Anda di halaman 1dari 32

TUGAS BESAR

MATA KULIAH MODEL DAN KOMPUTASI PROSES

SIMULASI DAN PERANCANGAN REAKTOR BATCH NON ADIABATIS


UNTUK REAKSI PEMBUATAN ETER DARI PROSES DEHIDRASI ETANOL
MENGGUNAKAN PROGRAM SCILAB 5.1.1

Oleh:
Maharani Dwi Setia Sri Rejeki

NIM: 21030114130176

Naufarrel Kaviandhika

NIM: 21030114120036

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016

Reaktor Alir Pipa Adiabatis


HALAMAN PENGESAHAN

Jenis Reaktor :

SIMULASI DAN PERANCANGAN REAKTOR BATCH NON


ADIABATIS UNTUK REAKSI PEMBUATAN ETER DARI PROSES
DEHIDRASI ETANOL MENGGUNAKAN PROGRAM SCILAB
5.1.1

Kelompok

5/Rabu Siang

Anggota

1. Maharani Dwi Setia Sri Rejeki

NIM: 21030114130176

2. Naufarrel Kaviandhika

NIM: 21030114120036

Semarang,
November 2016
Mengesahkan,
Asisten

Mohammad Farkhan Hekmatyar Dwinanda


NIM. 21030113120007

KATA PENGANTAR

Model dan Komputasi Proses

Reaktor Alir Pipa Adiabatis


Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena berkat dan rahmat-Nya, tugas
besar Praktikum Komputasi Proses yang berjudul Simulasi Dan Perancangan Reaktor Batch
Non Adiabatis Untuk Reaksi Pembuatan Eter Dari Proses Dehidrasi Etanol Menggunakan
Program Scilab 5.1.1 ini dapat diselesaikan.
Dalam penulisan tugas besar ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik pada
teknis maupun materi. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis
harapkan demi penyempurnaan laporan resmi ini.
Dalam penulisan laporan resmi ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada
pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan laporan resmi ini, khususnya kepada:
1.
Kedua orang tua kami yang selalu mendoakan dan menjadi penyemangat kami
2.
Dr. Ir. Budi Sasongko, DEA. selaku dosen pembimbing Laboratorium
Komputasi Proses
3.
Seluruh asisten Laboratorium Komputasi Proses tahun 2016
yang telah membimbing kami
4.
Teman-teman Teknik Kimia yang dapat bekerjasama dengan baik
Akhir kata penulis berharap semoga laporan resmi ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca dengan menambah ilmu pengetahuan yang baru bagi pembaca.
Semarang,

November 2016

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN...............................................................................ii
KATA PENGANTAR........................................................................................iii
DAFTAR ISI...................................................................................................iv
DAFTAR TABEL..............................................................................................v
DAFTAR GAMBAR.........................................................................................vi
BAB I............................................................................................................1
PENDAHULUAN.............................................................................................1
1.1 Latar Belakang.................................................................................................................1
Model dan Komputasi Proses

Reaktor Alir Pipa Adiabatis


1.2 Rumusan Masalah............................................................................................................2
1.3 Tujuan...............................................................................................................................2
1.4 Manfaat.............................................................................................................................2
BAB II...........................................................................................................4
TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................4
2.1 Dasar Teori.......................................................................................................................4
2.1.1 Jenis Reaktor.............................................................................................4
2.1.2 Komponen-komponen Reaktor............................................................................6
2.1.3 Kondisi dalam Reaktor..................................................................................... 8

2.2 Studi Kasus.....................................................................................................................11


2.2.1 Konsep Proses.............................................................................................. 11
2.2.2 Tinjauan Termodinamika................................................................................. 13

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................16
LAMPIRAN
LEMBAR ASISTENSI

Model dan Komputasi Proses

Reaktor Alir Pipa Adiabatis

DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Harga Konstanta dalam Heat Capacity......22

Model dan Komputasi Proses

Reaktor Alir Pipa Adiabatis

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Reaktor Alir Tangki Berpengaduk...4
Gambar 2.2 Reaktor Alir Pipa..5
Gambar 2.3 Reaktor Batch...6
Gambar 2.4 Perbedaan reaksi endotermis dan eksotermis...9
Gambar 3.1 Permodelan Reaktor Alir Pipa....16

Model dan Komputasi Proses

Reaktor Alir Pipa Adiabatis

RINGKASAN

Model dan Komputasi Proses

Reaktor Alir Pipa Adiabatis


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Reaktor merupakan alat utama pada industri yang digunakan untuk proses kimia yaitu
untuk mengubah bahan baku menjadi produk. Proses konversi dari bahan baku menjadi
produk sangat ditentukan oleh desain reaktor yang telah dibuat. Dalam perancangan
reaktor diperlukan banyak pertimbangan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan
keinginan dan proses yang digunakan dan efisien. Pertimbangan-pertimbangan tersebut
antara lain adalah pertimbangan proses dan pertimbangan ekonomi. Selain itu diperlukan
perhitungan-perhitungan yang sangat kompleks dalam perancangan reaktor. Perhitunganperhitungan perancangan sangat berpengaruh terhadap efisiensi proses dan spesifikasi
produk yang dihasilkan. Untuk itu, dalam perancangan reaktor harus dilakukan
perhitungan-perhitungan yang sangat akurat dan menghindari kesalahan seminimal
mungkin.
Sebagai sarjana Teknik Kimia sangat perlu untuk belajar tentang reaktor kimia agar
mampu merancang reaktor yang melibatkan perhitungan yang rumit dan panjang,
Perhitungan perancangan reaktor dapat dilakukan secara manual oleh manusia. Namun
untuk reaktor yang kompleks, perhitungan secara manual sangat tidak disarankan karena
terlalu rumit dan tidak efisien. Software-software perancangan telah banyak
dikembangkan untuk membantu pekerjaan manusia dalam merancang reaktor, dintaranya
adalah hysis, matlab, dan scilab. Dengan menggunakan software perancangan,
diharapkan perhitungan perancangan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat sehingga
lebih efisien. Scilab merupakan software perancangan tidak berbayar dan sederhana
sehingga dapat dengan mudah diaplikasikan dalam perancangan reaktor yang
memungkinkan untuk menyelesaikan masalah perhitungan, khususnya yang melibatkan
matriks dan vector dengan waktu yang lebih cepat dan efisien.
1.2 Rumusan Masalah
Perancangan reaktor melibatkan perhitungan yang rumit dan penyelesaian yang
panjang., untuk menyelesaikan perhitungan neraca massa, neraca panas, kinetika reaksi
kimia, termodinamika reaksi, laju reaksi, dll. Untuk menyelesaikan persamaan-persamaan
tersebut diperlukan suatu aplikasi yang mampu mempermudah dalam penyelesaian
persamaan tersebut. Oleh sebab itu dalam memudahkan penyelesaian perhitungan

