Anda di halaman 1dari 25

PERILAKU KONSUMEN

Pengaruh Lingkungan Terhadap Perilaku


Konsumen

Pengampu Mata Kuliah: Christianingrum, S.Pd., M.M.


Disusun Oleh Kelompok 2:

1. Aisyah Maisaroh R
(3021411005)
2. Aldrina Maldini
(3021411006)
3. Aprilia Fergita
(3021411010)
4. Daniel Evander
(3021411013)
5. Dhita Mutia
(3021411018)

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
BALUNIJUK, MERAWANG-BANGKA,
PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
TAHUN AJARAN 2016/2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala hidayah dan rahmat-Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya
yang sangat sederhana. Dengan tersusunnya makalah ini diharapkan dapat menambah
wawasan para pembaca dan dapat mempraktikkan ilmu yang telah kami rangkum ke dalam
makalah ini serta merupakan bukti tertulis bahwa kami telah menyelesaikan tugas dalam mata
kuliah Perilaku Konsumen. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu
acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam memahami pengaruh lingkungan
budaya dan sub budaya terhadap perilaku konsumen.
Dalam menyusun makalah ini kami telah berusaha secara maksimal, namun kami
menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran yang
membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan di masa akan datang.
Kami berharap makalah kami ini akan memberi manfaat bagi pambaca dan
pemanfaatannya ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan
inpirasi terhadap pembaca.
Selaku penyusun kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada anggota
kelompok yang telah bekerja keras untuk mengerjakan makalah ini.
Balunijuk, September 2016
Penyusun,

DAFTAR ISI
Cover...............................................................................................................
...............

Kata
Pengantar.........................................................................................................
......

ii

Daftar
Isi.....................................................................................................................
...

iii

BAB 1 PENDAHULAN
Latar
Belakang..........................................................................................................
.....

Rumusan
Masalah..........................................................................................................

Tujuan Penulisan
Makalah............................................................................................

BAB 2 PEMBAHASAN
3
Pengertian
Budaya.........................................................................................................
5
Unsur-Unsur
Budaya.....................................................................................................
9
Pengaruh Budaya Terhadap Perilaku
Konsumen..........................................................
11
Negara Jepang Sebagai Tolak Ukur Tentang
Budaya...................................................
Tinjauan Sub
Budaya.....................................................................................................

1
5

Lintas
Budaya............................................................................................................
....

1
9

BAB 3 PENUTUP
Kesimpulan.....................................................................................................
...............

2
1

DAFTAR
PUSTAKA..............................................................................................

2
2

BAB 1
Pendahuluan
A.Latar Belakang
Kebudayaan adalah faktor penentu keinginan dan perilaku seseorang yang paling
mendasar. Dengan kata lain faktor budaya merupakan faktor paling utama dalam perilaku
pengambilan keputusan dan perilaku pembelian. Menurut suatau analisis, lahirnya
masyarakat konsumsi pertama kali muncul di Inggris pada abad ke 17 ketika ada bebarapa
kejadian penting yang berlangsung. Pengaruh budaya dapat mempengaruhi berbagai makna
budaya dalam masyarakat dalam suatu proses yang berkesinambungan dan timbal balik yang
hampir mirip dengan analisis roda konsumen. Budaya konsumsi yang muncul juga
dipengaruhi oleh strategi pemasaran, konsumsi massal meningkat sejalan dengan semakin
banyaknya orang yang memiliki pendapatan. Gambaran singakat kejadian yang kompleks di
awal terbentuknya masyarakat konsumsi modern menunjukan pentingnya budaya dalam
uapaya memahami perilaku konsumen.
Konsumen adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang hidup bersama dengan orang lain,
berinteraksi dengan sesamanya. Orang-orang sekeliling inilah yang disebut sebagai
lingkungan sosial konsumen. Konsumen saling berinteraksi satu sama yang lain, saling
mempengaruhi dalam membentuk perilaku, kebiasaan, sikap, kepercayaan dan nilai-nilai
yang dianggap penting, salah satunya unsur lingkungan sosial adalah budaya.

B. Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pengertian Budaya
Unsur-Unsur Budaya
Pengaruh Budaya Terhadap Perilaku Konsumen
Negara Jepang Sebagai Tolak Ukur Tentang Budaya
Tinjauan Sub Budaya
Lintas Budaya

C. Tujuan Penulisan Makalah


1. Melalui pembuatan makalah ini para pembaca diharapkan:
a. Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dunia kerja yang sesungguhnya.
b. Memiliki tingkat kompetensi standar sesuai yang dipersyaratkan oleh dunia kerja.
1

c. Menjadi tenaga kerja yang berwawasan tentang Perilaku Konsumen.


d. Dapat menyerap perkembangan teknologi dan budaya dalam Pengaruh Lingkungan
Budaya dan Sub Budaya Terhadap Perilaku Konsumen untuk kepentingan
pengembangan dirinya.
2. Tujuan Penulisan Makalah Bagi Penulis (Anggota Kelompok):
a. Sebagai salah satu bentuk latihan, dalam menghadapi ujian pada akhir proses
pembelajaran.
b. Sebagai salah satu tugas yang disyaratkan untuk menempuh mata kuliah Perilaku
Konsumen.
c. Agar mahasiswa dapat Menganalisis Pengaruh Lingkungan Budaya dan Sub
Budaya Terhadap Perilaku Konsumen.
d. Sebagai bukti untuk mendapatkan nilai tugas.
e. Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa yang baik dalam penulisan karya
ilmiah.

3.

BAB 2
Pembahasan
A. Pengertian Budaya
Salah satu unsur lingkungan sosial adalah budaya (culture). Budaya adalah segala
nilai, pemikiran, simbol, yang mempengaruhi perilaku, sikap, kepercayaan, dan kebiasaan
seseorang dan masyarakat. Budaya bukan hanya bersifat abstrak tetapi bisa berbentuk objek
material seperti rumah, kendaraan, peralatan elektronik, pakaian, indang-undang, makanan,
minuman, musik, teknologi, dan bahasa.

