Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II

LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

BAB I
PENDAHULUAN
I.1.

Latar Belakang
Leaching ialah ekstraksi padat cair dengan perantara suatu zat
pelarut. Proses ini dimaksudkan untuk mengeluarkan zat terlarut dari suatu
padatan atau untuk memurnikan padatan dari cairan yang membuat
padatan terkontaminasi. Metode yang digunakan untuk ekstraksi akan
ditentukan oleh banyaknya zat yang larut, penyebarannya dalam padatan,
sifat padatan dan besarnya partikel. Jika zat terlarut menyebar merata di
dalam padatan, material yang dekat permukaan akan pertama kali larut
terlebih dahulu. Biasanya proses leaching berlangsung dalam tiga tahap
yaitu yang pertama perubahan fase dari zat terlarut yang diambil pada saat
zat pelarut masuk. Kedua terjadi proses difusi pada cairan dari dalam
partikel padat menuju keluar.
Pada percobaan kali ini hal pertama yang harus dilakukan adalah
membuat Ca(OH)2 dari CaO dan H2O, lalu ditambahkan Na2CO3 pada
Ca(OH)2 sehingga dihasilkan CaCO3 yang tersuspensi dalam larutan
NaOH. Setelah itu dilakukan operasi leaching (washing) terhadap
campuran CaCO3 dan NaOH, dimana NaOH sebagai komponen yang akan
dipisahkan dari CaCO3 dengan menggunakan pelarut air, lalu tentukan
kadar NaOH untuk tiap kali di titrasi dengan HCl menggunakan operasi
pencucian (washing) sampai kadar NaOH tersisa dalam slurry sekecil
mungkin.
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menghitung % recovery
suatu komponen (NaOH) yang tercampur dalam zat padat (CaCO 3) dengan
menggunakan pelarut air dan menentukan jumlah kebutuhan stage untuk
operasi leaching (washing) tersebut. Untuk pengambilan suatu konstituen
dalam suatu padatan dengan menggunakan pelarut. Serta untuk
mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses leaching

I.2.

(ekstraksi padat-cair) tersebut.


Tujuan Percobaan

Praktikum Operasi Teknik Kimia II


UPN VETERAN JAWA TIMUR

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

1. Untuk menghitung faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dari


proses leaching.
2. Untuk pengambilan suatu konstituen dalam suatu padatan dengan
menggunakan pelarut.
3. Untuk menghitung % recovery suatu komponen (NaOH) yang
tercampur dalam zat padat (CaCO3) dengan menggunakan pelarut
air dan menentukan jumlah kebutuhan stage untuk operasi leaching
(ekstraksi padat-cair).
I.3.

Manfaat Percobaan
1. Agar praktikan dapat mengetahui cara perhitungan dalam proses
leaching.
2. Agar praktikan dapat mengetahui proses pemisahan secara ekstraksi
atau prinsip kerja dari leaching.
3. Agar praktikan dapat mengetahui neraca massa masing-masing
komponen.

Praktikum Operasi Teknik Kimia II


UPN VETERAN JAWA TIMUR

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1.

Secara Umum
Ekstraksi padat cair, yang sering disebut leaching, adalah proses

pemisahan zat yang dapat melarut (solut) dari suatu campurannya dengan padatan
yang tidak dapat larut (innert) dengan menggunakan pelarut cair. Operasi ini
sering dijumpai di dalam industri metalurgi dan farmasi, misalnya pada pemisahan
biji emas, tembaga dari biji-bijian logam, produk-produk farmasi dari akar atau
daun tumbuhan tertentu. Hingga kini, teori tentang leaching masih sangat kurang,
misalnya mengenai laju operasinya sendiri.
Peralatan Ekstraksi
Operasi ekstraksi padat cair selalu terdiri atas 2 langkah, yaitu:
1. Kontak antara padatan dan pelarut untuk mendapatkan perpindahan solut
ke dalam pelarut
2. Pemisahan larutan yang terbentuk dari padatan sisa.
Operasi dengan Sistem Bertahap Tunggal
Dengan metoda ini, pengontakan antara padatan dan pelarut dilakukan
sekaligus, dan kemudian disusul dengan pemisahan larutan dari padatan sisa. Cara
ini jarang ditemukan dalam operasi industri karena perolehan solut yang rendah.

Gambar 1. Sistem Operasi Ekstraksi


(Departemen Teknik Kimia ITB, 2012)
Faktor-faktor yang mempengaruhi leaching
1. Ukuran partikel
Ukuran partikel mempengaruhi laju ekstraksi dalam beberapa hal.
Semakin kecil ukurannya, semakin besar luas permukaan antara padat dan
cair; sehingga laju perpindahannya menjadi semakin besar. Dengan kata

Praktikum Operasi Teknik Kimia II


UPN VETERAN JAWA TIMUR

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

lain, jarak untuk berdifusi yang dialami oleh zat terlarut dalam padatan
adalah kecil.
2. Zat pelarut
Larutan yang akan dipakai sebagai zat pelarut seharusnya
merupakan pelarut pilihan yang terbaik dan viskositasnya harus cukup
rendah agar dapat dapat bersikulasi dengan mudah. Biasanya, zat pelarut
murni akan diapaki pada awalnya, tetapi setelah proses ekstraksi berakhir,
konsentrasi zat terlarut akan naik dan laju ekstraksinya turun, pertama
karena gradien konsentrasi akan berkurang dan kedua zat terlarutnya
menjadi lebih kental.
3. Temperatur
Dalam banyak hal, kelarutan zat terlarut (pada partikel yang
diekstraksi) di dalam pelarut akan naik bersamaan dengan kenaikan
temperatur untuk memberikan laju ekstraksi yang lebih tinggi.
4. Pengadukan fluida
Pengadukan pada zat pelarut adalah penting karena akan
menaikkan proses difusi, sehingga menaikkan perpindahan material dari
permukaan partikel ke zat pelarut.
Pemilihan juga diperlukan tahap-tahap lainnya. pada ektraksi padat-cair
misalnya, dapat dilakukan pra-pengolahan (pengecilan) bahan ekstraksi atau
pengolahan lanjut dari rafinat (dengan tujuan mendapatkan kembali sisa-sisa
pelarut).
Pemilihan pelarut pada umumnya dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini :
1. Selektivitas
Pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan, bukan
komponen-komponen lain dari bahan ekstraksi.
2. Kelarutan
Pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan ekstrak yang
besar (kebutuhan pelarut lebih sedikit).
Leaching ialah ekstraksi padat-cair dengan perantara suatu zat pelarut.
Proses ini dimaksudkan untuk mengeluarkan zat terlarut dari suatu padatan atau
Praktikum Operasi Teknik Kimia II
UPN VETERAN JAWA TIMUR

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

untuk memurnikan padatan dari cairan yang membuat padatan terkontaminasi.


Metode yang digunakan untuk ekstraksi akan ditentukan oleh banyaknya zat yang
larut, penyebarannya dalam padatan, sifat padatan dan besarnya partikel. Jika zat
terlarut menyebar merata di dalam padatan, material yang dekat permukaan akan
pertama kali larut terlebih dahulu. Biasanya proses leaching berlangsung dalam
tiga tahap, yaitu:
a. Perubahan fase dari zat terlarut yang diambil pada saat zat pelarut meresap

masuk.
b. Terjadi proses difusi pada cairan dari dalam partikel padat menuju keluar.
c. Ketiga perpindahan zat terlarut dari padatan ke zat pelarut.

Pada ekstraksi padat-cair, satu atau beberapa komponen yang dapat larut
dipisahkan dari bahan padat dengan bantuan pelarut.
(Nurul, 2013)
Dalam kaitannya, terdapat dua konsep pokok yang bisa digunakan disini, yaitu:
a. Arus yang meninggalkan stage dalam keadaan seimbang. Korelasi komposisi
kedua arus yang ke luar stage ditunjukkan oleh garis seimbang.
b. Korelasi komposisi arus-arus di antara dua stage yang berurutan dapat

diketahui berdasarkan konsep arus netto. Oleh karena akumulasi massa dalam
setiap stage adalah 0, maka arus netto pada setiap stage besarnya tetap. Hal ini
dapat digunakan pada prinsip pengurangan.
Kebutuhan stage dapat ditentukan dengan pertolongan garis operasi dan garis
seimbang secara bergantian dan berurutan. Urutan pengerjaan secara grafis untuk
menentukan jumlah stage adalah sebagai berikut:
1. Menentukan letak titik terlebih dahulu, untuk mencari neraca massa di
sekitar seluruh stage yang selanjtunya dipakai untuk menentukan arus-arus
terminal.
2. Menentukan letak titik A pada perpotongan perpanjangan garis X0Y1 dan
XnYn+1
3. Perhitungan garis dari stage ke stage dapat dimulai dari Y1 dan Xn. Jika
dari Y1 dengan korelasi garis seimbang dapat ditentukan letak X1,
kemudian dari X1 dihubungkan dengan titik , titik potong antara garis
X1 dan kurva seimbang di cabang ekstrak adalah letak titik Y2 (korelasi

Praktikum Operasi Teknik Kimia II


UPN VETERAN JAWA TIMUR

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

garis operasi), dan seterusnya sampai didapatkan komposisi XN XN yang


dikehendaki.

Gambar 2. Penentuan Jumlah Stage


Jika jumlah stage diketahui (sudah tertentu), kemurnian hasil yang ditanyakan
dapat dicari dengan cara coba-coba.
a. Tentukan letak titik ( = L0 + Vn+1).
b. Coba titik Xn, lalu hubungkan dengan titik yang memotong
kurva seimbang di Y1.
c. Tentukan titik (titik potong antara X0Y1 dan XnYn+1)
d. Hitung jumlah stage, jika jumlah stage hasil hitungan belum sama
dengan jumlah stage yang diketahui, cobalah dengan nilai Xn yang
lain sampai didapatkan hasil : Ndiketahui = Nhasil hitungan
Praktikum Operasi Teknik Kimia II
UPN VETERAN JAWA TIMUR

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

Perancangan dan Variabel Operasi Terdapat 4 ubahan penting yang ada pada
operasi arus lawan arah, yaitu :
a. Kemurnian hasil (kadar solute dalam ekstrak yang lebih besar).
b. Persentase recovery yang dapat memungut solute sebanyak
mungkin (V1YA1 yang lebih besar atau LN XAN yang makin kecil)
c. Jumlah stage (N), karena jika N bertambah, maka biaya akan
mengalami kenaikan.
d. V/L ratio, karena jika V/L rationya besar, maka hasil pada arus V
akan encer sehingga biaya recovery menjadi tinggi.
(Universitas Gadjah Mada, 2011)
Kuantitas zat mampu larut (soluble) yang di keluarkan biasanya lebih
banyak dibandingkan dengan pencucian filtrasi biasa, dan dalam operasi
pengurasan sifat-sifat zat padat mungkin mengalami perubahan. Umpan yang
berbentuk zat padat kasar, keras, dan butir-butir besar mungkin terdisentegrasi
menjadi bubur atau lumpur bila bahan mampu larut yang terkandung di dalamnya
dikeluarkan, asal saja terdapat cukup banyak pelarut untuk melarutkan semua zat
terlarut yang terkandung di dalam zat padat yang masuk, dan tidak ada absorpsi
(penyerapan) zat terlarut di dalam zat padat, keseimbangan akan tercapai bila
seluruh zat terlarut sudah larut semuanya di dalam zat cair dan konsentrasi larutan
yang terbentuk menjadi seragam.
Ekstraksi dapat digunakan untuk memisahkan lebih dari dua komponen
dan dalam beberapa penerapan tertentu, digunakan campuran pelarut, bukan satu
pelarut saja.
(McCabe, 1994)
Temperature dari Leaching
Pencucian biasanya diinginkan pada temperatur tinggi. Ketika temperature
tinggi maka kelarutan solute dalam solvent juga akan tinggi, juga akan di dapat
konsentrasi yang tinggi dalam larutan yang tercuci viskositas dari liquid akan
rendah dan difusifitas akan tinggi pada temperature tinggi, mengikuti kenaikan
rate dari leaching.
(Treybal, 1980)
Titrasi
Titrasi merupakan metode analisis kimia secara kuantitatif yang biasa
digunakan

dalam laboratorium untuk

menentukan

konsentrasi

dari reaktan.

Karena pengukuran volum memainkan peranan penting dalam titrasi, maka teknik
Praktikum Operasi Teknik Kimia II
UPN VETERAN JAWA TIMUR

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

ini juga dikenali dengan analisis volumetrik. Analisis titrimetri merupakan satu
dari bagian utama dari kimia analitik dan perhitungannya berdasarkan hubungan
stoikhiometri dari reaksi-reaksi kimia. Pereaksi T, disebut titran, ditambahkan
secara sedikit-sedikit, biasanya dari sebuah buret, dalam bentuk larutan dengan
konsentrasi yang diketahui. Maka dikatakan baha titik ekivalen titran telah
tercapai. Agar mengetahui bila penambahan titran berhenti, kimiawan dapat
menggunakan sebuah zat kimia, yang disebut indicator.
Banyak metode yang dapat digunakan untuk mengindikasikan titik akhir
dalam reaksi; titrasi biasanya menggunakan indikator visual (larutan reaktan yang
berubah warna).

Dalam

titrasi

asam-basa

sederhana,

indikator pH dapat

digunakan, sebagai contoh adalah fenolftalein, di mana fenolftalein akan berubah


warna menjadi merah muda ketika larutan mencapai pH sekitar 8.2 atau
melewatinya.
(Anonim, 2016. Titrasi)
Persen berat menyatakan banyaknya zat terlarut (dalam satuan gram).
Molaritas, normalitas, persen berat, persen volume dapat dinyatakan seperti:
1.

Molaritas
Pada peristiwa pengenceran jumlah mol zat terlarut tetap sehingga
berlaku rumus:
V1 . M1 = V2 . M2
Keterangan:
V1 = Volume sebelum pengenceran
V2 = Volume setelah pengenceran
M1 = Molaritas sebelum pengenceran
M2 = Molaritas setelah pengenceran

2.

Normalitas
Pada normalitas berlaku rumus:
N1 . V1 = N2 . V2

3.

Persen Volume
Persen volume menyatakan jumlah liter zat terlarut dalam 100 liter larutan.

4.

Persen Berat

Praktikum Operasi Teknik Kimia II


UPN VETERAN JAWA TIMUR

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

Persen berat menyatakan gram zat terlarut dalam 100 gram larutan
Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan
cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar.
(Hermawan, 2015)

II.2 Sifat Bahan


1. Air
A. Sifat Fisika
a. Dapat membeku dalam suhu 0oC
b. Dapat mendidih dalam suhu 100oC
c. Penampilan cair dan jernih
d. Larut pada semua jenis cairan kecuali minyak
e. Tidak mudah terbakar
B. Sifat Kimia
a. Rumus molekul = H2O
Praktikum Operasi Teknik Kimia II
UPN VETERAN JAWA TIMUR

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

b.
c.
d.
e.

Massa molar = 18,0153 gr/mol


Densitas = 0.92 gr/cm3 (padatan)
Fase = 0.998 gr/cm3 (cairan pada 20oC)
Kalor jenis = 4184 J/kg K (cairan pada 20oC)
(Anonim,2016,Air)
2. Asam klorida
A. Sifat Fisika
a. Penampilannya cairan tak berwarna sampai dengan kuning pucat
b. Kelarutan dalam air tercampur penuh
c. Memiliki aroma khas
d. Memiliki titik nyala
e. Bersifat panas dan merusak, jika bersentuhan langsung saat pekat.
B. Sifat kimia
a. Rumus molekul = HCl
b. Massa molar = 36,46 gr/mol
c. Densitas = 1.18 gr/cm3
d. Keasaman (pKa) = -8,0
e. Viskositas = 1.9 mPa pada 25oC
(Anonim,2016,HCl)
3. Na2CO3
A. Sifat fisika
a. Penampilan berupa padatan putih
b. Tidak memiliki bau
c. Tidak larut dalam etanol
d. Memiliki struktur Kristal monoklinik dan ortorombik
e. Memiliki rasa pahit
B. Sifat kimia
a. Massa molar = 105,9888 gr/mol
b. Bentuk = padatan putih
c. Densitas = 2,54 gr/cm3
d. Viskositas = 3,4 cP
e. Kebasaan = 3,67
(Anonim,2016,Na2CO3)
4. Ca(OH)2
A. Sifat fisika
a. Penampilannya berupa Kristal tak berwarna atau bubuk putih
b. Kalsium hidroksida dihasilkan melalui reaksi CaO dan air
c. Senyawa ini dihasilkan dalam bentuk endapan
d. Termasuk dalam senyawa basa
e. Tidak memiliki bau
B. Sifat kimia
a. Massa molar = 74,093 gr/mol
b. Densitas = 2,211 gr/cm3
c. Titik leleh = 580oC
Praktikum Operasi Teknik Kimia II
UPN VETERAN JAWA TIMUR

10

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

d.
e.
f.
g.

Kebasaan = 12,4
Keasaman = 1,574
Kelarutan dalam air = 0,189 g/100 ml
Kelarutan produk = 5,5 x 10-6
(Anonim,2016,Ca(OH)2)

5. CaO
A. Sifat fisika
a. Penampilan serbuk putih hingga kuning / coklat pucat
b. Tidak memiliki bau
c. Larut dalam gliserol, larutan gula
d. Tidak larut dalam dietil eter,n-oktana
e. Tidak mudah terbakar
B. Sifat kimia
a. Nama sistematis = kalsium oksida
b. Massa molar = 56,0774 gr/mol
c. Densitas = 3,34 gr/cm3
d. Titik lebur = 2613oC
e. Titik didih = 28500C
f. Kelarutan dalam air = 1,19 g/L
g. Keasaman = 12,8
h. Kebasaan = 1,74
(Anonim,2016,CaO)
6.
Fenolftalein
A. Sifat Fisika
a. Tidak berwarna dalam keadaan asam, berwarna kemerahan dalam
keadaan basa.
b. Berupa padatan atau serbuk.
c. Fenolftalein biasanya digunakan sebagai indikator keadaan suatu
B.
a.
b.
c.
d.

zat yang bersifat lebih asam atau lebih basa.


Sifat Kimia
Rumus molekul = C20H14O4
Massa molar = 318,32 g/mol
Penampilan = serbuk putih
Densitas = 1,277 g/cm3
(Anonim,2016, fenolftalein)

II.3 Hipotesa
Campuran CaCO3 dan NaOH yang dihasilkan dari reaksi antara Ca(OH)2
dengan Na2CO3 maka kadar NaOH yang ada pada rafinat dan akan semakin
berkurang serta semakin kecil setelah dilakukan pencucian berulang kali.

Praktikum Operasi Teknik Kimia II


UPN VETERAN JAWA TIMUR

11

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

11.4Diagram Alir

Praktikum Operasi Teknik Kimia II


UPN VETERAN JAWA TIMUR

12

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
III.1 Bahan Praktikum
Praktikum Operasi Teknik Kimia II
UPN VETERAN JAWA TIMUR

13

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

1. Air
2. Hcl
3. Fenolftalein
4. Ca(OH)2
5. Na2CO3
6. CaO
III.2 Alat Praktikum
1. Statif
2. Klem
3. Neraca analitik
4. Gelas ukur
5. Beaker glass
6. Erlenmeyer
7. Kaca arloji
8. Batang pengaduk
9. Corong
10. Kertas saring
11. Magnetic stirrer
12. Buret

III.3 Gambar Alat

Statif

Klem

Neraca
analitik

Praktikum Operasi Teknik Kimia II


UPN VETERAN JAWA TIMUR

Gelas ukur

Beaker
glass

Erlenmeyer

14

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

Kaca arloji

Batang
pengaduk

Kertas
saring

Corong

Magnetic
stirrer

Buret

III.4 Rangkaian Alat


A. Rangkaian Alat Leaching
Keterangan :
1. Beaker Glass
2. Magnetic Stirrer
B.Rangkaian Alat Titrasi
Keterangan:
1. Statif
2. Klem
3. Buret
4. Erlenmeyer
III.5 Variabel
a.
b.
c.
d.

Berat Na2CO3
Berat CaO
Waktu pengadukan
Volume Pelarut

= 25 gram
= 20 gram
= 3 menit
= 150 ml

III.6 Prosedur Percobaan


1. Membuat Ca(OH)2 dari CaO dan H2O
2. Titambahkan Na2CO3 pada Ca(OH)2 sehingga dihasilkan CaCO3 yang
tersuspensi dalam larutan NaOH
3. Lakukan operasi leaching (washing) terhadap campuran CaCO3 dan NaOH
dimana NaOH sebagai komponen yang akan dipisahkan dari CaCO 3
dengan menggunakan pelarut air

Praktikum Operasi Teknik Kimia II


UPN VETERAN JAWA TIMUR

15

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

4. Tentukan kadar NaOH untuk tiap kali dititrasi dengan HCl menggunakan
operasi pencucian (washing), sampai kadar NaOH tersisa dalam slurry
sekecil mungkin.

Praktikum Operasi Teknik Kimia II


UPN VETERAN JAWA TIMUR

16

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1V.1 Tabel Hasil Pengamatan
1. Tabel Titrasi Larutan 1 (Stage 1)
No
1
2
3

Titrasi keI
II
III
Rata-rata

Volume Titran
(ml)
3
3
3
3

Volume Titrat
(ml)
6,5
6,3
6,1
6,3

2. Tabel Titrasi Larutan 2 (Stage 2)


No
1
2
3

Titrasi keI
II
III
Rata-rata

Volume Titran
(ml)
3
3
3
3

Volume Titrat
(ml)
5,7
5,6
5,3
5,5

3. Tabel Titrasi Larutan 3 (Stage 3)


No
1
2
3

Titrasi keI
II
III
Rata-rata

Volume Titran
(ml)
3
3
3
3

Praktikum Operasi Teknik Kimia II


17
UPN VETERAN JAWA TIMUR

Volume Titrat
(ml)
5
4,3
4,5
4,6

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

4. Tabel Titrasi Larutan 4 (Stage 4)


No
1
2
3

Titrasi keI
II
III
Rata-rata

Volume Titran
(ml)
3
3
3
3

Volume Titrat
(ml)
3,1
3,2
3
3,1

5. Tabel Titrasi Larutan 5 (Stage 5)


No
1
2
3

Titrasi keI
II
III
Rata-rata

Volume Titran
(ml)
3
3
3
3

Volume Titrat
(ml)
2,1
3,2
3
2,8

6. Tabel Titrasi Larutan 6 (Stage 6)


No
1
2
3

Titrasi keI
II
III
Rata-rata

Volume Titran
(ml)
3
3
3
3

Volume Titrat
(ml)
2,8
1,3
1,5
1,87

7. Tabel Titrasi Larutan 7 (Stage 7)


No
1
2
3

Titrasi keI
II
III
Rata-rata

Volume Titran
(ml)
3
3
3
3

Volume Titrat
(ml)
1,5
1,1
0,8
1,1

8. Tabel Titrasi Larutan 8 (Stage 8)


No

Titrasi ke-

Volume Titran
(ml)

Praktikum Operasi Teknik Kimia II


18
UPN VETERAN JAWA TIMUR

Volume Titrat
(ml)

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)
1
2
3

3
3
3
3

I
II
III
Rata-rata

No

Larutan

1
2
3
4
5
6

Larutan 1
Larutan 2
Larutan 3
Larutan 4
Larutan 5
Larutan 6

Normalitas
(N)
0,21
0,183
0,153
0,103
0,093
0,062

7
8

Larutan 7
0,04
Larutan 8
0,023
Total
0,867
1V.2 Tabel Perhitungan

0,9
0,7
0,5
0,7

Molaritas
(M)
0,21
0,183
0,153
0,103
0,093
0,062

BM NaOH
(gr/mol)
40
40
40
40
40
40

Kadar NaOH
(gr/150 ml)
0,0560
0,0488
0,0408
0,0275
0,0248
0,0165

0,04
0,023
0,867

40
40

0,0107
0,0061
0,2312

1V.3 Grafik
( Tidak Ada )
IV.4 Pembahasan
Percobaan ini diawali dengan membuat larutan Ca(OH) 2 dengan cara
melarutkan CaO sebanyak 20 gram dalam 150 ml aquadest berdasarkan reaksi
berikut:

Mula-mula

: 0,3571 mol

8,3333 mol

Reaksi

: 0,3571 mol

0,3571 mol

0,3571 mol

Sisa

7,9762 mol

0,3571 mol

Kemudian larutan tersebut disaring untuk mendapatkan filtrat dan endapan.


