Anda di halaman 1dari 57

Pengertian Oral hygiene

Ilustrasi Perawatan mulut


Oral hygiene adalah suatu perawatan mulut dengan atau tanpa menggunakan antiseptik untuk
memenuhi salah satu kebutuhan personal hygiene klien. Secara sederhana Oral hygiene dapat
menggunakan air bersih, hangat dan matang. Oral hygiene dapat dilakukan bersama pada
waktu perawatan kebersihan tubuh yang lain seperti mandi, mengosok gigi dll. Perawat perlu
membantu penderita/keluarga untuk melakukan perawatan tersebut guna meningkatkan peran
serta aktif dalam memberikan perawatan kepada penderita.
Mulut merupakan bagian pertama dalam saluran makanan dan bagian dari system pernafasan
(Wolf, 1984). Didalam rongga mulut terdapat saliva yang berfungsi sebagai pembersih
mekanis dari mulut (Taylor,1997).
Didalam rongga mulut terdapat bebrapa macam mikroorganisme meskipun bersifat komensal,
pada keadaan tertentu bias bersifat pathogen apabila respon penjamu terganggu (Roeslan,
2002). Pembersih mulut secara alamiah yang seharusnya dilakukan oleh lidah dan air liur,
bila tidak bekerja dengan semestinya dapat menyebabkan terjadinnya infeksi rongga mulut,
misalnya penderita dengan sakit parah dan penderita yang tidak boleh atau tidak mampu
memasukkan sesuatu melalui mulut mereka (Wolf, 1984).

PERAWATAN ORAL HYGIENE PADA PASIEN TIDAK SADAR


1. Pengertian
Oral hygiene adalah tindakan untuk membersihkan dan menyegarkan mulut, gigi dan
gusi (Clark, dalam Shocker, 2008). Dan menurut Taylor, et al (dalam Shocker, 2008), oral
hygiene adalah tindakan yang ditujukan untuk menjaga kontinuitas bibir, lidah dan mukosa
mulut, mencegah infeksi dan melembabkan membran mulut dan bibir. Sedangkan menurut
Hidayat dan Uliyah (2005), oral hygiene merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan
pada pasien yang dihospitalisasi. Tindakan ini dapat dilakukan oleh pasien yang sadar secara
mandiri atau dengan bantuan perawat. Untuk pasien yang tidak mampu mempertahankan
kebersihan mulut dan gigi secara mandiri harus dipantau sepenuhnya oleh perawat. Menurut
Perry, ddk (2005), pemberian asuhan keperawatan untuk membersihkan mulut pasien
sedikitnya dua kali sehari.
2. Tujuan
Menurut Clark (dalam Shocker, 2008), tujuan dari tindakan oral hygiene adalah
sebagai berikut:
a. Mencegah penyakit gigi dan mulut
b. Mencegah penyakit yang penularannya melalui mulut.

c. Mempertinggi daya tahan tubuh


d. Memperbaiki fungsi mulut untuk meningkatkan nafsu makan.
Sedangkan menurut Hidayat dan Uliyah (2005), tujuan dari tindakan oral hygiene,
adalah:
a. Mencegah infeksi gusi dan gigi.
b. Mempertahankan kenyamanan rongga mulut.
3. Bahaya kurangya kebersihan mulut
Tujuan utama dari kesehatan rongga mulut adalah untuk mencegah penumpukan plak
dan mencegah lengketnya bakteri yang terbentuk pada gigi. Akumulasi plak bakteri pada gigi
karena hygiene mulut yang buruk adalah faktor penyebab dari masalah utama kesehatan
rongga mulut, terutama gigi. Kebersihan mulut yang buruk memungkinkan akumulasi bakteri
penghasil asam pada permukaan gigi. Asam demineralizes email gigi menyebabkan
kerusakan gigi (gigi berlubang). Plak gigi juga dapat menyerang dan menginfeksi gusi
menyebabkan penyakit gusi dan periodontitis. Banyak masalah kesehatan mulut, seperti
sariawan, mulut luka, bau mulut dan lain-lain dianggap sebagai efek dari kesehatan rongga
mulut yang buruk. Sebagian besar masalah gigi dan mulut dapat dihindari hanya dengan
menjaga kebersihan mulut yang baik (Forthnet, 2010).
4. Cara menjaga oral hygiene
Menurut Denstisty (2010), cara-cara yang dapat dilakukan sendiri dan efektif dalam
menjaga oral hygiene, adalah sebagai berikut:
a. Sikat gigi
Pengenalan teknik sikat gigi yang tepat, memotivasi untuk sikat gigi secara teratur
dan pemilihan pasta gigi dengan tepat. Teknik sikat gigi yang secara horisontal adalah umum
dilakukan dan itu merupakan suatu kesalahan karena dengan cara demikian lambat laun dapat
menimbulkan resesi gingival dan abrasi gigi. Pada pasien yang tidak sadar, sikat gigi diganti
dengan kain pembungkus handuk atau kasa pada ujung batang jari. Pasta gigi membantu
tetapi tidak perlu.
b. Kumur-kumur antiseptik
Terdapat berbagai bahan aktif yang sering digunakan sebagai kumur-kumur, seperti
metal salisilat, chlorhexidine 0,20% dan H2O2 1,5% atau 3,0%. Kumur-kumur yang lebih
murah dan cukup efektif adalah dengan air garam hangat.
c. Dental flos atau benang gigi
Cara ini mulai banyak diperkenalkan dan cukup ampuh untuk membersihkan di selasela gigi.
d. Pembersih lidah
Tumpukan debris di dorsum lidah penuh dengan kuman-kuman oportunis serta
candida yang bermukim sebagai flora normal maupun transient.
5. Cara perawatan oral hygiene pada pasien dengan penurunan tingkat kesadaran
Menurut Perry (2005), adapun perawatan oral hygiene pada pasien dengan penurunan
tingkat kesadaran, sebagai berikut:
a. Peralatan
1) Air segar
2) Spatel lidah dengan bantalan atau spons
3) Handuk wajah, handuk kertas
4) Kom kecil
5) Bengkok
6) Gelas dengan air dingin

7)
8)
9)
10)
11)
b.
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Spuit ber-bulb kecil


Kateter pengisap dihubungkan dengan alat pengisap
Sarung tangan sekali pakai
Pinset
Depper
Prosedur tindakan
Pastikan program dokter bila diperlukan hal-hal khusus
Pastikan identitas pasien
Jika memungkinkan jelaskan prosedur dan alasan dilakukan tindakan kepada keluarga pasien
Dekatkan alat-alat
Cuci tangan dan gunakan sarung tangan
Uji adanya reflex muntah dengan menempatkan spatel lidah diatas bagian belakang lidah
(pasien dengan gangguan reflex menelan memerlukan perawatan khusus)
7) Inspeksi rongga mulut
8) Posisikan klien dekat ke sisi tempat tidur, balik kepala pasien ke arah matras, bila perlu
nyalahkan mesin pengisap dan sambungkan slang ke kateter pengisap.
9) Tempatkan handuk dibawah wajah pasien dan bengkok di bawah dagu.
10) Secara hati-hati regangkan gigi atas dan bawah pasien dengan spatel lidah dengan
memasukkan tong spatel secara cepat tetapi lembut, diantara molar belakang. Masukkan bila
pasien relaks. (Jangan memaksa).
11) Bersihkan mulut pasien menggunakan spatel lidah yang dibasahi dengan air segar. Isap
sesuai kebutuhan selama pembersihan. Bersihkan permukaan penguyah dan permukaan
dalam pertama. Bersihkan atap mulut dan bagian dalam pipi dan bibir. Gosok lidah tetapi
hindari menyebabkan reflex muntah bila ada. Basahi aplikator bersih dengan air dan gosok
mulut untuk mencuci. Ulangi sesuai kebutuhan.
12) Isap sekresi bila terakumulasi.
13) Jelaskan kepada keluarga bahwa tindakan telah selesai.
14) Lepaskan sarung tangan.
15) Kembalikan pasien pada posisi yang nyaman.
16) Bersihkan peralatan dan kembalikan pada tempatnya.
17) Dokumentasikan prosedur dan keadaan pasien
18) Periksa kembali bila diperlukan.
6. Bahaya oral hygiene buruk terhadap penyakit sistemik.
Menurut Wikipedia (2010), beberapa studi klinis terbaru menunjukkan hubungan
langsung antara kebersihan mulut yang buruk (bakteri dan infeksi rongga mulut) dan penyakit
sistemik, yaitu:
a. Penyakit kardiovaskuler (serangan jantung dan stroke)
b. Bakteri pnemonia
c. Bayi lahir berat badan rendah
d. Komplikasi diabetes
e. Osteoporosis
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, A.A.A. dan Uliyah, M. 2005. Kebutuhan Dasar Manusia, Buku Saku Praktikum. Jakarta:
EGC.
Perry, dkk. 2005. Buku Saku Keterampilan & Prosedur Dasar, Edisi 5. Jakarta: EGC.

Potter, P.A. dan Perry, A.G. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan
Praktik, Edisi 4. Jakarta: EGC.
Smeltzer, S.C. dan Bare, B.G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah: Brunner &
Suddarth, Edisi 8, Vol 3. Jakarta: EGC.

Tujuan Oral Hygiene


Pembersihan rongga mulut (Oral hygiene) memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Mencegah terjadinya infeksi
2. Memberikan rasa nyaman pada daera mulut klien
3. Mengurangi nyeri yang berlebihan
4. Mencegah terjadinya komplikasi

Sistem Imunitas Rongga Mulut


Menurut Roeslan ( 2002 ), sistem imunitas rongga mulut dipengaruhi oleh :
1. Membrane Mukosa
Mukosa rongga mulut terdiri atas epitel skuamosa yang berguna sebagai barrier terhapad
infeksi. Mekanisme infeksinya tergantung pada duekuamasi sehinnga bakteri sulit melekat
pada sel epitel dan derajat keratinisasi yang sangat efisien menahan penetrasi microbial.
( lenner, 1992 dikutip dari Roeslan, 2002 )
2. Nodus Limfatik
Jaringan lunak rongga mulut berhubungan dengan nodus limfatik ekstra oral dan agregasi
intra oral. Kapiler limfatik yang terdapat pada permukaan mukosa lidah, dasar mulut, palatim
pipi, dan bibir mirip yang berasal dari gingival dan pulpa gigi. Kapiler ini bersatu membentuk
pembuluh limfatik besar dan bergabung dengan pembuluh limfatik yang berasal dari bagian
dalam otot lidah dan struktur lainnya. Didalam rongga mulut terdapat tonsil palatel, lingual
dan faringeal yang banyak mengandung sel B dan sel T ( Lenner, 1992, dikutip dari Roeslan
2002 )
3. Saliva
Sekresi saliva merupakan perlindungan alamiah karena fungsinya memelihara jaringa keras
dan lunak rongga mulut agar tetap dalam keadaan fisiologis. Saliva yang disekresika oleh
kelenjar parotis, sub mandibularis dan beberapa kelenjar saliva kecil yang teebar dibawah
mukosa, berperan dalam membersihkan rongga mulut dari debris dan mikroorganisme selain

bertindak sebagai pelumas pada saat mengunyah dan berbicara ( Lenner, 1992 dikutp dari
Roeslan 2002 ).
4. Celah Gingiva
Epitel jangsional dapat dilewati oleh komponen seluler dan humoral dari daerah dalam
bentuk cairan celah ginggiva ( CCG ). Alira CCG merupakan proses fisiologik atau
merupakan respon terhadap inflamiasi ( Lenner, 1992 dikutip dari Roeslan 2002 ).

Prosedur tindakan Perawatan Mulut (Oral hygiene)


Penanganan perawatan rongga mulut (oral hygiene) memiliki prosedur tindakan standar yang
harus diikuti dari standar peralatan hingga prosedur langkah kerja yang dilakukan. Berikut ini
adalah prosedur tindakan perawatan mulut (oral hygiene):
Peralatan
1. Larutan pencui mulut / larutan anti septic (Betadine cair )
2. Tog spatel yang dibalut dengan satu lapis kassa
3. Handuk wajah, bengkok
4. Handuk kertas/tissue/ pengalas
5. Gelas dengan air dingin / hangat
Langkah-langkah
1. Jelaskan prosedur kepada keluarga penderita / penderita
2. Cuci tangan anda
3. Tempat handuk / pengalas diatas meja tempat tidur dan atau peralatan
4. Tarik tirai disekitarv tempat tidur dn tutup pintu ruangan.
5. Atur posisi klien
6. Letak handuk dibawah wajah penderita dan bengkok dibawah dagu penderita
7. Dengan hati-hati regangkan gigi atas dan bawah penderita dengan tong spatel secara
tepat tapi lembut, diantara molar belakang. Sisipkan bila penderita rileks, bila
memungkinkan.
8. Bersihkan mulut penderita dengan menggunakan tong spatel yang telah dibasahi
air/pencuci mulut. Bersihkan permukaan gigi. Gosok paltum mulut, bibir, pipi. Gosok
lidah tetapi hindari refleks gag. Basahi aplikator bersih dengan air dan gosok mulut
untuk mencuci. Ulangi sesuai dengan kebutuhan.

9. Cuci tangan setelah melakuka tindakan.


10. Catat hal-hal yang diperlukan ( misalnya gusi berdarah, lidah yang pecah )
http://www.kajianpustaka.com/2012/11/perawatan-rongga-mulut-oralhygiene.html

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan YME kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul ORAL
HYGINE (KEBERSIHAN MULUT&GIGI) dalam mata kuliah Kebutuhan Dasar
Manusia untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada:
1. Reni Ratnasih S.Kp,M.Kes selaku Ketua Jurusan Keperawatan
2. Dra.Yatinah selaku dosen mata kuliah Kebutuhan Dasar Manusia
3. Teman-teman mahasiswa-mahasiswi Polteknik Keshatan Kemenkes Banten
Kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam pembuatan makalah tersebut.Kami
berharap semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.

Penyusun
Kelompok 5

DAFTAR ISI

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

KATA PENGANTAR
..........................................................................
DAFTAR ISI
..........................................................................
ANATOMI FISIOLOGI MULUT dan GIGI ..........................................................................
ORAL HYGIENE
Pengertian
........................................................................
Tujuan
........................................................................
Waktu menyikat gigi
.........................................................................
Indikasi
.........................................................................
Kontraindikasi
..........................................................................
Hal-hal yang perlu di perhatikan
..........................................................................
Alat dan Bahan
............................................................................

8. Prosedur Pelaksanaan
KATA PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN
DAFTAR
PUSTAKA

...........................................................................
...........................................................................
. ..........................................................................
..........................................................................

ANATOMI FISIOLOGI MULUT dan GIGI


Gigi adalah bagian terkeras dari tubuh manusia yang komposisinya bahan organik dan airnya
sedikit sekali,sebagian besar terdiri dari bahan anorganik sehingga tidak mudah rusak
terletak dalam rongga mulut yang terlindung dan basah oleh air liur. (Depkes,2004)
Mulut merupakan jalan masuk sistem pencernaan
1.
2.

1.

2.

Mulut terdiri atas 2 bagian :


Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu ruang diantara gusi, gigi, bibir dan pipi
Bagian rongga mulut bagian dalam, yaitu rongga mulut yang dibatasi sisinya oleh tulang
maksilaris, palatum, dan mandibularis, di sebelah belakang bersambungan dengan faring.
Gigi di bagi menjadi 2 macam :
Gigi sulung, mulai tumbuh pada anak-anak umur 6-7 bulan. Lengkap pada umur 2 tahun
jumlahnya 20 buah disebut juga gigi susu, terdiri dari : 8 buah gigi seri ( dens insisivus), 4 buah
gigi taring (dens kaninus) dan 8 buah gigi geraham (molare)
Gigi tetap ( gigi permaenan) tumbuh pada umur 6-18 tahun, jumlahnya 32 buah, terdiri dari
:8
buah gigi seri ( dens insisivus), buah gigi taring (dens kaninus), 18 buah gigi geraham (molare),
dan 12 buah gigi geraham (premolare).

Komponen gigi:
1. Mahkota gigi (Mahkota klinis) yaitu bagian
yang menonjol di atas gusi (gingival),sedangkan
mahkota anatomis adalah bagian gigi yg dilapisi
email
2. Akar gigi yaitu bagian yang terpendam
dalam alveolus pada tulang maksila atau mandibula

3. Leher gigi (serviks) yaitu tempat bertemunya mahkota anatomis dan akar gigi

Fungsi Gigi
Berdasarkan fungsinya, kita mengenal 4 macam
gigi manusia, yaitu:
1. Gigi seri (insivisus), berguna untuk
memotong dan menggigit makanan
2. Gigi taring (caninus), berguna untuk
merobek makanan
3. Gigi geraham depan (premolar), berfungsi untuk mengunyah makanan
Fungsi Lidah
Lidah berfungsi untuk membantu gigi agar pengunyahan dapat lebih merata. Pada lidah
terdapat banyak tonjolan dan sel-sel saraf sehinga lidah juga berfungsi sebagai indera perasa.
Pembagian daerah pada lidah yang peka terhadap rasa tertentu adalah:
1.
2.
3.
4.

