Anda di halaman 1dari 14

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

FAKULTAS KEDOKTERAN

Referat
Resusitasi Jantung Paru

Pembimbing :
dr. Ucu Nurhadiyat Sp.An
Disusun Oleh :
Shienowa Andaya Sari
112015426

KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI


RUMAH SAKIT BAYUKARTA KARAWANG
Periode 23 Mei s/d 11 Juni 2016

KATA PENGANTAR

Salam Sejahtera,
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah
memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyusun tugas referat yang berjudul
Resusitasi Jantung Paru. Dalam hal penyusunan tugas ini penulis menyadari bahwa tugas
referat ini masih jauh dari sempurna baik isi maupun penyajiaannya. Dengan demikian
penulis berharap saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak agar di kesempatan
yang akan datang dapat membuat tulisan yang lebih baik lagi. Pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada dr. Ucu Nurhadiyat, Sp.An sebagai pembimbing dalam
penyusunan referat ini.

Karawang, Mei 2015

Penulis,

DAFTAR ISI

Judul

Halaman

KATA PENGANTAR..........................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi............................................................................................................5
2.2 Indikasi............................................................................................................6
2.2.1 Henti Napas......................................................................................6
2.2.2 Henti Jantung....................................................................................6
2.3 Bantuan Hidup Dasar......................................................................................7
BAB III KESIMPULAN.....................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................14

BAB I
PENDAHULUAN
1

Latar Belakang
Resusitasi jantung paru (RJP) adalah serangkaian penyelamatan hidup pada henti

nafas maupun henti jantung. Hal ini dilakukan guna membuka kembali jalan napas yang
menyempit atau tertutup sama sekali agar darah dan oksigen tetap beredar keseluruh tubuh.
Dalam melaksanakan teknik RJP tidaklah mudah, karena membutuhkan teknik-teknik
tertentu, dan tentu saja harus efektif. Pada umumnya RJP dilakukan pada orang yang
kehilangan kesadaran seperti henti jantung, tenggelam, dan sebagainya. Henti jantung secara
tiba-tiba menjadi penyebab utama kematian di beberapa Negara misalnya Amerika. Walaupun
usaha untuk melakukan resusitasi tidak selalu berhasil, lebih banyak nyawa yang hilang
akibat tidak dilakukannya resusitasi.1
Resusitasi jantung paru merupakan suatu bantuan hidup dasar (basic life support)
dimana bertujuan untuk oksigenasi darurat pada organ vital seperti otak dan jantung. Dalam
membuat petunjuk untuk melakukan RJP, biasanya setiap Negara mengikuti petunjuk yang
dibuat oleh Negara maju seperti Amerika yaitu menggunakan American Heart Association
2015. Menurut American Heart Associaton, rantai kehidupan mempunyai hubungan erat
dengan tindakan jantung paru, karena penderita yang diberikan RJP, mempunyai kesempatan
yang amat besar untuk data hidup kembali.1
2

Rumusan Masalah
Referat ini membahas mengenai tujuan RJP, indikasi RJP, bantuan hidup dasar (basic

life support), dan panduan RJP menurut AHA 2015.


3

Tujuan Penulisan
Mengetahui, memahami serta dapat menerapkan tindakan resusitasi jantung paru pada

saat dibutuhkan.
4

Metode Penulisan
Referat ini disusun berdasarkan studi kepustakaan dengan merujuk ke berbagai
literatur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
4

Resusitasi Jantung Paru


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya RJP atau Cardiopulmonary Resuscitation

