Anda di halaman 1dari 12

Evaluasi Efektivitas Pengenalan Vaksin Konjugasi Haemophilus influenzae Tipe b terhadap

Pneumonia yang di Rumah Sakit yang dikonfirmasi secara radiologis pada Anak-anak Kecil
di Ukraina
Tujuan Vaksin konjugasi Haemophilus influenzae tipe b (Hib) termasuk ke dalam jadwal vaksinasi
nasional Ukraina pada tahun 2006. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan efektivitas
vaksin konjugasi Hib terhadap pneumonia yang dirawat di Rumah Sakit yang dikonfirmasi secara
radiologis pada anak-anak.
Desain penelitian Anak-anak berusia <2 tahun dengan pneumonia yang dirawat di 11 rumah sakit
yang berpartisipasi di Kiev dan Dnepropetrovsk antara April 2007 dan Juni 2009 dimasukkan dalam
suatu evaluasi kasus-kontrol. Empat kontrol yang cocok untuk setiap kasus berdasarkan tanggal
lahir (dalam waktu 14 hari) dan klinik rawat jalan. Kami memperkirakan OR untuk vaksinasi dan
efektivitas vaksin ((1-OR) * 100%) menggunakan regresi logistik kondisional, menyesuaikan untuk
kondisi komorbiditas dan kontraindikasi untuk vaksinasi.
Hasil Kami mendaftarkan 188 kasus anak-anak dan 735 kontrol. Usia rata-rata adalah 16 bulan
(kisaran 4-24 bulan). Lima puluh satu persen kasus dan 67% kontrol menerima 1 dosis vaksin
konjugasi Hib; 26% kasus dan 37% kontrol menerima 3 dosis. Efektivitas vaksin konjugasi Hib
1 dosis diperkirakan pada 45% (95% CI 18% -63%).
Kesimpulan Penelitian kami menunjukkan bahwa infeksi Hib merupakan penyebab penting dari
pneumonia yang dikonfirmasi secara radiologis yang terjadi di rumah sakit pada anak-anak di
Ukraina.
Pada tidak adanya vaksinasi, Haemophilus influenzae tipe b (Hib) adalah penyebab utama
meningitis bakteri dan pneumonia pada anak-anak. Meskipun dengan adanya suatu vaksin yang
efektif, infeksi Hib bertanggung jawab atas diperkirakan 371 000 dari hampir 2 juta kematian
pneumonia di seluruh dunia di antara anak-anak berusia <5 tahun pada tahun 2.000. Vaksin
konjugasi Hib telah menunjukkan efikasi di tempat-tempat negara berkembang, dan imunisasi anak
rutin terhadap penyakit Hib telah menyebabkan hampir mengeleminasinya di kedua negara

berkembang dan industri. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pengenalan


vaksin konjugasi Hib ke semua program imunisasi anak rutin. Meskipun penyerapan vaksin
konjugasi Hib di negara-negara berkembang telah meningkat dengan dukungan dari GAVI Alliance,
Data masih dibutuhkan mengenai dampak vaksinasi untuk membantu menopang penggunaannya.
Kurangnya kesadaran akan pentingnya Hib sebagai suatu penyebab pneumonia berat dan
kematian pada anak-anak telah menunda penyerapan vaksin konjugasi Hib di negara-negara
berkembang. Etiologi pneumonia tidak secara rutin ditentukan dalam praktek klinis karena
sensitivitas yang rendah dari metode kultur, meluasnya penggunaan antibiotik sebelum kunjungan
center kesehatan, dan kapasitas laboratorium yang terbatas di negara-negara dengan sumber daya
yang rendah. Sebuah meta-analisis dari uji coba secara acak, terkontrol dari vaksin konjugasi Hib
memperkirakan bahwa Hib menyebabkan 5% dari episode pneumonia klinis pada anak-anak dan
21% dari episode dengan konsolidasi radiologi pada foto dada. Di Eropa Timur, meskipun
pneumonia dan infeksi saluran pernafasan akut diakui sebagai penyebab pasca-neonatus utama dari
kematian anak usia dini, ada sedikit persepsi mengenai beban penyakit Hib sebelum pengenalan
vaksin konjugasi Hib.
Pada tahun 2006, pemerintah Ukraina memperkenalkan vaksin konjugasi Hib ke dalam
jadwal imunisasi rutin berdasarkan efektivitas dan keamanan yang terdokumentasikan mengenai
vaksin tersebut di negara-negara maju dan keinginan untuk menyelaraskan jadwal imunisasi dengan
negara-negara Eropa Barat. Ukraina adalah negara pertama di kawasan ini yang mengadopsi vaksin
konjugasi Hib, dan WHO mempertimangkan dokumentasi dampak vaksinasi suatu prioritas untuk
penyerapan regional dari vaksin konjugasi Hib dan keberlanjutannya. Kami melaporkan di sini
mengenai penelitian kasus-kontrol dari efektivitas vaksin konjugasi Hib terhadap pneumonia yang
dikonfirmasikan secara radiologis pada anak berusia <2 tahun di Ukraina.
Metode
Jumlah penduduk di Ukraina adalah 46 juta, dengan populasi di bawah usia 5 tahun diperkirakan
2,4 juta dan jumlah kelahiran tahunan diperkirakan 490 000. Penelitian ini dilakukan di dua kota

