Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
nikmat yang telah dilimpahkan kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul Pembangunan Benua Maritim Indonesia
Terselesainya makalah ini tidak lepas dari dukungan beberapa pihak yang telah memberikan
motivasi, baik materi maupun moril. Oleh karena itu, kami bermaksud mengucapkan terima
kasih kepada seluruh pihak yang tak dapat kami sebutkan satu persatu, semua yang telah
membantu terselesaikannya makalah ini.
Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini belum mencapai kesempurnaan, sehingga
kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dari berbagai pihak demi
kesempurnaan makalah ini. Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua.

Makassar, Agustus 2016

Kelompok 9

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konsep Negara Kepulauan (Nusantara) memberikan kita anugerah yang luar biasa.
Letak geografis kita strategis, di antara dua benua dan dua samudra dimana paling tidak 70%
angkutan barang melalui laut dari Eropa, Timur Tengah dan Asia Selatan ke wilayah Pasifik,
dan sebaliknya, harus melalui perairan kita. Wilayah laut yang demikian luas dengan 17.500an pulau-pulau yang mayoritas kecil memberikan akses pada sumber daya alam seperti ikan,
terumbu karang dengan kekayaan biologi yang bernilai ekonomi tinggi, wilayah wisata
bahari, sumber energi terbarukan maupun minyak dan gas bumi, mineral langka dan juga
media perhubungan antar pulau yang sangat ekonomis.
Panjang pantai 81.000 km (kedua terpanjang di dunia setelah Kanada) merupakan
wilayah pesisir dengan ekosistem yang secara biologis sangat kaya dengan tingkat
keanekaragaman hayati yang tinggi. Secara metereologis, perairan nusantara menyimpan
berbagai data metrologi maritim yang amat vital dalam menentukan tingkat akurasi perkiraan
iklim global. Di perairan kita terdapat gejala alam yang dinamakan Arus Laut Indonesia
(Arlindo) atau the Indonesian throughflow yaitu arus laut besar yang permanen masuk ke
perairan nusantara dari Samudra Pasifik yang mempunyai pengaruh besar pada pola migrasi
ikan pelagis dan pembiakannya dan juga pengaruh besar pada iklim benua Australia.
Karena memiliki sejarah kemaritiman dan potensi sumberdaya kemaritiman yang
besar maka muncullah gagasan pembangunan Benua Maritim Indonesia. BMI adalah bagian
dari sistem planet bumi yang merupakan satu kesatuan alamiah antara darat, laut, dan udara
diatasnya, tertata secara unik, menampilkan cirri ciri benua dengan karakteristik yang khas
dari sudut pandang iklim dan cuaca, keadaan airnya, tatanan kerak bumi, keragaman biota,
serta tatanan social budayanya yang menjadi yuridiksi NKRI yang secara langsung maupun
tidak langsung akan menggugah emosi, perilaku dan sikap mental dalam menentukan
orientasi dan pemanfaatan unsur unsur maritim di semua aspek kehidupan.
Saat ini diperkirakan lebih dari 160 juta orang atau lebih dari 60 persen penduduk
Indonesia bermukim di daerah pesisir .Dengan geografi dan demografi seperti itu potensi
Indonesia sebagai negeri maritim memang luar biasa. Para ahli mengatakan, jika potensi ini,
potensi sebagai negeri maritim ini digarap dengan baik,maka nilainya bisa mencapai Rp
3.000 trilyun per tahun. Kegiatan ekonominya akan menyerap lebih dari 40 juta tenaga kerja

