Anda di halaman 1dari 38

REFERAT

GANGGUAN KEPRIBADIAN

Disusun oleh:
Celina Manna
(11.2014.235)

Pembimbing:
Dr. Linda, Sp.KJ

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Jiwa


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
RSUJ Aminogondohutomo
Periode 10 Oktober 12 November 2016

BAB I
PENDAHULUAN
Seorang manusia dalam menjalani kehidupannya sejak kecil, remaja, dewasa hingga
lanjut usia memiliki kecenderungan yang relatif serupa dalam menghadapi suatu masalah.
Apabila diperhatikan, cara atau metode penyelesaian yang dilakukan seseorang memiliki pola
tertentu dan dapat digunakan sebagai ciri atau tanda untuk mengenal orang tersebut. Hal ini
dikenal sebagai karakter atau kepribadian.1
Kepribadian adalah totalitas dari ciri perilaku dan emosi yang merupakan karakter
atau ciri seseorang dalam kehidupan sehari-hari, dalam kondisi yang biasa. Sifatnya stabil
dan dapat diramalkan1
Karakter

adalah ciri kepribadian yang dibentuk oleh proses perkembangan dan

pengalaman hidup. Temperamen dipengaruhi oleh faktor genetik atau konstitusional yang
terbawa sejak lahir, bersifat sederhana, tanpa motivasi, baru stabil sesudah anak berusia
beberapa tahun.1
Perkembangan kepribadian merupakan hasil interaksi dari faktor-faktor: konstitusi
(genetik, temperamen), perkembangan, dan pengalaman hidup (lingkungan keluarga,
budaya).2
Gangguan kepribadian adalah kelainan yang umum dan kronis. Prevalensinya
diperkirakan antara 10 sampai 20% dari seluruh populasi, dan durasinya dapat berlangsung
selama beberapa dekade. Orang dengan gangguan kepribadian umumnya dicap
menjengkelkan, menganggu, dan bersifat parasit dan secara umum dianggap memiliki
prognosis yang buruk. Diperkirakan setengah dari seluruh pasien psikiatrik memiliki
gangguan kepribadian, yang seringkali komorbid dengan kondisi Aksis I. Gangguan
kepribadian merupakan faktor predisposisi untuk gangguan psikiatrik lain (contoh
penyalahgunaan zat, bunuh diri, gangguan afektif, dan gangguan cemas) di mana hal ini
mengganggu hasil pengobatan sindrom Axis I dan meningkatkan menderita ketidakmampuan
(cacat) personal, morbiditas, dan mortalitas pasien.2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI GANGGUAN KEPRIBADIAN
Gangguan kepribadian adalah ciri kepribadian yang bersifat tidak fleksibel dan
maladaptif yang menyebabkan disfungsi yang bermakna dan penderitaan subjektif [1]. Orang
dengan gangguan kepribadian memiliki respons yang benar-benar kaku terhadap situasi
pribadi, hubungan dengan orang lain ataupun lingkungan sekitarnya. Kekakuan tersebut
menghalangi mereka untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan eksternal, sehingga akhirnya
pola tersebut bersifat self-defeating. Sikap kepribadian yang terganggu itu akan semakin
nyata pada saat remaja awal masa dewasa dan terus berlanjut di sepanjang kehidupan dewasa,
semakin lama semakin mendalam dan mengakar sehingga semakin sulit diubah. Dapat
disimpulkan bahwa seseorang dengan gangguan kepribadian akan menunjukkan pola relasi
dan persepsi terhadap lingkungan dan dirinya sendiri yang bersifat tidak fleksibel, maladaptif,
serta berakar mendalam.2
Gangguan kepribadian berbeda dari perubahan kepribadian dalam waktu dan cara
terjadinya: gangguan kepribadian adalah suatu proses perkembangan, yang muncul ketika
masa kanak-kanak atau remaja dan berlanjut sampai dewasa. Gangguan kepribadian bukan
keadaan sekunder dari gangguan jiwa lain atau penyakit otak, meskipun dapat didahului dan
timbul bersamaan dengan gangguan lain. Sebaliknya, perubahan kepribadian adalah suatu
proses yang didapat, biasanya pada usia dewasa, setelah stress berat atau berkepanjangan,
deprivasi lingkungan yang ekstrem, gangguan jiwa yang parah atau penyakit/cedera otak.1
Terlepas dari konsekuensi perilaku yang bersifat self-defeating, orang dengan
gangguan kepribadian pada umumnya tidak merasa perlu untuk berubah. DSM IV
menyebutkan bahwa orang dengan gangguan kepribadian cenderung menganggap trait-trait
tersebut sebagai ego-syntonic sebagai bagian alami dari diri mereka. Akibatnya, orang
dengan gangguan kepribadian lebih cenderung dibawa ke dokter spesialis kejiwaan oleh
orang lain daripada oleh diri mereka sendiri.2
Gangguan kepribadian dicantumkan pada Aksis II dalam sistem diagnostik
multiaksial DSM-IV dan PPGDJ III.1

DSM-IV menetapkan kriteria umum diagnostik untuk gangguan kepribadian yang meliputi:
3

a) Pola pengalaman batin dan perilaku yang menyimpang dari budaya yang diharapkan.
Pola ini dapat bermanifestasi dalam dua atau lebih area berikut: kesadaran, afek,
pengendalian impuls, dan hubungan dengan orang lain.
Pola yang tidak fleksibel dan berakar mendalam (menyerap).
Pola yang mengarah pada penderitaan yang signifikan.
Pola yang stabil dan dapat ditelusuri kembali ke masa remaja dan awal masa dewasa.
Pola ini bukan merupakan manifestasi dari gangguan mental lain.
Pola ini tidak memiliki efek fisiologis langsung dari penggunaan zat (contoh

b)
c)
d)
e)
f)

penyalahgunaan zat, medikasi) atau kondisi medis umum (contoh cidera kepala).2
DSM membagi gangguan kepribadian menjadi 3 kelompok:

Kelompok A : orang yang dianggap aneh atau eksentrik. Kelompok ini mencakup

gangguan kepribadian paranoid, skizoid, dan skizotipal.


Kelompok B : orang dengan perilaku yang terlalu dramatis, emosional, dan eratik
(tidak menentu). Kelompok ini terdiri dari gangguan kepribadian antisosial, ambang

(borderline), histrionik, dan narsistik.


Kelompok C : orang yang sering kali tampak cemas atau ketakutan. Kelompok ini
mencakup gangguan kepribadian menghindar, dependen, dan obsesif-kompulsif.1,2

PPDGJ III membagi gangguan kepribadian menjadi beberapa kelompok :


F60

Gangguan Kepribadian Khas


F60.0 gangguan kepribadian paranoid
F60.1 gangguan kepribadian schizoid
F60.2 gangguan kepribadian dissosial
F60.3 gangguan kepribadian emosional
.30 tipe impulsive
.31 tipe ambang
F60.4 gangguan kepribadian histrionic
F60.5 gangguan kepribadian anankastik
F60.6 gangguan kepribadian cemas (menghindar)
F60.7 gangguan kepribadian dependen
F60.8 gangguan kepribadian khas lainnya
F60.9 gangguan kepribadian YTT

F61

Gangguan Kepribadian Campuran dan Lainnya


F61.1 gangguan kepribadian campuran
F61.2 perubahan kepribadian yang salah3
4

Pedoman diagnostic gangguan kepribadian khas menurut PPDGJ III

Kondisi yang tidak berkaitan langsung dengan kerusakan penyakit otak berat

(gross brain demage or disease), atau gangguan jiwa lain;


Memnuhi kriteria berikut ini :
a. Disharmoni sikap dan perilaku yang cukup berat, biasanya

meliputi

beberapa bidang fungsi, misalnya afek, kesiagaan, pengendalian impuls,


cara memandang dan berpikir, serta gaya berhubungan dengan orang lain;
b. Pola perilaku abnormal berlangsung lama, berjangka panjang, dan tidak
terbatas pada episode gangguan jiwa;
c. Pola perilaku abnormalnya bersifat pervasive

(mendalam) dan

maladaptive yang jelas terhadap berbagai keadaan pribadi dan social yang
luas;
d. Menifestasi diatas selalu muncul pada masa akan atau remaja dan berlanjut
sampai usia dewasa;
e. Gangguan ini menyebabkan penderitaan pribadi (personal distress) yang
cukup berarti, tetapi baru menjadi nyata setelah perjalanan yang lanjut;
f. Gangguan ini biasanya, tetapi tidak selalu, berkaitan secara bermakna

dengan masalah-masalah dalam pekerjaan dan kinerja social.


Untuk budaya yang berbeda, mungkin penting untuk mengembangkan
seperangkat kriteria khas yang berhubungan dengan norma social, peraturan
dan kewajiban.3

ETIOLOGI
A. Faktor genetik
Bukti terbaik bahwa faktor genetik berkontribusi terhadap gangguan kepribadian
berasal dari investigasi dari 15.000 pasangan kembar di Amerika Serikat. Penelitian
5

tersebut menunjukkan bahwa kembar monozigot memiliki kesesuaian untuk gangguan


kepribadian beberapa kali lipat dibandingkan dengan kembar dizigotik. Selain itu,
menurut sebuah studi, kembar monozigot yang dibesarkan secara terpisah memiliki
kesamaan dengan kembar monozigot yang dibesarkan bersama-sama. Kemiripan meliputi
beberapa penilaian kepribadian dan temperamen, minat pekerjaan dan waktu luang, dan
sikap sosial.2
Kelompok A lebih umum memiliki kaitan biologis anggota keluarga dengan
skizofrenia daripada di kelompok kontrol. Lebih banyak gangguan kepribadian
schizotypal terjadi dalam sejarah keluarga penderita schizophrenia daripada di kelompok
kontrol. Korelasi kurang ditemukan antara gangguan kepribadian paranoid atau skizoid
dan skizofrenia.4
Kelompok B tampaknya memiliki dasar genetik. Gangguan kepribadian antisosial
dikaitkan dengan gangguan penggunaan alkohol. Depresi adalah latar belakang yang
umum pada keluarga pasien dengan gangguan kepribadian ambang (borderline). Pasienpasien ini lebih memiliki kerabat dengan gangguan mood daripada kelompok kontrol, dan
orang-orang dengan gangguan kepribadian borderline sering memiliki gangguan mood
juga. Sebuah asosiasi yang kuat ditemukan antara gangguan kepribadian histrionik dan
gangguan somatisasi (sindrom Briquet); pasien dengan gangguan-gangguan tersebut
menunjukkan gejala yang tumpang tindih.1,2
Kelompok C mungkin juga memiliki dasar genetik. Pasien dengan gangguan
kepribadian menghindar seringkali memiliki tingkat kecemasan yang tinggi. Ciri-ciri
obsesif-kompulsif yang lebih sering terjadi pada kembar monozigot dibandingkan kembar
dizigotik, dan pasien dengan kepribadian obsesif-kompulsif menunjukkan beberapa
tanda-tanda yang terkait dengan depresi (misalnya memendeknya periode latensi rapid
eye movement (REM) dan hasil abnormal dexamethasone-suppression test (DST).1
B. Faktor biologi
Hormon
Orang yang menunjukkan sifat impulsif juga sering menunjukkan tingkat testosteron,
17-estradiol, dan estron yang tinggi. Pada primata, androgen meningkatkan
kemungkinan agresi dan perilaku seksual, tetapi peran testosteron dalam agresi
manusia tidak jelas. Hasil DST ditemukan abnormal pada beberapa pasien dengan

