Anda di halaman 1dari 42

ASTRONOMI

1. Hukum Gravitasi Newton


-

Dapat menjelaskan tentang gerak benda langit melalui interaksi gaya tarik menarik
Newton

Dapat menjelaskan tentang hukum kekekalan energi

Gaya dan Medan Gravitasi : Hukum Gravitasi Newton, Hukum Kepler,


Kecepatan Satelit Mengelilingi Bumi, Pengukuran Konstanta Universal,
Energi Potensial
24
1:20 AM

Gaya dan Medan Gravitasi : Hukum Gravitasi Newton, Hukum Kepler, Kecepatan Satelit
Mengelilingi Bumi, Pengukuran Konstanta Universal, Energi Potensial - Pada bab ini, Anda akan
diajak untuk dapat menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik
dengan cara menganalisis keteraturan gerak planet dalam tata surya berdasarkan Hukum-Hukum
Newton. Gambar dibawah ini merupakan gambar orrery, yaitu suatu model mekanik tata surya yang
tertata teratur. Semua benda yang berada di alam semesta telah diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa
agar selalu beredar teratur menurut orbitnya masing-masing.

Gambar 1. Orrery. (Wikimedia Commons)

Dalam Fisika, gaya yang berperan penting menjaga keteraturan gerak planet-planet dan interaksi
antarbenda ini disebut gaya gravitasi. Gaya gravitasi ini sangat sulit diamati, jika massa objek
pengamatannya jauh lebih kecil daripada massa planet-planet. Akibatnya, Anda akan sangat sulit
mengetahui berapa besar gaya gravitasi yang terjadi antara Anda dan benda-benda di sekitar Anda.
Namun, Anda akan dapat dengan mudah menentukan besar gaya gravitasi yang tercipta antara Bumi
dan Bulan. Dalam pembahasan materi Bab ini, Anda akan mempelajari tentang gaya gravitasi dengan
lebih rinci, melalui hukum-hukum yang dinyatakan oleh Johannes Kepler dan Isaac Newton.

A. Hukum-Hukum Kepler

Ilmu perbintangan atau astronomi telah dikenal oleh manusia sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Sejak
dahulu, gerakan bintang-bintang dan planet yang terlihat bergerak relatif terhadap Bumi telah menarik
perhatian para ahli astronomi sehingga planet-planet dan bintang-bintang tersebut dijadikan sebagai
objek penyelidikan. Hasil penyelidikan mereka mengenai pergerakan planet-planet dan bintang
tersebut,

kemudian

dipetakan

ke

dalam

suatu

bentuk

model

alam

semesta.

Dalam

perkembangannya, beberapa model alam semesta telah dikenalkan oleh para ahli astronomi.

Sebuah model alam semesta yang dikenalkan oleh Ptolomeus sekitar 140 Masehi, menyatakan
bahwa Bumi berada di pusat alam semesta. Matahari dan bintang-bintang bergerak mengelilingi Bumi
dalam lintasan lingkaran besar yang terdiri atas lingkaran-lingkaran kecil (epicycle). Model alam
semesta Ptolomeus ini berdasarkan pada pengamatan langsung gerakan relatif bintang dan planetplanet yang teramati dari Bumi. Model alam semesta Ptolomeus ini disebut juga model geosentris.

Pada 1543 Masehi, Copernicus mengenalkan model alam semesta yang disebut model Copernicus.
Pada model ini, Matahari dan bintang-bintang lainnya diam, sedangkan planet-planet (termasuk
Bumi) bergerak mengelilingi Matahari. Hal ini dituliskannya melalui buku yang berjudul De
revolutionibus orbium coelestium (Mengenai revolusi orbit langit). Model Copernicus ini disebut juga
model heliosentris.

Model alam semesta selanjutnya berkembang dari model heliosentris. Tycho Brahe, seorang
astronom Denmark, berhasil membuat atlas bintang modern pertama yang lengkap pada akhir abad
ke16. Model alam semesta yang dibuat oleh Tycho Brahe ini dianggap lebih tepat dibandingkan
dengan model-model yang terdahulu karena model ini berdasarkan pada hasil pengamatan dan
pengukuran posisi bintang-bintang yang dilakukannya di observatorium. Observatorium yang
dibangun oleh Tycho Brahe ini merupakan observatorium pertama di dunia.

Penelitian Tycho Brahe ini, kemudian dilanjutkan oleh Johannes Kepler. Melalui data dan catatan
astronomi yang ditinggalkan oleh Tycho Brahe, Kepler berhasil menemukan tiga hukum empiris
tentang gerakan planet. Hukum Kepler tersebut dinyatakan sebagai berikut.

1. Hukum Pertama Kepler

Setiap planet bergerak pada lintasan elips dengan Matahari berada pada salah satu titik fokusnya.

Gambar 2. Lintasan planet mengitari Matahari berbentuk elips.

2. Hukum Kedua Kepler

Garis yang menghubungkan Matahari dengan planet dalam selang waktu yang sama menghasilkan
luas juring yang sama.

Gambar 3. Luas juring yang dihasilkan planet dalam mengelilingi Matahari adalah sama untuk selang
waktu yang sama.

3. Hukum Ketiga Kepler

Kuadrat waktu edar planet (periode) berbanding lurus dengan pangkat tiga jarak planet itu dari
Matahari.

(1-1)

dengan :

T = periode planet mengelilingi Matahari, dan

jarak

Percobaan

rata-rata

Fisika

planet

Sederhana

terhadap

Matahari.

Anda dapat membuat gambar sebuah elips dengan cara menancapkan dua jarum atau dua paku
payung pada kertas atau papan, kemudian menghubungkannya dengan ikatan benang. Ikatan
benang ini digunakan untuk mengatur pensil Anda, seperti yang ditunjukkan pada gambar. Kedua
jarum merupakan titik fokus elips, jarak a dinamakan sumbu semimayor, dan jarak b dinamakan
sumbu semiminor.

Contoh Soal 1 :

Jika perbandingan jarak planet X ke Matahari dengan jarak Bumi ke Matahari 9 : 1, hitunglah waktu
yang dibutuhkan oleh planet X untuk satu kali mengedari Matahari.

Kunci Jawaban :
Diketahui rx

: rb = 9 : 1

Tokoh Fisika :

Johannes Kepler
(15711630)

Johannes Kepler adalah seorang pakar matematika dan astronomi yang berasal dari Jerman. Berkat
kesungguhannya dalam melakukan penelitian, ia berhasil menemukan Hukum Kepler mengenai
bentuk lintasan atau orbit planet-planet. Sumber: Jendela Iptek, 1997

B. Gaya Gravitasi

1. Hukum Gravitasi Newton

Gejala munculnya interaksi yang berupa gaya tarik-menarik antarbenda yang ada di alam ini disebut
gaya gravitasi. Setiap benda di alam ini mengalami gaya gravitasi. Jika Anda sedang duduk di kursi,
sedang berjalan, atau sedang melakukan kegiatan apapun, terdapat gaya gravitasi yang bekerja pada
Anda. Gaya gravitasi merupakan gaya interaksi antar benda. Pernahkah Anda bertanya kenapa gaya
gravitasi yang Anda alami tidak menyebabkan benda-benda yang terdapat di sekitar Anda tertarik ke
arah Anda, atau sebaliknya? Di alam semesta, gaya gravitasi menyebabkan planet-planet, satelitsatelit, dan benda-benda langit lainnya bergerak mengelilingi Matahari dalam sistem tata surya dalam
lintasan yang tetap.

Gambar 4. Gaya gravitasi mengikat planetplanet dan benda langit lainnya untuk tetap beredar menurut
orbitnya. (solarsystem.nasa.gov)

Isaac Newton adalah orang pertama yang mengemukakan gagasan tentang adanya gaya gravitasi.
Menurut cerita, gagasan tentang gaya gravitasi ini diawali dari pengamatan Newton pada peristiwa
jatuhnya buah apel dari pohonnya. Kemudian, melalui penelitian lebih lanjut mengenai gerak jatuhnya
benda-benda, ia menyimpulkan bahwa apel dan setiap benda jatuh karena tarikan Bumi.

Menurut Newton, gaya gravitasi antara dua benda merupakan gaya tarik-menarik yang berbanding
lurus dengan massa setiap benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara benda
tersebut. Secara matematis, pernyataan mengenai gaya gravitasi tersebut dituliskan sebagai berikut.

(1-2)

dengan :

F = gaya gravitasi (N),


G = konstanta gravitasi = 6,672

1011 m3/kgs2, dan


r = jarak antara pusat massa m1 dan m2 (m).

Gambar 5. Gaya gravitasi adalah gaya yang ditimbulkan karena adanya dua benda bermassa m yang

terpisah sejauh r.

Catatan Fisika :

Ketika besaran vektor hanya menyatakan nilainya saja, besaran vektor tersebut harus dituliskan
secara skalar, seperti terlihat pada contoh soal.

Contoh Soal 2 :

Tiga benda homogen masing-masing bermassa 2 kg, 3 kg, dan 4 kg, berturut-turut terletak pada
koordinat (0, 0), (4, 0), dan (0, 4) dalam sistem koordinat Cartesius dengan satuan meter.
Tentukanlah:

a. gaya gravitasi antara benda 2 kg dan 3 kg,


b. gaya gravitasi antara benda 2 kg dan 4 kg, dan
c. gaya gravitasi total pada benda 2 kg.

Kunci Jawaban :
Diketahui: m1

= 2 kg di (0, 0), m2 = 3 kg di (4, 0), dan m3 = 4 kg di (0, 4).

a. Gaya gravitasi antara benda 2 kg dan 3 kg.

F1 = 2,502 1011 N

b. Gaya gravitasi antara benda 2 kg dan 4 kg.

F2 = 3,336 1011 N
c. Gaya gravitasi total pada benda 2 kg.

Benda bermassa 2 kg mengalami dua gaya sekaligus, yaitu F1 dan F2, seperti terlihat pada gambar.
Gaya gravitasi total pada benda 2 kg adalah resultan gaya F1 dan F2, yaitu :

4,170

Tokoh Fisika :

Sir Isaac Newton


(16421727)

1011 N

Newton lahir di Woolsthrope, Lincolnshire pada 25 Desember 1642. Banyak teori yang telah
dihasilkannya melalui kerja keras, ketekunan, dan ketelitiannya dalam menyelidiki fenomena yang
terjadi di lingkungan sekitarnya. Salah satu teorinya yang paling terkenal adalah teori tentang gerak,
yaitu Hukum Newton dan teori tentang gaya gravitasi universal. Bukunya yang sangat terkenal adalah
Principia. Ia meninggal di Kengsinton pada 20 Maret 1727 dan dimakamkan secara kenegaraan di
Westminster Abbey. (Sumber: we .hao.ucar.edu)

Contoh Soal 3 :

Dua benda masing-masing bermassa 6 kg dan 3 kg berjarak 30 cm. Berapakah besar gaya tarikmenarik antara kedua benda tersebut?

Kunci Jawaban :
Diketahui: m1

= 6 kg, m2 = 3 kg, dan r = 30 cm.

F = 1,334 x 109 N
Contoh Soal 4 :

Tiga benda masing-masing bermassa

mA = 4,5 kg, mB = 2 kg, mC = 8 kg kg terletak pada satu

garis lurus. Berapakah besar gaya gravitasi yang dialami benda B yang terletak di antara benda A dan
benda C, jika jarak AB = 30 cm dan jarak BC = 40 cm?

Kunci Jawaban :
Diketahui: mA

= 4,5 kg, mB = 2 kg, mC = 8 kg, rAB = 30 cm, dan rBC = 40 cm.

Sekarang akan ditunjukkan bahwa Hukum Gravitasi Newton menunjuk pada Hukum Ketiga Kepler
untuk kasus khusus orbit lingkaran. Sebuah planet yang bergerak mengelilingi Matahari dengan
kelajuan dalam orbit berjari-jari lingkaran mendapat gaya tarik dari Matahari yang arahnya ke pusat
lingkaran sehingga planet tersebut memiliki percepatan sentripetal. Sesuai dengan Hukum Kedua
Newton tentang gerak, didapatkan persamaan berikut.

F = ma

(1-3)
Untuk orbit berbentuk elips, variabel jari-jari diganti dengan jarak rata-rata antara planet dan Matahari.

2. Medan Gravitasi

Medan gravitasi adalah ruang yang masih dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Besar medan gravitasi
sama dengan gaya gravitasi setiap satuan massa. Secara matematis dituliskan sebagai berikut.
(1-4)
Dengan mengganti nilai F pada Persamaan (14) dengan persamaan gaya tarik gravitasi Persamaan
(12), akan diperoleh :

(1-5)

Kuat medan gravitasi g sering disebut percepatan gravitasi dan merupakan besaran vektor. Apabila
medan gravitasi tersebut ditimbulkan oleh lebih dari satu benda, kuat medan yang ditimbulkan oleh
gaya-gaya tersebut pada suatu titik harus ditentukan dengan cara menjumlahkan vektor-vektor kuat
medannya.

Gambar 6. Di luar medan gravitasi Bumi, astronot dapat melayang di angkasa. (Wikimedia Commons)

Contoh Soal 5 :

Pada titik sudut A dan titik sudut B dari sebuah segitiga sama sisi ABC disimpan benda
bermassa m1 dan m2 Jika m1 = m2 dan kuat medan gravitasi di titik C oleh salah satu benda adalah
g, tentukanlah kuat medan gravitasi di titik C yang disebabkan kedua benda tersebut.

Kunci Jawaban :

Diketahui m1 = m2 dan ABC = segitiga sama sisi. Medan gravitasi dititik C merupakan resultan dari
medan gravitasi yang diakibatkan oleh m1 dan m2, masing-masing sebesar g.

Percepatan gravitasi di permukaan Bumi (jari-jari bumi = R) berbeda dengan percepatan gravitasi
pada ketinggian tertentu (h) di atas permukaan Bumi. Jika percepatan gravitasi di permukaan Bumi g
dan percepatan gravitasi pada ketinggian h di atas permukaan bumi
ditentukan dari persamaan :

(1-6)
sehingga menghasilkan persamaan :

(1-7)

ga ,

maka hubungannya dapat

Gambar 7. Percepatan gravitasi pada ketinggian h di atas permukaan Bumi.

Contoh Soal 6 :

Percepatan gravitasi pada suatu tempat di permukaan Bumi adalah 10

m/s2

Tentukanlah percepatan

gravitasi di tempat yang memiliki ketinggian R dari permukaan Bumi (R adalah jari-jari bumi).

Kunci Jawaban :
Diketahui: gA

= 10 m/s2, dan h = R.

Percepatan gravitasi pada ketinggian R di atas permukaan Bumi adalah :

Contoh Soal 7 :

Dua benda bermassa masing-masing 4 kg dan 9 kg terpisah dengan jarak 10 m. Titik P berada pada
garis hubung kedua benda. Jika medan gravitasi di titik P adalah nol, tentukanlah jarak titik P dari
benda bermassa 4 kg.

Kunci Jawaban :
Diketahui: m1

= 4 kg, m2 = 9 kg, dan r = 10 m.

Dari soal dapat digambarkan kedudukan titik P terhadap kedua benda.

Agar medan gravitasi di titik P bernilai nol maka:

g1 = g2

G dicoret dan hasilnya diakarkan sehingga diperoleh :

20 r1 = 3r1
r1 = 5 m

3. Kecepatan Satelit Mengelilingi Bumi

Sebuah satelit berada pada ketinggian h di atas permukaan Bumi yang memiliki jari-jari R. Satelit
tersebut bergerak mengelilingi Bumi dengan kecepatan v.

Gambar 8. Gaya gravitasi Bumi menghasilkan percepatan sentripetal yang menahan


satelit pada orbitnya.

Satelit mendapatkan gaya gravitasi sebesar mga yang arahnya menuju pusat Bumi, ketika satelit
bergerak melingkar mengitari Bumi. Gaya yang bekerja pada sebuah benda yang sedang bergerak
melingkar dan arahnya menuju pusat lingkaran disebut gaya sentripetal. Melalui penurunan
persamaan

Kecepatan

gerak

satelit

melingkar,

mengelilingi

diperoleh

Bumi

dapat

dituliskan

persamaan

dengan

berikut.

persamaan

dihasilkan

(1-8)

Substitusikan

besar

dari

Persamaan

(15)

sehingga

(1-9)

Dengan demikian, kecepatan satelit saat mengelilingi Bumi dapat dituliskan dalam bentuk persamaan
:

(1-10)

Contoh Soal 8 :

Sebuah satelit mengorbit Bumi pada jarak 3.600 km di atas permukaan Bumi. Jika jari-jari Bumi =
6.400 km, percepatan gravitasi dipermukaan Bumi g = 10

m/s2 dan gerak satelit dianggap melingkar

beraturan, hitung kelajuan satelit dalam km/s.

Kunci Jawaban :

Satuan kelajuan yang diharapkan adalah km/s maka percepatan gravitasi di permukaan Bumi g harus
diubah dulu dari m/s2 menjadi km/s2 dan diperoleh g = 0,01 km/s2. Kelajuan satelit mengorbit Bumi
dapat dihitung dengan persamaan:

4. Pengukuran Konstanta Gravitasi Universal

Nilai tetapan semesta G yang sebelumnya tidak dapat ditentukan oleh Newton, ditentukan melalui
percobaan yang dilakukan oleh seorang ilmuwan Inggris bernama Henry Cavendish pada 1798
dengan ketelitian sebesar 99%. Percobaan yang dilakukan Cavendish menggunakan sebuah neraca
yang disebut Neraca Cavendish. Neraca tersebut dapat mengukur besar gaya putar yang diadakan
pada lengan gayanya. Gambar berikut adalah sketsa dari peralatan Cavendish yang digunakan untuk
mengukur gaya gravitasi antara dua benda kecil.

Gambar 9. Skema Neraca Cavendish.


Untuk memahami prinsip kerja lengan gaya yang terdapat pada Neraca Cavendish, perhatikanlah
Gambar 10 berikut.

Gambar 10. Skema lengan gaya pada neraca Cavendish dan uraian gaya gravitasi
yang bekerja pada kedua jenis bola.

Dua bola kecil, masing-masing dengan massa m1, diletakkan di ujung batang ringan yang
digantungkan pada seutas tali halus. Di samping bola-bola kecil tersebut, digantungkan bola-bola
besar dengan massa m2 Apabila tali penggantung massa

m1 dipuntir dengan sudut sebesar dan

besar m2 , m1 serta jarak antara kedua massa itu (d ) diketahui, besarnya G dapat dihitung.

Beberapa metode dan alat ukur telah dikembangkan oleh para ilmuwan untuk mendapatkan nilai
konstanta gravitasi yang lebih akurat. Walaupun G adalah suatu konstanta Fisika pertama yang
pernah diukur, konstanta G tetap merupakan konstanta yang dikenal paling rendah tingkat
ketelitiannya.

Hal ini disebabkan tarikan gravitasi yang sangat lemah sehingga dibutuhkan alat ukur yang sangat
peka agar dapat mengukur nilai G dengan teliti. Hingga saat ini , nilai konstanta gravitasi universal G
yang didapatkan oleh Cavendish, yaitu (6,70 0,48) 10-11 Nm2/kg2 tidak jauh berbeda dengan nilai
G yang didapat oleh para ilmuwan modern, yaitu 6,673 10-11 Nm2/kg2.

