Anda di halaman 1dari 3

PERBEDAAN SVP DAN LVP

Sediaan Parenteral volume kecil (SLV) diartikan sebagai obat steril yang dikemas dalam
wadah di bawah 100 ml. Umumya sediaan Injeksi. Sedangakan parenteral volume besar (LVP
adalah Sediaan cair steril yang mengandung obat yang dikemas dalam wadah 100 ml atau lebih
dan ditujukan untuk manusia, Umumnya sediaan infus. Dosis SVP lebih bervarian yaitu single
dan multiple dose, sedangkan LVP hanya single dose. Pada Formulasi SVP mengandung
preservatives, sedangkan LVP tidak. Cara sterelisasi pada SVP adalah filtrasi, sedangakan pada
LVP menggunakan sterilisasi akhir.. Perbedaan lain dapat terlihat dari rute pemberiannya.
1. Sediaan Parenteral Volume Kecil
Injeksi intraderma atau intrakutan
Istilah intradermal (ID) berasal dari kata "intra" yang berarti lipis dan "dermis"
yang berarti sensitif, lapisan pembuluh darah dalam kulit. Ketika sisi anatominya
mempunyai derajat pembuluh darah tinggi, pembuluh darah betul-betul kecil. Makanya
penyerapan dari injeksi disini lambat dan dibatasi dengan efek sistemik yang dapat
dibandingkan karena absorpsinya terbatas, maka penggunaannya biasa untuk aksi lokal
dalam kulit untuk obat yang sensitif atau untuk menentukan sensitivitas
terhadap mikroorganisme. Injeksi intrakutan dimasukkan langsung ke lapisan epidermis
tepat dibawah startum korneum. Umumnya berupa larutan atau suspensi dalam air,
volume yang disuntikkan sedikit (0,1 - 0,2 ml). Digunakan untuk tujuan diagnosa.
Digunakan untuk skin test (karena beberapa klien akan mengalami reaksi anafilaktik jika
obat masuk ke dalam tubuh secara cepat) atau Tuberculin Test. Intra dermal memiliki
sirkulasi darah yang minimal dan obat akan diabsorbsi secara perlahan (sangat lambat).
Menggunakan jarum ukuran kecil (- inci) atau jarum khusus Tuberculin Test. Untuk
diagnosa atau test penyakit tertentu, seperti diphtheria (shick test), tuberculosis (Old
Tuberculin, Derivat Protein Tuberculin Murni).
Injeksi subkutan atau hipoderma
Injeksi subkutan dimasukkan ke dalam jaringan lembut dibawah permukaan kulit.
Jumlah larutan yang disuntikkan tidak lebih dari 1 ml. Larutan harus sedapat mungkin
isotonis dan isohidris, dimaksudkan untuk mengurangi iritasi jaringan dan mencegah
terjadinya nekrosis (mengendornya kulit). Subkutan (SC) atau injeksi hipodermik
diberikan di bawah kulit. Parenteral diberikan dengan rute ini mempunyai perbandingan
aksi onset lambat dengan absorpsi sedikit daripada yang diberikan dengan IV atau
IM. Obat-obat vasokontriksi seperti adrenalin dapat ditambahkan untuk efek lokal, seperti
anestesi lokal. Contoh obat yang diberikan secara SC adalah Insulin, Tetanus Toxoid
(TT), Epinephrine, obat-obat alergi dan heparin (dapat diabsorbsi dengan baik melalui SC
dan IM).
Injeksi intramuskular
Injeksi intramuskular dimasukkan langsung ke otot, biasanya pada lengan atau
panggul. Sediaannya biasa berupa larutan atau suspensi dalam air atau minyak, volume
tidak lebih dari 4 ml. Penyuntikan volume besar dilakukan dengan perlahan-lahan untuk
mencegah rasa sakit. Rute intramuskular menyiapkan kecepatan aksi onset sedikit lebih
normal daripada rute intravena, tetapi lebih besar daripada rute subkutan. Rute ini juga