Sel saraf yang peka terhadap rasa manis terletak di ujung lidah bagian depan.
Sel saraf yang peka terhadap rasa pahit terletak di pangkal lidah bagian belakang.
Sel saraf yang peka terhadap rasa asin terletak di bagian tepi kiri dan kanan lidah.
Sel saraf yang peka terhadap rasa asam terletak di tepi kanan dan kiri bagian belakang lidah.
ORAL HYGIENE (KEBERSIHAN MULUT dan Gigi)

1. Pengertian
Oral hygine adalah usaha mempertahankan kebersihan rongga mulut,gusi.dan lidah.
2. Tujuan
Mempertahankan mulut dan gigi agar tetap bersih dan tidak berbau
Mencegah infeksi pada mulut seperti kerusakan gigi,bibir pcah-pecah atau stomatitis
(sariawan)
Memberi rasa nyaman serta meningkatkan kepercayaan diri pasien
Membantu membangkitkan nafsu makan
3. Waktu menyikat gigi
Gosok gigi dengan teliti sedikitnya dua kali sehari (setelah makan dan waktu tidur)
adalah dasar program hygiene mulut yang efektif.
4. Indikasi pasien menggosok gigi atau membersihkan mulut
1. Pada pasien lumpuh
2. Pada pasien sakit berat
3. Pada pasien apatis
4. Pada pasien stomatitis
5. Pada pasien yang mendapatkan oksigenasi dan Naso Gastrik Tube (NGT),
6. Pada pasien yang lama tidak menggunakan mulut
7. Pada pasien yang tidak mampu melakukan perawatan mulut secara mandiri.

8. Pada pasien yang giginya tidak boleh di gosok dengan sikat gigi misalkan karena tomatitis
hebat
9. Pasien sesudah operasi mulut atau yang menderita patah tulang rahang.
5. Kontraindikasi
1. Perhatikan perawatan mulut pada pasien yang menderita penyakit diabetes dapat beresiko
stomatitis ( penyakit yang disebabkan oleh kemoterapi, radiasi dan itubasi selang nase gratik )
2. Luka pada gusi jika terlalu kuat membersihkannya
6. Hal-hal yang harus diperhatikan
Klien tertentu beresiko untuk masalah mulut karena kurangnya pengetahuan tentang
higienoral, ketidakmampuan melakukan perawatan mulut atau perubahan integritas gigi

3)
4)
5)
6)
7)
8)
8.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

danmukos akibat penyakit atau pengobatan.


Persiapan Alat dan Bahan
Handuk dan kain pengalas
Gelas kumur berisi:
a. Air masak/NaCl
b. Obat kumur
c. Borax gliserin
Spatel lidah yang telah dibungkus dengan kain kasa
Kapas lidi
Bengkok
Kain kasa
Pinset atau arteri klem
Sikat gigi dan pasta gigi
Prosedur pelaksanaan pada pasien tidak sadar
Jelaskan prosedur pada klien/keluarga klien
Cuci tangan
Atur posisi dengan posisi tidur miring kanan/kiri
Pasang handuk dibawah dagu/pipi klien
Ambil pinset dan bungkus dengan kain kasa yang dibasahi dengan air hangat/masak
Gunakan tong spatel (sudip lidah) untuk membuka mulut pada saat membersihkan gigi/mulut
Lakukan pembersihan dimulai dari diding rogga mulut, gusi, gigi, dan lidah/
Keringkan dengan kasa steril yang kering
Setelah bersih, oleskan dengan Borax gliserin/gentian violet
Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

9.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Pelaksanaan prosedur pada pasien sadar tapi tidak mampu sendiri


Jelaskan prosedur pada klien
Cuci tangan
Atur posisi dengan duduk
Pasang handuk dibawah dagu
Ambil pinset dan bungkus dengan kain kasa yang dibasahi dengan air hangat/masak
Kemudian bersihkan pada daerah mulut mulai rongga mulut, gisi, gigi dan lidah, lalu bilas

7.
1)
2)

dengan larutan NaCl.


g. Setelah bersih oleskan dengan borax gliserin atau gentian violet
h. Untuk perawatan gigi lakukan penyikatan dengan gerakan naik turun dan bilas lalu keringkan
i. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

KATA PENUTUP
A. KESIMPULAN
Proses keperawatan pada oral hygiene membantu klien dalam menghadapi masalah mulut
selain itu juga dapat membantu perawat dalam mengetahui masalah mulut yang umum.
Pengkajian perawat tentang mulut termasuk dalam perawatan terhadap bibir, gigi, mucosa
buccal, gusi, langit-langit dan ,lidah klien. Klien yang tidak mengikuti praktik hygiene mulut
yang teratur akan mengalami penurunan jaringan gusi yang meradang, gigi yang hitam, karies
gigi, kehilangan gigi, dan halitosis. Hygiene mulut membantu memperthankan kesehatan
mulut, gigi, gusi, dan bibir.

B. SARAN
Makalah ini mebahas tentang Oral Hygiene yang sangat penting dalam kehidupan seharihari, di harapkan setelah membaca makalah ini untuk dapat di terapkan dalam kehidupan
sehari-hari untuk meningkatkan derajat kesehatan sesorang.

DAFTAR PUSTAKA
Potter, Perry. 2002.Buku Ajar Fundamental Keperawatan.Jakarta: EGC
http://asuhankeperawatans.blogspot.com/2011/02/protap-merawat-gigi-danmulut-pasien.html
http://hannydarliany.blogspot.com/2011/12/personal-hygiene_04.html
Hidayat,Azis Alimul.2006.Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar
Manusia.Jakarta:Salemba Medika
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan
rahmat-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Kesehatan, Penyakit dan Pencegahannya dalam rangka memenuhi tugas IPA 1 tepat pada
waktunya.
Dalam menyelesaikan makalah ini, penulis banyak mendapatkan bantuan, bimbingan dan
nasihat dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima
1.

kasih kepada:
Dosen mata kuliah IPA 1, Setyo Eko Atmojo,M.Pd , yang telah memberi ilmu dan

pengetahuan dalam pembuatan makalah ini.


2. Sahabat-sahabat yang membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sebagai balasan atas
amal baik dari semua pihak yang telah disebutkan di atas. Penulis mengharapkan saran dan
kritik yang membangun guna kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat
bagi semua pihak yang membacanya.

Yogyakarta, 9 Desember 2012


Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan hal terpenting dalam hidup kita. Jika tubuh sudah tidak sehat,
maka untuk melakukan aktivitas sehari-hari kurang maksimal bahkan ada yang tidak bisa
melakukannya karena kendala kesehatan. Oleh sebab itu jika kita igin tubuh kita sehat terus
dan terhindar dari bibit penyakit, kita harus tahu apa sih sebenarnya sehat itu, dan bagaimana
cara kita mendapatkan tubuh yang selalu sehat?
Di sini kami akan membahas tentang apa itu sehat dan bagaimana cara kita menjaga
kesehatan kita. Kami juga akan membahas macam-macam penyakit, mulai dari penyakit
menular, tidak menular sampai penyakit yang menurun. Kami juga akan membahas cara
untuk mencegah agar terhindar dari penyakit tersebut. Minimal berusaha untuk menjaga
tubuh agar tetap sehat. Untuk itu, penting bagi kita mengetahui tentang pendidikan kesehatan,
berawal dari diri kita sendiri.
B. Rumusan Masalah
a.

Jelaskan tentang kesehatan bagi manusia!

b.

Sebutkan dan jelaskan berbagai macam penyakit pada manusia!

c.

Jelaskan pencegahan yang dapat dilakukan agar terhindar dari penyakit!


C. Tujuan

a.

Menjelaskan kesehatan pada manusia dan cara menjaganya.

b.

Menyebutkan dan menjelaskan berbagai macam penyakit pada manusia.


c.

Menjelaskan cara pencegahan penyakit yang dapat dilakukan agar terhindar dari penyakit.

BAB II
KESEHATAN, PENYAKIT dan PENCEGAHANNYA
A. Pengertian Kesehatan
Menurut WHO (1974) yang dikutip oleh Effendi (1995), sehat adalah keadaan yang
sempurna dari fisik, mental, social, jadi tidak hanya bebas dari penyakit dan bebas dari
kelemahan. Sehat juga ditentukan oleh kesempurnaan keadaan jasmani, rohani, dan social
seseorang. Sedangkan menurut UU Kesehatan RI No. 9 tahun 1960 dan UU No. 23 tahun
1992 Kesehatan ialah: Keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan social yang memungkinkan
setiap orang hidup produktif secara social dan ekonomis.
Kesehatan merupakan factor penting yang harus diperhatikan oleh manusia. Karena jika
kita sehat maka aktivitaspun akan lancar. Sebaliknya jika badan kita kurang sehat, maka
aktivitas yang kita lakukan kurang maksimal atau bahkan tidak bisa beraktivitas sma sekali.
Oleh karena itu, kita harus tahu tentang kesehatan kita, setidaknya kita tahu tentang diri kita
sendiri. Apabila kita merasa sakit sebaiknya kita langsung memeriksakan ke dokter atau
puskesmas terdekat untuk mencegah agar rasa sakit yang kita rasaan tidak menjadi parah.
Penyakit ada yang menular dan ada pula yang tidak menular. Ada penyakit yang
merupakan bawaan dari orang yua atau nenek moyang kita, misalnya saja asma. Baik
penyakit menular, tidak menular ataupun bawaan dapat muncul jika tubuh kita kurang fit atau
kekebalan tubuh kita menurun. Agar penyakit tidak menyerang pada tubuh kita, sebaiknya
kita mencegahnya terlebih dahulu. Upaya yang bisa dilakukan kita ntuk mencegah agar tidak
mudah terserang penyakit adalah dengan makan makanan yang sehat dan gizi seimbang, rutin
berolah raga, memjaga kebersihan lingkungan, dan menghindari stress yang terlalu berat.
Stres juga dapat menyebabkan kita mudah terjangkit penyakit.
B. Usaha Kesehatan Perorangan, Masyarakat, dan Lingkungan
Usaha kesehatan (hygiene) perseorangan lebih menitik beratkan kepada usaha
peningkatan nilai kesehatan perorangan. Contoh usaha kesehatan perseorangan adalah
makan-makanan yang memenuhi gizi, merebus air sampai matang, menggosok gigi secara
tertur, memasak makanan debgan memperhatikan gizinya, mencuci tangan sebelum makan,
menutup tempat penampungan air yang ada di rumah, tidak makan sembarangan, istirahat
yang cukup, olah raga secara teratur, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala (Iehsan,
Yulati, Rejeki, (1993).

Usaha kesehatan masyarakat merupakan usaha untuk melindungi dan mempertinggi


derajat kesehatan masyarakat. Ada tiga factor yang menyebabkan orang mudah terserang
penyakit, antara lain karena:
1. Factor pendidikan kesehatan yang masih kurang
Misalnya orang yang pendidikannya rendah atau orang-orang yang sama sekali belum
mengenal pendidikan kesehatan. Mereka dalam hal menanggulangi penyakit yang dideritanya
tidak secepatnya pergi berobat ke dokter, ke rumah sakit atau PUSKESMAS, melainkan
mereka masih pergi minta tolong kepada seorang dukun yang sebetulnya dukun tersebut
bukan ahli mengobati penyakit yang mereka derita.
2. Factor kebiasaan penduduk yang masih terbelakang
Makanan dan minuman yang kurang memenuhi syarat kesehatan. Mereka makan
makanan yang kurang bergizi atau malahan makanan yang tidak bergizi dan tidak memenuhi
baik kualitas maupun kuantitasnya. Minuman yang mereka minumpun tidak sehat, mereka
minum air yang belum dimasak. Padahal air yang belum direbus masih banyak mengandung
baksil-baksil atau kuman yang dapat menimbulkan sakit pada pencernaan makanan (perut),
misalnya muntaber, diare, disentri, kolera, dan lain-lain.
Kebiasaan membuang kotoran, air limbah atau sampah di sembarang tempat.
Sehingga menimbulkan lingkungan yang kotor, kemudian banyak lalat, kecoa, dan hewan
lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit. Juga kebiasaan mandi di sungai yang
airnya kotor.
3. Factor ekonomi rakyat yang masih kurang mencukupi
Berobat ke dokter bagi orang-orang yang kurang mampu harus berpikir dua atau tiga
kali. Karena di samping upah periksa dokter yang mahal, juga harga obat yang kurang atau
tidak terjangkau oleh masyarakat yang ekonominya lemah.

Usaha yang dapat dilakukan masyarakat dalam menjaga kesehatan meliputi:


1. Memeperbaiki kesehatan lingkungan,

2. Mencegah dan memberantas penyakit infeksi,


3. Mendidik masyarakat tentang prinsip-prinsip kesehatan,
4. Mengkoordinasi tenaga-tenaga kesehatan untuk melayani pengobatan dan perawatan,
5. Mengembangkan upaya masyarakat untuk mencapai tingkatan hidup yang setinggitingginya (Iehsan, Yuliati, Rejeki, (1993).
Usaha kesehatan lingkungan (sanitasi) adalah usaha yang lebih menitik beratkan pada
perbaikan lingkungan hidup secara fisik atau kepada factor lingkungan yang mempengaruhi
kesehatan perorangan/masyarakat. Contoh usaha sanitasi antara lain adalah membuat jamban
keluarga (MKC), penyediaan sumber air minum yang bersih, pembuatan tempat pembuangan
sampah, pengawasab terhadap sector penyebar penyakit.
C. Macam-Macam Penyakit dan Cara Mencegahnya
Kita ketahui bahwa penyakit itu beraneka macam. Mulai dari penyakit yang ringan
sampai yang berat. Berdasarkan penularannya, penyakit dibedakan menjadi penyakit menular
dan penyakit tidak menular. Adapun cara penularan penyakit bisa melalui:
1. Saluran pernafasan
Bibit penyakit dapat masuk ke dalam tubuh seseorang melalui saluran pernafasan.
Seorang penderita mengeluarkan air ludah atau getah hidung atau udara yang mengandung
bibit penyakit. Apabila titik-titik ludah atau getah hidung atau udara yang mengandung bibit
penyakit tersebut terhirup oleh orang lain yang kebetulan kondisi tubunya lemah, maka orang
tersebut akan sakit karena tertular penyakit. Penyakit yang dapat ditularkan melalui saluran
pernafasan contohnya: influenza, TBC, batuk, dll.
2. Saluran pencernaan
Bibit penyakit dapat masuk melalui saluran pencernaan. Bibit penyakit masuk melalui
rongga mulut melalui makanan atau minuman yang dikonsumsi. Hal ini akan terjadi apabila
seseorang memakan makanan atau minuman yang tidak bersih atau makanan yang
menggunakan peralatan yang tidak bersih atau bisa juga saat makan tidak mencuci tangan
terlebih dahulu. Orang ini akan tertular bibit penyakit melalui rongga mulut dan masuk ke
saluran pencernaan. Contoh penyakit yang dapat ditularkan adalah: diare, muntaber, dll.
3. Kulit
Penyakit yang dapat ditularkan melalui kulit bisa berupa penyakit kulit atau bukan
penyakit kulit. penyakit pada kulit dapat ditularkan melalui sentuhan langsung dengan si
penderita, (contoh penyakitnya yaitu: panu, cacar air, kadas, kurap), dapat juga melalui
hubungan tidak langsung yaitu dengan menggunakan barang yang digunakan si penderita,

contohnya handuk, atau baju si penderita. Sedangkan penyakit bukan kulit yang dapat
ditularkan melalui kulit yaitu penyakit yang menyerang pembuluh darah, misalnya penyakit
demam berdarah. Penyakit ini ditularkan melalui perantara serangga (nyamuk) yang mengigit
si penderita. Nyamuk menggigit penderita malaria, lalu nyamuk terebut menggigit orang lain
yang tidak terserang penyakit malaria, maka secara tidak langsung orang yang tidak terserang
penyakit malaria tertular penyakit malaria dari gigitan nyamuk tersebut.
Macam-macam penyakit:
1. Penyakit menular
Adalah suatu penyakit yang dengan mudah berkembang ke tubuh lain dengan melalui
perantara tertentu (serangga, cacing, protozoa, bakteri, virus, jamur), secara langsung maupun
tidak langsung. Yang termasuk penyakit menular yaitu:
a. TBC
Penyakit tuberculosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Mikrobakterium tuberkulosa. Bakteri ini berbentuk batang dab bersifat tahan asam sehingga
dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh
Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882, sehingga untuk mengenang jasanya bekteri
tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan, penyakit TBC pada paru-paru kadang disebut
sebagai Koch Pulmonum (KP).
Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri
Mikrobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anakanak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering
masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama
pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh
darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir
seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar
getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu
paru-paru.
Gejala penyakit TBC:
Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul
sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada
kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnose secara klinis.
Gejala sistemik/khusus:
1) Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari diertai
keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang
timbul.
2) Penuruna nafsu makan dan berat badan.
3) Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
4) Perasaan tidak enak, lemah.

