Anda di halaman 1dari 7

A.

Pengertian Yayasan
Menurut C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil (Kamus Istilah Aneka Hukum. 198.),
yayasan adalah suatu badan hukum yang melakukan kegiatan dalam bidang sosial.
Sedangkan menurut subekti (Kamus Hukum: Pradya Paramita. 156) menyatakan bahwa
yayasan adalah badan hukum di bawah pimpinan suatu badan pengurus dengan tujuan
sosial dan tujuan tertentu yang legal. Dari dua pengertian di atas, secara umum dapat
disimpulkan bahwa yayasan merupakan suatu organisasi yang melakukan kegiatan sosial
(amal) yang tidak bertujuan untuk mencari keuntungan.
Pengertian yayasan berdasarkan Pasal 1 angka 1 UUY adalah badan hukum yang
terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di
bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, yang tidak mempunyi anggota. Yayasan
menurut UUY adalah suatu badan hukum yang untuk dapat mnjadi badan hukum wajib
memenuhi kriteria dan persyaratan tertentu yang ditentukan oleh UUY. Adapun kriteria yang
ditentukan adalah:
1. Yayasan terdiri atas kekayaan yang dipisahkan;
2. Kekayaan yayasan diperuntukkan untuk mencapai tujuan yayasan;
3. Yayasan mempunyai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan dan kemanusiaan;
4. Yayasan tidak mempunyai anggota;
Sedangkan persyaratan yang ditentukan agar yayasan dapat diperlakukan dan
memperoleh status sebagai badan hukum adalah pendirian yayasan sebagai badan hukum
harus mendapatkan pengesahan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia.
B. Pihak-pihak yang terkait dengan Yayasan
Sebuah yayasan dapat berdiri dan eksis dalam kehidupan masyarakat diperlukan
beberapa pihak yang berkaitan dengan yayasan. Pihak ini secara intensif memberikan
bimbingan dan pendampingan dalam proses kegiatan yayasan. Dengan adanya pihakpihak ini maka yayasan dapat terbantu dalam menjalankan fungsinya dalam masyarakat.
Pihak-pihak tersebut antara lain:
1. Pengadilan negeri
Pengadilan negeri adalah sebuah institusi resmi yang mempunyai kemampuan dalam
memberikan perlindungan hukum dan sekaligus memproses permasalahan hukum.
Pengadilan negeri adalah pihak yang mengesahkan berdirinya sebuah yayasan.
2. Notaris
Notaris adalah pejabat netral yang merupakan tanah dan saksi legal terhadap pendirian
suatu badan hukum. Notaris umumnya memberikan nasehat hukum dan berada dalam
keadaan netral, tidak memihak pada satu pihak.
3. Kejaksaan
Kejaksaan adalah suatu badan yang berwenang untuk menggugat bubar sebuah
yayasan jika terbukti yayasan tersebut tidak berjalan dengan baik dalam waktu tertentu.

Kejaksaan ini bertugas sebagai instansi penuntut kelayakan keberadaan yayasan.


Dalam hal ini, kejaksaan bisa dikatakan sebagai pengawas sebuah yayasan.
4. Akuntan public
Akuntan publik adalah akuntan yang bukan merupakan bagian dari yayasan atau
perusahaan tertentu. Tugas akuntan publik adalah mengaudit laporan atau kondisi
keuangan perusahaan. Akuntan publik akan melakukan evaluasi dan pemeriksaan
terhadap kondisi serta laporan keuangan yang dilakukan yayasan. Hal ini merupakan
salah satu syarat kelayakan sebuah yayasan. Jika terjadi penyimpangan, maka akuntan
publik dapat menyampaikan hal tersebut pada kejaksaan.
Selain pihak-pihak yang terkait dengan yayasan tersebut diatas, ada pihak lain yang
berkaitan dengan yayasan, yakni masyarakat yang ada di sekitar yayasan tersebut atau
yang menjadi sasaran kerja yayasan tersebut. Jika masyarakat menilai bahwa sebuah
yayasan tidak dapat memberikan kinerja yang baik, masyarakat dapat mengajukan gugatan
dengan melaporkan hal tersebut kepada kejaksaan.
Selain itu masyarakat dapat memberikan hukuman sosial kepada sebuah yayasan
yang tidak melaksanakan fungsinya dengan baik yakni dengan tidak mau bekerja sama
dengan yayasan tersebut. Misalnya jika yayasan memiliki badan usaha pendidikan berupa
sekolah, masyarakat bisa tidak memasukkan anak-anaknya ke dalam sekolah tersebut jika
sekolah tersebut tidak bisa memberikan pelayanan pendidikan yang baik.
C. Kedudukan Yayasan di Indonesia
Kecenderungan masyarakat memilih bentuk yayasan disebabkan karena:
1. Proses pendiriannya sederhana;
2. Tanpa memerlukan pengesahan dari pemerintah,
3. Persepsi masyarakat bahwa yayasan bukan merupakan subjek pajak
Berdasarkan hukum kebiasaan dan asuransi hukum yang berlaku umum di masyarakat.
ciri-ciri yayasan dapat dirinci sebagai berikut:
1. Eksistensi yayasan sebagai entitas hukum di Indonesia belum didasarkan pada
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Pengakuan yayasan sebagai badan hukum belum ada dasar yuridis yang tegas,
berbeda halnya dengan PT, Koperasi, dan badan hukum yang lain.
3. Yayasan dibentuk dengan memisahkan kekayaan pribadi pendiri untuk tujuan nirlaba,
tujuan religius, sosial keagamaan, kemanusiaan, dan tujuan ideal yang lain.
4. Yayasan didirikan dengan akta notaris atau dengan surat keputusan pejabat yang
bersangkutan dengan pendirian yayasan.
5. Yayasan tidak memiliki anggota dan tidak dimiliki oleh siapa pun, namun mempunyai
pengurus atau organ untuk merealisasikan tujuan yayasan.

6. Yayasan mempunyai kedudukan yang mandiri sebagai akibat adanya kekayaan yang
terpisah dari kekayaan pribadi pendiri atau pengurusnya, dan mempunyai tujuan sendiri
yang berbeda atau lepas dari tujuan pribadi pendiri atau pengurus.
7. Yayasan diakui sebagai badan hukum seperti halnya orang, sebagai subjek hukum
mandiri yang dapat menyandang hak dan kewajiban mandiri, didirikan dengan akta, dan
didaftarkan di kantor kepaniteraan Pengadilan Negeri setempat.
8. Yayasan dapat dibubarkan oleh pengadilan dalam kondisi pertentangan tujuan yayasan
dengan hukum, likuidasi, dan pailit
Yayasan yang didirikan oleh Pemerintah, sebelum keluarnya UU Yayasan, disahkan
dengan Surat Keputusan dari Pejabat yang berwenang dan/atau akta notaris. Kekayaan
awal yayasan seperti ini dapat diambilkan dari kekayaan negara yang dipisahkan atau
dilepaskan penguasaannya dari pemerintah dan dari kekayaan pribadi.
Yayasan yang didirikan oleh swasra atau perorangan, menurut UU Yayasan, harus
didirikan dengan akta notaris. Kekayaannya dipisahkan dari milik para pendiri atau
pengurus yayasan yang bersangkutan. Akta notaris tersebut harus didaftarkan di Kantor
kepaniteraan Pengadilan Negeri setempat.
Dewasa ini, banyak yayasan didirikan dengan tujuan yang berbeda dan
menyimpang dari tujuan semula, yaitu sebagai usaha yang menguntungkan seperti sebuah
perusahaan yang melakukan lalu lintas dagang. Unsur-unsur menjalankan perusahaan,
seperti membuat dokumen perusahaan, mempunyai izin usaha, dikenai pajak, menggaji
pengurus, memperhitungkan atau menghitung untung-rugi lalu mencatatnya dalam
pembukuan adalah ciri-ciri suatu kegiatan yang berbentuk hukum perusahaan. Tandaranda yayasan mulai menyimpang dari tujuan semula, yang secara nyata, dituangkan
dalam anggaran dasar suatu yayasan.
Dalam anggaran dasar diatur beberapa hal seperti keanggotaan yayasan yang
abadi, di mana pendiri mempunyai kekuasaan mutlak dan abadi bahkan kedudukannya
dapat diwariskan. Yayasan tersebut bergerak dalam bidang pendidikan. Pendiri berasumsi
bahwa keuntungan yang diperoleh suatu saat akan tetap dikendalikan. Oleh karena itu,
untuk mengamankan kedudukannya, di dalam anggaran dasar, kedudukan pendiri diatur
sebagai abadi, dapat diwariskan, dan mernpunyai hak veto.
Dengan keluarnya UU Yayasan, eksistensi dan landasan yuridis Yayasan sebagai
entitas hukum privat tidak perlu dipermasalahkan lagi atau tidak perlu diragukan. Yayasan
pada hakikatnya adalah kekayaan yang dipisahkan dan diberi status badan hukum.
Sebagai subjek hukum, organ yayasan difungsikan dengan sebutan Pembina; Pengawas,
dan Pengurus. Analog dengan hukum PT. kedudukan Dewan Pembina itu sama dengan

RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham), Pengawas sama dengan Komisaris, dan
Pengurus sama dengan Direksi.
D. Perolehan Kekayaan Yayasan
1. Sumbangan atau Bantuan yang Tidak Mengikat
Yang dimaksud dengan sumbangan atau bantuan yang tidak mengikat
menurut penjelasan Pasal 26 ayat (2) huruf a UUY adalah sumbangan atau bantuan
sukarela yang diterima yayasan, baik dari negara, masyarakat, maupun dari pihak lain
yang tidak bertentangan denngan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam keadaan tertentu negara dapat memberikan bantuan kepada yayasan
(Pasal 27 ayat (1) UUY). Dalam penjelasan Pasal 27 ayat (1) disebutkan bahwa
bantuan Negara untuk yayasan dilakukan sesuai dengan jiwa ketentuan Pasal 34 UUD
1945. Ketentuan mengenai syarat dan tata cara mengenai pemberian bantuan Negara
tersebut diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah (Pasal 27 ayat (2) UUY). pihak
yang dapat dikategorikan sebagai pemberi bantuan yaitu:
a. Negara Republik Indonesia;
b. Bantuan luar negeri, yaitu baik perorangan atau badan hukum atau lembaga
asing/luar negeri atau negara asing; atau
c. Bantuan pihak lain yaitu baik perorangan atau badan hukum atau lembaga domestik
sepanjang hal tersebut tidak bertentangan dengan UUY dan peraturan perundangundangan yang berlaku.
Dalam hal bantuan dari negara kepada yayasan, baik bantuan luar negeri atau
pihak lain yang nilainya mencapai lebih dari Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah),
maka iktisar laporan tahunannya harus diumumkan dalam surat kabar harian berbahasa
Indonesia dan harus pula diaudit oleh Akuntan Publik. Dan hasil auditnya disampaikan
kepada pembina yayasan tersebut dengan tembusan kepada Menteri kehakiman dan
instansi terkait (Pasal 52 ayat (1, 2 huruf a, 3 dan 4) UUY).
Dalam hal yayasan mempunyai kekayaan yang berasal dari kekayaan di luar
harta wakaf yang nilainya mencakup lebih dari Rp. 20.000.000.000,00 (dua puluh miliar
rupiah), maka iktisar laporan tahunannya harus diumumkan dalam surat kabar harian
berbahasa Indonesia dan diaudit oleh Akuntan Publik, dan hasil auditnya disampaikan
kepada pembina yayasan tersebut dan tebusannya kepada Meteri Kehakiman dan Hak
Asasi Manusia serta instansi terkait (Pasal 52 ayat (1, 2 huruf b, 3 dan 4 UUY). Adapun
bentuk-bentuk iktisar laporan tahunan tersebut di atas disusun sesuai dengan standar
akuntansi keuangan yang berlaku (Pasal 52 ayat 5 UUY).
2. Wakaf
Pengertian wakaf menurut Pasal 1 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun
1977 adalah Suatu perbuatan hukum seseorang atau badan hukum yang memisahkan
sebagian dari harta kekayaannya yang berupa tanah milik dan melembagakannya

untuk selama-lamanya untuk kepentingan peribadatan atau kepentingan umum


lainnya.
Pada wakaf didapati unsur-unsur seperti yang ada pada yayasan, seperti:
a. Adanya harta kekayaan yang dipisahkan dari pemiliknya semula.
b. Mempunyai tujuan tertentu, baik tujuan yang bersifat keagamaan, maupun sosial dan
keanusiaan.
c. Mempunyai organisasi untuk menyelenggarakan lembaga yang didirikan.
3. Hibah
Hibah adalah pemberian (berasal dari bahasa Arab). Hibah merupakan
persetujuan si penghibah semasa hidupnya yang tidak dapat ditarik kembali untuk
menyerahkan

suatu

benda

untuk keperluan

penerimaan

hibah

(Pasal

1666

KUHPedata). Pemberi hibah dan penerima hibah adalah orang-orang yang masih
hidup dan hanya mengenai benda-benda yang sudah ada
Meskipun tidak diatur, perolehan harta kekayaan yayasan yang bersumber dari
hibah sebaiknya adalah benda yang berupa:
a. Benda begerak yang dapat dimiliki, yang tidak habis/musnah karena pemakaian
(bersifat tahan lama), contohnya kendaraan bermotor, mesin-mesin dan peralatan,
peralatan kedokteran dan/atau rumah sakit.
b. Benda tidak bergerak yang dapat dimiliki, misalnya tanah dan/atau bangunan; yang
bersifat produktif, artinya yang dapat memberikan nilai tambah bagi kekayaan
yayasan, dan tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban
umum, tidak sedang dijaminkan dan bebas dari segala sitaan dan/atau sengketa.
Pemberian

hibah

tersebut

harus

memperhatikan

ketentuan-ketentuan

mengenai tata cara pemberian dan penyerahannya. Misalnya hibah tanah hak,
perolehannya

harus dilakukan

dengan

pendaftaran sesuai dengan peraturan

pertahanan yang berlaku.


4. Hibah Wasiat
Hibah wasiat yang di dalam bahasa Belanda disebut legaat atau dalam bahasa
Inggeris disebut legacy, merupakan pemberian yang dituliskan atau diucapkan sebagai
wasiat, sebagai kehendak terakhir si pemberi hibah wasiat dan berlaku setelah
meninggalnya si pemberi wasiat (si meninggal).
Hibah wasiat menurut sistem hukum waris perdata barat adalah suatu alas hak
atau titel untuk peralihan hak. Dengan demikian agar hibah wasiat berupa benda yang
hanya boleh dimiliki oleh subjek hukum tertentu dapat diterima oleh yayasan, maka
yayasan tesebut harus merupakan badan hukum yang oleh undang-undang adalah
memiliki wewenang untuk menerima peralihan hak tersebut. Apabila yayasan yang
memperoleh hibah wasiat berupa benda yang oleh peraturan perundang-undangan
tidak dapat dimiliki oleh yayasan, maka dianggap bahwa yayasan telah menolak hibah

wasiat tersebut. Pemberian hibah wasiat (legaat) menurut penjelasan Pasal 26 ayat
(2) huruf d UUY adalah tidak boleh bertentangan dengan ketentuan hukum waris.
5. Perolehan Lain
Perolehan lain menurut penjelasan Pasal 26 ayat (2) huruf e UUY misalnya
adalah dividen, bunga tabungan bank, sewa gedung, atau perolehan dari hasil usaha
yayasan.
Adanya dividen sebagai peolehan lain yang disebutkan dalam UUY sebagai
bagian kekayaan yayasan menunjukkan bahwa yayasan diperkenankan untuk
mendirikan dan/atau ikut serta (memiliki penyertaan) pada perusahaan lain berbentuk
perseroan terbatas dalam batas-batas yang ditentukan dalam UUY tersebut.
Kemungkinan adanya perolehan yang berasal dari dividen tersebut adalah
berkaitan dengan dimungkinkannya yayasan mendirikan dan/atau ikut serta dalam
suatu badan usaha yang kegiatannya sesuai dengan maksud dan tujuan yayasan.
Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 3 ayat (1) dan Pasal 7 ayat (1) UUY,
pendirian badan usaha dan/atau keikutsertaan yayasan dalam suatu badan usaha yang
kegiatannya sesuai dengan maksud dan tujuan yayasan adalah dalam rangka untuk
menunjang pencapaian maksud dan tujuan berdirinya yayasan.
6. Jenis Kekayaan Yayasan
UUY banyak mengatur mengenai kekayaan yayasan namun tidak ada satupun
ketentuan dalam UUY yang membatasi jenis-jenis kekayaan yang dapat dimiliki oleh
yayasan. Hal ini berarti bahwa tidak ada larangan bagi yayasan untuk mempunyai
kekayaan dalam berbagai jenis. Dengan demikian, yayasan dapat mempunyai kekayaan
yang berbentuk benda bergerak maupun tidak bergerak, atau kekayaan berupa bendabenda sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Perdata Indonesia.
Ketidakadaan pembatasan jenis kekayaan yang diperkenankan untuk dimiliki
yayasan berarti tidak dapat secara tuntas menyelesaikan permasalahan dalam hal
bagaimana melindungi nilai kekayaa yayasan yang hakikatnya bersifat sosial tersebut,
sehingga disarankan agar UUY disesuaikan dengan memberikan pegaturan yang tegas
untuk melindungi kekayaan yayasan dengan memberikan pembatasan mengenai jeis-jenis
kekayaan yang dapat dimiliki oleh suatu yayasan.
7. Langkah-langkah Mendirikan Yayasan
a. Menentukan berapa besaran kekayaan yang hendak disisihkan untuk menjadi
kekayaan awal yayasan. Batas minimum kekayaan awal yayasan tidak diatur dalam
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 juncto Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004
(UU Yayasan). Namun perlu diingat bahwa ke depannya, yayasan diperkenankan
untuk mendirikan badan usaha dimana yayasan dapat melakukan penyertaan modal,
dengan ketentuan seluruh penyertaan tersebut paling banyak 25% dari seluruh nilai

kekayaan yayasan. Artinya, jika Anda memutuskan kekayaan awal yayasan adalah Rp
1 miliar, maka maksimal Rp250.000.000 yang dapat dijadikan modal yayasan untuk
melakukan penyertaan modal perdana dalam badan usaha yang bersifat prospektif.
b. Nama yang hendak Anda gunakan sebagai nama yayasan perlu dicek terlebih dahulu
ketersediaannya. Anda dapat memanfaatkan layanan AHU Online dari Kementerian
Hukum dan HAM untuk mengecek dan memesan nama yayasan yang diinginkan.
Pengecekan ini bertujuan supaya tidak ada nama yayasan yang sama serta merupakan
bentuk perlindungan hukum dari Pemerintah terhadap yayasan yang didirikan dalam
wilayah Indonesia. Perlindungan ini ada karena yayasan merupakan bentuk badan
hukum seperti halnya PT.
c. Yayasan dapat didirikan oleh satu orang atau lebih. Orang yang dimaksud disini adalah
orang perseorangan, baik Warga Negara Indonesia maupun asing atau badan hukum
Indonesia maupun asing.
d. Alamat domisili. Dalam mendirikan yayasan, alamat domisili yang akan digunakan perlu
diperhatikan. Selain dicantumkan dalam akta pendirian yayasan, domisili ini juga
nantinya akan digunakan dalam setiap dokumen legalitas yayasan.
e. Yang dapat menjadi pembina yayasan adalah orang perseorangan yang juga
merupakan pendiri yayasan dan/atau pribadi yang berdasarkan keputusan rapat
anggota pembina (dalam hal pembina lebih dari satu orang) dinilai memiliki dedikasi
tinggi untuk mencapai maksud dan tujuan yayasan. Pembina tidak boleh merangkap
sebagai pengurus dan/atau pengawas. Kewenangan pembina yayasan dapat dilihat
f.

pada Pasal 28 ayat (2) UU Yayasan.


Pengurus merupakan organ yayasan yang dapat melakukan kepengurusan yayasan
serta tidak boleh merangkap sebagai pembina dan/atau pengawas. Syarat pengurus
yayasan adalah orang perseorangan yang mampu melakukan perbuatan hukum dan
diangkat oleh pembina berdasarkan keputusan rapat pembina. Masa jabatan pengurus
biasanya lima tahun dan dapat diangkat kembali. Biasanya pengurus sekurangkurangnya berjumlah tiga orang dengan jabatan masing-masing sebagai ketua,

sekretaris, dan bendahara.


g. Fungsi pengawas adalah mengawasi dan memberi nasihat ke pengurus dalam
menjalankan kegiatan yayasan. Sekurang-kurangnya satu orang yang mampu
melakukan perbuatan hukum yang dapat menjadi pengawas yayasan dan tidak boleh
merangkap sebagai pembina dan/atau pengurus. Masa jabatan pengurus biasanya lima
tahun dan dapat diangkat kembali.
h. Bidang usaha. Yayasan dapat bergerak di bidang sosial, keagamaan, dan
i.

kemanusiaan.