Anda di halaman 1dari 4

Jurig Kucing Cantik

Aku sangat menyukai kucing. Bahkan, sekarang aku memiliki lima kucing. Mulai dari
James si Persia, Anna si kucing angora betina, Johnson si kucing angora jantan, hingga Ceper
dan Cepuk si kucing jalanan yang telah aku pungut. Aku merasa hatiku teriris-iris jika
melihat kucing terluka, meskipun dia kucing jalanan. Hasilnya, aku sering dianggap gila
kucing.
Begitu pula sore ini. Aku tak mengerti, walaupun jarum penunjuk jam tangan
menunjukkan pukul empat sore, namun langit terlihat lebih gelap. Aku melangkah lunglai
setelah lelah bekerja hingga sore ini. Kubiarkan saja peluh mebasahi tubuhku, biar
menemami langkahku yang sendirian. Dasi sudah kulonggarkan, kancing atas kulepas, dan
lengan kemeja sudah kugulung hingga atas. Benar-benar memprihatinkan kah? Mungkin,
haha.
Seorang pekerja kantoran yang berangkat pagi pulang sore. Malam dihabiskannya
untuk menonton film atau pun anime bersama kucing. Dari sarapan sampai makan malam,
selalu dilakukan di warung pinggir jalan. Sebelum dan sesudah kerja, selalu bermitan pada
kucing-kucingnya. Tak pernah terlihat menggandeng bahkan berjalan beriringan dengan
wanita. Hang out bersama teman bisa dihitung, tak lebih dari dua kali sebulan. Ismail
mengatakan itu sambil mencibirku. Ismail pula lah teman yang keluar pergi denganku. Dan
intinya, itu memang deskripsi tepat untukku.
Aku selalu tersenyum lemas saat mengingat deskripsi tentangku. Begitu pula saat ini,
di sore kelabu ini. Aku duduk dan memandang sekeliling para penikmat pengganjal perut di
warung pinggir jalan ini. Semua berwajah kucel dan terlihat lunglai usai bekerja, tak jauh
beda denganku. Makan makanan yang disajikan dengan rakus. Makan apapun tak masalah,
asalkan perut terisi dan kantong tak jebol.
Mataku mulai memandang sekeliling. Aku memandang sekilas setiap wajah-wajah
pekerja kantor itu. Hingga mataku berhenti pada seorang wanita itu. Berambut panjang
terurai, berkulit sawo matang, beralis tebal, bermata lebar, tak berhidung pesek, juga tak
mancung-mancung amat, bermulut tipis yang kini tengah mengunyah makanannya.
Pandangan wanita itu sayu, bahkan jika kupandang lebih dalam, ada gurat-gurat kesedihan
diantara paras ayunya itu. Bahkan matanya mencekung dan ia terlihat pucat. Terlalu lama
memandang wanita itu, tubuhku jadi merinding sendiri. Tak tahu mengapa.

Aku mulai mengamati gerak-geriknya, mulai mencoba menerawang apa yang sedang
ia fikirkan. Terlalu sulit untuk ditembus. Kemudian aku mulai bermain dengan fantasiku.
Berimajinasi apa yang sedang ia imajinasikan. Aku kemudian tak mengira bahwa imajinasiku
terlampau jauh, dan baru aku menyadari bahwa sosok wanita itu sudah tak ada di sana. Serasa
kehilangan bidadari nirwana, aku pun terluka.
Aku kemudian menemukan Cantik, kucing manis yang kini duduk di pangkuanku.
Cantik tadi duduk dibawah kursi tempat wanita misterius menyantap makanannya. Cantik
berkulit hitam, bermata tajam, cukup sehat untuk seekor kucing jalanan. Mungkinkah ia
seorang kucing jalanan biasa? Atau kucing ini milik wanita tadi?, pertanyaan dari Ismail tadi
masing terngiang di kupingku. Tapi kemudian aku tak acuh.
Sudah seminggu Cantik tinggal bersama kami. Bersama diriku, James, Anna,
Johnson, Ceper, dan Cepuk. Hidupku tak jauh berbeda. Hanya menambah satu kucing saja.
Ada disaat aku berbahagia bermain dengan mereka sesaat lelah bekerja, ada saat aku lelah
melihat tingkah nakal mereka. Sofa yang penuh cakaran kaki mereka, tembok yang berbekas
kaki mereka, barang pecah belah yang tiba-tiba pecah, atau pigora yang jadi miring.
Sebulan kemudian, aku mulai merasakan sesuatu. Aku merasa tidak sehat pada lima
kucing pertamaku. Badan mereka selalu terlihat lunglai. Bahkan, disaat aku membuka pintu
kontrakan dan menyapa mereka, kucing-kucing itu justru menerobos lewat kakiku dan pergi
ke luar. Mereka begitu garang ketika melihat aku datang membuka pintu. Dan selalu begitu.
Ku biarkan mereka seperti itu, toh mereka pasti kembali. Ini pasti karena kucing baru itu.
Sepertinya dia membawa sial!, ujar Ismail yang kini mampir di kontrakanku.
Aku sedang lelah. Bangun kesiangan, hampir kena SP. PHK jadi momok. Teman
kantor yng tiba-tiba licik menyerangku. Atasan yang selalu diktator. Ibu warung yang ingat
hutangku padanya. Aish, semua kacau.
Prang..., kepalaku langsung menoleh mencari sumber suara itu. Aku terbangung
ogah-ogahan melihat kini siapa yang melakukannya. Aku hampir terkesiap, melihat James
yang tertimpa piring di dapur. Ia terbaring di sekitar pecahan piring, ada sedikit goresan darah
yang mulai terlihat. Ismail menyusulku dari belakang.
Aish, kau ini! Sial!. Serasa tersambar petir. Aku tiba-tiba menyesal mengatakan hal
itu pada James. Saat kuangkat, ku rasakah tubuhnya begitu lemah. Aku mulai merabanya
dengan halus, dan mulai berkomat-kamit meminta maaf pada James. Dia hanya mengeong
lemah. Dan saat itu kusadari, ada Cantik di atas kami, sedang melihat dengan tatapan yang
tak kumengerti maknanya dari atas rak meja makan. Tuh kan, apa ku bilang. Dia biang
keroknya! Tunjuk Ismail pada Cantik.

