Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

ILMU PERLINDUNGAN HUTAN

Disusun oleh :
Nama

: M. Faisal Nasution

Nim

: 13/16124/Shti

Jurusan

: Kehutanan

Acara

: Pengenalan Tubuh Serangga

Kelompok

: IV ( Empat )

Co.Ass

: M. Abdul Syafii

FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN STIPER
YOGYAKARTA
2015

ACARA I
PENGENALAN TUBUH SERANGGA
I.

II.

TUJUAN
1. Mengenal morfologi hama pada tanaman hutan
2. Dapat membedakan pada suatu ordo dengan hama dari ordo lain.
TEMPAT DAN TANGGAL
1. Tempat
: Lab. Perlindungan Hutan Fakultas Kehutanan Instiper
2. Tanggal
: 16 Februari 2015

III.

ALAT DAN BAHAN


1. Alat :
a. Alat tulis
b. Preparat
2. Bahan :
a. Ordo Orthoptera (Belalang)
b. Ordo Lepidoptera (Penggerek batang)
c. Ordo Dipteral (Lalat)
d. Ordo Hymenoptera (Lebah madu)
e. Ordo Homoptera (Kutu daun)
f. Ordo Hemiptera (Kumbang coklat)
g. Ordo Coleopteran (Kumbang kelapa)
h. Ordo Isopteran (Rayap)
i. Ordo Onodota (Capung)

IV.

DASAR TEORI
Serangga merupakan hama paling berat yang menyebabkan kerusakan
hutan. Hama tanaman hutan pada umumnya baru menimbulkan kerugian bila
berada pada tingkat populasi yang tinggi. Perkembangan populasi hama
hingga mencapai tingkat yang tinggi ditentukan oleh potensi reproduksi,
kemampuan mempertahankan diri dan daya tahannya terhadap kondisi
lingkungan hidupnya.

Pengendalian serangga hama hutan sendiri bertujuan untuk mencegah


atau mengurangi kerusakan yang terjadi pada tanaman hutan atau hasil hutan.
Tujuan pengendalian dapat dicapai melalui pengaturan populasi serangga
hama pada umumnya menggunakan pendekatan tekhnik silvikultur.
Kerusakan hutan dapat terjadi oleh adanya aktivitas berbagai serangga yang
hidup didalamnya dengan memanfaatkan tanaman hutan sebagai tempat
berkembang dan sumber makanan.
Di daerah tropik jumlah serangga di dalam hutan sangat banyak
jenisnya, dan banyak diantaranya yang bahkan belum diketahui identitasnya.
Dari jenis jenis yang telah diketahui serangga mempunyai kehidupan yang
sangat bervariasi. Banyak serangga yang hidup dalam koloni yang besar dan
seringkali mempunyai fungsi yang sangat teratur misalnya pada jenis rayap
dan lebah. Sebaliknya banyak pula serangga yang hidup tidak berkoloni
misalnya pengerek batang. Jenis jenis serangga tertentu mempunyai
kemampuan jelajah yang tinggi sehingga dapat berpindah pindah dalam
jangka waktu yang singkat.
Kerusakan oleh serangga hama dapat terjadi pada semua tumbuhan
penyusun hutan, pada semua tingkat pertumbuhan dan organ tumbuhan (akar,
batang, daun, buah, dan biji). Besarnya kerusakan yang terjadi ditentukan
oleh banyak faktor termasuk jumlah serangga hama, cara serangga merusak,
bagian tanaman dan tingkat pertumbuhan tanaman serta luas bagian hutan
yang dirusak.
V.

