Anda di halaman 1dari 5

PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU DI DAERAH KOTA GUNUNGSITOLI

PROPOSAL

Disusun oleh:
Nama : William Andri Saputra Harefa
Nim

: 14314657

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI YOGYAKARTA
2016

1.1 Latar Belakang Permasalahan


Persampahan merupakan masalah yang tidak dapat diabaikan, karena di dalam semua
aspek kehidupan selalu dihasilkan sampah, disamping produk utama yang diperlukan.
Sampah akan terus bertambah seiring dengan banyaknya aktifitas manusia yang disertai
semakin besarnya jumlah penduduk di Indonesia.
Pengelolaan sampah meliputi pewadahan, pengumpulan, pemindahan, pengangkutan,
pengolahan dan pembuangan akhir. Sedangkan dalam ilmu kesehatan lingkungan suatu
pengelolaan sampah dianggap baik jika sampah tersebut tidak menjadi tempat berkembang
biaknya bibit penyakit serta sampah tersebut tidak menjadi medium perantara menyebar
luasnya suatu penyakit. Syarat lainnya yang harus terpenuhi dalam pengelolaan sampah ialah
tidak mencemari udara, air dan tanah, tidak menimbulkan bau (segi estetis), tidak
menimbulkan kebakaran dan lain sebagainya. Sehingga jelas bahwa pentingnya pengelolaan
sampah, karena melihat perkembangan waktu yang senantiasa diiringi dengan pertambahan
penduduk maka otomatis jumlah timbulan sampah semakin meningkat sementara lahan yang
ada tetap. Sehingga jelas bahwa pentingnya pengelolaan sampah, karena melihat
perkembangan waktu yang senantiasa diiringi dengan pertambahan penduduk maka otomatis
jumlah timbulan sampah semakin meningkat sementara lahan yang ada tetap.
Di dalam semua aspek kehidupan manusia selalu menghasilkan sampah (by-product)
disamping produk utama yang diperlukan atau digunakan. Untuk daerah pedesaan, dimana
pertanian merupakan kegiatan/pekerjaan utama dimana sampah yang dihasilkan jumlahnya
sedikit yang mana sampah tersebut dapat diuraikan sendiri oleh alam, dimana hewan
memakan sisa makanan dan bahan-bahan lain dapat dibuang ke tanah dengan demikian dapat
menguraikan sampah tersebut.
Di daerah perkotaan, dimana jumlah penduduk semakin besar dan kepadatan semakin
tinggi, sampah tidak dapat lagi diolah oleh alam. Karakteristik sampah menjadi semakin
beragam sejalan dengan meningkatnya standar hidup, dan volume sampah semakin
meningkat dengan cepat. Cara pewadahan sampah telah berubah dari sistem ditumpuk pada
wadah terbuka (keranjang) menjadi sistem kantong. Cara pengangkutan telah berubah dari
sistem manual atau menggunakan hewan menjadi motor dan dari truk terbuka menjadi truk
dengan sistem compaktor. Permasalahan baru juga timbul dengan adanya bangunanbangunan bertingkat apartemen, supermarket, limbah industri dan lain-lain.
Faktor utama yang akan membedakan jenis dan karakteristik terdapat pada tingkat
sosial budaya ekonomi masyarakat, hal ini terlihat perbedaan yang sangat besar antara
karakteristik, volume dan lain-lain. Sampah antara negara-negara maju dan berkembang

sangat berbeda jauh. Biasanya pada negara maju, sistem manajemen pengolahan sampah
sangat baik tanpa mengalami kesulitan dalam pengelolaannya. Hal ini di dukung dengan
hal-hal berikut ini:
a. Tingkat kesejahteraan nasional yang tinggi dan akan masih terus bertambah.
b. Sistem perpajakan yang baik sehingga pendanaan untuk sampah teralokasi pada
perpajakan tersebut.
c. Kesejahteraan hidup bersih dan manajemen persampahan yang baik.
d. Partisipasi masyarakat yang baik dalam hal penanganan sampah.
Pada negara berkembang (kota-kota di Asia) mempunyai kepadatan penduduk yang
lebih tinggi dari kota-kota di negara maju. Hal ini disebabkan oleh adanya urbanisasi
(perpindahan menuju ke kota). Pengelolaan persampahan di negara maju masih sangat
memprihatinkan dikarenakan ketidaktersediaan dana yang mencukupi serta tidak adanya
partisipasi masyarakat dalam pengelolaan persampahan, serta adanya perbedaan iklim,
ekonomi dan sosial budaya.
Sistem pengelolaan persampahan di daerah perkotaan perlu mendapatkan perhatian
khusus, selain karena pengelolaan sampah di daerah perkotaan sangat penting karena melihat
dari timbulan sampah yang besar (kepadatan penduduk tinggi). Tidak
adanya lahan sebagai tempat pengolahan dimana akhirnya menimbulkan pencemaran
terhadap lingkungan.
Menurut Arianto Wibowo & Darwin T Djajawinata (2002), Persampahan telah menjadi
suatu agenda permasalahan utama yang dihadapi oleh hampir seluruh perkotaan di Indonesia.
Pesatnya pertambahan penduduk yang disertai derasnya arus urbanisasi telah meningkatkan
jumlah sampah di perkotaan dari hari keharinya. Keterbatasan kemampuan Dinas Kebersihan
dalam menangani permasalahan tersebut menjadi tanda awal dari semakin menurunnya
sistem penanganan permasalahan tersebut. Hal ini semakin sulit karena adanya keterbatasan
lahan untuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, dan terkendala jumlah kendaraan
serta kondisi peralatan yang telah tua. Belum lagi pengelolaan TPA yang tidak sesuai dengan
kaidah-kaidah yang ramah lingkungan. Kekurangpedulian penanganan persampahan ini dapat
terlihat dari kecilnya anggaran yang disediakan untuk menangani permasalahan persampahan
ini. Sementara disisi lain, penghasilan yang didapat dari pelayanan persampahan masih jauh
dari tingkat yang memungkinkan adanya penanganan yang mandiri dan berkelanjutan. Sistem
pentarifan dalam bentuk retribusi masih konvensional dan tidak memungkinkan adanya
insentif bagi operator .
Untuk memahami permasalahan tersebut, perlu dilihat beberapa aspek yang menaungi
sistem pengelolaan persampahan tersebut, meliputi :

