Anda di halaman 1dari 10

Nama

: Artika El Sonia

NIM

:1400025

Judul Praktikum

:Ekstraksi Oleoresin Berbagai Rempah

Oleoresin merupakan senyawa polimer yang berbobot molekul besar dan lebih mudah larut
dalam pelarut polar. Senyawa polimer ini merupakan campuran antara resin dan minyak atsiri
yang dapat diekstrak dari berbagai jenis rempah rempah atau hasil samping dari limbah
pengolahan rempah

rempah.Rempah-rempah tersebut berasal dari buah, biji, daun, kulit,

maupun rimpang misalnya jahe, lada,cabai merah,kapulaga, kunyit,pala,vanili, dan kayu manis
(Sulaswaty,2002). Oleoresin biasanya berbentuk cairan kental, pasta atau padat. Rempah yang
diambil oleoresinnya adalah jahe, cabai merah merah, sereh, dan kayu manis. Menurut Hudson
(1985), Ekstraksi merupakan bagian dasar dalam koefesien distribusi dalam mendapatkn
komponen flavor suatu produk.
Ekstraksi pelarut adalah metode paling sederhana, menggunakan ekstraksi terpisah
menggunakan tunnel pemisah dan pencampur. Menurut Reineccius (1994), pemilihan pelarut
yang ditetapkan harus memenuhi beberapa factor diantaranya mampu mengekstrak dengan baik
komponen flavor yang diinginkan. Ekstraksi oleoresin dilakukan menggunakan pelarut organik
yang mempunyai titik didih rendah sehingga pelarut dapat mudah dipisahkan dari oleoresin.
Kami menggunakan dua metode ekstraksi yaitu metode soxhlet dan perkolasi.
Metode perkolasi adalah metode ekstraksi cara dingin yaitu dengan cara penyairan yang
dilakukan dengan mengalirkan cairan penyaring yang berupa etanol melalui serbuk simplisia
yang telah dibasahi. Proses perkolasi terdiri dari tahapan pengembang bahan, tahap maserasi
antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak), terus menerus sampai

diperoleh ekstrak (perkolat). Yang kedua adalah metode soklet termasuk ke dalam cara ekstraksi
panas. Soklet adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang ada umumnya dilakukan
dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dan jumlah pelarut relatif konstan dengan
adanya pendingin balik. Pelarut yang digunakan kali ini adalah heksan. Parameter yang diamati
dalam beberapa sample adalah rendemen, kadar alcohol, berat jenis, warna dan aroma.
A. Oleoresin Cabai merah
Rendemen oleoresin cabai merah yang dihasilkan dengan metode soklet adalah 10,6 %
sementara pada oleoresin cabai merah dengan metode perkolasi adalah 83,89 %. Disini
penggunaan pelarut berpengaruh. Oleoresin sebagian besar adalah senyawa polar sehingga
pelarut dengan polaritas yang tinggi (etanol) dapat mengekstrak oleoresin lebih banyak
dibandingkan jenis pelarut yang lain (aceton atau n-hexane). Oleh karena itu, rendemen oleoresin
cabai dengan metode perkolasi lebih banyak daripada oleoresin cabai dengan metode soxhlet.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Laras (2013), rendemen yang didapatkan pada cabai
dengan metode perkolasi adalah 29,74 %. Adanya perbedaan hasil mungkin saja dipengaruhi
oleh banyak pelarut yang digunakan, suhu, lama ekstraksi, serta banyaknya simplisia.
Warna oleoresin pada cabai merah merah dengan metode soklet lebih gelap (pekat)
dibandingkan dengan metode perkolasi. Komponen oleoresin cabai merah disebut dengan
capsaicin. Pigmen warna yang berpengaruh dalam cabai adalah klorofil dan karotenoid. Karena
cabai merah yang digunakan sudah menua, klorofil tersebut digantikan dengan karotenoid.Warna
oleoresin yang lebih tua pada metode soklet terjadi karena pelarut yang digunakan. Metode
soxhlet menggunakan pelarut heksan sementara metode perkolasi menggunakan etanol. Menurut
Purseglove (1981) pada Laras (2013),

etanol merupakan pelarut yang tidak efisien dalam

melarutkan warna sehingga tidak dapat melarutkan semua pigmen warna yang terkandung dalam
bahan. Oleoresin cabai dengan metode perkolasi tidak berwarna pekat karena menarik
keseluruhan zat (zat berkhasiat yang tahan ataupun tidak tahan pemanasan).

