16
Ibid.

17
semata-mata dengan alasan bahwa informasi tersebut dalam bentuk rekaman

elektronis.

Penandatanganan atas transaksi tersebut dalam bentuk digital signature

merupakan bentuk persetujuan pihak pembeli atas informasi yang diberikan dan

atas transaksi yang telah diketahuinya.

Dengan demikian transaksi tersebut setelah melalui alur yang telah

dijelakan di atas maka perjanjian tersebut berakhir. Jadi transaksi e-commerce

yang dilakukan melalui media internet telah memenuhi persyaratan dalam 1320

KUHPerdata.

IV. Kesimpulan

Dalam dunia yang serba cepat dan modern saat ini perkembangan teknologi

merupakan salah satu hal yang tidak bisa kita elakkan, globalisasi merupakan syarat

dalam mengikuti perkembangan dunia. Perkembangan teknologi memberikan

kemudahan tersendiri dalam melakukan aktifitas-aktifitas termasuk dalam melakukan

transaksi jual beli. Jual beli secara konvensional telah didampingi dengan transaksi

jual beli yang dilakukan secara elektronik melalui media komputer. Dalam kaitannya

dengan syarat-syarat sahnya perjanjian, dikarenakan belum terdapatnya aturan khusus

mengenai hal ini maka pengaturan didasarkan pada Buku III KUHPerdata, dan unsur-

unsur dalam pasal tersebut telah terpenuhi dalam transaksi e-commerce denagn

18
penjelasan yang telah dikemukakan. Penulis berharap dengan semakin

berkembangnya teknologi, peraturan yang akan menjadi dasar pelaksanaan dari

aktifitas-aktifitas yang berhubungan dengan teknologi segera disahkan sehingga

masyarakat akan mendapatkan kepastian hukum mengeani tindakan-tindakan yang

berhubungan dengan hal tersebut.

19