Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
proses pemesinan yang menghasilkan suatu komponen-komponen,
dibutuhkan proses pengukuran lebih lanjut buat menentukan kelayakan komponen
tersebut apakah memenuhi standar yang diinginkan atau tidak. Oleh karena itu,
dibutuhkan alat ukur yang memiliki tingkat ketelitian dan kecermatan yang tinggi.
Mikrometer merupakan alat ukur linier yang memiliki ketelitian dan
kecermatan yang lebih tinggi dari mistar ingsut, yang mana ketelitian umumnya
sebesar 0.01 mm. Namun untuk jenis khusus dibuat kecermatan 0.005 mm, 0.002
mm, 0.001 mm dan bahkan ada yang sampai 0.0005 mm. Pemakaian mikrometer
memang dirancang dengan pemakaian yang praktis sehingga memudahkan
seorang operator dalam pengukuran
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari prakikum ini adalah sebagai berikut :
1. Pekamaian atau penggunaan mikrometer untuk suatu pengukuran
2. Kalobrasi sebuah mikrometr luar
1.3 Manfaat
Dari praktikum ini manfaat yang saya dapat adalah sebagai berikut :
1. Saya jadi tahu apakah alat ukur tersebut masih layak pakai atau tidak
2. Saya jadi tahu cara mengukur dengan baik dan benar

BAB II
TEORI DASAR

2.1 Pengertian
Mikrometer luar adalah alat ukur yang dapat mengukur dimensi luar
dengan cara membaca jarak antara dua muka ukur sejajar yang berhadapan, yaitu
sebuah muka ukur tetap yang terpasang pada satu sisi rangka berbentuk U, dan
sebuah muka ukur lainnya yang terletak pada ujung spindle yang dapat bergerak
tegak lurus terhadap muka ukur, dan dilengkapi dengan sleeve dan thimble yang
mempunyai graduasi yang sesuai dengan pergerakan spindle.

Gambar 2. 1 Mikrometer (Andika.blogspot.com )


Mikrometer dalam jenis tubular (mikrometer dalam dua-titik) adalah alat ukur
yang dapat mengukur dimensi dalam dengan cara membaca jarak antara dua muka
ukur sferis yang saling membelakangi, yaitu sebuah muka ukur tetap yang
terpasang pada batang utama dan sebuah muka ukur lainnya yang terletak pada
ujung spindle yang dapat bergerak searah dengan sumbunya, dan dilengkapi
dengan sleeve dan thimble yang mempunyai graduasi yang sesuai dengan
pergerakan spindle.
Mikrometer adalah jenis alat ukur linier yang paling tinggi tingkat kecermatannya.
Kecermatan berarti kemampuan alat ukur untuk menunjukkan angka terkecil dan

han pengukuran, jika mistar ukur mempunyai kecermatan 1 mm, mikrometer0,1


mm maka mikrometer mempunyai kecermatan 0,01 mm bahkan ada yang
mencapai 0,002 mm.
Dalam hal ini meskipun namanya mikrometer tetapi tingkat kecermatan alat ukur
ni tidaklah bisa mencapai mikron, sebab bagian pengubah mikometer terdiri dan
ulir luau dan pasangannya. Jika mikrometer tersebut mempunyai tingkat
kecermatan 1 mikron maka bagian pengubah yang terdini dan ulir luar dan
pasangannya tersebut harus mempunyai kesalahan yang lebih kecil dan 1 mikron,
dalam proses pembuatannya hal ini sangat sulit diwujudkan.
2.2 Jenis-jenis Mikrometer
Mikrometer memiliki 3 jenis umum pergelompokan yang didasarkan pada
aplikasi berikut :
2.2.1 Mikrometer Luar
Mikrometer luar digunakan untuk ukuran memasang kawat, lapisanlapisan, blok-blok dan batang-batang. Melihat kontruksi mikrometer yang
berbentuk batang U sehingga memiliki keterbatasan pengukuran, oleh
karenanya dibuatlah mikrometer dengan jangkauan batas 0-25mm, 25-50mm,
50-75mm, dengan ketelitian 0,01 mm.
2.2.2 Mikrometer dalam
Mikrometer dalam digunakan untuk menguukur garis tengah dari
lubang suatu benda.
2.2.3 Mikrometer kedalaman
Mikrometer kedalaman digunakan untuk mengukur kerendahan dari
langkah-langkah dan riot-slot.
Berikut ini adalah jenis-jenis micrometer diperlihatkan pada gambar dibawah
ini :