(CPR) adalah usaha untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi akibat
terhentinya fungsi dan atau denyut jntung. Resusitasi sendiri berarti menghidupkan kembali,
yang dimaksud disini yaitu sebagai usaha yang dilakukan untuk mencegah berlanjutnya
episode henti jantung. Selain itu dapat diartikan juga sebagai usaha untuk mengembalikan
fungsi pernafasn dan atau sirkulasi yang kemudian memungkinkan untuk hidup normal
kembali setelah fungsi pernafasan dan atau sirkulasi gagal.2,3
Resusitasi jantung paru terdiri dari dua tahap yaitu survei primer yang dapat dilakukan
oleh setiap orang. Survei sekunder dapat dilakukan oleh tenaga medis dan paramedis terlatih
dan merupakan lanjutan dari survei primer. Resusitasi yang berhasil setelah terjadinya henti
jantung membutuhkan gabungan dari tindakan yang terkoordinasi yang ditunjukkan dalam
Chain of Survival, yang meliputi pengenalan segera terhadap henti jantung dan aktivasi dari
emergency response system, RJP yang awal dengan menekankan pada kompresi dada,
defibrilasi yang cepat, advanced life support yang efektif, perawatan post-cardiac arrest yang
terintegrasi.
Terdapat 3 fase dalam RJP yaitu fase I Bantuan hidup dasar (Basic Life Support)
dalam fase I ini terdiri dari langkah yang di A (airway) menjaga jalan nafas tetap terbuka, B
(breathing) ventilasi paru dan oksigenasi yang adekuat, C (circulation) mengadakan sirkulasi
buatan dengan kompresi jantung paru . Fase II yaitu Advance Life Support (ALS), yaitu BLS
ditambah dengan D (drug) pemberian obat-obatan termasuk cairan, E (EKG) diagnosis
elektrokardiografis secepat mungkin untuk mengetahui ventrikel fibrilasi dan F (fibrilation
treatment) mengatasi fibrilasi ventrikel atau merangsang jantung kembali normal. Biasanya
dilakukan dengan syok listrik (defibrilasi). Fase III yaitu Prolonged Life Support (PLS),
yaitu penambahan dari BLS dan ALS, G (gauge) adalah pengukuran dan pemeriksaan untuk
monitoring penderita secara terus menerus,

dinilai, dicari penyebabnya dan kemudian

mengobatinya. H (Head) merupakan tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan


sistem saraf dari kerusakan lebih lanjut akibat terjadinya henti jantung, sehingga dapat
dicegah terjadinya neurologic yang permanen. I (Intensive Care ) merupakan perawatan
intensif di ICU, yaitu tunjangan ventilasi trakheostomi, pernafasan dikontrol terus menerus,
sonde lambung, pengukuran pH, pCO2 bila diperlukan dan tunjangan sirkulasi mengedalikan
jika terjadinya kejang.2
2
1

Indikasi
Henti Napas

Henti nafas primer (respiratory arrest) bisa disebabkan oleh berbagai hal, misalnya
serangan stroke, serangan jantung, keracunan obat, tenggelam, inhalasi asap/uap/gas,
obstruksi jalan napas oleh benda asing, trauma, dan sebagainya. Ditandai dengan tidak
adanya gerakan dada dan aliran udara pernafasan dari korban atau pasien. Pada awal
terjadinya henti napas, jantung dapat dirasakan masih berdenyut, masih teraba nadi, serta
pemberian O2 ke otak masih dapat tersuplai selama beberapa menit. Maka dari itu harus
diberikan pertolongan secepatnya agar pasien dapat terselamatkan.2,3
2 Henti Jantung
Henti jantung primer (cardiac arrest) adalah keadaan dimana curah jantung tidak
mampu memenuhi kebutuhan oksigen ke otak dan organ vital lain secara tiba-tiba. Bila
dilakukan tidakan RJP dengan cepat dan tepat maka pasien dapat selamat. Perlu dibedakan
bahwa henti jantung terminal akibat usia lanjut atau penyakit kronis tertentu tidak termasuk
henti jantung atau cardiac arrest.2,3,4
Fibrilasi ventrikel atau takikardia tanpa denyut merupakan penyebab terbesar
terjadinya henti jantung (80-90%). Terjadinya hal tersebut karena koordinasi aktivitas jantung
menghilang. Pada saat henti jantung terjadi, maka sirkulasi darah ke seluruh tubuh juga akan
terhenti. Berhentinya sirkulasi ini dapat berbahaya karena bisa dengan cepat menyebabkan
otak dan organ vital kekurangan oksigen. Pernafasan yang terganggu merupakan tanda awal
akan terjadinya henti jantung. Henti jantung ditandai oleh denyut nadi besar tak teraba
(karotis, femoralis, radialis) disertai kebiruan atau pucat sekali, pernafasan berhenti atau satusatu, dilatasi pupil tak bereaksi terhadap rangsang cahaya dan pasien tidak sadar.

Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support)


Bantuan hidup dasar ialah bagian dari tindakan gawat darurat medik yang bertujuan

untuk mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi. Tujuan bantuan hidup dasar
ialah untuk oksigenasi darurat secara efektif pada organ vital seperti otak dan jantung melalui
ventilasi buatan dan sirkulasi buatan sampai paru dan jantung dapat menyediakan oksigen
dengan kekuatan sendiri secara normal. Resusitasi mencegah agar supaya sel-sel tidak rusak
akibat kekurangan oksigen. Bantuan hidup dasar (Basic Life Support) atau RJP yang dibahas
kali ini berbasis pada American Heart Assocation (AHA) 2015. Antara BLS AHA 2010 BLS
berdasarkan AHA 2015 tidak terlalu banyak perubahan yang terlihat. Baik tahun 2010
maupun tahun 2015 sama-sama digunakan untuk memberikan dan menjaga rewsusitasi dari
airway, breathing, circulation, dan defibrilation (ABCD) yang terpenting diantara keduanya
yaitu kompresi dada lebih diutamakan, sehingga dari ABC menjadi CAB. Kompresi dada saja
sama efektifnya dengan kompresi dada dengan ventilasi walaupun hanya dalam beberapa
menit. Jika penolong utama tidak ingin melakukan ventilasi dari mulut kemulut maka
penolong dapat melakukan kompresi dada saja.1,3
Airway
Jalan napas merupakan hal yang perlu diperhatikan pada saat sesorang tidak sadar.
Tetapi sekrang jalan napas dilakukan setelah kompresi dilakukan. Hal ini dikarenakan pada
saat seseorang tidak sadar atau tiba-tiba henti jantung aliran oksigen memang masih ada di
dalam darah akan tetapi walaupun masih terdapat kandungan oksigen tetapi oksigen yang ada
tidak dapat terdistribusi dengan baik karena jantung tidak mampu memompa. Maka dari itu
dilakukan kompresi terlebih dahulu agar oksigen yang masih terdapat di dalam darah dapat
tersebar ke organ-organ vital. Biasanya saat seseorang tidak sadar pernapasan tidak berjalan
lancar bisa dikarenakan obstruksi dari lidah atau epiglottis. Bila pasien tidak memiliki cedera
servikal maka dapat dilakukan teknik head-tilt chin-lift (gambar 1.b). Pada pasien yang
dicurigai cedera servikal manuever head-tilt chin-lift tidak dianjurkan, sehingga akan
dilakukan teknik jaw thrust (gambar 1.c)1,3,4

Gambar 1. Teknik Pembukaan Jalan Napas (a) Head-Tilt Chin-Lift (b) Jaw Thrust3
Apabila terdapat benda asing di jalan napas pada orang yang tidak sadarkan diri,
lakukan pengambilan benda asing tersebut, tetapi pastikan bahwa benda asing yang
menyumbat jalan napas tersebut dapat terlihat jelas dengan mata. Jika benda asing tidak
terlihat maka lakukan heimlich manuever. (Gambar 2) Komplikasi hemlich manuever yaitu
fraktur tulang iga, trauma intra visera, dan regurgitasi. Setelah jalan napas terbuka tetapi
terlihat pernapasan yang belum adekuat maka penolong harus memberikan ventilasi baik dari
mulut ke mulut, mulut ke hidung, atau menggunakan alat-alat seperti bag mask dan lainlain.1,3