Model dan Komputasi Proses

Reaktor Alir Pipa Adiabatis


perancangan reaktor digunakan aplikasi Scilab 5.1.1. Scilab 5.1.1 adalah aplikasi
komputasi, pemograman, dan visualisasi dalam suatu lingkungan yang mudah digunakan,
karena permasalahan serta penyelesaian dinyatakan dalam notasi matematika yang
memudahkan kita dalam menggunakan aplikasi Scilab 5.1.1. Hal ini memungkinkan
untuk menyelesaikan masalah perhitungan, khususnya yang melibatkan matriks dan
vector dengan waktu yang lebih cepat dan efisien.
1.3 Tujuan
1. Merancang reaktor Bacth Non Adiabatis untuk reaksi pembentukan Eter dari proses
Dehidrasi Etanol.
2. Mensimulasikan perhitungan perancangan reaktor Batch Non Adiabatis untuk
pembentukan Eter dari proses Dehidrasi Etanol menggunakan software Scilab 5.1.1.
1.4 Manfaat
1. Mahasiswa dapat merancang reaktor dengan kondisi yang optimum untuk
menghasilkan produk sesuai spesifikasi yang diinginkan.
2. Mahasiswa dapat mengoperasikan dan mengaplikasikan software Scilab 5.1.1 untuk
merancang suatu reaktor

Model dan Komputasi Proses

Reaktor Alir Pipa Adiabatis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
2.1.1 Jenis Reaktor
Reaktor kimia adalah suatu bejana tempat berlangsungnya reaksi kimia. Rancangan
dari reaktor ini tergantung dari banyak variabel yang dapat dipelajari di teknik kimia.
Perancangan suatu reaktor kimia harus mengutamakan efisiensi kinerja reaktor, sehingga
didapatkan hasil produk dibandingkan masukan (input) yang besar dengan biaya yang
minimum, baik itu biaya modal maupun operasi. Adapun jenis-jenis reaktor yang biasa
digunakan dalam industri adalah sebagai berikut :
a. Reaktor Alir Tangki Berpengaduk (RATB)
RATB adalah salah satu reaktor ideal yang berbentuk tangki alir berpengaduk
atau suatu reaktor yang paling sederhana terdiri dari suatu tangki untuk reaksi yang
menyederhanakan liquid. RATB sering disebut juga dengan Continuousn stirred Tank
Reactor (CSTR) atau Mixed Flow Reactor. RATB digunakan untuk reaksi cair dan
dijalankan secara batch ,semi batch/ kontinyu. RATB sering atau biasa digunakan
untuk reaksi homogen (reaksi yang berlangsung dalam satu fase saja) (Yahdi, 2013).

Gambar 2.1 Reaktor Alir Tangki Berpengaduk


Persamaan umum yang menggambarkan RATB adalah sebagai berikut :

[ ][

][ ][ ]

kecepatan
kecepatan
kecepatan
akumulasi
aliran A + perubahan A aliran A = reaktan A
masuk
karena
keluar
dalam
sistem
reaksi
sistem
sistem

b. Reaktor Alir Pipa (RAP)

Model dan Komputasi Proses

Reaktor Alir Pipa Adiabatis


Reaktor alir pipa merupakan reaktor di mana cairan bereaksi dan mengalir
dengan cara

melewati tube (tabung) dengan kecepatan tinggi, tanpa terjadi

pembentukan arus putar pada aliran cepat. Reaktor alir pipa pada hakekatnya hampir
sama dengan pipa dan relatif cukup mudah dalam perancangannya.Reaktor alir pipa
desebut ideal jika zat-zat pereaksi dan hasil reaksi mengalir dengan kecepatan yang
sama diseluruh pemampang pipa. Di reaktor komposisi , suhu dan tekanan diseluruh
penampang reaktor selalu sama. Perbedaan komposisi, suhu dan tekanan hanya terjadi
di sepanjang dinding reaktor. Reaktor jenis ini banyak digunakan dalam industri
dengan zat pereaksi atau reaktan berupa fase gas atau cair dengan kapasitas produksi
yang cukup besar (Nima, 2015).

Gambar 2.2 Reaktor Alir Pipa


Persamaan umum untuk menggambarkan RAP adalah sebagai berikut :

[ ][
[ ][

][ ][ ]
][ ]

kecepatan
kecepatan
kecepatan
akumulasi
aliran A + perubahan A aliran A = reaktan A
masuk
karena
keluar
dalam
sistem
reaksi
sistem
sistem

Tidak ada akumulasi pada reaktor ini, sehingga:

kecepatan
kecepatan
kecepatan
aliran A + perubahan A aliran A =0
masuk
karena
keluar
sistem
reaksi
sistem

Berdasarkan perubahan kenaikan volume maka neraca massa menjadi:


FAV - FAIV+V + rAV = 0
Dengan mengintegrasikan persamaan (1) didapatkan volume reaktor:
X

V FAo
0

dX A
rA

c. Reaktor Batch
Reaktor Batch merupakan reaktor dimana saat terjadinya reaksi tidak ada
reaktan yang masuk dan produk yang keluar, reaksinya terjadi dalam sekali proses.
Mekanisme kerja reator batch adalah reaktan dimasukkan kedalam reaktor, terjadi
reaksi dalam waktu tertentu, setelah itu produk (hasil) akan dikeluarkan dari reaktor.

Model dan Komputasi Proses

Reaktor Alir Pipa Adiabatis


Pada saat reaksi berlangsung tidak ada reaktan yang masuk dan produk yang
keluar.didalam reaktor terjadi pengadukan yang sempurna,sehingga konsentrasi
disetiap titik dalam reaktor sama pada waktu yang sama (Winda, 2010).

