Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

KEWARGANEGARAAN
Tentang

KETIDAK HARMONISAN KEHIDUPAN BERAGAMA


WARGA NEGARA MELEMAHKAN UPAYA
PEMBANGUNAN NEGARA

Disusun oleh:
Mega Octavia
NPM: C1B016068
Dosen pembimbing:
Bapak Jarto tarigan
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PROGRAM STUDY MANAJEMEN UNIVERSITAS BENGKULU
2016

Daftar isi
Kata pengantar ............................................................................................i
Daftar isi ......................................................................................................ii
Bab I pendahuluan .......................................................................................1
A. Latar belakang ........................................................................................1
B. Rumusan masalah ....................................................................................2
C. Tujuan ...................................................................................... 3
D. Manfaat ...................................................................................3
Bab II PEMBAHASAN............................................... 4
A. Faktor yang melatarbelakangi ketidak harmonisan kehidupan beragama
warganegara...................................................................................... 4
B. akibat ketidakharmonni8san kehidupan beragama warganegara.. .......... 5
Bab III Penutup........................................................... 6
A. Kesimpulan................................................................................ 6
B. saran............................................................................. 10

KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, puji syukur
saya panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat, Hidayah, dan InayahNya sehingga saya dapat merampungkan penyusunan tugas makalah KEWARGANEGARAAN
dengan judul "KETIDAK HARMONISAN KEHIDUPAN BERAGAMA WARGA NEGARA
NELEMAHKAN UPAYA PEMBANGUNAN NEGARA" tanpa kesulitan yang berarti.
Namun tidak lepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat
kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya. Oleh karena itu, dengan lapang
dada saya membuka selebar-lebarnya pintu bagi dosen dan para pembaca yang ingin memberi
saran maupun kritik demi memperbaiki makalah ini.
Akhirnya penyusun sangat mengharapkan semoga dari makalah sederhana ini dapat
diambil manfaatnya dan besar keinginan saya dapat menginspirasi para pembaca untuk
mengangkat permasalahan lain yang relevan pada makalah-makalah selanjutnya.

Bengkulu, 07 November 2016


Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Tidak bisa dibantah bahwa, pada akhir-akhir ini, ketidakerukunan antara umat beragama
terpicu karena bangkitnya fanatisme keagamaan, menghasilkan berbagai
ketidakharmonisan di tengah-tengah hidup dan kehidupan berbangsa, bernegara, dan
bermasyarakat.
Oleh sebab itu, perlu orang-orang yang menunjukkan diri sebagai manusia beriman dan
beragama dengan taat, namun berwawasan terbuka, toleran, rukun dengan mereka yang
berbeda agama. Disinilah letak salah satu peran umat beragama dalam rangka hubungan
antar umat beragama, yaitu mampu beriman dengan setia dan sungguh-sungguh,
sekaligus tidak menunjukkan fanatik agama dan fanatisme keagamaan.
Di balik aspek perkembangan agama-agama, ada hal yang penting pada agama yang tak
berubah, yaitu credo atau pengakuan iman. Credo merupakan sesuatu khas, dan mungkin
tidak bisa dijelaskan secara logika, karena menyangkut iman atau percaya kepada sesuatu
di luar jangkauan kemampuan nalar manusia. Dan seringkali credo tersebut menjadikan
umat agama-agama melakukan pembedaan satu sama lain. Dari pembedaan, karena
berbagai sebab, bisa berkembang menjadi pemisahan, salah pengertian, beda persepsi,
dan lain sebagainya, kemudian berujung pada konflik.

B. RUMUSAN MASLAH
1. Apa factor yang melatarbelakangi ketidak harmonisan kehidupan beragama warga
Negara?
2. Apa akibat ketidak harmonisan kegidupan beragama warga Negara?
3. Upaya apa saja yang dapat meningkatkan keharmonisan kehidupan beragama warga
Negara?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa saja factor yang melatarbelakangi ketidakharmonisan
kehidupan warga Negara.
2. Untuk mengetahui apa akibat dari ketidak harmonisan kehidupan beragama warga
Negara.
3. Untuk mengetahui upaya meningkatkan keharmonisan kehidupan beragama warga
Negara.
D. MANFAAT PENULISANAgar pembaca lebih bijak dalam menjalani kehidupan
beragama, serta menghargai segala perbedaan yang ada dalam lingkungan kehidupan
beragama demi meningkatkan kesejahteraan bersama.

