Anda di halaman 1dari 11

Analisis Pengaruh Faktor Lingkungan terhadap Kehidupan dan

Perkembangan Tumbuhan
Maulina Hidayah
Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Riau 2016
Pekanbaru 28293
email: maulina.hidayah20@gmail.com

ABSTRAK
Penelitan ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui kondisi faktor fisika kimia diarea
lingkungan kebun Biologi FKIP Universitas Riau. Penelitian ini dilaksanakan pada
tanggal 14 Oktober 2016 di Kebun Biologi FKIP Universitas Riau. Penelitian ini
dilaksanakan di daerah yang berbeda yaitu daerah terbuka, transisi dan ternaung. Metode
yang digunakan yaitu metode eksperimen. Alat dan bahan yang digunakn adalah sebagai
berikut : termohygrometer, thermometer, kertas lakmus universal, tisu, aquades, penggaris,
timbangan analitik, cawan porselen, aqua gelas, oven, incubator dan kayu / pisau (untuk
menggali tanah ). Adapun parameter yang diamati yaitu temperatur Udara, temperatur tanah,
kelembaban relatif Udara dan Tanah, berat tanah baik pada daerah ternaung, transisi dan
terbuka. Data di sajikan dalam bentuk tabel dan di analisis secara deskriptif. Hasil yang
diperoleh yaitu hasil temperatur udara pada daerah terbuka/terdedah lebih tinggi
dibandingkan ada daerah transisi maupun daerah ternaung, hal ini juga berlaku untuk hasil
pengukuran suhu udara. Sedangkan untuk hasil pengukuran pH tanah baik itu tanah pada
daerah terdedah, ternaung,dan transisi memiliki pH antara4 5 yang bersifat asam.
Kata Kunci : kelembaban, temperature, pH tanah, KAT dan KOT

PENDAHULUAN
Ekosistem merupakan bagian dari tingkat organisasi, makhluk hidup mempunyai
tingkat organisasi dari tingkat yang paling sederhana sampai tingkat yang paling
kompleks. Sebuah ekosistem terdiri atas semua organisme hidup (faktor biotik) dan
lingkungan abiotik (udara, tanah, air) yang mengelilinginya serta dapat menompang
semua kebutuhan hidupnya sendiri dengan bantuan sinar matahari. Misalnya sebuah
hutan, danau, padang rumput, kolam. Dengan bantuan energi matahari, tumbuhan
yang berklorofil mampu mengubah senyawa anorganik (CO2 dan H2O) menjadi
senyawa organik (C6H12O6) melalui fotosintesis (Campbell, 2009).
Ekosistem merupakan kesatuan interdependen dari masyarakat biotik dan
lingkungan abiotiknya atau dapat juga dikatakan sebagai interaksi antara populasi
dalam suatu komunitas biotik dengan faktor abiotiknya (Djarubito, 1989). Batas
ekosistem umumnya tidak dapat dipastikan dengan jelas. Ekosistem dapat berawal
dari mikrokosmos laboratorium, danau hingga hutan. Para ahli ekologi menganggap
keseluruhan biosfer sebagai suatu ekosistem global yang merupakan gabungan

seluruh ekosistem yang ada di bumi. Faktor-faktor abiotik yang mempengaruhinya


adalah suhu, air, cahaya matahari, iklim serta tanah dan batuan (Campbell et al,
2004).
Lingkungan adalah suatu sistem yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan tumbuhan. Artinya, tanpa adanya lingkungan, suatu tumbuhan tidak
akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Dalam hal ini, faktor lingkungan
memegang peranan penting dalam kelangsungan hidup tumbuhan. Faktor lingkungan
yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan tumbuhan dapat dibedakan
menjadi 4 kelompok utama, yaitu :
1. Faktor iklim (climatic factor), meliputi parameter iklim utama seperti cahaya,
suhu, ketersediaan air, dan angin.
2. Faktor tanah (edaphic factor), merupakan karakteristik dari tanah seperti nutrisi
tanah, reaksi tanah, kadar air tanah, dan kondisi fisika tanah.
3. Faktor fisiografi/topografi, meliputi pengaruh dari terrain seperti sudut
kemiringan tanah, aspek kemiringan
lahan dan ketinggian tempat dari
permukaan laut.
4. Faktor biotik, merupakan gambaran dari semua interaksi dari organisme hidup
seperti kompetisi, peneduhan, dan lain-lain. (Nursal dan Yuslim, 2012 )
1. Temperature udara
Temperatur Udara berpengaruh terhadap suatu ekosistem karena suhu merupakan
syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya
dapat hidup pada kisaran suhu tertentu. Suhu lingkungan merupakan faktor penting
dalam ekosistem karena pengaruhnya pada proses fisiologis organisme penghuni
ekosistem. Naiknya suhu 10C pada suhu yang masih dapat ditoleransi suatu
organisme maka metabolisme tubuh naik dua kali lipat. Terlalu tinggi suhu
menyebabkan enzim terdenaturasi dan rendahnya suhu lingkungan menyebabkan
enzim organisme terkait tidak bekerja secara optimal (Megurran, A.E. 1988).
Temperatur udara adalah tingkat atau derajat panas dari kegiatan molekul dalam
atmosfer yang dinyatakan dengan skala Celcius, Fahrenheit, atau skala Reamur.
Temperatur dan suhu udarasangatdipengaruhiolehtigafaktor, yaitu:
o Tinggi rendahnya suatu tempat
o Jarak suatu tempat dari pantai
o Penyerapans inar matahari oleh permukaan bumi
Artinya, semakin tinggi suatu wilayah, semakin rendah temperatur udaranya
.Semakin dekat suatu tempat dari pantai,semakin tinggis uhu udaranya.Semakin
banyak sinar yang diserap permukaan bumi maka temperatur udara menjadi
rendah.Semakin banyak sinar matahari yang dipantulkan kembali keangkasa, maka
suhu udara akan semakin panas (efek rumah kaca).

2. Angin
Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan dalam
penyebaran biji tumbuhan tertentu. Angin juga dapat mempengaruhi suhu udara pada
suatu ekosistem. Angin memperkuat pengaruh suhu lingkungan pada organisme
dengan cara meningkatkan hilangnya panas melalui penguapan (evaporasi) dan
konveksi. Angin juga menyebabkan hilangnya air di organisme dengan cara
meningkatkan laju penguapan pada hewan dan laju transpirasi pada tumbuhan. Empat
faktor pertama yaitu suhu, air, cahaya, dan angin merupakan komponen utama iklim
(climate). Iklim adalah kondisi cuaca yang dominan pada suatu lokasi (Campbell et
al, 2004).
3. Temperature tanah
Suhu tanah dapat di ukur dengan menggunakan alat yang dinamakan termometer
tanah selubung logam.Suhu tanah ditentukan oleh panas matahari yang menyinari
bumi.Intensitas panas tanah dipengaruhi oleh kedudukan permukaan yang
menentukan besar sudut datang, letak digaris lintang utara dan selatan dan tinggi dari
permukaan laut. Sejumlah sifat tanah juga menentukan suhu tanah antara lain
intensitas warna tanah, komposisi, panasienis tanah, kemampuan dan kadar legas
tanah.
Temperatur (suhu) adalah salah satu sifat tanah yang sangat penting secara
langsung mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan juga terhadap kelembapan,
aerasi, stuktur, aktifitas mikroba, dan enzimetik, dekomposisi serasah atau sisa
tanaman dan ketersidian hara-hara tanaman. Tenperatur tanah merupakan salah satu
faktor tumbuh tanaman yang penting sebagaimana halnya air, udara dan unsur hara.
Proses kehidupan bebijian, akar tanaman dan mikroba tanah secara langsung
dipengaruhi oleh temperatur tanah (Dariah & Adimihardja. 2006).
Beberapa faktor penyebaran yang mempengaruhi suhu antara lain:
o Jumlah radiasi yang diterima perhari, permusim, dan pertahun.
o Pengaruh daratan dan lautan.
o Pengaruh altitude, aspek.,panas laten.
o Pengaruh angin.
4. Kadar Air Tanah
Air tanah merupakan air dibawah permukaan tanah dimana rongga-rongga di
dalam tanah berada pada hekekatnya terdiri dari air. Pergerakan air tanah keatas oleh
kapilarisasi oleh permukaan air tanah kedalam daerah akar dapat merupakan sumber
air yang utama untuk pertumbuhan tanaman-tanaman. Temperatur dan perubahan
udara merupakan perubahan iklim dan berpengaruh pada efisiensi penggunaan air
tanah dan penentuan airyang dapat hilang melalui evaporasi permukaan tanah.
Dintara sifat khas tanah yang berpengaruh pada air tanah yang tersedia adalah
hubungan tegangan dan kelembaban, kadar garam, kedalaman tanah, dan lapisan
tanah (Buckman dan Brady, 1982)

