Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PERSIAPAN

PENYEMPURNAAN
PROSES PENAMBAHAN BERAT PADA KAIN SUTERA
WEIGHTING
Disusun Oleh :

Nama

: Aji Setiawan

14020087

Fenty Rochmatillah T.

14020098

Putri Indah Permata S.

14020084

Dosen

: Muhammad Ichwan, AT, MS.Eng.

Asisten

: Yayu E. Y., S.S.T.

Group

: 2K4

Kelompok : 6

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL


BANDUNG
2015
BAB I

MAKSUD DAN TUJUAN

1.1

MAKSUD
Untuk Mengetahui proses dan mekanisme serta cara kerja penambahan berat
(weighting) bahan sutera ini.

1.2

TUJUAN
Mengembalikan berat sutera yang hilang akibat proses pemasakan sehingga
dihasilkan bahan sutera yang lembut, langsai baik dan pegangan yang penuh.

BAB II
TEORI DASAR

2.1

TEORI DASAR
SUTERA
Sutera adalah serat yang diperoleh dari jenis serangga yang disebut
Lepidoptera. Serat sutera berbentuk filament, dihasilkan oleh larva ulat sutera waktu
membentuk kepompong. Spesies utama dari ulat sutera yang dipelihara untuk
menghasilkan sutera adalah bombix mori.
Pemeliharaan ulat sutera dimulai di negeri China., kemudian menyebar ke Jepang,
Asia Tengah, Asia Timur dan Eropa. Pada saat ini, Negara utama penghasil sutera
adalah Jepang, China, Italia dan Perancis.

Proses Produksi

Proses produksi sutera dapat dibagi atas dua tahap yaitu :


1.

Pembibitan

2.

Penggulungan sutera

Struktur Serat
Serat sutera mentah mempunyai komposisi sebagai berikut :
Fibrovin (serat)

: 76%

Serisin (perekat)

: 22%

Lilin

: 1,5%

Garam-garam mineral

: 0,5%

Fibrovin adalah protein yang tidak mengandung belerang, tidak larut didalam
alkali lemah dan sabun.
Serisin adalah protein yang tidak mengandung belerang, dan merupakan
protein Albumin yang tidak larut dalam air dingin, tetapi menjadi lunak
didalam air panas, dan larut dalam alkali lemak atau sabun. Serisin
menyebabkan serat sutera mentah, pegangannya kaku dan kasar, dan
merupakan pelindung serat selama pengerjaan mekanik. Supaya kain sutera
menjadi lembut, berkilau dan dapat dicelup, serisin harus dihilangkan,
biasanya dengan pemasakan didalam larutan sabun. Dalam pemasakan ini,
lilin dan garam-garam mineral juga ikut hilang.

Sifat Fisika
Kekuatan serat sutera dalam keadaan kering 4-4,5 g/d dengan mulur
20-25%, dan dalam keadaan basah 3,5-4,0 g/d dengan mulur 25-30%.
Serat sutera dapat kembali ke panjang semula setelah mulur 4%, tetapi
kalau mulurnya lebih dari 4%, pemulihannya lambat dan tidak kembali ke
panjang semula.
Sifat khusus dari sutera adalah bunyi germerisik (scroop) yang timbul,
apabila serat saling bergeseran. Sifat ini bukan pembawa sutera, tetapi
merupakan

hasil

pengerjaan

dengan

larutan

asam

encer,

yang

mekanismenya belum diketahui.


Untuk mengimbangi hilangnya berat dari serisin, maka sutera diberati
dengan cara merendamnya didalam larutan garam-garam timah dalam
asam. Pemberatan ini juga mengembalikan sifat peregangan dan sifat
menggantung dari sutera, tetapi akan mengurangi kekuatannya dan akan
mempercepat kerusakan karena sinar matahari.

Sifat Kimia
Sutera tidak dirusak oleh larutan asam encer hangat, tetapi larut dan
akan dirusak oleh asam kuat. Disbanding dengan wol, sutera kurang tahan
asam tetapi lebih tahan alkali meskipun dalam konsentrasi rendah. Pada
suhu tinggi akan terjadi kemunduran pada kekuatannya. Sutera tahan
terhadap semua pelarut organic, tetapi larut didalam kuproamonium
hidroksida dan kuprietilena diamida.
Sutera kurang tahan terhadap zat-zat oksidator umpama kaporit dan
simar matahari, tetapi lebih tahan terhadap serangan secara biologi
dibandingkan dengan serat-serat alam yang lain.