Gambar 2.3 Reaktor Batch


Persamaan umum untuk menggambarkan RAP adalah sebagai berikut :

[ ][

][ ][ ]

kecepatan
kecepatan
kecepatan
akumulasi
aliran A + perubahan A aliran A = reaktan A
masuk
karena
keluar
dalam
sistem
reaksi
sistem
sistem

2.1.2 Komponen-komponen Reaktor


Untuk dapat memngendalikan laju pembelahan, suatu reaktor nuklir harus didukug
dengan beberapa fasilitas yang disebut sebagai komponen reactor (Mata, 2015):
1. Bahan moderator
2. Pendingin reaktor
3. Perangkat batang kendali
4. Perangkat detektor
5. Reflektor
6. Perangkat bejana dan perisai reactor
7. Perangkat penukar panas Komponen

1. Pendingin Reaktor
Pendingin reaktor berfungsi sebagai sarana pengambilan panas hasil fisi dari
dalam elemen bakar untuk dipindahkan/dibuang ke tempat lain/lingkungan melalui
perangkat penukar penukar panas (H.E.). Sesuai dengan fungsinya maka bahan yang
baik sebagai pendingin adalah fluida yang koefisien perpindahan panasnya sangat
bagus. Persyaratan lain yang harus dipenuhi agar tidak mengganggu kelancaran
proses fisi pada elemen bakar adalah pendingin juga harus memiliki tampang lintan
serapan neutron yang kecil, dan tampang lintang hamburan yang besar serta tidak
Model dan Komputasi Proses

Reaktor Alir Pipa Adiabatis


korosif. Contoh fluida-fluida yang biasa dipakai sebagai pendingin adalah: H 2O, D2O,
Na cair. Gas He dan lain-lain (Mata, 2015).
2.

Batang Kendali Reaktor


Batang kendali berfungsi sebagai pengendali jalannya operasi reaktor agar laju
pembelahan/populasi neutron di dalam teras reaktor dapat diatur sesuai dengan
kondisi operasi yang dikehendaki. Selain hal tersebut, batang kendali juga berfungsi
untuk memadamkan reaktor/menghentikan reaksi pembelahan. Sesuai dengan
fungsinya, bahan batang kendali adalah material yang mempunyai tampang lintang
serapan neutron yang sangat besar, dan tampang lintang hamburan yang kecil. Bahanbahan yang sering dipakai adalah: Boron, cadmium, gadolinium dan lain-lain. Bahanbahan tersebut biasanya dicampur dengan bahan lain agar diperoleh sifat yang tahan
radiasi, titik leleh yang tinggi dan tidak korosif. Prinsip kerja pengaturan operasi
adalah dengan jalan memasukkan dan mengeluarkan batang kendali ke dan dari teras
reaktor. Jika batang kendali dimasukkan, maka sebagian besar neutron akan
tertangkap olehnya, yang berarti populasi neutron di dalam reaktor akan berkurang
dan kemudian padam. Sebaliknya jika batang kendali dikeluarkan dari teras, maka
populasi neutron akan bertambah, dan akan mencapai tingkat jumlah tertentu.
Pertambahan/penurunan populasi neutron berkait langsung dengan perubahan daya
reactor (Mata, 2015).

3.

Perangkat Detektor
Detektor adalah komponen penunjang yang mutlak diperlukan di dalam
reaktor nuklir. Semua insformasi tentang kejadian fisis di dalam teras reaktor, yang
meliputi popularitas neutron, laju pembelahan, suhu dan lain-lain hanya dapat dilihat
melalui detektor yang dipasang dalam di dalam teras. Secara detail mengenai masalah
tersebut akan dibicarakan dalam pelajaran instrumentasi reactor (Mata, 2015).

4.

Reflektor
Neutron yang keluar dari pembelahan bahan fisil, berjalan dengan kecepatan
tinggi ke segala arah. Karena sifatnya yag tidak bermuatan listrik maka gerakannya
bebas menembus medium dan tidak berkurang bila tidak menumbuk suatu inti atom
medium. Karena sifat tersebut, sebagian neutron tersebut dapat lolos keluar teras
reaktor, atau hilang dari sistem. Keadaan ini secara ekonomi berati kerugian, karena
netron tersebut tidak dapat digunakan untuk proses fisi berikutnya. Untuk mengurangi

Model dan Komputasi Proses

Reaktor Alir Pipa Adiabatis


kejadian ini, maka sekeliling teras reaktor dipasang bahan pemantul neutron yang
disebut reflektor, sehingga nutron-neutron yang lolos akan bertahan dan dikembalikan
ke dalam teras untuk dimanfaatkan lagi pada proses fisi berikutnya. Bahan-bahan
reflektor yang baik adalah unsur-unsur yang mempunyai tampang lintang hamburan
neutron yang besar, dan tampang lintang serapan yang sekecil mungkin serta tidak
korosif. Bahan-bahan yang sering digunakan antara lain: Berilium, Grafit, Parafin,
Air, D2O (Mata, 2015).
5.

Bejana dan Perisai Reaktor


Bejana/tangki raktor berfungsi untuk menampung fluida pendingin agar teras
reaktor selalu terendam di dalamnya. Bejana tersebut selain harus kuat menahan
beban, maka harus pula tidak korosif bila berinteraksi dengan pendingin atau benda
lain di dalam teras. Bahan yang bisa digunakan adalah: alumunium, dan stainless stell.
Perisai reaktor berfungsi untuk menahan/menghambat/menyerap radiasi yang lolos
dari teras reaktor agar tidak menerobos keluar sistem reaktor. Karena reaktor adalah
sumber radiasi yang sangat potensial, maka diperlukan suatu sistem perisai yang
mampu menahan semua jenis radiasi tersebut pada umumnya perisai yang digunakan
adalah lapisan beton berat (Mata, 2015).

6.

Perangkat penukar Panas


Perangkat penukar panas (Heat exchanger) merupakan komponen penunjang
yang berfungsi sebagai sarana pengalihan panas dari pendingin primer, yang
menerima panas dari elemen bakar, untuk diberikan pada fluida pendingin yang lain
(sekunder). Dengan sistem pengambilan panas tersebut maka integritas komponen
teras akan selalu terjamin. Pada jenis reaktor tertentu, terutama jenis PLTN, H.E. juga
berfungsi sebgai fasilitas pembangkit uap (Mata, 2015).