Faktor yang mempengaruhi kadar air tanah yaitu bahan organik tanah
mempunyai pori-pori yang jauh lebih banyak daripada partikel mineral tanah yang
berarti luas permukaan penyerapan juga lebih banyak sehingga makin tinggi kadar
bahan organic tanah makin tinggi kadar dan ketersediaan air tanah.Faktor lainnya
yang mempengaruhi kadar air tanah adalah tekstur tanah, dengan adanya perbedaan
jenis tekstur tanah dapat menggambarkan tingkat kemampuan tanah untuk mengikat
air, contohnya tanah yang bertekstur liat lebih mampu mengikat air dalam jumlah
banyak dibandingkan tanah yang bertekstur pasir, sedangkan tanah bertekstur pasir
lebih mampu mengikat air daripada tanah bertekstur debu. (Hardjowigeno, 1985).
5. pH Tanah
pH adalah tingkat keasaman atau kebasa-an suatu benda yang diukur dengan
menggunakan skala pH antara 0 hingga 14. Sifat asam mempunyai pH antara 0
hingga 7 dan sifat basa mempunyai nilai pH 7 hingga 14. pH tanah atau tepatnya pH
larutan tanah sangat penting karena larutan tanah mengandung unsur hara seperti
Nitrogen (N), Potassium/kalium (K), dan Pospor (P) dimana tanaman membutuhkan
dalam jumlah tertentu untuk tumbuh, berkembang, dan bertahan terhadap penyakit.
Dalam mengukur tanah juga dibutuhkan alat ukur yang digunakan untuk
mengukur derajat keasaman tanah yaitu alat ukur ph tanah atau juga disebut dengan
soil ph meter/ Soil Tester atau bias juga dengan kertas lakmus universal. Cara kerja
soil tester sama seperti pada pengukuran kelembaban tanah dengan melihat nilai yang
diatas pada skala soil tester.
Tanah berkembang dari bahan induk yang berupa batuan dan bahan organik.
Selanjutnya batuan di kelompokkan menjadi batuan beku, sedimen dan metamorfose.
Batuan basa umumnya mempunyai pH tinggi dibandingkan dengan tanah yang
berkembang dari batuan masam. Tanah yang berada di bawah kondisi vegetasi hutan
akan cenderung lebih masam di bandingkan dengan yang berkembang di bawah
padang rumput. Hutan tanaman dengan daun kecil (konifer) dapat menyebabkan lebih
masam dibandingkan dengan hutan tanaman berdaun lebar. (Ardhana, 2012)
6. Kelembaban udara
Kelembaban udara berbanding terbalik dengan suhu udara. Semakin tinggi
kelembaban udara maka suhu udara di suatu daerah tersebut semakin rendah. Udara
panas umumnya banyak mengandung uap air daripada udara dingin.Tejadinya
penguapan air dari permukaan tanah, air dan tumbuhan akibat meningkatnya suhu
pada areal terbuka menyebabkan terjadinya peningkatan kandungan uap air di udara,
sehingga kelembaban udaranya tinggi. Sebaliknya, di dalam ruangan suhu udara
rendah dan hanya sedikit penguapan yang terjadi, sehingga kelembaban udaranya
rendah(Ardhana, 2012).
Kelembapan udara ada 2 jenis yaitu sebagai berikut:
1. Kelembaban mutlak (absolut) yaitu bilangan yang menunjukkan jumlah uap air
dalam satuan gram pada satu meter kubik udara.