Gambar 2. 2 Mikrometer (100- 125 ) (Andika.blogspot.com )

Gambar 2. 3 Mikrometer ( 0- 100 mm/0-40 ) (Andika.blogspot.com )

Gambar 2. 4 Limit Mikrometer ( 0-50 mm) (Andika.blogspot.com )

Gambar 2. 5 Mikrometer Diameter Dalam (Andika.blogspot.com

Gambar 2. 6 Mikro Meter Tiga Kaki (Andika.blogspot.com )

Gambar 2. 7 Mikrometer Lubang (Andika.blogspot.com )

Gambar 2. 8 Mikrometer V-Anvil (Andika.blogspot.com )

Gambar 2. 9 Mikrometer Ulir (Andika.blogspot.com)

Gambar 2. 10 Mikrometer Pada Gigi (Andika.blogspot.com )


2.3 Prinsip Kerja Mikrometer
Prinsip kerja mikrometer yaitu pengubah mekanik yang semata-mata
berdasarkan prinsip kinematik yang meneruskan serta mengubah isyarat sensor
yang biasanya berupa gerakan translasi (besaran panjang) menjadi gerakan rotasi
(besaran panjang) yang relative lebih mudah untuk diproses/diubah.
Mikrometer merupakan alat ukur dengan pengubah berprinsip mekanik/
kinematik. Suatu putaran poros ukur secara teoritik akan menggeserkan poros ini
sebesar satu pits ulir utama (0,5 mm). Skala yang dibuat pada silinder putar
dapat dibagi menjadi 50 bagian yang berarti 1 bagian skala setara dengan
gerakan translasi sebesar 0,01 mm.
Kebenaran kecermatan pengukuran ini dapat dicapai berkat ulir utama yang
dibuat dengan geometri yang teliti serta pemakaian racet untuk menjaga
keterulangan pengukuran.
Meskipun namanya mikrometer, karena alasan kendala pembuatan dan
kepraktisan pemakaian, alat ukur ini umumnya dibuat dengan kecermatan tidak
mencapai 1 mikrometer.

Gambar 2. 11 Prinsip Kerja Mikrometer (Andika.blogspot.com )


Komponen-komponen utama mikrometer dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Gambar 2. 12 Komponen-komponen Utama Mikrometer (Andika.blogspot.com )

Gambar 2. 13 Skala Mikometer (Andika.blogspot.com )


Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada micrometer ini adalah:

1. Meskipun ulir utama baut dan mur dibuat dengan ketelitian geometri yang
tinggi, tetap saja akan terjadi kesalahan kisar. Hampir tidak mungkin
membuat ulir dengan kesamaan harga pits sepanjang baut dan mur sampai
dengan orde misalnya 0,1 m.
Akibat ketidaksamaan harga pits sepanjang baut dan mur, satu kali putaran
baut tidak mungkin menggeserkannya benar-benar sebesar 1 pits teoritik
(misalnya 0,5 mm) melainkan akan menggeserkan sebesar 1 kisar yang
harganya bias lebih atau kurang dari 0,5 mm. Akibatnya, n kali putaran
baut

akan

menyebabkan

kesalahan

kisar

kumulatif

(kesalahan

terjumlahkan) yang bisa cukup besar yang mungkin melebihi harga


kecermatan pembacaan skala putar.
2. Satu kali putaran poros ukur (silinder putar) dapat dibagi 50 dengan cara
menuliskan skala putar pada silinder putar. Karena ulir utama dirancang
dengan harga pits sebesar 0,5 mm berarti satu kesatuan skala putar
berharga teoritik sebesar 0,01 mm. kecermatan sebesar 0,01 mm ini harus
dijamin tak akan salah sampai dengan orde misalnya 0,001 mm untuk
setiap satuan skala putar dan kesalahan kumulatif misalnya 0,04 mm
untuk 50 kali putaran sepanjang geseran maksimum poros ukur untuk
kapasitas ukur micrometer, misalnya 25 mm.
Berdasarkan kenyataan ini, sangatlah sulit membuat micrometer dengan
kecermatan 0,001 mm dan menjamin kebenaran (ketelitian) pembacaan
proses pengukuran dengan hasil suatu dimensi objek ukur dengan
kecermatan tinggi itu, misalnya 4,167 mm.
3. Suatu kekuatan putaran (momen punter) yang relative ringan (kecil) akan
memberikan gerakan translasi dengan gaya dorong yang kucup tinggi.
Bagi benda ukur yang tipis tekanan pengukuran yang besar akan
melenturkan benda ukur yang mengakibatkan terjadinya kesalahan
pengukuran.
Tangan manusia tidak sensitif terhadap pemutaran (kadang kuat, kadang
ringan) hal ini akan membuat kita tidak mampu mengulang pemutaran
dengan sama benar. Akibatnya, bila pengukuran diulang dan hal ini

