Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Assallamuallaikum wr.wb,

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha kuasa atas rahmat
dan karunianya hingga makalah ini dapat disampaikan kepada Dosen kami atas
petunjuk yang telah diberikan kepada kami sehingga kami dapat menyajikannya.

Semoga makalah ini dapat berguna bagi siapa saja yang membacanya dan
makalah ini

berisi tentang Interaksi Sosial , Kami sangat berterima kasih

kepada Desen kami Ibu Dr. Neneng Mau;yanti, yang telah membantu kami
mencari ilmu mengenai Interaksi Sosial.

Demikian makalah ini kami susun dan kami sangat berharap makalah ini
dapat berguna dan kami sangat mengharapkan kritik dan saran bagi siapa saja
yang membaca makalah ini, khususnya kami sangat berharap kritik dan saran dari
Guru ataupun dari teman-teman.

Wassallamuallaikum wr.wb
Cimahi, 8 Oktober 2014

Tim Penyusun

BAB I
Pendahuluan
I.I

Latar Belakang
Kami memilih judul ini karena pemilihan judul secara acak dan interaksi

sosial sering di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi sangat


penting bagi kehidupan manusia, namun hal tersebut juga dapat di pelajari.
Contohnya ketika kita memasuki lingkungan yang baru, kita mencoba
untuk berkomunikasi dengan orang lain yang ada di sekitar kita, sehingga kita
dapat memiliki teman maupun relasi
I.II

Tujuan
Dari makalah ini kami bertujuan untuk memeberikan informasi bagi

teman-teman kami bahwa interaksi sosial itu sangat penting di kehidupan


masyarakat, memperbaiki diri dalam berinteraksi dengan orang lain dan
memenuhi tugas.
I. III

Rumusan Masalah
Apa pengertian Interaksi Sosial
Kontak dan Komunikasi Sosial
Pola Interaksi Sosial
Faktor-faktor yang mendasari interaksi sosial
Bentuk Interaksi Sosial
Status dan Peranan Sosial dalam Interaksi Sosial

BAB II
Pembahasan

Pengertian Interaksi Sosial


Interaksi sosial merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi tiap orang
dalam kehidupan masyarakat, karena tidak ada seorangpun yang mampu hidup
sendiri, tiap orang membutuhkan pertolongan orang lain. Kodrat manusia sebagai
makhluk sosial adalah keinginan untuk selalu hidup bersama, dengan orang lain
dalam suatu kelompok atau masyarakat.
Menurut Soekanto (1993), interaksi sosial merupakan kunci semua kehidupan
sosial. Dengan tidak adanya komunikasi ataupun interaksi antar satu sama lain
maka tidak mungkin ada kehidupan bersama. Jika hanya fisik yang saling
berhadapan antara satu sama lain, tidak dapat menghasilkan suatu bentuk
kelompok sosial yang dapat saling berinteraksi. Maka dari itu dapat disebutkan
bahwa interaksi merupakan dasar dari suatu bentuk proses sosial, karena tanpa
adanya interaksi sosial, maka kegiatan-kegiatan antara satu individu dengan yang
lainnya tidak dapat disebut interaksi.
Bila ditinjau dari tata bahasa, kata Interaksi berasal dari kata inter yang
berarti antar, dan aksi yang berarti tindakan. Dengan demikian Interaksi sosial
merupakan suatu fondasi dari hubungan yang berupa tindakan-tindakan (aksi dan
reaksi), yang berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dan diterapkan di
dalam masyarakat. Mengacu pada panduan Weber (1991) tindakan sosial
dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
1. Rasionalitas instrumental (zwerk rational)
Tindakan ini merupakan tindakan sosial murni, yang menunjukkan bahwa
tindakan dilakukan dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara yang
digunakan dan tujuan yang akan dicapai (bersifat rasional). Contohnya,
mahasiswa menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen dengan cara