di berbagai bidang, mulai dari perikanan, pengembangan wilayah pesisir, sampai


bioteknologi dan transportasi laut.
Tapi mengapa sampai hari ini perekonomian Indonesia masih bertumpu pada industri
pengolahan, pertambangan dan kehutanan, pertanian dan peternakan, yang semuanya berbasis
di daratan? Total kontribusi sektor kelautan terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia
saat ini hanya sekitar 20 persen, di bawah Thailand dan Korea Selatan, dua negeri yang kalau
panjang pantainya digabung pun tidak sampai sepuluh persen dari panjang pantai Indonesia.
Kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis tetapi produk dari perjalanan sejarah yang
dinamis dalam ruang sosial dan cultural yang konkret. Karena itu generalisasi dan stereotipe
harus kita buang jauh-jauh karena keduanya mencoba beberapa ciri dan manifestasi dari
kebudayaan menjadi berlaku umum dan abadi, adalah pelajaran penting yang ditarik setiap
orang yang membaca sejarah adalah bahwa yang abadi hanyalah perubahan.
Karena itu pula usaha untuk menelusuri jejak sejarah dari arus balik kebudayaan yang
membuat kita dalam keadaan seperti sekarang tidak bisa bersandar pada kisah kebesaran
Majapahit dan Sriwijaya atau kisah ketangguhan pelaut Mandar yang dengan kapal sandeq
bisa mengarungi samudera. Kisah seperti itu mungkin berguna untuk membangkitkan
semangat patriotisme, cinta tanah air, atau tujuan lain semacam itu, tapi jelas tidak ada
gunanya untuk memahami sejarah yang konkret. Justru sebaliknya kisah kejayaan masa lalu
bisa membius dan menenggelamkan kita dalam kebanggaan semu dan keyakinan teleologis
bahwa suatu saat nanti di masa depan, Indonesia akan kembali pada kejayaan itu.
Saat ini sudah cukup banyak studi mengenai berbagai segi dan aspek sejarah yang
berkaitan dengan dunia maritim. Ada yang mempelajari perikehidupan masyarakat pesisir,
ada yang mempelajari jaringan perdagangan maritim yang terus berubah dari masa ke masa,
ada yang mempelajari ragam dan jenis kapal serta teknologi kelautan, dan ada pula yang
menekuni studi tentang barang dagangan seperti rempah-rempah yang membentuk jalur
perdagangan dalam sejarah. Produksi di bidang ini tidak kurang. Masalahnya hampir
semuanya masih berbentuk monografi dan belum banyak usaha untuk menghimpun berbagai
studi itu sehingga ada semacam kesimpulan, betapapun sementara sifatnya, mengenai
perkembangan dunia maritim di Nusantara.
Hal inilah yang kemudian menarik untuk diketahui tentang bagaimana pembangunan
Benua Maritim Indonesia. Oleh karena itu penulis berusaha untuk memberikan pemahaman
tentang pertanyaan tersebut dalam makalah ini. Semoga makalah ini dapat menjadi jawaban
dan memberikan pemahaman terkait pertanyaan yang dikaji.

B. Tujuan Penulisan
a)
b)
c)
d)

Untuk mengetahui konsep pembangunan Benua Maritim Indonesia


Untuk mengetahui keadaan dan masalah maritim di Indonesia
Untuk mengetahui kendala umum dalam pemanfaatan wilayah nusantara
Untuk mengetahui pembangunan maritim Indonesia jangka panjang

C. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini yaitu :
a) Dapat dijadikan sebagai sumber informasi

terkait

pemahaman

mengenai

pembangunan Benua Maritim Indonesia,


b) Dapat memahami konsep pembangunan Benua Maritim Indonesia
c) Dapat memahami berbagai keadaan dan masalah kemaritim yang sedang terjadi dan
menyangkut pada realitas masa kini
d) Dapatdijadikan sebagai acuan dan sumber informasi terkait pemahaman tentang
pembangunan maritim Indonesia jangka panjang
e) Dapat dijadikan sebagai proses pembelajaran di dalam penulisan makalah