besar, Kiev dan Dnepropetrovsk, dengan populasi masing-masing 2,7 dan 1,2 juta. Penelitian ini
dianggap evaluasi program oleh komite peninjau etik Departemen Kesehatan Ukraina, Center
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, dan WHO dan dibebaskan dari tinjauan subyek manusia.
Sistem kesehatan di Ukraina
Semua anak berusia <18 tahun di Ukraina menerima imunisasi rutin dan pelayanan kesehatan di
poliklinik, pusat kesehatan primer, di mana anak-anak diregistrasi berdasarkan tempat tinggal.
Anak-anak melaporkan ke poliklinik dengan gejala klinis pneumonia akan dirujuk ke rumah sakit
anak ketika dokter anak perawatan primer menentukan apakah seorang anak yang diduga
pneumonia harus dirujuk untuk rawat inap atau diobati sebagai pasien rawat jalan. Meskipun
pelayanan kesehatan di Ukraina adalah gratis dan disediakan oleh pemerintah untuk semua warga
negara dan penduduk yang teregistrasi jangka panjang, orang tua sering diminta untuk menutupi
sebagian besar biaya yang berhubungan dengan perawatan yang sifatnya tidak rutin, termasuk
pembelian antibiotik dan obat-obatan. Vaksin termasuk dalam Program Perluasan Imunisasi
nasional dibeli oleh pemerintah dan tersedia tanpa biaya di poliklinik. Vaksin juga tersedia di klinik
swasta, termasuk vaksin yang tidak disediakan oleh program imunisasi nasional Ukraina.
Program Imunisasi Nasional Ukraina
Pada tahun 2006, ketika pemerintah Ukraina memutuskan untuk memperkenalkan vaksin konjugasi
Hib ke dalam program imunisasi nasional, kalender imunisasi bayi meliputi satu dosis saat lahir dari
Bacille Calmette-Guerin, 2 dosis vaksin polio tidak aktif pada 3 dan 4 bulan, 2 dosis vaksin polio
oral pada 5 dan 18 bulan usia, 3 dosis difteri-tetanus-pertussis seluruh sel (DTP) pada 3, 4, dan 5
bulan ditambah dosis booster difteri-tetanus-pertusis aselular (DTaP) pada 18 bulan, dan 3 dosis
hepatitis B (Hep B) (saat lahir, 1 dan 6 bulan). Kontraindikasi untuk semua vaksinasi pada anakanak di Ukraina meliputi setiap penyakit akut (selama kondisi tersebut dianjurkan untuk menunda
dosis vaksin), anafilaksis, reaksi merugikan yang parah pada dosis vaksin sebelumnya, alergi
terhadap komponen vaksin, dan epilepsi (dengan 2 atau lebih episode kejang per bulan). Kartu
vaksinasi diperbarui dan disimpan di poliklinik di mana seorang anak teregistrasi. Dalam kasus