membaca literatur-literatur yang berkaitan dengan materi, dan berdiskusi


dengan teman kelompok. Tindakan ini dilakukan dengan alasan agar tugas
dapat selesai pada waktu yang telah diberikan, dan dia memiliki
pemahaman lebih mendalam atas materi untuk mempresentasikannya.
2. Rasionalitas yang berorientasi nilai (wertrational)
Tindakan ini bersifat rasional dan memperhitungkan manfaatnya, tetapi
tujuan yang hendak dicapai tidak dijadikan unsur penting. Yang
melakukan hanya beranggapan bahwa tindakannya masuk dalam kriteria
baik dan benar menurut ukuran dan penilaian masyarakat sekitar.
Contohnya, mahasiswa mengunjungi teman yang terkena musibah. Itu
adalah tindakan yang didasari atas nilai dalam tatanan nilai (value system)
dan tatanan keyakinan (belief system) mahasiswa tersebut.
3. Tindakan afektif (affectual)
Tindakan ini sebagian besar dikuasai oleh perasaan atau emosi tanpa
pertimbangan-pertimbangan akal sehat. Tindakan ini adalah tindakan
afeksi, reaksi spontan atau refleks terhadap satu peristiwa. Contohnya,
tindakan seorang ayah saat menolong anaknya yang tercebur ke sungai.
Dalam tindakannya, seorang ayah itu tidak memikirkan keselamatan
dirinya, atau manfaat bagi dirinya, juga tidak memikirkan penilaian
masyarakat terhadap tindakannya. Itu semua didorong oleh insting sebagai
seorang ayah yang menyayangi anaknya.
4. Tindakan tradisional
Tindakan ini didasarkan atas kebiasaan-kebiasaan (tradisi) yang dilakukan
orang-orang terdahulu. Tanpa perhitungan secara matang, dan terkadang
tidak rasional, misalnya seperti upacara adat tradisional, terkadang tidak
dapat diterima secara logika, tapi masyarakat tetap melakukannya.

Kontak dan Komunikasi Sosial


Interaksi sosial akan terjadi apabila ada tindakan atau perilaku yang
ditunjukkan pada orang lain sehingga muncul reaksi. Adapun syarat terjadinya
interaksi sosial, yaitu:
1. Kontak sosial
Secara etimologi, kata kontak berasal dari con atau jamaknya cum yang berarti
bersama-sama, dan tanggo artinya menyentuh. Jadi kontak berarti bersama-sama
menyentuh. Dalam kehidupan sehari-hari manusia senantiasa melakukan kontak
dengan manusia lainnya, wujud kontak tidak selamanya harus terjadi sentuhan
secara fisik, tapi juga dapat secara verbal.
2. Komunikasi Sosial
Komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu communication, yang artinya
berhubungan, tujuan berkomunikasi adalah untuk menyampaikan pesan atau
keinginan dari pihak komunikator kepada pihak komunikan agar pihak
komunikan

mengerti

atau

melaksanakan

pesan

keinginan

komunikator.

Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari penyampai pesan kepada


penerima pesan. Komunikasi berlangsung apabila seseorang menyampaikan suatu
stimulus yang kemudian memperoleh arti tertentu yang direspon oleh orang lain.

Pola Interaksi Sosial


1. Pola interaksi sosial antara individu dengan individu
Pola ini merupakan hubungan timbal balik yang terjadi antara orang
perseorangan. Interaksi sosial akan terjadi apabila dua belah pihak saling
berhubungan dan melakukan tindakan timbal balik (aksi-reaksi). Pola

interaksi individu dengan individu ditekankan pada aspek-aspek


individual, yang setiap tindakan didasari pada keinginan dan tujuan
pribadi, dipengaruhi oleh sosio-psikis pribadi, dan akibat dari hubunganhubungan menjadi tanggung jawabnya.
2. Pola interaksi sosial antara individu dengan kelompok
Pola ini merupakan hubungan timbal balik yang terjadi antara perorangan
dengan kelompok. Interaksi ini sering terjadi dalam forum yang bersifat
resmi seperti belajar mengajar di kelas antara guru dengan para
pelajar,kegiatan penyuluhan pertanian oleh pegawai penyuluh terhadap
para petani dan lain sebagainya. Interaksi yang bersifat resmi
membutuhkan tata-tertib yang bersifat resmi pula. Akan tetapi, interaksi
inipun bisa terjadi pada forum yang tidak resmi, seperti interaksi antara
penjual obat dengan kerumunan orang di pasar yang terjadi berdasarkan
ketertarikan semata, jadi tidak diperlukan aturan tertentu yang mengikat.
3. Pola interaksi sosial antar kelompok
Pola ini adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara
sekelompok orang dengan kelompok lainnya dalam rangka mencapai
tujuan bersama. Biasanya, pola ini lebih bersifat resmi dan terikat oleh
adanya sistem nilai dan sistem norma yang dianut. Misalnya rapat antar
partai politik, dan perlombaan antar sekolah.

Faktor-faktor yang mendasari interaksi sosial


1. Imitasi (Imitation)
Imitasi atau meniru adalah suatu proses kognisi untuk melakukan tindakan
maupun aksi seperti yang dilakukan oleh model dengan melibatkan alat
indera sebagai penerima rangsang dan pengasahan kemampuan mengolah

informasi dari rangsang dengan kemampuan aksi untuk melakukan


gerakan motorik. Proses ini melibatkan kemampuan kognisi tahap tinggi
karena tidak hanya melibatkan bahasa namun juga pemahaman terhadap
pemikiran orang lain.
2. Sugesti (suggestion)
Sugesti adalah proses psikologis dimana seseorang membimbing pikiran,
perasaan, atau perilaku orang lain. Dalam bahasa Indonesia, sugesti
dimaknai sebagai emosional/perasaan/kata hati tersentuh oleh pandangan,
sikap, dan anjuran dari pihak lain. Pengaruh sugesti ini sifatnya kualitatif,
bukan kuantitatif.
3. Identifikasi (Identification)
Identifikasi dalam sosiologi diartikan sebagai kecenderungan atau
keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain
yang menjadi idolanya. Dalam proses identifikasi, tidak hanya meniru
penampilan atau perilaku saja, namun sampai pada nilai yang dianut orang
yang diidolakan, baik secara parsial (sebagian) maupun secara
keseluruhan.
4. Simpati (Sympathy)
Simpati dapat diartikan sebagai kemampuan orang untuk merasakan apa
yang diderita oleh orang lain. Biasanya simpati berkaitan dengan perasaan
duka, namun sesungguhnya simpati bisa pula ditujukan untuk berbagi
perasaan lain yang bersifat positif, bahkan dewasa ini kata simpati juga
digunakan untuk berbagai sentimen-sentimen politik atau ideologi,
misalnya simpatisan partai.
5. Empati (Empathy)
Empati berasal dari bahasa Yunani emphatheia yang berarti ketertarikan
fisik. Sehingga dapat didefinisikan sebagai kemampuan sesorang untuk
mengenali, mempersepsi, dan merasakan perasaan orang lain.
6. Motivasi (Motivation)
Dalam dunia sosiologi, motivasi diartikan sebagai dorongan, rangsangan,
pengaruh yang diberikan oleh individu kepada individu lain, sehingga
individu yang diberi motivasi menuruti atau melaksanakan apa yang
diberikan itu secara kritis, rasional, dan penuh rasa tanggung jawab.

Motivasipun dapat diberikan oleh individu kepada kelompok, kelompok


kepada kelompok, atau bahkan kelompok kepada kelompok.

Bentuk Interaksi Sosial


1. Proses asosiatif, hubungan yang bersifat positif. Artinya hubungan ini
dapat mempererat jalinan atau solidaritas kelompok.
Bentuk proses asosiatif :
1. Kerja sama (cooperation)
Dalam proses kerja sama dikenal beberapa bentuk kerja sama dalam masyarakat,
yaitu:
a. Tawar menawar (bargaining) yaitu kerja sama yang terbentuk sebagai
hasil kesepakatan melalui proses tawar menawar antara kedua belah pihak.
b. Kooptasi (cooptation) yaitu kerja sama yang terjadi melalui penunjukan
kepemimpinan yang akan mengendalikan kerja sama, agar terhindar dari
terjadinya kekacauan dalam organisasi.
c. Koalisi (coalition) yaitu kombinasi antara dua organisasi atau lebih atas
dasar tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan yang tidak
stabil untuk sementara waktu karena organisasi-organisasi tersebut memiliki
perbedaan azas dan sifat-sifatnya.
d. Usaha patungan (join venture) yaitu kerja sama dalam menjalankan
proyek-proyek tertentu, misalnya pengeboran minyak, pembangunan
jembatan layang, pembangunan hotel, dan sebagainya.
2. Akomodasi (acomodation)
Bentuk akomodasi, ada 11, yaitu:

a. Kompromi (compromise), suatu bentuk akomodasi dimana pihak-pihak


yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian
perselisihan yang ada.
b. Toleransi (tolerance), suatu bentuk akomodasi tanpa persetujuan formal.
Terkadang toleransi timbul secara tak sadar.
c. Konsiliasi (konsiliation), suatu usaha mempertemukan keinginan-keinginan
pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama.
d. Koersi (coercion), suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilakukan
dengan paksaan. Artinya, ada pemaksaan kehendak oleh pihak tertentu terhadap
pihak lain yang posisinya lebih rendah. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara
fisik maupun secara psikologis.
e. Arbitrasi (arbitration), suatu bentuk akomodasi yang menghadirkan pihak
ketiga yang bersifat netral untuk mencapai suatu penyelesaian perselisihan. Pihak
ketiga berwenang untuk ambil keputusan penyelesaian.
f. Mediasi (mediation), hampir sama dengan arbitrasi, ada pihak ketiga, tetapi,
pada mediasi pihak ketiga mediasi, bersifat netral dan berfungsi sebagai penengah
yang tidak mempunyai wewenang untuk memberi keputusan-keputusan dalam
menyelesaikan perselisihan.
g. Ajudikasi (adjudication), penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan
atau melalui jalur hukum.
h. Buntu (stalemate), suatu bentuk akomodasi di mana pihak-pihak yang
bertentangan, karena mempunyai kekuatan seimbang, berhenti pada suatu titik
tertentu dalam melakukan pertentangannya.
i. Konversi, penyelesaian konflik dimana salah satu pihak bersedia mengalah
dan mau menerima pendirian orang lain.
j. Gencatan senjata (cease-fire), penghentian sementara pertikaian karena ada
satu hal yang mengharuskan pertikaian berhenti melalui negosiasi perdamaian.