2.1.3 Kondisi dalam Reaktor


Kondisi dalam reaktor ditentukan untuk mengetahui kondisi operasi proses yang
optimum maupun perlakuan proses selama dalam reaktor, adapun kondisi dalam reaktor
meliputi :
a. Perubahan Entalpi
Perubahan entalpi bisa bertanda positif dan negatif jika H > 0 (positif) maka
reaksi itu membutuhkan kalor, ini berarti ada penambahan entalpi kalor di dalam
materi tersebut. Sebaliknya jika harga H < 0 (negatif) maka reaksi itu mengeluarkan

Model dan Komputasi Proses

Reaktor Alir Pipa Adiabatis


entalpi/kalor dari perubahan materi tersebut, karena adanya perpindahan energi antara
sistem dan lingkungan (Suryaningsih, 2008).
Reaksi eksoterm adalah reaksi yang disertai perpindahan kalor dari sistem ke
lingkungan. Pada reaksi eksoterm ini akan membebaskan energy sehingga entalpi
sistem akan berkurang dan perubahan entalpinya (H) akan bertanda negatif. Sedang
pada lingkungan akan menerima kalor sehingga terasa panas. Reaksi endoterm adalah
reaksi yang berlangsung di mana ada perpindahankalor dari lingkungan ke sistem.
Pada reaksi endoterm ini diserap sejumlah energi pada sistem sehingga entalpi sistem
akan bertambah dan perubahan entalpinya akan bertanda positif (H > 0). Karena
lingkungan mengalami pengurangan kalor sehingga suhu lingkungan akan turun dan
terasa dingin (Suryaningsih, 2008).

Gambar

2.4

Perbedaan reaksi
endotermis dan eksotermis
b. Proses Adiabatik dan Non-Adibatis
Proses adiabatik merupakan proses yang terjadi pada sistem yang terisolasi,
sehingga pada proses ini tidak ada pertukaran kalor antara sistem dan lingkungan.
Selain itu, karena proses adiabatik berlangsung dengan sangat cepat, maka kalor yang
mengalir lambat tidak memiliki cukup waktu untuk masuk maupun keluar sistem.
Reaksi adiabatis adalah reaksi yang dijalankan dalam suatu tempat dimana tidak ada
panas yang tambahkan atau dihilangkan. Reaksi adiabatis dijalankan dalam reaktor
tanpa pemanas maupun pendingin, sehingga jika reaksi bersifat endotermis
(membutuhkan panas) maka reaksi akan menurunkan suhu produk reaktor.dan jika
reaksi bersifat eksotermis (menghasilkan panas) maka reaksi akan menaikkan suhu
produk reaktor (Distantina, 2009).

Model dan Komputasi Proses

Reaktor Alir Pipa Adiabatis


Secara matematis, usaha pada proses ini dapat dirumusakan dengan metode integrasi
sebagai berikut.
H

= 0 sehingga H = Q1 + Q2 +Q3

Persamaan keadaan adiabatic adalah P1.V1 = P2.V2


=

Cp
Cv

(Levenspiel, 1999)

Dimana = konstanta laplace Cp dan Cv adalah kapasitas kalor pada tekanan dan
volume konstan.
Usaha yang dilakukan pada proses adiabatik:

(Levenspiel, 1999)
Adapun proses non adiabatis merupakan kebalikan dari proses adiabatis yaitu
yaitu ada panas yang masuk dari pemanas atau keluar ke pendingin.
c. Mekanisme Reaksi
Mekanisme reaksi adalah penyusunan rangkaian tahapan beberapa reaksi
sederhana menjadi satu sistem reaksi rumit yang berdasarkan pada pengamatan laju
reaksi (Rahayu, Susanto Imam, 1995). Reaksi sederhana dapat didefinisikan sebagai
reaksi yang sebenarnya terjadi pada skala atomik (Rahayu, Susanto Imam, 1995), (tidak
dapat terlihat secara kasat mata). Sedangkan reaksi rumit dapat didefinisikan sebagai
reaksi yang terjadi pada skala makroskopik (Rahayu, Susanto Imam, 1995), (reaksi
yang terlihat secara kasat mata), reaksi rumit merupakan kumpulan dari beberapa reaksi
sederhana. Mekanisme suatu reaksi rumit dapat tersusun dari dua atau lebih reaksi
sederhana. Terdapat dua cara penggabungan dua reaksi sederhana, yaitu: 1) reaksi
sederhana disusun secara paralel (sejajar); 2) reaksi sederhana disusun secara seri
(berurutan). Susunan reaksi dikatakan paralel jika terdapat dua reaksi sederhana atau
lebih memiliki pereaksi yang sama atau memiliki produk yang sama. Susunan reaksi
dikatakan seri (berurutan) jika salah satu produk dari reaksi sederhana menjadi pereaksi
bagi reaksi sederhana lainnya.
Contoh dari reaksi yang tersusun seri (berurutan) adalah sebagai berikut :

Model dan Komputasi Proses

Reaktor Alir Pipa Adiabatis

Sedangkan contoh dari reaksi yang terusun parallel adalah sebagai berikut :

Dengan mempelajari mekanisme reaksi, para kimiawan dapat mengetahui


tahapan-tahapan reaksi dari suatu proses kimia, serta mengetahui halangan-halangan
yang mungkin terjadi. Sehingga para kimiawan dapat menentukan kinetika reaksinya,
dan merancang teknik optimalisasi proses (Prianto, 2008)
d. Kesetimbangan dan Arah Reaksi Proses
Reaksi setimbang adalah reaksi yang berlansung secara dua arah atau reaksi yang
berlansung bolak-balik. Reaksi setimbang berlansung secara dinamis, berlansung secara
terus-menerus tanpa henti denagn konsentrasi zat berlansung pada arah reaksinya.
Arah reaksi dapat dibagi menjadi dua yaitu Reaksi yang berlansung searah, atau
reaksi yang tidak dapat balik, artinya: zat-zat hasil reaksi tidak dapat kembali
membentuk zat pereaksi dan eaksi ryang berlansung dua arah, dan zat-zat hasil reaksi
dapat kembali membentuk zat pereaksi. Kesetimbangan dinamis dapat terjadi bila
reaksi yang terjadi merupakan reaksi bolak-balik (Mutia, 2012).
e. Kemolekularan Reaksi
Kemolekularan Reaksi adalah jumlah molekul pereaksi pada tahap penentu laju.
Kemolekulan reaksi sama dengan orde reaksi untuk tahap tersebut dan dapat dibedakan
menjadi unimolekuler, bimolekuler. Reaksi unimolekuler hanya terdiri dari satu
molekul yang terbentuk dari transformasi atau diasosiasi satu atau beberapa molekul
lain. Beberapa reaksi ini membutuhkan energi dari cahaya atau panas. Sebuah contoh
dari reaksi unimolekuler adalah isomerisasi cistrans, di mana sebuah senyawa bentuk
cis akan berubah menjadi bentuk trans (id.wikipedia.org/wiki/Reaksi_kimia).

Model dan Komputasi Proses

10

Reaktor Alir Pipa Adiabatis


2.2 Studi Kasus
2.2.1 Konsep Proses
Dalam perancangan ini digunakan studi kasus yang telah dirancang oleh Billy dan
Sita (2009) yaitu pembuatan methanol yang menggunakan gas sintesa berbentuk gas
tekanan 17 atm pada suhu 40oC dengan komposisi H2, CO, CO2, CH4 dan N2 secara
berturut turut sebagai berikut 73,37%, 14,92%, 7,81%, 3,71% dan 0,19%.
a. Dasar reaksi
Metanol diproduksi melalui hidrogenasi katalis CO dan CO 2. Reaksi yang terjadi
dalam reactor utama proses pembuatan methanol dengan menggunkan proses bertingkat
terdiri dari reaksi utama dan reaksi samping yaitu:

Reaksi Utama
CO + 2H2CH3OH

Reaksi Samping
2CO + 4H2CH3OCH3 + H2O

b. Kondisi Operasi
Kondisi operasi dalam pembuatan methanol dipengaruhi oleh suhu, tekanan,
perbandingan mol reaktan, jenis katalis yang digunakan. Juga ditentukan berdasarkan
mekanisme reaksi yang terjadi tanpa melupakan aspek termodinamika dan kinetika.
Suhu dalam pracangan ini adalah 200oC dengan tekanan 50 atm dengan bantuan katalis
Cu-Zn-Al (61:30:9)% berat. Temperature operasi tidak lebih rendah dari 200 oC karena
dibatasi oleh kemampuan katalis yang hanya aktif pada suhu diatas 200 oC (Billy dan
Sita, 2009).
c. Menentukan diameter reaktor, tinggi reaktor, dan volume reaktor
1. Pemilihan head Untuk menentukan bentuk-bentuk head ada 3 pilihan :
-

Flanged and Standar Dished Head


Digunakan untuk vesel proses vertikal bertekanan rendah, terutama digunakam
untuk tangki penyimpan horizontal, serta untuk menyimpan fluida yang volatil.

Torispherical Flanged and Dished Head


Digunakan untuk tangki dengan tekanan dalam rentang 15 psig (1,020689 atm)
200 psig (13,60919 atm).

Elliptical Flanged and Dished Head


Digunakan untuk tangki dengan tekanan tinggi dalam rentang 100 psig dan
tekanan diatas 200 psig ( Brownell and Young, 1959).

Model dan Komputasi Proses

11

Reaktor Alir Pipa Adiabatis


2. Diameter Dalam Shell (Di)
VL,total = (DiHL) + (sfDi2) + 0,000076Di3
Keterangan :
Di = Diameter dalam shell,ft
HL= Tinggi cairan, ft
Diambil perbandingan tinggi cairan terhadap diameter dalam shell standar dan
tinggi sf adalah (Geankoplis, 1993):
HL = Di
sf = 2 in = 0,167 ft
VL,total = (DiHL) + (sfDi2) + 0,000076Di3
Diperoleh:
Di = 4,994 ft = 59,934 in
Maka tinggi cairan adalah :
HL = Di = 4,994 ft = 59,934 in= 1,522 m
Diameter dalam shell standar adalah :
Di = 60 in = 5 ft = 1,524 m

(Brownell & Young, 1959:45)

2.2.2 Tinjauan Termodinamika


Untuk menentukan sifat reaksi apakah berjalan secara eksotermis atau endotermis
maka perlu pembuktian harga panas reaksi (Hr). Harga panas reaksi (Hr) dapat
ditentukan dengan menggunakan persamaan:
Hr =

Hf produk -

Hf reaktan

Reaksi Utama:
CO + 2H2CH3OH
Hr

Hf produk -

Hf reaktan

= -200,66kJ/mol [(-110,525)+(2x0)]kJ/mol
= -90,135kJ/mol
Reaksi hidrogen dengan karbon monoksida yang membentuk metanol adalah reaksi
eksotermis.
Reaksi Samping:
2CO + 4H2 CH3OCH3 + H2O

Model dan Komputasi Proses

12

Reaktor Alir Pipa Adiabatis


Hr =

Hf produk -

Hf reaktan

= [(-184,1)+(-285,83)]kJ/mol [[(2x-110,525)+(4x0)kJ/mol
= -248,88kJ/mol
Reaksi pembentukan dimetileter adalah reaksi eksotermis.
Reaksi pembentukan produk utama metanol serta pembentuka produk samping
dimetileter semuanya adalah reaksi eksotermis, sehingga apabila dalam proses
ditambahkan sejumlah panas (suhu dinaikkan) maka produk yang dihasilkan kecil, dan
sebaliknya.
Untuk menentukan reaksi reversible dan irreversible maka perlu mencari harga
konstanta kesetimbangan reaksi (K). Harga K dapat ditentukan dengan menggunakan
persamaan:
G = - RT ln K
Reaksi Utama:
CO + 2H2CH3OH
G

Gf produk -

Gf reaktan

= -161,960kJ/mol [(-137,169)+(2x0)]kJ/mol
= -24,791kJ/mol
ln Ko = -

G
RT

24,791.1000 J /mol
J
ln Ko =
8.314
298 K
molK

Ko

= 2,22.104

Maka harga K pada suhu operasi 473 K dapat dihitung dengan persamaan berikut:
ln

K H (T )
=
Ko
R ( .T )

ln

K (90135 ) (473298)
=
Ko
8,314.(298 473)

K = 1,56.1010
Didapatkan harga K reaksi pembuatan metanol pada suhu 200 oC tersebut
sangat besar, maka reaksi tersebut adalah ireversible.
Reaksi Samping:
2CO + 4H2 CH3OCH3 + H2O
Model dan Komputasi Proses

13

Reaktor Alir Pipa Adiabatis


G

Gf produk -

Gf reaktan

= [(-112,8)+(-273,129)]kJ/mol [(2x-137,169)+(4x0)] kJ/mol


= -111,591kJ/mol
ln Ko = -

G
RT

ln Ko =

111591J /mol
J
8.314
298 K
molK

Ko

243,76 kJ /mol
J
8.314
298 K
molK

= 3,64.1019

Maka harga K pada suhu operasi 473 K dapat dihitung dengan persamaan berikut:
ln

K H (T )
=
Ko
R ( .T )

ln

K (24888 0 ) ( 473298)
=
Ko
8,314.(298 473)

K = 5,03.1035
Didapatkan harga K reaksi samping pembentukan metanol tersebut sangat besar,
maka reaksi tersebut adala ireversible.
2.2.3 Tinjauan Kinetika
Menurut hukum Arhenius, k=A.e-Ea/RT(Levenspiel.O,1999), maka semakin tinggi
suhu maka harga k akan besar sehingga menaikkan kecepatan reaksi. Suhu tertinggi yang
dipilih 200oC (konversi 71%) pada reaktor. Namun reaksi pembentukan methanol
merupakan reaksi eksotermis reversible maka pemilihan suhu dibatasi oleh tinjauan
termodinamikanya.

Model dan Komputasi Proses

14

Reaktor Alir Pipa Adiabatis

DAFTAR PUSTAKA

Model dan Komputasi Proses

15

LAMPIRAN

Jenis-jenis, Dimensi dan Perancangan


Reaktor

Bab 1
Reactor
Dalam teknik kimia, Reaktor adalah suatu bejana tempat berlangsungnya reaksi
kimia. Rancangan dari reaktor ini tergantung dari banyak variabel yang dapat dipelajari di
teknik kimia. Perancangan suatu reaktor kimia harus mengutamakan efisiensi kinerja reaktor,
sehingga didapatkan hasil produk dibandingkan masukan (input) yang besar dengan biaya
yang minimum, baik itu biaya modal maupun operasi. Tentu saja faktor keselamatan pun
tidak boleh dikesampingkan. Biaya operasi biasanya termasuk besarnya energi yang akan
diberikan atau diambil, harga bahan baku, upah operator, dll. Perubahan energi dalam suatu
reaktor kimia bisa karena adanya suatu pemanasan atau pendinginan, penambahan atau
pengurangan tekanan, gaya gesekan (pengaduk dan cairan), dll.
Dalam reaktor alir pipa atau plug flow reactor, campuran reaktan dan produk mengalir
dengan profil kecepatan yang benar-benar rata. Kecepatan alir dan konsentrasi adalah
seragam di seluruh jari-jari pada setiap penempang reaktor dan tidak ada difusi longitudinal
baik dari reaktan maupun produknya. Dalam bab-bab terdahulu telah dibahas cara-cara
perhitungan untuk mendesain suatu reaktor, baik untuk reaktor tertutup (reaktor batch),
reaktor alir tangki berpengaduk (RATB) dan Reaktor Aliran Sumbat (Plug Flow Reaktor).
Perhitungan-perhitungan tersebut dilakukan dengan anggapan bahwa temperature reaksi
adalah tetap selama operasi. Sehingga analisisnya relatif sederhana karena hanya ada satu
variabel saja yang berubah, yaitu konsentrasi reaktan.
Di dalam praktek hipotesa aliran dalam reaktor alir pipa ini biasanya cocok untuk
reaktor-reaktor berbentuk tabung dimana aliran fluidanya betul-betul turbulen atau untuk
jenis reaktor fixed bed yang berisi packing. Jika dalam reaktor alir pipa diisi dengan katalis
padat disebut reaktor fixed bed atau fluidized bed.

Reaktor alir pipa desebut ideal jika zat-zat pereaksi dan hasil reaksi mengalir dengan
kecepatan yang sama diseluruh pemampang pipa. Di reaktor komposisi , suhu dan tekanan
diseluruh penampang reaktor selalu sama. Perbedaan komposisi, suhu dan tekanan hanya
terjadi di sepanjang dinding reaktor. Reaktor jenis ini banyak digunakan dalam industri
dengan zat pereaksi atau reaktan berupa fase gas atau cair dengan kapasitas produksi yang
cukup besar.
Apabila pada saat reaksi reaksi berlangsung, efek panas turut diperhitungkan, maka
ada kemungkinan bahwa temperatur reaksi juga akan turut berubah dengan waktu (waktu
reaksi untuk reaktor batch atau waktu tinggal untuk reaktor alir kontinyu).
Reaktor merupakan peralatan utama atau peralatan yang terintegrasi, baik dalam
jaringan sistem distribusi maupun transmisi. Dikatakan bahwa reaktor merupakan peralatan
utama jika pemasangannya tidak menjadi bagian dari paralatan dasar lainnya, misalnya
reaktor pembatas arus (current liminting reactors), reaktor paralel (shunt reactor/steady-state
reactive compensation) dll. Dikatakan bahwa reaktor merupakan peralatan terintegrasi jika
reaktor tersebut merupakan bagian dari suatu peralatan dengan unjuk kerja tertentu, misalnya
reaktor surja hubung kapasitor paralel (shunt-capacitor-switching reactor), reaktor peluah
kapasitor (capacitor discharge reactor), reaktor penyaring (filter reactor) dan lain-lain.

Bab 2
Jenis-jenis Reaktor dan dimensinya
Secara garis beras reaktor terbagi menjadi 2 yaitu :
a. Reaktor nuklir, ada perubahan massa yang berubah jadi energi yang sangat besar.
b. Reaktor kimia, tidak ada perubahan massa selama reaksi dan hanya berubah dari satu
bahan ke bahan lain.

Reaktor Nuklir

Reaktor nuklir adalah suatu alat untuk mengendalikan reaksi fisi berantai dan
sekaligus menjaga kesinambungan reaksi itu. Reaktor nuklir ditetapkan sebagai "alat yang
menggunakan materi nuklir sebagai bahan bakarnya Materi fisi yang digunakan sebagai
bahan bakar misalnya uranium, plutonium dan lain-lain. Untuk uranium digunakan uranium
alam atau uranium diperkaya. Jadi secara umum reaktor nuklir adalah tempat berlangsungnya
reaksi nuklir yang terkendali. Untuk mengendalikan operasi dan menghentikannya digunakan
bahan penyerap neutron yang disebut batang kendali.
Jenis reaktor nuklir dibedakan berdasarkan besarnya energi kinetik neutron yang
merupakan faktor utama dalam reaksi fisi berantai, yaitu reaktor neutron panas, reaktor
neutron cepat dan lain-lain. Berdasarkan jenis materi yang digunakan sebagai moderator dan
pendingin, reaktor diklasifikasikan menjadi reaktor air ringan, reaktor air berat, reaktor grafit
dan lain-lain. Berdasarkan tujuannya, diklasifikasikan menjadi reaktor riset, reaktor uji
material, reaktor daya dan lain-lain
Klasifikasi Reaktor
a.

Macam reaktor dibedakan berdasarkan kegunaan, tenaga neutron dan nama komponen

serta parameter operasinya. Menurut kegunaan:


i.
Reaktor daya
ii.
Reaktor riset termasuk uji material dan latihan
iii.
Reaktor produksi isotop yang kadang-kadang digolongkan juga
kedalam reaktor riset.
b.

Ditinjau dari tenaga neutron yang melangsungkan reaksi pembelahan, reaktor

dibedakan menjadi:
I.
Reaktor cepat: GCFBR, LMFBR, SCFBR
II.
Reaktor thermal: PWR, BWR, PHWR, GCR.
Berdasarkan parameter yang lain dapat disebut: *
I.
II.
III.

