Anda di halaman 1dari 3

Pembangkit Listrik Tenaga Osmosis

6/06/2010 Hanif Guntoro 4 komentar

Kebutuhan terhadap sumber energi, terutama energi listrik, mendorong


munculnya banyak variasi sumber pembangkit. Terlebih adanya desakan untuk menciptakan
sumber pembangkit ramah lingkungan, menjadi salah satu faktor pendorong untuk mencari
sumber energi lain selain bahan bakar fosil. Salah satu yang saat ini sedang ramai adalah
pembangkit dengan konsep renewable energy yang umumnya sudah banyak dikembangkan di
negara negara maju. Salah satu bagian dari renewable energy adalah pembangkit listrik
menggunakan teknik energi osmosis yang akan dibahas pada artikel ini.
Pada prinsipnya, proses pembangkitan listrik melibatkan perubahan energi kinetik menjadi
energi listrik (memutar rotor pada generator). Energi kinetik inilah yang umum menjadi
permasalahan. Hal ini dikarenakan pada metode pembangkitan secara konvesional (seperti
pembangkit berbahan bakar fosil) bahan bakar tersebut akan dibakar untuk memanaskan air,
yang pada proses selanjutnya akan menghasilkan tekanan untuk memutar rotor. Hal inilah
yang kemudian dilihat dan berusaha dimanfaatkan pada proses osmosis.
Berdasarkan pengertiannya, Osmosis merupakan salah satu sifat yang dimiliki dari benda cair
(fluida) untuk berpindah melalui lapisan semiperrmiabel diantara 2 fluida yang memiliki
kepekatan berbeda. Lapisan semipermiabel ini berfungsi untuk memisahkan 2 lapisan dan
hanya mampu ditembus oleh air, sementara partikel yang lain tertahan. Sehingga arah
pergerakan fluida berasal dari fluida dengan kepekatan rendah menuju fluida dengan
kepekatan lebih tinggi hingga dicapai kepekatan yang sama.
Perpindahan fluida ini akan mengakibatkan adanya perubahan volume yang juga
mengakibatkan tekanan pada sisi fluida yang lebih pekat. Tekanan ini kemudian akan
menyebabkan pergerakan fluida dan tekanan yang dapat digunakan sebagai sumber energi
kinetik. Konsep inilah yang kemudian digunakan pada pembangkit listrik dengan konsep
teknik osmosis dengan memanfaatkan air laut. Dengan memanfaatkan kepekatan air laut dan
juga air murni, pembangkit listrik dengan teknik osmosis dapat dikembangkan.
Untuk lebih memahami mengenai proses osmosis, dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Pada kondisi awal

Pada saat proses osmosis telah mencapai titik keseimbangan


Teknik osmosis yang digunakan pada pembangkit listrik memiliki 2 tipe yang berbeda, yaitu
SHEOPP Converter dan Underground PLO Plant.
SHEOPP Converter
SHEOP Converter merupakan pembangkit listrik yang terpasang di dasar permukaan laut.
Prinsip yang digunakan pada pembangkit ini adalah menggunakan air laut sebagai fluida
pekat, dan memanfaatkan aliran air sungai atau dam yang berfungsi sebagai fluida yang
kurang pekat. Dasar peletakan pembangkit ini didasar laut dikarenakan faktor beda
ketinggian dan juga kadar kepekatan air laut itu sendiri. Faktor ini cukup mempengaruhi
energi listrik yang nantinya dapat dibangkitkan.

SHEOPP Converter Plant


Underground PLO Plant
Pada prinsipnya, tipe pembangkit Undergorund PLO Plant memiliki prinsio kerja yang sama
dengan SHEOPP Converter. Perbedaan terletak pada penempatan pembangkit. Jika pada
SHEOPP Converter, pembangkit diletakkan pada bagian dasar laut untuk memastikan

tekanan dan jumlah fluida yang tepat, maka pada pembangkit tipe Undergorund PLO plant
pembangkit diletakkan di bawah tanah. Hal ini yang didasarkan untuk memunculkan
perbedaan tekanan, dengan mengalirkan air dari sungai atau dam dan air laut menuju ke level
tekanan yang lebih rendah. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Underground PLO Plant


Akan tetapi, seperti banyak pembangkit renewable energy lainnya, konsep pembangkit
dengan teknik osmosis masih mendapat banyak tantangan. Hal ini terkait dengan faktor
faktor kualitas, kuantitas, dan ekonomis yang kurang baik. Permasalahan terutama terpaku
pada kemampuan lapisan semipermiabel sebagai bagian penting teknik ini, dan juga faktor
biaya yang dibutuhkan dalam menghasilkan energi listrik per Watt-nya.Oleh karena itu masih
sedikit pembangkit listrik dengan teknik ini yang dikembangkan.
Perkembangan pembangkit dengan teknik ini sampai sekarang, hanya terdapat beberapa
tempat , diantaranya adalah oleh perusahaan Starkraft di Tofte, Norwegia dan Eddy Potash
Mine di New Mexico. Bahkan ketika pertama kali dibangun, pembangkit listrik yang berada
di Norwegia hanya mampu menghasilkan beberapa kilo-Watt yang jika dikonversikan hanya
dapat memanaskan air untuk 1-2 ketel.
Perhatian pada pembangkit ini pun akhirnya menarik beberapa pihak untuk meneliti dan
menelaah lebih jauh. Salah satunya adalah perhatian untuk peningkatan kerja pada sisi
lapisan semipermiabelnya. Namun, seiring waktu berjalan, bukanlah sesuatu yang tidak
mungkin apabila di masa depan pembangkit dengan teknik ini dapat menjadi salah satu
bagian dari sistem pembangkit listrik dengan dasar renewable energy.
Referensi :
[1] http://www.exergy.se/goran/cng/alten/proj/97/o/
[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Osmotic_power
[4] http://www.osmosefilmer.com/engelsk2.html
[3]Haynie, Donald T. (2001). Biological Thermodynamics. Cambridge: Cambridge
University Press. pp. 130136.
[5]http://www.osti.gov/bridge/servlets/purl/756432-k7Q3X9/webviewable/
[6] http://www.newscientist.com/article/dn18204-first-osmosis-power-plant-goes-on-streamin-norway.htm