gangguan kepribadian borderline yang juga memiliki gejala depresi.2


Monoamine Oksidase trombosit
6

Pada binatang monyet, rendahnya tingkat monoamine oksidase trombosit berkaitan


dengan aktifitas dan keakraban. Mahasiswa dengan kadar monoamine oksidase
trombosit rendah dilaporkan menghabiskan lebih banyak waktu dalam kegiatan sosial
dari siswa dengan kadar monoamine oksidase trombosit tinggi. Tingkat monoamine
oksidase trombosit yang rendah juga telah dicatat pada beberapa pasien dengan

gangguan skizotipal.2
Gerakan mata pursuit halus
Gerakan mata pursuit halus adalah saccadic (yaitu, gelisah) pada orang yang
introvert, yang memiliki rasa rendah diri dan cenderung untuk menarik diri, dan yang
memiliki gangguan kepribadian skizotipal. Temuan ini tidak memiliki aplikasi klinis,

tetapi mereka menunjukkan peran inheritance.2


Neurotransmiter
Endorfin memiliki efek yang sama dengan morfin eksogen, seperti analgesia dan
penekan gairah (arousal). Tingkat endorfin endogen yang tinggi mungkin
berhubungan dengan orang-orang yang phlegmatis. Studi sifat kepribadian dan
sistem dopaminergik dan serotonergik mengindikasikan fungsi gairah-mengaktifkan
untuk neurotransmitter. Tingkat 5-hydroxyindoleacetic asam (5-HIAA), suatu
metabolit serotonin, adalah rendah pada orang yang mencoba bunuh diri dan pada
pasien yang impulsif dan agresif.
Meningkatkan kadar serotonin dengan agen serotonergik seperti fluoxetine (Prozac)
dapat menghasilkan perubahan dramatis dalam beberapa karakter kepribadian. Pada
banyak orang, serotonin mengurangi depresi, impulsif, dan dapat menghasilkan rasa
kesejahteraan. Peningkatan konsentrasi dopamin dalam sistem saraf pusat, yang
diproduksi oleh psikostimulan tertentu (misalnya, amfetamin) dapat menyebabkan
euforia. Efek neurotransmitter pada sifat kepribadian telah dihasilkan banyak
perhatian dan kontroversi tentang apakah sifat-sifat kepribadian bawaan atau
diperoleh.2

Elektrofisiologi
Perubahan konduktansi listrik pada elektroensefalogram (EEG) terjadi pada beberapa
pasien dengan gangguan kepribadian, paling sering jenis antisosial dan borderline;

perubahan ini muncul sebagai gelombang lambat aktivitas di EEG.1


C. Faktor psikoanalitik
Sigmund Freud menunjukkan bahwa sifat-sifat kepribadian berhubungan dengan
fiksasi pada satu tahap perkembangan psikoseksual. Misalnya, mereka dengan karakter
oral pasif dan dependen karena mereka terpaku pada tahap oral, ketika ketergantungan
7

pada orang lain untuk makanan adalah menonjol. Mereka dengan karakter anal keras
kepala, pelit, dan sangat teliti karena perebutan pelatihan toilet selama periode anal.
Wilhelm Reich kemudian menciptakan istilah character armor untuk
menggambarkan karakteristik gaya orang 'defensif untuk melindungi diri dari impuls
internal dan dari kecemasan interpersonal dalam hubungan yang signifikan. Teori Reich
memiliki pengaruh yang luas pada konsep-konsep kontemporer gangguan kepribadian
dan kepribadian. Misalnya, prangko yang unik setiap manusia dari kepribadian dianggap
sangat ditentukan oleh karakteristiknya atau mekanisme pertahanan dirinya. Setiap
gangguan kepribadian dalam Axis II memiliki sekelompok pertahanan yang membantu
dokter psikodinamik mengenali jenis karakter patologi yang ada. Orang dengan gangguan
kepribadian

paranoid,

misalnya,

menggunakan

proyeksi,

sedangkan

gangguan

kepribadian skizofrenia dikaitkan dengan penarikan.


Ketika pertahanan bekerja secara efektif, orang dengan gangguan kepribadian
menguasai perasaan cemas, depresi, marah, malu, bersalah, dan lainnya mempengaruhi.
Mereka sering melihat perilaku mereka sebagai ego-syntonic. Mereka juga mungkin
enggan untuk terlibat dalam proses pengobatan, karena pertahanan mereka adalah penting
dalam mengendalikan mempengaruhi menyenangkan, mereka tidak tertarik untuk
menyerahkan mereka.
Selain karakteristik pertahanan dalam gangguan kepribadian, fitur lain yang penting
adalah hubungan-hubungan objek internal. Selama pengembangan, pola-pola tertentu
dari diri dalam kaitannya dengan orang lain diinternalisasikan. Melalui introyeksi, anakanak menginternalisasi orang tua atau orang lain yang signifikan sebagai kehadiran
internal yang terus merasa seperti obyek bukan suatu diri. Melalui identifikasi, anak-anak
menginternalisasi orang tua dan orang lain sedemikian rupa sehingga sifat-sifat dari objek
eksternal dimasukkan ke dalam diri dan anak memiliki ciri-ciri. Representasi diri secara
internal dan representasi objek sangat penting dalam mengembangkan kepribadian dan,
melalui eksternalisasi dan identifikasi proyektif, yang dimainkan di skenario antarpribadi
di mana orang lain yang dipaksa memainkan peran dalam kehidupan internal seseorang.
Oleh karena itu, orang dengan gangguan kepribadian juga diidentifikasi oleh pola tertentu
keterkaitan interpersonal yang berasal dari pola-pola hubungan internal objek.1
JENIS GANGGUAN KEPRIBADIAN

A. GANGGUAN KEPRIBADIAN PARANOID


Definisi: kecurigaan dan ketidakpercayaan pada orang lain bahwa orang lain berniat buruk
kepadanya, bersifat pervasif, awitan dewasa muda, nyata dalam pelabagai konteks.1
Epidemiologi
Prevalensi gangguan kepribadian paranoid adalah 0,5 2,5% dari seluruh populasi.
Orang dengan gangguan ini jarang sekali mencari pengobatan atas kesadarannya sendiri;
ketika diantar oleh pasangan atau kerabatnya, mereka cenderung menarik diri dan tampak
tidak menderita. Memiliki saudara kandung yang skizofrenia menunjukkan insiden lebih
tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Gangguan ini lebih sering pada pria dibanding wanita
dan tampak tidak berkaitan dengan model dalam keluarga. Diyakini bahwa lebih sering
dialami oleh kelompok minoritas, imigran, dan orang yang tuna rungu (tuli), atau orang
dengan budaya yang berperilaku sangat hati-hati atau defensif dibandingkan dengan populasi
umum.2
Fitur klinis
Tanda khas dari gangguan kepribadian paranoid adalah kecurigaan yang berlebihan
dan ketidakpercayaan orang lain yang dinyatakan sebagai kecenderungan pervasif untuk
menafsirkan tindakan orang lain sebagai sengaja merendahkan, jahat, mengancam,
mengeksploitasi, atau menipu. Kecenderungan ini dimulai dengan awal masa dewasa dan
muncul dalam berbagai konteks. Hampir selalu, orang-orang dengan gangguan ini
mengharapkan untuk dieksploitasi atau dirugikan oleh orang lain dalam beberapa cara.
Mereka sering terlibat dalam sengketa, tanpa pembenaran, teman atau rekan setia atau
kepercayaan. Orang seperti ini sering cemburu dan, tanpa alasan mempertanyakan kesetiaan
pasangan mereka atau mitra seksual. Orang dengan gangguan ini mengeksternalisasi emosi
mereka sendiri dan menggunakan mekanisme pertahanan proyeksi, mereka atribut lain
impuls dan pikiran bahwa mereka tidak dapat menerima dalam diri mereka. Ide referensi dan
ilusi logis membela yang umum.1,2
Diagnosis
Pada pemeriksaan psikiatrik, pasien dengan gangguan kepribadian paranoid seringkali
kaku dan mengagalkan untuk mencari pertolongan dari ahli psikiatrik. Ketegangan muskular,
ketidakmampuan untuk rileks, dan keharusan untuk mengamati lingkungan dapat memberi
petunjuk sebagai bukti, dan siap pasien cenderung kurang humoris dan sangat serius.
Walaupun pernyataan dari argumen mereka dapat salah, namun kemampuan berbicara itu

memiliki tujuan terarah dan logis. Isi pikiran menunjukkan adanya proyeksi, prejudice, dan
kadang-kadang ideas of reference.2
Pedoman diagnostik untuk gangguan kepribadian paranoid berdasarkan PPDGJ III, yaitu:

Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri:


1. Kepekaan berlebihan terhadap kegagalan dan penolakan
2. Kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam, misalnya menolak untuk
memaafkan suatu penghinaan dan luka hati atau masalah kecil
3. Kecurigaan dan kecenderungan yang mendalam untuk mendistorsikan pengalaman
dengan menyalahartikan tindakan orang lain yang netral atau bersahabat sebagai
suatu sikap permusuhan atau penghinaan
4. Perasaan bermusuhan dan ngotot tentang hak pribadi tanpa memperhatikan situasi
yang ada
5. Kecurigaan yang berulang, tanpa dasar, tentang kesetiaan seksual dari pasangannya
6. Kecenderungan untuk merasa dirinya penting secara berlebihan, yang
bermanifestasi dalam sikap yang selalu merujuk ke diri sendiri
7. Preokupasi dengan penjelasan-penjelasan yang bersekongkol dan tidak substantif
dari suatu peristiwa, baik yang menyangkut diri pasien sendiri maupun dunia pada

umumnya.
Untuk diagnosis pasti adanya gangguan kepribadian paranoid setidaknya individu

yang bersangkutan memiliki 3 kriteria diatas.3


Kriteria diagnostik gangguan kepribadian paranoid berdasarkan DSM IV:
A. Sebuah ketidakpercayaan meluas dan kecurigaan orang lain sehingga motif mereka
ditafsirkan sebagai jahat, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai
konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) sebagai berikut:
1. kecurigaan, tanpa dasar yang cukup, bahwa orang lain memanfaatkan,
membahayakan, atau menipu dia
2. sibuk dengan keraguan yang tidak tepat tentang loyalitas atau kepercayaan
dari teman-teman atau rekan
3. enggan untuk menceritakan pada orang lain karena takut yang tidak beralasan
bahwa informasi tersebut akan digunakan jahat terhadap dia atau dia
4. membaca arti merendahkan yang tersembunyi atau mengancam dalam
komentar atau peristiwa
5. terus-menerus dendam, menolak memaafkan penghinaan atau masalah kecil
yang menyebabkan hatinya terluka
6. merasakan serangan pada karakter atau reputasinya yang tidak jelas dan cepat
untuk bereaksi dengan marah atau membalas
7. memiliki kecurigaan yang berulang, tanpa pembenaran, tentang kesetiaan
pasangan atau pasangan seksual