Aroma pada oleoresin cabai dengan metode soxhet lebih tajam daripada oleoresin cabai
dengan metode perkolasi. Hal tersebut karena pengaruh capsium yang terkandung dalam cabai
merah. Aroma cabai dengan metode soxhlet lebih tajam karena oleoresin yang dihasilkan juga
lebih pekat dan yang terambilnya hanyalah zat khasiat yang tahan panas saja. Kemudian untuk
berat jenis, berat jenis oleoresin cabai merah dengan metode soxhlet lebih rendah (0,99) daripada
oleoresin cabai merah dengan metode perkolasi (1,0129). Hal tersebut terjadi karena massa
oleoresin cabai merah dengan metode perkolasi lebih besar daripada oleoresin cabai merah
dengan metode soxhlet. Selain itu konsentrasi oleoresinnya pun berpengaruh.
Kelarutan oleoresin dalam alcohol digunakan untuk mengetahui kerusakan minyak atsiri
pada oleoresin yang dhasilkan akibat proses resinifikasi. Kelarutan dalam alcohol dinyatakan
dalam jumlah alcohol yang dibutuhkan untuk melarutkan 1 ml oleoresin. Semakin besar
kelarutan sample dalam alcohol, semakin baik mutunya (SII,1998 dalam Muh Irfan,2008).
Untuk melarutkan oleoresin cabai merah dengan metode sokhlet diperlukan 170 ml alcohol
sedangkan oleoresin cabai merah dengan metode perkolasi sebanyak 2 ml. Kelarutan oleoresin
dalam alcohol disebabkan oleh adanya komponen kimia yang mengandung gugus OH. Semakin
banyak senyawa yang mengandung gugus tersebut, maka akan semakin tinggi kelarutannya.
Semakin banyak jumlah alcohol yang ditambahkan untuk melarutkan oleoresin, berarti semakin
kecil kelarutannya.
Pada oleoresin cabai merah dengan metode sokhlet, hasilnya lebih pekat dikarenakan proses
ekstraksinya pun lebih lama, dan menyebabkan proses polimerisasi. Proses polimerisasi akan
menurunkan kelarutan oleoresin dalam alcohol. Proses polimerisasi mudah terjadi pada minyak
arsiri yang mengandung sejumlah besar terpena yang disebabkan oleh panas. Dalam metode
soxhlet, minyak atsiri cabai lebih lama mengalami proses pemanasan. Oleh karena itu, hasilnya

pun lebih pekat (viskositasnya lebih tinggi) dan memerlukan alcohol yang banyak pula untuk
melarutkannya. (Hermani dan Rishaferi ,1989 cit.Widada,1993 dalam Irfan,2008).
B. Oleoresin Serai
Rendemen oleoresin serai yang dihasilkan dengan metode soklet adalah 22,17 %
sementara pada oleoresin serai dengan metode perkolasi adalah 182,35 %. Dalam SNI
seharusnya rendemen oleoresin serai adalah 0,4 %. Disini penggunaan pelarut berpengaruh.
Oleoresin sebagian besar adalah senyawa polar sehingga pelarut dengan polaritas yang tinggi
(etanol) dapat mengekstrak oleoresin lebih banyak dibandingkan jenis pelarut yang lain (aceton
atau n-hexane). Oleh karena itu, rendemen oleoresin cabai dengan metode perkolasi lebih
banyak daripada oleoresin cabai dengan metode soxhlet. Adanya perbedaan hasil mungkin saja
dipengaruhi oleh banyak pelarut yang digunakan, suhu, lama ekstraksi, serta banyaknya
simplisia.
Warna yang dihasilkan pada oleoresin serai dengan metode soxhlet adalah kuning keruh
sementara oleoresin serai dengan metode perkolasi berwarna coklat keruh. Karakteristik
oleoresin sereh dapur menurut SNI No. 06-3953-1995, penampilannya cair, warnanya kuning tua
sampai merah, aroma lemon. Rendemen 0,4%; berat jenis 0,8902; putaran optik + 0,2; indeks
bias 1,487; kelarutan dalam alkohol 1:2; kadar sitral 80,2%. Untuk warna oleoresin serai dengan
metode soxhlet sudah memenuhi SNI sementara pada oleoresin serai dengan metode perkolasi
tidak sesuai. Hal tersebut terjadi mungkin pada metode perkolasi seluruh zat terbawa (zat
berkhasiat yang tahan ataupun tidak tahan pemanasan).
Sementara untuk aroma keduanya berbau khas serai. Hal tersebut timbul karena
senyawa citondro yang terkandung dalam serai. Untuk berat jenis pada oleoresin serai dengan
metode soxhlet adalah 1,2821 sementara oleoresin serai dengan metode perkolasi adalah 0,91,
sedangkan menurut SNI adalah 0,8902. Ini terjadi karena massa serai dengan metode soxhlet
lebih besar (lebih tinggi viskositasnya) dibandingkan dengan oleoresin serai metode perkolasi.

