Anda di halaman 1dari 19

REFLEKSI KRITIS FILSAFAT CONFUSIANISME

DALAM KONTEKS INDONESIAN GREAT EQUAL SOCIETY


I GUSTI KADE SILADANA, S.Pd.T
Mahasiswa S2 Prodi PTK Universitas Negeri Yogyakarta
A. Pendahuluan
Filsafat Confusianisme diajarkan oleh oleh seorang mahaguru yang bernama
Kong Fu Tse (Kongfusius).Ia terlahir disebuah lingkungan religius disebuah daerah
Lu pada tahun 551 SM, sekitar 5 abad setelah jatuhnya dinasti Shang. Nenek
moyangnya adalah keturunan bangsawan penguasa dinasti Sung dari keluarga
bangsawan Shang yang kurang mampu. Sebelum kelahiran Confusius, terjadi
kekacauan politik di Negara Sung yang menyebabkan keluarganya kehilangan posisi
kebangsawanan saat itu dan bermigrasi ke daerah bernama Lu dekat Shantung. Sejak
kecil Confusius sangat giat belajar. Ini dapat dicermati pada tulisannya dalam kitab
Analect/ bunga rampai bagian 7.2 yang menyatakan secara diam-diam
kukumpulkan ilmu pengetahuan. Aku belajar dengan tidak pernah bosan. Aku
mengajari orang lain dengan tidak pernah jemu, karena hal-hal seperti ini muncul
secara alami dari dalam diriku. Benar saja kemudian, dari hasil belajar dan
perenungannya ia berhasil melahirkan gagasan pemikiran sebagai respon terhadap
permasalahan social China yang dilanda ketidakteraturan, degradasi moral dan anarki
intelektual.
Pemikiran Confusius selanjutnya menjelma menjadi sebuah ajaran filsafat yang
agung sebagai sebuah cikal bakal terbentuknya sebuah great equal society di
China pada waktu itu. Dalam ajarannya ia menegaskan pentingnya penghayatan dan
implementasi konsep tiga landasan keimanan yang disebut Sancai yaitu: (1) jalan
suci Tuhan (Tian-Dao); (2) jalan suci alam/bumi (Di-Dao); dan (3) jalan suci
manusia (Ren-Dao). Ia meyakini tiga landasan keimanan ini akan mampu
menciptakan keadaan yang harmonis dalam konteks hubungan manusia dengan
Tuhannya, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam sekitarnya.
Lebih lanjut Confusius juga mengenalkan konsep keseimbangan hidup dalam
dualitas yang diwujudkan dalam symbol Yin dan Yang (hitam-putih, susah-senang,
besar-kecil, laki-perempuan dan berbagai contoh dualitas dalam kehidupannya
nyata). Makna filosofi symbol ini kemudian dijabarkan lagi menjadi sandaran
1

hakikat kebajikan kodrati manusia dalam bentuk 4 kebajikan utama yaitu : (1). cinta
kasih (Ren); (2) kebenaran (Yi); (3) kesusilaan (Li); dan (4) kecerdasan / arif
bijaksana (Zhi). Dari 4 kebajikan utama ini kemudian terlahir konsep 8 kebajikan (Ba
De) dilambangkan dengan delapan jari tangan kiri dan kanan.Sementara Ibu jari
tangan kiri melambangkan ayah, dan ibu jari tangan kanan melambangkan ibu.
Delapan jari mulai dari jari telunjuk tangan kiri dan kanan berturut-turut
melambangkan : (1) bakti; (2) rendah hati; (3) setia; (4) dapat dipercaya; (5)
menjunjung tinggi kesusilaan; (6) menjunjung tinggi kebenaran; (7) menyucikan
hati; dan (8) punya rasa malu.
Bentuk implementasi dari prinsip-prinsip tersebut tercermin dalam delapan
program pembinaan diri, yaitu: (1) meneliti hakikat tiap perkara atau ge-wu ( );
(2) menguasai ilmu secara utuh atau zhi-zhi ( ); (3) tulus dan membulatkan
tekad atau cheng yi ( ); (4) meluruskan hati atau zheng xin (); (5) membina
diri atau xiu shen ( ); (6) mengatur rumah tangga atau qi-jia ( ); (7)
berpartisipasi membangun negara atau zhi guo (

); dan (8) menjaga

perdamaian dunia atau ping tian xia ( ).Hal inilah yang kemudian menjadikan
bangsa China belakangan ini tampil menjadi kekuatan baru yang selalu
diperhitungkan di mata dunia.
Untuk pembinaan diri yang pertama yaitu meneliti hakikat tiap perkara atau ge
wu ( ). Dalam konteks ini manusia mempunyai pikiran, perasaan, dan panca
indera gunanya untuk memahami alam dan benda sekitarnya, serta merumuskannya
menjadi pengetahuan yang berguna. Demikian juga Confusius menganjurkan kepada
murid-muridnya, apabila mereka tidak memahami sesuatu harus bertanya kepada
yang mengerti. Belajarlah kepada siapa saja, yang baik diambil yang jelek diperbaiki.
Xun Zi menekankan semua orang harus mendapat pendidikan yang baik dari guru
yang berkualitas. Tanpa pendidikan, manusia menjadi bodoh dan jahat. Semua
penderitaan manusia bersumber dari kelalaian generasi tua mendidik generasi muda.
Untuk pembinaan diri yang kedua yaitu menguasai ilmu secara utuh atau zhi zh
i( ). Orang yang mempelajari ilmu selayaknya dengan sistematika yang benar
sehingga memperoleh ilmu yang jelas wujudnya. Ilmu yang diperoleh seyogyanya
berguna untuk meringankan kehidupan manusia. Sang mahaguru sangat menghargai