Tabel 1. berikut memperlihatkan nilai konstanta gravitasi universal G yang dihasilkan oleh beberapa
ilmuwan serta metode yang digunakannya.

Tabel 1. Pengukuran G

Pengamat
Cavendish
Poynting
Boys
Von Eotos
Heyl

Tahun
1798
1891
1895
1896
1930

Zahrandicek
1933
Heyl dan Chrzanowski
1942
Luter dan Towler
1982
Sumber : Fisika Universitas, 2000

Metode
Timbangan torsi, penyimpangan
Timbangan biasa
Timbangan torsi, penyimpangan
Timbangan torsi, penyimpangan
Timbangan torsi, periode
Emas
Platinum
Kaca
Timbangan torsi, resonansi
Timbangan torsi, periode
Timbangan torsi, periode

G (10-11 Nm2 /kg2)


6,754
6,698
6,658
6,65
6,678
6,664
6,674
6,659
6,673
6,6726

5. Energi Potensial Gravitasi

Gaya gravitasi Bumi yang bekerja pada benda bermassa m yang terletak pada suatu titik di luar Bumi
diberikan

oleh

persamaan

Tanda negatif menunjukkan bahwa gaya F mengarah ke pusat Bumi. Usaha yang dihasilkan oleh
gaya gravitasi jika benda bergerak langsung dari atau menuju pusat Bumi dari

r2 diberikan oleh :

r = r1 ke r =

Dengan

maka

membandingkan

definisi

yang

tepat

untuk

persamaan

energi

potensial

gravitasi

adalah

(1-11)

Tanda negatif menyatakan bahwa untuk membawa benda bermassa m ke tempat jauh tak terhingga
dibutuhkan usaha atau energi sebesar :

Contoh Soal 9 :

Dua benda bermassa m dan 3m dipisahkan oleh suatu jarak a. Tentukan Energi potensial gravitasi
sistem.

Kunci Jawaban :

Diketahui: m = m, M = 3m, r = a

Energi

potensial

gravitasi

Gambar 11. Usaha yang dilakukan oleh gaya gravitasi ketika sebuah benda bergerak
dari r1 ke r2. Usaha yang dilakukan oleh gaya gravitasi tersebut adalah sama, tidak
bergantung pada bentuk lintasannya (lurus atau lengkung).

Catatan Fisika :

6. Kecepatan Lepas dari Bumi

Apakah mungkin sebuah benda yang digerakkan atau ditembakkan vertikal ke atas tidak kembali ke
Bumi? Jika mungkin terjadi, berapa kecepatan minimum benda tersebut saat di tembakkan agar
terlepas dari pengaruh gravitasi Bumi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perhatikanlah gambar
sebuah roket yang sedang lepas landas pada Gambar 12 berikut.

Gambar 12. Sebuah roket lepas landas dari permukaan Bumi (posisi 1) dengan kecepatan v1 menuju orbit
(posisi 2).

Jika resultan gaya luar yang bekerja pada benda sama dengan nol, energi mekanik benda kekal.
Secara matematis, Hukum Kekekalan Energi Mekanik dirumuskan :

EP1 +

EK1 =

EP2 +

EK2

(1-12)
Agar roket lepas dari pengaruh gravitasi Bumi maka

EP2 = 0, sedangkan kecepatan minimum roket

diperoleh jika EK2 = 0. Dengan demikian, akan dihasilkan persamaan:

Oleh

karena

maka diperoleh persamaan kecepatan minimum roket agar dapat lepas dari gravitasi Bumi sebagai
berikut

:
(1-13)

dengan :

r1 = jarak titik 1 ke pusat massa M,


r2 = jarak titik 2 ke pusat massa M,
v1

= kecepatan benda di titik 1, dan

v2

= kecepatan benda di titik (2).

Diasumsikan jarak titik 1 ke pusat massa sama dengan jari-jari Bumi ( r1 = R).

Contoh Soal 10 :

Sebuah roket bermassa m ditembakkan vertikal dari permukaan Bumi. Tentukan kecepatan minimum
roket ketika ditembakkan agar mencapai ketinggian maksimum R dari permukaan Bumi jika massa
Bumi M dan jari-jari Bumi R.

Kunci Jawaban :

Pada saat roket mencapai ketinggian maksimum R, kecepatan roket


persamaan Hukum Kekekalan Energi dan memasukkan harga

v2 = 0. Dengan menggunakan

v1 = v, v2 = 0, r1 = R dan r2 = R + R =

2R maka diperoleh :

Contoh Soal 11 :

Berapakah kecepatan minimum sebuah roket yang diluncurkan vertikal ke atas agar terlepas dari
pengaruh gravitasi Bumi?

Kunci Jawaban :

Diketahui: G =

6,67 1011 m3/kgs2, M = 5,97 1024 kg, dan R = 6,38 106m.

Contoh Soal 12 :

Jarak antara Matahari dan Bumi adalah 1,5

108 km, sedangkan jarak antara Matahari dan

Neptunus adalah 4,5 109 km. Periode Neptunus mengelilingi Matahari adalah 165 tahun dan
massa Neptunus adalah 18 kali massa Bumi. Jika besar gaya gravitasi pada Bumi oleh Matahari
adalah F dan kelajuan Bumi mengelilingi Matahari adalah v, gaya gravitasi pada Neptunus oleh
Matahari serta kelajuan Neptunus adalah ....

Kunci Jawaban :

Diketahui:
rB = 1,5 108 km,
rN = 4,5 109 km,
rN = 30 rB,
TN = 165 tahun, dan
mN = 18 mB.

Gaya

gravitasi

pada

planet

oleh

Matahari:

Perbandingan gaya gravitasi Neptunus dengan Bumi.

Kecepatan

orbit

planet

Perbandingan kecepatan orbit Bumi dengan Neptunus:

Jawab: b

2. Hukum Gravitasi Newton


Dapat menjelaskan Pasang surut
Dapat menurunkan gaya pasang surut dan keterkaitannya dengan fase bulan

GERHANA MATAHARI, GERHANA BULAN DAN PASANG SURUT

Gerhana Matahari
Gerhana matahari akan terjadi ketika bulan berada diantara bumi dan matahari
sehingga menghalangi cahaya bulan dari matahari. Walaupun Bulan lebih kecil,
bayangan Bulan mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya karena Bulan yang
berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari
yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer.Gerhana matahari terdiri dari
tiga jenis, yaitu gerhana matahari total, gerhana matahari sebagian dan gerhana
matahari cicin. Yang dimaksud demngan gerhana matahari total adalah ketika piringan
matahari tertutupi seluruhnya oleh piringan bulan. Ketika itu, piringan matahari akan
sama besarnya dengan piringan bulan yang akan berubah besarnya sesuai dengan jarak
masing-masing antara bumi dan matahari atau bumi dan bulan.
Gerhana matahari sebagian adalah bila bulan menutupi sebagian dari bagian
matahari. Kalau gerhana matahri cincin itu berarti bulan hanya menutupi sebagian dari
matahari karena ukuran bulan yang lebih kecil dari ukuran matahari. Matahari yang tidak
ditutupi oleh bulan akan ada di sekeliling bulan dan tampak menyerupai bentuk sebuah
cincin yang berkilau dan bercahaya.
Kejadian gerhana matahari ini tidak akan berlangsung lama karena tidak akan
mungkin melebihi waktu 7 menit 40 detik. Ketika gerhana Matahari, orang dilarang
melihat ke arah Matahari dengan mata telanjang karena hal ini dapat merusakkan mata
secara permanen dan mengakibatkan kebutaan.
Gerhana Bulan
gerhana bulan akan terjadi jika bulan ditutupi oleh bayangan bumi ketika bumi posisinya
berada di antara bulan dan matahari dia antara satu garis lurus yang sama. Jika terjadi
demikian, maka sinar matahari yang seharusnya sampai ke bulan terhalang oleh bumi.
Kemiringan bidang orbit bulan terhadap bidang ekliptika tidak selalu membuat terjadinya
gerhana bulan.
Perpotongan bidang ekliptika dengan bidang orbit bulan akan mengakibatkan dengan
dua titik potong (node)., yaitu bulan memotong ekliptika. Untuk bergerak dari titik oposisi
satu ke posisis yang lainnya, bulan memerlukan waktu selama 29, 53 hari. Dengan
demikian, seharusnya jika ada gerhana bulan, maka gerhana matahari akan terjadi juga
karena kedua node terletak pada garis yang sama yang menghubungkan matahari dan
bumi.

Macam-macam Gerhana bulan


Berdasarkan keadaan saat fase puncak gerhana, Gerhana bulan dapat dibedakan
menjadi:

1. Gerhana bulan Total


Jika saat fase gerhana maksimum gerhana, keseluruhan Bulan masuk ke dalam
bayangan inti / umbra Bumi, maka gerhana tersebut dinamakan Gerhana bulan
total. Gerhana bulan total ini maksimum durasinya bisa mencapai lebih dari 1
jam 47 menit.
2. Gerhana bulan Sebagian
Jika hanya sebagian Bulan saja yang masuk ke daerah umbra Bumi, dan
sebagian lagi berada dalam bayangan tambahan / penumbra Bumi pada saat
fase maksimumnya, maka gerhana tersebut dinamakan Gerhana bulan sebagian.
3. Gerhana bulan Penumbral Total
Pada Gerhana bulan jenis ke- 3 ini, seluruh Bulan masuk ke dalam penumbra
pada saat fase maksimumnya. Tetapi tidak ada bagian Bulan yang masuk ke
umbra atau tidak tertutupi oleh penumbra. Pada kasus seperti ini, Gerhana
bulannya kita namakan Gerhana bulan penumbral total.
4. Gerhana bulan Penumbral Sebagian
Dan Gerhana bulan jenis terakhir ini, jika hanya sebagian saja dari Bulan yang
memasuki penumbra, maka Gerhana bulan tersebut dinamakan Gerhana bulan
penumbral sebagian.
Gerhana bulan penumbral biasanya tidak terlalu menarik bagi pengamat. Karena
pada Gerhana bulan jenis ini, penampakan gerhana hampir-hampir tidak bisa
dibedakan dengan saat bulan purnama biasa.

Sedangkan berdasarkan bentuknya, ada tiga tipe Gerhana bulan, yaitu:

Tipe t, atau Gerhana bulan total. Disini, bulan masuk seluruhnya ke dalam
kerucut umbra bumi.
Tipe p, atau Gerhana bulan parsial, ketika hanya sebagian bulan yang
masuk ke dalam kerucut umbra bumi.
Tipe pen, atau Gerhana bulan penumbra, ketika bulan masuk ke dalam
kerucut penumbra, tetapi tidak ada bagian bulan yang masuk ke dalam kerucut
umbra bumi.
PASANG SURUT
1. Definisi Pasang Surut
Menurut Pariwono (1989), fenomena pasang surut diartikan sebagai naik turunnya
muka laut secara berkala akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama
matahari dan bulan terhadap massa air di bumi. Sedangkan menurut Dronkers (1964)
pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan
air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik
menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pengaruh
benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih
kecil.

Pasang surut yang terjadi di bumi ada tiga jenis yaitu: pasang surut atmosfer
(atmospheric tide), pasang surut laut (oceanic tide) dan pasang surut bumi padat (tide of
the solid earth).
Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek
sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara
langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran
bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada
gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih
dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah
bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional
di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu
rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari.
2. Teori Pasang Surut
2.1 Teori Kesetimbangan (Equilibrium Theory)
Teori kesetimbangan pertama kali diperkenalkan oleh Sir Isaac Newton (1642-1727).
Teori ini menerangkan sifat-sifat pasut secara kualitatif. Teori terjadi pada bumi ideal
yang seluruh permukaannya ditutupi oleh air dan pengaruh kelembaman
(Inertia) diabaikan. Teori ini menyatakan bahwa naik-turunnya permukaan laut sebanding
dengan gaya pembangkit pasang surut (King, 1966). Untuk memahami gaya
pembangkit passng surut dilakukan dengan memisahkan pergerakan sistem bumi-bulanmatahari menjadi 2 yaitu, sistem bumi-bulan dan sistem bumi matahari.
Pada teori kesetimbangan bumi diasumsikan tertutup air dengan kedalaman dan
densitas yang sama dan naik turun muka laut sebanding dengan gaya pembangkit
pasang surut atau GPP (Tide Generating Force) yaitu Resultante gaya tarik bulan dan
gaya sentrifugal, teori ini berkaitan dengan hubungan antara laut, massa air yang naik,
bulan, dan matahari. Gaya pembangkit pasut ini akan menimbulkan air tinggi pada dua
lokasi dan air rendah pada dua lokasi (Gross, 1987).
2.2 Teori Pasut Dinamik (Dynamical Theory)
Pond dan Pickard (1978) menyatakan bahwa dalam teori ini lautan yang homogen masih
diasumsikan menutupi seluruh bumi pada kedalaman yang konstan, tetapi gaya-gaya
tarik periodik dapat membangkitkan gelombang dengan periode sesuai dengan
konstitue-konstituennya. Gelombang pasut yang terbentuk dipengaruhi oleh GPP,
kedalaman dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi, dan pengaruh gesekan dasar. Teori
ini pertama kali dikembangkan oleh Laplace (1796-1825). Teori ini melengkapi teori
kesetimbangan sehingga sifat-sifat pasut dapat diketahui secara kuantitatif. Menurut
teori dinamis, gaya pembangkit pasut menghasilkan gelombang pasut (tide wive) yang
periodenya sebanding dengan gaya pembangkit pasut. Karena terbentuknya
gelombang, maka terdapat faktor lain yang perlu diperhitungkan selain GPP. Menurut
Defant (1958), faktor-faktor tersebut adalah :
Kedalaman perairan dan luas perairan
Pengaruh rotasi bumi (gaya Coriolis)
Gesekan dasar
Rotasi bumi menyebabkan semua benda yang bergerak di permukaan bumi akan
berubah arah (Coriolis Effect). Di belahan bumi utara benda membelok ke kanan,
sedangkan di belahan bumi selatan benda membelok ke kiri. Pengaruh ini tidak terjadi di
equator, tetapi semakin meningkat sejalan dengan garis lintang dan mencapai
maksimum pada kedua kutub. Besarnya juga bervariasi tergantung pada kecepatan
pergerakan benda tersebut.

Menurut Mac Millan (1966) berkaitan dengan dengan fenomeana pasut, gaya Coriolis
mempengaruhi arus pasut. Faktor gesekan dasar dapat mengurangi tunggang pasut dan
menyebabkan keterlambatan fase (Phase lag) serta mengakibatkan persamaan
gelombang pasut menjadi non linier semakin dangkal perairan maka semaikin besar
pengaruh gesekannya.
3. Faktor Penyebab Terjadinya Pasang Surut
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pasang surut berdasarkan teori
kesetimbangan adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap matahari,
revolusi bumi terhadap matahari. Sedangkan berdasarkan teori dinamis adalah
kedalaman dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), dan gesekan dasar.
Selain itu juga terdapat beberapa faktor lokal yang dapat mempengaruhi pasut disuatu
perairan seperti, topogafi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk, dan sebagainya, sehingga
berbagai lokasi memiliki ciri pasang surut yang berlainan (Wyrtki, 1961).
Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek
sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara
langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran
bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada
gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih
dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah
bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional
di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, yaitu sudut antara
sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari (Priyana,1994)
Bulan dan matahari keduanya memberikan gaya gravitasi tarikan terhadap bumi yang
besarnya tergantung kepada besarnya masa benda yang saling tarik menarik tersebut.
Bulan memberikan gaya tarik (gravitasi) yang lebih besar dibanding matahari. Hal ini
disebabkan karena walaupun masa bulan lebih kecil dari matahari, tetapi posisinya lebih
dekat ke bumi. Gaya-gaya ini mengakibatkan air laut, yang menyusun 71% permukaan
bumi, menggelembung pada sumbu yang menghadap ke bulan. Pasang surut terbentuk
karena rotasi bumi yang berada di bawah muka air yang menggelembung ini, yang
mengakibatkan kenaikan dan penurunan permukaanlaut di wilayah pesisir secara
periodik. Gaya tarik gravitasi matahari juga memiliki efek yang sama namun dengan
derajat yang lebih kecil. Daerah-daerah pesisir mengalami dua kali pasang dan dua kali
surut selama periode sedikit di atas 24 jam (Priyana,1994)
4. Tipe Pasang Surut
Perairan laut memberikan respon yang berbeda terhadap gaya pembangkit pasang
surut,sehingga terjadi tipe pasut yang berlainan di sepanjang pesisir. Menurut Dronkers
(1964), ada tiga tipe pasut yang dapat diketahui, yaitu :
1. Pasang surut diurnal. Yaitu bila dalam sehari terjadi satu satu kali pasang dan satu kali
surut. Biasanya terjadi di laut sekitar katulistiwa.
2. pasang surut semi diurnal. Yaitu bila dalam sehari terjadi dua kali pasang dan dua kali
surut yang hampir sama tingginya.
3. pasang surut campuran. Yaitu gabungan dari tipe 1 dan tipe 2, bila bulan melintasi
khatulistiwa (deklinasi kecil), pasutnya bertipe semi diurnal, dan jika deklinasi bulan
mendekati maksimum, terbentuk pasut diurnal.
Menurut Wyrtki (1961), pasang surut di Indonesia dibagi menjadi 4 yaitu :
1.Pasang surut harian tunggal (Diurnal Tide)
Merupakan pasut yang hanya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari,
ini terdapat di Selat Karimata

2.Pasang surut harian ganda (Semi Diurnal Tide)


Merupakan pasut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut yang tingginya hampir
sama dalam satu hari, ini terdapat di Selat Malaka hingga Laut Andaman.
3.Pasang surut campuran condong harian tunggal (Mixed Tide, Prevailing Diurnal)
Merupakan pasut yang tiap harinya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut tetapi
terkadang dengan dua kali pasang dan dua kali surut yang sangat berbeda dalam tinggi
dan waktu, ini terdapat di Pantai Selatan Kalimantan dan Pantai Utara Jawa Barat.
4.Pasang surut campuran condong harian ganda (Mixed Tide, Prevailing Semi Diurnal)
Merupakan pasut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari tetapi
terkadang terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dengan memiliki tinggi dan waktu
yang berbeda, ini terdapat di Pantai Selatan Jawa dan Indonesia Bagian Timur

