Anda di halaman 1dari 11

REFERAT

HIPOGLIKEMIA
Oleh:
DIANA KURNIAWATI
NIM: 010.06.0054

Pembimbing:
dr. Yusuf Timbang Assa, Sp.A

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


SMF ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIZAR RSUD R.SOEDJONO
SELONG
2016

PENDAHULUAN

Selama 24-48 jam pertama kehidupan, neonatus yang normal akan mengalami masa
transsisi kehidupan dari masa intrauterin ke ekstrauterin. Maka, kadar glukosa plasma lebih
rendah (10) (Thornton Paul, et all, 2015).
Glukosa memainkan peran penting pada pengaturan bahan bakar manusia dan merupakan
sumber penyimpanan energy dalam bentuk glikogen, lemak dan protein. (8) (Berhman, dkk,
2000).
Glukosa mempunyai peran penting dalam

metabolisme otak, melalui transportasi

glukosa di otak yang difasilitasi oleh proses difusi yang sangat bergantung pada kadar glukosa
darah. (4)
Selama dalam kandungan, janin sangat bergantung pada glukosa ibu yang ditransfer melalui
plasenta. Setelah lahir, bayi harus menjaga kadar glukosa dalam darahnya dengan memproduksi
dan mengatur suplai glukosanya sendiri (4). (Azlin E, 2011)
Hipoglikemia masih menjadi kondisi metabolik yang sering terjadi pada populasi
neonatus. Baik kelompok neonatus sehat maupun dengan penyakit bawaan, kedua kelompok ini
memiliki kemungkinan terjadinya hipoglikemia pada hari pertama setelah kelahiran. (1)
(Kalbemed, 2016).
Hipoglikemi yang terus menerus atau berulang-ulang pada bayi dan anak mempunyai
pengaruh yang besar pada keterlambatan perkembangan dan fungsi otak (8) NELSON. )
(Berhman, dkk, 2000).

DEFINISI
Hipoglikemi adalah keadaan hasil pengukuran kadar gula darah kurang dari 45mg/dL
(2,6 mmol/L). Hipoglikemia adalah suatu sindrom klinik dengan penyebab yang sangat luas,
sebagai akibat dari rendahnya kadar glukosa plasma yang akhirnya menyebabkan
neuroglikopenia. (5 & 7) (Mutianingsih R, 2014 & Asuhan Neonatus Esensial)
Hipoglikemi merupakan salah satu indicator penting stress dan penyakit pada bayi.
Hipoglikemi yang tidak ditangani dapat mengakibatkan kerusakan saraf permanen atau
kematian. Setiap unit asuhan neonatus harus siap untuk mendeteksi dan menangani hipoglikemi
(7) ( Asuhan Neonatus Esensial)
EPIDEMIOLOGI

Insiden keseluruhan hipoglikemi bergejala pada bayi baru lahir bervariasi antara 1,3 dan
3,0 per 1000 kelahiran hidup. Insiden ini naik beberapa kali pada kelompok neonatus risiko
tinggi. (8) (Berhman, dkk, 2000). Sekitar 5-15% bayi mengalami retardasi pertumbuhan. (5)
(Mutianingsih R, 2014)
Insiden hipoglikemia bervariasi menurut definisi, populasi, metode dan waktu
pemberian makan, dan tipe pemeriksaan glukosa (kadar dalam serumlebih tinggi daripada kadar
dalam darah lengkap). Pemberian makan lebih awal menurunkan insiden.Sedangkan
prematuritas, hipotermia, hipoksia, diabetes ibu, infus glukosa pada ibu dalam persalinan dan
retardasi pertumbuhan intrauteri menambah insiden hipoglikemia. Pada bayi cukup bulan yang
sehat kadar glukosa serumnya jarang kurang dari 35 mg/dL (1,9 mmol/L) antara usia 1-3 jam dan
kurang dari 40 mg/dL (2,2 mmol/L) dari usia 3 sampai 24 jam dan kurang dari 45 mg/dL (2,5
mmol/L) sesudah 24 jam. Bayi premature maupun bayi cukup bulan mempunyai resiko yang
sama untuk mengalami defisit perkembangan saraf yang serius karena kadar glukosa yang
rendah. Risiko ini terkait dengan berat dan lama hipoglikemia. (5) (Mutianingsih R, 2014)