Untuk kadar alcohol, serai oleoresin serai dengan metode soxhlet membutuhkan 2,5 ml untuk
melarutkan alcohol, sementara oleoresin serai dengan metode perkolasi membutuhkan 0,9 ml
untuk melarutkan alcohol. Proses polimerisasi akan menurunkan kelarutan oleoresin dalam
alcohol. Semakin banyak jumlah alcohol yang ditambahkan untuk melarutkan oleoresin, berarti
semakin kecil kelarutannya. Oleh karena itu, serai dengan metode perkolasi membutuhkan 0,9
ml alcohol, yang berarti lebih tinggi kelarutannya dibandingkan dengan serai oleoresin serai
dengan metode soxhlet karena membuthkan lebih banyak alcohol untuk larut.
C. Oleoresin Kayu Manis
Rendemen oleoresin kayu manis yang dihasilkan dengan metode soklet adalah
3,41 % sementara pada oleoresin kayu manis dengan metode perkolasi adalah 208,79 %.
Disini penggunaan pelarut berpengaruh. Oleoresin sebagian besar adalah senyawa polar
sehingga pelarut dengan polaritas yang tinggi (etanol) dapat mengekstrak oleoresin lebih
banyak dibandingkan jenis pelarut yang lain (aceton atau n-hexane). Oleh karena itu,
rendemen oleoresin cabai dengan metode perkolasi lebih banyak daripada oleoresin cabai
dengan metode soxhlet. Adanya perbedaan hasil mungkin saja dipengaruhi oleh banyak
pelarut yang digunakan, suhu, lama ekstraksi, serta banyaknya simplisia.
Warna yang dihasilkan oleoresin kayu manis yang dihasilkan dengan metode soklet
adalah coklat kekuningan sementara pada oleoresin kayu manis dengan metode perkolasi
adalah coklat pekat. Warna yang dihasilkan oleoresin kayu manis yang dihasilkan dengan
metode soklet sudah sesuai dengan SNI yakni berwarna kekuningan. Sementara aroma yang
timbul pada keduanya adalah aroma khas kayu manis yang menusuk. Aroma tersebut
disebabkan oleh senyawa kimia yang terkandung dalam kayu manis yaitu minyak sinnamon
atau sinamat aldehide (Cinnamic aldehyde), Eugenol, methyl-n-amyl Ketene, furfural, 1- -

Pinene, 1-Phellandrene, p-Cymene, benzaldehyde, nonyl aldehyd, hydrocinnamic aldehyde,


cuminaldehyde, 1-Linalool, kariofilene, Linalyl Isobutyrate.
Untuk berat jenis pada oleoresin kayu manis yang dihasilkan dengan metode soklet
tidak dihitung karena terlalu sedikit bobot yang didapat. Sementara pada oleoresin kayu
manis dengan metode perkolasi berat jenisnya adalah 1,08, hal tersebut sesuai dengan SNI
bahwa berat jenis oleoresin kayu manis adalah berkisar 1,008-1,030. Untuk kadar alcohol,
oleoresin kayu manis yang dihasilkan dengan metode soklet lebih banyak membutuhkan
alcohol (130 ml) untuk larut dibandingkan dengan oleoresin kayu manis dengan metode
perkolasi (50 ml). Karena oleoresin kayu manis metode soxhlet berbentuk pasta maka
semakin sulit larut. Semakin banyak jumlah alcohol yang ditambahkan untuk melarutkan
oleoresin, berarti semakin kecil kelarutannya. Oleh karena itu kelarutan oleoresin kayu
manis dengan metode perkolasi lebih besar dibandingkan oleoresin kayu manis dengan
metode soxhlet.
D. Oleoresin Jahe
Rendemen oleoresin jahe yang dihasilkan dengan metode soklet adalah 1,78 % sementara
pada oleoresin jahe dengan metode perkolasi adalah 83,64%. Disini penggunaan pelarut
berpengaruh. Menurut Sabel dan Waren (1973) menyatakan bahwa pelarut yang digunakan
hendaknya mempunyai titik didih yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, karena akan
mempersulit pemisahan pelarut. Cripps (1973), menambahkan pada pelarut yang mempunyai
titik didih rendah, pelarut akan mudah diperoleh kembali dan dapat melarutkan oleoresin dengan
cepat dan sempurna. Dalam pertimbangan ekonomi, diupayakan pemilihan pelarut yang mudah
harganya dan mudah didapat. Sable dan Waren (1973) mengatakan dalam pemisahan pelarut,
harus dipertimbangkan titik didihnya. Pelarut bertitik didih rendah biasanya banyak hilang