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pembangunan Maritim
Pada dasarnya wilayah negara kesatuan Republik Indonesia jika ditinjau dari berbagai
segi, baik dari segi geografi sampai dengan sosial budaya serta ekonomi, maka layak diebut
sebuah benua. Dan karena di dalamnya terdapat massa air yang mencapai lebih dari tiga
perempat luas wilayah RI, maka sebutan yang cocok untuk Indonesia adalah Benua Maritim
Inonesia, atau disingkat BMI.
Dari pengertian yang lahir pada tahun 1996 yang pada saat itu dicanangkan sebagai
Tahun Bahari dan Dirgantara, bahwa Pembangunan Benua Maritim Indonesia pada
hakekatnya adalah Pembangunan Nasional yang lebih menekankan pemanfaatan unsur
maritim dan dirgantara. Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa Pembangunan Maritim
Indonesia pada dasarnya adalah bagian integral dari pembangunan nasional dalam
pendayagunaan dan pemanfaatan lautan Indonesia untuk mencapai cita-cita nasional.
Pembangunan Benua Maritim Indonesia memandang daratan, lautan, dan dirgantara,
serta segala sumberdaya di dalamnya dalam satu konsep pengembangan sehingga hal ini
merupakan salah satu wujud aktualisasi Wawasan Nusantara yang telah menjadi cara pandang
bangsa Indonesia dalam melaksanakan pembangunan nasional yang berdasarkan Pancasila
dan Undang-undang Dasar 1945.
Untuk memperoleh aktualisasi Wawasan Nusantara ada tiga kendala utama, yaitu :
Satu, Indonesia belum menjalankan manajemen nasional yang memungkinkan
perkembangan seluruh bagian dari Benua Maritim itu. Meskipun pada tahun 1945 para
Pendiri Negara telah mewanti-wanti agar Republik Indonesia sebagai negara kesatuan
memberikan otonomi luas kepada daerah agar dapat berkembang sesuai dengan sifatnya,
namun realitanya 71 tahun merdeka Indonesia menjalankan pemerintahan sentralisme yang
ketat. Akibatnya adalah bahwa pulau Jawa dan lebih-lebih lagi Jakarta sebagai pusat
pemerintahan Indonesia, mengalami kemajuan jauh lebih banyak dan pesat ketimbang bagian
lain Indonesia, khususnya Kawasan Timur Indonesia. Kalau sikap demikian tidak segera
berubah maka tidak mustahil kerawanan nasional seperti yang sudah disebutkan sebelumnya,
dapat menjadi kenyataan yang menyedihkan. Rakyat yang tinggal di luar Jawa kurang
berkembang maju dan merasa tidak puas dengan statusnya. Apalagi melihat kondisi dunia
yang sedang bergulat dalam persaingan ekonomi dan menggunakan segala cara untuk unggul
dan memenangkan persaingan itu.

Dua, meskipun segala perairan yang ada di Benua Maritim Indonesia merupakan
bagian tak terpisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia, namun dalam kenyataan mayoritas
bangsa Indonesia lebih berorientasi kepada daratan saja dan kurang dekat kepada lautan. Itu
dapat dilihat pada rakyat di pulau Jawa yang merupakan lebih dari 70 persen penduduk
Indonesia. Tidak ada titik di pulau Jawa yang melebihi 100 kilometer dari lautan. Dalam
zaman dulu sampai masa kerajaan Majapahit dan Demak mayoritas rakyat Jawa adalah
pelaut. Akan tetapi sejak sirnanya kerajaan Majapahit dan Demak rakyat Jawa telah menjadi
manusia daratan belaka yang mengabaikan lautan yang ada di sekitar pulaunya. Untung
sekali masih ada perkecualian, yaitu rakyat Bugis, Buton dan Madura dan beberapa yang lain,
yang dapat memberikan perhatian sama besar kepada daratan dan lautan. Menghasilkan tidak
saja petani tetapi juga pelaut yang tangguh. Gambaran keadaan umum rakyat Indonesia amat
bertentangan dengan kenyataan bahwa luas daratan nasional adalah sekitar 1,9 juta kilometer
persegi, sedangkan wilayah perairan adalah sekitar 3 juta kilometer persegi. Apalagi kalau
ditambah dengan zone ekonomi eksklusif yang masuk wewenang Indonesia. Selama
pandangan mayoritas rakyat Indonesia terhadap lautan belum berubah, bagian amat besar dari
potensi nasional tidak terjamah dan karena itu kurang sekali berperan untuk meningkatkan
kesejahteraan bangsa. Malahan yang lebih banyak memanfaatkan adalah bangsa lain yang
memasuki wilayah lautan Indonesia untuk mengambil kekayaannya.
Tiga, kurangnya pemanfaatan ruang angkasa di atas wilayah Nusantara untuk
kepentingan nasional, khususnya pemantapan kebudayaan nasional. Mayoritas rakyat
Indonesia belum cukup menyadari perubahan besar yang terjadi dalam umat manusia sebagai
akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan besar itu terutama
menyangkut teknologi angkutan dan komunikasi. Khususnya komunikasi elektronika
sekarang memungkinkan manusia berhubungan dengan cepat dan tepat melalui smartphone,
komputer melalui e-mail atau internet secara meluas. Letak kepulauan Nusantara sepanjang
khatulistiwa amat menguntungkan untuk penempatan satelit yang memungkinkan komunikasi
yang makin canggih dengan memanfaatkan ruang angkasa yang terbentang di atas wilayah
Nusantara.. Ini sangat penting untuk pembangunan dan pemantapan kebudayaan nasional,
khususnya melalui televisi. Namun untuk itu diperlukan biaya yang memadai.
Pemikiran Pembangunan Maritim Indonesia dilandasi oleh kenyataan bahwa:
1) Lautan merupakan bagian terbesar wilayah RI dan merupakan faktor utama yang
harus dikelola dengan baik guna mewujudkan cita-cita nasional.
2) Pengelolaan aktivitas pembangunan laut harus bersifat integral.