Gejala khusus:
1) Tergantung dari organ tubuh mana yang terkenaa, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus
(saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar,
akan menimbulkan suara mengi, suara nafas melemahyang disertai sesak.
2) Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan
sakit dada.
3) Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat
dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar
4)

cairan nanah.
Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai
meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan
kesadaran dan kejang-kejang.
Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau diketahui
adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan
penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan
5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif,
dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.
Penegakkan diagnosis
Apabila dicurigai seseorang tertular penyakit TBC, maka beberapa hal yang perlu dilakuakn

1)
2)
3)
4)
5)
6)
b.

untuk menegakkan diagnosis adalah:


Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarga.
Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan laboretorium (darah, dahak, cairan otak).
Pemeriksaan patologi anatomi (PA).
Rontgen dada (thorax photo).
Uji tuberculin.
Kolera
Kolera (cholera) adalah penyakit infeksi saluran usus. Sifat kolera akut, penyebabnya
bakteri Vibrio cholerae. Bakteri ini masuk ke dalam tubuh seseorang melalui makanan atau
minuman yang terkontaminasi. Di dalam usus bakteri mengeluarkan enterotoksin (racunnya).
Akibatnya penderita terserang diare (diarrhoea) disertai muntah yang akut dan hebat. Akibat
lanjut, penderita kehilangan banyak cairan tubuh dan masuk pada kondisi dehidrasi yang bisa
mematikan.
Penularan:
Kolera dapat menyebar sebagai penyakit yang endemik, epidemik, atau pandemik. Meskipun
sudah banyak penelitian bersekala besar dilakukan, namun kondisi penyakit ini tetap menjadi
suatu tantangan bagi dunia kedokteran modern. Bakteri Vibrio cholerae berkembang biak dan
menyebar melalui feaces (kotoran) manusia, bila kotoran yang mengandung bakteri ini
mengkontaminasi air sungai dan sebagainya maka orang lain yang terjadi kontak dengan air

tersebut beresiko terkena penyakit kolera itu juga. Misalnya cuci tangan yang tidak bersih
lalu makan, mencuci sayuran atau makanan dengan air yang mengandung bakteri kolera,
makan ikan yang hidup di air terkontaminasi bakteri kolera, Bahkan air tersebut (seperti
disungai) dijadikan air minum oleh orang lain yang bermukim disekitarnya.
Gejala:
Pada orang yang feacesnya ditemukan bakteri kolera mungkin selama 1-2 minggu belum
merasakan keluhan berarti, Tetapi saat terjadinya serangan infeksi maka tiba-tiba terjadi diare
dan muntah dengan kondisi cukup serius sebagai serangan akut yang menyebabkan samarnya
jenis diare yg dialami.
Akan tetapi pada penderita penyakit kolera ada beberapa hal tanda dan gejala yang
ditampakkan, antara lain ialah:
1) Diare yang encer dan berlimpah tanpa didahului oleh rasa mulas atau tenesmus.
2) Feaces atau kotoran (tinja) yang semula berwarna dan berbau berubah menjadi cairan putih
keruh (seperti air cucian beras) tanpa bau busuk ataupun amis, tetapi seperti manis yang
3)

menusuk.
Feaces (cairan) yang menyerupai air cucian beras ini bila diendapkan akan mengeluarkan

gumpalan-gumpalan putih.
4) Diare terjadi berkali-kali dan dalam jumlah yang cukup banyak.
5) Terjadinya muntah setelah didahului dengan diare yang terjadi, penderita tidak merasakan
mual sebelumnya.
6) Kejang otot perut bisa juga dirasakan dengan disertai nyeri yang hebat.
7) Banyaknya cairan yang keluar akan menyebabkan terjadinya dehidrasi dengan tandatandanya seperti ; detak jantung cepat, mulut kering, lemah fisik, mata cekung, hypotensi dan
lain-lain yang bila tidak segera mendapatkan penangan pengganti cairan tubuh yang hilang
dapat mengakibatkan kematian.
Pencegahan
Cara pencegahan dan memutuskan tali penularan penyakit kolera adalah dengan prinsip
sanitasi lingkungan, terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran (feaces) pada
tempatnya yang memenuhi standar lingkungan. Lainnya ialah meminum air yang sudah
dimasak terlebih dahulu, cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai
sabun/antiseptik, cuci sayuran dangan air bersih terutama sayuran yang dimakan mentah
(lalapan), hindari memakan ikan dan kerang yang dimasak setengah matang. Bila dalam
anggota keluarga ada yang terkena kolera, sebaiknya diisolasi dan secepatnya mendapatkan
pengobatan. Benda yang tercemar muntahan atau tinja penderita harus di sterilisasi,
searangga lalat (vektor) penular lainnya segera diberantas. Pemberian vaksinasi kolera dapat
melindungi orang yang kontak langsung dengan penderita.

c.

Penyakit kulit (jamur kulit)


Ada beberapa macam penyakit kulit, yaitu:
1) Kudis
Kudis adalah penyakit kulit yang menular, penyakit ini dalam bahasa ilmiah disebut scabies,
memiliki gejala gatal, dan rasa gatal tersebut akan lebih para pada malam hari. Sering muncul
di tempat-tempat lembab di tubuh seperti misalnya, tangan, ketiak, pantat, kunci paha dan
terkang di selang jari tangan atau kaki.
Cara Pencegahan penyakit kudis dapat dilakukan dengan mencuci sperai tempat tidur, handuk
dan pakaian yan dipakai dalam 2 hari belakangan dengan air hangat dan deterjen.
2) Kurap
Penyakit Kurap merupakan suatu penyakit kulit menular yang disebabkan oleh fungsi. Gejala
kurap mulai dapat dikenali ketika terdapat baian kecil yang kasar pada kulit dan dikelilingi
lingkaran merah muda. Kurap dapat dicegah dengan cara mencuci tangan yang sempurna,
menjaga kebersihan tubuh, dan mengindari kontak dengan penderita.
Kurap dapat diobati dengan anti jamur yang mengandung mikonazol dan kloritomazol
dengan benar dapat menghilangkan infeksi.
3) Panau
Panau atau panu adalah salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur. Penyakit panau
ditandai dengan bercak yang terdapat pada kulit disertai rasa gatal pada saat berkeringat.
Bercak-bercak ini bisa berwarna putih, coklat atau merah tergantung warna kulit si penderita.
Panau paling banyak dijumpai pada remaja usia belasan. Meskipun begitu panu juga bisa
ditemukan pada penderita berumur tua.
Cara pencegahan penyakit kulit Panau dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kulit, dan
dapat diobati dengan obat anti jamur yang dijual di pasaran, dan dapat juga diobati dengan
obat-obatan tradisional seperti daun sirih yang dicampur dengan kapur sirih dan dioleh pada
kulit yang terserang Panau.

d. Flu/pilek
Penyakit ini disebabkan oleh virus yang menyerang saluran pernafasan. Penyakit ini
termasuk jenis penyakit yang cepat sekali menular. Gejala dari penyakit ini adalah
menggigil, demam, sakit kepala, nyeri otot punggung, tubuh terasa lemas, lelah, berkeringat,
kerongkongan terasa sakit, batuk - batuk, hidung berair, serta suhu tubuh meninggi.
Cara mengobati penyakit influenza adalah dengan cara mengkonsumsi air putih sebanyake.

banyaknya dan istirahat yang cukup. Dan minum minuman perda pilek/obat flu.
Demam Berdarah (DBD)

Penyakit demam berdarah adalah penyakit infeksi yang bisa berakibat fatal dalam waktu
yang sangat relatif singkat. Demam berdarah tidak menular melalui kontak manusia secara
langsung tetapi bisa ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti betina yang menyimpan virus
pada telurnya dan selanjutnya akan menularkan virus tersebut kepada manusia melalui
gigitan. Nyamuk jenis ini biasanya menggigit pada siang hari (09.00 - 10.00) atau sore hari
(16.00 - 17.00).
Gejala dari penyakit demam berdarah ini diantaranya adala demam secara tiba-tiba, sakit
kepala berat, sakit pada sendi dan otot, serta timbul bintik-bintik merah pada kulit.
Gejala:
Masa tunas/inkubasi selama 3-15 hari sejak seseorang terserang virus dengue. nderita
akan menampakkan berbagai tanda dan gejala demam berdarah sebagai berikut :
1) Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38-40 derajat Celsius).
2) Pada pemeriksaan uji torniquet, tampak adanya jentik (puspura) perdarahan.
3) Adanya bentuk perdarahan di kelopak mata bagian dalam (konjungtiva), mimisan (epitaksis),
buang air besar dengan kotoran (peaces) berupa lendir bercampur darah (melena), dan lainlainnya.
4) Terjadi pembesaran hati (Hepatomegali).
5) Tekanan darah menurun sehingga menyebabkan syok.
6) Pada pemeriksaan laboratorium (darah) hari ke 3-7 terjadi penurunan trombosit di bawah
100.000/mm3 (trombositopeni), terjadi peningkatan nilai hematokrit di atas 20% dari nilai
normal (hemokonsentrasi).
7) Timbulnya beberapa gejala klinik yang menyertai seperti mual, muntah, penurunan nafsu
makan (anoreksia), sakit perut, diare, menggigil, kejang dan sakit kepala.
8) Mengalami perdarahan pada hidung (mimisan) dan gusi.
9) Demam yang dirasakan penderita menyebabkan keluhan pegal / sakit pada persendian.
10) Munculnya bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah.
Penularan:
Penyebaran penyakit DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan
Aedes albopictus, sehingga pada wilayah yang sudah diketahui adanya serangan penyakit
DBD akan mungkin ada penderita lainnya bahkan akan dapat menyebabkan wabah yang luar
biasa bagi penduduk di sekitarnya.
Pengobatan:
1) Fokus pengobatan pada penderita penyakit DBD adalah mengatasi perdarahan, mencegah
atau mengatasi keadaan syok / presyok, yaitu dengan mengusahakan agar penderita banyak
2)

minum sekitar 1,5 sampai 2 liter air dalam 24 jam (air teh dan gula sirup atau susu.
Penambahan cairan tubuh melalui infus (intravena) mungkin diperlukan untuk mencegah
dehidrasi dan hemokonsentrasi yang berlebihan. Transfusi platelet dilakukan jika jumlah
platelet menurun drastis. Selanjutnya adalah pemberian obat-obatan terhadap keluhan yang

timbul, misalnya:
a) Paracetamol membantu menurunkan demam,

b) Garam elektrolit (oralit) jika disertai diare,


c) Antibiotik berguna untuk mencegah infeksi sekunder.
3) Lakukan kompres dingin, tidak perlu dengan es karena bisa berdampak syok. Bahkan
beberapa tim medis menyarankan kompres dapat dilakukan dengan alkohol. Pengobatan
alternatif yang umum dikenal adalah dengan meminum jus jambu biji bangkok, namun
khasiatnya belum pernah dibuktikan secara medis, akan tetapi jambu biji kenyataannya dapat
mengembalikan cairan intravena dan peningkatan nilai trombosit darah.
Pencegahan dari penyakit demam berdarah ini bisa dilakukan dengan cara:
Pencegahan dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk di waktu pagi sampai sore,
karena nyamuk aedes aktif di siang hari (bukan malam hari). Misalnya hindarkan berada di
lokasi yang banyak nyamuknya di siang hari, terutama di daerah yang ada penderita DBD
nya. Beberapa cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD melalui metode
a)

pengontrolan atau pengendalian vektornya adalah :


Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat

perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan disain rumah.
b) Pemeliharaan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang) pada tempat air kolam, dan
bakteri (Bt.H-14).
c) Pengasapan / fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion).
d) Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti, gentong
e)
f)
g)
h)
f.

air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.


Penyemprotan nyamuk di lingkungan rumah dan masyarakat.
Membersihkan saluran air, menutup tempat penyimpanan air.
Membersihkan dan mengurasbak mandi.
Serta mengubur barang-barang bekas yang sudah tidak dipakai.
Diare
Diare adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Orang yang terkena diare akan
mengalami sering buang air besar dengan tekstur faces yang encer. Diare berat bila tidak
ditangani dengan benar bisa menyebabkan dehidrasi serta bisa juga menyebabkan kematian.
Penyakit diare bisa disebabkan oleh gejala luka, alergi zat tertentu, penyakit dari makanan,
kelebihan mengkonsumsi vitamin C. Penyakit diare bisa diobati dengan cara mengkonsumsi
cairan yang banyak terutama oralit sehingga bisa mengganti jumlah cairan yang keluar

melalui buang air besar.


g. Cacar
Cacar air yang disebabkan virus Varicella Zoster ini bersifat menular. Pada kulit penderita
akan ditemukan sekumpulan bintik-bintik kecil, bersisi cairan, atau keropeng. Bintik-bintik
tersebut membuat penderita merasa gatal. Efek jangka panjangnya adalah cacat pada kulit,
infertilitas, dan kadang-kadang kebutaan. Gejala lainnya seperti demam, sakit kepala, nyeri
tubuh dan ruam.
Tips pengobatan untuk penyakit cacar:

1)

Cucilah bagian yang sakit dengan sabun dan air matang, basahi perlahan-lahan dan bersihkan

keraknya.
2)
Oleskan gentian violet atau salep antibiotika seperti polyporin atau tetracycline pada
lukanya, jika Anda memiliki obat-obatan tersebut.
3)
Apabila infeksi telah menjalar dan meluas atau menyebabkan peninggian suhu tubuh,
berikan tablet penicillin. Ini dilakukan dengan pengawasan petugas kesehatan.
Mencegah penyakit cacar:
1) Cobalah untuk ikuti petunjuk tentang Kebersihan Perorangan. Dengan membiasakan diri
2)

untuk merawat kesehatan pribadi, diharapkan dampak cacak akan dapat dikurangi.
Selalulah mencuci tangan dengan sabun setelah bangun tidur pada pagi hari, atau setelah

buang air besar, dan sebelum makan.


3) Cobalah anda untuk membiasakan memakai alas kaki, juga untuk anak-anak.
4)
Mandikan anak-anak setiap hari dan lindungilah mereka dari gigitan kutu busuk serta
serangga terbang yang menggigit. Apabila seorang anak menderita kudis, obatilah secepat
5)

mungkin, Jangan lupa anda juga.


Jangan biarkan seorang anak yang menderita cacar dibiarkan tidur atau bermain bersama
anak-anak lain. Mulailah mengobatinya ketika tanda-tanda pertama cacar muncul. karena

penyakit cacar ini adalah jenis penyakit menular.


Tanda-tanda cacar air:
Untuk tanda-tanda dari penyakit cacar ini adalah Pertama-tama timbul banyak bercak
berukuran kecil, merah, dan gatal. Kemudian bercak-bercak ini berubah menjadi bintul
(papila) atau lepuhan (vesicula) yang kecil, pecah dan akhirnya membentuk keropeng
(crusta). Biasanya bercak-bercak ini mulai timbul pada badan, kemudian menyebar pada
wajah, lengan, serta kaki. Mungkin terdapat bercak, lepuhan dan keropeng sekaligus pada
saat yang bersamaan.
h. Malaria
Penyakit malaria adalah suatu penyakit menular yang banyak diderita oleh penduduk di
daerah tropis dan subtropis.
Penyakit tersebut semula banyak ditemukan di daerah rawa-rawa dan dikira disebabkan oleh
udara rawa yang buruk, sehingga dikenal sebagai malaria (mal = jelek; aria=udara). Seiring
berkembangnya teknologi kedokteran, pendapat itu dimentahkan oleh berbagai data mutakhir.
Penyebab penyakit malaria:
1) Penyakit malaria disebabkan oleh bibit penyakit yang hidup di dalam darah manusia. Bibit
penyakit tersebut termasuk binatang bersel satu, tergolong amuba yang disebut Plasmodium.
2) Ada empat macam plasmodium yang menyebabkan malaria.
3) Falciparum, penyebab penyakit malaria tropika. Jenis malaria ini bisa menimbulkan
kematian.
4) Vivax, penyebab malaria tersiana. Penyakit ini sukar disembuhkan dan sulit kambuh.
5) Malaria, penyebab malaria quartana. Di Indonesia penyakit ini tidak banyak ditemukan.
6) Ovale, penyebab penyakit malaria Ovale. Tidak terdapat di Indonesia.