perubahan tempat tinggal, catatan vaksinasi bersama dengan catatan kesehatan ditransfer ke
poliklinik terkait dengan tempat tinggal baru.
Pada bulan Juni 2006, Departemen Kesehatan Ukraina memperkenalkan 2 vaksin konjugasi
Hib monovalen (Hiberix [PRP-T]; GlaxoSmithKline, Middlesex, United Kingdom dan ActHib
[PRP-T]; Sanofi Pasteur). Jadwal vaksinasi nasional merekomendasikan 3 dosis vaksin konjugasi
Hib diberikan pada 3, 4, dan 5 bulan usia, pada saat yang sama seperti pemberian DTP. Dua dosis
yang direkomendasikan untuk anak-anak yang sudah berusia 6- 12 bulan dan telah menerima dosis
pertama atau kedua mereka dari DTP. Namun, sejauh mana jadwal catch-up ini dilaksanakan tidak
diketahui. Mulai tahun 2007, pemerintah Ukraina membeli dosis tambahan vaksin konjugasi Hib
monovalen untuk memberikan dosis booster/penguat untuk semua anak pada kelompok kelahiran
tahun 2.006 selama tahun kedua kehidupan mereka. Pada tahun 2007-2008, pemerintah membeli
vaksin konjugasi DTaP-Hib tetravalen (TetraHib, Sanofi Pasteur) untuk penggunaan rutin pada bayi.
Poliklinik melaporkan secara triwulanan kepada otoritas kesehatan lokal dan pusat jumlah anak
yang memenuhi syarat untuk menerima setiap dosis vaksin yang direkomendasikan dan jumlah
anak yang divaksinasi. Perkiraan cakupan disusun di Kementerian Kesehatan dan dilaporkan secara
kuartalan. Menurut perkiraan cakupan yang dilaporkan oleh Departemen Kesehatan Ukraina, 11%
dari anak yang memenuhi syarat berusia <12 bulan telah menerima 3 dosis vaksin konjugasi Hib
pada tahun 2006. Cakupan laporan meningkat menjadi 80,6% pada tahun 2008 dan 76,4% pada
tahun 2009. Cakupan 3 atau lebih dosis DTP dilaporkan menjadi 90% pada tahun 2008 untuk
kelompok usia yang sama.
Identifikasi Episode Pneumonia yang dirawat di Rumah Sakit dengan Konfirmasi Radilogis
Kasus-pasien untuk evaluasi ini adalah anak-anak yang dirawat di 7 rumah sakit umum di Kiev dan
4 rumah sakit umum di Dnepropetrovsk antara 1 April 2007 dan 30 Juni 2009. Rumah sakit dipilih
untuk berpartisipasi jika mereka merawat anak-anak dengan pneumonia dan jika radiografi dada
secara rutin diperoleh untuk anak-anak yang dicurigai pneumonia. Anak-anak dengan klinis
dicurigai pneumonia secara prospektif diidentifikasi dari log penerimaan atau keluar rumah sakit.

