Anda di halaman 1dari 5

1.

Gejala Masalah
Teknologi dibuat untuk mempermudah pekerjaan manusia. Pada lingkungan

bisnis yang memiliki tingkat kompetitif begitu tinggi, teknologi informasi menjadi
sumber mendasar dalam mendukung kesempatan kompetitif dan menjadi sebuah senjata
strategis pada organisasi (Lam, Cho dan Qu, 2007). Teknologi informasi akan memproses
informasi melalui sebuah sistem, yaitu sistem informasi.
Sistem informasi adalah sebuah rangkaian prosedur formal pengumpulan data
untuk diproses menjadi informasi dan didistribusikan kepada para pemakai (Hall,
2001:7). Sistem informasi terbagi menjadi dua, yaitu Sistem Informasi Akuntansi (SIA)
dan Sistem Informasi Manajemen (SIM). SIA lebih cenderung pada transaksi keuangan,
misalnya penjualan produk maupun jasa, pembelian persediaan, pembayaran gaji dan
lain-lain, sedangkan SIM lebih cenderung pada transaksi non keuangan, misalnya
penambahan master data pelanggan, analisis persediaan, analisis pembelian, dan lain-lain.
Studi ini akan berfokus pada mengapa seseorang menerima atau menolak
penggunaan SIA berbasis teknologi melalui determinan konstruk minat keperilakuan.
Determinan minat keperilakuan adalah faktor yang memengaruhi konstruk minat
keperilakuan. Davis et al. (1989) berpendapat bahwa minat keperilakuan adalah
determinan utama dalam mengukur perilaku penggunaan teknologi. Determinan minat
keperilakuan dalam studi ini dijelaskan melalui beberapa penelitian (Lee, Lee dan Kwon,
2005; Lam et al., 2007; Yu, Li dan Gagnon, 2009). Konstruk yang digunakan pada
penelitian Lee et al. (2005), Lam et al. (2007) dan Yu et al. (2009) mengacu pada model
Technology Acceptance Model (TAM) dan TAM2.
2.

Masalah
Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan, dalam penelitian Davis et al

(1989) berpendapat bahwa minat keprilakuan adalah determinan utama dalam mengukur
perilaku penggunaan, dengan menyatakan bahawa perilaku seharusnya dapat diukur
melalui pengukuran dari minat keprilakuan dan faktor lainnya yang mempengaruhi
perilaku pengguna secara langsung melalui minat keprilakuan. Penelitian selanjutnya
adalah Lee et al (2005) mengemukakan determinan minat keprilakuan untuk
menggunakan sistem informasi berbasis teknologi di korea selatan melalui dua konstruk
utama model penerimaan teknologi, yaitu kegunaan persepsian dan kemudahan

penggunaan persepsian, hasilnya adalah kosntruk kegunaan persepsian dan kemudahan


persepsian berpengaruh positof terhadap konstruk minat keprilakukan tetapi Lam et al
(2007) berusaha memperluas penjelasn mengapa terjadipenolakan individu atas SIA
berbasis teknologi melalui konstruk sikap dan norma subjektif, menurut Lam et al,
konstruk ini sebaiknya ikut dimasukan dalam model penrimaan teknologi dengan alasan,
minat seseorang akan timbul melalui perasaan suka atau tidak suka dan melalui pengaruh
dari orang-orang terdekat. Venkatesh dan Davis (2000) berpendapat bahwa norma
subjektif merupakan salah satu faktor penting yang perlu dipertimbangkan sebagai
penentu minat keprilakuan dan tidak untuk konstruk sikap. Yousafzai et al (2007)
menyimpulkan bahwa40 dari 145 studi terkait konstruk sikap tehadap konstruk minat
keprilakuan mendukung hubungan konstruk sikap terhadap konstruk mimat keprilakuan.
Berdasarkan penelitian oleh Lee et al (2005) dan Lam et al (2007) serta Yu et al (2009)
peneliti tertarik untuk melakukan studi terkait determinan minat keprilakuan untuk
menggunakan SIA berbasis teknologi,
3.

Kontribusi Penelitian
Terdapat tiga aspek kontribusi peneliti dalam studi ini, yaitu kontribusi secara

teoritis, praktik dan penelitian selanjutnya.


1. Kontribusi Teori : Studi ini bertujuan menguji determinan minat keperilakuan dalam
TAM dan TAM2. Studi ini membuktikan bahwa tidak semua konstruk TAM dan
TAM2 yang digunakan dalam studi ini dapat memengaruhi minat keperilakuan
seseorang untuk menggunakan SIA berbasis teknologi. Hanya konstruk kegunaan
persepsian dan sikap memengaruhi minat keperilakuan seseorang untuk
menggunakan SIA berbasis teknologi. Konstruk kegunaan persepsian lebih
dominan memengaruhi minat keperilakuan dibandingkan dengan konstruk sikap.
Temuan studi ini memperkuat argumen hubungan konstruk kegunaan persepsian
dan sikap pada minat keperilakuan dalam TAM dan TAM2.
Studi ini membuktikan bahwa fenomena mengapa seseorang menerima
atau menolak untuk menggunakan SIA berbasis teknologi dapat dijelaskan
melalui minat keperilakuan untuk menggunakan SIA berbasis teknologi. Minat
keperilakuan untuk menggunakan SIA berbasis teknologi dalam studi ini
dijelaskan melalui konstruk kegunaan persepsian dan sikap.
2. Kontribusi Praktik : Hasil studi ini dapat diterapkan pada praktik perancangan dan