Endapannya dioven hingga kering dan ditimbang untuk mengetahui berat

Praktikum Operasi Teknik Kimia II


19
UPN VETERAN JAWA TIMUR

%
Recover
24,22
21,11
17,65
11,88
10,73
7,15
4,61
2,65
100,0

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)
Ca(OH)2 dalam endapan. Berdasarkan stoikiometri diatas, Ca(OH)2 yang
terbentuk sebesar 0,3571 mol.
Selanjutnya, Ca(OH)2 yang terlarut dalam filtrat tersebut dicampurkan
dengan larutan Na2CO3 yang mengandung 25 gram Na2CO3 didalamnya.
Sehingga terjadilah reaksi berikut:

Mula-mula

: 0,269 mol

Reaksi

: 0,236 mol

Sisa

: 0,033 mol

0,236 mol

0,236 mol

0,236 mol

0,236 mol

0,236 mol

0,236 mol

mol

Lalu campuran tersebut diaduk dengan menggunakan magnetic stirrer selama


3 menit dan disaring. Filtratnya dititrasi dengan menggunakan HCl untuk
menentukan konsentrasi NaOH yang terbentuk. Sedangkan, endapannya
dicuci dengan menggunakan aquadest sebanyak 150 ml guna memperkecil
konsentrasi NaOH, kemudian diaduk kembali dengan magnetic stirrer. Ulangi
langkah-langkah diatas hingga didapatkan konsentrasi NaOH sekecil
mungkin. Berdasarkan data percobaan kami, ketika stage 1 konsentrasi NaOH
sebesar 0,21 N. Untuk stage 2, konsentrasi NaOH sebesar 0,183 N. Untuk
stage selanjutnya yaitu stage 3, konsentrasi NaOH sebesar 0,153 N. Untuk
stage 4, konsentrasi NaOH sebesar 0,103 N. Kemudian untuk stage 5,
konsentrasi NaOH sebesar 0,093 N. Untuk stage 6, konsentrasi NaOH sebesar
0,062 N. Untuk stage 7, konsentrasi NaOH sebesar 0,04 N. Dan untuk stage
yang terakhir yaitu stage 8, konsentrasi NaOH sebesar 0,023 N. Sehingga
dapat dihitung % recovery NaOH, untuk stage 1 sebesar 24,22%, untuk stage
2 sebesar 21,11%, untuk stage 3 sebesar 17,65%, untuk stage 4 sebesar
11,88%, untuk stage 5 sebesar 10,73%, untuk stage 6 sebesar 7,15%, untuk
stage 7 sebesar 4,61%, yang terakhir untuk stage 8 sebesar 2,65%.
Berdasarkan stoikiometri reaksi diatas, CaCO3 yang terbentuk adalah sebesar
0,236 mol atau setara dengan 23,6 gram. Maka, dapat dikatakan kadar CaCO 3
awal sebelum dilakukan proses leaching sebesar 23,6 gram. Kemudian setelah
Praktikum Operasi Teknik Kimia II
20
UPN VETERAN JAWA TIMUR

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)
dilakukan proses leaching, tepatnya pada stage ke-8, endapan yang terdapat
pada kertas saring dioven dan ditimbang beratnya. Ternyata beratnya sebesar
37 gram. Hal tersebut menunjukkan bahwa selama proses leaching
didapatkan % recovery CaCO3 yaitu sebesar 64%.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
1. Reaksi antara larutan Na2CO3 dan Ca(OH)2 menghasilkan NaOH yang
larut dalam air dan CaCO3 yang berupa slurry yang masih mengandung
NaOH.
2. Proses leaching bertujuan untuk merecovery NaOH yang terdapat pada
slurry CaCO3 menggunakan pelarut air.
Praktikum Operasi Teknik Kimia II
21
UPN VETERAN JAWA TIMUR

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)
3. Persentase recovery NaOH semakin menurun untuk setiap stage leaching
hingga komponen NaOH dalam slurry CaCO3 sangat kecil atau habis.
4. Berat CaCO3 semakin banyak stage akan semakin berkurang, hal ini
dikarenakan CaCO3 larut dalam NaOH yang konsentrasinya kecil,
sehingga % recovery CaCO3 akan semakin tinggi tiap bertambahnya stage.
V.2 Saran
1. Perlu pemberian variabel komposisi bahan awal yang lebih teliti dengan
memperhatikan stokiometri dari reaksi kimia dan kelarutan bahan.
2. Perlu pengetahuan yang lebih tentang pembuatan kurva dan grafik
penentuan stage dari data pengamatan yang diperoleh.
3. Perlu ketelitian tentang penentuan kadar NaOH melalui metode titrasi
dengan memperhatikan cara pembuatan titran dan cara titrasi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2016. Air. ( http://id.wikipedia.org/wiki/Air ). Diakses pada tanggal 24


September 2016 pukul 21.00 WIB.
Anonim. 2016. Asam Klorida. (http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_Klorida).
Diakses pada tanggal 24 September 2016 pukul 23.01 WIB.
Anonim. 2016. Calsium Hydroxide.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Calsium_Hydroxide). Diakses pada tanggal 24
September 2016 pukul 21.02 WIB.

Praktikum Operasi Teknik Kimia II


22
UPN VETERAN JAWA TIMUR

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)
Anonim.

2016.

Fenolftalein.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Fenolftalein).

Diakses pada tanggal 24 September 2016 pukul 21.02 WIB.


Anonim. 2016. Kapur Tohor. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kapur_Tohor).
Diakses pada tanggal 25 September 2016 pukul 09.15 WIB.
Anonim. 2016. Natrium Karbonat.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Natrium_Karbonat). Diakses pada tanggal 25
September 2016 pukul 09.30 WIB.
Anonim. 2016. Titrasi.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Titrasi). Diakses pada tanggal 25
September 2016 pukul 10.00 WIB.
Hermawan, Chandy. 2015.Pembuatan Larutan
(http://chandyhermawan.blogspot.co.id/2015/08/Pembuatan_larutan_titrasi_da
n.html) Diakses pada tanggal 25 september 2016 pukul 11.30 WIB.
Departemen Teknik Kimia ITB. 2012. Modul Leaching.
(http://akademik_che.itb.ac.id/labtek/wp-content/uploads/2012/05/epcekstraksi-padat-cair.pdf) Diakses pada tanggal 25 september 2016 pukul 11.15
WIB.

Nurul. 2012. Ekstraksi.


(http://nurul.kimia.upi.edu/arsipkuliah/web/2013/1106139/blog-single-withimage-ekstraksi.html). Diakses pada tanggal 25 September 12.00 WIB.
McCabe. 1994. Operasi Teknik Kimia Jilid 2 Edisi Keempat. Jakarta : Penerbit
Erlangga.
Treybal, Robert.E. 1980.Mass Transfer Operations. New York : Penerbit
McGraw Hill.
Universitas Gadjah Mada. 2011. Bab III perhitungan stage seimbang.
(http://elisa.ugm.ac.id/user/archive/download/51797/c378f645bc9da4brof38da
ba5c861806) Diakses pada tanggal 25 September 2016 pukul 12.15 WIB.

Praktikum Operasi Teknik Kimia II


23
UPN VETERAN JAWA TIMUR

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

APPENDIX

1. Larutan I
VNaOH x NNaOH = VHCl x NHCl
3 ml x NNaOH= 6,3 ml x 0,1 N
NNaOH= 0,21 N
2. Pembuatan Indikator PP
1 gram PP + 40 ml alkohol 96% + aquadest hingga 100 ml.
3. Pembuatan Larutan HCl 0,1N 250 ml dari HCl 37%
M

% 1000
BM

Praktikum Operasi Teknik Kimia II


24
UPN VETERAN JAWA TIMUR

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK II


LEACHING (EKSTRAKSI PADAT-CAIR)

1,19 0,372 1000


36,5

= 12,128 M
N=Mxe
= 12,128 M x 1
= 12,128 N
V1 x N1 = V2 x N2
250 ml x 0,1 = V2x 12,128 ml
V2 = 2,0613 ml
Jadi, 2,0613 ml HCl 37% diencerkan dengan aquadest hingga 250 ml.
4. % Recovery CaCO3

Praktikum Operasi Teknik Kimia II


25
UPN VETERAN JAWA TIMUR