Gambar 2. Heimlich Manuever3

Breathing
Pernapasan yang tidak adekuat akan menyebabkan apneu, disinilah perlu
diperhatikan. Biasanya akan terlihat pergerakan dada yang kurang, suara napas tidak
terdengar. Kemudian perlu dilakukan ventilasi tanpa alat dapat dilakukan dengan cara mulut
ke mulut, mulut ke hidung, mulut ke stoma trakeostomi atau mulut ke mulut via sungkup
muka.2,3
Ventilasi dengan cara mulut ke mulut merupakan cara yang cepat dan efektif. Pada
saat memberikan penolong tarik nafas dan mulut penolong menutup seluruhnya mulut
pasien/korban dan hidung pasien/korban harus ditutup dengan telunjuk dan ibu jari penolong.
Volume udara yang berlebihan dapat menyebabkan udara masuk ke lambung. Ventilasi
dengan cara mulut ke hidung direkomendasikan bila bantuan dari mulut korban tidak
memungkinkan,misalnya pasien/korban mengalami trismus atau luka berat. Penolong
sebaiknya menutup mulut pasien/korban pada saat memberikan bantuan nafas.2,3
Circulation
Sirkulasi pada orang yang tidak sadarkan diri dalam arti henti jantung sangat
diutamakan dibandingkan jalan napas dan pernapasan. Menurut AHA 2015 kompresi dada
harus dimulai sebelum memberikan napas. Sebelum melakukan kompresi dada dan ventilasi
tentunya penolong harus mengaktifkan kode emergency terlebih dahulu. Setelah itu periksa
adanya reaksi, lihat napas terhenti atau tersengal, rasakan denyut nadi carotis selama 10 detik
(pemeriksaan napas dan denyut dapat dilaukan bersaan kurang dari 10 detik).1
Kemudian penolong dapat melakukan penekanan. Penekanan pada kompresi dada
bila penolong tidak terlatih harus memberi RJP hanya kompresi hingga penolong yang
terlatih datang atau automated external defibrilator (AED) datang. Pada penolong yang
terlatih kompresi dada harus mengikuti anjuran yang ada yaitu melakukan kompresi pada
kecepatan 100-120/min, mengkompresi ke kedalaman minimum 2 inci (5 cm),
memperbolehkan rekoil penuh setelah setiap kali kompresi, memberikan ventilasi yang cukup
(2 napas buatan setelah 30 kompresi, setiap napas buatan diberikan lebih dari 1 detik, setiap
kali diberikan dada akan terangkat).(Gambar 4) 1,4

Cara mengkompresi dada yaitu tiga jari penolong ( telunjuk, tengah dan manis)
menelusuri tulang iga pasien/korban yang dekat dengan sisi penolong sehingga bertemu
tulang dada (sternum). Dari tulang dada (sternum) diukur 2- 3 jari ke atas. Daerah tersebut
merupakan tempat untuk meletakkan tangan penolong. Letakkan kedua tangan pada posisi
tadi dengan cara menumpuk satu telapak tangan diatas telapak tangan yang lain. Hindari jarijari menyentuh didnding dada pasien/korban. Posisi badan penolong tegak lurus menekan
dinding dada pasien/korban dengan tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak 30
kali.1,3,4 (Gambar 3)

Gambar 3. Cara Melakukan Kompresi Dada5


Pada anak-anak bila kita melihat anak tersebut jatuh pingsan maka aktivkan kode
emergency, tetapi apabila korban tidak terlihat jatuh pingsan maka berikan RJP selama 2
menit terlebih dahulu kemudian baru mengaktifkan kode emergency. Pada anak jika kompresi
dad dilakukan 1 penolong maka diberikan rasio 30:2 untuk kompresi berbanding ventilasi.
Sedangkan bila terdapat 2 penolong maka rasio kompresi menjadi 15:2. Pada anak usia 1
tahun hingga pubertas kedalaman kompresi sekitar 2 inci (5 cm), sedangkan pada anak usia
kurang dari 1 tahun kedalaman kompresi sekitar 1,5 inci (4 cm).1
Sesudah 5 siklus kompresi dan ventilasi kemudian pasien/korban dievaluasi kembali
jika tidak ada denyut jantung dilakukan kompresi dan bantuan nafas dengan ratio 30 : 2. Jika
ada nafas dan denyut jantung teraba letakkan korban pada posisi sisi mantap. Jika tidak ada
nafas tetapi teraba denyut jantung, berikan bantuan nafas sebanyak 12 kali permenit dan
monitor denyut jantung setiap saat. 1