Menurut Peter dan Olson (1999, arti/makna

budaya adalah jika sebagian besar dari orang yang berada di dalam sebuah kelompok sosial
memiliki pemahaman mendasar yang sama terhadap makna tersebut.
Engel, Blackwell dan Miniard (1995) menyebutkan 10 sikap dan perilaku yang
sangat dipengaruhi oleh budaya , yaitu :
1. Kesadaran diri dan ruang (sense of self and space).
2. Komunikasi dan bahasa.
3. Pakaian dan penampilan.
4. Makanan dan kebiasaan makan.
5. Waktu dan kesadaran akan waktu.
6. Hubungan keluarga, organisasi, dan lembaga pemerintah.
7. Nilai dan norma.
8. Kepercayaan dan sikap.
9. Proses mental dan belajar.
10. Kebiasaan kerja.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan
Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam
masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Untuk
dapat berkomunikasi secara efektif dengan konsumen, produsen atau penjual sebaiknya
menggunakan simbol untuk menyampaikan citra dari suatu produk atau jasa. Simbol ini bisa
berarti verbal maupun nonverbal. Simbol yang verbal biasanya menggunakan televisi,
pengumuman atau iklan di majalah. Simbol nonverbal biasanya menggunakan warna,
bentuk,dll. Namun simol memiliki beberapa arti sehinggan kita harus benar-benar
meyakinkan bahwa simbol itu dapat mewakili gambaran tentang produk tersebut atau citra.
3

Sedangkan menurut Herskovits, beliau memandang bahwa kebudayaan sebagai


sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut
sebagai superorganic.
Dan yang terakhir yaitu menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan
keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan,
kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat
seseorang sebagai anggota masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan
adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau
gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari,
kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda
yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan bendabenda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi
sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam
melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:
1. Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata,
konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan
dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya.
Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang,
stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
2. Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari
generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian
tradisional.
Komponen-komponen atau unsur-unsur utama dari kebudayaan antara lain:
1. Peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)

Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan. Teknologi menyangkut


cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan
perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat,
dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil
kesenian.
2. Sistem mata pencaharian hidup
Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalahmasalah mata pencaharian tradisional saja.
Untuk itulah menurut pengamatan kami, budaya sangat berpengaruh besar terhadap
perilaku konsumen untuk membeli sesuatu, hal ini dapat kita lihat bersama yaitu dari
pernyataan bahwa wujud dari budaya adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia,
benda-benda yang bersifat nyata contohnya adalah produk yang dibeli oleh konsumen, dan
budaya bisa berupa perilaku, pola-pola perilaku yaitu keputusan untuk membeli atau tidaknya
suatu produk maupun jasa. Budaya memang erat hubungannya dengan keputusan pembelian
konsumen, karena budaya itu dapat diibaratkan sebagai sesuatu yang memang kita jalani
setiap harinya, seperti tekhnologi seperti televisi ataupun media lainnya yang berpengaruh
besar dalam mempromosikan suatu produk, melalui televisi seseorang bisa tergoda untuk
melakukan suatu pembelian produk dan jasa. Dan masih banyak lagi contoh yang selanjutnya
akan dibahas.
B. Unsur-Unsur Budaya
1. Nilai (Value)
Nilai adalah kepercayaan atau segala sesuatu yang dianggap penting oleh
seseorang atau suatu masyarakat., Nilai mengarahkan seseorang untuk berperilaku yang
sesuai dengan budayanya. Nilai akan mempengaruhi sikap seseorang, yang kemudian
sikap akan mempengaruhi perilaku seseorang.
Contoh nilai-nilai yang dianut orang Indonesia:
a. Laki-laki adalah kepala rumah tangga.
b. Menghormati orang tua dan orang yang lebih tua.
c. Hamil diluar nikah adalah aib.
Perubahan Beberapa Nilai:
Nilai yang Berubah

Pengaruh Terhadap Konsumsi

Dulu sedikit wanita yang memakai jilbab, sekarang Kebutuhan akan pakaian muslimah
banyak wanita yang memakai jilbab.

meningkat

Semakin banyak wanita mulai bekerja diluar rumah

Pemakaian kosmetik, pakaian kerja,


dan transportasi meningkat

Wanita

diberi

kesempatan

untuk

melanjutkan Permintaan

pendidikan

peralatan

sekolah, transportasi meningkat

Wanita banyak memakai celana panjang sebagai Permintaan


pengganti rok
Laki-laki

pakaiana,

celana

panjang

meningkat

banyak

yang

hobi

kesalon

dan Frekuensi ke salon meningkat dan

menggunakan anting

permintaan perhiasan meningkat

2. Norma (Norms)
Norma adalah aturan masyarakat tentang sikap baik dan buruk, tindakan yang
boleh dan tidak boleh dilakukan. Norma di bagi dua yang pertama norma yang disepakati
berdasakan aturan pemerintah, biasanya berbentu peraturan, undang-undang. Norma yang
kedua adalah norma yang ada dalam budaya dan bisa di pahami dan dihayati jika orang
tersebut berinteraksi dengan orang-orang dari budaya yang sama.
3. Kebiasaan (Customs)
Kebiasaan adalah berbagai bentuk perilaku dan tindakan yang diterima secara
budaya. Kebiasaan diturunkan dari generasi ke generasi secara turun temurun.
Beberapa Perayaan Keagamaan di Berbagai Daerah:
Daerah
Padang

Budaya

Keterangan

Pengaruh

Manjalang Mintuo

Konsumsi
Mengantar makanan ke Meningkatkan
rumah mertua sebelum pembeliaan
bulan

puasa,

Terhadap

bahan

dalam makanan (beras, lauk


6

bulan puasa, dan saat pauk)