CARA KERJA
1. Gambarlah tubuh serangga belalang dari arah lateral. Perhatikan tubuh
yang beruas ruas, yang terdiri atas bagian kepala ( caput ), thorax, dan
abdomen.
2. Kepala : perhatikan alat - alat atau organ tubuh, yaitu antena majemuk,
mata tunggal, frons, gena, vertex, occiput, clypeus, alat mulut (labrum,
mandibulla, maxila dan labium ).
3. Dada : perhatikan dada yang terdiri atas prothorax, mesothorax, dan
metathorax.

a. Perhatikan pula adanya sepasang kaki pada setiap ruas, jika


mempunyai dua pasang sayap, sayap tersebut berada pada meso dan
metathorax.
b. Setiap ruas thrax terdiri atas tiga sklerit, yaitu sebelah dorsal disebut
tergum, sebelah ventral disebut sternum. Dan sebelah lateral disebut
pleuron.
4. Kaki, jumlahnya ada 3 pasang, setiap ruas kaki terdiri atas coxa,
trochanter, femur, tibia, dan tarsus ( perhatikan banyaknya ruas yang
menyusun tarsus dan bagaiaman susunannya ) serta claw.
5. Abdomen, terdiri atas 11 ruas, ruas terakhir hanya terdiri dari alat
tambahan, sehingga kebanyakan jumlah ruas abdomen ada 10 ruas. Sklerit
dorsal disebut tergum, sklerit ventral disebut sternum, dan sklerit lateral
disebut pleuron.

VI.

HASIL PENGAMATAN
1. Ordo Orthoptera
a. Gambar

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Tipe mulut
: penggigit
Tipe larva
: nimpha
Tipe metamorphosis
: Tidak sempurna
Fase metamorphosis
: nimpha-imago
Tipe pupa
:Arti Penting
: Hama dan predator
Kunci determinasi
1.(a) sayap ada 2
2.(a) sayap depan dengan tekstur seperti mika/kulit atau tanduk
terutama pada pangkal sayap, sayap belakang bila ada bersifat
membran. 3
3.(b) ciri-ciri tidak seperti pada 3(a). 4
4.(b) alat mulut tipe pengunyah, mempunyai mandibel. 6
6.(b) abdomen tidak seperti pada 6(a) atau apabila ada cerci, sayap
menutup sebagian perutnya, jumlah tarsi bervariasi. 7
7.(b) sayap depan seperti mika dengan vena-vena dan saling tumpang
tindih menutup abdomen apabila sedang hinggap, sayap belakang
lebar, biasanya lebih pendek dari sayap depan dengan banyak venavena; antenna biasanya mempunyai ruas-ruas lebih dari 12 ruas.

2. Ordo Lepidoptera
a. Gambar

b.
c.
d.
e.
f.
g.

Tipe mulut
Tipe larva
Tipe metamorphosis
Fase metamorphosis
Tipe pupa
Arti penting

h. Kunci determinasi:

: penghisap
: polipoda
: sempurna
: larva-pupa-imago
: obtecta
: Larva hama
Imago penyerbuk

1.(a) sayap ada. 2


2.(b) semua sayap bersifat membran. 8
8.(b) dengan 2 pasang sayap. 14
14.(a) sayap sebagian tertutup oleh sisik.

3. Ordo Diptera
a. Gambar

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Tipe mulut
: penusuk penghisap/penjilat penghisap
Tipe larva
: Apodus.
Tipe metamorphosis
: sempurna
Fase metamorphosis
: larva-pupa-imago
Tipe pupa
: Coartacta
Arti penting
: Predator, penyerbuk, pemakan madu
Kunci determinasi
1.(a) sayap ada. 2
2.(b) semua sayap bersifat membran. 8
8.(a) dengan satu pasang sayap. 9
9.(b) pronotum tidak seperti pada 9(a), kaki belakang tidak begitu
membesar. 10
10.(b) tidak seperti ciri-ciri tersebut pada 10 (a). 11
11.(b) abdomen tidak seperti pada 11(a), mulut tipe penguyah atau
penghisap. 13
13.(a) tarsi selalu 5 ruas, mulut tipe penghisap, sayap belakang
menghilang berubah bentuk menjadi halteres, lalat bersayap sepasang.