implementasi SIA berbasis teknologi. Melalui studi ini dapat dijelaskan bahwa
minat seseorang untuk menggunakan teknologi dikarenakan sikap dan kegunaan
persepsian. Faktor kegunaan persepsian lebih dominan memengaruhi minat
keperilakuan dibandingkan dengan konstruk sikap dalam studi ini sehingga hal ini
dapat dijadikan evaluasi bahwa minat utama seseorang menggunakan SIA
berbasis teknologi adalah karena SIA berbasis teknologi tersebut berguna bagi
pemakainya.
Melalui studi ini diharapkan vendor penyedia aplikasi SIA berbasis
teknologi harus dapat memastikan produk yang telah dibuat berguna dan dapat
meningkatkan

kinerja

pemakainya.

Bagi

manajemen

perusahan

yang

menggunakan aplikasi SIA berbasis teknologi diharapkan dapat menumbuhkan


minat penggunaan SIA berbasis teknologi dengan meyakinkan karyawan bahwa
SIA berbasis teknologi dapat meningkatkan kinerjanya. Selain itu, manajemen
dapat menumbuhkan minat karyawan untuk menggunakan SIA berbasis teknologi
dengan membuat karyawan menyukai untuk menggunakan SIA berbasis
teknologi.
3. Kontribusi Penelitian Selanjutnya, Penelitian selanjutnya diharapkan dapat
menguji konstruk TAM dalam model ini pada tempat dan waktu yang berbeda dan
pengembangan model yang lebih baik.

4.

Hipotesis Penelitian

5.

Populasi dan Sampel


Populasi studi ini adalah seluruh karyawan perhotelan yang menggunakan SIA

berbasis teknologi di Bali. Daerah Bali dipilih sebagai objek penelitian karena daerah bali
adalah daerah tujuan pariwisata yang memiliki hotel berbintang lebih banyak dari daerah
lain di Indonesia. Hotel yang akan dijadikan obyek penelitian dalam studi ini adalah hotel
berbintang empat dan lima karena hotel berbintang empat dan lima pada umumnya telah
menggunakan SIA yang berbasis teknologi.
6.

Metode Pengumpulan data


Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik pengumpulan data

survey. Studi ini menggunakan mail survey.


7.
Model Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis H1 hingga H5 menggunakan analisis PLS. Pengujian hipotesis dalam
studi ini akan dilakukan dengan cara sebagai berikut, yaitu :1. Menentukan level
signifikan atau nilai kritis () yaitu sebesar 5%.2. Membandingkan nilai t-statistics pada
tampilan output bootstraping program smartPLS dengan nilai t-table. Jika t-statistics
lebih tinggi dibandingkan nilai t-table, berarti hipotesis terdukung.
8.

Hasil Penelitian

9.

Kesimpulan
Hasil studi ini menyimpulkan bahwa minat keperilakuan seseorang untuk

menggunakan SIA berbasis teknologi, ditentukan oleh sikap dan kegunaan persepsian.
Dalam studi ini, kegunaan persepsian lebih dominan memengaruhi minat keperilakuan
dibandingkan dengan konstruk sikap. Kegunaan persepsian memengaruhi minat
keperilakuan dikarenakan keyakinan persepsi seseorang bahwa dengan menggunakan
SIA berbasis teknologi akan meningkatkan kinerjanya sedangkan sikap memengaruhi
minat keperilakuan dikarenakan seseorang merasa bahwa menggunakan SIA berbasis
teknologi adalah hal yang menyenangkan.
Studi ini tidak berhasil untuk membuktikan bahwa minat keperilakuan
dipengaruhi oleh norma subjektif, kemudahan penggunaan persepsian dan image. Norma
subjektif tidak memengaruhi minat seseorang untuk menggunakan SIA berbasis teknologi
dikarenakan para responden lebih menyukai untuk membangun evaluasi pada SIA
berbasis teknologi secara independen sehingga akan mengurangi pengaruh pendapat dari
orang lain terhadap minatnya untuk menggunakan SIA berbasis teknologi. Kemudahan
penggunaan persepsian tidak memengaruhi minat seseorang untuk menggunakan SIA
berbasis teknologi dikarenakan keyakinan seseorang bahwa kemudahan untuk
menggunakan SIA berbasis teknologi akan dapat meningkatkan minat keperilakuan jika
hal tersebut berguna atau dapat meningkatkan kinerja. Image tidak memengaruhi minat
seseorang untuk menggunakan SIA berbasis teknologi dikarenakan image atau status
sosial seseorang di masyarakat untuk menggunakan SIA berbasis teknologi merupakan
hal yang dianggap biasa.