Reaktor berreflektor grafit: GCR, AGCR


Reaktor berpendingin air ringan: PWR, BWR
Reaktor suhu tinggi: HTGR Demikian seterusnya masih banyak

terdapat nama atau jenis reaktor.


Reaktor Fisi
Reaktor fisi merupakan instalasi yang menghasilkan daya panas secara konstan dengan
memanfaatkan reaksi fisi berantai. Istilah ini dibedakan dengan reaktor fusi yang

memanfaatkan panas dari reaksi fusi, Dimungkinkan adanya reaktor yang memadukan kedua
jenis tersebut (reaktor hibrid).
Reaktor Fusi
Reaktor fusi adalah suatu instalasi untuk mengubah energi yang terjadi pada reaksi
fusi menjadi energi panas atau listrik yang mudah dimanfaatkan. Reaksi fusi merupakan
reaksi penggabungan inti atom ringan, misalnya reaksi antara deuterium dan tritium.
Deutrium sangat melimpah di alam, namun tritium tidak ada di alam ini. Oleh karena itu,
bahan yang mengandung Li-6 digunakan sebagai selimut, selanjutnya direaksikan dengan
neutron yang terjadi dari reaksi fusi untuk menghasilkan tritium, sehingga diperoleh siklus
bahan bakar. Sistem reaktor fusi terdiri dari bagian plasma teras, selimut, bejana vakum,
magnet superkonduktor, dan lain-lain.
Dibandingkan dengan reaktor fisi, reaktor fusi tidak akan mengalami lepas kendali,
dan sedikit menghasilkan produk radioaktif, sehingga memiliki tingkat keselamatan yang
tinggi. Reaktor Penelitian Reaktor riset/penelitian adalah suatu reaktor yang dimanfaatkan
untuk berbagai macam tujuan penelitian. Misalnya reaktor uji material yang digunakan secara
khusus untuk uji iradiasi, reaktor untuk eksperimen fisika reaktor, reaktor riset untuk
penelitian dengan menggunakan berkas neutron dan alat eksperimen kekritisan, reaktor untuk
pendidikan dan pelatihan. Di antara reaktor-reaktor tersebut, yang disebut reaktor riset pun
terdiri dari berbagai macam, misalnya reaktor untuk eksperimen berkas neutron dan uji
iradiasi material, reaktor untuk eksperimen perisai, reaktor untuk uji pulsa dan lain-lain.
Tipe-tipe reaktor riset antara lain tipe kolam berpendingin dan bermoderator air berat,
tipe kolam berpendingin dan bermoderator air ringan dan tipe kolam berpendingin air ringan
dan bermoderator air berat.
Komponen-komponen Reaktor
Untuk dapat memngendalikan laju pembelahan, suatu reaktor nuklir harus didukug
dengan beberapa fasilitas yang disebut sebagai KOMPONEN REAKTOR .
komponen-komponen utama tersebut dapat diterangkan melalui diagram seperti terlihat pada
gambar 1 berikut:
1. Bahan bakar nuklir/bahan dapat belah
2. Bahan moderator
3. Pendingin reaktor

4. Perangkat batang kendali


5. Perangkat detektor
6. Reflektor
7. Perangkat bejana dan perisai reactor
8. Perangkat penukar panas Komponen
No. 1 s/d 6 berada pada suatu lokasi yang disebut sebagai teras reaktor, yaitu suatu
tempat dimana reaksi berantai tersebut berlangsung.
Bahan Bakar Nuklir
Terdapat dua jenis bahan bakar nuklir yaitu BAHAN FISIL dan BAHAN FERTIL.
Bahan Fisil
ialah : suatu unsur/atom yang langsung dapat memberikan reaksi pembelahan apabila dirinya
menangkap neutron. Contoh: 92U233, 92U235, 94PU239, 94PU241
Bahan Fertil
ialah : suatu unsur /atom yang setelah menangkap neutron tidak dapat langsung membelah,
tetapi membentuk bahan fisil. Contoh: 90TH232, 92U238
Pada kenyataannya sebagian besar bahan bakar nuklir yang berada di alam adalah
bahan fertil, sebaai contoh isotop Thorium di alam adalah 100% Th-232, sedangkan isotop
Uranium hanya 0,7% saja yang merupakan bahan fisil (U-235), selebihnya sebesar 99,35
adalah bahan fertil (U-238). Karena alasan fisis, elemen bakar suatu reaktor dibuat dengan
kadar isotop fisilnya lebih besar dari kondisi alamnya, isotop yang demikian disebut sebagai
isotop yang diperkaya, sedangkan sebaliknya untuk kadar isotop fisil yang lebih kecil dari
kondisi alamnya disebut sebagai isotop yang susut kadar, biasanya ditemui pada elemen
bakar bekas. Selain perubahan kadar bahan fisilnya, elemen bakar biasanya dibuat dalam
bentuk oksida atau paduan logam dan bahkan pada dasa warsa terakhir ini sudah banyak
dikembangkan dalam bentuk silisida. Contoh komposisi elemen bakar yang banyak dipakai:
UO2, U3O8-Al, UzrH, U3Si2-Al dan lain-lain. Tujuan utama dibuatnya campuran tersebut
adalah agar diperoleh elemen bakar yang nilai bakarnya tinggi, titik lelehnya tinggi,
penghantaran panasnya baik, tahan korosi, tidak mudah retak serta mampu menahan produk
fisi yang terlepas
Dalam reaksi fisi, neutron yang dapat menyebabkan reaksi pembelahan adalah
neutron thermal. Neutron tersebut memiliki energi sekitar 0,025 eV pada suhu 27oC.
sementara neutron yang lahir dari reaksi pembelahan memiliki energi rata-rata 2 MeV, yang