karena penguapan, sedangkan pelarut bertitik didih tinggi baru dapat dipisahkan pada suhu
tinggi.
Etanol mempunyai polaritas tinggi sehingga dapat mengekstrak oleoresin jahe lebih
banyak dibandingkan aseton atau heksan. Oleh karena itu, rendemen yang dihasilkan pun lebih
besar oleoresin jahe dengan metode perkolasi karena menggunakan pelarut etanol. Etanol
memiliki konstanta dielektrikum (D) atau sifat kelarutan yang tinggi jika dibandingkan nheksana dan petroleum eter yaitu 24,30. Sebagian besar senyawa yang berada dalam jahe dapat
terdispersi dalam air karena jahe bersifat polar, maka jahe akan lebih mudah terekstrak juga oleh
solvent yang bersifat polar (Oktora 2007).
Warna yang dihasilkan oleoresin jahe yang dihasilkan dengan metode soklet adalah coklat
kekuningan, sementara pada oleoresin jahe dengan metode perkolasi adalah coklat tua. Oleoresin
jahe dengan metode perkolasi sesuai dengan karakteristik mutu oleoresin jahe pada penelitian
Oktora (2007), yaitu berwarna coklat tua. Untuk aroma, keduanya beraroma khas jahe. Sesuai
dengan SNI yaitu beraroma jahe. Komponen yang menyebabkan bau harum pada jahe adalah
minyak atsiri yang terdiri dari zingiberol, zingiberan, cineol, citral, borneol, linalool dan lainnya.
Selanjutnya adalah berat jenis. Dalam penelitian Oktora (2007), SNI minyak atsiri jahe adalah
0,877-0,882. Tidak berbeda jauh dengan oleoresin jahe dengan metode perkolasi yaitu 1,03.
Sementara untuk oleoresin jahe dengan metode soxhlet, tidak dapat diukur berat jenisnya karena
terlalu sedikit yang dihasilkan (tidak sampai 1 ml).
Alcohol yang dibutuhkan oleh oleoresin jahe yang dihasilkan dengan metode soklet
adalah 130 ml sementara untuk oleoresin jahe dengan metode perkolasi adalah 26 ml. Semakin
banyak jumlah alcohol yang ditambahkan untuk melarutkan oleoresin, berarti semakin kecil

kelarutannya. Oleh karena itu kelarutan oleoresin jahe dengan metode perkolasi lebih besar
dibandingkan oleoresin jahe dengan metode soxhlet.

Kesimpulan
1. Metode perkolasi adalah metode ekstraksi cara dingin yaitu dengan cara penyairan yang
dilakukan dengan mengalirkan cairan penyaring yang berupa etanol melalui serbuk simplisia
yang telah dibasahi. Metode soklet termasuk ke dalam cara ekstraksi pana syaitu dengan
menggunakan pelarut yang ada umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi
ekstraksi kontinyu dan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
2. Oleorisin yang dihasilkan dengan metode perkolasi umumnya memiliki rendemen yang
lebih banyak, berat jenis yang besar, kelarutan yang tinggi serta warna yang tidak terlalu
pekat sementara oleoresin yang dihasilkan dengan metode perkolasi umumnya memiliki
rendemen yang lebih sedikit , berat jenis yang kecil, kelarutan yang rendah serta warna yang
pekat.

DAFTAR PUSTAKA
Oktora,Rosevicka.Ekstraksi Oleoresin Dari Jahe.Vol No.2.Surabaya:Widya Teknik
Sulaswaty,A. 2002. Proses Ekstraksi dan Pemurnia ahan Pewangi dari Tanaman
Indonesia,Ristek- Data riset, Pusat Penelitian Kimia-LIPI
Fakhrudin,Irfan.2008.Kajian Karakteristik Oleoresin Jahe Berdasarkan Ukuran dan Lama
Perendaman Serbuk Jahe dalam Etanol.Skripsi.Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret
Surakarta
Solehudin,M.2001.Ekstraksi Minyakdan Oleoresin Dari Kulit Kayu Manis (Cinnamomum
burmaii Blume).Skripsi.Institut Pertanian Bogor
Setyaningrum,Laras2013. Ekstraksi Oleoresin Capsaicin Dari Cabai Merah,Cabai Keriting,
dan Cabai Rawit. Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor
Damayanti,Nanik.2012.Pengambilan Minyak Kulit Kayu Manis (Cinnamomum burmanii)
Dengan Distilasi Uap.Laporan Praktikum.Prodi DIII Teknik Kimia Universitas Diponegoro
Semarang
Kawiji dkk. 2010. Pengaruh Perlakuan Awal Bahan Baku Dan Waktu Destilasi Serai
Dapur (Cymbopogon Citratus) Terhadap Karakteristik Fisikokimia Minyak Serai
Dapur (Lemongrass Oil). Surakarta
Aryanto,Angga dkk. 2008.Ekstraksi Oleoresin Jahe (Zingiber offinicale) Menggunakan
Ekstraksi Dengan Pelarut.Laporan Praktikum.Mayor Teknologi Industri Pertanian
Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor