Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM AKUSTIK P2

NOISE BARRIER AND DIRECTIVITY FACTOR


Disusun Oleh :
NIKEN ARINA PRATIWI

NRP. 2414 100 069

Asisten :
RIO ASRULEOVITO

NRP. 2414 105 050

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK FISIKA


JURUSAN TEKNIK FISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2015

HALAMAN JUDUL

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM AKUSTIK P2

NOISE BARRIER AND DIRECTIVITY FACTOR


Disusun Oleh :
NIKEN ARINA PRATIWI

NRP. 2414 100 006

Asisten :
RIO ASRULEOVITO

NRP. 2414 105 050

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK FISIKA


JURUSAN TEKNIK FISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2015

ABSTRAK
Kenyamanan lingkungan atau ruang sangat
bergantung pada tingkat kebisingan dari ruang atau lingkungan
tersebut. Untuk mengurangi tingkat kebisingat yang diterima
sebuah lingkungan yang dekat dengan sumber bising
digunakan sebuah penghalang bising atau noise barrier. Pada
laporan ini akan dibahas analisa noise barrier dengan
menggunkan metode maekawa, sehingga didapatkan
kesimpulan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi atenuasi
pada noise barrier metode maekawa antara lain, jarak serta
ketinggian sumber dan penerima bunyi dengan barrier serta
frekuensi sumber.
Kata Kunci: Bising, Noise Barrier, Metode Maekawa

ABSTRACT
The comfort of a neighborhood or a room depends on
the noise level of that room or environment. To reduce the
noise level that is close to the noise source, the noise barrier
can be used. This report will analyze the noise barrier using
Maekawa method, so that the conclusion about some factors
that affect noise attenuation in noise barrier Maekawa
methods, those are distance and the height of the sound
source, with noise barrier and source frequency.
Keywords: Noise, Noise Barriers, Maekawa Methods

KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan karunia-Nya sehingga Laporan Resmi Praktikum
Akustik ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Dalam kesempatan kali ini penyusun mengucapkan
terima kasih kepada:
1.

Bapak Tutug selaku dosen pengajar mata kuliah Akustik.

2.

Saudara

asisten

yang

telah

membimbing

dalam

pelaksanaan praktikum Akustik.


3.

Rekan-rekan

yang

telah

membantu

terlaksananya

kegiatan praktikum Akustik.


Penyusun menyadari bahwa banyak kekurangan dalam
pembuatan laporan ini baik dari segi materi maupun penyajian.
Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun.
Akhir kata penyusun berharap semoga laporan ini
bermanfaat bagi penyusun sendiri khususnya dan pembaca
pada umumnya.

Surabaya, 27 September 2015

Penulis
4

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................i
ABSTRAK..............................................................................ii
ABSTRACT...........................................................................iii
KATA PENGANTAR.............................................................iv
DAFTAR ISI...........................................................................v
DAFTAR GAMBAR..............................................................vi
DAFTAR TABEL..................................................................vii
BAB I PENDAHULUAN........................................................1
1.1.
Latar Belakang.........................................................1
1.2.
Perumusan Masalah.................................................1
1.3.
Tujuan......................................................................2
1.4.
Sistematika Laporan................................................2
BAB II DASAR TEORI..........................................................4
2.1.
Noise Barrier............................................................4
2.2.
Metode Maekawa.....................................................7
2.3.
Directivity Factor...................................................10
BAB IIIMETODOLOGI PRAKTIKUM...............................11
3.1 Peralatan dan Bahan.....................................................11
3.2 Prosedur Percobaan......................................................11
BAB IVANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN................13
4.1 Analisa Data.................................................................13
4.2. Pembahasan................................................................18
BAB VPENUTUP.................................................................20
5.1 Kesimpulan..................................................................20
5.2 Saran...........................................................................20