ETIOLOGI
Beberapa faktor penting yang menyebabkan terjadinya peningkatan hipoglikemia pada
populasi neonatus ini adalah kondisi prematur, stres prenatal karena asfiksia (kekurangan
oksigen), ukuran kecil yang dibandingkan dengan rasio umur kehamilan, dan dilahirkan dari ibu
yang menderita diabetes. (1) (Kalbemed, 2016).
Pada neonatus sehat, 12 jam setelah kelahiran hormon yang dapat membalikkan efek dari
insulin, yaitu glukagon, bekerja utnuk meningkatkan kadar glukosa plasma dengan proses
glikogenolisis dan glukoneogenesis. Jika pemberian nutrisi tidak dilakukan, hipoglikemia yang
bersifat sementara dapat terjadi. (1) (Kalbemed, 2016).
Hipoglikemi merupakan sindrom metabolik yang sering ditemukan pada sepsis
neonatorum. (3). (Wower.E.E dkk, 2013)

Keadaan hipoglikemia pada neonatus dapat disebabkan:

1. Penggunaan glukosa yang meningkat karena hiperinsulinisme, dapat dijumpai pada bayi
dari ibu diabetes, eritroblastosis, sindrom Beckwith-Weidemann, ibu yang mendapat
terapi tokolitik dengan (terbutalin), penghentian tiba-tiba infus tinggi glukosa, ataupun
setelah transfuse tukar dengan darah yang memiliki kadar glukosa tinggi.
2. Produksi/penyimpanan yang menurun, dijumpai pada prematuritas, intrauterine growth
restriction (IUGR), asupan kalori yang tidak adekuat, dan pemberian diet yang terlambat.
3. Penggunaan yang meningkat dan atau produksi yang menurun, yang dapat dijumpai pada
stress perinatal (sepsis, syok, asfiksia, hipotermia, distress pernafasan, atau setelah
resusitasi), transfusi tukar, defek metabolisme karbohidrat (intoleransi fruktosa,
galaktosemia), defisiensi endokrin (insufisiensi adrenal, defisiensi hipotalamus,
hipopituitarisme kongenital, defisiensi glukagon, dan defisiensi epinefrin), defek
metabolisme asam amino (maple syrup urine disease, tirosinemia, asidemia propionik),
polisitemia, dan ibu yang mendapat terapi -blocker (labetalol, propanolol). (4) (Azlin E,
2011)

PATOFISIOLOGI
Empat kelompok patofisiologi bayi neonatus yang berisiko tinggi untuk hipoglikemia (5)
(Mutianingsih R, 2014)
a. Bayi-bayi dari ibu yang menderita diabetes melitus atau diabetes selama kehamilan, bayi
dengan eritroblastosis foetalis berat, imsulinoma, nesidioblastosis sel , hiperplasia sel
fungsional, muatasi gen reseptor sulfonilurea, sindrom Beckwith dan panhipopituitarisme
yang tampaknya menderita hiperinsulinisme.
b. b. Bayi-bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterin atau bayi-bayi preterm mungkin
mengalami malnutrisi intrauteri sehingga mengakibatkan penurunan penyimpanan
glikogen hati dan lemak tubuh total, bayi kembar discordant yang lebih kecil (terutama
jika discordant 25% atau lebih dengan berat badan kurang dari 2 kg), bayi polisitemia,
bayi dari ibu toksemia, dan bayi dengan kelainan plasenta adalah yang terutama rentan
hipoglikemia (faktor-faktor lain yang menimbulkan hipoglikemia pada kelompok ini
meliputi glukoneogenesis terganggu, berkurangnya oksidasi asam lemak bebas,

kecepatan produksi kortisol rendah dan kemungkinan kenaikan kadar insulin


danpenurunan curah epineprin dalam responnya terhadap hipoglikemia).
c. Bayi yang amat imatur atau sakit berat dapat menderita hipoglikemia karena kenaikan
kebutuhan matebolik yang tidak seimbang dalam menyimpan substrat dan kalori yang
tersedia, bayi dengan berat badanlahir rendah yang menderita sindrom kegawatan
jantung dengan penyakit jantung kongenital sianosis, berada pada resiko tinggi. Infus
intra vena yang terganggu, terutama pada mereka yang kadar glukosanya tinggi, juga
dapat mengakibatkan terjadinya hipoglikemia yang sangat cepat.
d. Kadang-kadang bayi dengan metabolik genetik atau primer, seperti galaktosemia,
penyakit penyimpanan glikogen, intoletansi fruktosa, asidemia propionat, asidemia
metilmalonat, tirosinemia, penyakit urin sirup maple, dan defisiensi asetil-CoA
dehidrogenase rantaipanjang atau medium juga mungkin terjadi.