BAB II

PEMBAHASAN
A. FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI KETIDAK HARMONISAN KEHIDUPAN
BERAGAMA.

1. Perbedaan yang ada salah dipahami dan salah disikapi, dan tidak dilihat dan

2.

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

ditanggapi secara positif serta tidak dikelola dengan baik dalam konteks
kemajemukan.
Fanatisme yang salah. Penganut agama tertentu menganggap hanya agamanyalah
yang paling benar, mau menang sendiri, tidak mau menghargai, mengakui dan
menerima keberadaan serta kebenaran agama dan umat beragama yang lain.
Umat beragama yang fanatik (secara negatif) dan yang terlibat dalam konflik ataupun
yang menciptakan konflik adalah orang-orang yang pada dasarnya :
kurang memahami makna dan fungsi agama pada umumnya;
kurang memahami dan menghidupi agamanya secara lengkap, benar, mendalam;
kurang matang imannya dan takwanya;
kurang memahami dan menghargai agama lain serta umat beragama lain;
kurang memahami dan menghargai hakekat dan martabat manusia;
kurang memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang universal, terutama hati nurani dan
cinta kasih;
kurang memahami dan menghidupi wawasan kebangsaan dan kemasyarakatan yang
khas Indonesia, yakni kerukunan, toleransi dan persatuan dalam kemajemukan, baik
pada tingkat nasional maupun lokal.
Dan dikuatkan lagi dengan delapan faktor utama penyebab timbulnya kerawanan di
bidang kerukunan hidup umat beragama ditilik dari dampak kegiatan keagamaan
antara lain :

1. Pendirian Tempat Ibadah. Tempat ibadah yang didirikan tanpa mempertimbangkan


situasi dan kondisi lingkungan umat beragama setempat sering menciptakan ketidak-harmonisan
umat beragama yang dapat menimbulkan konflik antar umat beragama.
2. Penyiaran Agama. Penyiaran agama, baik secara lisan, melalui media cetak seperti
brosur, pamflet, selebaran dsb, maupun media elektronika, serta media yang lain dapat
menimbulkan kerawanan di bidang kerukunan hidup umat beragama, lebih-lebih yang ditujukan
kepada orang yang telah memeluk agama lain.

3. Bantuan Luar Negeri. Bantuan dari Luar negeri untuk pengembangan dan penyebaran
suatu agama, baik yang berupa bantuan materiil / finansial ataupun bantuan tenaga ahli
keagamaan, bila tidak mengikuti peraturan yang ada, dapat menimbulkan ketidak-harmonisan
dalam kerukunan hidup umat beragama, baik intern umat beragama yang dibantu, maupun antar
umat beragama.
4. Perkawinan beda Agama. Perkawinan yang dilakukan oleh pasangan yang berbeda
agama, walaupun pada mulanya bersifat pribadi dan konflik antar keluarga, sering mengganggu
keharmonisan dan mengganggu kerukunan hidup umat beragama, lebih-lebih apabila sampai
kepada akibat hukum dari perkawinan tersebut, atau terhadap harta benda perkawinan, warisan,
dsb.
5. Perayaan Hari Besarkeagamaan. Penyelenggaraan perayaan Hari Besar Keagamaan
yang kurang mempertimbangkan kondisi dan situasi serta lokasi dimana perayaan tersebut
diselenggarakan dapat menyebabkan timbulnya kerawanan di bidang kerukunan hidup umat
beragama.
6. Penodaan Agama. Perbuatan yang bersifat melecehkan atau menodai agama dan
keyakinan suatu agama tertentu yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, dapat
menyebabkan timbulnya kerawanan di bidang kerukunan hidup umat beragama.
7. Kegiatan Aliran Sempalan. Kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok
orang yangdidasarkan pada keyakinan terhadap suatu agama tertentu secara menyimpang dari
ajaran agama yang bersangkutan dapat menimbulkan keresahan terhadap kehidupan beragama,
sehingga dapat pula menyebabkan timbulnya kerawanan di bidang kerukunan hidup beragama.
8. Aspek Non Agama yang mempengaruhi. Aspek-aspek non agama yang dapat
mempengaruhi kerukunan hidup umat beragama antara lain : kepadatan penduduk, kesenjangan
sosial ekonomi, pelaksanaan pendidikan, penyusupan ideologi dan politik berhaluan keras yang
berskala regional maupun internasional, yang masuk ke Indonesia melalui kegiatan keagamaan.
Di tingkat budaya hukum masih terdapat isu-isu yang cenderung provokatif yang terkadang
berpengaruh pada sebagian masyarakat sehingga dapat menimbulkan sikap saling curiga.
Sementara itu, sikap memandang atau menilai agama orang lain berdasarkan kriteria keyakinan
agamanya sendiri, selain tidak menghargai keyakinan orang lain, juga dapat memicu munculnya
rasa kurang senang atau bahkan antipati antar kelompok agama.Pemberitaan pers kadang juga
dipandang oleh sebagian masyarakat masih mengeksploitasi permasalahan antar kelompok tanpa