Kecurigaan klinis didasarkan pada temuan pemeriksaan fisik dan auskultasi. Anak-anak berusi 4-23
bulan di rawat dengan pneumonia dikonfirmasi secara radiologis berhak menerima vaksin konjugasi
Hib (yaitu, lahir setelah 1 Juni 2006) dan yang telah vaksinasi dan catatan medis yang tersedia
untuk diperiksa dimasukkan dalam evaluasi ini. Grafik rumah sakit ditinjau dan bentuk laporan
kasus standar diselesaikan untuk memenuhi syarat kasus-pasien untuk mencatat informasi mengenai
presentasi klinis, perjalanan penyakit, dan hasil baca rontgen dada. Kondisi medis yang mendasari
kasus adalah penggunaan sistemik steroid, penyakit jantung bawaan, patologi sistem pernapasan,
cystic fibrosis, defisiensi imun, HIV, asplenia, kanker, dan berat lahir rendah (<2500 g). Anak-anak
dirawat di rumah sakit untuk suatu episode pneumonia yang tidak memenuhi definisi dari
pneumonia yang dikonfirmasi secara radiologis dikeluarkan dari evaluasi ini, seperti kasus-pasien
yang tinggal di luar Kiev dan Dnepropetrovsk.
Interpretasi Radiografi Dada
Kami menggunakan kriteria WHO standar untuk menginterpretasikan radiografi dada dan
mendiagnosa pneumonia. Pada tahun 2006, sebelum inisiasi penelitian, lokakarya pelatihan ini
diselenggarakan untuk dokter anak dan ahli radiologi dari rumah sakit pediatrik Kiev untuk
standarisasi interpretasi radiografi untuk diagnosis pneumonia yang dikonfirmasi radiologis.
Radiografi dada secara independen dibaca oleh seorang dokter anak dan ahli radiologi.
Kedua pembaca menyelesaikan pelatihan penilaian mandiri/personal untuk standarisasi interpretasi
radiografi untuk menetapkan pneumonia yang dikonfirmasi radiologis menurut kriteria WHO. Kami
menemukan 98% konkordansi dalam pembacaan positif antara 2 pembaca ini. Perbedaan yang
tersisa (2%) yang ditemukan antara 2 pembacaan diselesaikan dengan pembacaan ketiga yang
dilakukan oleh seorang ahli radiologi pediatrik senior. Selain itu, 20% sampel dari bacaan yang
sesuai dievaluasi oleh seorang ahli radiologi senior untuk jaminan kualitas.
Seleksi Kontrol
Untuk setiap kasus-pasien, hingga 4 anak yang cocok usia diidentifikasi dari di antara mereka yang
teregistrasi di poliklinik sama dengan kasus-pasien. Pertama, register poliklinik dicari untuk

membuat daftar potensial kontrol-anak yang lahir dalam waktu 14 hari dari tanggal lahir kasuspasien. Dari daftar ini, 4 anak-anak kontrol potensial dipilih secara acak dengan mengundi angka.
Informasi tentang Hib dan vaksinasi anak lainnya, adanya kondisi komorbiditas yang mendasari
(sama dengan yang dievaluasi untuk kasus-pasien), dan penggunaan antibiotik sebelumnya untuk
kedua kasus dan kontrol yang cocok diperoleh dari grafik medis dan kartu vaksinasi individu
dipertahankan pada poliklinik untuk semua anak yang berada dalam area cakupan poliklinik.
Kelompok kontrol-anak dengan catatan rawat inap untuk pneumonia dalam setahun terakhir
dikeluarkan dari penelitian dan digantikan dengan mengundi nomor lain dari daftar kontrol
potensial.
Perhitungan Ukuran Sampel
Kami mendasarkan perhitungan ukuran sampel kami pada jumlah kasus-pasien dan anak-anak
kontrol yang diperlukan untuk mendeteksi suatu efek jika OR pas adalah 0,70 atau kurang, sesuai
dengan efektivitas vaksin dari 30% terhadap pneumonia yang dikonfirmasi radiologis berdasarkan
temuan dari penelitian sebelumnya. Dengan asumsi vaksinasi 70% di antara kasus-pasien, kekuatan
80%, dan analisis tak cocok, 408 kasus dan 1632 kontrol cocok diperlukan untuk membuktikan
efektivitas yang signifikan (batas atas OR <1,0) jika OR pas adalah 0,7 atau kurang.
Analisis Data
Kami melakukan analisis data menggunakan software SAS v. 9.2 (SAS Institute, Cary, North
Carolina). Kami memperkirakan OR vaksinasi di antara kasus-pasien dibandingkan dengan anakanak kontrol usia-cocok. Efektivitas vaksinasi Hib terhadap pneumonia yang dikonfirmasi
radiologis diperkirakan sebagai 1 - (OR untuk vaksinasi).
Kami menghitung OR dan 95% CI menggunakan model regresi logistik kondisional.
Analisis primer memasukkan status vaksin untuk anak-anak yang telah menerima 1 atau lebih dosis
dibandingkan dengan tidak ada dosis vaksin konjugasi Hib. Sebuah dosis vaksin adalah valid dan
dimasukkan dalam analisis jika diberikan setidaknya 14 hari sebelum onset penyakit untuk kasuspasien dan untuk kontrol cocok yang sesuai. Selain itu, kami mengevaluasi efektivitas vaksin pada

anak-anak yang menerima dosis tunggal atau dua dosis vaksin konjugasi Hib sebelum usia 7 bulan,
dan untuk anak-anak yang menerima tiga atau lebih dosis. Kami tidak memiliki kekuatan statistik
untuk mengevaluasi jadwal vaksinasi individu secara terpisah. Karena kondisi medis yang
mendasari dan kontraindikasi dikaitkan dengan status vaksinasi dan penyakit, kami melakukan
penyesuaian untuk adanya kondisi medis yang mendasari pada semua model.
Hasil
Selama periode penelitian, kami mengidentifikasi 2.139 anak berusia 4-23 bulan dengan pneumonia
dicurigai secara klinis dirawat rumah sakit yang berpartisipasi. Semua anak-anak (100%) dengan
diduga pneumonia memiliki radiografi dada yang tersedia untuk review. Radiografi dada dari 221
episode pneumonia (10,3% dari 2139 episode antara anak-anak yang memenuhi syarat)
diklasifikasikan sebagai pneumonia yang dikonfirmasi secara radiologis menurut kriteria WHO. Di
antara anak-anak dengan pneumonia yang dikonfirmasi secara radiologis, 64% (140) memiliki
diagnosis pneumonia yang tercatat pada penerimaan/masuk rumah sakit, 38 (17%) memiliki
bronkitis, dan sisanya 43 (19%) memiliki diagnosis masuk lainnya (otitis media, radang
tenggorokan, Laringotracheitis , ethmoiditis, dan sinusitis). Grafik rawat jalan dan catatan vaksinasi
tidak bisa ditemukan untuk 33 (15%) dari anak-anak yang memenuhi definisi kasus. Sisanya 188
(85%) kasus dimasukkan dalam evaluasi ini. Karakteristik klinis dari 221 anak-anak dengan
pneumonia yang dikonfirmasi secara radiologis dan anak-anak yang dimasukkan dalam evaluasi
kasus-kontrol disajikan pada Tabel I.
Sebanyak 735 anak-anak kontrol diidentifikasi melalui catatan poliklinik dan cocok untuk
kasus-pasien dengan pneumonia yang dikonfirmasi secara radiografi; kami mengidentifikasi 4
kontrol untuk 177 (94%) kasus-pasien dan 2 atau 3 kontrol untuk 11 kasus-pasien. Distribusi usia
dan jenis kelamin adalah serupa di antara kasus- dan kontrol-anak (Tabel II). Kondisi komorbid
kronis atau immunocompromise secara signifikan lebih umum terjadi di antara kasus-anak
berbanding kontrol-anak. Kondisi komorbiditas yang paling sering diidentifikasi meliputi penyakit
jantung bawaan (6% dari kasus dan 3% dari kontrol), berat lahir <2500 g (8% kasus dan 2%

kontrol), dan HIV atau defisiensi imun lainnya (3% kasus dan 1% kontrol). Di antara anak-anak
dengan informasi yang tersedia pda grafik, anak-ana kasus lebih mungkin dibandingkan dengan
kontrol cocok untuk diresepkan antibiotik dalam 30 hari sebelum tanggal rawat inap kasus-pasien
(12 [16%] dari 68 kasus-anak vs 4 [2%] dari 221 kontrol-anak [P <0,01]). Lima puluh satu persen
kasus dan 67% kontrol (P <0,001) menerima 1 Hib dosis; proporsi yang lebih tinggi dari kontrol
daripada kasus yang menerima 3 dosis Hib atau 1 dosis vaksin anak lainnya yang
direkomendasikan (Tabel II). Proporsi yang lebih tinggi dari kasus-anak daripada kontrol-anak tidak
divaksinasi karena kontraindikasi atau penolakan orang tua, seperti yang tercatat dalam grafik rawat
jalan.
Efektivitas 1 dosis vaksin konjugasi Hib adalah 45% (95% CI 18% -63%) ketika
disesuaikan dengan adanya kondisi komorbiditas dan kontraindikasi (Tabel III). Efektivitas lebih
rendah terlihat di antara anak-anak dengan kondisi komorbiditas dibandingkan dengan anak-anak
yang sehat; Namun, CI untuk perkiraan ini tumpang tindih. Dibandingkan dengan tidak ada vaksin,
estimasi titik untuk efektivitas dari 3 atau 4 dosis ketika diberikan pada jadwal bayi lebih tinggi
daripada untuk jadwal bayi dengan 1 atau 2 dosis, dengan CI sangat tumpang tindih (Tabel III).
Pembahasan
Penelitian ini mengevaluasi dampak vaksinasi Hib rutin pada pneumonia pada anak-anak di negaranegara memenuhi syarat GAVIdari wilayah Eropa, di mana beban pneumonia Hib belum
terdokumentasi dengan baik. Kami menemukan bahwa anak-anak dirawat di rumah sakit yang
berusia <2 tahun dengan pneumonia yang dikonfirmasikan radiologis secara signifikan kurang
cenderung untuk divaksinasi terhadap penyakit Hib daripada anak-anak seusianya yang terdaftar di
pusat perawatan primer yang sama, atau poliklinik. Penelitian ini menunjukkan bahwa Hib
merupakan suatu kontributor penting untuk pneumonia berat pada anak-anak di Ukraina, khususnya
untuk episode yang memenuhi definisi WHO dari pneumonia yang dikonfirmasi secara radiologi.
Tingginya persentase penolakan orang tua dan laporan penyedia mengenai kontraindikasi untuk

vaksinasi mengindikasikan butuhkan untuk meningkatkan komunikasi untuk meningkatkan


penyerapan vaksin konjugasi Hib.
Kultur darah tidak secara rutin diperoleh dari anak-anak dengan diduga pneumonia dan tidak
ada data yang tersedia mengenai kontribusi infeksi Hib terhadap sindrom klinis ini di Ukraina atau
negara-negara dari kawasan ini. Penelitian-penelitian yang mengevaluasi hasil kultur aspirasi paru
dari pasien dengan pneumonia menunjukkan suatu variasi yang luas dalam proporsi pneumonia
pada anak-anak yang disebabkan oleh Hib, yang menunjukkan bahwa variasi geografis dan regional
mungkin ada. Watt dkk. melakukan suatu tinjauan komprehensif tentang penelitian Hib untuk
memperkirakan beban global dari penyakit Hib, dan menyimpulkan bahwa Hib memberikan
kontribusi 15% -21% dari kasus pneumonia. Kami mendokumentasikan penurunan 45% pada
pneumonia yang dikonfirmasi secara radiologis pada anak anak berusia kurang dari 2 tahun yang
divaksinasi dengan 1 atau lebih dosis vaksin konjugasi Hib dibandingkan dengan anak-anak yang
tidak divaksinasi. Hasil kami konsisten dengan penelitian kasus-kontrol mengenai efektivitas vaksin
konjugasi Hib terhadap pneumonia yang dikonfirmasi secara radiografi dari Kolombia, Brazil, dan
Bangladesh. Suatu meta-analisis menyatakan bahwa penelitian kasus-kontrol cenderung untuk
melebih-lebihkan/overestimate efikasi vaksin terhadap pneumonia yang dikonfirmasi radiologis
dibandingkan dengan efikasi yang diukur pada ujicoba acak, terkontrol, yang dianggap standar/baku
emas.
Ada beberapa kemungkinan alasan untuk perkiraan efektivitas vaksin dalam evaluasi kami
menjadi lebih tinggi dari yang diperkirakan. Perbedaan dalam pemastian kasus dan interpretasi
radiografi dada dapat berkontribusi untuk temuan yang berbeda dalam penelitian pengenalan
pascavaksin. Evaluasi kami memasukkan hanya kasus pneumonia yang dieawat di rumah sakit dan
diterapkan definisi WHO standar dari pneumonia yang dikonfirmasi radiografi dada, yang mungkin
telah meningkatkan spesifisitas outcome dan menghasilkan lebih tinggi daripada estimasi efektivitas
yang diperkiraan. Baqui dkk. melaporkan perkiraan yang lebih tinggi dari efektivitas vaksin (33%
-44%) terhadap pneumonia yang dikonfirmasi radiologis ketika definisi kasus yang lebih spesifik

diterapkan dengan membatasi analisis untuk kasus yang dikonfirmasi oleh WHO dan pembacapembaca penelitian. Radiografi dada di rumah sakit yang berpartisipasi dalam evaluasi kami
diperoleh berdasarkan penilaian klinis oleh dokter dan perbedaan indikasi klinis untuk mendapatkan
radiografi dada dapat menyebabkan perbedaan dalam perkiraan titik efektivitas vaksin yang
diperoleh dalam penelitian yang berbeda. Penolakan orang tua dan kontraindikasi mungkin juga
merancukan perkiraan kami. Dalam evaluasi kami, kasus-pasien lebih mungkin untuk memiliki
kontraindikasi vaksin yang dilaporkan oleh penyedia daripada kontrol cocok, dan tinjauan/review
grafik mengungkapkan bahwa penyedia sering melaporkan kontraindikasi untuk anak-anak dengan
kondisi immunocompromise yang mendasari, yang diketahui terkait dengan peningkatan risiko
penyakit Hib dan pneumonia. Selain itu, pengenalan vaksin konjugasi Hib di Ukraina bertepatan
dengan kampanye menentang imunisasi media massa lokal yang agresif mempertanyakan
keamanan vaksin anak. Ini mungkin telah mengakibatkan orang tua dari anak-anak dengan kondisi
immunecompromise memutuskan untuk tidak memvaksinasi anak-anak mereka terhadap penyakit
Hib dan mungkin telah menyebabkan terlalu tinggi memperkirakan efektivitas vaksin terhadap
pneumonia yang dikonfirmasi secara radiografi. Data kami menunjukkan bahwa orang tua dari
kasus-pasien lebih mungkin dibandingkan orang tua dari anak-anak kontrol untuk menolak satu atau
lebih dosis vaksin yang direkomendasikan, termasuk vaksin konjugasi Hib, sebuah temuan yang
mungkin berhubungan dengan tingkat pendidikan orang tua. Catatan Poliklinik menyediakan suatu
sumber yang lengkap perihal riwayat vaksinasi. Kami mencocokan kontrol terhadap kasus dengan
poliklinik di mana anak-anak yang teregistrasi menurut distrik tempat tinggal mereka untuk
memastikan pemilihan kontrol dari populasi yang sama dari mana kasus diidentifikasi. Meskipun
semua anak yang dimasukkan dalam analisis ini memiliki catatan poliklinik dari mana kami
memperoleh riwayat vaksinasi, keluarga migran mungkin memiliki akses terbatas ke perawatan
rawat jalan, lebih cenderung untuk memanfaatkan rumah sakit untuk perawatan darurat, dan
kemungkinan besar tidak akan divaksinasi, yang mungkin telah menyebabkan oversampling kontrol
yang divaksinasi. Namun, kami juga mengeluarkan anak-anak dengan pneumonia yang

