Anda di halaman 1dari 114

UNIVERSITAS INDONESIA

PERENCANAAN INFRASTRUKTUR
TEKNOLOGI INFORMASI YANG ADAPTIF
UNTUK MENOPANG PERUBAHAN PAKET APLIKASI:
STUDI KASUS BANK XYZ

KARYA AKHIR

HARYO ISDIANTO
1106144821

FAKULTAS ILMU KOMPUTER


PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNOLOGI INFORMASI
JAKARTA
JANUARI 2014

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

HALAMA

N JUDUL

UNIVERSITAS INDONESIA

PERENCANAAN INFRASTRUKTUR
TEKNOLOGI INFORMASI YANG ADAPTIF
UNTUK MENOPANG PERUBAHAN PAKET APLIKASI:
STUDI KASUS BANK XYZ

KARYA AKHIR
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Magister Teknologi Informasi

HARYO ISDIANTO
1106144821

FAKULTAS ILMU KOMPUTER


PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNOLOGI INFORMASI
JAKARTA
JANUARI 2014

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Karya Akhir ini adalah hasil karya saya sendiri,


dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar

Nama

: Haryo Isdianto

NPM

: 1106144821

Tanda Tangan : ..................................


Tanggal

: 20 Desember 2013

ii
Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

HALAMAN PENGESAHAN

Karya Akhir ini diajukan oleh

Nama
NPM
Program Studi
Judul Karya Akhir

: Haryo Isdianto
: 1106144821
: Magister Teknologi Informasi
: Perencanaan Infrastruktur
Teknologi Informasi yang Adaptif
untuk Menopang Perubahan Paket
Aplikasi: Studi Kasus Bank XYZ

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai


bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Teknologi
Informasi pada Program Studi Magister Teknologi Informasi, Fakultas Ilmu
Komputer Universitas Indonesia.
DEWAN PENGUJI

Pembimbing : Bob Hardian Syahbuddin, Ir., Ph.D.

( ............................... )

Penguji

: Rizal Fathoni Aji, S.Kom., M.Kom.

( ............................... )

Penguji

: Wahyu Catur Wibowo, Ir., M.Sc., Ph.D.

( ............................... )

Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal

: 30 Desember 2013

iii
Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya,
saya dapat menyelesaikan Karya Akhir ini. Penulisan karya akhir ini dilakukan
dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister
Teknologi Informasi pada Program Studi Magister Teknologi Informasi, Fakultas
Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan
dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada
penyusunan karya akhir ini, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikannya.
Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bob Hardian Syahbuddin, Ir, Ph.D, selaku dosen pembimbing yang telah
menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam
penulisan karya akhir ini;
2. Dr. Achmad Nizar Hidayanto, selaku Ketua Jurusan Magister Teknologi
Informasi;
3. Orang tua dan keluarga saya yang telah memberikan dukungan moral agar
saya dapat menyelesaikan Karya Akhir ini;
4. Anak dan Istri saya tercinta, yang memberikan segalanya agar saya mampu
menyelesaikan kuliah serta Karya Akhir saya;
5. Teman-teman di 2011FA, The WolfGank yang sangat membantu dalam
kesuksesan saya memperoleh gelar Magister Teknologi Informasi.

Akhir kata, saya berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan
semua pihak yang telah membantu. Semoga Karya Akhir ini membawa manfaat
bagi pengembangan ilmu.
Salemba, Desember 2013

Penulis

iv
Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI


KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di


bawah ini:

Nama
NPM
Program Studi
Fakultas
Jenis Karya

: Haryo Isdianto
: 1106144821
: Magister Teknologi Informasi
: Ilmu Komputer
: Karya Akhir

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Nonekslusif (Non-exclusive RoyaltyFree Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Perencanaan Infrastruktur Teknologi Informasi yang Adaptif untuk Menopang
Perubahan Paket Aplikasi : Studi Kasus Bank XYZ
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Nonekskutif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan,
mengelola dalam bentuk pangkalan data (database). Merawat, dan
mempublikasikan karya akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap
mencantumkan saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.


Dibuat di
: Jakarta
Pada tanggal : 20 Desember 2013

Yang menyatakan

(Haryo Isdianto)

v
Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

ABSTRAK

Nama
Program Studi
Judul

: Haryo Isdianto
: Magister Teknologi Informasi
: Perencanaan Infrastruktur Teknologi Informasi yang
Adaptif untuk Menopang Perubahan Paket Aplikasi:
Studi Kasus Bank XYZ

Perbankan adalah industri yang paling sering mengubah strategi bisnisnya untuk
memenuhi permintaan pelanggan dibandingkan dengan industri lain. Teknologi
informasi (TI) yang digunakan sebagai pendukung bisnis dalam meningkatkan
keuntungan diharapkan mampu untuk mengakomodir perubahan bisnis yang cepat
tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, TI semakin kesulitan untuk
menyelaraskan hubungan dengan bisnis. Bank XYZ sebagai salah satu aktor
dalam industri perbankan tidak lepas dari permasalahan ini. TI di Bank XYZ
dianggap tidak dapat mengakomodir kebutuhan bisnis dengan cepat. Salah satu
faktor yang menyebabkan kelambatan ini adalah infrastruktur TI yang tidak
adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan cetak biru infrastruktur TI
yang adaptif bagi Bank XYZ dengan menggunakan metode pengembangan
arsitektur TI yaitu TOGAF ADM. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah cetak
biru infrastruktur TI yang adaptif yang dapat digunakan untuk menopang
perubahan aplikasi dalam mengakomodir perubahan bisnis yang cepa t. Walaupun
demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan dengan tidak menyertakan prioritas
dan roadmap pada cetak biru yang dihasilkan.

Kata kunci: Perencanaan, Infrastruktur TI, Perbankan, Adaptif, TOGAF


xi + 102 halaman; 24 gambar; 9 tabel; 4 lampiran

vi

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

ABSTRACT

Name
Study Program
Title

: Haryo Isdianto
: Magister Teknologi Informasi
: Adaptive Information Technology Infrastructure Planning
to Support Application Package Change:
Case Study XYZ Bank

Banking has been an industry that most frequently changes its business strategy in
order to meet its customer demand compared to other industries. Information
Technology (IT) as a support for the business is expected to be able to
accommodate the business changes. As business changes become more and more
rapidly, aligning IT to business has been more and more difficult. XYZ Bank, one
of the actors in the banking industry, also encounters this problem. The IT in
XYZ Bank is considered unable to cope with the fast business changes. One of the
factors that cause this problem is its non-adaptive IT infrastructure. Therefore,
this study aims to propose a blueprint for an adaptive IT infrastructure at XYZ
Bank using TOGAF ADM IT architecture development method. The result of this
study is a blueprint of an adaptive IT infrastructure that can accommodate
application changes in supporting the fast changing banking businesses. However,
this study still has limitations for the blueprint does not include prioritization and
roadmap.

Keyword: Planning, IT Infrastructure, Banking, Adaptive, TOGAF


xi + 102 pages; 24 figures; 9 tables; 4 attachments

vii

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i


HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS .................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iii
KATA PENGANTAR............................................................................................ iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH
UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS................................................................ v
ABSTRAK ............................................................................................................. vi
ABSTRACT .......................................................................................................... vii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ viii
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. x
DAFTAR TABEL .................................................................................................. xi
BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1
Latar Belakang.......................................................................................... 1
Rumusan Masalah..................................................................................... 5
1.2
1.3
Ruang Lingkup ......................................................................................... 5
1.4
Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................................. 5
Sistematika Penulisan ............................................................................... 6
1.5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 7
2.1
Landasaran Teori ...................................................................................... 7
2.1.1
Infrastruktur Teknologi Informasi ..................................................... 7
2.1.2
Adaptive Enterprise ........................................................................... 9
Teknologi Virtualisasi Komputer .................................................... 12
2.1.3
2.1.4
Perencanaan Strategis Sistem Informasi ......................................... 15
2.1.5
The Open Group Architecture Framework (TOGAF) .................... 15
2.1.6
Analisis Rantai Nilai (Value Chain)................................................ 21
2.2
Penelitian Sebelumnya ........................................................................... 24
2.3
Kerangka Teori Penelitian ...................................................................... 27
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN ............................................................... 29
3.1
Metode Penelitian ................................................................................... 29
Merumuskan masalah...................................................................... 29
3.1.1
3.1.2
Melakukan tinjauan pustaka ............................................................ 31
3.1.3
Mengumpulkan data ........................................................................ 31
3.1.4
Melakukan analisis .......................................................................... 32
3.1.5
Melakukan pembahasan .................................................................. 32
3.1.6
Menyusun kesimpulan dan saran .................................................... 32
BAB 4 PROFIL ORGANISASI ............................................................................ 33
4.1
Sekilas Perusahaan ................................................................................. 33
4.2
Visi dan Misi .......................................................................................... 34
BAB 5 ANALISIS DAN PEMBAHASAN .......................................................... 35
5.1
Tahapan Awal ......................................................................................... 35
5.1.1
Prinsip Arsitektur ............................................................................ 35
5.1.2
Arsitektur Awal ............................................................................... 37
5.2
Visi Arsitektur ........................................................................................ 48
5.3
Arsitektur Bisnis ..................................................................................... 50
viii

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

5.4 Arsitektur Sistem Informasi.................................................................... 53


5.4.1
Arsitektur data ................................................................................. 53
5.4.2
Arsitektur aplikasi ........................................................................... 54
5.5
Arsitektur Teknologi............................................................................... 60
5.5.1
Identifikasi komponen teknologi ..................................................... 60
5.5.2
Platform arsitektur teknologi .......................................................... 67
5.5.3
Topologi jaringan ............................................................................ 71
5.5.4
Virtualisasi server ........................................................................... 72
5.6
Identifikasi Peluang dan Solusi .............................................................. 75
5.6.1
Tabel kesenjangan sistem informasi ............................................... 75
5.6.2
Tabel kesenjangan infrastruktur TI ................................................. 75
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................. 78
6.1
Kesimpulan ............................................................................................. 78
6.2
Saran ....................................................................................................... 81
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 82
LAMPIRAN .......................................................................................................... 84
Lampiran 1 : Hasil Wawancara ......................................................................... 84
Lampiran 2 : Focus Group Discussion .............................................................. 92
Lampiran 3 : Infrastruktur TI Bank XYZ tidak adaptif ..................................... 97
Lampiran 4 : Perancangan Virtualisasi Server .................................................. 99

ix

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1-1 Diagram fishbone dukungan TI terhadap bisnis ................................. 3


Gambar 2-1 Infrastruktur teknologi informasi ........................................................ 8
Gambar 2-2 Keseimbangan pada infrastruktur TI yang adaptif (Robertson &
Sribar, 2001) .......................................................................................................... 10
Gambar 2-3 Konsolidasi beban kerja melalui virtualisasi server ......................... 14
Gambar 2-4 Siklus pengembangan arsitektur (figure 5-1, TOGAF 9 : The Open
Group Architecture Framework, 2009, p. 54) ....................................................... 17
Gambar 2-5 Taksonomi umum komponen infrastruktur (figure 43-2, TOGAF 9 :
The Open Group Architecture Framework, 2009, p. 578) .................................... 21
Gambar 2-6 Analisis rantai nilai (Porter, 1985) .................................................... 22
Gambar 2-7 Kerangka teori penelitian .................................................................. 28
Gambar 3-1 Metodologi Penelitian ....................................................................... 30
Gambar 5-1 Arsitektur aplikasi saat ini................................................................. 40
Gambar 5-2 Analisis rantai nilai Bank XYZ ......................................................... 50
Gambar 5-3 Proses bisnis Bank XYZ ................................................................... 51
Gambar 5-4 Arsitektur data transaksi.................................................................... 54
Gambar 5-5 Sistem informasi Bank XYZ ............................................................. 58
Gambar 5-6 Landscape aplikasi ............................................................................ 60
Gambar 5-7 Pemetaan taksonomi komponen umum ............................................ 64
Gambar 5-8 Perspektif arsitektur .......................................................................... 66
Gambar 5-9 Arsitektur gabungan .......................................................................... 66
Gambar 5-10 Peta interoperabilitas ....................................................................... 67
Gambar 5-11 Unifikasi platform ........................................................................... 69
Gambar 5-12 Topologi Jaringan Bank XYZ ......................................................... 71
Gambar 5-13 Desain infrastruktur virtualisasi berdasarkan arsitektur sistem
informasi................................................................................................................ 74

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

DAFTAR TABEL

Tabel 2-1 Evaluasi teknologi virtualisasi .............................................................. 27


Tabel 5-1 Aplikasi yang ada saat ini ..................................................................... 41
Tabel 5-2 Daftar stakeholder tiap proses bisnis .................................................... 51
Tabel 5-3 Klasifikasi sistem informasi Bank XYZ ............................................... 55
Tabel 5-4 Tabel aplikasi Bank XYZ ..................................................................... 58
Tabel 5-5 Pemilihan komponen teknologi berdasarkan prinsip arsitektur ............ 60
Tabel 5-6 Mekanisme integrasi sistem informasi Bank XYZ ............................... 70
Tabel 5-7 Infrastruktur yang tidak sesuai dengan prinsip arsitektur ..................... 75
Tabel 5-8 Analisis kesenjangan infrastruktur TI ................................................... 76

xi

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Peranan teknologi informasi (TI) di industri perbankan Indonesia semakin


meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Penggunaan TI yang awalnya hanya
digunakan untuk mempercepat atau otomasi proses bisnis, saat ini telah berubah
menjadi salah satu bagian strategis di organisasi perbankan untuk meningkatkan
keuntungan. Untuk mencapai penggunaan TI yang optimal, maka diperlukan
keselarasan antara teknologi informasi dan strategi bisnis.

Keselarasan antara teknologi informasi dan strategi bisnis menjadi salah satu
pembahasan utama di kalangan eksekutif TI di seluruh dunia. Seiring berjalannya
waktu perusahaan selalu menyesuaikan strategi bisnis untuk memenuhi
permintaan pelanggan sehingga untuk mencapai keselarasan tersebut semakin
sulit. Dibandingkan dengan perusahaan lain, perbankan adalah industri yang
paling sering mengubah strategi bisnisnya untuk mengakomodir perubahan yang
sangat cepat. Perencanaan untuk menyelaraskan TI dengan perubahan bisnis yang
cepat ini penuh dengan risiko karena organisasi akan berusaha untuk menambah
infrastruktur TI yang ada agar dapat menjaga tingkat keselarasan yang konsisten
(Tallon, 2009).

Infrastruktur TI menjadi hal yang penting dalam organisasi karena besarnya


investasi yang dikeluarkan untuk infrastruktur TI, yaitu 50% (Gurbaxani,
Melville, & Kraemer, 1998) sampai dengan 75% (Applegate, Austin, & Soule,
2009) dari total investasi TI. Seringkali investasi yang besar ini tidak diiringi
dengan manfaat yang dirasakan (Carr, 2003). Oleh karena itu, fleksibilitas dari
infrastruktur TI menjadi bagian yang penting di dalam organisasi untuk
meminimalkan risiko dan meningkatkan kemampuan organisasi dalam beradaptasi
dengan perubahan (Weill & Broadbent, 2002).

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

Selain efektif dan efisien, fleksibilitas infrastruktur TI merupakan salah satu ciri
dari adaptive enterprise. Untuk mencapai adaptive enterprise, diperlukan
keseimbangan pada tiga area, yaitu teknologi, sumber daya manusia, dan proses
(Robertson & Sribar, 2001). Selain menjadi kriteria adaptive enterprise, untuk
merencanakan infrastruktur TI ini harus mengacu kepada arsitektur TI (Weill &
Ross, 2004). Arsitektur TI yang dimiliki oleh organisasi harus mampu menangkap
esensi dari bisnis, teknologi informasi dan evolusi yang terjadi (Proklamirsyah,
2013).

Perencanaan infrastruktur TI yang adaptif di organisasi perbankan akan


menghasilkan suatu cetak biru (blue print) teknologi informasi yang dapat
digunakan sebagai pedoman bagi organisasi. Salah satu hasil utama dari
perencanaan arsitektur TI adalah rencana implementasi arsitektur teknologi
melalui pengembangan infrastruktur TI (The Open Group, 2009).

Penelitian ini mengambil studi kasus peranan dan penerapan TI di organisasi


perbankan, dalam hal ini adalah Bank XYZ. Peranan TI di organisasi ini berada di
posisi strategis yang ditandai dengan dibentuknya direktorat baru yang
membawahi TI dan adanya penegasan nama TI pada direktorat baru tersebut di
tahun 2013, yaitu Direktorat Pengembangan Bisnis dan TI (DPBTI).

Sebelum dilakukan perubahan, organisasi TI berada di bawah Direktorat


Pelayanan dan Distribusi (DPD). Pembentukan direktorat baru (DPBTI) tersebut
dilakukan oleh Bank XYZ untuk mempercepat proses koordinasi TI dengan bisnis
sehingga TI diharapkan dapat mendukung perubahan strategi bisnis dengan cepat.
Hal ini juga ditegaskan oleh 2 direktur yang menjabat saat itu. Selain
permasalahan koordinasi, dukungan TI yang kurang cepat diakibatkan oleh
beberapa hal yang digambarkan dalam diagram fishbone seperti ditunjukkan pada
Gambar 1-1 berikut:

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

Gambar 1-1 Diagram fishbone dukungan TI terhadap bisnis

Faktor-faktor utama penyebab TI tidak dapat mengakomodir kebutuhan bisnis


dengan cepat adalah sebagai berikut:
a. Prosedur
Prosedur permintaan layanan TI tidak disertai dengan pembahasan
infrastruktur TI untuk permintaan layanan aplikasi oleh pihak bisnis. Salain
itu, sistem informasi yang dialih daya tidak diberikan acuan standar untuk
infrastuktur TI yang akan digunakan. Ketiadaan pembahasan dan pemberian
acuan infrastruktur TI menyebabkan keterlambatan proses penerapan TI untuk
mendukung proses bisnis.
b. Sistem Informasi (SI)
Perubahan maupun penambahan beberapa sistem informasi terjadi di luar
perencanaan. Hal ini terjadi karena kebutuhan terhadap sistem informasi
tersebut berubah sangat cepat dan tidak dapat dikendalikan. Faktor-faktor yang
menyebabkan perubahan sistem informasi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Perubahan aplikasi bisnis
Perubahan aplikasi bisnis ini didorong oleh 3 hal, yaitu penambahan
aplikasi untuk produk baru, perubahan aplikasi untuk pengembangan
produk lama, dan permintaan aplikasi oleh rekan bisnis korporasi.
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

b. Perubahan aplikasi pihak ketiga


Perubahan aplikasi ini dilakukan oleh pihak regulator dan rekan bisnis
yang terkait dengan mekanisme pembayaran dan pembelian melalui bank
yang biasa disebut dengan aplikasi Host to Host (H2H).
c. Organisasi Internal
Permintaan layanan TI terkait infrastruktur TI dipenuhi oleh unit di Divisi
Dukungan dan Operasional TI (DOTI). Divisi Pengembangan TI (DPTI)
hanya mengembangkan perangkat lunak. Berdasarkan peran dan tanggung unit
yang ada di DOTI dapat disimpulkan terjadi tumpang tindih tanggung jawab
yang terkait pengembangan dan pengelolaan infrastruktur TI, yang mana hal
ini mengakibatkan unsur subyektif pada saat pengembangan dengan
menitikberatkan pengelolaan infrastruktur TI tanpa memperhatikan unsur
obyektif, terutama terkait kebutuhan sistem informasi. Tumpang tindih
tanggung jawab ini juga menyebabkan kinerja DOTI menjadi tidak optimal
karena harus mengerjakan pekerjaan yang bersifat rutin dalam pengelolaan TI
dan pekerjaan yang bersifat proyek dalam pengembangan infrastruktur TI
sehingga kecepatan dukungan TI untuk mengakomodir perubahan strategi
bisnis menjadi berkurang.
d. Infrastruktur TI
Pengembangan dan pengadaan fasilitas TI yang mengabaikan infrastruktur TI,
terutama terkait proyek TI aplikasi baru, menyebabkan terjadinya duplikasi
infrastruktur dan peningkatan kompleksitas infrastruktur. Selain itu, kecepatan
implementasi aplikasi baru tidak sesuai dengan jadwal yang ditetapkan karena
harus menunggu pengadaan infrastruktur baru. Pada tahun 2012, terjadi
duplikasi infrastruktur TI yaitu sejumlah 5 server basis data. Penambahan
jumlah infrastruktur TI tertinggi dari 234 rollout layanan TI di tahun 2012
adalah 10 server aplikasi. Penambahan dan peningkatan kompleksitas
infrastruktur TI ini menunjukkan bahwa infrastruktur TI yang ada saat ini
tidak adaptif. Rekaman yang terkait dengan permasalahan infrastruktur TI
yang tidak adaptif ditunjukkan pada Lampiran 3 : Infrastruktur TI Bank XYZ
tidak adaptif.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

1.2

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan sebelumnya, penulis


mengambil penyebab permasalahan pada penelitian ini dari segi Infrastruktur TI
yang mana infrastruktur TI tidak adaptif untuk menopang perubahan sistem
informasi di atasnya ketika terjadi perubahan bisnis yang cepat dan perubahan SI
eksternal. Dari penjabaran di atas, penulis mengajukan sebuah pertanyaan untuk
penelitian ini yaitu: Bagaimanakah perencanaan infrastruktur TI yang
adaptif untuk menopang perubahan paket aplikasi di Bank XYZ?
Pertanyaan penelitian di atas dapat didekomposisi menjadi sub pertanyaan sebagai
berikut:
1. Bagaimana prinsip-prinsip TI dan model adaptif yang akan digunakan dalam
perencanaan infrastruktur TI di Bank XYZ?
2. Bagaimana penerapan prinsip-prinsip TI dan model adaptif dalam perencanaan
infrastruktur TI di Bank XYZ?
1.3

Ruang Lingkup

Penelitian ini memiliki ruang lingkup sebagai berikut:


1. Karya akhir ini bertujuan untuk menyusun perencanaan infrastruktur TI yang
adaptif untuk menopang perubahan paket aplikasi di atasnya.
2. Ruang lingkup karya akhir ini terbatas pada perencanaan infrastruktur TI pada
perusahaan perbankan swasta yaitu Bank XYZ.
3. Penelitian menggunakan metode pengembangan arsitektur TI yaitu TOGAF
Architecture Development Method (ADM) berbasis kerangka kerja TOGAF
(The Open Group Architecture Framework).
1.4

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah membuat perencanaan arsitektur teknologi


sebagai cetak biru infrastruktur TI. Cetak biru tersebut dapat digunakan sebagai
landasan bagi pengembangan infrastruktur TI yang lebih baik dan adaptif dalam
mendukung proses bisnis perbankan.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

Sedangkan manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:


a. Manfaat praktis
i. Mendapatkan

komitmen

dari

pihak

manajemen

atas

rencana

pengembangan infrastruktur TI.


ii. Sebagai acuan untuk mengembangkan dan menyempurnakan infrastruktur
TI untuk mendukung kecepatan perubahan strategi bisnis Bank XYZ.
b. Manfaat akademis
Diharapkan penelitian yang dihasilkan dapat menjadi referensi tambahan bagi
pengetahuan.
1.5

Sistematika Penulisan

Penulisan karya akhir ini disusun dengan membagi beberapa pembahasan yang
dikelompokkan kedalam bab-bab sebagai berikut:
BAB I

Pendahuluan

Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, permasalahan, ruang lingkup, tujuan
dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.
BAB II

Landasan Teori

Bab ini berisi uraian atas teori-teori yang berkaitan dan digunan sebagai acuan
dalam penelitian
BAB III

Metodologi Penelitian

Bab ini berisi uraian mengenai metodologi penelitian yang akan digunakan pada
penulisan karya akhir ini.
BAB IV

Gambaran Umum Organisasi

Bab ini berisi uraian mengenai profil Bank XYZ, Tbk yang akan digunakan
sebagai obyek studi kasus pada penulisan karya akhir ini.
BAB V

Analisis dan Pembahasan

Bab ini berisi penjelasan atas data-data yang telah dikumpulkan dan dianalisis
serta dijabarkan hasil dari penelitian.
BAB VI

Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisi hasil penelitian dan rekomendasi dari karya akhir.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Landasaran Teori

Pada bagian ini akan diuraikan teori-teori yang menjadi acuan dalam penelitian ini
yaitu pengertian teoretis infrastruktur teknologi informasi, adaptive enterprise,
teknologi virtualisasi komputer, perencanaan strategis sistem informasi, kerangka
kerja TOGAF, dan analisis rantai nilai.
2.1.1

Infrastruktur Teknologi Informasi

Secara umum, infrastruktur memiliki arti struktur yang ada di bawah struktur.
Struktur di bawah struktur yang dimaksud adalah adanya layer layer yang saling
mendukung dan melayani. Dalam dunia nyata, istilah infrastruktur seringkali
dikaitkan dengan kebutuhan umum, seperti air, listrik, gas, telepon dan lain lain
(Robertson & Sribar, 2001) dengan karakteristik sebagai berikut:
a. Pemakaiannya lebih luas dibanding struktur di atasnya (yang didukungnya).
b. Lebih permanen/statis dibanding struktur diatasnya.
c. Terhubung secara fisik dengan struktur diatasnya.
d. Sering diperhitungkan sebagai servis/layanan pendukung.
e. Dimiliki dan dikelola oleh pihak yang berbeda dari struktur yang
didukungnya.
Infrastruktur umum berada di bawah layer infrastruktur TI. Sedangkan
infrastruktur TI mendukung aplikasi-aplikasi yang berjalan di atas platform
infrastruktur tersebut. Contoh infrastruktur TI antara lain sebagai berikut:
a. Perangkat lunak
i. Middleware
ii. Sistem operasi

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

iii. Basis data


b. Perangkat keras
i. Server
ii. Client
iii. Storage
iv. Jaringan
Kaitan antara infrastruktur umum, infrastruktur TI dan aplikasi dapat dilihat pada
Gambar 2-1 berikut ini:

Gambar 2-1 Infrastruktur teknologi informasi

Infrastruktur TI menurut Weill dan Ross menjadi bagian tata kelola teknologi
informasi. Tata kelola teknologi informasi adalah suatu kerangka kerja yang
digunakan untuk menentukan kebijakan dalam penggunaan IT serta menentukan
penanggung jawab terhadap aset TI yang digunakan (Weill & Ross, 2004). Weill
dan Ross mengatakan bahwa ada 3 faktor yang dapat digunakan untuk mencapai
tata kelola TI yang efektif, yaitu: keputusan apa yang harus dibuat untuk
memastikan manajemen dan penggunaan TI yang efektif, siapa yang membuat
keputusan tersebut, dan bagaimana keputusan tersebut dibuat dan dipantau.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

Terdapat 5 bidang keputusan kunci dalam tata kelola teknologi informasi yang
dikembangkan oleh Weill dan Ross, yaitu:
a. IT Principles
b. IT Architecture
c. IT Infrastructure
d. Business Application Needs
e. IT Investment and prioritization decisions
Menurut Weill dan Ross, definisi dari infrastruktur TI adalah layanan TI yang
dikoordinasikan secara terpusat dan digunakan sebagai landasan TI perusahaan.
2.1.2

Adaptive Enterprise

Strategi infrastruktur TI yang adaptif menjadi bagian yang penting pada saat unit
bisnis membeli paket aplikasi jadi atau yang dapat disesuaikan dan paket sewa
aplikasi serta beberapa perusahaan membuat aplikasi sendiri dari awal.
Infrastruktur TI harus menyediakan dasar keragaman dan fleksibel terhadap
pengembangan aplikasi. Infrastruktur TI yang adaptif memiliki ciri-ciri atau sifat
sebagai berikut:
a. Efisien
Menyediakan komponen-komponen dengan harga dalam batas wajar dan
dapat dimanfaatkan bersama oleh aplikasi yang ada saat ini maupun
aplikasi baru.
b. Efektif
Memiliki kemudahan dalam mengintegrasikan dan memadukan komponen
infrastruktur yang ada.
c. Fleksibel (agile)
Memiliki kemudahan dalam perubahan komponen infrastruktur TI, baik
penggantian, peningkatan maupun perombakan.

Filosofi infrastruktur TI yang adaptif melibatkan keseimbangan pada tiga area


yaitu: teknologi, sumber daya manusia (SDM), dan proses seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2-2. Masing-masing area tersebut dijabarkan sebagai
berikut:
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

10

a. Teknologi
Teknologi terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, dan layanan pihak
ketiga yang merupakan bagian dari infrastruktur.
b. Sumber daya manusia
Kategori sumber daya manusia terdiri peranan, ketrampilan, dan struktur
organisasi yang melibatkan proses daur hidup infrastruktur.
c. Proses
Kategori ini terdiri dari standar dan informasi yang mendefisinikan daur hidup
dari infrastruktur.
Untuk mencapai keseimbangan pada ketiga area di atas, pengetahuan untuk
pemilihan teknologi yang tepat harus dimiliki dan mengerti ketrampilan dari SDM
yang akan menjalankan pekerjaan untuk mengelola teknologi tersebut. Proses
menjadi perhatian yang penting untuk memahami strategi infrastruktur yang
adaptif lebih mendalam.

Kunci dalam mencapai infrastruktur yang adaptif adalah dengan melihat


infrastruktur dalam kesatuan komponen, pola dan layanan serta sumber daya dan
proses. Kunci ini mendorong prinsip-prinsip infrastruktur yang adaptif, yaitu:
a. Platform : yaitu pengelompokan komponen infrastruktur.
b. Pattern : yaitu memfasilitasi pola sistem aplikasi ke perencanaan infrastruktur
berdasarkan platform yang digunakan.
c. Service : yaitu menyediakan komponen infrastruktur yang dapat digunakan
secara bersama oleh aplikasi.

Gambar 2-2 Keseimbangan pada infrastruktur TI yang adaptif (Robertson & Sribar, 2001)
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

11

Untuk menilai atau mengukur bahwa suatu infrastruktur TI adaptif, digunakan


kriteria-kriteria tertentu, antara lain:
a. Kecepatan (speed)
Terkait dengan dukungan terhadap kecepatan implementasi fitur atau
aplikasi baru.
b. Scalability
Mampu mengakomodasi perubahan atau peningkatan penggunaan
infrastruktur.
c. Integration/ reuse
Kemampuan dalam penggunaan ulang dan integrasi antar komponen
infrastruktur.
d. Partitioning
Kemampuan untuk membagi fungsi dan kompleksitas infrastruktur.
e. Presentation
Menyediakan antar muka yang beragam bagi pengguna.

Selain ciri-ciri dan kriteria yang dikemukakan terkait infrastruktur TI yang


adaptif, Robertson dan Sribar juga menyampaikan perihal strategi, kompleksitas
dan pengelompokan komponen infrastruktur yang menunjang model organisasi
atau

perusahaan

yang

adaptif.

Berdasarkan

ciri-ciri,

kriteria,

strategi,

kompleksitas, teknologi open standard, serta pengelompokan komponen


infrastruktur, maka metode yang digunakan dalam perencanaan infrastruktur TI
yang adaptif menurut Robertson dan Sribar adalah sebagai berikut:
a. Inventarisasi atau pendataan teknologi
b. Identifikasi dan pengembangan pola arsitektur teknologi informasi
c. Identifikasi dan pengembangan infrastruktur service
d. Pengelolaan portofolio infrastruktur
e. Pelembagaan perencanaan infrastruktur
f. Pengelolaan infrastruktur sebagai paket-paket solusi

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

12

2.1.3

Teknologi Virtualisasi Komputer

Virtualisasi adalah suatu teknik untuk menyembunyikan karakter fisik dari suatu
sumber daya komputasi dalam interaksinya dengan sistem lain, aplikasi maupun
pengguna (IBM, 2007). Konsep virtualisasi dapat dikembangkan secara luas ke
dalam suatu perangkat, sistem operasi, aplikasi dan jaringan komputer.
Berdasarkan konsep ini, definisi yang terkait dengan virtualisasi komputer adalah
representasi mantiki dari suatu komputer di dalam perangkat lunak. Pada awalnya,
implementasi virtualisasi dilakukan ke dalam suatu perangkat lunak. Seiring
dengan perkembangan teknologi, implementasi virtualisasi komputer juga
melibatkan perangkat keras untuk meningkatkan efisiensi proses virtualisasi.
2.1.3.1

Virtualisasi pada arsitektur prosesor X86

Virtualisasi pada arsitektur prosesor X86 menempatkan bagian virtualisasi


diantara perangkat keras dan sistem operasi (VMware, 2007). Penempatan ini
ditujukan agar sistem operasi dapat dijalankan secara bersamaan sebagai mesin
virtual di dalam satu perangkat dalam jumlah tertentu. Pada standar industri
arsitektur prosesor X86, pendekatan virtualisasi dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Hosted architecture
Pada pendekatan ini, bagian virtualisasi dijalankan sebagai aplikasi di atas
sistem operasi yang dapat mendukung perangkat keras dalam skala yang
luas.
b. Hypervisor architecture (bare-metal)
Pada pendekatan ini, bagian virtualisasi terhubung langsung dengan
arsitektur perangkat keras. Hubungan secara langsung dengan perangkat
keras ini membuat pendekatan ini lebih baik dibandingkan dengan
pendekatan Hosted Architecture, yaitu dalam hal efisiensi, skalabilitas, dan
kehandalan.
2.1.3.2

Virtualisasi Prosesor

Sistem operasi berbasis X86 didesain untuk dapat berjalan di atas perangkat keras
bare-metal, sehingga dapat diasumsikan bahwa sistem operasi ini menggunakan
sepenuhnya perangkat keras dari komputer

(VMware, 2007). Ada 3 teknik


Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

13

alternatif yang dapat digunakan untuk menangani perintah virtualisasi prosesor


dengan arsitektur X86, yaitu:
a. Full virtualization
Virtualisasi Arsitektur X86 dengan memadukan translasi biner dan
teknik eksekusi langsung menghasilkan teknik full virtualization.
Teknik ini akan memisahkan secara penuh antara guest OS (Operating
System) dengan perangkat keras. Full virtualization memberikan
pilihan pemisahan yang terbaik dengan menjalankan mesin virtual
seperti sistem operasi yang berjalan di atas perangkat keras yang
sebenarnya (native).
b. Operating system assisted virtualization atau paravirtualization
Paravirtualization mengacu kepada komunikasi yang terjadi antara
guest OS dengan hypervisor untuk meningkatkan kehandalan dan
efisiensi. Paravirtualization tidak dapat mengakomodasi sistem
operasi yang tidak dapat diubah seperti Windows 2000 dan Windows
XP. Selain kemampuan menyesuaikan diri terhadap sistem operasi
yang rendah, teknik virtualisasi ini juga membutuhkan perubahan
kernel sistem operasi yang kompleks, sehingga dapat disimpulkan
bahwa teknik ini tidak dapat digunakan sebagai pilihan dalam
menentukan teknologi virtualisasi yang akan digunakan.
c. Hardware assisted virtualization (first generation)
Teknik virtualisasi yang dibantu oleh perangkat keras ini tidak hanya
melibatkan prosesor, namun juga memori dan perangkat masukan dan
luaran yang lain di dalam perangkat keras. Teknik ini memberikan
dukungan yang terbaik untuk sistem operasi yang tidak dapat diubah,
sama halnya dengan full virtualization. kekurangan dari teknik ini
dibandingkan dengan teknik sebelumnya adalah teknik ini memiliki
kehandalan yang paling rendah. Kekurangan dari teknik ini akan hilang
setelah perangkat keras dapat menyesuaikan diri terhadap kebutuhan
virtualisasi dengan berjalannya waktu.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

14

2.1.3.3

Manfaat virtualisasi server

Virtualisasi server adalah menjalankan beberapa sistem operasi server dalam satu
perangkat keras fisik yang secara tradisional hanya dipergunakan oleh satu sistem
operasi server. Dengan menerapkan virtualisasi server, maka konsolidasi beban
kerja (workload) dari beberapa server fisik yang memiliki utilitas rendah ke dalam
satu server fisik menjadi lebih optimal. Contoh implementasi virtualisasi server
dapat dilihat pada Gambar 2-3 berikut ini (VMware, 2007) :

Gambar 2-3 Konsolidasi beban kerja melalui virtualisasi server

Adapun manfaat lain dari penerapan implementasi virtualisasi adalah sebagai


berikut (VMware, 2009) :
a. Mengurangi biaya perangkat keras sampai dengan 30 50 %
b. Mengurangi biaya operasional sampai dengan 70 80 %
c. Konsolidasi server
d. Mengurangi kompleksitas server
e. Konsolidasi storage
f. Konsolidasi jaringan
g. Meningkatkan ketersediaan
h. Meningkatkan kemampuan skalabilitas dan redundansi dalam layanan aplikasi
i. Menyediakan layanan tanpa gangguan (uninterrupted service) ketika
perangkat keras mesin server sedang dilakukan perbaikan
j. Meningkatkan kapabilitas dengan virtualisasi aplikasi dan basis data
k. Mengoptimalkan pengalokasian sumber daya prosesor dan memory dengan
menyesuiakan dengan beban kerja
l. Fleksibilitas terhadap dukungan layanan baru

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

15

2.1.4

Perencanaan Strategis Sistem Informasi

Perencanaan strategis sistem informasi adalah suatu pendekatan dalam


penggunaan SI/TI secara efektif dan efisien dalam menciptakan peluang bisnis
untuk meningkatkan keuntungan organisasi (Ward & Peppard, 2004). Indikator
perusahaan membutuhkan perencanaan strategis sistem informasi adalah apabila
banyak ditemukan ketidaksesuaian pendapat antara bisnis dan TI. Selain itu,
terdapat banyak silo-silo aplikasi, yang menandakan bahwa tidak ada perencanaan
terhadap sistem informasi atau teknologi informasi. Opini dari pihak di luar TI
terhadap penggunaan anggaran untuk pembelanjaan perangkat TI termasuk salah
satu indikator bahwa organisasi tersebut membutuhkan perencanaan strategis
sistem informasi. Untuk mengatasi permasalahan terkait TI yang berpengaruh
terhadap bisnis perusahaan, 3 strategi yang dihasilkan dalam perencanaan strategis
sistem informasi harus disusun, yaitu:
a. Strategi SI/TI
b. Strategi manajemen SI/TI
c. Strategi infrastruktur TI.
Berdasarkan keluaran perencanaan strategis sistem informasi, dapat disimpulkan
bahwa untuk merencanakan infrastruktur TI, strategi SI/TI dan strategi
manajemen SI/TI harus disusun terlebih dahulu.
2.1.5

The Open Group Architecture Framework (TOGAF)

TOGAF adalah suatu kerangka kerja pengembangan, penerapan, dan pengelolaan


arsitektur enterprise melalui pendekatan secara rinci dan menyeluruh sebagai
berikut (The Open Group, 2009):
a. Berupa panduan tahapan-tahapan dan prinsip-prinsip
b. Memberikan keleluasaan dalam memilih teknik pemodelan yang
digunakan
c. Merupakan paduan dari berbagai kerangka kerja pengembangan arsitektur,
seperti FEAF, TEAF, DoDAF, dsb.
Kerangka kerja ini dapat digunakan secara bebas oleh organisasi yang ingin
mengembangkan arsitektur enterprise. TOGAF dikembangkan dan dikelola oleh
anggota The Open Group di forum arsitektur. The Open Group adalah konsorsium
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

16

non-profit yang berkomitmen untuk meningkatkan efisiensi bisnis dengan


menurukan batasan integrasi sistem informasi antar perusahaan yang digunakan
oleh penjual dan pembeli.

TOGAF versi 1 yang mulai dikembangkan pada tahun 1995 mengacu kepada
Technical Architecture Framework for Information Management (TAFIM) yang
dikembangkan oleh departemen pertahanan Amerika Serikat. Departemen
pertahanan Amerika Serikat memberikan izin dan dorongan kepada The Open
Group untuk mengembangkan TOGAF berdasarkan TAFIM. Pengembangan
TAFIM ini sendiri membutuhkan waktu yang lama dan investasi yang sangat
besar.

Pengembangan arsitektur enterprise dimulai dengan meletakkan kategori-kategori


arsitektur dasar. Kategori komponen dasar menurut TOGAF adalah bisnis,
aplikasi, data dan teknologi. Arsitektur enterprise ini sangat bergantung kepada
modularisasi, standarisasi, dan teknologi serta produk yang ada saat ini.
2.1.5.1

Pengembangan arsitektur enterprise menggunakan TOGAF


Architecture Development Method (ADM)

TOGAF

ADM

mendefinisikan

langkah-langkah

yang digunakan

dalam

mengembangkan arsitektur enterprise. Ruang lingkup yang digunakan dalam


pengembangan arsitektur enterprise didefinisikan sendiri oleh masing-masing
organisasi. Pendefinisian ruang lingkup oleh organisasi ini ditujukan agar
organisasi dapat menyesuaikan sumber daya yang digunakan dalam setiap langkah
pada pengembangan arsitektur enterprise. Pemilihan ruang lingkup akan
menentukan kesuksesan pengembangan arsitektur enterprise. Langkah-langkah
yang saling terkait untuk mengembangkan arsitektur enterprise berdasarkan
TOGAF ADM digambarkan dalam bentuk lingkaran seperti ditunjukkan pada
Gambar 2-4 berikut ini:

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

17

Gambar 2-4 Siklus pengembangan arsitektur (figure 5-1, TOGAF 9 : The Open Group
Architecture Framework, 2009, p. 54)

Langkah-langkah pengembangan arsitektur enterprise tersebut dapat dijelaskan


sebagai berikut:
a. Tahapan awal
Tujuan dari tahapan awal adalah sebagai berikut:
-

Meninjau kondisi organisasi sebelum menyusun arsitektur enterprise

Mengidentifikasi stakeholder, kebutuhan stakeholder dan keterkaitan


antara kebutuhan stakeholder

Memastikan bahwa setiap orang yang akan terlibat berkomitmen dalam


keberhasilan proses di arsitektur enterprise

Menyusun persyaratan yang akan digunakan dalam arsitektur


enterprise

Mengidentifikasi ruang lingkup, kendala dan asumsi yang digunakan

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

18

Menentukan kerangka kerja dalam mengembangkan arsitektur


enterprise

Memastikan kerangka tata kelola dan sumber daya yang diperlukan


untuk mendukung proses bisnis

Memilih dan menerapkan infrastruktur pendukung

Mengidentifikasi peran dan tanggung jawab dari unit-unit yang terlibat


dalam arsitektur enterprise.

Tahapan awal ini akan menghasilkan prinsip arsitektur, kondisi arsitektur


saat ini, dan pemetaan stakeholder (product owner).
b. Visi arsitektur
Tujuan dari tahap ini adalah sebagai berikut:
-

Mendapatkan komitmen dan dukungan dari manajemen

Menentukan dan mengatur siklus pengembangan arsitektur

Melakukan validasi terhadap prinsip arsitektur yang digunakan

Mengidentifikasi komponen yang digunakan sebagai acuan arsitektur

Mengidentifikasi bisnis inti dan kendala yang dihadapi.

Visi arsitektur dapat digambarkan melalui analisis rantai nilai atau digram
konsep solusi.
c. Arsitektur bisnis
Tujuan dari arsitektur bisnis adalah untuk menggambarkan arsitektur dasar
bisnis dan mengidentifikasi prinsip dan tujuan bisnis. contoh arsitektur
bisnis adalah pemodelan proses bisnis dan daftar stakeholder dari tiap
proses bisnis.
d. Arsitektur sistem informasi
Tujuan arsitektur sistem informasi adalah untuk mengembangkan sasaran
arsitektur yang meliputi salah satu atau kedua dari data dan sistem aplikasi.
Identifikasi dan pendefinisian data serta sistem aplikasi yang digunakan
sebagai pendukung proses bisnis perusahaan digambarkan pada tahap
arsitektur

sistem

informasi.