10

B. Tidak terjadi secara eksklusif selama skizofrenia, gangguan mood dengan ciri
psikotik, atau gangguan psikotik lain dan bukan karena efek fisiologis langsung dari
suatu kondisi medis umum.2
Catatan : apabila kriteria ditemukan sebelum awitan Skizofrenia, ditambahkan
premorbid.
Diagnosis banding
Gangguan kepribadian paranoid dapat dibedakan dari gangguan waham dengan tidak
ditemukannya waham yang tidak terbantahkan (fixed). Tidak seperti orang dengan skizofrenia
paranoid, orang dengan gangguan kepribadian tidak memiliki halusinasi atau gangguan
pikiran. Dibandingkan dengan gangguan kepribadian ambang, pasien dengan paranoid jarang
mampu terlalu terlibat, relasi yang kacau balau dengan orang lain. Pasien dengan paranoid
tidak memiliki riwayat panjang perilaku antisosial seperti orang dengan karakter antisosial.
Orang dengan gangguan kepribadian skizoid umumnya menarik diri dan menyendiri dan
tidak memiliki pemikiran yang paranoid.1
Tatalaksana
A. Psikoterapi
Psikoterapi adalah pengobatan pilihan untuk gangguan kepribadian paranoid. Terapis
harus jujur dalam menangani pasien ini. Apabila terapis melakukan ketidaktetapan atau
kesalahan, seperti terlambat, kejujuran dan permintaan maaf lebih disukai untuk
penjelasan defensif. Terapis harus ingat bahwa kepercayaan dan toleransi keakraban
adalah hal yang menjadi perhatian bagi pasien dengan gangguan ini. Psikoterapi
individual membutuhkan gaya yang profesional dan hangat dari terapis. Pasien dengan
gangguan ini kurang baik dalam psikoterapi kelompok, walaupun hal ini dapat
memperbaiki kemampuan sosial dan mengurangi kecurigaan melalui role playing.
Pasien memiliki perilaku merasa terancam sehingga terapis harus mengatur atau
membatasi tindakan mereka. Tuduhan delusi harus ditangani dengan realistis tapi
lembut dan tanpa mempermalukan pasien. Pasien yang paranoid sangat takut ketika
merasa bahwa terapis yang berusaha untuk membantu mereka (pasien) yang lemah dan
tak berdaya, karena itu, terapis tidak harus menawarkan untuk mengambil kontrol
kecuali pasien bersedia dan mampu melakukannya.2
B. Farmakoterapi
Pada banyak kasus, agen anti-ansietas seperti diazepam (Valium) cukup. Apabila
diperlukan, dapat diberikan anti-psikotik seperti haloperidol (Haldol) dalam dosis kecill
11

dan untuk periode singkat untuk menangani kegelisahan pasien yang buruk atau
pemikiran seakan-akan delusi. Obat anti-psikotik pimozide (Orap) berhasil mengurangi
pemikiran paranoid pada beberapa pasien.1
Perjalanan gangguan dan prognosis
Pada beberapa gangguan kepribadian paranoid berlangsung seumur hidup; pada yang
lainnya dapat mendahului terjadinya skizofrenia. Sikap paranoid dapat memberikan cara
untuk pembentukan reaksi, perhatian yang sesuai dengan moralitas, dan sifat mengutamakan
orang lain atau penghilang stress. Secara umum, orang dengan gangguan kepribadian
paranoid memiliki masalah berkaitan dengan pekerjaan dan berhubungan dengan orang lain
seumur hidup. Masalah pekerjaan dan dalam kehidupan pernikahan juga umum terjadi.2
B. GANGGUAN KEPRIBADIAN SKIZOID
Definisi: Pola perilaku berupa pelepasan diri dari hubungan sosial disertai kemampuan
ekspresi emosi yang terbatas dalam hubungan interpersonal. Bersifat pervasif, berawal sejak
dewasa muda dan nyata dalam pelbagai konteks. Pasien umumnya dilihat oleh orang lain
sebagai orang yang aneh, terisolasi, dan kesepian.1
Epidemiologi
Prevalensi gangguan kepribadian skizoid belum dibuktikan secara jelas, tetapi
gangguan ini mempengaruhi 7,5% dari seluruh populasi. Ratio berdasarkan gender juga
belum diketahui; beberapa penelitian melaporkan ratio pria:wanita adalah 2:1. Orang dengan
gangguan ini tertarik pada pekerjaan yang sendirian yang hanya mencakup sedikit bahkan
tidak ada kontak dengan orang lain. Banyak yang lebih memilih pekerjaan pada malam hari
dibandingkan siang, sehingga mereka tidak harus berhubungan dengan orang lain.2
Fitur klinis
Orang dengan gangguan kepribadian skizoid tampaknya menjadi dingin dan
menyendiri, mereka tampak terpencil dan menunjukkan tidak ada keterlibatan dengan
peristiwa sehari-hari dan keprihatinan terhadap orang lain. Mereka tampil tenang, jauh,
exclusive, dan tidak ramah. Mereka mungkin mengejar kehidupan mereka sendiri dengan
kebutuhan sangat sedikit atau kerinduan untuk ikatan emosional, dan mereka yang terakhir
menyadari perubahan dalam mode populer.
Sejarah kehidupan dari orang-orang tersebut mencerminkan kepentingan soliter dan
sukses di nonkompetitif, pekerjaan kesepian dimana orang lain sulit untuk mentolerir.
Kehidupan seksual mereka mungkin ada secara eksklusif dalam fantasi, dan mereka dapat
12

menunda tanpa batas seksualitas dewasa. Pria mungkin tidak menikah karena mereka tidak
mampu mencapai keintiman; wanita pasif mungkin setuju untuk menikah dengan pria yang
agresif yang ingin pernikahan. Orang dengan gangguan kepribadian skizoid biasanya
mengungkapkan ketidakmampuan seumur hidup untuk mengekspresikan kemarahan secara
langsung. Mereka dapat menginvestasikan energi afektif yang sangat besar dalam
kepentingan yang tidak berkaitan dengan manusia, seperti matematika dan astronomi, dan
mereka mungkin sangat melekat pada hewan. Mode diet dan kesehatan, gerakan filosofis, dan
skema perbaikan sosial, terutama yang tidak memerlukan keterlibatan pribadi, sering
memikat mereka.
Meskipun orang-orang dengan gangguan kepribadian skizoid muncul egois dan hilang
dalam lamunan, mereka memiliki kapasitas normal untuk mengenali realitas. Karena tindakan
agresif jarang dimasukkan dalam repertoar respon biasa, ancaman yang paling nyata atau
khayalan, yang ditangani oleh kemahakuasaan-angan atau pengunduran diri. Mereka sering
dilihat sebagai menyendiri, namun orang-orang seperti kadang-kadang dapat memahami,
mengembangkan, dan memberikan kepada dunia ide-ide benar-benar asli dan kreatif.2
Diagnosis
Pada pemeriksaan psikiatrik, pasien dengan gangguan kepribadian skizoid dapat
tampak sakit dalam keadaan istirahat di tempat. Mereka jarang mengadakan kontak mata, dan
pewawancara dapat menduga bahwa pasien ingin sekali menyudahi wawancara. Afek
terbatas, menyendiri, atau tidak tepat serius, tetapi di balik sikap acuh tak acuh, dokter yang
sensitif dapat mengenali ketakutan. Pasien-pasien ini sulit untuk menjadi ceria. Upaya pada
humor mungkin tampak remaja dan melenceng. Kemampuan bicara mereka terarah, tetapi
mereka cenderung memberikan jawaban singkat untuk pertanyaan dan untuk menghindari
percakapan spontan. Mereka kadang-kadang dapat menggunakan kiasan yang tidak biasa,
seperti metafora aneh, dan mungkin terpesona dengan benda mati atau konstruksi metafisik.
Konten mental mereka dapat mengungkapkan rasa yang tidak beralasan dari keintiman
dengan orang-orang yang mereka tidak tahu siapa mereka baik atau tidak dilihat untuk waktu
yang lama. Kemampuan sensoris utuh, fungsi memori baik, dan interpretasi pepatah mereka
abstrak.
Pedoman diagnostik untuk gangguan kepribadian skizoid berdasarkan PPDGJ III, yaitu:

Gangguan kepribadian yang memenuhi deskripsi berikut:


1. Sedikit aktivitas yang memberikan kesenangan
2. Emosi dingin, afek datar atau tak peduli
13

3. Kurang mampu untuk mengekspresikan kehangatan, kelembutan atau kemarahan


4.
5.
6.
7.
8.

terhadap orang lain


Tampak nyata ketidakpedulian baik terhadap pujian maupun kecaman
Kurang tertarik untuk mengalami pengalaman seksual dengan orang lain
Hampir selalu memilih aktivitas yang dilakukan sendiri
Preokupasi dengan fantasi dan introspeksi yang berlebihan
Tidak mempunyai teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab (kalau ada hanya

satu) dan tidak ada keinginan untuk menjalin hubungan seperti itu
9. Sangat tidak sensitif terhadap norma dan kebiasaan sosial yang berlaku
Untuk diagnosis pasti adanya gangguan kepribadian paranoid setidaknya individu
yang bersangkutan memiliki 3 kriteria diatas.3
Kriteria diagnostik gangguan kepribadian skizoid berdasarkan DSM IV:
A. Sebuah pola pervasif pelepasan dari hubungan sosial dan ekspresi emosi yang terbatas
dalam hubungan interpersonal, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam
berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) sebagai berikut:
1. Tidak ada keinginan atau tidak menikmati hubungan dekat, termasuk menjadi
bagian dari sebuah keluarga
2. hampir selalu memilih kegiatan soliter
3. memiliki sedikit, jika ada, minat memiliki pengalaman seksual dengan orang
4.
5.
6.
7.
B. Tidak

lain
hanya sedikit aktivitas yang memberikannya kebahagiaan
tidak memiliki teman dekat atau kepercayaan selain keluarga tingkat pertama
tidak peduli pada pujian atau kecaman/ kritik dari orang lain
menunjukkan emosi yang dingin, afek datar
terjadi secara eksklusif selama skizofrenia, gangguan mood dengan fitur

psikotik, gangguan psikotik, atau gangguan perkembangan pervasif dan bukan karena
efek fisiologis langsung dari suatu kondisi medis umum.2
Diagnosa banding
Gangguan kepribadian skizoid dibedakan dari skizofrenia, gangguan delusi, dan
gangguan afektif dengan fitur psikotik berdasarkan periode dengan gejala psikotik yang
positif, seperti delusi dan halusinasi di bagian kedua. Walaupun pasien gangguan kepribadian
paranoid memiliki banyak kemiripan dengan pasien gangguan kepribadian skizoid, pasien
gangguan paranoid menunjukkan keterlibatan lebih ikatan sosial, sejarah perilaku verbal
agresif, dan kecenderungan lebih besar untuk proyeksi perasaan mereka ke orang lain. Jika
hanya secara emosional terbatas, pasien dengan obsesif-kompulsif dan gangguan kepribadian
menghindar mengalami kesepian sebagai dysphoric, memiliki sejarah yang lebih kaya dari
hubungan-hubungan objek masa lalu, dan tidak terlibat sebanyak dalam lamunannya autis.
14