5. Arus Pasut
Gerakan air vertikal yang berhubungan dengan naik dan turunnya pasang surut, diiringi
oleh gerakan air horizontal yang disebut dengan arus pasang surut. Permukaan
air laut senantiasa berubah-ubah setiap saat karena gerakan pasut, keadaan ini juga
terjadi pada tempat-tempat sempit seperti teluk dan selat, sehingga
menimbulkan arus pasut(Tidal current). Gerakan arus pasut dari lautlepas yang
merambat ke perairan pantai akan mengalami perubahan, faktor yang
mempengaruhinya antara lain adalah berkurangnya kedalaman (Mihardja et,. al 1994).
Menurut King (1962), arus yang terjadi di laut teluk dan laguna adalah akibat massa air
mengalir dari permukaan yang lebih tinggi ke permukaan yang lebih rendah yang
disebabkan oleh pasut. Arus pasang surut adalah arus yang cukup dominan pada
perairan teluk yang memiliki karakteristik pasang (Flood) dan surut atau ebb. Pada waktu
gelombang pasut merambat memasuki perairan dangkal, seperti muara sungai atau
teluk, maka badan air kawasan ini akan bereaksi terhadap aksi dari perairan lepas.
Pada daerah-daerah di mana arus pasang surut cukup kuat, tarikan gesekan pada
dasar laut menghasilkan potongan arus vertikal, dan resultan turbulensi menyebabkan
bercampurnya lapisan air bawah secara vertikal. Pada daerah lain, di mana arus pasang
surut lebih lemah, pencampuran sedikit terjadi, dengan demikian stratifikasi (lapisanlapisan air dengan kepadatan berbeda) dapat terjadi. Perbatasan antar daerah-daerah
kontras dari perairan yang bercampur dan terstratifikasi seringkali secara jelas
didefinisikan, sehingga terdapat perbedaan lateral yang ditandai dalam kepadatan air
pada setiap sisi batas.
6. Pasang Surut di Perairan Indonesia
Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikelilingi oleh dua lautan yaitu Samudera
Indonesia dan Samudera Pasifik serta posisinya yang berada di garis katulistiwa sehingga
kondisi pasang surut, angin, gelombang, dan arus lautcukup besar. Hasil pengukuran
tinggi pasang surut di wilayah laut Indonesia menunjukkan beberapa wilayah
lepas laut pesisir daerah Indonesia memiliki pasang surut cukup tinggi. Gambar 15
memperlihatkan peta pasang surut wilayah lautan Indonesia. Dari gambar tersebut
tampak beberapa wilayah lepaslaut pesisir Indonesia yang memiliki pasang surut cukup
tinggi antara lain wilayah laut di timur Riau, laut dan muara sungai antara Sumatera
Selatan dan Bangka, laut dan selat di sekitar pulau Madura, pesisir Kalimantan Timur,
dan muara sungai di selatan pulau Papua (muara sungai Digul) (Sumotarto, 2003).
Keadaan pasang surut di perairan Nusantara ditentukan oleh penjalaran pasang surut

dari Samudra Pasifik dan Hindia serta morfologi pantai dan batimeri perairan yang
kompleks dimana terdapat banyak selat, palung dan laut yang dangkal dan laut dalam.
Keadaan perairan tersebut membentuk pola pasang surut yang beragam. Di Selat
Malaka pasang surut setengah harian (semidiurnal) mendominasi tipe pasut di daerah
tersebut. Berdasarkan pengamatan pasang surut di Kabil, Pulau Batam diperoleh
bilangan Formzhal sebesar 0,69 sehingga pasang surut di Pulau Batam dan Selat Malaka
pada umumnya adalah pasut bertipe campuran dengan tipe ganda yang menonjol.
Pasang surut harian (diurnal) terdapat di Selat Karimata dan Laut Jawa. Berdasarkan
pengamatan pasut di Tanjung Priok diperoleh bilangan Formzhal sebesar 3,80. Jadi tipe
pasut di Teluk Jakarta dan laut Jawa pada umumnya adalah pasut bertipe tunggal.
Tunggang pasang surut di perairan Indonesia bervariasi antara 1 sampai dengan 6
meter. Di Laut Jawa umumnya tunggang pasang surut antara 1 1,5 m kecuali di Selat
madura yang mencapai 3 meter. Tunggang pasang surut 6 meter di jumpai di Papua
(Diposaptono, 2007).

DAFTAR ISI

2.

Daftar Isi
i
BAB I
Pendahuluan ... 1
Latar belakang
1
BAB II
Isi dan Pembahasan .
3
Gerhana Matahari
.
3
Pengertian Gerhana Matahari
.
3
Jenis Jenis Gerhana Matahari
..
4

3.

Mengamati Gerhana Matahari

A.

A.
1.

B. Gerhana Bulan
1.

..

..

Pengertian Gerhana Bulan

2. Macam-macam Gerhana bulan


3. Tipe-tipe Gerhana Bulan

.
.

6
7

C.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pasang Surut
7
Definisi Pasang Surut
..
7
Teori Pasang Surut
.
8
Faktor Penyebab Terjadinya Pasang Surut
.
9
Tipe Pasang Surut
..
10
Arus Pasut
..
11
Alat-alat Pengukuran Pasang Surut

13
Pasang Surut di Perairan Indonesia

14
BAB III
Penutup
.
15
A. Kesimpulan ..
15
B. Saran
..
15
Daftar Pustaka
..

16

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pada dasarnya pengertian ilmu Kealaman dasar (IKD) adalah suatu ilmu pembelajaran
mengenai masalah alam dan isinya. IKD sebenarnya merupakan ilmu yang dapat dipelajari
secara logis tetapi tetap realistis, membutuhkan evaluasi dan ekserimen untuk mengetahui
benar atau tidaknya proses alamiah tersebut. Seperti contohnya apabila kita ingin mengetahui
bagaimana proses pertumbuhan seekor ayam maka kita harus mengikuti dari ayam tersebut
masih didalam telur sampai ayam itu menetas.
Dalam konsepnya ilmu ini bisa dipelajari dengan mudah, dapat mempelajari apapun
yang berkaitan dengan kealamiaan, seperti pertumbuhan makhluk hidup, tata surya, proses
hujan dan lain-lain. IKD sebenarnya merupakan pembelajaran yang sangat luas karna
membicarakan peristiwa alam yang nyata yang pada dasarnya berbeda satu dengan yang
lainnya. Membutuhkan waktu yang cukup lama dalam proses pembentukan atau eksperimen.
IKD merupakan suatu Ilmu pembelajaran tentang bagian dari kehidupan semesta ini
dan melalui makalah ini, penulis membahas tentang Gerhana Matahari, Gerhana Bulan dan
Pasang Surut. Gerhana Matahari merupakanGerhana Matahari adalah salah satu fenomena
alam yang menakjubkan. Namun, berbeda dengan gerhana bulan, gerhana matahari
berbahaya bila dilihat hanya dengan mata telanjang karena dapat merusak mata secara
permanen yang mengakibatkan kebutaan.
Pada dasarnya terjadinya gerhana matahari terjadi pada saat posisi bulan terletak di
antara matahari dan bulan sehingga sebagian atau seluruh cahaya dari matahari tertutup oleh
bulan. Walaupun matahari lebih besar dari bulan namun karena jarak bulan ke bumi lebih
dekat dibandingkan dengan jarak matahari ke bumi yaitu sekitar 384.400 kilometer berbeda
sangat jauh dibanding jarak matahari ke bumi yaitu sekitar 149.680.000 kilometer.

Selain Gerhana Matahari dalam makalah ini membahas tentang Gerhana


bulan. Gerhana bulan terjadi pada waktu bumi berada di antara bulan dan matahari, yaitu
pada waktu bulan purnama dan bayang-bayang bumi menutup permukan bulan.
Gerhana bulan dapat terlihat jelas kalau bulan tertutup oleh bayang-bayang umbra. Dalam
peredaran mengelilingi bumi, ada kalanya bulan bergerak ke tengah-tengah daerah bayangbayang umbra, sehingga bisa lebih dari dua jam berada dalam kegelapan. Dalam keadaan
demikian terjadilah gerhana bulan total.
Ada kalanya bulan hanya lewat dibagian tepi bayang-bayang umbra, sehingga permukaannya
yang menjadi gelap hanya sebagian saja. Pada saat seperti ini yang terlihat adalah gerhana
bulan sebagian
Selain Gerhana Bulan yang dapat dilihat dengan mata telanjang, pasang surutpun
dapat diamati pula. Bagi masyarakat pesisir pantai keadaan alam seperti pasang surut
bukanlah hal yang langka tetapi biasa terlihat pada waktu-waktu tertentu. Pasang laut adalah
naik atau turunnya posisi permukaan perairan atau samudera yang disebabkan oleh pengaruh
gaya gravitasi bulan dan matahari. Pasang Naik merupakan keadaan permukaan air laut yang
mengalami kenaikan dari keadaan biasanya.Pasang Surut merupakan keadaan permukaan air
laut yang mengalami penurunan dari keadaan biasanya. Ada tiga sumber gaya yang saling
berinteraksi: laut, matahari, dan bulan. Pasang laut menyebabkan perubahan kedalaman
perairan dan mengakibatkan arus pusaran yang dikenal sebagai arus pasang, sehingga
perkiraan kejadian pasang sangat diperlukan dalam navigasi pantai. Wilayah pantai yang
terbenam sewaktu pasang naik dan terpapar sewaktu pasang surut, disebut mintakat pasang,
dikenal sebagai wilayah ekologi laut yang khas.
Periode pasang laut adalah waktu antara puncak atau lembah gelombang ke puncak
atau lembah gelombang berikutnya. Panjang periode pasang surut bervariasi antara 12 jam 25
menit hingga 24 jam 50 menit.

BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN
A. Gerhana Matahari

1. Pengertian Gerhana Matahari


Gerhana mattahari terjadi pada waktu bulan berada di antara bumi dan matahari, yaitu
pada waktu bulan mati, dan bayang-bayang bulan yang berbentuk kerucut menutupi
permukaan bumi.
Bayang-bayang bulan ada dua bagian,
1. umbra , Umbra adalah bagian yang gelap dan berbentuk kerucut yang puncaknya menuju
ke bumi.
Daerah yang berada dalam liputan umbra akan mengalami gerhana matahari total.