7)

Kerja plasmodium adalah merusak sel-sel darah merah. Dengan perantara nyamuk
anopheles, plasodium masuk ke dalam darah manusian dan berkembang biak dengan

membelah diri.
Penularan dan penyebaran penyakit malaria:
1) Penularan penyakit malaria dari orang yang sakit kepada orang sehat, sebagian besar melalui
gigitan nyamuk. Bibit penyakit malaria dalam darah manusia dapat terhisap oleh nyamuk,
berkembang biak di dalam tubuh nyamuk, dan ditularkan kembali kepada orang sehat yang
digigit nyamuk tersebut.
2) Jenis-jenis vektor (perantara) malaria yaitu:
3)
4)

Anopheles Sundaicus, nyamuk perantara

malaria di daerah pantai.


Anopheles Aconitus, nyamuk perantara malaria daerah persawahan.
Anopheles Maculatus, nyamuk perantara malaria daerah perkebunan, kehutanan dan

pegunungan.
Penularan yang lain adalah melalu transfusi darah. Namun kemungkinannya sangat kecil.
Tanda-tanda penyakit malaria:
1) Dimulai dengan dingin dan sering sakit kepala. Penderita menggigil atau gemetar selama 15
5)

menit sampai atu jam.


2) Dingin diikuti demam dengan suhu 40 derajat atau lebih. Penderita lemah, kulitnya
kemerahan dan menggigau. Demam berakhir serelah beberapa jam.
3) Penderita mulai berkeringat dan suhunya menurun. Setelah serangan itu berakhir, penderita
merasa lemah tetapi keadaannya tidak mengkhawatirkan.
Bahaya penyakit malaria:
1) Rasa akit yang ditimbulkan sangat menyiksa si penderita.
2) Tubuh yag sangat lemah, sehingga tidak dapat bekerja seperti biasa.
3) Dapat menimbulkan kematian pada anak-anak dan bayi.
4)
Perkembangan otak bisa terganggu pada anak-anak dan bayi, sehingga menyebabkan

1)

kebodohan.
Tindakan dan pengobatan:
Memutus rantai penularan dengan memilih mata rantai yang paling lemah. Mata rantai

2)

tersebut adalah penderita dan nyamuk malaria.


Seluruh penderita yang memiliki tanda-tanda malaria diberi pengobatan pendauluan dengan

3)

tujuan untuk menghilangkan rasa sakit dan mencegah penularan selama 10 hari.
Bagi penderita yang dinyatakan positif mederita malaria setelah diuji di laboratorium, akan

4)

diberi pengobatan secara sempurna.


Bagi orang-orang yang akan ke daerah endemis malaria seperti para calon transmigran, perlu

1)

diberi obat pencegahan.


Tindakan-tindakan pencegahan:
Usahakan tidur dengan kelambu, member kawat kasa, memakai obat nyamuk bakar,

2)
3)

menyemprot ruang tidur, dan tindakan lain untuk mencegah nyamuk berkembang di rumah.
Usahakan pengobatan pencegahan secara berkala, terutama di daerah endemis malaria.
Menjaga kebersihan lingkungan dengan membersihkan ruang tidur, semak-semak sekitar
rumah, genangan air, dan kandang-kandang ternak.

4)

Memperbanyak jumlah ternak seperti sapi, kerbau, kambing, kelinci dengan menempatkan

5)

mereka di luar rumah di dekat tempat nyamuk bertelur.


Memelihara ikan pada air yang tergenang, seperti kolam, sawah, parit. Atau dengan member

6)

edikit minyak pada air yang tergenang.


Menanam padi secara serempak atau diselingi dengan tanaman kering atau pengeringan

7)
i.

sawah secara berkala.


Menyemprot rumah dengan DDT.
Polio
Polio disebabkan oleh virus yang termasuk genus enterovirus famili Picornavirus
yang menyebabkan penderitanya lumpuh layu. Virus ini tahan terhadap pengaruh fisik dan
bahan kimia. Virus ini juga dapat hidup dalam tinja penderita selama 90-100 hari. Virus ini
dapat bertahan lama pada air limbah dan air permukaan, bahkan dapat sampai berkilokilometer dari sumber penularan.
Penyebab penyakit polio
Penyebab dari penyakit polio adalah virus polio. Karena disebabkan oleh
virus, maka penyakit ini bersifat menular, penularan virus ini dapat melalui beberapa cara
yaitu : secara langsung dari penderita ke orang lain, melalui cairan yang dikeluarkan atau
melalui tinja penderita. Virus dapat masuk melalui hidung dan mulut, berkembang biak di
dalam tenggorokan dan saluran pencernaan, kemudian diserap dan disebarkan melalui
pembuluh

darah

dan

pembuluh

getah

bening.

Penyakit ini dapat terjadi akibat kelalaian imunisasi polio, pernah berpergian atau bahkan
menetap di daerah yang merupakan daerah endemis polio, melemahnya sistem kekebalan
tubuh
1)
a)
b)
c)
d)
2)
a)
b)
c)
d)
e)
f)
3)
a)
b)
c)
d)
e)

yang

mengakibatkan

virus

dengan

mudah

masuk

ke

dalam

tubuh.

Penyakit poliomeitis ini memiliki 3 pola dasar pada infeksi polio yaitu :
Infeksi subklinis (tanpa gejala atau gejala kurang dari 72 jam) gejalanya adalah:
Demam ringan
Sakit kepala
Nyeri tenggorokan
Muntah
Non-parametrik (gejala berlangsung selama 1-2 minggu) gejalanya adalah:
Sakit kepala
Demam sedang
Diare
Nyeri leher
Kekakuan otot
Nyeri atau kaku punggung, lengan, tungkai dan perut.
Poliomeitis paralitik (gejala demam timbul 5-7 hari sebelum gejala lainnya) gejalanya yaitu:
Kelemahan otot asimetrik
Peka terhadap sentuhan walaupun sentuhan ringan dapat mengakibatkan rasa nyeri
Sakit kepala
Segera berkembang menjadi kelumpuhan
Onsetnya cepat

Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari penyakit ini adalah kelumpuhan. Kelumpuhan
berat yang merupakan kelumpuhan yang bersifat menetap terjadi paling sebanyak kurang 1
dari

setiap

100

kasus

yang

ditemukan.

Kadang bagian otak yang berfungsi mengatur sistem pernafasan terserang sehingga dapat
menimbulkan sesak, biasanya penderita mengalami komplikasi setelah 20-30 tahun menderita
polio.
Pencegahan penyakit polio:
Pencegahan adalah upaya yang paling dianjurkan. Pencegahan penyakit polio dapat
dilakukan dengan cara melakukan imunisasi polio pada masa kanak-kanak, menjaga
kesehatan tubuh agar kekebalan tubuh tetap baik, sehingga virus polio akan sulit untuk
j.

menyerang tubuh kita.


Penyakit campak
Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh virus paramiksovirus. Penyakit ini
menular dari ludah si penderita. Masa inkubasi penyakit ini adalah 10-14 hari. Penyakit ini
gejalanya adalah panas, hidung berlendir, batuk, tenggorokan sakit, nyeri pada otot dan mata
menjadi merah. Pada puncaknya penderita akan merasakan sakit, ruam di seluruh tubuh dan
suhu badan yang tinggi. Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian vaksin campak ketika

masih bayi.
k. Penyakit tifus
Tifus masih lazim di negara-negara berkembang, sehingga para wisatawan asing harus
divaksinasi terhadapnya. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang dibawa
ke

aliran

darah

dan

saluran

pencernaan.

Gejala-gejala tifus seperti demam yang berkelanjutan, lemah, sakit perut, sakit kepala dan
hilangnya nafsu makan. Pada beberapa kasus, terdapat ruam dan bintik-bintik merah pada
pasein. Demam tifus biasanya diobati dengan antibiotik yang dapat menghilang infeksi

1)
2)
1)
2)
3)
4)
5)
1)
2)
3)
4)

selama 2-3 hari.


Bakteri penyebab tifus:
Rickettsia typhi
Rickettsia prowazekii
Seseorang yang menderita tifus menunjukkan hasil tes darah:
Rendah kadar sodium
Rendah kadar albumin
Enzim di dalam liver meningkat tajam
Terjadi keluhan di sekitar ginjal
Antibodi yang dihasilkan sangat tinggi
Tanda-tanda penyakit tifus:
Minggu pertama
Awalnya mirip dengan demam atau influenza.
Sakit kepala dan leher
Panas naik sedikit demi sedikit setiapp hari sampai 40 derajat atau lebih.
Sering kali nadinya relatif lambat dibandingkan tingginya panas.

5) Kadang-kadang terdapat muntah, menceret atau sembelit.


Minggu kedua
1) Panas tinggi, nadi relatif lambat
2) Mungkin terlihat bercak merah muda pada badan
3) Badan menggigil/gemetar
4) Mengigau atau delirium (penderita tidak dapat berpikir dengan jelas)
5) Lemah, berat badan menurun, tubuh kekurangan cairan.
Minggu ketiga
Jika tidak terjadi komplikasi, panas dan tanda-tanda lainnya akan hilang perlahan-lahan.
Pengobatan:
1) Dapatkan segera pertolongan dokter atau petugas kesehatan terdekat
2) Berikan chloramphenicol untuk orang dewasa: dua kapsul @ 250 mg 4 kali sehari. Jika tidak
ada chloramphenicol, gunakan ampicilin atau tetracycline.
3) Turunkan panasnya dengan dengan kain basah yang dingin
4) Berikan cairan yang banyak; sup, sari buah, dan minuman untuk mengembalikan cairan
dalam tubuh.
5) Berikan makanan yang bergizi, kalau perlu dalam bentuk cairan.
6) Penderita harus tinggal di tempat tidur sampai panasnya hilang sama sekali
7) Jika penderita batuk darah atau timbul tanda-tanda peradangan pada selaput perut, ia harus
segera dibawa ke rumah sakit.
Pencegahan tifus perut:
1) Mengindarkan diri dari hal-hal kotor seperti pencemaran air dan makanan oleh kotoran
manusia. Pastikan jamban keluarga terletak jauh dari tempat penduduk mengambil air minum
2) Memberi perhatian khusus pada kebersihan air minum, terutama saat banjir.
3) Penderita harus tinggal di kamar terpisah untuk mencegah penyebaran tifus perut.
Kotorannya harus dibakar atau dikubur di dalam lubang yang dalam. Orang yang merawatnya
harus membasuh tangan segera sesudahnya.
4) Setiap orang yang pernah menderita tifus harus memberikan perhatian tambahan terhadap
kebersihan perorangan dan tidak boleh bekerja di rumah makan atau di tempat-tempat
pengolahan makanan.

2. Penyakit tidak menular


Penyakit jenis ini tidak dapat ditularkan dari penderita kepada orang lain. Penyakit ini
merupakan penyakit non infeksi yang penyebabnya bukan mikroorganisme. Biasanya
penyakit ini terjadi karena pola hidup yang kurang sehat seperti merokok, cacat fisik,
penuaan usia, dan gangguan kejiwaan.
Jenis Penyakit Tidak Menular antara lain :
a. Hipertensi

Penyakit darah tinggi atau Hipertensi (Hypertension) adalah suatu keadaan di mana
seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka
systolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolic) pada pemeriksaan tensi darah
menggunakan

alat

pengukur

(sphygmomanometer)

tekanan
ataupun

darah

baik
alat

yang

berupa

cuff

digital

air

raksa

lainnya.

Nilai normal tekanan darah seseorang dengan ukuran tinggi badan, berat badan, tingkat
aktifitas normal dan kesehatan secara umum adalah 120/80 mmHG. Dalam aktivitas seharihari, tekanan darah normalnya adalah dengan nilai angka kisaran stabil. Tetapi secara umum,
angka pemeriksaan tekanan darah menurun saat tidur dan meningkat diwaktu beraktifitas atau
berolahraga.
Penyebab hipertensi:
Penggunaan obat-obatan seperti golongan kortikosteroid (cortison) dan beberapa obat
hormon, termasuk beberapa obat antiradang (anti-inflammasi) secara terus menerus (sering)
dapat meningkatkan tekanan darah seseorang. Merokok juga merupakan salah satu faktor
penyebab terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi dikarenakan tembakau yang berisi
nikotin. Minuman yang mengandung alkohol juga termasuk salah satu faktor yang dapat
menimbulkan terjadinya tekanan darah tinggi.
b. Diabetes mellitus
Diabetes mellitus adalah penyakit yang bisa disebut "silent killer". Sering kali seorang
penderita

tidak

menyadari

bahwa

dirinya

mengalami

kencing

manis.

Jika tidak segera ditangani dengan cepat, diabetes mellitus akan menimbulkan berbagai
komplikasi penyakit yang akan menurunkan produktivitas kerja si penderita.

Penyebab diabetes
Penyakit ini timbul jika kadar gula darah seseorang terlalu tinggi. Pankreas tidak mampu
menghasilkan hormon insulin yang berguna mengubah glukosa di dalam darah menjadi zat
gula darah.
Glukosa adalah bahan energi yang dibutuhkan oleh seluruh sel di dalam tubuh. Sementara
itu, tugas insulin adalah menstimulasi sel untuk mengabsobsi glukosa dari darah. Pada
penderita diabetes, sel tidak mampu mengabsorbsi glukosa secara normal. Akibatnya glukosa

1)
2)
3)
4)
5)

menumpuk di dalam darah dan menyebabkan diabetes.


Tanda-tanda penyakit diabetes mellitus:
Perasaan haus yang terus-menerus
Berat badan turun secara drastis
Sering buang air kecil dalam volume besar
Cepat letih dan penyebabnya tidak jelas
Rasa gatal dan peradangan kulit yang menahun

6) Koma, pada kasus tertentu.


Pencegahan diabetes:
1) Berolahraga yang teratur.
2) Tidak merokok
3) Menjaga berat ideal badan agar tidak terjadi obesitas
4) Melakukan pengawasan kadar glukosa dalam darah secara mandiri di rumah
5) Check up kesehatan menyeluruh di rumah sakit
6) Memeriksakan mata secara teratur
7) Mengatur penggunaan gula yang rendah kalori
c. Rematik
Rematik merupakan penyakit anak-anak dan remaja.Biasanya penyakit ini mulai terjadi 1
sampai 3 minggu setelah seseorang menderita pharyngitis. Di Amerika Serikat, telah
dikembangkan

antibiotik

untuk

mengatasi

penyakit

ini.

Akan tetapi dengan menggunakan antibiotik agaknya masih menemui jalan buntu
dikarenakan pengaruhnya terhadap kesehatan organ hati.
Dari hasil penelitian menyebutkan bahwa demam rematik lebih sering dialami oleh anak
gadis dibandingkan anak lelaki. Namun setelah mencapai dewasa, ukuran tentang jenis
kelamin

mana

yang

lebih

sering

terkena

sudah

mulai

kabur.

Ini sangat tergantung dengan sistem imunitas seseorang dan lingkungan mereka berada.
Penyebab:
Demam rematik diakibatkan oleh kombinasi infeksi bakteri dan lemahnya sistem imunitas
tubuh seseorang. Penyakit ini bermula dari infeksi pada tenggorokan yang disebabkan oleh
bakteri Streptococcus.
Setelah bakteri masuk ke dalam tubuh, ia akan berkembang dan menyebabkan demam
disertai flu. Dalam banyak kasus, anak-anak lebih mudah terserang infeksi pada tenggorokan.
Flu ini akan berkembang menjadi demam rematik.
Tanda-tanda rematik:
1) Panas
2) Sakit sendi, terutama pada pergelangan tangan dan pergelangan kaki, kemudian pada sendi
siku, Sendi-sendi membengkak, dan
3) Seringkali terasa panas serta tampak merah.
4) Garis-garis merah yang melengkung atau benjolan di bawah kulit.
5) Pada kasus yang lebih berat, badan terasa lemah, napas pendek dan mungkin nyeri
jantung(heart pain).
Pengobatan:
1) Jika anda mencurigai demam rematik, temui petugas kesehatan. Pada penyakit ini, terdapat
kemungkinan bahaya kerusakan jantung.
2) Minumkan aspirirn dengan takaran besar. Seorang anak yang berusia 12 tahun dapat minum
sampai 2 atau 3 tablet @ 300 mg, 6 kali sehari. Minumkan aspirin bersama-sama susu atau
sedikit soda bicarbonat, untuk menghindarkan sakit pada lambung. Jika mulai berdering,
kurangi takaran.
3) Berikan penicilin, 400.000 unit per tablet, 1 tablet 4 kali sehari selama 10 hari.