k. Segregation, upaya untuk saling memisahkan diri dan menghindar di antara


pihak-pihak yang saling bertentangan dengan tujuan untuk mengurangi
ketegangan.
3. Asimilasi (assimilation)
Merupakan proses bersatunya dua pihak yang memiliki latar belakang kebudayaan
yang berbeda untuk menciptakan persatuan dan kesatuan. Asimilasi adalah
pembauran dua unsur kebudayaan dan memunculkan kebudayaan baru, yang
berbeda dengan budaya sebelumnya melaui interaksi dua kelompok dengan latar
budaya yang berbeda. Asimilasi mempertipis batas perbedaan antar individu
dalam suatu kelompok sosial.

2. Proses sosial yang dissosiatif, prosesnya bertolak belakang dengan


asosiatif. Dissosiatif cenderung menyebabkan ketidak teraturan kehidupan
masyarakat, yang memberi akses terjadinya perpecahan kelompok sosial.
Bentuk proses sosial yang dissosiatif :
1. Kompetisi (competition) atau persaingan, merupakan proses sosial yang
interaksi sosialnya ditandai dengan adanya persaingan untuk mencari
keuntungan tertentu. Persaingan dilakukan secara sehat atau sportif. Hasil
dari suatu persaingan akan diterima dengan kepala dingin oleh berbagai
pihak yang bersaing, tanpa rasa dendam, karena sejak awal semua pihak
telah menyadari akan ada yang menang dan ada yang kalah.
2. Kontraversi (contravention), merupakan suatu sikap mental yang
tersembunyi terhadap orang lain atau terhadap unsur kebudayaan suatu
golongan tertentu. Adapun bentuk-bentuk kontravensi:
1) Proses umum: perbuatan menolak, keenganan, mengganggu proses
atau mengacaukan rencana

2) Sederhana: menyangkal pernyataan di depan umum, memaki,


mencerca, memfitnah
3) Intensif: menghasut, menyebarkan gosip
4) Taktis: mengejutkan lawan dengan perang urat syaraf (psy war), unjuk
kekuatan (show of force), dan sebagainya.
3. Konflik ( conflict), merupakan proses sosial seperti halnya kompetisi atau
persaingan namun seringkali disertai ancaman ataupun kekerasan baik
fisik maupun nonfisik.
4. Diferensiasi (differentiation), merupakan suatu proses individu di dalam
masyarakat yang memperoleh hak dan kewajiban yang berbeda dalam
masyarakat. Diferensiasi dapat didasarkan pada umur, jenis kelamin, atau
profesi.

Status dan Peranan Sosial dalam Interaksi Sosial


1. Kedudukan (status), adalah posisi sosial yang merupakan tempat dimana
seseorang menjalankan kewajiban-kewajiban dan berbagai aktivitas lain.
Maka status adalahposisi sosial seseorang dalam suatu kelompok
masyarakat. Pola interaksi yang terjalin mencerminkan status dari orangorang yang terlibat di dalam suatu interaksi.
2. Peranan (role), dalam kehidupan bermasyarakat, tiap orang memiliki status
yang mencerminkan kedudukannya, juga memiliki peranan-peranan
tertentu sesuai dengan status yang melekat pada dirinya. Peranan berkaitan
erat dengan tanggung jawab yang diemban seseorang. Oleh karena itu,
pola interaksi yang terjalin, selain menunjukkan status seseorang, juga
menunjukkan peran orang yang sedang melakukan interaksi. Dalam
kehidupan bermasyarakat, terjadinya proses asosiatif dan disosiatif sangat

ditentukan oleh proses interaksi sosial yang dikaitkan dengan status dan
peran tiap individu yang menjadi anggota masyarakat.

BAB III
Penutup
Kesimpulan

Dari penyusunan makalah kami dapat memahami kebutuhan yang sangat


mendasar bagi tiap orang dalam kehidupan masyarakat, karena tidak ada
seorangpun yang mampu hidup sendiri, tiap orang membutuhkan pertolongan
orang lain. Kodrat manusia sebagai makhluk sosial adalah keinginan untuk selalu
hidup bersama, dengan orang lain dalam suatu kelompok atau masyarakat.