teknologi yang sudah ada pada waktu itu. Belajar ilmu yang tidak tuntas tidak dapat
dimanfaatkan. Pendidikan yang hanya mengajarkan teori, tetapi kurang praktik tidak
dapat membekali anak dengan pengetahuanyang lengkap. Pengetahuan yang hanya
teoritis tidak berguna.
Pembinaan diri yang ketiga yaitu tulus dan membulatkan tekad atau cheng yi (
). Siswa yang telah menentukan pilihan untuk mendalami suatu ilmu perlu
dilanjutkan sehingga keahliannya bisa diandalkan manfaatnya oleh orang lain. Siswa
yang tidak tulus dan tidak mempunyai tekad yang kuat mudah tergoda untuk
berpindah keahlian dan pekerjaan, dengan alasan penghasilan kurang atau tidak
cocok. Orang yang suka berpindah pekerjaan biasanya tidak berhasil membina karir.
Untuk pembinaan diri yang keempat yaitu meluruskan hati atau zheng xin (
). Orang yang telah menguasai ilmu tertentu tidak boleh bersikap tidak adil
dan emosional. Misalnya, ilmunya hanya untuk melayani orang yang mau membayar
tinggi saja, atau hanya mau melayani golongan tertentu saja. Saat melayani orang
harus bersikap jujur, jangan mencari keuntungan dengan cara yang tidak halal.
Jangan malu atau marah apabila pekerjaannya dikritik atau dicela orang. Tingkatkan
terus kemampuan diri agar tidak tertinggal oleh kemajuan zaman.
Untuk pembinaan diri yang kelima yaitu membina diri atau xiu shen ( ).
Ajaran membina diri mengingatkan setiap siswa agar mempunyai cita-cita untuk
menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Untuk itu, siswa wajib meraih posisi
tertentu dalam masyarakat. Mahaguru mengijinkan muridnya untuk menjadi pejabat
negara apabila ia mampu. Ia juga menganjurkan siswanya untuk menjadi pejabat
yang professional, atau menjadi orang kuat, kaya, dan pandai agar dapat membantu
orang lain yang mengalami kesulitan hidup. Orang yang lemah, miskin, dan bodoh
biasanya menjadi beban orang lain dan masyarakat. Orang yang kuat dapat
membantu orang lain yang lemah apabila telah dididik.
Untuk pembinaan diri yang keenam yaitu mengatur rumah tangga atau qi
jia ( ). Rumah tangga adalah bentuk masyarakat paling kecil, tempat anak
berlatih untuk belajar hidup bermasyarakat. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang
tidak teratur akan menghadapi banyak masalah dalam masyarakat. Pilar penyangga
keluarga adalah laku bakti anak kepada orang tua, dan kasih sayang orang tua kepada
anak.Apabila dua pilar tersebut sudah tidak ada, maka keharmonisan keluarga
3

terancam runtuh. Hubungan kemanusiaan dimulai dari keluarga, anak dilatih untuk
patuh pada orang tua, suami istri saling menghargai, antar-saudara saling
menyayangi, antar-tetangga saling membantu. Anak-anak yang tidak dilatih menjalin
hubungan tersebut akan menjadi canggung dalam pergaulan umum, biasanya mereka
menjadi terbelakang dalam kehidupan ekonomi.
Untuk pembinaan diri yang ketujuh yaitu berpartisipasi membangun negara
atau Zhi Guo ( ). Setiap siswa diajarkan untuk berbakti kepada negara,
diajarkan melaksanakan kewajibannya kepada negara. Antara lain, anak diajarkan
berdisiplin, taat pada undang-undang, menghindari kebiasaan buruk, mencegah
kejahatan dan kemaksiatan lain. Mematuhi segala aturan yang dikeluarkan oleh
negara selayaknya dipandang sebagai perilaku terhormat. Congfusius menegaskan
bahwa kejayaan negara adalah kehormatan warganya. Hal ini pula yang menjadi
sebab mengapa orang China akan selalu berupaya seoptimal mungkin agar mampu
berkontribusi bagi Negara induk (RRC), sekalipun mereka hidup di Negara orang
lain.
Selanjutnya, pembinaan diri yang terakhir (kedelapan) yaitu menjaga
perdamaian dunia atau ping tian xia ( ). Setiap siswa perlu dididik menyukai
perdamaian dengan siapa saja.Semua persoalan sebaiknya diselesaikan dengan
musyawarah.Hindari permusuhan dengan siapa pun.Kerukunan dalam kelas, dalam
rumah tangga, dan pemukiman selalu dijaga karena perdamaian dunia berasal dari
perdamaian di lingkungan pemukiman. Pendidikan bukan hanya menanamkan nilai,
tetapi yang lebih penting adalah melatih dan membiasakan anak untuk mewujudkan
nilai itu dalam kehidupan nyata. Orang tua sebagai pemimpin rumah tangga perlu
bersikap tegas dan adil, tetapi penuh kasih sayang dalam mendidik anak. Agar orang
tua juga menjadi idola anak-anaknya, mereka perlu memberi contoh yang baik.
Setiap anak perlu mempunyai tokoh yang menjadi idola sebagai teladan dalam
membentuk kepribadiannya.Yang paling ideal, apabila idolanya itu orang yang dekat
yaitu orang tuanya sendiri.
Jika melihat tatanan masyarakat di Indonesia, nampaknya masyarakat
Indonesia belum dapat dikatakan memiliki karakteristik pembentuk terwujudnya
the great equal society. Hal tersebut dapat dipahami dengan melihat gejala sosial
dari lingkungan masyarakat terkecil (keluarga) sampai masyarakat berbangsa dan