Secara teoritis, perbedaan utama antara pasien dengan gangguan kepribadian skizotipal dan
satu dengan gangguan kepribadian skizoid adalah bahwa pasien yang skizotipal lebih mirip
dengan pasien dengan skizofrenia dalam keanehan persepsi, pikiran, perilaku, dan
komunikasi. Pasien dengan gangguan kepribadian menghindar terisolasi tapi sangat ingin
berpartisipasi dalam kegiatan, karakteristik tersebut tidak ditemukan pada mereka dengan
gangguan kepribadian skizoid. Gangguan kepribadian skizoid dibedakan dari gangguan
autistik dan sindrom Asperger dengan lebih interaksi sosial sangat terganggu dan perilaku
stereotip.2
Tatalaksana
A. Psikoterapi
Tatalaksana pasien dengan gangguan kepribadian skizoid mirip dengan penanganan
pada orang dengan gangguan kepribadian paranoid. Pasien dengan skizoid cenderung
mengarah introspeksi, bagaimanapun juga, kecenderungan ini bersifat konsisten dengan
harapan psikoterapis, dan pasien menjadi sangat setia. Seiring berkembangnya kepercayaan,
pasien dengan skizoid dapat dengan kegaduhan yang hebat, menunjukkan fantasi yang sangat
banyak, teman imaginer, dan ketakutan atas ketergantungan yang tidak tertahankan meskipun
bersatu dengan terapis.4
Dalam keadaan terapi kelompok, pasien dengan gangguan kepribadian skizoid dapat
diam untuk waktu yang lama; meskipun demikian, mereka nantinya akan berpartisipasi.
Pasien harus dilindungi terhadap serangan agresif dari anggota kelompok karena
kecenderungannya untuk diam. Seiring waktu, anggota kelompok akan menjadi penting bagi
pasien dengan skizoid dan menumbuhkan satu-satunya interaksi sosial dalam kehidupannya
yang terisolasi.1,2
B. Farmakoterapi
Farmakoterapi dengan dosis kecil anti-psikotik, anti-depresan, dan psikostimulan
memberikan keuntungan bagi beberapa pasien. Agen serotonergik membuat pasien kurang
sensitif terhadap penolakan. Benzodiazepine dapat mengurangi kecemasan interpersonal.1
Perjalanan Gangguan dan prognosis
Timbulnya gangguan kepribadian skizoid biasanya terjadi pada anak usia dini. Seperti
dengan semua gangguan kepribadian, gangguan kepribadian skizoid adalah tahan lama, tetapi
belum tentu seumur hidup. Proporsi pasien yang dikenakan skizofrenia tidak diketahui.2

15

C. GANGGUAN KEPRIBADIAN ANTISOSIAL


Definisi : pola perilaku pengabaian dan perlanggaran pelbagai hak orang lain, bersifat
pervasif, berawal sejak usia dewasa muda dan nyata dalam pelbagai konteks.1
Epidemiologi
Prevalensi gangguan kepribadian antisosial adalah 3% pada pria dan 1% pada wanita.
Hal ini paling umum ditemukan di daerah perkotaan miskin dan antara penduduk yang sering
berpindah-pindah. Timbulnya gangguan adalah sebelum usia 15. Gadis biasanya memiliki
gejala sebelum pubertas, dan anak laki-laki bahkan lebih awal. Dalam populasi penjara,
prevalensi gangguan kepribadian antisosial dapat setinggi 75%. Apabila terdapat riwayat
anggota keluarga yang menderita gangguan yang sama, gangguan ini lima kali lebih umum di
antara tingkat pertama kerabat laki-laki dengan gangguan dari kelompok kontrol.2
Fitur klinis
Pasien dengan gangguan kepribadian antisosial seringkali dapat tampak normal dan
bahkan menawan dan manis. Riwayat mereka mengungkapkan banyak bidang kehidupan
berfungsi teratur. Berbohong, pembolosan, lari dari rumah, pencurian, perkelahian,
penyalahgunaan zat, dan kegiatan ilegal adalah pengalaman khas yang pasien laporkan
sebagai awal di masa kecil. Pasien-pasien ini seringkali terhadap dokter dengan jenis kelamin
berlawanan memberikan kesan kepribadian yang berwarna-warni dan bergairah, tetapi
terhadap dokter yang berjenis kelamin sama mungkin mereka tampak manipulatif dan
menuntut. Pasien dengan gangguan kepribadian antisosial tidak menunjukkan kecemasan
atau depresi, tampak secara kasar tidak sesuai dengan situasi mereka, meskipun ancaman
bunuh diri dan keluhan somatik mungkin umum. Penjelasan mereka sendiri mengenai
perilaku antisosial mereka membuatnya tampak ceroboh, tapi konten mental mereka
mengungkapkan tidak adanya delusi dan tanda-tanda lain dari berpikir irasional. Bahkan,
mereka sering memiliki rasa tinggi pengujian realitas dan seringkali terkesan memiliki
kecerdasan lisan yang baik.
Orang dengan gangguan kepribadian antisosial sangat mewakili apa yang disebut para
penipu. Mereka sangat manipulatif dan sering dapat berbicara orang lain untuk berpartisipasi
dalam skema cara mudah untuk membuat uang atau untuk mencapai ketenaran. Skema ini
akhirnya dapat memimpin sikap tidak berhati-hati sampai menimbulkan kekacauan finansial
atau rasa malu sosial atau keduanya. Mereka dengan gangguan ini tidak mengatakan
kebenaran dan tidak dapat dipercaya untuk melaksanakan tugas apapun atau mematuhi semua
16

standar konvensional moralitas. Pergaulan bebas, penyalahgunaan pasangan, penganiayaan


anak, dan mengemudi dalam keadaan mabuk adalah kejadian umum dalam hidup mereka.
Temuan penting adalah kurangnya penyesalan atas tindakan ini, yaitu, mereka tampak kurang
memiliki hati nurani.1,2
Diagnosis
Pasien dengan gangguan kepribadian antisosial bisa menipu bahkan dokter paling
berpengalaman. Dalam sebuah wawancara, pasien dapat tampak tenang dan dapat dipercaya,
tetapi di balik itu (atau menggunakan istilah Hervey Cleckley itu, topeng kewarasan)
mengintai ketegangan, permusuhan, mudah marah, dan kemarahan.
Sebuah pemeriksaan diagnostik harus mencakup pemeriksaan neurologis menyeluruh.
Karena pasien sering menunjukkan hasil EEG abnormal dan tanda-tanda neurologis ringan
yang menunjukkan kerusakan otak minimal dalam masa kanak-kanak, temuan ini dapat
digunakan untuk mengkonfirmasi kesan klinis.

Pedoman diagnostik untuk gangguan kepribadian dissosial berdasarkan PPDGJ III,


yaitu:

Gangguan kepribadian yang biasanya menjadi perhatian disebabkan adanya


perbedaan yang besar antara perilaku dan norma social yang berlaku, dan ditandai
oleh:
1. Bersikap tidak peduli dengan perasaan orang lain
2. Sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan berlangsung terus-menerus, serta
tidak peduli terhadap norma, peraturan dan kewajiban sosial
3. Tidak mampu memelihara suatu hubungan agar berlangsung lama, meskipun tidak
ada kesulitan untuk mengembangkannya
4. Toleransi terhadap frustasi sangat rendah dan ambang yang rendah untuk
melampiaskan agresi, termasuk tindakan kekerasan
5. Tidak mampu mengalami rasa salah dan menarik manfaat dari pengalaman,
khususnya dari hukuman
6. Sangat cenderung menyalahkan orang lain atau menawarkan rasionalisasi yang

masuk akal untuk perilaku yang membuat pasien konflik dengan masyarakat
Untuk diagnosis pasti adanya gangguan kepribadian dissosial setidaknya individu
yang bersangkutan memiliki 3 kriteria diatas.3
Kriteria diagnostik gangguan kepribadian antisosial berdasarkan DSM-IV:

17

A. Ada pola pervasif mengabaikan dan melanggar hak orang lain yang terjadi sejak usia
15 tahun, seperti yang ditunjukkan oleh tiga (atau lebih) sebagai berikut:
1. kegagalan untuk mematuhi norma-norma, peraturan, dan kewajiban sosial
2. tipu daya, seperti ditunjukkan oleh berulang kali berbohong atau menipu orang
3.
4.
5.
6.

lain untuk keuntungan pribadi atau kesenangan


impulsif atau kegagalan untuk merencanakan
iritabilitas dan agresivitas, seperti ditunjukkan oleh perkelahian fisik berulang
sembrono mengabaikan keselamatan diri sendiri atau orang lain
secara menetap tidak bertanggung jawab, seperti yang ditunjukkan oleh
kegagalan yang berulang untuk mempertahankan perilaku kerja yang

konsisten atau menghormati kewajiban keuangan


7. kurangnya penyesalan, seperti ditunjukkan dengan menjadi acuh tak acuh
terhadap atau rasionalisasi memiliki terluka, dianiaya, atau dicuri dari yang
lain
B. Individu setidaknya usia 18 tahun.
C. Ada bukti dari gangguan perilaku dengan onset sebelum usia 15 tahun.
D. Terjadinya perilaku antisosial tidak secara eksklusif selama skizofrenia atau episode
manik.2
Diagnosis Banding
Gangguan kepribadian antisosial dapat dibedakan dari perilaku ilegal yang melibatkan
banyak bidang kehidupan seseorang. Dorothy Lewis menemukan bahwa banyak orang-orang
ini memiliki gangguan neurologis atau mental yang diabaikan atau tidak terdiagnosis. Lebih
sulit membandingkan gangguan kepribadian antisosial dari penyalahgunaan zat. Ketika kedua
penyalahgunaan zat dan perilaku antisosial dimulai di masa kecil dan berlanjut ke kehidupan
dewasa, kedua gangguan harus didiagnosa. Ketika perilaku antisosial jelas manifestasi
sekunder dari penyalahgunaan alkohol atau penyalahgunaan zat lain sebelumnya, diagnosis
gangguan kepribadian antisosial tidak dibenarkan.2
Dalam mendiagnosis gangguan kepribadian antisosial, dokter harus menyesuaikan
untuk efek distorsi dari status sosial ekonomi, latar belakang budaya, dan seks. Selanjutnya,
diagnosis gangguan kepribadian antisosial tidak dibenarkan ketika keterbelakangan mental,
skizofrenia, atau mania dapat menjelaskan gejala.5
Pengobatan
A. Psikoterapi
Lebih efektif bila di rawat, karena dengan hidup diantara sebaya nya, sering akan
bertambah motivasinya, jadi biasanya kelompok self help akan lebih berguna