A. Mekanisme
Proses penambahan berat ini dilakukan dengan merendam bahan sutera
dengan suatu larutan yang mengandung zat yang dapat menempel dengan baik pada
sera suera baik secara fisik ataupn kimia.
Zat yang mampu bereaksi secara kimia dengan terbentuknya ikatan dengan
serat akan memiliki efek penambahan berat yang permanen , seperti pada metoda
yang menggunkan polimer. Sementara metoda tanin dan logam mineral hailnya
kurang tahan lama terutama bila bahan telah mengalami pencucian berulang.
Disamping itu pemakaian metoda logam mineral dengan zat beracun Sn Cl 2 berbahaya
bagi kesehatan manusia serta mencemari lingkungan.Faktor yang berpengaruh dalam
proses ini antara lain konsentrasi zat, suhu dan lamanya proses, air proses yag
mengandung kesadahan tinggi dapat menyebabkan pengendapan pda bahan yang akan
menurunkan kilau, serat pengangan bahan jadi kasar.
Saat ini ada tiga metoda yang bisa digunakan dalm proses penambahan berat sutera
yaitu :

Metoda tanin.

Metoda logam mineral.

Metoda polimer/resin.

BAB III
DATA PERCOBAAN
3.1

ALAT
1. Erlenmeyer
2. Bunsen
3. Gelas Ukur
4. Kain Sutera
5. Korek api gas
6. Pengatur suhu
7. Batang pengaduk
8. Mesin Exhaust

3.2

DIAGRAM ALIR
Timbang kain sutera yang akan mau di weighting

Proses weighting

Pencucian

Pengeringan

Evaluasi

3.3

SKEMA PROSES
Metoda Tanin
- bahan + tanin

80o C

300C
0

10

Waktu (menit)

90

30

Metoda SnCl
0C

- bahan + SnCl2

Na2SiO3Xh2o
Na2HPO2

300C
Tahap 1
0

Tahap 2
60

80

Tahap 3

140 145

205

Waktu (menit)

Metoda Resin MAA


- (bahan ,MAA, Katalis, WA)

Sabun

80o C

Pencucian Sabun
0

30 C
Waktu (menit)
0

10

20

60

160

3.4

RESEP
1

3.5

3.6

Tanin

Suhu

Waktu

LR

50 %

100 %

3
100 %

4
100 %

5
150 %

80
30

30

45

60

60

1:30

FUNGSI ZAT

Tanin dan SnCl

: Zat penambah berat DHP, Mertha Acrylamide Na


Silikat.

Amonium Persulfat

: Katalisator.

Asam Formiat

: Pengatur PH reaksi resin dengan serat sutera.

Zat Pembasah Nonionik : Menurunkan tegangan permukaan bahan.

CARA KERJA
1. Menyiapkan kain, dan alat-alat yang akan digunakan dan zat seusai resep;
2. Timbang kain dan hitung zat sesuai resep.
3. Masukkan kain kedalam bejana atau mesin exhaust, kemudian diaduk selama
waktu yang sudah ditentukan dan yang menggunakan mesih harap tunggu selama
waktu yang sudah di tentukan.
4. Cuci bahan dan lakukan pengeringan
5. Evaluasi.

3.7

DATA PERHITUNGAN
RESEP 1 FENTY ROCHMATILLAH T
RESEP 2 AJI SETIAWAN
RESEP 3 PUTRI INDAH PERMATA S
RESEP 1

: Berat Awal

: 2,18 gr

Vlot

: 30 x 2,18 = 65,4

Tanin

: 50/100 x 2,18 = 1,09 gr

Air

: 65,4 1,09 = 64,31 ml

Berat Akhir :
RESEP 2

: Berat Awal

: 2,13 gr

Vlot

: 2,13 x 30 = 63,9

Tanin

: 100/100 x 2,13 = 2,13 gr

Air

: 63,9 2,13 = 61,77 ml

Berat Akhir : 2,51 gr


RESEP 3

: Berat Awal

Vlot

Tanin

Air

Berat Akhir :

3.8

EVALUASI
RESEP 1

RESEP 2

RESEP 3

BAB IV
DISKUSI
4.1

DISKUSI

BAB V
KESIMPULAN
5.1

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
Ichwan,

Muhammad,

dkk.

2008.

Pedoman

Praktikum

Teknologi

Persiapan

Penyempurnaan. Bandung : Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil


Jumaeri, 1977. Pengetahuan Barang Tekstil. Bandung : Institut Teknologi Tekstil
Soeparman, 1977. Teknologi Penyempurnaan Tekstil. Bandung : Institut Teknologi Tekstil
Soeprijono, 1973. Serat-Serat Tekstil. Bandung : Institut Teknologi Tekstil