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1Ilustrasi Penghalang Bising Tampak
Samping....................................................................................4
Gambar 2.2Posisi Barrier........................................................5
Gambar 2.3Noise Barrier denganmemperhitungkan
estetika..6
Gambar 2.4 Perbedaan TTB di Ruang Penerima tanpa (a)
dan dengan Partisi (b) ..................................7
Gambar 2.5Penghalang akustik di antara sumber bunyi (S)
dan penerima (P) ..8
Gambar 2.6 Grafik Maekawa..9
Gambar 2.7 Plot pola keterarahan berdasarkan nilai Q
yang
didapat
.11
Gambar 4. 2Grafik Directivity Factor pada frekuensi
1000 Hz...16
Gambar 4. 3Grafik Directivity Factor pada frekuensi
4000 Hz...17

DAFTAR TABEL
Tabel 4. 1 Pengukuran TTB Pada Frekuensi 250 Hz Tanpa
Noise Barrier..13
Tabel 4. 2 Pengukuran TTB Pada Frekuensi 500 Hz Tanpa
Noise Barrier......13
Tabel 4. 3 Nilai Insertion Loss dan Nilai Fresnel Number...14
Tabel 4. 4Pengukuran TTB pada frekuensi 1000Hz.14
Tabel 4. 5Pengukuran TTB pada frekuensi 4000Hz.16

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Beragam desain ruangan yang berbeda diciptakan
oleh manusai untuk memenuhi kebutuhan yang semakin
beragam pula seiring berjalannya waktu. Salah satu
aspek yang tidak dapat ditinggalkan dalam mendesain
suatu ruangan maupun segala macam bangunan adalah
aspek kenyamanan. Tingkat intensitas bising yang tinggi
tentunya akan membuat manusia merasa tidak nyaman
di dalamnya. Untuk mengurangi tingkat kebisingan atau
intensitas bunyi yang berlebih salah satunya dapat
menggunakan penghalang bunyi atau yang biasa disebut
noise barrier. Fungsi noise barrier adalah untuk
mengurangi tingkat kebisingan pada ruangan atau
lingkungan untuk menciptakan suatu kondisi yang
nyaman. Selain itu, bunyi juga memiliki factor
keterarahan yang berbeda. Tergantung dengan intensitas
bunyi dari sumber dan intensitas bunyi dari sumber pada
titik-titik tertentu. Semakin terarah bunyinya, maka
semakin baik tingkat keterarahannya.
Oleh karena itu pada praktikum kali ini, praktikan
ingin mengetahui fungsi dari noise barrier dan juga
tentang faktor keterarahan bunyi.
1.2. Perumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang diatas, maka rumusan
masalah pada praktikum akustik tentang noise barrier
and directivity factor kali ini adalah sebagai berikut.
1

1) Bagaimana cara menganalisa pengaruh noise


barrier
terhadap pengukuran tingkat tekanan
bunyi?
2) Bagaimana cara membandingkan besar atenuasi
bunyi pada grafik maekawa dengan hasil
pengukuran?
3) Bagaimana cara mengetahui pola keterarahan dari
sumber bunyi speaker.
1.3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari
praktikum akustik tentang noise barrier and directivity
factor kali ini adalah sebagai berikut.
1) Mampu menganalisis pengaruh noise barrier
terhadap pengukuran tingkat tekanan bunyi.
2) Mampu membandingkan besar atenuasi bunyi pada
grafik maekawa dengan hasil pengukuran.
3) Mahasiswa mampu mengetahui pola keterarahan
dari sumber bunyi speaker.
1.4. Sistematika Laporan
Laporan resmi praktikum akustik tentang noise barrier
and directivity factor, ini terdiri dari 5 bab, yaitu
pertama bab 1, adalah pendahuluan, yang berisi
latarbelakang, rumusan masalah, tujuan praktikum serta
sistematika laporan. Bab 2 yaitu dasar teori yang berisi
tentang teori dasar yang menunjang praktikum ini.Bab 3
yaitu metodologi dimana berisi tentang, alat alat yang
dugunkan dalam praktikum serta langkah langkah dalam
praktikum.Bab 4 yaitu analisa data dan pembahasan,
dimana berisi tentang analisa data-data yang didapatkan
dalam percobaan serta pembahasan terhadap analisa
2

data tersebut.Bab 5 yaitu penutup berisi tantang


kesimpulan dan saran.Sedangkan yang terakhir yaitu
lampiran yang berisi tugas khusus yang diberikan.

BAB II
DASAR TEORI
2.1. Noise Barrier
Noise Barrier (Penghalang Dinding) merupakan suatu
dinding atau partisi penghalang yang digunakan untuk
mengendalikan transmisi bising yang dirambatkan
melalui udara (air-bone noise), dimana dinding ini
letaknya diantara sumber dan penerima. Fungsi dari
Penghalang Bising ini yaitu untuk memberikan zona
bayangan (shadow zone) atau daerah dimana
mempunyai bising yang lebih senyap pada penerima.

Gambar 2.1 Ilustrasi Penghalang Bising Tampak Samping


faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalamperencanaan
penghalang buatan diantaranya adalah,
a. Posisi/peletakan
Posisi yang dimaksud adalah jarak penghalang
dengan bangunan. Pada tempat yang lapang, jarak bisa
dengan mudah diatur. Namun ketika dihadapkan dengan
lahan yang sempit, harus dipikirkan secara lebih
4

matang. Misalkan, perlunya pagar keliling depan


bangunan yang menghadap jalan raya. Kemudian
peletakan posisi pintu gerbang sebaiknya menghadap
bagian bangunan yang kosong, atau lapang, dan tidak
memerlukan ketenangan yang leih dari ruangan lain.

Gambar 2.2 Posisi Barrier


b. Dimensi
Dimensi yang dimaksud disini mempunyai dua
unsur, yakni ketebalan dan ketinggian. Pada kondisi
dimana bangunan sejajar dengan ketinggian jalan,
maka jarak antara bangunan dan penghalang buatan
lebih gampang diatur. Namun ketika bangunan lebih
tinggi konturnya daripada jalan, maka ketinggian
penghalang menjadi faktor yang utama. Perlu
diketahui, gelombang bunyi bisa berdefraksi ketika
melewati penghalang. Jadi untuk mendapatkan barrier
yang maksimal, barrier sebaiknya lebih tinggi
daripadadinding bangunan terdekat. Selain itu bisa
diakali dengan memberikan ruang lapang dibelakang
barrier, sehingga defraksi bunyi jatuh ke ruang lapang
tersebut, tidak langsung menabrak dinding bangunan.
c. Estetika
5

Faktor estetika dalam analisis barrier tidak begitu


diperhatikan. Namun secara arsitektural menjadi sangat
penting, karena biasanya posisi barrier ada di bagian
depan bangunan. Untuk itu, meskipun sudah terpenuhi
antara posisi, dimensi dan materialnya, namun ketika
berbentuk kurang bagus, akan sangat menurunkan nilai
komersial bangunan. Saat ini beragamkrea tifitas untuk
mempercantik barrier/penghalang bising sudah banyak
dikembangkan.

Gambar 2.3 Noise Barrier dengan memperhitungkan estetika


d. Material
Peletakan dan dimensi saja tidak cukup untuk
mendapatkan barrier yang maksimal. Kita tahu bunyi
akan memantul atau terserap tergantung permukaan
penghalang yang ditabrak. Bunyi dapat menembus
celah-celah yang sangat kecil sekalipun, sehingga,
penggunaan penghalang yang kokoh, rigid, dan
permanen sangatlah disarankan.
Kinerja Akustik dari Penghalang dapat dinyatakan
dalam NR (Noise Reduction) atau IL (Insertion Loss)
6

2.1. Insertion Loss


Insertion Loss merupakan perbedaan antara tekanan
bunyi (SPL) pada suatu titik tertentu dalam kondisi
sebelum dan setelah barrier (atau enclosure) terpasang.