Pencegahan:
1) Untuk mencegah demam rematik, obati pharyngitis segera dengan penicilin selama 10 hari.
2) Untuk mencegah kambuhnya demam rematik dan tambahan kerusakan jantung, anak yang
pernah menderita demam rematik harus mendapatkan penicillin selama 10 hari, begitu ada
tanda pertama sakit leher. Jika tanda-tanda kerusakan jantung telah terlihat, anak tersebut
harus mendapat penicillin secara teratur mendapatkan suntikan benzathin penicillin setiap
bulan, mungkin selama hidupnya. Ikutilah nasehat seoarang dokter atau petugas kesehatan
yang berpengalaman.
Secara umum untuk mencegah penyakit menular maupun tidak menular yaitu dengan
cara:
1) menjaga kebersihan lingkungan
Sampah, kotoran yang menumpuk, drainase yang kotor serta ventilasi/lubang untuk
pertukaran udara di dalam rumah yang buruk bisa menjadi sebab timbul penyakit.
Lingkungan yang sehat dapat mencegah penularan penyakit.
2) Cuci tangan dengan sabun
Biasakanlah untuk mencuci tangan sebelum melakukan aktivvitas lain, seperti saat mau
makan. Tangan menjadi media perantara kuman maupun mikroorganisme yang lain. Saat kita
tanpa sengaja memgang bekas ludah atau kotoran, maka penyakit dengan mudah tertular.
3) Olahraga yang teratur dan istirahat yang cukup.
Membiasakan diri untuk melakukan kegiatan rutin dengan berolahraga membantu
meningkatkan daya tahan tubuh. Istirahat yang cukup mendukung tubuh agar tetap bugar.
Pola makan yang seimbang.
Perlunya mengatur pola makan, terutama menu makanan yang sehat. Hindari makanan yang
beresiko terhadap kesehatan seperti minuman bersoda, makanan ringan/snack yang banyak
mengandung MSG dan sebagainya.
4) Pola hidup yang sehat.
Nikmati hidup dengan selalu berpikir positif. Mulai melakukan pendekatan terhadap agama
serta tidak melakukan pergaulan bebas. Setialah pada satu pasangan Anda.
5) Pemberian imunisasi.
Sejak BALITA diberikan imunisasi lengkap untuk mencegah penularan penyakit. Perkuat
daya tahan tubuh dengan makan makanan yang bergizi dan pola hidup yang sehat karena
umumnya penyakit menular menyerang sistem kekbalan tubuh. Artinya, walaupun telah
diimunisasi, saat badan lemah bisa saja tertular.
3. Penyakit menurun atau bawaan
a. Alergi
Banyak penelitian ilmiah menyatakan bahwa alergi didasari oleh faktor keturunan.
Apabila orang tua memiliki kecenderungan alergi, kemungkinan besar alergi akan diturunkan
kepada anak-anaknya. Alergi memiliki reaksi yang bermacam-macam, bahkan ada yang dapat

membahayakan jiwa. Alergi yang dipicu oleh allergen yang masuk ke dalam tubuh. Beberapa
alergi yang reaksinya mengancam nyawa diantaranya adalah alergi kacang dan alergi
sengatan tawon, dapat menyebabkan sesak nafas.

b. Albino
Albino adalah penyakit yang terjadi karena hilangnya pigmen atau zat warna kulit.
Padahal pigmen memiliki fungsi sebagai pelindung kulit dari sinar ultraviolet. Oleh karena
itu orang yang mengalami albino rentan terhadap kanker kulit jika terpapar sinar matahari
secara terus menerus. Albino sendiri berasal dari bahasa latin Albus yang artinya putih.
Meskipun putih, namun ini adalah bukan putih sehat.

c. Asma
Asma adalah penyakit yang menyerang saluran pernafasan. Asma mengakibatkan saluran
pernafasan menyempit sementara. Umumnya hal ini disebabkan oleh peradangan di saluran
pernafasan yang menyebabkan saluran nafas bereaksi secara berlebihan terhadap suatu
rangsangan, misalnya debu, asap dan pollen.
Penyebab:
Sampai saat ini penyebab penyakit asma belum diketahui secara pasti meski telah banyak
penelitian oleh para ahli. Teori atau hipotesis mengenai penyebab seseorang mengidap asma
belum

disepakati

oleh

para

ahli

di

dunia

kesehatan.

Namun demikian yang dapat disimpulkan adalah bahwa pada penderita asma, saluran
pernapasannya memiliki sifat yang khas yaitu sangat peka terhadap berbagai rangsangan
(bronchial hyperreactivity = hipereaktivitas saluran napas) seperti polusi udara (asap, debu,
zat kimia), serbuk sari, udara dingin, makanan, hewan berbulu, tekanan jiwa, bau / aroma
menyengat (misalnya; parfum), dan olahraga.
Selain itu terjadinya serangan asma sebagai akibat dampak penderita mengalami infeksi
saluran pernapasan atas (ISPA) baik flu ataupun sinisitis. Serangan penyakit asma juga bisa
dialami oleh beberapa wanita di masa siklus menstruasi, namun hal ini sangat jarang sekali.
Angka peningkatan penderita asma dikaitkan dengan adanya faktor resiko yang mendukung
seseorang menderita penyakit asma, misalnya faktor keturunan. Jika seorang ibu atau ayah
menderita penyakit asma, maka kemungkinan besar adanya penderita asma dalam anggota
keluarga tersebut.
Gejala:
Adapun tanda dan gejala penyakit asma diantaranya :
1)
Pernapasan berbunyi (wheezing/mengi/bengek) terutama saat mengeluarkan napas
(exhalation). Tidak semua penderita asma memiliki pernapasan yang berbunyi, dan tidak
semua orang yang napasnya terdegar (wheezing) adalah penderita asma.
2) Adanya sesak napas sebagai akibat penyempitan saluran bronki (bronchiale).
3) Batuk berkepanjangan di waktu malam hari atau cuaca dingin.
4) Adanya keluhan penderita yang merasakan dada sempit.

5) Serangan asma yang hebat menyebabkan penderita tidak dapat berbicara karena kesulitannya
dalam mengatur napas.
Pada usia anak-anak, gejala awal dapat berupa rasa gatal di rongga dada atau leher. Selama
serangan asma, rasa kecemasan yang berlebihan dari penderita dapat memperburuk
keadaannya. Sebagai reaksi terhadap kecemasan, penderita juga akan mengeluarkan banyak
keringat.
Pencegahan:
Langkah tepat yang dapat dilakukan untuk menghindari serangan asma adalah menjauhi
faktor-faktor penyebab yang memicu timbulnya serangan asma itu sendiri. Setiap penderita
umumnya memiliki ciri khas tersendiri terhadap hal-hal yang menjadi pemicu serangan asma
nya. Setelah terjadinya serangan asma, apabila penderita sudah merasa dapat bernapas lega
akan tetapi disarankan untuk meneruskan pengobatannya sesuai obat dan dosis yang
diberikan oleh dokter.
Penanganan atau pengobatan:
Penyakit asma (asthma) sampai saat ini belum dapat diobati secara tuntas, ini artinya
serangan asma dapat terjadi di kemudian hari. Penanganan dan pemberian obat-obatan
kepada penderita asma adalah sebagai tindakan mengetasi serangan yang timbul yang mana
disesuaikan dengan tingkat keparahan dari tanda dan gejala itu sendiri. Prinsip dasar
penanganan serangan asma adalah dengan pemberian obat-obatan baik suntikan
(hydrocortisone), sirup ventolin (salbutamol) atau nebulizer (gas salbutamol) untuk
membantu melonggarkan saluran pernapasan.
Pada kasus-kasus yang ringan dimana dirasakan adanya keluhan yang mengarah pada
gejala serangan asma atau untuk mencegah terjadinya serangan lanjutan, maka tim kesehatan
atau dokter akan memberikan obat tablet seperti Aminophylin dan Prednisolone. Bagi
penderita asma, disarankan kepada mereka untuk menyediakan/menyimpan obat hirup
(Ventolin Inhaler) di mana pun mereka berada yang dapat membantu melonggarkan saluran
pernapasan dikala serangan terjadi.
d. Buta warna
Buta warna adalah suatu keadaan yang tidak normal pada sel mata karena sel kerucut
telah rusak sehingga tidak mampu menangkap warna tertentu. Pada umumnya buta warna
adalah disebabkan oleh faktor genetik, dimana ansestornya memiliki penyakit buta warna.
Penderita buta warna tidak dapat mengenali satu atau beberapa warna sekaligus.
e. Obesitas
Obesitas adalah suatu keadaan dimana berat badan melebihi batas paling tinggi kelebihan
berat badan dan tubuh didominasi mayoritas lemak. Orang yang mengalami obesitas

umumnya susah mengendalikan nafsu makan. Salah satu penyebab obesitas adalah gen atau
keturunan. Gen tersebut menyebabkan fungsi menahan nafsu makan tidak bekerja dengan
baik, ditambah dengan kebiasaan gaya hidup yang tidak baik dengan memakan-makanan
yang tinggi lemak dan rendah nutrisi seperti junk food.
f. Kanker payudara
Penyakit ini adalah penyakit yang ditakuti oleh perempuan, meskipun sebenarnya
penyakit kanker jenis ini bisa juga mengancam kaum pria. Kanker ini menyerang pada
jaringan payudara atau sekitar sel mamae. Gejala yang dialami pada umumnya kulit berwarna
kemerahan, berisisik dan menebal di sekitar area payudara dan puting. Jika sudah memasuki
fase lebih lanjut, maka dapat mengeluarkan cairan dari puting, namun bukan ASI. Gejala
yang paling umum dapat dideteksi adalah adanya benjolan atau bengkak pada payudara.
Penyebab dan factor resiko:
Penyebab pasti kanker payudara belum diketahui, namun terdapat beberapa keadaan yang
dianggap dapat meningkatkan faktor resiko terjadinya kanker payudara. Meskipun demikian,
tidak berarti mereka yang tidak memiliki faktor resiko, tidak dapat terkena kanker payudara.
Factor-faktor resiko kanker payudara antara lain:
1) Memiliki anggota keluarga yang menderita kanker payudara (ibu, nenek, saudara
2)
3)
4)
5)
6)

perempuan).
Mens pertama pada usia muda, menopause yang terlambat
Wanita yang tidak punya anak, atau melahirkan anak pertama pada usia > 30 tahun.
Pernah terdapat tumor/kanker payudara sebelumnya
Mendapatkan terapi pengganti hormon jangka panjang
Faktor-faktor lain: obesitas/konsumsi tinggi lemak, konsumsi alkohol berlebih, mutasi

genetik.
Untuk deteksi adanya kanker payudara dilakukan:
1) SADARI (perikSA payuDAra sendiRI)
Sebaiknya pemeriksaan dilakukan sehabis selesai masa menstruasi. Sebelum menstruasi
(7-10 hari setelah menstruasi hari pertama), payudara agak membengkak sehingga

a)
b)
c)
d)
e)

menyulitkan pemeriksaan.
Caranya:
Lihat adanya kelainan pada payudara seperti:
Adanya benjolan
Kulit bersisik sekitar putting
Puting susu keluar darah/cairan lain
Cekungan pada kulit payudara/seperti kulit jeruk
Perubahan bentuk/ukuran

2) Jika tidak terlihat kelainan, lakukan pemeriksaan lagi dengan cara:


Pemeriksaan Medik, Pemeriksaan Payudara secara berkala oleh tenaga medis (dokter).
3) Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan payudara dengan alat-alat penunjang seperti mamografi, USG, biopsi.


Mamografi adalah pemeriksaan payudara dengan suatu alat dan merupakan suatu cara
pemeriksaan yang sederhana, tidak sakit dan hanya memakan waktu 5 - 10 menit saja. Saat
terbaik untuk menjalani pemeriksaan mamografi adalah seminggu setelah selesai menstruasi.
Caranya adalah meletakkan payudara secara bergantian antara 2 lembar alas, kemudian
dibuat foto rontgen dari atas ke bawah, kemudian dari kiri ke kanan. Hasil foto ini akan
diperiksa oleh dokter ahli radiologi. Sebuah benjolan sebesar 0,25 cm sudah dapat terlihat
pada mamogram.
Wanita usia 40-49 tahun sebaiknya diperiksa setiap 2 tahun sekali, sedangkan usia >50
tahun

sebaiknya

diperiksa

secara

berkala

tiap

tahun.

USG : pemeriksaan USG pada payudara, bukan untuk tujuan skrining, melainkan untuk lebih
meyakinkan. Alat USGnya pun harus khusus.
Biopsi adalah operasi kecil untuk mengambil contoh jaringan dari benjolan, kemudian
diperiksa di bawah mikroskop laboratorium patologi anatomi.
g. Gangguan bipolar
Penyakit ini adalah suatu kondisi yang mengakibatkan depresi karena stres yang ringan.
Penyakit ini diakibatkan oleh ketidakseimbangan zat kimia dalam otak atau karena bisa jadi
faktor keturunan atau genetik. Penyakit ini beresiko diturunkan, jika salah satu orang tua
menderita penyakit ini maka kemungkinannya naik hingga 15 persen.
h. Hipotirodi
Hipotiroid adalah macam penyakit keturunan yang terjadi ketika tubuh tidak
menghasilkan hormon tiroksin dalam jumlah yang cukup. Gejala penyakit ini umumnya
adalah mudah lelah dan penurunan berat badan yang berlebihan. Penyakit ini pada umumnya
menyerang perempuan. Para ahli mengatakan bahwa penyakit ini memiliki resiko untuk
diturunakan pada keturunan. Jika ada saudara diatas ibu yang memiliki tiroid yang tidak
bagus, maka akan ada resiko 20 kali lebih besar.
i. Kolesterol tinggi
Kolesterol tinggi juga dapat menurun. Kolesterol memang sebuah jenis lemak yang
dibutuhkan oleh tubuh untuk melakukan beberapa hal, namun tidak baik jika dalam jumlah
yang besar. Kolesterol tinggi dapat memicu serangan jantung dan stroke. Jika ada salah satu
anggota keluarga yang memiliki kadar kolesterol tinggi, dalam dunia kedokteran ini disebut
sebagai Familial Hypercholesterolaemenia yang umumnya disebabkan oleh perubahan gen,
dimana lemak tidak bermetabolisme dengan baik di dalam darah sehingga menumpuk di
pembuluh darah atau arteri.
j. Kebotakan
Salah satu faktor penyebab Kebotakan adalah penyakit turunan, meski bisa disebabkan
oleh banyak hal, namun ternyata faktor keturunan juga sangat berperan. Berdasarkan

penelitian jika ayahnya mengalami kebotakan, maka salah satu dari anaknya paling tidak
akan mengalami kebotakan akibat gen yang diturunkan oleh ayahnya. Penelitian Dr Angela
Christiano, profesor dermatologi dan genetika di Columbia University Medical Center telah
menemukan gen yang menjadi faktor penyebab rambut menipis. Ini bisa dilihat mulai sejak
masih anak-anak. Yang menyebabkan folikel rambut menyusut dan rambut semakin menipis
adalah gen APCDD1.
k. Thalasemia
Penyakit turunan Thalasemia terjadi akibat kelainan darah disebabkan hemoglobin darah
yang mudah sekali pecah. Thalasemia akan muncul jika kedua orangtuanya itu adalah
pembawa faktor genetik sebagai pembawa sifat (carrier) yang bisa diturunkan kepada
anaknya. Agar kadar hemoglobin tetap normal, penderita Thalasemia harus mendapatkan
transfusi darah secara teratur. Ciri yang nyata adalah penderita tampak pucat dan layu.
Hukum Mendel memiliki definisi sebagai berikut: jika sang ibu sebagai carrier, maka peluang
pada anak yang terjadi adalah 25 persen sehat, 50 persen sebagai carrier dan 25 persen
menderita Thalasemia.
l. Hemofilia
Penderita penyakit turunan ini akan mengalami kesulitan dalam proses pembekuan darah.
Hemofilia adalah penyakit turunan akibat kekurangan faktor pembeku darah 8 atau 9. Terjadi
kelainan pada kromosom X dan sering diderita oleh keturunan laki-laki, sementara
perempuan sebagian besar berperan sebagai carrier / pembawa sifat. Keturunan yang rentan
menderita penyakit turunan ini memang sulit untuk dicegah karena setiap individu akan
memiliki atau mewarisi satu kromosom seks dari ibu dan satu kromosom seks dari ayah,
semenjak proses terjadinya atau terbentuknya janin.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesehatan tidak hanya sehat secara fisik saja, tetapi juga sehat secara rohani dan
sosialnya. Untuk mendapatkan kesehatan tersebut, kita harus melakukan upaya-upaya agar
lingkungan sekitar kita selalu bersih sehingga terhindar dari kuman dan bibit penyakit. Tiga
factor yang menyebabkan kita mudah terserang penyakit yaitu: pendidikan tentang kesehatan
yang masih kurang, factor keterbelakangan penduduk dan yang terakhir adalah factor
ekonomi yang rendah. Untuk tetap bisa sehat, kita harus melakukan: Memeperbaiki
kesehatan lingkungan, mencegah dan memberantas penyakit infeksi, mendidik masyarakat
tentang prinsip-prinsip kesehatan, mengkoordinasi tenaga-tenaga kesehatan untuk melayani
pengobatan dan perawatan, mengembangkan upaya masyarakat untuk mencapai tingkatan
hidup yang setinggi-tingginya
Penyakit dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu: penyakit yang dapat
menular, penyakit yang tidak menular dan penyakit bawaan atau keturunan. Untuk penyakit
yang dapat menular contohnya: flu, TBC, malaria, penyakit kulit, kolera, demam berdarah
dll. Sedangkan untuk penyakit yang tidak menular adalah: reumatik, hipertensi, dan diabetes
mellitus. Untuk penyakit bawaan atau keturunan contohnya: kanker payudara, kebotakan,
albino, asma, hemophilia dll.
Cara pencegahan baik penyakit menular maupun tidak menular yaitu dengan cara:
menjaga kebersihan lingkungan, mencuci tangan dengan sabun, olah raga teratur dan istirahat
cukup, pola hidup sehat dan imunisasi bagi balita.

B. Saran

Kesehatan merupakan hal terpenting dalam hidup kita. Oleh karena itu kita harus
menjaga kesehatan agar kita dan mencegah agar tubuh kita tidak mudah terserang penyakit.
Minimal dari diri kita terlebih dahulu, dengan cara menjaga kebersihan di lingkungan kita,
mengatur pola hidup sehat, olah raga teratur dan istirahat cukup. Karena mencegah lebih
baik daripada mengobati.
Daftar pustaka
Murifah.2001.Pendidikan Kesehatan.
Syamsyuri,Istamar dkk.2007.Biologi untuk SMA kelas XI semester 2.Malang:Erlangga.
http://infokesehatan101.blogspot.com/2012/04/gejala-sakit-maag.html (diakses tanggal 10 Oktober
2012, pukul 12:45:01 wib )
http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/22/sistem-pencernaan-makanan-pada-manusia/ (Diakses
tanggal 10 Oktober 2012, pukul 11:34:09)
http://jenispenyakit.blogspot.com/2008/12/penyakit-tbc.html
(Diakses tanggal 5 November 2012, pukul 13.20)
http://sobatbaru.blogspot.com/2008/04/macam-macam-penyakit.html (Diakses hari Senin, tanggal 5
November 2012)
http://sehat-enak.blogspot.com/2009/07/penyakit-kolera-cholera.html (Diakses tanggal 10 Desember
2012)
http://sehat-enak.blogspot.com/2009/08/penyakit-kulit-dan-pencegahannya.html (Diakses hari Senin,
tanggal 5 November 2012)
http://griyasavingnet.blogspot.com/2012/09/macam-macam-penyakit-menular-pada.html (Diakses
pada tanggal 10 Desember 2012)
http://sehat-enak.blogspot.com/2009/07/penyakit-demam-berdarah-dengue-dbd.html (Diakses pada
tanggal 10 Desember 2012)
http://jenispenyakit.blogspot.com/2009/07/penyakit-malaria.html
(Diakses tanggal 5 November 2012)
http://labanblogger.blogspot.com/2012/06/penyakit-cacar-dan-cara-mengobati-serta.html (Diakses
pada hari Senin, tanggal 5 November 2012)
http://www.lebahndut.net/2012/10/penyebab-penyakit-polio-dan-pencegahannya.html (Diakses pada
hari senin, tanggal 5 November 2012)
http://jenispenyakit.blogspot.com/2009/07/penyakit-tifus.html (Diakses pada tanggal 5 November
2012)

http://jenispenyakit.blogspot.com/2009/08/penyakit-darah-tinggi.html (Diakses pada tanggal 5


November 2012)
http://jenispenyakit.blogspot.com/2009/07/penyakit-diabetes.html (Diakses pada tanggal 5
November 2012)
http://jenispenyakit.blogspot.com/2009/07/penyakit-rematik.html (Diakses pada tanggal 5 November
2012)
http://penyakitkita.wordpress.com/tag/macam-macam-penyakit-tidak-menular/ (Diakses pada
tanggal 10 Desember 2012)
http://ridwanaz.com/kesehatan/jenis-jenis-penyakit-keturunan/ (Diakses pada tanggal 10 Desember
2012)
http://musttrie-art.blogspot.com/2012/08/memahami-jenis-jenis-penyakit-turunan.html (Diakses pada
tanggal 10 Desenber 2012)
http://jenispenyakit.blogspot.com/2008/12/penyakit-kanker-payudara.html (Diakses pada tanggal 5
November 2012)
http://sehat-enak.blogspot.com/2009/07/penyakit-asma-asthma.html (Diakses pada tanggal 10
Desember 2012)
Konsep Oral Hygiene
1 Pengertian
Oral hygiene (kebersihan mulut) adalah melaksanakan kebersihan rongga mulut,
lidah dari semua kotoran / sisa makanan dengan menggunakan kain kasa atau
kapas yang dibasahi dengan air bersih (Eni Kusyati, 2006).
Oral hygiene (kebersihan mulut) merupakan salah satu upaya untuk mencegah
timbulnya berbagai masalah dimulut serta untuk menghindari pertumbuhan
bakteri dan jamur dimulut (Ngastiyah, 1997).
Oral hygiene merupakan tindakan untuk membersihkan dan menyegarkan
mulut, gigi dan gusi (Clark, 2005).
Prosedur untuk melakukan oral hygiene atau cara untuk menghindari
pertumbuhan bakteri dan jamur, dapat dilakukan perawatan pada mulut bayi
dengan cara sebagai berikut :
1.
Setiap bayi selesai minum susu, berikan 1 -2 sendok teh air matang untuk
membilas sisa susu tersebut.
2.
Sisa susu yang berupa lapisan endapan putih tebal pada lidah bayi ini
dapat dibersihkan dengan kapas lidi yang dibasahi dengan air hangat (Nursalam
dkk, 2005).
Tujuan dilakukan oral hygiene (kebersihan mulut) adalah sebagai berikut:
1.
Agar mulut tetap bersih / tidak berbau
2.
Mencegah infeksi mulut, bibir dan lidah pecah pecah, stomatitis
3.
Membantu merangsang nafsu makan
4.
Meningkatkan daya tahan tubuh
5.
Melaksanakan kebersihan perorangan
6.
Merupakan suatu usaha pengobatan

2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Oral Hygiene


Menurut Perry dan Potter, (2005) factor yang mempengaruhi personal hygiene,
adalah :
a.
Status social-ekonomi
Sumber daya ekonomi seseorang mempengaruhi jenis dan tingkat praktik
kebersihan yang digunakan. Hal ini berpengaruh terhadap kemampuan klien
menyediakan bahan-bahan yang penting seperti pasta gigi.
b.
Praktik social
Kelompok-kelompok sosial wadah seseorang berhubungan dapat mempengaruhi
praktek higiene pribadi. Selama masa kanak-kanak, anak-anak mendapatkan
praktik oral hygiene dari orang tua mereka.
c.
Pengetahuan
Pengetahuan yang kurang dapat membuat orang enggan memenuhi kebutuhan
hygiene pribadi. Pengetahuan tentang pentingnya oral hygiene dan implikasinya
bagi kesehatan mempengaruhi praktik oral hygiene. Kendati demikian,
pengetahuan itu sendiri tidaklah cukup. Klien juga harus termotivasi untuk
melakukan oral hygiene.
d.
Status kesehatan
Klien paralisis atau memiliki restriksi fisik pada pada tangan mengalami
penurunan kekuatan tangan atau ketrampilan yang diperlukan untuk melakukan
hygiene mulut (Phipp, 1995).
e.
Cacat jasmani/mental bawaan.
Kondisi cacat dan gangguan mental menghambat kemampuan individu untuk
melakukan perawatan diri secara mandiri.
3 Akibat Tidak Dilakukannya Oral Higyene
a.
Masalah umum
1) Karries gigi
Karries gigi merupakan masalah umum pada orang muda, perkembangan lubang
merupakan proses patologi yang mellibatkan kerusakan email gigi dikarenakan
kekurangan kalsium.
2) Penyakit periodontal
Adalah penyakit jaringan sekitar gigi, seperti peradangan membran periodontal.
3) Plak
Adalah transparan dan melekat pada gigi, khususnya dekat dasar
kepala gigi pada margin gusi.
4) Halitosis
Merupakan bau napas, hal ini merupakan masalah umum rongga mulut akibat
hygiene mulut yang buruk, makanan tertentu atau proses infeksi. Hygiene mulut
yang tepat dapat mengeliminasi bau kecuali penyebabnya adalah kondisi
sistemik seperti penyakit liver atau diabetes.
5) Keilosis
Merupakan gangguan bibir retak, terutama pada sudut mulut. Defisiensi vitamin,
nafas mulut, dan salivasi yang berlebihan dapat menyebabkan keilosis.
b. Masalah mulut lain
1) Stomatitis
Kondisi peradangan pada mulut karena kontak dengan pengiritasi, defisiensi
vitamin, infeksi oleh bakteri, virus atau jamur atau penggunaan obat kemoterapi.

2) Glosisitis
Peradangan lidah hasil karena infeksi atau cidera, seperti luka bakar atau gigitan.
3) Gingivitis
Peradangan gusi biasanya akibat hygiene mulut yang buruk, defisiensi vitamin,
atau diabetes mellitus. Perawatan mulut khusus merupakan keharusan apabila
klien memiliki masalah oral ini. Perubahan mukosa mulut yang berhubungan
dengan mudah mengarah kepada malnutrisi.
4 Hubungan Oral Hygiene Dengan Stomatitis
Mulut merupakan rongga yang tidak bersih dan penuh dengan bakteri oleh
sebab itu harus selalu dibersihkan (Wahit Iqbal, 2008). Oral hygiene (kebersihan
mulut) merupakan salah satu upaya untuk mencegah timbulnya berbagai
masalah dimulut serta untuk menghindari pertumbuhan bakteri dan jamur di
mulut. Adanya sisa susu atau ASI dalam mulut bayi setelah minum juga dapat
menyebabkan masalah serta berkembangbiaknya bakteri dan jamur (Ngastiyah,
2005).
Masalah mulut yang sering terjadi pada bayi adalah stomatitis (oral trush)
dimana oral trush itu disebabkan oleh candida albican yang bersifat saprofit
yang dapat berkembang biak dengan memperbanyak diri dengan spora yang
tumbuh dari tunas dan lebih mudah mengadakan invasi dan memasuki jaringan
terutama pada sudut mulut (Siregar, 2004).
Untuk itu kebersihan mulut pada bayi perlu dijaga karena untuk menjaga infeksi
berulang / stomatitis berulang yaitu dengan cara melakukan oral hygiene pada
bayi

A. LATAR BELAKANG
Mulut merupakan bagian pertama dari saluran makanan dan bagian dari sistem
pernafasan (Wolf, 1994). Mulut juga merupakan gerbang masuknya penyakit
(Adam, 1992). Di dalam rongga mulut terdapat saliva yang berfungsi sebagai
pembersih mekanis dari mulut (Taylor, 1997).
Di dalam rongga mulut terdapat berbagai macam mikroorgnisme meskipun bersifat
komensal, pada keadaan tertentu bisa bersifat patogen apabila respon penjamu
terganggu. (Roeslan, 2002). Pembersihan mulut secara alamiah yang seharusnya
dilakukan oleh lidah dan saliva, bila tidak bekerja dengan semestinya dapat
menyebabkan terjadinya infeksi rongga mulut, misalnya penderita dengan sakit
parah dan penderita yang tidak boleh atau tidak mampu memasukkan sesuatu
melalui mulut mereka (Bouwhuizen, 1996).
Pada penderita yang tidak berdaya perawat tidak boleh lupa memberikan
perhatian khusus pada mulut pasien. Pengumpulan lendir dan terbentuknya kerak
pada gigi dan bibir dikenal sebagai sordes. Jika terbentuk sordes atau lidahnya
berlapis lendir menunjukan kalau kebersihan rongga mulutnya kurang. (Wolf,
1994).

Sepanjang masa hidup seseorang, perubahan fisiologi mempengaruhi


kondisi dan penampilan struktur dalam rongga mulut. Anak dapat tejadi karies gigi
pada gigi susu karena pola makan atau kurangnya perawatan gigi. Gigi remaja
adalah permanen dan memerlukan perhatian teratur untuk diet dan perawatan gigi
dan mencegah masalah pada tahun-yahun berikutnya. Pada saat orang bertambah
tua, praktek hygiene mulut berubah untuk mempengaruhi gigi dan mukosa lebih
lanjut. Usia yang berhubunga dengan perubahan di dalam mulut, dikombinasi
dengan penyakit kronis, ketikmampuan fisik, dan medikasi yang diresepkan
memiliki efek samping pada mulut, menyebabkan perawatan mulut yang buruk.
Efek pada ketidakcukupan perawatan meliputi karies dan kehilangan gigi,
penyakit periodontal, permulaan infeksi sistemik, dan efek jangka panjang pada
harga diri, kemampuan untuk makan, dan pemeliharaan
hubungan(Danielson,1988). Pengkajian tingkat perkembangan klien membantu
dalam menetukan tipe masalah hygiene yang di harapkan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGKAJIAN
Pada proses pengkajian tentang oral hygiene perawat memeriksa bibir, gigi,
mukosa buccal, gusi, langit-langit dan lidah klien. Perawat memeriksa semua
daerah ini dengan hati-hati tentang warna, hidrasi, tekstur, dan lukanya. Klien
yang tidak mengikuti praktek hygiene mulut yang teratur akan mengalami
penurunan jaringan gusi yag meradang, gigi yang hitam (khususnya sepanjang
margin gusi), karies gigi, kehilangan gigi, dan halitosis.
Rasa sakit yang dilokalisasi adalah gejala umumdari penyakit gusi atau gangguan
gigi tertentu. Infeksi pada mulut melibatkan organism seperti Treponema
pallidum, Neisseria gonorrhoeae, dan Hominisvirus herpes. Jika klien hendak
memperoleh radiasi atau kemoterapi sangat penting mengumpulkan data dasar
mengenai keadaan rongga mulut klien. Hali ini berfungsi sebagai dasar untu
perawatan preventif bagi klien saat mereka melewati pengobatan.
Data objektif
Klien mengatakan Xerostoma (mulut kering)
Klien menyatakan Ketidaknyamanan mulut

Klien menyatakan Saliva kental


Klien menyatakan Penurunan produksi saliva
Klien menyatakan Bibir imflamasi
Klien menyatakan Lidah kering dan pecah
Data subjektif
Mulut klien berbau
Klien memperlihatkan pada mulut banyak plak
Klien kelihatan sulit untuk bicara
Klien mengatakan nafsu makan berkurang
B. DIAGNOSA
Pengkajian rongga mulut klien dapat menunjukkan perubahan actual atau
potensial

dalam

integritas

struktur

mulut.

Diagnose

keperawatan

yang

berhubungan dapat merefleksikan masalah atau komplikasi akibat perubahan


rongga mulut. Penemuan perawat juga menunjukkan kebutuhan kien untuk
bantuan perawatan mulut karena divisit perawatan diri. Identifikasi diagnose yang
akurat memerlukan seleksi factor yang berhubungan yang menyebabkan masalah
klien.
Perubahan pada mukosa mulut akibat pemaparan radiasi misalnya kan
memerlukan intervensi berbeda daripada kerusakan mukosa akibat penempatan
selang endotrakea.
Contoh Diagnose Keperawatan Nanda Untuk Masalah Hygiene
Perubahan membrane mukosa mulut yang berhubungan dengan :
Trauma oral
Asupan cairan yang terbatas
Hygiene mulut yang tidak efektif
Trauma yang berhubungan dengan kemoterapi atau terapi radiasi pada kepala dan
leher.
Nyeri yang berhubungan dengan :
Gingivitis
Kehilangan gigi
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan :
Gigi palsu yang tidak pas

Gingivitis
Devisit perawatan diri mandi/hygiene oral yang berhubungan dengan :
Perubahan tingkat kesadaran
Kelemahan ektremitas atas
Gangguan gambaran diri yang berhubungan dengan :
Halitosis
Ketidakadaan gigi
Kurang pengetahuan tentang hygiene oral yang berhubungan dengan :
Kesalahpahaman praktek hygiene
Resiko infeksi yang berhubungan dengan :
Trauma mukosa oral
C. INTEVENSI
1.

Tujuan
Oral hygiene merupakan tindakan untuk membersihkan dan menyegarkan
mulut, gigi dan gusi (Clark, 1993). Menurut Taylor et al (1997), oral hygiene adalah
tindakan yang ditujukan untuk :
(1) menjaga kontiunitas bibir, lidah dan mukosa membran mulut,
(2) mencegah terjadinya infeksi rongga mulut dan
(3) melembabkan mukosa membran mulut dan bibir.
Sedangkan menurut Clark (1993), oral hygiene bertujuan untuk :
(1) mencegah penyakit gigi dan mulut,
(2) mencegah penyakit yang penularannya melalui mulut,
(3) mempertinggi daya tahan tubuh, dan
(4) memperbaiki fungsi mulut untuk meningkatkan nafsu makan.
Secara umum dapat di simpulkan tujuan dari hygiens mulut meliputi :

Klien akan memiliki mukosa mulut utuh yang terhidrasi baik


Klien mampu melakukan sendiri perawatan hygiene mulut dengan benar
Klien akan memahami praktek hygiene mulut
Klien akan mencapai rasa nyaman.
2.

Hasil yang Di harapkan

Mukosa mulut dan lidah terlihat merah muda, lembab, utuh. Gusi basah
dan utuh, gigi terlihat bersih, dan licin. Lidah berwarna merah muda dan tidak
kotor. Bibir lembab, mukosa dan pharynx tetab bersih.
Peradangan, kerak, luka, dan kotoran yang keras akan tidak ada. Dan gigi
bebas dari partikel makanan. Dan diharapkan klien secara verbal menyatakan
kenyamanan dan perasaannya tentang kebersihan mulut. Sehingga klien akan
menelan dan berbicara lebih nyaman.
3.

Persiapan Alat
Adapun persiapan alat yang di gunakan dalam oral hygiene adalah :

1.

Pencuci mulut atau larutan antiseptik

2.

Spatel lidah dengan bantalan/spons

3.

Handuk wajah, handuk kertas

4.

Baskom

5.

Gelas air dengan air dingin

6.

Jeli larut air

7.

Spuit ber-bulb kecil (opsional)

8.

Kateter penghisap yang dihubungkan dengan alat pengisap

9.

Sarung tangan sekali pakai.

4.

Persiapan Pasien
Persiapan pasien :

Memberitahukan pada pasien tindakan yang akan di lakukan

Menjelaskan prosedur yang akan di lakukan

5.

Prosedur dan Rasional


Melakukan intervensi perawatan mulut untuk pasien yang tidak sadar atau lemah
Langkah
Rasional
1. Kaji adanya refleks Menunjukkan klien beresiko aspirasi. Membuat
muntah. Posisikan klien sekresi mengalir dari mulut daripada menumpuk
dalam posisi Sims atau dibelakang faring dan mencegah aspirasi.

miring
dengan
kepala
diputar kea rah sisi yang
terkena.
2.
Jelaskan
prosedur
kepada klien.
3. Persiapkan peralatan dan
bahan yang diperlukan;
a. larutan anti infeksi
b. sikat gigi spon atau
spatel lidah dibungkus kasa
tunggal;sikat gigi kecil
c. spatel lidah berbantalan
d. handuk wajah
e. mangkok piala ginjal
f. handuk kertas
g. gelas air dengan air
dingin
h. jeli larut air
i. mesin pengisap portable
dengan kateter suksion
j. sarung tangan sekali
pakai
4. Cuci tangan dan gunakan
sarung tangan sekali pakai.
5. Letakkan handuk kertas
di atas meja tempat tidur
dan
atur
peralatan.
Hidupkan mesin pengisap
dan hubungkan selang ke
kateter pengisap.
6. Tarik tirai sekitar tempat
tidur atau tutup pintu
ruangan.
7. Tinggikan tempat tidur
pada tingkat horizontal
tertinggi;turunkan
pagar
tempat tidur.
8.
Pindahkan
klien
mendekati sisi tempat tidur
dank
e
dekat
perawat;pastikan
kepala
klien diputar ke arah
matras.
9. Letakkan handuk di
bawah wajah klien dan
mangkok piala ginjal di
bawah dagu.

Klien yang tidak sadar masih mampu mendengar.


Menghilangkan enkrustrasi dan bertindak sebagai anti
infeksi.
Sikat membersihkan gigi dengan efektif. Spon atau
swab menstimulasi dan membersihkan gigi dan
mukosa.
Mempertahankan mulut terbuka dan gigi terpisah
selama prosedur tanpa membuat trauma struktur
mulut.
Melubrikasi bibir
Mengangkat sekresi mulut yang tertinggal selama
membersihkan rongga mulut.,
Rongga mulut berisi mikroorganisme penginfeksi yang
tinggi.

Mengurangi transmisi perpindahan mikroorganisme.


Mencegah atas meja menjadi kotor. Peralatan yang
dipersiapkan sebelumnya memastikan prosedur
lancar dan aman.

Memberikan privasi
Penggunaan mekanika tubuh yang baik denga tempat
tidur pada posisi tinggi mencegah cedera pada
perawat dank lien.
Pengaturann posisi kepala yang sesuai mencegah
aspirasi.

Mencegah linen tempat tidur menjadi kotor.

10.
Secara
hati-hati
retraksi gigi bagian atas
dan bawah klien dengan
spatel
lidah
yang
berbantalan
dengan
memasukkan spatel dengan
cepat
tetapi
lembut
diantara
geraham
belakang. Masukkan saat
klien rileks.
11. Bersihkan mulut dengan
menggunakan sikat atau
spatel
lidah
yang
dilembabkan dengan anti
infeksi dan air. Minta
perawat kedua mengisap
sekresi yang mengumpul
selama
pembersihan.
Bersihkan
permukaan
mengunyah dan bagian
dalam
pertama
kali.
Bersihkan permukaan luar
gigi. Usapkan bagian dasar
mulut dan sebelah dalam
pipi. Secara lembut usap
atau sikat lidah tetapi
hindari menstimulasi reflex
muntah(jika
ada).
Lembabkan lidi kapas yang
bersih dengan air untuk
membilas. Ulangi membilas
beberapa kali, isap semua
sekresi yang tersisa.

Mencegah klien dari menggigit jari dan menyediakan


kemudahan ke rongga mulut.

12. Berikan jeli larut air


pada bibir.
13.
Jelaskan
bahwa
prosedur telah selesai
14 .Lepaskan sarung tangan
dan letakkan pada tempat
yang sesuai.
15. Atur kembali posisi
klien yang nyaman, naikkan
penghalang tempat tidur,
dan kembalikan tempat
tidur pada posisi semula.
16. Bersihkan peralatan
dan
kembalikan
pada
tempatnya yang sesuai.

Melubrikasi bibir untuk mencegah kering dan retak.

Tindakan
penggosokkan
mengangkat
partikel
makanan diantara gigi dan sepanjang permukaan
pengunyahan. Pengusapan membantu pengangkatan
sekresi dan enkrustasi dari mukosa dan melembabkan
mukosa. Suksion mengangkat sekresi dan cairan yang
berkumpul pada faring posterior. Pengulangan
pembilasan mengangkat kotoran yang terlepas dan
peroksida yang mengiritasi mukosa.

Menyediakan stimulasi yang bermakna pada klien


yang tidak sadar atau kurang responsive.
Mencegah transmisi muikroorganisme.
Mempertahankan kenyamanan dan keamanan klien.

Pembuangan peralatan kotor yang tepat mencegah


tranmisi infeksi.

Letakkan linen kotor ke


dalam tempat yang sesuai.
17. Cuci tangan.
Mengurangi tranmisi mikroorganisme.
18. Inspeksi rongga mulut.
Menntukan kemanjuran pembersihan. Setelah sekresi
tebal terangkat maka dapat terlihat inflamasi atau
lesi dibawahnya.
19.
Catat
prosedur, Mencatat respons klien terhadap terapi keperawatan.
termasuk observasi yang Perdarahan dapat menunjukkan masalah sistemik
berhubungan
(mis. yang lebih serius. Lesi rongga mulut mungkin menjadi
Perdarahan gusi, mukosa kanker.
kering,
ulserasi,
atau
krusta pada lidah) dan
laporkan setiap temuan
yang tidak umum kepada
perawat penanggung jawab
atau dokter.
palsu

Melakukan intervensi perawatan mulut pada klien yang menggunakan gigi

Langkah
1. Tanyakan klien apakah gigi palsunya
tidak pas dan apakah ada gilisah atau
membrane mukosa yang nyeri atau
iritasi. Setelah gigi palsu dilepas,
inspeksi rongga mulut dan permukaan
gigi palsu.
2. Jelaskan prosedur dan pastikan klien
bahwa akan menggunakan praktik
pilihan pribadi(jika sesuai).
3. Persiapkan peralatan dan bahan yang
diperlukan :
a. Sikat gigi berbulu lembut
b. Sikat gigi untuk gigi palsu
c. Mangkok piala ginjal atau westafel
d. Detrifikasi gigi palsu atau pasta gigi
e. Gelas air (untuk air hangat dan
dingin)
f. Kasa tunggal 4x4
g. Waslap
h. Cangkir plastic gigi palsu
i. Sarung tangan sekali pakai
4. Cuci tangan
5. Atur bahan-bahan di meja tempat
tidur atau dekat wastafel.
6. Isi mangkok piala ginjal setengah
penuh dengan air biasa atau letakkan
waslap pada wastafel dan nyalakan air
sampai terisi kurang lebih 2,5 cm.

Rasional
Gigi palsu yang tidak pas bergesekan
dengan gusi, dan membrane mukosa.
Daerah iritasi mungkin memerlukan
perawatan khusus.
Meningkatkan
kerjasama klien.

pemahaman

dan

Digunakan untuk menggosok gusi dan


lidah.

Digunakan untuk mengangkat gigi palsu.

Mencegah
kontak
dengan
mikroorganisme di dalam saliva.
Mengurangi transmisi mikroorganisme
Menjamin
prosedur
lancar
dan
terorganisir.
Membantu mendistribusi dentrifikasi di
atas permukaan gigi palsu. Kain
melindungi gigi palsu menjadi patah. Air
panas menyebabkan gigi palsu menjadi

melengkung atau lunak.


7. Kenakan sarung tangan sekali pakai.
8. Minta klien untuk melepas gigi palsu
dan letakkan gigi pada mangkok piala
ginjal. Jika klien tidak mampu melepas
gigi palsu, pegang piringan bagian atas
di depan dengan ibu jari dan jari
telunjuk yang di bungkus dengan kassa.
Gunakan tarikan yang mantap dan ke
arah bawah. Secara lembut angkat gigi
palsu sebelah bawah dari dagu dan
rotasikan ke satu sisi arah bawah untuk
mengeluarkan dari mulut. Letakkan gigi
palsu mangkok.
9. Gunakan detrifikasi pada gigi palsu
dan sikat permukaan gigi palsu. Pegang
sikat secara horizontal dan gunakan
gerakan kebelakang dan ke depan untuk
membersihkan permukaan penggigit.
Pegang sikat secara horizontal dan
gunakan gosokan pendek dari atas gigi
palsu pada permukaan penggigit gigi
untuk membersihkan permukaan gigi
sebelah luar. Pegang sikat secara
vertical dan gunakan gosokan pendek
untuk membersihkan permukaan dalam
gigi. Pegang sikat secara horizontal dan
gunakan gerakan ke belakang dan ke
depan untuk membersihkan permukaan
bawah gigi palsu.
10. bilas gigi palsu dengan teliti dalam
air biasa.
11. kembalikan gigi palsu pada pasien
atau simpan dalam air biasa di dalam
cangkir plastic.
12. kosongkan mangkok piala ginjal dan
tambahkan air dingin yang segar.
Berikan pasta gigi pada sikat gigi
lembut, dan sikat gusi dan langit-langit,
dan lidah dengan lembut.
13. Minta klien untuk berkumur dengan
teliti.
14. masukkan kembali gigi palsu jika
klien menginginkan, ayau biarkan klien
melakukan sendiri. Mulai dengan lembut

Mengurangi transmisi infeksi.


Kassa mencegah tergelincir secara tidak
sengaja saat menangani gigi palsu.
Permutaran gigi palsu pada sudut
mengurangi penarikan bibir selama
pelepasan gigi.

Mencegah makanan dan bakteri yang


menumpuk pada permukaan gigi palsu
dan mencegah baud an terbentuknya
noda. Memegang gigi palsu dekat
dengan air mengurangi peluangretak
karena air akan mencegah keluar jika
gigi palsu tergelincir.

Air hangat bercampur dan membilas


dentrifikasi lebih efektif dari pada air
dingin.
Penyimpanan melindungi gigi palsu tetap
lembab
untuk
memudahkan
saat
pemasukan. Gigi palsu plastic menjadi
rapuh dan melengkung jika tidak
dipertahankan untuk tetap lembab.
Membantu menstimulasi sirkulasi gusi
dan
mengangkat
sisa-sisa
lapisan
kotoran gusi dan mukosa.
Berkumur mengangkat semua partikel
makanan dan sekresi.
Bagian terbesar dari gigi palsu sebelah
atas lebih mudah untuk dimasukkan
pertama kali jika klien mempunyai

memasukkan gigi palsu sebelah atas


yang lembab. Minta klien untuk
menggunakan jari untuk menekan gigi
palsu melekat pada tempatnya, dan
kemudian masukkan gigi palsu sebelah
bawah yang lembab.
15. Buang sarung tangan pada tempat
yang sesuai dan simpan bahan-bahan.
Cuci tangan.
16. Tanya klien jika gigi palsu terasa
nyaman atau tidak.
17. Catat prosedur pada flowsheet atau
catatan perawat.

poringan sebelah atas dan bawah.


Pelembaban melubrikasikan gigi palsu
agar mempermudah insersi. Penggunaan
tekanan yang lembut pada gigi palsu
sebelah atas memperkuatnya menempel
pada langit-langit.
Mengontrol penyebaran infeksi.
Pembersihan mengangkat sumber iritasi.
Dokumentasi yang akurat dan tepat
waktu mempertahankan keakuratan
catatan klien.

Contoh Rencana Asuhan Keperawatan untuk Perubahan Membrane Mukosa


Mulut
Diagnosa Keperawatan : Perubahan membrane mukosa mulut yang berhubungan
dengan radiasi rongga mulut.
Defenisi : perubahan membrane mukosa mulut adalah keadaan individu mengalami
gangguan pada lapisan rongga mulut.
Hasil yang
Tujuan
Intervensi
Rasional
diharapkan
Klien akan
Mukosa, lidah, dan Membangun aturan Menggosok yang
memiliki mukosa
bibir akan menjadi perawatan-mulut
konsisten
utuh yang
merah muda,
setelah makan dan meningkatkan
terhidrasi baik
lembab, dan utuh. waktu tidur.
jaringan gusi,
pada waktu
Peradangan, kerak, menggosok
mengurangi
pulang.
luka, dan kotoran
dengan sikat gigi
kotoran, dan
yang keras akan
yang lembut
menghasilakan
tidak ada.
menggunakan
pengontrolan plak.
Gigi bebas dari
gerakan horizontal. Sikat gigi yang
partikel makanan. bilas dengan
lembut dengan
Klien secara verbal garam atau larutan gerakan horizontal
mengatakan
baking soda (1/2
membantu jaringan
kenyamanan dan
sendok teh dengan gusi yang lembut
perasaannya
473 ml air)
dan mencegah
tentang kebersihan Flossing dengan
perdarahan.
mulut.
flos gigi yang tidak Membilas
Klien akan
berlilin dua kali
melarutkan
menelan dan
sehari. Hindari
keasaman mulut,
berbicara dengan
flossing dengan
mengangkat
nyaman.
keras dekat garis
debris; dan
gusi.
membantu

mengurangi mulut
yang kering yang
terjadi pada terapi
untuk mengurangi
produksi saliva.
Klien akan
melakukan secara
mandiri hygiene
oral dengan benar.

Teknik hygiene
mulut akan
didemontrsi
dengan tepat.

Minta klien untuk


melakukan hygiene
mulut.

Larutan soda dan


garam
meningkatkan
penyembuhan dan
membantu
pembentukan
jaringan granulasi.
Mereka bertindak
sebagai penyegar
dan menekan
pertumbuahn
bakteri.
Flossing sistemik
mengurangi
produksi
pertumbuhan
bakteri yang
hancur pada
permukaan gigi dan
dekat garis gusi.
Menggunakan
flossing yang tidak
berlilin dan
menghindari
flossing yang keras,
untuk mencegah
perdarahan.