Riau

Balimau kasai

lebaran
Mandi

bersama

di Sarana

transportasi,

sungai sehari sebelum makanan,


puasa ramadhan

perlengkapan
mainan

Aceh

Rabu abek

minuman,
mandi,

anak,

dan

hiburan
Pergi ke tempat wisata Meningkatkan
minggu

terakhir pembeliaan

menjelang puasa

bahan

makanan

Beberapa Perayaan Perkawinan di Berbagai Daerah


Daerah

Perayaan

Keterangan

Pengaruh
Terhadap

NTT

Belis

Konsumsi
Persyaratan meminang Pakaian, makanan,
dengan

memberikan minuman,

ternak, kain dan emas perhiasan, ternak


Manado

Maso minta

kepada calon istri


Acara melamar yang Meningkatkan
dilakukan

pria

ke pembelian

wanita
Kalimantan,
Sulawesi,
Padang,

Pelangkahan

sandang,

Sanksi

kepada

perempuan
Aceh,

Riau

mendahului
dengan
memberikan

dan bunga
adik Kerbau,

pangan
sapi,

yang perhiasan, pakaian


menikah dan
cara perlengkapannya
kerbau,

sapi, perhiasan, pakaian


dan

perlengkapannya

kepada

kakak

perempuan yang belum


menikah
4. Larangan (Mores)

Larangan adalah berbagai bentuk kebiasaan yang mengandung aspek moral, biasanya
berbentuk tindakan yang tidak boleh dilakukan oleh seseorang dalam suatu masyarakat.
Pelanggaran terhadap larangan tersebut akan mengakibatkan sangsi sosial. Biasanya
bersumber dari budaya atau nilai-nilai agama.
Beberapa Larangan yang Dijumpai di Beberapa Daerah
Larangan
Alasan
Apabila istri hamil dilarang bagi suami/istri Anaknya akan cacat
melukai atau membunuh binatang
Dilarang foto bertiga
Karena nanti salah satunya akan celaka
Anak gadis tidak boleh duduk di depan pintu Nanti akan terjadi sesuatu yang buruk,
dan tangga

yang bisa berakibat susah dapat jodoh

5. Konvensi (Conventions)
Konvensi menggambarkan norma dalam kehidupan sehari-hari, anjuran atau
kebiasaan bagaimana seseorang harus bertindak sehari-hari, dan biasanya berkaitan
dengan perilaku konsumen yang rutin dilakukan konsumen. Contohnya minum teh dan
kopi dengan gula, memasak menggunakan garam, anak yang menyebut orang tuanya
ayah/ibu, ayah/bunda, papa/mama, umi/abi, mami/papi.
6. Mitos
Mitos menggambarkan sebuah cerita atau kepercayaan yang mengandung nilai dan
idealisme bagi suatu masyarakat. Mitos sering kali sulit di buktikan kebenarannya.
Contohnya pada masyarakat jawa mengenai raja-raja dan wali songo.
7. Simbol
Simbol adalah segala sesuatu (benda, nama , warna, konsep) yang memiliki arti
penting lainnya ( makna budaya yang diinginkan). Contoh bendera warna kuning yang
dipasang disuatu tempat adalah simbol bahwa ada warga yang meninggal di daerah
tersebut.
8. Budaya dan Konsumsi
Budaya mempengaruhi bagaimana individu mengambil keputusan, budaya adalah
variabel utama dalam penciptaan dan komunikasi makna didalam produk. Persepsi
konsumen terhadap sesuatu termasuk bagaimana cara berpikir, percaya, dan bertindak
ditentukan oleh lingkungan budaya sekitar konsumen itu berada serta kelompok yang
8

berhubungan dengan konsumen. Kebudayaan mengimplikasikan sebuah cara hidup yang


dipelajari secara total dan diwariskan. hal ini mengandung arti bahwa kebudayaan tidak
hanya mencakup tindakan yang berlandaskan naluri tapi juga dipelajari.
Kebudayaan mempengaruhi perilaku pembelian karena budaya menyerap ke dalam
kehidupan sehari-hari. Budaya menetapkan apa yang kita dengar dan makan, dimana kita
tinggal dan kemana kita bepergian. Budaya mempengaruhi bagaimana kita membeli dan
menggunakan produk dan kepuasan kita tehadap produk-produk tersebut.
C. Pengaruh Budaya Terhadap Perilaku Konsumen
Produk dan jasa memainkan peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi
budaya, karena produk mampu membawa pesan makna budaya. Makna budaya akan
dipindahkan ke produk dan jasa, dan produk kemudian dipindahkan ke konsumen dalam
bentuk pemilikan produk (possession ritual), pertukaran (exchange ritual), pemakaian
(grooming ritual), dan pembuangan (divestment ritual).
1. Budaya Populer
Mowen dan Minor (1998) mengartikan budaya populer sebagai budaya masyarakat
banyak yang mudah dipahami dan tidak memerlukan pengetahuan khusus.
a. Iklan
Iklan dalam berbagai bentuknya seperti iklan media cetak atau pun elektronik.
Setiap hari konsumen disajikan beragam iklan produk dan jasa melalu berbagai media.
Konsumen pun bisa menikmati iklan-iklan mancanegara yang ditayangkan di tanah air,
karena iklan telah menjadi budaya internasional.
b. Televisi
Televisi adalah medium untuk menyampaikan banyak hal kepada masyarakat
seperti pesan sosial, politik, hiburan, olahraga, beragam berita, dan iklan komersial.
Budaya hiburan seperti sinetron, film, ruang konsultasi, musik, quis, ceramah agama,
dan kerohanian. Beberapa nama stasiun televisi, sctv, rcti, metro tv, tv one, trans tv,
trans 7, indosiar, bangka tv dll.
c. Musik
Musik telah menjadi budaya populer yang sangat penting. Musik juga banyak
dipakai oleh iklan iklan produk dan jasa. Konsumen Indonesia sangat terbuka dalam
menerima jenis musik dari mancanegara.
d. Radio