bernegara.Masalah etika, kejujuran, ketulusan dan ketelitian dalam mensikapi sebuah


fenomena secara utuh dan komprehensif masih jauh dari kata ideal.Pancasila sebagai
dasar falsafah Negara, belum seutuhnya dimengerti dan dilaksanakan oleh setiap
warga Negara.Melalui pemaknaan Pancasila, pada setiap sila didalamnya, hendaknya
selalu ditanamkan pada setiap diri masyarakat sehingga diharapkan mampu
mengubah tatanan masyarakat Indonesia menjadi manusia Indonesia seutuhnya,
menjadi the great equal society.Selain nilai luhur filsafat Pancasila tersebut, tidak
ada salahnya bangsa kita juga bercermin dari nilai luhur ajaran filsafat
Confusianisme yang sarat akantuntutan bagaimana membentuk pribadi atau individu
yang baik. Selanjutnya dengan terbentuknya pribadi atau individu anggota
masyarakat yang baik maka niscaya akan terbentuk tatanan kehidupan masyarakat
yang harmonis seperti yang tersirat dalam konteks the great equal society.

B. Kristalisasi Esensi Filsafat Konfusianisme


1. Konsep Tatanan Pribadi / Individu Yang Baik Menurut Kongfusianisme.
a. Bakti (filial piety), pelayanan (dutifulness) dan loyalitas (loyality)
Rasa bakti itu suatu perasaan dan tindakan yang senantiasa
menempatkan diri sebagai hamba dari pihak yang menjadi objek bakti.
Sebagai hamba yang baik maka segala daya dan tenaga akan senantiasa
didedikasikan untuk pihak yang menjadi objek kebaktiannya. Demikian pula
dengan spirit pelayanan (dutifulness).Makna yang tersirat dalam sebuah
pelayanan adalah kerelaan untuk melakukan yang terbaik untuk memenuhi
ekspektasi orang atau pihak yang layani.Dalam konteks ini sangat kental
tersirat totalitas kerja tanpa pamrih.Memandang kerja sebagai ibadah,
sebagai bentuk loyalitas terhadap orang atau pihak yang dilayani.
Pemahaman akan esensi bakti, pelayanan dan loyalitas yang tersirat dalam
filsafat kongfusianisme ini dapat dipastikan akan membentuk tatanan
kepribadian individu yang berahlak mulya.
b. Kejujuran dan ketulusan (honesty and sincerity).
Makna yang tersirat dalam sebuah kejujuran salah satunya adalah
keteguhan prinsip untuk mengatakan apa yang menjadi fakta sebenarnya.
Sikap yang jauh dari keinginan untuk mengambil sesuatu yang bukan

menjadi haknya.Keteguhan dalam bertindak dengan tidak bersyarat


mengindikasikan di dalamnya ada spirit ketulusan (sincerity).Tindakan yang
selalu memberi dan melupakan jasa atau pemberiannya kepada pihak lain
(tanpa

pamrih).Rela

berkorban

untuk

kepentingan

orang

banyak

(masyarakat).Dari nilai ajaran ini, maka tidak mengherankan bila Confusius


banyak menghasilkan sarjana, pegawai istana bahkan prajurit yang berjiwa
besar.Berani berkata jujur dan membela kepentingan bangsa dan negaranya
tanpa mengaharapkan pamrih atau imbalan jasa.
c. Pengetahuan (knowledge),Kebenaran (rightness) dan Keberanian (courage)
Pengetahuan yang utuh (holistic) akan membimbing seseorang
menuju sebuah pemahaman universal akan makna sebuah kebenaran yang
hakiki. Selanjutnya dengan menghayati makna universal dalam sebuah
kebenaran, maka keberanian itu muncul.Baik dalam tataran terendah yaitu
keberanian berpikir, keberanian berkata benar dan keberanian dalam
bertindak dalam menegakkan suatu kebenaran yang hakiki.Dengan
artikulasi pemikiran ini pula dari seorang mahaguru Confusius banyak
terlahir sarjana, pegawai sipil maupun prajurit yang cerdas, sigap dan berani
dalam mengambil tindakan yang dianggap benar.
d. Pemahaman