Hampir larut malam, tapi Ismail meminta pulang. Wajahnya terlihat pucat dan saat
aku bersalaman dengannya kurasakan tangannya begitu dingin. Saat kutanya mengapa, dia
hanya tersenyum lemas. Aku mendengar derap kaki yang awalnya perlahan kini berlari.
Bahkan kulihat, Ismail berlari tanpa memandang ke belakang.
James, kucingku justru kini tak pernah memandangku. Selalu saja memilih pergi jauh,
bahkan membawa makanan yang kuberi dan ia makan sendiri. Anna, si manis Persia, selalu
mengusap-usap kepalanya di dekat kakiku, ia bahkan selalu ingin menjilat-jilat tubuhku tanpa
mengerti kondisiku. Tapi ia tak berani sekalipun melihat wajahku. Gara-gara itu, aku mulai
sering melihat kaca. Johnson, si ganteng itu, aku tak tahu. Dia selalu memandangku dengan
sorotnya yang aneh. Selalu. Mulai saat aku berpamitan bekerja hingga sampai pulang sore,
sorot matanya selalu sama. Johnson seperti ingin memangsaku. Matanya selalu menatap
mataku. Johnson seperti ingin mengatakan sesuatu, namun mana ku tahu. Ceper dan Cepuk
adalah kucing yang mungkin saudara yang aku pungut dari jalanan. Aku tak tahu, mereka
selalu rebut akhir-akhir ini. Mereka juga selalu memperebutkan sesuatu.
Akhirnya kusadari. Semua telah berubah saat Cantik datang. Aku merasa justru paras
kucing ini semakin cantik saja, sedang kucingku yang lain kumal dan tak berenergi.
Pikiranku mulai melayang, ada yang salah di sini.
Saat kucoba kembali menerawang apa yang telah kulakukan. Aku ingat wanita
misterius itu. Wanita yang berkulit pucat dan bermata cekung itu, kupikir-pikir mulai tak ada
yang istimewa. Tiba-tiba bulu kudukku merinding saat mengatakan hal itu.
Benar, aku harus mengembalikannya.
Aku tak tahu, sekarang posisiku terpojok di kamarku. Kamarku memang tak seterang
ruangan lain, hanya satu lampu bohlam yang menyinari ruangan ini. Aku sangat merinding,
terus terang saja. Cantik memandangku. Aku mencoba memberanikan diri melihat
bayanganku disana. Iya, aku menemukan bayanganku disana. Tapi, baru saja aku sadari.
Cantik bukan memandangku. Cantik memandang sosok lain dibelakangku. Aku bahkan tak
berani memutar kepalaku. Aku hanya memandang ke bawah, aku rasanya aku ingin mati saja.
Ada tiga bayangan di kamar ini. Aku, Cantik, dan aku tak tahu siapa lagi. Bayangan dengan
rambut panjang.

Aku tengah duduk dan menikmati makan soreku di warung ini lagi. Aku mulai
menyapu satu persatu wajah itu, hingga aku mengenal ada sosok Robby, teman kantorku.
Pandangan Robby lurus pada sesosok wanita. Robby bahkan tak berkedip sekalipun
memandang wanita itu. Saat itu aku menyadari, bahwa wanita itu adalah si empunya kucing.
Awalnya, aku ingin menyapany. Namun, sepertinya ia berada dalam bayang-bayang yang tak
terputus. Dia mulai berfantasi dan mencoba mengikuti alur imajinasi wanita itu. Ah apa daya,
aku tak tahu apa yang ia imajinasikan. Mungkin Robby juga tak tahu apa yang wanita itu
imajinasikan.
Robby sepertinya terlalu larut mencoba berimajinasi. Wanita itu sudah tak terlihat di
kursinya. Makanannya masih setengah, bahkan es teh miliknya hanya terseruput sedikit.
Kemudian, Robby menemukan kucing hitam manis dibawah kursinya. Dengan tenang,
Robby mulai mengangkat dan meraba dengan halus kucing itu. Kemudian, dari kejauhan aku
melihat Robby menggendong kucing itu pergi...