10

Gambar 4. Alogaritma BLS Pada Orang Dewasa1

11

Defibrillation
Defibrilasi adalah terapi dengan memberikan energi listrik. Dilakukan pada
pasien/korban yang penyebab henti jantungnya karena adanya gangguan irama jantung.
Penyebab utama adalah ventrikel takikardi atau ventrikel fibrilasi. Pada penggunaan orang
awam tersedia alat Automatic External Defibrilation (AED). Ini merupakan defibrilator
dimana alat ini mempunyai kemampuan untuk mendeteksi irama jantung serta dapat
memberikan tanda visual atau melalui suara atau keduanya bila memang diperlukan suatu
kejutan (shock). Bila penolong melakukan RJP kemudian alat AED datang maka alat ini
harus langsung dipasang pada korban.4,6
Indikasi defibrilasi ialah saat jantung menunjukan shockable rhythm bisa lewat AED
maupun EKG. Sehingga saat ingin melakukan defibrilasi kita harus pastikan terlebih dahulu
dengan menggunakan EKG bila AED tidak digunakan. Shockable rhythm seperti ventrikel
fibrilasi, ventrikel takikardi tanpa nadi, ventrikel polymorphyc tidak stabil. Untuk terapi
shockable rhythm

defibrilasi menggunakan kejut tunggal 150-200 J. Kemudian segera

lakukan RJP tanpa memeriksa adanya denyut atau menilai ulang irama. Lanutkan RJP selama
2 menit. Setelaj itu lihat monitor, bila VF/VT menetap berikan kejutan kedua 150-360 J.
Ulangi kembali RJP selama 2 menit kemudian periksa lagi monitor. Bila masih ditemukan
VF/VT berikan 1 mg adrenalin IV.6
Sedangkan untuk irama jantung yang merupakan non-shockable rhythm yaitu asistole
dan pulseless electrical activity (PEA). Bila irama jantung menunjukan asistole ini
menunjukan masih ada aktivitas listrik jantung tanpa adanya aktivitas kontraktil dan terlihat
pada EKG sebagai gelombang lembut di garis dasar. Kemungkinan suatu VF harus
disingkirkan terlebih dahulu. PEA biasanya terjadi akibat kondisi-konisi yang membatasi
aliran atau pengisian jantung secara mekanik atau yang mengganggu kontraktilitas jantung
secara biokimia. UNtuk penangan PEA maupun asistole segera lanjutkan RJP 30:2 selama 2
menit.4,6

12

BAB III
KESIMPULAN
Resusitasi jantung paru adalah usaha yang dilakukan untuk apa-apa yang
mengindikasikan terjadinya henti nafas atau henti jantung. Kompresi dilakukan terlebih
dahulu dalam kasus yang terdapat henti pernafasan atau henti jantung karena setiap detik
yang tidak dilakukan kompresi merugikan sirkulasi darah dan mengurangkan survival rate
korban. Prosedur RJP terbaru adalah kompresi dada 30 kali dengan 2 kali napas buatan.
Kemudian jenis irama jantung yang termasuk shockable rhythm harus dilakukan defibrilasi
sendangkan yang non-shockable rhythym dilakukan RJP untuk penanganan lebih lanjut.

13

Daftar Pustaka
1
2
3
4
5
6

American Heart Association. Guidelines 2015 CPR & ECC. Dallas: AHA; 2015.
Latief SA. Petunjuk praktis anestesiologi. Edisi Ke-2. Jakarta: Penerbit FKUI; 2002.
Butterworth JF, Macke DC, Wasnick JD. Morgan & Mikhails clinical anesthesiology. Edisi
5. New York: Mcgraw-Hill Companies; 2013. H. 1231-55.
Gwinnutt CL. Catatan kuliah anestesi klinis. Edisi 3. Jakarta: Penerbut Buku Kedokteran
EGC; 2011.h.121-7.
WebMD. Diunduh dari http://www.webmd.com/first-aid/cpr-in-adults-positioning-yourhands-for-chest-compressions. 4 Juni 2014.
Ramrakha P, Hill J. Oxford handbook of cardiology. United States: Oxford University Press
Inc.; 2012.h.716-7.

14