(understanding),

empati

(empathy)

dan

kasih

sayang

(compassion)
Ungkapan yang paling tepat menjelaskan makna pemahaman
(understanding) adalah kalimat what you do not want done to yourself, do
not do to others. Ketika masih miskin seorang akan merenung, "dulu saya
lahir dari keluarga miskin, ketika melihat orang kaya, ia bertanya-tanya
mengapa mereka egois, tidak mau menolong orang miskin memperbaiki
masa depannya. Bahkan tidak jarang mereka malah memandang rendah
orang miskin".Namun, ketika kemudian si miskin telah menjadi kaya karena
bekerja keras, "Ia kemudian merasa orang miskin itu malas, tidak mau
berinisiatif, maunya ditolong, iri, dan tak pernah berterima kasih?" Mengapa
begini ?Tak jarang dalam hidup ini, kita punya standar ganda dalam
"menakar dan mengukur". Kita kerap menilai orang lain dari "takaran" atau

pandangan subjektif kita dan tidak mampu memahami orang lain dari sudut
pandang orang itu.
Kita kerap menuntut orang lain bersikap dan berbuat seperti yang kita
mau, padahal kita sendiri belum tentu melakukan yang sebaliknya. Ketika
berbuat salah, kita tak mau dihakimi.Sebaliknya, minta dimaafkan dan
dibantu keluar dari kesalahan. Ketika membeli, kita menginginkan barang
yang berkualitas dengan harga bagus dan akan sangat marah jika dibohongi.
Ketika susah, kita mau orang lain menolong. Dan semua ingin kita yang
diutamakan dulu. Apabila kita rindu akan kebaikan, maka kita harus
melakukan kebaikan. Apabila kita rindu dimaafkan ketika bersalah, maka
kita juga harus memaafkan orang yang bersalah kepada kita. Ukuran yang
kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Jadi wajar jika
suatu ketika Confucius berujar :jika kamu tidak suka diperlakukan "jahat"
oleh orang lain, maka janganlah kamu melakukan "kejahatan" pada orang
lain atau juga pada makhluk lain.
e. Simpati dan Kasih sayang (sympathy and compassion).
Simpati dan kasih sayang merupakan dua hal yang tidak diragukan
lagi keuniversalannya.Dengan keduanya semestinya perbedaan setiap
individu itu bukanlah suatu penghalang tata hubungan atau interaksi setiap
individu.Hubungan ini dalam konteks menyeluruh dalam kehidupan
masyarakat, baik pada perspektif ekonomi, social, budaya, pendidikan,
agama (keyakinan), suku dan ras.Kasih saying universal itu jauh dari kata
memilih.Praktek yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat kita
cenderung memilih memberikannya dengan syarat satu background dengan
pihak pemberi (satu suku, satu agama / keyakinan, satu budaya dan
diskriminasi lainnya).Ketika perbedaan itu menjadi suatu penghalang
tercurahnya kasih sayang dan simpati maka dengan sendirinya bangunan
agung keuniversalannya berubah menjadi kasih sayang kerdil yang terkotakkotak dan kehilangan esensi utamanya.Tidak demikian dengan ajaran
Confusius.Kasih sayang menurutnya tidak mengenal batas atau perbedaan
kedua belah pihak.Kasih saying itu hanya mengenal kata memberi dan

selanjutnya melupakan bahwa si pemberi pernah memberikan sesuatu


kepada pihak lainnya.
f. Kemanusiaan (humanity) dan Filosofi symbol Yin Yang.
Dalam pikiran Confusius, perbedaan antara manusia diperbaiki
dengan ukuran penilaian atau cara pandangnya, bukan pada posisi sosial,
kekayaan, atau status seseorang, tapi pada sikapnya terhadap kebajikan.
Dengan dasar inilah ia membagi anggota masyarakat menjadi dua jenis
utama : orang besar dan orang kecil. Pemahaman orang kecil itu
dangkal,kepuasannya terletak pada pencarian kekayaan. Orang besar kaya
dalam pemikiran masa depan dan kecerdikan, ia suka melekat diri pada
upaya mengedepankan aspek moralitas dan keadilan.
Seperti terungkap dalam kitab Analect tentang nilai filosofi bejana
peringatan. Bejana ini memiliki cara kerja yang unik yakni : (1) ketika
kosong ia akan berposisi dengan kemiringan tertentu; (2) ketika berisi
setengah, bejana ini akan tegak; dan (3) ketika terisi penuh maka bejana ini
akan terguling. Ketika seorang murid bertanya tentang makna dibalik cara
kerja ini, sang mahaguru menjelaskan sebagai berikut.
Confusius menyuruh muridnya membawa air untuk menguji kebenarannya, dan memang demikian.Confusius menghela napas dan berkata,
"Ah, apakah pernah terjadi ketika bejana itu penuh tidak terguling!"Sang
murid berkata, "Guru, apakah Anda mengatakan bahwa ketika orang seperti
bejana yang penuh dengan air, mereka cenderung merasa benar sendiri dan
berpegang

teguh

kegagalan?Saya

pada
ingin

pendapatnya

sendiri,

lantas

menanyakan

apakah

ada

mengarah
metode

ke

untuk

mengendalikan kepenuhan ini?"Confusius berkata, "Cara untuk mengontrol


kepenuhan

adalah

dengan

menekan

dan

menguranginya.Selalu

meninggalkan ruang dalam hati".Sang murid bertanya, "Apakah ada metode


untuk mengurangi itu?"Confusius berkata, "Biarlah mereka yang melakukan
kebajikan melestarikannya dengan penuh khidmat.Biarlah mereka yang memiliki wilayah melindungi dengan ekonominya.Biarlah mereka yang
membayar dikayakan dan yang berpangkat melestarikan kedudukan mereka
dengan kerendahan hati. Biarlah mereka yang memiliki rakyat dibanyakkan,