2. penumbra , Penumbra adalah bagian yang agak terang dan bentuknya makin jauh dari
bulan semakin lebar.
Daerah berada dalam liputan penumbra mengalami gerhana mattahari sebagian. Pada
gerhana matahari total akan tampak cahaya korona matahari yang bentuknya seperti mahkota
dan semburan gas dari permukaan matahari yang berwarna lebih merah.
Gerhana Matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara Bumi dan Matahari sehingga
menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun Bulan lebih kecil, bayangan Bulan mampu
melindungi cahaya Matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari
Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer.
Gerhana Matahari dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu: gerhana Matahari total, gerhana
Matahari sebagian, dan gerhana Matahari cincin.
Sebuah gerhana Matahari dikatakan sebagai gerhana total apabila saat puncak gerhana,
piringan Matahari ditutup sepenuhnya oleh piringan Bulan. Saat itu, piringan Bulan sama besar
atau lebih besar dari piringan Matahari. Ukuran piringan Matahari dan piringan Bulan sendiri
berubah-ubah tergantung pada masing-masing jarak Bumi-Bulan dan Bumi-Matahari.
Gerhana sebagian terjadi apabila piringan Bulan (saat puncak gerhana) hanya menutup
sebagian dari piringan Matahari. Pada gerhana ini, selalu ada bagian dari piringan Matahari yang
tidak tertutup oleh piringan Bulan.
Gerhana cincin terjadi apabila piringan Bulan (saat puncak gerhana) hanya menutup
sebagian dari piringan Matahari. Gerhana jenis ini terjadi bila ukuran piringan Bulan lebih kecil
dari piringan Matahari. Sehingga ketika piringan Bulan berada di depan piringan Matahari, tidak
seluruh piringan Matahari akan tertutup oleh piringan Bulan. Bagian piringan Matahari yang tidak
tertutup oleh piringan Bulan, berada di sekeliling piringan Bulan dan terlihat seperti cincin yang
bercahaya.
Gerhana Matahari tidak dapat berlangsung melebihi 7 menit 40 detik. Ketika gerhana
Matahari, orang dilarang melihat ke arah Matahari dengan mata telanjang karena hal ini dapat
merusakkan mata secara permanen dan mengakibatkan kebutaan.
2.

Jenis Jenis Gerhana Matahari

Gerhana matahari dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu gerhana matahari sebagian, gerhana
matahari total dan gerhana matahari cincin.
1. Gerhana matahari sebagian. Gerhana matahari sebagian terjadi apabila hanya sebagian
piringan matahari tertutup oleh piringan bulan (Saat puncak gerhana). Pada gerhana matahari
sebagian ini, pasti masih ada bagian dari piringan matahari yang tidak tertutup oleh piringan
bilan.
2. Gerhana matahari total. Gerhana matahari total terjadi apabila piringan matahari ditutup
sepenuhnya oleh piringan bulan. Pada saat itu, pringan bulan sama besar atau lebih besar
dibandingkan dengan piringan matahari. Ukuran piringan matahari dari piringan bulan itu
sendiri selalu berubah-ubah tergantung pada masing-masing jarak bumi-matahari dan bumibulan.
3 Gerhana matahari cincin. Gerhana matahari cincin terjadi apabila piringan bulan pada saat
puncak gerhana hanya menutup sebagian dari piringan matahari. Gerhana ini terjadi apabila
piringan bulan lebih kecil dibandingkan dengan piringan bulan. Sehingga pada saat piringan

bulan berada di depan piringan matahari tidak semua piringan matahari tertutup oleh piringan
bulan. Hal ini yang membuat gerhana terlihat seperti cincin.
3.

Mengamati Gerhana Matahari


Melihat secara langsung ke fotosfer matahari (bagian cincin terang dari Matahari)
walaupun
hanya
dalam
beberapa
detik
dapat
mengakibatkan
kerusakan
permanen retina mata karena radiasi tinggi yang tak terlihat yang dipancarkan dari fotosfer.
Kerusakan yang ditimbulkan dapat mengakibatkan kebutaan. Mengamati gerhana Matahari
membutuhkan pelindung mata khusus atau dengan menggunakan metode melihat secara tidak
langsung. Kaca mata sunglasses tidak aman untuk digunakan karena tidak menyaring
radiasi inframerah yang dapat merusak retina mata. Karena cepatnya peredaran Bumi mengitari
matahari, gerhana matahari tak mungkin berlangsung lebih dari 7 menit dan 58 detik jadi jika
ingin melihatnya lakukan sesegera mungkin.

B. Gerhana Bulan

1.

Pengertian Gerhana Bulan


Gerhana bulan terjadi pada waktu bumi berada di antara bulan dan matahari, yaitu pada
waktu bulan purnama dan bayang-bayang bumi menutup permukan bulan. Gerhana bulan dapat
terlihat jelas kalau bulan tertutup oleh bayang-bayang umbra. Dalam peredaran mengelilingi
bumi, ada kalanya bulan bergerak ke tengah-tengah daerah bayang-bayang umbra, sehingga
bisa lebih dari dua jam berada dalam kegelapan. Dalam keadaan demikian terjadilah gerhana
bulan
total.
Ada kalanya bulan hanya lewat dibagian tepi bayang-bayang umbra, sehingga permukaannya
yang menjadi gelap hanya sebagian saja. Pada saat seperti ini yang terlihat adalah gerhana
bulan sebagian.
Gerhana bulan terjadi saat sebagian atau keseluruhan penampang bulan tertutup oleh
bayangan bumi. Itu terjadi bila bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus
yang sama, sehingga sinar Matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi.
Dengan penjelasan lain, gerhana bulan muncul bila bulan sedang beroposisi
dengan matahari. Tetapi karena kemiringan bidang orbit bulan terhadap bidang ekliptika, maka
tidak setiap oposisi bulan dengan Matahari akan mengakibatkan terjadinya gerhana bulan.
Perpotongan bidang orbit bulan dengan bidang ekliptika akan memunculkan 2 buah titik potong
yang disebut node, yaitu titik di mana bulan memotong bidang ekliptika. Gerhana bulan ini akan
terjadi saat bulan beroposisi pada node tersebut. Bulan membutuhkan waktu 29,53 hari untuk
bergerak dari satu titik oposisi ke titik oposisi lainnya. Maka seharusnya, jika terjadi gerhana
bulan, akan diikuti dengan gerhana Matahari karena kedua node tersebut terletak pada garis
yang menghubungkan antara Matahari dengan bumi.
Sebenarnya, pada peristiwa gerhana bulan, seringkali bulan masih dapat terlihat. Ini
dikarenakan masih adanya sinar Matahari yang dibelokkan ke arah bulan oleh atmosfer bumi.

Dan kebanyakan sinar yang dibelokkan ini memiliki spektrum cahaya merah. Itulah sebabnya
pada saat gerhana bulan, bulan akan tampak berwarna gelap, bisa berwarna merah tembaga,
jingga, ataupun coklat. Gerhana bulan dapat diamati dengan mata telanjang dan tidak berbahaya
sama sekali.

2. Macam-macam Gerhana bulan


Berdasarkan keadaan saat fase puncak gerhana, Gerhana bulan dapat dibedakan menjadi:
1. Gerhana bulan Total
Jika saat fase gerhana maksimum gerhana, keseluruhan Bulan masuk ke dalam bayangan
inti / umbra Bumi, maka gerhana tersebut dinamakan Gerhana bulan total. Gerhana bulan
total ini maksimum durasinya bisa mencapai lebih dari 1 jam 47 menit.
2. Gerhana bulan Sebagian
Jika hanya sebagian Bulan saja yang masuk ke daerah umbra Bumi, dan sebagian lagi berada
dalam bayangan tambahan / penumbra Bumi pada saat fase maksimumnya, maka gerhana
tersebut dinamakan Gerhana bulan sebagian.
3. Gerhana bulan Penumbral Total
Pada Gerhana bulan jenis ke- 3 ini, seluruh Bulan masuk ke dalam penumbra pada saat fase
maksimumnya. Tetapi tidak ada bagian Bulan yang masuk ke umbra atau tidak tertutupi oleh
penumbra. Pada kasus seperti ini, Gerhana bulannya kita namakan Gerhana bulan penumbral
total.
4. Gerhana bulan Penumbral Sebagian
Dan Gerhana bulan jenis terakhir ini, jika hanya sebagian saja dari Bulan yang memasuki
penumbra, maka Gerhana bulan tersebut dinamakan Gerhana bulan penumbral sebagian.
Gerhana bulan penumbral biasanya tidak terlalu menarik bagi pengamat. Karena pada
Gerhana bulan jenis ini, penampakan gerhana hampir-hampir tidak bisa dibedakan dengan
saat bulan purnama biasa.
3. Tipe-tipe Gerhana Bulan
ada tiga tipe Gerhana bulan, yaitu:
1. Tipe t, atau Gerhana bulan total. Disini, bulan masuk seluruhnya ke dalam kerucut umbra
bumi.
2. Tipe p, atau Gerhana bulan parsial, ketika hanya sebagian bulan yang masuk ke dalam
kerucut umbra bumi.
3. Tipe pen, atau Gerhana bulan penumbra, ketika bulan masuk ke dalam kerucut penumbra,
tetapi tidak ada bagian bulan yang masuk ke dalam kerucut umbra bumi.
C. Pasang Surut

