Anda di halaman 1dari 1

Identifikasi Senyawa Golongan Antrakinon

Golongan kuinon alam terbesar terdiri atas antrakuinon. Beberapa antarkuinon


merupakan zat warna penting dan yang lainnya sebagai pencahar. Keluarga tumbuhan yang
kaya akan senyawa jenis ini adalah Rubiaceae, Rhamnaceae, Polygonaceae.
Untuk mengidentifikasi senyawa antrakuinon dilakukan uji borntrager. Awalnya ekstrak
ditambah 10ml air suling untuk melarutkan senyawa yang terkandung didalamnya lalu
disaring untuk memisahkan senyawa pengotornya. Filtrat yang diperoleh di ekstrak dengan
3ml toluena dalam corong pisah dan dikocok kuat sehingga senyawa antrakinon akan terlarut
dalam fase toluennya. Ektraksi dilakukan 2 kali .Hasil ekstraksi dibagi menjadi dua yaitu
larutan VA dan VB. Larutan VA digunakan sebagai blanko. Dan larutan VB ditambah
amoniak dan dikocok. Warna merah menunjukkan adanya senyawa antrakinon. Tapi dari hasil
percobaan yang dilakukan pada uji borntrager ini tidak didapatkan larutan menjadi berwarna
merah. Larutan tetap bewarna bening dan membentuk 2 lapisan bening . Hal ini menunjukkan
bahwa ekstrak tidak mengandung antrakinon.
Selanjutnya dilakukan uji modifikasi borntrager. Ekstrak sebanyak 0,3 gram
ditambahkan dengan 1 ml KOH 5N dan 1 ml H 2SO4 encer. KOH berfungsi sebagai pemberi
suasana basa dan berfungsi untuk menghidrolisis glikosida dan mengoksidasi antron atau
antranol menjadi antrakinon. Sedangkan H2SO4berfungsi sebagai pemberi suasana asam.
Sehingga didapatka senyawa dengan suasana netral dengan adanya penmbahan
H2SO4. Kemudian larutan tersebut dipanaskan dan disaring. Filtrat kemudian ditambahkan
asam asetat glasial 1 2 tetes, kemudian di ekstraksi dengan 3 mL toluena. Ekstraksi
bertujuan untuk menghidrolisis antrakuinon, yaitu memisahkan antara glikon dan aglikonnya.
Fase toluen diambil dan dibagi menjadi dua bagian, yaitu larutan VIA dan VIB. Larutan VIA
digunakan sebagai blanko. Larutan VIB ditambahkan ammoniak. Ammoniak berfungsi untuk
memberikan suasana basa. Warna merah atau merah muda pada lapisan alkalis menunjukkan
adanaya antrakinon. Tetapi pada hasil praktikum ini tidak terjadi perubahan warna menjadi
warna merah. Terbentuk 2 lapisan bening dan keruh . Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak d
tidak mengandung senyawa antrakinon.
Selanjutnya dilakukan uji KLT. Fase diam yang digunakan adalah kiesel gel GF 254,
dengan fase gerak toluena-etil asetat-asam asetat ( 75 : 24 : 1 ) dan dengan penampak noda
larutan KOH 10% dalam metanol. Sampel yang ditotolkan merupakan larutan VA yang
digunakan sebagai blanko pada uji borntrager. Larutan ditotolkan sampai tampak warna,
tetapi tidak terlalu pekat, yang dalam hal ini ditotolkan 2 l. Kemudian lempeng dieluasi
dalam chamber yang berisi eluen. Setelah selesai eluasi, lempeng diambil dan dikeringkan.
Setelah kering diberi penampak noda dengan disemprotkan larutan KOH 10% dalam metanol
untuk menampakkan noda, dan noda yang timbul berwarna kuning. Hal itu menunjukkan
adanya antrakuinon. Tapi dalam praktikum yang dilakukan tidak didapatkan noda berwarna
kuning. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak tidak mengandung antakuinon.