dan yang bersenjata kuat melindungi mereka diliputi dengan rasa


takut.Biarlah

mereka

yang

memiliki

kecerdasan

dan

pengetahuan

memberikan pencerahan pada kebodohan yang gelap.Biarlah mereka yang


belajar secara mendalam dan ingatan yang kuat memberikan penyadaran
pada sebuah kedangkalan berpikir. Inilah yang aku maksud dengan
menekan dan mengurangi kata sang mahaguru.
Seperti yang ditulis dalam Kitab Song, "Kaisar Tang dari Shang
sangat ingin untuk menjadi sopan kepada orang lain, karena itu orang-orang
lebih menghormatinya." Orang kuno sering menggunakan bejana peringatan
untuk mendisiplinkan diri sendiri, dan mereka rajin, moderat, dan rendah
hati.Apa yang penting bagi orang untuk dilihat? Karakter rendah hati,
adalah sifat manusia.Bagaimana melihatnya? Memiliki pikiran yang luas
dan rendah hati, seperti langit meliputi segala sesuatu dan bumi dapat
menyimpan segala sesuatu, kita harus terus memegangnya tanpa
meluapi.Confusius berharap dapat mengubah orang kecil, yang buta akan
kebenaran dan hanya melihat keuntungan, dengan cara seperti pendidikan,
sehingga akan dapat membawa stabilitas sosial dan harmoni dalam
kehidupan masyarakat.
g. Ritual (ritual)
Ritual oleh masyarakat modern sering dipandang sebagai suatu hal
yang

mekanistis

dan

cenderung

menjadi

beban

bagi

mentalitas

mereka.Ajaran Confusius mencoba memberikan pandangan yang lebih


mendalam dari pada sekedar interpretasi dangkal sebuah dialektika yang
sebenarnya hanya mampu menyentuh sisi terluar (kulit) keagungan makna
filosofi sebuah ritual.
Confusius meletakkan titik tinjau pemaknaan sebuah ritual dari
konsep tiga landasan keimanan yang disebut Sancai yaitu : (1) jalan suci
Tuhan (Tian-Dao); (2) jalan suci alam/bumi (Di-Dao); dan (3) jalan suci
manusia (Ren-Dao). Penghayatan dan implementasi tiga landasan keimanan
ini akan mampu menciptakan keadaan yang harmonis dalam konteks
hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesamanya dan
manusia dengan alam sekitarnya.

Melalui ritual, manusia akan terbiasa berbakti dan menyerahkan diri


kepada kekuatan lain yang ada di luar batasannya (Tuhan). Secara mental
ini akan semakin memupuk pribadi-pribadi yang rendah hati, selalu
bersyukur karena memandang apa yang diperoleh hari ini adalah sebuah
hadiah dari yang kuasa (Tuhan). Melalui ritual ini pula, manusia akan
ditempa kepekaan sosialnya. Hanya dalam ritual anggota keluarga yang
terpisah dan jarang bertemu dapat bercengkrama dan berbagi cerita suka dan
duka.Lewat ritual ini pula generasi muda dididik untuk berterima kasih dan
menghormati leluhur atau orang yang berjasa pada generasi sekarang. Maka
dengan kesadaran penuh ia akan melakukan yang terbaik di masa sekarang
ini sebagai timbal baliknya. Dan yang tidak kalah pentingnya dari sisi
ekonomi, sebuah ritual mengakibatkan perputaran roda perekonomian
dalam kehidupan masyarakat akan selalu terjaga. Banyak lapangan kerja
yang tercipta karena adanya ritual ini. Dengan banyaknya lapangan kerja,
maka kesejahteraan anggota masyarakat akan terangkat. Dan dengan
masyarakat yang sejahtera, maka roda pembangunan dan pemerintahan
dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan maksimal.
Dalam konteks jalan suci alam / bumi (Di-Dao) sebuah ritual
diyakini dapat membawa proses penyeimbangan ekosistem di alam. Bahan
organik sisa ritual akan menjadi unsur hara bagi kesuburan tanah. Tanah
yang subur akan banyak memberi manfaat pada kesejahteraan manusia,
khususnya sektor pertanian. Tercukupinya kebutuhan pangan merupakan
salah satu modal dasar masyarakat untuk bekerja dan berkarya. Selama
pengelolaan dan penataan segala aspeknya dikondisikan dalam koridor
upaya menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam, maka
kemaslahatan kehidupan masyarakat dengan sendirinya akan ikut terkena
dampak positifnya.