mempertimbangankan dampak yang ditimbulkannya pada segi-segi keamanan dan keharmonisan


hubungan antar kelompok masyarakat.
Kebijakan Pemerintah yang dirasakan oleh sebagian masyarakat kurang mencerminkan
keadilan dan lemahnya penegakan hukum berpotensi terhadap timbulnya ketidak harmonisan
hubungan antar kelompok sosial dan umat beragama, maupun hubungan antar umat beragama
dengan pemerintah. Ketidak adilan dan kesenjangan sosial, ekonomi, hukum dan politik sering
menimbulkan dan mempermudah elemen luar masuk sehingga dapat memicu terjadinya konflik
antar kelompok dalam masyarakat. Perebutan lahan antar pendatang dan penduduk yang menetap
lebih dulu merupakan potensi yang dapat berkembang menjadi marjinalisasi kelompokkelompok sosial yang dan kemudian dapat berpotensi menjadi konflik antar kelompok-kelompok
sosial yang mungkin saja kebetulan juga mewakili kelompok-kelompok keagamaan. Otonomi
daerah menimbulkan wajah ganda; di satu sisi sangat bermanfaat bagi warga setempat dalam
upaya mengembangkan diri, namun di sisi lain juga berpeluang bagi tumbuhnya sikap
primordialisme dan ketertutupan.Kurangnya komunikasi antar tokoh/ pemuka agama, dipandang
dapat berpengaruh terhadap ketidak harmonisan hubungan antar kelompok masyarakat dan
kurang dapat berfungsinya peran antisipasi pencegahan kesalahpahaman antar kelompok,
terutama di tingkat kecamatan dan pedesaan. Persoalan pendirian rumah ibadah yang kurang
memenuhi prosedur, penyiaran agama, dan aliran-aliran sempalan di lingkungan internal
kelompok agama masih dirasakan sebagian masyarakat sebagai gangguan dalam membangun
hubungan umat yang harmonis.
B. AKIBAT KETIDAK HARMONISAN KEHIDUPAN BERAGAMA WARGA NEGARA
Dalam kehidupan masyarakat majemuk sering terjadi pertentangan antara satu
aspek dengan aspek lainnya. Sumber potensi konflik yang rentan terjadi dalam
kehidupanmasyarakat Indonesia adalah agama, ras, dan suku bangsa.Setiap konflik yang terjadi
dalam masyarakat akan membawa dampak, baik dampak secara langsung amupun dampak
secara tidak langsung.
1. Dampak Secara Langsung
Dampak secara langsung merupakan dampak yang secara langsung dirasakan oleh
pihak- pihak yang terlibat konflik. dampak konflik secara langsung diantaranya sebagai
berikut :
a.Menimbulkan keretakan hubungan antara individu atau kelompok dengan individuatau
kelompok lainnya.
b.Adanya perubahan kepribadian seseorang seperti selalu memunculkan rasa curiga,rasa
benci, dan akhirnya dapat berubah menjadi tindakan kekerasan.

c.Hancurnya harta benda dan korban jiwa, jika konflik berubah menjadi
tindakankekerasan apalagi jika diikuti perusakan fasilitas umum.
d.Kemiskinan bertambah akibat tidak kondusifnya keamanan.
e.Lumpuhnya roda perekonomian jika suatu konflik berlanjut menjadi tindakankekerasan.
f.Pendidikan formal dan informal terhambat karena rusaknya sarana dan
prasarana pendidikan.
g.Terjadi perubahan kepribadian. Menyebabkan dominasi kelompok pemenang
2. Dampak Tidak Langsung
Dampak tidak langsung merupakan dampak yang dirasakan oleh orang-orang yangtidak terlibat
langsung dalam sebuah konflik ataupun dampak jangka panjang dari suatukonflik yang tidak
secara langsung dirasakan oleh pihak-pihak yang berkonflik.Misalnya pada kasus terorisme bom
di pulau Bali yaitu dimana seseorang atau sekelompok orang yang mengatasnamakan agama
mengebom beberapa tempat di Bali yang penuh denganturis asing sehingga menimbulkan
banyak korban. Setelah kejadian tersebut jumlah
turis yangberkunjung ke Bali menjadi lebih sedikit dari biasanya dan secara tidak langsung akan
mempegaruhi devisa pulau Bali dan mempengaruhi devisa Negara.

C. UPAYA YANG DAPAT MENINGKATKAN KEHARMONISAN KEHIDUPAN


BERAGAMA WARGA NEGARA.
Menciptakan kerukunan umat beragama baik di tingkat daerah, provinsi,maupun
pemerintah merupakan kewajiban seluruh warga negara beserta instansi pemerintah
lainnya. Mulai dari tanggung jawab mengenai ketentraman, keamanan, dan ketertiban
termasuk memfasilitasiterwujudnya kerukunan umat beragama, menumbuh kembangkan
keharmonisan saling pengertian, saling menghormati,dan salingpercaya di antara umat
beragama bahkan menertibkan rumah ibadah.
Dalam hal ini untuk menciptakan kerukunan umat beragama dapat dilakukan dengan
cara-cara sebagai berikut:
1. Saling tenggang rasa, menghargai, dan toleransi antar umat beragama
2. Tidak memaksakan seseorang untuk memeluk agama tertentu.
3. Melaksanakan ibadah sesuai agamanya
4. Mematuhi peraturan keagamaan baik dalam agamanya maupun peraturan Negara atau
Pemerintah.
Sikap tenggang rasa, menghargai,dan toleransi antar umat beragama merupakan indikasi
dari konsep trilogi kerukunan.Seperti dalam pembahasan sebelumnya upaya mewujudkan
dan memelihara kerukunan hidup umat beragama, tidak boleh memaksakan seseorang
untuk memeluk agama tertentu. Karena hal ini menyangkut hak asasi manusia (HAM)
yang telah diberikan kebebasan untuk memilih baik yang berkaitan dengan kepercayaan,
maupun diluar konteks yang berkaitan dengan hal itu. Kerukunan antar umat beragama
dapat terwujud dan senantiasa terpelihara, apabila masing-masing umat beragama dapat