4. Ordo Hymenoptera
a. Gambar

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Tipe mulut
: Penggigit
Tipe Larva
: Veriform
Tipe metamorphosis
: sempurna
Fase metamorphosis
: Larva-pupa-imago
Tipe pupa
: eksarat
Arti penting
: Parasit, predator, penyerbuk
Kunci determinasi
1.(a) sayap ada. 2
2.(b) semua sayap bersifat membran. 8
8.(b) dengan 2 pasang sayap. 14
14.(b) sayap tidak seperti pada 14(a).15
15.(b) sayap tidak seperti pada 15(a), sayap sedikit seperti garis; tarsi
lebih dari 2 ruas. 16
16.(b) sayap dan abdomen tidak seperti pada 16 (a). 17
17.(a) tarsi 5 ruas. 18
18.(b) sayap depan tidak seperti pada 18(a), mandibel tumbuh
sempurna, antenna lebih pendek dari pada tubuhnya. 19
19.(a) agak bertubuh padat, abdomen sering terputus pada pangkalnya
dengan petiolus, sayap belakang lebih kecil dari sayap depan dengan

20 sel atau kurang.


5. Ordo Homoptera
a. Gambar

b.
c.
d.
e.
f.
g.

Tipe Mulut
Tipe Larva
Tipe Metamorfosis
Fase metamorphosis
Tipe pupa
Arti Penting

: penghisap
: nimpha
: tidak sempurna
: nimpha-imago
:: Vektor penyakit dan penghisap cairan
tanaman

h. Kunci determinasi
1.(a) sayap ada. 2
2.(b) semua sayap bersifat membran. 8
8.(a) dengan satu pasang sayap. 9
9.(b) pronotum tidak seperti pada 9(a), kaki belakang tidak begitu
membesar. 10
10.(b) tidak seperti ciri-ciri tersebut pada 10(a). 11
11.(a) abdomen dengan alat tambahan caudal yang panjang seperti
ekor, mulut vestigial. 12
12.(a) antenna panjang dan menarik perhatian, abdomen ramping dan
panjang, sayap hanya mempunyai satu vena yang menyerupai garpu,
halteres (sayap belaakang yang mengecil) seperti kait; ukuran
serangga sangat kecil, biasanya panjangnya kurang dari 5 mm.

6. Ordo Hemiptera
a. Gambar

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Tipe mulut
: penusuk dan penghisap
Tipe larva
: nimpha
Tipe metamorphosis
: tidak sempurna
Fase metamorphosis
: nimpha-imago
Tipe pupa
:Arti penting
: Hama predator dan vector penyakit
Kunci determinasi
1.(a) sayap ada. 2
2.(a) sayap depan dengan tekstur seperti mika/kulit atau tanduk
terutama pada pangkal sayap, sayap belakang bila ada bersifat
membran. 3
3.(b) ciri-ciri tidak seperti pada 3(a). 4
4.(a) alat mulut tipe penghisap dengan bentuk paruh (beak) panjang
biasanya beruas-ruas. 5
5.(a) paruh muncul dari bagian depan kepala, tekstur pangkal
sayapdepan (kira-kira 2/3 bagian sayap) seperti mika atau kulit, ujung
sayap (1/3 bagian) bersifat membran, ujung sayap saling tumpang
tindih (ovelapping) apabila serangga sedang hinggap.

7. Ordo Coleoptera
a. Gambar

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Tipe mulut
: menggigit
Tipe larva
: apodus
Tipe metamorphosis
: sempurna
Fase metamorphosis
: larva-pupa-imago
Tipe pupa
: eksarat
Arti penting
: hama perusak akar dan predator
Kunci determinasi
1.(a) sayap ada. 2
2.(a) sayap depan dengan tekstur seperti mika/kulit atau tanduk
terutama pada pangkal sayap, sayap belakang bila ada bersifat
membran. 3
3.(b) ciri-ciri tidak seperti pada 3(a). 4
4.(b) alat mulut tipe pengunyah, mempunyai mandibel. 6
6.(b) abdomen tidak seperti pada 6(a) atau apabila ada cerci, sayap
menutup sebagian perutnya, jumlah tarsi bervariasi. 7
7.(a) sayap depan keras seperti tanduk tanpa vena, kedua sayap depan
biasanya bertemu satu sama lain membentuk sebuah garis lurus
kebawah pada tengah-tengah punggung, sayap belakang bersifat
membran, berbentuk sempit dan biasanya lebih panjang dari sayap
depan dengan hanya beberapa vena sayap, antenna 11 ruas atau lebih.

8. Ordo Isoptera
a. Gambar

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Tipe mulut
: menggigit
Tipe larva
: nimpha
Tipe metamorphosis
: tidak sempurna
Fase metamorphosis
: nimpha-imago
Tipe pupa
: Arti penting
: Perusak infrastruktur
Kunci determinasi
1.(a) sayap ada. 2
2.(b) semua sayap bersifat membran. 8
8.(b) dengan 2 pasang sayap. 14
14.(b) sayap tidak seperti pada 14 (a). 15
15.(b) sayap tidak seperti pada 15 (a), sayap sedikit seperti garis; ta rsi
lebih dari 2 ruas. 16
16.(b) sayap dan abdomen tidak seperti pada 16 (a). 17
17.(b) tarsi dengan 4 ruas atau kurang. 21
21.(b) ciri-ciri seperti tersebut pada 21(a), antenna panjang dan
ramping. 22
22.(a) sayap depan dan belakang hampir sama dalam ukuran, bentuk
dan susunan venanya,; cerci kecil atau tidak ada, tarsi 4 ruas. Isoptera

9. Ordo Odonata
a. Gambar

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Tipe mulut
Tipe larva
: nimpha
Tipe metamorphosis
: tidak sempurna
Fase metamorphosis
: nimpha-imago
Tipe pupa
:Arti penting
: Predator hewan kecil
Kunci determinasi
1.(a) sayap ada. 2
2.(b) semua sayap bersifat membran. 8
8.(b) dengan 2 pasang sayap. 14
14.(b) sayap tidak seperti pada 14 (a). 15
15.(b) sayap tidak seperti pada 15 (a), sayap sedikit seperti garis; ta rsi
lebih dari 2 ruas. 16
16. (b) sayap dan abdomen tidak seperti pada 16 (a). 17
17.(b) tarsi dengan 4 ruas atau kurang. 21
21.(a) sayap belakang sama panjangdan sama bentuknya dengan sayap
depan, sayap dengan banyak vena dan sel, bagian pangkal agak
melebar; antenna pendaek seperti bulu keras, abdomen panjang dan
ramping, tarsi 3 ruas. Odonata