2. Konsep Tatanan Masyarakat yang baik menurut konfusianisme.


a. Tutur kata yang baik (setting word right)
Terkait dengan bertutur kata yang baik, mahaguru Confusius
diceritakan pernah bertemu raja dari Kerajaan Liang.Raja Liang bertanya,

10

"Saya ingin mempertahankan kekuasaan sebagai raja selamanya.Saya ingin


mendapatkan tanah dan harta setiap negara vasal.Saya ingin orang-orang selalu
percaya kepadaku, saya ingin tanah itu melayaniku sepenuhnya.Saya ingin
matahari dan bulan terbit dan terbenam menurut kehendakku.Saya ingin orangorang suci datang kepadaku atas kehendaknya sendiri, dan saya ingin
pemerintahanku baik dalam mengatur orang.Bagaimana saya bisa meraih ini
semua?"
Confusius menjawab, "Raja negara besar atau kecil telah menanyakan
banyak pertanyaan, namun tak ada satupun yang mirip pertanyaan Baginda
tentang memerintah negara.Namun, itu bukan sesuatu yang mustahil untuk
dilakukan. Saya mendengar bahwa, jika raja dari kedua negara dapat saling
menghormati dan memperlakukan satu sama lain dengan sopan, maka mereka
tidak akan pernah kehilangan negaranya. Jika seorang raja bisa bermanfaat
bagi rakyatnya dengan kebijakan, dan para pejabat dapat sepenuh hati melayani
masyarakat dengan tulus dan berintegritas, maka semua negara bawahan
dengan senang hati akan bergabung. Jika seseorang tidak pernah membunuh
orang yang tidak bersalah atau melemparkan kesalahan kepada orang lain,
maka orang akan percaya kepadanya.
Confusius berkata Jika seseorang menguntungkan rakyatnya dengan
teladan yang mulia dan menghargai para pejabatnya yang cakap, maka tanah
tersebut akan melayani dengan sendirinya. Jika seseorang memuja Langit dan
takut kepada Sang Pencipta, maka matahari dan bulan akan secara alami
menjalankan tugasnya. Jika seseorang dapat menangani masalah hukum
dengan baik, maka orang-orang suci akan datang secara alami. Jika seseorang
pemimpin dihargai karena kebaikan tutur kata dan perbuatannya, maka ia akan
dicintai rakyatnya. Dengan begitu pemerintah akan dapat mengelola rakyatnya
dengan baik.
Confusius mengajarkan bahwa benar dan salah harus diukur dengan
prinsip-prinsip moralitas, dan orang tidak boleh terikat pada keuntungan
pribadi.Saat menjalankan sesuatu, aspek moralitas yang harus ditekankan, dan
kita harus melakukannya dengan berani.Confusius berkata, "ketika manusia
unggul dari sisi ahlak mulyanya berhubungan dengan dunia, maka ia tidak

11

berprasangka atau tidak menentang apa pun.Dan dia telah melakukan apa yang
benar".Pesan yang tersirat dalam ilustrasi di atas bahwa seorang pemimpin
dengan segala otoritasnya, tidak boleh melupakan kesopanan dan kesantunan
dalam bertuturkata dan bertindak. Karena itu akanfaktor penentu dukungan
atau pengabdian masyarakat yang dipimpinnya. Sebaliknya arogansi dalam
bertuturkata dan bertindak akan melahirkan kebencian, yang lambat laun akan
tumbuh menjadi bibit-bibit pemberontakan atau perlawanan pada tirani
kekuasaan itu sendiri.

b. Hukum (laws) dan Model / Figur (model)


Terkait dengan penegakan hukum, Confusius pernah ditanyai oleh Kaisar
apa yang harus aku lakukan agar para pencuri, penjahat dan segala bentuk
tindakan kriminal yang dilakukan oleh warga masyarakat ?apakah ini dapat
diatasi dengan memberikan mereka hukuman yang seberat-beratnya ?.
Confusius lalu berkata hukum mungkin diperlukan bagi mereka yang, tidak
adapeduli apa pun jenis pemerintahan setempat, tidak akan pernah berperilaku
taat

hukum.

Tapi

hukum

danhukuman

tidak

mengajarkan

orang

kebajikan.Sebaliknya, Konfusius mengatakanundang-undang danhukuman


hanya membuat orang belajarbagaimana untuk menghindar agar tidak
tertangkap (melarikan diri). Konfusiuspercaya bahwa jika hanya hukum dan
hukuman yang diterapkan, kemungkinan yang terjadi adalah orang dapat
mengikutihukum dengan cara menghindari tertangkap oleh penegak hokum,
tetapi mereka tidak pernah akan mengembangkan rasamalu.Itu karena mereka
taat hukum hanya karena takut tertangkapdan dihukum. Namun, hukum
mengajarkan kita apa-apa dalam hal moral itu adalahhanya penghalang.
Dalam sudut pandang pentingnya figur atau model dalam konteks
kesadaran hukum, Confusius berkata Jika baginda memulai pendisiplinan itu
dari diri anda, dari keluarga anda, pejabat pembantu anda dan para penegak
hokum anda, maka masyarakat akan merasa malu dengan keteladanan yang
anda dan pejabat pembantu anda perlihatkan. Ini sebabnya Confusius
berpendapat bahwa ritual keteladanan akan kedasaran dari dalam lebih baik
dari penegakan hukum dan hukuman itu sendiri. Ritual dan kebajikan

12

iniakanmembantu memperbaiki moral dalam batinrakyat. Setelah Anda


melakukan itu, pemerintah tidakakan perlu lagi memasang aparat penegak
hukum di setiap sudut negeri.
c. Pendidikan tanpa perbedaan (education without distinction)
Dalam kitab Analects,confusius mengatakan, "dalam pendidikan tidak
ada pembedaan jenis peserta didik atau siswa".Konfusius mengatakan bahwa
tidak peduli jika ada siswa yang agak lambat penalarannya bahkan sampaianak
genius, kita semua harus mulai memberikan kualitas pendidikan dengan cara
yang sama.Confusius terbuka untuk mengajarsemua orang, tidak peduli siapa
mereka dalam hal kelas sosial atau kekayaan.Konfusius sering berbicara
tentang bagaimana beberapa muridnya yang miskin, terutama murid
kesayangannya Yan Hui (atau Yan Yuan).
Confusius tidak terkesanoleh siswa dari keluarga kaya tiba di sekolah
mereka dan menawarkan substansialbiaya tertentu.Ia mengatakan bahwa
bahkan jika seorang siswa datang dengan berjalan kaki dan yang ditawarkan
hanya sebungkus daging kering, ia tetap harus mendapat hak belajar.Apa yang
kita tahu tentang siswa Confusiusbahwa merekasemua rata-rata dari orang
yang tidak mampu secara ekonomi, seperti murid kesayangannya Yan Hui.
Pada saat itu, yang terpenting adalah membuat semua orang memiliki
kesempatan yang sama untuk menjadi melek huruf. Tanpa kemampuan
keaksaraan dasar, itu akan menjadimustahil untuk mempelajari setiap teks yang
diajarkan Konfusius, seperti KitabPuisi (The book of poetry). Jadi jelas bahwa
Confusius percaya pendidikan harusdiperluas aksesnya untuk semua kelas atau
golongan demi kemajuan sebuah bangsa.

3. Peranan Pendidikan dalam membentuk tatanan pribadi dan masyarakat yang


baik menurut konfusianisme.
Dengan sebuah pemikiran bahwa tatanan kehidupan masyarakat yang
baik itu pastilah terbentuk dari tatanan kepribadian yang baik di antara warga
masyarakatnya. Kepribadian yang baik salah satunya dihasilkan dari sebuah
proses pendidikan terbaik baik dari lingkup keluarga, sekolah dan lingkungan

13

masyarakatnya. Hal ini menyiratkan betapa sentralnya peran pendidikan dalam


membentuk tatanan masyarakat yang harmonis.
Terkait dengan hal tersebut maka dipandang perlu mengakomodasi
nilai-nilai esensial dalam filsafat konfusianisme ini dalam setiap sendi-sendi
pendidikan, baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Penekanan
terhadap pentingnya penghayatan dan implementasi konsep tiga landasan
keimanan yang disebut Sancai yaitu : (1) jalan suci Tuhan (Tian-Dao); (2)
jalan suci alam/bumi (Di-Dao); dan (3) jalan suci manusia (Ren-Dao). Ia
meyakini tiga landasan keimanan ini akan mampu menciptakan keadaan yang
harmonis dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia
dengan sesamanya dan manusia dengan alam sekitarnya.
Lebih lanjut Confusius juga mengenalkan konsep keseimbangan hidup
dalam dualitas yang diwujudkan dalam symbol Yin dan Yang (hitam-putih,
susah-senang, besar-kecil, laki-perempuan dan berbagai contoh dualitas dalam
kehidupannya nyata). Makna filosofi symbol ini kemudian dijabarkan lagi
menjadi sandaran hakikat kebajikan kodrati manusia dalam bentuk 4 kebajikan
utama yaitu : (1). cinta kasih (Ren); (2) kebenaran (Yi); (3) kesusilaan (Li); dan
(4) kecerdasan / arif bijaksana (Zhi). Dari 4 kebajikan utama ini kemudian
terlahir konsep 8 kebajikan (Ba De) dilambangkan dengan delapan jari tangan
kiri dan kanan.Sementara Ibu jari tangan kiri melambangkan ayah, dan ibu jari
tangan kanan melambangkan ibu. Delapan jari mulai dari jari telunjuk tangan
kiri dan kanan berturut-turut melambangkan : (1) bakti; (2) rendah hati; (3)
setia; (4) dapat dipercaya; (5) menjunjung tinggi kesusilaan; (6) menjunjung
tinggi kebenaran; (7) menyucikan hati; dan (8) punya rasa malu.
Dengan tercapainya menanamkan secara internal nilai-nilai luhur di atas,
maka akan tercipta generasi dengan moralitas dan etika yang unggul. Generasi
seperti ini akan memiliki mental juang yang tangguh dalam mengukir prestasi
terbaik. Mereka juga akan memiliki mental yang menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusiaan, toleransi, kasih saying universal, kejujuran dan ketulusan yang
tinggi. Dengan modal dasar ini, maka sendi-sendi dasar kehidupan masyarakat
yang harmonis akan terwujud. Pada akhirnya impian akan terwujudnya sebuah

14

great equal society dalam kehidupan bangsa dan Negara Indonesia tidaklah
menjadi sebuah keniscayaan.