Ada fungsi radio yang tidak bisa digantikan, konsumen bisa mendengarkan radio
sambil bekerja, mengemudi dan melakukan kegiatan lainnya. Sejak penggunaan telepon
selular, radio meciptakan budaya baru yaitu interaktif antara pendengar dan penyiar
radio, radio bisa menyiarkan langsung kejadian kejadian penting di masyarakat.
e. Pakaian dan Acsesoris
Pakaian menggambarkan suatu budaya dan bangsa. Konsumen selalu
membutuhkan pakaian dan asesoris berbeda untuk tujuan yang berbeda. Kebutuhan
pakaian dan asesoris yang berbeda antar waktu dan situasi ini yang menyebabkan
permintaan selalu meningkat.
f. Permainan (Games)
Seiring dengan berkembangnya teknologi alat-alat elektronik seperti komputer,
playstation, nintendo, PSP dll, maka berkembang pula segala macam jenis permainan.
Setiap era selalu memiliki budaya permainan populer yang berbeda.
g. Film
Film telah mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia dan dunia. Film bisa di
tonton di bioskop televisi, vcd dll dari anak-anak hingga dewasa. Film menjadi hiburan
bagi konsumen. Semua jenis produk, iklan produk di tayangkan pada saat pemutaran
film.
h. Komputer
Komputer, internet dan telepon genggam menjadi ciri budaya modern suatu
bangsa pada dekade ini termasuk ciri budaya populer yang membawa perubahan pada
perilaku konsumen. Dahulu hanya menggunakan mesin ketik untuk mengolah data,
menulis dokumen. Kehadiran internet konsumen bisa berkomunikasi dengan dunia luar.
Pemakaian telepon genggam juga memiliki perilaku yang baru bisa mengirim kabar
dengan cepat conothnya penggunaan SMS.
2. Strategi Pemasaran dengan Memperhatikan Budaya
Beberapa strategi pemasaran bisa dilakukan dengan pemahaman budaya suatu
masyarakat, pemasar dapat merencanakan strategi pemasaran pada penciptaan produk,
segmentasi dan promosi. Pemahaman tentang budaya suatu masyarakat dan bangsa akan
memberikan inspirasi mengenai produk yang dibutuhkan oleh konsumen.
Contohnya, pada masyarakat Indonesia telah mempercayai perawatan kecantikan,
menjaga kebugaran tubuh dan menyembuhkan berbagai penyakit menggunakan tumbuhtumbuhan, kewirausahaan pun memanfaatkan pengetahuan budaya tersebut untuk
membuat produk tradisional seperti jamu. Produsen jamu Nyonya Meneer memiliki 3000
karyawan dan mendistribusikan produknya keseluruh provinsi di Indonesia bahkan
10

mengekspor ke jiran malaysia. Budaya Indonesia yang mempercayai kekuatan herbal


menyebabkan produk jamu laris di pasar.
a. Penciptaan Ragam Produk
Beragamnya budaya dalam berbagai masyarakat bagi pemasar seharusnya
menjadi peluang sangat baik. Dalam suatu budaya tertentu, banyak sekali ritual-ritual
budaya yang membutuhkan barang-barang yang dijadikan sebagai symbol tertentu.
b. Segmentasi Pasar
Ritual budaya yang dijalankan masyarakat dapat merupakan suatu segmen pasar
tersendiri. Misalnya, ritual mudik lebaran dapat dijadikan satu segmen pasar pasar
mudik lebaran.
c. Promosi
Setelah segmentasi dilakukan, strategi promosi dapat difokuskan segmen sasaran
saja agar efektif dan efisien. pemahaman budaya bisa dijadikan dasar untuk
memposisikan produk melalui iklan, Iklan dirancang sehingga memposisikan produk
untuk ritual budaya-budaya yang ada.

D. Negara Jepang Sebagai Tolak Ukur Tentang Budaya


Untuk lebih memahami tentang tema ini, berikut kami akan menjelaskan contoh 5
aspek tentang Negara Jepang sebagai tolak ukur bahwa budaya memanglah sangat
berpengaruh pada perilaku konsumen.
3.
4.
5.
6.
7.

Health ( segi kesehatan)


Youthfulness (segi keawetmudaan)
Freedom ( kebebasan )
Efficien dan practice ( daya guna dan praktis )
Activity ( aktivitas)
Berikut ini akan dibahas 5 aspek negara Jepang tersebut beserta contoh bahwa budaya

luar masuk ke Indonesia sehingga mempengaruhi dalam perilaku konsumen:


1. Health (segi kesehatan)
Orang-orang di Jepang sangat memperhatikan kesehatan dan kebugaran tubuhnya,
bahkan untuk para wanita nya tubuh kurus langsing merupakan hal yang mutlak dimilik
oleh setiap wanita dan ini telah dianggap sebagai suatu nilai inti. Nilai inti pada
masyarakat Jepang terutama wanita ini tergambarkan melalui berbagai cara misalnya saja
olah raga seperti fitness dan jogging.
11

Karena hal itulah maka adanya peningkatan dalam penjualan alat-alat olahraga dan
tablet pelangsing tubuh atau bahkan tea yang bisa melangsingkan tubuh serta adanya
peningkatan dalam penjualan vitamin. Berdasarkan trend atau budaya ini, berkembang
suatu pendapat bahwa memang budaya lah yang menyebabkan pola perilaku masyarakat
jepang berubah dan meningkatkan daya beli produk-produk yang sifatnya melangsingkan
atau menyehatkan tubuh.
Contoh : budaya Jepang tentang bahwa wanita langsing itu lebih menarik pun telah
masuk ke Indonesia, untuk itulah banyak produk-produk cina yang menjual alat-alat
olahraga seperti : JACO, DRTV dan masih banyak alat pelangsing lainnya,hal ini
menyebabkan wanita Indonesia membeli alat tersebut karena factor budaya yang
mengatakan bahwa perempuan langsing itu lebih menarik daripada yang tidak langsing.
Serta adanya penigkatan penjualan produk tea pelangsing tubuh seperti slimming
tea yang iklannya sangat memperlihatkan wanita-wanita cantik itu pasti bertubuh
langsing, dan thermolyte pluss yaitu tablet pelangsing dan tablet kesehatan yang dapat
digunakan baik pria maupun wanita.
2. Youthfulness (segi keawetmudaan)
Keawetmudaan (youthfulness) sangat berbeda dengan pemuda (youth) yang
merupakan suatu tingkatan umur. Orang Jepang sangat terobsesi untuk terlihat muda dan
berperilaku seperti orang yang muda, meskipun berlawanan dengan usia mereka
sebenarnya. Bagi masyarakat jepang, selain melalui pikiran-pikiran keawetmudaaan juga
terpancarkan dari perilaku mereka., yang kadang-kadang diekspresikan melalui kata-kata
seperti berjiwa muda, bersemangat muda, dan berpenampilan muda atau biasa
disebut dengan up to date sehingga produsen kosmetik berbondong-bondong menciptakan
produk yang menggambarkan betapa banyak wanita yang berperang melawan penuaan
dini.
Perusahaan-perusahaan periklanan memanfaatkan ketakutan penuaan terutama bagi
kaum wanita ini untuk menciptakan suatu trend di masyarakat mengenai pentingnya
menjaga kemudaan dan menanamkan rasa takut akan penuaan. Tema-tema iklan dibuat
dengan mengumbar janji bahwa konsumen akan memperoleh keuntungan bila terlihat
awet muda dan tentu akan lebih menyenangkan jika tua itu datangnya sangat lama.
Contoh : banyak film-film jepang yang memang menampilkan bahwa gadis-gadis
disana sangatlah mempunyai kulit yang cantik,putih dan kenyal, sebenarnya budaya ini
bertolak belakang dengan warna kulit wanita Indonesia yaitu coklat atau biasa disebut
12

dengan istilah sawo matang, tapi dengan banyaknya produk dan iklan yang masuk ke
Indonesia menunjukkan bahwa orang berkulit putih terlihat lebih menarik, untuk itulah
ada banyak produk yang beredar di Indonesia bahkan produk Jepang pemutih kulit seperti
SHINZUI menampilkan iklan bahwa gadis Indonesia dengan memakai produk itubisa
terlihat seputih gadis-gadis di Jepang. Dan produk Olay Total Effect yang juga secara
terang-terangan mengumbar janji bahwa dengan menggunakan produk tersebut kerutan
dan tanda-tanda penuaan lainnya bisa dicegah, hal inilah yang mengubah perilaku
masyarakat untuk kemudian membeli produk-produk tersebut.
3. Freedom ( kebebasan )
Seperti kita ketahui bahwa banyak Negara-negara luar penganut budaya kebebesan,
dan salah satunya adalah Negara Jepang, dalam sejarah seperti kita ketahui Jepang selalu
berpendapat bahwa kebebasan berbicara, kebebasan pers, sebagai nilai utama.
Perkembangan dari kepercayaan akan kebebasan ini, Jepang percaya bahwa mereka punya
kebebasan untuk memilih. Hal ini dapat terlihat dari bebasnya gaya berpakaian mereka,
mulai dari pejalan kaki yang bisa menggunakan jas, sangat berbeda dengan di Indonesia,
jika ada pejalan kaki yang menggunakan jas pasti terlihat aneh, hingga seragam sekolah di
Jepang yang sangat unik menurut kami. Hal ini direfleksikan dengan kompetisi dari merk
dan variasi produk. Pada banyak pilihan produk baik ukuran, warna, gaya, sehingga
masyarakat Jepang terlihat lebih fashionable ketimbang di Indonesia.

Ini juga

menjelaskan kenapa banyak perusahaan menawarkan konsumen banyak pilihan.


Contoh : budaya berpakaian yang sangat trend di Jepang dengan mudahnya
merambat ke Indonesia melalui media massa ataupun cetak tren yang dinamakan Harajuku
pun masuk dengan mudahnya, budaya bebas ekspresi dari Jepang ini mau tidak mau
sangat mempengaruhi perilaku masyarakat Indonesia, dengan berbondong-bondong ikut
membeli produk yang meniru gaya pakaiannya agar sama dengan orang Jepang dan
terlihat lebih trendy.
4. Efficien dan Practice (daya guna dan praktis)
Efisien merupakan sesuatu yang hemat waktu dan usaha. Sedangkan praktis
berhubungan dengan produk baru yang membuat pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih
mudah dan memecahkan masalah.
Ilustrasi yang mudah menggambarkan hal ini adalah banyaknya makanan dan
minuman cepat saji yang tersedia di berbagai tempat di Jepang, mulai dari mie instan,
bubur instan, berbagai minuman botol isntan, hingga bumbu untuk memasak pun isntan.

13

Karena memang kita tahu bahwa masyarakat Jepang sangat menghargai waktu, dan
tekhnologi pula lah yang membuat semua menjadi serba efektif dan lebih praktis.
Contoh : masyarakat Indonesia pun sangat menyukai masakan-masakan cepat saji
yang ditawarkan berbagai merek, mulai dari Indomie, Sardencis, dan masih banyak
makanan lainnya, budaya luar, Jepang contohnya yang membiasakan diri untuk menikmati
makanan cepat saji ini pun masuk ke Indonesia dan terbawa kesini. Hal inilah yang
membuat masyarakat Indonesia pun jadi terbiasa dengan makanan-makanan cepat saji
tersebut.
5. Activity ( aktivitas)
Menjadi sibuk merupakan bagian dari gaya hidup masyarakat Jepang. Gaya hidup
ini seringkali dikomentari oleh pendatang dari luar negri, kenapa orang-orang Jepang
selalu berlari dan sepertinya tidak pernah menjadi relax. Aktivitas ini memiliki dampak
pada konsumsi barang.
Contoh : di Indonesia budaya aktifitas yang padat seperti ini pun sangat terlihat
bahwa waktu adalah uang, Contohnya di McDonalds dan KFC, banyak orang yang
menginginkan untuk dilayani dengan cepat, ketimbang mempersiapkan makanan ketika
mereka sedang dalam rumah pada pagi hari karena menurut mereka itu hanya akan
menghabiskan waktu dan tenaga saja.
E. Tinjauan Sub Budaya
Sub budaya adalah kelompok budaya berbeda yang ada sebagai sebuah segmen
yang dapat dikenali dalam suatu masyarakat yang lebih besar dan lebih kompleks, para
anggotanya mempunyai kepercayaan, nilai-nilai, dan kebiasaan yang membedakan mereka
dari para anggota masyarakat yang sama pada waktu yang sama, mereka memegang
kepercayaan yang dominan dalam masyarakat secara keseluruhan. Sub budaya
mempunyai fokus yang lebih sempit dari pada budaya. Pembagian sub budaya didasarkan
pada berbagai macam variabel demografis seperti kebangsaan, agama, lokasi geografis,
ras, usia, gender, dan status pekerjaan.
Sub Budaya Demografi:
1. Sub-Budaya Etnis
Etnis dapat diartikan sebagai kelompok orang yang mempunyai norma dan nilai
spesifik yang sama dalam persepsi dan kognisi yang berbeda dengan persepsi dan
kognisi kelompok lain dalam masyarakat yang lebih luas, nilai ini dapat terbentuk dari
segi fisik, agama, geografis atau faktor lainnya namun tidak mutlak. Misalnya Etnis
Sunda pada umum berkulit sawo matang dan beragama Islam berbeda dengan Etnis
Papua yang berkulit hitam dan beragama kristen pada umumnya. Indonesia merupakan
14

negara kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau besar dan kecil, pualau yang
penghuninya maupun yang tidak berpenghuni.
Pulau- pulau tersebut dihuni oleh bermacam-macam Etnis yang berbeda. Tiap
Etnis memiliki latar belakang, sejarah, norma, dan keunikan tersendiri.
Beberapa di antaranya ialah:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Suku Bangsa Aceh


Suku Bangsa Batak
Suku Bangsa Minangkabau
Suku Bangsa Jawa
Suku Bangsa Sunda
Suku Bangsa Bali
Suku Bangsa Dayak
Suku Bangsa Bugis dan Makasar
Suku Bangsa Halmahera
Suku Bangsa Asmat dan Dani
Apabila kita memahaman keragaman yang ada di dalam setiap etnis seperti

halnya, norma yang dianut, kebiasaannya, sejarahnya dan lain-lain, maka kita akan
dapat merancang suatu strategi pemasaran yang tepat yang tidak melanggar nilai-nilai
dan norma yang dianut oleh Etnis tertentu.
Di Indonesia biasanya untuk sub-budaya Etnis pemasar melakukan strategi yang
pada umumnya berhubungan dengan produk makanan misalnya seperti yang dilakukan
oleh indomie dengan memasarkan produk mie instan selera nusantara. Selain itu
beberapa kota besar di jawa banyak sekali terdapat tempat-tempat makanan/ restoran
yang mengkhususkan produk makanan atau masakan dari etnis tertentu misalnya:
Rumah Makan Padang, Rumah Makan Tegal, dan lain-lain, dengan harapan orangorang dari etnis tertentu tertarik untuk makan di tempat tersebut.
2. Sub-Budaya Agama
Karena bervariasi dan pluraris serta sifatnya yang pribadi membuat kelompok
agama mempunyai pengaruh penting bagi konsumsi suatu masyarakat, kelompok
keagamaan akan memperlihatkan preferensi dan tabu yang spesifik.
Pemasar hendaknya dapat memperhatikan secara seksama preferensi dan tabu
yang spesifik atas barang yang dihasilkan karena akan mempengaruhi perilaku pembeli
dari sub-budaya kelompok kagamaan yang dimaksud.
Bagi pemasar di Indonesia, dimana mayoritas penduduknya beragama Islam
mengharuskan mereka untuk mendapatkan sertifikasi halal untuk setiap produk yang
berhubungan dengan makanan. Konsumen yang beragama Islam lebih cenderung
memperhatikan kehalalan suatu produk, sebelum dia membeli produk tersebut, seperti
15

perusahaan yang memproduksi Ajinomoto yang beberapa waktu lalu mempromosikan


produknya secara gencar mengenai kehalalan produknya. Di Bali yang sebagian besar
penduduknya beragama Hindu, mengharuskan seorang pemasar untuk tidak
memasarkan produk makanan yang mengandung daging sapi. Bagi pemeluk agama
Budha dan agama Kristen Advent yang tidak mengkonsumsi daging merupakan pasar
tersendiri bagi seorang pemasar, misalnya dengan membuka rumah makan/ restoran
vegetarian.
3. Sub-Budaya Geografis dan Regional
Daerah geografis suatu negara kadang mengembangkan budayanya sendiri.
Daerah barat daya Amerika Serikat dikenal karena gaya hidup kasual yang meninjolkan
busana yang nyaman, hiburan luar rumah, dan olahraga yang aktif dan juga tampak
lebih inovatif ke arah produk baru seperti bedak kosmetik bila dibandingkan dengan
sifat konservatif dan malu-malu yang mencirikan beberapa daerah negara tersebut.
Di Indonesia masyarakat perkotaan/ kota besar pada umumnya menyukai jenis
hiburan yang berhubungan dengan alam, lain halnya dengan masyarakat yang tinggal di
daerah kabupaten atau kota kecil yang lebih memilih berlibur ke kota. Selain gaya
hidup iklim juga menghasilkan suatu inti dari nilai-nilai di dalam suatu daerah
geografis. Contohnya, Indonesia ada daerah-daerah tertentu yang iklimnya agak dingin,
seperti daerah Jawa barat (lembang), perusahaan juga harus menyesuaikan produk apa
yang sesuai untuk di pasarkan di daerah tersebut, misalnya baju/ pakaian hangat
(sweater).
Di Indonesia misalnya untuk produk mobil, pada daerah Indonesia bagian
barat khususnya daerah Sumatera yang masyarakatnya yang sebagian besar berusaha di
bidang perkebunan lebih memilih/mengutamakan menggunakan kendaraan jenis
jeep. Di kota-kota besar seperti Jakarta saat ini masyarakat lebih memilih
menggunakan mobil dengan ukuran kecil, pemasaran dalam hal ini Suzuki memasarkan
mobil dengan nama Karimun dan Daihatsu dengan merek Ceria sedangkan Toyota
dengan nama Agya. Untuk wilayah Indonesia bagian timur khususnya daerah Papua
yang masyarakatnya secara ekonomi masih kurang dibandingkan dengan masyarakat
daerah lain, maka jenis kendaraan roda dua akan lebih diminati.
4. Sub-Budaya Usia
Kelompok usia dapat juga dianalisis sebagai sebuah sub-budaya karena sering
memiliki nilai dan perilaku yang berbeda, namun pemasaran harus berhati-hati dalam
mensegmen konsumen jika didasarkan pada usia mereka yang sebenarnya, karena
16

sebagian konsumen dewasa merasa mereka masih muda, sebaliknya ada pula konsumen
remaja yang menganggap dirinya sudah dewasa, hal semacam diatas dapat ditemukan
misalnya dalam pernyataan saya merasa masih muda, saya tidak menyadari bahwa
saya sudah tua atau saya merasa sudah cukup dewasa, pernyataan seperti di atas
membuat seorang pemasar harus menganalisis
Usia subjektif atau usia kognitif (usia yang dianggap sebagai usia yang
dapat bagi diri pribadi seseorang), namun tetap mengtamakan usia kronologi atau usia
nyata.
a. Pasar anak dan remaja
Pasar anak dan remaja menjadi sangat penting bukan hanya karena mereka
memilki pengaruh besar dalam pembelian rumah tangga, tapi juga daya beli mereka
yang terpisah. Usia pasar anak dan remaja antara 7 sampai 19 tahun, selain alasan
diatas mereka dianggap penting karena mereka juga sering ikut melakukan kegiatan
pembelian bahkan ikut membuat/ menentukan daftar barang belanjaan. Di Indonesia
hampir semua iklan melibatkan anak-anak dan remaja dalam komunitas suatu
keluarga. Misalnya iklankecap bango, iklan Pasta Gigi Pepsodent, iklan Sabun
Cuci Rinso dan lain-lain.
b. Pasar Baby Boomer
Yang dimaksud dengan Baby Boomer adalah mereka yang berumur antara
30-an sampai 40-an, dimana mereka memasuki tahun-tahun puncak penghasilan dan
pengeluarannya. Kelompok ini menekankan arti pentingnya kesehatan dan olahraga
serta pendidikan. Baby boomer memiliki dampak yang kuat pada pasar perumahan,
mobil, panganan, pakaian, kosmetik dan jasa keuangan.
Para boomer yang berstatus orang tua baru adalah pasar yang paling menarik
bagi para pemasar. Pasar untuk produk anak-anak juga ikut berkembang sejalan
dengan perkembangan diatas.
Misalnya, penjualan mainan diharapkan meningkat dua kali lebih cepat dari
populasi anak-anak yang menjadi sasaran mereka. Pasar lain, seperti jasa perawatan
anak dan peranti lunak komputer untuk anak kecil, dapat meningkat dua kali lipat
dalam beberapa tahun kedepan.
c. Pasar Dewasa
Yang termasuk dalam usia pasar dewasa adalah yang berumur 40-55, 55-64
disebut lebih dewasa, 65-74 disebut tua, 75-84 disebut tua sekali, dan renta diatas 85
tahun. Biasanya, pemasar mengabaikan pasar dewasa, mungkin karena diasumsikan
17

memiliki daya beli yang rendah. Namun demikian, di samping jumlahnya yang
besar, karakteristik ekonomis pasar ini layak mendapat perhatian penuh. Walaupun
sebagian anggota kelompok ini tidak lagi bekerja, mereka sering sekali memiliki
pendapatan yang dapat dibelanjakan dalam jumlah yang cukup besar.
Golongan tua merupakan pasar yang cukup besar untuk produk perawatan
kulit, vitamin dan mineral, alat bantu kesehatan dan kecantikan, dan obat-obatan
yang mengurangi rasa sakit, dan meningkatkan kinerja sehari-hari.
5. Sub-Budaya Jenis Kelamin
Untuk beberapa tujuan pemasaran, perbedaan jenis kelamin mungkin cukup
signifikan untuk memandang kedua jenis kelamin sebagai suatu sub-budaya yang
berbeda. Kepemilikan produk dipandang oleh sebagian pria sebagai cara untuk
mendominasi dan mengungkapkan kekuasaan atas orang lain, membedakan dirinya dari
orang lain dan mungkin bentuk terselubung dari agresi terhadap orang lain. Wanita,
sebaliknya, cenderung menilai tinggi barang milik yang dapat memperkuat hubungan
personal dan sosial. Sebagian pemasar melihat bahwa sangat bermanfaat untuk
mengembangkan strategi pemasaran yang berbeda untuk sub-budaya pria dan wanita.
Misal: Selain pakaian dan kosmetik yang membedakan pria dan wanita, perusahaan
Samsung yang mengeluarkan produk handphone yang diberi nama Samsung Queen A400 yang dkhususkan untuk wanita dan Samsung Blue Cool yang dikhususkan untuk
pria, Mie instans yang bermerek Cinta Mie dan mie instan Tropicana slim yang
mengandung Vitamin E untuk kulit (kecantikan) diprioritaskan untuk para wanita.
F. Lintas Budaya (Cross Cultural Consumen Behavior)
Dalam melakukan pemasaran yang melintasi batas-batas negara dituntut suatu
interaksi dengan orang-orang dan lembaga-lembaga serta organisasi yang dikelola dalam
lingkungan kebudayaan yang berbeda.
Memahami tingkah laku konsumen bagi perusahaan yang memasarkan produknya
dalam batas-batas suatu negara sudah cukup sulit. Pemasar internasional harus memahami
perbedaan dan menyesuaikan produk serta program pemasarannya untuk memenuhi
budaya dan kebutuhan unik konsumen dalam berbagai pasar.
Perbedaan-perbedaan kultural (culture difference) sangat mempengaruhi perilaku
pasar. Supaya berhasil dikancah mancanegara, perusahaan harus memahami kultur negaranegara tujuan dan mempelajari bagaimana mengadaptasinya. Oleh karena itu, pemasar

18

internasional perlu sedapat mungkin membiasakan diri dengan sifat kultural dari setiap
negara, dimana mereka menggeluti lapangan usaha.
Secara umum bahwa kebudayaan harus memiliki karateristik:
1. Kebudayaan dipelajari, artinya, kebudayaan diperoleh setiap orang sepanjang masa
melalui keanggotaan mereka di dalam suatu kelompok yang menurunkan kebudayaan
dari satu generasi ke generasi berikutnya.
2. Kebudayaan bersifat kait-mengkait, artinya setiap unsur dalam kebudayaan sangat
berkaitan erat satu sama lain, misalnya unsur agama berkaitan erat dengan unsur
perkawinan, unsur bisnis berkaitan erat dengan unsur status sosial.
3. Kebudayaan dibagikan, artinnya prinsip-prinsip serta kebudayaan menyebar kepada
setiap anggota yang lain dalam suatu lingkungan.
Dari titik pandang seorang pemasar, suatu cara memperoleh pemahaman kebudayaan
adalah menganalisis beberapa elemen-elemen kebudayaan dalam suatu negara, sebagai
berikut:
1. Kehidupan material
Mengacu pada kehidupan ekonomi, yakni apa yang dilakukan oleh manusia untuk
memperoleh nafkah.
2. Interaksi sosial
Interaksi sosial membangun aturan-aturan yang dimainkan seseorang dalam
masyarakat, serta pola kekuasaan dan kewajiban mereka.
3. Bahasa
Komunikasi terungkap melalui kata-kata, gerak-gerik, air muka, dan gerakan tubuh
lainnya. Oleh karena itu, seorang pemasar internasional harus berhati-hati dalam
menangani persoalan bahasa dalam trensaksi-transaksi dagang, kontrak, negosiasi,
reklame, dan sebagainya.
4. Estetika
Estetika meliputi seni (arts), drama, musik, kesenian rakyat dan arsitektur yang terdapat
dalam masyarakat. Nilai estetika dari suatu masyarakat tampak pada corak, bentuk,
warna, ekspresi, simbol, gerak-gerik, emosi, perawakan yang bernilai dan berkaitan
dengan suatu budaya tertentu. Atribut-atribut ini memiliki pengaruh pada desain/ model
dan promosi untuk produk yang berbeda.
5. Nilai dan sikap
Setiap kultur mempunyai seperangkat nilai dan sikap yang mempengaruhi hampir
segenap aspek perilaku manusia dan membawa keteraturan pada suatu masyarakat/
individu-individunya.
6. Agama dan kepercayaan
Agama mempengaruhi pandangan hidup, makna dan konsep suatu kebudayaan. Oleh
karena prinsip dan sikap agama mungkin sangat mempengaruhi pemasaran barang dan
19

jasa, maka pemasar internasional harus peka terhadap prinsip agama tuan rumah
dimana mereka akan melakukan pemasaran.
7. Kebiasaaan-kebiasaan dan tata krama
Kebiasaan (customs) adalah praktek-praktek yang lazim/mapan. Tata krama (manners)
adalah perilaku-perilaku yang dianggap tepat di dalam suatu masyarakat tertentu. Para
manajer harus memperhatikan perbedaan-perbedaan dalam cara produk digunakan.
8. Etika dan Moral
Pengertian dari apa yang disebut benar dan apa yang salah didasarkan pada
kebudayaan. Contoh: perbedaan perangai orang-orang jepang dan orang-orang korea
juga menggambarkan masalah etika. Orang-orang jepang bersifat formal dan berhatihati, sedangkan orang korea bersifat informal dan ramah.

BAB 3
Penutup
A. Kesimpulan
Budaya adalah segala nilai, pemikiran, simbol, yang mempengaruhi perilaku, sikap,
kepercayaan, dan kebiasaan seseorang dan masyarakat. Budaya bukan hanya bersifat abstrak
tetapi bisa berbentuk objek material seperti rumah, kendaraan, peralatan elektronik, pakaian,
undang-undang, makanan, minuman, musik, teknologi, dan bahasa.
Produk dan jasa memainkan peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi
budaya, karena produk mampu membawa pesan dan makna budaya. Makna budaya akan
dipindahkan ke produk dan jasa, dan produk kemudian dipindahkan ke konsumen dalam
bentuk pemilikan produk (possession ritual), pertukaran (exchange ritual), pemakaian
(grooming ritual), dan pembuangan (divestment ritual).
Dari 5 aspek tolak ukur budaya Jepang yang masuk ke Indonesia sudah bisa terlihat
jelas bahwa budaya memang sangat mempengaruhi perilaku konsumen, mulai dari pola hidup
yang mungkin secara tidak sadar terpengaruh yang memungkinkan adanya daya beli dalam
pengaruh budaya tersebut.
Jadi kesimpulan terakhir menurut kami adalah bahwa memang benar budaya sangat
mempengaruhi perilaku manusia, tidak hanya dari segi aspek pola hidup saja tetapi dari daya
belinya juga, untuk itu kita harus pintar menyaring budaya-budaya luar yang bisa kapan saja
dan melalui apa saja masuk ke Indonesia, budaya positif dapat kita tiru atau ambil, dan
sebaliknya ketika budaya itu buruk dan kita semua sebagai masyarakat Indonesia tidak bisa
menolaknya, maka bangsa ini pun akan semakin terpuruk.

20

DAFTAR PUSTAKA
Schiffman, Leon. Leslie Lazar Kanuk. 2008. Perilaku Konsumen. Indonesia: Mancanan Jaya
Cemerlang.
Setiadi, Nugroho J. 2008. Perilaku Konsumen. Jakarta: Prenada Media Group
Sumarwan, Ujang. 2004. Perilaku Konsumen. Bogor: Ghalia Indinesia
Internet :
< https://www.scribd.com/doc/30285627/Pengaruh-Budaya-Terhadap-Perilaku-Konsumen >
( Tanggal 31 Agustus 2016 )

< http://rukmanapsikologi.blogspot.co.id/2014/01/pengaruh-budaya-dan-subbudayaterhadap.html >


( Tanggal 31 Agustus 2016 )

21