VII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan pengamatan terhadap
tubuh serangga yaitu chaput (kepala), thorax (dada) dan aboment (perut).
Pengamatan dilakukan berdasarkan morfologi masing-masing ordo tersebut,
yaitu pada kepala, thorax atau bagian badan, dan abdomen atau bagian
perut. Selain dari 3 bagian tersebut, juga diamati bentuk mulut, fase dan tipe
metamorfosis, larva dan pupa serangga tersebut.
Dari ke-9 ordo utama, terdapat ordo yang memiliki kemampuan untuk
bermetamorfosis secara sempurna dan tidak sempurna. Ordo yang mampu
bermetamorfosis secara sempurna adalah ordo Lepidoptera, Diptera,
Hymenoptera dan Coleoptera. Fase dari metamorfosisnya itu sendiri adalah
berawal dari telur larva pupa imago. Larva ini adalah serangga
muda (juvenile) yang nantinya akan berkembang menjadi serangga dewasa
melalui proses metamorfosis. Larva ini terbagi menjadi 3 jika dibagi
menurut jumlah kaki, yaitu Polipoda yang merupakan larva dengan kaki
lebih dari 3 pasang, Oligopoda merupakan larva dengan 3 pasang kaki, dan
Apoda atau Apodus adalah larva tanpa kaki.
Bentuk pupa pada metamorfosis sempurna juga memiliki beberapa jenis
diantaranya pupa pada ordo Lepidoptera yang memiliki tipe pupa obtecta
dimana bentuknya seperti cocoon yang berasal dari air liur larva. Pupa pada
ordo Hymenoptera dan Coleoptera yang memiliki tipe pupa eksarat dimana
pupa tanpa bungkus cocoon dan pupa pada ordo Diptera yang memiliki tipe
pupa coartacta dimana pupa ordo ini sifatnya keras.
Ordo yang tidak mengalami metamorfosis sempurna adalah ordo
Orthoptera, Homoptera, Hemiptera dan Odonata. Pada ordo yang tidak
mampu bermetamorfosis secara sempurna, fasenya adalah telur nimfa
imago (dewasa). Perbedaan terlihat pada nimfa (serangga juvenile) dan
fasenya yang tidak ada pupa. Nimfa adalah tahapan dari serangga saat masih
kecil dimana sayap dan alat reproduksi belum maksimal dimana tidak ada
perbedaan signifikan dari bentuk tubuh jika dibandingkan dengan serangga
dewasa hanya berbeda ukurannya saja. Serangga dikatakan sebagai hama
apabila jumlahnya melebihi normal dan muncul atau berada di saat atau

tempat yang tidak tepat. Pengendalian hama di hutan harus dilakukan tanpa
merusak keseimbangan alam yang sudah tercipta karena jika terlalu
berlebihan akan mengakibatkan hilangnya satu rantai dari rantai makanan
dan harus disesuaikan dengan jenis hama yang menyerang agar
penangannnya tepat dan efektif.

VIII. KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan dan pembahasan yang telah dilakukan dapat
diambil kesimpulan bahwa :
1. Mengenal setiap bentuk tubuh serangga mempunyai ordo yang berbedabeda.
2. Mengetahui jumlah dan bentuk sayap tiap ordo berbeda-beda.
3. Pada metamorfosis sempurna ditemukan perbedaan nyata pada saat
dalam bentuk larva dan dewasa (imago).
4. Pada metamorfosis tidak sempurna tidak ditemukan perbedaan nyata
pada saat serangga masih kecil (nimfa) hingga dewasa (imago).
5. Pada metamorfosis sempurna mengalami masa pupa sedangkan pada
metamorfosis tidak sempurna tidak mengalami masa pupa.
6. Tipe larva hanya dapat ditemukan pada serangga yang mengalami
metamorfosis sempurna dimana dasar pembedanya adalah jumlah kaki.
7. Pengendalian terhadap hama hutan harus disesuaikan dengan jenis dan
tujuan yang diharapkan tanpa merusak keseimbangan hayati.

DAFTAR PUSTAKA

Prijono, Agus. 2015. Penuntun dan Petunjuk Praktikum Perlindungan Hutan.


Institut Pertanian Stiper. Yogyakarta.
Sulthoni, A dan Subyanto. 1991. Kunci Determinasi Serangga. Kanisius.
Yogyakarta.
Sumardi dan S.M Widyastuti. 2004. Dasar Dasar Perlindungan Hutan. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta.
Sumardi dan S.M. Widyastuti. 2004. Panduan Praktikum Dasar Dasar
Perlindungan Hutan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Tjahjadi, Nur. 1996. Hama dan Penyakit Tanaman. Kanisius. Yogyakarta.

Yogyakarta, 23 Februari 2015


Mengetahui,
Co.Ass

( M. Abdul Syafii )

Praktikan

(M. Faisal Nasution)