C. Konfusianisme dalam konteks modernisasi masyarakat Indonesia.


1. Refleksi terhadap keberhasilan konfusianisme sebagai fondasi budaya China
Banyaknya kajian terhadap filsafat Confusianisme di dunia barat, pastilah
memiliki suatu alasan atau kajian yang kuat. Pada dunia akademis, di
Universitas Universitas ternama di dunia barat, kelompok civitas akademika
yang memiliki kualifikasi intelektual dan etos terbaik rata-rata diduduki oleh
warga keturunan China yang terkenal sangat kental memengang teguh
tradisinya.Bukan tidak mungkin hal ini memiliki korelasi yang kuat dengan
teguhnya mereka memegang prinsip dan melaksanakan ajaran atau filsafat
yang menjadi tradisi mereka secara turun temurun.
Berbicara masalah keuletan, sudah tidak diragukan lagi bahwa warga
keturunan China memiliki semuanya.Terkait dengan masalah sopan-santun
juga demikian. Keadaan menjadi akan sangat kontras apabila dibandingkan
dengan warga pribumi, misalnya : di Amerika atau di Eropa yang secara umum
warganya cenderung skpetis dengan ajaran-ajaran atau filsafat tradisional.
Sehingga diyakini memiliki pengaruh terhadap kualitas mental dan etos sumber
daya manusianya.
Dengan mencermati gejala tersebut, Indonesia yang sebenarnya juga
tidak kalah kayanya dengan nilai-nilai kearifan local mulai melakukan
lompatan berpikir ke arah itu.Selain mengadopsi nilai-nilai luhur dalam ajaran
Congfusianisme, kita juga perlu menggali dan memaknai kembali warisan
kearifan lokal kita.Hal ini penting mengingat jati diri kearifan lokal itu akan
menjadi nilai lebih ketika mampu kita interpretasikan dalam konteks Global.
Percaturan kompetesi global hanya dapat dimenangkan dengan melakukan
refleksi dan reinterpretasi kearifan lokal kita dengan tidak mengesampingkan
tuntutan kriteria global. Menjadi bangsa yang sejajar dengan bangsa lain di
belahan dunia itu sangat penting, akan tetapi harus dengan tetap menjaga
keunikan identitas diri bangsa yang menjadi factor pembeda kita dengan
bangsa lain.

15

D. Simpulan
1. Simpulan dari Kristalisasi Esensi Filsafat Konfusianisme, meliputi :
a. Penghayatan dan implementasi konsep tiga landasan keimanan yang
disebut Sancai yaitu : (1) jalan suci Tuhan (Tian-Dao); (2) jalan suci
alam/bumi (Di-Dao); dan (3) jalan suci manusia (Ren-Dao). Ia meyakini
tiga landasan keimanan ini akan mampu menciptakan keadaan yang
harmonis dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia
dengan sesamanya dan manusia dengan alam sekitarnya.
b. Hakikat kebajikan kodrati manusia dalam bentuk 4 kebajikan utama
yaitu: (1). cinta kasih (Ren); (2) kebenaran (Yi); (3) kesusilaan (Li); dan
(4) kecerdasan / arif bijaksana (Zhi). Dari 4 kebajikan utama ini
kemudian terlahir konsep 8 kebajikan (Ba De) dilambangkan dengan
delapan jari tangan kiri dan kanan. Sementara Ibu jari tangan kiri
melambangkan ayah, dan ibu jari tangan kanan melambangkan ibu.
Delapan jari mulai dari jari telunjuk tangan kiri dan kanan berturut-turut
melambangkan : (1) bakti; (2) rendah hati; (3) setia; (4) dapat dipercaya;
(5) menjunjung tinggi kesusilaan; (6) menjunjung tinggi kebenaran; (7)
menyucikan hati; dan (8) punya rasa malu.
2. Simpulan dari Konfusianisme dalam konteks modernisasi masyarakat
Indonesia
Belajar dari nilai-nilai luhur filsafat bangsa lain tidak ada ruginya. Akan
tetapi yang terpenting adalah upaya menggali dan memaknai kembali warisan
kearifan lokal kita. Hal ini penting mengingat jati diri kearifan lokal itu akan
menjadi nilai lebih ketika mampu kita interpretasikan dalam konteks Global.
Percaturan kompetesi global hanya dapat dimenangkan dengan melakukan
refleksi dan reinterpretasi kearifan lokal kita dengan tidak mengesampingkan
tuntutan kriteria global.

16

DAFTAR PUSTAKA

Asmoro Achmadi. (2014). Filsafat Umum. Depok: Rajawali Press


Fung Yu-Lan. (2007). Sejarah Filsafat Cina. Yogyakarta: Pustaka pelajar
Lee Dian Rainey. (2010). Confucius & Confucianism; The Essential. United
Kingdom: Wiley-Blackwell
Ririn Darini. Pendidikan Dalam Pemikiran Konfusius.
Young-oak Kim & Jung-kyu Kim. (2013). The Great Equal Society;
Confucianism, China at the 21st Century. Singapore: World Scientific

17

18

Filename:
Tugas_3(PaperConfusianisme)
Directory:
C:\Users\user\Desktop\ReferensiPengembanganKurikulumPTK
Template:

C:\Users\user\AppData\Roaming\Microsoft\Templates\Normal.dot
m
Title:

Subject:

Author:
Irfan
Keywords:

Comments:

CreationDate:
10/12/20158:29:00
ChangeNumber:
16
LastSavedOn:
01/01/20013:17:00
LastSavedBy:
user
TotalEditingTime:
1.078Minutes
LastPrintedOn:
05/11/201615:09:00
AsofLastCompletePrinting
NumberofPages: 18
NumberofWords: 5.126(approx.)
NumberofCharacters:
29.220(approx.)