dilakukan dengan cara memutar secara langsung silinder putar, hasil


pengukuran bisa tidak jadi sama.
Oleh sebab itu, pengukuran harus dilakukan dengan memutar silinder putar
lewat racer (gigi-gelincir). Racet ini akan menjamin ketepatan hasil
penukuran yang diulang-ulang sebab kekuatan putaran silinder putar dijaga
seringan mungkin dan tetap sama (sesuai dengan kekuatan pegas racet).
4. Jika mulut ukur ditutup yaitu memutar (memlaui racet) poros ukur
sehingga berimpit dengan landasan, pada saat itu garis indeks (saris
memanjang pada silinder tetap) harus persis menunjuk skala putar pada
harag nol. Untuk memungkinkan hal ini, silinder tetap, diatas mana garis
indeks dituliskan, harus bisa diatur posisinya. Hal ini dilaksanakan dengan
merancang silinder tetap yang terpisahkan dari rangka dengan membuat
suaian pas (transition pits) terhadap silinder mur utama. Dengan cara ini
penyetelan 0 dimungkinkan dan terakit alat ukur terwuijudkan.
2.4 Kalibrasi Mikrometer Luar
Setelah digunakan dalam jangka waktu yang lama, mikrometer perlu
dikalibrasi untuk mendapatkan tingkat kecermatan sesuai dengan standarnya. Halhal yang perlu diperhatikan dalam mengkalibrasi mikrometer :
1. Gerakan silinder putar/poros ukur harus dapat berputar dengan baik dan
tidak terjadi goyangan karena ausnya ulir utama.
2. Kedudukan nol. Apabila mulut ukur dirapatkan maka garis referensi harus
menunjukan nol.
3. Kerataan dan kesejajaran muka ukur (permukaan sensor).
4. Kebenaran dari hasil pengukuran. Hasil pengukuran dibandingkan dengan
standar yang benar.
5. Bagain-bagian seperti gigi gelincir dan pengunci poros ukur harus
berfungsi dengan baik.
2.4.1 Kalibrasi Sensor
Sensor mikrometer ada dua buah, yaitu sensor diam pada silinder tetap
dan sensor gerak pada silinder putar. Kedua sensor ini merupakan sebuah
bidang, sensor yang ideal adalah sensor yang rata dan kedua bidang sensor
harus sejajarar diSernua posisi. Dalam mengkalibrasi sensor mikrometer ini,

maka pengujian yang harus dilakukan adalah pengecekkan pada variabel


kerataan dan kesejajaran untuk kedua sensor tersebut.
2.4.2 Kalibrasi Kerataan Sensor Mikrometer
Uji kerataan pada sensor mikrometer dilakukan dengan rnenggunakan
lensa rata (optical flat). Kaca rata (optical flat) yang mempunyai kerataan
sebesa 0,2 prn sampai 0,05 pm diletakkan dengan hati hati diatas permukaan
salah satu sensor (muka ukur) tentu saja setelah muka ukur tersebut
dibersihkan terlebih dahulu. Had hati jangan sekali-kali sampai menekan dan
menggosokkan lensa ke muka ukur sebab ini dapat merusak permukaan kaca
rata. Menggunakan prinsip interferensi cahaya, gunakan sumber cahaya
monokromatis atau kalau tidak ada dapat menggunakan lampu biasa untuk
memeriksa kerataan permukaan muka ukur. Untuk muka ukur yang rata
maka melaui kaca rata ini kita melihat permukaan muka ukur dengan jelas
tanpa ada garis-garis berwarna. Sebaliknya untuk muka ukur yang tidak rata
maka Akan terlihat garis-garis berwarna dengan po!a tertentu yang
menandakan ketidakrataan permukaan muka ukur tersebut, Satu garis
berwarna menyatakan ketidakrataari sebesar 0,32 pm. Mikrometer dianggap
masih baik jika terlihat paling banyak 2 garis (4 garis untuk mikrometer besar
dengan kapasitas lebih besar dari 250 mm) Pemeriksaan dilakukan pada
kedua muka ukur (sensor ),
2.4.3 pemeriksaan kesejajaran muka (sensor) ukur
Selain harus rata maka kedua muka ukur mikrometer harus sejajar.
Untuk memeriksa kesejajaran clapat digunakan sejenis kaca datar yang
mempunyai dua permukaan yang rata dan sejajar, oleh sebab itu disebut
dengan kaca parallel,Kaca parallel ini biasanya tersedia dalam beberapa
ketebalan Misalnya = 12,00 mm, 12,12 mm, 12,25 mm, 12,37 mm. Kaca
parallel ini digunakan secara berurutan untuk mengecek kesejajaran kedua
muka ukur pada beberapa posisi atau kedudukan dari silinder putar (poros
ukur).
Caranya adalah sebagai berikut:

Kedua muka ukur dibersihkan, kemudian salah satu kaca parallel


diletakkan di antara kedua muka ukur. kaca parallel ini dijepit dengan
memutar silinder putar (melalui gigi gelincir) dengan sangat hati-hati. Dengan
bantuan suatu sumber cahaya, maka pads kedua muka ukur akan terlihat
(melalui kaca parallel) satu atau bebeapa garis berwarna dengan pola
tertentu . Untuk memeriksa kesejajaran kedua muka ukur mikrometer dengan
kapasitas lebih clan 25 mm maka digunakan bantuan balok ukur sebagai
penambah ketebalan kaca parallel. Balok ukur ini diapit oleh dua bush kaca
parallel sebelum kemudian balok ukur disertai kedua kaca parallel tersebut
dijepit oleh kedua muka ukur. Penjepitan dilakukan oleh kedua muka ukur
tepat ditengah tengah kaca parallel. Setelah pola clan jumlah garis interferensi
diamati, maka lakukan prosedur yang sama dengan mengubah posisi
penjepitan muka ukur pads empat posisi di sekeliling pusat (kedudukan
pertama) pads jarak kurang lebih 1,5 mm. Dan kelima posisi pengamatan
interferensi ini ambit harga (jumlah) yang terbesar, kemudian bandingkan
dengan standar kesejajaran yaitu jumlah garis maksimum yang diijinkan
Penafsiran dari bentuk & jumlah garis-garis ke-parallel-an :
1. Kedua permukaan rata/datar dan parallel. Ke-parallel-an : 0,32 pm x 2 =0,6
pin
2. Kedua permukaan r3ta/datar dan ke-parallel-an adalah 0,32 pin x 3 =
0,96pin =fpm
3. Landasan tetap berbentuk bulat sebesar 0,32 pin x 2 = 0,64 pin. Poros ukur
berbentuk lengkungan dengan kemiringan terhadap landasan tetap sebesan
0,32 pin x 3 = 1 pin. Ke-parallel-an : 0,32 pm, x 5= 1,6 pin
4. Landasan tetap berbentuk bulat sebesar 0,6 pin dan poros ukur
berbentukbulat pads ujungnya.
2.4.4 Kalibrasi Skala
Untuk memeriksa kebenaran dari skala mikrometer digunakan satu atau
susunan dan beberapa balok ukur dari kelas 1. atau 2 sebagai ukuran standar.
Seluruh daerah ukuran mulai dan nol sampai ukuran maksimum (25 mm)
harus diperiksa dengan cara bertingkat, yaitu memilih beberapa balok ukur

dengan kenaikkan ukuran sebesar 0,5 mm. Setelah posisi nol diperiksa (kalau
perlu disetel dahulu) maka kalibrasi dimulai dengan mengukur balok ukur 0,5
mm dan kesalahan (kesalahan sistematis) yang mungkin tedadi adalah
sebesar: Kesalahan = pembacaan mikrometer - ukuran balok ukur.
Harga kesalahan ini setiap kali dicatat sampai akhirnya dicapai kapasitas
maksimum mikrometer (25 mm). kemudian pengukuran diulangi lagi dimulai
dan kapasitas ukur maksimum dan diturunkm 0,5 mm sampai ke nol. Setelah
kedua harga kesalahan (dari pengamatan naik dan pengamatan turun)
Bagain-bagian mikrometer terdiri dari
1. Rachet
Bagian ini berfungsi untuk membuat maju atau mundur spindle face
sehingga sisi benda dapat masuk antara anvil dan spindel face.
2. Thimble
Merupakan bagian dimana skala nonius berada. Banyak beberapa
mikrometer sekrup 1 putaran penuh dari timbler mewakili 0.05 mm, ada juga yang
1 putaran penuh mewakili 1 mm tentunya hal ini tergantung dari tipenya.
3. Sleeve
Tempat dimana skala utama berada, biasanya setiap 1 baris mewakili 1
mm.
4. Lock nut
Seperti dengan namanya, bagian ini berfungsi untuk mengunci spindel
agar tidak bergeser-geser dalam melakukan pengukuran suatu benda.
5. Spindle
Merupakan silinder yang dapat digerakkan menuju anvil sedangkan untuk
permukaannya disebut anvil face.
6. Anvil
Merupakan suatu penahan yang ketika benda diletakkan diantara anvil
face dan spindle face
7. Frame merupakan rangka dari mikrometer.

BAB III
METODOLOGI

3.1 Prosedur Praktikum Teoritis


Prosedur praktikum teoritis dalam melakukan pengukuran dengan
mikrometer antara lain sebagai berikut:
1. Periksa keudukan nol (rapatkan sensor). Lakukan penyetelan bila
2.

kedudukan belum nol.


Periksa kedataran kedua permukaan sensor dengan memakai optical flat
dan sumber cahaya monokromatis. Hati-hati dalam memakai optical flat,

3.

jangan sampai permukannnya tergores.


Periksa kesejajaran kedua permukaan sensor dengan memakai optical

4.

parallel, jaga lensa agar tidak tergores.


Periksa kebenaran skala mikrometer dengan blok ukur.

3.2 Prosedur Praktikum Aktual


Prosedur praktikum aktual dalam melakukan pengukuran dengan mikrometer
antara lain sebagai berikut:
1. Alat dan bahan disiapkan.
2. Periksa kebenaran dari alat ukur mikrometer terlebih dahulu dengan
melakukan kalibrasi.
3. Tandai benda kerja yang akan diukur.
4. Letakkan benda pada V-Blok.
5. Lakukan pengukuran sebanyak 2 kali pada posisi yang berbeda dan 2
pengamat yang berbeda.

Gambar 3. 1 Proses Pengukuran


6. Setelah itu, lakukan pencarian rata-rata hasil pengkuran, lakukan
perhitungan toleransi max, toleransi min.
7. Lakukan analisa tentang pengamatan.

3.3 Alat-alat dan Bahan


3.3.1 Alat yang digunakan dalam praktukum ini adalah :
1. Mikrometer Luar 0-25 mm

Gambar 3. 2 Mikrometer 0-25 mm

2. Mikrometer luar 25-50 mm

Gambar 3. 3 Mikrometer Luar 25-50


3. Kunci Penyetel Kalibrasi

Gambar 3. 4 Kunci Penyetel Kalibrasi


3.3.2 Bahan yang digunakan dalam praktukum ini adalah :
1. Proses Bertingkat Berulir

Gambar 3. 5 Poros Bertingkat

BAB IV
DATA PENGAMATAN

4.1 Data Berbentuk Tabel

Gambar 4. 1 Demensi Benda Ukur


Tabel 4. 1 Data Pengamatan b
`
N
o

Bidang

kode

h7

h7

18

17,982

h7

25

24,979

h7

18

17,982

h7

7,985

N
o

Ukura

h7

h7

Kod
e

Toleransi
maksimu
m
10

minimu
m
9,985

Pengamat A( mm)
tititk
Ratarata
1
2
10,0
6
17,9
8
25
17,9
1
7,91

10,0
3
17,9
9
25,0
2
17,9
1
7,91

10,04
5
18,04
25,02
17,91
7,91

Tabel 4. 2 Data Pengamatan b


Pengamat A(mm)
tititk
RataToleransi
rata
maksimu
minimu
1
2
m
m
10
9,985
10,0 9,96
9,99
2
18
17,982
18,0 18,1 18,09