D. IMPLEMENTASI
Hygiene Mulut
Hygiene mulut yang baik termasuk kebersihan, kenyamanan dan
kelembaban struktur mulut. Perawatan yang tepat mencegah penyakit mulut dan
kerusakan gigi. Klien di rumah sakit atau fasilitas jangka panjang seringkali tidak
menerima perawatan agresif yang mereka butuhkan. Perawatan mulut harus
diberikan teratur dan setiap hari.
Diet

Untuk mencegah kerusakan gigi klien harus mengubah kebiasaan makan,


mengurangi asupan karbohidrat, terutama kedupan manis diantara makanan.
Makanan manis atau yang mengandung tepung akan menempel pada permukaan
gigi. Setelah memakan yang manis, klien harus menggosok gigi dalam waktu 30
menit untuk mengurangi aksi plak.
Gosok gigi
Gosok gigi dengan teliti sedikitnya empat kali sehari (setelah makan dan
waktu tidur) adalah dasar program hygiene mulut yang efektif. Sikat gigi harus
mempunyai pegangan yang lurus, dan bulunya harus cukup kecil untuk menjangkau
semua bagian mulut. Sikat gigi harus diganti setiap tiga bulan.
Penggunaan Fluorida
Pada kebanyakan komunitas persediaan air terdiri dari fluoride. Rosier dan
Beck (1991) melaporkan ringkasan studi epidemiologi yang menunjukkan bahwa
pemberian fluor pada air minum telah memainkan peranan yang dominan dalam
menurunkan karies gigi.
Flossing
Flossing gigi adalah penting untuk mengangkat plak dan tartar dengan
efektif diantara gigi. Flossing melibatkan insersi floss gigi, satu per satu.
Hygiene Mulut Khusus
Beberapa klien memerlukan metode hygiene mulut yang khusus karena
tingkat ketergantungan mereka pada perawat atu ada kelainan mukosa mulut.
Klien yang tidak sadar. Lebih rentan terkena kekeringan sekresi air liur pada
mukosa yang tebal karena mereka tidak mampu untuk makan, atau minum, sering
bernapas melalui mulut, dan seringkali memperoleh terapi oksigen.
Melakukan Implementasi Perawatan mulut untuk klien yang tidak sadar
Langkah
1. Mengkaji adanya refleks
muntah.
Memposisikan
klien dalam posisi Sims
atau miring dengan kepala
diputar kea rah sisi yang
terkena.
2. Menjelaskan prosedur
kepada klien.
3.
Mempersiapkan
peralatan dan bahan yang
diperlukan;

Rasional
Menunjukkan klien beresiko aspirasi. Membuat
sekresi mengalir dari mulut daripada menumpuk
dibelakang faring dan mencegah aspirasi.

Klien yang tidak sadar masih mampu mendengar.


Menghilangkan enkrustrasi dan bertindak sebagai anti
infeksi.

a. larutan anti infeksi


b. sikat gigi spon atau
spatel lidah dibungkus kasa
tunggal;sikat gigi kecil
c. spatel lidah berbantalan
d. handuk wajah
e. mangkok piala ginjal
f. handuk kertas
g. gelas air dengan air
dingin
h. jeli larut air
i. mesin pengisap portable
dengan kateter suksion
j. sarung tangan sekali
pakai

Sikat membersihkan gigi dengan efektif. Spon atau


swab menstimulasi dan membersihkan gigi dan
mukosa.
Mempertahankan mulut terbuka dan gigi terpisah
selama prosedur tanpa membuat trauma struktur
mulut.

4. Mencuci tangan dan


menggunakan
sarung
tangan sekali pakai.
5.
Meletakkan
handuk
kertas di atas meja tempat
tidur dan atur peralatan.
Menghidupkan
mesin
pengisap dan hubungkan
selang ke kateter pengisap.
6. Menarik tirai sekitar
tempat tidur atau menutup
pintu ruangan.
7. Meninggikan tempat
tidur
pada
tingkat
horizontal
tertinggi;menurunkan pagar
tempat tidur.
8.
Memindahkan
klien
mendekati sisi tempat tidur
dan
ke
dekat
perawat;memastikan
kepala klien diputar ke
arah matras.
9. Meletakkan handuk di
bawah wajah klien dan
mangkok piala ginjal di
bawah dagu.
10.
Secara
hati-hati
meretraksi gigi bagian atas
dan bawah klien dengan
spatel
lidah
yang
berbantalan
dengan

Mengurangi transmisi perpindahan mikroorganisme.

Melubrikasi bibir
Mengangkat sekresi mulut yang tertinggal selama
membersihkan rongga mulut.,
Rongga mulut berisi mikroorganisme penginfeksi yang
tinggi.

Mencegah atas meja menjadi kotor. Peralatan yang


dipersiapkan sebelumnya memastikan prosedur
lancar dan aman.

Memberikan privasi
Penggunaan mekanika tubuh yang baik denga tempat
tidur pada posisi tinggi mencegah cedera pada
perawat dank lien.
Pengaturann posisi kepala yang sesuai mencegah
aspirasi.

Mencegah linen tempat tidur menjadi kotor.

Mencegah klien dari menggigit jari dan menyediakan


kemudahan ke rongga mulut.

memasukkan spatel dengan


cepat
tetapi
lembut
diantara
geraham
belakang. Masukkan saat
klien rileks.
11. Membersihkan mulut
dengan menggunakan sikat
atau spatel lidah yang
dilembabkan dengan anti
infeksi dan air. Meminta
perawat kedua mengisap
sekresi yang mengumpul
selama
pembersihan.
Membersihkan permukaan
mengunyah dan bagian
dalam
pertama
kali.
Membersihkan permukaan
luar
gigi.
Menusapkan
bagian dasar mulut dan
sebelah dalam pipi. Secara
lembut mengusap atau
menyikat
lidah
tetapi
hindari menstimulasi reflex
muntah(jika
ada).
Melembabkan lidi kapas
yang bersih dengan air
untuk membilas. Ulangi
membilas beberapa kali,
mengisap semua sekresi
yang tersisa.
12. Memberikan jeli larut
air pada bibir.
13Menjelaskan
bahwa
prosedur telah selesai
14
Melepaskan
sarung
tangan dan letakkan pada
tempat yang sesuai.
15.
Mengatur
kembali
kembali posisi klien yang
nyaman,
naikkan
penghalang tempat tidur,
dan kembalikan tempat
tidur pada posisi semula.
16.
Membersihkan
peralatan dan kembalikan
pada
tempatnya
yang
sesuai.
Letakkan
linen
kotor ke dalam tempat

Tindakan
penggosokkan
mengangkat
partikel
makanan diantara gigi dan sepanjang permukaan
pengunyahan. Pengusapan membantu pengangkatan
sekresi dan enkrustasi dari mukosa dan melembabkan
mukosa. Suksion mengangkat sekresi dan cairan yang
berkumpul pada faring posterior. Pengulangan
pembilasan mengangkat kotoran yang terlepas dan
peroksida yang mengiritasi mukosa.

Melubrikasi bibir untuk mencegah kering dan retak.


Menyediakan stimulasi yang bermakna pada klien
yang tidak sadar atau kurang responsive.
Mencegah transmisi muikroorganisme.
Mempertahankan kenyamanan dan keamanan klien.

Pembuangan peralatan kotor yang tepat mencegah


tranmisi infeksi.

yang sesuai.
17.Mencuci tangan.
Mengurangi tranmisi mikroorganisme.
18. Menginspeksi rongga Menntukan kemanjuran pembersihan. Setelah sekresi
mulut.
tebal terangkat maka dapat terlihat inflamasi atau
lesi dibawahnya.
19. Mencatat prosedur, Mencatat respons klien terhadap terapi keperawatan.
termasuk observasi yang Perdarahan dapat menunjukkan masalah sistemik
berhubungan
(mis. yang lebih serius. Lesi rongga mulut mungkin menjadi
Perdarahan gusi, mukosa kanker.
kering,
ulserasi,
atau
krusta pada lidah) dan
laporkan setiap temuan
yang tidak umum kepada
perawat penanggung jawab
atau dokter.
Melakukan Implementasi Perawatan mulut untuk klien menggunakan gigi palsu
Langkah
1. Menanyakan kepada klien apakah gigi
palsunya tidak pas dan apakah ada
gilisah atau membrane mukosa yang
nyeri atau iritasi. Setelah gigi palsu
dilepas, menginspeksi rongga mulut dan
permukaan gigi palsu.
2. Menjelaskan prosedur dan pastikan
klien bahwa akan menggunakan praktik
pilihan pribadi(jika sesuai).
3. Mempersiapkan peralatan dan bahan
yang diperlukan :
a. Sikat gigi berbulu lembut
b. Sikat gigi untuk gigi palsu
c. Mangkok piala ginjal atau westafel
d. Detrifikasi gigi palsu atau pasta gigi
e. Gelas air (untuk air hangat dan
dingin)
f. Kasa tunggal 4x4
g. Waslap
h. Cangkir plastic gigi palsu
i. Sarung tangan sekali pakai
4. Mencuci tangan
5. Mangatur bahan-bahan di meja
tempat tidur atau dekat wastafel.
6. Mengisi mangkok piala ginjal
setengah penuh dengan air biasa atau
meletakkan waslap pada wastafel dan
menyalakan air sampai terisi kurang
lebih 2,5 cm.

Rasional
Gigi palsu yang tidak pas bergesekan
dengan gusi, dan membrane mukosa.
Daerah iritasi mungkin memerlukan
perawatan khusus.
Meningkatkan
kerjasama klien.

pemahaman

dan

Digunakan untuk menggosok gusi dan


lidah.

Digunakan untuk mengangkat gigi palsu.

Mencegah
kontak
dengan
mikroorganisme di dalam saliva.
Mengurangi transmisi mikroorganisme
Menjamin
prosedur
lancar
dan
terorganisir.
Membantu mendistribusi dentrifikasi di
atas permukaan gigi palsu. Kain
melindungi gigi palsu menjadi patah. Air
panas menyebabkan gigi palsu menjadi
melengkung atau lunak.

7. Mengenakan sarung tangan sekali


pakai.
8. Meminta klien untuk melepas gigi
palsu dan letakkan gigi pada mangkok
piala ginjal. Meletakkan gigi palsu
mangkok.

Mengurangi transmisi infeksi.


Kassa mencegah tergelincir secara tidak
sengaja saat menangani gigi palsu.
Permutaran gigi palsu pada sudut
mengurangi penarikan bibir selama
pelepasan gigi.
Mencegah makanan dan bakteri yang
menumpuk pada permukaan gigi palsu
dan mencegah baud an terbentuknya
noda. Memegang gigi palsu dekat
dengan air mengurangi peluangretak
karena air akan mencegah keluar jika
gigi palsu tergelincir.

9. Menggunakan detrifikasi pada gigi


palsu dan sikat permukaan gigi palsu.
Memegang sikat secara horizontal dan
menggunakan gerakan kebelakang dan
ke
depan
untuk
membersihkan
permukaan penggigit. memegang sikat
secara horizontal dan menggunakan
gosokan pendek dari atas gigi palsu pada
permukaan
penggigit
gigi
untuk
membersihkan permukaan gigi sebelah
luar. memegang sikat secara vertical
dan menggunakan gosokan pendek untuk
membersihkan permukaan dalam gigi.
memegang sikat secara horizontal dan
menggunakan gerakan ke belakang dan
ke
depan
untuk
membersihkan
permukaan bawah gigi palsu.
10. Membilas gigi palsu dengan teliti Air hangat bercampur dan membilas
dalam air biasa.
dentrifikasi lebih efektif dari pada air
dingin.
11. Mengembalikan gigi palsu pada Penyimpanan melindungi gigi palsu tetap
pasien atau simpan dalam air biasa di lembab
untuk
memudahkan
saat
dalam cangkir plastic.
pemasukan. Gigi palsu plastic menjadi
rapuh dan melengkung jika tidak
dipertahankan untuk tetap lembab.
12. kosongkan mangkok piala ginjal dan Membantu menstimulasi sirkulasi gusi
tambahkan air dingin yang segar. dan
mengangkat
sisa-sisa
lapisan
Berikan pasta gigi pada sikat gigi kotoran gusi dan mukosa.
lembut, dan sikat gusi dan langit-langit,
dan lidah dengan lembut.
13. Minta klien untuk berkumur dengan Berkumur mengangkat semua partikel
teliti.
makanan dan sekresi.
14. Memasukkan kembali gigi palsu Bagian terbesar dari gigi palsu sebelah
Mulai dengan lembut memasukkan gigi atas lebih mudah untuk dimasukkan
palsu sebelah atas yang lembab. pertama kali jika klien mempunyai
Meminta klien untuk menggunakan jari poringan sebelah atas dan bawah.
untuk menekan gigi palsu melekat pada Pelembaban melubrikasikan gigi palsu
tempatnya, dan kemudian masukkan gigi agar mempermudah insersi. Penggunaan
palsu sebelah bawah yang lembab.
tekanan yang lembut pada gigi palsu
sebelah atas memperkuatnya menempel
pada langit-langit.

15. Membuang sarung tangan pada


tempat yang sesuai dan simpan bahanbahan. mencuci tangan.
16. Menanyakan klien jika gigi palsu
terasa nyaman atau tidak.
17. Mencatat prosedur pada flowsheet
atau catatan perawat.

Mengontrol penyebaran infeksi.


Pembersihan mengangkat sumber iritasi.
Dokumentasi yang akurat dan tepat
waktu mempertahankan keakuratan
catatan klien.

E. EVALUASI
Hasil yang diharapkan dari hygiene mulut tidak terlihat dalam beberapa
hari. Pembersihan yang berulang-ulang seringkali diperlukan untuk mengangkat
enkrustasi tebal pada lidah dan memperbaiki hidrasi mukosa yang normal. Perawat
mengevaluasi keberhasilan intervensi untuk memelihara integritas mukosa.Perawat
mengantisipasi kebutuhan untuk mengubah intervensi selama evaluasi. Hal ini
memerlukan beberapa minggu dari hiegine yang teliti untuk mengurangi kejadian
karies gigi.
Contoh evaluasi intervensi untuk masalah hygiene mulut
Tujuan
Klien akan memiliki

Tindakan Evaluatif
Inspeksi kondisi lidah,

Hasil yang Diharapkan


Mukosa, lidah, dan bibir

mukosa mulut utuh dan

gusi, dan garis pipi.

akan menjadi lembab,

terhidrasi baik saat

Observasi kondisi bibir

merah, muda, dan utuh.

pulang

Inspeksi permukaan gigi

Inflamasi, krusta, lesi dan


kotoraan yang keras akan
tetap tidak ada.
Gigi bebas dari partikel

Klien akan melakukan

Observasi pernampilan

makanan dan plak.


Teknik hygiene mulut akan

perawatan hygiene mulut

klien saat menyikat gigi,

didemonstrasikan dengan

secara mandiri dengan

flossing, dan perawatan

tepat.

benar

gigi palsu.

Klien akan menjelaskan

Minta klien untuk

langkah-langkah yang

menjelaskan teknik

harus diikuti dalam

hygiene mulut.

penggosokkan, flossing,
atau perawatan gigi palsu

dengan tepat.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Proses keperawatan pada oral hygiene membantu klien dalam menghadapi
masalah mulut selain itu juga dapat membantu perawat dalam mengetahui
masalah mulut yang umum. Pengkajian perawat tentang mulut termasuk dalam
perawatan terhadap bibir, gigi, mucosa buccal, gusi, langit-langit dan ,lidah klien.
Klien yang tidak mengikuti praktik hygiene mulut yang teratur akan mengalami
penurunan jaringan gusi yang meradang, gigi yang hitam, karies gigi, kehilangan
gigi, dan halitosis. Hygiene mulut membantu memperthankan kesehatan mulut,
gigi, gusi, dan bibir.
Tahap-tahap dalam proses keperawatan yang meliputi pengkajian,
diagnose, intervensi, implementasi, dan evaluasi memegang peranan yang penting
agar tindakan yang dilakukan perawat terhadap klien terstruktur dengan baik agar
tujuan keperawatan tercapai sehingga mendatangkan kepuasan pada klien.
Hygiene mulut dapat dilakukan dengan cara :
Menggosok gigi
Hygiene mulut khusus bagi klien yang tidak sadar
Menggunakan flourida
Flossing
Perawatan gigi palsu
B. Saran
Dengan adanya makalah ini dapat menjadi acuan bagi perawat dalam melakukan
proses keperawatan oral hygiene.

DAFTAR PUSTAKA
Potter dan Perry. 2005. Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan
Praktik.
Terjemahan oleh Komalasari, Renata dkk. Dari
Fundamental of Nursing:
Concept, Process,
and Practice. Jakarta:
EGC.

Wikinson, Judith. M. 2007. Buku Ajar Diagnosis Keperawatan. Terjemahan oleh


Widyawati
dkk. dari Nursing Diagnosis Handbook with NIC
Interventions and NOC Outcomes.
Jakarta: EGC.