dikonfirmasi radiologis untuk mereka dengan alamat yang valid, dan, akibatnya, catatan vaksinasi
dan poliklinik tidak ditemukan.
Temuan ini memberikan dukungan untuk pendekatan GAVI untuk mempercepat penggunaan
vaksin konjugasi Hib di negara-negara termiskin. GAVI telah mendukung pengenalan vaksin
konjugasi Hib di negara-negara berkembang sejak tahun 1999. Ketika GAVI dibentuk, makalah
posisi WHO mengenai penggunaan vaksin konjugasi Hib yang merekomendasikan pengenalan
mereka ke dalam program imunisasi nasional berdasarkan kelayakan dan beban penyakit (WHO,
1998). Selama 4 tahun pertama GAVI, tak satu pun dari 8 negara yang memenuhi syarat di negaranegara yang baru merdeka meminta dukungan untuk pengenalan vaksin konjugasi Hib, karena
kekhawatiran tentang keberlanjutan dan kurangnya data tentang beban penyakit. Pada tahun 2005,
GAVI membuat Hib Initiative untuk mempercepat pengenalan vaksin konjugasi Hib. Pada tahun
2006, WHO merevisi makalah posisinya untuk menyatakan bahwa data lokal mengenai beban
penyakit Hib tidak harus menunda pengenalan vaksin konjugasi Hib ke dalam program imunisasi
nasional. Pada tahun yang sama, pemerintah Ukraina memutuskan untuk membiayai pengenalan
vaksin konjugasi Hib ke jadwal imunisasi anak rutin. Meskipun berhak menerima dukungan dari
GAVI untuk pembiayaan vaksin, keputusan untuk memperkenalkan vaksin konjugasi Hib
monovalen tanpa dukungan GAVI dibuat oleh pembuat kebijakan di Ukraina untuk mempercepat
pengenalan vaksin dan memungkinkan penggunaan lanjutan dari vaksin difteri-tetanus-seluruh sel
pertusis (DTP) yang diproduksi secara lokal. Selain itu, 7 dari 8 negara yang memenuhi syarat
GAVI di kawasan Eropa telah beralih dari DTP-Hep B ke vaksinasi DTP-Hib-Hep B pentavalent
karena sebagian besar dengan insentif keuangan dari GAVI.
Meskipun makalah posisi WHO yang diperbarui menyatakan bahwa data beban penyakit
tidak harus menunda pengenalan Hib, WHO merekomendasikan bahwa negara yang memiliki
surveilans penyakit di tempat sebelumnya memperkenalkan vaksin baru untuk menunjukkan
dampak vaksinasi untuk mendukung keberlanjutan program. Mendemonstrasikan dampak vaksinasi
Hib pada penyakit Hib yang dikonfirmasi kultur di Ukraina akan memperkuat temuan dari

penelitian kasus-kontrol ini. Idealnya, surveilans untuk Hib harus dibentuk di rumah sakit dengan
laboratorium mikrobiologi yang dapat mengisolasi bakteri patogen, termasuk Hib. Namun,
penelitian berbasis populasi dari meningitis Hib dan penilaian cepat berdasarkan protokol WHO
telah menemukan beban yang rendah dari penyakit Hib di kawasan Eropa dibandingkan dengan
kawasan lainnya. Meskipun pungsi lumbal secara rutin diperoleh untuk anak-anak yang diduga
meningitis, pemberian antibiotik sebelum masuk rumah sakit dan kapasitas diagnostik yang terbatas
di laboratorium klinis di seluruh wilayah, termasuk penggunaan darah manusia yang kadaluarsa
daripada darah domba untuk media kultur, membatasi deteksi penyakit Hib invasif. Kultur darah
tidak secara rutin diperoleh dari anak-anak yang diduga pneumonia dan sebagai hasilnya, dokter di
Ukraina memiliki kesadaran yang rendah mengenai Hib sebagai agen etiologi pneumonia bakteri.
Oleh karena itu, meskipun pneumonia pada anak-anak diakui sebagai suatu masalah kesehatan
masyarakat, pentingnya vaksinasi Hib untuk mencegah pneumonia kurang mendapat apresiasi.
Untuk alasan ini, memperlihatan efek vaksinasi Hib pada pneumonia yang dikonfirmasi secara
radiologis di Ukraina adalah sangat penting.
Meskipun keterbatasan melekat pada penelitian observasional, penelitian efektivitas pascapengenalan berguna untuk membuktikan efek dari vaksin dalam keadaan kehidupan nyata dan
manfaat dari program vaksinasi. Petugas kesehatan publik di Ukraina telah khawatir tentang
meningkatnya sentimen yang menentang imunisasi di kalangan orang tua. Selain itu, banyak
penyedia layanan kesehatan masih tidak menganggap vaksin suatu prioritas karena dalam
pengenalan beban penyakitHib. Hasil evaluasi ini mendukung terus penggunaan vaksin konjugasi
Hib di wilayah tersebut. Pencegahan pneumonia perlu memasukkan ke dalam strategi-strategi
dengan menyampaikan manfaat vaksinasi terhadap penyakit Hib. Temuan-temuan evaluasi ini harus
memiliki relevansi bagi negara-negara tetangga di kawasan ini yang mungkin mempertimbangkan
pengenalan vaksin konjugasi Hib.