18

dibandingkan bila mereka masuk penjara untuk berubah. Penting diadakannya


pembatasan dengan aturan yang mantap.1
B. Farmakoterapi
Farmakoterapi digunakan untuk menangani gejala-gejala seperti kecemasan,
kemarahan, dan depresi, namun karena pasien sering menyalahgunakan zat, obat-obatan
harus digunakan secara bijaksana. Jika pasien menunjukkan bukti gangguan atensi atau
gangguan hiperaktif, psikostimulan seperti methylphenidate (Ritalin) mungkin berguna.
Upaya telah dilakukan untuk mengubah metabolisme katekolamin dengan obat-obatan
dan untuk mengontrol perilaku impulsif dengan obat antiepilepsi, misalnya,
carbamazepine (Tegretol) atau valproate (Depakote), terutama jika bentuk gelombang
abnormal dicatat pada EEG. Beta adrenergic reseptor antagonis telah digunakan untuk
mengurangi agresi.5,6
Perjalanan gangguan dan Prognosis
Setelah gangguan kepribadian antisosial berkembang, berjalan tak henti-hentinya,
dengan tingginya perilaku antisosial biasanya terjadi pada akhir masa remaja. Prognosis
bervariasi. Beberapa laporan menunjukkan bahwa gejala penurunan seiring bertambahnya
usia. Banyak pasien mengalami gangguan somatisasi dan keluhan fisik. Gangguan depresif,
gangguan penggunaan alkohol, dan penyalahgunaan zat lainnya adalah umum terjadi.
D. GANGGUAN KEPRIBADIAN EMOSIONAL TIDAK STABIL
Definisi : bertindak impulsif tanpa mempetimbangkan dampaknya, afek atau emosi tidak
stabil atau kurang pengendalian diri, dapat menjurus kepada ledakan kemarahan atau perilaku
kekerasan. Dua varian dari gangguan kepribadian ini telah ditentukan odan keduanya
mempunyai persamaan motif umum berupa impulsivitas dan kekurangan pengendalian diri.1
F60.30 Tipe Impulsif
Ciri khas yang predominan adalah ketidakstabilan emosional dan kekurangan pengendalian
impuls (dorongan hati). Ledakan kekerasan atau perilaku mengancam lazim terjadi,
khususnya sebagai tanggapan terhadap kritik orang lain.1
F60.31 Tipe ambang (borderline)
Kriteria diagnostik gangguan kepribadian emosional tidak stabil tipe ambang:
Fitur klinis
Orang dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil hampir selalu tampak
berada dalam keadaan krisis. Suasana hati yang mudah berubah umum terjadi. Pasien dapat
menjadi argumentatif pada satu saat, depresi berikutnya, dan kemudian mengeluh tidak
19

memiliki perasaan. Perilaku pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil
sangat tidak terduga, dan prestasi mereka jarang pada tingkat kemampuan mereka. Sifat yang
menyakitkan dari kehidupan mereka tercermin dalam tindakan berulang merusak diri sendiri.
Pasien tersebut dapat memangkas pergelangan tangan mereka dan melakukan mutilasi diri
lainnya untuk memperoleh bantuan dari orang lain, untuk mengekspresikan kemarahan, atau
untuk menumpulkan dirinya untuk menenggelamkan afek.
Karena mereka merasa baik bergantung dan bermusuhan, orang dengan gangguan ini
memiliki hubungan interpersonal yang penuh gejolak. Mereka dapat bergantung pada orangorang dengan siapa mereka dekat dan, jika merasa frustasi, bisa mengungkapkan kemarahan
besar terhadap teman intim mereka. Pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak
stabil tidak bisa mentolerir sendirian, dan mereka lebih suka mencari persahabatan secara
terburu-buru, tidak peduli seberapa memuaskan, untuk menemani mereka. Untuk meredakan
kesepian, jika hanya untuk periode singkat, mereka menerima orang asing sebagai teman.
Mereka sering mengeluh tentang perasaan kekosongan kronis dan kebosanan dan kurangnya
rasa konsisten identitas (difusi identitas), ketika ditekan, mereka sering mengeluh tentang
bagaimana mereka biasanya merasa depresi, meskipun kesibukan lainnya mempengaruhi.
Otto Kernberg menggambarkan mekanisme pertahanan identifikasi proyektif yang
terjadi pada pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil. Dalam mekanisme
pertahanan primitif, aspek pada diri sendiri yang tidak bisa ditolerir diproyeksikan ke orang
lain; orang lain diinduksi untuk memainkan peran yang diproyeksikan, dan dua orang
bertindak serempak. Terapis harus menyadari proses ini sehingga mereka dapat bertindak
netral terhadap pasien tersebut.
Kebanyakan terapis setuju bahwa pasien ini menunjukkan kemampuan penalaran
biasa pada tes terstruktur, seperti Skala Kecerdasan Dewasa Wechsler, dan menunjukkan
proses menyimpang hanya pada tes proyektif tidak terstruktur, seperti tes Rorschach.
Fungsional, pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil merusak hubungan
mereka dengan mempertimbangkan setiap orang untuk menjadi semua baik atau semua
buruk. Mereka melihat orang sebagai figur yang memelihara atau sebagai figur yang sadis
dan dibenci yang menjauhkan mereka dari kebutuhan keamanan dan mengancam mereka
dengan ditinggalkan kapan pun mereka merasa tergantung. Pergeseran kesetiaan dari satu
orang atau kelompok ke kelompok lain sering terjadi. Beberapa dokter menggunakan konsep
panphobia, pananxiety, panambivalence, dan seksualitas kacau untuk menggambarkan
karakteristik pasien.2,4
20

Diagnosis
Pedoman diagnostik untuk gangguan kepribadian ini berdasarkan PPDGJ III, yaitu:
1. Terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsif tanpa
mempertimbangkan konsekuensinya, bersamaan dengan ketidakstabilan emosional
2. Dua varian yang khas adalah berkaitan dengan impulsivitas dan kekurangan
pengendalian diri.3
Menurut DSM-IV-TR, diagnosis gangguan kepribadian emosional tidak stabil dapat
dibuat awal masa dewasa ketika pasien menunjukkan setidaknya lima kriteria yang tercantum
pada kriteria diagnostik. Studi biologi dapat membantu dalam diagnosis, beberapa pasien
dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil menunjukkan memendeknya latensi
REM dan gangguan tidur kontinuitas, hasil DST yang abnormal, dan hasil hormon yang
abnormal thyrotropin-releasing test. Perubahan tersebut juga terlihat pada beberapa pasien
dengan gangguan depresi.
Pola pervasif ketidakstabilan hubungan interpersonal, citra diri, dan afek, dan impulsif
dengan awitan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan
oleh lima (atau lebih) sebagai berikut:
1. Upaya yang penuh kegelisahan untuk menghindari keadaan ditinggalkan yang nyata
maupun yang hanya dibayangkan. Catatan: Tidak meliputi perilaku bunuh diri atau
mutilasi diri tercakup dalam Kriteria 5.
2. pola hubungan interpersonal erat namun tidak stabil
3. gangguan identitas: citra diri atau kesadaran diri yang secara nyata dan terus menerus
tidak stabil
4. impulsif dalam setidaknya dua wilayah yang berpotensi merusak diri (misalnya,
pengeluaran, seks, penyalahgunaan zat, mengemudi sembrono, makan pesta). Catatan:
Tidak meliputi perilaku bunuh diri atau mutilasi diri tercakup dalam Kriteria 5
5. perilaku bunuh diri berulang, gestur, atau ancaman, atau perilaku mutilasi diri
6. Ketidakstabilan perasaan atau afek yang disebabkan oleh suasana hati (misalnya,
dysphoria episodik intens, lekas marah, atau kecemasan biasanya berlangsung
beberapa jam dan jarang lebih dari beberapa hari)
7. Perasaan kosong yang kronis
8. Kemarahan yang tidak pantas, intens atau kesulitan mengendalikan marah (misalnya,
menampilkan sering marah, kemarahan yang konstan, perkelahian fisik berulang)
9. Pemikiran paranoid yang berkaitan dengan stres berlangsung singkat gejala disosiatif
yang parah2
Diagnosis Banding
21

Gangguan ini dibedakan dari skizofrenia berdasarkan bahwa pasien dengan


kepribadian emosional tidak stabil tidak memiliki episode psikotik yang berkepanjangan,
gangguan berpikir, dan tanda-tanda skizofrenia klasik. Pasien dengan gangguan kepribadian
schizotypal menunjukkan keanehan ditandai berpikir, pikiran aneh, dan ideas of references.
Mereka dengan gangguan kepribadian paranoid ditandai oleh kecurigaan yang ekstrem.
Pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil pada umumnya memiliki
perasaan kekosongan kronis dan episode psikotik singkat; mereka bertindak impulsif dan
menuntut hubungan yang luar biasa, mereka mungkin memutilasi diri mereka sendiri dan
membuat usaha bunuh diri manipulatif.4
Tatalaksana
A. Psikoterapi
Psikoterapi untuk pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil adalah
penyelidikan intensif dan telah menjadi terapi pilihan. Untuk hasil terbaik, farmakoterapi
telah ditambahkan ke rejimen pengobatan.
Pelatihan keterampilan sosial, terutama dengan pemutaran rekaman video, membantu
memungkinkan pasien untuk melihat bagaimana tindakan mereka mempengaruhi orang
lain dan dengan demikian meningkatkan perilaku interpersonal mereka.
Pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil sering melakukannya
dengan baik di rumah sakit di mana mereka menerima psikoterapi intensif pada
psikoterapi individual dan secara kelompok. Di rumah sakit, mereka juga dapat
berinteraksi dengan anggota staf terlatih dari berbagai disiplin ilmu dan dapat diberikan
dengan terapi okupasi, rekreasi, dan profesi. Program-program tersebut sangat membantu
ketika lingkungan rumah merugikan rehabilitasi pasien karena konflik dalam keluarga
atau tekanan lain. Dalam lingkungan yang terlindung di rumah sakit, pasien yang terlalu
impulsif, merusak diri sendiri, atau mutilasi diri dapat dibatasi, dan tindakan mereka
dapat diamati. Dalam situasi yang ideal, pasien tetap di rumah sakit sampai mereka
menunjukkan tanda perbaikan, sampai dengan 1 tahun di beberapa kasus. Pasien
kemudian dapat dikeluarkan ke sistem suportif khusus, seperti rumah sakit, rumah sakit
malam, dan rumah transisi.
Bentuk khusus dari psikoterapi yang disebut terapi perilaku dialektis (dialectical
behavior therapy - DBT) telah digunakan untuk pasien dengan gangguan ini, terutama
mereka dengan perilaku parasuicidal, seperti sering memotong.5
B. Farmakoterapi
Farmakoterapi berguna untuk menangani dengan fitur kepribadian tertentu yang
mengganggu

fungsi

keseluruhan

pasien.

Antipsikotik

telah

digunakan

untuk
22

mengendalikan kemarahan, permusuhan, dan episode psikotik singkat. Antidepresan


meningkatkan mood depresi umum pada pasien dengan gangguan kepribadian ini. MAO
inhibitor (MAOI) dapat digunakan pada beberapa pasien dengan perilaku impulsif.
Benzodiazepin, khususnya alprazolam (Xanax), membantu kecemasan dan depresi, tetapi
beberapa pasien menunjukkan disinhibisi dengan kelas obat ini. Antikonvulsan, seperti
carbamazepine, dapat meningkatkan fungsi global untuk beberapa pasien. Agen
serotonergik seperti serotonin reuptake inhibitor (SSRI) telah membantu dalam beberapa
kasus.2,5
Perjalanan gangguan dan prognosis
Gangguan kepribadian borderline cukup stabil, pasien sedikit perubahan dari waktu
ke waktu. Studi longitudinal tidak menunjukkan perkembangan ke arah skizofrenia, tetapi
pasien memiliki insidensi tinggi dari episode depresi utama. Diagnosis biasanya dibuat
sebelum usia 40, ketika pasien sedang berusaha untuk membuat pilihan pekerjaan,
perkawinan, dan lainnya dan tidak dapat berurusan dengan tahap normal dari siklus hidup.
E. GANGGUAN KEPRIBADIAN HISTRIONIK
Definisi: pola perilaku berupa emosionalitas berlebih dan menarik perhatian, bersifat
pervasif, berawal sejak usia dewasa muda, dan nyata dalam pelbagai konteks.1
Epidemiologi
Menurut DSM-IV-TR, data terbatas dari studi populasi umum menunjukkan
prevalensi gangguan kepribadian histerik sekitar 2-3%. Sekitar 10-15 % telah dilaporkan di
rawat inap dan rawat jalan pusat kesehatan mental saat penilaian terstruktur digunakan.
Kelainan ini didiagnosis lebih sering pada wanita dibandingkan pada pria. Beberapa studi
telah menemukan hubungan dengan gangguan somatisasi dan gangguan penggunaan
alkohol.4,5
Fitur klinis
Orang dengan gangguan kepribadian histerik menunjukkan tingkat tinggi perilaku
mencari perhatian. Mereka cenderung melebih-lebihkan pikiran dan perasaan mereka dan
membuat segalanya terdengar lebih penting daripada yang sebenarnya. Mereka menampilkan
amarah, air mata, dan tuduhan ketika mereka tidak menjadi pusat perhatian atau tidak
menerima pujian atau persetujuan.
Perilaku menggoda adalah umum pada lawan jenis. Fantasi seksual tentang orang
dengan siapa pasien yang terlibat adalah umum, tetapi pasien tidak konsisten tentang
23