Lebih dalam lagi, kita menghadapi empat kendala utama dalam penyusunan rencana
dan pelaksanaan pembangunan maritim, yaitu:
1)
2)
3)
4)

Mental attitude dan semangat cinta bahari relatif masih lemah,


techno structure dan struktur ekonomi maritim belum siap,
peraturan dan perundangan yang belum mendukung, dan
kelembagaan yang bersifat kemaritiman yang juga belum mendukung.

B. Keadaan Wilayah Maritim Indonesia


Kenyataan bahwa kondisi maritim Indonesia memiliki potensi yang sangat besar,
mengharuskan kita untuk dapat menggali potensi maritim untuk membulatkan akselerasi
Pembangunan Nasional yang diselenggarakan, dimana pada masa ini potensi maritim ini
belum mendapatkan prioritas penanganan secara proporsional sehingga berbagai kendala
sangat sulit untuk dihadapi secara tuntas, terutama dalam hal pemeliharaan langkah dan
keterpaduan pembangunan.
Beberapa daerah pesisir di Indonesia dapat kita golongkan sebagai Kawasan Maritim
Terpadu, atau lebih tepatnya bisa dijadikan pusat pelaksanaan perencanaan dan pembangunan
Benua Maritim Indonesia.
Dalam bidang tata wilayah, Kawasan Maritim Terpadu adalah kawasan yang ditunjuk,
ditetapkan, direncanakan sebagai suatu kawasan untuk pengembangan kegiatan-kegiatan
yang berbasiskan kemaritiman dan saling berintegrasi satu sama lain. Seperti halnya
Pelabuhan, Dermaga, temppat Wisata Bahari, Pabrik, Pusat Pendidikan Pelayaran/Kelautan,
hutan bakau, kawasan budidaya hasil hasil laut, dan beberapa kegiatan serta infrastruktur
pendukung lainnya. Atau dengan kata lain sebagai kawasan pemusatan dan pengembangan
berbagai kegiatan kemaritiman yang dilengkkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang
lengkap dan saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid.1
Pembangunan maritim memerlukan sistem pengelolaan terpadu, yaitu Sistem
Pengelolaan Terpadu Wilayah Pesisir dan Lautan. Dalam pengelolaan ini berbagai masalah
akan muncul, berbagai konflik akan terjadi yang disebabkan oleh adanya degradasi mutu dan
fungsi lingkungan hidup yang antara lain disebabkan karena musnahnya hutan bakau,
rusaknya terumbu karang, abrasi pantai, intrusi air laut, pencemaranlingkungan pesisir dan
laut serta perubahan iklim global. Berbagai masalah tersebut berasal dari:
1) Masing-masing pelaku pembangunan dalam menyususn perencanaannya sangat
terikat pada sektornya sendiri tanpa adanya sistem koordinasi baku lintas sektor.

1 . EVALUASI KEBIJAKAN IMPLEMENTASI TATA RUANG KAWASAN PESISIR

UNTIA DI KOTA MAKASSAR OLEH ANDI SAMRA SALAM P0200210501


PROG.PASCA SARJANA UNIV.HASANNUDDIN, MAKASSAR 2014
(Hal. 37 38, Bag. G. Definisi Operasional, Bab III Metodologi Penelitian)

