Anda di halaman 1dari 1

Nama

Kelas
No. Absen

: PANDU TRISYAH PUTRA


: VII-A
: 19
Asal Mula Gunung Slamet

Syeh Maulana Maghribi adalah penyebar agam islam yang secara kebetulan beliau juga
seorang pangeran dari negeri Rum-Turki. Suatu hari saat fajar menyingsing setelah
melaksanakan sholat subuh, Syeh Maulana melihat cahaya misterus yang menjulang tinggi di
angkasa. Sang Pangeran ingin mengetahui dari mana arah mana cahaya misterius itu datang
dan apa arti fenomena itu. Kemudian beliau memutuskan untuk menyelidikinya dengan
ditemani pengikutnya yang sangat setia yang bernama Haji Datuk serta ratusan pengawal
kerajaan.
Mereka berlayar menuju arah cahaya misterius. Setelah kapal yang ditumpanginya sampai di
pantai Gresik-Jawa Timur, tiba-tiba cahaya tersebut muncul disebelah barat dan pangeran
beserta pengawal kerajaan pergi berlayar kearah barat dan sampailah di pantai Pemalang
Jawa Tengah.
Disini, Syeh Maulana menyuruh hulu balangnya untuk pulang ke Turki. Sementara beliau
melanjutkan perjalanannya dengan ditemani Haji Datuk dengan berjalan kaki kearah selatan
sambil menyebarkan agama Islam. Ketika cahyana melewati daerah Banjar, tiba-tiba beliau
menderita sakit gatal disekujur tubuhnya dan penyakit gatalnya itu pun sulit disembuhkan.
Suatu malam setelah menjalankan sholat tahajjud, pangeran mendapat ilham bahwa beliau
harus pergi ke Gunung Gora. Setibanya dilereng Gunung Gora, beliau meminta Haji Datuk
untuk meninggalkan sendiri dan menunggu disuatu tempat yang mengeluarkan kepulan asap.
Ternyata disitu ada sumber air panas yang mempunyai tujuh buah pancuran. Syeh Maulana
memutuskan tinggal disini untuk berobat dengan mandi secara teratur di sumber air panas
yang memiliki tujuh buah mata air. Puji syukur kehadirat Allah akhirnya penyakit yang
dideritanya sembuh total.
Kemudian Syeh Maulana memberi nama tempat ini menjadi Pancuran Tujuh. Penduduk
sekitar menyebut Syeh Maulana dengan nama mbah Atas Angin karena datang dari negeri
yang jauh. Kemudian Syeh Maulana Maghribi memberi gelar kepada Haji Datuk dengan
sebutan Rusuludi yang dalam bahasa jawa berarti Batur kang Adi (Abdi yang setia).
Kemudian desa itu dikenal dengan sebutan Baturadi yang lama kelamaan menjadi Baturaden
yang dalam penulisannya menggunakan satu "R" yaitu: BATURADEN. Karena Syeh
Maulana mendapat kesembuhan penyakit gatal dan keselamatan di lereng Gunung Gora maka
beliau mengganti nama menjadi Gunung Slamet.