verbalisasi fantasi ini dan mungkin malu atau genit daripada agresif secara seksual. Bahkan,
pasien histerik mungkin memiliki disfungsi psikoseksual; wanita mungkin anorgasmic, dan
laki-laki mungkin impoten. Mereka perlu untuk jaminan tak ada habisnya. Mereka dapat
bertindak atas dorongan seksual mereka untuk meyakinkan diri bahwa mereka menarik bagi
jenis kelamin lain. Hubungan mereka cenderung dangkal, bagaimanapun, dan mereka dapat
sia-sia, egosentris, dan berubah-ubah. Kebutuhan mereka yang kuat membuat mereka terlalu
ketergantungan percaya dan mudah tertipu.
Pertahanan utama dari pasien dengan gangguan kepribadian histerik adalah represi
dan disosiasi. Dengan demikian, pasien tersebut tidak menyadari perasaan mereka yang
sebenarnya dan tidak dapat menjelaskan motivasi mereka. Di bawah stres, uji realitas dengan
mudah menjadi terganggu.2,4
Diagnosa
Dalam wawancara, pasien dengan gangguan kepribadian histrionik umumnya
kooperatif dan ingin memberikan sejarah rinci. Isyarat dan tanda baca yang dramatis dalam
pembicaraan mereka adalah umum. Tampilan afektif adalah umum, namun, saat ditekan
untuk mengakui perasaan-perasaan tertentu (misalnya, kemarahan, kesedihan, dan keinginan
seksual), mereka mungkin merespon dengan kejutan, kemarahan, atau penolakan. Hasil
pemeriksaan kognitif biasanya normal, meskipun kurangnya ketekunan dapat ditampilkan
pada aritmatika atau tugas konsentrasi.
Kriteria diagnostik gangguan kepribadian histrionik berdasarkan PPDGJ III:3

Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri:


1. Ekspresi emosi yang dibuat-buat (self-dramatization) seperti bersandiwara
(theatricality) yang dibesar-besarkan (exaggerated)
2. Bersifat sugestif, mudah dipengaruhi oleh orang lain atau keadaan
3. Keadaan afektif yang dangkal dan labil
4. Terus-menerus mencari kegairahan, penghargaan dari orang lain atau oleh

keadaan
5. Penampilan atau perilaku merangsang yang tidak memadai
6. Terlalu peduli dengan daya tarik fisik
Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.

Kriteria diagnostik gangguan kepribadian histrionik berdasarkan DSM-IV:


Pola pervasif dari emosionalitas yang berlebihan dan mencari perhatian, dimulai
dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan
oleh lima (atau lebih) sebagai berikut:
1. tidak nyaman dalam situasi di mana dia bukan pusat perhatian
24

2. interaksi dengan orang lain yang sering ditandai oleh perilaku seksual menggoda atau
3.
4.
5.
6.
7.
8.

provokatif yang tidak sepantasnya


menampilkan pergeseran cepat dan ekspresi emosi yang dangkal
konsisten menggunakan penampilan fisik untuk menarik perhatian kepada dirinya
memiliki gaya bicara yang terlalu impresionis dan kurang rinci
menunjukkan dramatisasi diri, sandiwara, dan ekspresi berlebihan dari emosi
mudah dipengaruhi oleh orang lain atau keadaan
menganggap hubungan menjadi lebih intim daripada yang sebenarnya2

Diagnosis Banding
Membedakan antara gangguan kepribadian histrionik dan gangguan kepribadian
emosional tidak stabil sulit, tetapi dalam gangguan kepribadian emosional tidak stabil,
mencoba bunuh diri, difusi identitas, dan episode psikotik singkat lebih mungkin. Meskipun
kedua kondisi dapat didiagnosis pada pasien yang sama, dokter harus memisahkan keduanya.
Gangguan somatisasi (sindrom Briquet) dapat terjadi bersamaan dengan gangguan
kepribadian histrionik. Pasien dengan gangguan psikotik singkat dan gangguan disosiatif
mungkin memerlukan diagnosis bersamaan gangguan kepribadian histrionik.4
Tatalaksana
A. Psikoterapi
Pasien dengan gangguan kepribadian histrionik seringkali tidak menyadari perasaan
mereka sendiri yang nyata; klarifikasi dari perasaan batin mereka adalah proses terapeutik
penting. Psikoterapi dengan orientasi psikoanalitik, baik kelompok atau individu,
mungkin adalah pilihan perawatan untuk gangguan kepribadian histerik.1
B. Farmakoterapi
Farmakoterapi dapat adjunctive bila gejala ditargetkan (misalnya, penggunaan
antidepresan untuk depresi dan keluhan somatik, agen anti ansietas untuk kegelisahan,
dan antipsikotik untuk derealisasi dan ilusi).1
Perjalanan gangguan dan prognosis
Seiring bertambahnya usia, orang dengan gangguan kepribadian histrionik
menunjukkan gejala yang lebih sedikit. Orang dengan gangguan ini adalah pencari sensasi,
dan mereka mungkin mendapatkan masalah dengan hukum, penyalahgunaan zat, dan
bertindak sembarangan.2

25

F. GANGGUAN KEPRIBADIAN NARSISTIK


Definisi : terdapatnya pola rasa kebesaran diri (dalam fantasi atau perilaku), kebutuhan untuk
dikagumi atau disanjung, kurang mampu berempati. Bersifat pervasif, berawal sejak dewasa
muda dan nyata dalam pelbagai konteks.1

Epidemiologi
Menurut DSM-IV-TR, perkiraan prevalensi gangguan kepribadian narsistik berkisar
2-16 % dalam populasi klinis dan kurang dari 1 % di populasi umum. Orang dengan
gangguan dapat memberikan rasa yang tidak realistis tentang kemahakuasaan, kemegahan,
keindahan, dan bakat untuk anak-anak mereka, dengan demikian, keturunan dari orang tua
tersebut mungkin memiliki resiko lebih tinggi daripada biasanya untuk mengembangkan
gangguan itu sendiri. Jumlah kasus gangguan kepribadian narsistik yang dilaporkan terus
meningkat.1
Diagnosa
Kriteria diagnostik gangguan kepribadian narsistik berdasarkan DSM-IV:
Sebuah pola bersifat pervasif tentang kebesaran (dalam khayalan atau perilaku),
membutuhkan kekaguman, dan kurangnya empati, dimulai dengan awal masa dewasa dan
hadir dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) sebagai
berikut:
1. secara berlebih merasa dirinya sangat penting (misalnya, melebih-lebihkan prestasi
dan bakat, mengharapkan untuk diakui sebagai yang unggul tanpa prestasi sepadan)
2. sibuk dengan fantasi kesuksesan tak terbatas, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau
kekasih ideal
3. percaya bahwa ia adalah istimewa dan unik dan hanya dapat dipahami oleh, atau
harus bergaul dengan orang-orang khusus atau tinggi status lainnya (atau lembaga)
4. membutuhkan pemujaan berlebihan
5. merasa dirinya mempunyai hak istimewa (contoh menuntut agar mendapat
perlakuan khusus, atau orang lain harus menurut kehendaknya)
6. tidak memiliki empati: tidak bersedia untuk mengenali atau mengidentifikasi dengan
perasaan dan kebutuhan orang lain
7. sering iri kepada orang lain atau percaya bahwa orang lain iri kepadanya
8. bersikap sombong.2
Fitur klinis

26

Orang dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki rasa megah diri penting,
mereka menganggap diri mereka spesial dan mengharapkan perlakuan khusus. Rasa memiliki
hak istimewa mencolok. Mereka tidak dapat menerima kritikan dan mungkin menjadi marah
ketika seseorang berani mengkritik mereka, atau mereka mungkin tampak sama sekali tidak
peduli terhadap kritik. Orang dengan gangguan ini ingin cara mereka sendiri dan sering
ambisius untuk mencapai ketenaran dan keberuntungan. Hubungan mereka yang rapuh, dan
mereka dapat membuat orang lain marah dengan penolakan mereka untuk mematuhi aturanaturan konvensional perilaku. Mereka tidak dapat menunjukkan empati, dan mereka berpurapura simpati hanya untuk mencapai tujuan egois mereka sendiri. Karena harga diri mereka
rapuh, mereka rentan terhadap depresi. Kesulitan interpersonal, masalah pekerjaan,
penolakan, dan kehilangan adalah hasil dari perilaku narsistik mereka.4
Diagnosis Banding
Gangguan kepribadian emosional tidak stabil, gangguan kepribadian histrionik, dan
antisosial sering menyertai gangguan kepribadian narsistik, sehingga diagnosis diferensial
sulit. Pasien dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki kecemasan kurang dari mereka
dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil; kehidupan mereka cenderung kurang
kacau, dan mereka cenderung untuk mencoba bunuh diri. Pasien dengan gangguan
kepribadian antisosial memiliki riwayat perilaku impulsif, sering dikaitkan dengan alkohol
atau penyalahgunaan zat lainnya, yang sering membuat mereka menjadi bermasalah dengan
hukum. Pasien dengan gangguan kepribadian histrionik menunjukkan fitur eksibisionisme
dan manipulatif interpersonal yang mirip dengan pasien dengan gangguan kepribadian
narsisistik.2
Pengobatan
A. Psikoterapi
Karena pasien harus meninggalkan narsisme mereka untuk membuat kemajuan,
pengobatan gangguan kepribadian narsisistik sulit. Psikiater seperti Kernberg dan Heinz
Kohut menganjurkan menggunakan pendekatan psikoanalitik, tetapi banyak penelitian
diperlukan untuk membuktikan diagnosis dan untuk menentukan pengobatan terbaik.
Beberapa dokter menganjurkan terapi kelompok bagi pasien sehingga mereka dapat
belajar bagaimana berbagi dengan orang lain dan, dalam keadaan yang ideal, dapat
mengembangkan respon empatik kepada orang lain.5
B. Farmakoterapi
Lithium (Eskalith) telah digunakan dengan pasien yang gambaran klinis mencakup
perubahan suasana hati. Karena pasien dengan gangguan kepribadian narsistik
27

mentoleransi penolakan secara buruk dan rentan terhadap depresi, antidepresan, obatobatan terutama serotonergik, juga dapat digunakan.1