2) Belum adanya lembaga yang berwenang penuh baik di pusat maupun di daerah
yang mempunyai wewenang penentu dalam pembangunan maritim secara utuh.
3) Belum lengkapnya peraturan perundang-undangan yang mengatur kewenangan
pengelolaan sumber daya maritim. Hal ini sudah diminimalisir sejak keluarnya
UU No. 1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 27 Tahun
2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.
4) Belum lengkapnya tata ruang yang mencakup wilayah pesisir dan laut nasional
yang dapat dijadikan sebagai induk perencanaan bagi daerah. Hal ini tentu dapat
diminimalisir jika kita memanfaatkan Kawasan Maritim Terpadu dengan baik.
Untuk dapat menjamin efektifitas pembangunan maritim, berbagai masalah tersebut
harus dapat diatasi secara tuntas, paling tidak yang terkait dengan:
1) Penataaan peraturan perundang-undangan dalam pengelolaan pembangunan
maritim yang bersifat lintas sectoral.
2) Pembentukan wadah untuk penyusunan dan penerapan mekanisme perencanaan
dan pengawasan terpadu, pengelolaan yang dikoordinasikan serta pengendalian
yang sinkron.
3) Penciptaan dan peningkatan sumberdaya maritim handal dan profesional.
4) Penetapan tata ruang maritim disertai pola pengelolaan, pemanfaatan dan pendaya
gunaannya.
5) Sistem pengumpulan dan pengelolaan informasi maritim yang dapat diakses
secara luas.
6) Memperbesar kemampuan pengadaan sumber dana yang dapat diserap dalam
upaya pembangunan maritim dengan kemudahannya.
7) Pembentukan wadah untuk menyuburkan upaya penelitian dan pengembangan
maritim untuk dapat mempermudah penerapan ilmu dan teknologi kelautan,
utamanya bagi nelayan tradisional.
C. Kendala Umum dalam Pemanfaatan Wilayah Maritim Indonesia
Adapun berbagai kendala umum yang muncul dalam rangka pemanfaatan laut
wilayah nusantara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, terkait dengan fungsi dan
kedudukan laut berikut :
1) Lautan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Pemanfaatan laut
terutama sebagai sumber pangan belum optimal. Pemanfaatan perikanan baru
sekitar 35 % dari potensi yang ada. Masalah yang dihadapi adalah : kualitas
tenaga kerja dalam eksploitasi dan budidaya laut masih kurang. Jumlah dan
tingkat teknologi sarana penangkapan dan pengelolaan masih perlu ditingkatkan
2) Lautan dan dasar laut sebagai sumber bahan dasar dan sumber energy. Berbagai
mineral dan bahan baku industri letaknya pada laut yang kedalamannya lebih dari

200 m. masalah yang dihadapi dalam pemanfaatan laut sebagi sumber bahan baku
dan sumber energi adalah kurangnya tenaga ahli dan terampil yang mampu
mengeksploitasi dan mengeksplorasi sumber- sumber tersebut di dalam,
disamping masalah permodalannya
3) Lautan sebagai medan kegiatan industri. Pemanfaatan laut sebagai medan kegiatan
industri belum efektif dan efesien. Masalahnya antara lain adalah belum
meratanya kegiatan industri
4) Laut sebagai tempat bermukim dan bermain. Pemanfaatan laut sebagai tempat
bermukim bagi sebagian suku laut seperti suku Badjo, suku anak lau, belumlah
diatut dan dikelola dengan baik. Demikian halnya laut sebagai tempat bermain/
olahraga seperti selancar, diving, dsb.
5) Laut sebagai medan hamkamnas. Bidang hamkamnas sangan dominan pada laut
sebagai media penting dalam kegiatan hamkamnas. Permasalahan yang dihadapi
adalah terbatasnya sarana untuk pertahanan dan keamanan di laut.
6) Laut sebagai zona ekonomi ekslusif Indonesia. Dengan diberlakukannya konvensi
PBB tentang hukum laut tahun 1982 (UNCLOS 82) maka Indonesia sebagai salah
satu Negara yang diuntungkan, masalahnya adalah semua potensi sumberdaya
yang terdapat di ZEEI yang hak pengelolaannya diberikan kepada Indonesia
belum bisa diketahui secara pasti, apalagi dimanfaatkan sebagai sumber
pembangunan.
D. Pembangunan Maritim Indonesia Jangka Panjang
Saat ini dapat diidentifikasikan bahwa sedikitnya terdapat 12 unsur pembangunan
maritim yang terdiri dari perikanan, perhubungan laut, industri maritim, pertambangan dan
energi, pariwisata bahari, tenaga kerja kelautan, pendidikan kelautan, masyarakat bahari dan
desa pantai, hukum tata kelautan, penerangan bahari, survei-pemetaan dan Iptek kelautan,
dan sumber daya alam & lingkungan hidup laut dan pantai. Namun didasarkan pada asas
maksimal, lestari, daya saing, prioritas, bertahap, berlanjut dan konsisten, maka terdapat lima
elemen utama, yaitu:
1) Perikanan, yang potensinya diperkirakan mencapai 6,7 ton/tahun, namun
pemanfaatannya baru sekitar 2,3 ton/tahun, dan terjadi overfishing di berbagai
tempat. Sementara ini belum ada manajemen sumber daya yang jelas dan
pembangunan perikanan belum didasarkan pada sistem agribisnis.
2) Perhubungan Laut, dimana jumlah tenaga kerja yang terserap kurang lebih hanya
2% dari jumlah Indonesia, dimana tenaga kerja tersebut terbagi lagi dalam aspek
angkutan laut, kepelabuhanan dan keselamatan pelayaran. Sedangkan keadaan