mematuhi aturan-aturan yang diajarkan oleh agamanya masing-masing serta mematuhi


peraturan yang telah disahkan Negara atau sebuah instansi pemerintahan. Umat beragama
tidak diperkenankan untuk membuat aturan-aturan pribadi atau kelompok, yang berakibat
pada timbulnya konflik atau perpecahan diantara umat beragama yang diakibatkan karena
adanya kepentingan ataupun misi secara pribadi dan golongan.
Selain itu,agar kerukunan hidup umat beragama dapat terwujud dan senantiasa
terpelihara, perlu memperhatikan upaya-upaya yang mendorong terjadinya kerukunan
secara mantap dalam bentuk. :
1. Memperkuat dasar-dasar kerukunan internal dan antar umat beragama, serta antar umat
beragama dengan pemerintah.
2. Membangun harmoni sosial dan persatuan nasional, dalam bentuk upaya mendorong
dan mengarahkan seluruh umat beragama untuk hidup rukun dalam bingkai teologi dan
implementasi dalam menciptakan kebersamaan dan sikap toleransi.
3. Menciptakan suasana kehidupan beragama yang kondusif, dalam rangka memantapkan
pendalaman dan penghayatan agama serta pengamalan agama, yang mendukung bagi
pembinaan kerukunan hidup intern umat beragama dan antar umat beragama.
4. Melakukan eksplorasi secara luas tentang pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dari
seluruh keyakinan plural umat manusia, yang fungsinya dijadikan sebagai pedoman
bersama dalam melaksanakan prinsip-prinsip berpolitik dan berinteraksi sosial satu sama
lainnya dengan memperlihatkan adanya sikap keteladanan.
5. Melakukan pendalaman nilai-nilai spiritual yang implementatif bagi kemanusiaan yang
mengarahkan kepada nilai-nilai ketuhanan, agar tidak terjadi penyimpanganpenyimpangan nila-nilai sosial kemasyarakatan maupun sosial keagamaan.
6. Menempatkan cinta dan kasih dalam kehidupan umat beragama dengan cara
menghilangkan rasa saling curiga terhadap pemeluk agama lain, sehingga akan tercipta
suasana kerukunan yang manusiawi tanpa dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu.
7. Menyadari bahwa perbedaan adalah suatu realita dalam kehidupan bermasyarakat, oleh
sebab itu hendaknya hal ini dijadikan mozaik yang dapat memperindah fenomena
kehidupan beragama.
Dalam upaya memantapkan kerukunan itu, hal serius yang harus diperhatikan adalah
fungsi pemuka agama, tokoh masyarakat dan pemerintah. Dalam hal ini pemuka agama,
tokoh masyarakat adalah figur yang dapat diteladani dan dapat membimbing, sehingga
apa yang diperbuat mereka akan dipercayai dan diikuti secara taat. Selain itu mereka
sangat berperan dalam membina umat beragama dengan pengetahuan dan wawasannya
dalam pengetahuan agama.
Kemudian pemerintah juga berperan dan bertanggung jawab demi terwujud dan
terbinanya kerukunan hidup umat beragama. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas umat
beragama di Indonesia belum berfungsi seperti seharusnya, yang diajarkan oleh agama
masing-masing. Sehingga ada kemungkinan timbul konflik di antara umat beragama.
Oleh karena itu dalam hal ini, pemerintah sebagai pelayan, mediator atau fasilitator

