Anda di halaman 1dari 3

TUGAS PENANGANAN HEWAN COBA

Sejarah Penemuan dan Perkembangan Artemisinin Menggunakan Hewan Uji

Oleh :
Tsulsiyah Zahroh Putri
142210101051

UNIVERSITAS JEMBER
2016

Sejarah Penemuan dan Perkembangan Artemisinin Menggunakan Hewan Uji


Penelitian tentang artemisinin dilakukan oleh ilmuwan bidang farmasi terkenal
berasal dari Tiongkok bernama Youyou tu pada tahun 1960-an. Youyou tu merupakan
pimpinan Chinese Medicine Research Institute, Direktur Pusat Penelitian dan
Pengembangan artemisinin. Dari penelitian ini, Youyou tu mendapatkan Nobel dibidang
kedokteran. Tim peneliti Youyou Tu menyeleksi lebih dari 2.000 resep dan 380 ekstrak
herbal. Sesudah mengalami banyak kegagalan akhirnya pada tanggal 4 oktober 1971,
Youyou Tu berhasil mengekstraksi senyawa netral Artemisia annua di labotratorium.
Artemisin termasuk dalam kelompok senyawa seskuiterpen lakton, bukan alkaloid atau
amina seperti pada kuinin. Struktur jembatan peroksida ini dipercaya ampuh dalam
kerja obat. Senyawa ini diujicobakan pada tikus dan monyet yang terinfeksi malaria,
seratus persen berhasil diberantas. Efek antimalaria dari artemisin ini disebabkan oleh
masuknya molekul artemisinin ke dalam vakuola makanan parasit dan kemudian
berinteraksi dengan zat besi intraseluler. Interaksi menghasilkan sejumlah besar radikal
bebas yang menghancurkan komponen vital parasit sehingga dia mati. Hasil kerja Tu
dan tim dipublikasikan tanpa nama pada tahun 1977 dan penelitiannya berkaitan dengan
artemisinin dipresentasikan pada sebuah petemuan dengan Badan Kesehatan Dunia
(WHO) pada tahun 1981.
Pada tahun 1995, peneliti di University of Washington di Seattle, Henry Lai
pertama kali menemukan artemisinin memiliki efek yang kuat dalam membunuh sel
kanker payudara, kanker pankreas dan sel-sel leukemia. Meski dapat membunuh sel
kanker, tapi artemisinin tetap aman untuk jaringan sel-sel lain. Ini terbukti dalam uji
laboratorium yang mematikan sel-sel kanker payudara dalam waktu 16 jam setelah
diberi artemisin dan sel-sel sehat di sekitarnya tetap hidup. Bahkan ketika diujicobakan
pada anak anjing yang menderita osteosarkoma serius, setelah menerima pengobatan
artemisinin selama 5 hari pulih sepenuhnya. Pemeriksaan X-Ray menunjukkan tumor
pada anak anjing hampir mati semua.
Studi menemukan bahwa membran sel tumor merupakan target utama serangan
artemisinin. Artemisinin mempunyai kemampuan menginduksi sel tumor sehingga sel
itu apoptosis atau mati dan juga menyebabkan sel oncosis. Setelah membran sel tumor

rusak, terjadi perubahan permeabilitas, pada satu sisi lain banyak ion kalsium diluar sel
akan masuk ke dalam sel, menyebabkan kematian yang terprogram dan apoptosis.
Sedang disisi lain permeabilitas membran meningkat menyebabkan tekanan osmotik
dalam sel berubah, sel menyerap sejumlah besar air sehingga membesar/membengkak
yang menyebabkan kematian oncosis. Penelitian telah menunjukkan bahwa artemisinin
dapat merangsang Bcl-2 (semacam gen penghambatan apoptosis) menunjukkan
downregulation dan Bax (semacam gen perangsang apoptosis) menunjukkan
upregulation, sehingga menyebabkan apoptosis.
Kelemahan dari artemisinin adalah sifat larutnya, artemisini dalam air larut dan
minyak jelek, bioavailabilitas rendah, masa paruh-hidup dalam tubuh pendek (2,5 jam).
Karena itu, sudah ada 3 generasi kelas artemisinin semi-sintetis dan produk sintetis.
Semi-sintetik artesunate, arteeter, artemeter dan artemisong memiliki bioavailabilitas
dan khasiat yang baik. Artemisone masa paruh-hidup paling panjang, toksisitas rendah.
Toksikologi menegaskan efek samping racunnya ringan hampir boleh diabaikan.
Penggunaan jangka panjang mungkin atau bisa menyebabkan toksisitas, termasuk
hematopoietik sumsum tulang terganggu, sistem pencernaan, hati, pendarahan dan
terjadi pembekuan darah di ginjal dan kerusakan hati dan ginjal. Tetapi banyak laporan
menyatakan tidak ditemukan efek samping setelah pemakaian obat selama 1 tahun.
Toksisitas formulasi secara oral lebih rendah dari injeksi. Pemakaian klinis untuk
antimalaria dosisnya 3 kali lebih tinggi dari antikanker.

Sumber :
http://fudaindonesia.com/artemisinin-%EF%BC%9Aanti-malaria-dan-anti-kanker/
http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=2652&coid=1&caid=56&gid=5
http://majalah1000guru.net/2015/11/jamu-cina-obat-antimalaria/