Arsitektur

sistem

informasi

yang

dikembangkan dapat menggabungkan aplikasi dan data. Arsitektur data


yang dikembangkan pada tahap arsitektur sistem informasi bertujuan untuk
mendefinisikan sumber dan jenis data utama yang diperlukan untuk
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

19

mendukung proses bisnis. Tujuan lain dari arsitektur data adalah untuk
menentukan entitas data yang relevan dengan perusahaan. Arsitektur data
tidak terkait dengan pengembangan basis data dan perancangan sistem
penyimpanan logis atau fisik. Arsitektur aplikasi digunakan untuk
mendefinisikan aplikasi utama yang digunakan untuk memproses data dan
mendukung proses bisnis. Tujuan lain dari arsitektur aplikasi adalah untuk
mendefinisikan fungsi aplikasi untuk mengolah data dan menyediakan
informasi yang relevan bagi pengguna di perusahaan. Aplikasi relatif tidak
berubah, namun teknologi untuk mendukung aplikasi tersebut dapat
berubah sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan teknologi.
e. Arsitektur teknologi
Arsitektur teknologi bertujuan untuk memetakan komponen aplikasi, yang
didefinisikan dalam tahap pengembangan arsitektur aplikasi, menjadi satu
komponen teknologi. Komponen teknologi ini terdiri perangkat lunak dan
perangkat keras yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Tujuan
lain dari arsitektur teknologi adalah mendefinisikan realisasi fisik dari
arsitektur melalui implementasi dan rencana migrasi.
f. Peluang dan solusi
Tujuan dari tahap identifikasi peluang dan solusi adalah melakukan
konsolidasi kesenjangan dari tahap arsitektur bisnis sampai tahap arsitektur
teknologi. Evaluasi terhadap kemampuan perusahaan untuk melakukan
perubahan juga dilakukan pada tahap ini. Tujuan terakhir dari tahap ini
adalah untuk menghasilkan kesepakatan strategi migrasi dan implementasi
yang akan digunakan.
g. Rencana migrasi
Tujuan dari tahap rencana migrasi adalah untuk memastikan implementasi
dan rencana migrasi sesuai dengan kerangka kerja yang digunakan dalam
manajemen perusahaan. Prioritas dalam pekerjaan atau proyek yang akan
dijalankan ditetapkan berdasarkan analisis biaya dan manfaat pada tahap
ini.
h. Implementasi tata kelola
Tujuan dari tahap ini adalah sebagai berikut:
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

20

merumuskan rekomendasi dari setiap komponen arsitektur yang akan


diimplementasi

mengatur dan mengelola proses implementasi arsitektur

memastikan kesesuaian dengan arsitektur yang telah didefinisikan


dengan proses implementasi

memastikan kesuksesan implementasi arsitektur

Memastikan arsitektur yang telah diimplementasi berjalan dengan baik.

i. Arsitektur manajemen perubahan


Tujuan dari tahap ini adalah sebagai berikut:
-

Memastikan kelangsungan dari arsitektur yan telah diimplementasi


sesuai dengan kebutuhan dan kondisi saaat ini.

Menilai kinerja dan membuat rekomendasi untuk perubahan arsitektur

Menilai perubahan pada kerangka kerja dan prinsip-prinsip yang


ditetapkan dalam tahap sebelumnya
Memaksimalkan manfaat dari arsitektur yang diimplementasi saat ini.

2.1.5.2

Perencanaan infrastruktur TI berdasarkan arsitektur enterprise

Perencanaan infrastruktur TI berdasarkan arsitektur enterprise mengacu kepada


analisis kesenjangan dari pengembangan arsitektur teknologi dari arsitektur
enterprise dengan arsitektur teknologi yang ada saat. Analisis kesenjangan ini
diperoleh dari tahap identifikasi peluang dan solusi. Menurut TOGAF, tidak
semua kategori komponen infrastruktur diperlukan oleh organisasi. Pemilihan
komponen infrastruktur dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip arsitektur yang
ditetapkan di organisasi. Adapun taksonomi umum komponen infrastruktur
menurut TOGAF adalah sebagai berikut:
a. Aplikasi infrastruktur
b. Aplikasi bisnis
c. Aplikasi antarmuka
d. Pengolah gambar
e. Pengolah data
f. Pertukaran data
g. Antarmuka pengguna

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

21

h. Lokasi
i. Pemroses transaksi
j. Pengolah sistem dan jaringan
k. Keamanan
l. Rekayasa perangkat lunak
m. Sistem operasi
n. Layanan jaringan
o. Interface komunikasi.
Taksonomi umum komponen infrastruktur ini dapat dilihat pada Gambar 2-5
sebagai berikut:

Gambar 2-5 Taksonomi umum komponen infrastruktur (figure 43-2, TOGAF 9 : The Open Group
Architecture Framework, 2009, p. 578)

2.1.6

Analisis Rantai Nilai (Value Chain)

Setiap perusahaan memiliki rangkaian aktivitas yang digunakan untuk


merencanakan, memproduksi, memasarkan, memasok dan memberikan layanan
terhadap barang yang diproduksi. Rangkaian aktivitas ini dapat digambarkan
dalam bentuk rantai nilai seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2-6. Rantai nilai
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

22

dari suatu perusahaan mencerminkan sejarah, strategi, pendekatan untuk


mengimplementasikan strategi dan nilai bisnis dari aktivitas tersebut.

Pada industri secara umum, rantai nilai disusun oleh unit bisnis karena unit bisnis
yang paling mengerti konteks yang ada dalam rangkaian aktivitas tersebut. Rantai
nilai yang disusun dari suatu perusahaan seringkali berbeda dengan perusahaan
lain meskipun aktivitas yang digunakan sama. Perbedaan rantai nilai merupakan
kunci keunggulaan kompetitif dari perusahaan. Perbedaan rantai nilai ini
umumnya disebabkan oleh perbedaan produk, perbedaan pembeli, perbedaan
lokasi, dan penyebaran produk (Porter, 1985).

Gambar 2-6 Analisis rantai nilai (Porter, 1985)

Dalam pengertian kompetitif, nilai adalah jumlah yang harus dibayar oleh pembeli
untuk untuk membeli produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Nilai diukur
berdasarkan pendapatan total mencerminkan harga produk dan hasil penjualan
produk. Perusahaan dapat memperoleh keuntungan apabila harga produk melebih
biaya produksi. Menciptakan nilai untuk pembeli yang melebihi biaya produksi
merupakan tujuan dari strategi perusahaan secara umum. Nilai harus digunakan
untuk melakukan analisis kompetitif. Penggunaan nilai untuk melakukan analisis
kompetitif dilakukan karena perusahaan seringkali menaikkan ongkos produksi
untuk membuat produk premium untuk meningkatkan keragaman produk.

Rantai nilai menampilkan nilai keseluruhan yang terdiri dari aktivitas nilai dan
margin. Aktivitas nilai merupakan aktivitas untuk membuat produk yang memiliki
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

23

nilai bagi pembeli. Margin adalah perbedaan nilai keseluruhan dan biaya kolektif
untuk menjalankan aktivitas nilai. Aktivitas nilai bisnis dalam rantai nilai dibagi
menjadi dua kategori utama, yaitu:
a. Aktivitas utama (primary activities)
Terdapat lima kategori dari aktivitas utama yang umum digunakan di
industri. Tiap kategori dibagi menjadi beberapa aktivitas yang berbeda dan
tergantung dari jenis perusahaan dan strategi perusahaan, yaitu:
i.

Logistik masukan (inbound logistics): aktivitas yang berhubungan


dengan penerimaan, penyimpanan dan menyebarkan masukan ke
produk.

ii.

Operasi (operations) : aktivitas yang mentransformasikan masukan


menjadi bentuk produk akhir.

iii.

Logistik keluaran (outbound logistics): aktivitas yang berhubungan


dengan pengumpulan, penyimpanan dan penyebaran produk ke
pembeli.

iv.

Pemasaran dan penjualan (marketing and sales): aktivitas yang


berhubungan dengan penyediaan berbagai macam cara agar
pembeli tertarik untuk membeli produk.

v.

Layanan (service): aktivitas yang berhubungan dengan penyediaan


layanan untuk meningkatkan atau memelihara nilai dari suatu
produk.

b. Aktivitas pendukung (support activities)


Aktivitas pendukung yang berkaitan dengan persaingan di industri, dibagi
menjadi empat kategori umum. Aktivitas pendukung yang terlibat
tergantung dengan jenis dan strategi perusahaan, yaitu:
i.

Pengadaan (procurement):

aktivitas yang berhubungan dengan

fungsi pengadaan masukan yang digunakan dalam rantai nilai


perusahaan.
ii.

Pengembangan teknologi (technology development): aktivitas yang


secara umum digunakan untuk meningkatkan produk dan proses.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

24

iii.

Sumber daya manusia (human resource management): aktivitas


yang berhubungan dengan perekrutan, penerimaan, pelatihan,
pengembangan dan pemberian kompensasi untuk pegawai.

iv.

Infrastruktur perusahaan (firm infrastructure): aktivitas yang


berhubungan dengan manajemen umum, perencanaan, keuangan,
akuntansi, hukum dan manajemen kualitas.

2.2

Penelitian Sebelumnya

Beberapa penelitian sebelumnya yang terkait dengan perencanaan infrastuktur TI


yang adaptif adalah sebagai berikut:
a. How Information Technology Infrastructure Flexibility Shapes Strategic
Allignment oleh Paul P. Tallon (Tallon, 2009).
Dalam penelitiannya disampaikan bahwa bisnis perbankan adalah bisnis yang
perubahannya sangat cepat. Perubahan bisnis yang sangat cepat ini
memerlukan suatu sistem yang saling terintegrasi untuk menghadapi kompetisi
di dunia perbankan. Selain itu, pengembangan infrastruktur TI yang fleksibel
diperlukan untuk meningkatkan keselarasan TI dengan strategi bisnis.
Menurut Tallon, infrastruktur TI yang fleksibel secara umum dipengaruhi oleh
environmental scanning dan perencanaan sistem informasi. Environmental
scanning yang dimaksud adalah analisis yang dilakukan untuk menghadapi
perubahan pasar yang dapat mendorong perubahan dalam rencana perusahaan
dan strategi bisnis. Perencanaan sistem informasi yang disampaikan oleh
Tallon lebih mengarah kepada identifikasi kebutuhan sistem informasi untuk
mendukung proses bisnis. Kesimpulan yang disampaikan dalam penelitian ini
memiliki kesamaan dengan metode pengembangan arsitektur TI menurut
TOGAF, yaitu pengembangan arsitektur teknologi mengacu kepada arsitektur
arsitektur sistem informasi. Perubahan rencana perusahaan dan strategi bisnis
yang didorong dari environmental scanning memiliki kesamaan dengan
identifikasi kondisi organisasi dan bisnis pada visi arsitekur, dan arsitektur
bisnis pada pengembangan arsitektur TI menurut TOGAF (The Open Group,
2009).

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

25

b. Meeting

business

objectives

through

adaptive

information

and

communications technology oleh Giuliano Di Vintantonio, Jonathan LeghSmith, William Millar, dan Marc Wilkinson (Vintantonio, Smith, Millar, &
Wilkinson, 2006).
Vintantonio,

Smith,

Millar,

dan

Wilkonson

mengemukakan

bahwa

infrastruktur yang adaptif adalah dasar dalam pencapaian organisasi yang


adaptif. Namun demikian, hanya dengan organisasi yang adaptif belum cukup
untuk menyelaraskan bisnis dan TI. Tujuan utama dari organisasi atau
perusahaan yang adaptif adalah mengoptimalkan penggunaan sumber daya TI
untuk mencapai kunci keberhasilan antara proses bisnis dan operasional bisnis.
Analisis yang dilakukan dalam penelitian adalah pencapaian kebutuhan bisnis
dilakukan dengan cara integrasi dan kontrol terhadap komponen infrastruktur
TI. Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah infrastruktur TI yang
adaptif dapat dicapai melalui virtualisasi infrastruktur TI untuk meningkatkan
fleksibilitas

organisasi.

Fleksibilitas

organisasi

diperlukan

untuk

meningkatkan daya saing organisasi dalam menghadapi perubahan pasar.


c. Inside the adaptive enterprise: an information technology capabilities
perspective on business process agility oleh Paul P. Tallon (Tallon, 2007).
Dalam penelitiannya, Tallon melakukan analisis hubungan kemampuan
manajerial TI dan teknikal TI terhadap fleksibilitas infrastruktur TI serta
keterkaitan antara kemampuan TI dengan fleksibilitas proses bisnis. Hasil
penelitian tersebut menunjukkan bahwa fleksibilitas infrastruktur TI sangat
kuat dipengaruhi oleh tata kelola TI dan kemampuan manajerial TI. Hal ini
sama dengan konsep adaptive enterprise yang disampaikan oleh Robertson
dan Sribar yaitu filosofi infrastruktur TI yang adaptif melibatkan
keseimbangan pada tiga area yaitu: teknologi, SDM, dan proses (Robertson &
Sribar, 2001).
d. Implementasi virtualisasi sebagai upaya penyederhanaan dan efisiensi
infrastruktur TI: studi kasus PT Telkom Divisi Infratel (Bihandoko, 2010).
Bihandoko mengatakan bahwa penyederhanaan dan efisiensi infrastruktur TI
dapat dilakukan dengan cara mengoptimalkan fungsi server sedemikian rupa
sehingga kinerja server menjadi maksimal. Optimalisasi ini berdampak secara
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

26

langsung pada efisiensi sumber daya yang ada. Hal ini sama dengan yang
dikatakan oleh Vintantonio bahwa infrastruktur TI yang adaptif dapat dicapai
melalui virtualisasi infrastruktur TI (Vintantonio, Smith, Millar, & Wilkinson,
2006).

Penelitian sebelumnya yang terkait dengan teknologi virtualisasi adalah sebagai


berikut:
a. Evaluation of Virtual machine Performance and Virtualized Consolidation
Ratio in Cloud Computing System (Chang, Tsai, & Chen, 2013)
Di dalam penelitiannya, Chang, Tsai, dan Chen mengatakan bahwa teknologi
virtualisasi yang terbaik untuk mendapatkan ROI (Return on Investment) yang
tertinggi dan TCO (Total Cost of Ownership) yang terendah adalah teknologi
virtualisasi VMware.

Teknologi virtualisasi yang dibandingkan adalah

VMware, Hyper-V, Proxmox, KVM, dan Xen. Chang juga mengatakan bahwa
pilihan alternatif yang terbaik untuk menghemat investasi di awal dengan
tingkat kemampuan virtualisasi yang tinggi adalah Proxmox.
b. Perbandingan Kinerja Pendekatan Virtualisasi (Rasian & Mursanto, 2009)
Rasian dan Mursanto mengatakan bahwa virtualisasi dengan pendekatan
operating system-level lebih baik dibandingkan dengan 3 pendekatan
virtualisasi yang lain, yaitu paravirtualization, full virtualization dan
hardware assisted virtualization (Rasian & Mursanto, 2009). Hal ini tidak
sesuai dengan pendapat Chang (Chang, Tsai, & Chen, 2013) dan VMware
(VMware, 2007) yang mengatakan bahwa pendekatan full virtualization
maupun hardware assisted virtualization lebih baik dibandingkan dengan
operating system-level virtualization. Ketiganya memiliki pendapat yang sama
bahwa full virtualization tidak lebih baik dari hardware assisted virtualization.
Pemilihan teknologi yang terbaik berdasarkan operating system-level
virtualization yang disampaikan oleh Rasian dan Mursanto adalah Linux
Vserver.
Perbandingan evaluasi teknologi virtualisasi dari penelitian yang disampaikan di
atas dapat dilihat pada Tabel 2-1 sebagai berikut:

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

27

Tabel 2-1 Evaluasi teknologi virtualisasi

Pilihan
pendekatan
virtualisasi

Chang, Tsai &


Chen (2013)
- Full virtualization
- Hardware assisted
virtualization

Rasian &
Mursanto (2009)
Operating system
level

Pilihan
teknologi

1. VMware
2. Proxmox

Linux VServer

VMware

Arsitektur
prosesor

X86

X86

X86

Evaluasi

2.3

VMware (2007)
- Full virtualization
- Hardware assisted
virtualization

Kerangka Teori Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah membuat perencanaan arsitektur teknologi


sebagai cetak biru infrastruktur TI. Cetak biru tersebut dapat digunakan sebagai
landasan bagi pengembangan infrastruktur TI yang lebih baik dan adaptif dalam
mendukung proses bisnis perbankan. Dokumen akhir dari penelitian ini adalah
arsitektur teknologi.

Kerangka teori penelitian adalah kumpulan dari konsep, teori yang ada saat ini,
dan penelitian sebelumnya yang terkait dengan penulisan karya akhir. Kerangka
ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana cara untuk mencapai kondisi
yang diharapkan berdasarkan identifkasi masalah yang ada saat ini. Masalah yang
ada saat ini adalah infrastruktur TI tidak adaptif untuk mengakomodir perubahan
strategi bisnis melalui perubahan atau penambahan paket aplikasi.

Penelitian ini merupakan kegiatan perencanaan infrastruktur TI dengan


menerapkan metode dan langkah-langkah perencanaan arsitektur TI untuk
menghasilkan perencanaan arsitektur teknologi. Model lain yang digunakan untuk
menghasilkan infrastruktur TI yang adaptif di perbankan adalah adaptive
enterprise dan virtualisasi. Hubungan antara variabel yang berkaitan dengan
penulisan karya akhir ini digambarkan dalam kerangka teori penelitian seperti
ditunjukkan pada Gambar 2-7 sebagai berikut:

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

28

Gambar 2-7 Kerangka teori penelitian

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Metode Penelitian

Metodologi penelitian merupakan langkah-langkah yang digunakan untuk


melakukan penelitian karya ilmiah. Karya akhir yang diajukan merupakan jenis
penelitian studi kasus menggunakan teori-teori dan best practice untuk melakukan
perencanaan infrastruktur TI. Metode yang digunakan pada penelitian adalah
metode kualitatif.

Pembuatan perencanaan dalam penelitian ini dimulai dengan merumuskan


masalah, melakukan tinjauan pustaka, mengumpulkan data, menganalisis data,
dan melakukan pembahasan dengan merancang arsitektur teknologi menggunakan
metode TOGAF ADM, yang kemudian dihasilkan rencana implementasi dari
infrastruktur TI serta kesimpulan dan saran terhadap hasil penelitian. Langkahlangkah yang dilakukan dalam penelitian ditunjukkan pada Gambar 3-1.
3.1.1

Merumuskan masalah

Tahap awal metode penelitian ini adalah merumuskan masalah terkait TI di


tempat studi kasus dilakukan saat ini. Perumusan masalah ini diperlukan untuk
mengetahui kompleksitas permasalahan dengan diagram fishbone untuk
mendapatkan akar masalah. Dari akar permasalahan yang akan diangkat dari
penelitian ini, penulis menentukan pertanyaan penelitian. Selain itu, perumusan
masalah memperhatikan ruang lingkup yang terbatas pada perusahaan yang akan
digunakan sebagai studi kasus.

29

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

30

Gambar 3-1 Metodologi Penelitian

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

31

3.1.2

Melakukan tinjauan pustaka

Setelah mendapatkan rumusan masalah, maka selanjutnya dilakukan tinjauan


pustaka untuk menentukan perencanaan yang sesuai dengan permasalahan yang
ada. Teori, metodologi, dan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya,
digunakan sebagai bahan dalam tinjauan pustaka. Setelah dilakukan tinjauan
pustaka, langkah yang dilakukan berikutnya adalah mengembangkan kerangka
teori. Adapun teori-teori yang dipelajari dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
a. Infrastruktur TI
b. Adaptive enterprise
c. Virtualisasi komputer
d. Perencanaan strategis sistem informasi
e. TOGAF
f. Analisis rantai nilai
g. Penelitian sebelumnya
3.1.3

Mengumpulkan data

Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan beberapa


metode yaitu :
1. Observasi
Metode ini pengumpulan ini dilakukan dengan melakukan pengamatan
langsung dilapangan. Metode ini diterapkan dengan cara menjadi bagian dari
proses bisnis di organisasi yang menjadi studi kasus dalam penelitian.
2. Wawancara
Metode ini dilakukan untuk lebih memperdalam kebutuhan data serta
informasi. Wawancara dilakukan terutama kepada individu yang berhubungan
langsung dengan topik permasalahan yang akan dibahas, dalam hal ini
perencanaan infrastruktur TI di Bank XYZ.
3. Dokumen yang tersedia
Penulis juga mengambil data dari dokumen-dokumen yang sudah tersedia
yaitu dokumen rencana perusahaan.
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

32

4. Focus Group Discussion (FGD).


Metode ini menjadi pilihan utama dalam penelitian ini karena apabila
dilakukan dengan tepat, maka keluaran yang dihasilkan dari metode ini akan
sangat dapat merepresentasikan variabel penting dalam penelitian kualitatif,
yaitu data, informasi, masalah, maupun tujuan yang diharapkan dari hasil
penelitian.
3.1.4

Melakukan analisis

Pada proses ini dilakukan analisis terhadap data yang dikumpulkan, yaitu hasil
pengamatan, wawancara, diskusi dan dokumen rencana perusahaan, dianalisis
berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dilakukan. Setelah data dianalisis, maka
data tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk membuat perencanaan
infrastruktur TI yang adaptif.
3.1.5

Melakukan pembahasan

Setelah proses analisis diatas, selanjutnya adalah perancangan infrastruktur TI


yang adaptif. Pembahasan ini dilakukan dengan mengacu pada metode TOGAF
ADM, yaitu pembahasan tahapan awal, visi arsitektur, arsitektur bisnis, arsitektur
sistem informasi, arsitektur teknologi dan identifikasi peluang dan solusi.
3.1.6

Menyusun kesimpulan dan saran

Kesimpulan dan saran diperoleh dari kondisi-kondisi yang ada pada saat
penelitian dilakukan, keterbatasan penelitian maupun pengembangan terhadap
penelitian yang telah dilakukan. Dalam kesimpulan penelitian, diharapkan muncul
kesesuaian perencanaan yang dihasilkan berdasarkan rumusan masalah yang ada.
Apabila muncul ketidaksesuaian yang disebabkan oleh keterbatasan penelitian,
maka keterbatasan tersebut dituangkan dalam saran penelitian.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

BAB 4
PROFIL ORGANISASI

4.1

Sekilas Perusahaan

Bank XYZ yang sejak berdirinya tanggal 10 Juli 1970 menfokuskan diri pada
segmen UMKMK, saat ini telah tumbuh dan berkembang menjadi bank yang
masuk ke kelompok bank menengah di Indonesia dari sisi aset. Seiring dengan
terbukanya kesempatan dan peningkatan kemampuan melayani kebutuhan
masyarakat yang lebih luas, Bank XYZ telah mengembangkan usahanya ke
segmen komersil dan konsumer.