Pengamat B ( mm)
tititk
Ratarata
1
2
9,99

9,97

9,98

18,0
4
25,0
1
17,9
8
8

18,0
5
25,0
3
17,9
8
7,99

18,04
25,02
17,98
7,985

Pengamat B (mm)
tititk
Ratarata
1
2
10,1
8
17,9

10,0
4
18

10,11
17,99

17,982

4
25,0
1
17,9

5
25,0
2
17,9

7,985

8
7,99

8
7,98

h7

25

24,979

h7

18

h7

5
25,01
5
17,98

8
25
17,4

25,0
4
17,4

7,985

1
7,92

3
7,92

25,02
17,42
7,92

4.2 Data Berbentuk Grafik


GRAFIK % ERROR PENGAMAT A DAN B (BENDA 1 DAN 2)
3
2.5
pengamat a benda 1

2
% Error

pengamat a benda 1

1.5

pengamat b benda 1

pengamat b benda 2

0.5
0
1

Titik Pengamatan

Gambar 4. 2 Grafik % Error

BAB V
ANALISA DATA

5.1 Pengolahan Data


5.1.1 Data Pengamat A
1.Perhitungan rata-rata data benda 1
Rata-rata=

( titik 1=titik 2 )
2

A=

( 10,6+ 10,03 )
=10,045
2

B=

( 17,98+17,99 )
=17,985
2

C=

( 25+ 25,04 )
=25,02
2

D=

( 17,91+17,91 )
=17,91
2

E=

( 7,91+7,91 )
=7,91
2

2. Perhitungan rata-rata benda 2


Rata-rata=

( titik 1=titik 2 )
2

A=

( 10,02+9,96 )
=9,99
2

B=

( 18,04 +18,15 )
=18,095
2

C=

( 25,01+25,02 )
=25,015
2

D=

( 17,98+17,98 )
=17,98
2

E=

( 7,99+7,98 )
=7,985
2

3. Pengolahan data untuk toleransi


1. Benda 1
a. Bidang A
10,045=10=10h7
Ukuran maksimum =10+0=10mm
Ukuran minimum =10-0,015=9.985
Toleransinya =0,015
b. Bidang B
17,985=18=18h7
Ukuran maksimum =18+0=18mm
Ukuran minimum =18-0,018=17,982
Toleransinya =0,018
c. Bidang C
25,02=25=25h7
Ukuran maksimum =25+0=25mm
Ukuran minimum =25-0,021=24,979
Toleransinya =0,021
d. Bidang D
17,91=18=18h7
Ukuran maksimum =18+0=18mm
Ukuran minimum =18-0,018=17,982
Toleransinya =0,018
e. Bidang E
7,91=8=8h7
Ukuran maksimum =8+0=8mm
Ukuran minimum =8-0,015=7,985

Toleransinya =0,015
2. Benda 2
a. Bidang A
9,99=10=10h7
Ukuran maksimum =10+0=10mm
Ukuran minimum =10-0,015=9.985
Toleransinya =0,015
b. Bidang B
18,095=18=18h7
Ukuran maksimum =18+0=18mm
Ukuran minimum =18-0,018=17,982
Toleransinya =0,018
c. Bidang C
25,05=25=25h7
Ukuran maksimum =25+0=25mm
Ukuran minimum =25-0,021=24,979
Toleransinya =0,021
d. Bidang D
17,98=18=18h7
Ukuran maksimum =18+0=18mm
Ukuran minimum =18-0,018=17,982
Toleransinya =0,018
e. Bidang E
7,985=8=8h7
Ukuran maksimum =8+0=8mm
Ukuran minimum =8-0,015=7.985
Toleransinya =0,015
4. Persentase error
% Error =
1. Benda 1

( ukuran dasar ratarata )