Gambar 2.4 Perbedaan TTB di Ruang Penerima tanpa (a) dan


dengan Partisi (b)
Dapat dinyatakan dengan persamaan berikut
dengan,
SPLbefore : Selisih tingkat tekanan bunyi sebelum ada
barrier (dB)
SPLafter : Selisih tingkat tekanan bunyi sesudah ada
barrier (dB)
IL memberikan petunjuk langsung dari perbaikan yang
diberikan oleh penyisipanbarrier antara sumber bising
dan penerima.
2.2. Metode Maekawa
Secara teoritis, metoda Maekawa merupakan metoda
yang praktis dan efektif untuk perancangan peredaman
kebisingan dengan menggunakan penghalang akustik.
Sehingga memberikan kemudahan dan kepastian kepada
para perancang untuk mengendalikan kebisingan. Di
Indonesia tidak banyak yang menggunakan metoda ini
untuk mengurangi kebisingan, kebanyakan para perancang
melakukan penghalangan kebisingan tanpa perhitungan
yang tepat dan praktis, bahkan seringkali hanya dengan
perasaan saja. Sehingga bila telah banyak orang atau
7

perancang peredam akustik dengan menggunakan metoda


ini, maka berarti ilmu pengetahuan tentang Metoda
Maekawa telah memberikan kontribusi yang nyata dan
bermanfaat.Menurut metoda Maekawa, nilai pengurangan
tingkat tekanan bunyi (tingkat kebisingan), tergantung
pada jarak dari sumber ke penghalang, jarak
daripenghalang ke penerima, dimensi penghalang, dan
tergantung pada frekuensi bunyi. Hal ini sesuai dengan
sifat gelombang bunyi yang dapat dipantulkan, diserap,
diteruskan, didifraksikan oleh dinding penghalang.Dengan
memperhitungkan jarak antara penghalang akustik dengan
sumber bunyi dan penerima, serta dimensi dinding
penghalang, maka dapat diestimasikan besar pengurangan
tingkat tekanan bunyi yang optimal untuk berbagai
frekuensi bunyi.

Gambar 2.5 Penghalang akustik di antara sumber bunyi (S)


dan penerima (P)
Untuk menentukan besarnya nilai pengurangan bunyi oleh
penghalang Maekawa menggunakan hubungan :

dengan B adalah beda tingkat kebisingan di penerima


sebelum dan setelah adanya penghalang

selain dengan menggunkan persamaan tersebut,


perhitungan pengurangan kebisingan juga dapat digunakan
metode grafik. Metode ini efektif bila dimensi dari
penghalang sangat lebih besar dari panjang gelombang
bunyi.Untuk metode grafik ditentukan dulu Fresnel
number dengan persamaan berikut
Setelah itu dimasukkan pada grafik Maekawa seperti
gambar di bawah ini.

Gambar 2.6 Grafik Maekawa


Dengan menarik garis lurus ke atas dimulai dari harga
Fresnel Number, yang diketahui, sampai memotong
grafik, kemudian ditarik lurus ke kiri memotong
sumbuordinat, maka diperoleh nilai atenuasi bunyi oleh
penghalang.
2.3. Directivity Factor
Loudspeaker merupakan transduser yang
berfungsi merubah energi listrik menjadi energi bunyi.
Di dalam perambatannya, loudspeaker memiliki arah
penyebaran tertentu. Hal inilah yang disebut sebagai
faktor keterarahan (Q). Faktor keterarahan dari sebuah
sumber bunyi didefinisikan sebagai perbandingan
antara intensitas bunyi pada suatu titik berjarak r dari
sumber bunyi dengan intensitas bunyi pada titik
tersebut yang dipancarkan oleh sumber titik dengan
daya yang sama.
Intensitas I di sebuah titik yang berjarak r dari
pusat sumber bunyi dalam ruang bebas ditentukan
oleh harga kuadrat tekanan bunyi.
Di bawah ini merupakan plot dari pola
keterarahan setelah ditemukannya nilai Q :
10

Gambar 2.7 Plot pola keterarahan berdasarkan nilai Q yang


didapat
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Peralatan dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam melaksanakan percobaan
ini adalah sebagai berikut.
1. Laptop
2. Meteran
3. Speakeraktif
4. Barrier dengan tinggi 122 cm.
5. Software Real Time Analyzer
6. Sound level meter 2 buah
7. Busur
3.2 Prosedur Percobaan
Terdapat dua percobaan yang memiliki prosedur sebagai
berikut.
a. Percobaan Noise Barrier
1. Ditentukan posisi sumber suara dan penerima,
kemudian diukur jaraknya (jarak sumber dan penerima
tidak boleh lebih dari panjang barrier).
2. Dibuka aplikasi Real Time Analyzer, ketinggian
sumber dan penerima harus sama.
11

3. Dibangkitkan sinyal suara dengan frekuensi 250 Hz


dan ukur SPL di posisi penerima sebanyak 5 kali
4. Dirubah frekuensi sumber bunyi menjadi 250Hz,
500Hz, 1000Hz, dan 4000Hz lalu diukur SPL di posisi
penerima sebnyak 3 kali pada setiap frekuensi.
5. Diletakan barrier di antara sumber dan pendengar, lalu
diukur jarak dari sumber ke barrier dan barrier ke
penerima
6. Diulangi langkah 3 dan 4
b. Percobaan Dirrectivity Factor
1. Dicari medan bebas untuk pengukuran
2. Dibuat skema pengukuran seperti gambar 5.
3. Ditempatkan speaker di tengah tengah area
pengukuran.
4. Dibangkitkan sinyal dengan software yoshimasa pada
frekuensi 1000 Hz
5. Dicatat tingkat tekanan bunyi pada titik titik di
sekeliling sumber bunyi pada jarak 3 m dari sumber
bunyi. Dipilih titik - titik berjarak sama setiap selisih
sudut10.
6. Dilakukan langkah-langkah diatas untuk frekuensi
suara yang berbeda (4000Hz)

12

BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisa Data
4.1.1.Noise Barrier
Dari percobaan yang dilakukan didapatkan data-data
tingkat tekanan bunyi tanpa menggukanan barrier dan
menggunakan barrier seperti yang ditunjukkan pada tabeltabel di bawah ini.
Tabel 4. 1 Pengukuran TTB Tanpa Noise Barrier
Frekuensi
(Hz)
250
500
1000
4000

I
66.2
77.4
85.1
93.3

TTB (dB)
II
66.3
77.6
84.2
93.2

III
65.4
77.7
83.9
93.4

Ratarata
66.0
77.6
84.4
93.3

Tabel 4. 2 Pengukuran TTB Dengan Noise Barrier


Frekuensi
(Hz)
250
500
1000
4000

I
59.1
62
69.2
68.4

TTB (dB)
II
58.8
60
69.3
70.5

III
59.5
61.5
69.1
69.1

Ratarata
59.1
61.2
69.2
69.3

Dari data hasil percobaan tersebut, didapatkan


data IL seperti pada tabel berikut ini.

13

Tabel 4. 3 Nilai Insertion Loss, Nilai Fresnel Number, Nilai


Atenuasi Bunyi.
Insertion
Fresnel
Loss
Number
(dB)
(N)
250
6.8
2.69
500
16.4
5.38
1000
15.2
10.76
4000
24.0
43
Dengan menggunakan metode grafik Maekawa maka
dapat dicari nilai atenuasi dari informasi dari Fresnel Number
dari tabel 4.7. Sehingga nilai atenuasi dari perhitungan
menggunakan grafik Maekawa adalah seperti diatas. Jika
dibuat grafik antara atenuasi bunyi dengan Fresnel Number
dari hasil percobaan, maka akan menjadi seperti gambar di
bawah ini.
Frekuensi
(Hz)

4.1.2.Directivity factor
Tabel 4. 8 Pengukuran TTB pada frekuensi 1000Hz
TTB (dB)
RataSudut
rata
I
II
III
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100

80.4
79.3
77.3
76.3
75.6
73
73.4
65.1
66.7
62.4
64.3

80.6
79.4
76.9
76.4
75.8
72.6
73
64.9
66.8
63.1
65.1
14

80.7
79.5
77.1
76
75.4
72.8
72.8
66.1
66.9
62
64.8

80.6
79.4
77.1
76.2
75.6
72.8
73.1
65.4
66.8
62.5
64.7

110
120
130
140
150
160
170
180
190
200
210
220
230
240
250
260
270
280
290
300
310
320
330
340
350

68
68.5
66.6
64.3
63.5
70.1
65.2
68.1
65.8
67.0
67.7
66
66.3
63.6
65.4
61.3
60
62
65.9
69.1
71.3
73.1
70.1
72.7
77.4

67.5
68.2
66.4
62
62.7
69.6
67.1
70.9
70.5
72.9
66.0
65.9
66.1
65.8
66.3
60.6
61.8
62.9
66.1
69.8
71.2
71.2
70.5
73.5
77

68.3
68.4
66.6
63.3
63
71.9
66.3
70.4
68
70
66
65.0
65.6
64.5
65.9
60.2
59.8
63
65.8
70
71
71
70.4
73.4
77.6

67.9
68.4
66.5
63.2
63.1
70.5
66.2
69.8
68.1
70.0
66.6
65.6
66.0
64.6
65.9
60.7
60.5
62.6
65.9
69.6
71.2
71.8
70.3
73.2
77.3

Tabel 4. 9 Pengukuran TTB pada frekuensi 4000Hz


TTB (dB)
RataSudut
rata
I
II
III
0
10

85.2
84.7

85.6
83.4

85.3
83.1

85.4
83.7

15

Gambar 4. 2 Grafik Directivity Factor pada frekuensi 1000 Hz

20
30
40
50
60
70
80
90
100
110
120
130
140
150
160
170
180
190
200
210
220
230
240
250
260
270
280
290
300
310
320

71
76.6
75.7
64.2
75
66.9
62.3
62.3
65.1
61.7
67.8
70.4
64.9
64.2
69
63
64.1
60.7
60.1
64.7
69.8
68
66.2
70.1
64.6
66.7
69.9
64.6
72.1
78.2
81.9

70.5
77
74.8
69.7
74.7
69.3
67.3
65
66.1
61.7
66.9
70
65.5
64.5
63.8
61.1
65.6
64.9
58.7
61.2
67.4
65.2
61.9
68.8
65.9
66.2
69.1
64
73.8
77.6
80.4
16

70.4
75.3
72.1
72
74.6
67.9
68
66.5
66.7
63.3
66
68.3
65.3
58.5
63.2
67.9
67
61.1
61.9
62.4
70.3
67.7
66.6
71.5
64.9
65.9
68.2
72.9
74.7
77.2
80.6

70.6
76.3
74.2
68.6
74.8
68.0
65.9
64.6
66.0
62.2
66.9
69.6
65.2
62.4
65.3
64.0
65.6
62.2
60.2
62.8
69.2
67.0
64.9
70.1
65.1
66.3
69.1
67.2
73.5
77.7
81.0

330
340
350

76.2
71.9
83.6

77.4
73.2
84

75.5
76
83.8

76.4
73.7
83.8

4.2. Pembahasan
4.2.1. Noise barrier
Dari data hasil percobaan noise barrier yang telah
dilakukan, diperoleh nilai-nilai tingkat tekanan bunyi pada
jarak ukur yang sama untuk frekuensi sumber bunyi yang
berbeda-beda, yaitu 250 Hz, 500 Hz, 1000 Hz, dan 4000 Hz.
Dari hasil pengambilan data pada lapangan, dapat diketahui
bahwa adanya noise barrier yang menghalangi sumber bunyi
dari penerima bunyi mempengaruhi tingkat tekanan bunyi
yang diterima oleh penerima bunyi. Pada frekuensi 250 Hz,
diperoleh selisih 6,9 dB antara pengukuran dengan noise
barrier dan tanpa noise barrier. Begitu juga pada data-data
pada frekuensi lain, tingkat tekanan bunyi yang ditangkap
Gambar 4. 3 Grafik Directivity Factor pada frekuensi 4000 Hz
oleh alat ukur tingkat tekanan bunyi selalu lebih kecil saat
sumber bunyi dihalangi oleh noise barrier, yaitu selisih 16,4
dB pada frekuensi 500 Hz, 15,2 dB pada frekuensi 1000 Hz,
dan yang terbesar diperoleh selisih sebesar 24 dB pada
pengukuran dengan sumber bunyi 4000 Hz.
4.2.2. Directivity factor
Berdasarkan percobaan tentang directivity factor yang
telah dilakukan pada praktikum P2 Akustik, diperoleh angkaangka tingkat tekanan bunyi yang diambil dari jarak yang
sama dari sumber bunyi pada sudut 0 hingga 350 di setiap
perbedaan 10. Data-data ini kemudian disusun menjadi
sebuah grafik yang menunjukkan keterarahan bunyi dari
sumber bunyi tersebut. Dari data yang telah diolah ke dalam
bentuk grafik, dapat dilihat bahwa sumber bunyi yang
digunakan pada praktikum ini tidak memiliki keterarahan
bunyi yang baik. Hal ini dapat dilihat dari tidak ratanya tingkat
17

tekanan bunyi yang ditangkap oleh alat ukur pada jarak yang
sama dari sumber bunyi. Contohnya pada sudut 250 pada
pengambilan data dengan frekuensi 1000 Hz dan sudut 60
dengan frekuensi 4000 Hz. Pada kedua sudut tersebut
didapatkan lonjakan TTB yang tinggi dari selisih 10 sebelum
dan sesudahnya. Hal ini dapat diakibatkan oleh keterarahan
bunyi yang tidak baik dari sumber bunyi dan dapat juga
disebabkan oleh beberapa factor lapangan antara lain angin,
background noise pada saat pengambilan data dan lain-lain.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan-kesimpulan yang dapat diambil
dari percobaan ini antara lain:
a. Adanya noise barrier yang ditempatkan di antara sumber
bunyi dan penerima bunyi menyebabakan tingkat tekanan
bunyi yang diterima oleh penerima bunyi lebih kecil
daripada yang diterima seharusnya (tanpa noise barrier).
b. Untuk menganalisa kinerja dari noise barrier, digunakan
metode IL (insertion loss). Karena IL memberikan
petunjuk langsung dari perbaikan yang diberikan oleh
penyisipan barrier antara sumber bising dan penerima.
Salah satu metode yang digunakan untuk mendesain
penghalang akustik adalah metode maekawa. Dimana
faktor-faktor yang diperhitungkan antara lain, jarak dan
tinggi sumber dan penerima dari penghalang, tinggi
pengalang serta frekuensi sumber.
c. Sumber bunyi dengan frekuensi yang tinggi akan
memiliki atenuasi yang tinggi pula karena frekuensi yang
tinggi akan mudah dipantulkan jika mengenai sebuah
penghalang.
18

5.2 Saran
Saran-saran yang dapat digunakan untuk
melakukan percobaan ini ke depannya adalah:
a. Pada saat pengambilan data sebaiknya disediakan tripod
untuk menyangga speaker yang mengeluarkan sumber
bunyi agar peneliti dapat mengatur ketinggian sumber
bunyi.
b. Pengambilan data sebaiknya dilakukan di tempat yang
memiliki background noise minim atau bahkan tidak ada
sama sekali agar data yang didapat lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
[2]

Anonim. Modul Percobaan P-2 Noisse Barrier.


Surabaya. Laboratorium Vibrastik JTF-FTI-ITS
Parkin, P.H., H.R. Humpeys & J.R. Cowell. 1979.
Acoustics, Noise and Buildings. Faber&Faber, London

19