Ketiga segmen ini merupakan pilar bisnis Bank XYZ, dengan pelayanan secara
konvensional maupun syariah, yang didukung oleh sistem pengelolaan dana yang
optimal, kehandalan teknologi informasi, kompetensi sumber daya manusia dan
praktik tata kelola perusahaan yang baik. Landasan ini memungkinkan Bank XYZ
melangkah maju dan menempatkannya sebagai suatu bank yang kredibel.
Operasional Bank XYZ kini didukung oleh lebih dari 280 kantor yang tersebar di
22 provinsi di seluruh Indonesia yang terhubung secara real time on-line. Bank
XYZ juga telah membangun jaringan micro-banking yang diberi nama
Swamitra, yang kini berjumlah 543 outlet, sebagai wujud program kemitraan
dengan koperasi dan lembaga keuangan mikro.

Dengan struktur permodalan yang semakin kokoh sebagai hasil pelaksanaan


Initial Public Offering (IPO) pada bulan Juli 2006, Bank XYZ terus
mengembangkan program operasionalnya dengan menerapkan skala prioritas
sesuai strategi jangka pendek yang telah disusun dengan matang. Penerapan
strategi tersebut ditujukan untuk menjamin dipenuhinya layanan perbankan yang
komprehensif kepada nasabah melalui jaringan yang terhubung secara nasional
maupun internasional, produk yang beragam serta mutu pelayanan dengan standar
yang tinggi.

33

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

34

Keseluruhan kegiatan dan program yang dilaksanakan pada akhirnya berujung


pada sasaran terciptanya citra Bank XYZ sebagai lembaga perbankan yang
terpercaya dengan struktur keuangan yang kokoh, sehat dan efisien. Keberhasilan
membangun kepercayaan tersebut akan mampu membuat Bank XYZ tetap
tumbuh memberi hasil terbaik secara berkelanjutan.
4.2

Visi dan Misi

Visi :
Menjadi bank yang terpercaya dalam pelayanan jasa keuangan.
Misi :
Memberikan pelayanan yang terbaik kepada nasabah, turut berperan dalam
pengembangan usaha menengah, kecil, mikro dan koperasi, serta meningkatkan
nilai tambah investasi pemegang saham dan kesejahteraan karyawan.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

BAB 5
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.1

Tahapan Awal

5.1.1

Prinsip Arsitektur

Prinsip arsitektur disusun berdasarkan kebutuhan organisasi, regulasi perbankan,


best practice dunia perbankan, model adaptif yang mengacu kepada adaptive
enterprise dan virtualisasi. Kebutuhan organisasi diperoleh dari hasil observasi,
wawancara, dan diskusi. Prinsip arsitektur yang disusun adalah sebagai berikut:
a. Pertukaran data dengan organisasi lain harus menggunakan format web service
atau ISO8583 (service orientation). Adapun alasan penggunaan format ini
adalah sebagai berikut:
i. Penggunaan format web service
Mengakomodasi perubahan field data dan tidak dibatasi oleh jenis
infrastruktur yang digunakan oleh organisasi lain. Format web service saat
ini juga digunakan untuk pertukaran data dengan mitra Bank XYZ.
ii. Penggunaan format ISO8583
Format standar yang digunakan untuk transaksi perbankan.
b. Setiap user aplikasi memiliki userid dan password unik
Penggunaan userid dan password unik ini mengikuti kaidah sebagai berikut:
i. Pengelolaan profil user harus terpusat untuk menerapkan pengendalian hak
akses sesuai dengan PBI (Bank Indonesia, 2007). Selain terpusat,
pengelolaan user dipisahkan berdasarkan fungsi transaksional dan non
transaksional.
ii. Audit akuntabilitas
c. Akses melalui internet harus menerapkan otentikasi dan enkripsi data (SSL/
Secure Socket Layer).
Untuk meningkatkan keamanan pada website yang di-publish di internet,
diperlukan enkripsi data (Robertson & Sribar, 2001).

35

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

36

d. Akses ke server internal harus melalui IPS/IDS (Intrusion Prevention System/


Intrusion Detection System)
Berdasarkan hasil diskusi, penggunaan IPS atau IDS belum diwajibkan oleh
Bank Indonesia. Penggunaan IPS atau IDS saat ini diperlukan untuk
pemenuhan compliance PCIDSS (Payment Card Industry Data Security
Standard) bagi organisasi yang bekerja sama dengan VISA atau Master Card.
e. Penyimpanan data menggunakan eksternal atau cloud storage dan virtualisasi
server untuk meningkatkan ketersediaan dan mempermudah peningkatan
kapasitas data (VMware, 2009).
f. Penggunaan infrastruktur berbasis open source untuk meminimalkan investasi
bisnis berbasis TI
Prinsip ini digunakan untuk menyediakan komponen infrastruktur dengan
harga dalam batas wajar untuk mencapai efisiensi sesuai ciri-ciri infrastruktur
TI yang adaptif yang dikemukakan oleh Robertson dan Sribar. Penggunan
open source untuk meningkatkan efisiensi infrastruktur juga dikemukakan
oleh Applegate (Applegate, Austin, & Soule, 2009). Berdasarkan observasi
yang dilakukan oleh penulis, terjadi kegagalan pengajuan proyek infrastruktur
karena faktor biaya walaupun proyek tersebut menunjang bisnis secara
langsung.
g. Penggunaan aplikasi berbasis web yang diakses oleh karyawan marketing
Berdasarkan hasil wawancara, penggunaan aplikasi berbasis web ini ditujukan
untuk mempermudah akses sistem informasi yang di Bank XYZ pada saat
bertemu dengan nasabah di luar kantor. Hasil wawancara terkait kebutuhan
aplikasi berbasis web ini dapat dilihat pada Lampiran 1 : Hasil Wawancara.
h. Duplikasi komponen kritis
Acuan prinsip ini digunakan sebagai persyaratan dari regulasi perbankan
(Bank Indonesia, 2007). Berdasarkan hasil diskusi, diperoleh kesimpulan
bahwa hampir seluruh aplikasi yang ada saat ini diminta untuk diduplikasi dan
di backup untuk meningkatkan ketersediaan.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

37

i. Penyeragaman teknologi
Penyeragaman teknologi merupakan prinsip adaptif yang digunakan untuk
menyeimbangkan area people dengan memastikan kemampuan karyawan
dalam mengelola teknologi (Robertson & Sribar, 2001).
j. Penerapan open standard
Penerapan open standard menjadi salah satu prinsip untuk meningkatkan
fleksibilitas infrastruktur (Robertson & Sribar, 2001) dan meningkatkan
kemampuan sistem informasi perbankan (Ebadi, 2007).
k. Modularisasi komponen-komponen sistem
Prinsip modularisasi komponen ini berdasarkan kriteria partitioning pada
infrastruktur TI yang adaptif (Robertson & Sribar, 2001).
l. Maksimasi penggunaan ulang atau penggunaan bersama
Prinsip penggunaan bersama ini berdasarkan kriteria Integration/ reuse pada
infrastruktur TI yang adaptif (Robertson & Sribar, 2001).
5.1.2

Arsitektur Awal

Aplikasi yang ada di Bank XYZ terdiri dari komponen-komponen aplikasi yang
tersentralisasi pada sistem Core Banking yang ada di infrastruktur server A/S400.
Diagram aplikasi yang ada saat ini di Bank XYZ dapat dilihat pada Gambar 5-1.
Aplikasi yang berkaitan langsung dengan sistem Core Banking ini adalah modul
simpanan, modul kredit, maupun modul transaksi yang berkaitan dengan
simpanan dan kredit tersebut. Selain itu, modul utama yang ada di dalam sistem
Core Banking adalah modul data nasabah.

Aplikasi Core Banking yang ada di Bank XYZ adalah aplikasi yang dibangun
secara inhouse. Berdasarkan kondisi yang ada saat ini, aplikasi Core Banking
Bank XYZ menggunakan dua platform, yaitu berbasis remote terminal yang
menggunakan SNA (Sytem Network Architecture) Server dan aplikasi berbasis
desktop. Penggunaan dua platform yang berbeda ini disebabkan adanya kebutuhan
yang tidak dapat diakomodir dan keterbasan platform remote terminal. Contoh
kebutuhan yang tidak dapat diakomodir oleh platform remote terminal adalah
kemampuan dalam menyajikan antarmuka yang lebih user friendly terhadap
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

38

pengguna. Keterbatasan yang menjadi kendala dalam platform yang menimbulkan


dualisme platform Core Banking adalah kemampuan integrasi dengan aplikasi lain
yang dengan platform yang berbeda.

Untuk mengatasi keterbatasan platform tersebut, Bank XYZ mengembangkan


aplikasi berbasis desktop dengan sistem operasi Windows Server. Aplikasi
berbasis desktop ini menggunakan middleware Jaguar sebagai perantara dengan
sistem Core Banking. Contoh penggunaan aplikasi berbasis desktop yang terkait
dengan Core Banking adalah aplikasi CIF (Customer Information File). Aplikasi
CIF menggunakan basis data yang ada di 2 sistem yang berbeda, yaitu Core
Banking dan credit card system. Integrasi 2 sistem ini terjadi karena Bank XYZ
menggunakan alih daya untuk mendukung bisnis konsumer melalui pembelian
paket aplikasi kartu kredit.

Aplikasi kartu kredit yang telah dibeli juga memiliki keterbatasan yang sama
dengan sistem Core Banking, yaitu menggunakan platform remote terminal untuk
mengakses aplikasi tersebut. Keterbatasan aplikasi kartu kredit yang telah dibeli
menyebabkan product owner, yaitu Divisi Kartu Kredit berinisiatif membeli paket
aplikasi LOS untuk meningkatkan volume bisnisnya. Aplikasi LOS digunakan
untuk pengajuan kartu kredit baru dengan platform aplikasi berbasis web dan
sistem operasi Windows Server.

Pengembangan aplikasi secara inhouse tidak hanya dilakukan pada aplikasi Core
Banking, namun juga aplikasi-aplikasi yang lain seperti aplikasi Bulog, aplikasi
MPN (Modul Penerimaan Negara), aplikasi Pertamina, aplikasi universitas,
aplikasi Taspen, aplikasi BIS (Business Information System), dan aplikasi neraca
direktorat. Secara umum aplikasi-aplikasi tersebut dibangun di atas sistem operasi
Windows Server dan platform aplikasi berbasis desktop dan berbasis web.
Pengembangan secara inhouse juga dilakukan pada aplikasi yang berfungsi
sebagai antarmuka aplikasi pihak ketiga atau paket aplikasi. Salah satu aplikasi
yang terkait dengan pihak ketiga adalah aplikasi yang terkait dengan regulator
perbankan.
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

39

Aplikasi pihak ketiga yang terkait dengan regulator perbankan di Indonesia, yaitu
RTGS (Real Time Gross Settlement), SKN (Sistem Kliring Nasional), SID (Sistem
Informasi Debitur), dan LBU/ LBU (Laporan Bank Umum/ Laporan Harian Bank
Umum). Aplikasi Swift tidak berkaitan dengan regulator perbankan, namun
menjadi salah satu paket aplikasi yang wajib dimiliki untuk melakukan transaksi
antar negara. Aplikasi lain yang diwajibkan namun tidak disediakan oleh regulator
adalah aplikasi SAPU (Sistem Anti Pencucian Uang), CWA (Compliance
Worksheet Assessment), CSA (Compliance Self Assessment), dan ICRR (Internal
Credit Risk Rating). Aplikasi mitra system merupakan replika dari sistem Core
Banking dengan ruang lingkup yang lebih kecil. Aplikasi ini digunakan oleh mitra
Bank XYZ yang melakukan usaha dalam bidang koperasi simpan pinjam.
Pemberian fasilitas ini diberikan kepada mitra Bank XYZ sebagai bentuk
kerjasama pemberian kredit tidak langsung.

Aplikasi lain yang memiliki peranan penting dalam mendukung bisnis Bank XYZ
adalah aplikasi switching (Xlink). Aplikasi ini memberikan peranan melalui
interaksi dengan organisasi lain yang terkait dengan pembayaran dan pembelian
secara host to host (H2H). Selain digunakan untuk pembayaran dan pembelian,
aplikasi switching ini digunakan sebagai sistem utama dari aplikasi ATM
(Automated Teller Machine). Aplikasi switching ini diimplementasikan pada
tahun 2012. Beberapa aplikasi switching lama yang dibangun secara inhouse
masih digunakan untuk berinteraksi dengan organisasi lain dan belum
dipindahkan ke aplikasi switching yang baru. Aplikasi ini menggunakan sistem
operasi Linux.

Aplikasi website perusahaan dan internet banking adalah paket aplikasi lain yang
dibeli oleh Bank XYZ. Paket aplikasi internet banking menggunakan sistem
operasi Sun Solaris, dan website perusahaan menggunakan sistem operasi
Windows Server. Daftar aplikasi yang ada saat ini di Bank XYZ dapat dilihat pada
Tabel 5-1.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

40

Gambar 5-1 Arsitektur aplikasi saat ini


Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

41

Tabel 5-1 Aplikasi yang ada saat ini

No Aplikasi

Keterangan

1 CIF (Customer
Information File)

Aplikasi yang digunakan


untuk menyimpan data
nasabah simpanan maupun
kredit

2 Saving

Aplikasi yang digunakan


untuk menghimpun dana
masyarakat berupa
tabungan, giro, dan
deposito
Aplikasi yang digunakan
untuk menyalurkan kredit
kepada masyarakat, yaitu
kredit konsumer, kredit
UKM dan kredit komersil
Aplikasi yang digunakan
untuk melakukan seluruh
transaksi antar modul
simpanan, kredit dan
internal perusahaan
Aplikasi yang digunakan
untuk mencatat seluruh
transaksi keuangan

3 Loan

4 FE (Financial
Entry)

5 GL (General
Ledger)

Platform Aplikasi

Sistem Operasi
Server
remote terminal,
OS/400,
aplikasi berbasis desktop Windows Server

Product Owner

remote terminal

Divisi
Pengembangan
Dana dan Jasa

O/S 400

Divisi Pengembangan
Dana dan Jasa,
Divisi Pengembangan
Produk Kredit

remote terminal,
O/S 400
aplikasi berbasis desktop

Divisi Pengembangan
Produk Kredit

remote terminal

O/S 400

Divisi Perbankan
Transaksional

remote terminal

O/S 400

Divisi Perencanaan
Keuangan dan Akuntansi

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

42

No Aplikasi

Keterangan

Platform Aplikasi

6 Aplikasi Kartu
Kredit (CC)

Aplikasi yang digunakan


untuk mengelola bisnis dan
operasional kartu kredit

remote terminal

7 Aplikasi Mitra

Aplikasi mini Core


remote terminal
Banking yang digunakan
oleh mitra UKM Bank
XYZ
Aplikasi yang digunakan
aplikasi berbasis web
untuk mengelola pengajuan
kartu kredit

8 Aplikasi LOS (Loan


Origination System)
9 Aplikasi Bulog

10 Aplikasi Pertamina

11 Aplikasi MPN
(Modul Penerimaan
Negara)
12 Aplikasi BIS
(Business
Information System)

Sistem Operasi
Server
O/S 400

Product Owner

OS/400

Divisi Pengembangan dan


Pengendali Produk Mikro

Windows Server

Divisi Kartu Kredit

Divisi Kartu Kredit

Aplikasi yang digunakan


untuk transaksi L/C (Letter
of Credit) oleh mitra Bulog

aplikasi berbasis desktop Windows Server

Divisi Pengembangan
Produk Kredit

Aplikasi yang digunakan


untuk pembelian produk
Pertamina
Aplikasi yang digunakan
untuk pembayaran pajak

aplikasi berbasis desktop Windows Server

Divisi Perbankan
Transaksional

aplikasi berbasis desktop Windows Server

Divisi Perbankan
Transaksional

Aplikasi yang digunakan


aplikasi berbasis desktop Windows Server
untuk mengevaluasi kinerja
marketing

Divisi Perencanaan
Keuangan dan Akuntansi

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

43

No Aplikasi

Keterangan

13 Aplikasi SIKT
(Sistem Informasi
Kredit Terpadu)

Aplikasi yang digunakan


untuk mengelola pengajuan
kredit UKM dan komersil

14 Aplikasi CTS
(Complaint
Tracking System
15 Aplikasi HRIS
(Human Resource
Information System)

Aplikasi yang digunakan


aplikasi berbasis web
untuk mengelola komplain/
keluhan nasabah
Aplikasi yang digunakan
aplikasi berbasis web
untuk mengelola data SDM

Windows Server

Divisi Manajemen
Penjualan

Linux Red Hat

Divisi PSDM

16 Aplikasi TPC
(Trade Payment
Center)

Aplikasi yang digunakan


untuk mengelola data
perbankan internasional

aplikasi berbasis web

Windows Server

Divisi Perbankan
Internasional

17 Aplikasi OPICS

Aplikasi yang digunakan


aplikasi berbasis web
untuk mengelola data
treasury
Aplikasi yang digunakan
aplikasi berbasis web
untuk mengelola pengajuan
kredit konsumer
Aplikasi yang digunakan
aplikasi berbasis web
untuk mengelola bisnis dan
operasional kredit mikro

Windows Server

Divisi Treasury

Windows Server

Divisi Pengembangan
Produk Kredit

Windows Server

Divisi Pengembangan dan


Pengendali Produk Mikro

18 Aplikasi E-flow

19 Aplikasi SIKM
(Sistem Informasi
Kredit Mikro
20 Aplikasi Universitas

Aplikasi yang digunakan


untuk pembayaran SPP

Platform Aplikasi

Sistem Operasi
Server
aplikasi berbasis desktop Windows Server

aplikasi berbasis desktop Windows Server

Product Owner
Divisi Pengembangan
Produk Kredit

Divisi Pengembangan
Dana dan Jasa
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

44

No Aplikasi

Keterangan

Platform Aplikasi

Sistem Operasi
Server

Product Owner

mahasiswa
21 Aplikasi Taspen

22 Aplikasi Asabri

23 Aplikasi Neraca
Direktorat
24 Aplikasi Switching
(H2H)

25 Personal Internet
Banking
26 Corporate Internet
Banking
27 Mobile Banking

Aplikasi yang digunakan


untuk pembayaran asuransi
pensiun
aplikasi yang digunakan
untuk pembayaran
pensiunan asabri
Aplikasi yang digunakan
untuk laporan dan analisis
keuangan
Aplikasi yang digunakan
untuk berinteraksi dengan
organisasi lain yang terkait
dengan pembayaran dan
pembelian
Aplikasi yang digunakan
oleh nasabah individu
melalui media internet
Aplikasi yang digunakan
oleh nasabah perusahaan

aplikasi berbasis desktop Windows Server

Divisi Pengembangan dan


Pengendali Produk Mikro

aplikasi berbasis desktop Windows Server

Divisi Pengembangan dan


Pengendali Produk Mikro

aplikasi berbasis desktop Windows Server

Divisi Perencanaan
Keuangan dan Akuntansi

middleware, ATM

Linux SLES

Divisi Perbankan
Transaksional

aplikasi berbasis web

Sun Solaris

Divisi Perbankan
Transaksional

aplikasi berbasis web

Sun Solaris

Divisi Perbankan
Transaksional

Aplikasi yang digunakan


oleh nasabah melalui
media smartphone

aplikasi berbasis
smartphone

Sun Solaris

Divisi Perbankan
Transaksional

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

45

No Aplikasi

Keterangan

Platform Aplikasi

28 Aplikasi electronic
journal

Aplikasi yang diguankan


untuk mengelola
administrasi keuangan
ATM (Automated Teller
Machine)
Aplikasi mini ATM,
aplikasi untuk transaksi
kartu kredit

aplikasi berbasis web

Aplikasi yang digunakan


untuk transaksi transfer
antar bank dengan nominal
besar (> 100 juta)
Aplikasi yang digunakan
untuk transaksi transfer
antar bank dengan nominal
kecil (< 500 juta)
Aplikasi yang digunakan
untuk mengelola data
debitur
Aplikasi yang digunakan
untuk transaksi/ transfer
antar negara
Aplikasi yang digunakan
untuk laporan keuangan
kepada bank sentral

aplikasi berbasis desktop Windows Server

Divisi Perbankan
Transaksional

aplikasi berbasis desktop Windows Server

Divisi Perbankan
Transaksional

aplikasi berbasis web

Divisi Pengembangan
Produk Kredit

29 EDC (Electronic
Data Capture)
30 RTGS (Real Time
Gross Settlement)

31 SKN (Sistem
Kliring Nasional)

32 SID (Sistem
Informasi Debitur)
33 Swift

34 LBU/ LHBU
(Laporan Bank
Umum)

aplikasi EDC

Sistem Operasi
Server
Windows Server,
Linux

Product Owner

EDC

Divisi Perbankan
Transaksional, Divisi
Kartu Kredit

Windows Server

Divisi Operasi

aplikasi berbasis desktop Windows Server

Divisi Perbankan
Internasional

aplikasi berbasis web

Divisi Perencanaan
Keuangan dan Akuntansi

Windows Server

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

46

No Aplikasi

Keterangan

Platform Aplikasi

Product Owner

aplikasi mobile phone

Sistem Operasi
Server
Windows Server

35 SMS Banking

37 Aplikasi Regulasi

Aplikasi yang digunakan


untuk transaksi nasabah
individu melalui melalui
media sms
Aplikasi yang digunakan
untuk menyebarkan
informasi terkait
perusahaan
CWA, CSA, ICRR, SAPU

aplikasi berbasis web

Windows Server

Sekretaris Perusahaan

aplikasi berbasis web

Windows Server

Divisi Kepatuhan, Divisi


Manajemen Risiko

38 Aplikasi SIMA
(Sistem Informasi
Manajemen Aset)

Aplikasi yang digunakan


untuk mengelola aset
perusahaan

aplikasi berbasis web

Windows Server

Divisi Manajemen Aset

39 Antivirus

Aplikasi antivirus

Divisi TI

40 E-mail

Aplikasi yang digunakan


untuk korespondensi
internal dan eksternal
perusahaan
Aplikasi untuk mengelola
jaringan
Aplikasi untuk update
patch sistem operasi
windows

aplikasi berbasis
Linux, Windows
desktop, aplikasi
Server
berbasis web
aplikasi berbasis desktop FreeBSD

aplikasi berbasis web

Linux

Divisi TI

back end application

Windows Server

Divisi TI

36 Website Perusahaan

41 Network
Management
42 WSUS (Windows
Server Update
Service)

Divisi Perbankan
Transaksional

Divisi TI

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

47

No Aplikasi

Keterangan

Platform Aplikasi

Product Owner

back end application

Sistem Operasi
Server
Windows Server

43 DNS (Domain
Name Server)

Aplikasi Domain Name


Server

44 ITSM (IT Service


Management) Tools

Aplikasi untuk mendukung


proses ITSM

aplikasi berbasis web

Windows Server

Divisi TI

45 SIEM (System
Information and
Event Management)

Aplikasi audit trail

aplikasi berbasis web

Linux Debian

Divisi TI

Divisi TI

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

48
5.2

Visi Arsitektur

Visi arsitektur berdasarkan TOGAF dilakukan dengan mengidentifikasi bisnis inti


dan mengidentifikasi komponen yang digunakan sebagai acuan arsitektur. Bisnis
inti dan komponen pendukung yang digunakan sebagai acuan arsitektur dapat
digambarkan melalui analisis rantai nilai. Analisis rantai nilai disusun berdasarkan
hasil diskusi yang telah dilakukan dalam penelitian ini.