2. Kelembaban relatif (nisbi), yaitu angka dalam persen yang menunjukkan


perbandingan antara banyaknya uap air yang benar-benar dikandung udara pada
suhu tertentu dan jumlah uap air maksimum yang dapat dikandung udara.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kelembaban udara adalah frekuensi
pemberian air sehingga dapat mempengaruhi kelembaban udara terutama pada siang
hari banyak dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai penyerapan air dari dalam tanah
sehingga mempunyai dampak positif terhadap pertumbuhan tanaman karena bahanbahan fotosintesis terpenuhi (Ardhana, 2012).
7. Kelembaban Tanah
Kelembaban tanah adalah jumlah air yang ditahan di dalam tanah setelah
kelebihan air dialirkan, apabila tanah memiliki kadar air yang tinggi maka kelebihan
air tanah dikurangi melalui evaporasi, transpirasi dan transporair bawah tanah.
Kelembapan mutlak (absolut) ialah jumlah massa uap air yang ada dalam suatu
satuan volume di udara. Kelembapan nisbi (relatif) ialah banyaknya uap air di dalam
udara berupa perbandingan antara jumlah uap air yang ada dalam udara saat
pengukuran dan jumlah uap air maksimum yang dapat ditampung oleh udara
tersebut.Jika suhu udara naik, kelembapan relatifnya berkurang. Oleh sebab itu, nilai
kelembapan relatif tertinggi terjadi pada pagi hari dan nilai terendah terjadi pada sore
hari.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium PMIPA, FKIP Universitas Riau
pada 14 Oktober 2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
eksperimen. Alat dan bahan yang digunakan termohygrometer, thermometer Hg, ,
kertas lakmus universal, tisu, aquades, penggaris, timbangan analitik, cawan
porselen, aqua gelas, oven, incubator dan kayu / pisau (untuk menggali tanah ) .
Langkah keja untuk pengukuran faktor iklim yaitu dilakukan pengukuran
temperatur udara dan kelembaban relatif udara dengan menggunakan
termohygrometer pada ketinggian 1 dan 2 meter selama 5 menit untuk masing
masing perlakuan di daerah terbuka (terdedah), ternaung dan transisi. Data hasil
pengamatan dituliskan pada tabel yang telah disediakan.
Langkah kerja untuk pengukuran faktor fisika dan kimia tanah yaitu pertama
dilakukan pengukuran suhu tanah dan kelembaban tanah di 3 kondisi yaitu kondisi
ternaung, transisi dan terdedah pada permukaan tanah dan pada kedalaman 30 cm.
Setelah itu diambil masing-masing sampel tanah pada ketiga kondisi tersebut.
Selanjutnya untuk menentukan pH tanah dari masing-masing sampel tanah, diambil
10 gram tanah dan dicampurkan dengan aquades secukupnya lalu diukur
menggunakan kertas lakmus universal. Demikian juga untuk mengukur kadar air
tanah ( KAT ), diambil 20 gram sampel tanah lalu masukkan kedalam cawan porselen
lalu dimasukkan kedalam incubator dengan suhu 105oC selama 2 jam. Lalu
ditimbang beratnya dan dihitung Kadar Air Tanah (KAT) dengan rumus :

Kadar Air Tanah (KAT) =

berat basahberat kering


berat basa h

100

Sedangkan untuk pengukuran kadar organik tanah pertama diambil 5 gram tanah dari
masing-masing sampel yang sudah diukur kadar air tanahnya lalu dibakar dengan cara
dimasukkan kedalam oven pada suhu 6000C selama 3 jam, lalu ditimbang beratnya dan
hitung Kadar Organik Tanah (KOT) dengan rumus :
Kadar Organik Tanah (KOT) =

berat keringberat abu


berat kering

100

HASIL DAN PEMBAHASAN


a. Hasil Pengukuran Temperatur Udara dan Kelembaban Relatif Udara pada Daerah
Terbuka, Transisi dan Ternaung

Ketingggia
(m)
1
2
1
2
1
2

Temperatur Udara
(oC)
32,9
34,1
35,7
35
35,1
38

Kelembaban Udara
(%)
45%
45%
38%
42%
44%
32%

PH

Keterangan

Daerah Ternaung

Daerah Transisi

Daerah Terbuka

Dari tabel diatas, didapatkan hasil bahwa temperatur udara pada daerah terbuka
(terdedah) pada ketinggian 2 m lebih tinggi dibandingkan dengan daerah daerah lain.
Hal ini disebabkan karena pengaruh penyinaran matahari pada daerah tersebut. Pada
daerah terdedah akan mendapatkan penyinaran matahari yang lebih banyak sehingga
menyebabkan temperatur di daerah tersebut menjadi lebih tinggi. Tinggi pada daerah
terdedah ini juga mempengaruhi, semakin tinggi kita mengukur temperaturnya maka
semakin tinggi juga hasilnya. Hal ini karena pencahayaannya lebih banyak mengenai
daerah tersebut. Selain itu faktor pencahayaan serta tinggi daerah, tingginya
temperatur di daerah terbuka juga dipengaruhi oleh sudut datangnya sinar matahari,
apabila semakin tegak arah sinar matahari (pada siang hari) temperature akan
semakin panas. Karena hal inilah tempat yang terbuka memiliki temperatur udara
yang lebih tinggi disbanding dengan daerah lain seperti daerah transisi dan daerah
ternaung.
Selain itu faktor keadaan tanah juga mempengaruhi keadaan temperature pada
suatau daerah, dimana tanah yang teksturnya kasar akan lebih banyak menyerap
panas sehingga temperaturnya tinggi, sedangkan tanah yang licin (teksturnya halus)