sangat jauh lebih besar dari energi thermalnya. Syarat bahan moderator adalah atom dengan
nomor massa kecil. Namun demikian syarat lain yang harus dipenuhi adalah: memiliki
tampang lintang serapan neutron (keboleh-jadian menyerap neutron) yang kecil, memiliki
tampang lintang hamburan yang besar dan memiliki daya hantara panas yang baik, serta tidak
korosif. Contoh H2O, D2O (Grafit), Berilium (Be) dan lain-lain.
Pendingin Reaktor
Pendingin reaktor berfungsi sebagai sarana pengambilan panas hasil fisi dari dalam
elemen bakar untuk dipindahkan/dibuang ke tempat lain/lingkungan melalui perangkat
penukar penukar panas (H.E.). Sesuai dengan fungsinya maka bahan yang baik sebagai
pendingin adalah fluida yang koefisien perpindahan panasnya sangat bagus. Persyaratan lain
yang harus dipenuhi agar tidak mengganggu kelancaran proses fisi pada elemen bakar adalah
pendingin juga harus memiliki tampang lintan serapan neutron yang kecil, dan tampang
lintang hamburan yang besar serta tidak korosif. Contoh fluida-fluida yang biasa dipakai
sebagai pendingin adalah: H2O, D2O, Na cair. Gas He dan lain-lain.
Batang Kendali Reaktor
Batang kendali berfungsi sebagai pengendali jalannya operasi reaktor agar laju
pembelahan/populasi neutron di dalam teras reaktor dapat diatur sesuai dengan kondisi
operasi yang dikehendaki. Selain hal tersebut, batang kendali juga berfungsi untuk
memadamkan reaktor/menghentikan reaksi pembelahan. Sesuai dengan fungsinya, bahan
batang kendali adalah material yang mempunyai tampang lintang serapan neutron yang
sangat besar, dan tampang lintang hamburan yang kecil. Bahan-bahan yang sering dipakai
adalah: Boron, cadmium, gadolinium dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut biasanya dicampur
dengan bahan lain agar diperoleh sifat yang tahan radiasi, titik leleh yang tinggi dan tidak
korosif. Prinsip kerja pengaturan operasi adalah dengan jalan memasukkan dan mengeluarkan
batang kendali ke dan dari teras reaktor. Jika batang kendali dimasukkan, maka sebagian
besar neutron akan tertangkap olehnya, yang berarti populasi neutron di dalam reaktor akan
berkurang dan kemudian padam. Sebaliknya jika batang kendali dikeluarkan dari teras, maka
populasi neutron akan bertambah, dan akan mencapai tingkat jumlah tertentu.
Pertambahan/penurunan populasi neutron berkait langsung dengan perubahan daya reaktor.
Perangkat Detector

Detektor adalah komponen penunjang yang mutlak diperlukan di dalam reaktor


nuklir. Semua insformasi tentang kejadian fisis di dalam teras reaktor, yang meliputi
popularitas neutron, laju pembelahan, suhu dan lain-lain hanya dapat dilihat melalui detektor
yang dipasang dalam di dalam teras. Secara detail mengenai masalah tersebut akan
dibicarakan dalam pelajaran instrumentasi reaktor.
Reflektor
Neutron yang keluar dari pembelahan bahan fisil, berjalan dengan kecepatan tinggi ke
segala arah. Karena sifatnya yag tidak bermuatan listrik maka gerakannya bebas menembus
medium dan tidak berkurang bila tidak menumbuk suatu inti atom medium. Karena sifat
tersebut, sebagian neutron tersebut dapat lolos keluar teras reaktor, atau hilang dari sistem.
Keadaan ini secara ekonomi berati kerugian, karena netron tersebut tidak dapat digunakan
untuk proses fisi berikutnya. Untuk mengurangi kejadian ini, maka sekeliling teras reaktor
dipasang bahan pemantul neutron yang disebut reflektor, sehingga nutron-neutron yang lolos
akan bertahan dan dikembalikan ke dalam teras untuk dimanfaatkan lagi pada proses fisi
berikutnya.
Bahan-bahan reflektor yang baik adalah unsur-unsur yang mempunyai tampang
lintang hamburan neutron yang besar, dan tampang lintang serapan yang sekecil mungkin
serta tidak korosif. Bahan-bahan yang sering digunakan antara lain: Berilium, Grafit, Parafin,
Air, D2O.
Bejana dan Perisai Reaktor
Bejana/tangki raktor berfungsi untuk menampung fluida pendingin agar teras reaktor
selalu terendam di dalamnya. Bejana tersebut selain harus kuat menahan beban, maka harus
pula tidak korosif bila berinteraksi dengan pendingin atau benda lain di dalam teras. Bahan
yang bisa digunakan adalah: alumunium, dan stainless stell. Perisai reaktor berfungsi untuk
menahan/menghambat/menyerap radiasi yang lolos dari teras reaktor agar tidak menerobos
keluar sistem reaktor.
Karena reaktor adalah sumber radiasi yang sangat potensial, maka diperlukan suatu
sistem perisai yang mampu menahan semua jenis radiasi tersebut pada umumnya perisai yang
digunakan adalah lapisan beton berat.
Perangkat penukar Panas

Perangkat penukar panas (Heat exchanger) merupakan komponen penunjang yang


berfungsi sebagai sarana pengalihan panas dari pendingin primer, yang menerima panas dari
elemen bakar, untuk diberikan pada fluida pendingin yang lain (sekunder). Dengan sistem
pengambilan panas tersebut maka integritas komponen teras akan selalu terjamin. Pada jenis
reaktor tertentu, terutama jenis PLTN, H.E. juga berfungsi sebgai fasilitas pembangkit uap.

Menentukan diameter dan tinggi reaktor


a. Diameter dalam shell (Di)
Pemilihan head
Untuk menentukan bentuk-bentuk head ada 3 pilihan :
- Flanged and Standar Dished Head
Digunakan untuk vesel proses vertikal bertekanan rendah, terutama digunakam untuk tangki
penyimpan horizontal, serta untuk menyimpan fluida yang volatil. F 13
- Torispherical Flanged and Dished Head
Digunakan untuk tangki dengan tekanan dalam rentang 15 psig (1,020689 atm) 200 psig
(13,60919 atm).
- Elliptical Flanged and Dished Head
Digunakan untuk tangki dengan tekanan tinggi dalam rentang 100 psig dan tekanan diatas
200 psig ( Brownell and Young, 1959).
Oleh karena tekanan operasi reaktor yaitu 20 atm, maka digunakan Elliptical Flanged and
Dished Head .
.
b. Diameter Dalam Shell (Di)
VL, total = + + 0,000076 4 HD L 2i 42 sf D i 3i D
Keterangan :
Di = Diameter dalam shell,ft
HL = Tinggi cairan, ft

Diambil perbandingan tinggi cairan terhadap diameter dalam shell`standar dan tinggi sf
adalah :
HL = Di (Geankoplis, 1993)
sf = 2 in = 0,167 ft
Vtotal = 4D 3i 4 D 2i sf 3i D 000076 ,0
Diperoleh Di = 4,994 ft = 59,934 in F 14

DIPERIKSA
NO

TANGGAL

TANDA

KETERANGAN

LEMBAR ASISTENSI

TANGAN