terakhir menunjukkan peningkatan hasil pembangunan yang dapat diangkut


melalui laut. Di pihak lain, asas cabotage tidak bisa berjalan karena berbagai
alasan.
3) Industri Maritim, yang bersifat padat modal,, berteknologi tinggi dan padat karya,
namun

jangka

waktu

kembali

modalnya

lama.

Kondisi

global

tidak

memungkinkan industri maritim berkembang, dan kita belum menguasai


teknologi untuk meningkatkan daya saing pada batas-batas tertentu. Dikarenakan
suku bunga yang tinggi, bahkan pembeli dalam negeri pun langka, dan belum
adanya rangsangan berupa intensif khusus. Dukungan industri penunjang
sangatlah dibutuhkan namun belumlah cukup kuat untuk bersaing pada saat ini.
4) Pertambangan dan Energi, sumber potensial dalam negeri belum banyak kita
ketahui, sedangkan untuk itu diperlukan modal yang tidak sedikit, teknologi
tinggi, dan resiko yang besar. Sejalan dengan itu, kita masih bergantung dari luar
negeri, terlebih dalam kebutuhan teknologi. Cadangan yang ada pada tahun 2005
tidak akan mencukupi kebutuhan dalam negeri, kecuali ditemukan cadangancadangan baru. Beberapa sumber energi dari laut seperti OTEC, ombak, pasut, dan
angin berpotensi untuk dikembangkan, begitu pula beberapa jenis mineral, seperti
bijih besi, emas, perak, timah, nikel, tembaga dan zink telah diketahui
keberadaannya di dasar perairan RI.
5) Pariwisata Bahari. Kepariwisataan RI yang secara umum melaju dengan sangat
pesat, namun khusus pariwisata bahari masih sangat tertinggal, dimana pada
kenyataannya sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar yang belum digali.
Ketidakjelasan peraturan dan perundang-undangan adalah salah satu faktor
penghambat dalam pembangunan wisata bahari ini, sedangkan SDM yang
membengkak yang dapat digunakan sebagai tenaga kerja, namun modal yang
sangat terbatas juga menjadi faktor penghambat yang perlu diantisipasi.
Untuk mewujudkan hal tersebut maka disusunlah pembangunan maritim Indonesia
jangka panjang, dalam Pembangunan Jangka Panjang II Maritim Indonesia dilakukan secara
bertahap, dengan waktu yang masih tersisa 4 pelita (20 tahun) pentahapannya dilakukan
sebagai berikut:
1) Pelita VII, dimana penekanan dilakukan pada perikanan dan pariwisata bahari
dangan tanpa mengesampingkan pengembangan sumberdaya manusia dan Iptek
maritim yang sesuai.
2) Pelita VIII, dimana penekanan diletakkan pada perikanan, perhubungan laut, dan
pariwisata bahari seiring dengan perkembangan Iptek dan SDM yang diperlukan.

3) Pelita IX, dimana penekanannya diletakkan pada perhubungan laut, pariwisata


bahari seiring dengan peningkatan Iptek dan SDM.
4) Pelita X, dimana penekanannya diletakkan pada pertambangan dan energi seiring
dengan pengembangan SDM dan Iptek yang diperlukan.
Khusus pada Pelita VII, kelima elemen Pembangunan Maritim Indonesia diarahkan
pada aspek perikanan, daya saing, perhubungan laut, industri maritim, pertambangan dan
energi, pariwisata bahari, dan kesesuaian antara Iptek dan SDM.

BAB III
PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-Undang RI No. 1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang
Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau
Kecil.
2. Tim Pengajar WSBM Unhas, 2011. Wawasan Sosial Budaya Maritim. Makassar:
Unit Pelaksana Teknis Mata Kuliah Umum (UPT-MKU) Universitas Hasanuddin
3. EVALUASI KEBIJAKAN IMPLEMENTASI TATA RUANG KAWASAN
PESISIR UNTIA DI KOTA MAKASSAR, OLEH ANDI SAMRA SALAM,
PROG.PASCA SARJANA UNIV.HASANNUDDIN, MAKASSAR 2014
(THESIS)