akan banyak memantulkan panas sehingga temperatur pada daerah tersebut menjadi
rendah.
Pada pengukuran kelembaban udara didapatkan hasil tertinggi yaitu pada daerah
ternaung dengan hasil 45% dan terendah pada daerah terbuka yaitu 32%. Hal
tersebut dikarenakan semakin lama dan banyak suatu daerah/lingkungan
mendapatkan sinar matahari maka semakin kering udara yang ada disekitarnya.
Kelembaban itu adalah banyaknya uap air yang terdapat di dalam udara. Jika suhu
udara disuatu daerah naik, maka kelembaban relatifnya akan berkurang. Oleh sebab
itu, nilai kelembaban relatif yang tertinggi terjadi pada pagi hari dan nilai terendah
terjadi pada sore hari. Namun pada ketinggian 1 m untuk daerah terbuka kami
mendapatkan hasil yang tinggi, seharusnya daerah tebuka memiliki kelembaban yang
paling rendah dibandingkan daerah lain. Hal ini terjadi kemungkinan akibat
kelompok yang tidak terlalu teliti dalam pelaksanaan praktikum.
Untuk pH tanah didapatkan hasil untuk daerah ternaung 4, untuk daerah transisi
5, danuntukdaerahterbuka 5. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi pH tanah dari ke 3
sampel ini rata-rata bersifat asam.

b. Hasil Pengukuran Temperatur Tanah dan Kelembaban Relatif Tanah pada Daerah
Ternaung, Transisi dan Terbuka (Terdedah)

Ketinggian
Permukaan
Kedalaman 30 cm
Permukaan
Kedalaman 30 cm
Permukaan
Kedalaman 30 cm

Temperatur Tanah
1
2
270C
270C
260C
260C
310C
310C
0
28 C
280C
0
33 C
330C
0
29 C
290C

Keterangan
Daerah Ternaung
Daerah Transisi
Daerah Terbuka

Dari tabel diatas diperoleh data untuk temperature tanah yang menunjukkan
banyaknya uap air yang terkandung dalam tanah . Temperatur tanah daerah yang
tertinggi adalah daerah terdedah yaitu 330C dan daerah yang terendah adalah
ternaung yaitu 270C. Hal ini dikarenakan pada daerah terbuka lebih banyak
mendapatkan pencahayaan dari sinar matahari sehinga menyebabkan temperatur
tanahnya menjadi tinggi sedangkan pada daerah ternaung karena lokasinya yang
banyak ditumbuhi tanaman menyebabkan tidak banyak mendapatkan penyinaran
matahari sehingga temperaturnya menjadi rendah. Selain itu temperatur pada
permukaan tanah lebih tinggi dibandingkan pada kedalaman karena pencahayaan
lebih banyak mengenai permukaan tanah saja. Dan pada kedalaman tanah lebih

banyak mengandung air sehingga temperaturnya lebih rendah disbanding dengan


permukaannya.
1. Untuk daerah terbuka

berat basahberat kering


berat basah

KAT =

20 gr13,97 gr
20 gr

100%

100%

= 30,15 %
2. Untuk daerah transisi

berat basahberat kering


berat basah

KAT =

20 gr16,37 gr
20 gr

100%

100%

= 18,15 %
3. Untuk daerah ternaung

berat keringberat abu


berat kering

KOT =

5 gr 3,92 gr
5 gr

100%

100%

= 21,6 %
4. Untuk daerah transisi
KOT =

berat keringberat abu


berat kering

5 gr4,54 gr
5 gr

100%

100%

= 92 %

Pada pengamatan pengukuran KAT tertinggi terdapat pada daerah ternaung,


sementara terendah pada daerah transisi. Hal ini karena terjadi penguapan yang lebih
besar pada daerah transisi yang disebabkan oleh cahaya matahari yang mengenai

permukaan tanah diwilayah tersebut. Faktor lain yang mempengaruhi kadar air tanah
adalah struktur tanah, pori tanah, dan permeabilitas tanah. Tanah yang mempunyai
ruang pori lebih banyak akan mampu menyimpan air dalam jumlah lebih banyak
karena ruang-ruang pori tanah akan terisi oleh air serta factor pencahayaan matahari .
Sedangkan untuk pengukuran KOT pada daerah ternaung KOT lebih tinggi
dibandingkan pada daerah transisi. Hal ini bertentangan dengan teori yang ada
dimana semakin tinggi kandungan bahan organik di dalam tanah maka juga akan
mencerminkan semakin tinggi kadar air dan ketersediaan air di dalam tanah. Hal ini
dikarenakan bahan organik tanah memiliki pori-pori mikro yang lebih banyak
dibandingkan partikel mineral tanah. Hal ini juga menunjukkan bahwa luas
permukaan penyerap air juga lebih banyak (Indranada, 1994).
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan, maka dapat diketahui bahwa hasil
percobaan faktor fisika dan kimia yaitu temperatur Udara, Temperatur tanah,
Kelembaban Relatif Udara dan Tanah berpengaruh terhadap lingkungan mikro.
Temperatur udara di daerah terdedah pada ketinggian 2 m lebih tinggi
dibandingkan dengan daerah daerah lain. Hal ini disebabkan Lama penyinaran
matahari, ketinggian,dan juga sudut datang sinar matahari, semakin tegak arah sinar
matahari (siang hari) akan semakin panas. Pada pengukuran kelembaban udara
didapatkan hasil tertinggi yaitu pada daerah ternaung dengan hasil 45% dan terendah
pada daerah terbuka yaitu 32%. Hal tersebut dikarenakan semakin lama dan banyak
suatu daerah/lingkungan mendapatkan sinar matahari maka semakin kering udara
yang ada disekitarnya. Sedangkan untuk kondisi pH tanah dari ke 3 sampel tanah
relative sama yaitu 4-5 yang menunjukkan bahwa tanah pada ke-3 sampel bersifat
asam. Temperatur tanah daerah yang tertinggi adalah daerah terdedah pada
permukaan yaitu 330C dan daerah yang terendah adalah ternaung yaitu 270C. Hal
ini dikarenakan oleh faktor pencahayaan dan jumlah air yang terkandung di daerah
tersebut.
Lain halnya dengan KOT semakin tinggi kandungan bahan organik di dalam
tanah maka juga akan mencerminkan semakin tinggi kadar air dan ketersediaan air di
dalam tanah. Hal ini dikarenakan bahan organik tanah memiliki pori-pori mikro yang
lebih banyak dibandingkan partikel mineral tanah. Hal ini juga menunjukkan bahwa
luas permukaan penyerap air juga lebih banyak (Indranada, 1994). Sedangkan untuk
KAT tertinggi terdapat pada daerah ternaung, sementara terendah pada daerah
transisi. Hal ini terjadi karena pada daerah ternaung evaporasi permukaan tanah tidak
terlalu tinggi sehingga tanah tidak banyak kehilangan air.
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, I Putu Gede. 2012. Ekologi Tumbuhan. Bali: Udayana University Press.

Buckman, H. O dan N. C Brady, 1982. Ilmu Tanah. Yogyakarta: Gajah Mada


University Press.
Campbel, Neil A.2009.Biologi Jilid III.Erlangga: Jakarta
Campbell, N.A., J.B. Reece dan L.G. Mitchell. 2004. Biologi. Penerjemah Wasmen
Manalu. Erlangga. Jakarta.
Hardjowigeno, S. 1985. Klasifikasi Tanah dan Lahan. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Megurran, A.E. 1988. Ecological Diversity and Its Measurments. Princeton
University Press : New Jersey.
Nurnasari, E dan Djumali. 2012. Pengaruh Faktor Lingkungan terhadap
Perkembangan Tumbuhan.Agrovigor. Jurnal Institut Pertanian Bogor,
Volume 5 No. 1 Maret 2012
Nursal, Yuslim Fauziah. 2012. Ekologi Tumbuhan. Program Studi Pendidikan Biologi
Universitas Riau. Pekanbaru.
Undang, K., F. Agus., A. Dariah & A. Adimihardja. 2006. Sifat Fisik Tanah Dan
Metode Analisisnya. Balai besar litbang sumber daya lahan pertanian
Departemen pertanian : Jakarta
Wirakusumah, Sambas. 2003. Dasar-dasar Ekologi. UI Press : Jakarta