digunakan jika obat mengiritasi atau tidak larut dalam air atau minyak sehingga obat
tersebut harus digunakan dalam bentuk suspensi. Volume injeksi harus tetap kecil,
umumnya tidak lebih dari 2 ml.
Injeksi intravena
Injeksi intravena langsung disuntikkan ke dalam pembuluh darah, berupa larutan
isotoni atau agak hipertoni, volume 1-10 ml. Larutan injeksi intravena harus bebas dari
endapan atau partikel padat, karena dapat menyumbat kapiler dan menyebabkan
kematian. Injeksi intravena yang diberikan dalam volume besar, umumnya lebih dari 10
ml, disebut infus yang digunakan untuk mengganti cairan darah yang hilang akibat shok,
luka, operasi pembedahan, atau cairan tubuh hilang olehdiarrhoeia, seperti pada kolera.
Jika volume dosis tunggal lebih dari 15 ml, injeksi intravena tidak boleh mengandung
bakterisida dan jika lebih dari 10 ml harus bebas pirogen. Larutan berair, tetapi kadangkadang emulsi minyak dalam air, (seperti Phytomenadion Injection, BP.
Rute injeksi lain
Intraarterial Injeksi intraarterial disuntikkan langsung ke dalam arteri dimasukkan
langsung ke dalam pembuluh darah perifer, digunakan jika efek obat diperlukan segera.
Umumnya berupa larutan, dapat mengandung cairan non iritan yang dapat bercampur
dengan air, volume 1-10 ml. Tidak boleh mengandung bakterisida. Rute intra-arterial
digunakan umumnya untuk tujuan diagnosis seperti menginjeksikan bahan-bahan
radiopak untuk studi roentgenografik dari cadangan vaskuler pada berbagai organ atau
jaringan (seperti koroner, serebral, pulmonari, renal, enterik, atau arteri perifer). Hampir
semua arteri dicapai dengan kateterisasi arterial. Penggunaan rute intra-arterial untuk
tujuan pengobatan adalah jarang dan terbatas pada umumnya untuk kemoterapi organ
tertentu, seperti mengobati kanker lokal tertentu (seperti melanoma malignant pada
ekstremitis bawah), dimana perfusi regional dengan konsentrasi tinggi dari obat toksis
(yang bila diberikan secara i.v dapat dihubungkan dengan reaksi sistemik serius) yang
dapat tercapai. Digunakan ketika aksi segera diinginkan pada daerah perifer.
Intrakardial
Disuntikkan langsung ke dalam jantung, Dimasukkan langsung ke dalam otot
jantung atau ventrikulus, hanya digunakan untuk keadaan gawat. Tidak boleh
mengandung bakterisida. digunakan ketika kehidupan terancam dalam keadaan darurat
seperti gagal jantung. Secara langsung ke dalam jantung, merupakan suatu rute yang
mana digunakan untuk menginjeksi ke dalam aliran darah volume besar dari larutan
hipertonik atau larutan teriritasi seperti dekstrosa 70%. Proses ini membutuhkan bantuan
kateter. Kateterisasi meliputi proses pembedahan dan secara umum hanya dilakukan
dalam unit-unit tertentu dari rumah sakit yang lebih besar.
Intraserebral
Diinjeksikan ke dalam serebrum, digunakan khusus untuk aksi lokal sebagaimana
penggunaan fenol dalam pengobatan trigeminal neuroligia.
Intraspinal
Diinjeksikan ke dalam kanal spinal menghasilkan konsentrasi tinggi dari obat
dalam daerah lokal. Digunakan untuk menginduksi spinal atau lumbal anestesi dengan
menyuntikkan larutan ke ruang subaraknoid, biasanya volume yang diberikan 1-2 ml.

Tidak boleh mengandung bakterisida dan diracik untuk wadah dosis tunggal. Injeksi ke
dalam kanal spinal menghasilkan konsentrasi tinggi dari obat dalam daerah lokal. Untuk
pengobatan penyakit neoplastik seperti leukemia.
Intraperitoneal dan intrapleural
Intraperitoneal merupakan rute yang digunakan untuk pemberian berupa vaksin
rabies. Rute ini juga digunakan untuk pemberian larutan dialisis ginjal. Disuntikkan
langsung ke dalam rongga perut. Penyerapannya cepat, bahaya infeksi besar sehingga
jarang dipakai. Intrapleural Biasanya diinjeksikan tunggal ke dalam lubang pleura.
Seringkali, pipa tidak permanent dimasukkan ke dada melalui pembedahan, rute ini dapat
digunakan untuk tujuan irigasi atau untuk injeksi obat berulang. Seringkali, infeksi atau
keganasan meliputi lubang pleura, umumnya bila proses penyakit adalah kerusakan
fungsi pernafasan, maka digunakan rute ini. Enzim (seperti streptokinase dan
streptodornase) dapat diinjeksikan pada empyemas cair tebal yang todak dapat
dihilangkan oleh absorpsi atau repsorpsi secara alamiah. Bila bagian kiri tidak terobati,
empyemas dapat menyebabkan fibrasis, adhesi, penebalan pleura dan restriksi
pernafasan. Juga penyebaran karsinoma atau mesothelomas pleuradapat diobati dengan
injeksi intrapleural lokal dan bahan-bahan antitumor atau sclerosis, terutama bila infus
berulang menjadi masalah.

2. Sediaan Parenteral Volume Besar

Intravena
Keuntungan rute ini adalah (1) jenis-jenis cairan yang disuntikkan lebih banyak
dan bahkan bahan tambahan banyak digunakan IV daripada melalui SC, (2) cairan
volume besar dapat disuntikkan relatif lebih cepat; (3) efek sistemik dapat segera dicapai;
(4) level darah dari obat yang terus-menerus disiapkan, dan (5) kebangkitan secara
langsung untuk membuka vena untuk pemberian obat rutin dan menggunakan dalam
situasi darurat disiapkan. Kerugiannya adalah meliputi : (1) gangguan kardiovaskuler dan
pulmonar dari peningkatan volume cairan dalam sistem sirkulasi mengikuti pemberian
cepat volume cairan dalam jumlah besar; (2) perkembangan potensial trombophlebitis;
(3) kemungkinan infeksi lokal atau sistemik dari kontaminasi larutan atau teknik injeksi
septik, dan (4) pembatasan cairan berair.
Subkutan
Penyuntikan subkutan (hipodermolisis) menyiapkan sebuah alternatif ketika rute
intravena tidak dapat digunakan. Cairan volume besar secara relatif dapat digunakan
tetapi injeksi harus diberikan secara lambat. Dibandingkan dengan rute intravena,
absorpsinya lebih lambat, lebih nyeri dan tidak menyenangkan, jenis cairan yang
digunakan lebih kecil (biasanya dibatasi untuk larutan isotonis) dan lebih terbatas zat
tambahannya.