merupakan salah satu elemen yang dapat menentukan kualitas atau persoalan umat
beragama tersebut. Pada prinsipnya, umat beragama perlu dibina melalui pelayanan
aparat pemerintah yang memiliki peran dan fungsi strategis dalam menentukan kualitas
kehidupan umat beragama, melalui kebijakannya. Dalam rangka perwujudan dan
pembinaan di tengah keberagaman agama budaya dan bangsa, maka Said Agil Husin Al
Munawar mengungkapkan bahwa kerukunan umat beragama memiliki hubungan yang
sangat erat dengan faktor ekonomi dan politik. Di samping faktor-faktor lain seperti
penegakkan hukum, pelaksanaan prinsip-prinsip keadilan dalam masyarakat dan
peletakkan sesuatu pada proporsinya. Dalam kaitan ini strategi yang perlu dilakukan
adalah sebagai berikut:
1. Memberdayakan institusi keagamaan, artinya lembaga-lembaga keagamaan kita daya
gunakan secara maksimal sehingga akan mempercepat proses penyelesaian konflik antar
umat beragama. Disamping itu pemberdayaan tersebut dimaksudkan untuk lebih
memberikan bobot/warna tersendiri dalam menciptakan ukhuwah (persatuan dan
kesatuan ) yang hakiki, tentang tugas dan fungsi masing-masing lembaga keagamaan
dalam masyarakat sebagai perekat kerukunan antar umat beragama.
2. Membimbing umat beragama agar makin meningkat keimanan dan ketakwaan mereka
kepada Tuhan Yang Maha Esa, dalam suasana rukun baik intern maupun antar umat
beragama.
3. Melayani dan menyediakan kemudahan bagi para penganut agama.
4. Tidak mencampuri urusan akidah/dogma dan ibadah sesuatu agama.
5. Mendorong peningkatan pengamalan dan penuaian ajaran agama.
6. Melindungi agama dari penyalahgunaan dan penodaan.
7. Mendorong dan mengarahkan seluruh umat beragama untuk hidup rukun dalam
bingkai Pancasila dan konstitusi dalam tertib hukum bersama.
8. Mendorong, memfasilitasi dan mengembangkan terciptanya dialog dan kerjasama
antara pimpinan majelis-majelis, dan organisasi-organisasi keagamaan dalam rangka
untuk membangun toleransi dan kerukunan antar umat beragama.
9. Mengembangkan wawasan multikultural bagi segenap lapisan dan unsur masyarakat
melalui jalur pendidikan, penyuluhan dan riset aksi.
10. Meningkatkan pemberdayaan sumber daya manusia (pemimpin agama dan pemimpin
masyarakat lokal) untuk ketahanan dan kerukunan masyarakat bawah.
11. Fungsionalisasi pranata lokal, seperti adat istiadat, tradisi dan norma-norma sosial
yang mendukung upaya kerukunan umat beragama.
12. Mengundang partisipasi semua kelompok dan lapisan masyarakat agama sesuai
dengan potensi yang dimiliki masing-masing, melalui kegiatan-kegiatan dialog,
musyawarah, tatap muka, kerjasama sosial dan sebagainya.
13. Bersama-sama para pemimpin majelis-majelis agama, seperti Majelis Ulama
Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Konfrensi Wali Gereja
Indonesia (KWI), Parishada Hindhu
Dharma Indonesia (PHDI), dan Perwakilan Umat Budha Indonesia (WALUBI), Majelis
Tinggi Agama Khonghuchu Indonesia (MATAKIN), Departemen agama melalui Badan

Litbang Agama dan Diklat Keagamaan melakukan kunjungan bersama-bersama ke


berbagai daerah dalam rangka berdialog dengan umat di lapisan bawah dan memberikan
pengertian tentang pentingnya membina dan mengembangkan kerukunan umat beragama.
14. Melakukan mediasi bagai kelompok-kelompok masyarakat yang dilanda konflik,
(misalnya; kasus Ambon dan Maluku Utara) dalam rangka untuk mencari solusi bagi
tercapainya rekonsiliasi, sehingga konflik bisa diberhentikan dan tidak berulang di masa
depan.
15. Memberi sumbangan dana (sesuai dengan kemampuan), kepada kelompok-kelompok
masyarakat yang terpaksa mengungsi dari daerah asal mereka, karena dilanda konflik
sosial dan etnis yang dirasakan pula bernuansakan keagamaan.
16. Membangun kembali sarana-sarana ibadah (Gereja dan Mesjid) yang rusak di daerahdaerah yang masyarakatnya terlibat konflik, sehingga mereka dapat mefungsikan kembali
rumah-ruumah ibadah tersebut.

BAB III
PENUTUP

A. KASIMPULAN
Dari paparan atau penjelasan materi tentang KETIDAK HARMONISAN KEHIDUPAN
BERAGAMA WARGA NEGARA MELEMAHKAN UPAYA PEMBANGUNAN
NEGARA dapat saya simpulkan bahwa keegoisan yang tertanam dalam diri individu
maupun suatu kelompok bahwa hanya agama merekalah yang paling benar maka
individu atau kelompok tersebut tidak akan menerima kebijakan dan pendapat-pendapat
lain selain yang berasal dari agamanya, sehingga hal itu dapat menghambat upaya
pemangunan bagi Negara tersebut. Untuk itu sebagai warga Negara kita harus menyadari
bahwa keegoisan hanya akan mempersulit pembangunan, jadi kita harus berbesar hati
dalam menerima perbedaan yang ada dalam suatu Negara demi kemakmuran bersama.
B. SARAN
Sebagai warga Negara sudah sepantasnya kita bisa berbesar hati dan menghargai segala
perbedaan yang ada demi kepentingan bersama, karena jika kita bicara tentang NEGARA
maka yang harus kita ingat adalah keragaman dan kebhinekaan.