x 100
ukuran dasar

a. Bidang A
% Error =

( 1010,045 )
x 100 =0,45
10

b. Bidang B
% Error =

( 1817,985 )
x 100 =0,083
18

c. Bidang C
% Error =

( 2525,02 )
x 100 =0,08
25

d. Bidang D
% Error =

( 1817,91 )
x 100 =0,5
18

e. Bidang E
% Error =

( 87,91 )
x 100 =1,125
8

2. Benda 2
a. Bidang A
% Error =

( 109,99 )
x 100 =0,1
10

b. Bidang B
% Error =

( 1818,095 )
x 100 =0,52
18

c. Bidang C
% Error =

( 2525,05 )
x 100 =0,6
25

d. Bidang D
% Error =

( 1817,98 )
x 100 =0,11
18

e. Bidang E
% Error =

( 87,985 )
x 100 =0,18
8

5.1.2 Data pengamat B


1.Perhitungan rata-rata data benda 1
Rata-rata=

( titik 1=titik 2 )
2

A=

( 9,99+ 9,97 )
=9,98
2

B=

( 18,04 +18,05 )
=18,045
2

C=

( 25,01+25,03 )
=25,02
2

D=

( 17,98+17,98 )
=17,98
2

E=

( 8+7,99 )
=7,995
2

2.Perhitungan rata-rata benda 2


Rata-rata=

( titik 1=titik 2 )
2

A=

( 10,18+10,04 )
=10,11
2

B=

( 17,98+18 )
=17,99
2

C=

( 25+ 25,04 )
=25,02
2

D=

( 17,41+17,43 )
=17,42
2

E=

( 7,92+7,92 )
=7,92
2

3. Pengolahan data untuk toleransi


1. Benda 1
a. Bidang A
9,98=10=10h7
Ukuran maksimum =10+0=10mm
Ukuran minimum =10-0,015=9.985
Toleransinya =0,015
b. Bidang B
18,045=18=18h7
Ukuran maksimum =18+0=18mm
Ukuran minimum =18-0,018=17,982
Toleransinya =0,018
c. Bidang C
25,02=25=25h7
Ukuran maksimum =25+0=25mm
Ukuran minimum =25-0,021=24,979
Toleransinya =0,021
d. Bidang D
17,98=18=18h7
Ukuran maksimum =18+0=18mm
Ukuran minimum =18-0,018=17,982
Toleransinya =0,018
e. Bidang E
7,995=8=8h7
Ukuran maksimum =8+0=8mm
Ukuran minimum =8-0,015=7,985
Toleransinya =0,015

2. Benda 2
a. Bidang A
9,98=10=10h7
Ukuran maksimum =10+0=10mm
Ukuran minimum =10-0,015=9.985
Toleransinya =0,015
b. Bidang B
18,045=18=18h7
Ukuran maksimum =18+0=18mm
Ukuran minimum =18-0,018=17,982
Toleransinya =0,018
c. Bidang C
25,02=25=25h7
Ukuran maksimum =25+0=25mm
Ukuran minimum =25-0,021=24,979
Toleransinya =0,021
d. Bidang D
17,98=18=18h7
Ukuran maksimum =18+0=18mm
Ukuran minimum =18-0,018=17,982
Toleransinya =0,018
e. Bidang E
7,995=8=8h7
Ukuran maksimum =8+0=8mm
Ukuran minimum =8-0,015=7.985
Toleransinya =0,015
4. Persentase error
% Error =
1. Benda 1

( ukuran dasar ratarata )


x 100
ukuran dasar

a. Bidang A
% Error =

( 109,98 )
x 100 =0,2
10

b. Bidang B
% Error =

( 1818,045 )
x 100 =0,125
18

c. Bidang C
% Error =

( 2525,02 )
x 100 =0,08
25

d. Bidang D
% Error =

( 1817,98 )
x 100 =0,11
18

e. Bidang E
% Error =

( 87,985 )
x 100 =1,18
8

2. Benda 2
a. Bidang A
% Error =

( 1010,11 )
x 100 =1,1
10

b. Bidang B
% Error =

( 1817,99 )
x 100 =0,05
18

c. Bidang C
% Error =

( 2525,02 )
x 100 =0,08
25

d. Bidang D
% Error =
e. Bidang E

( 1817,42 )
x 100 =2,47
18

% Error =

( 87,92 )
x 100 =0,1
8

5.2 Analisa
GRAFIK % ERROR PENGAMAT A DAN B (BENDA 1 DAN 2)
3
2.5
pengamat a benda 1

2
% Error

pengamat a benda 1

1.5

pengamat b benda 1

pengamat b benda 2

0.5
0
1

Titik Pengamatan

Gambar 5. 1 % Error Pengamat A dan B ( benda 1 dan 2 )


Dari grafik error di atas dapat saya simpulkan, ukuran masing-masing titik
yang diukur itu berbeda-beda meskipun benda ukur dan alat ukurnya sama, ini
dikarenakan pengukuran yang kurang teliti atau pun terdapat kesalahan, karena
yang manual alat ukurnya ini sangat sulit untuk mendapatkan hasil yang baik.
Meskipun alat ukur mekrometer ini ketelitiannya cukup tinggi.
Banyak factor yang memengaruhi perbedaan-perbedaan ukuran ini pada
intinya banyak terdaat perbedaan ukuran tetapi range atau jarak perbedaan ukuran
itu tidaklah jauh dan pernedaan tersebnut apakan masih dalam toleransi atau tidak.

BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat saya ambil dari hasil praktikum yang telah
saya lakukan adalah sebagai berikut :
1. Kita harus teliti dalam melakukan pemakaian atau penggunaan
mikrometer, karena kalau tidak hasil yang didapat akan berbeda dengan
yang aslinya.
2. Sebelum melakukan pengukuran alat ukur terlebih dahulu dikalibrasi agar
alat ukur tetap dalam kondisi yang baik.
3. Error yang terjadi pada pengukuran disebabkan oleh beberapa hal, mulai
dari ketelitian kita dalam membaca hasil pengukuran lingkaran tempat
pengukuran.
6.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan kepada pembaca sebagai berikut :
1. Sebelum melakukan praktikum kita harus tahu cara menggunakan dan
membaca alat ukur.
2. Setiap akan melakukan pengukuran hendakknya alat ukur yang akan
digunakan dikalibrasi terlebih dahulu.
3. Pembacaan sensor harus cermat dan teliti, supaya hasil yang lebih akurat
4. Pada saat pengukuran diharuskan benda kerja dalam keadaan diam.

DAFTAR PUSTAKA

Andika,mesin.

Cara

menggunakan

micrometer

dan

komponennya,

blogspot.com/2014/01
Sofyan Arief,Dodi. Buku panduan praktikum metrology industry.universitas
riau, fakultas teknik/2015

LAMPIRAN

Tugas Sesudah Praktikum


1. Jelaskan beberapa toleransi poros geometri yang terdapat pada benda ukur
bedasarkan iso !
Jawab:
Toleransi geometri adalah poros ukuran dasarnya yang kemudian diikuti
dengan penulisan simbol toleransi dari masing-masing komponen yang
bersangkutan simbol lobang dituliskan terlebih dahulu jadi untuk praktikum
ini menggunakan penyimpangan h7.
2. Mengapa balok set ukur yang digunakan untuk memeriksa kebenaran
micrometer adalah seperti derertan angka diatas ( mengapa kenaikannya tidak
dibuat konstan misalnya 1,2,3,4,- 25 mm )
Jawab :
Karena untuk tercapainya ukuran yang di kehendakai harus melalui rangkain
perbandingan

Table toleransiss

DATA BERBENTUK TABEL


Benda 1
N

Bidan

kod

Toleransi

Pengamat A

Pengamat B

tititk

tititk

Rata-

Rata

rata

maksimu

minimu

m
9,985

10,0

10,0

h7

10

10,04

9,99

9,97

9,98

3
17,9

5
18,04

18,0

18,0

18,0

25,02

4
25,0

5
25,0

4
25,0

17,91

1
17,9

3
17,9

2
17,9

7,91

8
8

8
7,99

8
7,98

h7

18

17,982

6
17,9

h7

25

24,979

8
25

9
25,0

17,982

17,9

2
17,9

7,985

1
7,91

1
7,91

4
5

D
E

h7

18

h7

-rata

5
Benda 2
N

Bidan

kod

Toleransi

Pengamat A

Pengamat B

tititk

tititk

Rata-

Rata

rata
maksimu

minimu

-rata
1

h7

10

m
9,985

10,0

9,96

9,99

10,1

10,0

10,1

h7

18

17,982

2
18,0

18,1

18,09

8
17,9

4
18

1
17,9

24,979

4
25,0

5
25,0

5
25,01

8
25

25,0

9
25,0

2
17,9

5
17,98

17,4

4
17,4

2
17,4

8
7,98

7,985

1
7,92

3
7,92

2
7,92

h7

25

h7

18

17,982

1
17,9

h7

7,985

8
7,99

DATA BERBENTUK GRAFIK


GRAFIK % ERROR PENGAMAT A DAN B (BENDA 1 DAN 2)
3
2.5
pengamat a benda 1

2
% Error

pengamat a benda 1

1.5

pengamat b benda 1

pengamat b benda 2

0.5
0
1

Titik Pengamatan