1. Definisi Pasang Surut


Menurut Pariwono (1989), fenomena pasang surut diartikan sebagai naik turunnya
muka laut secara berkala akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama matahari
dan bulan terhadap massa air di bumi. Sedangkan menurut Dronkers (1964) pasang
surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara
berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari bendabenda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya
dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil.
Pasang surut yang terjadi di bumi ada tiga jenis yaitu: pasang surut atmosfer
(atmospheric tide), pasang surut laut (oceanic tide) dan pasang surut bumi padat (tide of the
solid earth).
Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek
sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung
dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil
dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari
dalam membangkitkan pasang surutlaut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak
matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik airlaut ke arah bulan dan matahari dan
menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional dilaut. Lintang dari tonjolan
pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital
bulan
dan
matahari.
2. Teori Pasang Surut
2.1 Teori Kesetimbangan (Equilibrium Theory)
Teori kesetimbangan pertama kali diperkenalkan oleh Sir Isaac Newton (1642-1727).
Teori ini menerangkan sifat-sifat pasut secara kualitatif. Teori terjadi pada bumi ideal yang
seluruh permukaannya ditutupi oleh air dan pengaruh kelembaman (Inertia) diabaikan. Teori
ini menyatakan bahwa naik-turunnya permukaan laut sebanding dengan gaya pembangkit
pasang surut (King, 1966). Untuk memahami gaya pembangkit passng surut dilakukan
dengan memisahkan pergerakan sistem bumi-bulan-matahari menjadi 2 yaitu, sistem bumibulan dan sistem bumi matahari.
Pada teori kesetimbangan bumi diasumsikan tertutup air dengan kedalaman dan
densitas yang sama dan naik turun muka laut sebanding dengan gaya pembangkit pasang
surut atau GPP (Tide Generating Force) yaitu Resultante gaya tarik bulan dan gaya
sentrifugal, teori ini berkaitan dengan hubungan antara laut, massa air yang naik, bulan, dan
matahari. Gaya pembangkit pasut ini akan menimbulkan air tinggi pada dua lokasi dan air
rendah pada dua lokasi (Gross, 1987).
2.2 Teori Pasut Dinamik (Dynamical Theory)
Pond dan Pickard (1978) menyatakan bahwa dalam teori ini lautan yang homogen
masih diasumsikan menutupi seluruh bumi pada kedalaman yang konstan, tetapi gaya-gaya
tarik periodik dapat membangkitkan gelombang dengan periode sesuai dengan konstituekonstituennya. Gelombang pasut yang terbentuk dipengaruhi oleh GPP, kedalaman dan luas
perairan, pengaruh rotasi bumi, dan pengaruh gesekan dasar. Teori ini pertama kali

dikembangkan oleh Laplace (1796-1825). Teori ini melengkapi teori kesetimbangan sehingga
sifat-sifat pasut dapat diketahui secara kuantitatif. Menurut teori dinamis, gaya pembangkit
pasut menghasilkan gelombang pasut (tide wive) yang periodenya sebanding dengan gaya
pembangkit pasut. Karena terbentuknya gelombang, maka terdapat faktor lain yang perlu
diperhitungkan selain GPP.
Menurut Defant (1958), faktor-faktor tersebut adalah :
Kedalaman perairan dan luas perairan
Pengaruh rotasi bumi (gaya Coriolis)
Gesekan dasar
Rotasi bumi menyebabkan semua benda yang bergerak di permukaan bumi akan
berubah arah (Coriolis Effect). Di belahan bumi utara benda membelok ke kanan, sedangkan
di belahan bumi selatan benda membelok ke kiri. Pengaruh ini tidak terjadi di equator, tetapi
semakin meningkat sejalan dengan garis lintang dan mencapai maksimum pada kedua kutub.
Besarnya juga bervariasi tergantung pada kecepatan pergerakan benda tersebut.
Menurut Mac Millan (1966) berkaitan dengan dengan fenomeana pasut, gaya Coriolis
mempengaruhiarus pasut. Faktor gesekan dasar dapat mengurangi tunggang pasut dan
menyebabkan keterlambatan fase (Phase lag) serta mengakibatkan persamaan gelombang
pasut menjadi non linier semakin dangkal perairan maka semaikin besar pengaruh
gesekannya.
3. Faktor Penyebab Terjadinya Pasang Surut
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pasang surut berdasarkan teori
kesetimbangan adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap matahari, revolusi
bumi terhadap matahari. Sedangkan berdasarkan teori dinamis adalah kedalaman dan luas
perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), dan gesekan dasar. Selain itu juga terdapat
beberapa faktor lokal yang dapat mempengaruhi pasut disuatu perairan seperti, topogafi
dasar laut, lebar selat, bentuk teluk, dan sebagainya, sehingga berbagai lokasi memiliki ciri
pasang surut yang berlainan (Wyrtki, 1961).
Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek
sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung
dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil
dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari
dalam membangkitkan pasang surutlaut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak
matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik airlaut ke arah bulan dan matahari dan
menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional dilaut. Lintang dari tonjolan
pasang surut ditentukan oleh deklinasi, yaitu sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang
orbital bulan dan matahari (Priyana,1994)
Bulan dan matahari keduanya memberikan gaya gravitasi tarikan terhadap bumi yang
besarnya tergantung kepada besarnya masa benda yang saling tarik menarik tersebut. Bulan
memberikan gaya tarik (gravitasi) yang lebih besar dibanding matahari. Hal ini disebabkan
karena walaupun masa bulan lebih kecil dari matahari, tetapi posisinya lebih dekat ke bumi.
Gaya-gaya ini mengakibatkan air laut, yang menyusun 71% permukaan bumi,
menggelembung pada sumbu yang menghadap ke bulan. Pasang surut terbentuk karena
rotasi bumi yang berada di bawah muka air yang menggelembung ini, yang mengakibatkan

kenaikan dan penurunan permukaan laut di wilayah pesisir secara periodik. Gaya tarik
gravitasi matahari juga memiliki efek yang sama namun dengan derajat yang lebih kecil.
Daerah-daerah pesisir mengalami dua kali pasang dan dua kali surut selama periode sedikit di
atas 24 jam (Priyana,1994)

1.
2.

4. Tipe Pasang Surut


Perairan laut memberikan respon yang berbeda terhadap gaya pembangkit pasang
surut,sehingga terjadi tipe pasut yang berlainan di sepanjang pesisir. Menurut Dronkers
(1964), ada tiga tipe pasut yang dapat diketahui, yaitu :
Pasang surut diurnal. Yaitu bila dalam sehari terjadi satu satu kali pasang dan satu kali
surut. Biasanya terjadi di laut sekitar katulistiwa.
pasang surut semi diurnal. Yaitu bila dalam sehari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut
yang hampir sama tingginya.
3.
pasang surut campuran. Yaitu gabungan dari tipe 1 dan tipe 2, bila bulan melintasi
khatulistiwa (deklinasi kecil), pasutnya bertipe semi diurnal, dan jika deklinasi bulan
mendekati maksimum, terbentuk pasut diurnal.

Menurut Wyrtki (1961), pasang surut di Indonesia dibagi menjadi 4 yaitu :


1.Pasang surut harian tunggal (Diurnal Tide)
Merupakan pasut yang hanya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari, ini
terdapat di Selat Karimata.
2.Pasang surut harian ganda (Semi Diurnal Tide)
Merupakan pasut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut yang tingginya hampir sama
dalam satu hari, ini terdapat di Selat Malaka hingga Laut Andaman.
3.Pasang surut campuran condong harian tunggal (Mixed Tide, Prevailing Diurnal)
Merupakan pasut yang tiap harinya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut tetapi
terkadang dengan dua kali pasang dan dua kali surut yang sangat berbeda dalam tinggi dan
waktu, ini terdapat di Pantai Selatan Kalimantan dan Pantai Utara Jawa Barat.
4.Pasang surut campuran condong harian ganda (Mixed Tide, Prevailing Semi Diurnal)
Merupakan pasut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari tetapi
terkadang terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dengan memiliki tinggi dan waktu yang
berbeda, ini terdapat di Pantai Selatan Jawa dan Indonesia Bagian Timur
5. Arus Pasut
Gerakan air vertikal yang berhubungan dengan naik dan turunnya pasang surut,
diiringi oleh gerakan air horizontal yang disebut dengan arus pasang surut. Permukaan
air laut senantiasa berubah-ubah setiap saat karena gerakan pasut, keadaan ini juga terjadi
pada tempat-tempat sempit seperti teluk dan selat, sehingga menimbulkan arus pasut(Tidal
current). Gerakan arus pasut dari laut lepas yang merambat ke perairan pantai akan
mengalami perubahan, faktor yang mempengaruhinya antara lain adalah berkurangnya
kedalaman (Mihardja et,. al 1994).
Menurut King (1962), arus yang terjadi di laut teluk dan laguna adalah akibat massa
air mengalir dari permukaan yang lebih tinggi ke permukaan yang lebih rendah yang