1. Aspek teknis
2. Aspek kelembagaan
3. Aspek manajemen dan
4. Keuangan.
Dengan melakukan peninjuan beberapa aspek diatas, dapat disimpulkan perlunya suatu
rencana tindak (action plan) yang meliputi:
1. Melakukan pengenalan karekteristik sampah dan metode pembuangannya.
2. Merencanakan dan menerapkan pengelolaan persampahan secara

terpadu

(pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan akhir).


3. Memisahkan peran pengaturan dan pengawasan dari lembaga yang ada dengan fungs
operator pemberi layanan, agar lebih tegas dalam melaksanakan reward & punishment
dalam pelayanan.
4. Menggalakkan program Reduce, Reuse dan Recycle (3 R) agar dapat tercapai program
zero waste pada masa mendatang.
5. Melakukan pembaharuan struktur tarif dengan menerapkan prinsip pemulihan biaya
(full cost recovery) melalui kemungkinan penerapan tarif progresif, dan mengkaji
kemungkinan penerapan struktur tarif yang berbeda bagi setiap tipe pelanggan.
6. Mengembangkan teknologi pengelolaan sampah yang lebih bersahabat dengan
lingkungan dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi bahan buangan .
Adapun perbaikan sistem pengelolaan persampahan adalah dengan menggunakan
sistem composting, karena sebagian besar sampah yang dihasilkan berasal dari bahan
organik, yaitu dengan pemanfaatan ulang sampah organik melalui proses pembusukan.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Adapun rumusan masalah dalam perencanaan pengelolaan sampah antara lain :
1. Berapa besar volume sampah yang dihasilkan dan bagaimana komposisi, timbulan
berdasarkan sifatnya.
2. Manajemen persampahan yang meliputi sistem pewadahan/pemilahan, pengumpulan,
pengangkutan dan pengolahan.
3. Partisipasi dan sikap masyarakat terhadap pengelolaan sampah.
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Maksud penyusunan Laporan Tugas Akhir ini adalah mengevaluasi dan merencanakan
kembali sistem pegelolaan sampah domestik, meliputi :

1. Untuk mengetahui volume, komposisi, dari timbulan sampah rata-rata per orang per
hari sebagai dasar perencanaan pengelolaan sampah terpadu.
2. Untuk mengetahui dan merencanakan sistem manajemen persampahan yang meliputi
sistem pewadahan/pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahan.
3. Untuk mengetahui partisipasi dan sikap masyarakat terhadap pengelolaan sampah.
1.4 BATASAN MASALAH
Batasan-batasan dan ruang dari pelaksanaan perencanaan pengelolaan sampah
adalah sebagai berikut :
1. Pengelolaan yang dilakukan adalah pengelolaan dari sumber timbulan sampah, tempat
penampungan sementara dan pembuatan reaktor kompos.
2. Akan diberikan alternatif pengolahan ditempat penampungan sementara berdasarkan
hasil penelitian.
3. Pengelolaan yang akan direncanakan adalah pengelolaan terhadap sampah yang
4.
5.
6.
7.

dihasilkan.
Menghitung besaran timbulan sampah dan mengukur volume sampah per hari.
Tidak dilakukan perhitungan biaya yang diperlukan dalam pengelolaan.
Jenis sampling yang digunakan adalah metode random sampling.
Daerah yang akan diteliti adalah Kota Gunungsitoli.

1.5 MANFAAT
Manfaat dari penyusunan laporan Tugas Akhir Ini adalah :
1. Dapat mengetahui dan merencanakan tempat sampah/bak sampah serta bahan yang
digunakan.
2. Memberikan pengetahuan mengenai pengelolaan persampahan.
3. Secara umum penelitian ini diharapkan akan bermanfaat bagi peneliti yang berminat
untuk mengkaji lebih lanjut tentang pengelolaan persampahan.

1.6 TINJAUAN PUSTAKA