Perjalanan gangguan dan prognosis


Gangguan kepribadian narsisistik adalah kronis dan sulit untuk diobati. Pasien dengan
gangguan terus-menerus harus berurusan dengan pukulan narsisme mereka yang dihasilkan
dari perilaku mereka sendiri atau dari pengalaman hidup. Penuaan ditangani buruk; pasien
menilai keindahan, kekuatan, dan atribut muda, yang mereka pegang teguh tidaklah tepat.
Mereka mungkin lebih rentan mengalami krisis setengah baya (midlife crises) daripada
kelompok lain.2
G. GANGGUAN KEPRIBADIAN MENGHINDAR
Definisi : adanya pola perasaan tidak nyaman serta keengganan untuk bergaul secara sosial,
rasa rendah diri, hipersensitif terhadap evaluasi negatif. Bersifat pervasif, awitan sejak
dewasa muda, nyata dalam pelbagai konteks.1
Epidemiologi
Gangguan kepribadian menghindar adalah umum. Prevalensi gangguan adalah 1
sampai 10 % dari populasi umum. Tidak ada informasi mengenai rasio berdasarkan gender
atau pola keluarga. Bayi diklasifikasikan sebagai memiliki temperamen pemalu mungkin
lebih rentan terhadap gangguan dibandingkan mereka yang mendapat skor tinggi pada skala
pendekatan aktivitas.1
Fitur klinis
Hipersensitif terhadap penolakan oleh orang lain adalah fitur klinis utama dari
gangguan kepribadian menghindar. Ciri khas selama wawancara adalah kecemasan bila akan
wawancara dengan peawancara, kecemasannya sering hilang timbul dan sangat bergantung
dari persepsinya apakah pewawancara menyukai atau tidak menyukai dirinya. Ia rentan
terhadap komentar dan sugesti dan sering menganggap suatu penjelasan atau klarifikasi
sebagai kritik terhadap dirinya. Ciri khas lainnya adalah

sifat yang pemalu, walau

sebenarnya ia mendambakan kehangatan dan kemantapan dalam hubungan interpersonal,


tetapi karena takut di tolak maka yang kelihatan adalah sikap menghindar. Dalam
pembicaraan dengan orang lain tampak kurang percaya diri, tidak menampilkan atau
menonjolkan diri, takut berbicara di depan umum karena takut ditolak. Sering komentar
orang dinilainya sebagai cemooh atau hinaan, akibatnya sering ia menarik diri dalam
28

pergaulan. Biasanya tidak mau membuat hubungan akrab kecuali dijamin bahwa ia diterima
tanpa kritik. Sering dalam perjalanan hidupnya timbul fobia social.1
Diagnosis
Dalam wawancara klinis, aspek pasien yang paling mencolok adalah kecemasan
tentang berbicara dengan seorang pewawancara. Cara mereka gugup dan tegang muncul
pasang surut dengan persepsi mereka apakah pewawancara menyukai mereka. Mereka
tampaknya rentan terhadap komentar pewawancara dan saran dan mungkin menganggap
klarifikasi atau interpretasi sebagai kritik.1
Kriteria diagnostik untuk gangguan kepribadian menghindar berdasarkan PPDGJ III:

Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri:


1. Perasaan tegang dan takut yang menetap dan pervasive
2. Merasa dirinya tak mampu, tidak menarik atau lebih rendah dari orang lain.
3. Preokupasi yang berlebihan terhadap kritik dan penolakan dalam situasi social.
4. Keengganan untuk terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin akan
disukai.
5. Pembatasan dalam gaya hidup karena alasan keamanan fisik.
6. Menghindari aktivitas social atau pekerjaan yang banyak melibatkan kontak

interpersonal karena takut dikritik, tidak didukung atau ditolak.


Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.3

Kriteria diagnostik untuk gangguan kepribadian menghindar berdasarkan DSM-IV:


Sebuah pola pervasif inhibisi sosial, perasaan tidak mampu, dan hipersensitivitas
terhadap evaluasi negatif, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai
konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) sebagai berikut:
1. menghindari kegiatan kerja yang melibatkan kontak interpersonal yang signifikan,
karena takut kritik, ketidaksetujuan, atau penolakan
2. tidak mau untuk terlibat dengan orang-orang kecuali merasa yakin disukai
3. menunjukkan pengendalian diri dalam hubungan intim karena takut dipermalukan
atau ditertawakan
4. Kuatir dengan dikritik atau ditolak dalam situasi sosial
5. terhambat dalam interaksi antarpribadi baru karena perasaan tidak mampu
6. Memandang diri sendiri sebagai tidak layak secara sosial, secara pribadi tidak
menarik, atau lebih rendah daripada orang lain
7. enggan untuk mengambil risiko pribadi atau untuk terlibat dalam kegiatan yang baru
karena mereka mungkin terbukti memalukan.2
Diagnosis Banding
29

Pasien dengan gangguan kepribadian menghindar keinginan interaksi sosial, tidak


seperti pasien dengan gangguan kepribadian skizofrenia, yang ingin sendirian. Pasien dengan
gangguan kepribadian menghindar tidak seperti menuntut, marah, atau tidak terduga seperti
yang dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil dan histrionik. Gangguan
kepribadian menghindar dan gangguan kepribadian dependen serupa. Pasien dengan
gangguan kepribadian dependen yang dianggap lebih takut ditinggalkan atau dicintai
dibandingkan dengan gangguan kepribadian menghindar, tetapi gambaran klinis tidak dapat
dibedakan.1
Pengobatan
A. Psikoterapi
Bina hubungan dengan pasien agar tumbuh rasa percaya, terapis perlu menerima
rasa takut dari pasien, khususnya rasa takut ditolak. Bantu pasien agar berani memasuki
dunia luar dan menghadapi apa yang dipersepsikannya sebagai penghinaan, penolakan,
dan kegagalan. Juga bermanfaat terapi kelompok, dan latihan assertiveness untuk
memberanikan pasien menyatakan apa kebutuhannya dan memperkuat hargadirinya.1
B. Farmakoterapi
Farmakoterapi telah digunakan untuk mengelola kecemasan dan depresi ketika
mereka berhubungan dengan gangguan tersebut. Beberapa pasien yang dibantu oleh betaadrenergik

reseptor

antagonis,

seperti

atenolol

(Tenormin),

untuk

mengelola

hiperaktivitas sistem saraf otonomik, yang cenderung tinggi pada pasien dengan
gangguan kepribadian menghindar, terutama ketika mereka mendekati situasi takut. Agen
serotonergik dapat membantu sensitivitas penolakan. Secara teoritis, obat dopaminergik
bisa menimbulkan hal-hal baru-mencari perilaku pada pasien, namun pasien harus secara
psikologis siap untuk setiap pengalaman baru yang mungkin timbul.1
Perjalanan gangguan dan prognosis
Banyak orang dengan gangguan kepribadian menghindar mampu berfungsi di
lingkungan yang terlindung. Beberapa menikah, memiliki anak, dan hidup mereka dikelilingi
hanya oleh anggota keluarga. Harus mendukung apabila mereka mengalami kegagalan,
namun, mereka cenderung mudah mengalami depresi, kecemasan, dan kemarahan.
Penghindaran fobia adalah umum, dan pasien dengan gangguan dapat memberikan sejarah
fobia sosial atau fobia sosial dikenakan dalam perjalanan penyakit mereka.2

30

H. GANGGUAN KEPRIBADIAN DEPENDEN


Definisi : suatu pola perilaku berupa kebutuhan berlebih agar dirinya dipelihara, yang
menyebabkan seorang individu berperilaku submisif, bergantung kepada orang lain, dan
ketakutan akan perpisahan dengan orang tempat ia bergantung, Besifat pervasif, berawal
sejak usia dewasa muda, dan nyata dalam pelbagai situasi.2
Epidemiologi
Gangguan kepribadian dependen lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada
pria. Satu studi didiagnosis 2,5% dari semua gangguan kepribadian jatuh ke dalam kategori
ini. Hal ini lebih umum pada anak-anak daripada yang lebih tua. Orang dengan penyakit fisik
kronis di masa kecil mungkin paling rentan terhadap gangguan ini.1
Fitur klinis
Gangguan kepribadian dependen ditandai oleh pola perilaku meresap tergantung dan
tunduk. Orang dengan gangguan tersebut tidak dapat membuat keputusan tanpa saran dan
kepastian dari orang lain dengan jumlah berlebihan. Mereka menghindari posisi tanggung
jawab dan menjadi cemas jika diminta untuk mengambil peran kepemimpinan. Mereka lebih
suka untuk tunduk. Ketika mereka sendiri, mereka merasa sulit untuk bertahan pada tugastugas, tetapi mungkin merasa mudah untuk melakukan tugas-tugas untuk orang lain.
Karena orang-orang dengan gangguan tersebut tidak suka sendirian, mereka mencari
orang lain pada siapa mereka dapat bergantung; hubungan mereka, dengan demikian,
terdistorsi oleh kebutuhan mereka harus terpasang ke orang lain. Dalam folie deux
(gangguan psikotik bersama), salah satu anggota pasangan biasanya mengalami gangguan
kepribadian dependen; pasangan yang taat mengambil sistem delusi dari mitra, lebih agresif
tegas pada siapa dia bergantung.
Pesimisme, keraguan diri, pasif, dan ketakutan untuk mengekspresikan perasaan
seksual dan agresif semua melambangkan perilaku orang-orang dengan gangguan
kepribadian dependen. Pasangan yang kasar, tidak setia, atau alkohol dapat ditoleransi untuk
waktu yang lama untuk menghindari mengganggu rasa keterikatan.2
Diagnosis
Dalam wawancara, pasien tampak penurut. Mereka mencoba untuk bekerja sama,
menyambut pertanyaan spesifik, dan mencari bimbingan. Kriteria diagnostik gangguan
kepribadian dependen berdasarkan PPDGJ III:

31

Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri:


1. Mendorong atau membiarkan orang lain untuk mengambil sebagaian besar
keputusan penting untuk dirinya.
2. Meletakkan kebutuhan sendiri lebih rendah dari orang lain kepada siapa ia
bergantung dan kepatuhan yang tidak semestinya terhadap keinginan mereka.
3. Keengganan untuk mengajukan permintaan yang layak kepada orang dimana
tempat ia bergantung.
4. Perasaan tidak enak atau tidak berdaya apabila sendirian karena ketakutan yang
dibesar-besarkan tentang ketidakmampuan mengurus diri srndiri.
5. Preokupasi dengan ketakutan akan ditinggalkan oleh orang yang dekat
dengannya dan dibiarkan untuk mengurus dirinya sendiri.
6. Terbatasnya kemampuan untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa mendapat

nasihat yang berlebihan dan dukungan dari orang lain.


Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.3
Kriteria diagnostik gangguan kepribadian dependen berdasarkan DSM-IV:
Sebuah kebutuhan yang luas dan berlebihan harus diambil untuk mengarah ke

perilaku tunduk dan kelekatan dan ketakutan pemisahan, dimulai dengan awal masa
dewasa dan hadir dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih)
sebagai berikut:
1. memiliki kesulitan membuat keputusan sehari-hari tanpa saran dan jaminan dari orang
lain dalam jumlah yang berlebihan
2. kebutuhan orang lain untuk bertanggung jawab atas bidang utama sebagian besar
hidupnya
3. mengalami kesulitan mengekspresikan ketidaksetujuan dengan orang lain karena takut
kehilangan dukungan atau persetujuan.
4. mengalami kesulitan memulai proyek-proyek atau melakukan hal-hal sendiri (karena
kurangnya kepercayaan diri dalam penilaian atau kemampuan daripada kurangnya
motivasi atau energi)
5. usaha berlebihan untuk memperoleh pengasuhan dan dukungan dari orang lain, ke
titik sukarela untuk melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan
6. merasa tidak nyaman atau tak berdaya ketika sendirian karena takut yang berlebihan
tidak mampu untuk merawat dirinya sendiri
7. segera mencari hubungan lain sebagai sumber perawatan dan dukungan ketika
hubungan dekat berakhir
8. preokupasi yang tidak realistis dengan kekhawatiran ditinggal untuk mengurus dirinya
sendiri.2
Diagnosis Banding
32

Sifat-sifat ketergantungan ditemukan dalam gangguan kejiwaan banyak, sehingga


diagnosis diferensial sulit. Ketergantungan merupakan faktor yang menonjol pada pasien
dengan gangguan kepribadian histrionik dan emosional tidak stabil, tetapi mereka dengan
gangguan kepribadian dependen biasanya memiliki hubungan jangka panjang dengan satu
orang, bukan serangkaian orang pada siapa mereka bergantung, dan mereka tidak cenderung
terang-terangan manipulatif. Pasien dengan gangguan kepribadian skizofrenia dan
schizotypal dapat dibedakan dari orang-orang dengan gangguan kepribadian menghindar.
Perilaku dependen dapat terjadi pada pasien dengan agoraphobia, tapi pasien ini cenderung
memiliki tingkat kecemasan tinggi terang-terangan atau bahkan panik.1
Pengobatan
A. Psikoterapi
Pengobatan gangguan kepribadian dependen sering berhasil. Terapi berdasarkan
tilikan memungkinkan pasien untuk memahami anteseden perilaku mereka, dan dengan
dukungan dari terapis, pasien dapat menjadi lebih mandiri, tegas, dan mandiri. Terapi
perilaku, pelatihan ketegasan, terapi keluarga, dan terapi kelompok semuanya telah
digunakan, dengan hasil yang sukses dalam banyak kasus.
Sebuah kesulitan mungkin timbul dalam pengobatan ketika terapis mendorong pasien
untuk mengubah dinamika hubungan patologis (misalnya, mendukung istri disiksa secara
fisik dalam mencari bantuan dari polisi). Pada titik ini, pasien mungkin menjadi cemas
dan tidak mampu bekerja sama dalam terapi, mereka mungkin merasa terpecah antara
sesuai dengan terapis dan kehilangan hubungan eksternal patologis. Terapis harus
menunjukkan rasa hormat besar bagi perasaan dependen pasien, tidak peduli seberapa
patologis perasaan ini mungkin tampak.1,2
B. Farmakoterapi
Farmakoterapi telah digunakan untuk menangani gejala-gejala spesifik, seperti
kecemasan dan depresi, yang merupakan fitur yang berhubungan umum dari gangguan
kepribadian dependen. Pasien yang mengalami serangan panik atau yang memiliki tingkat
kecemasan perpisahan dapat dibantu dengan imipramine (Tofranil). Benzodiazepin dan
agen serotonergik juga telah berguna. Jika depresi pasien atau gejala penarikan
menanggapi psikostimulan, mereka dapat digunakan.1
Perjalanan gangguan dan Prognosis
Sedikit yang diketahui tentang perjalanan gangguan kepribadian dependen. Berfungsi
kerja cenderung dirugikan, karena orang-orang dengan gangguan tersebut tidak dapat
bertindak secara independen dan tanpa pengawasan ketat. Hubungan sosial terbatas pada
33

orang-orang pada siapa mereka dapat bergantung, dan banyak menderita pelecehan fisik atau
mental karena mereka tidak dapat menyatakan diri mereka sendiri. Mereka risiko gangguan
depresi besar jika mereka kehilangan orang pada siapa mereka bergantung, tetapi dengan
pengobatan, prognosis menguntungkan.2
I. GANGGUAN KEPRIBADIAN OBSESIF-KOMPULSIF
Definisi: pola perilaku berupa preokupasi dengan keteraturan, peraturan, perfeksionisme,
kontrol mental dan hubungan interpersonal, dengan mengenyampingkan: fleksibilitas,
keterbukaan, efisiensi, bersifat pervasif, awitan sejak dewasa muda nyata dalam pelbagai
konteks.1
Epidemiologi
Prevalensi obsesif-kompulsif gangguan kepribadian tidak diketahui. Hal ini lebih
sering terjadi pada pria dibandingkan pada wanita dan didiagnosis paling sering pada anak
tertua. Gangguan juga terjadi lebih sering pada tingkat pertama keluarga biologis dari orangorang dengan gangguan daripada populasi umum. Pasien sering memiliki latar belakang
disiplin yang keras.1
Fitur klinis
Orang dengan gangguan obsesif-kompulsif disibukkan dengan aturan, peraturan,
ketertiban, kerapian, rincian, dan pencapaian kesempurnaan. Mereka bersikeras bahwa aturan
harus diikuti secara kaku dan tidak bisa mentolerir apa yang mereka anggap pelanggaran.
Oleh karena itu, mereka kekurangan fleksibilitas dan tidak toleran. Mereka mampu bekerja
lama, asalkan rutin dan tidak memerlukan perubahan yang mereka tidak dapat beradaptasi.
Orang dengan gangguan obsesif-kompulsif kepribadian memiliki keterampilan
interpersonal yang terbatas. Mereka bersikap formal dan serius dan sering kurang rasa humor.
Mereka mengasingkan orang, tidak mampu untuk berkompromi, dan bersikeras bahwa orang
lain tunduk kepada kebutuhan mereka. Mereka ingin menyenangkan orang yang mereka lihat
sebagai lebih kuat dari mereka, bagaimanapun, dan mereka melaksanakan keinginan orangorang ini secara otoriter. Karena mereka takut membuat kesalahan, mereka ragu-ragu dan
memikirkan tentang membuat keputusan. Meskipun pernikahan yang stabil dan kecukupan
pekerjaan umum, orang dengan kepribadian obsesif-kompulsif memiliki beberapa teman.
Apa pun yang mengancam untuk mengganggu stabilitas atau rutinitas kehidupan mereka
dirasakan dapat memicu kecemasan yang dinyatakan terikat dalam ritual yang mereka
paksakan pada kehidupan mereka dan mencoba untuk memaksakannya pada orang lain.2
34

Diagnosis
Dalam wawancara, pasien dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif mungkin
memiliki sikap kaku. Afek mereka tidak tumpul atau datar, tetapi dapat digambarkan sebagai
yang terbatas. Mereka kekurangan spontanitas, dan suasana hati mereka biasanya serius.
Pasien tersebut mungkin cemas tentang tidak terkendali dalam wawancara. Jawaban mereka
untuk pertanyaan luar biasa rinci. Mekanisme pertahanan yang mereka gunakan adalah
rasionalisasi, isolasi, intelektualisasi, pembentukan reaksi, dan kehancuran.
Kriteria diagnostik untuk gangguan kepribadian obsesif-kompulsif :
1.
2.
3.
4.

Perasaan ragu dan hati-hati berlebihan


Terpaku pada rincian, peraturan, daftar, perintah, organisasi, jadwal
Perfeksionisme yang menghambat penyelesaian tugas
Teliti, berhati-hati berlebihan dan lebih mengutamakan produktivitas sehingga

5.
6.
7.
8.

mengenyampingkan kesenangan dan hubungan interpersonal.


Terpaku dan terikat secar berlebih pada norma sosial.
Kaku dan keras kepala
Memaksakan kehendak agar orang lain melakukan sesuatu menurut caranya.
Intrusi pikiran pikiran atau impuls yang tidak dikehendaki.1

Diagnosa Banding
Ketika obsesi berulang atau dorongan yang hadir, obsesif-kompulsif harus dicatat
pada Axis I. Mungkin perbedaan yang paling sulit adalah antara pasien rawat jalan dengan
beberapa sifat obsesif-kompulsif dan mereka dengan gangguan kepribadian obsesifkompulsif. Diagnosis gangguan kepribadian diperuntukkan bagi mereka dengan gangguan
signifikan dalam efektivitas mereka pekerjaan atau sosial. Dalam beberapa kasus, gangguan
delusi berdampingan dengan gangguan kepribadian dan harus dicatat.1

Pengobatan
A. Psikoterapi
Terapi kelompok dan terapi perilaku. Salah satu teknik adalah menyetop perilaku
habitualnya sehingga ia lebih mudah mempelajari perilaku adaptif baru, juga dalam terapi
kelompok pemberian reward lebih efektif.1
B. Farmakoterapi
Clonazepam (Klonopin), benzodiazepin dengan penggunaan antikonvulsan, telah
mengurangi gejala pada pasien dengan obsesif-kompulsif berat. Clomipramine
(Anafranil) dan agen serotonergik seperti fluoxetine, biasanya pada dosis 60 sampai 80
35

mg sehari, mungkin berguna jika tanda dan gejala obsesif-kompulsif muncul. Nefazodone
(Serzone) mungkin mendapat manfaat beberapa pasien.2
Perjalanan gangguan dan prognosis
Perjalanan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif adalah bervariasi dan tak terduga.
Dari waktu ke waktu, orang dapat mengembangkan obsesi atau dorongan dalam perjalanan
gangguan mereka. Beberapa remaja dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif
berkembang menjadi orang dewasa yang hangat, terbuka, dan penuh kasih; pada orang lain,
gangguan dapat berupa pertanda skizofrenia pada dekade kemudian dan diperburuk oleh
proses penuaan atau gangguan depresi mayor.
Orang dengan gangguan obsesif-kompulsif kepribadian dapat berkembang dalam posisi
menuntut kerja metodis, deduktif, atau rinci, namun mereka rentan terhadap perubahan yang
tak terduga, dan kehidupan pribadi mereka mungkin tetap tidak bertumbuh. Gangguan
depresi, terutama onset terlambat, umum terjadi.2

BAB III
KESIMPULAN
Gangguan kepribadian digambarkan sebagai gangguan berat kepribadian dan perilaku yang
dinilai sebagai suatu bentuk penyimpangan dari pola budaya yang normal. Pedoman
diagnostik gangguan kepribadian termasuk gangguan dengan durasi yang lama pada beberapa
fungsi, bersifat pervasif dan maladaptif, onset pada masa kecil atau remaja; kelanjutan
menjadi dewasa; kepribadian distres yang cukup besar (meskipun kadang-kadang hanya
terlihat pada akhir kursus gangguan itu); dan biasanya , tetapi tidak selalu, masalah yang
36

signifikan dalam pekerjaan dan dalam perilaku sosial. Pada seorang individu dengan
gangguan kepribadian, terjadi disfungsi dalam hubungan keluarga, pekerjaan, fungsi sosial.
Dapat pula berkaitan dengan tindak kriminal, penyalahgunaan zat, pembunuhan, bunuh diri,
kecelakaan, perceraian, dan lain-lain. Tatalaksana biasanya sulit karena gangguan ini bersifat
pervasif, egosintonik, awitannya sejak dewasa muda (di atas 17 tahun) dan seringkali
individu bangga dengan ciri kepribadiannya. Tatalaksana terdiri dari 2 jenis, yaitu psikoterapi
(terapi dengan prinsip menyadarkan pasien mengenai dampak gangguan kepribadian yang ia
derita) dan psikofarmaka (penggunaan psikotropika yang bersifat pengobatan simptomatis).

DAFTAR PUSTAKA
1. Mangindaan L. Gangguan kepribadian. Dalam: Buku ajar psikiatri. Edisi ke 2.
Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2014.h.329-34.
2. Sadock, BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral
Sciences/Clinical Psychiatry. 10th Edition. New York: Lippincott William&Wilkins;
2007.
3. Maslim R. Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia III.
Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran JIwa FK UNIKA Atmajaya; 2003.h. 100-6
37

4. Nevid, JS, Rathus SA, Grenne B. Psikologi abnormal. Edisi ke 5. Jakarta: Penerbit
Erlangga; 2009.
5. Wiley J. Complex case emotional processing in a ten-session general psychiatric
treatment for personality disorder: a case study. Personality and Mental Health;
2015.p. 73-8.
6. Antisocial Personality Disorder among Prison Inmates: The Mediating Role of
Schema-Focused Therapy. International Journal of Emergency Mental Health and
Human Resilience. 2015;17(1):327-332.

38