MANIFESTASI KLINIS
Neonatus bisa menunjukkan gejala hipoglikemi ataupun tidak. Sering gejala tidak jelas atau
asimptomatik. Sayangnya tanda hipoglikemi tidak bersifat spesifik dan dapat serupa dengan
tanda dari banyak masalah lain. Oleh karena itu kadar glukosa harus selalu dievaluasi dan
ditangani ketika terdapat resiko atau tanda berikut. (7 & 10) ( Asuhan Neonatus Esensial &
Thornton Paul, et all, 2015 ) Tanda klinis hipoglikemi yaitu (SPM) dan nelson (Assa Yusuf T,
2007 & Berhman, dkk, 2000).
1. Tidak tenang, gerakan tak beraturan (jittering)
2. Sianosis
3. Apnea
4. Kejang atau tremor
5. Letargi
6. Sulit menyusu
7. Tangisan lemah atau melengking

8. Hipotonia
9. Lemah
10. Nafsu makan jelek

DIAGNOSIS
Manifstasi klinis dapat disebabkan oleh berbagai penyebab maka penting untuk
mengukur glukosa serum dan menentukan apakah hipoglikemi menghilang dengan pemberian
glukosa yang cukup untuk menaikkan kadar gula darah menjadi normal, jika tidak, diagnosis lain
harus dipikirkan. (5) (Mutianingsih R, 2014)
Cara terbaik untuk mendiagnosis gangguan hipoglikemi persisten atau genetic sangat
penting untuk mencegah atau mengurangi resiko cedera otak awalnya kadar glukosa plasma
dipertahankan sekitar 55-65 mg/dL tapi kemudian meningkat menjadi 70 mg/dL pada saat dua
sampai 3 hari kehidupan (9) (Adamkin.DH dkk, 2016)
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan gula darah <45 mg/dL. Berikut waktu
pemeriksaan gula darah (SPM) (Assa Yusuf T, 2007)
1. Pada saat lahir
2. 30 menit setelah lahir
3. Kemudian setiap 2-4 jam selama 48 jam atau sampai pemberian minum berjalan baik dan
kadar glukosa normal tercapai.

PENATALAKSANAAN
evaluasi dan pengelolaan hipoglikemia pada neonatus berbeda dengan orang dewasa (10)
Terapi pada hipoglikemi sebagai berikut (SPM) (Assa Yusuf T, 2007)

Gula darah rendah adalah dengan member susu kepada bayi. Bagaimanapun, antara susu
formula dan ASI (khususnya kolostrum pada hari-hari awal) tidaklah sebanding, dan kolostrum
jauh lebih baik untuk mencegah dan mengatasi kadar gula darah rendah daripada formula.
Sedikit kolostrum mampu menjaga kadar gula darah lenbih baik daripada formula dalam jumlah
banyak. (2) (NBCI)
Cara pencegahan hipoglikemi (Assa Yusuf T, 2007)
1. Menghindari faktor resiko yang dapat dicegah misalnya hipotermi
2. Pemberian makan enteral merupakan tindakan preventif paling penting
3. Jika bayi tidak mungkin menyusui, mulailah pemberian minum dengan menggunakan
sonde dalam waktu 1 sampai 3 jam setelah lahir
4. Neonatus yang beresikko tinggi harus dipantau nilai glukosanya sampai asupan penuh
dan tiga kali pengukuran normal yaitu berada di atas 45 mg/dL (diperiksa sebelum
pemberian minum)
5. Jika ini gagal, terapi IV dengan glukosa 10% harus dimulai dan kadar glukosa dipantau.

Tatalaksana Hipoglikemi (SPM) (Assa Yusuf T, 2007)


1. Koreksi segera dengan bolus 200 mg/kg dengan dektrosa 10% (2cc/kg) dan diberikan
secara IV selama 5 menit dan diulang sesuai keperluan.
2. Infuse tak terputus,glukosa 10% dengan kecepatan 6-8 mg/menit harus dimulai segera.
3. Pemantauan glukosa ditempat tidur, (bedside) secara sering atau berkala diperlukan untuk
memastiikan bahwa neonatus mendapatkan glukosa yang memadai.
4. Ketikan pemberian makan telah dapat ditoleransi, dan nilai pemantauan glukosa ditempat
tidur sudah normal maka infuse dapat diturunkan secara bertahap. Tindakan ini mungkin
memerlukan waktu 24-48 jam atau lebih untuk menghindarai kambuhnya hipoglikemi.

Berikut bagan penatalaksanaan hipoglikemi: (Assa Yusuf T, 2007)

KOMPLIKASI
Hipoglikemi dapat menimbulkan beberapa komplikasi antara lain: (Soetomenggolo Taslim. S,
2004)
1. Kejang
2. Gangguan fungsi kognitif (neurologycopenia)
3. Disfungsi otak
4. Gejala neurogenic, Penurunan kesadaran
5. Hiperpnea, apnea, Koma
6. Kematian

PROGNOSIS
Hipoglikemia kambuh pada 10-15% bayi sesudah pengobatan adekuat. Beberapa bayi
telah dilaporkan selambatnya timbul pada usia 8 bulan. Kumat lebih sering terjadi jika cairan
intavena keluar dari pembuluh darah atau jika cairan dihentikan terlalu cepat sebelum makanan
oral ditoleransi dengan baik.Anak yang kemudian hari menderita hipoglikemia ketotik
mengalami peningkatan insiden hipoglikemi neonatus.Prognosis untuk fungsi intelektual yang
normal harus ditentukan dengan hati-hati, karena hipoglikemia yang lama dan berat dapat
disertai dengan sekuele neurologis.Bayi hipoglikemi yang simtomatik, terutama bayi dengan
berat badan lahir rendah danyi dari ibu diabetes, mempunyai prognosis lebih jelek untuk
kelanjutan perkembangan intelektual yang normal daripada prognosis bayi yang asimtomatik. (5)
(Mutianingsih R, 2014)

KESIMPULAN
Hipoglikemia masih menjadi kondisi metabolik yang sering terjadi pada populasi
neonatus. Baik kelompok neonatus sehat maupun dengan penyakit bawaan, kedua kelompok ini
memiliki kemungkinan terjadinya hipoglikemia pada hari pertama setelah kelahiran. (1)
Hipoglikemi adalah keadaan hasil pengukuran kadar gula darah kurang dari 45mg/dL
(2,6 mmol/L). Hipoglikemia adalah suatu sindrom klinik dengan penyebab yang sangat luas,
sebagai akibat dari rendahnya kadar glukosa plasma yang akhirnya menyebabkan
neuroglikopenia. (5 & 7)
Insiden keseluruhan hipoglikemi bergejala pada bayi baru lahir bervariasi antara 1,3 dan
3,0 per 1000 kelahiran hidup. Insiden ini naik beberapa kali pada kelompok neonatus risiko
tinggi. (8). Sekitar 5-15% bayi mengalami retardasi pertumbuhan. (5)
Empat kelompok patofisilogi risiko hipoglikemi pada neonatus adalah bayi-bayi dengan
ibu yang menderita Diabetes, bayi-bayi dengan reterdasi peretumbuhan intrauterine, bayi yang
amat imatur, dan bayi dengan metabolic genetic antara lain :
1. Tidak tenang, gerakan tak beraturan (jittering)
2. Sianosis
3. Apnea
4. Kejang atau tremor
5. Letargi
6. Sulit menyusu
7. Tangisan lemah atau melengking
8. Hipotonia
9. Lemah
10. Nafsu makan jelek

DAFTAR PUSTAKA
Wower.E.E, Rompis Johnny, Wilar Rocky. Hubungan kadar albumin plasma dan gula darah
dengan sepsis neonatorum. Jurnal e-Biomedik 2013: Volume 1 : 225-231
Mutianingsih R. Hubungan antara bayi berat lahir rendah dengan kejadian ikterus, hipoglikemi
dan infeksi neonatorum di RSUP NTB tshun 2012. Malang: Fakultas kedokteran
universitas Brawijaya, 2014.
Azlin E. Hubungan antara skor apgar dengan kadar glukosa darah pada bayi baru lahir. Sari
Pediatri 2011; Vol. 13 no.3: 174-177
Soetomenggolo Taslim. S. Kelainan neurolis pada penyakit sistemik. Sari Pediatri 2004; Vol 6
no.1: 23-33
Adamkin.DH and Polin R. Neontal hypoglycemia: is 60 the new 40? The question remainthe
same. Jurnal Of Perinatalogy 2016; 36: 10-12
Thornton Paul. S, MB, BCh, et all: Recommedation from the pediatric endocrine society for
evaluation and

management of persistent hypoglycemia in neonatus, infants, and

children. Jurnal Of Pediatrics. 2015; Vol 5: 1-7.


Kalbemed. Penggunaan Dextrose Gel Pada Neonatus dengan Hipoglikemi;2016 : hal 1-6.
Didapat dari: http://www.kalbemed.com/News/tabid/299/id/12209/Penggunaan-DextroseGel-pada-Neonatus-dengan-Hipoglikemia.aspx
NBCI. Hipoglikemi pada bayi baru lahir ( kadar gula darah rendah)
Berhman, Kliegman, Arvin, dkk. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Edisi 15 Vol 1. Jakarta: EGC,
2000 : Hal 518-531.
Assa Yusuf T, Dr.,Sp.A, Ketua SMF Ilmu Kesehatan Anak. Selong . Standar Pelayanan Medis:
penyakit anak. Edisi Revisi Komite Medis RSU Dr. Soendjono Selong: 2007. Hal 143145
Protocol Asuhan Neonatus Esensial: Hipoglikemi pada neonatus. Bab 16. Hal 189-191