Berdasarkan hasil diskusi, diperoleh informasi bahwa Bank Indonesia


memberikan aturan terhadap setiap pelaku perbankan di Indonesia untuk memiliki
dan memenuhi 4 strategi yang harus bersinergi satu sama lain. Keempat strategi
tersebut adalah:
a. Strategi bisnis
b. Strategi Sumber Daya Manusia
c. Strategi Manajemen Risiko
d. Strategi Teknologi Informasi
Strategi bisnis yang terkait dengan Bank XYZ terdiri dari 3 fokus bisnis, yaitu
liabilities, asset dan fee based. Fokus bisnis yang terkait dengan liabilities adalah
mendapatkan dana murah, jumlah rekening dan jumlah transaksi dari segmen
bisnis retail dan komersil. Sasaran Asset adalah kelompok bisnis mikro, retail dan
komersil dengan menekan Net Interest Margin (NIM), peningkatan exposure
kredit, peningkatan jumlah rekening dan penyebaran risiko kredit. Fokus bisnis
yang terkait dengan fee based dicapai melalui transaksi, treasury, perbankan
internasional, dan kartu kredit.

Untuk mencapai 3 fokus bisnis di atas, diperlukan aktivitas-aktivitas yang


dijabarkan dalam diskusi. Terdapat 9 aktivitas untuk mencapai sasaran bisnis
Bank XYZ, yaitu:
a. Pengembangan produk
b. Penilaian produk (product pricing)
c. Distribution channel
d. Pembagian wilayah produk
e. Infrastruktur pendukung
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

49
f. Program penjualan
g. Marketing komunikasi
h. Mitigasi risiko
i. Sumber daya manusia
Pengembangan produk dan peningkatan keragaman distribution channel dicapai
melalui pengembangan dan dukungan teknologi informasi. Product pricing atau
penilaian produk adalah kegiatan yang dilakukan untuk menentukan nilai jual dari
suatu produk. Parameter yang digunakan untuk menilai suatu produk adalah
kondisi keuangan organisasi atau modal. Aktivitas pembagian wilayah produk
ditujukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dari kantor cabang. Produk
yang ada tidak semuanya dijual di kantor cabang Bank XYZ.

Untuk mendukung aktivitas bisnis utama, aktivitas pengembangan infrastruktur


kantor cabang dilakukan sesuai dengan model penjualan produk yang telah
ditetapkan. Program penjualan dan marketing komunikasi adalah salah satu cara
meningkatkan penjualan produk. Secara umum, model yang digunakan di Bank
XYZ untuk meningkatkan penjualan adalah cross selling berdasarkan informasi
nasabah. Kesuksesan dari program penjualan dan marketing komunikasi ini dapat
dicapai apabila hubungan dengan pelanggan dapat dijaga dengan baik. Mitigasi
risiko dan sumber daya manusia merupakan aktivitas pendukung yang harus
dilakukan untuk memenuhi aturan Bank Indonesia yang terkait dengan strategi
manajemen risiko dan strategi sumber daya manusia.

Dari penjelasan hasil diskusi di atas dapat disimpulkan bahwa peningkatan modal
menjadi masukan dalam rantai nilai bisnis. Modal yang telah dihimpun tersebut
dikemas menjadi produk kredit melalui pengembangan produk dan product
pricing. Produk yang dikembangkan dijual melalui distribution channel dan
wilayah tertentu. Untuk meningkatkan penjualan produk, diperlukan program
penjualan dan marketing komunikasi. Tahap layanan produk pada rantai nilai
bisnis dicapai dengan aktivitas menjaga hubungan pelanggan dan kemudahan
layanan transaksi. Analisis rantai nilai berdasarkan Porter untuk aktivitas bisnis di
Bank XYZ ditunjukkan pada Gambar 5-2 berikut ini.
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

50

Gambar 5-2 Analisis rantai nilai Bank XYZ

5.3

Arsitektur Bisnis

Tujuan dari arsitektur bisnis berdasarkan TOGAF adalah untuk menggambarkan


arsitektur dasar bisnis dan mengidentifikasi prinsip dan tujuan bisnis. Arsitektur
bisnis dapat digambarkan melalui pemodelan proses bisnis dan daftar stakeholder
dari tiap proses bisnis. Berdasarkan analisis rantai nilai yang telah dijabarkan
sebelumnya, diketahui terdapat bahwa Fokus bisnis dari Bank XYZ adalah
menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan dana
dalam bentuk kredit serta sebagai media untuk transaksi dan pembayaran
berdasarkan segmen nasabah konsumer, mikro, UKM dan komersil atau korporat.

Proses bisnis inti diturunkan dari aktivitas utama pada analisis rantai nilai, yaitu
peningkatan modal, pengembangan produk, product pricing, distribution channel,
jaringan kantor cabang, program penjualan, marketing komunikasi, hubungan
pelanggan dan layanan transaksi. Proses bisnis inti tidak hanya diturunkan dari
aktivitas utama, namun juga aktivitas-aktivitas lain yang berkaitan dengan
nasabah yang berhubungan dengan fokus bisnis Bank XYZ. Proses bisnis yang
berkaitan dengan nasabah antara lain pembukaan rekening, pengajuan kredit,
penutupan rekening, penyimpanan dana, pembayaran kredit, transfer dana, dsb.
Proses bisnis pendukung diturunkan dari aktivitas pendukung Bank XYZ, yaitu
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

51
manajemen aset, keuangan dan akuntansi, manajemen personalia, manajemen
risiko, hukum dan perencanaan. Proses bisnis inti dan proses bisnis pendukung
Bank XYZ dapat dilihat pada Gambar 5-3 berikut ini:

Gambar 5-3 Proses bisnis Bank XYZ

Berdasarkan pemodelan proses bisnis di atas, stakeholder untuk masing-masing


proses bisnis berdasarkan peran dan tanggung jawab dari divisi yang ada di Bank
XYZ dapat dipetakan pada Tabel 5-2 sebagai berikut:
Tabel 5-2 Daftar stakeholder tiap proses bisnis

No Fungsi (Divisi)
1 Dana Komersial

Kredit Komersial

Restrukturisasi dan
Penyelesaian Kredit

Riset dan Pelaporan

Tanggung jawab
Menghimpun dana
nasabah komersil
Menyalurkan kredit
kepada nasabah
komersil
Menyelesaikan kredit
UKM dan Komersil
yang bermasalah
Melakukan analisis dan
riset perkembangan

Proses Bisnis
Marketing
Komunikasi &
Program Penjualan
Marketing
Komunikasi &
Program Penjualan
Marketing
Komunikasi &
Program Penjualan
Pengembangan
Produk & Product
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

52
No Fungsi (Divisi)

Tanggung jawab
bisnis

Proses Bisnis
Pricing

Mengembangkan
produk/ bisnis

Pengembangan
Produk & Product
Pricing
Marketing Komunikasi
& Program Penjualan
Marketing
Komunikasi &
Program Penjualan
Distribution Channel
& Jaringan Kantor
Cabang
Pengembangan
Produk & Product
Pricing; Marketing
Komunikasi &
Program Penjualan
Perencanaan

Pengembangan Produk
(dana/ kredit/
transaksional)
Manajemen Penjualan

Kredit Konsumer

Bisnis Area/ Cabang

Kartu Kredit

10

Perencanaan Strategi
dan Transformasi

Mengelola rencana
strategis perusahaan

11

Manajemen Proyek

12

Penjualan Mikro

Mengelola manajemen
proyek unit bisnis dan
supporting di
perusahaan
Memasarkan produk
mikro

13

Manajemen Produk
Mikro

Mengembangkan
produk mikro

14

Manajemen
Operasional Mikro
Satuan Kerja Audit
Internal

Mengelola operasional
mikro
Melakukan
pengawasan terhadap
seluruh aktivitas setiap
unit di perusahaan
Mengkoordinasi
penyampaian informasi
dan kegiatan
komunikasi secara
formal di lingkungan
internal maupun
eksternal
Menyusun strategi TI

15

16

Sekretaris Perusahaan

17

Strategi IT dan Aliansi


Bisnis

Mengelola pemasaran
produk/ bisnis
Menyalurkan kredit
kepada nasabah
perorangan
Mengelola bisnis UKM
dan konsumer di
Cabang
Mengelola bisnis kartu
kredit

Procurement

Marketing
Komunikasi &
Program Penjualan
Pengembangan
Produk & Product
Pricing
Hubungan Pelanggan
& Layanan Transaksi
Manajemen Risiko

Peningkatan Modal;
Hubungan Pelanggan

Pengembangan
Produk; Teknologi
Informasi
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

53
No Fungsi (Divisi)
18 Pengembangan
Teknologi Informasi

Tanggung jawab
Mengembangkan
aplikasi

19

Dukungan dan Operasi


Teknologi Informasi

Mengelola operasional
TI

20

Hukum dan Investigasi


Kredit

21
22

23

24

25
26
27
28
29

30

Mengelola fungsi legal,


investigasi, dan
administrasi kredit
Pelayanan
Mengelola kegiatan
pelayanan nasabah
Operasi
Mengelola aktivitas
operasional dan
jaringan distribusi
perusahaan
Perencanaan Keuangan Menyusun rencana dan
dan Akuntansi
laporan keuangan
perusahaan
Manajemen Aset
Mengelola administrasi
keuangan dan aset
perusahaan
Treasury
Mengelola fungsi
treasury perusahaan
Perbankan Internasional Mengelola bisnis
perbankan internasional
Hukum Perusahaan
Mengelola proses
hukum di perusahaan
Manajemen Risiko
Mengelola risiko
perusahaan
Kepatuhan/ Pejabat
Mengelola compliance
Khusus Pengenalan
dari regulator
Nasabah
perbankan
Pengembangan Sumber Mengelola SDM
Daya Manusia

5.4

Arsitektur Sistem Informasi

5.4.1

Arsitektur data

Proses Bisnis
Pengembangan
Produk; Teknologi
Informasi
Pengembangan
Produk; Teknologi
Informasi
Hukum

Hubungan Pelanggan
& Layanan Transaksi
Distribution Channel
& Jaringan Kantor
Cabang
Manajemen Keuangan
& Akuntansi
Keuangan &
Akuntansi ;
Manajemen Aset
Peningkatan Modal;
Layanan Transaksi
Layanan Transaksi
Hukum
Manajemen Risiko
Manajemen Risiko

Manajemen Personalia

Arsitektur data yang dikembangkan pada tahap arsitektur sistem informasi


bertujuan untuk mendefinisikan sumber dan jenis data utama yang diperlukan
untuk mendukung proses bisnis. Arsitektur data tidak terkait dengan

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

54
pengembangan basis data dan perancangan sistem penyimpanan logis atau fisik.
Arsitektur data yang disusun berdasarkan TOGAF dapat digambarkan dengan
data dissemination diagram. Diagram yang disusun adalah pola transaksi secara
umum. Penyusunan arsitektur data dengan menggunakan pola transaksi dilakukan
karena data yang menjadi komponen terpenting dalam perbankan adalah data
transaksi. Data transaksi disusun berdasarkan proses bisnis yang berkaitan dengan
perspektif nasabah, yaitu transaksi simpanan, pinjaman dan pembayaran. Secara
umum, data yang terlibat pada transaksi adalah nomor rekening yang berkaitan
dengan transaksi, nominal transaksi, jenis transaksi, channel transaksi, dsb.
Diagram transaksi ini diilustrasikan pada Gambar 5-4 sebagai berikut:

Gambar 5-4 Arsitektur data transaksi

Arsitektur data tidak dianalisis lebih mendalam karena keterbatasan akses data dan
kurangnya informasi dari hasil wawancara maupun diskusi yang telah dilakukan.
5.4.2

Arsitektur aplikasi

Arsitektur aplikasi berdasarkan TOGAF digunakan untuk mendefinisikan aplikasi


utama yang digunakan untuk memproses data dan mendukung proses bisnis.
Tujuan lain dari arsitektur aplikasi adalah untuk mendefinisikan fungsi aplikasi
untuk mengolah data dan menyediakan informasi yang relevan bagi pengguna di
perusahaan. Aplikasi relatif tidak berubah, namun teknologi untuk mendukung
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

55
aplikasi tersebut dapat berubah sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan
teknologi.

Identifikasi aplikasi diadopsi dari paket implementasi pola solusi best practice
(Ebadi, 2007) yang ada di dunia perbankan, memanfaatkan aplikasi yang sudah
dimiliki dan berdasarkan rencana perusahaan. Berdasarkan kondisi saat ini dan
diskusi yang telah dilakukan, aplikasi CTS perlu dikembangkan ruang lingkupnya
dan mengikuti model yang ada secara best practice, yaitu CRM (Customer
Relationship Management). Adapun cuplikan hasil diskusi pada penelitian ini
ditunjukkan pada Lampiran 2 : Focus Group Discussion. Aplikasi BIS (Business
Information System) juga dikembangkan menjadi agar dapat digunakan oleh
manajemen untuk mengukur kinerja marketing melalui Management Dashboard.
Pengembangan ini mengacu kepada dokumen rencana perusahaan terkait
pengembangan DWH (Data Warehouse) untuk menunjang aplikasi BIS. Dalam
rencana perusahaan, DWH dikembangkan bersama dengan Data Mining dan Data
Mart. Secara singkat, istilah yang berkembang pada Bank XYZ, pengembangan
ketiga sistem disebut dengan DWH. Klasifikasi sistem aplikasi yang dimiliki oleh
Bank XYZ ditunjukkan pada Tabel 5-3 Klasifikasi sistem informasi Bank
XYZTabel 5-3.
Tabel 5-3 Klasifikasi sistem informasi Bank XYZ

No Aplikasi
1 CIF (Customer
Information File)
2
3
4
5
6

Saving
Loan
FE (Financial Entry)
GL (General Ledger)
Aplikasi Kartu Kredit
(CC)

7 Aplikasi Mitra
8 Aplikasi LOS (Loan
Origination System)
9 Aplikasi Bulog
10 Aplikasi Pertamina

Sub Kelompok Aplikasi


Saving/ Loan

Kelompok Aplikasi
Core System

Saving
Loan
Core Transaction
Finance & Accounting
Card Management

Core System
Core System
Core System
Core System
Multi Channel

Kemitraan
Card Management

Multi Channel
Core System

Kemitraan
E-Banking

Multi Channel
Multi Channel

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

56
No Aplikasi
11 Aplikasi MPN
(Modul Penerimaan
Negara)
12 Aplikasi BIS
(Business Information
System)

Sub Kelompok Aplikasi


E-Banking

Kelompok Aplikasi
Multi Channel

Data Mining, Data


Warehouse, Data Mart;
Management Dashboard

Layanan Informasi

13 Aplikasi SIKT
(Sistem Informasi
Kredit Terpadu)

Loan

Core System

14 Aplikasi CTS
(Complaint Tracking
System
15 Aplikasi HRIS
(Human Resource
Information System)

CRM (Customer
Relationship
Management)
Human Resource
Information System

Sistem Informasi
Pendukung

16 Aplikasi TPC (Trade


Payment Center)

Core Transaction

Core System

17 Aplikasi OPICS
18 Aplikasi E-flow
19 Aplikasi SIKM
(Sistem Informasi
Kredit Mikro
20 Aplikasi Universitas
21 Aplikasi Taspen
22 Aplikasi Neraca
Direktorat

Core Transaction
Loan
Loan

Core System
Core System
Core System

E-Banking
Kemitraan
Finance & Accounting

Multi Channel
Multi Channel
Sistem Informasi
Pendukung

23 Aplikasi Asabri
24 Aplikasi Switching
(H2H)

Kemitraan
E-Banking

Multi Channel
Multi Channel

25 Personal Internet
Banking

E-Banking

Multi Channel

26 Corporate Internet
Banking

E-Banking

Multi Channel

27 Mobile Banking
28 Aplikasi electronic
journal

E-Banking
Card Management

Multi Channel
Multi Channel

Sistem Informasi
Pendukung

29 EDC (Electronic Data E-Banking


Capture)

Multi Channel

30 RTGS (Real Time


Gross Settlement)

Core System

Core Transaction

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

57
No Aplikasi
31 SKN (Sistem Kliring
Nasional)

Sub Kelompok Aplikasi


Core Transaction

Kelompok Aplikasi
Core System

32 SID (Sistem
Informasi Debitur)

Loan

Core System

33 Swift
34 LBU/ LHBU
(Laporan Bank
Umum)
35 SMS Banking
36 Website Perusahaan
37 Aplikasi Regulasi

Core Transaction
Finance & Accounting

Core System
Sistem Informasi
Pendukung

E-Banking
Internet Portal
Intranet Portal;
Document Management/
Workflow
Asset & Procurement

Multi Channel
Layanan Informasi
Layanan Informasi;
Sistem Informasi
Pendukung
Sistem Informasi
Pendukung
Manajemen Sistem
Manajemen Sistem

38 Aplikasi SIMA
39 Antivirus
40 E-mail
41 Network Management
42 WSUS (Windows
Server Update
Service)
43 DNS (Domain Name
Server)

Keamanan
Komunikasi dan
Kolaborasi
Jaringan
Keamanan

Manajemen Sistem
Manajemen Sistem

Keamanan

Manajemen Sistem

44 ITSM (IT Service


Management) Tools

Document Management/
Workflow

Sistem Informasi
Pendukung

45 SIEM (System
Information and
Event Management)

Keamanan

Manajemen Sistem

Berdasarkan klasifikasi aplikasi pada Tabel 5-3, Bank XYZ memiliki 6 sistem
informasi utama yaitu: Manajemen Sistem, Core System, Multi Channel, Sistem
Informasi Pendukung, Layanan Informasi dan Personal Productivity Tool. Sistem
informasi utama dibagi menjadi sub sistem informasi yang sesuai dengan
fungsinya. Sistem informasi ini ditunjukkan pada Gambar 5-5 berikut ini:

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

58

Gambar 5-5 Sistem informasi Bank XYZ

Sistem informasi di Bank XYZ secara garis besar dibagi menjadi 6 jenis sistem
informasi utama, yaitu Manajemen Sistem, Core System, Multi Channel, Sistem
Informasi Pendukung, Layanan Informasi dan Personal Productivity Tool.
Fungsionalitas dari masing-masing aplikasi tersebut dijabarkan pada Tabel 5-4
berikut ini:
Tabel 5-4 Tabel aplikasi Bank XYZ

No

Kode

Kelompok Aplikasi

Fungsionalitas
Manajemen sistem adalah komponen teknologi

MNS

Manajemen Sistem

pendukung sistem informasi Bank XYZ yang


merupakan pondasi dan digunakan secara
bersama oleh aplikasi
Kelompok sistem informasi yang digunakan

CBS

Core System

secara langsung untuk mendukung proses bisnis


inti

untuk

mendukung

penyelenggaraan

kegiatan operasional dan transaksi perbankan


Kelompok sistem informasi yang digunakan
3

MCH

Multi Channel

untuk mendukung bisnis Bank XYZ yang


terkait B2C maupun B2B dengan mitra kerja

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

59
No

Kode

Kelompok Aplikasi

Fungsionalitas
baik secara langsung maupun tidak langsung
yang berhubungan dengan kegiatan operasional
dan transaksi perbankan.

SUP

Sistem Informasi
Pendukung

Kelompok sistem informasi yang digunakan


untuk mendukung kegiatan perusahaan secara
luas
Kelompok

layanan

yang

memberikan

kemampuan penggabungan, penyaringan (filter)


5

INF

Layanan Informasi

dan penyajian informasi dari berbagai sumber


data sebagai instrumen pengambilan keputusan
pimpinan Bank XYZ
Paket perangkat lunak jadi yang digunakan oleh
karyawan

untuk

melaksanakan

kegiatan

perkantoran sehari-hari seperti pengolah kata,


6

PPT

Personal

presentasi, spreedsheet dan sebagainya atau

Productivity Tool

digunakan untuk melaksanakan kegiatan khusus


seperti analisis statistik, analisis data dan
pelaporan,

pembuatan

diagram,

penyajian

informasi (publishing) dan sebagainya.