disebabkan oleh pasut. Aruspasang surut adalah arus yang cukup dominan pada perairan
teluk yang memiliki karakteristik pasang (Flood) dan surut atau ebb. Pada waktu gelombang
pasut merambat memasuki perairan dangkal, seperti muara sungai atau teluk, maka badan air
kawasan ini akan bereaksi terhadap aksi dari perairan lepas.
Pada daerah-daerah di mana arus pasang surut cukup kuat, tarikan gesekan pada
dasar lautmenghasilkan potongan arus vertikal, dan resultan turbulensi menyebabkan
bercampurnya lapisan air bawah secara vertikal. Pada daerah lain, di mana arus pasang surut
lebih lemah, pencampuran sedikit terjadi, dengan demikian stratifikasi (lapisan-lapisan air
dengan kepadatan berbeda) dapat terjadi. Perbatasan antar daerah-daerah kontras dari
perairan yang bercampur dan terstratifikasi seringkali secara jelas didefinisikan, sehingga
terdapat perbedaan lateral yang ditandai dalam kepadatan air pada setiap sisi batas.
6. Alat-alat Pengukuran Pasang Surut
Beberapa alat prngukuran pasang surut diantaranya adalah sebagai berikut :
1.Tide Staff.
Alat ini berupa papan yang telah diberi skala dalam meter atau centi meter. Biasanya
digunakan pada pengukuran pasang surut di lapangan.Tide Staff (papan Pasut) merupakan
alat pengukur pasut paling sederhana yang umumnya digunakan untuk mengamati ketinggian
muka laut atau tinggi gelombang air laut. Bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kayu,
alumunium atau bahan lain yang di cat anti karat.
Syarat pemasangan papan pasut adalah :
1.Saat pasang tertinggi tidak terendam air dan pada surut terendah masih tergenang oleh air
2.Jangan dipasang pada gelombang pecah karena akan bias atau pada daerah aliran sungai
(aliran debit air).
3.Jangan dipasang didaerah dekat kapal bersandar atau aktivitas yang menyebabkan air
bergerak secara tidak teratur
4.Dipasang pada daerah yang terlindung dan pada tempat yang mudah untuk diamati dan
dipasang tegak lurus
5.Cari tempat yang mudah untuk pemasangan misalnya dermaga sehingga papan mudah
dikaitkan
6.Dekat dengan bench mark atau titik referensi lain yang ada sehingga data pasang surut
mudah untuk diikatkan terhadap titik referensi
7.Tanah dan dasar laut atau sungai tempat didirikannya papan harus stabil
8.Tempat didirikannya papan harus dibuat pengaman dari arus dan sampah
2.Tide gauge.
Merupakan perangkat untuk mengukur perubahan muka laut secara mekanik dan
otomatis. Alat ini memiliki sensor yang dapat mengukur ketinggian permukaan air laut yang
kemudian direkam ke dalam komputer. Tide gauge terdiri dari dua jenis yaitu :
Floating tide gauge (self registering)
Prinsip kerja alat ini berdasarkan naik turunnya permukaan air laut yang dapat
diketahui melalui pelampung yang dihubungkan dengan alat pencatat (recording unit).
Pengamatan pasut dengan alat ini banyak dilakukan, namun yang lebih banyak dipakai adalah

dengan
cara
rambu
pasut.
Pressure tide gauge (self registering)
Prinsip kerja pressure tide gauge hampir sama dengan floating tide gauge, namun
perubahan naik-turunnya air laut direkam melalui perubahan tekanan pada dasar laut yang
dihubungkan dengan alat pencatat (recording unit). Alat ini dipasang sedemikian rupa
sehingga selalu berada di bawah permukaan air laut tersurut, namun alat ini jarang sekali
dipakai untuk pengamatan pasang surut.
3.Satelit.
Sistem satelit altimetri berkembang sejak tahun 1975 saat diluncurkannya
sistem satelit Geos-3. Pada saat ini secara umum sistem satelit altimetri mempunyai tiga
objektif ilmiah jangka panjang yaitu mengamati sirkulasi lautan global, memantau volume
dari lempengan es kutub, dan mengamati perubahan muka laut rata-rata (MSL) global.
Prinsip Dasar Satelit Altimetri adalah satelit altimetri dilengkapi dengan pemancar pulsa
radar (transmiter), penerima pulsa radar yang sensitif (receiver), serta jam berakurasi tinggi.
Pada sistem ini, altimeter radar yang dibawa oleh satelit memancarkan pulsa-pulsa
gelombang elektromagnetik (radar) kepermukaan laut. Pulsa-pulsa tersebut dipantulkan balik
oleh permukaan laut dan diterima kembali oleh satelit.
Prinsip penentuan perubahan kedudukan muka laut dengan teknik altimetri yaitu pada
dasarnyasatelit altimetri bertugas mengukur jarak vertikal dari satelit ke permukaan laut.
Karena tinggi satelit di atas permukaan ellipsoid referensi diketahui maka tinggi
muka laut (Sea Surface Height atau SSH) saat pengukuran dapat ditentukan sebagai selisih
antara tinggi satelit dengan jarak vertikal. Variasi muka laut periode pendek harus
dihilangkan sehingga fenomena kenaikan muka laut dapat terlihat melalui analisis deret
waktu (time series analysis). Analisis deret waktu dilakukan karena kita akan melihat variasi
temporal periode panjang dan fenomena sekularnya.

7. Pasang Surut di Perairan Indonesia


Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikelilingi oleh dua lautan yaitu
Samudera Indonesia dan Samudera Pasifik serta posisinya yang berada di garis katulistiwa
sehingga kondisi pasang surut, angin, gelombang, dan arus laut cukup besar. Hasil
pengukuran tinggi pasang surut di wilayahlaut Indonesia menunjukkan beberapa wilayah
lepas laut pesisir daerah Indonesia memiliki pasang surut cukup tinggi. Gambar 15
memperlihatkan peta pasang surut wilayah lautan Indonesia. Dari gambar tersebut tampak
beberapa wilayah lepas laut pesisir Indonesia yang memiliki pasang surut cukup tinggi antara
lain wilayah laut di timur Riau, laut dan muara sungai antara Sumatera Selatan dan
Bangka, laut dan selat di sekitar pulau Madura, pesisir Kalimantan Timur, dan muara sungai
di selatan pulau Papua (muara sungai Digul) (Sumotarto, 2003).
Keadaan pasang surut di perairan Nusantara ditentukan oleh penjalaran pasang surut
dari Samudra Pasifik dan Hindia serta morfologi pantai dan batimeri perairan yang kompleks
dimana terdapat banyak selat, palung dan laut yang dangkal dan laut dalam. Keadaan

perairan tersebut membentuk pola pasang surut yang beragam. Di Selat Malaka pasang surut
setengah harian (semidiurnal) mendominasi tipe pasut di daerah tersebut. Berdasarkan
pengamatan pasang surut di Kabil, Pulau Batam diperoleh bilangan Formzhal sebesar 0,69
sehingga pasang surut di Pulau Batam dan Selat Malaka pada umumnya adalah pasut bertipe
campuran dengan tipe ganda yang menonjol. Pasang surut harian (diurnal) terdapat di Selat
Karimata dan Laut Jawa. Berdasarkan pengamatan pasut di Tanjung Priok diperoleh bilangan
Formzhal sebesar 3,80. Jadi tipe pasut di Teluk Jakarta dan lautJawa pada umumnya adalah
pasut bertipe tunggal. Tunggang pasang surut di perairan Indonesia bervariasi antara 1
sampai dengan 6 meter. Di Laut Jawa umumnya tunggang pasang surut antara 1 1,5 m
kecuali di Selat madura yang mencapai 3 meter. Tunggang pasang surut 6 meter di jumpai di
Papua (Diposaptono, 2007).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pemaparan materi diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:
Gerhana Matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara Bumi dan Matahari sehingga menutup
sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun Bulan lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi
cahaya Matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih
dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer.

Gerhana Matahari dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu: gerhana Matahari total, gerhana
Matahari sebagian, dan gerhana Matahari cincin
Gerhana bulan terjadi saat sebagian atau keseluruhan penampang bulan tertutup oleh
bayangan bumi. Itu terjadi bila bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus
yang sama, sehingga sinar Matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi.

Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek
sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung
dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka ada beberapa saran yaitu:
Mengamati peristiwa alam seperti Gerhana Matahari, Gerhana Bulan maupun Pasang Surut
merupakan suatu bentuk yang terjadi dialami. Sebagai manusia yang dikaruniai dengan
berbagai kelebihan diantaranya kemampuan untuk mempelajari keadaan alam maka maka
patutlah disyukuri.

Mempelajari suatu ilmu pengetahuan seperti contohnya IKD maka perlu dipelajari secara
maksimal sehingga ilmu tersebut dapat terserap.

DAFTAR PUSTAKA
Defant, A. 1958. Ebb And Flow. The Tides of Earth, Air, and Water. The University of
Michigan Press, Michigan.
Diposaptono, S. 2007. Karakteristik Laut Pada Kota Pantai. Direktorat Bina Pesisir,
Direktorat Jendral Urusan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Departemen Kelautan dan
Perikanan. Jakarta.
Dronkers, J. J. 1964. Tidal Computations in rivers and coastal waters. North-Holland
Publishing Company. Amsterdam
Gross, M. G.1990. Oceanography ; A View of Earth Prentice Hall, Inc. Englewood Cliff.
New Jersey
King, C. A. M. 1966. An Introduction to Oceanography. McGraw Hill Book Company, Inc.
New York. San Francisco.
Mac Millan, C. D. H. 1966. Tides. American Elsevier Publishing Company, Inc., New York
Miharja, D. K., S. Hadi, dan M. Ali, 1994. Pasang Surut Laut. Kursus
Intensive Oseanografi bagi perwira TNI AL. Lembaga Pengabdian masyarakat dan jurusan
Geofisika dan Meteorologi. Institut Teknologi Bandung. Bandung.
Pariwono, J.I. 1989. Gaya Penggerak Pasang Surut. Dalam Pasang Surut. Ed. Ongkosongo,
O.S.R. dan Suyarso. P3O-LIPI. Jakarta. Hal. 13-23
Pickard, G. L. 1993. Descriptive Physical Oceanography. Pergamon Press. Oxford.
Pond dan Pickard, 1978. Introductory to Dynamic Oceanography. Pergamon Press, Oxford
Priyana, 1994. Studi pola Arus Pasang Surut di Teluk Labuhantereng Lombok. Nusa
Tenggara Barat. Skripsi. Skripsi. Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas
Perikanandan Kelautan.Institut Pertanian Bogor
Wyrtki, K. 1961. Phyical Oceanography of the South East Asian Waters. Naga Report Vol. 2
Scripps, Institute Oceanography, California.
www.dishidros.or.id
www.laut.gd.itb.ac.id
www.gdl.geoph.itb.ac.id
http://haslinda16.blogspot.com/2012/02/perbedaan-gerhana-bulan-dan-gerhana.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Gerhana_matahari
http://www.ilmukelautan.com/oseanografi/fisika-oseanografi/402-pasang-surut