Landscape aplikasi adalah suatu diagram yang menggambarkan hubungan


kedekatan antar aplikasi di organisasi. Landscape aplikasi Bank XYZ terdiri dari
aplikasi-aplikasi yang ada di dalam sistem informasi utama. Aplikasi yang terkait
dengan infrastruktur berada di sekeliling sistem informasi utama karena bersifat
menopang seluruh sistem informasi yang lain. Aplikasi yang terkait dengan
infrastruktur merupakan penerapan dari prinsip-prinsip arsitektur. Aplikasi
personal productivity tool merupakan paket aplikasi best practice yang digunakan
untuk meningkatkan produktivitas atau kinerja karyawan di lingkungan
perkantoran. Aplikasi ini dapat berkaitan secara langsung maupun tidak langsung
dengan sistem informasi yang ada di organisasi. Adapun landscape aplikasi
ditunjukkan pada Gambar 5-6 sebagai berikut:
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

60

Gambar 5-6 Landscape aplikasi

5.5

Arsitektur Teknologi

5.5.1

Identifikasi komponen teknologi

Pilihan komponen teknologi yang akan digunakan pada arsitektur teknologi


mengacu kepada prinsip-prinsip arsitektur yang telah ditetapkan. Berdasarkan
TOGAF, untuk keperluan perencanaan infrastruktur TI, arsitektur teknologi dapat
didefinisikan hingga ke komponen perangkat lunak dan perangkat keras dengan
cara sebagai berikut:
a. Memetakan komponen teknologi berdasarkan arsitektur aplikasi
b. Mengidentifikasi perangkat lunak dan perangkat keras menjadi satu komponen
teknologi atau yang dapat dipakai bersama.
Adapun pemilihan komponen teknologi untuk organisasi yang sesuai dengan
prinsip arsitektur yang ditetapkan dapat dilihat pada Tabel 5-5 sebagai berikut:
Tabel 5-5 Pemilihan komponen teknologi berdasarkan prinsip arsitektur

No Teknologi

Prinsip Arsitektur

Mengutamakan pemanfaatan aplikasi yang sudah ada

Sybase EAServer

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

61
No Teknologi

Prinsip Arsitektur
Penerapan open standard
Tidak diganti karena fungsi middleware utama

Firefox/ Chrome

Memanfaatkan paket open source sedapat mungkin


Menyediakan layanan aplikasi berbasis web bagi
karyawan marketing

Zimbra webmail

Memanfaatkan paket open source sedapat mungkin

(E-mail SMTP/ IMAP)

Menyediakan layanan aplikasi berbasis web bagi


karyawan marketing

Blue Coat WAN

Memanfaatkan paket infrastruktur yang sudah ada

Optimizer

Maksimasi atau penggunaan ulang paket data

Linux SLES/ Linux

Mengutamakan pemanfaatan aplikasi yang sudah ada

OpenSUSE

Memanfaatkan paket open source sedapat mungkin


Penyeragaman teknologi

Libre Office/ Libre

Memanfaatkan paket open source sedapat mungkin

Visio
7

OpenLDAP + Samba

Memanfaatkan paket open source sedapat mungkin


Penerapan open standard
Pengelolaan profil user terpusat

PHP & Apache WS

Memanfaatkan paket open source sedapat mungkin


Penerapan open standard

Firewall Cisco

Mengutamakan pemanfaatan infrastruktur yang sudah


ada
Penyeragaman teknologi infrastruktur jaringan

10

SSL

Penerapan enkripsi dan otentikasi data

11

IPS/IDS

Meningkatkan keamanan informasi dan mengikuti


compliance PCIDSS

12

PostgreSQL

Memanfaatkan paket open source sedapat mungkin

13

DB2

Mengutamakan pemanfaatan infrastruktur yang sudah


ada
Digunakan untuk transaksi dengan komputasi basis

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

62
No Teknologi

Prinsip Arsitektur
data yang kompleks
Digunakan sebagai basis data utama

14

O/S400

Mengutamakan pemanfaatan infrastruktur yang sudah


ada
Digunakan sebagai sistem operasi utama Core System

15

OSPF

Penerapan open standard

16

TCP/IP

Penerapan open standard

17

MPLS

Penyeragaman teknologi terkini dengan penyedia


jaringan komunikasi

18

Xlink

Mengutamakan pemanfaatan aplikasi yang sudah ada

Secara umum perangkat IPS/IDS terintegrasi dengan perangkat firewall. Kondisi


saat ini, firewall Cisco dan firewall CheckPoint terintegrasi dengan perangkat atau
fitur IPS/ IDS. Pemilihan teknologi firewall berdasarkan prinsip arsitektur adalah
firewall Cisco sehingga pemilihan teknologi berdasarkan prinsip penyeragaman
teknologi jaringan untuk perangkat IPS/IDS adalah Cisco. Komponen teknologi
IPS/IDS ini selanjutnya digabungkan dalam satu komponen teknologi yaitu
firewall.

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh penulis, protokol routing jaringan


komputer yang dipilih sesuai dengan prinsip arsitektur dan best practice di
perbankan adalah OSPF. Protokol ini dipilih untuk menggantikan protokol EIGRP
yang merupakan hal intelektual dari Cisco. Penggunaan protokol routing yang
lebih open standard diharapkan dapat meningkatkan kinerja dari komunikasi data
melalui integrasi yang lebih baik dengan penyedia jaringan komunikasi.
Teknologi jaringan lain yang dipilih adalah TCP/IP (Transmission Control
Protocol/ Internet Protocol) dan MPLS (Multi Protocol Label Switching).

Pemilihan TCP/IP berdasarkan prinsip arsitektur adalah penerapan open standard.


Protokol komunikasi yang digunakan pada Bank XYZ selain TCP/IP adalah SNA
Network. SNA Network digunakan untuk protokol komunikasi antara client
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

63
dengan server A/S400. SNA Network tidak dipilih karena merupakan hal
intelektual dari IBM. Pemilihan komunikasi data menggunakan TCP/IP
menyebabkan remote terminal RALLY! yang menggunakan SNA Network tidak
dipilih pada komponen teknologi. Pilihan untuk antar muka pengguna dengan
server untuk menggantikan RALLY! adalah antar muka yang dikembangkan
dengan aplikasi PowerBuilder dengan middleware Sybase EAServer dan remote
terminal yang menggunakan protokol komunikasi berbasis TCP/IP.

Pemilihan teknologi MPLS ditujukan untuk WAN (Wide Area Network) yang
menghubungkan Data Center dengan kantor cabang Bank XYZ melalui penyedia
jaringan komunikasi. Pemilihan ini dilakukan karena teknologi frame relay saat
ini sudah tidak didukung oleh penyedia jaringan komunikasi. Secara umum
penyedia jaringan komunikasi memberikan istilah penggantian teknologi frame
relay ini dengan penggantian MPLS atau VPN IP (Virtual Private Network
Internet Protocol). Dampak dari pemilihan teknologi adalah perubahan antar
muka yang digunakan pada router Bank XYZ.

Komponen teknologi lain yang dipilih berdasarkan prinsip arsitektur adalah


Zimbra webmail, Libre Office, Blue Coat WAN Optimizer dan SSL. Zimbra
webmail dan Libre Office dipilih berdasarkan prinsip pemanfaatan open source
sedapat mungkin. Zimbra webmail dipilih untuk menggantikan aplikasi e-mail
Qmail. Aplikasi Qmail tidak dipilih karena sesuai dengan prinsip arsitektur, yaitu
menyediakan layanan aplikasi berbasis web bagi karyawan marketing. Pemilihan
Zimbra webmail juga dikaitkan dengan pemilihan teknologi virtualisasi yang akan
dijelaskan pada sub bab virtualisasi server.

Beberapa komponen teknologi yang dipilih masih terduplikasi, yaitu basis data
dan sistem operasi. Basis data yang masih terduplikasi adalah DB2 dan
PostgreSQL. Komponen sistem operasi yang masih terduplikasi adalah O/S400
dan Linux OpenSUSE atau Linux SLES (SUSE Linux Enterprise Server).
Berdasarkan observasi, wawancara dan diskusi yang telah dilakukan, komponen
basis data DB2 dan sistem operasi O/S400 masih digunakan dalam jangka
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

64
panjang. Basis data dan sistem operasi tersebut belum dapat diganti karena
perubahan yang dilakukan terhadap dua komponen tersebut dapat mempengaruhi
organisasi secara keseluruhan. Hal ini disebabkan oleh penggunaan komponen
basis data DB2 dan sistem operasi O/S400 untuk menopang aplikasi Core System
yang berpengaruh secara signifikan bagi organisasi. Kondisi saat ini, unit TI di
Bank

XYZ secara

bertahap memindahan

aplikasi

Core

System

yang

dikembangkan secara inhouse ke sistem operasi open source. Komponen


teknologi basis data PostgreSQL dan sistem operasi Linux OpenSUSE atau Linux
SLES yang dipilih lebih ditujukan untuk aplikasi yang dikembangkan melalui alih
daya.

Selain komponen basis data dan sistem operasi, komponen teknologi yang masih
terduplikasi adalah web server. Seperti halnya basis data dan sistem operasi,
komponen web server Sybase EAServer digunakan untuk pengembangan aplikasi
inhouse sedangkan PHP & Apache web server digunakan untuk aplikasi yang
dikembangkan melalui alih daya.

Pemilihan teknologi infrastruktur TI dipetakan ke taksonomi komponen umum


infrastruktur TOGAF untuk melihat hubungan antara arsitektur aplikasi dan
arsitektur teknologi yang telah dirancang. Perpaduan arsitektur aplikasi dan
arsitektur teknologi disebut sebagai arsitektur gabungan. Pemetaan teknologi
infrastruktur ini dapat dilihat pada Gambar 5-7 berikut:

Gambar 5-7 Pemetaan taksonomi komponen umum


Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

65
Infrastruktur komunikasi yang dipetakan berdasarkan taksonomi umum komponen
TOGAF terdiri dari LAN (Local Area Network), WAN, dan protokol routing yang
digunakan. Bandwidth yang digunakan berdasarkan teknologi saat ini untuk LAN
pada jaringan komputer pengguna adalah 100 Mbps (Megabit per second).
Kapasitas bandwidth pada LAN yang terkait dengan Data Center adalah 1 Gbps
(Gigabit persecond) untuk server dan 10 Gbps untuk storage. Berdasarkan best
practice, perbedaan teknologi jaringan dilakukan untuk menyesuaikan lalu lintas
data yang besar antar server dan storage. Ethernet dengan kapasitas gigabit belum
digunakan karena investasi yang cukup besar dan kapasitas bandwidth 100 Mbps
masih memadai untuk lalu lintas data pada pada jaringan komputer pengguna.

Kantor cabang pada Bank XYZ terdiri dari 3 jenis, yaitu Kantor Cabang Utama
(KCU), Kantor Cabang Pembantu (KCP) dan Kantor Kas (KK). Jenis kantor ini
dibedakan berdasarkan fungsi kantor, pendapatan dan jumlah karyawan pada
kantor tersebut. Berdasarkan aplikasi yang digunakan dan jumlah karyawan pada
tiap kantor tersebut dipilih bandwidth sebesar 256 Kbps (Kilobit persecond) untuk
KK, 512 Kbps untuk KCP dan 1 Mbps untuk KCU. Kapasitas bandwidth pada
kantor cabang Bank XYZ yang dimulai dari 256 Kbps disesuaikan dengan best
practice penggunaan bandwidth minimal untuk aplikasi berbasis

web.

Peningkatan kapasitas bandwidth disesuaikan dengan pengguna aplikasi di tiap


kantor. Khusus untuk KCU digunakan bandwidth sebesar 1 Mbps yang
diduplikasi dengan penyedia jaringan komunikasi lain dan menggunakan
perangkat Blue Coat WAN Optimizer. Perbedaan pada KCU ini disebabkan oleh
penggunaan aplikasi yang lebih beragam dibandingkan dengan kantor lain dan
untuk meningkatkan ketersediaan jaringan komunikasi data apabila terjadi
gangguan jaringan komunikasi pada KCU. Apabila terjadi gangguan jaringan
komunikasi pada KCP dan KK, yang merupakan bagian dari KCU, maka proses
bisnis yang didukung oleh aplikasi dilakukan di KCU.

Hubungan antara sistem informasi dan teknologi yang akan digunakan dilihat
sebagai persektif arsitektur. Taksonomi komponen infrastruktur yang dipetakan

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

66
terdiri dari aplikasi bisnis, aplikasi infrastruktur, pertukaran data, keamanan, dan
lokasi. Perspektif arsitektur ini dapat dilihat pada Gambar 5-8 berikut:

Gambar 5-8 Perspektif arsitektur

Berdasarkan pemetaan landscape aplikasi pada taksonomi komponen infrastruktur


diperoleh arsitektur gabungan sistem informasi dan infrastruktur TI. Arsitektur
gabungan diilustrasikan pada Gambar 5-9 berikut ini:

Gambar 5-9 Arsitektur gabungan

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

67
5.5.2

Platform arsitektur teknologi

Menurut TOGAF, arsitektur teknologi didefinisikan dengan cara mengidentifikasi


perangkat lunak dan perangkat keras menjadi satu komponen teknologi yang dapat
dipakai bersama. Hal ini sejalan dengan Robertson dan Sribar yang menyatakan
bahwa kunci dalam mencapai infrastruktur infrastruktur TI yang adaptif adalah
dengan melihat infrastruktur dalam kesatuan komponen, pola dan layanan serta
sumber daya dan proses. Salah satu prinsip infrastruktur yang didorong dari kunci
untuk mencapai infrastruktur TI yang adaptif menurut Robertson dan Sribar selain
pola dan layanan adalah pengelompokan platform atau komponen infrastruktur.
Platform arsitektur teknologi menggambarkan keterkaitan dan alur data pada
infrastruktur TI yang dipilih.

Pengelompokan komponen infrastruktur dapat dicapai melalui identikasi


mekanisme integrasi antar komponen sistem aplikasi yang saling berhubungan.
Mekanisme integrasi sendiri dapat diketahui melalui peta interoperabilitas yang
menggambarkan aliran informasi antar aplikasi serta hubungan dengan prinsip dan
platform teknologi. Peta interoperabilitas pada Bank XYZ ditunjukkan pada
Gambar 5-10 sebagai berikut:

Gambar 5-10 Peta interoperabilitas


Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

68
Dari peta interoperabilitas di atas, terlihat adanya hubungan dan integrasi antar
aplikasi di Bank XYZ. Berdasarkan peta interoperabilitas tersebut, mekanisme
integrasi integrasi antar aplikasi di Bank XYZ disusun melalui hubungan antar
aplikasi dan komponen integrasi pada Tabel 5-6.

Komponen integrasi aplikasi pada Bank XYZ terdiri dari ODBC (Open Database
Connectivity), RPC (Remote Procedure Call) dan SOAP (Simple Object Access
Protocol). ODBC digunakan untuk menghubungkan antar aplikasi melalui
mekanisme akses basis data. RPC menghubungkan antar aplikasi dengan cara
mengakses fungsi aplikasi yang dapat digunakan oleh aplikasi lain dari sistem
operasi yang berbeda. RPC secara umum digunakan untuk mengintegrasikan
aplikasi yang menggunakan sistem operasi O/S400. Komponen integrasi RPC ini
memiliki karakteristik yang sama dengan SOAP, yaitu menggunakan fungsi
aplikasi dari sistem operasi yang berbeda. Perbedaan RPC dan SOAP terletak
pada karakteristik keterbukaan dan standar yang digunakan. SOAP lebih terbuka
dan standar untuk digunakan pada sistem operasi yang berbeda-beda. SOAP
merupakan komponen perangkat lunak yang menggunakan konsep service atau
layanan berdasarkan Service Oricented Architecture (SOA). RPC masih
digunakan pada Bank XYZ karena sistem operasi O/S400 masih digunakan.
Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh penulis, penggantian komponen RPC
ke SOAP pada O/S400 tidak dilakukan karena investasi untuk pengadaannya yang
cukup besar. Untuk integrasi aplikasi dari sistem operasi lain ke sistem operasi
O/S400 digunakan middleware yang menggunakan komponen integrasi SOAP
untuk menghubungkan middleware dengan aplikasi pada sistem operasi lain dan
komponen integrasi ODBC atau RPC yang menhubungkan middleware dengan
aplikasi di sistem operasi O/S400.

Berdasarkan mekanisme integrasi antar aplikasi yang telah dijelaskan di atas,


komponen integrasi antar aplikasi dikelompokkan menjadi 3, yaitu ODBC, RPC
dan SOAP. Pengelompokan komponen integrasi ini digunakan sebagai salah satu
acuan dalam penggabungan platform arsitektur teknologi selain antar muka,
jaringan, presentation, aplikasi dan basis data yang digunakan. Penggabungan
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

69
platform arsitektur teknologi merupakan salah satu prinsip infrastruktur TI yang
adaptif menurut Robertson dan Sribar, yaitu service.

Antar muka pengguna yang digunakan dalam platform arsitektur teknologi terdiri
dari aplikasi desktop yang dikembangkan dari perangkat lunak PowerBuilder, web
browser, dan antar muka E-Banking seperti ATM, SMS Banking, EDC, dll.
Jaringan yang digunakan sebagai platform adalah LAN, WAN, dan internet yang
menggunakan

protokol

HTTPS

(Hypertext

Transfer

Protocol

Secure).

Penggabungan platform untuk presentation dan aplikasi yang digunakan adalah


Sybase EAServer yang dapat digunakan sebagai web server dan application
server, dan PHP (Hypertext Preprocessor) yang digunakan sebagai web server.
Penggabungan lain pada presentation dan aplikasi yang digunakan adalah Xlink
sebagai payment switching. Platform arsitektur teknologi ini ditunjukkan pada
Gambar 5-11 sebagai berikut:

Gambar 5-11 Unifikasi platform

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

70

Tabel 5-6 Mekanisme integrasi sistem informasi Bank XYZ

Target
Source

Core
System

E-Banking

Card
Finance&
Kemitraan HRIS
Management
Accounting

Card
Management
Kemitraan
HRIS
Finance&
Accounting
DWH
CRM
Asset&
Procurement
Management
Dashboard

CRM

Asset&
Management Document/
Procurement Dashboard
Workflow

ODBC

Core System
E-Banking

DWH

RPC,
ODBC,
SOAP
RPC,
ODBC,
SOAP
SOAP
SOAP

RPC, ODBC,
SOAP

ODBC

ODBC
SOAP

ODBC
SOAP

SOAP

SOAP

SOAP

SOAP
ODBC

Document/
Workflow

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

71

5.5.3

Topologi jaringan

Penerapan prinsip infrastruktur TI yang adaptif, yaitu pattern (Robertson &


Sribar, 2001), pada topologi jaringan menggunakan pola router. Pola router ini
dibagi menjadi tiga, yaitu DMZ (Demiliterized Zone), jaringan internal yang
terdiri dari jaringan server internal, jaringan kantor pusat dan jaringan kantor
cabang, serta jaringan eksternal yang menghubungkan dengan pihak ketiga atau
rekan bisnis. Pola router ini diikuti dengan penggunaan firewall pada ketiga pola
jaringan tersebut.

Prinsip-prinsip arsitektur yang diterapkan pada jaringan komunikasi Bank XYZ


bersifat mendasar, yaitu penerapan open standard protokol routing komunikasi.
Penerapan prinsip yang lain pada infrastruktur jaringan adalah perangkat WAN
Optimization untuk mengoptimalkan komunikasi data antara kantor cabang dan
pusat, penggunaan firewall Cisco, dan penerapan protokol komunikasi TCP/IP.
Penerapan prinsip arsitektur pada infrastruktur jaringan dapat dilihat pada Gambar
5-12 berikut ini:

Gambar 5-12 Topologi Jaringan Bank XYZ


Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

72

5.5.4
5.5.4.1

Virtualisasi server
Pemilihan teknologi virtualisasi

Pemilihan teknologi virtualisasi yang akan digunakan mengacu pada sistem


operasi yang akan dipilih, sistem operasi yang digunakan dan perkembangan
teknologi virtualisasi yang ada saat ini. Sistem operasi berdasarkan hasil
pemilihan teknologi adalah berbasis Linux OpenSUSE atau Linux SLES.
Perkembangan teknologi virtualisasi berdasarkan studi literatur menyatakan
bahwa teknologi virtualisasi yang terbaik di tahun 2012 untuk server dengan
arsitektur prosesor X86 saat ini adalah VMware (Chang, Tsai, & Chen, 2013).

Pengunaan teknologi virtualisasi dapat menaikkan tingkat adaptif infrastruktur TI


melalui efisiensi, efektivitas dan fleksibilitas infrastruktur server. Efisiensi dan
efektivitas infrastruktur TI dapat dicapai melalui konsolidasi server, konsolidasi
jaringan dan konsolidasi storage (VMware, 2009). Berdasarkan kondisi yang ada
saat ini, jumlah server dengan arsitektur prosesor X86 di Bank XYZ lebih kurang
120 unit. Penggunaan teknologi virtualisasi ditujukan untuk mengkonsolidasikan
120 unit server dan jaringan yang terhubung pada server tersebut sehingga lebih
mudah untuk dikelola.

Jumlah server yang cukup besar ditambah dengan peningkatan infrastruktur


server pada tahun 2012 untuk mendukung 200 rollout aplikasi menyebabkan
kompleksitas server semakin tinggi. Selain menurunkan kecepatan implementasi
aplikasi yang membutuhkan infrastruktur baru, peningkatan jumlah server ini
menyebabkan kapasitas ruang data center menjadi kecil dan semakin tidak
memadai. Apabila hal ini berlangsung secara terus menerus, maka implementasi
infrastruktur baru untuk menopang paket aplikasi yang di-rollout tidak dapat
diakomodir dengan cepat karena kegiatan pengaturan server dan jaringan yang
membutuhkan waktu serta kondisi yang tidak diharapkan yang dapat terjadi
adalah tidak dapat dilakukan implementasi infrastruktur baru.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

73

Fleksibilitas infrastruktur TI melalui penggunaan teknologi virtualisasi dicapai


melalui peningkatan kapasitas sumber daya server. Peningkatan kapasitas server
ini ditujukan untuk mengantisipasi peningkatan jumlah nasabah dan jumlah
transaksi pada saat tertentu, seperti hari libur nasional dan tanggal batas
pembayaran. Menurut Vintantonio, virtualisasi digunakan untuk meningkatkan
kelincahan organisasi dalam menghadapi perubahan (Vintantonio, Smith, Millar,
& Wilkinson, 2006). Virtualisasi yang digunakan untuk meningkatkan kelincahan
Bank XYZ dilakukan melalui kemudahan dalam penambahan infrastruktur server
baru untuk menopang implementasi aplikasi baru.

Pemilihan teknologi virtualisasi yang mengacu pada prinsip arsitektur, yaitu


penyeragaman teknologi, adalah penggunaan e-mail server Zimbra yang dapat
terintegrasi dengan produk VMware yang lain. Kelebihan teknologi VMware
dibandingkan dengan teknologi virtualisasi yang lain terletak pada kelengkapan
fitur dan TCO (Chang, Tsai, & Chen, 2013). Kelebihan sistem operasi yang dapat
diakomodasi

oleh

VMware

menjadi

salah

satu

pertimbangan

untuk

mengakomodasi sistem operasi yang ada saat ini, termasuk sistem operasi yang
akan diimplementasikan berdasarkan hasil pemilihan teknologi yaitu sistem
operasi berbasis Linux.
5.5.4.2

Desain infrastruktur virtualisasi server

Desain infrastruktur virtualisasi server berdasarkan desain jaringan, desain media


penyimpanan data arsitektur aplikasi dibagi menjadi 4 kelompok cluster, yaitu
Core System, Multi Channel, Supporting, dan DMZ. Masing-masing kelompok
cluster ini akan menggunakan dua media penyimpanan (storage) di lokasi utama
untuk meningkatkan ketersediaan media penyimpanan dan satu media
penyimpanan di lokasi backup yang sesuai dengan prinsip arsitektur. Pembagian
kelompok cluster selain mengacu kepada arsitektur sistem informasi dan best
practice virtualisasi server yang dapat dilihat pada Lampiran 4 : Perancangan
Virtualisasi Server juga mengacu kepada layanan yang memiliki keterkaitan,
seperti E-banking, Card Management, dan sistem informasi Kemitraan. Khusus
untuk pembagian cluster manajemen sistem dibagi menjadi 2, yaitu manajemen

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

74

sistem yang berada di DMZ dan zona internal. Desain infrastruktur virtualisasi
server ini dapat dilihat pada Gambar 5-13 berikut ini:

Gambar 5-13 Desain infrastruktur virtualisasi berdasarkan arsitektur sistem informasi

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

75

5.6

Identifikasi Peluang dan Solusi

5.6.1

Tabel kesenjangan sistem informasi

Sistem informasi diasumsikan sesuai dengan kebutuhan dan kebutuhan sistem


informasi yang akan datang telah dimasukkan ke dalam rencana perusahaan Bank
XYZ. Hal ini juga dibatasi dalam ruang lingkup yang telah disampaikan
sebelumnya oleh penulis.
5.6.2

Tabel kesenjangan infrastruktur TI

Analisis kesenjangan infrastruktur TI dilakukan dengan membandingkan


komponen infrastruktur TI yang akan digunakan dan komponen infrastruktur TI
yang ada saat ini. Komponen infrastruktur yang ada saat ini dan tidak digunakan
dapat dilihat pada Tabel 5-7 berikut ini:
Tabel 5-7 Infrastruktur yang tidak sesuai dengan prinsip arsitektur

No Teknologi
1
E-mail SMTP/ POP
2
Microsoft Office
3

Firewall CheckPoint

4
5
6
7
8

IIS
Windows Server 2003/
2008
Linux RedHat
Sun Solaris
Oracle

9
10
11

MS SQL Server
SNA Network
Frame Relay

12
13
14

RALLY!
Virtualbox
Hyper-V

Ketidaksesuaian dengan Prinsip Arsitektur


Diganti karena penyeragaman teknologi
Tidak memanfaatkan paket open source sedapat
mungkin.
Diganti karena penyeragaman teknologi
infrastruktur jaringan
Tidak memanfaatkan paket open source
Tidak memanfaatkan paket open source
Penyeragaman teknologi Linux yang lain
Penyeragaman teknologi sistem operasi Linux
Penyeragaman teknologi basis data DB2 atau
PostgreSQL
Tidak memanfaatkan paket open source
Tidak open standard
Teknologi sudah tidak didukung oleh penyedia
jaringan komunikasi
Diganti karena penyeragaman teknologi
Diganti karena penyeragaman teknologi
Diganti karena penyeragaman teknologi

Adapun analisis kesenjangan infrastruktur dapat dilihat pada Tabel 5-8 berikut ini:

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

76

Tabel 5-8 Analisis kesenjangan infrastruktur TI


Future
Existing
CheckPoint
Firewall

Cisco
Firewall

Cisco Firewall

tetap

SSL
IIS

SSL

PHP
Apache

Sybase
PowerBuilder

OpenSUSE
SLES

PostgreSQL

MPLS

Zimbra

Libre
office

OpenLDAP
(SSO)

VMware

Dihapus

tetap

tetap
diganti

diganti
tetap

Oracle

diganti

MS SQL Server

diganti

TCP/IP

TCP/IP

tetap

diganti

DB2

OSPF

diganti

Redhat

EIGRP

DB2

tetap

Sun Solaris
O/S400

O/S400

diganti

Sybase EAServer
PHP Apache
Sybase
PowerBuilder
Windows Server
2003/ 2008

Sybase
EAServer

tetap
diganti
tetap
dihapus

SNA Network
diganti

Frame Relay

dihapus

RALLY!
diganti

Qmail

diganti

MS Office
Hyper-V

diganti

Virtualbox

diganti
baru

Baru

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

77

Analisis kesenjangan yang dilakukan terdiri dari analisis kesenjangan sistem


informasi dan infrastruktur TI. Sistem informasi diasumsikan sesuai dengan
kebutuhan dan kebutuhan sistem informasi yang akan datang telah dimasukkan ke
dalam rencana perusahaan. Hasil analisis kesenjangan infrastruktur TI yang
adaptif dan infrastruktur TI yang ada saat ini digunakan sebagai dasar
perencanaan infrastruktur TI. Infrastruktur TI yang dipilih terdiri dari sistem
operasi, sistem manajemen basis data, aplikasi client, middleware, protokol
routing, protokol komunikasi dan teknologi jaringan. Beberapa komponen
teknologi yang dipilih pada sub bab 5.4.4.1 yang tidak dibahas pada identifikasi
peluang dan solusi diasumsikan tetap digunakan. Daftar usulan dan kegiatan
implementasi infrastruktur TI yang disusun berdasarkan analisis kesenjangan
adalah sebagai berikut:
a. Implementasi total virtual server menggunakan VMware
b. Usulan penggunaan sistem operasi Linux OpenSUSE atau Linux SLES
sebagai alternatif sistem operasi selain O/S400
c. Usulan penggunaan DB2 sebagai basis data utama dan PostgreSQL
sebagai basis data pendukung
d. Implementasi directory service dan pengembangan Single Sign On
e. Migrasi teknologi jaringan komunikasi kantor cabang
f. Migrasi protokol jaringan
g. Usulan penggunaan Cisco sebagai perangkat firewall
h. Migrasi webmail
i. Usulan penggunaan office tools berbasis open source.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan oleh penulis,
dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut:
1. Prinsip-prinsip TI secara umum yang digunakan dalam perencanaan
infrastruktur TI Bank XYZ mengacu kepada prinsip arsitektur pada sub bab
5.1.1, yaitu:
a. Pertukaran data dengan organisasi lain harus menggunakan format web
service atau ISO8583 (service orientation)
b. Setiap user aplikasi memiliki userid dan password unik
c. Akses melalui internet harus menerapkan otentikasi dan enkripsi data
(SSL)
d. Akses ke server farm harus melalui IPS/IDS (Intrusion Prevention System/
Intrusion Detection System)
e. Duplikasi komponen kritis.
2. Pemodelan bisnis Bank XYZ yang dibahas pada sub bab 5.2 dan sub bab 5.3
terdiri dari 5 aktivitas utama, yaitu peningkatan modal, pengembangan produk
dan product pricing, distribution channel dan jaringan kantor cabang, program
penjualan dan marketing komunikasi, serta hubungan pelanggan dan layanan
transaksi. Aktivitas bisnis yang mendukung aktivitas utama terdiri
dari 4 kelompok aktivitas, yaitu infrastruktur bank, manajemen sumber daya
manusia, teknologi informasi dan manajemen aset. Proses bisnis pada
perspektif nasabah merupakan bagian dari aktivitas utama bisnis perbankan
seperti pembukaan rekening, penutupan rekening, pengajuan kredit, pelunasan
kredit, transfer dana, pembayaran tagihan dan penarikan dana. Proses bisnis
pada perspektif nasabah mengacu kepada 3 fokus bisnis Bank XYZ, yaitu
liabilities, asset, dan fee based.
3. Arsitektur aplikasi dibagi menjadi 6 kelompok aplikasi utama, yaitu
Manajemen Sistem, Core System, Multi Channel, Sistem Informasi
Pendukung, Layanan Informasi dan Personal Productivity Tools. 6 kelompok
78

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

79

aplikasi ini diperoleh dari hasil analisis arsitektur aplikasi pada sub bab 5.4.2
yang mengacu kepada paket aplikasi best practice dunia perbankan, aplikasi
yang dimliki dan rencana perusahaan. 5 dari 6 kelompok aplikasi utama dibagi
menjadi sub kelompok aplikasi, yaitu:
a. Manajemen sistem
i. Jaringan
ii. Komunikasi dan Kolaborasi
iii. Keamanan
b. Core System
i. Saving
ii. Loan
iii. Core Transaction
c. Multi Channel
i. Card Management
ii. E-banking
iii. Kemitraan
d. Sistem informasi pendukung
i. Finance and Accounting
ii. Human Resources Information System
iii. Asset and Procurement
iv. Customer Relationship Management
v. Document Management/ Workflow
e. Layanan informasi
i. Data Warehouse
ii. Management Dashboard
iii. Intranet Portal
iv. Internet Portal.
4. Penerapan virtualisasi yang menopang sistem informasi organisasi secara
keseluruhan menaikkan tingkat adaptif infrastruktur TI Bank XYZ. Hal ini
mengacu kepada rancangan virtualisasi server pada sub bab 5.5.4. Rancangan
virtualisasi server mengacu kepada kelompok sistem informasi organisasi dan

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

80

best practice dari virtualisasi server yang membagi sumber daya melalui
pembagian kelompok server.
5. Penerapan prinsip-prinsip TI dan model adaptif pada infrastruktur TI Bank
XYZ mengacu kepada arsitektur teknologi yang dihasilkan dari perencanaan
arsitektur TI pada sub bab 5.5 dan sub bab 5.6.2. Daftar usulan dan kegiatan
implementasi infrastruktur TI berdasarkan analisis kesenjangan adalah sebagai
berikut:
a. Implementasi total virtual server menggunakan VMware
b. Usulan penggunaan sistem operasi Linux OpenSUSE atau Linux SLES
sebagai alternatif sistem operasi selain O/S400
c. Usulan penggunaan DB2 sebagai basis data utama dan PostgreSQL
sebagai basis data pendukung
d. Implementasi directory service dan pengembangan Single Sign On
e. Migrasi jaringan komunikasi teknologi jaringan komunikasi kantor
cabang
f. Migrasi protokol jaringan
g. Usulan penggunaan Cisco sebagai perangkat firewall
h. Migrasi webmail
i. Usulan penggunaan office tools berbasis open source.
6. Arsitektur teknologi yang dihasilkan dari pengembangan arsitektur TI pada
sub bab 5.6.2 dapat digunakan sebagai acuan untuk mengembangkan
infrastruktur TI yang adaptif dalam menopang perubahan paket aplikasi untuk
mengakomodir kebutuhan bisnis saat ini dan strategi bisnis Bank XYZ dengan
cepat di masa yang akan datang. Model adaptif yang digunakan sebagai acuan
dalam perencanaan infrastruktur TI ini adalah sebagai berikut:
a. Penyimpanan data menggunakan eksternal atau cloud storage dan
virtualisasi server
b. Penggunaan infrastruktur berbasis open source untuk meminimalkan
investasi bisnis berbasis TI
c. Penggunaan aplikasi berbasis web yang diakses oleh karyawan marketing
d. Penyeragaman teknologi
e. Penerapan open standard
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

81

f. Modularisasi komponen-komponen sistem


g. Maksimasi penggunaan ulang atau penggunaan bersama.
6.2

Saran

Berikut ini adalah saran yang disusun oleh penulis agar infrastruktur TI yang
adaptif dapat diterapkan pada Bank XYZ dengan baik:
1. Peningkatan ketrampilan dan pengetahuan infrastruktur TI berbasis open
source yang lebih mendalam bagi karyawan TI agar implementasi sistem
operasi berbasis open source dapat berjalan dengan baik.
2. Perencanaan kapasitas infrastruktur, terutama server dan storage untuk
implementasi virtualisasi.
3. Memastikan infrastruktur TI yang digunakan untuk menopang perubahan
paket aplikasi mengacu kepada cetak biru yang telah dibuat.
4. Mengevaluasi cetak biru infrastruktur TI secara berkelanjutan agar mengikuti
perkembangan teknologi dan kebutuhan bisnis.

Saran untuk penelitian selanjutnya:


1. Dalam penelitian ini arsitektur data pada sub bab 5.4.1 tidak dibahas dengan
detail karena keterbatasan akses dan informasi. Penelitian terkait perencanaan
infrastruktur TI pada perbankan selanjutnya dapat melakukan analisis
arsitektur data lebih mendalam.
2. Melakukan urutan prioritas dan membuat roadmap terhadap implementasi
infrastruktur TI.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

DAFTAR PUSTAKA

Applegate, L. M., Austin, R. D., & Soule, D. L. (2009). Corporate Information


Strategy and Management (8 th ed). Mcgraw-Hill.
Bank Indonesia. (2007). Peraturan Bank Indonesia Nomor: 9/15/PBI/2007.
Bihandoko, D. (2010). Implementasi virtualisasi sebagai upaya penyederhanaan
dan efisiensi infrastruktur TI: studi kasus PT Telkom Divisi Infratel. Depok:
Fasilkom UI.
Carr, N. (2003). IT doesnt matter. Harvard Business Review.
Chang, B. R., Tsai, H.-F., & Chen, C.-M. (2013). Journal of Information Hiding
and Multimedia Signal Processing . Evaluation of Virtual Machine Performance
and Virtualized Consolidation Ratio in Cloud Computing System.
Ebadi, Z. (2007). ICACT. Advance Banking System Features with Emphasis on
Core Banking, 573-576.
Garnieri, M. (2010). Design and Implementation of Server Virtualization in PT
Thiess Contractors Indonesia.
Gurbaxani, V., Melville, N., & Kraemer, K. (1998). Disaggregating the return on
investment to IT capital. Proceedings of the Nineteenth International.
IBM. (2007, Oktober). Virtualization in Education. Retrieved 5 28, 2013, from
http://www07.ibm.com/solutions/in/education/download/Virtualization%20in%20Education.
pdf
Porter, M. E. (1985). Competitive Advantege : Creating and Sustaining Superior
Performance. New York: The Free Press.
Proklamirsyah, A. (2013). Perencanaan Arsitektur Enterprise Perguruan Tinggi:
Studi Kasus Pendirian Universitas Yayasan "X". Jakarta: Fakultas Ilmu
Komputer, Program Studi Magister Teknologi Informasi UI.
Rasian, R., & Mursanto, P. (2009). Journal of Information Systems. Perbandingan
Kinerja Pendekatan Virtualisasi.
Robertson, B., & Sribar, V. (2001). The Adaptive Enterprise : IT Infrastructure
Strategies to Manage Change and Enable Growth. Intel Press.

82

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

83

Tallon, P. P. (2007). Inside the adaptive enterprise: an information technology


capabilities perspective on business process agility.
Tallon, P. P. (2009). How Information Technology Infrastructure Flexibility
Shapes Strategic Allignment, 413 - 443.
The Open Group. (2009). TOGAF version 9.1. Van Haren Publishing.
Vintantonio, G. D., Smith, J. L., Millar, W., & Wilkinson, M. (2006). Meeting
business objectives through adaptive information and communications
technology.
VMware. (2007). Understanding Full Virtualization, Paravirtulization, and
Hardware
Assist.
Retrieved
5
28,
2013,
from
http://www.vmware.com/files/pdf/VMware_paravirtualization.pdf
VMware. (2009). The Benefits of Virtualization for Small and Medium Business.
Retrieved 6 11, 2013, from http://www.vmware.com/files/pdf/VMware-SMBSurvey.pdf
Ward, J., & Peppard, J. (2004). Strategic Planning for Information Systems (3 rd
ed). John Wiley & Sons, LTD.
Weill, P., & Broadbent, M. (2002). Building IT infrastructure for strategic agility.
Sloan Management Review.
Weill, P., & Ross, J. (2004). IT Governance: How Top Performers Manage IT
Decision Rights for Superior Results. Harvard Business School Press.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

84

LAMPIRAN

Lampiran 1 : Hasil Wawancara

1. General Manager Pengembangan Bisnis


Dari hasil wawancara dengan GM Pengembangan Bisnis terkait peran TI
terhadap pengembangan bisnis adalah sebagai berikut:
a. TI adalah faktor yang sangat vital terhadap pengembangan produk dan
bisnis. Tanpa TI, bisnis tidak dapat menjual produknya.
b. Kondisi saat ini, TI belum mampu memenuhi ekspektasi bisnis, terutama
transactional banking.
2. General Manger Teknologi Informasi
Dari hasil wawancara dengan GM TI terkait perencanaan infrastruktur TI yang
terkait dengan perencanaan infrastktur TI menggunakan kerangka arsitektur
TI:
a. Pengembangan arsitektur TI sebaiknya mengacu kepada corporate plan
2012 2016.
b. Pengembangan arsitektur TI dan perencanaan infrastruktur TI sebaiknya
dimulai dari usulan penulis dengan cara melakukan observasi dan review
dokumen.
3. Kepala Divisi Strategi dan Transformasi Project Management Office (TPMO)
Dari hasil wawancara dengan Kepala Divisi Strategi Bisnis terkait pengadaan
perangkat TI adalah sebagai berikut:
a. TI terlalu fokus kepada kepentingan sendiri
b. Banyak proyek yang tidak mendukung bisnis
4. Kepala Divisi Pengembangan Teknologi Informasi (DPTI)
Dari hasil wawancara dengan Kepala DPTI terkait pengembangan aplikasi dan
infrastuktur TI adalah sebagai berikut:
Banyak hal atau pekerjaan di luar coreplan, sehingga cukup menyita waktu.
Dibutuhkan suatu framework yang efektif dan efisien terkait TI agar dapat
mengakomodir kebutuhan bisnis yang berubah dengan cepat.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

85

5. Kepala Divisi Dukungan dan Operasi Teknologi Informasi (DOTI)


Dari hasil wawancara dengan Kepala DOTI terkait tugas dan tanggung jawab
salah unit di DOTI yang tumpang tindih terkait dengan infrastruktur TI adalah
sebagai berikut:
Bank XYZ tidak memiliki unit Research and Development (R&D) yang fokus
pada

pengembangan bisnis

organisasi

secara

menyeluruh.

Sehingga

pembagian tugas dan tanggung jawab terhadap pengembangan infrastruktur TI


dibebankan kepada divisi DOTI yang seharusnya hanya terkait dengan
operasional infrastuktur TI.
6. Kepala Divisi Pelayanan
a. Availability
Kecenderungan incident (frekuensi meningkat dan penanganannya lebih
lama)
b. E-recon
Belum dilaksaksanakan, belum tuntas
c. Masih terjadi downtime meskipun ada HA
Harapan : tidak ada downtime
d. Penetapan skala prioritas terkait TI :
Pelayanan tidak diprioritaskan, prioritas yang ada saat ini cenderung pada
bisnis
e. Koordinasi di internal TI tidak baik, sehingga berdampak ke user
f. Kualitas aplikasi kurang
Pada saat UAT tidak clear. UAT sering diulang karena tidak sesuai dengan
kebutuhan yang telah disampaikan di awal pengembangan aplikasi
g. Perbaikan aplikasi lama
h. Kecepatan mengadopsi tren teknologi masih kurang, pengembangannya
lama
i. Tools untuk operasional masih kurang
j. Masih lambat di cabang untuk akses aplikasi
7. Manajer Pengembangan Kredit Program
a. Kendala

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

86

i.

Web portal belum update, kurang lengkap fiturnya dan tidak


interaktif (simulasi kurang, contoh : simulasi kredit)

ii.

Problem ATM
-

Sering disconnect

Fitur di ATM kurang mencerminkan aktivitas dan produk bank


(dibanding bank lain)

Konfirmasi transaksi di ATM kurang memudahkan nasabah

Kelebihan : kecepatan respon transaksi

iii.

Kartu Kredit
-

konfirmasi

transaksi

melalui

media

lain

belum

ada

(dibandingkan bank lain)


-

lebih ke customer care secara umum yang belum ada di produk


lain

iv.

Terkait dengan permasalahan kredit program


-

ICRR kurang user friendly (ICRR = Internal Credit Risk Rating)


o

Tidak ada menu bantuan

Penggunaan aplikasi tidak efektif

ICRR, master pinjaman dan agunan


o

Sistem informasi debitur dan sistem informasi kredit serta


agunan tidak terintegrasi

SIKT pengembangan dari ICRR


o

<= 1 M full automated

> 1 M semi automated

Problem:
Fungsi kontrol tidak efektif
Komitmen user kurang
SIKT akan optimal apabila dipisahkan fungsinya
Aplikasi sering disconnect, susah akses pada saat peak
time di cabang (SIKT)

b. Ekspektasi :
i.

SIKT

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

87

Prosesnya harus optimal (sesuai dengan tujuan awal, yaitu credit


factory)

Policynya perlu diubah sesuai dengan credit factory


Perangkatnya factoring
Kebijakannya juga harus factoring

ii.

Diharapkan tidak ada duplikasi pengajuan kredit

E-mail
-

iii.

Dapat disesuaikan dengan kebutuhan

Fasilitas internet dibuka space untuk menerima dan mengirimkan


data

iv.

Jangan ada data di PC (harusnya di server)


-

Terlalu terbuka, data gampang diambil dibawa pulang

Kebocoran data

Data loss

Data protection

v.

Aplikasi diharapkan dapat diakses dari mana saja dan terkontrol

vi.

Kehandalan dan Keamanan (performance & security) dari aplikasi

vii.

Belum semua bisnis proses dicover oleh TI

viii.

Parameter informasi harus lengkap dan dinamis

8. Manajer Pemasaran Internasional Banking


a. Kendala
i. Baru menggunakan produk swift yang terkait dengan aplikasi
ii. Koordinasi antar unit susah
iii. Internasional banking adalah produk baru, bukan prioritas
iv. Kendala verifikasi tanda tangan nasabah
v. Credit factory di internasional banking belum berjalan dengan baik
vi. Butuh kecepatan transaksi di internasional banking
-

Kalau tidak cepat maka nasabah akan mengalami kerugian

Biaya nasabah meningkat


Contoh : kapal berlabuh lama

Delay shipment
Jadwal pengiriman akan lebih lama
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

88

vii. Proses transaksi internasional banking masih manual


viii. Aplikasi TPC masih dipakai untuk impor
ix. Bank lain one day service
x. COA (kebijakan akuntansi) belum selesai untuk ekspor
xi. Handling problem/ incident swift lama
Harapan: apapun problemnya, satu hari selesai (tidak boleh lewat
satu hari untuk recoverynya)
xii. Pembagian jobdesk terkait bisnis proses (transaksi) internasional
banking belum terdefinsi dengan baik.
xiii. User kesulitan untuk memahami aplikasi swift secara mendalam
-

Kendala di knowledge transfer

Secara umum terjadi kendala pada knowledge sharing dan


transfer untuk produk dan aplikasi

9. Manajer Keuangan dan Akuntansi


a. Kendala
i.

Keterbatasan informasi

ii.

Sangat minim dibandingkan dengan regulasi manajemen

iii.

Perlu pengayaan informasi

iv.

Perlu waktu

Perlu proses

Core Banking tidak dirancang untuk sistem informasi, tapi lebih ke


arah transaksional

v.

BIS hanya memindahkan data Core Banking saja tanpa memperkaya


informasi

vi.

Aplikasi silo-silo, setiap divisi punya aplikasi sendiri

b. Harapan
i.
Adanya sistem informasi yang dapat diproses langsung tanpa ke
Core Banking
ii.

Kecepatan penyajian informasi Business Intelligence

iii.

Penyajian informasi maksimal 1 jam dari kondisi saat ini. Contoh


penyajian informasi ini adalah laporan keuangan ke Bank Indonesia

iv.

Sistem transaksi dan informasi yang terintegrasi di semua unit

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

89

10. Manajer Riset dan Pengembangan Outlet


a. Kendala
i.

Persiapan infrastruktur jaringan kurang cepat (penambahan outlet


dan ATM standalone baru)

ii.

Implementasi aplikasi/ tools baru persiapannya tidak menyeluruh

iii.

Aplikasi masih silo-silo

iv.

Banyak fitur yang belum lengkap pada saat pengembangan aplikasi


baru

b. Harapan
Fitur aplikasi lengkap yang terkait dengan bisnis proses
11. Manajer Dana Komersil
a. Kendala
i.

BCM : nasabah sudah mengarah ke online transaction

ii.

Produk yang sifatnya online selalu ketinggalan


-

Fitur-fitur yang ada tidak lengkap

iii.

Penggunaan aplikasi oleh nasabah tidak lancar

iv.

Kemudahan transaksi banking (prosesnya lama untuk office


transaction)

b. Harapan
i.

Diharapkan TI bukan hanya sebagai dapur, tapi pendorong bisnis

ii.

Mobile office

12. Manajer Operasional


a. Masalah proses aplikasi
i.

Enhancement aplikasi

ii.

Divisi operasional tidak mendapatkan prioritas dalam beberapa


pengembangan aplikasi

b. Komplain cabang terkait dengan TI terkadang masih dilemparkan ke


sisdur. Komplain harusnya hanya terkait kebijakan dan SOP
c. Kasus TPC
i.

Kurang sigap

ii.

Kurang cepat responnya terhadap permasalahan TI

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

90

d. Khusus pelayanan langsung ke nasabah maksimal 1 jam untuk penanganan


incident
e. PCI DSS
Keluar masuk orang diatur, akses diatur oleh DOJD hanya untuk restricted
area dan berkaitan dengan operasional bank. Harusnya di pengelola
gedung untuk pengaturan akses ini
f. UAT
i.

Belum sesuai dengan pedoman

ii.

Banyak dipaksakan karena desakan kebutuhan

g. Pemberitahuan

terkait

dengan

rollout

tidak

disampaikan

secara

keseluruhan
h. Error SME Arsip
Arsip SME paling tidak 2 tahun terakhir
i. Ekspektasi
i.

Re engineering Core System


-

Terkait transaksi (nominal transaksi kurang)

ii.

Rollout tidak berdampak kepada aplikasi yang sudah berjalan

iii.

Koordinasi dalam pembuatan kebijakan yang terkait dengan TI

13. Manajer Pengembangan Sumber Daya Manusia


a. Kendala
i.

Proses rekrutmen masih manual (secara umum di SDM)

ii.

Tidak terintegrasi, banyak aplikasi2 kecil

iii.

HRIS tidak bisa disesuaikan dengan kebutuhan terhadap proses


yang ada

iv.

Bandwidth tidak mendukung aplikasi

v.

Perlu proses antara fitur lamaran karyawan baru ke sistem (import


data)

vi.

Pencarian fitur2 orang yang kompeten tidak ada

vii.

Keinginan banyak tapi tidak mau investasi direksi menolak

viii.

Online tes, jaringan tidak lancar dan hanya di jam2 tertentu

ix.

Kompleksitas infrastruktur tinggi,


-

Ada yang di cloud,


Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

91

x.

Ada yang di internal

Kontrolnya susah

Pencapaian kinerja, misalnya terkait dengan marketing belum


terintegrasi antara cabang dan pusat (pengembangan bisnis)
digunakan sebagai dasar peningkatan job level

xi.

E-learning masih di luar (cloud)

b. Harapan
Hanya punya 1 perangkat lunak yang terkait dengan SDM
14. Manajer Risiko Operasional
a. Kendala
i.

aspek ketersediaan data untuk analisis risiko

ii.

COA masih belum sesuai (masih banyak yang nyelonong)


contoh : biaya kompensasi karyawan

iii.

format tanggal belum standar (tanggal, bulan tahun atau bulan


tanggal tahun dst)

iv.

Format2 isian harus standar (kesulitan dalam data cleansing)

v.

Sering terjadi permasalah untuk aplikasi yang diintegrasi ke Core


Banking (dari aplikasi yang dibeli)

b. Harapan
i.

Bank

XYZ

menerapkan

metodologi

pencadangan

risiko

operasional advanced measurement approach (pilihan dari BI,


bukan wajib. pilihan untuk efisiensi pencadangan bank)
ii.

Fungsi kontrol terhadap format data yang digunakan

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

92

Lampiran 2 : Focus Group Discussion

Waktu Pelaksanaan : Rabu, 20 November 2013


Tempat

: Ruang Puri VII, Hotel Puri Denpasar, Jakarta Selatan

Acara

: Focus Group Discussion membahas masalah serta


harapan pengimplementasian sistem informasi/ teknologi
informasi di Bank XYZ

Alur Diskusi:
1. FGD dimulai dengan sesi brainstorming, dimana peneliti menyajikan
beberapa informasi kepada para peserta tentang :
a. Infrastruktur TI
b. Perencanaan infrastruktur TI dengan arsitektur TI
c. Kondisi dan dukungan SI/TI terhadap bisnis saat ini
2. Sesi dua dari FGD, peneliti memberikan informasi kepada para peserta secara
lebih dalam mengenai aplikasi dan infrastruktur pendukung yang ada saat ini
dan memberikan pertanyaan tentang masalah-masalah yang terkait
dengan hal tersebut serta harapan tentang implementasi teknologi seperti
apa yang diharapkan ada di unit kerja masing-masing.
Hasil Diskusi:
Konfirmasi informasi terkait produk dan proses bisnis, yaitu:
a. Kartu Kredit

Pemilik Produk

Retensi Data (termasuk rekaman suara)

: Divisi Kartu Kredit

o Di sistem : 2 tahun
o Di back-up : 5 tahun

Isu yang ada:


o Saat ini mirroring hanya dilakukan ke server High Availability
(HA) dan belum ke DRC karena terkendala ukuran harddisk
yang melebihi kapasitas DRC.
o Data transaksi dan log belum pernah dilakukan cleansing.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

93

o Call Center juga memiliki fitur inquiry kartu kredit sehingga


harus tetap dijaga agar terus berjalan.
b. Supply Chain

Pemilik Produk
o Semen Indonesia : Divisi Perbankan Transaksional

o Bosowa

: Divisi Perbankan Transaksional

o Bulog

: Divisi Kredit Komersil

Retensi Data
o Non-Bulog

Di sistem : 2 bulan

Di back-up : 5 tahun

o Bulog

Di sistem : 2 bulan

Di back-up : 5 tahun

Isu yang ada:


o Non-Bulog

Untuk

Tonasa

menggunakan

Corporate

Internet

Banking sehingga DRC-nya mengikuti DRC Corporate


Internet Banking
o Bulog

Perlu ada kajian terkait keberlangsungan modul aplikasi


Raskin, salah satunya karena masih berjalan di
Corporate Internet Banking versi lama

c. Produk Dana (Tabungan dan Giro)

Pemilik Produk

o Kartu

: Divisi Perbankan Transaksional

o Produk Dana

: Divisi Pengembangan Dana dan Jasa

Isu yang ada:


o Produk dana tidak termasuk tabungan pensiunan, Sikosi Mikro,
dan Sikosi Swamitra, Produk-produk ini tetap dimiliki oleh
Mikro

Permintaan:
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

94

o Butuh persentase dana yang ada di produk Mikro dan nonMikro


d. Transactional Banking

Pemilik Produk
o X/link

: Divisi Perbankan Transaksional

o RTGS

: Divisi Perbankan Transaksional

o SKN

: Divisi Transaksi

o SWIFT

: Divisi Perbankan Internasional

o Autodebet

: Divisi Perbankan Transaksional

o Payroll

: Divisi Perbankan Transaksional

o TPC

: Divisi Perbankan Internasional

o OPICS

: Divisi Treasury

Retensi data
o Di sistem : 2 bulan
o Di back-up : 5 tahun

Isu yang ada


o Back-up masih berada di mesin yang sama

e. Kredit Retail dan Mikro

Pemilik Produk
o Swamitra system : Divisi Pengembangan Produk Mikro

o BPR system

: Divisi Pengembangan Produk Mikro

o SIKM

: Divisi Pengembangan Produk Mikro

o SIKT

: Divisi Pengembangan Produk Kredit

o E-flow

: Divisi Kredit

o E-Karip

: Divisi Pengembangan Produk Mikro

Retensi Data
o Swamitra system dan BPR system

Di sistem

: 6 bulan

Di back-up

: 5 tahun

o SIKM, SIKT, dan E-Flow

Di sistem

: 2 bulan

Di back-up

: 5 tahun
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

95

o E-Karip

Di sistem

: 5 tahun

Di back-up

: 10 tahun

f. Operational Excellence dan Regulasi

CSA
o Pemilik Produk

: Divisi Kepatuhan (Disarankan dipindah ke

Divisi Pengembangan Produk Kredit)


o Retensi Data

: 5 tahun

ICRR
o Pemilik Produk

: Divisi Manajemen Risiko

o Retensi Data

: 5 tahun

CWA
o Pemilik Produk

: Divisi Kepatuhan

o Retensi Data

: 5 tahun

SAPU
o Pemilik Produk

: Divisi Kepatuhan

o Retensi Data

: 5 tahun

g. Riset dan Data Warehouse

LBU (Laporan Bank Umum)


o Pemilik Produk

Divisi

Perencanaan

Keuangan

dan

Perencanaan

Keuangan

dan

Akuntansi
o Retensi Data

: 5 tahun

BIS (Business Information System)


o Pemilik Produk

Divisi

Akuntansi
o

Retensi Data

Isu

: 5 tahun

Sebaiknya dipilih modul mana yang masih diperlukan,


sisanya akan didisposal

Neraca Direktorat
o Pemilik Produk

Divisi

Perencanaan

Keuangan

dan

Akuntansi
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

96

o Retensi Data

: 5 tahun

GL (General Ledger)
o Pemilik Produk

Divisi

Perencanaan

Keuangan

dan

Akuntansi
o Retensi Data

: 5 tahun

o Isu

Perlu reklasifikasi berdasarkan dengan informasi produk

SID (Sistem Informasi Debitur)


o Pemilik Produk

: Divisi Legal dan Investigasi Kredit,

disarankan Divisi Pengembangan Produk Kredit


o Retensi Data

: 5 tahun

CRM (Customer Relationship Management)


o Pemilik Produk

: Divisi Manajemen Penjualan

o Retensi Data

: 5 tahun

HRIS (Human Resource Information System)


o Pemilik Produk

: Divisi Pengembangan dan Sumber Daya

Manusia
o Retensi Data

Transaksi

: 5 tahun

Personal

: Selama dibutuhkan (masa kerja)

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

97

Lampiran 3 : Infrastruktur TI Bank XYZ tidak adaptif


1. Kebutuhan bisnis tidak dapat diakomodir dengan cepat. Infrastruktur TI Bank
XYZ tidak adaptif untuk mengakomodir implementasi aplikasi baru sehingga
tidak sesuai dengan jadwal yang ditetapkan karena harus menunggu
pengadaan infrastruktur baru. Solusi sementara dengan peminjaman perangkat
keras ke vendor sebelum dilakukan pengadaan infrastruktur TI dilakukan agar
implementasi sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Proses peminjaman
perangkat keras tersebut dapat dapat dilihat pada rekaman berikut ini:

2. Peningkatan jumlah infrastruktur server aplikasi dan server basis yang


menunjukkan infrastruktur TI Bank XYZ tidak adaptif. Peningkatan
infrastruktur server ditandai dengan penambahan 10 server aplikasi dan 5
server basis data yaitu 2 server basis data Oracle dan 3 server basis data
Microsoft SQL Server. Penambahan jumlah server dibandingkan dengan
jumlah server yang ada saat ini dapat dilihat pada grafik berikut ini:

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

98

120
100
80
60
Penambahan Server
40

Jumlah Server

20
0

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

99

Lampiran 4 : Perancangan Virtualisasi Server


Desain infrastruktur virtualisasi server melibatkan empat komponen yang
menyusun infrastruktur, yaitu jaringan, host, virtual machine (VM), dan tempat
penyimpanan data (storage). Komponen jaringan menghubungkan host dengan
host lain (jaringan internal) melalui core switch. Komponen ini juga
menghubungkan host dengan jaringan mesin produksi perusahaan (jaringan
eksternal). Tiap-tiap host memiliki 2 network interface card (NIC). NIC pertama
digunakan untuk manajemen host dan jalur migrasi VM sedangkan NIC kedua
digunakan untuk jalur komunikasi data antara sejumlah VM di dalam host dengan
komputer-komputer di luar infrastruktur virtual (jaringan produksi). Pemisahan ini
dilakukan agar manajemen host dan proses VMotion yang relatif banyak
menggunakan bandwidth jaringan, tidak menggangu kelancaran jaringan produksi
(Garnieri, 2010).

Manajemen host dan cluster dilakukan melalui Virtual Center (VC) Server yang
juga terhubung dengan core switch. Administrator dapat mengakses VC Server
melalui PC manapun yang berada di jaringan perusahaan. Untuk memudahkan
manajemen infrastruktur virtual, administrator dapat menggunakan antar muka
Virtual Interface (VC) Client yang terhubung dengan VC Server. Selain dengan VI
Client, administrator juga dapat melakukan administrasi host secara individual
menggunakan antar muka berbasis Web atau console. Metode tersebut dilakukan
dengan membuka alamat IP Service Console (COS) host yang dimaksud. Kedua
metode tersebut tidak dapat digunakan untuk manajemen cluster, termasuk
menjalankan fitur VMotion dan DRS. Infrastruktur virtualisasi server tidak
menggunakan child resource pool, namun root resource pool, yaitu sumber daya
sistem dilihat sebagai jumlah dari sumber daya prosesor dan memori cluster.
Terdapat 3 host di cluster, rata-rata tiap host dapat mengoperasikan 4 VM.

Untuk mengakomodasi kebutuhan, maka spesifikasi perangkat keras mesin server


masing-masing host memiliki 16 prosesor dan kapasitas memori minimal 64 GB.
Apabila dijumlahkan, cluster tersebut memiliki total kecepatan prosesor 48
prosesor dan kapasitas memori 196 GB. Jika dibandingkan dengan mesin server
Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

100

normal, maka mesin server yang digunakan sebagai host memiliki spesifikasi
mesin server yang lebih tinggi, terutama kapasitas memori.

Pada komponen media penyimpanan data, digunakan Ethernet Giga Storage Area
Network (SAN). Penggunaan SAN merupakan salah satu syarat fitur VMotion dan
DRS. Sebuah volume LUN yang menjadi lokasi penyimpanan suatu VM dapat
diakses oleh ketiga host, sehingga ketika proses VMotion berlangsung, tidak
terjadi replikasi data storage, namun hanya replikasi state VM dari host asal ke
host tujuan. SAN menyediakan mekanisme penguncian agar suatu VM yang
sudah diaktifkan oleh suatu host tidak dapat diaktifkan kembali oleh host lain.
Masing-masing host memiliki 1 HBA yang terhubung ke port Fibre Channel (FC)
switch. Media yang digunakan untuk menghantarkan data adalah kabel fibre optic
(FO). Koneksi redundant tersedia dari FC switch ke SAN enclosure, untuk
menjaga koneksi tetap terjaga ketika salah satu jalur terputus. Fibre Channel
menyediakan lebar pita hingga 10 Gbps yang mendukung untuk proses baca-tulis
antara host dengan SAN.

Desain jaringan virtualisasi

Pada desain jaringan virtualisasi, VM ditempatkan di SAN, karena secara fisik,


seluruh konfigurasi dan volume disk yang terasosiasi dengan suatu VM disimpan
di dalam volume LUN SAN. Konfigurasi VM (file .vmx) dimuat (load) ke suatu
host sehingga VM secara logika terasosiasi dengan host tesebut. Dengan desain
tersebut, migrasi VM dapat dilakukan tanpa harus memindahkan file-file VM dari
sebuah host ke host lain. Hanya akses ke LUN saja yang diubah. Setiap VM
memiliki 1 virtual NIC (vNIC). Masing-masing vNIC memiliki macaddress dan
alamat IP, seperti perangkat NIC fisik. Port vNIC terhubung dengan sebuah port
di switch virtual (vSwitch). Setiap port uplink vSwitch kemudian diasosiasikan
dengan sebuah vmnic di host. vmnic inilah yang menjadi gerbang komunikasi data
antara VM dengan jaringan di luar infrastruktur virtual. Contoh desain jaringan ini
dapat pada gambar berikut ini.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

101

Sejumlah port di vSwitch dapat dikelompokkan ke dalam port group. Port group
berfungsi sebagai mekanisme manajemen sejumlah vNIC, seperti pemberian label
jaringan, aturan keamanan, dan aturan kualitas layanan (QoS). Proses VMotion
dapat berlangsung pada host tujuan yang memiliki label jaringan yang sama
dengan host asal atau perpindahan VM hanya dapat dilakukan dalam sebuah
cluster host.

Ketiga host memiliki desain dan konfigurasi jaringan yang sama. Vmnic pertama
yang digunakan sebagai jalur produksi memiliki label jaringan (port group)
Virtual Network1. Vmnic kedua yang memiliki label Virtual Network2 berguna
sebagai jalur manajemen. Jalur manajemen memiliki 2 komponen, yaitu service
console dan VMkernel. Desain dan konfigurasi jaringan ini telah memenuhi
persyaratan Vmotion dan DRS.

Media penyimpanan data

Sistem operasi pada tiap-tiap VM mengacu kepada storage area network (SAN)
sebagai SCSI disk yang terhubung ke SCSI HBA virtual. VM tidak dapat
mengakses SAN secara langsung, namun melalui layer virtualisasi VMware ESX.
Permintaan baca-tulis oleh sistem operasi di dalam VM akan diteruskan ke HBA
host. Masing-masing host memiliki 1 HBA yang terhubung ke 1 port FC switch

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014

102

melalui kabel FO dengan lebar pita 10 Gbps. FC switch dihubungkan dengan port
front end (FE) Storage Processor (SP) melalui kabel FO dengan lebar pita 10
Gbps.

Kabel FO yang digunakan seluruhnya bertipe multimode, yang dapat


menggunakan lebar gelombang lebih pendek dibandingkan tipe singlemode. Port
back end (BE) SP dihubungkan ke port utama (PRI) Disk Array Eclosure (DAE)
melalui kabel FO dengan lebar pita 10 Gbps. Jumlah DAE dapat ditambah
maupun dikurangi untuk menyesuaikan kebutuhan perusahaan. Penambahan
dilakukan dengan menghubungkan port ekspansi (EXT) DAE dan port PRI DAE
tambahan melalui kabel FO yang memiliki lebar pita 10 Gbps. Desain media
penyimpanan data infrastruktur virtualisasi server dapat dilihat pada gambar
berikut ini.

Universitas Indonesia

Perencanaan infrastruktur ..., Haryo Isdianto, Fasilkom UI, 2014